Anda di halaman 1dari 24

FOUR HANDED DENTISTRY ERGONOMI PERALATAN KERJA Oleh: Shally Nyihajar Amanatillah NIM: 712501S11026 AKG Mataram 2012

PENDAHULUAN Berbagai peralatan kedokteran gigi yang dijual di pasaran pada saat ini, hampir semuanya telah memperhatikan aspek ergonomis ketika didesain oleh pabrik pembuatnya. Namun kelebihan ini akan berkurang nilainya apabila pada saat penempatan peralatan tidak berdasarkan prinsip desain tata letak yang benar. Dalam makalah ini akan dibahas desain tata letak penempatan alat kedokteran gigi, namun terbatas pada alat-alat utama saja yaitu Dental Unit, Mobile Cabinet, dan Dental Cabinet. Desain tata letak (lay out design) adalah proses alokasi ruangan, penataan ruangan dan peralatan sedemikian rupa sehingga pergerakan berlangsung seminimal mungkin, seluruh luasan ruangan termanfaatkan, dan menciptakan rasa nyaman kepada operator yang bekerja serta pasien yang menerima pelayanan. Desain tata letak memegang peranan penting dalam efektifitas dan efisiensi operasi tempat praktek dokter gigi, oleh karena itu perlu direncanakan secara matang sebelum tempat praktek dibangun dan tidak tertutup kemungkinan untuk direvisi dikemudian hari bila dinilai sudah tidak layak lagi. Desain tata letak berbeda dengan gambar arsitek, desain tata letak hanya berupa sketsa yang mengambarkan penataan ruangan, dibuat berdasarkan perhitungan pergerakan informasi, bahan, dan manusia. Selain itu juga dengan memperhatikan pertimbangan ergonomis, medis dan kepatutan. Secara garis besar ada 2 macam desain tata letak yaitu yang dibuat dengan memperhatikan proses dan yang dibuat dengan memperhatikan produk, pada tempat praktek dokter gigi yang digunakan adalah desain tata letak dengan memperhatikan proses efektifitas dan efisiensi desain tata letak dihitung dari jumlah jarak pergerakan yang terjadi, dengan asumsi setiap pergerakan yang terjadi menimbulkan biaya. Menimimalisasi pergerakan adalah tujuan dari desain tata letak. PEMBAHASAN TIM DAN SISTEM KERJA Seiring dengan makin kompleksnya pelayanan kedokteran gigi, profesi di bidang ini turut ikut berkembang. Bila dahulu cukup hanya dokter gigi saja yang memberikan pelayanan, kini di negaranegara maju seperti Amerika Serikat, pelayanan diberikan oleh sebuah tim yang terdiri dari Dentist, Dental Hygienist, Dental Assistant, dan Dental Technician. Dentist adalah dokter gigi yang memberikan pelayanan kedokteran gigi. Dental Hygienist bertugas mengisi Rekam Medis, serta melakukan tindakan Preventive Dentistry seperti membersihkan karang gigi secara mandiri. Dental Assistant bertugas sebagai asisten yang membantu dokter gigi mengambil alat, menyiapkan bahan, mengontrol saliva, membersihkan mulut, serta

mengatur cahaya lampu selama suatu prosedur perawatan sedang dilakukan. Dental Technician berkerja di Laboratorium, membuat protesa dan alat bantu yang akan dipasang di mulut pasien. Di Indonesia kondisinya sedikit berbeda, hanya dikenal 2 profesi kesehatan gigi diluar dokter gigi yaitu Perawat Gigi dan Tekniker Gigi. Perawat Gigi bertugas seperti Dental Assistant dan Dental Hygienist, sedangkan Tekniker Gigi bertugas sama seperti Dental Technician. Pada saat suatu pelayanan kedokteran gigi dilakukan hanya akan ada 2 orang yang berada disekitar pasien yaitu Dokter Gigi dan Perawat Gigi. Tugas kedua orang ini berbeda namun saling mendukung, ini kemudian melahirkan istilah Four Handed Dentistry. Konsep Four Handed Dentistry telah diadopsi oleh para produser pembuatan dental unit, sehingga saat ini seluruh dental unit yang dibuat selalu dilengkapi dengan sisi Dental Asistant disebelah kiri pasien. Oleh karena itulah konsep Four Handed Dentistry menjadi dasar dalam desain tata letak penempatan alat kedokteran gigi. JALUR KERJA DAN PERGERAKAN Dalam konsep Four Handed Dentistry dikenal konsep pembagian zona kerja disekitar Dental Unit yang disebut Clock Concept. Bila kepala pasien dijadikan pusat dan jam 12 terletak tepat di belakang kepala pasien, maka arah jam 11 sampai jam 2 disebut Static Zone, arah jam 2 sampai jam 4 disebut Assistens Zone, arah jam 4 sampai jam 8 disebut Transfer Zone, kemudian dari arah jam 8 sampai jam 11 disebut Operators Zone sebagai tempat pergerakan Dokter Gigi Clock Concep (Nusanti, 2000). Static Zone adalah daerah tanpa pergerakan Dokter Gigi Maupun Perawat Gigi serta tidak terlihat oleh pasien, zona ini untuk menempatkan Meja Instrumen Bergerak (Mobile Cabinet) yang berisi Instrumen Tangan serta peralatan yang dapat membuat takut pasien. Assistants Zone adalah zona tempat pergerakan Perawat Gigi, pada Dental Unit di sisi ini dilengkapi dengan Semprotan Air/Angin dan Penghisap Ludah, serta Light Cure Unit pada Dental Unit yang lengkap. Transfer Zone adalah daerah tempat alat dan bahan dipertukarkan antara tangan dokter gigi dan tangan Perawat Gigi. Sedangkan Operators Zone sebagai tempat pergerakan Dokter Gigi Selain pergerakan yang terjadi di seputar Dental Unit, pergerakan lain yang perlu diperhatikan ketika membuat desain tata letak alat adalah pergerakan Dokter Gigi, Pasien, dan Perawat Gigi di dalam ruangan maupun antar ruangan. Jarak antar peralatan serta dengan dinding bangunan perlu diperhitungkan untuk memberi ruang bagi pergerakan Dokter Gigi, Perawat Gigi, dan Pasien ketika masuk atau keluar Ruang Perawatan, mengambil sesuatu dari Dental Cabinet, serta pergerakan untuk keperluan sterilisasi. Pergerakan dalam Ruang Pemeriksaan (Kilpatrick, 1974). TATA LETAK PENEMPATAN ALAT Prinsip utama dalam desain tata letak penempatan alat kedokteran gigi adalah prinsip ergonomis, yaitu menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktivitas maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia, baik fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik letak hanyalah salah satu faktor dalam ergonomis, banyak faktor lain yang merupakan unsur ergonomis seperti desain warna, pencahaaan, suhu, kebisingan, dan kualitas udara ruangan, serta desain peralatan yang digunakan. Ruang Periksa adalah ruang utama dalam praktek dokter gigi, tata letak peralatan dalam ruangan ini berorientasi memberi kemudahan dan kenyamanan bagi Dokter Gigi, Perawat Gigi, berserta Pasiennya ketika proses perawatan dilakukan. Ukuran minimal Ruang

Perawatan untuk satu Dental Unit adalah 2,5 X 3,5 Meter, dalam ruangan ini dapat dimasukan satu buah Dental Unit, Mobile Cabinet, serta dua buah Dental Stool. Unsur penunjang lain dapat turut dimasukan seperti audio-video atau televisi untuk hiburan pasien yang sedang dirawat. Perhatian pertama dalam mendesain penempatan peralatan adalah terhadap Dental Unit. Alat ini bukan kursi statis tetapi dapat direbahkan dan dinaik-turunkan. Pada saat posisi rebah panjang Dental Unit adalah sekitar 1,8-2 Meter. Di belakang Dental Unit diperlukan ruang sebesar 1 Meter untuk Operators Zone dan Static Zone, oleh karena itu jarak ideal antara ujung bawah Dental Unit dengan dinding belakang atau Dental Cabinet yang diletakkan di belakang adalah 3 Meter; sementara jarak antara ujung bawah Dental Unit dengan dinding depan minimal 0,5 Meter. Dental Unit umumnya memiliki lebar 0,9 Meter, bila Tray dalam kondisi terbuka keluar maka lebar keseluruhan umumnya 1,5 Cm. Jarak dari tiap sisi minimal 0,8 Meter untuk pergerakan di Operators Zone dan Asistants Zone. Mobile Cabinet sebagai tempat menyimpan bahan dan alat yang akan digunakan pada saat perawatan diletakan di Static Zone. Zona ini tidak akan terlihat oleh pasien dan terletak dianatara Operators Zone dan Assistant Zone sehingga baik Dokter Gigi maupun Perawat Gigi akan dengan mudah mengambil bahan maupun alat yang diperlukan dalam perawatan. Bila Mobile Cabinet lebih dari satu, maka Mobile Cabinet kedua diletakan di Operators Zone. Alat besar terakhir yang berada di Ruang Perawatan adalah Dental Cabinet sebagai tempat penyimpanan utama bahan maupun alat kedokteran gigi. Umumnya berbentuk bufet setengah badan seperti Kitchen Cabinet dengan ketebalan 0,6-0,8 Meter. Bila hanya satu sisi, lemari ini ditempatkan di Static Zone, sedangkan bila berbentuk L, ditempatkan di Static Zone dan Assistants Zone. Keberadaan Dental Cabinet akan menambah luas ruangan yang diperlukan untuk menempatkannya. ERGONOMICAL AGENT Ergonomi adalah penerapan ilmu-ilmu biologis tentang manusia bersama-sama dengan ilmuilmu teknik dan teknologi untuk mencapai penyesuaian satu sama lain secara optimal dari menusia terhadap pekerjaannya, yang manfaat dari padanya diukur dengan efisiensi dan kesejahteraan kerja. Ergonomi merupakan pertemuan dari berbagai lapangan ilmu seperti antropologi, biometrika, faal kerja, higeine perusahaan dan kesehatan kerja, perencanaan kerja, riset terpakai, dan cybernetika. Namun kekhususan utamanya adalah perencanaan dari cara bekerja yang lebih baik meliputi tata kerja dan peralatannya. Ergonomi dapat mengurangi beban kerja. Dengan evaluasi fisiologis, psikologis atau cara tak langsung, beban kerja dapat diukur dan dinjurkan modifikasi yang sesuai antara kapasitas kerja dengan beban kerja dan beban tambahan. Tujuan utamanya adalah untuk menjamin kesehatan kerja dan meningkatkan produktivitas. 1. Disain tempat kerja: gambaran dasar untuk kenyamanan, produktifitas dan keamanan. a. Rancangan dan arus lalulintas. b. Pencahayaan. c. Temperatur, kelembaban dan ventilasi d. Mobilisasi (aktifitas kerja). e. Fasilitas sanitasi dan drainase (tempat pembuangan limbah cair dan padat). Proses dan disain perlengkapan untuk fungsi dan keamanan. Disain tempat dan alat kerja akan mempengaruhi kenyamanan, keamanan dan produktifitas dalam bekerja. Misalnya: Posisi duduk pada saat membuat klamer, menekuk kawat, menggerinda, melakukan sand blasting, melakukan pemolesan, dan lain-lain.

Gambar 1. A. Posisi pada saat melakukan sand blasting B. Posisi pada saat melakukan pemolesan denture Posisi saat melakukan pengepresan, saat mengangkat handpress dan kuvet, saat mengangkat panci, dan lain-lain. Gambar 2. Posisi pada saat melakukan pengepresan 3. Fungsi dan tugas: fungsi dan tugas orang dengan pekerjaan yang pantas. Misalnya: Karyawan dibagian pengecoran logam, pengepressan harus punya spesifikasi tertentu misalnya berat dan tinggi badan ideal, dan lain-lain. Kondisi berikut menunjukkan beberapa tanda-tanda suatu sistem kerja yang tidak ergonomik: 1. Hasil kerja (kualitas dan kuantitas) yang tidak memuaskan 2. Sering terjadi kecelakaan kerja atau kejadian yang hampir berupa kecelakaan 3. Pekerja sering melakukan kesalahan (human error) 4. Pekerja mengeluhkan adanya nyeri atau sakit pada leher, bahu, punggung, atau pinggang 5. Alat kerja atau mesin yang tidak sesuai dengan karakteristik fisik pekerja 6. Pekerja terlalu cepat lelah dan butuh istirahat yang panjang 7. Postur kerja yang buruk, misalnya sering membungkuk, menjangkau, atau jongkok 8. Lingkungan kerja yang tidak teratur, bising, pengap, atau redup 9. Pekerja mengeluhkan beban kerja (fisik dan mental) yang berlebihan 10. Komitmen kerja yang rendah 11. Rendahnya partisipasi pekerja dalam sistem sumbang saran atau hilangnya sikap kepedulian terhadap pekerjaan bahkan keapatisan KELELAHAN / FATIQUE Setelah pekerja melakukan pekerjaannya maka umumnya terjadi kelelahan,dalam hal ini kita harus waspada dan harus kita bedakan jenis kelelahannya, beberapa ahli membedakan/membaginya sebagai berikut : 1. Kelelahan fisik: Kelelahan fisik akibat kerja yang berlebihan, dimana masih dapat dikompensasi dan diperbaiki performansnya seperti semula. Kalau tidak terlalu berat kelelahan ini bisa hilang setelah istirahat dan tidur yang cukup. 2. Kelelahan yang patologis: Kelelahan ini tergabung dengan penyakit yang diderita, biasanya muncul tiba-tiba dan berat gejalanya. 3. Psikologis dan emotional fatique: Kelelahan ini adalah bentuk yang umum. Kemungkinan merupakan sejenis mekanisme melarikan diri dari kenyataan pada penderita psikosomatik. Semangat yang baik dan motivasi kerja akan mengurangi angka kejadiannya di tempat kerja. UPAYA MENGURANGI KELELAHAN Upaya kesehatan kerja dalam mengatasi kelelahan, meskipun seseorang mempunyai batas ketahanan, akan tetapi beberapa hal dibawah ini akan mengurangi kelelahan yang tidak seharusnya terjadi : 1. Lingkungan harus bersih dari zat-zat kimia. 2. Pencahayaan dan ventilasi harus memadai dan tidak ada gangguan bising

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Jam kerja sehari diberikan waktu istirahat sejenak dan istirahat yang cukup saat makan siang. Kesehatan pekerja harus tetap dimonitor. Tempo kegiatan tidak harus terus menerus Waktu perjalanan dari dan ke tempat kerja harus sesingkat mungkin, kalau memungkinkan. Secara aktif mengidentifikasi sejumlah pekerja dalam peningkatan semangat kerja. Fasilitas rekreasi dan istirahat harus disediakan di tempat kerja. Waktu untuk liburan harus diberikan pada semua pekerja Kelompok pekerja yang rentan harus lebih diawasi misalnya; Pekerja remaja, Wanita hamil dan menyusui, Pekerja yang telah berumur, Pekerja shift, dan Migrant. MUSCULOSKELETAL Kondisi pekerjaan utama dari dokter gigi telah dijelaskan dalam literatur pada dekade ke-6. Di antara mereka, gangguan muskuloskeletal memiliki insiden tertinggi pada kelompok kerja. (Gambar 1) Gambar 1. Insiden kondisi kerja utama di dokter gigi (setelah Murphy) 11.

Kondisi ini dijelaskan dalam literatur di bawah beberapa nama yang merujuk baik untuk definisi mereka seperti itu, atau untuk karakter kumulatif mereka atau untuk menentukan penyebab sebagai berikut: 1. Kerja terkait gangguan muskuloskeletal (WR-MSD); 2. Karena tugas yang berulang (RSI) Kondisi; 3. Trauma dengan efek kumulatif (CTD). Nama di mana mereka digambarkan tidak penting, karena mereka semua mengacu pada semua gangguan tentang tulang, otot, sendi dan saraf - untuk kondisi yang mempengaruhi misalnya tulang punggung, sindrom carpal tunnel, dll Tendinitis Faktor yang mendukung dari MSD : 1. Gerakan berulang-ulang: mereka merujuk pada gerakan yang sama atau suksesi gerakan yang dibuat secara berkala atau terus-menerus untuk jangka waktu yang panjang. Mereka dikaitkan dengan tingkat presisi yang tinggi, dan dilakukan pada wilayah yang sangat terbatas. 2. Posisi tidak nyaman (operator dan posisi yang tidak benar pasien): posisi postural persyaratan otot minimal untuk semua tingkat (posisi netral), baik dalam posisi berdiri atau bekerja dalam satu duduk. Postur yang berbeda dari yang satu ini menyiratkan suatu strain otot meningkat hingga tingkat tertentu. 3. Waktu yang lama kegiatan yang lebih dari gerakan berulang atau postur tidak nyaman dipertahankan. 4. Kurangnya istirahat dalam aktivitas atau istirahat tidak teratur (kurangnya relaksasi otot). 5. Gerakan kuat yang terkait dengan tangan menggenggam instrumen. 6. Getaran - mereka dapat mempengaruhi bagian tertentu dari tubuh, misalnya tangan, ketika menggunakan

peralatan mekanik yang menghasilkan getaran lokal. Getaran dapat juga diberikan pada para pekerja seluruh tubuh, misalnya dengan peralatan pneumatik pengeboran. 7. Lingkungan sekitarnya tidak nyaman - misalnya peningkatan suhu dan kelembaban, kebisingan yang berlebihan, petir tidak benar. 8. Karena organisasi yang salah dari kegiatan ini (misalnya tekanan waktu, jawaban atas kecemasan pasien dll) stres. TOLAK UKUR DALAM MENGURANGI GANGGUAN KERJA Gambar 2. Standar dimensi ergonomis tubuh dokter gigi dalam kaitannya dengan tubuh pasien. Gerakan dokter gigi dalam kantor gigi dan gerakan-gerakan khusus dia / dia bisa membuat selama prosedur gigi (akses ke instrumen, penyesuaian sumber cahaya, perubahan posisi kerja, dll) yang diperhitungkan dari sudut pandang ergonomis . Posisi pasien dan organisasi dari instrumen dan peralatan yang didirikan dalam rangka untuk mempertahankan posisi kerja yang benar. Postur kerja yang benar adalah titik awal dari semua penentuan ergonomis lainnya. Oleh karena itu, kursi gigi masa depan akan harus menyediakan kenyamanan dokter kebutuhan selama kegiatan itu. Pengukuran utama yang diperlukan untuk melaksanakan untuk setiap komponen dari kursi adalah: permukaan pesawat, punggung dan kaki kursi. Kami juga dapat membangun ruang maksimum dokter gigi akses di kursi gigi (Total lengan menyebar diperlukan untuk menyesuaikan instrumen kerja / sumber cahaya). Penelitian ergonomis mendirikan posisi yang benar tubuh dokter gigi harus memiliki saat bekerja: kursi harus disesuaikan sedemikian rupa kaki harus bersandar pada lantai (sudut yang dibentuk antara paha dan bagian bawah kaki harus minimum 90o), kolom tulang belakang harus lurus seperti itu mungkin, lordosis fisiologis dari kolom tulang belakang lumbal harus dijaga dan bahu harus membentuk garis, tegak lurus lurus di lantai bersama dengan pinggul. Siku harus di samping tubuh, membungkuk untuk 90o. (Gambar 2)

PERATURAN DAN STANDAR PERALATAN OPERASI GIGI Identifikasi banyak pekerjaan yang berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal (kebanyakan terkait dengan postur kerja dan antarmuka manusia-peralatan) menyebabkan pembentukan ISO 6385 dan ISO 11226. Mereka menetapkan kriteria pada orientasi dalam merancang peralatan yang digunakan dalam praktek gigi. Hal ini juga berisi beberapa "Prinsip Panduan Umum", mewakili pilihan aspek relevan. Standar ISO 6385 "Prinsip Ergonomi Peralatan Merancang" berisi petunjuk penting berikut: 1. Merancang ruang kerja dan peralatan;

2. Merancang dalam hubungannya dengan kekuatan, postur otot dan gerakan tubuh; 3. Merancang lingkungan kerja. Standar ISO 11226 "Ergonomi - penilaian postur statis bekerja" memiliki orientasi sebagai berikut: 1. Untuk mempertahankan postur santai; 2. Untuk alternatif postur kerja (kerja yang dinamis); 3. Untuk praktek olahraga dan latihan untuk memperkuat otot korset. ISO KONSEP DASAR Sebagai konsekuensi dari standarisasi internasional mengenai desain unit kerja, konsep ISO dasar untuk unit gigi merupakan cara klasifikasi bekerja berdasarkan hubungan ergonomis antara operator dan / lingkungannya sendiri bekerja. Varietas pengaturan serta desain unit memungkinkan sebuah gaya individu bekerja untuk diadopsi dalam kondisi ergonomis. Hasil dari laporan ini - yang berbeda dalam setiap konsep - adalah peningkatan efisiensi kegiatan serta kenyamanan operator meningkat. Karakteristik merujuk baik untuk menempatkan berbeda untuk setiap kategori peralatan dalam ruang kerja fisiologis (instrumen nampan, handpieces, sistem aspirasi dan mobile sub-unit) dan dengan berbagai desain dari unit itu sendiri. Dalam melakukan hal ini, sistem tampilan jam untuk orientasi (titik pasien pada jam 12 dan dagu pukul 6) digunakan. Pilihan cara bekerja menggunakan standar ISO untuk peralatan. Pemilihan suatu konsep tertentu ditentukan oleh gaya kerja dan integrasi dari unit gigi dalam ruang kantor gigi. Tingkat spesialisasi bantuan dokter gigi dapat mempengaruhi pada gilirannya pilihan ini. Dari sudut pandang ini, dua kecenderungan dapat dibedakan: solo kerja operasional atau karya soloduo dikembangkan dalam ruang Eropa, terutama di negara asal Latin, menyiratkan tingkat rendah spesialisasi dari asisten dokter gigi, yang satu ini mengambil alih fungsi sesekali tertentu selama prosedur terapeutik. Namun di Amerika dan di ruang Anglo-Saxon Eropa, gaya bekerja sepenuhnya dibantu diperlukan, yang mengembangkan "empat tangan bekerja" konsep, dengan gigi asisten / kebersihan berpartisipasi secara aktif dalam prosedur, menurut / gelar yang tinggi spesialisasi dan pelatihan dalam pekerjaan ergonomis. Asisten gigi memiliki atribusi yang tepat dalam prosedur yang dilakukan dalam suksesi yang tepat, didirikan sebelumnya. Jadi, jika prasyarat untuk memilih dan mengadaptasikan paling baik peralatan dan instrumen terpenuhi, hasilnya maksimal khasiat sebagai lebih besar dari pekerjaan dan usaha yang minimal. Saat ini, ada preferensi utama untuk konsep 1 ISO, yang saat ini digunakan oleh 89% dari dokter gigi Jerman, 9% dari preferensi yang berorientasi pada ISO 3 (Prof Engles, Tbingen, 2004). Ini adalah jenis utama dari peralatan dikomersialisasikan oleh produsen. Studi pernyataan fakta bahwa fakultas kedokteran gigi gunakan juga model ini, yang menggarisbawahi pentingnya mendidik siswa tentang kriteria ergonomi gigi. Sebuah pendekatan pendidikan masa mendatang akan berorientasi terhadap karakterisasi rinci dari 4 tipe unit, dalam rangka memfasilitasi pilihan masa depan dengan pengetahuan ergonomis penuh, sesuai dengan empat konsep ISO. Penerapan kriteria ergonomi gigi dapat menghasilkan serangkaian arah pada tingkat operasional di kantor gigi yang mampu membimbing dokter gigi. Ketika bekerja dengan MOD di spesialisasi gigi mana yang paling sering digunakan, penting

untuk mengetahui bahwa konsep ISO 2 dan ISO 4 memungkinkan lebih banyak ruang untuk posisi mikroskop operasi. Sayangnya, ada bukti bahwa 2 konsep yang digunakan hanya dalam proporsi 2%. Hal ini dapat disebabkan oleh fakta bahwa dokter gigi pada umumnya tidak akrab dengan bekerja di posisi "12:00" dan gaya "empat-tangan", sedangkan 2 ISO dan ISO 4 - jenis unit gigi mendukung terutama ini bekerja gaya. KEGIATAN STRUKTURISASI DAN ANALISA KERJA DI KANTOR GIGI DARI TITIK ERGONOMIS OF VIEW Dua aspek - fisik dan kognitif, ciri desain dari pengguna / teknologi interface (antarmuka manusia / mesin). Misalnya, ukuran fisik dari peralatan harus sesuai dengan ukuran anthropometrical dari user (s). Ketika merancang peralatan gigi, kriteria fisik berikut harus dipertimbangkan: 1. Peralatan gigi harus sesuai dengan berbagai pasien sebagai besar mungkin; 2. Interval penyesuaian ketinggian harus besar; 3. Peralatan gigi harus memungkinkan penempatan nyaman peralatan lainnya, ini harus mudah diakses selama pemeriksaan pasien pada ketinggian tertentu; 4. Warna, bentuk, tekstur instrumen, arah gerakan dan gaya yang diperlukan untuk beroperasi yang dipilih dalam batas-batas kapasitas manusia.

Desain kognitif mengacu pada: 1. Disposisi dari perintah pada panel kontrol dari unit gigi secara logis; 2. Maklum instruksi untuk menggunakan peralatan. Desain tempat kerja dan pembagian ruang mempengaruhi kesehatan operator dan kualitas nya / pekerjaannya. Gambar 3. Non-seimbang postur (kiri) dan posisi yang benar dari (kanan) dokter 6. Prinsip-prinsip ergonomis dalam mengorganisir ruang adalah sebagai berikut: 1. Kenyamanan (peralatan yang paling sering digunakan adalah di tempat yang paling nyaman untuk operator). 2. Posisi (duduk untuk akses ke pasien tanpa penyimpangan postur, seperti membungkuk, mencondongkan rotasi, dll). (Gambar 3) 3. Frekuensi (operasi yang paling sering / prosedur dilakukan secara bersamaan ditempatkan sebagai dekat mungkin). Akibatnya, operator mempertahankan posisi kerja yang terbaik dan berinvestasi upaya minimal, dan mengurangi upaya fisik dan psikis. Kondisi fisik lingkungan: mereka termasuk aspek seperti cahaya, kenyamanan termal, kebisingan, kualitas udara di kantor gigi (beban mikroba dll), getaran dan medan elektromagnetik. Desain kegiatan, seleksi dan spesialisasi: organisasi aktivitas harus termasuk istirahat dan bekerja dalam shift untuk menghindari oversolicitation. Pemilihan personil dilakukan atas dasar keterampilan khusus dan kualitas: fisik, kognitif dan sosial.

Desain organisasi dan manajemen: melibatkan tim analisis gaya yang bekerja, sehingga aktivitas dapat dioptimalkan, biaya berkurang dan teknologi baru diimplementasikan dan terpadu sebagai menguntungkan mungkin. Penerapan kriteria ergonomis dalam praktek gigi dapat dilakukan dengan cara individual, memilih untuk pengaturan tertentu dalam / nya ruang konsultasi nya atau untuk suatu konsep tertentu atas dasar konsep ISO yang dipilih, bersama dengan organisasi rasional dari seluruh aktivitas . Unsur penting yang memandu aktivitas ini adalah: 1. Sebuah postur tubuh yang benar dari pekerjaan; 2. Posisi yang benar dari pasien; 3. Visualisasi teknik sesuai dengan kasus; 4. Sebuah divisi dari ruang kerja sesuai dengan kemampuan fisik manusia; 5. Sebuah penanganan yang efisien dan mengatur instrumen, sehingga memungkinkan tenaga besar waktu dan gerakan, dan kerja yang efisien dalam tim. Postur kerja yang sesuai benar harus diingat sebagai titik awal dari semua faktor penentu lainnya. Posisi pasien ini didirikan dan peralatan dan instrumen yang diatur sesuai dengan ini dan dengan postur tubuh yang benar pada saat kegiatan tersebut. Kedokteran Gigi abad XXI cenderung untuk memberikan kepentingan yang lebih besar dengan faktor manusia, sering terabaikan sebelumnya dalam mendukung faktor teknologi. Transisi dari ergonomi berpusat pada teknologi ke yang berpusat pada manusia ergonomi juga sekarang keasyikan utama industri, yang akhirnya telah memutuskan untuk mengoptimalkan kualitas kegiatan secara paralel dengan pengurangan risiko yang menghasilkan kondisi tertentu untuk pendudukan. Berbeda dengan inisiatif di masa lalu, manusia yang berpusat ergonomi memberikan prioritas pertama untuk pasien, sekunder untuk praktisi dan ketiga dengan desain tempat kerja. Desain lingkungan kerja, yang harus disesuaikan baik untuk pasien dan untuk kebutuhan praktisi, dapat dipahami hanya setelah membangun hubungan yang benar antara operator dan pasien. Sebuah konsep yang relatif baru, yang disebut "kinerja logika" diperkenalkan dalam praktek gigi dan dalam pendidikan gigi. Menurut konsep ini, komponen-komponen penting dari kondisi ergonomis adalah pasien dan dokter gigi posisi. Keputusan ini posisi yang nyaman dan fisiologis serta pengaturan optimal dari lingkungan kerja adalah hasil dari umpan balik proprioseptif, dimana individu menyesuaikan kegiatannya menanggapi tanda-tanda yang dikirim oleh reseptor internal. Pada tahun 1987, Organisasi Kesehatan Dunia, mengacu pada konsep ini, kutipan yang keluar laporan ahli: "Logika efisiensi adalah pendekatan yang dapat dianggap sebagai indikator masa depan". KESIMPULAN Konsep Four Handed Dentistry dan ergonomis menjadi dasar dalam desain tata letak penempatan alat kedokteran gigi, semuanya bertujuan agar seluruh luasan ruangan termanfaatkan dengan baik serta menciptakan rasa nyaman kepada operator yang bekerja dan pasien yang menerima pelayanan. Ergonomi menawarkan untuk dokter, kepada anggota lain dari tim gigi kemungkinan untuk melaksanakan kinerja potensial tanpa menempatkan pada risiko kesehatan dan kondisi fisik, dan kemungkinan untuk memberikan yang optimal peduli kepada pasien. Aspek terpenting adalah pencegahan penyakit akibat kerja, tanggung jawab hukum untuk melindungi kesehatan keselamatan karyawan dan mahasiswa, pendidikan di ergonomi gigi

untuk siswa kesehatan gigi dan mulut, perkembangan akademik dan penelitian ergonomi gigi, menggunakan model organisasi dalam gigi setiap hari praktek, dan pengembangan ergonomi di tingkat Eropa.
DAFTAR PUSTAKA http://www.tmj.ro/article.php?art=9932424586124484 http://www.molaris.co.uk/images/4%20handed%20dentistry.jpg Dougherty, M. Information for Consideration in an Ergonomic Standard for Dentistry. Design by Feel Papers. www.designbyfeel.com. Diakses 4 Juli 2006. 4. Murdick, B. dkk. Service Operation Management. Boston : Allyn and Bacon. 1990. 5. Heizer, J. dan B. Render. Operation Management. Sixth Edition. Upper Saddle River : Prentice Hall. 6. Nusanti, D. Dental Surgeon Assistant. Dental Horison. Volume 2 Nomor 7. Oktober 2000. Hal 31-33. 7. Kilpatrick. H. Work Simplification in Dental Practice. Philadhelphia : WB Saunders Company. 1974 8. Tawaka, dkk. Ergonomi untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Produktivitas. Surakarta : Islam Batik University Press. 2004. 9. Finkbeiner, B, dan C. Fainkbeiner. Practice Management for Dental Team. St Louis : Mosby. 2001. 10. Endro, H. Presfektif Baru dalam Desain Tempat Praktek. Dentamedia, Nomor 1 Volume 8. Januari 2004. Hal 4-5. 11. Jones. Klinik Gigi Toothfairy, Periksa Gigi di Ruang Biru. 115 Sudut Ruang Usaha. Jakarta : PT Samindra Utama. Hal 72-75. 1. 2. 3.

TUGAS MAKALAH FOUR HENDED DENTISTRY L. M Haerul Wardi AKADEMI KESEHATAN GIGI KARYA ADI HUSADA MATARAM 2012

PENDAHULUAN A. Definisi (International Ergonomics Association). . ERGON (Kerja) dan NOMOS (Ilmu Pengetahuan). Studi tentang aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan desain/perancangan untuk mendapatkan suasana kerja yang sesuai dengan manusianya. . Penerapan Ergonomi dapat berupa: a. Rancang Bangun (design) b. Rancang Ulang (re-design) 3. Dapat diterapkan untuk design pekerjaan pada suatu organisasi, misal: penentuan jam istirahat, pergantian shift, variasi pekerjaan, dll B. Sejarah 1. Disosialisasikan sebagai bidang ilmu dari tahun 1949. 2. Beberapa kejadian yang terkait dengan perkembangan ilmu ergonomi: a. CT. Thackrah, England, 1831. Postur tubuh manusia pada saat bekerja berhubungan dengan kesehatan kerja. Pencahayaan, ventilasi dan temperatur di lingkungan kerja, Pembebanan kerja, jam kerja, dan gerakan yang berulang-ulang. b. FW Taylor, USA, 1898. Metode ilmiah untuk menentukan cara yang terbaik dalam melakukan pekerjaan. Konsep ergonomi dan manajemen modern.

I.

1) 2) 3)

1) 2)

1) 2)

c. FB. Gilbreth, USA, 1911. Optimasi metode kerja, dalam Analisa Gerakan. Motion Study, posisi membungkuk dapat diatasi dengan meja yang bisa naik-turun (adjustable).

d. E. Mayo, USA, 1933. 1) Kuantifikasi pengaruh dari variabel fisik seperti misal pencahayaan dan lamanya waktu istirahat terhadap efisiensi dari para operator kerja pada unit perakitan.

1) 2) 3) 4)

e. Pembentukan Kelompok/Asosiasi Ergonomi. The Ergonomics Research Society, England, 1949. The International Ergonomics Assosiation, 1957. The Human Factor Society, USA, 1957. The Ergonomics Society of Australia and New Zealand, 1954.

Dasar Keilmuan dari Ergonomi Ergonomi terkait dengan karakteristik fungsional dari manusia, seperti kemampuan penginderaan, respon, daya ingat, posisi optimum tangan dan kaki, dll. 2. Ergonomi membutuhkan pemahaman ilmu-ilmu terapan yang banyak berhubungan dengan fungsi tubuh manusia seperti anatomi dan fisiologi. 3. Sistem kerangka otot manusia, yang meliputi: a. Kinesiologi, Mekanika pergerakan manusia (mechanics of human movement). b. Biomekanika, Aplikasi ilmu mekanika teknik untuk analisis sistem kerangka-otot manusia. 4. Anthropometri, Pengukuran dan diskribsi dimensi tubuh manusia. 5. Industrial Hygiene, Penfendalian resiko kesehatan dalam kerja. 6. Industrial Phsychology, Sikap dan Prilaku manusia dalam bekerja. II. PEMBAHASAN Ergonomi berasal dari bahasa Yunani yaitu ergo artinya kerja dan nomos artinya hukum alam. Jadi, ergonomi adalah manusia yang bekerja berdasarkan hukum alam. Ergonomi adalah suatu cabang keilmuan yang sistematis untuk memanfaatkan informasiinformasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup dan bekerja dengan baik yaitu mencapai tujuan yang diinginkan dalam pekerjaan dengan efektif, efisien, aman dan nyaman. Salah satu penerapan ergonomi adalah aktivitas rancang bangun ataupun rancang ulang dan proses mendesain atau evaluasi produk. Adapun tujuan dari perancangan-perancangan tersebut adalah untuk memberikan kenyamanan kerja, meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja bagi karyawannya dengan tetap semanagat. Ergonomi adalah suatu cabang kelimuan yang sistematis untuk memanfaatkan informasiinformasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja

C. 1.

a.

b.

c. d.

e.

sehingga orang dapat hidup dan bekerja dengan baik yaitu mencapai tujuan yang diinginkan dalam pekerjaan dengan efektif, efisien, aman dan nyaman. Banyak definisi tentang ergonomi yang dikeluarkan oleh para pakar dibidangnya antara lain: Ergonomi adalah Ilmu atau pendekatan multidisipliner yang bertujuan mengoptimalkan sistem manusia-pekerjaannya, sehingga tercapai alat, cara dan lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman, dan efisien (Manuaba, A., 1981). Ergonomi adalah ilmu, seni, dan penerapan teknologi untuk menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktifitas maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia baik fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik (Tarwaka. dkk, 2004). Ergonomi adalah ilmu tentang manusia dalam usaha untuk meningkatkan kenyamanan di lingkungan kerja (Nurmianto, 1996). Ergonomi adalah ilmu serta penerapannya yang berusaha untuk menyerasikan pekerjaan dan lingkungan terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan tercapainya produktifitas dan efisiensi yang setinggi-tingginya melalui pemanfaatan manusia seoptimal-optimalnya (Sumamur, 1987). Ergonomi adalah praktek dalam mendesain peralatan dan rincian pekerjaan sesuai dengan kapabilitas pekerja dengan tujuan untuk mencegah cidera pada pekerja. (OSHA, 2000).

A. Adapun tujuan penerapan ergonomi adalah sebagai berikut : 1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental, dengan meniadakan beban kerja tambahan (fisik dan mental), mencegah penyakit akibat kerja, dan meningkatkan kepuasan kerja. 2. Meningkatkan kesejahteraan sosial dengan jalan meningkatkan kualitas kontak sesama pekerja, pengorganisasian yang lebih baik dan menghidupkan sistem kebersamaan dalam tempat kerja. 3. Berkontribusi di dalam keseimbangan rasional antara aspek-aspek teknik, ekonomi, antropologi dan budaya dari sistem manusia-mesin untuk tujuan meningkatkan efisiensi sistem manusia-mesin. B. Manfaat pelaksanaan ergonomi adalah sebagai berikut: 1. Menurunnya angka kesakitan akibat kerja. 2. Menurunnya kecelakaan kerja. 3. Biaya pengobatan dan kompensasi berkurang. 4. Stress akibat kerja berkurang. 5. Produktivitas membaik. 6. Alur kerja bertambah baik. 7. Rasa aman karena bebas dari gangguan cedera. 8. Kepuasan kerja meningkat. C. Ruang lingkup ergonomi sangat luas aspeknya, antara lain meliputi : 1. Tehnik 2. Fisik 3. Pengalaman psikis 4. Anatomi, utamanya yang berhubungan dengan kekuatan dan gerakan otot dan persendian 5. Anthropometri 6. Sosiologi 7. Fisiologi, terutama berhubungan dengan temperatur tubuh, Oxygen up take, pols dan aktivitas otot. 8. Desain, dll. D. Metode-metode Ergonomi 1. Diagnosis

Dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, inspeksi tempat kerja penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan, ergonomik checklist dan pengukuran lingkungan kerja lainnya. Variasinya akan sangat luas mulai dari yang sederhana sampai kompleks. 2. Treatment Pemecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar pada saat diagnosis. Kadang sangat sederhana seperti merubah posisi meubel, letak pencahayaan atau jendela yang sesuai. Membeli furniture sesuai dengan demensi fisik pekerja. 3. Follow-up Dengan evaluasi yang subyektif atau obyektif, subyektif misalnya dengan menanyakan kenyamanan, bagian badan yang sakit, nyeri bahu dan siku, keletihan, sakit kepala dan lain-lain. Secara obyektif misalnya dengan parameter produk yang ditolak, absensi sakit, angka kecelakaan dan lain-lain. E. Aplikasi/penerapan Ergonomik: 1. Posisi Kerja Terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja. Sedangkan posisi berdiri dimana posisi tulang belakang vertikal dan berat badan tertumpu secara seimbang pada dua kaki. 2. Proses Kerja Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu bekerja dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus dibedakan ukuran anthropometri barat dan timur. 3. Tata Letak Tempat Kerja Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja. Sedangkan simbol yang berlaku secara internasional lebih banyak digunakan daripada kata-kata.

4. Mengangkat beban Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala, bahu, tangan, punggung, dll. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera tulang punggung, jaringan otot dan persendian akibat gerakan yang berlebihan. Setelah pekerja melakukan pekerjaannya maka umumnya terjadi kelelahan, dalam hal ini kita harus waspada dan harus kita bedakan jenis kelelahannya, beberapa ahli membedakan / membaginya sebagai berikut : a. Kelelahan fisik Kelelahan fisik akibat kerja yang berlebihan, dimana masih dapat dikompensasi dan diperbaiki performansnya seperti semula. Kalau tidak terlalu berat kelelahan ini bisa hilang setelah istirahat dan tidur yang cukup. b. Kelelahan yang patologis Kelelahan ini tergabung dengan penyakit yang diderita, biasanya muncul tiba-tiba dan berat gejalanya. c. Psikologis dan emotional fatique Kelelahan ini adalah bentuk yang umum. Kemungkinan merupakan sejenis mekanisme melarikan diri dari kenyataan pada penderita psikosomatik. Semangat yang baik dan motivasi kerja akan mengurangi angka kejadiannya di tempat kerja. Aplikasi Ergonomi untuk Perancangan Tempat Kerja Pelatihan bidang ergonomi sangat penting, sebab ahli ergonomi umumnya berlatar belakang pendidikan tehnik, psikologi, fisiologi atau dokter, meskipun ada juga yang dasar keilmuannya tentang

desain, manajer dan lain-lain. Akan tetapi semuanya ditujukan pada aspek proses kerja dan lingkungan kerja. Penanggulangan Permasalahan Ergonomi Aplikasi ergonomi dapat dilaksanakan dengan prinsip pemecahan masalah; tahap awal adalah identifikasi masalah yang sedang dihadapi. Hal ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi. Langkah selanjutnya adalah menentukan prioritas masalah, masalah yang paling mencolok harus ditangani lebih dahulu. Setelah analisis dikerjakan, maka satu atau dua alternatif intervensi harus diusulkan. Pada pengenalan/rekognisi ada 3 hal yang harus diperhatikan, ketiganya berinteraksi dalam penerapan ergonomi dengan fokus utama pada sumber daya manusia. 1. Kesehatan mental dan fisik harus diperhatikan untuk diperbaiki sehinggga didapatkan tenaga kerja yang sehat fisik, rohani dan sosial yang memungkinkan mereka hidup produktif baik secara sosial maupun ekonomi. 2. Kemampuan jasmani dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan antropometri, lingkup gerak sendi dan kekuatan otot. 3. Lingkungan tempat kerja a. Harus memberikan ruang gerak secukupnya bagi tubuh dan anggota badan sehingga dapat bergerak secara leluasa dan efisien. b. Dapat menimbulkan rasa aman dan tidak menimbulkan stres lingkungan. c. Pembebanan kerja fisik Selama bekerja, kebutuhan peredaran darah dapat meningkat sepuluh sampai dua puluh kali. Meningkatnya peredaran darah pada otot-otot yang bekerja, memaksa jantung untuk memompa darah lebih banyak. Kerja otot dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu: d. Kerja otot dinamik, ditandai dengan kontraksi bergantian yang berirama dan ekstensi, ketegangan dan istirahat. e. Kerja otot statik, ditandai oleh kontraksi otot yang lama yang biasanya sesuai dengan sikap tubuh. Tidak dianjurkan untuk meneruskan kerja otot statik dalam jangka lama karena akan timbul rasa nyeri dan memaksa tenaga kerja untuk berhenti. f. Sikap tubuh dalam bekerja Sikap tubuh dalam bekerja berhubungan dengan tempat duduk, meja kerja dan luas pandangan. Untuk merencanakan tempat kerja dan perlengkapannya diperlukan ukuran-ukuran tubuh yang menjamin sikap tubuh paling alamiah dan me-mungkinkan dilakukannya gerakan-gerakan yang dibutuhkan

III. Kesimpulan Penerapan Ergonomi di tempat kerja bertujuan agar pekerja saat bekerja selalu dalam keadaan sehat, nyaman, selamat, produktif dan sejahtera. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, perlu kemauan, kemampuan dan kerjasama yang baik dari semua pihak. Pihak pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap kesehatan masyarakat, membuat berbagai peraturan, petunjuk teknis di

Tempat Kerja serta menjalin kerjasama lintas program maupun lintas sektor terkait dalam pembinaannya FOUR HANDED DENTISTRY ERGONOMI KERJA OLEH : BAIQ WAHYU SKARDINI PENDAHULUAN Perkembangan teknologi saat ini begitu pesatnya, sehingga peralatan sudah menjadi kebutuhan pokok pada berbagai lapangan pekerjaan. Artinya peralatan dan teknologi merupakan penunjang yang penting dalam upaya meningkatkan produktivitas untuk berbagai jenis pekerjaan. Disamping itu disisi lain akan terjadi dampak negatifnya, bila kita kurang waspada menghadapi bahaya potensial yang mungkin timbul. Hal ini tidak akan terjadi jika dapat diantisipasi pelbagai risiko yang mempengaruhi kehidupan para pekerja. Pelbagai risiko tersebut adalah kemungkinan terjadinya penyakit akibat kerja, penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan dan kecelakaan akibat kerja yang dapat menyebabkan kecacatan atau kematian. Antisipasi ini harus dilakukan oleh semua piha dengan cara penyesuaian antara pekerja, proses kerja dan lingkungan kerja. Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan ergonomik. Ergonomi yaitu ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan mereka. Sasaran penelitian ergonomi ialah manusia pada saat bekerja dalam lingkungan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ergonomi ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia ialah untuk menurunkan stress yang akan dihadapi. Dental ergonomi juga bertujuan untuk memberikan keselesaan kepada dokter gigi saat bekerja. Dokter gigi mungkin menderita musculoskeletal disorder yang berhubungan dengan kerja atau work-related musculoskeletal disorder (WMSDs). DENTAL ERGONOMI A. DEFINISI Dalam bahasa Yunani, "Ergo," berarti kerja dan "Nomos," berarti hukum-hukum alam atau sistem. Ergonomi, karena itu, adalah ilmu terapan yang bersangkutan dengan merancang produk dan prosedur untuk efisiensi maksimum dan keselamatan. Ergonomi memodifikasi alat dan tugas untuk memenuhi kebutuhan orang-orang, daripada memaksa orang untuk mengakomodasi tugas atau alat. Ergonomi juga merupakan ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan mereka. Ergonomi juga merupakan sains yang berhubungan dengan interaksi antara manusia dengan lingkungan kerja mereka. Sasaran penelitian ergonomi ialah manusia pada saat bekerja dalam lingkungan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ergonomi ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia ialah untuk menurunkan stress yang akan dihadapi. Oleh itu, dental ergonomi merupakan pengetahuan yang mempelajari tentang operator dan linkungan pekerjaannya agar tidak menimbulkan kelelahan, ketakutan dan kebosanan pasien. dental ergonomi juga termasuk desain kursi yang khusus khas untuk dokter gigi agar postur badan yang neutral tetap dapat dipertahankan.

B.

SEJARAH ERGONOMI Ergonomi mulai dicetuskan pada tahun 1949, akan tetapi aktivitas yang berkenaan dengannya telah bermunculan puluhan tahun sebelumnya. Beberapa kejadian penting diilustrasikan sebagai berikut: C.T. Thackrah, England, 1831 Trackrah adalah seorang dokter dari Inggris/England yang meneruskan pekerjaan dari seorang Italia bernama Ramazzini, dalam serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan kerja yang tidak nyaman yang dirasakan oleh para operator di tempat kerjanya. Ia mengamati postur tubuh pada saat bekerja sebagai bagian dari masalah kesehatan. Pada saat itu Trackrah mengamati seorang penjahit yang bekerja dengan posisi dan dimensi kursi-meja yang kurang sesuai secara antropometri, serta pencahayaan yang tidak ergonomis sehingga mengakibatkan menbungkuknya badan dan iritasi indera penglihatan. F.W. Taylor, U.S.A., 1989 Frederick W. Taylor adalah seorang insinyur Amerika yang menerapkan metoda ilmiah untuk menentukan cara yang terbaik dalam melakukan suatu pekerjaan. F.B. Gilbreth, U.S.A., 1911 Gilbreth juga mengamati dan mengoptimasi metoda kerja, dalam hal ini lebih mendetail dalam Analisa Gerakan dibandingkan dengan Taylor. Dalam bukunya Motion Study yang diterbitkan pada tahun 1911 ia menunjukkan bagaimana postur membungkuk dapat diatasi dengan mendesain suatu sistem meja yang dapat diatur turun-naik (adjustable). Badan Penelitian untuk Kelelahan Industri (Industrial Fatigue Research Board), England, 1918 Badan ini didirikan sebagai penyelesaian masalah yang terjadi di pabrik amunisi pada Perang Dunia Pertama. Mereka menunjukkan bagaimana output setiap harinya meningkat dengan jam kerja per hari-nya yang menurun. Mayo dan teman-temannya, U.S.A., 1933 Elton Mayo seorang warga negara Australia, memulai beberapa studi di suatu Perusahaan Listrik. Tujuan studinya adalah untuk mengkuantifikasi pengaruh dari variabel fisik seperti pencahayaan dan lamanya waktu istirahat terhadap faktor efisiensi dari para operator kerja pada unit perakitan. Perang Dunia Kedua, England dan U.S.A. Masalah operasional yang terjadi pada peralatan militer yang berkembang secara cepat (seperti misalnya pesawat terbang). Masalah yang ada pada saat itu adalah penempatan dan identifikasi utnuk pengendali pesawat terbang, efektivitas alat peraga (display), handel pembuka, ketidak-nyamanan karena terlalu panas atau terlalu dingin, desain pakaian untuk suasana kerja yang terlalu panas atau terlalu dingin dan pengaruhnya pada kinerja operator. Pembentukan Kelompok Ergonomi Pembentukan Masyarakat Peneliti Ergonomi (the Ergonomics Research Society) di England pada tahun 1949 melibatkan beberapa profesional yang telah banyak berkecimpung dalam bidang ini. Hal

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

ini menghasilkan jurnal (majalah ilmiah) pertama dalam bidang Ergonomi pada Nopember 1957. Perkumpulan Ergonomi Internasional (The International Ergonomics Association) terbentuk pada 1957, dan The Human Factors Society di Amerika pada tahun yang sama. Diketahui pula bahwa Konperensi Ergonomi Australia yang pertama diselenggarakan pada tahun 1964, dan hal ini mencetuskan terbentuknya Masyarakat Ergonomi Australia dan New Zealand (The Ergonomics Society of Australian and New Zealand). C. TUJUAN ERGONOMI 1. Untuk mendapatkan hasil yang optimal pada pekerjaan dokter gigi. hal ini dapat dicapai dengan mengausai pengetahuan dan teknik kerja. 2. Menghemat waktu. Dengan menguasai urutan kerja dan prosedur, dokter gigi dapat berkerja secara efisien dan cepat tanpa ragu-ragu dan ini dapat menghematkan waktu dalam perawatan. 3. Untuk bekerja secara efisien. Efisiensi kerja dapat ditingkatkan dengan cara meletakkan peralatan dan bahan disusun secara berurutan dengan tahap prosedur kerja yang dilakukan. Supaya dokter gigi dapat bekerja dengan nyaman. Hal ini dapat dicapai dengan cara meletakkan dental chair, meja peralata, lampu serta posisi operator dan asistennya. 4. Untuk mendapatkan kepercayaan dari pasien. kerja yang efisien dan kenyamanan pasien akan memberikan rasa kepercayaan pasien kepada dokter gigi dan membina hubungan yang positif antara pasien dengan dokter gigi. D. PRINSIP ERGONOMI 1. Eliminate yaitu mengurangi alat-alat dan gerakan yang tidak perlu 2. Combine yaitu mengabungkan dua alat atau gerakan yang lebih 3. Rearrange yaitu mempersiapkan alat-alat, prosedur dan jadwal yang baik 4. Simplify yaitu menyederhanakan alat-alat dan prosedur E. 1. METODE ERGONOMI Diagnosis, dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, inspeksi tempat kerja penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan, ergonomik checklist dan pengukuran lingkungan kerja lainnya. Variasinya akan sangat luas mulai dari yang sederhana sampai kompleks. 2. Treatment, pemecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar pada saat diagnosis. Kadang sangat sederhana seperti merubah posisi meubel, letak pencahayaan atau jendela yang sesuai. Membeli furniture sesuai dengan demensi fisik pekerja. 3. Follow-up, dengan evaluasi yang subyektif atau obyektif, subyektif misalnya dengan menanyakan kenyamanan, bagian badan yang sakit, nyeri bahu dan siku, keletihan , sakit kepala dan lain-lain. Secara obyektif misalnya dengan parameter produk yang ditolak, absensi sakit, angka kecelakaan dan lain-lain.

F.

FAKTOR RESIKO ERGONOMI DALAM KEDOKTERAN GIGI Dental ergonomi juga bertujuan untuk memberikan keluasaan kepada dokter gigi saat bekerja. dokter gigi mungkin menderita musculoskeletal disorder yang berhubungan dengan kerja atau workrelated musculoskeletal disorder (WMSDs). Tanda dan gejala dari WMSD adalah: 1. Leher sakit pada waktu malam

2. 3. 4.

Punggung berasa kaku pada waktu pagi Pergelangan tangan sakit Rasa kebas pada jari Salah satu tipe WMSD adalah Sindrom Karpal Tunnel. Sindrom ini terjadi akibat kompresi pada nervus median yang bermula dari pleksus brachial yang menginervasi jari tangan. Etiologi dari sindrom ini adalah pergerakan yang berulang atau aspek lain dari postur tubuh yang kurang baik. oleh itu, ergonomi penting dalam mempertahankan postur badan yang neutral ketika operator duduk pada praktek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi neutral adalah sedikit lebih kurang dari 90 untuk kepala, tubuh, lengan dan paha yang merupakan posisi yang paling baik. Gambar 1: menunjukkan bagian pada tangan yang diinervasi pleksus branchial yang akan terpengaruh apabila menderita Sindrom Karpal Tunnel Gambar 2: menunjukkan proses injuri sel syaraf pada Sindrom Karpal Tunnel Untuk bagian Leher dan Bahu. Resiko dapat terjadi karena gerakan leher dan lengan berulang terus menerus dan gerakan tangan yang mempengaruhi leher dan bahu berhubungan dengan WMSDs pada leher. Rasa sakit dan ketidaknyamanan pada bagian belakang bawah berkaitan dengan perawatan gigi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa postur duduk yang baik berkorelasi negatif dengan nyeri punggung. Lebih dari 80% dokter gigi yang memilih posisi duduk dilaporkan lebih sering mengalami sakit punggung, dibandingkan mereka yang lebih sering memilih posisi berdiri. Untuk faktor psikososial, Dokter Gigi yang pekerjaannya berhubungan dengan WMSDs menunjukkan kecenderungan yang signifikan untuk merasa tidak puas di tempat kerja dan lebih terbebani oleh kecemasan dan merasa kurang percaya diri dengan pekerjaan mereka kedepan.

G.

PENCEGAHAN WMSDs PADA DOKTER GIGI Masalah ergonomi dalam kedokteran gigi dapat dikurangi dengan menerapkan berbagai strategi. Dokter gigi juga harus melakukan latihan khusus untuk bagasi dan korset bahu untuk meningkatkan kesehatan dan integritas dari kolom tulang belakang; latihan peregangan untuk tangan dan kepala & leher; mempertahankan postur kerja yang baik; mengoptimalkan fungsi lengan dan tangan, dan mencegah cedera. Latihan berikut ini dapat dipraktekkan dan dilakukan oleh dokter gigi secara teratur untuk mencegah WMSDs.

1.

Latihan Penguatan Tubuh Dalam posisi duduk, memanjangkan satu kaki ke depan; tekuk dan regangkan tangan sejauh mungkin tanpa menekuk lutut (Gambar 3a); ulangi dengan kaki lainnya. Regangkan satu kaki dan menempatkan kaki lainnya selama kaki membentang; berbalik sejauh mungkin tanpa mengubah posisi kaki (Gambar 3b); ulangi pada sisi yang lain. 2. Latihan Tangan Perlahan-lahan membuka dan menutup tangan dari posisi benar-benar terbuka (Gambar 4a), untuk posisi benar-benar tertutup (Gambar 4b), yang berakhir dengan jari-jari Anda dimasukkan ke telapak tangan; tekan telapak tangan Anda bersama-sama dan kemudian regangkan kembali (Gambar 4c) ; tarik perlahan dan rilekskan setiap jari pada setiap tangan secara terpisah (Gambar 4d); silangkan pergelangan kemudian dengan lembut dan rilekskan (Gambar 4e). 3. Leher Latihan

Lemaskan bahu dan menyelipkan dagu ke leher (Gambar 5a), kemudian mengangkat bagian belakang kepala (Gambar 5b); kepala miring ke samping seolah-olah mencoba menyentuh telinga ke bahu (Gambar 5c); ulangi pada sisi lain. 4. Latihan Punggung Santaikan leher, condongkan badan ke bawah perlahan-lahan lalu biarkan lengan dan kepala jatuh di antara kaki (Gambar 6a); diamkan untuk sementara waktu; mengangkat perlahan hingga otot perut berkontraksi dan condongkan badan ke belakang secara msksimal (Gambar 6b). 5. Latihan Bahu Angkat bahu ke arah telinga dan memutar searah jarum jam dan kemudian dalam arah berlawanan jarum jam H. BAGIAN-BAGIAN ERGONOMI 1. Visual Ergonomi Surgical loupe yang dapat disesuaikan sudut deklinasi mata dapat memberikan postur leher yang baik dan sebagai pembantu visual. Apabila prosedur yang dikerjakan berubah, sudut deklinasi dapat disesuaikan untuk mengakomodasi operator. Kemampuan untuk menyesuaikan sudut deklinasi menghindari kesakitan mata, leher dan punggung. Kebanyakan dokter gigi mengatakan bahwa tidak membutuhkan magnifikasi (pembesaran) karena penglihatan mereka baik. tetapi, dengan penglihatan yang baik, kita cenderung untuk membengkok bila melihat objek yang kecil sehingga dapat menyebabkan postur tubuh yang kurang baik. Sehingga illuminasi harus sejajar dengan garis penglihatan operator. Gambar 8: menunjukkan kepentingan menggunakan surgical loupes. Apabila melihat objek yang kecil, operator cenderung untuk membengkok ke depan dan menyebabkan rasa sakit pada punggung

2.

Cara Duduk dan Desain Kursi Apabila medulla spinalis tidak dipertahankan pada kurva yang aslinya, mungkin akan terjadinya sakit pada bagian bawah punggung, leher dan bahu. cara duduk dengan sudut pada sendi paha kurang lebih 45 dan paha dalam posisi yang abduksi dapat mengeliminasi kebanyakan risiko musculoskeletal disorder yang berhubungan dengan waktu duduk yang lama. Pelvis harus pada keadaan yang stable dengan orientasi yang tegak untuk mempertahankan kurva spinalis yang neutral. Telapak kaki harus rata pada lantai dan paha dalam keadaan terdukung dan memberikan dukungan kepada tubuh. Hal ini dapat menghindari hambatan terhadap sirkulasi darah ke kaki dan telapak kaki. Kursi saddle dapat memberikan posisi yang tegak ketika operator duduk. Desain dari kursi saddle dapat mempertahankan medulla spinalis pada susunan yang benar sehingga rasa sakit pada punggung dapat dikurangi dengan tekanan yang minimal pada diskus vertebra. Gambar 9: menunjukkan desains dari kursi untuk operator yang dapat memberikan posisi yang tegak ketika operator duduk agar medulla spinalis dapat dipertahankan dalam posisi yang neutral 1. Ketika melihat lurus ke depan, garis pandang membentuk garis horizontal 2. Ketika bekerja dengan ketepatan yang tinggi, garis pandang membentuk sudut 800 dari garis horizontal 3. Paha sedikit menurun dan kaki bagian bawah di posisi vertikal 3. Cara Memegang Instrument Cara memegang instrumen tangan atau instrumen rotatori adalah modified pen grasp. Cara alat \dipegang adalah dengan menggunakan jari tengah, jari telunjuk, dan ibu jari. Jari telunjuk dan ibu jari

berada berdekatan dengan gagang alat pada sisi yang berseberangan, sedangkan jari tengah berada di atas leher alat. Jari telunjuk ditekuk pada ruas kedua dan berada di atas jari tengah pada sisi yang sama dari alat. Ibu jari ditempatkan di antara telunjuk dan jari tengah pada sisi yang berseberangan. Dengan posisi ketiga jari yang demikian didapatkan efek tripod yang akan mencegah terputarnya alat secara tak terkontrol pada waktu tekanan dilepaskan sewaktu instrumentasi. Selain itu, keuntungan dari cara pemegangan instrumen ini adalah dimungkinkan sensasi taktil oleh jari tengah yang diletakkan di atas leher alat 4. Tumpuan dan Sandaran Jari Tumpuan dan sandaran jari adalah menunjukkan penempatan jari manis dari tangan yang memegang alat baik secara intra-oral atau ekstra oral untuk dapat mengkontrol kerja alat dengan lebih baik. sandaran jari digunakan untuk memperbesarkan aksi instrumen dan dengan memperbesarkan instrumen akan menjadi pengungkit. Dengan cara demikian, aplikasi tekanan akan bertambah baik dan stabilisasi alat semakin terjamin. Pergelangan tangan dan lengan operator berperan sebagai tuas yang merupakan suatu kesatuan dengan tumpuan. Sandaran jari bisa intra oral atau ekstra oral. Sandaran intra oral berupa; Konvensional. Jari manis bersandar pada permukaan gigi tetangga dari gigi yang diinstrumentasi. Cara ini paling sering digunakan. Berseberangan. Jari manis bersandar pada permukaan gigi yang berseberangan pada lengkung rahang yang sama. Berlawanan. Jari manis bersandar pada permukaan gigi di lengkung rahang yang berlawanan. Jari di atas jari. Jari manis bersandar di atas telunjuk ibu jari tangan yang tidak bekerja.

a) b) c) d)

Gerak Pergelangan Tangan dan Lengan Pada waktu instrumentasi, pergelangan tangan dan lengan bawah harus menyatu dengan alat dan tumpun supaya pekerjaan dapat dilakukan secara efisien. Gerakan pergelangan tangan dan lengan haruslah mulus dan efisien. kadang-kadang pergelangan tangan terpaksa ditekukkan, namun otot-otot telapak tangan dan lengan bawah meregang dan bergerak sebagai satu unit. Instrumentasi dengan menekukkan pergelangan tangan atau dengan gerak jari ke atas dan ke bawah akan menyebabkan cepat lelah dan instrumentasi tidak efektif. Selain itu, instrumentasi dengan menekukkan pergelangan tangan atau gerak jari saja akan menyebabkan Sindrom Karpal Tunnel dan inflamasi pada ligamen dan saraf pergelangan tangan. 5. Posisi Pasien Posisi pasien mempengaruhi kemampuan operator untuk bekerja secara nyaman dan efisien. untuk instrumentasi, kursi dental ditidurkan agar pasien bersandar pada posisi telantang dengan kepala terdukung. Kursi diatur sehingga pasien hampir sejajar dengan lantai dan punggung kursi sedikit dinaikkan. Kepala pasien harus berada dekat puncak sandaran kursi. Posisi pasien pada perawatan kwandran kiri dan kanan rahang atas harus sehorizontal mungkin. Manakala perawatan pada kwandran kiri rahang bawah, pasien harus berbaring di krusi dengan posisisandaran krusi 30 dari bidang horizontal. Untuk kwandran rahang bawah, pasien harus berbaring dengan sudut 40 dari bidang horizontal. Gambar 11: menunjukkan posisi pasien pada perawatan kwandran kiri dan kanan rahang atas yang berbaring sehorizontal mungkin

Gambar 12: menunjukkan posisi pasien yang berbaring 30 terhadap bidang horizontal pada perawatan kwadran kiri rahang bawah. Gambar 13: menunjukkan posisi pasien yang berbaring dengan sudut 40 terhadap bidang horizontal pada perawatan kwandran kanan rahang bawah. Posisi operator bervariasi tergantung pada sisi mana instrumentasi dilakukan. Posisi operator dikaitakan dengan arah jarum jam. Posisi pukul 8 12 adalah posisi bagi operator normal, sedangkan posisi pukul 12 4 adalah posisi bagi operator kidal. Tabel di bawah menunjukkan posisi operator yang bukan kidal pada waktu melakukan perawatan pada pasien. Rahang Sisi Posisi Labial anterior 8.00 9.00 atau 11.00 12.00 Palatal anterior 8.00 9.00 atau 11.00 12.00 Maksila Bukal kanan 9.00 Palatal kanan 9.00 11.00 Bukal kiri 9.00 11.00 Palatal kiri 9.00 Labial anterior 8.00 9.00 Lingual anterior 11.00 12.00 Bukal kanan 8.00 9.00 Mandibula Lingual kanan 9.00 11.00 Bukal kiri 9.00 11.00 Lingual kiri 8.00 9.00 Clock Concept

Dalam konsep Four Handed Dentistry dikenal konsep pembagian zona kerja disekitar. Dental Unit yang disebut Clock Concept. Bila kepala pasien dijadikan pusat dan jam 12 terletak tepat di belakang kepala pasien, maka arah jam 11 sampai jam 2 disebut Static Zone, arah jam 2 sampai jam 4 disebut Assistens Zone,arah jam 4 sampai jam 8 disebut Transfer Zone. Kemudian dari arah jam 8 sampai jam 11 disebut Operators Zone sebagai tempat pergerakan dokter gigi. Transfer Zone adalah daerah tempat alat dan bahan dipertukarkan antara tangan dokter gigi dan tangan perawat gigi. Operators Zone sebagai tempat pergerakan dokter gigi. Static Zone adalah daerah tanpa pergerakan dokter gigi maupun perawat gigi serta tidak terlihat oleh pasien, zona ini untuk menempatkan meja instrumen bergerak (Mobile Cabinet) yang berisi Instrumen Tangan serta peralatan yang dapat membuat takut pasien. Assistants Zone adalah zona tempat pergerakan perawat gigi, pada dental unit di sisi ini dilengkapi dengan semprotan air/angin dan penghisap ludah, serta Light Cure Unit pada Dental Unit yang lengkap. Selain pergerakan yang terjadi di seputar Dental Unit, pergerakan lain yang perlu diperhatikan ketika membuat desain tata letak alat adalah pergerakan dokter gigi, pasien, dan perawat gigi di dalam ruangan maupun antar ruangan. Jarak antar peralatan serta dengan dinding bangunan perlu diperhitungkan untuk memberi ruang bagi pergerakan dokter gigi, perawat gigi, dan pasien ketika

masuk atau keluar ruang perawatan, mengambil sesuatu dari Dental Cabinet, serta pergerakan untuk keperluan sterilisasi. 6. Tata Letak Penempatan Alat Ruang Periksa adalah ruang utama dalam praktek dokter gigi, tata letak peralatan dalam ruangan ini berorientasi memberi kemudahan dan kenyamanan bagi dokter gigi, perawat gigi, berserta pasiennya ket ika proses perawatan dilakukan. Ukuran minimal ruang perawatan untuk satu Dental Unit adalah 2,5 X 3,5 meter, dalam ruangan ini dapat dimasukan satu buah Dental Unit, Mobile Cabinet, serta dua buah Dental Stool. Unsur penunjang lain dapat turut dimasukan seperti audio-video atau televisi untuk hiburan pasien yang sedang dirawat. Perhatian pertama dalam mendesain penempatan peralatan adalah terhadap Dental Unit. Alat ini bukan kursi statis tetapi dapat direbahkan dan dinaik-turunkan. Pada saat posisi rebah panjang Dental Unit adalah sekitar 1,8-2 meter. Di belakang Dental Unit diperlukan ruang sebesar satu meter untuk Operators Zone dan Static Zone, oleh karena itu jarak ideal antara ujung bawah Dental Unit dengan dinding belakang atau Dental Cabinet yang diletakkan di belakang adalah 3 meter; sementara jarak antara ujung bawah Dental Unit dengan dinding depan minimal 0,5 meter. Dental Unit umumnya memiliki lebar 0,9 meter, bila Tray dalam kondisi terbuka keluar maka lebar keseluruhan umumnya 1,5 meter. Jarak dari tiap sisi minimal 0,8 meter untuk pergerakan di Operators Zone dan Asistants Zone. Mobile Cabinet sebagai tempat menyimpan bahan dan alat yang akan digunakan pada saat perawatan diletakan di Static Zone. Zona ini tidak akan terliha oleh pasien dan terletak dianatara Operators Zone dan Assistant Zone sehingga baik doktergigi maupun perawat gigi akan dengan mudah mengambil bahan maupun alat yang diperlukan dalam perawatan. Alat besar terakhir yang berada di Ruang Perawatan adalah Dental Cabinet sebagai tempat penyimpanan utama bahan maupun alat kedokteran gigi. Umumnya berbentuk buffet setengah badan seperti Kitchen Cabinet dengan ketebalan 0,6-0,8 meter. Bila hanya satu sisi, lemari ini ditempatkan di Static Zone, sedangkan bila berbentuk L, ditempatkan di Static Zone dan Assistants Zone. Keberadaan Dental Cabinet akan menambah luas ruangan yang diperlukan untuk menempatkannya.
KESIMPULAN Cedera yang berulang sedag mengalami perkembangan dalam bidang kedokteran gigi. Banyak dokter gigi dan perawat gigi telah didiagnosa dengan WMSDs, dan mayoritas telah mengalami beberapa jenis nyeri otot di bahu dan leher, tangan dan pergelangan tangan, punggung bawah, atau lengan bawah dan siku. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang dampak kegiatan perawatan gigi pada pengembangan syaraf dan patologi otot, yang akan mencegah keterbatasan dokter gigi dan perawat gigi dalam penyediak\an kualitas pelayanan tertinggi yang dapat mengancam karir profesional mereka. Sementara itu, semua dokter gigi dan perawat gigi harus menyadari pentingnya mengikuti prinsipprinsip ergonomis yang tepat. Sehingga masalah ini dapat dihindari dengan meningkatkan kesadaran akan postur digunakan selama bekerja, mendesain ulang workstation untuk mendapatkan posisi netral, meneliti dampak penggunaan instrumen pada nyeri ekstremitas atas, dan mengikuti praktik kerja yang sehat untuk mengurangi stres perawatan gigi pada tubuh praktisi.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.scribd.com/doc/47652793/bahan-tutorial-ayung.html http://www.depkes.go.id/downloads/Ergonomi.PDF http://www.alat-kedokteran-gigi.com/news/2/PENGEMBANGAN-DAN-PENERAPAN-PRINSIP-makna-dari KEDOKTERAN-GIGI.html resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/Desain%20Tata%20Letak%20Penempatan% 20Alat%20Kedokteran%20Gigi.pdf http://www.pinginpintar.com/sekilas-tentang-ergonomi.html http://www.tmj.ro/article.php?art=9932424586124484 http://www.ada.org/prof/prac/wellness/ergonomics_paper.pdf http://www.dentistrytoday.com/ergonomics/1112 http://www.optergo.com/images/Ergonomic_req_april2007.pdf http://www.ispub.com/journal/the-internet-journal-of-occupational-health/volume-1-number-1/ergonomics-in-dentistry-and-theprevention-of-musculoskeletal-disorders-in-dentists.html http://www.cda.org/Library/cda_member/pubs/journal/jour0202/ergonomic.html ergonomis-

Syarat-syarat Penerapan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di tempat kerja tertuang dalam UndangUndang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pasal 3. Di dalamnya terdapat 18 (delapan belas) syarat-syarat dasar keselamatan kerja di tempat kerja di antaranya sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Mencegah & mengurangi kecelakaan kerja. Mencegah, mengurangi & memadamkan kebakaran. Mencegah & mengurangi bahaya peledakan. Memberi jalur evakuasi keadaan darurat. Memberi P3K Kecelakaan Kerja. Memberi APD (Alat Pelindung Diri) pada tenaga kerja. Mencegah & mengendalikan timbulnya penyebaran suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, radiasi, kebisingan & getaran. 8. Mencegah dan mengendalikan Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan keracunan. 9. Penerangan yang cukup dan sesuai. 10. Suhu dan kelembaban udara yang baik. 11. Menyediakan ventilasi yang cukup. 12. Memelihara kebersihan, kesehatan & ketertiban. 13. Keserasian tenaga kerja, peralatan, lingkungan, cara & proses kerja. 14. Mengamankan & memperlancar pengangkutan manusia, binatang, tanaman & barang. 15. Mengamankan & memelihara segala jenis bangunan. 16. Mengamankan & memperlancar bongkar muat, perlakuan & penyimpanan barang 17. Mencegah tekena aliran listrik berbahaya. 18. Menyesuaikan & menyempurnakan keselamatan pekerjaan yang resikonya bertambah tinggi. Pengertian, Peran, dan Tujuan K3 dalam Produktivitas Kerja Kesehatan, Keselamatan, dan Keamanan Kerja, biasa disingkat K3 adalah suatu upaya guna memperkembangkan kerja sama, saling pengertian dan partisipasi efektif dari pengusaha atau pengurus dan tenaga kerja dalam tempat - tempat kerja untuk melaksanakan tugas dan kewajiban bersama dibidang keselamatan, kesehatan, dan keamanan kerja dalam rangka melancarkan usaha berproduksi.

Melalui Pelaksanaan K3LH ini diharapkan tercipta tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi atau terbebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Jadi, pelaksanaan K3 dapat meningkatkan Efisiensi dan Produktivitas Kerja. Berdasarkan Pengertian K3 diatas, kita dapat menarik kesimpulan mengenal peran K3. Peran K3 ini antara lain sebagai berikut : 1. Setiap Tenaga Kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktifitas nasional. 2. Setiap orang yang berbeda ditempat kerja perlu terjamin keselamatannya 3. Setiap sumber produksi perlu dipakai dan dipergunakan secara aman dan efisien. 4. Untuk mengurangi biaya perusahaan jika terjadi kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja karena sebelumnya sudah ada tindakan antisipasi dari perusahaan. K3 ini dibuat tentu mempunya tujuan di buatnya K3 secara tersirat tertera dalam undang - undang nomor 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja tepatnya. Bab Tentang Syarat - Syarat K3 , yaitu : 1. 2. 3. 4. Mencegah dan mengurangi dan memadamkan kebakaran Mencegah dan mengurangi kecelakaan Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan dari pada waktu kebakaran atau kejadian - kejadian lain yang berbahaya 5. Memberi pertolongan pada kecelakaan 6. Memberi alat - alat perlindungan daripada pekerja 7. Mencegah dan mengendalikan timbul atau penyebab luasnya suhu, kelembapan, kotoran, asap, vas, gas, hembusan angin, cuaca, atau radiasik, suara, dan getaran. 8. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja, baik fisik maupun psikis, peracunan, infeksi, dan penularan. 9. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai 10. Menyelanggarakan suhu dan kelembapan udara yang baik 11. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup 12. Memelihara kebersihan, kesehatan, dan ketertiban. 13. Memelihata keserasian antara tenaga kerja, alat kerja , linngkungan cara dan proses kerjanya. 14. Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman, atau barang. 15. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan. 16. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya. 17. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang berbahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi. Jadi, berdasarkan syarat - syarat keselamatan kerja diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan K3 antara lain sebagai berikut : 1. Untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi - tingginya baik buruh, petani, nelayan, pegawai negeri, maupun pekerja - pekerja bebas. 2. Untuk mencegah dan memberantas penyakit dan kecelakaan - kecelakaan akibat kerja perlu memelihara dan meningkatkan kesehatan efisiensi dan daya produktivitas kerja serta meningkatkan kegairahan dan kenikmatan kerja.