Anda di halaman 1dari 98

PEMANFAATAN KITOSAN DAN KARAGENAN PADA PRODUK SABUN CAIR

Oleh : Hangga Damai Putra Gandasasmita C34104075

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Pemanfaatan Kitosan dan Karagenan pada Produk Sabun Cair adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Februari 2009

Hangga Damai Putra G NRP. C34104075

RINGKASAN HANGGA DAMAI PUTRA GANDASASMITA. C34104075. Pemanfaatan Kitosan dan Karagenan pada Produk Sabun Cair. Dibimbing Oleh LINAWATI HARDJITO. Permintaan konsumen terhadap sabun cair cenderung meningkat dari tahun ke tahun, jika dibandingkan dengan sabun batang. Semakin berkembangnya teknologi dan penggunaan sabun pada saat ini, bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan sabun pun semakin bervariasi. Oleh karena itu, produsen sabun berlomba-lomba mencari formula sabun untuk memproduksi sabun yang ekonomis, higienis, tidak membahayakan kesehatan, mudah diolah, mudah didapat dan memiliki nilai jual yang terjangkau. Penambahan bahan alami yang aman bagi kesehatan seperti kitosan dan karagenan pada sabun cair perlu dikembangkan. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari formulasi sabun cair dengan penambahan kitosan dan karagenan, mempelajari pengaruh dari kombinasi kitosan dan karagenan terhadap karakteristik sabun cair yang dihasilkan, mengetahui efek melembabkan dari kitosan dan karagenan, dan membandingkan produk sabun cair yang dihasilkan dengan produk yang ada di pasaran. Penelitian ini terdiri dari dua tahap. Penelitian tahap pertama bertujuan untuk melihat kombinasi karagenan dan kitosan terhadap karakteristik sabun cair dan menentukan formulasi terbaik pembuatan sabun cair. Pada tahap ini, perlakuan sabun cair dilakukan terhadap karagenan dan kitosan. Masing-masing perlakuan, diuji karakteristiknya dengan pengujian fisik (bobot jenis dan kelembaban) dan kimia (pH). Formulasi yang terpilih kemudian dipergunakan pada penelitian tahap kedua. Pada penelitian tahap kedua, formulasi yang terpilih dibandingkan karakteristiknya dengan kontrol positif (sabun cair komersial merk Dove) dan kontrol negatif (formulasi sabun cair tanpa karagenan dan kitosan). Pengujian yang dilakukan meliputi uji fisik (kelembaban dan bobot jenis), uji kimia (pH dan kadar alkali bebas), uji mikrobiologi (angka lempeng total), dan uji organoleptik (mutu hedonik). Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi stok kitosan dan karagenan tidak berpengaruh nyata terhadap bobot jenis sabun cair, dan perbedaan konsentrasi karagenan berpengaruh nyata terhadap pH sabun cair yang dihasilkan. Sabun cair dengan penambahan konsentrasi stok kitosan 5 % dan stok karagenan 4 % menghasilkan kelembaban yang terbaik dibandingkan sabun cair yang lainnya. Berdasarkan uji organoleptik, penambahan kitosan dan karagenan berpengaruh nyata terhadap kekentalan, post effect dan penilaian umum sabun cair yang dihasilkan. Sabun cair yang dihasilkan jika dibandingkan dengan sabun komersial tidak berbeda nyata terhadap kekentalan, banyak busa, post effect, dan penilaian umum sabun cair. Sabun cair yang dihasilkan memiliki kelembaban lebih tinggi dibandingkan sabun komersial. Kadar alkali bebas pada sabun cair yang dihasilkan sebesar 0,017% sehingga tidak menimbulkan efek iritasi pada kulit. Formulasi sabun cair yang dihasilkan telah sesuai dengan standar SNI 064085-1996 kecuali pada karakteristik pH.

PEMANFAATAN KITOSAN DAN KARAGENAN PADA PRODUK SABUN CAIR

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan Pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor

Oleh :

Hangga Damai Putra Gandasasmita C34104075

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009

1. Judul Penelitian

: PEMANFAATAN KITOSAN DAN KARAGENAN PADA PRODUK SABUN CAIR : C34104075

2. Nama Mahasiswa : Hangga Damai Putra Gandasasmita 3. NIM

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Linawati Hardjito, M.Sc. NIP. 131 664 395

Mengetahui, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Prof. Dr. Ir. Indra Jaya, M.Sc NIP. 131 578 799

Tanggal Lulus :

KATA PENGANTAR Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Pemanfaatan Kitosan dan Karagenan pada Produk Sabun Cair. Salawat serta salam tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Dr. Ir. Linawati Hardjito M.Sc selaku pembimbing skripsi atas segala arahan dan bantuan baik materil maupun non-materil selama penelitian yang akan dilaksanakan. 2. Ir. Nurjanah, MS. dan Dra. Pipih Suptijah, MBA. atas kesediaannya menjadi tim penguji. 3. Dosen, staf dan Laboran Departemen THP atas bantuannya selama penulis menjalani pendidikan di IPB. 4. Mama dan Papa, Babal dan Kakak serta kedua keponakanku, Salsa dan Adit atas doa dan kasih sayang yang diberikan. 5. Teman-teman di laboratorium Bioteknologi Hasil Perairan : Alif, Enif, Mbak Dian, Ian, Mbak Wiwit, Mbak Rahma, Febri, Luthfi, Rinto, Jamil, Nazar dan Adrian.. 6. Bu Ika selaku laboran di PAU, IPB. 7. Anne Prasastyane, yang selalu memberikan motivasi, semangat dan doa pada penulis. 8. Teman-teman Lab Ombenk (Mas Ismail, Erlangga, Yugha, An`im, Anang, Nuzul, Windhy, Andi, Boby, Nicolas) atas bantuan dan semangatnya. 9. Bunda Menik, Mas Pepi, Mas Aji, Pakde Trijoko, Mbak Yella, Mbak Presty, Iman, Pak Prasabri, Bu Desi, Pak Hartanto, Teh Dita dan rekanrekan Barudak Blogger Bogor (BLOGOR) serta Blogger se-Indonesia atas doa dan semangat yang diberikan.

10. Keluarga besar THP 41 atas kebersamaan, keceriaan dan kekompakkannya selama ini. 11. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Penulis menyadari skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Namun demikian semoga dapat diterima dan dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

Bogor, Februari 2009

Hangga Damai Putra Gandasasmita

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 9 Mei 1986 sebagai putra kedua dari pasangan Bapak Bustanuddin Wahid dan Ibu Dwi Hatmi. Penulis mengawali pendidikan di SDN 01 Gedong pada tahun 1992 dan menyelesaikan pendidikan pada tahun 1998. Pada tahun yang sama, penulis diterima di SLTPN 103 Jakarta dan menyelesaikan pendidikannya pada tahun 2001. Penulis Melanjutkan pendidikan di SMUN 98 Jakarta dari tahun 2001 hingga 2004. Tahun 2004, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor sebagai mahasiswa Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif di Himpunan Mahasiswa Teknologi Hasil Perikanan (Himasilkan) sebagai pengurus Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (2004-2005), Kepala Departemen Pengabdian Mahasiswa dan Masyarakat (2005-2006), Wakil Ketua (2006) dan Ketua (2007). Penulis juga pernah mewakili IPB pada Kemah Kebangsaan dalam rangka Peringatan Hari Pahlawan 2007. Penulis juga pernah menjadi asisten pada mata kuliah Bioteknologi Hasil Perairan tahun ajaran 2007/2008. Penulis melakukan penelitian dan menyusun skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, dengan judul Pemanfaatan Kitosan dan Karagenan pada Produk Sabun Cair, dibimbing oleh Dr. Ir. Linawati Hardjito, M.Sc.

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR TABEL .......................................................................................... xi DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xiii 1. PENDAHULUAN ...................................................................................... 1.1. Latar Belakang ...................................................................................... 1.2. Tujuan................................................................................................... 2. TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................. 2.1. Kitosan.................................................................................................. 2.1.1. Sumber kitosan............................................................................. 2.1.2. Struktur dan sifat kitosan .............................................................. 2.1.3. Aplikasi kitosan............................................................................ 2.2. Karagenan ............................................................................................. 1 1 3 4 4 4 5 6 7

2.2.1. Sumber karagenan ........................................................................ 8 2.2.2. Struktur dan sifat karagenan ......................................................... 10 2.2.3. Aplikasi karagenan ....................................................................... 13 2.3. Minyak Kelapa ...................................................................................... 13 2.4. Sabun Cair ............................................................................................ 15 2.5. Formulasi Sabun Cair ............................................................................ 17 2.5.1. Bahan pengental ........................................................................... 17 2.5.2 Stabilizer ...................................................................................... 18 2.5.3. Bahan pelembab ........................................................................... 18 2.6. Kulit Manusia ....................................................................................... 18 3. METODOLOGI .......................................................................................... 21 3.1. Waktu dan Tempat ................................................................................ 21 3.2. Alat dan Bahan...................................................................................... 21 3.3. Penelitian Tahap Pertama ...................................................................... 21 3.4. Penelitian Tahap Kedua......................................................................... 24 3.5. Metode Pengujian ................................................................................. 24 3.5.1.Uji fisik ......................................................................................... 3.5.1.1. Bobot jenis, 25 oC (SNI 06-4085-1996) ............................ 3.5.1.2. Kelembaban produk (water holding capacity) .................. 3.5.2. Uji kimia ...................................................................................... 24 24 24 25

3.5.2.1. pH (SNI 06-4085-1996).................................................... 3.5.2.2. Kadar alkali bebas (SNI 06-4085-1996)............................ 3.5.3. Uji mikrobiologi (SNI 06-4085-1996) .......................................... 3.5.4. Organoleptik (Rahayu 1998) ........................................................ 3.5.5. Rancangan percobaan ...................................................................

25 25 26 26 27

4. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................... 29 4.1. Penelitian Tahap Pertama ...................................................................... 29 4.1.1. Formulasi sabun cair .................................................................... 4.1.2. Pengujian karakteristik ................................................................. 4.1.2.1. Uji bobot jenis, 25 oC ....................................................... 4.1.2.2. Uji pH .............................................................................. 4.1.2.3. Uji kelembaban (water holding capacity) ......................... 4.2.1. Uji organoleptik ........................................................................... 4.2.1.1. Kesukaan panelis terhadap penampakan sabun cair .......... 4.2.1.2. Kesukaan panelis terhadap kekentalan sabun cair ............. 4.2.1.3. Kesukaan panelis terhadap banyak busa sabun cair ........... 4.2.1.4. Kesukaan panelis terhadap post effect sabun cair .............. 4.2.1.5. Kesukaan panelis terhadap penilaian umum sabun cair ..... 4.2.2. Pengujian karakteristik ................................................................. 4.2.2.1. Uji Bobot Jenis, 25 oC ...................................................... 4.2.2.2. Uji pH .............................................................................. 4.2.2.3. Uji kelembaban ................................................................ 4.2.3. Uji mikrobiologi (SNI 06-4085-1996) .......................................... 4.3.4. Uji kadar alkali bebas ................................................................... 29 30 31 32 34 37 37 39 40 42 44 45 45 47 47 49 50

4.2. Penelitian Tahap Kedua......................................................................... 36

5. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................... 52 5.1. Kesimpulan ........................................................................................... 52 5.2. Saran ..................................................................................................... 53 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 54 LAMPIRAN ................................................................................................... 59

DAFTAR TABEL

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14.

Teks

Halaman 7

Aplikasi dasar kitosan ............................................................................

Spesifikasi mutu karagenan .................................................................... 10 Unit-unit monomer karagenan ................................................................ 13 Daya kelarutan karagenan pada berbagai media pelarut.......................... 13 Syarat mutu sabun cair ........................................................................... 16 Formula yang digunakan pada penelitian tahap pertama ......................... 23 Komposisi media Plate Count Agar (PCA) ............................................ 25 Hasil formulasi sabun cair ...................................................................... 29 Hasil pengujian bobot jenis (g/ml) ......................................................... 31 Hasil pengujian tingkat keasaman .......................................................... 33 Hasil pengujian kelembaban (persentase berat produk) .......................... 34 Hasil pengujian bobot jenis produk tahap kedua ..................................... 45 Hasil pengujian pH produk tahap kedua ................................................. 47 Hasil pengujian cemaran mikroba (angka lempeng total) produk............ 50

DAFTAR GAMBAR

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18.

Teks

Halaman 5 6 9

Struktur kimia selulosa, kitin dan kitosan ............................................... Konversi kitin menjadi kitosan ............................................................... Spesies rumput laut penghasil karagenan ...............................................

Struktur kappa, iota dan lambda karagenan ............................................ 12 Reaksi saponifikasi ................................................................................ 15 Prosedur pembuatan sabun cair .............................................................. 22 Histogram pengujian bobot jenis produk ................................................ 31 Histogram pengujian pH ........................................................................ 33 Grafik hasil pengujian kelembaban ........................................................ 35 Produk sabun cair yang diuji pada penelitian tahap kedua ...................... 37 Histogram uji mutu hedonik terhadap penampakan ................................ 38 Histogram uji mutu hedonik terhadap kekentalan ................................... 39 Histogram uji mutu hedonik terhadap banyak busa ................................ 41 Histogram uji mutu hedonik terhadap post effect .................................... 42 Histogram uji mutu hedonik terhadap penilaian umum........................... 44 Histogram pengujian bobot jenis tahap kedua ........................................ 46 Histogram pengujian pH produk tahap kedua ......................................... 47 Grafik hasil pengujian kelembaban tahap kedua ..................................... 48

DAFTAR LAMPIRAN

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19.

Halaman SNI 06-4085-1996 ................................................................................. 60 Lembar penilaian organoleptik sabun cair .............................................. 75 Formulasi yang dilakukan ...................................................................... 76 Data pengujian bobot jenis ..................................................................... 77 Hasil analisa statistik bobot jenis............................................................ 77 Data pengujian pH ................................................................................. 78 Hasil analisa statistik pH ........................................................................ 78 Data pengujian kelembaban ................................................................... 79 Data pengujian organoleptik .................................................................. 85 Hasil analisa statistik organoleptik dengan kontrol negatif ..................... 90 Hasil analisa statistik organoleptik dengan kontrol positif ...................... 91 Data pengujian bobot jenis produk (tahap kedua) ................................... 91 Analisa statistik bobot jenis produk (tahap kedua) .................................. 92 Data pengujian pH produk (tahap kedua) ............................................... 92 Analisa statistik pH produk (tahap kedua) .............................................. 92 Data pengujian kelembaban produk (tahap kedua) ................................. 93 Data pengujian angka lempeng total produk ........................................... 94 Perhitungan kadar alkali bebas ............................................................... 94 Contoh perhitungan kadar alkali bebas ................................................... 95

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR TABEL .......................................................................................... xi DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xiii 1. PENDAHULUAN ...................................................................................... 1.1. Latar Belakang ...................................................................................... 1.2. Tujuan................................................................................................... 2. TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................. 2.1. Kitosan.................................................................................................. 2.1.1. Sumber kitosan............................................................................. 2.1.2. Struktur dan sifat kitosan .............................................................. 2.1.3. Aplikasi kitosan............................................................................ 2.2. Karagenan ............................................................................................. 1 1 3 4 4 4 5 6 7

2.2.1. Sumber karagenan ........................................................................ 8 2.2.2. Struktur dan sifat karagenan ......................................................... 10 2.2.3. Aplikasi karagenan ....................................................................... 13 2.3. Minyak Kelapa ...................................................................................... 13 2.4. Sabun Cair ............................................................................................ 15 2.5. Formulasi Sabun Cair ............................................................................ 17 2.5.1. Bahan pengental ........................................................................... 17 2.5.2 Stabilizer ...................................................................................... 18 2.5.3. Bahan pelembab ........................................................................... 18 2.6. Kulit Manusia ....................................................................................... 18 3. METODOLOGI .......................................................................................... 21 3.1. Waktu dan Tempat ................................................................................ 21 3.2. Alat dan Bahan...................................................................................... 21 3.3. Penelitian Tahap Pertama ...................................................................... 21 3.4. Penelitian Tahap Kedua......................................................................... 24 3.5. Metode Pengujian ................................................................................. 24 3.5.1.Uji fisik ......................................................................................... 3.5.1.1. Bobot jenis, 25 oC (SNI 06-4085-1996) ............................ 3.5.1.2. Kelembaban produk (water holding capacity) .................. 3.5.2. Uji kimia ...................................................................................... 24 24 24 25

3.5.2.1. pH (SNI 06-4085-1996).................................................... 3.5.2.2. Kadar alkali bebas (SNI 06-4085-1996)............................ 3.5.3. Uji mikrobiologi (SNI 06-4085-1996) .......................................... 3.5.4. Organoleptik (Rahayu 1998) ........................................................ 3.5.5. Rancangan percobaan ...................................................................

25 25 26 26 27

4. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................... 29 4.1. Penelitian Tahap Pertama ...................................................................... 29 4.1.1. Formulasi sabun cair .................................................................... 4.1.2. Pengujian karakteristik ................................................................. 4.1.2.1. Uji bobot jenis, 25 oC ....................................................... 4.1.2.2. Uji pH .............................................................................. 4.1.2.3. Uji kelembaban (water holding capacity) ......................... 4.2.1. Uji organoleptik ........................................................................... 4.2.1.1. Kesukaan panelis terhadap penampakan sabun cair .......... 4.2.1.2. Kesukaan panelis terhadap kekentalan sabun cair ............. 4.2.1.3. Kesukaan panelis terhadap banyak busa sabun cair ........... 4.2.1.4. Kesukaan panelis terhadap post effect sabun cair .............. 4.2.1.5. Kesukaan panelis terhadap penilaian umum sabun cair ..... 4.2.2. Pengujian karakteristik ................................................................. 4.2.2.1. Uji Bobot Jenis, 25 oC ...................................................... 4.2.2.2. Uji pH .............................................................................. 4.2.2.3. Uji kelembaban ................................................................ 4.2.3. Uji mikrobiologi (SNI 06-4085-1996) .......................................... 4.3.4. Uji kadar alkali bebas ................................................................... 29 30 31 32 34 37 37 39 40 42 44 45 45 47 47 49 50

4.2. Penelitian Tahap Kedua......................................................................... 36

5. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................... 52 5.1. Kesimpulan ........................................................................................... 52 5.2. Saran ..................................................................................................... 53 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 54 LAMPIRAN ................................................................................................... 59

DAFTAR TABEL

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14.

Teks

Halaman 7

Aplikasi dasar kitosan ............................................................................

Spesifikasi mutu karagenan .................................................................... 10 Unit-unit monomer karagenan ................................................................ 13 Daya kelarutan karagenan pada berbagai media pelarut.......................... 13 Syarat mutu sabun cair ........................................................................... 16 Formula yang digunakan pada penelitian tahap pertama ......................... 23 Komposisi media Plate Count Agar (PCA) ............................................ 25 Hasil formulasi sabun cair ...................................................................... 29 Hasil pengujian bobot jenis (g/ml) ......................................................... 31 Hasil pengujian tingkat keasaman .......................................................... 33 Hasil pengujian kelembaban (persentase berat produk) .......................... 34 Hasil pengujian bobot jenis produk tahap kedua ..................................... 45 Hasil pengujian pH produk tahap kedua ................................................. 47 Hasil pengujian cemaran mikroba (angka lempeng total) produk............ 50

DAFTAR GAMBAR

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18.

Teks

Halaman 5 6 9

Struktur kimia selulosa, kitin dan kitosan ............................................... Konversi kitin menjadi kitosan ............................................................... Spesies rumput laut penghasil karagenan ...............................................

Struktur kappa, iota dan lambda karagenan ............................................ 12 Reaksi saponifikasi ................................................................................ 15 Prosedur pembuatan sabun cair .............................................................. 22 Histogram pengujian bobot jenis produk ................................................ 31 Histogram pengujian pH ........................................................................ 33 Grafik hasil pengujian kelembaban ........................................................ 35 Produk sabun cair yang diuji pada penelitian tahap kedua ...................... 37 Histogram uji mutu hedonik terhadap penampakan ................................ 38 Histogram uji mutu hedonik terhadap kekentalan ................................... 39 Histogram uji mutu hedonik terhadap banyak busa ................................ 41 Histogram uji mutu hedonik terhadap post effect .................................... 42 Histogram uji mutu hedonik terhadap penilaian umum........................... 44 Histogram pengujian bobot jenis tahap kedua ........................................ 46 Histogram pengujian pH produk tahap kedua ......................................... 47 Grafik hasil pengujian kelembaban tahap kedua ..................................... 48

DAFTAR LAMPIRAN

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19.

Halaman SNI 06-4085-1996 ................................................................................. 60 Lembar penilaian organoleptik sabun cair .............................................. 75 Formulasi yang dilakukan ...................................................................... 76 Data pengujian bobot jenis ..................................................................... 77 Hasil analisa statistik bobot jenis............................................................ 77 Data pengujian pH ................................................................................. 78 Hasil analisa statistik pH ........................................................................ 78 Data pengujian kelembaban ................................................................... 79 Data pengujian organoleptik .................................................................. 85 Hasil analisa statistik organoleptik dengan kontrol negatif ..................... 90 Hasil analisa statistik organoleptik dengan kontrol positif ...................... 91 Data pengujian bobot jenis produk (tahap kedua) ................................... 91 Analisa statistik bobot jenis produk (tahap kedua) .................................. 92 Data pengujian pH produk (tahap kedua) ............................................... 92 Analisa statistik pH produk (tahap kedua) .............................................. 92 Data pengujian kelembaban produk (tahap kedua) ................................. 93 Data pengujian angka lempeng total produk ........................................... 94 Perhitungan kadar alkali bebas ............................................................... 94 Contoh perhitungan kadar alkali bebas ................................................... 95

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kulit merupakan salah satu bagian yang terpenting dari tubuh kita yang melindungi bagian dalam tubuh dari gangguan fisik maupun mekanik, gangguan panas atau dingin, gangguan sinar radiasi atau sinar ultraviolet, gangguan kuman, bakteri, jamur, atau virus. Kulit juga berfungsi sebagai tempat keluarnya keringat atau sisa metabolisme dalam tubuh, fungsi pengindera serta pengatur suhu tubuh. Kulit merupakan bagian tubuh paling luar yang sering terkena pengaruh dari lingkungan sekitarnya dan dipengaruhi oleh metabolisme yang terjadi dalam tubuh manusia. Berbagai faktor baik dari luar tubuh (eksternal) maupun dari dalam tubuh (internal) diantaranya udara kering, sinar matahari terik, angin keras, umur lanjut, berbagai penyakit kulit maupun penyakit dalam tubuh dan lain sebagainya akan mempengaruhi struktur dan fungsi kulit. Secara alamiah kulit mempunyai mekanisme untuk menjaga struktur dan fungsinya hanya saja terkadang pengaruh negatif yang ditimbulkan tidak dapat ditanggulangi (Wasitaatmadja 1997). Hal tersebut memicu kebutuhan akan perlindungan nonalamiah yaitu perlindungan dengan menggunakan kosmetika pelembab seperti sabun. Sabun adalah garam natrium atau kalium dari asam lemak yang berasal dari minyak nabati atau lemak hewani. Sabun dapat berwujud padat atau cair. Sabun cair adalah bahan yang komponen utamanya trigliserida dan sabun cair ini mampu mengemulsikan air, kotoran/minyak. Sabun cair efektif untuk mengangkat kotoran yang menempel pada permukaan kulit baik yang larut air maupun larut lemak. Permintaan konsumen terhadap sabun cair cenderung meningkat dari tahun ke tahun, jika dibandingkan dengan sabun batang. Watkinson (2000) melaporkan bahwa perbandingan pasar sabun padat:sabun cair pada akhir Juli 2000 adalah 60:40, sedangkan pada tahun 1994 sebesar 80:20. Tetapnya permintaan sabun batang di internasional disebabkan karena konsumen lebih memilih untuk menggunakan sabun cair dan shower gels daripada sabun batang. Sabun cair memiliki beberapa keunggulan daripada sabun padat, yaitu persepsi konsumen bahwa sabun cair lebih higienis, produk sabun cair lebih

menguntungkan, praktis serta ekonomis bagi konsumen dan produksi sabun cair lebih mudah dan menguntungkan bagi produsen (Watkinson 2000).

Dari 26 sampel kamar mandi umum yang diobservasi, sabun cair diketahui memberikan hasil negatif terhadap kandungan bakteri, sedangkan 84 sampel sabun batang yang diperoleh memberikan hasil yang positif (Nix 2005). Semakin berkembangnya teknologi dan penggunaan sabun pada saat ini, bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan sabun pun semakin bervariasi. Oleh karena itu, produsen sabun berlomba-lomba mencari formula sabun untuk memproduksi sabun yang ekonomis, higienis, tidak membahayakan kesehatan, mudah diolah, mudah didapat dan memiliki nilai jual yang terjangkau. Penambahan bahan alami yang aman bagi kesehatan pada sabun cair perlu dikembangkan. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan pengaruh positif atau fungsi tertentu terhadap sabun cair yang dihasilkan. Fungsi tersebut antara lain memberikan kesan halus, kesan lembut, melembabkan kulit dan memiliki aktivitas antibakteri bila digunakan. Selain itu, dengan penambahan bahan alami tersebut diharapkan dapat memperbaiki tekstur dan penampakan serta kandungan kimia sabun cair. Salah satu produk hasil perairan yang memiliki fungsi tersebut yaitu kitosan dan karagenan. Dalam bidang kosmetik, pemanfaatan kitosan telah diaplikasikan sebagai humektan, thickening agent (pengental), stabilizer dan pelembab (Lang dan Clausen 1989). Menurut Rinaudo (2006), kitosan memiliki efek melembabkan dan melembutkan pada kulit. Pemanfaatan kitosan dalam industri kosmetik merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pengolahan limbah cangkang crustacea menjadi kitin dan kitosan. Kitosan juga berpotensi melawan patogen yang ada dalam air khususnya bakteri Gram negatif (Chung et. al. 2003 dalam Pendrianto 2008). Sedangkan karagenan dalam industri kosmetika digunakan sebagai bahan stabilizer, suspensi, dan pelarut. Dalam pembuatan sabun cair diperlukan bahan pengental. Karagenan dapat digunakan sebagai bahan pengental. Karagenan merupakan salah satu hidrokoloid yang dapat digunakan sebagai thickener (bahan pengental) dan stabilizer (bahan penstabil) (Winarno 1996).

Penelitian mengenai penambahan karagenan dan kitosan pada formulasi sabun cair perlu dilakukan untuk mengganti penggunaan bahan sintetik pada sabun cair sehingga memberikan produk yang berkualitas dan aman digunakan. 1.2 Tujuan Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah: 1. Mempelajari cara pembuatan sabun cair dengan penambahan kitosan dan karagenan, 2. Mempelajari pengaruh dari kombinasi kitosan dan karagenan terhadap karakteristik sabun cair yang dihasilkan, 3. Mengetahui efek melembabkan dari kitosan dan karagenan, 4. Membandingkan produk sabun cair yang dihasilkan dengan produk yang ada di pasaran.

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kitosan Sebagai negara maritim, Indonesia sangat berpotensi menghasilkan kitin dan produk turunannya. Limbah cangkang rajungan di Cirebon saja berkisar 10 ton perhari yang berasal dari sekurangnya 20 industri kecil. Kitosan tersebut masih menjadi limbah yang dibuang dan menimbulkan masalah lingkungan. Data statistik menunjukkan negara yang memiliki industri pengolahan kerang menghasilkan sekitar 56.200 ton limbah per tahun (Sandford 2003 dalam Meidina et. al 2006). Pasar dunia menunjukkan bahwa harga internasional untuk kitosan berkisar antara USD 40 per kg sampai USD 100 per kg (Anonim 2007) Walaupun tersebar luas di alam, sumber utama kitin yang dapat digunakan dalam pengembangan lebih lanjut adalah limbah udang berupa kepala dan kulit dikarenakan limbah ini mudah didapat dalam jumlah besar sebagai limbah hasil pengolahan udang. Limbah ini juga mengandung protein, CaCO3, serta astaxanthin (Suptijah et al. 1992). Kulit golongan crustacea merupakan sumber kitin yang paling kaya, kandungannya dapat mencapai 4060 % berat kering (Angka dan Suhartono 2000). 2.1.1. Sumber kitosan Kitosan sebagai polimer alami dapat dihasilkan dari hewan berkulit keras terutama dari laut seperti kulit udang, rajungan, kepiting, cumi-cumi dengan kadar kitosan antara 1015 %. Selain dari kulit hewan laut, kitosan juga dapat diperoleh dari dinding sel jamur antara lain Aspergillus niger (Hardjito 2006). Kitosan adalah biopolimer alami yang diperoleh dari eksoskeleton crustacea dan Arthropoda dimana polimernya terbentuk dari unit-unit -(1,4)-2acetamido-2-deoxy-D-glukosa dan -(1,4)-2-amino-2-deoxy-D-glukosa (Nan et. al 2006). Kitosan merupakan biopolimer karbohidrat alami yang dibuat dari deasetilasi kitin, komponen mayor pada cangkang crustacean seperti kepiting dan udang (No dan Meyer 1989 dalam Kim 2004). Kitosan juga merupakan fiber seperti halnya selulosa. Cangkang udang mengandung protein (3040 %), kalsium karbonat (30-50 %) dan kitin (20-30 %) pada basis kering (Johnson dan Peninston

1982 dalam Kim 2004). Jumlah kandungan tersebut bervariasi tergantung dari spesies dan musim (Green dan Kramer 1984 dalam Kim 2004). 2.1.2. Struktur dan sifat kitosan Kitosan merupakan turunan dari kitin yang dideasetilasi dapat larut pada larutan asam seperti asam asetat atau asam format. Isolasi secara tradisional kitin dari limbah/kulit crustacea melewati tiga tahapan yaitu, demineralisasi, deproteinase dan dekolorisasi. Tiga tahapan tersebut merupakan standar prosedur pada pembuatan kitin (No 1989 dalam Kim 2004). Karakteristik kitosan adalah non toksik, polimer biodegradable pada bobot molekul yang tinggi dan sangat mirip dengan selulosa. Struktur kimia kitin dan kitosan dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Struktur kimia selulosa, kitin dan kitosan (Kim 2004) Kitosan pada umumnya tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut asam dengan pH di bawah 6 seperti asam asetat, asam format dan asam laktat yang digunakan sebagai pelarut kitosan dan yang sering digunakan adalah pelarut asam asetat 1 % (Nadarajah 2005). Kitosan dapat dikelompokkan berdasarkan BM dan kelarutannya (Janesh dan Alonso 2003), yaitu:

Kitosan larut asam dengan BM 800.000 Dalton sampai 1.000.000 Dalton, Kitosan mikrokristalin (larut air dengan BM sekitar 150.000 Dalton Kitosan nanopartikel (larut air) dengan BM 23.000 Dalton sampai 70.000 Dalton, dapat berfungsi sebagai imunomodulator. Pada umumnya, kitin dengan derajat deasetilasi di atas 70 % dapat

dikatakan sebagai kitosan (Li et al. 1997 dalam Nadarajah 2005). Pada proses deasetilasi, gugus asetil dari rantai molekuler kitin dihilangkan menjadi bentuk gugus amino. Temperatur dan konsentrasi dari larutan natrium hidroksida berpengaruh terhadap penghilangan gugus asetil dari kitin, yang menghasilkan kitosan yang berbeda tergantung dari aplikasi yang akan digunakan (Baxter et al. 1992 dalam Nadarajah 2005, Mima et al. 1983 dalam Nadarajah 2005). Konversi kitin dan kitosan dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Konversi kitin menjadi kitosan (Nadarajah 2005) 2.1.3. Aplikasi kitosan Kitosan telah dimanfaatkan dalam berbagai keperluan industri seperti industri kertas dan tekstil sebagai zat aditif, industri pembungkus makanan berupa film khusus, industri metalurgi sebagai absorban untuk ion-ion metal, industri

kulit untuk perekat, fotografi, industri cat sebagai koagulan, pensuspensi dan flokulasi, serta industri makanan sebagai aditif (Suptijah et al 1992). Kitosan telah digunakan secara luas pada berbagai kegunaan, mulai dari manajemen limbah hingga pembuatan makanan, obat-obatan dan bioteknologi (Savant et al. dalam Khan et al. 2002). Kitosan juga dapat diaplikasikan pada industri farmasi karena memiliki sifat biodegradabilitas dan biokompabilitas dan toksiksitas yang rendah (Khan et al. 2002). Aplikasi dasar kitosan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Aplikasi dasar kitosan Bidang Pertanian Water & waste treatment Makanan dan minuman Fungsi Menstimulasi pertumbuhan tanaman, melapisi benih, Frost protection Flokulan, menghilangkan ion metal, polimer ramah lingkungan, mengurangi bau Dietary fiber, mengikat lemak, pengawet, pengental dan penstabil pada saus, perlindungan, antibakteri, antifungi, coating pada buah Menjaga kelembaban kulit Menghilangkan jerawat Oral care (pasta gigi) Melembutkan kulit Mengurangi elektrisiti statis pada rambut Immunologikal, hemostatik, antitumoral, anticoagulant healing, bakteriostatik

Kosmetik

Biofarmasi Sumber : Rinaudo (2006) 2.2. Karagenan

Selama beberapa ratus tahun yang lalu, karagenan telah digunakan sebagai bahan pengental dan penstabil pada makanan di Eropa dan Asia Timur. Di Eropa, penggunaan karagenan dimulai sejak lebih dari 600 tahun yang lalu, yaitu di daerah Irlandia. Di sebuah desa yang bernama Carraghen yang terletak di pantai selatan Irlandia, flan (kue pastry) dibuat dengan memasak irish moss (spesies alga merah, Chondrus crispus) dengan susu. Istilah carrageenan (karagenan) yang pada mulanya digunakan untuk menamakan ekstrak dari Chondrus crispus diambil dari nama desa tersebut (Tseng 1945 dalam Velde dan Gerhard 2004).

Karagenan merupakan senyawa hidrokoloid yang terdiri atas ester kalium, natrium, magnesium dan kalium sulfat dengan galaktosa 3,6 anhidrogalaktosa kopolimer. Karagenan adalah suatu bentuk polisakarida linear dengan berat molekul di atas 100 kDa (Winarno 1996). 2.2.1. Sumber karagenan Karagenan merupakan getah rumput laut yang diekstraksi dengan air atau larutan alkali dari spesies tertentu dari kelas Rhodophyceae (alga merah). Karagenan merupakan senyawa hidrokoloid yang terdiri dari ester kalium, natriun, magnesium dan kalsium sulfat, dengan galaktosa dan 3,6 anhidrogalakto kopolimer (Winarno 1996). Karagenan pertama kali ditemukan pada Chondrus crispus, yang merupakan salah satu jenis alga merah yang terdapat di Atlantik Utara. Nama lain dari alga laut ini adalah irish moss. Chondrus crispus sebenarnya mengandung campuran dari tiga tipe karagenan (kappa, lambda dan iota), namun yang lebih dominan adalah antara kappa dan lambda. Chondrus crispus diambil langsung dari alam dan tidak dibudidayakan. Saat ini, Newfoundland (Canada) adalah salah satu sumber utama penghasil Chondrus crispus, tetapi bukan merupakan sumber utama penghasil karagenan di dunia (Anonim 2004). Saat ini, industri pembuatan karagenan tidak hanya terbatas pada ekstraksi dari Chondrus crispus. Sejumlah spesies alga merah kini telah digunakan sebagai sumber karagenan. Pada mulanya, spesies-spesies rumput laut tersebut diambil langsung secara tradisional dari alam. Seiring dengan berkembangnya teknologi, praktek budidaya rumput laut untuk meningkatkan produksi karagenan pun dimulai. Sekitar 200 tahun yang lalu, di Jepang dilakukan praktek budidaya rumput laut yang pertama. Kemudian pada tahun 1950-an, dengan semakin banyaknya informasi ilmiah mengenai rumput laut, dibuatlah pakan buatan untuk mendukung budidaya rumput laut. Sekarang, hampir selusin taksa rumput laut telah dibudidayakan secara komersial (Velde dan Gerhard 2004). Gigartina adalah contoh genera lain yang dapat digunakan untuk mengekstraksi karagenan. Gigartina diambil langsung dari alam dari beberapa jenis, seperti Gigartina stellata yang ditemukan di daerah pantai di Perancis dan Gigartina skottsbergii di daerah pantai Argentina dan Chili. Berbeda dari spesies

rumput laut penghasil karagenan lainnya, Gigartina memiliki campuran tipe-tipe karagenan yang tersusun dalam rantai polimer yang sama dalam bentuk polimer hibrid. Iridaea adalah jenis lain dari rumput laut penghasil karagenan di Amerika Selatan. Iridaea dapat ditemukan di daerah pantai Chili (Anonim 2004). Euchema yang merupakan spesies dari Pasifik, memiliki dua jenis rumput laut komersial, yaitu Euchema cottonii (Kappaphycus alvarezii) dan Euchema spinosum. Tidak seperti alga laut penghasil karagenan lainnya, spesies Euchema relatif murni dalam hal karagenannya. Hal ini memungkinkan fleksibilitas penggunaan karagenan dalam formulasi karena kita tidak perlu lagi menghitung rasio antara kappa dan iota, seperti yang terjadi jika kita menggunakan karagenan dari rumput laut penghasil karagenan lainnya (Anonim 2004). Spesies rumput laut penghasil karagenan dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Spesies rumput laut penghasil karagenan (Velde dan Gerhard 2004) Sumber karagenan untuk daerah tropis adalah dari spesies Euchema cottonii yang menghasilkan kappa karagenan, Euchema spinosum yang menghasilkan iota karagenan. Kedua jenis Euchema tersebut banyak terdapat di

sepanjang pantai Filipina dan Indonesia. Karagenan dapat diperoleh dari hasil pengendapan dengan alkohol, pengeringan dengan alat (drum dryer) dan pembekuan. Jenis alkohol yang yang dapat digunakan untuk pemurnian hanya terbatas metanol, etanol, dan isopropanol (Winarno 1996). 2.2.2. Struktur dan sifat karagenan Karagenan merupakan polisakarida berantai lurus yang dibentuk oleh unitunit (1-3)-D-galaktosa dan (1-4)-D-galaktosa secara berselang-seling.

Karagenan dikelompokkan berdasarkan gugus 3,6 anhidro galaktosa dan jumlah serta posisi dari gugus ester sulfatnya (Gliksman 1983 dalam Uju 2005). Karagenan merupakan molekul besar yang terdiri dari lebih 1000 residu galaktosa oleh karena itu variasinya juga banyak sekali (Winarno 1996). Karagenan adalah makro molekul dengan tingkat polydispersity yang tinggi. Distribusi massa molekul karagenan cukup beragam, tergantung dari umur rumput laut yang dipanen, waktu pemanenan (musim panen), metode ekstraksi, dan lama perlakuan yang menggunakan proses pemanasan. Karagenan komersial (food grade) memiliki berat molekul rata-rata (Mw) 400-600 kDa dan minimal 100 kDa. Pada tahun 1976, U.S. Food and Drugs Administration mendefinisikan karagenan yang termasuk dalam kategori food grade adalah karagenan yang memiliki viskositas tidak kurang dari 5 cP pada konsentrasi 1,5 % dalam air dan suhu 75 oC (Velde dan Gerhard 2004). Spesifikasi karagenan menurut FAO (Food Agriculture Organization), FCC (Food Chemical Codex) di Amerika dan EEC (European Economic Community) di Eropa.dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Spesifikasi mutu karagenan Spesifikasi Senyawa mudah menguap Sulfat (%) Abu (%) Abu tak larut asam (%) Logam Pb (ppm) As (ppm) Cu + Zn (ppm) Kehilangan karena pengeringan Sumber: Angka dan Suhartono (2000) FAO <12 15 14 15 14 <10 <3 FOC <12 18 40 < 35 <1 <10 <3 <12 EEC <12 15 40 15 40 <2 <10 <3

Di pasaran, karagenan ditemukan dalam dua tipe, yaitu refined karagenan dan semi-refined karagenan. Semi-refined karagenan dibuat dari spesies rumput laut Euchema yang banyak terdapat di daerah Indonesia dan Filipina. Tipe karagenan semi-refined ini diperoleh melalui proses yang lebih hemat daripada proses yang digunakan untuk menghasilkan refined karagenan. Karagenan semirefined mengandung lebih banyak bahan-bahan yang tidak larut asam (8 sampai 15 %) dibandingkan dengan refined karagenan (2 %). Bahan-bahan yang tidak larut dalam asam terutama adalah selulosa yang biasanya terdapat pada dinding sel alga. Dalam hal kandungan logam berat, karagenan semi-refined memiliki kandungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan refined karagenan (Imeson 2000 dalam Velde dan Gerhard 2004). Karagenan bukan merupakan biopolimer tunggal, tetapi campuran dari galaktan-galaktan linier yang mengandung sulfat dan larut dalam air. Galaktangalaktan tersebut terhubung oleh 3--D-galaktopiranosa (G-units) dan 4--Dgalaktopiranosa (D-units) atau 4-3,6-anhidrogalaktosa (DA-units), membentuk pengulangan disakarida dari karagenan. Galaktan yang mengandung sulfat diklasifikasikan berdasarkan adanya 3,6-anhidrogalaktosa serta posisi dan jumlah golongan sulfat pada strukturnya. Karagenan komersial memiliki kandungan sulfat 2238 % (w/w). Selain galaktosa dan sulfat, residu karbohidrat lain (seperti xylosa, glukosa dan asam uronik) dan senyawa substituent (seperti metal eter dan golongan piruvat) juga terdapat pada karagenan (Knutsen et al. 1994 dalam Velde dan Gerhard 2004). Berdasarkan cara pengelompokkannya tersebut, karagenan dapat

dibedakan menjadi 3 jenis yaitu karagenan jenis kappa, iota dan lambda (Gliksman 1983 dalam Uju 2005). Kappa karagenan tersusun atas (1-3) D galaktosa-4-sulfat dan (1-4) 3,6 anhydro D galaktosa. Di samping itu karagenan sering mengandung D-galaktosa 2-sulfat ester dan 3,6 anhydro-D-galaktosa 3sulfat ester. Adanya gugusan 6-sulfat dapat menurunkan daya gelasi dari karagenan, tetapi dengan pemberian alkali mampu menyebabkan terjadinya transeliminasi gugusan 6-sulfat, yang menghasilkan terbentuknya 3,6 anhydro-Dgalaktosa. Dengan demikian derajat keseragaman molekul akan meningkat dan daya gelasinya juga bertambah (Winarno 1996). Kappa karagenan adalah tipe

karagenan yang paling banyak digunakan. Sifatnya yang paling penting terletak pada kekuatan gelnya yang tinggi dan berinteraksi kuat dengan protein susu, Sekitar 70 % dari produksi karagenan di dunia adalah kappa karagenan (Anonim 2004). Iota karagenan, ditandai dengan adanya 4-sulfat ester pada setiap residu Dglukosa dan gugusan 2-sulfat ester pada setiap gugusan 3,6 anhidro-D-galaktosa. Gugusan 2-sulfat ester tidak dapat dihilangkan oleh proses pemberian alkali seperti halnya kappa karagenan. Iota karagenan sering mengandung beberapa gugusan 6-sulfat ester yang menyebabkan kurangnya keseragaman molekul yang dapat dihilangkan dengan pemberian alkali (Winarno 1996). Lambda karagenan berbeda dengan kappa dan iota karagenan, karena memiliki sebuah residu disulfat (1-4) D galaktosa. Tidak seperti pada kappa dan iota karagenan yang selalu memiliki gugus 4-phosphat ester (Winarno 1996). Struktur dan unit-unit monomer kappa, iota dan lambda dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Struktur kappa, iota dan lambda karagenan (Sary 2007) Kegunaan karagenan dinilai dari dua kunci utama. Kemampuannya untuk membentuk gel yang kuat dengan garam tertentu atau jenis gum lain dan kemampuannya untuk berinteraksi dengan protein tertentu. Unit-unit monomer kappa, iota dan lambda dari karagenan dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Unit-unit monomer karagenan. Fraksi karagenan Kappa Iota Lambda Sumber: Towle 1973 Karagenan terutama digunakan dalam industri makanan dengan beberapa aplikasi dalam industri toiletries (Anonim 2004). Daya kelarutan karagenan pada berbagai media pelarut dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Daya kelarutan karagenan pada berbagai media pelarut Monomer D-galaktosa 4-sulfat 3,6-anhidro-D-galaktosa D-galaktosa 4-sulfat 3,6-anhidro-D-galaktosa 2-Sulfat D-galaktosa 2-sulfat D-galaktosa 2,6-disulfat

Sumber: cPKelco ApS (2004) dan Glicksman (1983) 2.2.3. Aplikasi karagenan Karagenan sangat penting peranannya sebagai stabilisator (pengatur keseimbangan), thickener (bahan pengental), pembentukan gel, pengemulsi dan lain-lain. Sifat ini banyak dimanfaatkan dalam industri makanan, obat-obatan, kosmetik, tekstil, cat, pasta gigi dan industri lainnya. Perlu ditambahkan bahwa dewasa ini sekitar 80 persen produksi karagenan digunakan dalam produk makanan (Winarno 1996). 2.3. Minyak Kelapa Minyak atau lemak termasuk dalam golongan lipid netral. Komponen utama penyusun lemak atau minyak adalah trigliserida. Trigliserida terdiri dari kombinasi dari berbagai macam asam lemak yang terikat dengan gugus gliserol oleh ikatan ester. Asam lemak merupakan komponen dari minyak atau lemak yang dapat digunakan sebagai bahan pembuatan sabun. Asam lemak ini terdiri

dari dua bagian, yaitu gugus karboksil dan rantai hidrokarbon yang berikatan dengan gugus karboksil (SDA 2001). Berdasarkan kejenuhan, asam lemak dibagi menjadi 3, yaitu asam lemak jenuh (saturated), asam lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated), dan asam lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated). Pada asam lemak tak jenuh tunggal, terdapat ikatan rangkap C=C. Pada asam lemak tak jenuh ganda, dua atau lebih atom hidrogennya hilang, sehingga terdapat beberapa ikatan rangkap C=C (Yasya 2007). Kekhasan dan khasiat minyak kelapa murni terletak pada kandungan asam lemaknya yang sebagian besar terdiri dari asam lemak rantai sedang (medium chain fatty acid, MCFA). MCFA adalah asam lemak yang memiliki atom karbon 8-12, contohnya asam kaprilat (C8:0), asam kaprat (C10:0) dan asam laurat (C12:0). Ketiga jenis asam lemak jenuh ini, bersama asam miristat (C14:0) dan asam palmitat (C16:0) membentuk sebagian besar asam lemak dalam minyak kelapa, khususnya minyak kelapa murni. Telah diketahui bahwa minyak kelapa memiliki kandungan asam lemak jenuh yang tinggi yaitu sekitar 92%, lebih tinggi dibandingkan minyak lainnya. Perbedaan kandungan asam lemak jenuh dan tak jenuh sangat berpengaruh pada sifat minyak tersebut (Yasya 2007). Hasil penelitian pada dekade 1990 mengungkapkan fakta yang mampu membalikkan anti minyak tropis bahwa ternyata minyak kelapa mempunyai khasiat yang besar bagi kesehatan. Asam laurat yang merupakan asam dominan yang terkandung pada minyak kelapa dan asam kaprat ternyata memiliki khasiat sebagi anti virus, anti bakteri, dan anti protozoa (NTFP 2003). Asam laurat ini membuat minyak kelapa menjadi berbeda dari semua minyak nabati lain dan mampu menambah kesehatan bagi tubuh. Di daerah tropis, minyak kelapa berbentuk cair pada suhu 26-35 oC, dan membeku pada suhu lebih rendah dari itu. Titik cair minyak beku adalah sekitar 26-27 oC. Menurut standar yang dikeluarkan Asia Pacific Coconut Community (APCC) untuk minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO), berat jenis relatif minyak kelapa murni yang baik adalah 0,915-0,920 dengan indeks bias pada 400C berkisar antara 1,4480-1,4492 (Yasya 2007).

2.4. Sabun Cair Catatan pertama tentang sabun berasal dari Sumeria, bangsa Semit, 4500 tahun yang lalu yang menggunakan lemak tumbuhan dan bubuk kayu sebagi pembersih kulit dan baju (Wasitaatmadja 1997). Pembersih dibuat untuk menghilangkan kotoran, keringat dan minyak yang dikeluarkan oleh kulit. Kotoran tersebut dikeluarkan menggunakan surfaktan yang dapat mengangkat kotoran dan mengikat minyak (Ananthapadamanabhan et.al 2004). Seorang tabib Yunani bernama Galen menulis tentang bahan pembersih yang disebut dengan sapo yang berkhasiat membersihkan dan menyembuhkan luka. Sejak itu penggunaan sabun meluas ke seluruh pelosok dunia melalui perdagangan dan penyebaran agama. Penggunaan sabun sehari-hari lebih ditujukan untuk kesehatan daripada kemewahan. Sangat menarik untuk dicatat bahwa formulasi sabun sekarang ternyata tidak jauh berbeda dari formulasi tempo doeloe (Anonim 2008). Sabun adalah surfaktan yang terdiri dari gabungan antara air sebagai pencuci dan pembersih yang terdapat pada sabun batang dan dalam bentuk sabun cair. Secara kimia, sabun adalah garam dari asam lemak. Secara tradisional, sabun merupakan hasil reaksi dari lemak dan sodium hidroksida, potassium hidroksida dan sodium karbonat. Reaksi kimia pada pembuatan sabun dikenal dengan saponifikasi (Anonim 2008). Reaksi yang terjadi antara lemak dan alkali dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Reaksi saponifikasi (Arifin 2007)

Prinsip utama kerja sabun ialah gaya tarik antara molekul kotoran, sabun, dan air. Kotoran yang menempel pada tangan manusia umumnya berupa lemak. Asam lemak jenuh yang ada pada minyak goreng umumnya terdiri dari asam miristat, asam palmitat, asam laurat, dan asam kaprat. Asam lemak tidak jenuh dalam minyak goreng adalah asam oleat, asam linoleat, dan asam linolenat. Asam lemak tidak lain adalah asam alkanoat atau asam karboksilat berderajat tinggi (rantai C lebih dari 6) (Arifin 2007). Gaya tarik antara dua molekul polar (gaya tarik dipol-dipol) menyebabkan larutan polar larut dalam larutan polar. Molekul polar mempunyai dipol yang permanen sehingga menginduksi awan elektron non polar sehingga terbentuk dipol terinduksi, maka larutan non polar dapat larut dalam non polar. Hal tersebut dapat menjelaskan proses yang terjadi saat kita mencuci tangan. Saat pencucian tangan, air yang merupakan senyawa polar menginduksi awan elektron sabun sehingga dapat membantu larutnya asam lemak yang juga merupakan senyawa non polar. Maka dari itu, bila kita mencuci tangan dengan menggunakan sabun, lemak yang menempel pada tangan akan melarut bersama sabun dengan bantuan air (Arifin 2007). Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 06-4085-1996, sabun cair didefinisikan sebagai sediaan pembersih kulit berbentuk cair yang dibuat dari bahan dasar sabun atau deterjen dengan penambahan bahan lain yang diijinkan dan digunakan tanpa menimbulkan iritasi pada kulit. Sabun cair yang memiliki kriteria yang sesuai dengan standar aman bagi kesehatan kulit. Syarat mutu sabun cair menurut SNI 06-4085-1996 dapat dilihat pada Tabel 3 dan Lampiran 1. Tabel 5. Syarat mutu sabun cair
Kriteria Uji Keadaan - Bentuk - Bau - Warna o pH, 25 C Kadar Alkali Bebas o Bobot Jenis Relatif, 25 C Cemaran Mikroba: - Angka Lempeng Total Satuan Persyaratan Cairan homogen Khas Khas 6-8 Tidak dipersyaratkan 1,01-1,10 maks. 1 x 10
5

% g/ml Koloni/ml

Sumber: SNI 06-4085-1996

2.5. Formulasi Sabun Cair Secara garis besar, bahan-bahan pembuat sabun terdiri dari bahan dasar dan bahan tambahan. Bahan dasar merupakan pelarut atau tempat dasar bahan lain sehingga umumnya menempati volume yang lebih besar dari bahan lainnya. Bahan tambahan merupakan bahan yang berfungsi untuk memberikan efek-efek tertentu yang diinginkan oleh konsumen (Wasitaatmadja 1997). Hal-hal yang harus diperhatikan dalam memformulasikan sabun cair antara lain karakteristik pembusaan yang baik, tidak mengiritasi mata, membran mukosa dan kulit, mempunyai daya bersih optimal dan tidak memberikan efek yang dapat merusak kulit serta memiliki bau yang segar dan menarik (Fahmitasari 2004). Dalam memformulasikan sabun cair terdapat dua jenis bahan, yaitu bahan dasar dan bahan tambahan. Bahan dasar sabun adalah bahan yang memiliki sifat utama sabun yaitu membersihkan dan menurunkan tegangan permukaan air. Sedangkan bahan tambahan berfungsi untuk memberikan efek-efek tertentu yang diinginkan konsumen seperti melembutkan kulit, aseptik, harum dan sebagainya (Suryani et al. 2002). 2.5.1. Bahan pengental Bahan pengental digunakan dalam formulasi sabun cair untuk menentukan tingkat kekentalan produk yang diinginkan. Bahan pengental yang umum dipakai dalam formulasi sabun cair antara lain seperti hydroxypropylcellulose dan NaCl. Hydroxypropylcellulose adalah eter selulosa non-ionik dan larut air yang diperoleh dari reaksi antara selulosa dan propilen oksida. NaCl sebenarnya bukan bahan pengental, namun dapat meningkatkan kekentalan pada sabun cair (Spiess 1998 dalam Engko 2001). Bahan pengental yang digunakan dalam penelitian ini adalah karagenan. Karagenan merupakan koloid hidrofilik alami yang sering digunakan untuk berbagai macam kebutuhan. Karagenan dapat membentuk gel dalam air namun dalam konsentrasi yang rendah, gel karagenan tidak terbentuk tetapi viskositas campuran meningkat. Selain fungsinya sebagai pengental, karagenan juga dipercaya dapat menghaluskan dan melembutkan kulit, sehingga baik digunakan dalam produk-produk perawatan kulit.

2.5.2. Stabilizer Menurut Wasitaatmadja (1997), bahan-bahan yang menstabilkan

campuran (stabilizer) sehingga kosmetika tersebut dapat lebih lama lestari baik dalam warna, bau dan bentuk fisik. Bahan-bahan tersebut adalah: 1. Emulgator, yaitu bahan yang memungkinkan tercampurnya semua bahan secara merata (homogen). Pada campuran dua cairan emulgator memiliki sifat menurunkan tegangan permukaan kedua cairan tersebut. 2. Pengawet, yaitu bahan yang dapat mengawetkan kosmetika dalam jangka waktu selam mungkin agar dapat digunakan lebih lama. Pengawet dapat bersifat: antikuman untuk menangkal terjadinya tengik oleh aktivitas mikroba sehingga kosmetika menjadi stabil. 2.5.3. Bahan pelembab Bahan pelembab ditambahkan pada produk pembersih kulit untuk menghasilkan efek melembabkan kulit. Contoh-contoh bahan pelembab yang sering digunakan dalam produk kosmetika adalah gliserin, methyl glucose ester, turunan lanolin, dan mineral oil. Bahan pelembab mempunyai peranan penting dalam menjaga dan mengembalikan fungsi kulit sebagai barrier (penghalang). Seringkali produk pembersih kulit dapat mengurangi kandungan lemak pada stratum corneum. Hasilnya, fungsi kulit sebagai penghalang bakteri dan zat-zat yang merugikan tubuh terganggu. Selain itu, beberapa produk pembersih kulit juga dapat menyebabkan kulit menjadi kering. Untuk menghindari terjadinya hal ini, diperlukan pelembab untuk meminimalisasi kehilangan lemak dari kulit (Nix 2005). 2.6. Kulit Manusia Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari lingkungan hidup manusia. Luas kulit orang dewasa sekitar 1,5 m2 dengan berat kira-kira 15 % berat badan. Kulit merupakan organ yang esensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Kulit juga sangat kompleks, elastis dan sensitif, serta bervariasi pada keadaan iklim, umur, seks, ras, dan lokasi tubuh (Wasitaatmadja 1997).

Kulit merupakan organ peliput karena terdiri dari jaringan yang bergabung secara struktural dan membentuk fungsi spesifik. Dengan ketebalan sekitar 2,970,28 mm, kulit melindungi jaringan dan organ-organ penting dalam tubuh dari pengaruh lingkungan luar (Tortora 1990 dalam Sary 2007). Kulit terdiri dari dua bagian utama. Lapisan yang terluar adalah lapisan epidermis, yaitu lapisan tipis yang tersusun dari sel-sel epitelium. Epidermis dihubungkan ke bagian yang lebih dalam dan lebih tebal, yaitu jaringan penghubung (connective tissue) yang disebut dermis. Di bawah dermis adalah lapisan subkutan yang disebut hipodermis yang terdiri dari jaringan areolar dan jaringan adiposa (Martini 1998 dalam Sary 2007). Kulit atau sistem peliput berfungsi antara lain sebagai pengatur suhu tubuh, pelindung, penerima rangsang, ekskresi, dan sintesis vitamin D. Dalam mengatur suhu, jika suhu lingkungan lebih tinggi dari suhu tubuh, maka hipothalamus akan memberikan tanggapan dengan menstimulasi pengeluaran keringat melalui kelenjar sudoriferus yang akan menurunkan suhu tubuh ke suhu normal kembali. Perubahan aliran darah ke kulit juga merupakan salah satu mekanisme pengaturan suhu tubuh. Dalam fungsi perlindungan dan penerima rangsang, kulit menutupi seluruh permukaan tubuh dan merupakan penyangga fisik yang melindungi jaringan di bawahnya dari gesekan fisik, serangan bakteri, dehidrasi dan radiasi ultraviolet. Kulit juga banyak mengandung syaraf-syaraf dan reseptor yang dapat mendeteksi stimulus yang berhubungan dengan suhu, sentuhan, tekanan dan nyeri. Selain memproduksi keringat yang membantu menurunkan suhu tubuh, kulit juga membantu mengekskresikan sejumlah kecil air, garam-garam, dan senyawa organik tertentu. Kulit juga berperan penting dalam sintesis vitamin D (Martini 1998, Tortora 1990 dalam Sary 2007). Fungsi kulit menurut Wasitaatmadja (1997), yaitu: 1. Proteksi Melindungi bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisik maupun mekanik, misalnya tekanan, gesekan, tarikan, gangguan kimiawi, seperti zat-zat kimia iritan (lisol, karbol, asam atau basa kuat lainnya), gangguan panas atau dingin, gangguan sinar radiasi atau sinar ultraviolet, gangguan kuman, jamur, bakteri atau virus.

2. Absorpsi Kemampuan absorpsi kulit dipengaruhi oleh ketebalan kulit, hidrasi, kelembaban udara, metabolisme dan jenis vehikulum zat yang menempel di kulit. Penyerapan dapat melalui celah antar sel, saluran kelenjar atau saluran keluar rambut. 3. Ekskresi Kelenjar-kelenjar pada kulit mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna atau sisa metabolisme dalam tubuh. Produk kelenjar lemak dan keringat di permukaan kulit membentuk keasaman kulit pada pH 56,5. 4. Pengindra (sensori) Kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis. Saraf-saraf sensorik tersebut lebih banyak jumlahnya di daerah erotik. 5. Pengaturan suhu tubuh Kulit melakukan peran ini dengan mengeluarkan keringat dan otot dinding pembuluh darah kulit. 6. Pembentukan pigmen Sel pembentuk pigmen kulit (melanosit) terletak di lapisan basal epidermis. Jumlah melanosit serta jumlah dan besarnya melanin yang terbentuk menentukan warna kulit. 7. Keratinasi Proses keratinasi sel dari sel basal sampai sel tanduk berlangsung selama 1421 hari. Proses ini dilakukan agar kulit dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Pada beberapa macam penyakit kulit proses ini terganggu, sehingga kulit akan terlihat bersisik, tebal, kasar dan kering. 8. Produksi vitamin D Kulit juga dapat membuat vitamin D dari bahan baku 7-dihidroksi kolesterol dengan bantuan sinar matahari. 9. Ekspresi emosi Hasil gabungan fungsi yang telah disebut di atas menyebabkan kulit mampu berfungsi sebagai alat untuk menyatakan emosi yang terdapat dalam jiwa manusia.

3. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret - Agustus 2008. Penelitian dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Hasil Perairan, Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dan Lab Mikrobiologi dan Biokimia, Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi, Institut Pertanian Bogor. 3.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan antara lain gelas piala, gelas ukur, erlenmeyer, pemanas, magnetic stirrer, timbangan digital, termometer, pipet volumetrik, pipet mikro, micro tube, oven, autoklaf, inkubator, mikroskop, vortex, clean bench, cawan petri, pH meter, tissue, spatula, sudip, alumunium foil, kertas parafilm, botol kosmetik, labu erlenmeyer dan penangas air. Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah bahan pembuatan sabun cair dan bahan pengujian karakteristik sabun cair. Bahan pembuatan sabun cair antara lain minyak kelapa, KOH, sukrosa, gliserin, akuades, kappa karagenan refined EC 01 dan kitosan. Sedangkan bahan pengujian karakteristik sabun cair terdiri dari : 1. Bahan untuk uji TPC adalah pepton, yeast extract, glukosa, agar, dan akuades. 2. Bahan untuk pengujian kadar alkali bebas adalah alkohol netral, phenolphthalein dan KOH. 3.3. Penelitian Tahap Pertama Penelitian tahap pertama terdiri dari penentuan formula sabun cair dan bertujuan untuk menentukan formula terbaik pembuatan sabun cair dan mengetahui karakteristik sabun cair terhadap kombinasi karagenan dan kitosan. Penentuan formula sabun cair bertujuan untuk menentukan komposisi bahanbahan sabun cair yang dapat menghasilkan karakteristik sabun cair yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Prosedur pembuatan sabun cair dapat dilihat pada Gambar 6.

25 g Minyak Kelapa + 33 ml Larutan KOH 20 % Larutan Karagenan Homogenisasi dan Pemanasan (Suhu 7080 oC, waktu 4-5 jam)

Ditambah 10 ml Larutan Sukrosa 70 %

Ditambah 10 ml Akuades Homogenisasi dan Pemanasan (Suhu 7080 oC) Ditambah 5 ml Gliserin Adonan 2 Homogenisasi dan Pemanasan (Suhu 7080 oC) Penambahan 5 ml Larutan Kitosan Adonan 1 Adonan 3

Homogenisasi dan Pemanasan (Suhu 7080 oC, waktu 30 menit)

Adonan 4

Homogenisasi dan Pemanasan (Suhu 7080 oC, waktu 2,5 jam) Dalam keadaan Terbuka

Pendinginan (Suhu 2540 oC) Gambar 6. Prosedur pembuatan sabun cair

Sabun Cair

Proses pembuatan sabun cair diawali dengan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan sabun cair. Minyak kelapa dan larutan KOH dicampur dan dipanaskan dalam gelas piala menggunakan magnetic stirrer pada suhu 70-80 oC dan dibiarkan hingga larutan berubah menjadi padatan. Setelah itu dilakukan pencairan kembali dengan penambahan akuades. Setelah terbentuk cairan, ditambahkan gliserin untuk mendapatkan adonan 1. Sementara itu, larutan karagenan ditambah dengan sukrosa yang sudah dilarutkan dalam akuades dan dipanaskan hingga homogen untuk mendapatkan adonan 2. Adonan 2 yang sudah homogen ditambah larutan kitosan dan kembali dipanaskan hingga homogen untuk mendapatkan adonan 3. Adonan 1 selanjutkan ditambahkan kedalam adonan 3 dan dipanaskan selama 2,5 jam dalam keadaan terbuka untuk mendapatkan adonan 4 yang agak kental. Adonan selanjutnya didinginkan sampai 25-40 oC untuk menjadi sabun cair. Kemudian dilakukan penelitian untuk mengetahui kombinasi kitosan dan karagenan. Perlakuan formulasi sabun cair dilakukan terhadap karagenan dan kitosan. Faktor pertama (kitosan) dibuat dalam tiga taraf konsentrasi stok (1, 3 dan 5 %). Sedangkan faktor kedua (karagenan) dibuat dalam empat taraf konsentrasi stok (1, 2, 3 dan 4 %) sehingga didapatkan dua belas perlakuan. Masing-masing perlakuan, diuji karakteristiknya dengan pengujian fisik (bobot jenis dan kelembaban) dan kimia (pH). Formula yang terpilih dipergunakan pada penelitian selanjutnya yaitu penelitian tahap kedua. Formula yang dilakukan pada penelitian tahap pertama dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Formula yang digunakan pada penelitian tahap pertama
Bahan Minyak kelapa KOH 20 % Gliserin Sukrosa 70 % Karagenan (5ml) Kitosan (5 ml) Akuades K11 25 g 33 ml 5 ml 10 ml 1% 5% 17 ml K12 25 g 33 ml 5 ml 10 ml 2% 5% 17 ml K13 25 g 33 ml 5 ml 10 ml 3% 5% 17 ml K14 25 g 33 ml 5 ml 10 ml 4% 5% 17 ml K21 25 g 33 ml 5 ml 10 ml 1% 3% 17 ml Perlakuan K22 K23 25 g 33 ml 5 ml 10 ml 2% 3% 17 ml 25 g 33 ml 5 ml 10 ml 3% 3% 17 ml K24 25 g 33 ml 5 ml 10 ml 4% 3% 17 ml K31 25 g 33 ml 5 ml 10 ml 1% 1% 17 ml K32 25 g 33 ml 5 ml 10 ml 2% 1% 17 ml K33 25 g 33 ml 5 ml 10 ml 3% 1% 17 ml K34 25 g 33 ml 5 ml 10 ml 4% 1% 17 ml

3.4. Penelitian Tahap Kedua Pada penelitian tahap kedua, formulasi yang terpilih dari penelitian tahap pertama dibandingkan karakteristiknya dengan kontrol positif (sabun cair komersial merk Dove) dan kontrol negatif (formulasi sabun cair tanpa karagenan dan kitosan). Pengujian yang dilakukan meliputi uji fisik (kelembaban dan bobot jenis), uji kimia (pH dan kadar alkali bebas), uji mikrobiologi (angka lempeng total), dan uji organoleptik (mutu hedonik). 3.5. Metode Pengujian Dalam penelitian ini terdapat beberapa macam pengujian yaitu uji fisik, kimia, mikrobiologi dan organoleptik. Prosedur kerja dari masing-masing pengujian adalah sebagai berikut: 3.5.1. Uji fisik Uji fisik yang dilakukan dalam penelitian ini adalah bobot jenis dan kelembaban produk. Uraian mengenai prosedur pengujian dari ketiga karakteristik fisik sabun cair tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 3.5.1.1. Bobot jenis, 25 oC (SNI 06-4085-1996) Micro tube yang sudah bersih dan kering ditimbang (a). Selanjutnya sebanyak 1 ml sampel dimasukkan ke dalam micro tube dengan menggunakan pipet mikro. Micro tube ditutup dan dimasukkan ke dalam pendingin sampai suhunya menjadi 25 oC. Kemudian micro tube didiamkan pada suhu ruang selama 15 menit dan ditimbang (b). Perhitungan: Bobot jenis sampel (g/ml) = b a Keterangan: a = Bobot micro tube kosong b = Bobot micro tube + sampel 3.5.1.2. Kelembaban produk (water holding capacity) Pengujian ini ditentukan dengan metode yang dilaporkan oleh Warta Konsumen (1995) dalam Simanjuntak (2000). Sampel dioleskan secara merata di atas wadah kedap air yang sudah diketahui berat awalnya, kemudian wadah ditimbang untuk mengetahui berat awal sampel (jam ke-0 atau T0). Setelah

penimbangan (T0) dilakukan lagi penimbangan dengan perbedaan waktu 1 jam (T1), 2 jam (T2) sampai 5 jam (T5). Kelembaban produk dilihat dari kadar sabun cair pada akhir pengamatan dengan nilai tertinggi. Dimana sabun cair yang memiliki berat lebih tinggi berarti memiliki penguapan yang lebih rendah, merupakan kelembaban produk tinggi. 3.5.2. Uji kimia Pada penelitian ini dilakukan pengujian karakterisitik kimia sabun cair, yang meliputi uji pH dan kadar alkali bebas. Berikut ini merupakan uraian prosedur pengujian dari kedua parameter tersebut. 3.5.2.1. pH (SNI 06-4085-1996) Sebelum dilakukan pengukuran, pH meter dikalibrasi dengan

menggunakan buffer pH. Setelah itu, elektroda dibersihkan dengan air suling dan dikeringkan. Kemudian elektroda dimasukkan ke dalam sampel sabun cair yang akan diperiksa, pada suhu 25oC. Selanjutnya pH meter dibiarkan selama beberapa menit sampai nilai pada monitor pH meter stabil. Setelah stabil, nilai yang ditunjukkan dicatat sebagai pH sampel. 3.5.2.2. Kadar alkali bebas (SNI 06-4085-1996) Tahapan dalam penentuan kadar alkali bebas dari sabun cair, yaitu: 1) Sebanyak 5 gram sabun cair ditimbang, dimasukkan ke dalam erlenmeyer tutup asah 250 ml. 2) Ditambahkan 100 ml alkohol 96 % netral dan beberapa tetes larutan indikator phenolptalein. 3) Dipanaskan di atas penangas air memakai pendingin tegak selama 30 menit hingga mendidih. 4) Bila larutan berwarna merah, kemudian dititrasi dengan larutan HCl 0.1 N dalam alkohol sampai warna merah tepat hilang. Kadar alkali bebas = Keterangan: V = ml HCl W = Berat sampel N = normalitas HCl Setiap 1 ml HCl 1 N setara dengan 0,04 gram KOH
V N 0,04 100% W

3.5.3. Uji mikrobiologi (SNI 06-4085-1996) Uji dilakukan berdasarkan SNI 06-4085-1996. Cara aseptis ditimbang 1 gram sampel dari tiap perlakuan dilarutkan dan dihomogenisasi dengan menggunakan vortex dalam 9 ml garam fisiologis steril 0,85 %. Pengenceran dilakukan hingga 10-3. Larutan tersebut diambil 1 ml dengan menggunakan pipet dan dituangkan ke dalam cawan petri steril. Sebanyak 15 ml media Plate Count Agar (PCA) dituangkan ke dalam cawan petri berisi 1 ml larutan sampel hasil pengenceran dan diaduk dengan cara memutar cawan petri ke depan dan ke belakang sampai homogen. Kemudian media dibiarkan sampai membeku. Inkubasi dilakukan selama 24 - 48 jam pada suhu 35 oC. Jumlah koloni pada setiap cawan dihitung. Total cemaran mikroba didapat dengan mengalikan jumlah rata-rata koloni pada cawan dengan faktor pengenceran yang sesuai. Komposisi media PCA tercantum pada Tabel 7. Tabel 7. Komposisi media Plate Count Agar (PCA) Jumlah 5,0 2,5 1,0 15,0 1,0

Komposisi Peptone (gram)

Yeast extract (gram) Glucosa (gram) Agar (gram) Akuades (liter) Sumber : SNI 06-4085-1996 3.5.4. Organoleptik (Rahayu 1998)

Pengujian organoleptik terhadap sabun cair yang dihasilkan dilakukan melalui uji mutu hedonik. Panelis yang digunakan adalah panelis semi terlatih sebanyak 30 orang. Panelis diminta penilaiannya terhadap penampakan, kekentalan, banyaknya busa, efek setelah pemakaian (post effect) dan penilaian umum produk sabun cair yang dihasilkan. Untuk parameter penampakan dan kekentalan dilakukan secara visual. Untuk parameter banyaknya busa dan post effect dilakukan setelah sekali penggunaan. Untuk banyak busa, dilakukan dengan cara menggosokkan sabun cair pada tangan yang basah. Untuk post effect, dilakukan terhadap respon setelah

pemakaian apakah kulit terasa kering atau lembab setelah satu kali pemakaian. Makin lembab sabun cair, semakin tinggi skor penilaian parameternya. Sedangkan untuk parameter penilaian umum, penilaian dilakukan terhadap sifat keseluruhan (umum) produk sabun cair. Uji hedonik merupakan salah satu jenis uji penerimaan. Dalam hal ini, panelis diminta penilaianya tentang tingkat kesukaan atau sebaliknya terhadap produk sabun cair yang dihasilkan. Pengujian dilakukan dengan 7 skala kesukaan, yaitu: 1 (sangat tidak suka), 2 (tidak suka), 3 (agak tidak suka), 4 (biasa), 5 (agak suka), 6 (suka), 7 (sangat suka). Lembar penilaian organoleptik sabun cair dapat dilihat pada Lampiran 2. 3.5.5. Rancangan percobaan Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua ulangan. Menurut Steel dan Torrie (1995), rancangan percobaan tersebut memiliki model matematika sebagai berikut. Yij = + i + ij Keterangan: Yij = Nilai pengamatan ke-j dari pengaruh perlakuan ke-i = Rataan umum i = Pengaruh perlakuan ke-i ij = Pengaruh galat i j = Jumlah perlakuan = Ulangan Pada penelitian tahap pertama rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF), dengan asumsi terdapat dua faktor yang berinteraksi mempengaruhi hasil pengujian, yaitu karagenan dan kitosan. Model rancangan yang digunakan adalah sebagai berikut. Yijk = + i + j + ()ij + ijk Keterangan : Yijk = Nilai pengamatan ke-k dari pengaruh faktor karagenan ke-i dan kitosan ke-j = Rataan umum

i j ijk i j k

= Pengaruh faktor karagenan ke-i = Pengaruh faktor kitosan ke-j

()ij = Pengaruh interaksi faktor karagenan ke-i dan faktor kitosan ke-j = Pengaruh galat = Jumlah faktor konsentrasi stock kitosan (1, 3 dan 5 %) = Jumlah faktor konsentrasi stock karagenan (1, 2, 3 dan 4%) = Ulangan Data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan metode analisa sidik ragam. Apabila diantara perlakuan menunjukkan hasil yang berbeda maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji Duncan (Steel dan Torrie 1995). Pengujian organoleptik dianalisa dengan metode Anova dengan uji lanjut Tukey. Seluruh proses analisa data dilakukan dengan menggunakan software Microsoft Office Excel dan SPSS versi 15.0. Hipotesis pada penelitian ini adalah: Ho : Perbedaaan perlakuan tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap karakteristik produk. H1 : Perbedaan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap karakteristik produk.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Penelitian Tahap Pertama 4.1.1. Formulasi sabun cair Formulasi sabun cair dilakukan dengan mencoba beberapa macam formula untuk menghasilkan produk yang terbaik. Data formulasi yang dilakukan pada penelitian tahap ini dapat dilihat pada Lampiran 3. Sedangkan formula yang menghasilkan produk terbaik dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Hasil formulasi sabun cair No 1 2 3 4 5 Nama Bahan Minyak kelapa KOH Gliserin Sukrosa Stok kitosan Konsentrasi 20 % 70% 0,5 % 1 %, 3 %, 5 % 6% 0,5 % 5% 1 %, 2 %, 3 %, 4 % Jumlah 25 gr 33 ml 5 ml 10 ml 5 ml 5 ml 5 ml 5 ml 5 ml 5 ml 17 ml Keterangan Bahan dasar sabun Bahan dasar sabun Kelembaban cukup baik Pelarut kitosan dan karagenan pH terlalu basa pH sabun cair 9-10 Tidak homogen Sabun terlalu cair Sabun terlalu kental Kekentalan cukup Baik Ditambahkan hingga menjadi 100 ml

Stok karagenan

Akuades

Salah satu faktor yang terpenting dari keberhasilan pembuatan produk sabun cair adalah penggabungan bahan-bahan pembentuk sehingga akan menghasilkan cairan yang cukup kental homogen, pH yang tidak terlalu basa (di bawah 10), tidak mengalami perubahan akibat faktor udara dan suhu serta tidak menyebabkan terjadinya iritasi pada kulit. Pada penelitian ini, minyak kelapa dan KOH digunakan sebagai bahan dasar pembuat sabun cair. Formulasi untuk minyak kelapa dan KOH dibuat berdasarkan perhitungan untuk membuat kadar minyak yang tersisa pada sabun cair berkisar antara 0 hingga 5 %. Dengan adanya kadar minyak yang tersisa, diharapkan menjadikan produk sabun cair tersebut tidak memiliki kadar alkali (kalium) yang tersisa pada produk akhir.

Pada formula sabun cair dicobakan beberapa konsentrasi larutan stok kitosan dan larutan stok karagenan. Penggunaan gliserin pada pembuatan sabun cair adalah sebagai humektan. Dengan konsentrasi 5 % dari formulasi, efek melembabkan dari gliserin sudah cukup baik (Yudhana 2006). Penambahan sukrosa bertujuan untuk melarutkan kitosan dan karagenan ke dalam sabun cair agar menjadi homogen. Penentuan tingkat konsentrasi larutan stok kitosan yang akan digunakan didasarkan oleh pH dan homogenitas dari sabun cair. Jika larutan stok kitosan yang digunakan kurang dari 0,5 % maka produk sabun cair terlalu basa. Sedangkan pada larutan stok kitosan 5 %, tingkat kebasaan sabun cair menurun. Hal ini dikarenakan pelarut yang digunakan untuk melarutkan kitosan adalah asam asetat sehingga menyebabkan produk sabun cair bersifat tidak terlalu basa. Menurut Wasitaatmadja (1997), sabun cair dengan pH basa dapat digunakan untuk menghancurkan lemak pada kulit sehingga kotoran yang melekat pada lemak dapat larut air. Namun pH yang terlalu tinggi dan waktu kontak yang lama dengan kulit akan menyebabkan kulit teriritasi. Jika larutan stok karagenan yang digunakan 0,5 % akan menghasilkan produk yang terlalu cair. Dan untuk penggunaan stok karagenan lebih dari 5 % akan menghasilkan sabun cair yang terlalu kental. Karagenan telah lama dikenal sebagai bahan hidrokoloid alami yang dapat membentuk gel. Namun jika digunakan dalam konsentrasi yang kecil, gel karagenan tidak akan terbentuk dan sebagai gantinya viskositas produk akan meningkat (Skensved 2004). Berdasarkan penelitian tahap ini maka didapatkan formula sabun cair dengan komposisi minyak kelapa sebanyak 25 gram, KOH 20 % sebanyak 33 ml, sukrosa 70 % sebanyak 10 ml, konsentrasi stok kitosan 1, 3 dan 5 % sebanyak 5 ml, konsentrasi stok karagenan 1, 2, 3 dan 4 % sebanyak 5 ml dan akuades sebanyak 17 ml. 4.1.2. Pengujian karakteristik Pengujian karakteristik adalah kelanjutan dari penelitian formulasi. Karakteristik sabun cair yang diamati adalah sifat fisik (bobot jenis dan kelembaban) dan sifat kimia (pH). Analisis karakteristik sabun cair yang dihasilkan berdasarkan Dewan Standarisasi Nasional (SNI: 06-4085-1996).

4.1.2.1. Uji bobot jenis, 25 oC Bobot jenis relatif adalah perbandingan densitas sabun cair dengan densitas air pada volume dan suhu yang sama (Standarisasi Nasional Indonesia 1996). Hasil pengujian bobot jenis produk sabun cair dapat dilihat pada Tabel 9. dan Gambar 7. Tabel 9. Hasil pengujian bobot jenis (g/ml) Konsentrasi Kitosan 1% 3% 5% Konsentrasi Karagenan 1% 2% 3% 4% 1,128 1,085 1,070 1,088 1,103 1,118 1,103 1,098 1,093 1,070 1,118 1,093

Gambar 7. Histogram pengujian bobot jenis Gambar 7. memperlihatkan bahwa bobot jenis sabun cair sangat bervariasi dan tidak ada kecenderungan meningkat ataupun menurun akibat perbedaan konsentrasi stok larutan kitosan dan karagenan. Dapat dilihat pula bahwa bobot jenis tertinggi yaitu pada sabun cair dengan konsentrasi stok larutan kitosan 1 % dan stok larutan karagenan 1 % sebesar 1,12 g/ml dan bobot jenis terendah pada sabun cair dengan konsentrasi stok larutan kitosan 1 % dan stok larutan karagenan sebesar 3 %. Melalui pengujian statistik dikatakan bahwa pada tingkat kepercayaan 95 %, perbedaan konsentrasi stok larutan kitosan dan stok larutan

karagenan serta kombinasi antara keduanya, tidak berpengaruh nyata terhadap karakteristik bobot jenis sabun cair (Sig. > 0,05). Jika suatu bahan dilarutkan dalam air dan membentuk larutan maka densitasnya akan mengalami perubahan. Perubahan nilai bobot jenis diduga dipengaruhi jenis dan konsentrasi bahan dalam larutan. Kebanyakan bahan-bahan seperti gula dan garam menyebabkan peningkatan densitas, tetapi kadang-kadang densitas dapat turun jika terdapat lemak dan etanol (Gaman dan Sherrington 1990). Data dan hasil analisa statistik pengukuran bobot jenis produk dapat dilihat pada Lampiran 4. dan Lampiran 5. Hasil pengukuran bobot jenis sabun cair yang dihasilkan memiliki kisaran antara 1,0701,128 g/ml. Jika hasil tersebut dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI 06-4085-1996), yaitu bobot jenis sabun cair 1,010-1,100 g/ml, maka terlihat bahwa tidak semua produk sabun cair yang dihasilkan memenuhi standar yang telah ditetapkan. Sabun cair yang memiliki bobot jenis sesuai dengan SNI 06-4085-1996 yaitu sabun cair dengan penambahan konsentrasi stok karagenan 4 % dan konsentrasi stok kitosan 1, 3 dan 5 %, sabun cair dengan penambahan konsentrasi stok karagenan 3 % dan konsentrasi stok kitosan 1 %, sabun cair dengan penambahan konsentrasi stok karagenan 2 % dan konsentrasi stok kitosan 1 dan 5 %, dan sabun cair dengan penambahan konsentrasi stok karagenan 1 % dan konsentrasi kitosan 5 %. 4.1.2.2. Uji pH Derajat keasaman (pH) merupakan parameter penting pada produk kosmetika, karena pH dapat mempengaruhi daya absorpsi kulit. Secara umum, produk sabun cair memiliki pH yang cenderung basa. Hal ini dikarenakan oleh bahan dasar penyusun sabun cair tersebut yaitu KOH yang digunakan untuk menghasilkan reaksi saponifikasi dengan lemak atau minyak, atau detergen sintetis yang memiliki nilai pH di atas pH netral (Anonim 2005). Biasanya untuk mendapatkan produk sabun cair yang pHnya mendekati netral ditambahkan dengan bahan-bahan kimia yang bersifat asam seperti asam sitrat, asam miristat dan asam borat. Hasil pengukuran pH terhadap sabun cair pada berbagai perlakuan konsentrasi stok kitosan dan karagenan dapat dilihat pada Tabel 10 dan Gambar 8.

Tabel 10. Hasil pengujian tingkat keasaman pH Konsentrasi Kitosan 1% 3% 5% Konsentrasi Karagenan 1% 9,32 9,13 9,16 2% 9,35 9,23 9,19 3% 9,41 9,28 9,20 4% 9,42 9,38 9,21

Gambar 8. Histogram pengujian pH Hasil pengujian terhadap pH sabun cair yang telah dibuat menunjukkan bahwa produk sabun cair memiliki pH basa hal ini karena bahan dasar penyusun sabun cair yang dihasilkan adalah KOH yang bersifat basa kuat. Untuk mendapatkan sabun cair yang pHnya mendekati netral diperlukan penambahan bahan sintetis. Pada penelitian ini tidak dilakukan karena dikhawatirkan penambahan bahan kimia sintetis dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Tingkat keasaman sabun cair yang dihasilkan berkisar antara 9,13-9,42. Parameter utama penyebab iritasi kulit pada sabun adalah alkali bebas. Kadar alkali bebas yang tinggi (di atas 0,22 %) dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan biasanya kadar alkali bebas yang tinggi ditandai pula dengan pH sabun yang terlalu basa (pH diatas 11) (Akmal 2004). Hasil analisis statistik menujukkan bahwa pada tingkat kepercayaan 95 %, perbedaan stok konsentrasi kitosan dan kombinasi antara kitosan dan karagenan tidak memberikan pengaruh yang

berbeda nyata terhadap pH sabun cair (Sig. > 0,05). Sedangkan perbedaan konsentrasi karagenan memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap produk sabun cair (Sig. < 0,05) sehingga dapat dikatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi larutan stok karagenan yang digunakan, maka pH sabun cair yang dihasilkan akan cenderung meningkat atau semakin basa. Hal ini mungkin dikarenakan spesifikasi karagenan yang digunakan memiliki kisaran pH antara 8-9. Melalui uji lanjut Tukey, diketahui bahwa konsentrasi larutan stok karagenan 1 dan 2 % dengan 3 % dan dengan 4 %, memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap pH sabun cair yang dihasilkan. Data dan hasil analisa statistik dapat dilihat pada Lampiran 6. dan Lampiran 7. 4.1.2.3. Uji kelembaban (water holding capacity) Pengujian kelembaban produk dilakukan untuk mengetahui kestabilan produk terhadap kehilangan air karena penguapan (water holding capacity). Dalam pengujian ini, kelembaban produk dinyatakan sebagai kemampuan produk dalam mempertahankan beratnya terhadap pengaruh panas matahari. Kehilangan berat yang kecil menandakan bahwa produk memiliki tingkat kestabilan dan kelembaban yang tinggi. Hasil pengujian kelembaban disajikan pada Tabel 11 dan grafik pada Gambar 8. Data penurunan kelembaban tiap jam dapat dilihat pada Lampiran 8. Tabel 11. Hasil pengujian kelembaban (persentase berat produk)
Perlakuan K11 K12 K13 K14 K21 K22 K23 K24 K31 K32 K33 K34 T0 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 T1 90,84 93,25 95,26 96,04 90,50 93,02 91,34 92,52 90,65 90,94 91,18 92,06 Waktu T2 T3 85,64 81,18 90,75 89,25 91,77 90,03 92,09 90,85 86,00 83,00 89,03 87,29 87,62 82,43 88,53 85,04 87,19 85,22 87,77 80,47 83,82 79,66 86,95 83,62 T4 80,19 88,50 88,54 90,36 81,25 84,79 79,46 79,80 82,50 77,44 75,74 80,40 T5 78,46 88,00 87,29 89,86 79,25 83,05 75,25 78,81 80,28 75,00 74,02 78,16

Gambar 9. Grafik hasil pengujian kelembaban


Ket: - Angka pertama setelah huruf menunjukkan konsentrasi stok kitosan (1 = 5 %, 2 = 3 %, dan 3 = 1 %) - Angka kedua setelah huruf menunjukkan konsentrasi stok karagenan (1 = 1 %, 2 = 2 %, 3 = 3 %, dan 4 = 4 %)

Gambar 8. Memperlihatkan bahwa K14 atau sabun cair dengan penambahan stok larutan kitosan 5 % dan karagenan 4 % memiliki kelembaban yang paling baik. Kelembaban atau water holding capacity pada K14 hingga jam ke-4 dapat mempertahankan berat yang tersisa hingga 90 %. Berat yang tersisa mulai konstan pada saat jam ke-4 (T4). Hal ini menunjukkan bahwa pada sampel K14 merupakan sabun dengan kelembaban tertinggi. Sedangkan K33 atau sabun cair dengan penambahan stok larutan kitosan 1 % dan karagenan 3 % memiliki kelembaban yang paling rendah dibanding perlakuan lainnya. Tabel 10. memperlihatkan bahwa semakin tinggi konsentrasi kitosan yang digunakan akan semakin tinggi kelembaban sabun cair yang dihasilkan. Dan sebaliknya semakin sedikit konsentrasi larutan stok kitosan yang digunakan maka semakin rendah kelembaban yang dihasilkan. Hal ini disebabkan karena sifat kitosan yang mampu mengikat air pada sabun cair. Menurut Knorr (1982), salah satu sifat kitosan yang penting adalah kemampuan mengikat air karena dalam kitosan terdapat gugus hidrofobik dan hidrofilik. No et al (1996) menyatakan bahwa kitosan memiliki kemampuan untuk mengikat air dan lemak. Perbedaan

fisika dan kimia kitosan yang digunakan akan mempengaruhi kemampuan kitosan dalam mengikat air dan lemak. Dapat diketahui bahwa semakin tinggi konsentrasi karagenan yang digunakan, semakin tinggi kelembaban sabun cair dan sebaliknya. Hal ini mungkin disebabkan oleh sifat karagenan yang mampu mengikat air. Kemampuan karagenan untuk mengikat air secara efektif dan membentuk gel yang lemah yang sangat stabil terhadap degradasi enzimatis, membuat karagenan unik sebagai pengental dalam pasta gigi (Skensved 2004). Dengan adanya penambahan kitosan dan karagenan pada produk sabun cair didapatkan produk yang tidak mudah menguap akibat sinar matahari. 4.2. Penelitian Tahap Kedua Penelitian tahap kedua dilakukan untuk membandingkan formula yang terpilih pada penelitian tahap pertama dengan kontrol positif sabun cair dan kontrol negatif (tanpa kitosan dan tanpa karagenan, dengan karagenan dan tanpa kitosan, dengan kitosan dan tanpa karagenan). Dari penelitian tahap pertama dapat diketahui bahwa produk sabun cair yang terbaik adalah sabun cair dengan penambahan konsentrasi larutan stok kitosan 5 % dan karagenan 4 %. Formula ini memiliki tingkat kelembaban tertinggi diantara semua perlakuan yang ada. Untuk parameter bobot jenis, produk ini telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI 06-4085-1996), walaupun pH produk ini di atas standar yang telah ditetapkan. Formulasi sabun cair dengan konsentrasi larutan stok kitosan 5 % dan karagenan 4 % merupakan perlakuan terbaik. Oleh karena itu, formula tersebut dipakai pada penelitian tahap selanjutnya untuk dibandingkan dengan kontrol positif (sabun cair komersial merek Dove) dan kontrol negatif (formulasi tanpa kitosan dan tanpa karagenan, kitosan dan tanpa karagenan, karagenan dan tanpa kitosan). Pada tahap ini dilakukan pengujian organoleptik dan pengujian fisik dan kimia serta pengujian mikrobiologi. Untuk pengujian fisik terdiri dari pengujian bobot jenis dan kelembaban dari sabun cair terpilih dengan kontrol positif dan dengan kontrol negatif. Pengujian kimia meliputi pengujian pH dan alkali bebas pada sabun terpilih. Pengujian mikrobiologi dilakukan pada sabun cair terpilih

dan sabun cair tanpa penambahan kitosan. Produk sabun cair yang diujikan pada tahap ini dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 10. Sabun cair yang diuji pada penelitian tahap kedua 4.2.1. Uji organoleptik Uji organoleptik yang dilakukan adalah uji kesukaan. Uji organoleptik bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap sabun cair yang dihasilkan. Uji organoleptik dilakukan dengan cara menilai mutu produk sabun cair berdasarkan kepekaan indera manusia. Uji kesukaan merupakan salah satu jenis uji penerimaan. Pada uji penerimaan, panelis diminta untuk mengemukakan tanggapan pribadinya tentang produk sabun cair yang dihasilkan. Uji organoleptik dapat dikatakan uji yang subjektif, hasil yang didapat merupakan hasil pemikiran pribadi karena setiap orang belum tentu memiliki pemikiran pribadi yang sama (Rahayu 1998). Penilaian yang diminta antara lain: penampakan, kekentalan, banyak busa, post effect, dan penilaian umum terhadap produk sabun cair. Panelis yang digunakan sebanyak 30 orang, dengan skala yang digunakan adalah 7 skala numerik. Data hasil pengujian organoleptik dapat dilihat pada Lampiran 8. dan hasil analisa statistik organoleptik dengan kontrol positif dan kontrol negatif dapat dilihat pada Lampiran 10. dan 11. 4.2.1.1. Kesukaan panelis terhadap penampakan sabun cair Penampakan suatu produk merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan image suatu produk di mata konsumen. Umumnya konsumen cenderung memilih produk yang memiliki penampakan yang baik. Penampakan sabun cair akan mempengaruhi penilaian konsumen terhadap produk. Hasil ratarata pengujian organoleptik penampakan sabun cair dapat dilihat pada Gambar 11.

Gambar 11. Histogram uji mutu hedonik terhadap penampakan Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa perbandingan penampakan sampel terpilih dengan ketiga kontrol negatif tidak terlalu siginifikan hal ini terlihat dari pengujian statistik bahwa pada tingkat kepercayaan 95 %, penambahan kitosan dan karagenan tidak mempengaruhi penilaian panelis terhadap sabun cair yang dihasilkan (Sig. > 0,05). Yang mempengaruhi penampakan suatu produk adalah tingkat kehomogenan produk tersebut. Hal ini berarti tingkat kehomogenan masing-masing sabun cair tidak berbeda nyata satu sama lain. Jika sampel terpilih dibandingkan dengan kontrol positif, dapat dilihat bahwa penampakan sabun cair dari kontrol postitif lebih disukai oleh panelis. Dan melalui uji statistik dapat diketahui bahwa penampakan sabun cair sampel terpilih berbeda nyata dengan kontrol positif (Sig. < 0,05). Penampakan sabun cair kontrol positif lebih disukai daripada sampel terpilih (K14). Hal ini karena pada sabun cair kontrol positif terdapat butiran-butiran scrub berwarna biru yang dapat membuat panelis menyukai penampakan sabun cair tersebut. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kehomogenan produk. Pertama adalah proses pengadukan yang dilakukan pada saat pembuatan sabun cair haruslah sempurna agar produk yang dihasilkan menjadi homogen dan juga suhu pada saat pengadukan harus berkisar diantara 60-80 oC. Kedua, efektifitas pengemulsi yang digunakan dalam formulasi juga dapat mempengaruhi tingkat kehomogenan produk (Hidayat 2006). Menurut Standar Nasional Indonesia (1996), bentuk

sabun cair haruslah cair dan homogen. Produk sabun cair yang dihasilkan memiliki bentuk yang cair dan homogen. 4.2.1.2. Kesukaan panelis terhadap kekentalan sabun cair Kekentalan menjadi salah satu penilaian yang cukup penting pada berbagai produk sabun cair seperti sabun cair. Pada umumnya, sabun cair di pasaran dalam bentuk cairan kental, namun ada pula yang lebih encer. Tingkat kesukaan konsumen terhadap produk sabun cair bervariasi satu sama lain. Ada konsumen yang menyukai sabun cair yang kental dan adapula konsumen yang menyukai sabun cair yang memiliki kekentalan sedang atau bahkan encer. Kisaran nilai organoleptik terhadap kekentalan yang diberikan panelis berkisar antara 2 (tidak suka) sampai 7 (sangat suka). Semakin tinggi nilai yang diberikan, semakin tinggi kekentalan sabun cair. Hasil penilaian organoleptik terhadap kekentalan sabun cair yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 12.

Gambar 12. Histogram uji mutu hedonik terhadap kekentalan Hasil pengujian mutu hedonik terhadap kekentalan sabun cair, diperoleh bahwa semakin banyak karagenan dan kitosan yang digunakan maka produk sabun cair yang dihasilkan akan semakin kental. Hal ini dikarenakan karagenan dan kitosan berfungsi sebagai pengental (Skensved 2004). Perbandingan antara sampel terpilih dengan ketiga kontrol negatif dapat diketahui bahwa penambahan kitosan dan penambahan karagenan berpengaruh nyata terhadap produk sabun cair yang dihasilkan pada tingkat kepercayaan 95 %

(Sig. < 0,05). Dan melalui uji Tukey diketahui bahwa kekentalan sampel sabun cair K00 berbeda nyata terhadap kekentalan ketiga sampel sabun cair lainnya (K04, K10 dan K14). Sehingga dapat diketahui bahwa dengan adanya penambahan kitosan dan karagenan akan meningkatkan tingkat kesukaan panelis terhadap sabun cair, hal ini dapat dilihat dari Gambar 12. Dengan tidak adanya penambahan kitosan dan karagenan menghasilkan produk sabun cair yang tingkat kekentalannya rendah (encer) sehingga kurang disukai oleh panelis. Kekentalan sampel terpilih jika dibandingkan ketiga kontrol negatif tersebut merupakan kekentalan yang paling disukai oleh panelis, hal ini dapat dilihat dari rata-rata penilaian organoleptik pada kekentalan produk. Kekentalan sampel terpilih (K14) jika dibandingkan dengan kontrol positif masih berada dibawahnya. Namun jika diuji secara statistik dapat diketahui bahwa kekentalan pada sabun cair sampel terpilih tidak berbeda nyata dengan sabun cair kontrol positif (Sig. > 0,05). Kesukaan panelis terhadap sabun cair dapat berbedabeda, umumnya panelis menyukai sabun cair yang tingkat kekentalannya tidak terlalu rendah (cair) dan tidak terlalu tinggi (kental) dan memiliki nilai viskositas di atas standar umum kekentalan produk sabun cair yaitu 400-4000 cPs (Williams dan Schmitt 2002). 4.2.1.3. Kesukaan panelis terhadap banyak busa sabun cair Busa merupakan salah satu parameter yang penting yang digunakan untuk menilai tingkat kesukaan konsumen terhadap produk sabun cair. Meskipun busa bukan merupakan parameter yang dapat menunjukkan daya membersihkan suatu produk sabun, akan tetapi kebanyakan konsumen lebih suka sabun yang memiliki busa yang banyak daripada sabun yang memiliki busa yang sedikit. Penilaian panelis terhadap jumlah busa sabun dilakukan dengan menggosok-gosokkan sabun cair pada tangan yang kemudian dibasahi. Kisaran nilai organoleptik banyak busa yang diberikan oleh panelis berkisar antara 2 (tidak suka) hingga 7 (sangat suka). Rata-rata penilaian organoleptik sabun cair yang dihasilkan berkisar antara 5,035,33. Rata-rata penilaian banyaknya busa sabun cair dapat dilihat pada Gambar 13.

Gambar 13. Histogram uji mutu hedonik terhadap banyak busa Berdasarkan Gambar 13. dapat diketahui bahwa rata-rata penilaian terendah yang diberikan panelis terhadap sabun cair yaitu pada kontrol negatif tanpa penambahan kitosan dan tanpa penambahan karagenan. Sampel yang terpilih memiliki nilai rata-rata tertinggi yang diberikan oleh panelis. Jika sampel terpilih dengan ketiga kontrol negatif dibandingkan melalui uji statistik dapat diketahui bahwa dengan adanya penambahan baik itu kitosan dan karagenan tidak berpengaruh nyata terhadap banyak busa sabun cair yang dihasilkan (Sig. > 0,05). Karakteristik busa sabun dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: adanya bahan aktif sabun atau surfaktan, penstabil busa dan bahan-bahan penyusun sabun cair lainnya (Amin 2006). Faktor eksternal yang mempengaruhi banyak busa adalah jumlah air yang digunakan untuk pembentukan busa dan udara yang terperangkap (Shaw 1991). Jika diuji secara statistik, banyak busa pada sabun cair sampel terpilih tidak berbeda nyata ketimbang sabun cair kontrol positif (Sig. > 0,05). Dan dapat diketahui bahwa penilaian panelis terhadap banyak busa sampel lebih disukai dibandingkan dengan sabun kontrol positif. Hal ini mungkin dikarenakan adanya penambahan kitosan pada pembuatan sabun cair. Menurut Brzeski (1987) dalam Amin (2006), kitosan memiliki sifat sebagai penstabil pada produk kosmetika, salah satunya adalah sebagai penstabil busa. Kitosan yang memiliki sifat reaktivitas kimia yang tinggi menyebabkan kitosan mampu mengikat air dan

minyak. Hal ini didukung oleh adanya gugus polar dan non polar yang dikandungnya. Karena kemampuan tersebut, kitosan dapat digunakan sebagai penstabil busa. 4.2.1.4. Kesukaan panelis terhadap post effect sabun cair Penilaian panelis terhadap efek setelah sekali pemakaian (post effect) dilakukan dengan cara menilai efek yang dirasakan panelis pada kulit setelah pembilasan dengan air dan bilasan tersebut menjadi kering. Nilai yang tinggi menandakan bahwa setelah pemakaian, kulit panelis terasa lembab tanpa adanya iritasi atau rasa kering pada kulit. Sedangkan nilai yang rendah menandakan bahwa produk sabun cair yang diuji menimbulkan rasa kering atau lengket setelah pemakaian dengan air. Hasil penilain post effect disajikan pada Gambar 14. Salah satu nilai tambah yang ingin diperoleh dengan adanya penambahan kitosan dan karagenan pada sabun cair adalah kesan halus atau lembut dan lembab pada kulit setelah pemakaian sabun cair. Post effect merupakan parameter yang penting bagi produk kosmetika. Semakin baik post effect yang dihasilkan oleh suatu produk kosmetik setelah pemakaian, maka akan semakin baik pula penilaian konsumen terhadap produk kosmetika tersebut. Penilaian organoleptik yang diberikan oleh panelis berkisar antara 1 (sangat tidak suka) sampai 7 (sangat suka). Rata-rata tingkat kesukaan panelis terhadap produk sabun cair yang dihasilkan berkisar antara 3,935,50.

Gambar14. Histogram uji mutu hedonik terhadap post effect

Gambar 14. menunjukkan bahwa kontrol negatif tanpa penambahan kitosan dan tanpa penambahan karagenan menghasilkan post effect produk sabun cair yang kurang disukai oleh panelis. Berdasarkan pengujian statistika yang dilakukan dapat diketahui bahwa dengan penambahan kitosan dan karagenan berpengaruh nyata terhadap post effect sabun cair yang dihasilkan (Sig. < 0,05). Melalui uji Tukey diketahui bahwa sabun cair kode K00 dan K04 berbeda nyata dengan sabun cair kode K10 dan K14. Dapat diketahui bahwa sampel terpilih (K14) merupakan sabun cair yang paling disukai panelis dari segi post effect yang dihasilkan. Hal ini mungkin dikarenakan oleh tingkat kelembaban masing-masing sampel. Salah satu manfaat kitosan pada pembuatan sabun cair adalah sebagai humektan. Penambahan humektan pada produk sabun cair akan mempengaruhi kelembaban pada kulit setelah pemakaian. Humektan merupakan suatu bahan higroskopik yang mempunyai kemampuan untuk menyerap uap air dari lingkungan. Larutan aqueous humektan dapat mengurangi kecepatan hilangnya kelembaban dari udara di sekelilingnya (De Polo 2000). Penggunaan kitosan dan karagenan sebagai humektan, dapat memperbaiki karakteristik kelembaban kulit. Hal ini karena karagenan dan kitosan dapat membentuk lapisan film pada kulit, yang dapat mencegah kulit kehilangan air, sehingga kelembaban kulit dapat dipertahankan. Kemampuan pelembaban dari kitosan dihubungkan dengan sifat pengemulsi yang dituntut pada formulasi yang sesuai untuk modifikasi kitosan dengan asilasi asam lemak anhidrat atau klorida (Domard dan Domard 1999). Jika post effect sampel terpilih dibandingkan dengan post effect kontrol positif tidak terlihat perbedaan yang begitu jauh diantara keduanya. Dan jika diuji secara statistik, maka sabun cair sampel terpilih tidak berbeda nyata dengan sabun cair kontrol positif (Sig. > 0,05). Hal ini sesuai dengan yang diinginkan yaitu membuat sabun cair yang memiliki tingkat kelembaban yang tinggi karena sabun cair kontrol positif atau komersil yang digunakan adalah sabun cair yang dkenal memiliki tingkat kelembaban yang tinggi. Sabun kontrol positif yang digunakan adalah sabun komersial Dove. Sabun tersebut diyakini masyarakat memiliki tingkat kelembaban yang tinggi dan baik untuk kesehatan kulit manusia.

4.2.1.5. Kesukaan panelis terhadap penilaian umum sabun cair Pengujian tingkat kesukaan panelis terhadap penilaian umum produk sabun cair, panelis diminta memberikan penilaian akhir terhadap masing-masing sampel yang diuji. Nilai yang tertinggi menandakan bahwa panelis menyukai formulasi sabun cair sehingga menghasilkan produk sabun cair yang dihasilkan. Hasil tingkat kesukaan panelis terhadap penilaian umum produk sabun cair dapat dilihat pada Gambar 15.

Gambar 15. Histogram uji mutu hedonik terhadap penilaian umum Dari Gambar 15. diketahui bahwa dengan adanya penambahan kitosan dan karagenan akan meningkatkan penilaian panelis terhadap sabun cair. Kisaran ratarata penilaian panelis terhadap penilaian umum sabun cair yang dihasilkan yaitu 4,035,60. Dengan rata-rata terendah pada sabun cair tanpa penambahan kitosan dan tanpa penambahan karagenan, sedangkan rata-rata tertinggi didapat oleh produk sabun cair kontrol positif. Jika sampel terpilih dibandingkan dengan ketiga kontrol negatif melalui pengujian statistika, dapat diketahui bahwa penambahan kitosan dan penambahan karagenan akan memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap produk sabun cair yang dihasilkan (Sig. < 0,05). Melalui uji Tukey dapat diketahui bahwa penilaian umum sabun cair kode K00 dan K04 berbeda nyata terhadap sabun cair terpilih (K14). Hal ini menandakan bahwa dengan adanya penambahan kitosan dan karagenan akan membuat karakteristik sabun cair lebih disukai oleh

konsumen. Sabun cair sampel terpilih (K14) merupakan sabun cair yang paling disukai oleh panelis jika dibandingkan dengan ketiga kontrol negatif, hal ini dapat dilihat dari Gambar 15. Jika sampel terpilih dibandingkan dengan produk sabun cair kontrol positif tidak terdapat perbedaan yang terlalu jauh di antara keduanya. Setelah diuji secara statistik diketahui bahwa sabun cair sampel terpilih memiliki karakteristik penilaian umum yang tidak berbeda nyata terhadap sabun cair kontrol positif (Sig. > 0,05). Hal ini menandakan bahwa sabun cair sampel terpilih (K14) dapat diterima oleh panelis dan karakteristiknya tidak berbeda dengan sabun cair konrol positif (Dove). 4.2.2. Pengujian karakteristik 4.2.2.1. Uji bobot jenis, 25 oC Bobot jenis menurut SNI 06-4085-1996 didefinisikan sebagai

perbandingan bobot sabun cair dengan bobot air pada volume dan suhu yang sama. Bobot jenis sabun cair diukur pada suhu yang sama yaitu 25 oC dan dengan volume yang sama yaitu 1 ml dengan menggunakan micro tube. Hasil analisis menunjukkan bahwa bobot jenis sabun cair yang dihasilkan 1,0581,125 g/ml seperti yang ditunjukkan pada Tabel 12. dan Gambar 16. Bobot jenis sabun cair sampel terpilih (K14) dan sabun cair kontrol positif berada dalam kisaran yang telah ditetapkan SNI 06-4085-1996, sedangkan sabun cair kontrol negatif (tanpa penambahan kitosan dan tanpa penambahan karagenan) melewati kisaran yang telah ditetapkan. Secara deskriptif dapat diketahui pula bahwa sampel (K14) memiliki bobot jenis di antara sampel negatif dan sampel positif yaitu sebesar 1,095. Tabel 12. Hasil pengujian bobot jenis produk tahap kedua Contoh Kontrol Negatif Sampel (K14) Kontrol Positif SNI (06-4085-1996) Bobot Jenis, 25 oC (g/ml) 1,125 1,095 1,058 1,011,10

Gambar 16. Histogram pengujian bobot jenis tahap kedua Bobot jenis sabun cair kontrol negatif (tanpa penambahan karagenan dan kitosan) berada di luar kisaran standar SNI (06-4085-1996). Bobot jenis sabun cair sampel terpilih (K14) berada di bawah bobot jenis kontrol negatif mungkin dikarenakan oleh adanya penambahan kitosan dan karagenan pada produk sabun cair. Dengan adanya penambahan kitosan dan karagenan pada produk sabun cair menyebabkan sabun cair yang dihasilkan memiliki bobot jenis sesuai dengan yang telah ditetapkan SNI 06-4085-1996. Menurut Gaman dan Sherington (1990), jika suatu bahan dilarutkan dalam air dan membentuk larutan maka densitasnya akan mengalami perubahan. Penambahan bahan-bahan seperti garam juga dapat meningkatkan bobot jenis, namun kadang-kadang bobot jenis dapat turun jika terdapat lemak atau golongan alkohol dalam larutan. Berdasarkan perhitungan secara statistik, diketahui bahwa pada selang kepercayaan 95%, perlakuan kontrol negatif, sampel terpilih, dan kontrol positif tidak berbeda nyata terhadap bobot jenis sabun cair (Sig. > 0,05). Kontrol positif memiliki bobot jenis yang paling rendah, hal ini karena bahan-bahan yang digunakan dalam formulasi yang digunakan berbeda dengan sabun cair yang dihasilkan. Komposisi sabun cair sangat menentukan besar kecilnya bobot jenis produk sabun cair. Data dan analisis dapat dilihat pada Lampiran 12. dan Lampiran 13.

4.2.2.2. Uji pH Derajat keasaman (pH) dapat mempengaruhi daya absorpsi kulit. Menurut Wasitaatmadja (1997), produk kosmetika yang memiliki nilai pH yang sangat tinggi atau sangat rendah dapat menambah daya absorpsi pada kulit sehingga mengakibatkan kulit teriritasi, oleh karena itu produk kosmetik perawatan diri sebaiknya dibuat dengan menyesuaikan dengan pH kulit, yaitu berkisar 4,57,0. Hasil pengujian pH produk dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 13. Hasil pengujian pH produk tahap kedua Contoh pH Kontrol Negatif 9,55 Sampel (K14) 9,23 Kontrol Positif 5,86 SNI (06-4085-1996) 6-8

Gambar 17. Histogram pengujian pH produk tahap kedua Hasil pengukuran tingkat keasaman pada produk sabun cair antara kontrol negatif, sampel terpilih (K14), dan kontrol positif pH sabun cair sampel (K14) lebih rendah daripada kontrol negatif mungkin dikarenakan oleh adanya penambahan larutan kitosan yang bersifat asam. pH sabun cair yang diujikan berada di luar kisaran standar yang telah ditetapkan oleh SNI (06-4085-1996). pH bukanlah parameter utama yang menyebabkan kulit menjadi teriritasi. Parameter utama penyebab iritasi kulit pada sabun adalah alkali bebas. Kadar alkali bebas yang tinggi (di atas 0,22 %) dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan biasanya

kadar alkali bebas yang tinggi ditandai pula dengan pH sabun yang terlalu basa (pH diatas 11) (Akmal 2004). Berdasarkan analisis statistik, diperoleh hasil bahwa pada selang kepercayaan 95 %, perlakuan kontrol negatif, sampel terpilih dan kontrol positif berbeda nyata terhadap tingkat keasaman sabun cair (Sig. < 0,05). Dengan menggunakan uji Tukey, dapat diketahui bahwa setiap perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap antara yang satu sama lainnya terhadap pH produk sabun cair yang digunakan. Pelarut yang digunakan untuk melarutkan kitosan yang digunakan adalah asam asetat. Penambahan larutan yang bersifat asam akan membuat tingkat keasaman produk sabun cair yang dihasilkan menjadi lebih rendah. Data dan hasil pengujian statistik untuk parameter pH sabun cair tahap kedua dapat dilihat dari Lampiran 14. dan Lampiran 15. 4.2.2.3. Uji kelembaban Kelembaban produk sabun cair ini dinyatakan sebagai kemampuan produk sabun cair dalam mempertahankan beratnya terhadap pengaruh sinar matahari. Kehilangan berat yang kecil menandakan bahwa produk tersebut memiliki kelembaban yang tinggi dan sebaliknya kehilangan berat yang besar menandakan bahwa produk tersebut memiliki kelembaban yang rendah. Pada pengujian kelembaban kali ini, dilakukan uji pada kontrol negatif, sampel terpilih (K14) dan kontrol positif. Hasil yang diperoleh dapat dilihat Gambar 18.

Gambar 18. Grafik hasil pengujian kelembaban tahap kedua

Gambar 18. menunjukkan bahwa pada sabun cair kontrol negatif pada T0 terlihat terjadi penurunan yang signifikan tetapi lama kelamaan pada T3 hingga T5 penurunan berat tidak terlalu besar dan menjadi stabil. Sedangkan pada sabun cair kontrol positif penurunan berat tiap jam terlihat signifikan, hal ini mungkin dikarenakan pada produk sabun cair kontrol positif tidak ditambahkan bahan pengikat air. Sedangkan pada sampel (K14), penurunan berat produk tidak terlalu besar dan mulai stabil pada T3. Dapat diketahui bahwa sabun cair sampel (K14) memiliki kelembaban yang paling tinggi. Hal ini mungkin dikarenakan pada sabun cair sampel (K14) ditambahkan kitosan dan karagenan yang memiliki sifat mengikat air. Menurut Knorr (1982), sifat kitosan yang penting untuk aplikasinya adalah kemampuan mengikat air karena dalam kitosan terdapat gugus hidrofobik dan hidrofilik. Data penurunan kelembaban tiap jam dapat dilihat pada Lampiran 16. 4.2.3. Uji mikrobiologi (SNI 06-4085-1996) Pengujian angka lempeng total atau cemaran mikroba dilakukan untuk mengetahui jumlah mikroba yang terdapat pada produk sabun. Hal ini karena cemaran mikroba menentukan mutu sabun cair. Sabun cair berhubungan erat dengan masalah kesehatan terutama pada perawatan kulit, oleh karena itu cemaran mikroba juga menentukan apakah produk sabun cair dapat diterima oleh konsumen. Pertumbuhan mikroba dalam sabun cair dapat dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik antara lain adalah kandungan pH, aw, nutrisi dan senyawa antimikroba. Faktor ekstrinsik antara lain suhu dan kelembaban relatif (Salam 2003). Angka lempeng total merupakan salah satu cara untuk menetukan jumlah mikroorganisme dalam sampel secara tidak langsung. Cara ini lebih akurat dibandingkan dengan cara langsung melalui pengamatan di bawah mikroskop (Fardiaz 1989). Cara ini berdasarkan anggapan bahwa setiap sel yang hidup akan berkembang menjadi satu koloni. Jumlah koloni yang muncul pada cawan merupakan indeks bagi mikroorganisme dalam sampel dapat hidup. Hasil jumlah cemaran mikroba dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Hasil pengujian cemaran mikroba (angka lempeng total) produk. Parameter Jumlah koloni hari ke-0 (koloni/ml) Jumlah koloni hari ke-30 (koloni/ml) Kontrol Negatif <1 x 101 <1 x 10
1

Sampel (K14) <1 x 101 <1 x 10


1

SNI (06-4085-1996) Maks. 1 x 105

Berdasarkan Tabel 14. dapat diketahui bahwa pada produk sabun cair kontrol negatif maupun pada sabun cair sampel (K14) tidak terdapat koloni yang tumbuh, baik pada pengujian di hari ke-0 maupun pada pengujian di hari ke-30. Jika kedua produk di atas dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan dalam SNI 06-4085-1996, maka kedua produk di atas memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Mikroba tidak dapat tumbuh pada produk sabun cair yang dihasilkan mungkin karena pH produk sabun cair yang cenderung basa dan pada proses pembuatannya dilakukan pada suhu berkisar 70-80 oC. Kondisi ini merupakan bukan kondisi yang optimum untuk pertumbuhan mikroba. Mikroba memiliki pH optimum berkisar 3,8-5,6 dan dapat tumbuh optimum pada suhu 22-37 oC (Stainer et al. 1976 dalam Fahmitasari 2004). Formulasi sabun cair dan produk kosmetika lainnya pada umumnya ditambahkan bahan preservatif. Fungsi dari penambahan bahan preservatif salah satunya adalah untuk mencegah pertumbuhan bakteri pada produk (Salam 2003). Walaupun pada kontrol negatif tidak tumbuh mikroba, penambahan bahan seperti kitosan pada produk sabun cair dirasa perlu guna memperpanjang daya simpan produk sabun cair. Kitosan merupakan bahan preservatif dari alam. Biasanya sabun dipasaran menggunakan formaldehyde sebagai bahan preservatif. Penggunaan bahan ini pada konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan iritasi dan reaksi alergi (Harry 1975). Data pengujian angka lempeng total produk dapat dilihat pada Lampiran 17. 4.2.4. Uji kadar alkali bebas Prinsip dari analisis kadar alkali bebas adalah mentitrasi alkali bebas (dalam hal ini adalah KOH) yang terdapat dalam contoh dengan menggunakan

larutan baku asam (SNI 06-4085-1996). Adanya alkali bebas dapat disebabkan oleh penambahan KOH pada sabun cair. Kandungan alkali bebas di dalam sabun cair menunjukkan kelebihan jumlah alkali di dalam sabun cair yang tidak bereaksi dengan asam lemak. Hasil pengujian kadar alkali bebas, produk sabun cair sampel (K14) mengandung alkali bebas sebesar 0,017 %. Hasil penghitungan kadar alkali bebas dapat dilihat dari Lampiran 18. Seperti diketahui proses dasar pembuatan sabun tersebut adalah dengan cara menyabunkan lemak dengan alkali. Suatu sabun cair yang baik kualitasnya kadar alkali bebas yang masih tersisa tidak boleh melebihi 0,22 % yang dihitung sebagai K20 (WHO Collaborating Centre for Quality Assurance of Essential Drugs 1990). Kelebihan kadar alkali dari batasan resmi tersebut dapat menimbulkan kerugian konsumen, berupa kerusakan kulit seperti iritasi kulit. Berdasarkan perhitungan kadar alkali bebas dapat diketahui bahwa sabun cair sampel (K14) tidak beresiko menyebabkan iritasi kulit. Tingginya kadar alkali pada produk sabun mandi yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat luas, seperti telah dikemukakan, dapat menimbulkan kerusakan kulit dan bentuk iritasi lainnya, terutama pada bayi dan anak-anak. Contoh perhitungan kadar alkali bebas dapat dilihat pada Lampiran 19.

5. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan Penelitian tahap pertama menunjukkan formulasi konsentrasi larutan stok kitosan yang digunakan adalah 1, 3 dan 5 %. Penambahan larutan stok karagenan sebesar 1, 2, 3 dan 4 %. Sementara itu, gliserin ditambahkan sebanyak 5 ml dan sisanya adalah sukrosa, akuades dan bahan dasar penyusun sabun. Pengujian karakteristik menunjukkan bahwa tidak semua perlakuan kitosan dan karagenan yang diuji telah memenuhi standar yang ditetapkan dalam SNI 06-4085-1996 tentang sabun mandi cair. Bobot jenis yang didapatkan hasil dari perlakuan kitosan dan karagenan adalah 1,0701,128 g/ml. Pengujian statistik menunjukkan bahwa penambahan kitosan, karagenan dan kombinasi keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap bobot jenis sabun mandi cair yang dihasilkan. Untuk pengujian pH produk, diperoleh bahwa produk yang dihasilkan memiliki pH yang cukup basa, yakni 9,139,41. Melalui uji statistik, penambahan karagenan akan berpengaruh nyata terhadap tingkat keasaman sabun mandi cair yang dihasilkan. Semakin tinggi konsentrasi stock karagenan yang digunakan maka pH sabun cair akan meningkat. Berdasarkan pengujian-pengujian tersebut didapatkan perlakuan terbaik yaitu K14 (penambahan stok kitosan 5 % dan karagenan 4 %). Hasil uji kelembaban sabun cair menghasilkan sabun cair yang memiliki persentase berat produk hingga jam ke-5 berkisar antara 74,02-89,86 %. Penambahan kitosan dan karagenan pada produk sabun mandi cair akan mempengaruhi tingkat kelembaban sabun mandi cair. Semakin tinggi kitosan dan karagenan yang ditambahkan pada sabun cair maka tingkat kelembaban sabun cair semakin tinggi. Penelitian tahap kedua dilakukan pengujian organoleptik dengan membandingkan tiga jenis kontrol negatif (tanpa kitosan dan karagenan, penambahan kitosan saja, dan penambahan karagenan) dengan sampel terpilih (K14) dan dengan kontrol positif. Melalui pengujian statistik, jika sampel terpilih dibandingkan dengan ketiga kontrol negatif dapat diketahui bahwa dengan adanya penambahan kitosan dan karagenan akan mempengaruhi kekentalan, banyak busa, post effect, dan penilaian umum panelis terhadap sabun mandi cair yang

dihasilkan. Penambahan kitosan dan karagenan tidak berpengaruh nyata terhadap penampakan sabun mandi cair yang dihasilkan. Dan jika sampel terpilih (K14) dibandingkan dengan kontrol positif melalui uji statistika, dapat diketahui bahwa kekentalan, banyak busa, post effect, dan penilaian umum sabun mandi cair yang terpilih tidak berbeda nyata dengan sabun mandi cair kontrol positif. Sedangkan karakteristik penampakan sampel terpilih (K14) berbeda nyata dengan kontrol positif. Melalui pengujian secara statistika, bobot jenis antara kontrol negatif, sampel terpilih, dan kontrol negatif tidak saling berbeda nyata, sedangkan pH produk berbeda nyata antar masing-masing sampel. Dan pada pengujian tingkat kelembaban sabun mandi cair didapatkan bahwa sampel terpilih memiliki tingkat kelembaban yang paling tinggi. Cemaran mikroba sabun mandi cair yang dihasilkan baik yang ditambahkan dengan kitosan maupun yang tidak telah memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh SNI 06-4085-1996 yaitu sebesar < 1 x 101 koloni/ml. Kadar alkali bebas yang dihasilkan yaitu sebesar 0,017% yang dihitung sebagai K2O.

5.2. Saran Saran yang dapat disampaikan dalam penelitian ini adalah penelitian lanjutan tentang umur simpan sabun mandi cair yang dihasilkan dan pembuatan sabun mandi cair dengan menambahkan bahan-bahan alami yang bersifat asam agar pH sabun mandi cair mendekati pH kulit.

DAFTAR PUSTAKA Akmal YL. 2004. Alkali bebas pada berbagai produk sabun mandi [skripsi]. Padang: Jurusan Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas. Amin H. 2006. Kajian penggunaan kitosan sebagai pengisi dalam pembuatan sabun transparan [skripsi]. Bogor: Program studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Ananthapadamanabhan KP, Moore DJ, Subramanyan K, Misra M and meyer F. 2004. Cleansing without compromise: the impact of cleansers on the skin barrier and the technology of mild cleansing. Dermatologic Therapy. 17:1625. Angka SL dan Suhartono TS. 2000. Bioteknologi Hasil Laut. Bogor: Pusat Kajian Sumber daya Pesisir dan Lautan. Institut Pertanian Bogor. 49-56. Anonim. 2004. Introduction to Carrageenan. http://www.cybercolloids.net/libra ry/carrageenan/production.php [23 Maret 2008]. Anonim. 2005. Cosmetics. http://www.bookrags.com/ [16 September 2008]. Anonim. 2007. Penggunaan Chitosan Sebagai Koagulan Pada Pengolahan Air Bersih dan Air Limbah. http://www.bic.web.id/innovationprospective_ inside.php? id=144&strlang=ind [26 Januari 2009]. Anonim. 2008. Natural Soap Directory: Glossary of Soap Terms. http://www. natural-soap-directory.com/soap-terms.html#top [24 maret 2008]. Arifin S. 2007. CHE Around Us: Sabun. http://www.majarikanayakan.com/2007 /12/che-around-us-sabun/ [24 Maret 2008]. cP Kelco Aps. Carrageenan. Denmark. http://cpkelco.com/food/carrageenan.html [7 Agustus 2008]. De Polo KF. 2000. A Short Textbook of Cosmetic. Germany. Domard A, Domard M. 1999. Chitosan: structure-properties relationship and biomedical applications. Didalam Polymeric Biomaterials. Dumitriu S (Ed). Washington DC: CRC Press. Engko HC. 2001. Aplikasi minyak biji adas (Foeniculum vulgare Mill.) dan gelatin tipe B dari kulit sapi pada formulasi sabun mandi cair [skripsi]. Bogor: Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Fahmitasari Y. 2004. Pengaruh penambahan tepung karaginan terhadap karateristik sabun mandi cair [skripsi]. Bogor: Departemen Teknologi

Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Fardiaz S. 1989. Analisis Mikrobiologi Pangan. Bogor: Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Gaman PM dan KB Sherrington. 1990. The science of Food, 3rd. Oxford: Pergamon Press Glicksman M. 1983. Food Hydrocolloids Vol II. Florida: CRC Press Hardjito L. 2006. Aplikasi Kitosan Sebagai Bahan Tambahan Makanan dan Pengawet. Di dalam: Santoso J, Trilaksani W, Nurhayati T, Suseno SH, editor. Prospek Produksi dan Aplikasi Kitin-Kitosan Sebagai Bahan Alami dalam Membangun kesehatan Masyarakat san Menjamin Keamanan Produk. Prosiding Seminar Nasional Kitin-Kitosan 2006; Bogor, 16 Maret 2006. Bogor: Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. hlm 1-13 Harry RG. 1975. Harry`s Cosmeticology. New York: Leonald Hill Books Hidayat F. 2006. Pengaruh kombinasi karagenan dan sodium lauryl sulfat serta penambahan ekstrak pemphis acidula terhadap karakteristik sabun mandi cair [skripsi]. Bogor: Program studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Janesh KA, Alonso MJ. 2003. Depolimerizaed chitosan nanoparticles for protein delivery. Preparation and Characterization. J Appl Pol Sci. 88:2769-2776. Khan TA, Peh KK, Ch`ng HS. 2002. Reporting degree of deacetylation values of chitosan: the influence of analytical methods. J Pharm Pharmaceut Sci. 5(3):205-212. Kim F. 2004. Physicochemical and functional properties of crawfish chitosan as affected by different processing protocols [thesis]. Seoul: The Department of Food Science, Seoul National University. Knorr D. 1982. Functional properties chitin dan chitosan. Journal Food Science. 47: 593-595. Lang G, Clausen T. 1989. The use of chitosan in cosmetic. Dalam Chitin and Chitosan. Elsevier London and New York: Applied Science. Meidina, Sugiyono, B Sri Laksmi Jenie dan MT Suhartono. 2006. Aktivitas Antibakteri Oligomer Kitosan yang Diproduksi menggunakan Kitonase dari Isolat B. licheniformis MB-2. Bogor: Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.

Nadarajah K. 2005. Development and characterization of antimicrobial edible films from crawfish chitosan [thesis]. Peradeniya: The Department of Food Science. University of Peradeniya. Nan L, Chen XG, Park HJ, Liu CG, Liu CS, men XH and Yu LJ. 2006. Effect of MW and concentration of chitosan on antibacterial activity of Escherichia coli. Journal Carbohydrat Polimers. 60-65. Nix DH. 2005. Wound Care: Factors To Consider When Selected skin Cleansing Products. http://www.wocn.org/ [24 Maret 2008]. No HK, Cho YI, Meyers SP. 1996. Dye binding capacity of commercial chitin products. Journal Agricultural Food Chemistry. 44: 1939-1942. NTFP. 2003. Manfaat minyak kelapa untuk kesehatan. http://www.ntfp.or.id/ [16 Februari 2009]. Pendrianto. 2008. Pengaruh sterilisasi terhadap aktivitas kitosan sebagai antibakteri [skripsi]. Jakarta: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Al Azhar Indonesia. Rahayu WP. 1998. Penuntun Praktikum Penilaian Organoleptik. Bogor: Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Rinaudo M. 2006. Chitin and chitosan : properties and applications. Prog. Polym. Sci. 31: 603632 Salam RRS. 2003. Kualitas sabun mandi cair dengan penambahan madu ekstrak polen [skripsi]. Bogor: Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Sary DAP. 2007. Formulasi, uji iritasi dan penentuan khasiat pelindung surya krim yang mengandung serbuk Kappaphycus alvarezii bahan bahari sumber karagenan [thesis]. Bandung: Program Studi Sains dan Teknologi Farmasi, Institut Teknologi Bandung. SDA. 2001. Fats and oil. http://cleaning101.com/cleaning/chemistry/soap chemistry2.cfm [16 Februari 2009]. Shaw DJ. 1991. Introduction to Colloids and Surface Chemistry, 4ed. London: Butterworth Hienemann. Ltd. Simanjuntak T. 2000. Studi awal penggunaan khitosan dari limbah kulit udang, sebagai bahan substitusi pada produk hand and body lotion [skripsi]. Bogor: Departemen Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Skensved L. 2004. GENU Carrageenan: Application. CP Kelco ApS, Denmark. http://cpkelco.com/ [25 Agustus 2008].

Standar Nasional Indonesia. 1996. SNI 06-4085-1996. Jakarta: Dewan Standardisasi Nasional. Steel RGD dan James HT. 1995. Prinsip dan Prosedur Statistika. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Suptijah P, Salamah E, Sumaryanto H, Purwaningsih S dan Santoso J. 1992. Pengaruh Berbagai Isolasi Kulit Udang terhadap Mutunya. Bogor: Laporan Penelitian Jurusan Pengolahan Pangan Perikanan, Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor Suryani A, Sailah I, Hambali E. 2002. Teknologi Emulsi. Bogor: Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Towle GA. 1973. Carrageenan. Di dalam: Whistler RL (editor). Industrial Gums 2ed, New York: Academic Press. 83-114. Uju. 2005. Kajian proses pemurnian dan pengkonsentrasian karagenan dengan membrane mikrofiltrasi [thesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor Velde F and Gerhard AdR. 2004. Carrageenan. Carbohydrate Technology Department. Wageningen Center for Food Science and TNO Nutrition and Food Research Institute. Watkinson C. 2000. Liquid soap cleaning up in market share. Champaign: AOAC Press. Inform11[11]:1188-1195 Wasitaadmadja. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: UI-Press. WHO Collaborating Centre for Quality Assurance of The Essential Drugs. 1990. Penetapan Kadar Alkali Bebas Jumlah pada Sabun Mandi. Dalam: Metode Analisis Pusat Pemeriksaan Obat dan Makanan. Jakarta: Depkes RI. 143148. Williams DF dan Schmitt WH. 2002. Kimia dan Teknologi Industri Kosmetika dan Produk-Produk Perawatan Diri. Terjemahan. Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Winarno FG. 1996. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Yasya W. 2007. Pembuatan minyak kelapa murni secara enzimatis menggunakan ekstrak nanas [skripsi]. Bandung: Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan, Institut Teknologi Bandung.

Yudhana D. 2006. Pemanfaatan kulit batang sentigi (Pemphis acidula) sebagai pewarna alami dan antioksidan pada sediaan pelembab kulit [skripsi]. Bogor : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

LAMPIRAN

Lampiran 2. Lembar penilaian organoleptik sabun cair Nama Panelis :

Tanggal pengujian : Jenis Contoh Instruksi : Sabun Cair : Berikan penilaian atau tingkat kesukaan anda pada parameter sabun yang telah ditentukan Petunjuk :

1. Untuk parameter penampakan dilakukan dengan visual 2. Untuk parameter banyaknya busa dan post effect dilakukan setelah menggunakan produk. Untuk banyak busa, dilakukan dengan cara menggosokkan sabun mandi cair pada tangan yang basah. Untuk post effect, dilakukan dengan melihat setelah pemakaian dan dilihat respon terhadap adanya rasa kering atau lembab yang ditinggalkan produk. Makin lembab sabun mandi cair, semakin tinggi skor penilaian parameternya. 3. Untuk parameter penilaian umum,penilaian tentang keseluruhan (umum) produk sabun mandi cair.

Kode Parameter Penampakan Kekentalan Banyak busa Post Effect Penilaian umum K00 K04 K10 K14 K44

Keterangan nilai tingkat kesukaan: 7 = sangat suka 6 = suka 5 = agak suka 4 = biasa 3 = agak tidak suka 2 = tidak suka 1 = sangat tidak suka

Lampiran 3. Formulasi yang dilakukan


No. 1 2 3 4 5 6 Minyak kelapa 25 g 25 g 25 g 25 g 25 g 25 g KOH 6,5 g 6,5 g 6,5 g 6,5 g 6,5 g 6,5 g Gliserin 3,75 ml 3,75 ml 3,75 ml 3,75 ml 3,75 ml 5 ml Sukrosa 7g 7g 7g 7g 7g 7g Akuades 53 ml 63 ml 63 ml 63 ml 63 ml 53 ml Kitosan 1 ml (5%) 2 ml (5%) 2 ml (5%) 5 ml (5%) 5 ml (5%) 5 ml (5%) Karagenan 1 ml (1%) 1 ml (1%) 1 ml (1%) 6,67% (15 ml) 1,5% (10 ml) 1 ml (1%) Hasil Berbentuk padatan, kitosan tidak menyatu Berbentuk cairan, kitosan tidak menyatu Berbentuk cairan, karagenan tidak menyatu Berbentuk cairan, karagenan tidak menyatu Berbentuk cairan yang kental, karagenan tidak menyatu Berbentuk cairan kurang kental, karagenan tidak menyatu Berbentuk cairan kental, homogen tetapi kurang stabil Keterangan Waktu pemanasan 5 jam Waktu pemanasan 5 jam Kitosan dilarutkan dalam larutan sukrosa Karagenan dimasukkan sebelum larutan sukrosa +kitosan Karagenan dimasukkan sesudah larutan sukrosa +kitosan dan setelah itu dilakukan pemanasan dalam keadaan terbuka Larutan sukrosa dimasukkan karagenan dan kemudian ditambahkan kitosan kemudian dilakukan pemanasan dalam keadaan terbukan Larutan karagenan ditambahkan larutan sukrosa kemudian ditambahkan kitosan, Kemudian dilakukan pemanasan dalam keadaan terbuka Larutan karagenan ditambahkan larutan sukrosa kemudian ditambahkan kitosan, Kemudian dilakukan pemanasan dalam keadaan terbuka ditambah menjadi 2,5 jam Larutan karagenan ditambahkan larutan sukrosa kemudian ditambahkan kitosan, Kemudian dilakukan pemanasan dalam keadaan terbuka ditambah menjadi 2,5 jam Larutan karagenan ditambahkan larutan sukrosa kemudian ditambahkan kitosan, Kemudian dilakukan pemanasan dalam keadaan terbuka ditambah menjadi 2,5 jam Larutan karagenan ditambahkan larutan sukrosa kemudian ditambahkan kitosan, Kemudian dilakukan pemanasan dalam keadaan terbuka ditambah menjadi 2,5 jam Larutan karagenan ditambahkan larutan sukrosa kemudian ditambahkan kitosan, Kemudian dilakukan pemanasan dalam keadaan terbuka ditambah menjadi 2,5 jam Larutan karagenan ditambahkan larutan sukrosa kemudian ditambahkan kitosan, Kemudian dilakukan pemanasan dalam keadaan terbuka ditambah menjadi 2,5 jam Larutan karagenan ditambahkan larutan sukrosa kemudian ditambahkan kitosan, Kemudian dilakukan pemanasan dalam keadaan terbuka ditambah menjadi 2,5 jam

25 g

6,5 g

5 ml

7g

53 ml

5 ml (5%)

5 ml (1%)

25 g

6,5 g

5 ml

7g

53 ml

5 ml (5%)

5 ml (1%)

Berbentuk cairan kental, homogen Berbentuk cairan kental,homogen tetapi pH 13 Berbentuk cairan kental,tidak homogen

25 g

6,5 g

5 ml

7g

58 ml

5 ml (1%)

10

25 g

6,5 g

5 ml

7g

53 ml

5 ml (6%)

5 ml (1%)

11

25 g

6,5 g

5 ml

7g

58 ml

5 ml (1%)

Berbentuk cairan Berbentuk cairan kental,homogen tetapi pH tinggi

10

25 g

6,5 g

5 ml

7g

53 ml

5 ml (1%)

5 ml (1%)

11

25 g

6,5 g

5 ml

7g

53 ml

5 ml (1%)

5 ml (5%)

Berbentuk kental sekali,homogen

12

25 g

6,5 g

5 ml

7g

53 ml

5 ml (1%)

5 ml (4%)

Berbentuk cairan kental, homogen

Lampiran 4. Data pengujian bobot jenis


Perlakuan K11 K12 K13 K14 K21 K22 K23 K24 K31 K32 K33 K34 Berat Tube + Sampel (g) 2,085 2,075 2,060 2,060 2,080 2,130 2,080 2,075 2,090 2,085 2,040 2,165 2,055 2,120 2,095 2,060 2,095 2,130 2,075 2,060 2,065 2,050 2,070 2,080 Ratarata 1,093 1,070 1,118 1,093 1,103 1,118 1,103 1,098 1,128 1,085 1,070 1,088

Berat Tube Kosong (g) 0,985 0,990 0,990 0,990 0,985 0,990 0,985 0,985 0,985 0,985 0,985 0,985 0,985 0,985 0,980 0,980 0,985 0,985 0,985 0,980 0,990 0,985 0,985 0,990

Bobot Jenis (g/ml) 1,100 1,085 1,070 1,070 1,095 1,140 1,095 1,090 1,105 1,100 1,055 1,180 1,070 1,135 1,115 1,080 1,110 1,145 1,090 1,080 1,075 1,065 1,085 1,090

Ket: - Angka pertama setelah huruf menunjukkan konsentrasi stok kitosan (1 = 5 %, 2 = 3 %, dan 3 = 1 %) - Angka kedua setelah huruf menunjukkan konsentrasi stok karagenan (1 = 1 %, 2 = 2 %, 3 = 3 %, dan 4 = 4 %)

Lampiran 5. Hasil analisa statistik bobot jenis


Dependent Variable: Berat Jenis Source Corrected Model Intercept Kitosan Karagenan kitosan * karagenan Error Total Corrected Total Type III Sum of Squares .007(a) 28.875 .003 .003 .001 .012 28.895 df 11 1 2 3 6 12 24 Mean Square .001 28.875 .002 .001 .000 .001 F .626 27915.634 1.544 .917 .176 Sig. .777 .000 .253 .462 .978

.020 23 a R Squared = .365 (Adjusted R Squared = -.217)

Lampiran 6. Data pengujian pH


Perlakuan K11 K12 K13 K14 K21 K22 K23 K24 K31 K32 K33 K34 pH 9,15 9,16 9,20 9,18 9,21 9,18 9,18 9,23 9,17 9,09 9,24 9,21 9,25 9,31 9,37 9,39 9,27 9,37 9,32 9,38 9,42 9,40 9,43 9,40 Rata-rata 9,16 9,19 9,20 9,21 9,13 9,23 9,28 9,38 9,32 9,35 9,41 9,42

Lampiran 7. Hasil analisa statistik pH


Source Corrected Model Intercept Kitosan Karagenan kitosan * karagenan Error Total Corrected Total Type III Sum of Squares .226(a) 2062.946 .007 .198 .020 .015 2063.187 df 11 1 2 3 6 12 24 Mean Square .021 2062.946 .004 .066 .003 .001 F 16.354 1644873.757 2.900 52.708 2.661 Sig. .000 .000 .094 .000 .070

.241 23 a R Squared = .937 (Adjusted R Squared = .880)

Lanjutan Lampiran 7. Hasil analisa statistik pH Hasil uji lanjut Tukey pH


N karagenan 1% 2% 3% 4% Sig. a 6 6 6 6 .987 1.000 9.18000 9.18667 9.32667 9.39167 1.000 Subset b c

Lampiran 8. Data pengujian kelembaban Pengukuran Jam ke-0


T0 Perlakuan K11 K12 K13 K14 K21 K22 K23 K24 K31 K32 K33 K34 Ulangan 1 2 1 1 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 Berat Plastik (g) 0,270 0,250 0,250 0,330 0,170 0,210 0,210 0,225 0,190 0,195 0,200 0,195 0,245 0,240 0,240 0,260 0,250 0,225 0,270 0,255 0,250 0,255 0,260 0,270 Total (g) 1,285 1,255 1,250 1,330 1,170 1,220 1,225 1,230 1,190 1,195 1,205 1,195 1,255 1,250 1,245 1,260 1,270 1,235 1,300 1,265 1,270 1,275 1,265 1,280 Sampel (g) 1,015 1,005 1,000 1,000 1,000 1,010 1,015 1,005 1,000 1,000 1,005 1,000 1,010 1,010 1,005 1,000 1,020 1,010 1,030 1,010 1,020 1,020 1,005 1,010 % Sampel 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Ratarata 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

Lanjutan Lampiran 8. Data pengujian kelembaban Pengukuran Jam ke-1


T1 Perlakuan K11 K12 K13 K14 K21 K22 K23 K24 K31 K32 K33 K34 Ulangan 1 2 1 1 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 Total (g) 1,200 1,155 1,155 1,290 1,100 1,195 1,180 1,195 1,100 1,095 1,125 1,135 1,170 1,160 1,155 1,200 1,165 1,150 1,195 1,185 1,175 1,190 1,185 1,200 Sampel (g) 0,930 0,905 0,905 0,960 0,930 0,985 0,970 0,970 0,910 0,900 0,925 0,940 0,925 0,920 0,915 0,940 0,915 0,925 0,925 0,930 0,925 0,935 0,925 0,930 % Sampel 91,63 90,05 90,50 96,00 93,00 97,52 95,57 96,52 91,00 90,00 92,04 94,00 91,58 91,09 91,04 94,00 89,71 91,58 89,81 92,08 90,69 91,67 92,04 92,08 Ratarata 90,84 93,25 95,26 96,04 90,50 93,02 91,34 92,52 90,65 90,94 91,18 92,06

Lanjutan Lampiran 8. Data pengujian kelembaban Pengukuran Jam ke-2


T2 Perlakuan K11 K12 K13 K14 K21 K22 K23 K24 K31 K32 K33 K34 Ulangan 1 2 1 1 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 Total (g) 1,150 1,100 1,125 1,270 1,050 1,175 1,125 1,170 1,055 1,050 1,080 1,100 1,140 1,115 1,115 1,160 1,140 1,105 1,150 1,165 1,115 1,100 1,132 1,150 Sampel (g) 0,880 0,850 0,875 0,940 0,880 0,965 0,915 0,945 0,865 0,855 0,880 0,905 0,895 0,875 0,875 0,900 0,890 0,880 0,880 0,910 0,865 0,845 0,872 0,880 % Sampel 86,70 84,58 87,50 94,00 88,00 95,54 90,15 94,03 86,50 85,50 87,56 90,50 88,61 86,63 87,06 90,00 87,25 87,13 85,44 90,10 84,80 82,84 86,77 87,13 Ratarata 85,64 90,75 91,77 92,09 86,00 89,03 87,62 88,53 87,19 87,77 83,82 86,95

Lanjutan Lampiran 8. Data pengujian kelembaban Pengukuran Jam ke-3


T3 Perlakuan K11 K12 K13 K14 K21 K22 K23 K24 K31 K32 K33 K34 Ulangan 1 2 1 1 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 Total (g) 1,110 1,050 1,105 1,260 1,035 1,155 1,105 1,165 1,030 1,015 1,055 1,090 1,095 1,055 1,075 1,130 1,130 1,075 1,015 1,150 1,075 1,055 1,100 1,115 Sampel (g) 0,840 0,800 0,855 0,930 0,865 0,945 0,895 0,940 0,840 0,820 0,855 0,895 0,850 0,815 0,835 0,870 0,880 0,850 0,745 0,895 0,825 0,800 0,840 0,845 % Sampel 82,76 79,60 85,50 93,00 86,50 93,56 88,18 93,53 84,00 82,00 85,07 89,50 84,16 80,69 83,08 87,00 86,27 84,16 72,33 88,61 80,88 78,43 83,58 83,66 Ratarata 81,18 89,25 90,03 90,85 83,00 87,29 82,43 85,04 85,22 80,47 79,66 83,62

Lanjutan Lampiran 8. Data pengujian kelembaban Pengukuran Jam ke-4


T4 Perlakuan K11 K12 K13 K14 K21 K22 K23 K24 K31 K32 K33 K34 Ulangan 1 2 1 1 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 Total (g) 1,100 1,040 1,100 1,250 1,015 1,145 1,100 1,160 1,015 0,995 1,030 1,065 1,060 1,030 1,045 1,055 1,110 1,040 1,075 1,030 1,035 1,015 1,065 1,085 Sampel (g) 0,830 0,790 0,850 0,920 0,845 0,935 0,890 0,935 0,825 0,800 0,830 0,870 0,815 0,790 0,805 0,795 0,860 0,815 0,805 0,775 0,785 0,760 0,805 0,815 % Sampel 81,77 78,61 85,00 92,00 84,50 92,57 87,68 93,03 82,50 80,00 82,59 87,00 80,69 78,22 80,10 79,50 84,31 80,69 78,16 76,73 76,96 74,51 80,10 80,69 Ratarata 80,19 88,50 88,54 90,36 81,25 84,79 79,46 79,80 82,50 77,44 75,74 80,40

Lanjutan Lampiran 8. Data pengujian kelembaban Pengukuran Jam ke-5


T5 Perlakuan K11 K12 K13 K14 K21 K22 K23 K24 K31 K32 K33 K34 Ulangan 1 2 1 1 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 Total (g) 1,080 1,025 1,095 1,245 1,000 1,135 1,095 1,155 1,000 0,970 1,010 1,050 1,025 0,980 1,010 1,070 1,095 1,010 1,045 1,010 1,015 1,000 1,045 1,060 Sampel (g) 0,810 0,775 0,845 0,915 0,830 0,925 0,885 0,930 0,810 0,775 0,810 0,855 0,780 0,740 0,770 0,810 0,845 0,785 0,775 0,755 0,765 0,745 0,785 0,790 % Sampel 79,80 77,11 84,50 91,50 83,00 91,58 87,19 92,54 81,00 77,50 80,60 85,50 77,23 73,27 76,62 81,00 82,84 77,72 75,24 74,75 75,00 73,04 78,11 78,22 Ratarata 78,46 88,00 87,29 89,86 79,25 83,05 75,25 78,81 80,28 75,00 74,02 78,16

Lampiran 9. Data pengujian organoleptik Penampakan


Panelis 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Rata-rata K00 5 3 6 3 3 4 5 2 6 5 5 5 6 2 4 6 6 5 4 5 6 4 6 6 5 4 6 3 4 5 4,63 Kontrol Negatif K04 5 4 6 4 4 4 4 3 6 5 6 5 6 5 4 6 6 3 3 5 5 4 6 6 5 4 6 4 4 5 4,77 K10 4 4 5 6 4 4 2 3 6 4 5 5 4 5 7 6 5 3 5 4 3 5 5 6 4 4 4 3 5 4 4,47 Sampel 4 4 5 6 4 4 2 3 7 4 5 3 4 5 6 6 5 5 5 4 6 5 4 6 4 4 5 4 5 4 4,60 Kontrol Positif 7 2 3 6 6 6 7 6 7 6 6 7 5 6 3 7 7 7 4 6 3 3 7 7 6 3 3 6 6 6 5,47

Keterangan: K00 = Sabun cair tanpa penambahan chitosan dan tanpa karagenan K04 = Sabun cair dengan penambahan karagenan dan tanpa chitosan K10 = Sabun cair dengan penambahan chitosan dan tanpa karagenan

Lanjutan Lampiran 9. Data pengujian organoleptik Kekentalan


Panelis 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Rata-rata K00 2 2 5 3 2 3 2 2 3 3 5 3 2 2 1 5 2 2 4 3 6 2 3 2 3 6 3 4 3 4 3,07 Kontrol Negatif K04 5 5 6 4 3 4 3 4 6 5 6 4 4 6 4 7 3 3 4 4 5 4 5 6 7 5 6 4 5 5 4,73 K10 5 6 5 5 5 4 6 5 6 4 6 5 4 5 5 7 4 3 5 5 3 5 5 3 6 5 5 4 4 3 4,77 Sampel 3 3 5 6 5 4 6 4 5 6 4 5 5 3 7 7 6 6 5 6 6 5 3 3 6 5 5 3 6 6 4,97 Kontrol Positif 2 2 3 6 6 4 7 6 7 6 5 7 6 5 6 5 7 7 6 6 3 5 6 2 6 3 5 5 6 6 5,20

Lanjutan Lampiran 9. Data pengujian organoleptik Banyak Busa


Panelis 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Rata-rata K00 6 5 6 5 2 3 3 5 3 5 5 7 5 7 3 6 6 6 5 5 5 7 6 6 5 6 5 3 5 5 5,03 Kontrol Negatif K04 6 3 6 6 3 5 5 5 3 5 6 7 5 7 2 6 6 3 6 5 6 7 4 6 6 6 6 4 6 5 5,20 K10 6 6 5 3 5 3 3 5 7 5 5 5 5 7 5 7 3 6 6 5 7 7 6 7 6 5 5 4 5 5 5,30 Sampel 6 3 6 7 5 4 4 5 6 5 4 6 5 6 5 7 5 7 6 5 6 7 4 6 6 5 3 5 6 5 5,33 Kontrol Positif 6 5 6 7 6 3 3 6 6 4 6 6 5 4 7 7 7 7 6 4 6 6 4 3 5 3 2 3 6 4 5,10

Lanjutan Lampiran 9. Data pengujian organoleptik Post Effect


Panelis 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Rata-rata K00 6 3 5 1 2 4 4 4 4 1 5 6 2 5 5 5 6 5 6 1 4 3 4 6 4 6 5 3 2 1 3,93 Kontrol Negatif K04 6 2 6 4 3 5 5 4 4 2 5 4 3 5 3 5 6 5 6 2 4 4 6 5 7 5 6 2 3 2 4,30 K10 6 5 6 4 5 4 4 4 6 3 5 5 4 6 6 6 6 4 6 3 4 5 5 6 5 5 5 3 5 3 4,80 Sampel 6 2 6 6 5 4 4 4 5 7 5 4 6 3 6 7 6 4 6 7 5 5 5 7 7 6 4 6 7 7 5,40 Kontrol Positif 6 6 7 7 5 4 4 5 6 6 6 6 5 3 7 7 7 5 7 6 5 6 5 6 6 3 3 4 6 6 5,50

Lanjutan Lampiran 9. Data pengujian organoleptik Penilaian Umum


Panelis 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Rata-rata K00 4 4 6 4 2 4 4 3 4 3 5 6 3 3 3 6 4 5 5 3 4 3 4 5 4 6 5 3 3 3 4,03 Kontrol Negatif K04 4 3 6 4 3 5 5 5 4 4 5 6 3 6 3 6 4 4 6 4 5 4 5 6 4 6 6 4 5 4 4,63 K10 5 5 6 6 5 4 5 4 5 5 4 6 4 5 4 6 5 4 6 5 4 5 5 6 5 5 5 4 5 5 4,93 Sampel 6 3 6 6 5 4 6 4 5 7 5 6 6 3 6 6 6 5 6 7 5 5 4 6 5 5 4 5 6 7 5,33 Kontrol Positif 7 5 6 6 5 5 7 6 5 6 6 7 6 5 5 7 6 6 6 6 5 6 6 5 4 4 4 4 6 6 5,60

Lampiran 10. Hasil analisa statistik organoleptik dengan kontrol negatif


Sum of Squares 1,367 143,000 144,367 70300,000 160067,000 230367,000 1,633 178,733 180,367 36,425 226,167 262,592 27000,000 112467,000 139467,000 Mean Square F 3 0,456 0,370 116 1,233 119 3 23.433 16.982 116 1.380 119 3 0,544 0,353 116 1,541 119 3 12,142 6,227 116 1,950 119 3 9,000 9.283 116 0,970 119 df Sig. 0,775

Penampakan

Kekentalan

Banyak Busa

Post Effect Penilaian Umum

Between Groups Within Groups Total Between Groups Within Groups Total Between Groups Within Groups Total Between Groups Within Groups Total Between Groups Within Groups Total

0,000

0,787

0,001

0,000

Hasil uji lanjut Tukey organoleptik produk Kekentalan


Sampel K00 K04 K10 K14 Sig. N 30 30 30 30 Subset for alpha = 0,05 a B 3,0667 4,7333 4,7667 4,9667 1 0,868129

Post Effect
Sampel K00 K04 K10 K14 Sig. N 30 30 30 30 Subset for alpha = .05 a b 3,9333 4,3000 4,8000 4,8000 5,4000 0,0820 0,3473

Lanjutan Lampiran 10. Hasil analisa statistik organoleptik dengan kontrol negatif Lanjutan Hasil uji lanjut Tukey organoleptik produk Penilaian Umum
Sampel K00 K04 K10 K14 Sig. N 30 30 30 30 Subset for alpha = .05 a b C 4,0333 4,6333 4,6333 4,9333 4,9333 5,3333 0,0907 0,6407 0,3978

Lampiran 11. Hasil analisa statistik organoleptik dengan kontrol positif


Sum of Squares 11,267 108,667 119,933 0,817 115,767 116,583 0,817 99,367 100,183 0,150 94,700 94,850 1,067 55,867 56,933 Mean df Square 1,000 11,267 58,000 1,874 59,000 1,000 0,817 58,000 1,996 59,000 1,000 0,817 58,000 1,713 59,000 1,000 0,150 58,000 1,633 59,000 1,000 1,067 58,000 0,963 59,000 F Sig. 6,013 0,017

Penampakan

Kekentalan

Banyak Busa

Post Effect Penilaian Umum

Between Groups Within Groups Total Between Groups Within Groups Total Between Groups Within Groups Total Between Groups Within Groups Total Between Groups Within Groups Total

0,409 0,525

0,477 0,493

0,092 0,763

1,107 0,297

Lampiran 12. Data pengujian bobot jenis produk (tahap kedua)


Perlakuan K00 K04 K10 K14 Berat Tube Kosong (g) 1,055 1,045 1,050 1,050 1,055 1,050 1,050 Berat Tube + Sampel (g) 2,190 2,160 2,130 2,125 2,115 2,155 2,145 Bobot Jenis (g/ml) 1,135 1,115 1,080 1,075 1,060 1,105 1,095 Ratarata 1,125 1,078 1,083 1,095

K44
ANOVA

1,055 1,045 1,050

2,150 2,120 2,090

1,095 1,075 1,040

1,058

Lampiran 13. Analisa statistik bobot jenis produk (tahap kedua)


Sum of Squares Between Groups Within Groups Total .005 .001 .005

df 2 3 5

Mean Square .002 .000

F 8.446

Sig. .059

Lampiran 14. Data pengujian pH produk (tahap kedua)


Perlakuan Kontrol Negatif Sampel Kontrol Posiif pH 9,54 9,56 9,23 9,23 5,89 5,82 Rata-rata 9,55 9,23 5,86

Lampiran 15. Analisa statistik pH produk (tahap kedua)


ANOVA Sum of Squares 16.764 .003 16.767 df 2 3 5 Mean Square 8.382 .001 F 9489.075 Sig. .000

Between Groups Within Groups Total

Hasil Uji Lanjut Tukey


Sampel Kontrol Positif Sampel (K14) Kontrol Negatif Sig. N 2 2 2 Subset for alpha = .05 2 3 1 5.8550 9.2300 9.5500 1.000 1.000 1.000

Lampiran 16. Data pengujian kelembaban produk (tahap kedua) Pengukuran Jam ke-0
T0 Perlakuan K00 K14 K44 Ulangan 1 2 1 2 1 2 Berat Plastik (g) 0,335 0,200 0,265 0,265 0,325 0,335 Total (g) 1,325 1,215 1,280 1,270 1,315 1,345 Sampel (g) 0,990 1,015 1,015 1,005 0,990 1,010 % Sampel 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Rata-rata 100,00 100,00 100,00

Pengukuran Jam ke-1


Perlakuan K00 K14 K44 Ulangan 1 2 1 2 1 2 Total (g) 1,065 0,975 1,235 1,215 1,170 1,185 T1 % Sampel 73,00 77,50 97,00 95,00 84,50 85,00 Rata-rata 75,25 96,00 84,75

Pengukuran Jam ke-2


Perlakuan K00 K14 K44 Ulangan 1 2 1 2 1 2 Total (g) 1,000 0,895 1,190 1,180 1,060 1,080 T2 % Sampel 66,50 69,50 92,50 91,50 73,50 74,50 Rata-rata 68,00 92,00 74,00

Pengukuran Jam ke-3


Perlakuan K00 K14 K44 Ulangan 1 2 1 2 1 2 Total (g) 0,985 0,875 1,165 1,175 0,975 0,995 T3 % Sampel 65,00 67,50 90,00 91,00 65,00 66,00 Rata-rata 66,25 90,50 65,50

Lanjutan Lampiran 16. Data pengujian kelembaban produk (tahap kedua) Pengukuran Jam ke-4
Perlakuan K00 K14 K44 Ulangan 1 2 1 2 1 2 Total (g) 0,960 0,845 1,160 1,170 0,875 0,890 T4 % Sampel 62,50 64,50 89,50 90,50 55,00 55,50 Rata-rata 63,50 90,00 55,25

Pengukuran Jam ke-5


Perlakuan K00 K14 K44 Ulangan 1 2 1 2 1 2 Total (g) 0,955 0,835 1,150 1,165 0,855 0,865 T5 % Sampel 62,00 63,50 88,50 90,00 53,00 53,00 Rata-rata 62,75 89,25 53,00

Lampiran 17. Data pengujian angka lempeng total produk Pengujian hari ke-0
Perlakuan Kontrol Negatif Sampel (K14) Ulangan 1 2 1 2 101 4 0 0 0 102 0 0 0 0 103 0 0 0 0

Pengujian hari ke-30


Perlakuan Kontrol Negatif Sampel (K14) Ulangan 1 2 1 2 101 6 0 0 0 102 0 0 0 0 103 0 0 0 0

Lampiran 18. Perhitungan kadar alkali bebas


Perlakuan Ulangan 1 Sampel (K14) 2 HCl (ml) 0,05 0,05 N HCl 0,1 0,1 Konversi 0,04 0,04 Berat contoh 1,0746 1,2985 Alkali bebas % 0,0186 0,0154 0,0170 Rataan (%)

Lampiran 19. Contoh perhitungan kadar alkali bebas