Anda di halaman 1dari 18

JURNAL KEUANGAN PUBLIK

Vol. 5, No. 1, Oktober 2008


Hal 139 - 155

Implikasi Berlakunya APEC Terhadap Perpajakan


di Indonesia: Aplikasi Model GTAP

Harry Yusuf Adegdaha Laksana1

Abstract

The purpose of this paper is to discuss the effect of Asian Pacific Economic
Cooperation (APEC), which will implement preferential free trade area in 2010 and
2002, to the changes of taxation in Indonesia. The study uses the model computable
general equilibrium in the application with multi sector model, the so called General
Trade Application Project. The study finds that the effect of preferential free trade area
among the member of Asian Pacific Economic Cooperation will change the allocative
efficiency effect in Indonesia. The allocative efficiency effects, which are contributed
by production tax; input tax; consumption tax; government tax; import tax and export
tax, are dominated by import tax due to zero tariff in preferential free trade area.

JEL Classification:
Keywords: Allocative Efficiency Effects, Welfare; General Equilibrium; Tariff

1
Kandidat Doktor Manajemen Bisnis, Universitas Padjajaran , Bandung; dan Kepala Kantor Pemeriksaan
dan Penyidikan Pajak Batam.

139
Jurnal Keuangan Publik Vol. 5, No. 1, Oktober 2008

I. Pendahuluan welfare effects untuk masing-masing


Negara-negara yang tergabung negara. Dalam model ini, terdapat tiga
dalam Asia Pacific Economic Cooperation komposisi yang mempengaruhi peruba-
(APEC)2, berdasarkan Bogor Accord han welfare, yaitu (i) contribution of
1994, telah sepakat akan memberlaku- allocative efficiency effects (ii) contribu-
kan Preferential Free Trade Area (PFTA). tion of term of trade effects dan (iii)
Bogor Accord mendeklarasikan bahwa contribution of investment-saving effects.
PFTA berlaku pada tahun 2010 bagi Selanjutnya, komposisi allocative
negara-negara yang tergolong industriali- efficiency effects di pengaruhi oleh
zation countries dan pada tahun 2020 perubahan yang terjadi pada perubahan
bagi negara-negara yang tergolong pajak, yaitu pajak terhadap output
developing countries. PFTA—yang meru- barang yang diproduksi; pajak barang
pakan kondisi diberlakukannya zero input; pajak konsumsi; pajak barang dari
tariff untuk impor barang masuk antara sector pemerintah; pajak ekspor dan
sesama negara anggota namun tetap pajak impor. Fokus tulisan ini melihat
memberlakukan tarif masuf terhadap pengaruh allocative efficiency effects
negara bukan anggota - akan mempu- terhadap perubahan welfare di Indonesia.
nyai dampak terhadap perekonomian Tulisan ini dibagi menjadi empat
domestik di masing-masing negara anggota. bagian pembahasan. Pembahasan perta-
Untuk melihat dampak PFTA ma merupakan penjelasan teori yang
terhadap masing-masing negara anggota digunakan dalam model GTAP untuk
APEC, salah satu alat analisis kuantitatif mengkuantifikasi dampak pengurangan
yang dapat digunakan adalah model tarif terhadap allocative efficiency effects.
GTAP (General Trade Analysis Project). Kedua, mendiskusikan metodologi yang
Model GTAP ini dibangun dari analisa akan digunakan dalam simulasi. Pemba-
input output yang dikembangkan dari hasan ketiga adalah mengkaji hasil
analisis computable general equilibrium simulasi dampak PFTA terhadap alloca-
(CGE). Bila dalam standar model CGE tive efficiency effects di Indonesia. Pem-
kita hanya dapat melihat dampak bahasan keempat merupakan bagian
external shock dalam satu negara maka kesimpulan dari tulisan ini.
dalam model GTAP kita dapat melihat
dampak kebijakan satu negara akan II. Allocative Efficiency Effects dalam
berdampak terhadap negara itu sendiri Model GTAP
dan negara-negara lainnya (multi country Untuk mengkaji allocative effi-
model). ciency effects, pada bagian ini dibagi
Salah satu dampak eksternal menjadi tiga sub-bab. Sub-bab pertama
dalam model GTAP adalah aggregate melakukan analisis grafik. Sub-bab
kedua melakukan dekomposisi dampak
welfare, yang didalamnya terdapat
2
Negara-negara yang mendeklarasikan yaitu allocative efficiency effects, untuk kasus
anggota negara-negara ASEAN (Malaysia,
Thailand, Philippine, Singapore, dan Brunei); tiga single region model. Sub-bab ketiga
negara yang dikategorikan China (China, Hong melakukan dekomposisi dampak welfare,
Kong, dan Taiwan); Korea Selatan; Australia; yang didalamnya juga terdapat allocative
Selandia baru; Papau Nugini; anggota negara-
negara NAFTA (US, Canada dan Mexico); dan
Jepang.
140
Implikasi Berlakunya APEC Terhadap Perpajakan
di Indonesia: Aplikasi Model GTAP

efficiency effects, untuk kasus multi Bila terjadi kenaikan pajak


region model. (misalnya ad valorem tax) terhadap
faktor produksi tenaga kerja sebesar t
Analisis Grafik pada sektor A maka social marginal
Kontribusi dari allocative efficiency value tenaga kerja pada sector A
effects terhadap welfare changes (losses berpindah menjadi garis aA. Perubahan
or gains) terjadi karena adanya peruba- dari garis aA* menjadi aA ini menye-
han pada sumber daya secara relatif babkan berkurangnya keinginan tenaga
yang disebabkan oleh distorsi dalam kerja untuk bekerja di sektor A, dari L*
perekonomian, misalnya terjadi penuru- turun menjadi L. Sebagai akibatnya,
nan tarif untuk impor barang masuk perekonomian mengalami dead weigh
(Krugman and Obstfeld, 1997). Dalam lost seperti diperlihatkan pada gambar,
Model GTAP, aggregate excess burden dan keseimbangan perekonomian ber-
(lihat gambar 1) akibat distorsi dalam pindah dari titik e* ke e.
perekonomian identik dengan allocative
efficiency effects (Huff and Hertel, 2000).
Untuk lebih jelasnya kita akan
menjelaskan gambar 1. Gambar 1
memperlihatkan situasi yang terjadi pada
kondisi ekonomi tertutup sederhana
yang dibagi dalam dua sektor, yaitu
sektor A dan B. Dalam perekonomian ini
diasumsikan hanya terdapat satu faktor
produksi yang mudah berpindah dari
satu sektor ke sektor lainya (mobile
factor production), yaitu faktor produksi
tenaga kerja. Garis aA* dan bB*
menggambarkan social marginal value
dari faktor produksi tenaga kerja untuk
sektor A dan B. Alokasi optimal dari
faktor produksi tenaga kerja untuk sektor
A dan B terjadi pada perpotongan antara
garis aA* dan bB*, yaitu titik e*. Titik
perpotongan ini (e*) merupakan alokasi
yang memaksimumkan welfare dalam
sistem ekonomi tertutup sederhana.

141
Jurnal Keuangan Publik Vol. 5, No. 1, Oktober 2008

Gambar 1: Excess Burden Dalam Model Ekonomi Dua Sektor


Sumber: Huff and Hertel (2000)

142
Implikasi Berlakunya APEC Terhadap Perpajakan
di Indonesia: Aplikasi Model GTAP

Gambar 2: Berkurangnya Excess Burden Dalam Model Ekonomi 2 Sektor


Sumber: Huff and Hertel (2000)

Dalam model GTAP kita akan menyebabkan kerkurangnya dead


melihat pengaruh distorsi perekonomian weight lost, yang digambarkan dalam
yang disebabkan dari faktor eksternal, bentuk trapesium (garis-garis yang
misalnya pengenaan tarif sebesar nol diarsir). Dengan kata lain berkurangnya
persen untuk barang masuk (misalnya, dead weigh lost merupakan fungsi dari
akibat diberlakukannya PFTA pada terjadinya distorsi awal sebesar (t);
negara-negara anggota APEC). Gambar 2 tingkat berkurangnya pajak sebesar (t-t*),
memperlihatkan, misalnya sebagai dam- dan perubahan tenaga kerja (dL).
pak pengenanaan tarif, maka ad valorem
tax turun dari t menjadi t*. Hal ini Single Region Model
mengakibatkan sebagian tenaga kerja Dalam model GTAP, terjadinya
perpindah (dL) dari sektor A ke B yang perubahan welfare dikalkulasikan dari
mengakibatkan aA bergeser ke aA’.
Selanjutnya, titik keseimbangan berpin-
dah drai e ke e’ yang pada akhirnya

143
Jurnal Keuangan Publik Vol. 5, No. 1, Oktober 2008

perubahan equivalent variation (EV).3 XEV = ΦEV u………...........................(5)


Dalam hal ini EV dikalkulasikan dengan Lalu persamaan (5) dan (3) disubtitusikan
menghitung perbedaan antara penge- pada persamaan (2) maka perubahan
luaran rumah tangga setelah simulasi welfare akan berbentuk persamaan:
dilakukan (YEV) dan pengeluaran rumah dEV = (0.01) YEV (n + ΦEV u)
tangga pada saat awal (Ῡ) sebelum = (0.01)YEV n + (0.01)YEV ΦEV u (6)
simulasi dilakukan (persamaan 1). Dikarenakan tujuan dari tulisan ini
Dalam hal ini sisi pengeluaran membentuk perubahan welfare dalam
rumah tangga merupakan fungsi utilitas nilai rill, maka dekomposisi dari
agregat (aggregate utility function) yang persamaan 6, bisa ditampilkan dalam
disebabkan oleh tiga faktor yaitu (i) bentuk:
konsumsi rumah tangga swasta perka- D Ξ Y(y – p)........................(7)
pita/per capita private household Selanjutnya, dengan persamaan 4 kita
consumption (ii) pengeluaran pemerin- dapat memperoleh u Φ = (x – p),
tah perkapita/per capita government sehingga didapatkan persamaan:
spending dan (iii) tabungan perkapita/per u Φ-1 = (y – p – n)…………...............(8)
capita savings. Dengan memasukkan persamaan 8
EV = YEV - (Ῡ).............................(1) kedalam persamaan 6 maka didapatkan
Selanjutnya, dengan melakukan EV sebagai persamaan pendapatan
diferensiasi persamaan (1) maka dalam bentuk riil adalah sebagai berikut:
didapatkan: dEV = (0.01) [1 – (ΦEV/Φ)] YEV n + (0.01)
dEV = (0.01) YEV yEV...................(2) (ΦEV/Φ) (YEV/Y) D…………………........(9)
dimana yEV merupakan persentase Dalam model GTAP, persamaan D dapat
perubahan dari YEV. Menurut, McDaugall dielaborasi dalam bentuk persamaan
(2001), persamaan permintaan aggregate yang dipengaruhi oleh allocative
utility function dapat ditulis dalam efficiency effects yang secara langsung
bentuk perkapita (yEV), dan dapat dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi
dipecah menjadi dua kompenen, yaitu pada pajak, yang dituliskan sebagai beri-
(i) persentase perubahan tingkat polulasi, kut (untuk penjelasan notasinya lihat
n, dan (ii) persentase perubahan Box 1):
pengeluaran perkapita (XEV), seperti
tertulis dalam persamaan berikut ini:
YEV = n + XEV…………...................(3)
McDaugall juga membentuk elastisitas
pengeluaran terhadap utilitas (Φ), yang
mempunyai persamaan:
X = P + Φ u…..................................(4)
Dengan menganggap P tetap pada
tingkat harga awal, maka nilai EV
perkapita diukur dalam bentuk persa-
maan:

3
Definisi EV bisa dibaca dari banyak buku ilmu
ekonomi mokro, misalnya Varian (1992)
144
Implikasi Berlakunya APEC Terhadap Perpajakan
di Indonesia: Aplikasi Model GTAP

D=.................................................................................................................(10)
Sum (i, ENDW_COMM, VOA (i) * qo (i) ) – VDEP*kb
+ sum (i, NSAV_COMM, PTAX (i) * qo(i))
+ sum (i, ENDW_COMM, sum (j, PROD_COMM, ETAX (i,j) * qfe (i,j)))
+ sum (j, PROD_COMM, sum (i, TRAD_COMM, DFTAX (i,j) * qf (1,j)))
+ sum (i, TRAD_COMM, DPTAX (i) * qp (i))
+ sum (i, TRAD_COMM, DGTAX (i) * qp (i))

Bagian pertama dari sisi kanan bah persamaan 6 menjadi u Φ = (x – p),


persamaan 10 merupakan perubahan dan subtitusikan dalam persaman 6, EV
pendapatan yang disebabkan oleh peru- perkapita menjadi:
bahan faktor endowment, dalam simulasi dEV = (0.01) YEV n + (0.01) (ΦEV/Φ)
analisis statis dianggap nol. Sementara (YEV/Y) D*……………………...(12)
itu, pada lima bagian lainnya menun- Dengan demikian, upaya membentuk
jukkan instrumen perpajakan (merupakan persamaan 10 dalam nilai perkapita
fokus utama yang akan kita lihat dalam basis, maka kita dapat menghapus
tulisan ini) yang terdiri dari (i) pajak INCOME*pop dari kedua sisi persa-
terhadap output barang i, PTAX; (ii) maan, sehingga didapatkan (untuk
pajak terhadap penggunaan endowment penjelasan notasinya lihat Box 1):
i dalam industri j, ETAX; (iii) pajak
terhadap barang intermediate i dalam
industri j, DFTA; (iv) pajak terhadap
konsumsi swasta untuk barang i, DPTAX;
dan (v) pajak terhadap konsumsi
pemerintah untuk barang i, DGTAX.4
McDaugall berargumen bahwa
upaya membentuk persamaan 9 dalam
bentuk perkapita maka perlu dilakukan
penghilangan perubahan populasi dan
elastisitas pengeluran terhadap utilitas.
Untuk itu, persamaan 7 dibentuk menjadi:
D* = Y(y – p).............................(11)
dimana D* mempunyai arti perubahan
pengeluaran perkapita. Dengan mengu-

4
Masing masing pajak dipasangkan dengan
perubahan kuantitas yang relevan. Contohnya,
qfe(i,j) merupakan persentase perubahan kuantitas
yang diturunkan oleh permintaan dari industri j
untuk endowment komoditi i. Dan seperti telah
dijelaskan diatas, ETAX merupakan pajak pada
endowment i yang digunakan pada sector j. Untuk
lebih detail memahami arti notasi untuk persaman
10 diatas, pembaca dipersilahkan untuk
memahami Hertel et all (1997).

145
Jurnal Keuangan Publik Vol. 5, No. 1, Oktober 2008

D*= ....................................................................................................................(13)
Sum (i, ENDW_COMM, VOA (i) * [qo (i) – pop] ) – VDEP*[kb – pop]
+ sum (i, NSAV_COMM, PTAX (i) * [qo(i) – pop])
+ sum (i, ENDW_COMM, sum (j, PROD_COMM, ETAX (i,j) * [qfe (i,j) – pop]))
+ sum (j, PROD_COMM, sum (i, TRAD_COMM, DFTAX (i,j) * [qf (1,j) – pop]))
+ sum (i, TRAD_COMM, DPTAX (i) * [qp (i) – pop])
+ sum (i, TRAD_COMM, DGTAX (i) * [qp (i) – pop])

Langkah selanjutnya adalah mensubtitusikan persamaan 13 ke 12, yang pada akhirnya


didapatkan (untuk penjelasan notasinya lihat Box 1):
dEV=EV-ALT =……….............................................................................................(14)
{0.01 EVSCALFACT}*
{Sum (i, ENDW_COMM, VOA (i) * [qo (i) – pop] ) – VDEP*[kb – pop]
+ sum (i, NSAV_COMM, PTAX (i) * [qo(i) – pop])
+ sum (i, ENDW_COMM, sum (j, PROD_COMM, ETAX (i,j) * [qfe (i,j) – pop]))
+ sum (j, PROD_COMM, sum (i, TRAD_COMM, DFTAX (i,j) * [qf (1,j) – pop]))
+ sum (i, TRAD_COMM, DPTAX (i) * [qp (i) – pop])
+ sum (i, TRAD_COMM, DGTAX (i) * [qp (i) – pop])}
+ 0.01*INCOME*pop;
dimana EVSCALFACT = (ΦEV/Φ) (YEV/Y) dan INCOMEEV = YEV/Y

Multi Region Model model ini bermanfaat sebagai landasan


Single region model tidak dapat untuk menjelaskan multi region model,
digunakan secara praktek karena pada seperti yang digunakan dalam model
kenyataannya apa yang terjadi pada GTAP. Multi region model dibentuk
suatu negara akan berpengaruh terhadap dalam persamaan sebagai berikut (untuk
negara lainnya. Namun, single region penjelasan notasinya lihat Box 1):

EV-ALT (r) ...............................................................................................(15) = [0.01


EVSCALFACT (r)]*
[sum {i, ENDW_COMM, VOA (i,r) * [qo (i,r) – pop(r)] }
- VDEP (r)*[kb (r) – pop(r)]
+ sum {i, NSAV_COMM, PTAX (i,r) * [qo(i,r) – pop(r)] }
+ sum {i, ENDW_COMM, sum (j, PROD_COMM, ETAX (i,j,r) * [qfe (i,j,r) – pop(r)]) }
+ sum {j, PROD_COMM, sum (i, TRAD_COMM, IFTAX (i,j) * [qf (i,j,r) – pop(r)]) }
+ sum {j, PROD_COMM, sum (i, TRAD_COMM, DFTAX (i,j,r) * [qf (i,j,r) – pop(r)]) }
+ sum {i, TRAD_COMM, IPTAX (i,r) * [qpm (i,r) – pop(r)]) }
+ sum {i, TRAD_COMM, DPTAX (i,r) * [qpm (i,r) – pop(r)]) }
+ sum {i, TRAD_COMM, IGTAX (i,r) * [qpm (i,r) – pop(r)]) }
+ sum {i, TRAD_COMM, DGTAX (i,r) * [qpm (i,r) – pop(r)]) }
+ sum {i, TRAD_COMM, sum {s, REG, XTAXD (i,r,s)*[qxs(i,r,s) – pop(r)] }}
+ sum {i, TRAD_COMM, sum {s, REG, MTAXD (i,s,r)*[qxs(i,s,r) – pop(r)] }}
+ sum {i, TRAD_COMM, sum {s, REG, VXWD(i,r,s)*[pfob(i,r,s)}}

146
Implikasi Berlakunya APEC Terhadap Perpajakan
di Indonesia: Aplikasi Model GTAP

+ sum {m, MARG_COMM, VST (m,r)*pm(m,r)}


- sum {i, TRAD_COMM, sum (s, REG, VXWD (i,s,r)*pfob(i,s,r)}}
- sum {m, MARG_COMM, VTMD(m,r)*pt(m)}
+NETINV (r)*pcgds (r)
-SAVE (r)*psave (r)]
+0.01*INCOMEEV (r)*pop(r);

Persamaan 15 untuk kasus multi region dan pajak ekspor (XTAXD). Selain itu,
model pada prinsipnya mirip dengan akibat perdagangan internasional maka
kasus single region model seperti kita bisa mengkuantifikasikan pengaruh
persamaan 14, dengan beberapa tamba- term of trade terhadap perubahan
han sebagai berikut. welfare, yang dapat dituliskan dalam
Pertama, terdapat tambahan bentuk persamaan (untuk penjelasan
pendapatan pajak akibat perdagangan notasinya lihat Box 1):
internasional, yaitu pajak impor (MTAX)

CNTtotr (r) =……… ......................................................................................(16)


[0.01*EVSCALFACT(r)]*
[sum{s, REG, VXWD (i,r,s)*pfob(i,r,s)} }
+ sum {m, MARG_COMM, VST(m,r)*pm(m,r) }
-sum {i, TRAD_COMM, sum {s,REG, VXWD (i,s,r)*pfob(i,s,r) }}
-sum (m,MARG_COMM, VTMD (m,r)*pt(m) }]

Dimana VXWD adalah nilai merupakan supplier of saving terhadap


ekspor dalam harga dunia; VST adalah global bank di dalam negeri, dengan
nilai margin ekspor; VTMD adalah nilai formulasi (SAVE(r) > NETINV (r).
margin dari bentuk m yang dikapalkan Sehingga investment dan saving juga
untuk region r; pfbob & pcif merupakan berpengaruh terhadap welfare, yang
persentase perubahan fob dan cif. Fob ditulis dalam bentuk persamaan (untuk
merupakan singkatan free on board yang penjelasan notasinya lihat Box 1):
artinya hanya harga barang dasar dari CNT(r)=[0.01*EVSCALFACT(r)]*[NETINV
barang impor dan ekspor (ditambah (r)*pcdgs(r)-SAVE(r)*psave(r)]….........17)
biaya muat) yang dihitung. Sementara
itu, cif (cost insurance freight) tidak III. Metodologi
memasukkan biaya pengangkutan barang Untuk melihat pengaruh berla-
dari suatu negara ke negara lain. kunya APEC-PFTA terhadap welfare dan
Kedua, bertambahnya dimensi allocative efficiency effecst di Indonesia
penghitungan dalam dekomposisi kita dapat mengukur dengan analisis
pengaruh terhadap welfare, yaitu model GTAP, yang merupakan simulasi
REG,TRAD_COMM dan MARG_COMM model input output berdasarkan CGE.
yang merupakan set dari region; traded Suatu model CGE secara numerik
commodities, dan margins commodities. mensimulasikan struktur keseimbangan
Ketiga, terdapat asumsi yang umum (general equilibrium) dari pereko-
menyatakan bahwa negara lainnya nomian suatu negara. CGE dibangun

147
Jurnal Keuangan Publik Vol. 5, No. 1, Oktober 2008

berdasarkan sistem keseimbangan umum kan adalah standard closure, yaitu price,
Walrasian, yang dasar pemikirannya quantities of all non-endowment
adalah permintaan sama dengan pena- commodities, and regional incomes
waran untuk semua komoditi yang merupakan variable endogen. Sedangkan,
ditetapkan pada harga relatifnya. Model policy variables; technical changes
CGE akan memberikan suatu kerangka variables, and population merupakan
untuk mengkaji dampak dari kebijakan variable eksogen.5
dan perubahan struktur alokasi sumber- Untuk melakukan simulasi GTAP,
daya sehingga dapat menentukan siapa tulisan ini secara langsung menggunakan
yang memperoleh manfaat (gains) dan software RunGTAP release 8.0, yang
siapa yang memperoleh kerugian (losses). dibuat oleh Mark Horridge, Centre of
Berdasarkan CGE tersebut, diba- Policy Studies and Impact Project,
ngun model GTAP sebagai multi country Monash University.6 Seluruh data yang
model. Model GTAP merupakan aplikasi akan digunakan telah disediakan oleh
CGE untuk kasus multi region dengan pengelola GTAP. Data dikumpukan dari
asumsi dalam perkekonomian terjadi 87 negara yang meliputi antara lain (i)
perfect competition dan constant returns data 57 komoditi untuk setiap negara (ii)
to scale. Untuk kasus perdagangan data 5 faktor produksi untuk setiap
bilateral digunakan asumsi Armington negara, dan (iii) elastisitas & parameter
(Varian, 1992). Inovasi lainnya yang untuk masing masing komoditi.
digunakan dalam model GTAP adalah Simulasi yang dilakukan adalah
membentuk (i) persamaan preferensi melihat dampak APEC-PFTA terhadap
rumah tangga sektor swasta menggu- welfare. PFTA mempunyai arti bahwa
nakaan bentuk non-homothetic (ii) fungsi tariff tidak diberlakukan bagi seluruh
permintaan konsumsi masyarakat (iii) barang impor yang berasal dari anggota
secara eksplisit ditampilkan transport APEC, namun anggota APEC memberla-
margin dalam perdagangan internasional kukan tariff terhadap seluruh barang
dan (iv) mengkaitkan sektor domestic impor dari negara bukan anggota APEC
financial dengan saving-investment yang (ROW); dan ROW juga memberlakukan
terjadi dari sektor ekonomi global. tariff terhadap seluruh impor barang
Sama dengan model model eko- yang berasal dari anggota APEC.
nomi lainnya, model GTAP mempunyai Dikarenakan tulisan ini melihat
lebih banyak variable dibandingkan dampak APEC, maka 87 negara yang
persamaan. Sehingga, nilai beberapa ada dibagi menjadi 10 region, yaitu (1)
variable harus dibentuk oleh pembuat US, Canada and Mexico, NAM (2)
model secara eksternal, variable ini Japan, JPN (3) Australia and New
disebut dengan nama variable eksogen. Zealand, ANZ (4) China and Hong Kong,
Sedangkan variable lainnya telah ada CHN_HKG (5) South Korea, SKOR (6)
dalam model itu sendiri, variable ini Taiwan, TWN (7) Malaysia and
dikenal dengan nama variable endogen. Singapore, MYS_SGP (8) Thailand and
Dalam GTAP, suatu upaya membentuk
variable eksogen dan endogen dikenal 5
Untuk melihat pembahasan berbagai macam
dengan istilah closure rules. Dalam closure rule yang ada dalam model GTAP, lihat
Hertell et all (1997)
simulasi ini, closures rule yang diguna- 6
Untuk dapat mengakses software ini lihat
www.gtap.org
148
Implikasi Berlakunya APEC Terhadap Perpajakan
di Indonesia: Aplikasi Model GTAP

the Philippines, THA_PHL (9) Indonesia, trade creation bagi negara anggota APEC
IDN (10) Rest of the World, ROW. dan trade divertion bagi negara bukan
Alasan pengelompokkan menjadi anggota APEC.7
10 region adalah sebagai berikut. US, Keikutsertaan Indonesia sebagai
Canada and Mexico dibuat dalam satu anggota APEC akan dapat meningkatkan
kelompok karena berada dalam anggota welfare sebesar $582,9 million. Bagi
North American Free Trade Area Indonesia, kenaikan welfare $582,9
(NAFTA). China dan Hong Kong dalam million disebabkan oleh (i) kenaikan
satu region karena sistem perdagangan allocative efficiency effects $601,5
kedua negara tersebut saling terkait. million (ii) penurunan term of trade
Sementara itu, negara-negara lainnya $200,4 million dan (iii) kenaikan
dikelompokkan berdasarkan lokasi yang investment-saving $181,8 million..
hampir berdekatan. ROW merupakan Di Indonesia (lihat tabel 2), kenaikan
negara-negara yang tidak termasuk welfare akibat allocative efficiency effects
dalam anggota APEC. sebesar $601,5 million disebabkan oleh
Dari 57 komoditi yang ada, data (i) kenaikan welfare dari food sebesar
dikelompokkan menjadi 3 sektor, yaitu $243,4 million (ii) kenaikan welfare dari
(1) Food and agriculture, food (2) manufacture sebesar $353,1 million dan
Resources and manufacturing, r_mnfc (3) (iii) kenaikan welfare dari service sebesar
Services, services. Komoditi dikelom- $4,9 million.
pokkan menjadi tiga sektor karena Di Indonesia (lihat Tabel 3), seperti
tulisan ini akan melihat dampak welfare kita telah prediksi, dengan adanya
terhadap agregasi yang melihat struktur penurunan pembebasan tariff karena
perekonomian secara umum (hanya tiga APEC-PFTA maka kontribusi terbesar
sector). untuk allocative efficiency effecst dari
Simulasi ini menggunakan seluruh sudut pajak disumbangkan oleh
data 5 faktor produki yang ada, yaitu (1) kenaikan pajak impor (mtax), yaitu
Land. Land (2) Unskill Labour, UnskLab $391,9 million. Paling besarnya kontri-
(3) Skill Labour, SkLab (4) Capital, busi pajak impor karena berlakunya
capital (5) Natural Resources, NatRest. pembukaan kran impor menjadi zero
tariff akan menyebabkan kenaikan impor
IV. Hasil Simulasi dan pada gilirannya pajak terhadap
Tabel 1 memperlihatkan sebagian barang impor naik dengan signifikan.
besar anggota APEC mengalami kenaikan Selanjutnya, pajak produksi output
welfare (kecuali nam dan tha_phl). (Prodtax) menurunkan allocative
Berkaitan dengan nam, table ini mengin- efficiency effects sebesar -$13.5 million;
dikasikan bahwa keberadaaan NAFTA pajak barang input (Inputax) menaikkan
lebih meningkatkan welfare pada ketiga allocative efficiency effects sebesar $76.2
negara tersebut dibandingkan keikutser- million; pajak konsumsi (Contax) mena-
taannya dalam APEC. Selanjutnya, ikkan allocative efficiency effects sebesar
seperti kita telah prediksi, negara non $17.5 million; pajak sector pemerintah
APEC (ROW) mengalami penurunaan
welfare, artinya dengan diberlakukannya 7
Untuk lebih dalam pemahaman trade diversion
PFTA oleh anggota APEC akan terjadi dan trade creation bisa dibaca dalam Baldwin
and Venables (1995)

149
Jurnal Keuangan Publik Vol. 5, No. 1, Oktober 2008

(Govtax) menaikkan allocative efficiency domestic. Salah satu dampak berubah-


effects sebesar $1.6 million; pajak nya perekonomian dunia terhadap
ekspor (Xtax) menaikkan allocative perekonomian domestic adalah beru-
efficiency effects sebesar $127.8 million. bahnya welfare. Salah satu komposisi
Simulasi juga dapat melihat yang merubah welfare adalah allocative
sumbangan masing masing sector terhadap efficiency effects, yang terdiri dari pajak
perubahan pajak yang berdampak terhadap output barang yang diproduksi;
terhadap perubahan allocative efficiency pajak barang input; pajak konsumsi;
effects (Tabel 4). Sebagai contoh, pajak barang sector pemerintah; pajak
kenaikan allocative efficiency effects ekspor dan pajak impor.
karena mtax disumbangkan oleh sektor Tujuan utama simulasi tulisan ini
food sebesar $157,5 million dan sektor adalah melihat dampak APEC-PFTA
manufaktur sebanyak $234,4 million. terhadap allocative efficiency effects di
Simulasi ini juga dapat melihat Indonesia. Hasil simulasi memperlihat-
kombinasi (i) pengaruh penurunan tariff kan dengan akan diberlakukannya
dan (ii) besarnya perubahan impor APEC-PFTA maka diprediksi akan meru-
terhadap welfare pada sektor manufak- bah perpajakan di Indonesia. Sesuai
tur8 seperti terlihat pada tabel 5 dibawah dengan prediksi, dengan berlakunya
ini. Sebagai contoh, adanya pelepasan zero tariff terhadap barang impor yang
tarif 100% untuk impor barang manu- masuk ke Indonesia, APEC-PFTA
faktur telah menyebabkan impor barang menyebabkan kenaikan pajak impor
manufaktur Indonesia dari Korea naik merupakan kenaikan pajak terbesar
sebesar $1833,1 million, yang selanjut- dibandingkan kenaikan pajak lainnya.
nya meningkatkan welfare di Indonesia
sebesar $4,9 milllion. Contoh sebalik-
nya, dikarenakan tariff tetap diberlakukan
terhadap ROW maka menyebabkan
impor barang manufaktur Indonesia dari
ROW berkurang sebesar -$2891,8
million, yang selanjutnya telah mengurangi
welfare di Indonesia sebesar - $109,5.
Selajutnya, secara keseluruhan adanya
tariff dan perubahan impor di Indonesia
telah meningkatkan welfare bagi sector
manufaktur sebesar $235,1 million.

V. Kesimpulan
Dalam model GTAP kita bisa
melihat pengaruh berubahnya perekono-
mian dunia terhadap perekonomian

8
Sebenarnya kita juga bisa melihat untuk sector
lainnya namun untuk lebih singkatnya kami hanya
menjelaskan untuk kasus manufaktur saja.
150
Implikasi Berlakunya APEC Terhadap Perpajakan
di Indonesia: Aplikasi Model GTAP

DAFTAR TABEL

Tabel 1: Hasil Simulasi Dampak APEC-PFTA terhadap Welfare (dalam $ Million)


Aggregate Contribution Contribution Contribution

Country Welfare Effect of Allocative Of TOT effects of I-S Effects

Effects

Nam -2632,2 4648,3 -7431,3 150,8


Jpn 47302,9 28501 20470,7 -1668,8
Anz 638,7 606,1 -179 211,6
Chn_hkg 6142,9 2729,5 3055 358,4
Twn 4467,8 4000,3 834,5 -367

Skor 9177,1 12599,6 -3659,8 237,3


Mys_sgp 1924,6 339,3 1531,3 54

tha_phl -1325,9 2118 -3046,1 -397,8


Idn 582,9 601,5 -200,4 181,8

Row -14723,1 -3989,6 -12005,1 1271,6

Total 51555,5 52153,9 -630,3 31,9

Tabel 2: Hasil Simulasi Dekomposisi Allocative Efficiency Effects Dari Sudut Komoditi
(dalam $ million)

Country Food r_mnfc Services Total


Nam -2428,7 7142,8 -65,8 4648,3
Jpn 24954,5 3315 231,5 28501
Anz 15,8 629 -38,8 606,1
chn_hkg 286,2 2646,2 -202,9 2729,5
Twn 3398,8 628,4 -26,9 4000,3
Skor 10013,1 2640,2 -53,8 12599,6
mys_sgp -10,8 383,3 -33,2 339,3
tha_phl 168,3 1981,9 -32,2 2118
Idn 243,4 353,1 4,9 601,5
Row 882,6 -5404,5 532,4 -3989,6
Total 37523,3 14315,4 315,3 52154

151
Jurnal Keuangan Publik Vol. 5, No. 1, Oktober 2008

Tabel 3: Hasil Simulasi Dekomposisi Allocative Efficiency Effects Dari Sudut Pajak
(dalam $ million)

Country Prodtax Inputtax Contax Govtax Xtax Mtax Total


Nam -3458,7 101,6 0 0 -1711,3 9716,7 4648,3
Jpn 789,1 0 0 0 -970,8 28682,7 28501,0
Anz -77,8 -106,9 160,4 0 56,7 573,7 606,1
chn_hkg 71,4 0 0 0 644,9 2013,2 2729,5
Twn -824,1 83,6 0 0 115,8 4625 4000,3
Skor 1344,6 1195,2 929,7 0 340,5 8789,6 12599,6
mys_sgp -5,8 15,3 60,4 0,1 178,6 90,8 339,4
tha_phl 165,4 0 0 0 751,7 1200,9 2118,0
Idn -13,5 76,2 17,5 1,6 127,8 391,9 601,5
Row 540,2 215,2 -561,1 -2,4 58,7 -4240,2 -3989,6
Total -1469,3 1580,3 606,8 -0,7 -407,6 51844,4 52153,9

Tabel 4:Hasil Simulasi Dekomposisi Allocative Efficiency Effects Dari Pajak Untuk
Masing Masing Sektor ($ million)

Food r_mnfc Services CGDS Total


Prodtax -7,3 -11,2 4,9 0 -13,6
Inputtax 6,2 42,4 20,4 7,1 76,1
Contax 9,3 8,2 0 17,5
Govtax 0 1,6 0 1,6
Xtax 0 127,8 0 127,8
Mtax 157,5 234,4 0 391,9
Total 165,7 403,2 25,3 7,1 601,3

152
Implikasi Berlakunya APEC Terhadap Perpajakan
di Indonesia: Aplikasi Model GTAP

Tabel 5: Hasil Dekomposisi Dari Kontribusi Penghapusan Tarif Impor Untuk Sektor
Manufaktur di Indonesia Berasal Dari Negara Patner Dagang (US$ million)

Tarif
% Change in Contribution to
Country Initial Sim-FTA
Bilateral Imports Welfare
Nam 10,7 0 669,4 167,1
Jpn 14,3 0 535,1 3
Anz 5,4 0 -90,7 52,8
chn_hkg 13,7 0 152,2 93,2
Twn 19,1 0 729,7 21
Skor 18 0 1833,1 4,9
mys_sgp 11,3 0 184,2 3,4
tha_phl 15,2 0 207,1 -0,8
Idn 0 0 0 0
Row 12,9 12,9 -2891,8 -109,5
Total 120,5 12,9 1328,3 235,19

9
Nilai ini sedikit berbeda dengan tampilan pada Tabel 5 karean adanya perbedaan pembulatan.

153
Jurnal Keuangan Publik Vol. 5, No. 1, Oktober 2008

DAFTAR BOX

Box 1: Definisi Beberapa Notasi dalam GTAP

Sum : summation
i : each sector commodities, such as food, manufacturing and service
ENDW_COMM: endowment commodities
VOA ( i, r): value of non-saving commodity i output or supplied in region r evaluated at agents’
prices
qo (i,r): quantity of non-saving commodity i output or supplied in region r
pop (i,r): population in region r
VDEP (r): value of capital depreciation expenditure in region r
kb (r) : quantity of beginning of period capital stock in region r
NSAV_COMM: (land, labor, capital, food, manufacturing, services, capital goods
PTAX (i,r): tax on output of good i region r
ENDW_COMM: sluggish endowment commodities
PROD_COMM: food, manufacturing, services, capita goods
ETAX (i,j,r): tax on use of endowment i in industry j of region r
qfe(i,j,r): quantity of endowment commodity i demanded by firms in sectir j of region r
TRAD_COMM: food, manufacturing, services
IFTAX (i,r): input tax on use of intermediate good i in industry j
qf (i,j,r): quantity of composite tradeable commodity I demanded by firms in sector j of region r
DFTAX(i,j,r): tax on use of intermediate good i in industry j of region r
IPTAX (i,r): input tax on commodity i in industry j
qpm(i,r): quantity of imported tradeable commodity i demanded by privte household in region r
DPTAX (i,r): tax on private household consumption of good i in region r
IGTAX (i,r): input tax on government consumtion of good i in region r
DGTAX (i,r): tax on government consumption of good i in region r
qpm (i,r): quantity of imported tradable commodity i demanded by private household in region r
REG: APEC, ROW
XTAXD (i,r,s): export tax on commodity i in industry j in region r
qxs (i,r,s): quantity od exports of tradeable commodity I from source r to destination s
MTAXD (i,,s,r): import tax on commodity i from s in industry j
VXWD (i,r,s): value of imports of tradeable commodity i from source r to destination s evaluated
at(importer’s) market prices
pfob(i,r,s): world (fob) price of tradeaable commodity i exported from source r to destination s
(prior to
including transport margin)
VTMD (m,r): value of transportation service on import of tradeable commodity i from source r to
destination s
MARG_COMM: margins commodities
pt(m): price of glolal transport service supplied
NETINV (r): net investment in region r
pcgds (r): price of capital in region r
SAVE (r): saving in region r
psave (r): price of saving on region r
Sumber: Hertell et all (1997)

154
Implikasi Berlakunya APEC Terhadap Perpajakan
di Indonesia: Aplikasi Model GTAP

Reference Krugman and Laurence (1993), “Trade,


Jobs and Wages” in NBER
Armington, P.A (1969), “A Theory of Working Paper No: 4478,
Demand for Products Disti- Cambridge.
nguished by Place of Production,”
in IMF Staff Paper No: 16. Lewis, Robinson and Chang (1991)”
Beyond the Uruguay Round: The
Arrow, Chenery, Minhas and Solow Implication of an Asian Free Trade
(1961),”Capital-Labor Substitution Area, “China Economic Review
and Economic Efficiency, in No 6.
Review of Economics and Statistics
No: 43. Martin, W.J (1997), “Measuring Welfare
Changes with Distortions”, in
Baldwin, R.E and Venables, A.J (1995), Francois, J.F and Reinert, K.A.,
“Regional Economic Integration’, (eds), Applied Methods for Trade
in Grosmann, G.M. and Rogoff, K Policy Analysis: A Handbook,
(eds), Handbook of International Cambridge, University Press, New
Economics, Vol 3, North Holland, York
Amsterdam.
McDaugall, R.A (2001), A New Regional
Hanslow, Kevin (2000), A General Welfare Household Demand System for
Decomposition for CGE Model, GTAP, GTAP Technical Paper
GTAP Technical Paper No: 19. No 20..

Harrison, J.W and Pearson, K.R (1009), McKibbin and Sachs (1991), Global
“Computing Solutions for Large Linkages: Macroeconomic Interde-
General Equilibrium Model Using pendence and Cooperation in the
GEMPACK” in Computational World Economy, Washington,
Economics 9(2). D.C., the Brooking Institution.

Hertel, Thomas W et all (1997), Global Varian, Hall R (1992), Microeconomic


Trade Analysis: Modeling and Analysis, W.W. Norton & Company,
Application, Cambridge Univer- New York.
sity, USA.

Huff, Karen M and Hertel, Thomas, W


(2000), Decomposing Welfare -oOo-
Changes in the GTAP Model,
GTAP Technical Paper No.5.
Krugman, Paul R and Obstfeld, Maurice
(1997), International Economics:
Theory and Policy, Addison
Wesley, New York

155
Jurnal Keuangan Publik Vol. 5, No. 1, Oktober 2008

156