Anda di halaman 1dari 12

HUBUNGAN RASIO-RASIO KEUANGAN DENGAN RATING OBLIGASI

Oleh:
Prof. DR. Adler H. Manurung1
Desmon Silitonga, MSM2
Wilson R. L. Tobing, Ph. D.3

Pendahuluan

Obligasi merupakan salah satu sumber pendanaan (financing) bagi Pemerintah dan
Perusahaan, yang dapat diperoleh dari pasar modal. Secara sederhana, obligasi merupakan suatu
surat berharga yang dikeluarkan oleh penerbit (issuer) kepada investor (bondholder), dimana
penerbit akan memberikan suatu imbal hasil (return) berupa kupon yang dibayarkan secara
berkala dan nilai pokok (principal) ketika obligasi tersebut mengalami jatuh tempo.

Sebelum suatu penerbit (perusahaan/negara) mengeluarkan suatu obligasi, maka akan


dilakukan proses pengujian terhadap obligasi tersebut, dimana di indonesia di lakukan oleh
Bapepam selaku pengawas pasar modal dan dilakukan pengujian peringkat (rating) obligasi.
Biasanya proses penerbitan secara keseluruhan membutuhkan waktu sekitar 3-6 bulan, sebelum
obligasi tersebut dinyatakan dapat diterbitkan dan bisa dibeli investor.

Rating merupakan salah satu acuan dari investor ketika akan memutuskan membeli suatu
obligasi. Proses rating sebuah obligasi membutuhkan waktu sekitar satu sampai dua bulan. Jika
pemerintah yang menjadi penerbit obligasi, maka biasanya rating obligasi tersebut sudah
merupakan investment grade (level A), karena pemerintah akan memiliki kemampuan untuk
melunasi kupon dan pokok utang (principal) ketika obligasi tersebut mengalami jatuh tempo.
Akan tetapi, ketika perusahaan yang menjadi penerbit suatu obligasi, maka biasanya obligasi
tersebut memiliki probabilitas default, tergantung dari kesehatan keuangan perusahaan tersebut.
Resiko default tersebut dapat dipengaruhi oleh siklus bisnis yang berubah sehingga menurunkan
perolehan laba, kondisi ekonomi makro dan situasi politik yang terjadi, dan lain sebagainya.

Ada tiga perusahaan rating di Indonesia yaitu PT Pemeringkat Efek Indonesia, PT Fitch
Rating Indonesia dan PT Moody’s Indonesia. Tetapi PT Moody’s Indonesia sudah mundur dari
Indonesia. Perusahaan rating yang mendominari pasar atas rating ini yaitu PT. Pefindo.
Perusahaan ini juga sangat sering menerbitkan ratingnya ke publik. Perusahaan ini membuat

1 Guru Besar ABFI Institute Perbanas dan Direktur PT Nikko Securities Indonesia

2 Research Manager PT FInansial Bisnis Informasi

3 Dosen ABFI Institute Perbanas.

1
kerja dama dengan perusahaan rating di luar negeri yaitu Standard and Poor. Perusahaan rating
di Indonesia mempunyai kewajiban harus mempunyai technical assistant dari perusahaan rating
di luar negeri. Menurut Hanafi, M (2004) ada dua tahap yang biasanya dilakukan dalam proses
rating, yaitu (1) melakukan review internal terhadap perusahaan yang mengeluarkan instrumen
utang. (2) Hasil dari review internal tersebut akan direkomendasikan kepada komite rating yang
akan menentukan ratong perusahaan tersebut.

Perumusan Masalah

Rating merupakan salah satu variabel yang diperhatikan oleh investor ketika memutuskan
untuk melakukan investasi pada suatu perusahaan. Informasi yang terkandung dalam rating akan
menunjukkan sejauh mana kemampuan suatu perusahaan untuk membayar kewajibannya atas
dana yang diinvestasikan oleh investor. Perusahaan yang memiliki rating yang tinggi, biasanya
lebih disukai oleh investor dibandingkan dengan perusahaan yang perusahaan yang memiliki
rating yang sangat rendah. Oleh sebab itu, agar obligasi suatu perusahaan yang memiliki rating
yang cukup rendah, dapat dijual di pasar, maka biasaya investor akan menentut suatu premi yang
lebih tinggi, sebagai suatu kompensasi atas resiko yang ditanggung oleh investor.

Pokok permasalahan dalam tulisan ini adalah mencoba untuk mengetahui faktor apa saja yang
mempengaruhi rating yang dikeluarkan oleh lembaga pemeringkat dari setiap rating yang
diumumkan. Oleh sebab itu, secara spesifik tulisan ini ini akan mencoba melihat dari laporan
keuangan dengan cakupan rasio-rasio keuangan seperti Current ratio (CR), Total Asset Turnover,
Return on Asset (ROA), Net Profit Margin (NPM), Return on Equity (ROE), Debt to Equity
Ratio (DER), dan resiko sistematika pasar (beta), sebagai variabel-variabel yang dapat
mempengaruhi rating obligasi yang dikeluarkan lembaga pemeringkat.

Tujuan Penelitian:

Untuk melihat pengaruh dari beberapa rasio keuangan seperti Current Ratio (CR), Total Aset
Turnover, Return on Asset (ROA), Net Profit Margin (NPM), Return on Equity (ROE), Debt to
Equity ratio (DER), dan resiko sistematika pasar (beta) terhadap rating obligasi dengan periode
penelitian 2007.

Kajian Pustaka

™ Obligasi

Obligasi merupakan suatu instrumen pendapatan tetap (fixed income securities) yang
dikeluarkan oleh penerbit (issuer) dengan menjanjikan suatu tingkat pengembalian kepada
pemegang obligasi (bondholder) atas dana yang diinvestasikan investor berupa kupon yang
dibayarkan secara berkala dan nilai pokok (principal) ketika obligasi tersebut jatuh tempo.

Obligasi biasanya akan mendapatkan pemeringkatan secara berkala yang dikeluarkan oleh
lembaga pemeringkat. Beberapa lembaga pemeringkat yang secara berkala melakukan

2
pemeringkatan terhadap obligasi yang diterbitkan, seperti Standar & Poor’s (S&P), Moody’s,
Fitch Ratings, dan Pefindo. Pemeringkatan rating tersebut dilakukan untuk memperkirakan
kemampuan dari penerbit obligasi untuk membayar bunga dan pokok utang berdasarkan analisis
keuangan dan kemampuan membayar kredit. Semakin tinggi tingkat rating, maka hal tersebut
menunjukkan tingginya kemampuan penerbit obligasi untuk membayar utangnya.

Lembaga pemeringkat yang mengeluarkan rating obligasi, memiliki metodologi tersendiri


untuk menentukan faktor apa saja yang mempengaruhi suatu rating atas obligasi yang dimiliki
oleh suatu perusahaan. Menurut Bluum (2003) dalam penelitiannya menunjukkan beberapa
faktor yang dapat menentukan penelitian rating suatu obligasi, yaitu

• Pendapatan dan cashflow masa depan


• Utang baik jangka pendek dan panang dan kewajiban finansial
• Struktur permodalan
• Likuiditas asset perusahaan
• Situasi negara dimana perusahaan berada, seperti politik dan sosial
• Situasi pasar dimana perusahaan melakukan aktivitas bisnisnya
• Kualitas manajemen dan struktur perusahaan

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa rating yang dikeluarkan oleh lembaga rating
dapat memberikan dampak terhadap pergerakan harga saham yang dimiliki oleh penerbit
obligasi tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Goh & Ederington (1993) menunjukkan bahwa
penurunan rating akan memberikan membawa dampak negatif terhadap pergerakan harga saham
di pasar moda, karena investor bereaksi negatif terhadap penurunan rating tersebut. Akan tetapi,
penelitian yang dilakukan oleh Kim dan Nabar (2007) menunjukkan hal yang sebaliknya, dimana
pengumuman rating tidak mempengaruhi pergerakan harga saham.

Berikut ini beberapa rating obligasi yang dikeluarkan oleh lembaga rating

Standar & Pooor’s: AAA, AA+, AA, AA-, A+, A, A-, BBB+, BBB, BBB-, BB+, BB, BB-, B+,
B, B-, CCC+, CCC, CCC-, D
Moody’s : Aaa, Aa1, Aa2, Aa3, A1, A2, A3, Baa1, Baa2, Baa3, Baa1, Ba2, Ba3, B1, B2, B3,
Caa1, Caa2, Caa3, Ca, C
Fitch Ratings: AAA, AA+, AA, AA-, A+, A, A-, BBB+, BBB, BBB-, BB+, BB, BB-, B+, B, B-,
CCC, DDD, DD, D.
Sedangkan untuk Pefindo sebagai lembaga rating lokal yang banyak memberikan penilaian
rating terhadap surat utang berbagai perusahaan di Indonesia memiliki level rating sebagai
berikut:

AAA Efek hutang dengan peringkat AAA merupakan Efek Utang dengan
peringkat tertinggi dari Pefindo yang didukung oleh kemampuan Obligor
yang superior relatif dibanding entitas Indonesia lainnya untuk memenuhi

3
kewajiban finansial jangka panjang sesuai dengan yang diperjanjikan

AA Efek utang dengan peringkat AA memiliki kualitas kredit sedikit di bawah


peringkat tertinggi, didukung oleh kemampuan Obligor yang sangat kuat
untuk memenuhi kewajibn finasial jangka panjangnya sesuai dengan yang
diperjanjikan relatif dibandingkan dengan entitas Indonesia lainnya

A Efek utang dengan peringkat A memiliki dukungan kemampuan Obligor


yang kuatdibandingkan dengan entitas Indonesia lainnya untuk memenuhi
kewajiban finansial jangka panjangnya sesuai dengan yang diperjanjikan,
namun cukup peka terhadap perubahan yang merugikan

BBB Efek utang dengan BBB didukung oleh kemampan Obligor yang memadai
relatif dibandingkan dengan entitas Indonesia lainnya untuk memenuhi
kewjiban finansial, namun kemampuan tersebut dapat diperlemah oleh
perubahan keadaan bisnis dan perekonomian yang merugikan

BB Efek utang dengan peringkat BB menunjukan dukungan kemampuan


Obligor yang agak lemah relatif dibandingkan dengan entitas lainnya
untukmemenuhi kewajiban finansial jangka panjangnya sesuai dengan
yang diperjanjikan, serta peka terhadap keadaan bisnis dan perekonomian
yang keadaan bisnis dan perekonomian yang tidak menentu

B Efek utang dengan peringkat B menunjukan parameter perlindungan yang


sangat lemah. Walapun Obligor masih memiliki kemampuan untuk
memenuhi kewajiban finansial jangka panjangnya, namun adanya
perubahan keadaan bisnis dan perekonomian yang merugikan akan
memperburuk kemampuan obligor utuk memenuhi kewajiban finansialnya.

CCC Efek utang dengan peringkat CCC menunjukan Efek hutang yang tidak
mampu lagi memenuhi kewajiban finansialnya, serta hanya tergantung
kepda perbaikan keadaan eksternal.

D Efek utang dengan peringkat D menandakan Efek hutang yang macet.


Perusahaan penerbit sudah berhenti bersaha

Sumber : Pefindo

™ Rasio-Rasio Keuangan
Lembaga rating yang mengeluarkan peringkat rating terhadap perusahaan yang mengeluarkan
obligasi, biasanya mendasarkan penilaian rating tersebut berdasarkan analisa dari rasio-rasio
keuangan yang dimilikinya. Beberapa rasio-rasio kuangan yang dievaluasi seperti:

1. Coverage Ratio

4
Rasio ini untuk mengukur pendapatan perusahaan terhadap fixed cost yang dimiliki. Biasanya
dalam rasio ini digunakan Times Interest Earned Ratio, yaitu rasio yang akan mengukur
kemampuan operasi perusahaan dalam memberikan proteksi terhadap kreditor jangka
panjang, khusunya dalam membayar bunga. Coverage ratio yang rendah menunjukkan bahwa
perusahaan sedang mengalami kesulitan arus kas.

2. Debt to Equity ratio (Leverage Ratio)


Rasio ini digunakan untuk mengukur keseimbangan proporsi antara aktiva yang didanai oleh
kreditor (utang) dan yang didanai oleh pemilik perusahaan (ekuitas). Jika rasio ini cukup
tinggi, maka hal tersebut menujukkan tingginya penggunaan utang, sehingga hal ini dapat
membuat perusahaan mengalami kesulitan keuangan, dan biasanya memiliki resiko
kebangkrutan yang cukup besar.

3. Liquidity Ratio
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban
jangka pendeknya. Rasio yang biasanya digunakan untuk mengukur liquidity ratio, yaitu
Current Ratio dan Quick Ratio. Current Ratio merupakan perbandingan antara total aktiva
lancar dengan kewajiban lancar. Angka dari rasio ini sangat tergantung dari jenis dan sifat
industrinya, sehingg dalam melakukan interpretasi terhadap likuiditas suatu perusahaan harus
berhati-hati. Likuiditas suatu perusahaan yang tinggi belum tentu baik, jika ditinjau dari segi
profitabilitas perusahaan tersebut. Sehingga terhadap trade off antara likuditas dan
profitabilitas. Sedangkan Quick ratio digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
dalam memenuhi kewajibannya, tanpa harus melikuidasi atau terlalu bergantung terhadap
persediaan yang dimiliki suatu perusahaan. Quick ratio merupakan perbandingkan antara asset
lancar dikurangi inventory dengan kewajiban lancar.

4. Profitabilitas Ratio
Rasio ini mengukur tingkat kinerja kuangan suatu perusahaan. Biasanya rasio yang digunakan
untuk mengukuar rasio profitabilitas adalah Return on Asset (ROA) dan Return on Equity
(ROE). Return on Asset (ROA) digunakan untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan
dalam memanfaatkan aktivanya untuk memperoleh laba. Rasio ini merupakan perbandingkan
antara laba dengan rata-rata aktiva yang dimiliki perusahaan. Sementara Return on Equity
(ROE) digunakan untuk mengukur kemampuan dari suatu perusahaan dalam memanfaatkan
modal (equity) yang dimilikiya untuk memperoleh laba. Rasio ini merupakan perbandingan
antara laba dengan rata-rata equity yang dimiliki perusahaan.

Metodologi dan Data Penelitian

Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh varibel-
variabel dari rasio-rasio keuangan terhadap rating suatu obligasi, dimana rating obligasi
merupakan variabel yang dipengaruh dan resiko sistematik (Beta), Debt to Equity Ratio

5
(Leverage ratio), Return on Asset dan Return on Equity (profitabilitas ratio), Current Ratio
(Liquidity ratio), Total Asset Turnover, Net Profit Margin merupakan varibel yang
mempengaruhi.

Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan yang
memiliki laporan kuangan publikasi tahun 2008 yang diperoleh dari Bursa Efek Indonesia (BEI)
dan rating obligasi yang dikeluarkan PT. Pefindo pada September 2007 yang diperoleh dari
database PT. Finansial Bisnis Informasi. Terhadap 108 perusahaan yang dirating dan
dikeluarkan PT. Pefindo pada September 2007. Untuk memudahkan pengolahan data, maka
tidak semua rating perusahaan tersebut digunakan dalam penelitian ini, melainkan diambil
beberapa sampel yang dipilih agar dapat mewakiliki populasi penelitian. Dengan kata lain,
penulis melakukan teknik metode purposive sampling tipe judgement sampling. Dan secara
melalui mekanisme pemilihan sample, maka industri yang digunakan sebagai sampel dalam
penelitian ini adalah industri non keuangan dengan periode penelitian tahun 2007. Oleh karena
itu, karakteristik perusahaan yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini adalah:

• Perusahaan-Perusahaan yang termasuk ke dalam industri non keuangan


• Perusahan-perusahaan yang mengeluarkan obligasi dan hasil ratingnya dipublikasikan
Pefindo pada September 2007
• Perusahaan-perusahaan yang memiliki laporan keuangan tahun 2008 dan dipublikasikan oleh
Bursa Efek Indonesia
• Periode penelitian yang digunakan tahun 2007.
Sementara itu, variabel-variabel penelitian yang digunakan berdasarkan data laporan
keuangan yang diperoleh dari Bursa Efek Indonesia pada tahun 2008, yaitu:

1. Rating Obligasi
2. Total Asset
3. Total Kewajiban
4. Total Equitas
5. Total aktiva lancar dan total kewajiban Lancar
6. Net Income
7. Sales
8. Resiko sistematik (beta)
Adapun Model regresi yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

Rat = α0 + α1Beta + α2CR + α3TAT + α4NPM + α5ROA + α6ROE +α7DER

Dimana;

6
Rat = Rating yang dikeluarkan Pefindo pada September 2007.
Beta = Resiko Sistematik yang merupakan slope antara return saham perusahaan dengan
return saham pasar (IHSG).
CR = Current rasio merupakan perbandingan antara total asset lancar dengan total kewajiban
lancar.
TAT = Total Asset Turnover merupakan perbandingan antara sales dengan rata-rata Total
Asset.
NPM = Net Profit Margin merupakan perbandingan antara net income dengan sales.
ROE = Return on Equity merupakan perbandingan antara Net income dengan rata-rata total
Equity.
ROA = Return on Asset merupakan perbandingan antara Net Income dengan rata-rata total
Asset.
DER = Debt to Equity Ratio merupakan perbandingan antara total utang terhadap total
Equity.
Hasil regresi dari model ini diolah menggunakan SPSS 13.00.

Oleh karena rating yang dikeluarkan oleh PT. Pefindo merupakan huruf, sementara rasio-rasio
keuangan yang digunakan dalam bentuk angka, maka supaya dapat digunakan dalam pemodelan
dan diolah, maka dilakukan mekanisme konversi terhadap rating yang dikeluarkan PT. Pefindo,
dimana sistem konversi yang digunakan adalah mengonversi rating dalam bentuk huruf ke dalam
angka dengan skala tertinggi untuk perusahaan yang memiliki rating tertinggi dan skala yang
terendah untuk perusahaan-perusahaan dengan rating yang lebih rendah, dengan asumsi jarak
antar rating sama. Berikut ini adalah hasil konversi rating untuk sampel yang digunakan dalam
penelitian ini dari rating yang dikeluarkan PT.Pefindo pada September 2007

AAA+ 18

AAA 17

AAA- 16

AA+ 15

AA 14

AA- 13

A+ 12

A 11

7
A- 10

BBB+ 9

BBB 8

BBB- 7

BB+ 6

BB 5

BB- 4

B+ 3

B 2

B- 1

Perumusan Hipotesa

1. H10 : α1 = 0
Beta tidak berpengaruh terhadap rating obligasi yang dikeluarkan lembaga pemeringkat.
H1a : α1 # 0
Beta berpengaruh terhadap rating obligasi yang dikeluarkan lembaga pemeringkat.
2. H20 : α2 = 0
Current Ratio (CR) tidak berpengaruh terhadap rating obligasi yang dikeluarkan lembaga
pemeringkat.
H2a : α2 # 0
Current Ratio (CR) berpengaruh terhadap rating obligasi yang dikeluarkan lembaga
pemeringkat.
3. H30 : α3 = 0
Total Asset Turnover (TAT) tidak berpengaruh terhadap rating obligasi yang dikeluarkan
lembaga pemeringkat.
H3a : α3 # 0
Total Asset Turnover (TAT) berpengaruh terhadap rating obligasi yang dikeluarkan lembaga
pemeringkat.
4. H40 : α4 = 0
Net Profit Margin (NPM) tidak berpengaruh terhadap rating obligasi yang dikeluarkan
lembaga pemeringkat.
H4a : α4 # 0

8
Net Profit Margin (NPM) berpengaruh terhadap rating obligasi yang dikeluarkan lembaga
pemeringkat.
5. H50 : α5 = 0
Return on Asset (ROA) tidak berpengaruh terhadap rating obligasi yang dikeluarkan lembaga
pemeringkat.
H5a : α5 # 0
Return on Asset (ROA) berpengaruh terhadap rating obligasi yang dikeluarkan lembaga
pemeringkat.

6. H60 : α6 = 0
Return on Equity (ROE) tidak berpengaruh terhadap rating obligasi yang dikeluarkan lembaga
pemeringkat.
H6a : α6 # 0
Return on Equity (ROE) berpengaruh terhadap rating obligasi yang dikeluarkan lembaga
pemeringkat.
7. H70 : α7 = 0
Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh terhadap rating obligasi yang dikeluarkan lembaga
pemeringkat.
H7a : α7 # 0
Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh terhadap rating obligasi yang dikeluarkan lembaga
pemeringkat.

Hasil hipotesa dari suatu model regresi, biasanya dievaluasi dengan memperhatikan beberapa
indikator statistik berikut:
• Uji T : Uji ini biasanya digunakan untuk mengetahui berapa besar masing-masing variabel
independen memberikan pengaruh signifikan terhadap variabel depedend. Jika menggunakan
tingkat signifikansi (α) 5 %, maka jika tingkat signifikansi yang diperoleh > 0.05, maka H0
diterima. Dan sebaliknya, jika < 0,05, maka H0 ditolak, yang menunjukkan bahwa variabel
independen tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen.
• Uji F: Uji ini digunakan untuk melihat, berapa besar variabel-variebel independen secara
bersama-sama memberikan pengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
• R square: Nilai ini menunjukkan kemampuan variabel-variabel independen dalam
menjelaskan variabel dependen. Semakin tinggi R-Square, maka variebel-varibel independen
yang digunakan dalam model semakin baik dalam menjelaskan variabel dependen.

Hasil regresi model pengaruh rasio-rasio keuangan terhadap rating


Setelah dilakukan pengolahan data secara statistik menggunakan SPSS 13.00 untuk
mengetahui pengaruh rasio-rasio keuangan, dimana dalam hal ini digunakan beberapa rasio
keuangan seperti Current Ratio (Liquidity Ratio), Total Asset Turnover, Net Profit Margin,

9
Return on Equity dan Return on Asset (Profitabilitas Ratio) dan Debt to Equtiy Ratio (Leverage
Ratio), dan resiko sistematika untuk mengukur resiko portofilio saham perusahaan terhadap
resiko pasar, maka diperoleh hasil sebagai berikut:

Model Regresi yang digunakan:

Rat = α0 + α1Beta + α2CR + α3TAT + α4NPM + α5ROA + α6ROE +α7DER

Hasil regresi menunjukkan sebagai berikut:

Rating = 13,404 + 1,208 Beta -1,599 CR -1,178 TAT + 2,844 NPM + 58,793 ROA -15,5425
ROE + 0,076 DER

t hitung =(8,021) (0,889) (-1,843) (-1,992) (0,728) (2,046) (-1,616)


(0,250)

F hitung = 1,606

R2 = 52,9%

Hasil persamaan regressi diatas menyatakan bahwa risiko sistematika (beta) berpengaruh positif
terhadap rating dengan nilai sebesar 1,208. Artinya, setiap penambahan satu beta, maka hal ini
akan membuat rating meningkat sebesar 1,208. Namun, dari hasil uji statistik menunjukkan
bahwa variabel resiko sistematika tidak berpengaruh signifikan terhadap rating dengan tingkat
kepercayaan (α = 10 %).
Untuk Current Ratio (Liquidity ratio) berpengaruh negatif terhadap rating dengan nilai sebesar -
1,599. Artinya, setiap terjadi pengurangan satu Current Ratio, maka hal tersebut akan membuat
rating mengalami penurunan sebesar 1,599. Sementara, dari hasil uji statistic variabel current
ratio juga berpengaruh signifikan terhadap rating obligasi dengan tingkat kepercayaan (α =10 %).
Untuk Total Asset Turnover berpengaruh negatif terhadap rating obligasi dengan nilai -1,178.
Artinya, setiap terjadi penurunan satu total asset turnover, maka hal tersebut akan membuat
penurunan rating sebesar 1,178. Dan Variabel Total Asset Turnover juga berpengaruh signifikan
terhadap rating obligasi dengan tingkat kepercayaan (α =10 %).

Untuk Net Profit Margin berpengaruh positif terhadap rating obligasi dengan nilai 2,844.
Artinya, setiap terjadi kenaikan satu Net Profit Margin, maka akan membuat rating obligasi naik
2,844. Namun, dari hasi uji statistik, menunjukkan bahwa net profit margin tidak berpengaruh
secara signifikan.

Untuk Return on Asset berpengaruh positif terhadap rating obligasi dengan nilai 58,793. Artinya,
setiap terjadi kenaikan satu Return on Asset, maka akan membuat rating naik sebesar 58,793.
Dari uji hasil statistik, menunjukkan Return on Asset berpengaruh secara signifikan terhadap
rating dengan tingkat kepercayaan (α =10 %).

10
Untuk Return on Equity berpengaruh negatif terhadap rating obligasi dengan nilai 15,542.
Artinya setipa terjadi penurunan satu return on Equity, maka akan membuat turun sebesar
15,542. Namun, dari uji hasil statistik, menunjukkan bahwa Return on Equity tidak berpengaruh
signifikan terhadap rating.

Untuk Debt to Equity Ratio berpengaruh positif terhadap rating obligasi sebesar 0,076. Artinya
setiap kenaikan satu Debt to Equity Ratio akan membuat rating naik 0,076. Namun, dari uji
statistik, menunjukkan bahwa Debt to Equity Ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap rating.
Di samping itu, R-Square dari hasil penelitian ini sebesar 0,529. Hal ini menunjukkan bahwa
52,9 % rating obligasi dapat dijelaska oleh variabel Resiko sistematik (Beta), Current Ratio
(CR), Total Asset Turnover (TAT), Net Profit Margin (NPM), Return on Asset (ROA), Return
on Equity (ROE), dan Debt to Equity Ratio (DER). Sedangkan 47, 1 % dijelaskan oleh variabel-
Variabel lain diluar variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini.

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

Berdasarkan uraian dan hasil pembahasan pada sub bab sebelumnya maka peneltian ini dapat
memberikan kesimpulan sebagai berikut:

1. Beta, Net Profit Margin (NPM), Return on Equity (ROE), dan Debt to Equity Ratio (DER)
tidak berpengaruh terhadap rating obligasi yang dikeluarkan oleh lembaga pemeringkat,
karena tidak signifikan pada tingka kepercayaan (α = 10 %).

2. Current Ratio (CR), Total Asset Turnover (TAT), dan Return on Asset (ROA) berpengaruh
signfikan terhadap rating obligasi yang dikeluarkan oleh Pefindo, karena signifikan pada
tingkat kepercayaan ( α = 10 %).

Saran
1. Masih tingginya tingkat kepercayaan (α) dalam penelitian ini yang dimungkinkan oleh masih
cukup sedikitnya sampel yang digunakan serta periode penelitian yang masih terlalu pendek
hanya setahun (tahun 2007), maka untuk penelitian selanjutnya sebagai upaya perbaikan,
maka diperlukan adanya penambahan sampel, bukan hanya menggunakan industri non
keuangan seperti dalam penelitian ini tetapi juga memasukkan industri keuangan dan
ditambah dengan periode penelitian lebih dari setahun.

2. Perlu untuk memasukkan rasio-rasio keuangan yang lain, seperti Gross Profit Margin, Time
interest earned, sehingga akan diperoleh gambaran yang cukup komprehensif terhadap
variabel yang benar-benar berpengaruh terhadap rating. Di samping itu, perlu juga
dikombinasikan dengan variabel obligasi yang lain, seperti maturity, volume transaksi, yield,
sehingga dapat memberikan dukungan terhadap model penelitian di masa depan.

11
Daftar Pustaka

Darmawan, D.L (2007). Pengaruh Debt to Equity Ratio, Current Ratio, Return on Asset, dan
Resiko Sistematika terhadap Peringkat Obligasi. Jurnal Manajemen Investasi, Vol 14 No.1.
Goh, J & Ederington, L (1993). Is Bond Rating Downgrades Bad News, Good News, or No
News for Stockholder. Journal of Finance. 48, 2001-08.
Hanafi, M (2004). Manajemen Keuangan. Edisi 2004/2005. BPFE-Yogyakarta
Juliaty, R & Prastowo, D (2008). Analisa Laporan Keuangan: Konsep dan Aplikasi. Edisi kedua.
Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen, YKPN. Yogyakarta.
Kim, Y & Nabar, S (2007). Bankruptcy Probability Changes and The Diffrential Informativeness
of Bond Upgrades and Downgrades. Journal of Banking and Finance. 3843-61.
Manurung, A. H (2007). Pengelolaan Portfolio Obligasi. Elex Media Komputindo. Jakarta
Nachrowi, N.D & Usman, H (2006). Pendekatan Populer dan Pratis Ekonometrika untuk
Analisis Ekonomi dan Keuangan. Lembaga Penerbit Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.

12