Anda di halaman 1dari 4

Rangkuman jurnal

Judul : An Explanatory Study of Software Piracy in Jordan


Penulis : Asim El Sheikh
Abdullah Abdali Rashed
Bashar Al Qudah
A.Graham Peace

Abstraksi dari jurnal ini berisi tentang apa yang akan di bahas dalam keseluruhan
artikel. Penulis melalui abstraksi dengan jelas menyebutkan bahwa jurnal ini akan
membahas tentang pembajakan piranti lunak di Yordania. Fenomena pembajakan piranti
lunak memang banyak sekali terjadi di negara-negara berkembang, termasuk Yordania.
Penulis juga melempar issue mengenai aspek legalitas yang sering dilupakan orang,
terbukti bahwa dari sejumlah orang yang disurvey, seperempat dari mereka tampak tidak
mengerti aspek legal ini. Penulis mengakhiri bagian abstraksi dengan menyebutkan
bahwa jurnal ini pada akhirnya akan memberi saran untuk memerangi pembajakan piranti
lunak di Yordania, didalamnya terdapat saran untuk menerapkan strategi pemasaran yang
terpadu.

Dalam bagian introduction, penulis mengawalinya dengan memberi gambaran


umum mengenai kondisi industri Teknologi Informasi di Yordania yang berkembang
namun juga mengalami masalah pembajakan yang signifikan. Salah satu survey
menyebutkan bahwa 80 % dari total responden mengaku melakukan pembajakan
sedangkan Bussiness Software Alliance (BSA) mencatatat bahwa 64 % piranti lunak di
Yordania telah dibajak dan hal ini berarti kerugian yang mencapai $ 15,000,000.
Bagian introduksi ini diakhiri dengan penjelasan bahwa strudi eksplorasi yang penulis
lakukan akan terfokus untuk menjelaskan fenomena pembajakan ini dengan statistik
deskriptif dan juga mengobservasi tentang sikap para pengguna piranti lunak (users)
terhadap permbajakan .

Berdasarkan hasil survey, BSA pada tahun 2005 mencatat bahwa tingkat
pembajakan di Yordania termasuk tinggi yaitu 64%. Pemerintah telah mengeluarkan
beberapa undang – undang yang mengatur tentang kepemilikan intelektual, copyright dan
lain sebagainya beberapa

Tak hanya pemerintah yang telah “ngotot” memerangi pembajakan di Yordania


dengan mengeluarkan beberapa undang – undang yang mengatur tentang kepemilikan
intelektual, kalangan industri dan sejumlah NGO seperti Jordanian Intelectual Property
Association(JIPA), Jordan Computer Society(JCS), Information technology Association
of Jordan (intaj) telah turut serta dalam usaha ini.Sangat disayangkan bahwa sektor
swasta di Yordania dan beberapa negara berkembang lainnya tampak kurang
memperhatikan tentang masalah pembajakan ini. Hanya sedikit sekali perusahaan yang
memiliki divisi yang bertugas untuk melindungi hak intelektual (IPR).

Copyright © 2006 Kelompok 148 Seminar C (Sayudi Asmoro)


Permission is granted to copy, distribute, and/or modify this paper.
Ada pandangan bahwa faktor budaya menjadi faktor besar yang menyebabkan
terjadinya perbedaan sikap pengguna terhadap pembajakan. Kebudayaan yang “non-
western” cenderung lebih memperhatikan keuntungan untuk masyarakat banyak sehingga
banyak orang yang melupakan aspek hak intelektual. Untuk hal ini, penulis mengatakan
bahwa budaya di tiap negara yang berbeda – beda itu harus dimengerti dalam konteks
memerangi pembajakan. Dalam upaya untuk ikut serta dalam bisnis yang mendunia,
negara – negara berkembang seharusnya lebih lagi dalam upaya ke arah penghargaan
terhadap IPR (Intelectual Property Right) seperti yang telah dilakukan negara – negara
maju. Yordania telah menuju ke arah ini dengan menerbitkan berbagai undang – undang
perlindungan hak intektual. BSA dalam usahanya memerangi pembajakan melakukan
langkah – langkah yang intinya adalah mendidik masyrakat dan organisasi untuk
menyadari bahwa pembajakan itu ilegal dan tidak etis.

Metode yang digunakan dalam studi eksplorasi ini adalah dengan memberi
kuesioner kepada sejumlah responden sebagai sampel dari masyarakat pengguna piranti
lunak di Yordania. Dari 110 kuestioner yang dibagikan, 100 bisa dipakai untuk masukan
dalam studi ini. 77% dari responden adalah wanita, sisanya pria. Survey dilakukan
dengan menggunakan skala likert (skala 1 sampai 5). Dalam bagian limitation, penulis
menyebutkan bahwa terdapat keterbatasan yaitu bahwa semua survey dilakukan dengan
bahasa arab yang kemudian diterjemahkan sehingga sekecil apa pun terdapat
kemungkinan kesalahan.

Hasil dari survey dalam studi eksplorasi ini mengungkapkan bahwa 74% dari
responden merasa tak bersalah membajak piranti lunak. Hanya 78 % dari responden yang
mengerti bahwa pembajakan piranti lunak merupakan tindakan yang ilegal, berarti 22 %
sisanya tidak mengerti hukum tentang pembajakan atau menghiraukannya. 63 % dari
responden setuju jika membajak piranti lunak merupakan tindakan yang tidak bisa
diterima secara etika. Hal ini merupakan temuan yang penting yang mengungkap fakta
bahwa kebanyakan dari mereka yang membajak piranti lunak sebenarnya tau bahwa
pembajakan itu tidak etis.
Temuan lain yang menarik adalah kecendrungan pria untuk melakukan
pembajakan adalah lebih tinggi dibandingkan wanita. Dari survey diketahui bahwa 79 %
dari pria melakukan pembajakan dan hanya 59 % dari wanita yang melakukan kejahatan
serupa. Hal ini bisa dikaitkan dengan kebudayaan arab di mana wanita cenderung lebih
menghormati hukum dibanding pria. Fakta ini juga selaras dengan pernyataan bahwa
wanita cenderung lebih menerima dan menghargai kode etik dibandingkan
pria(Giligan,1998)
Mengenai pendapat para responden tentang tanggungjawab pemerintah, NGO
maupun sektor swasta dalam mengkampanyekan anti pembajakan, kebanyakan dari
mereka setuju bahwa memerangi pembajakan merupakan kewajiban bagi ketiga sektor
ini, tak terkecuali. Dari survey ini terungkap pula bahwa masyarakat masih belum
percaya bahwa kesadaran akan resiko dari pembajakan (dari scala 1 – 5 (1= tidak setuju
hingga 5= setuju) , rata – ratanya adalah 2,88 ).

Copyright © 2006 Kelompok 148 Seminar C (Sayudi Asmoro)


Permission is granted to copy, distribute, and/or modify this paper.
Paragraf terakhir dari bagian discussion ,ditekankan dalam setiap studi tentang
perilaku pembajakan, aspek budaya dari populasi yang sedang diamati harus
dipertimbangkan dan dimengerti dengan baik. Penulis kembali mengangkat gagasan
bahwa masyarakat timur lebih konsen dalam meningkatkan kemakmuran masyarakat
banyak sehingga sedangkan masyarakat barat lebih terbiasa dengan issue mengenai
perlindungan hak intelektual (Steidlmeier,1993;Davidson,2000). Perdagangan dunia saat
ini lebih mengacu pada tradisi barat yang menghargai hak intelektual. Penulis
mengatakan bahwa Yordania sebenarnya telah memiliki tradisi yang baik dalam hal
menghargai hak intelektual, relatif lebih baik dibanding negara – negara tetangganya di
Timur Tengah. Yordania telah memiliki tatanan hukum yang telah tersusun dengan baik
dalam hal ini dena telah lama aktif memerangi pembajakan melalui JIPA atau ASIP
(Arab Society for Intellectual Property) yang bermarkas di Amman. Kenyataan ini dan
ditambah lagi dengan hasil dari studi ini bahwa mayoritas masyarakat Yordania tahu
bahwa membajak adalah tidak etis, harusnya menjadi pendorong untuk kemajuan dalam
hal penegakan hak intelektual di Yordania. 22 % dari responden yang tidak tahu bahwa
membajak itu merupakan tindakan yang ilegal menunjukan bahwa perlu dilakukan
kampanye yang terpadu untuk menyadarkan mereka yang dilakukan oleh pemerintah,
NGO maupun sektor swasta.
Dalam kesimpulannya, penulis mengatakan bahwa harus dilakukan “unified
marketing strategy” untuk mengatasi masalah pelanggaran hak intelektual.

Komentar dari penulis rangkuman :


Jurnal ini akan lebih menarik jika membahas lebih rinci maupun menjelaskan
secara lugas apa yang mereka maksud dengan“unified marketing strategy” yang
diusulkan penulis pada bagian kesimpulan. Kelemahan lain adalah bahwa hasil dari studi
ini hanya memberi dorongan kepada kampanye untuk menyadarkan masyarakat akan
aspek legal maupun etika mengenai pelanggaran hak intelektual yang sebenarnya telah
dilakukan dalam dekade terakhir di Yordania(seksi implication paragraf pertama). Lalu
ada juga sedikit kontradiksi masalah pembajakan di Yordania sangat serius dan
merugikan hingga jutaan dolar serta sulit untuk dipecahkan (pada bagian introduksi)
sedangkan Yordania telah memiliki tatanan hukum yang sudah baik dalam hal
pembajakan serta memiliki “budaya” dagang yang lebih ke arah barat, artinya
penghargaan terhadap hak intelektual sudah menjadi hal yang biasa (seksi discussion
paragraf terakhir). Sebaiknya dilakukan analisa lebih mengenai hal ini.

Copyright © 2006 Kelompok 148 Seminar C (Sayudi Asmoro)


Permission is granted to copy, distribute, and/or modify this paper.
Beberapa referensi :

Business Software Alliance (2005) Second Annual BSA and IDC Global Software Piracy
Study, Washington, DC :BSA.

Davidson, R.M. (2000) Professional Ethics in Information Systems : A Personal


Perspective, communications of the AIS, 3, 8, 1-34.

EL-Sheikh, A., Rashed, A., and Peace, A.G. (2004) Software Piracy :Possibel Causes
and Cures, in Information Ethics: Privacy and Intellectual Property, Lee Freeman and A.
Graham Peace (eds) , Hershey, PA : Idea Group, Inc., 84-99.

Gilligan, C (1989) Mapping the Moral Domain : A Contribution of Women’s Thinking to


Psychological Theory & Education, Cambridge, MA : Harvard University Press.

Gopal, R., and Sanders, G. (2000) Global Software Piracy : You Can’t Get Blood Out of
a Turnip, Communication of The ACM, 43, 9, 83-89.

Copyright © 2006 Kelompok 148 Seminar C (Sayudi Asmoro)


Permission is granted to copy, distribute, and/or modify this paper.