Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Di Indonesia, Plumeria Sp. lebih di kenal sebagai bunga kamboja. Meskipun
telah lama dikenal, tetapi tanaman ini tidak terlalu diperhatikan. Bahkan, Plumeria
lebih banyak dimanfaatkan di areal pemakaman sehingga sering disebut sebagai
kamboja kuburan. Di luar negeri, Plumeria Sp. menempati posisi tanaman hias
outdoor yang eksklusif karena aroma dan warna bunganya yang khas. Beberapa tahun
terakhir di Indonesia, Plumeria Sp. menjadi penghias taman yang kian populer.
Indonesia memiliki varietas kamboja asli yaitu : jenis kamboja berbunga putih
dengan bagian dalam berwarna kuning. Bunganya berukuran kecil dengan kelopak
yang tidak terbuka saat mekar. Sebagai tanaman tropis, kamboja memiliki ciri khas
yang ever green. Terlebih bunganya tumbuh sepanjang tahun dan mudah beradaptasi
dengan berbagai iklim (Utami, 2003).
Perkembangan Plumeria Sp. akan terus berlanjut seiring dengan hilangnya
kesan angker dari sosoknya. Ada empat jenis Plumeria Sp. yang paling banyak
dikenal, yaitu Plumeria alba, Plumeria rubra, Plumeria pudica, dan Plumeria
obtusa. Variasi bunga plumeria muncul dengan berbagai corak warna dan bentuk
seiring dengan maraknya penyilangan yang dilakukan oleh pemulia tanaman.
Banyaknya ragam warna bunga yang dapat dihasilkan oleh plumeria memberikan
nilai tambah dari segi ekonomi. Semakin unik warna, aroma dan bentuk bunga yang
dihasilkan oleh pemulia tanaman, semakin tinggi harganya. Pada awal tahun 2006,
setek plumeria melambung hingga Rp 200.000,- per setek (Khafidzin, 2006).
Kamboja bunga tropis yang cantik dan eksotis termasuk tanaman sukulen,
yakni tumbuhan yang dapat menyimpan air pada seluruh bagian tubuhnya, dari akar,
batang, daun, bunga, sampai buah. Pohonnya bisa bertahan hidup hingga puluhan
tahun dan dapat mencapai tinggi 7-10 meter (Handoko, 2008). Fungsi dan manfaat
tanaman ini menjadikan tanaman kamboja terpilih menjadi salah satu ikon DKI

1
Jakarta. Dalam kegiatan kerjasama antara balai pengkajian bioteknologi BPPT
dengan dinas pertamanan propinsi DKI Jakarta.
Untuk mendapatkan plumeria secara cepat dan berkulitas dalam jumlah
banyak sangatlah sulit, sehingga orang berlomba-lomba menemukan teknik tersebut.
Berbagai teknik telah dilaksanakan diantaranya seperti cangkok, setek mini, dan
potong induk tetapi teknik-teknik induk tersebut membutuhkan waktu yang lama
untuk menghasilkan anakan dan juga resiko kegagalan teknik itu pun cukup tinggi.
Kesulitan perbanyakan anakan atau bibit secara besar-besaran dapat dipecahkan
dengan teknik penanaman secara in vitro (Gunawan 1992; Suryowinoto 1996).
Adapun syarat keberhasilan kultur jaringan adalah penggunaan media yang akan
dipakai dalam perbanyakan. Melihat potensi untuk melakukan pembibitan tanaman
dalam kegiatan kerjasama dilakukan kegiatan perbanyakan bibit kamboja secara in
vitro khususnya Plumeria rubra.
Dalam kultur jaringan tanaman perlu ditambahkan zat pengatur tumbuh (ZPT)
yang akan menjadi faktor penentu arah perkembangan eksplan. Zat pengatur tumbuh
(ZPT) yang umum digunakan adalah golongan sitokinin dan auksin. Sitokinin yang
ditambahkan dalam media berfungsi untuk mendorong pembelahan sel dan
morfogenesis (Wattimena, 1988). BAP temasuk golongan sitokinin yang dapat
meningkatkan pembelahan sel, pembesaran sel dan pembentukan tunas.

1.2. Identifikasi Masalah


Adanya penelitian ini diharapkan dapat memecahkan permasalahan kualitas
dan produktivitas Plumeria rubra pada pertumbuhan jumlah pucuk. Perlu dilakukan
penelitian untuk mengetahui pengaruh ZPT BAP dan IBA dalam perbanyakan
Plumeria rubra secara in vitro.

2
1.3. Pembatasan Masalah
Penelitian ini dibatasi hingga memperoleh perlakuan optimal dari kombinasi
ZPT dalam mengkultur eksplan dari kecambah kamboja (Plumeria rubra). Penelitian
ini mengasumsikan bahwa kondisi kecambah yang digunakan sebagai eksplan dalam
tabung kultur adalah seragam, sehingga faktor waktu tidak berpengaruh dan kondisi
ruangan kultur dianggap homogen.

1.4. Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh BAP
dan IBA terhadap pertumbuhan pucuk hasil perkecambahan dan subkultur tanaman
kamboja yang merupakan bagian kegiatan kerjasama antara Balai Pengkajian
Bioteknologi BPPT dan dinas pertamanan propinsi DKI Jakarta.

1.5. Manfaat Penelitian


Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan teknologi perbanyakan tanaman
kamboja secara in vitro.

1.6. Hipotesis
Diharapkan dalam penelitian ini ZPT BAP dapat menginduksi tunas pada
eksplan Plumeria rubra, sedangkan ZPT IBA menginduksi perakaran.