Anda di halaman 1dari 12

Evaluasi dan Kritik

KEGIATAN PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN


MASYARAKAT (PNPM) MANDIRI

TUGAS MATA KULIAH


KONSEP DAN TEKNIK PERENCANAAN
(Dosen : Dr. Ir. Sitti Bulkis, MS)

IMAN TEGUH RAHARTO


P0803207514

PROGRAM PASCA SARJANA


UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2008
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Permasalahan kemiskinan yang cukup kompleks membutuhkan


intervensi semua pihak secara bersama dan terkoordinasi. Namun
penanganannya selama ini cenderung parsial dan tidak berkelanjutan. Peran
dunia usaha dan masyarakat pada umumnya juga belum optimal.
Kerelawanan sosial dalam kehidupan masyarakat yang dapat menjadi
sumber penting pemberdayaan dan pemecahan akar permasalahan
kemiskinan juga mulai luntur. Untuk itu diperlukan perubahan yang bersifat
sistemik dan menyeluruh dalam upaya penanggulangan kemiskinan.

Untuk meningkatkan efektivitas penanggulangan kemiskinan dan


penciptaan lapangan kerja, pemerintah meluncurkan Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri mulai tahun 2007. PNPM Mandiri
merupakan program nasional dalam wujud kerangka kebijakan sebagai
dasar dan acuan pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan
berbasis pemberdayaan masyarakat. Melalui PNPM Mandiri mekanisme
upaya penanggulangan kemiskinan yang melibatkan unsur masyarakat,
dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pemantauan dan
evaluasi. Melalui proses pembangunan partisipatif, kesadaran kritis dan
kemandirian masyarakat, terutama masyarakat miskin, dapat
ditumbuhkembangkan sehingga mereka bukan sebagai obyek melainkan
subyek upaya penanggulangan kemiskinan.

Pelaksanaan PNPM Mandiri tahun 2007 dimulai dengan Program


Pengembangan Kecamatan (PPK) sebagai dasar pengembangan
pemberdayaan masyarakat di perdesaan beserta program pendukungnya
seperti PNPM Generasi; Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
(P2KP) sebagai dasar bagi pengembangan pemberdayaan masyarakat di
perkotaan; dan Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus
(P2DTK) untuk pengembangan daerah tertinggal, pasca bencana, dan konflik.
Mulai tahun 2008 PNPM Mandiri diperluas dengan melibatkan Program
Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW) untuk
mengintegrasikan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dengan daerah
sekitarnya. PNPM Mandiri diperkuat dengan berbagai program
pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan oleh berbagai departemen/
sektor dan pemerintah daerah. Pelaksanaan PNPM Mandiri 2008 juga akan
diprioritaskan pada desa-desa tertinggal.

Dengan pengintegrasian berbagai program pemberdayaan masyarakat


ke dalam kerangka kebijakan PNPM Mandiri, cakupan pembangunan
diharapkan dapat diperluas hingga ke daerah-daerah terpencil dan terisolir.
Efektivitas dan efisiensi dari kegiatan yang selama ini sering berduplikasi
antar proyek diharapkan juga dapat diwujudkan. Mengingat proses

1
pemberdayaan pada umumnya membutuhkan waktu 5-6 tahun, maka PNPM
Mandiri akan dilaksanakan sekurang-kurangnya hingga tahun 2015. Hal ini
sejalan dengan target waktu pencapaian tujuan pembangunan milenium atau
Millennium Development Goals (MDGs). Pelaksanaan PNPM Mandiri yang
berdasar pada indikator-indikator keberhasilan yang terukur akan membantu
Indonesia mewujudkan pencapaian target-target MDGs tersebut.

.1.2. Tujuan

Tujuan dari PNPM Mandiri adalah meningkatnya kesejahteraan dan


kesempatan kerja masyarakat miskin secara mandiri. Sedangkan tujuan
khusus adalah sebagai berikut :
a. Meningkatnya partisipasi seluruh masyarakat, termasuk masyarakat
miskin, kelompok perempuan, komunitas adat terpencil, dan kelompok
masyarakat lainnya yang rentan dan sering terpinggirkan ke dalam proses
pengambilan keputusan dan pengelolaan pembangunan.
b. Meningkatnya kapasitas kelembagaan masyarakat yang mengakar, repre-
sentatif, dan akuntabel.
c. Meningkatnya kapasitas pemerintah dalam memberikan pelayanan
kepada masyarakat terutama masyarakat miskin melalui kebijakan,
program dan penganggaran yang berpihak pada masyarakat miskin
d. Meningkatnya sinergi masyarakat, pemerintah daerah, swasta, asosiasi,
perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, organisasi masyarakat,
dan kelompok peduli lainnya, untuk mengefektifkan upaya-upaya penang-
gulangan kemiskinan.
e. Meningkatnya keberdayaan dan kemandirian masyarakat, serta kapasitas
pemerintah daerah dan kelompok peduli setempat dalam menanggulangi
kemiskinan di wilayahnya.
f. Meningkatnya modal sosial masyarakat yang berkembang sesuai dengan
potensi sosial dan budaya serta untuk melestarikan kearifan lokal.
g. Meningkatnya inovasi dan pemanfaatan tekhnologi tepat guna, informasi
dan komunikasi dalam pemberdayaan masyarakat.

1.3. Strategi

Strategi PNPM Mandiri terdiri atas strategi dasar :


a. Mengintensifkan upaya-upaya pemberdayaan untuk meningkatkan
kemampuan dan kemandirian masyarakat.
b. Menjalin kemitraan yang seluas-luasnya dengan berbagai pihak untuk
bersama-sama mewujudkan keberdayaan dan kemandirian masyarakat.
c. Menerapkan keterpaduan dan sinergi pendekatan pembangunan
sektoral, pembangunan kewilayahan, dan pembangunan partisipatif.

Sedangkan strategi operasionalnya adalah :


a. Mengoptimalkan seluruh potensi dan sumber daya yang dimiliki
masyarakat, pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, asosiasi,
perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, organisasi masyarakat,
dan kelompok peduli lainnya secara sinergis.

2
b. Menguatkan peran pemerintah kota/kabupaten sebagai pengelola
program-program penanggulangan kemiskinan di wilayahnya;
c. Mengembangkan kelembagaan masyarakat yang dipercaya, mengakar,
dan akuntabel.
d. Mengoptimalkan peran sektor dalam pelayanan dan kegiatan
pembangunan secara terpadu di tingkat komunitas.
e. Meningkatkan kemampuan pembelajaran di masyarakat dalam
memahami kebutuhan dan potensinya serta memecahkan berbagai
masalah yang dihadapinya.
f. Menerapkan konsep pembangunan partisipatif secara konsisten dan
dinamis serta berkelanjutan.

1.4. Pengelolaan

Pengelolaan PNPM Mandiri terdiri dari persiapan, perencanaan


partisipatif, pelaksanaan kegiatan, monitoring dan pengendalian, evaluasi,
pelaporan, dan sosialisasi.

Persiapan pelaksanaan PNPM Mandiri di daerah dikoordinasikan oleh


Tim Koordinasi provinsi dan kabupaten/kota, yang meliputi antara lain
menyediakan kontribusi dana yang berasal dari anggaran daerah,
membentuk Sekretariat Tim Koordinasi PNPM Mandiri, serta membentuk
Satuan Kerja Pelaksanaan Program.

Perencanaan partisipatif dilakukan dalam proses pengambilan


keputusan pembangunan yang melibatkan masyarakat, swasta, dan
pemerintah sesuai fungsinya masing-masing. Mekanisme perencanaan
partisipatif terdiri atas perencanaan di desa/kelurahan, antar desa/kelurahan
(kecamatan), serta perencanaan koordinatif di kabupaten/kota.

Perencanaan partisipatif bertujuan untuk memberikan ruang seluas-


luasnya kepada warga masyarakat baik laki-laki maupun perempuan
terutama rumah tangga miskin untuk terlibat secara aktif dalam penggalian
gagasan atau identifikasi kebutuhan dan pengambilan keputusan
perencanaan pembangunan. Kualitas perencanaan partisipatif dapat
diketahui dari jumlah warga yang hadir, kualitas pendapat/gagasan/usulan,
serta dokumen perencanaan yang diputuskan.

Tahap pelaksanaan kegiatan dilakukan setelah proses perencanaan


selesai dan telah ada keputusan tentang pengalokasian dana kegiatan.
Pelaksanaan kegiatan meliputi pemilihan dan penetapan lembaga pengelola
kegiatan, pencairan atau pengajuan dana, pengerahan tenaga kerja,
pengadaan barang/jasa, serta pelaksanaan kegiatan yang diusulkan. Personil
lembaga pengelola kegiatan yang dipilih dan ditetapkan oleh masyarakat,
bertanggung jawab dalam realisasi fisik, keuangan, serta administrasi
kegiatan/ pekerjaan yang dilakukan sesuai rencana.

Monitoring dan Pengendalian dilakukan dengan serangkaian


kegiatan pemantauan, pengawasan, dan tindak lanjut yang dilakukan

3
untuk menjamin pelaksanaan pembangunan yang direncanakan sesuai
dengan tujuan dan sasaran yang ditetapkan dan memastikan bahwa dana
digunakan sesuai dengan tujuan program

Pemantauan dan pengawasan merupakan kegiatan mengamati


perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan, mengidentifikasi
serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan atau akan timbul.
Sedangkan tindak lanjut merupakan kegiatan atau langkah-langkah
operasional, yang perlu ditempuh berdasarkan hasil pemantauan dan
pengawasan, seperti antara lain koreksi atas penyimpangan kegiatan,
akselerasi atas keterlambatan, klarifikasi atas ketidakjelasan, dan
sebagainya, untuk memperbaiki kualitas pelaksanaan kegiatan. Pemantauan
partisipatif dilakukan oleh masyarakat, pemerintah, konsultan/ fasilitator,
berbagai pihak, dan BPKP/ Bawasda.

Evaluasi program perlu dilakukan pada akhir pelaksanaan program


yang bertujuan untuk menilai kinerja pelaksanaan, manfaat, dampak, dan
keberlanjutan kegiatan yang dilaksanakan dalam kerangka PNPM Mandiri
terhadap tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Kegiatan evaluasi ini
perlu disusun secara sistematis, obyektif, dan transparan. Kegiatan evaluasi
dilakukan berdasarkan laporan, hasil pengawasan, dan pengaduan dari
berbagai pihak.

Pelaporan PNPM Mandiri dilaksanakan secara berkala dan berjenjang


melalui jalur struktural (perangkat pemerintah) dan jalur fungsional (konsultan
dan fasilitator) guna menjamin aliran informasi secara cepat, tepat dan akurat
kepada setiap pemangku kepentingan.

Sosialisasi PNPM Mandiri bertujuan untuk memberi pemahaman


kepada perangkat pemerintahan, baik pihak eksekutif maupun legislatif,
perguruan tinggi, organisasi dan lembaga swadaya masyarakat, masyarakat
pengusaha, media massa, serta masyarakat umum lainnya.

4
BAB II
PEMBAHASAN
(KRITIK, SARAN DAN DESAIN)

2.1. Makna Partisipatoris

2.1.1. Peningkatan Kemampuan (Capability Building)

Dalam pelaksanan program PNPM Mandiri, lebih mengutamakan


keterlibatan masyarakat atau sekelompok orang dalam seluruh tahapan
proses pembangunan, termasuk penggagasan, perencanaan, implementasi,
monitoring, evaluasi dan tindak lanjut. PNPM mandiri juga merupakan
kegiatan memobilisasi anggota masyarakat untuk pembangunan, dimana
mereka terlibat secara aktif dan bekerjasama dengan fihak lain, termasuk
para penentu kebijakan, pejabat pemerintah, dan semua unsur yang terlibat
(pendekatan partisipatif adalah sebuah model kegiatan kolektif). PNPM
mandiri juga berusaha menangani langsung bagaimana membantu orang
miskin untuk memberdayakan dirinya sendiri sehingga dapat berposisi
sebagai pelaku utama pembangunan atas dirinya.

Sebagai contoh program PPK yang dilakukan PNPM Mandiri, dimana


masyarakat secara secara langsung langsung/ terwakili ikut berperan
berperan dalam dalam proses proses perencanaan perencanaan,
pelaksanaan pelaksanaan, pemanfaatan pemanfaatan dan dan pengelolaan
pengelolaan kegiatan kegiatan. Kewenangan mengambil mengambil
keputusan keputusan diikuti diikuti kewajiban kewajiban ikut ikut memantau
memantau dan dan melakukan melakukan evaluasi evaluasi terhadap
terhadap keputusan keputusan tersebut tersebut. Kesepakatan masyarakat
masyarakat yang yang diambil diambil forum-forum menjadi menjadi sebuah
sebuah aturan aturan.

Dari uraian diatas menunjukkan adanya peningkatan kemampuan


masyarakat terutama masyarakat miskin yang secara langsung berpartisipatif
untuk memberdayakan masyarakat diri sendiri dalam pembangunan
daerahnya. Masyarakat dituntut untuk mendukung perencanaan dan
pengembangan pengelolaan partisipatif di tingkat desa.

Walaupun program PNPM menekankan pengambilan keputusan


berada di tingkat paling bawah, dimana lebih memberikan kesempatan
kepada masyarakat desa untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan,
namun benarkah jenis kegiatan yang diinginkan masyarakat benar-benar
merupakan aspirasi penduduk miskin?

Berbagai kelompok utusan antar desa yang terdiri dari warga desa
yang dipilih oleh masyarakat, berwenang mengambil keputusan akhir untuk
menentukan alokasi dana bantuan, tidak menutup kemungkinan justru
merupakan aspirasi aparat desa bukan aspirasi masyarakat miskin. PNPM
memang memberikan kesempatan kepada masyarakat desa untuk

5
menentukan sendiri jenis pilihan-pilihan kegiatan yang mereka butuhkan dan
inginkan, namun apakah merupakan aspirasi masyarakat miskin yang
sesungguhnya?

Sangat disarankan bahwa dalam pelaksanaan PNPM, seyogyanya


pelaksana PNPM atau aparat desa setempat terlebih dahulu mengadakan
survei untuk mengetahui aspirasi masyarakat yang sesungguhnya, kemudian
dibahas oleh aparat desa dalam forum, kemudian diusulkan ke kecamatan.
Dengan pola seperti itu maka pemberdayaan masyarakat dan kemampuan
masyarakt terutama dalam awal perencanaan lebih optimal.

2.1.2. Penguatan Kelembagaan (Institutional Strengthening)

Kelembagaan PNPM Mandiri bertujuan untuk penguatan terhadap hak


kepemilikan dan memberi kesempatan yang sama bagi semua individu untuk
mengerjakan aktivitas, khususnya dalam meningkatkan kapasitas dan
berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi produktif. Struktur kelembagaan
PNPM Mandiri mencakup seluruh pihak yang bertanggungjawab dan terkait
dalam pelaksanaan serta upaya pencapaian tujuan PNPM Mandiri, meliputi
unsur pemerintah, fasilitator dan konsultan pendamping, serta masyarakat
baik di pusat maupun daerah.

Struktur kelembagaan PNPM terdiri dari tim koordinasi pusat, tim


koordinasi provinsi, tim koordinasi kab/kota, satuan kerja kab/kota, dan
masyarakat/ komunitas. Masyarakat membentuk atau mengembangkan
kelembagaan masyarakat yang salah satu fungsinya adalah mengelola
kegiatan di kecamatan dan desa/kelurahan. Kelembagaan di kecamatan
adalah Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) dengan Musyawarah Antar
Desa (MAD) sebagai forum tertinggi pengambilan keputusan dan Unit
Pengelola Kegiatan (UPK) sebagai pengelola yang bertanggungjawab kepada
MAD. Kelembagaan PNPM Mandiri di desa/kelurahan adalah lembaga
keswadayaan masyarakat yang dibentuk, ditetapkan oleh masyarakat, dan
bertanggungjawab kepada masyarakat melalui musyawarah
desa/kelurahan.

Dari uraian diatas terlihat begitu kuatnya kelembagaan PNPM mulai


dari tingkat pusat sampai tingkat komunitas masyarakat desa. Namun dalam
struktur kelembagaan, tim pengendalian program hanya pada tingkat pusat
saja, sedangkan di tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan sampai desa
belum ada tim pengendalian secara terstruktur, yang justru peranannya
sangat penting dalam pengawasan dan pengendalian setiap gerakan
kegiatan PNPM Mandiri dari perencanaan sampai akhir kegiatan.

2.2 Aspek Operasional Pendekatan Partisipatory

2.2.1 Penyadaran (Conscientization)

Proses penyadaran dengan memfasilitasi penanaman kesadaran kritis


dan kepekaan kepada masyarakat: Klarifikasi masalah dan identifikasi
kebutuhan, diantaranya pemahaman mengenai hubungan antara masalah

6
dan struktur sosial mereka refleksi kritis mengenai hakekat potensi dan
hambatan mereka dari segi sumberdaya, relasi sosial, nilai-nilai dan norma-
norma yang berkaitan denga masalah mereka, gambaran konkrit tentang
struktur sosial alternatif yang memungkinkan direkonstruksi, perlunya
pengakuan tentang pentingnya aksi kolektif bagi pemecahan masalah dan
pemenuhan kebutuhan.

Dalam hal ini sosialisasi PNPM Mandiri sangat perlu untuk memberi
pemahaman kepada perangkat pemerintahan, baik pihak eksekutif maupun
legislatif, perguruan tinggi, organisasi dan lembaga swadaya masyarakat,
masyarakat pengusaha, media massa, serta masyarakat umum lainnya. Hal-
hal yang disampaikan meliputi kebijakan, pengertian, tujuan, konsep,
mekanisme dan hasil-hasil pelaksanaan PNPM Mandiri agar terbangun
pemahaman, kepedulian, serta dukungan terhadap PNPM Mandiri.
Sosialisasi dan penyebarluasan informasi telah dilakukan melalui berbagai
media sosialisasi dan komunikasi secara terus menerus sepanjang
pelaksanaan program.

Namun perlu disadari bahwa untuk memberi penyadaran terhadap


masyarakat yang mungkin sebagian besar masyarakat miskin, apakah sudah
optimal. Perlu diperhatikan bahwa tingkat pemahaman masyarakat terhadap
materi yang disampaikan berbeda-beda, mengingat jenjang pendidikan
masyarakat miskin bervariasi bahkan sebagian besar berpendidikan rendah.
Untuk dalam proses penyadaran perlu bertahap dan dilakukan secara kontinu
dengan materi yang mudah dipahami dan tidak kompleks.

2.2.2 Pengorganisasian Masyarakat (Community Organizing)

Pembentukan dan pengembangan organisasi dalam komunitas


merupakan arena partisipasi komunitas, saling komunikasi, tukar pengalaman
dan pengambilan keputusan kolektif, melatih kepemimpinan yang berorientasi
prestasi serta penanaman jenis kelakukan yang berpihak pada kepentingan
kolektif, berbasis pengalaman untuk manajemen diri secara kolektif,
perlengkapan sosial untuk mengakumulasi pengalaman dalam aksi
manajemen kolektif. Hasil dari pengorganisasian dapat berbentuk kerangka
substansial untuk internalisasi nilai-nilai dan hubungan sosial alternatif dalam
komunitas lokal.

Dalam PNPM Mandiri itu sendiri perlu dibentuk organisasi seperti


forum musyawarah desa yang membahas masalah perencanaan kegiatan,
menampung segala aspirasi masyarakat, bagaimana kelanjutan sebuah
kegiatan (pemeliharaan), dan mekanisme pelaksanaan kegiatan. Walaupun
masyarakat desa tidak sepenuhnya dapat mendesain sendiri seluruh kegiatan
pembangunan desa, namun paling tidak melatih kepemimpinan dan
berorganisasi agar masyarakat desa tersebut dapat diberdayakan.

2.2.3 Penghantaran sumberdaya (Resources Delivery)

Penghantaran sumberdaya dapat berupa pemberian bantuan modal


untuk mencukupi kebutuhan dan menstimulasi pertumbuhan ekonom,

7
penyuluhan teknologi tepat guna untuk meningkatkan keterampilan yang
relevan, pelatihan menejerial untuk meningkatkan kinerja pengelolaan usaha,
pelibatan tenaga ekspert untuk mendapingi komunitas bagi akses
pengetahuan dan keterampilan teknis, dan sejenisnya

Dalam pelaksanaan berbagai kegiatan berbasis masyarakat selama ini


sering ditemukan kualitas pemberdayaan masyarakat yang tidak memadai.
Fasilitator yang mendampingi masyarakat hanya berfungsi sebagai tenaga
penyuluh teknis terkait sektor tertentu tanpa keahlian mengembangkan
kapasitas kelembagaan masyarakat. Di sisi masyarakat, hal ini
menyebabkan ketergantungan terhadap program sehingga menimbulkan
masalah terkait keberlanjutan pasca program atau proyek berakhir.
Beragamnya program dan proyek berbasis pemberdayaan masyarakat yang
dilengkapi oleh biaya untuk tenaga fasilitator/penyuluh, pelatihan, operasional
kegiatan di setiap jenjang pemerintahan, monitoring dan evaluasi, dan
sebagainya juga menimbulkan pemborosan biaya pembangunan.

2.3. Desain Pendekatan Partisipatoris yang Diusulkan

2.3.1 Pengumpulan Informasi

Perlunya pengumpulan informasi dengan melakukan pengumpulan


data dilakukan oleh anggota masyarakat. Data minimal harus menjadi prinsip,
data yang dikumpulkan harus disesuaikan dengan kegiatan yang
direncanakan peralatan pengumpulan data, format data, bentuk-bentuk survei
harus sesederhana mungkin agar mudah dipahami dan dapat ditabulasi
sendiri oleh anggota masyarakat proses pengumpulan data dilakukan dengan
cara sukarela (mobilisasi, pelatihan, perencanaan, dan manajemen).

Dengan adanya survei, maka dapat diketahui potensi dari masyarakat


desa dan apa kebutuhan masyarakat yang sebenarnya, sehingga dengan
mudah melakukan perencanaan. Apabila hanya mengandalkan perwakilan
dari masing-masing desa, seperti yang dilakukan dalam program PNPM
Mandiri, maka akan sarat kepentingan, sehingga apa yang benar-benar
dibutuhkan oleh masyarakat miskin kemungkinan tidak terwujud.

2.3.2. Identifikasi Masalah dan Kebutuhan

Dalam program pemberdayaan masyarakat perlu memperhatikan (1)


kebutuhan masyarakat, dengan memberikan prioritas kepada kebutuhan
kelompok yang lebih dominan (banyak), (2) kepentingan masyarakat dalam
menyelesaikan masalah-masalah dan kesediaannya untuk menyediakan
sumberdaya, (3). tahapan (urutan) penyelesaian masalah harus didasarkan
kepada jumlah dan besarnya masalah yang dihadapi (4). keterkaitan dengan
masalah yang satu dengan yang lain, karena mungkin masalah yang satu
dipengaruhi atau disebabkan oleh masalah lainnya.

Dengan melakukan identifikasi terlebih dahulu, maka pihak PNPM


Mandiri akan mengetahui apa yang diinginkan dan lebih diperioritaskan
kebutuhan masyarakat setempat. Sehingga dalam melakukan kegiatan

8
progr
am tidak”sia-si
a”danmengur angipembor osananggaran,kar
enases
uai
dengan apa yang menjadi masalah prioritas masyarakat.

2.3.3. Analisis Kesulitan Dan Hambatan

Strategi pembatasan dapat digunakan untuk mengidentifikasi


hambatan-hambatan yang dihadapi, karena strategi ini dapat
memformulasikan kecenderungan-kecenderungan sosial, ekonomi, dan
kondisi geografis serta ketersediaan sumberdaya. Beberapa hal penting dari
suatu strategi adalah: (1) Menetapkan tanggung jawab untuk tugas tertentu
dan menentukan jumlah dan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan. Jika
kualifikasi tenaga yang dibutuhkan tidak tersedia, maka dibentuk pelatihan
sesuai dengan kebutuhan (2) Memperhatikan kebutuhan teknis paket
pelayanan yang dibtuhkan untuk setiap jenis input (3). Melengkapi struktur
organisasi dan keterkaitan dengan instansi pemerintah untuk pelaksanaan
suatu kegiatan rencana pelaksanaan yang detail dari setiap aktivitas (4).
Menetapkan jumlah dana yang dibutuhkan, sumber-sumber pendanaan dari
pemerintah dan masyarakat (5) Mendesain sistem monitoring yang
partisipatif.

2.3.4 Penyusunan Kerangka Perencanaan Pembangunan

Tujuan ditetapkan berdasarkan hasil kajian tentang masalah yang


dihadapi oleh daerah yang bersangkutan keterkaitan antara tujuan yang
berbeda tujuan yang ditetapkan dapat diterima oleh semua komponen
masyarakat kelayakan pencapaian tujuan diuji berdasarkan ketersediaan
input (tenaga, bahan baku, pembiayaan dari pemerintah, masyarakat, swasta)
jangka waktu pencapaian tujuan harus jelas lokasinya spesifik menetapkan
kelompok sasaran.

Perlu diketahui bahwa tujuan PNPM Mandiri adalah meningkatkan


kesejahteraan masyarakat miskin dan kesempatan kerja. Hal ini seolah-olah
masy arakat mi skin hany a” diberisesuat u” saja bai k bant uan maupun
l
apangank er
ja,tapiti
dakdi berdayakan” bagai manamenc arisuatu”sehi ngga
masyarakat sejahtera karena dirinya sendiri (menolong dirinya sendiri) bukan
dari”suapan”dar ipemer intahat aupeny andangdanabant uan.Seharusnya
tuj
uan PNPM Mandi r
iy ang l ebiht epatadal ah ”mengent askan kemi ski
nan
dengan mencar ipeluang us aha” atau ” menghapusk an kemi ski
nan dan
membuka lapangan kerjay angmandi ri

2.3.5 Kerangka Kelembagaan

Kerangka kelembagaan yang dibutuhkan dalam PNPM Mandiri


seharusnya melibatkan sejumlah kelompok masyarakat (kolaborasi) yang
terdiri dari kelembagaan penduduk lokal, yaitu masyarakat miskin yang
menjadi sasaran manfaat PNPM, pemerintah, LSM, swasta, dan lembaga
internasional sebagai penyandang dana. Dengan kolaborasi masing-masing
elemen masyarakat maka pelaksanaan program PNPM yang direncanakan
akan berjalan lancar.

9
Kasus penyalanggunaan dana PNPM-PPK di Kotabumi, Lampung
Utara oleh aparat camat, dan kasus korupsi PNPM-PKK di Lebakwangi
Kuningan, Jawa Barat oleh Ketua Unit Pengelola Keuangan (UPK) PNPM-
PPK, menunjukkan minimnya kolaborasi antar elemen lembaga dan
masyarakat yang seharusnya ikut memantau dan mengawai seluruh jalannya
kegiatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan akhir
kegiatan.

Pentingnya R-O-N (sumberdaya, Organisasi dan Norma), sebagai


penentu keberhasilan sebuah kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Sumberdaya manusia tidak hanya jumlah dan kekuatan tenagakerja namun
kualitas baik fisik maupun moril perlu diperhatikan. Sumberdaya alam salah
satu obyek pembangunan, juga perlu dimanfaatkan sepanjang tidak merusak
kelestarian lama. Begitu juga sumberdaya keuangan, sebagai sumber
penggerak seluruh kegiatan program PNPM perlu adanya pengawasan yang
cukup ketat dari elemen masyarakat, agar pemanfaatnya lebih optimal dan
ti
dakdi salah gunakan.Bant uan dana PNPM bukanl ah ”bant uan bagi-bagi
uang” ,namunbagai manamemanf aat kandanaunt ukk egiatan yang berguna
bagi masyarakat miskin.

10
BAB III
PENUTUP

Dari uraian pembahasan pada bab sebelumnya maka dapat disimpulkan


sebagai berikut :
1. Program PNPM Mandiri, seperti PPK, P2KP, P4K dan EMP yang selama
ini dilaksanakan pemerintah sudah dapat dirasakan oleh masyarakat,
khususnya masyarakat miskin.
2. Program PNPM Mandiri lebih bersifat pemberdayaan masyarakat dengan
pendekatan partisipatif, daripada program-program sebelumnya PPK fase
I dan II yang bersifat partisipasi masyarakat, walaupun masih terjadi
penyimpangan.
3. Kelembagaan PNPM seyogyanya melibatkan seluruh elemen masyara-
kat, yang meliputi pemerintah, swasta, LSM, masyarakat penduduk lokal
maupun kelembagaan internasional, agar antara perencanaan dan
pelaksanaan lebih terkontrol.
4. Pentingya unsur RON (Resouce-Organization-Norm) dalam program
PNPM Mandiri sebagai penentu keberhasilan pembangunan masyarakat
yang berdaya. Sumberdaya manusia yang berkualitas, sumberdaya alam
yang cukup dan sumberdaya keuangan yang memadai, organisasi
masyarakat yang terstruktur dengan baik dan adanya norma-norma yang
mengatur menjadikan modal yang potensial bagi pembangunan
masyarakat.

11