Anda di halaman 1dari 11

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PT.

INDONESIA POWER UBP SURALAYA MERAK, BANTEN


Annida U. Ulya *), Ganjar Samudro, ST, MT **) ABSTRACT PT. Indonesia Power UBP Suralaya is one of the industry engaged in energy and power plant which is located in Merak, Banten. In the production process, PT. Indonesia Power UBP Suralaya produces liquid waste from main process or other. Thus, the company is implementing a wastewater treatment system which is better known as Waste Water Treatment Plant (WWTP) in order to treat the product of wastewater and it can be released into the sea (according to the quality standards that written in Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 08 Tahun 2009). PT. Indonesia Power UBP Suralaya used some unit operation and unit process that is rapid mix tank, reaction tank, solid contact unit, flush water tank and also sludge treatment such as sludge thickener, sludge dewatering filter press and incenerator. Wastewater treatment at PT.Indonesia Power UBP Suralaya has been able to produce effluent that is according to the quality standards, but there are some treatment that not appropriate with criteria design and need more concern about operation and maintenance.

Keywords: power plant, coal, wastewater, WWTP

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dicapai manusia saat ini mendorong aktivitas manusia yang selalu dinamis dalam berbagai bidang. Terkait dalam aspek pemenuhan kebutuhan hidup maka sektor industri semakin tumbuh di berbagai kawasan. Dalam menjalankan kegiatan atau usaha produksi, suatu industri dituntut agar dapat mengatasi permasalahan limbah yang merupakan sisa hasil dari kegiatan produksi. Oleh karena

itu, penerapan teknologi pengolahan limbah yang tepat dan sesuai dengan karakteristik limbah pada industri tersebut sangat menentukan tingkat efektivitas dan efisiensi suatu sistem pengolahan limbah. PT. Indonesia Power Unit Bisnis dan Pembangkitan (UBP) Suralaya merupakan salah unit dari perusahaan pembangkitan tenaga listrik di Indonesia yakni PT Indonesia Power. PT. Indonesia Power Unit Bisnis dan Pembangkitan (selanjutnya disingkat UBP) Suralaya yang terletak di Kecamatan Pulo Merak, Kota Cilegon memiliki tujuh pembangkit

*) Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro **) Dosen Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro

berbahan bakar utama batubara. Dalam proses produksinya, perusahaan ini menghasilkan limbah cair yang dapat menimbulkan pencemaran apabila buangan limbah industri tersebut dibuang secara langsung ke badan air penerima yakni air laut. Untuk mencegah pencemaran terhadap lingkungan maka PT. Indonesia Power UBP Suralaya menerapkan sistem pengolahan limbah cair melalui instalasi pengolahan air limbah Waste Water Treatment Plant PT. Indonesia Power UBP Suralaya. Melalui instalasi pengolahan tersebut diharapkan limbah cair dapat dibuang ke badan air penerima secara aman dan memenuhi standar baku mutu sesuai Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor B-7601/Dep.II/LH/08/2011 tentang Izin Pembuangan Air Limbah ke Laut PT. Indonesia Power UBP Suralaya. 2. Tujuan 1. Mengetahui dan mempelajari sumber-sumber limbah cair yang terdapat pada PT. Indonesia Power UBP Suralaya. 2. Mengevaluasi unit-unit serta proses pengolahan limbah cair yang terdapat di instalasi pengolahan air limbah, Waste Water Treatment Plant PT. Indonesia Power UBP Suralaya. 3. Mengkaji kualitas effluent limbah cair PT. Indonesia Power UBP Suralaya sesuai baku mutu yang digunakan. 3. Manfaat 1. Menambah pengetahuan dan wawasan mengenai proses pengolahan limbah cair industri, khususnya industri yang bergerak sebagai penghasil tenaga listrik dengan bahan bakar utama batubara.

2. Memperkenalkan dunia kerja pada salah satu bidang keahlian sarjana Teknik Lingkungan, khususnya bagi mahasiswa praktek. 3. Memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan dan keahlian yang dipelajari. 4. Ruang Lingkup Masalah 1. Sumber dan karakteristik limbah yang diolah oleh PT. Indonesia Power UBP Suralaya. 2. Proses pengolahan air limbah yang ditinjau dari segi unit fisik operasi dan unit proses kimia dari instalasi pengolahan yang ada. 3. Perbandingan kualitas effluent limbah cair PT. Indonesia Power UBP Suralaya dengan baku mutu yang terdapat pada peraturan yang digunakan. II. METODOLOGI PENELITIAN

Gambar 1. Diagram Alir Kerja Praktek

III. ANALISA DAN PEMBAHASAN 1. Sumber Limbah Cair PT. Indonesia Power UBP Suralaya merupakan perusahaan yang berdiri dibidang tenaga listrik di Indonesia. Perusahaan ini menggunakan batubara sebagai bahan baku utama untuk menghasilkan uap panas sebagai penggerak turbin yang akan menghasilkan listrik. Dalam kegiatannya, perusahaan ini menghasilkan air limbah yang diolah dan dibuang ke laut. Air buangan yang masuk ke dalam Wastewater Treatment Plant (WWTP) PT. Indonesia Power UBP Suralaya merupakan air buangan yang berasal dari air limbah proses utama. Air limbah proses utama merupakan air limbah yang berasal dari oil separator, regeneration resin Water Treatment Plant (WTP) dan Krakatau Water Treatment Plant (KWTP), air lindi dari coal storage / stockpile batubara, air limpasan dari ash valley, dan unit Sewage Treatment Plant (STP). Air limbah dari berbagai sumber tersebut ditampung atau dikumpulkan terlebih dahulu pada settling basin, kecuali air limpasan dari ash valley yang dialirkan ke settling pond sebelum diolah di Waste Water Treatment Plant (WWTP) dan dibuang ke laut melalui kanal sepanjang 1,8 km dengan lebar 10 meter dan kedalaman 4 meter.
Tabel 1. Debit Aliran Air Limbah dari Sumber

2. Karakteristik Air Limbah Industri a. Derajat Keasaman (pH) Derajat keasaman (pH) memiliki pengaruh pada proses pengolahan yang terjadi pada unit pengolahan air limbah. Hasil pengukuran dan pengujian kualitas air limbah pada inlet dan outlet WWTP menunjukkan bahwa nilai pH yang terkandung dalam air limbah sebelum masuk ke unit pengolahan berada pada kisaran normal (pH 6-9). Pengujian pH dilakukan setiap satu bulan sekali untuk inlet dan outlet dengan menggunakan alat pH meter.

Gambar 2. Grafik pH Outlet terhadap Baku Mutu

Berdasarkan grafik di atas dapat dilihat bahwa pH inlet dan outlet rata-rata sebesar 7.32 dan 7.05 sudah memenuhi baku mutu Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 160 Tahun 2011 yaitu antara 6-9. pH inlet tertinggi yaitu 7.99 pada bulan Mei 2013, sedangkan pH inlet terendah yaitu 7.0 pada bulan Juli 2013. pH outlet tertinggi yaitu 9,0 pada bulan Juli 2012, sedangkan pH outlet terendah yaitu 7,02 pada bulan September 2012. Ketidakstabilan pH menurut analisa diakibatkan dosis lime maupun ferrous sulfate sebagai koagulan yang diinjeksikan. b. Total Zat Padat Tersuspensi (TSS) TSS (Total Suspended Solid) adalah jumlah berat dalam mg/l kering lumpur yang terdapat dalam air limbah setelah mengalami pemanasan dan penyaringan dengan membran 0,45 mikron. Pengujian

TSS dilakukan setiap satu bulan sekali untuk inlet dan outlet dengan menggunakan kertas saring.

menggunakan Spectroquant

reagent

test

Cl2

dan

Gambar 3. Grafik Kualitas TSS

Gambar 5. Grafik Kualitas Cl2

Berdasarkan grafik di atas dapat dilihat bahwa TSS outlet rata-rata sebesar 17 mg/L sudah memenuhi baku mutu Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 160 Tahun 2011 yaitu 100 mg/L. TSS outlet tertinggi yaitu 60 pada bulan Juni 2012, sedangkan TSS outlet terendah yaitu 2.0 pada bulan Juli 2012. c. Minyak dan Lemak Pengujian Minyak dan Lemak dilakukan setiap satu bulan sekali untuk inlet dan outlet dengan menggunakan separating funnel dan infra red dryer.

Gambar 4. Grafik Kualitas Minyak dan


Lemak

Berdasarkan grafik di atas dapat dilihat bahwa kadar minyak dan lemak outlet rata-rata sebesar <0.2 mg/L sudah memenuhi baku mutu Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 160 Tahun 2011 yaitu 10 mg/L. d. Klorin Bebas (Cl2) Pengujian untuk menentukan kadar Klorin Bebas (Cl2) dilakukan setiap satu bulan sekali untuk inlet dan outlet dengan

Berdasarkan grafik di atas dapat dilihat bahwa kadar Klorin Bebas (Cl2) outlet rata-rata sebesar 0.017 mg/L sudah memenuhi baku mutu Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 160 Tahun 2011 yaitu 0.5 mg/L. Kadar Klorin Bebas (Cl2) inlet tertinggi yaitu 0.71 mg/L pada bulan April 2013, sedangkan kadar Klorin Bebas (Cl2) inlet terendah yaitu 0.01 mg/L bulan Mei 2013. Kadar Klorin Bebas (Cl2) outlet tertinggi yaitu 0.07 pada bulan April 2013, sedangkan kadar Klorin Bebas (Cl2) outlet terendah yaitu 0.01 pada bulan Mei 2013. e. Khromium Total (Cr) Berdasarkan grafik di atas dapat dilihat bahwa kadar Khromium Total (Cr) inlet dan outlet rata-rata sebesar <0.00312 mg/L sudah memenuhi baku mutu Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 160 Tahun 2011 yaitu 0.5 mg/L. Kadar Khromium Total (Cr) outlet tertinggi yaitu 0.02, sedangkan kadar Khromium Total (Cr) outlet terendah yaitu <0.00312.

Gambar 6. Grafik Kualitas Cr

f.

Tembaga (Cu) Berdasarkan grafik di atas dapat dilihat bahwa kadar Tembaga (Cu) inlet dan outlet rata-rata sebesar <0.00864 dan 0.019 mg/L sudah memenuhi baku mutu Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 160 Tahun 2011 yaitu 1 mg/L. Kadar Tembaga (Cu) outlet tertinggi yaitu 0.0892 pada bulan Maret 2013, sedangkan kadar Tembaga (Cu) outlet terendah yaitu <0.00864. Kenaikan kadar Cu yang mungkin terjadi diakibatkan oleh korosi logam pada pipa pengaliran serta sumber inlet tembaga yang berasal dari Boiler Blowdown (CBD Tank) dan sumber lainnya.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 160 Tahun 2011 yaitu 3 mg/L. Kadar Besi Terlarut (Fe) outlet tertinggi yaitu 0.185 pada bulan Juli 2013, sedangkan kadar Besi Terlarut (Fe) outlet terendah yaitu 0.00306. Kenaikan kadar besi dapat terjadi karena diakibatkan oleh adanya korosi pipa pengaliran oleh kesadahan non karbonat (Ca(OH)2) pada air akibat penambahan lime serta penambahan koagulan FeSO4 berlebih. h. Seng (Zn) Berdasarkan grafik di atas dapat dilihat bahwa kadar Seng (Zn) inlet dan outlet rata-rata sebesar <0.00851 dan 0.054 mg/L sudah memenuhi baku mutu Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 160 Tahun 2011 yaitu 1 mg/L. Kadar Seng (Zn) outlet tertinggi yaitu 0.00785 pada bulan Desember 2012, sedangkan kadar Seng (Zn) outlet terendah yaitu <0.00851.

Gambar 7. Grafik Kualitas Cu

g.

Besi Terlarut (Fe) Pengujian untuk menentukan kadar Besi Terlarut (Fe) dilakukan setiap satu bulan sekali untuk inlet dan outlet dengan menggunakan reagent test Fe dan Spectroquant. i.

Gambar 9. Grafik Kualitas Seng

Fosfat Total (PO4) Pengujian untuk menentukan kadar Fosfat Total (PO4) dilakukan setiap satu bulan sekali untuk inlet dan outlet dengan menggunakan UV Spektrometer.
Gambar 8. Grafik Kualitas Fe

Berdasarkan grafik di atas dapat dilihat bahwa kadar Besi Terlarut (Fe) inlet dan outlet rata-rata sebesar 0.387 dan 0.050 mg/L sudah memenuhi baku mutu

Gambar 10. Grafik Kualitas Fosfat

Berdasarkan grafik di atas dapat dilihat bahwa kadar Fosfat Total (PO4) inlet dan outlet rata-rata sebesar 0.01 dan 0.032 mg/L sudah memenuhi baku mutu Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 160 Tahun 2011 yaitu 10 mg/L. Kadar Fosfat Total (PO4) outlet tertinggi yaitu 0.16 pada bulan Juni 2012, sedangkan kadar Fosfat Total (PO4) outlet terendah yaitu 0.01. Nilai fosfat yang sama antara inlet dan outlet dapat dipengaruhi oleh penambahan koagulan seperti FeSO4 yang dosisnya tidak tepat. 3. Unit Pengolahan Limbah Cair Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Industri yang terdapat di PT. Indonesia Power biasa disebut dengan Waste Water Treatment Plant (WWTP). WWTP Heavy Metal Reduction System ini berfungsi untuk mengurangi kadar logam berat pada limbah yang berasal dari sumber-sumber limbah yang ada di PT. Indonesia Power UBP Suralaya. WWTP didesain untuk mengolah air limbah sehingga didapatkan effluent treated water pada outlet yang telah memenuhi nilai baku mutu sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51/MENLH/10/1995. Pada prinsipnya, pengolahan limbah cair PT. Indonesia Power UBP Suralaya dikelompokkan menjadi 3 bagian yaitu: pengolahan primer (primary treatment), pengolahan sekunder (secondary treatment) dan pengolahan lumpur (sludge handling).

Gambar 11. Neraca Massa Air Limbah

a. Rapid Mix Tank Rapid Mix Tank yang terdapat pada WWTP PT Indonesia Power UBP Suralaya ini berbentuk silinder terbuka dengan ukuran diameter 4500 mm dan tinggi 6100 mm serta dilengkapi mixer sebagai pengaduk mekanis. Pada unit ini terdapat penambahan ferrous sulfate (Fe2SO4) dan lime (Ca(OH)2) sebagai koagulan. Ferrous sulfate membutuhkan alkalinitas dalam bentuk ion hidroksida agar menghasilkan reaksi yang cepat. Senyawa Ca(OH)2 ditambahkan untuk meningkatkan pH sampai titik tertentu dimana ion Fe2+ diendapkan sebagai Fe(OH)3. Berikut reaksinya: 2FeSO4.7H2O + 2Ca(OH)2 + 1/2O2 2 Fe(OH)3(s) + 4CO2 + 2CaSO4+13H2O
Tabel 2. Perbandingan Desain Rapid Mix Tank dengan Kriteria Desain

b. Reaction Tank Reaction Tank merupakan tangki yang berfungsi untuk mempercepat reaksi dan pencampuran antara koagulan dengan air limbah sehingga koagulan dapat mengikat zat pencemar dalam air limbah. Tangki ini memiliki diameter 6500 mm

dan tinggi 6100 mm serta dilengkapi dengan satu buah mixer dan blower.
Tabel 3. Perbandingan Desain Reaction Tank dengan Kriteria Desain

e. Sludge Thickener Sludge thickener merupakan tangki berbentuk silinder terbuka yang dilengkapi dengan scrapper dan memiliki ukuran diameter 8000 mm dan tinggi 3000 mm.
Tabel 5. Perbandingan Sludge Thickener dengan Kriteria Desain

c. Solid Contact Unit Solid Contact Tank merupakan tangki berbentuk silinder terbuka dengan diameter 12000 mm dan tinggi 6000 mm. Tangki ini dilengkapi dengan satu buah mixer tipe turbin untuk pengadukan dan satu buah scrapper. Dalam operasionalnya, terdapat injeksi Sodium Sulfide (Na2SO3) pada pipa yang menghubungkan reaction tank dengan solid contact tank, serta penambahan alum sulfate (Al2(SO4)3 dan polymer.
Tabel 4. Perbandingan Desain SCU dengan Kriteria Desain

f. Sludge Dewatering Filter Press Filter Press merupakan unit yang berfungsi untuk mengeringkan dan menghilangkan kandungan air yang masih terdapat pada lumpur. Filter press ini dilengkapi dengan plate, frame filter press dan pipa injeksi larutan polymer kation. Filter Press akan menghasilkan sludge cake yang masih memiliki kadar air 3 %. Nantinya sludge cake yang masih mengandung logam berat tersebut akan diangkut ke incinerator untuk dibakar. Kondisi eksisting saat ini unit filter press tidak digunakan.
Tabel 6. Perbandingan Filter Press dengan Kriteria Desain

d. Flush Water Tank Flush Water Tank merupakan tangki berbentuk silinder terbuka yang berfungsi untuk menerima aliran dari tangki Solid Contact Tank dan mengalirkannya ke pipa outlet dengan cara limpasan (seperti prinsip pada toilet). Tangki ini memiliki ukuran diameter 3000 mm dan tinggi tangki 4000 mm.

g. Incenerator Insenerator merupakan unit akhir penanganan lumpur yang berfungsi untuk

membakar lumpur yang dihasilkan dari proses pengolahan air limbah. Kondisi yang ada di lapangan saat ini unit insenerator tidak digunakan karena ijin penggunaan incinerator sedang dalam perpanjangan dan belum keluar. IV. KESIMPULAN 1. Sumber air limbah yang terdapat di PT. Indonesia Power UBP Suralaya berasal dari Regenerasi Resin WTP & KWTP, air limpasan coal stockpile, air hasil pengolahan Sewage Treatment, dan oil separator yang dikumpulkan terlebih dahulu di settling basin. Serta air limpasan dari ash valley yang dikumpulkan di settling pond. Karakteristik air limbah yang diolah merupakan air limbah dengan kandungan logam berat didalamnya. Pengolahan air limbah dilakukan setiap hari kerja dengan 8 jam pengoperasian WWTP dan debit air yang diolah mencapai 393,5 m3/hari. 2. Unit yang terdapat pada Waste Water Treatment Plant (WWTP) PT. Indonesia Power UBP Suralaya terdiri dari: Rapid Mix Tank, Reaction Tank, Solid Contact Tank dan Flush Water Tank. Pada unit Rapid Mix Tank, terdapat ketidaksesuaian nilai Td dan G bila dibandingkan dengan kriteria desain. Sementara unit-unit lainnya telah memenuhi kriteria desain. Pada WWTP juga terdapat unit pengolahan lumpur berupa unit Sludge Thickener, Sludge Dewatering Filter Press dan Incinerator. Namun, ketiga unit tersebut sedang tidak dapat digunakan karena unit sludge

thickener dan sludge dewatering filter press mengalami kerusakan. Sementara unit incinerator tidak dapat digunakan karena sedang dalam proses perpanjangan ijin penggunaannya. Pengolahan air limbah pada instalasi WWTP ini ditujukan untuk menyisihkan kandungan logam berat pada air limbah. Instalasi WWTP ini dikelola oleh Divisi Mutu dan Lingkungan dan dirancang bekerja secara otomatis melalui panel yang dihubungkan dengan sistem pada komputer di ruang operator. 3. Baku mutu yang digunakan perusahaan ini mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 8 Tahun 2009 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pembangkit Listrik Tenaga Termal. Effluen Waste Water Treatment Plant (WWTP) PT. Indonesia Power UBP Suralaya telah memenuhi baku mutu yaitu pH, TSS, Minyak dan Lemak, Klorin Bebas (Cl2), Kromium Total (Cr), Tembaga (Cu), Besi (Fe), Seng (Zn) dan Phospat (PO4). Sementara itu, dari hasil pengujian praktikan bagi parameter air limbah yakni BOD5 dan COD diketahui nilai kedua parameter tersebut telah memenuhi baku mutu berdasarkan Keputusan Walikota Cilegon No. 4 Tahun 2002 mengenai Baku Mutu Limbah Cair Bagi Industri. V. SARAN 1. Dilakukan pengukuran debit air limbah pada inlet air limbah yang memasuki unit pengolahan WWTP PT. Indonesia Power UBP

Suralaya. Pemasangan flowmeter dapat diletakkan pada pipa inlet sebelum air limbah memasuki rapid mix tank. Hal ini bertujuan untuk mengetahui volume total air limbah yang masuk ke WWTP sehingga dapat dibandingkan dengan jumlah air limbah yang dibuang. 2. Perlu dilakukan penentuan dosis koagulan yang akan digunakan pada pengolahan air limbah secara tepat sehingga tidak terdapat pemborosan dalam pemakaian koagulan. Penentuan dosis koagulan dapat dilakukan melalui analisa menggunakan jar test. 3. Pengecekan parameter air limbah oleh petugas internal WWTP PT. Indonesia Power UBP Suralaya sebaiknya dilakukan secara rutin dengan pengujian kualitas air limbah secara lengkap menggunakan metode yang tepat. 4. Pemeliharaan unit-unit WWTP PT. Indonesia Power UBP Suralaya sebaiknya dilakukan secara berkala dan memiliki standar pemeliharaan yang ditentukan berdasarkan kondisi eksisting unit pengolahan air limbah. Selain itu, dilakukan perbaikan terhadap unit-unit maupun perlatan pendukung WWTP PT. Indonesia Power UBP Suralaya yang tidak berfungsi sehingga mengoptimalkan kinerja WWTP. Unit-unit tersebut antara lain mixer, blower maupun scrapper yang tidak berfungsi dengan baik, air compressor dan seperangkat unit sludge treatment (sludge thickener dan filter press) sehingga lumpur dari hasil

pengolahan air limbah dapat tertangani lebih lanjut. 5. Perlu adanya pengecekan dan kalibrasi terhadap pompa injeksi koagulan untuk mengoptimalkan dosis penambahan koagulan. DAFTAR PUSTAKA Darmasetiawan, Martin. 2001. Teori dan Perencanaan Instalasi Pengolahan Air. Bandung : Yayasan Suryono (dalam laporan Kerja Praktek: Septyana, Ian. 2012. Pengolahan Limbah Cair PT. Chandra Asri Petrochemical Kota Cilegon. Prodi Teknik Lingkungan:UNDIP) Eckenfelder Jr, W. Wesley. 2000. Industrial Water Pollution Control, Singapore : McGraw Hill Book Company. Kawamura, Susumu. 1991. Integrated Design of Water Treatment Facilities. Canada : John Wiley & Sons, Inc. Lin, Shun Dar. 2007. Water and Wastewater Calculations Manual. 2nd ed. USA : Mc Graw-Hill Co. Liu, David H.F. 1997. Environmental Engineers Handbook. New York : Lewis Publishers. Manik, K.E.S. 2003. Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta : Penerbit Djambatan (dalam laporan Kerja Praktek: Rezagama, Arya. 2008. Pengolahan Limbah Cair PT. Indonesia Power UBP Semarang. Prodi Teknik Lingkungan:UNDIP) Montgomery, James M. 1985. Water Treatment Principles and Design. Canada : John Wiley and Sons Inc (dalam laporan Kerja Praktek: Rezagama, Arya. 2008. Pengolahan Limbah Cair PT.

Indonesia Power UBP Semarang. Prodi Teknik Lingkungan:UNDIP) Reynolds, Tom D. 1982. Unit Operation and Proses in Environmental Engineering. California : Wadsworth Inc. Rezagama, Arya. 2008. Laporan Kerja Praktek: Pengolahan Limbah Cair PT. Indonesia Power UBP Semarang. Prodi Teknik Lingkungan:UNDIP Santika, Sri Sumestri dan Alaerts. 1984. Metode Penelitian Air. Surabaya : Usaha Nasional (dalam laporan Kerja Praktek: Rezagama, Arya. 2008. Pengolahan Limbah Cair PT. Indonesia Power UBP Semarang. Prodi Teknik Lingkungan:UNDIP) Sawyer, C.N, McCarty, P.L, Parkin , G.F. 2003. Chemistry for Environmental Engineering and Science. 5th ed. Singapore : Mc. Graw Hill. Septyana, Ian. 2012. Laporan Kerja Praktek: Pengolahan Limbah Cair PT. Chandra Asri Petrochemical Kota Cilegon. Prodi Teknik Lingkungan:UNDIP Siregar, Sakti A. 2005. Instalasi Pengolahan Air Limbah. Yogyakarta : Penerbit Kanisius (dalam laporan Kerja Praktek: Septyana, Ian. 2012. Pengolahan Limbah Cair PT. Chandra Asri Petrochemical Kota Cilegon. Prodi Teknik Lingkungan:UNDIP) Sugiharto. 1987. Dasar-Dasar Pengolahan Air Limbah. Universitas Indonesia Press. Jakarta (dalam laporan Kerja Praktek: Septyana, Ian. 2012. Pengolahan Limbah Cair PT. Chandra Asri Petrochemical Kota Cilegon. Prodi Teknik Lingkungan:UNDIP)

Tchobanoglous, George. 2003. Wastewater Engineering : rd Treatment and Reuse.4 ed. New York : McGraw Hill Book Company. Turovsky, Izrail S dan Mathai, P.K. 2006. Wastewater Sludge Processing. New Jersey : John Wiley and Sons, Inc (dalam laporan Kerja Praktek: Rezagama, Arya. 2008. Pengolahan Limbah Cair PT. Indonesia Power UBP Semarang. Prodi Teknik Lingkungan:UNDIP).