Anda di halaman 1dari 2

Dalam Undang-Undang OJK Nomor 21 tahun 2011, memang diatur didalamnya mengenai pengenaan iuran kepada pelaku industri.

OJK sendiri dibentuk dan dilandasi dengan prinsip-prinsip tata kelola yang baik, yang meliputi independensi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, transparansi, dan kewajaran. OJK sendiri beroperasi secara penuh pada tahun 2014. Pada tahun 2013 OJK hanya mengawasi dan mengatur lembaga jasa keuangan non bank. Kehadiran OJK menjadi pro dan kontra diberbagai macam kalangan masyarakat. Banyak yang menaruh harapan dengan kehadiran OJK, bahwa kehadirannya bisa menciptakan iklim pengawasan dan pengaturan yang lebih baik ketimbang regulator sebelumnya yang melakukan. Namun, tidak sedikit pula yang menentang kehadiran OJK. Apalagi, kehadiran OJK dinilai banyak orang hanya memasukan tiga lembaga kedalam satu rumah. Artinya, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan tinggal dalam satu rumah yang bernama OJK.

Prinsip who gains, pays (ethic dilemma) Kehadiran otoritas diperlukan oleh semua pihak yang memanfaatkan jasa keuangan; baik nasabah maupun industri itu sendiri. Kehadiran otoritas akan membantu mengamankan transaksi dan sekaligus meminta perlindungan kepada otoritas atas transaksi yang dilakukan. Bahkan merupakan salah satu komponen biaya transaksi. Kehadiran otoritas ini juga dibutuhkan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Karena biasanya keuntungan usaha lembaga keuangan hanya digunakan untuk internal atau pemegang sahamnya saja. Namun di sisi lain, apabila lembaga keuangan ini bermasalah malah bisa menggunakan dana publik melalui suntikan dana APBN (bail out) sehingga menjadi beban masyarakat. Dengan menggunakan prinsip who gains, pays, maka biaya operasional otoritas secara rasional ditanggung renteng oleh para pelaku transaksi. Namun memang harus selektif. Nasabah yang dikatakan sebagai productive poor tentu saja tidak adil apabila harus dibebani biaya ini. Di sisi lain, lembaga keuangan sangat besar yang bersifat sistemik tentu saja memilki kepentingan lebih besar kepada stabilitas sistem keuangan.
Masalah pengenaan iuran oleh OJK juga menuai pro dan kontra yang tajam. Banyak kalangan yang tidak menyetujui hal tersebut, namun terkendala karena UU OJK memperbolehkan hal tersebut. Ini menjadi dilema manakala Pemerintah seakan meminta kepada OJK untuk memenuhi biaya hidupnya sendiri dengan mengenakan iuran kepada pelaku industri.

Disisi lain pelaku industry menilai bahwa, apabila pemerintah ingin menyediakan system pengawasan bagi industry keuangan, seharusnya pemerintah yang menyediakan dananya. Apabila dibebankan ke industry, maka secara tidak langsung industry akan membebankan biaya yang dibebankan oleh OJK kepada masyarakat juga (misalnya biaya OJK akan dimasukan oleh bank ke dalam perhitungan bunga, sehingga biaya bunga akan lebih tinggi ), sehingga secara tidak langsung akan membebani masyarat juga. Selain itu pula isu independsi juga menjadi hal yang penting KESIMPULAN