Anda di halaman 1dari 5

RISIKO NEGARA (COUNTRY RISK) INDONESIA

Latar Belakang Masalah Setelah pertumbuhan pesat dalam utang internasional negara-negara berkembang di Tahun 1970an - dan meningkatnya insiden penjadwalan kembali utang pada awal Tahun 1980, risiko negara yang mencerminkan kemampuan dan kemauan suatu negara untuk layanan keuangannya telah menjadi topik yang menjadi perhatian utama bagi dunia internasional (Cosset and Roy, 1991). Seperti juga peristiwa menggemparkan yang terjadi pada tanggal 11 September 2001, risiko yang terkait dalam hubungan internasional telah meningkat secara substansial, dan menjadi lebih sulit untuk dianalisis dan diprediksi bagi para pengambil keputusan di bidang ekonomi, keuangan dan politik. Investor internasional juga menyadari bahwa globalisasi perdagangan dunia dan keterbukaan pasar modal menimbulkan risiko yang dapat menyebabkan krisis finansial dengan contagion effect yang cepat, sehingga mengancam stabilitas sektor finansial internasional (Hoti, 2002). Oleh karena itu pentingnya risiko negara ditegaskan oleh keberadaan beberapa instansi besar negara rating risiko, yaitu Economist Intelligence Unit, Euromoney, Institutional Investor, International Country Risk Guide, Moody's, Political Unit, dan lain-lain. Tingginya indeks risiko negara Indonesia mempunyai dampak terhadap lemahnya perekonomian negara Indonesia yang ditunjukkan oleh turunnya investasi di Indonesia. Dengan demikian perlu dilakukan upaya menciptakan stabilitas sosial-politik ekonomi keuangan dan penciptaan rasa aman dalam berinvestasi agar risiko negara relatif tidak membahayakan kegiatan perekonomian secara keseluruhan sehingga dapat memulihkan kepercayaan bagi investor baik investor asing maupun domestik. Secara umum, sebuah negara kreditur menghadapi risiko utang negara yang lebih besar ketika memberikan pinjaman kepada negara lain, dibandingkan ketika melakukan investasi dalam negeri. Dalam publikasinya paling baru; IMD-World Competitiveness Year Book, memang menunjukkan adanya kenaikan ranking daya saing Indonesia; dari ranking 49 menjadi 47, namun di antara negara ASEAN tetap yang terendah. Posisi baru Indonesia tersebut jauh lebih rendah dibanding posisi tahun 1997 ketika krisis belum melanda Indonesia. Indonesia masih termasuk

ke dalam negara dengan pertumbuhan slow motion dan volatile. Perkiraan yang pesimistik ini berkaitan masih tingginya posisi country risk (risiko negara) Indonesia. Pengertian Risiko Negara Risiko dapat di definisikan sebagai bahaya yang dapat terjadi akibat sebuah proses yang sedang berlangsung atau kejadian yang akan datang . Risiko adalah ketidakpastian atas terjadinya suatu peristiwa (Soekarto). Menurut Prof Dr.Ir. Soemarno,M.S. Suatu kondisi yang timbul karena ketidakpastian dengan seluruh konsekuensi tidak menguntungkan yang mungkin terjadi disebut risiko. Risk is the possibility of loss (Risiko adalah kemungkinan kerugian). Istilah possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa berada diantara nol dan satu. Namun, definisi ini kurang cocok dipakai dalam analisis secara kuantitatif. Risk is uncertainty (Risiko adalah ketidakpastian).Uncertainty dapat bersifat subjective dan objective. Subjective uncertainty merupakan penilaian individu terhadap situasi risiko yang didasarkan pada pengetahuan dan sikap individu yang bersangkutan. Risiko negara adalah risiko yang timbul karena perubahan ekonomi atau politik suatu negara yang berdampak pada negara lain yang akan berhubungan dengan negara tersebut; misalnya, kekurangan cadangan devisa suatu negara akan menyebabkan keterlambatan pembayaran pinjaman kepada bank kreditur di negara lain (Bank Indonesia). Risiko negara (Country risk) merupakan potensi risiko sistematis yang dimiliki suatu negara di mana investasi dilakukan. Penilaian Risiko Negara Fungsi utama dari penilaian risiko negara adalah untuk mengantisipasi kemungkinan penolakan utang, default atau penundaan dalam pembayaran oleh sovereign borrowers (Burton and Inoue, 1985). Penilaian risiko negara mengevaluasi ekonomi, keuangan, dan politik faktor, dan interaksi mereka dalam menentukan risiko terkait dengan negara tertentu. Persepsi faktorfaktor penentu risiko negara penting karena mereka mempengaruhi pasokan dan biaya arus modal internasional (Brewer and Rivoli, 1990). Sejak krisis utang dunia ketiga pada awal tahun 1980, lembaga komersial seperti

Moody's, Standard and Poor's, Euromoney, Institutional Investor, Economist Moody, Standard dan Poor, Euromoney, Institutional Investor, Ekonomic Intelligence Unit, International Country Risk Guide, and Political Risk Services, menyusun indeks atau peringkat sebagai ukuran risiko negara. Dalam hal ini, ICRG telah melakukan pemeringkatan risiko ekonomi, risiko finansial dan risiko politik dan composite risk untuk 90 negara dengan basis bulanan. Sejak Maret 2002, telah tersedia peringkat negara sebanyak 140 negara. Sistem pemeringkatan ICRG terdiri dari 22 variabel yang mewakili komponen utama country risk, yaitu risiko ekonomi, risiko finansial dan risiko politik. Dalam menetapkan tingkat risiko negara, ICRG memperhitungkan tiga jenis risiko: risiko keuangan (financial risk) dengan bobot 25 persen, risiko ekonomi (economic risk) (25 persen) dan risiko politik (political risk) (50 persen). Pembobotan itu menggambarkan bahwa komponen risiko politik mendominasi dibandingkan dengan risiko finansial dan ekonomi. Karena itu, apabila destabilitas politik meningkat, maka country risk pun akan meningkat secara signifikan. Faktor ini; khususnya unsur political risk, jelas tidak bisa diabaikan. Risiko politik ini telah menjadi variabel fundamental non- ekonomi yang berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia (Insukindro:Asian Crisis: a Global Perspective, 1998). Mengikuti konsep penilaian yang digunakan oleh International Country Risk Guide (ICRG), dalam menelaah pengaruh risiko politik tersebut, ada indikator-indikator penting yang menjadi kunci tergoncangnya stabilitas politik. Beberapa indikator tersebut menjadi stabilitas pemerintahan, konflik internal, profil investasi termasuk pada kelompok indikator yang mempunyai bobot paling tinggi. Kemudian, korupsi, konflik agama, hukum dan peraturan, serta peran militer, termasuk pada kelompok kedua. Risiko politik secara umum dilihat sebagai risiko non-bisnis yang diperkenalkan oleh kekuatan politik. Bank dan perusahaan multinasional lainnya telah mengidentifikasi risiko politik sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi profitabilitas usaha internasional mereka (Shanmugam, 1990). Risiko politik muncul dari peristiwa seperti perang, konflik internal dan eksternal, sengketa teritorial, revolusi yang menyebabkan perubahan pemerintahan, serangan teroris di seluruh dunia, faktor sosial termasuk kerusuhan sipil karena perbedaan ideologis, distribusi pendapatan yang tidak merata dan bentrokan agama.

Shanmugam (1990) memperkenalkan alasan eksternal sebagai aspek politik lebih lanjut dari risiko negara. Misalnya, jika negara calon peminjam utang terletak di samping sebuah negara yang sedang berperang, tingkat risiko negara calon peminjam akan lebih tinggi daripada jika tetangganya yang damai. Meskipun negara peminjam tersebut mungkin tidak secara langsung terlibat dalam konflik, tetapi dimungkinkan ada sebuah efek yang akan mempengaruhinya. Dalam istilah praktis, risiko politik berkaitan terhadap kemungkinan bahwa pemerintah dapat mengenakan valuta asing dan modal kontrol, pajak tambahan, dan pembekuan aset atau pengambil alihan. Keterlambatan dalam transfer dana dapat memiliki konsekuensi serius bagi hasil investasi, impor pembayaran dan penerimaan ekspor, yang semuanya dapat menyebabkan penghapusan investasi. (Juttner, 1995) Secara empiris banyak studi menunjukkan stabilitas politik merupakan faktor yang berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, sebagaimana ditunjukkan oleh Alesina dan Peroti (The Political Economy of Growth: A Critical Survey of Recent Literature, The World Bank Economic Review 1994 No 3). Ketidakstabilan politik berkorelasi positif dengan tingkat inflasi dan berkorelasi negatif dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Risiko politik dihitung berdasarkan 12 variabel, yaitu stabilitas pemerintahan, kondisi sosial-ekonomi, profil investasi, konflik internal, konflik eksternal, korupsi, politik militer, politik agama, penegakan hukum, konflik etnis, akuntabilitas demokrasi dan kualitas birokrasi. Selain itu, Risiko ekonomi dan keuangan juga komponen utama dari risiko negara. Termasuk faktor-faktor seperti kemerosotan dalam produksi, peningkatan yang cepat dalam biaya produksi, dana asing tidak produktif diinvestasikan, dan kebijaksanaan pinjaman oleh bank asing (Nagy, 1988). Perubahan ekonomi dan pengelolaan keuangan negara juga merupakan faktor penting yang dapat mengganggu aliran bebas modal atau sewenang-wenang dapat mengubah pilihan untuk investasi. Investor asing langsung juga prihatin terhadap gangguan untuk produksi, kerusakan pada instalasi, dan ancaman terhadap personil (Juttner, 1995). Risiko keuangan memperlihatkan kemampuan suatu negara dalam mengelola keuangan pemerintah, dan kemampuan dalam membayar kewajiban-kewajiban utang perdagangan. Risiko finansial dihitung berdasarkan 5 variabel, yaitu persentase utang luar negeri terhadap PDB, debt

service ratio, persentase current account terhadap ekspor, import cover, dan stabilitas nilai tukar (persentase perubahan nilai tukar). Sedangkan risiko ekonomi memperlihatkan penilaian terhadap kekuatan dan kelemahan ekonomi suatu negara. Risiko ekonomi dikalkulasi berdasarkan lima variabel, yaitu PDB per kapita, pertumbuhan PDB riil per tahun, laju inflasi per tahun, persentase budget balance terhadap PDB dan persentase current account terhadap PDB.