Anda di halaman 1dari 13

ANALISIS RISIKO NEGARA (COUNTRY RISK ANALYSIS)

TUGAS KELOMPOK

ANNISA RAHMATIKA HASBY ISNAENI RAHMAT NOFIANRE NOVA MULA SUCI OKTOPANI

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU 2014

ANALISIS RISIKO NEGARA (COUNTRY RISK ANALYSIS) 1. Pengertian Risiko Negara Risiko dapat didefinisikan sebagai bahaya yang dapat terjadi akibat sebuah proses yang sedang berlangsung atau kejadian yang akan datang. Risiko adalah ketidakpastian atas terjadinya suatu peristiwa (Soekarto). Menurut Prof. Dr. Ir. Soemarno.,M.S risiko merupakan suatu kondisi yang timbul karena

ketidakpastian dengan seluruh konsekuensi tidak menguntungkan yang mungkin terjadi. Risiko negara adalah risiko yang timbul karena perubahan ekonomi atau politik suatu negara yang berdampak pada negara lainyang akan berhubungan dengan negara tersebut misalnya kekurangan cadangan devisa suatu negara akan menyebabkan keterlambatan pembayaran pinjaman kepada bank kreditur di Negara lain. Risiko negara (country risk) merupakan potensi risiko sistematis yang dimiliki suatu negara dimana investasi dilakukan.

2. Mengapa Analisis Risiko Negara itu Penting ? Risiko negara adalah potensi atau kemungkinan dampak buruk dari lingkungan suatu negara pada arus kas perusahaan multinasional.Analisis risiko negara dapat digunakan untuk memantau negara-negara dimana perusahaan multinasional saat ini melakukan bisnis atau beroperasi. Jika tingkat risiko negara dari suatu negara tertentu mulai meningkat, perusahaan multinasional

dapatmempertimbangkan untuk mendivestasi anak perusahaan yang berlokasi di Negara tersebut. Perusahaan multinasional juga dapat menggunakan analisis

risiko negara sebagai alat atau sarana pemilihan untuk menghindari melakukan usaha di negara dengan tingkat risiko yang tinggi.Peristiwa yang meningkatkan risiko negara cenderung mencegah investasi asing langsung di negara tertentu. Analisis risiko negara tidak terbatas pada prediksi krisis utama.Sebuah perusahaan multinasional mungkin juga menggunakan analisis ini untuk merevisi keputusan investasi atau keputusan keuangan terkait dengan peristiwa baru-baru ini.Kejadian atau peristiwa internasional yang tidak terkait berikut ini mungkin terjadi di seluruh dunia seperti: serangan teroris, pemogokan yang dilakukan oleh buruh industri secara besar-besaran, krisis politik akibat skandal dalam suatu negara, kekhawatiran tentang sistem Perbankan suatu negara yang dapat menyebabkan major outflow of fund, pembatasan perdagangan impor. Salah satu peristiwa ini dapat mempengaruhi arus kas potensial yang akan dihasilkan oleh perusahaan multinasional atau pendanaan biaya proyek dan hal itu bisa mempengaruhi nilai perusahaan multinasional. Meskipun perusahaan multinasional mengurangi eksposur-nya terhadap peristiwa tersebut, namun

peristiwa lain dapat terjadi. Untuk setiap peristiwa, perusahaan multinasional harus mempertimbangkan apakah arus kas-nya akan terkena dampak dan apakah terdapat perubahan kebijakan yang harus ditanggapi perusahaan multinasional. Analisis risiko negara merupakan proses berkelanjutan. Sebagian besar perusahaan multinasional tidak akan terkena dampak seluruh peristiwa tersebut, tetapi perusahaan multinasional akan memperhatikan peristiwa yang mungkin berdampak pada industry atau negara dimana perusahaan multinasional tersebut beroperasi. Perusahaan multinasional juga memahami bahwa perusahaan tidak

dapat menghilangkan eksposur atas semua peristiwa tetapi paling tidak berupaya untuk membatasi eksposur atas peristiwa yang terjadi di negara tertentu. 3. Mengukur Risiko Negara Bentuk dari resiko politik yaitu pengontrolan perdagangan atau mata uang, perubahan kebijakan pajak atau ketenagakerjaan, pembatasan atas kebijakankebijakan, dan kebutuhan atas produksi lokal.Bentuk yang terparah adalah pengambilalihan suatu property asing dengan atau tanpa kompensaasi oleh suatu Negara atau expropriation.Dua pendekatan dasar untuk memahami resiko negara yaitu dari spesifik suatu negara atau spesifik instansi. Stabilitas Politik Indikator ini berfungsi untuk menentukan berapa lama rezim suatu Negara akan bertahan dan kejelasan keinginanrezim tersebut untuk mendatangkan investasi asing dan menjamin kelangsungan investasi tersebut. Faktor Ekonomi Indikator lain yang sering digunakan risiko politik termasuk faktor ekonomi seperti tingkat inflasi, keseimbangan deficit dan surplus pembayaran, pertumbuhan per kapita. Faktor ekonomi ini dijadikan sebagai indikasi apakah ekonomi suatu Negara dalam keadaan baik atau memerlukan perbaikan yang akan menjadi pertimbangan bagi investor asing. Faktor Subjektif Persepsi perilaku suatu negara terhadap perusahaan swasta, apakah akan menolak keberadaan perusahaan swasta atau mendorong perkembangannya.

4. Elemen Risiko Politik Perusahaan multinasional harus menilai risiko Negara tidak hanya Negara tempat perusahaan multinasioanl tersebut beroperasi, tetapi juga Negara dimana perusahaan multinasional akan mengekspor atau mendirikan cabang atau anak perusahaan. Beberapa karakteristik risiko suatu Negara dapat secara signifikan mempengaruhi kinerja dan perusahaan multinasional harus mempertimbangkan besarnya pengaruh karakteristik tersebut. Bentuk risiko Negara yang

ekstrimmemungkinkan bahwa Negara setempat akan mengambilalih anak perusahaan. Pada beberapa kasus pengambilalihan, sejumlah kompensasi diberikan dengan jumlah yang ditentukan oleh Negara setempat. Pada kasus lain, asset disita tanpa diberikan kompensasi. Berikut merupakan bentuk umum risiko politik : 1. Sikap Konsumen di Negara Setempat Bentuk risiko politik yang paling ringan (bagi seorang eksportir) adalah kecenderungan warga atau masyarakat untuk membeli barang produksi local saja.Meskipun eksportir memutuskan untuk mendirikan anak perusahaan di Negara asing.Filosofi warga atau masyarakat tersebut dapat menghalangi keberhasilan perusahaan multinasional.Seluruh Negara memiliki

kecenderungan untuk mendorong konsumen untuk membeli produk dari produsen local.Perusahaan multinasional yang mempertimbangkan untuk memasuki pasar asing harus memonitor kesetiaan pelanggan terhadap produk local. Jika konsumen sangat setia dengan produk local, maka strategi kerja sama dengan perusahan lokal mungkin lebih menguntungkan dibandingkan dengan ekspor.

2. Tindakan Pemerintah Setempat Berbagai tindakan pemerintah setempat dapat mempengaruhi arus kas suatu perusahaan multinasional. Misalnya; pemerintah setempat dapat mengenakan standar pengendalian polusi yang mempengaruhi biaya dan pajak perusahaan tambahan yang pada akhirnya akan berpengaruh pada laba setelah pajak. Beberapa perusahaan multinasional menggunakan tingkat pergantian pejabat pemerintah atau filosofi negara sebagai pendekatan atas risiko politik suatu negara. Meskipun hal ini dapat mempengaruhi secara signifikan arus kas masa depan, namun bukan merupakan cerminan risiko politik yang layak. Anak perusahaan tidak selalu terpengaruh oleh pergantian pemerintahan. Selain itu, suatu anak perusahaan dapat dipengaruhi oleh kebijakan baru pemerintah setempat atau perubahan sikap terhadap Negara asal anak perusahaan meskipun pemerintah setempat tidak berisiko akan diganti. Pemerintah setempat dapat menggunakan berbagai cara untuk mengarahkan operasional perusahaan multinasional agar sejalan dengan tujuan. Selain itu, pemerintah dapat mengharuskan atau mewajibkan fasilitas social atau pengendalian tertentu.Seluruh tindakan ini mencerminkan risiko politik dalam hal tindakan tersebut mencerminkan karakteristik politik suatu Negara yang dapat mempengaruhi kas Perusahaan Multinasional. 3. Pembatasan Pengiriman Dana Anak perusahaan dari Induk Perusahaan sering kali mengrim dana kembali ke kantor pusat untuk melunasi pinjaman, pembelian perlengkapan, beban administrasi atau tujuan lainnya. Pada beberapa kasus, pemerintah setempat dapat memblokir pengiriman dana yang akan memaksa anak perusahaan

melakukan proyek

yang tidak optimal. Alternatif lain, Perusahaan

Multinasional dapat menginvestasikan dana dalam sekuritas local untuk memperoleh imbal hasil sementara dana yang sedang diblokir. Namun, pengembalian tersebut mungkin lebih kecil dari yang dapat diperoleh jika dana dikirim kembali ke anak perusahaan. 4. Mata Uang yang Tidak Dapat Ditukar Beberapa pemerintahan tidak mengizinkan mata uang setempat ditukar menjadi mata uang lainnya.Karenanya, laba yang dihasilkan oleh anak perusahaan pada negara tersebut tidak dapat dikirim kembali pada induk perusahaan melalui pertukaran mata uang.Jika mata uang tidak dapat ditukar, maka induk perusahaan harus menukar uang tersebut dengan barang untuk memperoleh keuntungan dari proyek yang dilakukan di negara tersebut. 5. Perang Beberapa negara memiliki kecenderungan untuk terlibat konflik

berkepanjangan dengan negara tetangganya atau sedang mengalami kekacauan di dalam negeri. Hal ini dapat mempengaruhi keselamatan dari karyawan di anak perusahaan atau tenaga pemasaran yang berusaha memenuhi pasar ekspor bagi Perusahaan Multinasional. Selain itu, Negara yang terancam perang umumnya memiliki siklus bisnis yang fluktuasi sehingga arus kas Perusahaan Multinasional yang berasal dari Negara tersebut menjadi lebih tidak pasti.Serangan teroris ke Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001 memberikan dampak buruk karena kemungkinan eksposur dari serangan teroris terutama jika anak perusahaan berlokasi di negara yang penduduknya Anti-Amerika Serikat.Meskipun Perusahaan Multinasional tidak

terkena dampak perang secara langsung, Perusahaan Multinasional mungkin perlu mengeluarkan biaya untuk menjamin keselamatan

karyawannya.Meningkatnya suku bunga karena banyaknya dana yang dibutuhkan untuk membiayai pengeluaran militer juga dikhawatirkan oleh Perusahaan Multinasional. Beberapa prediksi lebih pesimis juga

memperkirakan kemungkinan biaya perlengkapan yang lebih tinggi dan kemungkinan dampak tingginya inflasi atau suku bunga Amerika Serikat terhadap kurs. Dengan mempertimbangkan seluruh ketidakpastian ini, Perusahaan Multinasional membatasi ekspansinya hingga dampak perang terhadap harga minyak, defisit penganggaran antara negara lain sudah lebih jelas. 6. Birokrasi Faktor atau elemen risiko Negara lainnya adalah birokrasi pemerintah yang dapat mempersulit bisnis Perusahaan Multinasional.Meskipun terlihat tidak relevan, faktor ini merupakan penentu utama bagi Perusahaan Multinasional saat mempertimbangkan proyek di Eropa Timur pada awal tahun 1990-an. Beberapa pemerintah Eropa Timur tidak terlalu berpengalaman dalam memfasilitasi masuknya Perusahaan Multinasional ke pangsa pasar mereka. 7. Korupsi Korupsi dapat berdampak negatif pada bisnis internasional Perusahaan Multinasional karena akan meningkatkan biaya untuk melakukan usaha atau mengurangi pendapatan Perusahaan Multinasional. Berbagai bentuk korupsi dapat terjadi antar perusahaan atau antar perusahaan dengan pemerintah. Misalnya; suatu Perusahaan Multinasionalakan kehilangan pendapatan karena

kontrak pemerintah diberikan kepada perusahaan lokal yang menyuap pegawai pemerintah. Namun Undang-Undang korupsi dan penerapannya berbeda di setiap negara.Namun sebagai contoh di Amerika Serikatitu sangat ilegal untuk melakukan pembayaran ke pejabat tinggi pemerintah dengan mengharapkan imbalan berupa bantuan politik, tetapi sah bagi perusahaan Amerika Serikat untuk berkontribusi dalam kampanye pemilihan.

5. Tehnik Penilaian Risiko Negara Setelah perusahaan mengidentifikasi seluruh faktor mikro dan faktor makro yang perlu dipertimbangkan dalam penilaian risiko suatu negara, perusahaan tersebut mungkin ingin mengimplementasikan sistem untuk mengevaluasi faktor tersebut dan menentukan peringkat risiko suatu negara. Berikut ini merupakan beberapa tehnik yang umum digunakan : 1. Pendekatan Daftar Isian (Checklist Approach) Pendekatan daftar isian melibatkan dalam membuat penilaian atas seluruh faktor politik dan keuangan (baik makro maupun mikro) yang memiliki kontribusi dalam penilaian risiko negara oleh suatu perusahaan.Peringkat dibuat pada daftar berbagai faktor keuangan dan politik dan peringkat ini lalu dikonsolidasikan untuk memperoleh penilaian risiko negara secara

keseluruhan. Beberapa faktor (seperti pertumbuhan PDB riil) dapat diukur dari data yang tersedia, sementara data lain (seperti kemungkinan terjadinya perang) harus diukur secara subjektif. Terdapat banyak informasi tentang suatu negara di internet.Informasi ini dapat digunakan untuk membuat peringkat dari berbagai faktor yang

digunakan untuk menilai risiko negara.Faktor ini lalu dikonversi menjadi beberapa peringkat numeric untuk menilai negara tertentu.Faktor yang dianggap memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap risiko negara harus diberikan bobot yang lebih tinggi. 2. Tehnik Delphi (Delphi Technique) Tehnik Delphi melibatkan pengumpulan opini independen mengenai risiko negara tanpa melakukan diskusikelompok dari para penilai (seperti karyawan atau konsultan luar) yang memberikan opini. Meskipun tehnik Delphi dapat bermanfaat, namun tehnik ini berdasarkan opini subjektif yang akan berbeda bagi tiap penilai. 3. Analisis Kuantitatif (Quantitative Analysis) Setelah variabel keuangan dan politik diukur untuk suatu periode waktu, model analisis kuantitatif dapat digunakan untuk mengidentifikasi

karakteristik yang mempengaruhi tingkat risiko negara. Misalnya; analisis regresi dapat digunakan untuk menilai risiko karena analisis ini dapat mengukur sensitivitas satu variabel terhadap variabel lain. Meskipun model kuantitatif dapat mengukur dampak variabel lain terhadap variabel lain secara kuantitatif, namun model initidak selalu dapat memberikan indikasi adanya masalah pada suatu Negara sebelum masalah tersebut terjadi (terutama sebelum keputusan perusahaan untuk melaksanakan proyek di Negara tersebut). Model ini juga tidak dapat mengevaluasi data subjektif yang tidak selalu dapat dinyatakan secara kuantitatif. Selain itu tren historis dari berbagai karakteristik Negara tidak selalu bermanfaat untuk mengantisipasi krisis yang akan datang.

10

4. Kunjungan Pemeriksaan (Inspection Visit) Kunjungan pemeriksaan melibatkan kunjungan ke suatu Negara dan pertemuan dengan official pemerintah, eksekutif bisnis dan atau

konsumen.Pertemuan seperti ini dapat mengklarifikasikan beberapa opini perusahaan yang tidak pasti mengenai suatu negara.Memang beberapa variabel seperti hubungan antar Negara mungkin sulit untuk dinilai tanpa kunjungan ke negara setempat. 5. Kombinasi Berbagai Tehnik (Combination of Technique) Penelitian dari 193 perusahaan yang banyak melakukan bisnis asing menemukan bahwa lebih dari separuh perusahaan tersebut tidak memiliki metode formal untuk menilai risiko Negara.Namun hal ini tidak berarti bahwa mereka mengabaikan penilaian risiko Negara, namun tidak ada metode yang paling unggul untuk digunakan. Akibatnya, banyak Perusahaan Multinasional menggunakan berbagai tehnik, bisa menggunakan pendekatan daftar isian untuk membuat peringkat risiko Negara secara menyeluruh, lalu

menggunakan tehnik delphi, analisis kuantitatif, dan kunjungan pemeriksaan untuk memberikan peringkat atas berbagai faktor tersebut.

11

ILUSTRASI 1. Lyondell co kimia. menghadapi risiko politik luar negeri Operasi dan ekspor ke pasar luar negeri internasional tunduk pada sejumlah risiko, termasuk fluktuasi nilai tukar mata uang, hambatan perdagangan, kontrol devisa, pemogokan buruh nasional dan regional, riskks politik dan risiko kenaikan cukai dan pajak, serta perubahan dalam undangundang dan kebijakan yang mengatur operasi perusahaan-perusahaan berbasis asing. di samping itu, pendapatan dari anak perusahaan asing dan pembayaran antar mungkin tunduk pada aturan pajak penghasilan luar negeri yang dapat mengurangi arus kas yang tersedia untuk memenuhi pembayaran utang dan kewajiban lainnya yang diperlukan perusahaan.

2. Hongkong Kehilangan Posisi Nomor Satu Pada bulan Mei tahun 2000, unit intelijen ekonomi (satuan ekonomi ini) menurunkan hong kong ke posisi enam dari pertama dalam peringkat tahunan dari tempat terbaik di dunia untuk melakukan bisnis dalam lima tahun. menurut EIU, karena penyerahan kota ke Cina pada tahun 1997, gangguan politik Cina dan erosi bertahap aturan hukum telah mengurangi reputasi hong kong untuk kebijakan pasar bebas. salah satu faktor mengkhawatirkan, kata EIU, adalah pada sampel datanya bahwa pemerintah akan memberikan perlakuan prefential kepentingan Cina dengan mengorbankan bisnis asing.

.Dampak Krisis Ukraina Perusahaan-perusahaan global yang berbisnis di Rusia dan Ukraina mulai

terkena dampak krisis Ukraina. Korporasi-korporasi ini dalam dekade terakhir, terpikat melakukan bisnis di negara tersebut pasca runtuhnya Uni Soviet, terutama di sektor manufaktur dan barang-barang konsumsi.

McDonald's misalnya, telah memiliki 400 gerai di Rusia dan 73 di Ukraina. PepsiCo adalah sesama perusahaan asal AS yang beroperasi skala besar di Rusia. Saham kedua perusahaan tersebut turun 1 persen pada Senin (3/3/2014). Perusahaan lain, terutama yang bergerak di sektor energi terpukul lebih keras.
12

Jelas saja, Rusia adalah salah satu negara penghasil energi terbesar dunia yang melayani permintaan energi Eropa. Saham BP turun 28 persen dalam perdagangan di London. Perusahaan migas Inggris itu memegang saham dengan jumlah cukup signifikan di perusahaan energi lokal Rosneft, yang anjlok 5 persen pada Senin di perdagangan Moskow.

Saham Royal Dutch Shell yang mengeksplorasi shale gas di ladang minyak Yuzivska di Ukraina, anjlok lebih dari 1 persen. Adapun perusahaan energi asal Finlandia Fortum kehilangan 3,5 persen sahamnya. Exxon Mobile yang juga beroperasi di Rusia, kehilangan hampir 1 persen saham.

DAFTAR PUSTAKA Madura, Jeff, International Financial Management, 9th Edition, South Western Publishing, New York, 2008. Saphiro, Alan C., Multinational Financial Management, 8th Edition, John Wiley & Son INC, New York http://dhillovers.blogspot.com/2013/04/risiko-negara-country-risk-indonesia.html http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/03/04/1123106/Perusahaan.Global. Terimbas.Krisis.Ukraina

13