Anda di halaman 1dari 20

20

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Secara industri hidrogen diperoleh dari reaksi bolak-balik antara uap air dengan metana atau minyak bumi ringan melalui katalis nikel yang diaktifkan pada suhu 750 C. Disosiasi hidrogen saat endoterm, dan hal ini sebagian menerangkan kereaktifannya yang rendah pada suhu rendah. Hidrogen (bukan karbon) membentuk lebih banyak senyawa daripada unsur lainnya. Karena alasan ini dan yang lain, banyak aspek dan kimia hidrogen diatas diulas dimana-mana. Asam berproton dari ion hidrogen dalam air dan sebagainya. Ikatan hidrogen kuat membentuk harga oleh molekul-molekul yang mengandung nitrogen, oksigen ataupun flour. Derajat asosiasi molekul meningkat dengan turunnya temperatur pada ikatan hidrogen, perbedaan gaya-gaya tarik molekul ini yang menyebabakan zat murni dicerminkan oleh titik leleh dan titik didih zat-zat ini. Bukanlah pernyataan yang berlebih-lebihan bila dikatakan bahwa ikatan hidrogen memungkinkan adanya kehidupan ini. Organisme hidup bertahan melalui serangkaian reaksi kimia yang menyangkut struktur rumit seperti DNA dan protein ikatan. Ikatan tertentu dalam ikatan ini dapat terputus atau mudah terbentuk dengan mudah. Hanya ikatan hidrogen mempunyai energi yang tepat untuk melakukan hal ini. Oleh karena itu, percobaan mengenai ikatan hidrogen ini penting dilakukan untuk memperlihatkan bahwa ikatan yang terjadi dari suatu reaksi dapat diukur suhunya. Selain itu, untuk mengetahui kereaktifan suatu ikatan hidrogen yang terjadi pada kloroform dan aseton dengan melihat perubahan suhunya yang terjadi antara kedua senyawa tersebut dengan menggunakan alat kalorimeter.

20

21

1.2 Tujuan Percobaan Menentukan jumlah kalor yang diserap oleh kloroform dan aseton. Menentukan jumlah kalor yang diserap oleh kalorimeter. Menentukan jumlah kalor pembentukan ikatan hidrogen. Menentukan massa aseton dan kloroform pada percobaan. Mengetahui kekuatan ikatan hidrogen dibandingkan dengan ikatan yang lain.

1.3 Prinsip Percobaan Prinsip percobaan penentuan ikatan hidrogen ini yaitu berdasarkan perbedaan keelektronegatifan yang dimiliki oleh suatu unsur yang berikatan dengan atom hidrogen sehingga membentuk ikatan hidrogen. Dimana ikatan hidrogen merupakan gaya tarik antara molekul yang terjadi antara dua molekul yang berbeda dimana atom hidrogen dapat berikatan dengan atom F, O dan N. Dalam hal ini menggunakan aseton dan kloroform dan aseton yang di dalam kalorimeter terjadi penyerapan kalor membentuk ikatan hidrogen dan mengalami perubahan suhu. Dimana dalam percobaan ini menggunakan sistem kalorimeter yang sistem kerjanya berdasarkan proses adiabatik yaitu tidak ada kalor yang keluar maupun masuk ke dalam sistem sehingga proses ikatan hidrogen yang terjadi di dalam sistem tersebut stabil dan sempurna.

21

22

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


Alkohol merupakan senyawa seperti air yang satu hidrogennya diganti oleh rantai atau cincin hidrokarbon. Sifat fisis alkohol, alkohol mempunyai titik didih yang tinggi dibandingkan alkana-alkana yang jumlah atom C nya sama. Hal ini disebabkan antara molekul alkohol membentuk ikatan hidrogen. Rumus umum alkohol R-OH, dengan R adalah suatu alkil baik alifatis maupun siklik. Dalam alkohol, semakin banyak cabang semakin rendah titik didihnya, sedangkan dalam air, metanol, etanol, propanol mudah larut dan hanya butanol yang sedikit larut. Alkohol dapat berupa cairan encer dan mudah bercampur dengan air dalam segala perbandingan (Brady, 1999). Berdasarkan jenisnya, alkohol ditentukan oleh posisi atau letak gugus OH pada rantai karbon utama karbon. Ada tiga jenis alkohol antara lain alkohol primer, alkohol sekunder dan alkohol tersier, alkohol primer yaitu alkoholnya yang gugus OH nya terletak pada C primer yang terikat pada dua atom C yang lain. Alkohol tersier adalah alkohol yang gugus -OH nya terletak pada atom C tersier yang terikat langsung pada tiga atom C yang lain (Fessenden, 1997). Alkohol alifatik merupakan cairan yang sifatnya sangat dipengaruhi oleh ikatan hidrogen. Dengan bertambah panjangnya rantai, pengaruh gugus hidroksil yang polar terhadap sifat molekul menurun. Sifat molekul yang seperti air berkurang, sebaliknya sifatnya lebih seperti hidrokarbon. Akibatnya alkohol dengan bobot molekul rendah cenderung larut dalam air, sedangkan alkohol berbobot molekul tinggi tidak demikian. Alkohol mendidih pada temperatur yang cukup tinggi, sebagai suatu kelompok senyawa, fenol memiliki titik didih dan kelarutan yang sangat bervariasi, tergantung pada sifat subtituen yang menempel pada cincin benzene (Petrucci, 1987).

22

23

Reaksi-reaksi yang terjadi dalam alkohol antara lain reaksi substitusi, reaksi eliminasi, reaksi oksidasi dan esterifikasi. Dalam suatu alkohol, semakin panjang rantai hidrokarbon maka semakin rendah kelarutannya. Bahkan jika cukup panjang sifat hidrofob ini mengalahkan sifat hidrofil dari gugus hidroksil, banyaknya gugus hidroksil. Banyaknya gugus hidroksil dapat memperbesar kelarutan dalam air (Hard, 1990). Suatu alkohol primer dapat dioksidasi menjadi keton saja. Sedangkan pada alkohol tersier menolak oksidasi dengan larutan basa, dalam larutan asam, alkohol mengalami dehidrasi menghsilkan alkena yang kemudian di oksidasi

(Fessenden,1997). Beberapa oksidasi dari alkohol antara lain: a. Oksidasi menjadi aldehid Hasil oksidasi mula-mula dari alkohol primer adalah suatu aldehid (RCH=O). Aldehid siap di oksidasi menjadi asam karboksilat. Oleh sebab itu rekasi antara alkohol primer dengan zat oksidator kuat akan menghasilkan asam karboksilat dan bukan intermediet aldehid. Pereaksi tertentu harus dipakai apabila intermediet aldehid merupakan hasil yang diinginkan. b. Oksidasi menjadi keton, suatu alkohol sekunder dioksidasi oleh oksidator yang reaktif kuat menjadi keton. c. Oksidasi menjadi asam karboksilat, suatu oksidator kuat yang umum dapat mengoksidasi alkohol primer menjadi asam karboksilat. Oksidator umum: Larutan panas KMnO4 + OHLarutan panas CrO3 + H2SO4 (pereaksi Jones).

Reaksi umum: RCH2OH R-C-OH Asam karboksilat (Hart, 1999).

23

24

Ikatan hidrogen merupakan ikatan yang banyak kita jumpai di alam, misalnya ikatan pada protein, DNA dan air. Adanya ikatan hidrogen menimbulkan sifat-sifat khusus pada senyawa, misalnya pada protein dan double helix pada DNA.

Ikatan hidrogen dibentuk pada waktu ikatan polar (misalnya OH atau NH). Mengadakan interaksi dengan atom elektronegatif (misalnya Oksigen, Flour atau klor). Interaksi ini dapat digambarkan sebagai berikut: A-H ----- B

Ikatan hidrogen dimana A-H adalah ikatan polar dan B adalah atom elektronegatif. Dalam percobaan ini akan diamati besarnya kekuatan ikatan hidrogen yang terjadi antara kloroform (tikloro metana) dan aseton atau metal etil keton. ikatan hidrogen ditentukan dengan menggunakan kalorimeter. Reaksi adalah sebagai berikut:

Cl Cl C Cl
aseton.

CH3 H +O C CH3 Cl

Cl C Cl

Ikatan Hidrogen

CH3 C CH3 + Panas

Adanya pembentukkan panas menunjukkan terjadinya ikatan antara kloroform dan

(http://ach3com-blogspot.com/2011/10/penentuan-kekuatan-ikatan-hidrogen.html) Air sebagai contoh sempurna ikatan hidrogen. Harus diperhatikan bahwa tiap molekul air dapat berpotensi membentuk empat ikat hidrogen dengan molekul air di sekelilingnya. Terdapat jumlah hidrogen S+ yang pasti dan pasangan mandiri karena itu tiap masing-masing molekul air dapat terlibat dalam ikatan hidrogen. Hal inilah yang menjadi sebab kenapa titik didih air lebih tinggi dibandingkan amonia atau hidrogen flourida. Pada kasus amonia, jumlah ikatan hidrogen dibatasi oleh fakta bahwa tiap atom nitrogen hanya mempunyai satu pasang elektron mandiri. Pada

24

25

golongan molekul amonia, tidak terdapat cukup pasangan mandiri untuk mengelilinginya untuk memuaskan semua ikatan hidrogen. Dalam kimia, ikatan hidrogen adalah sejenis gaya tarik antarmolekul yang terjadi antara dua muatan listrik parsial dengan polaritas yang berlawanan. Walaupun lebih kuat dari kebanyakan gaya antar molekul, ikatan hidrogen jauh lebih lemah dari ikatan kovalen dan ikatan ion. Dalam makromolekul seperti protein dan asam nukleat, ikatan ini dapat terjadi antara dua bagian dari molekul yang sama, dan berperan sebagai penentu bentuk molekul keseluruhan yang penting. Ikatan hidrogen terjadi ketika sebuah molekul memiliki atom N, O, atau F yang mempunyai pasangan elektron bebas (lone pair electron). Hidrogen dari molekul lain akan berinteraksi dengan pasangan elektron bebas ini membentuk suatu ikatan hidrogen dengan besar ikatan bervariasi mulai dari yang lemah (1-2 KJ mol-1) hingga tinggi (> 155 KJ mol-1). Kekuatan ikatan hidrogen ini dipengaruhi oleh perbedaan elektronegativitas antara atom-atom dalam molekul tersebut. Semakin besar perbedaannya semakin besar ikatan hidrogen yang terbentuk. Ikatan hidrogen mempengaruhi titik didih suatu senyawa, semakin besar ikatan hidrogennya, semakin tinggi titik didihnya. Namun, khusus pada air (H2O), terjadi dua ikatan hidrogen pada tiap molekulnya. Akibatnya jumlah total ikatan hidrogennya lebih besar daripada asam florida (HF) yang seharusnya memiliki ikatan hidrogen terbesar (karena paling tinggi perbedaan elektronegativitasnya) sehingga titik didih air lebih tinggi daripada asam florida. Ketika sebuah substansi ionik dilarutkan dalam air, molekul air berkelompok disekeliling ion yang terpisah. Proses ini disebut hidrasi. Air sering kali terikat pada ion positif melalui ikatan koordinasi (kovalen datif). Air berikatan dengan ion negatif menggunakan ikatan hidrogen. Ikatan hidrogen adalah sejenis gaya tarik antara molekul yang terjadi antara dua muatan listrik parsial dengan polaritas yang berlawanan. Walaupun lebih kuat dari kebanyakan gaya antar molekul, ikatan hidrogen jauh lebih lemah dari ikatan kovalen dan ikatan ion. Dalam makromolekul seperti protein dan asam nukleat dapat 25

26

terjadi antara dua bagian dari molekul yang sama dan berperan sebagai penentu bentuk molekul keseluruhan yang penting. (http://id.wikipedia.org/wiki/ikatan_hidrogen) Gaya Van der Waals dalam ilmu kimia merupakan pada salah satu jenis gaya antar molekul, dan hingga saat ini masih kadang digunakan dalam pengertian tersebut, tetapi saat ini lebih umum merujuk pada gaya-gaya yang timbul dari polarisasi molekul menjadi dipol. Gaya Van der Waals: gaya tarik diantara atom atau molekul, gaya ini lebih lemah dibandingkan gaya yang timbul karena ikatan valensi dan besarnya ialah 10-7 kali jarak antara atom-atom atau molekul-molekul. Gaya ini menyebabkan sifat tak ideal pada gas dan menimbulkan energi kisi pada kristal molekular. Ada tiga hal yang menyebabkan gaya ini: 1. Interaksi dwikutub-dwikutub, yaitu tarikan elektrostatistik diantara dua molekul dengan momen dwikutub permanen. 2. Interaksi dwikutub imbasan, artinya dwikutub timbul karena adanya polarisasi oleh molekul tetangga. 3. Gaya dispersi yang timbul karena dwikutub kecil dan bersifat sekejap dalam atom.

26

27

BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN


3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat-alat - Kalorimeter - Termometer - Corong kaca - Stopwatch - Gelas ukur - Pipet tetes - Botol reagen - Botol semprot

3.1.2 Bahan-bahan - Aquadest - Aseton - Kloroform (CHCl3) - Tissue - Serbet

3.2 Prosedur Percobaan - Dipasang alat kalorimeter dengan benar - Diukur 10 mL aseton - Diukur 10,8 mL kloroform - Dimasukkan aseton ke dalam kalorimeter - Ditutup kalorimeter - Diukur suhu awal aseton

27

28

- Dikocok aseton selama 4 menit - Diukur suhu aseton saat pengocokan setiap 30 detik - Diukur suhu awal kloroform - Dimasukkan kloroform ke dalam kalorimeter pada menit ke-4 - Dikocok terus menerus - Diukur suhu campuran pada saat pengocokan tiap 30 detik sampai menit ke-8 - Dicatat suhunya

28

29

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Tabel Pengamatan Waktu (menit) 0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 4,0 Suhu (oC) 30 oC 29 oC 29 oC 29 oC 30 oC 30 oC 30 oC 30 oC
Penambahan kloroform

Waktu (menit) Suhu campuran 4,5 5,0 5,5 6,0 6,5 7,0 7,5 8,0

Suhu (oC) 28 oC 32 oC 31 oC 31 oC 31 oC 31 oC 31 oC 31 oC

4.2 Reaksi Aseton (CH3)2 CO + kloroform (CHCl3)


Ikatan Hidrogen

Cl Cl C Cl H +O

CH3 C CH3 Cl

Cl C Cl

CH3 C CH3 + Panas

4.3 Perhitungan T0 aseton = 30 oC = 30 + 273 oK = 303 oK T0 kloroform = 31 oC = 31 + 273 oK = 304 oK V aseton = 10 mL V kloroform = 10,8 mL kloroform = 1,49 gr/mL 29

30

aseton = 0,79 gr/mL C CHCl3 = 0,96 J/gr C aseton = 2,22 J/gr C kloroform = 2,74 J/gr

4.3.1 Massa kloroform dan aseton M CHCl3 = x V = 1,49 gr/mL x 10,8 mL = 16,092 gram M aseton = x V = 0,79 gr/mL x 10 mL = 7,9 gram

4.3.2 Jumlah kalor yang diserap CHCl3 dan aseton t = = = = 30,75 oC

= 303,75 + 273 oK = 303,75 oK Q CHCl3 = m.c (T T CHCl3) = 16,092 gr . 2,74 J/k (303,75 k 304 k) = 16,092 gr . 2,74 J/k (-0,25 k) = -11,023 J Q aseton = m.c (T T aseton) = 7,9 gr . 2,74 J/k (303,75 k 303 k) = 7,9 gr . 2,74 J/k (0,75 k) = 16,234 J

4.3.3 Jumlah kalor yang diserap oleh kalorimeter Q kal = C kal x (T T aseton) = 2,74 J/k x (303,75 k 303 k) = 2,74 J/k x 0,755 k = 2,055 J

30

31

4.3.4 Kalor pembentukan larutan hidrogen Q IH = Q kal + Q aseton + Q CHCl3 = 2,055 J + 16,234 J + (-11,023) J = 7,266 J 4.3.5 H Ikatan hidrogen per mol Mol CHCl3 = = = 0,135 mol

Mol aseton = = = 0,158 mol

Mol = = = = 0,146 mol

H 1 mol = QIH x = 7,266 J x = = 49,77 J/mol

31

32

4.4 Grafik 4.4.1 Grafik Aseton

Aseton
30 30 30 30 29 29 29 29 29 28 0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 4,0 Waktu (menit)

4.4.2 Grafik Aseton + Kloroform

Suhu (C)

Aseton dan Kloroform


33 32 Suhu (C) 31 30 29 28 27 26 4,5 5,0 5,5 6,0 6,5 7,0 7,5 8,0 Waktu (menit)

4.5 Pembahasan Ikatan hidrogen adalah sejenis gaya tarik antar molekul yang terjadi antara dua muatan listrik parsial dengan polaritas yang berlawanan. Walaupun lebih kuat dari kebanyakan gaya antar molekul, ikatan hidrogen jauh lebih lemah dari ikatan 32

33

kovalen dan ikatan ion. Dalam makromolekul seperti protein dan asam nukleat, ikatan ini dapat terjadi antara dua bagian dari molekul yang sama dan berperan sebagai penentu bentuk molekul keseluruhan yang penting. Reaksi eksoterm adalah reaksi yang energi yang dilepas kekelingkungan atau dari sistem kekelingkungan yang menyebabkan panas dan reaksi endoterm adalah reaksi yang energi kalornya diserap oleh sistem atau dari lingkungan ke sistem. Dengan kata lain menyerap panas. Proses adiabatis adalah proses perubahan suatu keadaan dimana tidak ada kalor yang masuk atau kalor yang keluar dari sistem (Q=0). Proses adiabatis bisa terjadi pada sistem tertutup yang terisolasi dengan baik seperti dalam kalorimeter. Ikatan kovalen yaitu ikatan yang terbentuk dari dua atom yang memakai elektron bersama misalnya atom hidrogen masing-masing memiliki satu elektron. Dua atom akan membentuk molekul hidrogen (H2) setelah kedua elektronnya membentuk satu ikatan. Jadi, setiap pasangan elektron patungan yang menghasilkan satu ikatan kovalen. Perbedaan antara ikatan kovalen polar dan ikatan kovalen non polar: Ikatan kovalen polar 1. Bentuk molekul yang terjadi tidak simetris 2. Penyebaran elektron tidak merata 3. Terdapat pasangan elektron bebas disekitar atom bebas 4. Beda keelektronegatifan antara atom yang berikatan sangat besar. Ikatan kovalen non polar 1. Bentuk molekul yang terjadi simetris 2. Penyebaran elektron merata 3. Tidak terdapat pasangan elektron bebas disekitar atom pusat 4. Beda keelektronegatifan antara atom yang berikatan sangat kecil dan mendekati nol.

33

34

Sifat fisik dan kimia aseton, yaitu: Berupa cairan Tidak berwarna Rumus molekul CH3COCH3 Massa molar 58,008 gr/mol Berat molekul 600,1 gr/mol Densitas 0,79 gr/cm3 Titik leleh -94,9 oC Titik didih 56,53 oC Viskositas 0,32 cP pada 20 oC Sifat fisika dan kimia kloroform , yaitu: Rumus molekul CHCl3 Berupa cairan Bersifat higroskopis (mudah menguap) Massa molar 119,38 gr/mol Densitas 1,48 gr/cm3 Titik lebur -63,5 oC Titik didih 61,2 oC Bentuk molekul tetrahedral Dalam percobaan ini digunakan alat kalorimeter untuk mengukur panas yang terjadi pada reaksi aseton dengan kloroform tanpa ada pemanas yang masuk atau keluar dari kalorimeter tersebut sehingga didapatkan hasil panas yang murni dari reaksi tersebut. Aplikasi ikatan hidrogen adalah: Cara kerja evaporator Evaporator merupakan sebuah alat yang berfungsi mengubah sebagian atau keseluruhan sebuah pelarut dari sebuah larutan dari bentuk cair menajdi uap Cara kerja hot plate Cara kerja kondensor 34

35

Kondensor merupakan jenis mesin penukar kalor yang berfungsi untuk mengkondensasikan kerja fluida Cara kerja termos. Ikatan hidrogen merupakan tarik menarik dua kutub, dari kutub yang kuat yang disebabkan oleh sifat penarik elektron dari atom elektronegatif. Dalam molekul air, atom oksigen menarik elektron ikatan O-H. Atom hidrogen tidak memiliki kulit dalam berisi elektron yang melindungi inti, sehingga timbul tarik menarik elektrostatik antara proton hidrogen dengan pasangan elektron bebas pada atom oksigen dari molekul didekatnya. Volume aseton yang digunakan lebih sedikit disbanding volume CHCl3 agar reaksi yang didapatkan dapat berlangsungsempurna, dimana jumlah mol aseton dan jumlah mol CHCl3 sama. Faktor kesalahan dalam percobaan adalah: Kurang bersihnya dalam pencucian alat Kalorimeter yang digunakan mengalami kerusakan Ketika pengadukan, batang pengaduk mengenai dinding kalorimeter Kurang teliti dalam mebaca skala thermometer Kurang tepat dalam pengukuran volume Pengadukan kurang merata. Fungsi reagen yang digunakan dalam percobaan adalah: Aseton digunakan sebagai larutan yang menyerap panas, aseton bersifat atau mengalami reaksi endoterm (penyerapan panas) Kloroform digunakan sebagai larutan yang melepas panas atau bersifat eksoterm Aquades digunakan sebagai larutan untuk melarutkan senyawa yang ada pada alat. Fungsi perlakuan dalam percobaan adalah: Diukur suhu dengan menggunakan thermometer untuk mengukur suhu yang terjadi pada awal reaksi dan akhir reaksi

35

36

Dicatat waktu untuk memperoleh data dari percobaan sehingga dapat membandingkannya

Dilakukan pengadukan agar mendapatkan hasil reaksi yang meksimal berupa panas (kalor)

Menggunakan stopwatch agar didapatkan perbandingan hasil dengan skala yang sama. Prinsip percobaan mengenai penentuan ikatan hidrogen didasarkan pada

perbedaan keelektronegatifan dari atom dan molekul pada bahan yang digunakan, yaitu aseton dan kloroform yang campurannya menghasilkan kenaikan suhu di dalam kalorimeter. Dengan pengukuran sifat termal akan dapat perhitungan kalor pembentukan dan H ikatan hidrogen. dengan menggunakan sistem kerja kalorimeter. Pada percobaan digunakan bahan kloroform dan aseton. Langkah awal dimasukkan aseton ke dalam alat kalorimeter diaduk sampai menit ke-4 dan suhu yang didapat setiap 0,5 menit adalh 30 oC, 29 oC, 29 oC, 29 oC, 30 oC, 30 oC, 30 oC, 30 oC, 30 oC kemudian dicampur dengan kloroform dan diperoleh suhu campuran awal 28 oC. Dimana ketika dicampurkan menghasilkan panas. Jumlah kalor yang diserap CHCl3 dan aseton adalah 303,75 k dan jumlah kalor yang diserap oleh kalorimeter sebesar 2,055 J, kalor pembentukan ikatan hidrogen didapatkan 7,266 J. H yang diperoleh dari iaktan hidrogen per mol CHCl3 sebesar 0,135 mol, mol aseton sebesar 0,158 mol. Dari garfik diperoleh titik dimana titik akan menurun pada aseton kemudian stabil dan titik meningkat dan stabil lagi. Hal ini disebabkan karena pengadukan yang tidak sama sehingga hasilnya kurang maksimal. Dari hasil percobaan didapatkan hasil perhitungan dari jumlah kalor yang diserap kloroform dan aseton adalah sebesar dari Q aseton 16,234 J dan Q kloroform -11,023 J. Dimana kloroform bermuatan negatif berarti kloroform menyerap panas dari aseton. Jumlah kalor yang diserap kalorimeter adalah 2,055 J dan kalor pembentukan ikatan hidrogen adalah 7,266 J, dimana cara perhitungan pembentukan 36

37

ikatan hidrogen yaitu Q kal + Q aseton + Q kloroform untuk mengetahui kekuatan ikatan hidrogen yang terbentuk. Dalam percobaan diukur volume antara kloroform dan aseton berbeda agar mencapai keseimbangan dalam Q serapnya, sehingga ikatan hidrogen dapat terbentuk.

37

38

BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan Kalor yang diserap kloroform adalah sebesar 11,023 J, sedangkan kalor yang diserap aseton adalah sebesar 16,234 J. Kalor yang diserap kalorimeter adalah sebesar 2,055 J. Kalor yang terbentuk dari ikatan hidrogen yaitu 7,266 J. Massa aseton yang didapatkan dari percobaan ini yaitu sebesar 7,9 gram, sedangkan massa kloroform yang didapatkan dari percobaan ini yaitu sebesar 16,092 gram. Kekuatan ikatan hidrogen bila dibandingkan dengan ikatan kovalen dan ikatan ion lebih lemah karena ikatan hidrogen mempunyai arah tertentu yang dapat berikatan dengan atom F, O dan N. 5.2 Saran Pada percobaan selanjutnya dapat dicoba juga dengan menambahkan volume aseton dan kloroform lebih banyak seperti 12 mL.

38

39

DAFTAR PUSTAKA
Brady, James E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur Jilid 1. Binarupa Aksara: Jakarta Fessenden, Ralph J dan Fessenden, Joan S. 1997. Dasar-Dasar Kimia Organik. Binarupa Aksara: Jakarta Hart. 1990. Kimia Organik Suatu Kuliah Singkat Edisi Keenam. Erlangga: Jakarta http://ach3com-blogspot.com/2011/10/penentuan-kekuatan-ikatan-hidrogen.html. diakses tanggal 25 November 2012 http://id.wikipedia.org/wiki/ikatan-hidrogen. diakses tanggal 25 November 2012

39