Anda di halaman 1dari 3

STANDAR PRAKTEK KEPERAWATAN ANAK Penyebab mortalitas dan morbiditas anak di indonesia Mortalitas adalah ukuran jumlah kematian

(umumnya, atau karena akibat yang spesifik) pada suatu populasi, skala besar suatu populasi, per dikali satuan. Mortalitas khusus mengekspresikan pada jumlah satuan kematian per 1000 individu per tahun, hingga, rata-rata mortalitas sebesar 9.5 berarti pada populasi 100.000 terdapat 950 kematian per tahun. Mortalitas berbeda dengan morbiditas yang merujuk pada jumlah individual yang memiliki penyakit selama periode waktu tertentu. Tiga penyebab utama kematian bayi menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995 adalah : 1. infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), PNEUMONIA Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan lebih dari 2 juta anak meninggal akibat pneumonia. Bukan hanya itu, pneumonia merupakan penyebab satu dari lima kematian pada anak balita. Data WHO 2006 memperlihatkan ternyata Indonesia menempati peringkat keenam di dunia dengan jumlah kasus pneumonia terbanyak pada anak. sumber : Tempo . Angka kematian bayi di Indonesia sangat tinggi. Bahkan di seluruh dunia, Indonesia

menduduki rangking keenam dengan angka sekitar 6 juta bayi yang mati. Kasus kematian bayi di Indonesia ini, menurut Dr. Soedjatmiko, Sp A (K), M.Si disebabkan oleh Invassive Pneumococcus Disease (IPD). sumber : Kompas Sejauh ini, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan Indonesia menempati urutan keenam di dunia dengan jumlah kasus pneumonia terbanyak pada anak. Setengah dari kasus pneumonia disebabkan oleh kasus pneumokokus, sehingga diperlukan intervensi aktif untuk pencegahan dengan vaksinasi selain nutrisi yang cukup, pemberian ASI eksklusif dan zinc. Sumber : Kompas 2. komplikasi perinatal,

3. diare. 4. Virus Dengue Gabungan semua penyebab ini memberi andil bagi 75 persen kematian bayi. Pada 2001 pola penyebab kematian bayi ini tidak banyak berubah dari periode sebelumnya, yaitu karena sebab-sebab perinatal, kemudian diikuti oleh infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), diare, tetanus neotarum, saluran cerna, dan penyakit saraf. Pola penyebab utama kematian balita juga hampir sama (penyakit saluran pernafasan, diare, penyakit syaraf termasuk meningitis dan encephalitis dan tifus.

Kesehatan neonatal dan maternal. Tingginya kematian anak pada usia hingga satu tahun,
menunjukkan masih rendahnya status kesehatan ibu dan bayi baru lahir; rendahnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak; serta perilaku ibu hamil dan keluarga serta masyarakat yang belum mendukung perilaku hidup bersih dan sehat

Perlindungan dan pelayanan kesehatan bagi golongan miskin dan kelompok rentan di
perdesaan dan wilayah terpencil, serta kantong-kantong kemiskinan di daerah perkotaan, merupakan salah satu strategi kunci untuk menurunkan angka kematian anak. Angka kematian bayi pada kelompok termiskin adalah 61 per 1.000 kelahiran hidup, jauh lebih tinggi daripada golongan terkaya sebesar 17 per 1.000 kelahiran hidup. Penyakit infeksi yang merupakan penyebab kematian balita dan bayi seperti infeksi saluran pernafasan akut, diare dan tetanus, lebih sering terjadi pada kelompok miskin. Rendahnya status kesehatan penduduk miskin ini terutama disebabkan oleh terbatasnya akses terhadap pelayanan karena kendala kendala biaya (cost barrier), geografis dan transportasi.

Sementara itu faktor sosial- ekonomi yang mempengaruhi AKB adalah pendidikan, pekerjaan dan keadaan perumahaan dari ibu yang pernah melahirkan. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh hasil penelitian Supraptilah dan Soenardji ( 1979 ), bahwa tingkat kematian bayi semakin rendah dengan semakin tingginya tingkat sosial- ekonomi. Adanya perbedaan AKB di berbagai masing-masing daerah disebabkan oleh faktor-faktor socialekonomi antara lain ; pendapatan, kemudahan mendapat fasilitas kesehatan dan pendidikan ( Cho dan kawan-kawan,1980 ). Faktor-faktor inilah yang mempengaruhi perbedaan AKB di masing masing daerah ( lebih tinggi atau rendah ) dengan daerah lainnya. Perbedaan pendapatan, fasilitas kesehatan dan pendidikan sangat bervariasi antara satu provinsi dengan provinsi lainnya, perbedaan ini disebabkan karena tidak meratanya pembangunan.