Anda di halaman 1dari 5

METODE BERPIKIR ISLAMI

MUKADIMAH
Secara bahasa, berpikir ialah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan
memutuskan sesuatu. Berpikir merupakan cara khas manusia yang membedakannya
dari makhluk lain. Karena kemampuan berpikir inilah manusia merupakan makhluk
yang dimuliakan Allah, seperti dijelaskan dalam Al-Qur'an (yang artinya), "Dan
sesungguhnya telah Kami muliakan anak keturunan Adam, Kami angkut mereka di
daratan dan lautan, Kami beri mereka rezeki yang baik-baik, dan Kami lebihkan
mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang Kami
ciptakan."

Tidak hanya itu, bila kita kaji lebih dalam, amanah kekhalifahan yang hanya
diserahkan Allah kepada manusia (Adam) pun adalah karena faktor berpikir yang
hanya dimiliki oleh manusia itu. Mengapa? Sebab, dengan kemampuan berpikir
manusia dapat menyerap ilmu pengetahuan dan mentransfernya. Peristiwa dialog
antara malaikat, Adam, dan Allah memberikan gambaran yang jelas kepada kita
betapa pemuliaan itu berpangkal pada kemampuan berpikir dan menyimpan ilmu.

Dialog tersebut dapat kita simak dari ayat-ayat berikut: "Dan Allah mengajarkan
kepada Adam nama-nama (benda) itu seluruhnya, kemudian Allah mengajukannya
kepada para malaikat sambil berkata, 'Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu
jika kamu memang orang-orang benar.' Mereka menjawab, 'Mahasuci Engkau, tiada
yang kami ketahui selain apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.' Allah berfirman, 'Hai
Adam, beri tahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.' Maka setelah
diberitahukannya, Allah berfirman, 'Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu bahwa
sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang
kamu zahirkan dan yang kamu sembunyikan'."

Penghargaan Allah kepada manusia tidak berhenti di situ. Saking besarnya, Allah
sampai memerintahkan malaikat agar bersujud kepada Adam. Bahkan, yang menolak
perintah sujud itu dicap sebagai kafir. Adakah pemuliaan yang melebihi penghargaan
yang luar biasa itu? Persoalannya, berpikir yang bagaimanakah yang layak
mendapatkan penghargaan? Tulisan ini bermaksud untuk menjabarkannya.

Bagaiman Kita Berpikir Islami?

Islam memandang berpikir sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Berpikir akan mengantarkan manusia untuk menyadari posisinya sebagai hamba dan
memahami fungsinya sebagai khalifah (pengelola) di muka bumi. Tugasnya hanyalah
menghambakan diri kepada Allah dengan beribadah. Al-Qur'an juga berkali-kali
merangsang manusia, khususnya orang beriman, agar banyak memikirkan dirinya,
lingkungan sekitarnya, dan alam semesta. Karena dengan berpikir itu, manusia akan
mampu mengenal kebenaran (al-haq), yang kemudian untuk diimani dan dipegang
teguh dalam kehidupan. Allah berfirman, "Hanyalah orang-orang yang berakal saja
yang dapat mengambil pelajaran."

Dalam pandangan Islam, keilmuan dengan ketakwaan memiliki hubungan yang


sangat erat. Semakin dalam ilmu seseorang maka akan semakin takut kepada Allah.
Al-Qur'an menyebutkan, "Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah adalah
orang-orang yang berilmu dari hamba-Nya." Oleh karena itu, proses berpikir yang
tidak mengantarkan pada derajat takwa, sejatinya hanya berputar dalam kecacatan
intelektual. Dan karena berpikir adalah suatu aktivitas yang dapat dilakukan oleh
semua orang, baik muslim atau nonmuslim, yang akan menghasilkan kesimpulan
yang beragam, maka diperlukan suatu kerangka yang dapat mengarahkan manusia
dalam berpikir untuk mencapai sasarannya. Sebab, tanpa rumusan pola itu, manusia
akan terperangkap pada cara berpikir yang lepas kendali. Persoalannya, tidak
menemukan kebenaran itu dalam Islam identik dengan kesesatan. Allah berfirman
(yang artinya), "Adakah di luar kebenaran itu kalau bukan kesesatan?"

Al-Qur'an dan hadits Nabi telah memberikan beberapa kaidah berpikir yang
mengantarkan seseorang berpikir secara proporsional dan benar. Metode tersebut
adalah sebagai berikut.

a. Wahyu adalah satu-satunya sumber akidah dan syariah


Setiap muslim diminta agar menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai satu-
satunya sumber dalam konsep dan praktik sekaligus, tanpa memilah-milahnya. Kita
hendaknya mengajukan pertanyaan kepada Al-Qur'an, kemudian mendengar
jawabannya dari Allah. Mencari jawaban itu hanya dari Al-Qur'an dan As-Sunnah
saja, bukan dari sumber-sumber lainnya.

Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai wahyu dari langit adalah hakikat yang sudah
merupakan aksioma dan menjadi prinsip Islam. Sayangnya banyak kaum intelektual
yang melangkahi prinsip ini, sengaja atau tidak. Mereka cenderung menggunakan
sumber-sumber produk manusia, di samping sumber-sumber utama Islam. Mereka
juga menyimpan seperangkat pemikiran, teori, dan hipotesa sebagai peninggalan
peradaban kuno yang cenderung berlainan dengan konsep Islam. Kondisi seperti ini
sudah tentu tidak sejalan dengan kaidah menempatkan wahyu sebagai satu-satunya
sumber dalam akidah, hukum, dan masalah metafisik.

Seharusnya sikap muslim yang mencari kebenaran, ketika membaca Al-Qur'an dia
mengosongkan pikirannya dari seluruh jenis teori dan konsep yang dihasilkan
manusia tanpa dasar wahyu.

b. Hubungan antara wahyu, akal, dan metode interpretasi rasional


Kaidah ini berkaitan dengan penempatan posisi akal dan perannya dalam menangkap
pesan (teks) Ilahi. Pada prinsipnya, Islam telah menetapkan adanya dua alam yang
harus dibenarkan manusia sebagi prasyarat diterima keislamannya. Kedua alam itu
ialah alam ghaib dan alam nyata.

Spesifikasi alam ghaib ialah berada di luar batas ruang dan waktu. Dua kawasan yang
merupakan jalur operasi akal manusia. Alam gaib, seperti Allah, malaikat, langit, jin,
akhirat adalah kawasan yang berada di luar jangkauan manusia. Manusia tidak bakal
mengetahuinya secara rinci dengan mengandalkan kemampuan dirinya sendiri. Fungsi
akal di sini sekadar menerima informasi, memahami, dan membenarkan. Adapun
alam nyata, objek dan komponennya berada dalam batas ruang dan waktu. Akal
manusia bertugas menyelidikinya untuk sampai pada hakikat.
Atas dasar ini, kebenaran di sekitar alam gaib tidak dapat didiskusikan secara rasional
dan menggunakan logika, tetapi kita terima melalui teks secara apa adanya. Peran akal
berada pada batas pengklasifikasian, penempatan, dan penetapan, agar keluar dengan
kesimpulan yang general dan sempurna serta tidak bertentangan dengan akal dan
logika.

Dalam Islam dikenal dua kategori hakikat: hakikat tawqifiyah yang berskala gaib dan
didapatkan melalui informasi Al-Qur'an dan As-Sunnah. Posisinya berada di atas akal
manusia. Dan, hakikat tawfiqiyah yang sesungguhnya menjadi objek dan lapangan
akal manusia.

Kekeliruan banyak orang, seperti perkembangan filsafat Yunani, mencampuradukkan


dua kategori tersebut, sehingga membebankan kepada akal hal-hal yang sebenarnya
berada di luar kemampuannya. Manusia juga sering tertipu ketika akal mampu
memerankan fungsinya secara baik dan prima pada ruang "tawfiqiyah", mengira
bahwa akal juga mampu menembus wilayah "tawqifiyah", atau setidak-tidaknya
tergiur untuk menerobos ke kawasan itu.

Pada zaman modern ini, kita perhatikan akal manusia mampu menemukan hal-hal
menakjubkan di alam materi. Lalu kita mengira bahwa akal yang selama ini mampu
menciptakan pesawat, roket, menghancurkan atom, membuat bom hidrogen,
menjelajah ruang angkasa, juga memiliki kemampuan untuk merumuskan peraturan
yang menata hidup manusia. Kita lupa bahwa keberhasilan yang diraih akal selama ini
ketika ia beroperasi pada jalurnya secara natural, karena memang ia dipersiapkan
untuk itu. Akan tetapi, sekiranya akal beroperasi di jalur "alam manusia", berarti ia
beroperasi dalam alam yang tidak mengenal batas dan amat kabur. Akibatnya, akal
menemukan jalan buntu dan keluar dengan konklusi yang keliru.

c. Mencari kebenaran dengan sikap jernih

Yang dimaksud di sini ialah sikap objektif sebagai pencari kebenaran dari wahyu Al-
Qur'an, bukan dengan tendensi tertentu, seperti mencari-cari dalil untuk melemahkan
pendapat lawan. Hakikat Al-Qur'an adalah parameter untuk mengukur kebenaran
suatu paham, teori, dan filsafat-filsafat yang ada, oleh karena itu harus diketahui
secara utuh dan dengan cara langsung dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sebaliknya,
perjalanan yang ditempuh pemikiran manusia untuk sampai kepada kebenaran amat
lamban, sebab ia tidak mampu menemukan kebenaran secara spontan tanpa bantuan
kekuatan lain.

d. Kebenaran dalam Al-Qur'an senantiasa paralel

Yang dimaksud di sini ialah keharusan membandingkan antara kesimpulan yang


didapat dari Al-Qur'an--melalui metode deduktif--dengan kebenaran-kebenaran Al-
Qur'an yang mutlak. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa kebenaran dalam Al-
Qur'an tidak akan mengalami kontradiksi dengan sesamanya, karena ia berasal dari
sumber yang sama. Jika ditemukan adanya kelainan, secara otomatis kesimpulan yang
diperoleh adalah keliru dan ditolak. Hal ini didasarkan pada dua ketentuan yang
aksiomatik dan disepakati oleh kaum muslimin dan didukung oleh metodologi ilmiah
dalam kritik sejarah, yaitu sebagai berikut. 1. Semua ayat-ayat Al-Qur'an berasal dari
Allah SWT, dan Allah menjanjikan pemeliharaan mutlak atas kesucian Al-Qur'an. 2.
Al-Qur'an secara keseluruhan merupakan satu kesatuan yang utuh. Antara sebagian
dengan bagian lainnya bersesuaian dan tidak ditemui kontradiksi.

e. Bersikap Jujur, tanpa Prakonsepsi

Peneliti Al-Qur'an dituntut agar bersikap jujur dan ikhlas untuk mencri kebenaran
murni. Peneliti hendaknya membebaskan dirinya dari pengaruh hawa nafsu,
kepentingan, fanatisme kelompok, dan paham yang dianutnya.

Hal ini memang berkaitan kepada individu peneliti dan mentalitas serta moralitasnya.
Akan tetapi, manusia adalah satu kesatuan. Memilah-milah antara sarana dan
kemampuannya dalam memberi interpretasi atas aktivitas manusia adalah cara yang
keliru. Tidaklah semua orang yang membaca Al-Qur'an akan mendapat petunjuk.
Bahkan, ada yang membacanya tetapi disesatkan oleh Allah. Lalu, siapa yang
mendapat petunjuk dan siapa pula yang tersesat? Jawabannya dari Al-Qur'an itu
sendiri.

Menurut Al-Qur'an, motivasi juga memegang peran penting dalam menerima


kebenaran atau menolaknya. Allah memberikan gambaran, perumpamaan, peringatan,
dan janji-janji agar dipikirkan, tetapi orang-orang kafir justru semakin menyimpang
dari jalan yang benar.

Pemikiran Islam di Tengah Pemikiran-Pemikiran Lainnya

Jika kita mencari perumpamaan antara pemikiran Islam dengan pemikiran produk
manusia lainnya, ibarat bunga mawar yang dikelilingi oleh duri-duri yang tajam.
Setidaknya ada dua filsafat yang saling kontradiktif dalam ajarannya, sementara posisi
Islam berada di tengah dan berjalan secara seimbang. Kedua filsafat itu ialah
materialisme dan spiritualisme.

a. Paham Materialisme

Jika kita memperhatikan sistem yang berlaku sekarang, kebanyakan berdiri di atas
paham "materialisme", suatu paham yang mengumandangkan "sekularisme" dan
menyanjung-nyanjungnya. Memang penerapan paham ini di sebagian negeri masih
memberikan ruang bagi "agama", tetapi ia menempatkan agama pada posisi yang
sangat terbatas. Sementara, di negara-negara tertentu agama benar-benar diperangi
dan diharamkan.

Sesungguhnya materialisme adalah paham yang dasar dan akarnya sudah sangat jauh
ditelan sejarah, tetapi muncul ke permukaan dengan nama dan simbol yang berbeda-
beda, namun akarnya sama, yaitu mementingkan materi dan menjadikannya sebagai
dasar dan pijakan, baik mengakui posisi agama ataupun mengingkarinya secara total.

Al-Qur'an sudah lama mengidentifikasi paham ini dengan mengatakan, "Kehidupan


kami tidak ada lain dari kehidupan dunia, kami mengalami mati dan hidup dan kami
tidak akan dibangkitkan lagi." (Al-Mu'minun: 37).

Kehidupan yang didasarkan atas paham ini akan mengalami tantangan-tantangan yang
cukup berat, karena tuntutan manusia yang cukup mendesak pada pemenuhan
kebutuhan rohani dan alam ghaib, sebagaimana kebutuhan fisik dan materi.
Kenyataan yang dialami umat manusia belakangan ini sebenarnya sudah cukup
menjadi "jawaban" bagi mereka yang memandang hidup ini hanya materi, dan mereka
membangun teori, sikap, dan kehidupannya atas dasar materi murni. Tidak ada
kondisi di mana manusia dalam keadaan paling sengsara dari kondisi kehidupan
materialis.

b. Tenggelam dalam Spiritualisme (Pola Hidup Kerahiban)

Paham ini kebalikan dari paham pertama, dan sama-sama tidak memberikan jawaban
yang memuaskan bagi manusia. Bagi penganut paham ini, penyiksaan diri, menjauhi
kehidupan materi adalah ukuran kebahagiaan seseorang.

Dalam sejarah umat manusia, filsafat ini ditampilkan oleh pemuka-pemuka agama
Nasrani (rahib) yang cenderung hidup menyiksa dirinya untuk meraih ridha tuhannya.
Sangat mengerikan jika kita mendengar gaya hidup para rahib itu. Ada di antara
mereka yang tidak menyentuh air selama empat puluh tahun, karena menurut
keyakinannya bahwa hidup bersih dan rapi dapat mengurangi penghambaan manusia
kepada Tuhan. Ada pula yang hidup dan tidur di comberan hingga ulat-ulat
menyantapi daging-daging tubuhnya. Ada lagi yang berdiri dengan kaki sebelah
selama lima belas tahun. Banyak cerita-cerita aneh yang dilakukan para rahib untuk
menjauhi kehidupan.

Dengan demikian, paham yang sesuai dengan fitrah manusia adalah Islam. Islam
berada di tengah-tengah dari kedua keadaan yang ekstrem tersebut. Betapa indahnya
hidup di bawah naungan Islam yang mencarikan bagi manusia jalan kehidupan yang
seimbang di dunia dan selamat di akhirat.

Sumber: Diadaptasi dari Islam dalam Berbagai Dimensi, Dr. Daud Rasyid, M.A.
(Jakarta: Gema Insani Press, 1998), hlm. 87-97)