Anda di halaman 1dari 43

BAB 4

PERANCANGAN TERMAL PENUKAR PANAS



4.1 Penentuan Fluida Kerja Organik dan Kondisi Operasi
Pada bab ini akan dibahas bagaimana cara melakukan proses perancangan
termal untuk penukar panas yang dibantu dengan paket program Heat Transfer
Research Inc. (HTRI). Sebelum dilakukan proses perancangan termal, perlu
ditentukan fluida kerja organik yang akan digunakan karena akan berpengaruh
terhadap kondisi operasi dari penukar panas. Pada analisis bab sebelumnya,
diketahui bahwa fluida kerja yang menghasilkan daya netto terbesar adalah fluida
kerja i-pentana, sedangkan yang menghasilkan daya netto terkecil adalah n-
pentana. Untuk itu, fluida kerja yang akan dibandingkan pada proses perancangan
termal ini adalah fluida kerja i-pentana dan n-pentana. Fluida kerja i-butana dan n-
butana menghasilkan daya netto yang berada diantara kedua nilai tersebut,
sehingga tidak dilakukan proses perancangan termal. Untuk menghasilkan daya
netto maksimum fluida kerja i-butana dan n-butana memerlukan tekanan kerja
yang tinggi, sehingga akan berpengaruh terhadap faktor keselamatan serta biaya
yang diperlukan menjadi lebih tinggi. Oleh karena alasan itu, maka fluida kerja
yang akan dikaji adalah i-pentana dan n-pentana.

4.2 Validasi Paket Program HTRI
Sebelum paket program HTRI ini digunakan, akan dilakukan proses
validasi. Tujuannya untuk memastikan bahwa paket program ini bekerja dengan
baik dan benar, dan menghasilkan keluaran/hasil yang valid. Untuk melakukan
proses validasi ini, cara yang dilakukan adalah membandingkan hasil yang
diperoleh dari paket program HTRI dengan hasil yang ada pada jurnal teknik
kimia yang merupakan data existing desain dari penukar panas.
Pada jurnal tersebut diberikan data-data yang bermanfaat sebagai masukan data
untuk perancangan penukar panas dengan paket program HTRI. Masukan data
yang terdapat pada jurnal teknik kimia tersebut ditunjukkan pada Tabel 4.1 untuk
parameter proses dan pada Tabel 4.2 untuk parameter perancangan.
Tabel 4.1 Parameter Proses Untuk Merancang P
Tabel 4.2 Parameter Perancangan Untuk Merancang Penukar Panas [13]
Pada jurnal tersebut diberikan hasil dari proses perancangan, dimana hasil
tersebut akan digunakan sebagai acuan untuk proses validasi.
hasil tersebut kecil, maka paket program HTRI dikatakan valid.










Parameter Proses Untuk Merancang Penukar Panas [13]

Parameter Perancangan Untuk Merancang Penukar Panas [13]
Pada jurnal tersebut diberikan hasil dari proses perancangan, dimana hasil
tersebut akan digunakan sebagai acuan untuk proses validasi. Apabila perbedaan
hasil tersebut kecil, maka paket program HTRI dikatakan valid.
Tabel 4.3 Hasil Proses Perancangan [13]
enukar Panas [13]
Parameter Perancangan Untuk Merancang Penukar Panas [13]
Pada jurnal tersebut diberikan hasil dari proses perancangan, dimana hasil
Apabila perbedaan
Masukan data yang diperlukan dalam paket program HTRI, diberikan pada
Gambar 4.1, dimana parameter proses dan perancangan digunakan menjadi
masukan data.
Gambar 4.1 Masukan data pada paket program HTRI.

Setelah masukan data tersebut dimasukan dalam paket program HTRI,
langkah selanjutnya adalah menjalankan paket program tersebut, sehingga akan
didapatkan keluaran data seperti pada Gambar 4.2.
Tidak semua parameter proses dan perancangan dimasukan ke dalam paket
program HTRI, karena ada data yang diolah sendiri oleh program HTRI. Hasil
keluaran dari paket program HTRI yang diberi warna merah, akan dibandingkan
dengan hasil yang ada pada jurnal teknik kimia tersebut. Data yang diberi warna
merah (duty, area dan overdesign) merupakan data yang menjadi faktor
pembanding utama antara data pada jurnal teknik kimia dengan data hasil
perancangan paket program HTRI.

Gambar 4.2 Keluaran data hasil perancangan paket program HTRI.

Kerja penukar panas yang terdapat pada jurnal teknik kimia adalah 0,46
MM Kcal/h, apabila dikonversikan menjadi 0,534 MW. Hasilnya sama dengan
keluaran dari paket program HTRI. Luas penampang perpindahan panas yang
dihasilkan dengan paket program HTRI adalah 69,69 m
2
, hampir sama dengan
data yang ada pada jurnal sebesar 70 m
2
. Untuk overdesign, data yang dihasilkan
berbeda dengan data pada jurnal, sehingga pada proses perancangan
akan diberikan nilai overdesign

4.3 Perancangan Termal
Setelah dilakukan proses validasi terhadap paket progam HTRI yang
digunakan untuk melakukan proses perancangan termal, dimana hasilnya
valid. Langkah selanjutnya adalah melakukan proses perancangan termal untuk
evaporator dan preheater
yang diperlukan sebagai masukan data adalah parameter proses dan perancangan.
Parameter proses didapatkan dari hasil simulasi dengan paket program HYSYS,
sedangkan parameter perancangan didapatkan dari buku re
perancangan penukar panas [12]. Pada Gambar 4.3 akan diberikan diagram alir
yang dilakukan dalam proses perancangan termal penukar panas.

















Gambar 4.3 Diagram alir proses perancangan termal
berbeda dengan data pada jurnal, sehingga pada proses perancangan
overdesign antara 15-20%.
4.3 Perancangan Termal Evaporator dan Preheater
Setelah dilakukan proses validasi terhadap paket progam HTRI yang
digunakan untuk melakukan proses perancangan termal, dimana hasilnya
valid. Langkah selanjutnya adalah melakukan proses perancangan termal untuk
preheater. Dalam menggunakan paket program HTRI, parameter
yang diperlukan sebagai masukan data adalah parameter proses dan perancangan.
Parameter proses didapatkan dari hasil simulasi dengan paket program HYSYS,
sedangkan parameter perancangan didapatkan dari buku referensi kelaziman
perancangan penukar panas [12]. Pada Gambar 4.3 akan diberikan diagram alir
yang dilakukan dalam proses perancangan termal penukar panas.
Diagram alir proses perancangan termal dengan paket program HTRI.
berbeda dengan data pada jurnal, sehingga pada proses perancangan selanjutnya
Setelah dilakukan proses validasi terhadap paket progam HTRI yang
digunakan untuk melakukan proses perancangan termal, dimana hasilnya adalah
valid. Langkah selanjutnya adalah melakukan proses perancangan termal untuk
alam menggunakan paket program HTRI, parameter
yang diperlukan sebagai masukan data adalah parameter proses dan perancangan.
Parameter proses didapatkan dari hasil simulasi dengan paket program HYSYS,
ferensi kelaziman
perancangan penukar panas [12]. Pada Gambar 4.3 akan diberikan diagram alir
dengan paket program HTRI.
Dengan diagram alir proses perancangan yang telah ditunjukkan di atas,
dapat diketahui bahwa parameter proses didapatkan dari hasil simulasi paket
program HYSYS. Data yang digunakan adalah saat kondisi optimum yang dapat
menghasilkan daya netto maksimum pada paket program HYSYS. Kemudian data
tersebut digunakan sebagai masukan untuk menjalankan paket program HTRI.
Salah satu keluaran data dari paket program HTRI, yaitu penurunan tekanan pada
bagian shell & tube digunakan kembali sebagai masukan data untuk mengoreksi
nilai penurunan tekanan pada proses simulasi dengan paket program HYSYS.
Dengan dimasukkannya nilai penurunan tekanan yang baru, maka kondisi operasi
pada paket program HYSYS akan berubah. Diperlukan proses iterasi untuk
mendapatkan kondisi operasi yang konvergen (tidak berubah lagi dan
menunjukkan nilai yang tetap).
Pada proses perancangan termal evaporator dan preheater, fluida kerja
yang akan dikaji adalah i-pentana dan n-pentana. Dimana dari hasil perancangan
termal tersebut akan dipilih satu kondisi operasi yang paling optimum untuk
menghasilkan daya netto siklus yang paling maksimum. Sebelum masuk dalam
pembahasan tentang perancangan evaporator dan preheater, perlu diperhatikan
masalah pemilihan material. Pemilihan material merupakan proses yang penting
dalam tahap awal perancangan penukar panas.
4.3.1 Pemilihan Material Penukar Panas
Aliran pada suatu penukar panas terdiri dari dua buah aliran, yaitu aliran
panas dan aliran dingin. Aliran panas akan melepaskan kalor untuk diterima oleh
aliran dingin. Pada kajian ini yang berfungsi sebagai aliran panas adalah aliran
brine, sedangkan aliran dingin adalah aliran fluida kerja organik yang melewati
penukar panas. Brine akan dialirkan di dalam tube, dengan tujuan untuk
mempermudah dalam proses perawatan/pembersihan karena brine memiliki
potensi terbentuknya kerak. Fluida kerja organik dialirkan pada shell, karena
fluida organik tidak berpotensi membentuk kerak.
Material yang digunakan pada shell adalah carbon steel (ASTM a516-60),
karena pada shell mengalir fluida kerja organik yang tidak berpotensi terhadap
terbentuknya korosi. Pada bagian tube digunakan material SAF 2205 (ASTM
789), duplex stainless steel, yaitu jenis stainless steel yang memiliki dua fasa:
ferrite dan austenite. Pada bagian tube digunakan jenis material duplex stainless
steel karena kandungan brine yang mengalir memiliki kandungan pH yang rendah
(asam) dan kandungan klor (Cl) yang tinggi 1148 mg/l. Sehingga perlu digunakan
jenis material yang tidak hanya tahan terhadap korosi, tetapi juga tahan terhadap
kandungan klor yang terkandung di dalamnya. Kandungan klor yang tinggi dapat
mengakibatkan terbentuknya pitting (localize corrosion). Contoh material yang
tahan terhadap korosi, diantaranya: stainless steel tipe 304 atau 316, titanium, dan
tantalum. Diantara ketiga material tersebut, material yang tahan terhadap korosi
dan kandungan klor yang tinggi hanya titanium dan tantalum yang memiliki harga
beli yang tinggi. Untuk itu digunakan material duplex stainless steel yang
memiliki ketahanan yang tinggi terhadap korosi dan kandungan klor yang tinggi,
dengan harga beli yang relatif lebih murah dibandingkan titanium dan tantalum.
Material titanium umumnya digunakan untuk kandungan nilai klor (Cl
-
) lebih dari
5000 ppm, sedangkan pada brine yang dikaji hanya mengandung 920 ppm (dilihat
dari Tabel 3.1). Oleh karena itu, apabila digunakan material titanium akan
berlebihan [15].
Pada proses perancangan dengan paket program HTRI tidak didapatkan
database untuk sifat fisik material duplex stainless steel. Sehingga perlu
dimasukan sifat fisik dari material tersebut. Sifat fisik yang diperlukan dalam
proses perancangan adalah massa jenis (), koefisien konduksi (k) dan nilai
modulus elastisitas (E). Nilai massa jenis dari duplex stainless steel adalah 7800
kg/m
3
, sedangkan kedua sifat fisik yang lain terpengaruh nilai temperatur, yang
akan ditampilkan pada Tabel 4.4 dan Tabel 4.5.
Tabel 4.4 Nilai Konduktivitas Termal SAF 2205 dan AISI 316L
Temperatur (
o
C) 20 100 200 300 400
SAF 2205 (W/m
o
C) 14 16 17 19 20
AISI 316L (W/m
o
C) 14 15 17 18 20



Tabel 4.5 Pengaruh Temperatur Terhadap Nilai Modulus Elastisitas
Temperatur,
o
C Modulus Elastisitas, GPa
20 200
100 194
200 186
300 180

Apabila nilai yang diinginkan digunakan berada di antara kedua nilai yang
telah ada, dapat dilakukan proses interpolasi linear. Dengan diketahuinya sifat
fisik dari material tube, maka proses perancangan termal dengan paket program
HTRI dapat dilakukan.

4.3.2 Perancangan Evaporator
Pada proses perancangan evaporator, masukan data yang diperlukan
adalah parameter proses yang didapatkan dari hasil simulasi paket program
HYSYS. Parameter proses yang diperlukan sebagai masukan data untuk fluida
kerja i-pentana diberikan pada Tabel 4.6 dan untuk n-pentana pada Tabel 4.7.
Tabel 4.6 Parameter Proses Perancangan Evaporator Untuk Fluida Kerja I-pentana
Aliran panas (tube) brine Aliran dingin (shell) i-pentana
Laju massa 108,38 kg/s Laju massa 34,49 kg/s
Fraksi uap masuk 0 Fraksi uap masuk 0
Temperatur masuk 158,90
o
C Tekanan masuk 1530 kPa
Tekanan masuk 600 kPa Tahanan fouling 0,0003
Tahanan fouling 0,0002

Fraksi uap keluar 0 Fraksi uap keluar 1
Temperatur keluar 143,80
o
C P diijinkan 50 kPa
P diijinkan 50 kPa


Tabel 4.7 Parameter Proses Perancangan Evaporator Untuk Fluida Kerja N-pentana
Aliran panas (tube) brine Aliran dingin (shell) n-pentana
Laju massa 106,72 kg/s Laju massa 25,99 kg/s
Fraksi uap masuk 0 Fraksi uap masuk 0
Temperatur masuk 151,85
o
C Tekanan masuk 1180 kPa
Tekanan masuk 500 kPa Tahanan fouling 0,0003
Tahanan fouling 0,0002
Aliran panas (tube) brine Aliran dingin (shell) n-pentana
Fraksi uap keluar 0 Fraksi uap keluar 1
Temperatur keluar 138,30
o
C P diijinkan 50 kPa
P diijinkan 50 kPa


Parameter perancangan yang perlu dimasukan dalam perancangan
evaporator dengan paket program HTRI, diberikan pada tabel 4.8.
Tabel 4.8 Parameter Perancangan Evaporator I-pentana dan N-pentana
Fluida kerja i-pentana Fluida kerja n-pentana
Tipe penukar panas AKT Tipe penukar panas AKT
Diameter shell 1550 mm Diameter shell 1420 mm
Panjang tube 8,534 m Panjang tube 7,315 m
Diameter tube 25,4 mm Diameter tube 25,4 mm
Jumlah laluan tube (tube passes) 2 Jumlah laluan tube (tube passes) 2
Jarak pitch 32 mm Jarak pitch 32 mm
Tebal tube 1,651 mm Tebal tube 1,651 mm
Tipe penampang tube 45
o
(staggered) Tipe penampang tube 45
o
(staggered)

Nilai pada parameter perancangan tersebut didapatkan dengan cara iterasi
untuk memenuhi kebutuhan kalor yang dilepas/diterima penukar panas. Tentu saja
dalam melakukan proses perancangan tersebut perlu didasarkan dengan
alasan/referensi yang kuat, sehingga nilai yang dimasukan tidak asal-asalan tetapi
berdasarkan prinsip yang benar.
Tipe penukar panas yang digunakan pada evaporator sesuai dengan
standar yang ada pada TEMA, yaitu tipe AKT.
- Tipe A yang dipilih adalah tipe front end berupa channel and removable
cover. Brine berpotensi tinggi menyebabkan fouling sehingga harus mudah dibuka
sewaktu-waktu untuk proses pembersihan/perawatan.
- Tipe K yang dipilih adalah jenis kettle. Proses yang terjadi pada
evaporator adalah proses penguapan sehingga diperlukan ruangan untuk
berkumpulnya uap. Apabila tidak ada tempat berkumpulnya uap, maka uap yang
telah terbentuk akan kembali bercampur dengan air.
- Tipe T yang dipilih adalah tipe
memiliki tekanan (P) dan temperatur
menghindari terjadinya ekspansi termal.
dibersihkan. Pada Gambar 4.4

Perbandingan antara panjang
5 - 10. Diameter luar
mempermudah dalam proses pembersihan
berukuran 1 in.
Nilai dari diameter
hasil iterasi untuk memenuhi persamaan kesetimbangan kalor pada penukar panas.
Jumlah tube
panas yang terjadi antara
baik.
Jarak pitch umumnya
memiliki clearance antara
mempermudah dalam proses pembersihan.
Sedangkan tipe penampang
staggered, karena memiliki kelebihan dalam proses perpindahan panas yang lebih
baik.
Tebal tube yang dipilih merupakan tebal yang paling minimum untuk
ukuran diameter tube 1
menahan tekanan operasi, yang diperoleh dari persamaan hoop:
berkumpulnya uap. Apabila tidak ada tempat berkumpulnya uap, maka uap yang
telah terbentuk akan kembali bercampur dengan air.
Tipe T yang dipilih adalah tipe pull through floating head
memiliki tekanan (P) dan temperatur (T) kerja yang tinggi sehingga untuk
dari terjadinya ekspansi termal. Tube bundle juga lebih mudah
Pada Gambar 4.4 akan diberikan gambar penukar panas tipe AKT.
Gambar 4.4 Penukar panas tipe AKT. [13]
Perbandingan antara panjang tube dengan diameter shell umumnya antara
10. Diameter luar tube yang sering digunakan adalah - 1 in
mempermudah dalam proses pembersihan lebih baik digunakan diameter luar
ameter shell, diameter luar tube, dan panjang
hasil iterasi untuk memenuhi persamaan kesetimbangan kalor pada penukar panas.
yang melewati shell dipilih dua supaya proses perpindahan
panas yang terjadi antara shell dan tube dapat terpenuhi dan berlangsung dengan
umumnya dibuat 1,25 kali diameter luar
antara tube yang satu dengan tube yang lain. T
mempermudah dalam proses pembersihan.
Sedangkan tipe penampang tube yang digunakan adalah adalah tipe
, karena memiliki kelebihan dalam proses perpindahan panas yang lebih
yang dipilih merupakan tebal yang paling minimum untuk
ukuran diameter tube 1 in [12]. Tentu saja perlu memperhitungkan kemampuan
menahan tekanan operasi, yang diperoleh dari persamaan hoop:
berkumpulnya uap. Apabila tidak ada tempat berkumpulnya uap, maka uap yang
floating head. Fluida kerja
yang tinggi sehingga untuk
juga lebih mudah
akan diberikan gambar penukar panas tipe AKT.
umumnya antara
in, dimana untuk
digunakan diameter luar tube
, dan panjang tube merupakan
hasil iterasi untuk memenuhi persamaan kesetimbangan kalor pada penukar panas.
supaya proses perpindahan
t terpenuhi dan berlangsung dengan
1,25 kali diameter luar tube, sehingga
Tujuannya untuk
yang digunakan adalah adalah tipe
, karena memiliki kelebihan dalam proses perpindahan panas yang lebih
yang dipilih merupakan tebal yang paling minimum untuk
memperhitungkan kemampuan
o
aIIow
> o = prt (4.1)
dimana,
allow
= yield strength duplex stainless steel = 485 MPa
p = 600 kPa
r = 12,7 mm
t = 1,651 mm
= 4,62 MPa
Nilai
allow
jauh lebih besar dari nilai , sehingga dengan menggunakan tebal tube
yang paling minimum sudah aman dalam menahan tegangan yang terjadi.
Parameter perancangan yang membedakan antara fluida kerja i-pentana dan n-
pentana adalah ukuran diameter shell dan panjang tube-nya.
Setelah diketahui semua parameter proses dan perancangan, langkah
selanjutnya adalah memasukkan semua nilai tersebut ke dalam paket program
HTRI. Pada Gambar 4.5 ditampilkan masukan data pada paket program HTRI
untuk fluida kerja i-pentana dan pada Gambar 4.6 untuk fluida kerja n-pentana.















Gambar 4.5 Masukan data pada HTRI untuk perancangan evaporator dengan fluida kerja i-
pentana.















Gambar 4.6 Masukan data pada HTRI untuk perancangan evaporator dengan fluida kerja
n-pentana.

Setelah diberi masukan data seperti yang ditampilkan pada gambar di atas,
kemudian dilakukan proses pemilihan fluida kerja untuk aliran panas dan
dinginnya seperti yang tertera pada Gambar 4.7 untuk fluida kerja i-pentana dan
pada Gambar 4.8 untuk fluida kerja n-pentana.
Faktor yang perlu diperhatikan dari hasil perancangan HTRI adalah nilai
dari penurunan tekanan (P), luas penampang perpindahan panas (A), duty, nilai
overdesign, dan dimensi dasar yang dihasilkan (panjang tube, diameter shell,
diameter kettle, serta jumlah tube).
Dari kedua hasil perancangan dengan fluida kerja dan kondisi operasi yang
berbeda, maka dihasilkan juga dimensi yang berbeda.



Gambar 4.7 Hasil perancangan evaporator untuk fluida kerja i-pentana.


Gambar 4.8 Hasil perancangan evaporator untuk fluida kerja n-pentana.


Hasil dari proses perancangan dengan paket program HTRI didapatkan
nilai penurunan tekanan yang baru (P) pada bagian shell & tube. Nilai
penurunan tekanan yang baru ini dimasukkan kembali ke dalam proses simulasi
dengan paket program HYSYS, sehingga akan didapatkan kondisi operasi yang
baru. Proses ini dilakukan sampai didapatkan nilai yang konvergen dan stabil.
Dari kedua hasil di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk fluida kerja i-
pentana memerlukan luas penampang perpindahan panas 983,93 m
2
, sedangkan
untuk fluida kerja n-pentana memerlukan luas penampang perpindahan panas
707,02 m
2
.

4.3.3 Perancangan Preheater
Cara yang sama dengan proses perancangan evaporator diterapkan pada
proses perancangan preheater. Kondisi operasi optimum yang didapatkan dari
hasil simulasi dengan paket program HYSYS digunakan menjadi masukan data
untuk proses perancangan dengan paket program HTRI. Pada Tabel 4.9 dan 4.10
akan ditampilkan masukan data yang merupakan parameter proses yang
dihasilkan paket program HTRI. Pada Tabel 4.11 akan ditampilkan parameter
perancangan untuk fluida kerja i-pentana dan n-pentana.
Tabel 4.9 Parameter Proses Perancangan Preheater Untuk Fluida Kerja I-pentana
Aliran panas (tube) brine Aliran dingin (shell) i-pentana
Laju massa 108,38 kg/s Laju massa 34,49 kg/s
Fraksi uap masuk 0 Fraksi uap masuk 0
Temperatur masuk 143,79
o
C Temperatur masuk 41,19
o
C
Tekanan masuk 600 kPa Tekanan masuk 1549,00 kPa
Tahanan fouling 0,0002 Tahanan fouling 0,0003

Fraksi uap keluar 0 Fraksi uap keluar 0
Temperatur keluar 125,00
o
C Temperatur keluar 138,80
o
C
P diijinkan 50 kPa P diijinkan 50 kPa




Tabel 4.10 Parameter Proses Perancangan Preheater Untuk Fluida Kerja N-pentana
Aliran panas (tube) brine Aliran dingin (shell) n-pentana
Laju massa 106,72 kg/s Laju massa 25,99 kg/s
Fraksi uap masuk 0 Fraksi uap masuk 0
Temperatur masuk 138,30
o
C Temperatur masuk 40,90
o
C
Tekanan masuk 493,76 kPa Tekanan masuk 1194,00 kPa
Tahanan fouling 0,0002 Tahanan fouling 0,0003

Fraksi uap keluar 0 Fraksi uap keluar 0
Temperatur keluar 124,66
o
C Temperatur keluar 133,25
o
C
P diijinkan 50 kPa P diijinkan 50 kPa


Parameter perancangan yang perlu dimasukan dalam perancangan
preheater dengan paket program HTRI, diberikan pada Tabel 4.11.
Tabel 4.11 Parameter Perancangan Preheater I-pentana dan N-pentana
Fluida kerja i-pentana Fluida kerja n-pentana
Tipe penukar panas AFT Tipe penukar panas AFT
Diameter shell 1420 mm Diameter shell 1310 mm
Panjang tube 8,534 m Panjang tube 6,706 m
Diameter tube 25,4 mm Diameter tube 25,4 mm
Jumlah laluan tube (tube passes) 2 Jumlah laluan tube (tube passes) 2
Jarak pitch 32 mm Jarak pitch 32 mm
Tebal tube 1,651 mm Tebal tube 1,651 mm
Tipe penampang tube 45
o
(staggered) Tipe penampang tube 45
o
(staggered)

Tipe penukar panas yang digunakan untuk preheater adalah tipe AFT,
- Tipe A yang dipilih adalah tipe front end berupa channel and removable
cover. Brine berpotensi tinggi menyebabkan kerak sehingga harus mudah dibuka
sewaktu-waktu untuk proses pembersihan/perawatan.
- Tipe F yang dipilih adalah jenis two pass shell with longitudinal baffle.
Apabila hanya one pass shell yang dipilih maka proses perpindahan panas tidak
dapat berlangsung dengan baik.
- Tipe T yang dipilih adalah tipe
memiliki tekanan (P) dan temperatur (T) yang tinggi sehingga
menghindari terjadinya ekspansi termal.
dibersihkan. Pada Gambar 4.9

Perbandingan antara panjang
5 - 10. Diameter luar
mempermudah dalam proses pembersihan
berukuran 1 in.
Nilai dari diameter
hasil iterasi untuk memenuhi persamaan kesetimbangan kalor pada penukar panas.
Jumlah tube
panas yang terjadi antara
baik.
Jarak pitch umumnya 1,25 kali diameter luar
clearance antara tube
dalam proses pembersihan.
Sedangkan tipe penampang
staggered, karena memiliki kelebihan dalam proses perpindahan panas yang lebih
baik.
Tebal tube yang dipilih merupakan tebal yang paling minimum
ukuran diameter tube 1
Pada Gambar 4.10 dan Gambar 4.11 akan ditampilkan masukan data pada
paket program HTRI untuk fluida kerja i
Tipe T yang dipilih adalah tipe pull through floating head
memiliki tekanan (P) dan temperatur (T) yang tinggi sehingga diperlukan
dari terjadinya ekspansi termal. Tube bundle juga lebih mudah
mbar 4.9 akan diberikan gambar penukar panas tipe AF
Gambar 4.9 Penukar panas tipe AFT [13].
Perbandingan antara panjang tube dengan diameter shell umumnya antara
10. Diameter luar tube yang sering digunakan adalah
mempermudah dalam proses pembersihan lebih baik digunakan diameter luar
Nilai dari diameter shell, diameter luar tube, dan panjang
hasil iterasi untuk memenuhi persamaan kesetimbangan kalor pada penukar panas.
yang melewati shell dipilih dua supaya proses perp
panas yang terjadi antara shell dan tube dapat terpenuhi dan berlangsung dengan
umumnya 1,25 kali diameter luar tube, sehingga memiliki
tube dengan tube yang lain. Tujuannya untuk mempermudah
dalam proses pembersihan.
Sedangkan tipe penampang tube yang digunakan adalah adalah tipe
, karena memiliki kelebihan dalam proses perpindahan panas yang lebih
yang dipilih merupakan tebal yang paling minimum
ukuran diameter tube 1 in.
Pada Gambar 4.10 dan Gambar 4.11 akan ditampilkan masukan data pada
paket program HTRI untuk fluida kerja i-pentana dan n-pentana.
floating head. Fluida kerja
diperlukan untuk
juga lebih mudah
kan gambar penukar panas tipe AFT.
umumnya antara
yang sering digunakan adalah - 1 in. Untuk
kan diameter luar tube
, dan panjang tube merupakan
hasil iterasi untuk memenuhi persamaan kesetimbangan kalor pada penukar panas.
supaya proses perpindahan
dapat terpenuhi dan berlangsung dengan
, sehingga memiliki
untuk mempermudah
yang digunakan adalah adalah tipe
, karena memiliki kelebihan dalam proses perpindahan panas yang lebih
yang dipilih merupakan tebal yang paling minimum untuk
Pada Gambar 4.10 dan Gambar 4.11 akan ditampilkan masukan data pada












Gambar 4.10 Masukan data pada HTRI untuk perancangan preheater dengan fluida kerja i-
pentana.













Gambar 4.11 Masukan data pada HTRI untuk perancangan preheater dengan fluida kerja
n-pentana.

Langkah selanjutnya adalah melihat hasil dari proses perancangan dengan
paket program HTRI. Pada Gambar 4.12 akan ditampilkan hasil keluaran paket
program HTRI untuk perancangan preheater dengan fluida kerja i-pentana,
sedangkan pada Gambar 4.13 akan ditampilkan hasil perancangan preheater
untuk fluida kerja n-pentana.
Gambar 4.12 Hasil perancangan preheater untuk fluida kerja i-pentana.

Gambar 4.13 Hasil perancangan preheater untuk fluida kerja n-pentana.

Nilai penurunan tekanan hasil perancangan paket program HTRI
dimasukan kembali ke dalam proses simulasi dengan paket program HYSYS,
sehingga akan didapatkan kondisi kerja yang baru.
Luas perpindahan panas yang diperlukan pada preheater dengan fluida
kerja i-pentana 822,18 m
2
, sedangkan untuk fluida kerja n-pentana diperlukan luas
penampang perpindahan panas 532,38 m
2
. Luas penampang perpindahan panas
yang diperlukan untuk fluida kerja i-pentana lebih besar dibandingkan dengan
fluida kerja n-pentana. Akibatnya fluida kerja i-pentana memerlukan biaya yang
lebih tinggi pada saat pembelian awal penukar panas tersebut. Hal ini perlu
dipertimbangkan dalam penentuan fluida kerja yang akan digunakan.

4.4 Analisis Ekonomi Penukar Panas
Setelah proses perancangan termal untuk evaporator dan preheater selesai
dilakukan. Didapat dua pilihan kondisi operasi, yaitu dengan fluida kerja i-
pentana yang dapat menghasilkan daya netto yang paling besar, tetapi
memerlukan ukuran penukar panas dan tekanan kerja yang lebih besar. Atau
dengan fluida kerja n-pentana yang menghasilkan daya netto tidak terlalu besar
(beda sekitar 10% dengan i-pentana) tetapi memerlukan ukuran penukar panas
dan tekanan kerja yang lebih kecil. Hal ini akan dikaji secara ekonomi, yaitu pada
biaya yang diperlukan untuk pembelian awal (capital cost) dari penukar panas.
Kajian ekonomi yang dilakukan adalah membandingkan mana yang lebih
menguntungkan apabila menggunakan fluida kerja i-pentana yang menghasilkan
daya netto lebih tinggi tetapi memerlukan biaya awal untuk penukar panas yang
lebih mahal, atau menggunakan fluida kerja n-pentana yang menghasilkan daya
netto tidak terlalu tinggi tetapi memerlukan biaya awal untuk pembelian penukar
panas yang tidak terlalu mahal. Yang akan dibandingkan adalah nilai rupiah dari
selisih daya yang dihasilkan dengan harga pembelian awal penukar panas. Yang
akan dicari adalah berapa lama waktu yang diperlukan untuk dapat menutup
selisih (pay back period). Pada akhirnya akan didapatkan kesimpulan mana fluida
kerja yang akan lebih menguntungkan secara ekonomi.
Harga suatu penukar panas khususnya tipe shell & tube, ditentukan
berdasarkan harga beli awal yang dipengaruhi oleh faktor jenis material, tekanan
kerja, dan panjang tube yang digunakan. Ada hubungan antara luas bidang
perpindahan panas yang diperlukan dengan harga penukar panas. Hubungan
tersebut akan ditampilkan pada grafik yang ada pada Gambar 4.14, dimana
persamaan garisnya:
- Floating head
C
B
= exp {, ,89|ln(A)] + ,9|ln(A)]
2
] (4.2)
- Fixed head
C
B
= exp {, ,98|ln(A)] + ,98|ln(A)]
2
] (4.3)
- U-tube
C
B
= exp {, ,98|ln(A)] + ,99|ln(A)]
2
] (4.4)
- Kettle vaporizer
C
B
= exp {,9 ,89|ln(A)] + ,9|ln(A)]
2
] (4.5)

Gambar 4.14 Grafik hubungan luas penampang terhadap harga penukar panas. [14]

Tipe penukar panas untuk evaporator adalah jenis kettle, sedangkan untuk
preheater adalah jenis floating head. Untuk mendapatkan nilai harga beli penukar
panas awal (C
B
) dapat dilakukan dengan melihat grafik atau memasukannya ke
dalam persamaan garis yang ada, dimana merupakan fungsi dari luas penampang
perprindahan panas. Luas perpindahan panas yang diperlukan untuk fluida kerja
yang berbeda ditampilkan pada Tabel 4.12.
Tabel 4.12 Luas Penampang Perpindahan Panas Untuk Penukar Panas Dalam m
2


Dengan melakukan konversi satuan, diperoleh nilai seperti pada Tabel 4.13.
Tabel 4.13 Luas Penampang Perpindahan Panas Untuk Penukar Panas Dalam ft
2

Jenis penukar panas/Jenis fluida kerja i-pentana n-pentana
Evaporator 10590,93 ft
2
7610,30 ft
2

Preheater 8849,23 ft
2
5730,49 ft
2


Garis yang berwarna merah menunjukan fluida kerja i-pentana, sedangkan
yang berwarna biru untuk fluida kerja n-pentana. Dengan memasukkan pada
persamaan garis di atas, diperoleh nilai C
B
seperti pada Tabel 4.14 di bawah ini.
Tabel 4.14 Nilai C
B
Untuk Penukar Panas
Jenis penukar panas/Jenis fluida kerja i-pentana n-pentana
Evaporator $ 112445,10 $ 64617,97
Preheater $ 72382,01 $ 52781,99

Harga beli penukar panas di atas perlu dikoreksi dengan faktor jenis
material, panjang tube, dan faktor tekanan kerja.
Sehingga harga beli penukar panas (C
P
) menjadi perkalian nilai C
B
.F
P
.F
M
.F
L
.
Nilai F
P
merupakan faktor koreksi tekanan, dengan persamaan:
F
P
= ,98 + ,8(
P
100
) + ,(
P
100
)
2
(4.6)
dimana, P adalah tekanan kerja dalam satuan psia.
Tabel 4.15 akan menampilkan tekanan kerja pada setiap penukar panas dengan
jenis fluida kerja yang berbeda.


Jenis penukar panas/Jenis fluida kerja i-pentana n-pentana
Evaporator 983,93 m
2
707,02 m
2

Preheater 822,12 m
2
532,38 m
2

Tabel 4.15 Tekanan Kerja Penukar Panas Dalam Satuan psia
Jenis penukar panas/Jenis fluida kerja i-pentana n-pentana
Evaporator 221,91 psia 171,14 psia
Preheater 224,66 psia 173,16 psia

Dengan memasukan ke persamaan 4.6 di atas, akan didapatkan faktor koreksi
tekanan seperti pada Tabel 4.16.
Tabel 4.16 Faktor Koreksi Tekanan (Fp) Untuk Penukar Panas
Jenis penukar panas/Jenis fluida kerja i-pentana n-pentana
Evaporator 1,03 1,02
Preheater 1,03 1,02

Nilai F
L
merupakan faktor koreksi dari panjang tube, dimana nilainya akan
ditampilkan pada tabel 4.17.
Tabel 4.17 Nilai Koreksi F
L
Untuk Berbagai Panjang Tube [14]
Panjang Tube, ft F
L

8 1,25
12 1,12
16 1,05
20 1,00

Panjang tube yang digunakan lebih dari 20 ft, sehingga nilai faktor koreksi
panjang (F
L
) = 1.
Nilai F
M
merupakan faktor jenis material yang digunakan, nilai
koreksinya:
F
M
= a + (
A
100
)
b
(4.7)
Dimana nilai A adalah luas penampang perpindahan panas (ft
2
), sedangkan nilai a
dan b dapat dilihat pada Tabel 4.18 di bawah ini
Tabel 4.18 Nilai a dan b Untuk Berbagai Jenis Material [14]
Jenis Material Shell/Tube Nilai a Nilai b
Carbon steel/Carbon steel 0,00 0,00
Carbon steel/Brass 1,08 0,05
Carbon steel/Stainless steel 1,75 0,13
Carbon steel/Monel 2,10 0,13
Carbon steel/Titanium 5,20 0,16
Carbon steel/Cr-Mo steel 1,55 0,05
Cr-Mo steel/Cr-Mo steel 1,70 0,07
Stainless steel/Stainless steel 2,70 0,07
Monel/Monel 3,30 0,08
Titanium/Titanium 9,60 0,06

Material yang digunakan adalah jenis carbon steel untuk bagian shell, dan
duplex stainless steel untuk bagian tube. Karena referensi nilai a dan b untuk
duplex stainless steel tidak diketahui, maka pada bagian tube diasumsikan sebagai
stainless steel. Setelah dilakukan perhitungan dan didapatkan hasilnya, kemudian
dikoreksi lagi dengan perbandingan harga duplex stainless steel dengan stainless
steel (316L) yang ada di pasaran, yaitu berbeda 1,5 kali (www.alibaba.com). Pada
Tabel 4.19 akan diberikan nilai faktor koreksi material (F
M
), dengan cara
memasukan nilai A, a, dan b ke Persamaan 4.7.
Tabel 4.19 Faktor Koreksi Material (F
M
) Untuk Penukar Panas
Jenis penukar panas/Jenis fluida kerja i-pentana n-pentana
Evaporator 3,581,5 = 5,37 3,511,5 = 5,27
Preheater 3,541,5 = 5,31 3,441,5 = 5,16

Dengan diketahuinya semua nilai koreksi yang diperlukan maka harga beli
dari penukar panas dapat diperoleh. Pada Tabel 4.20 akan ditampilkan nilai harga
beli dari penukar panas setelah dikalikan dengan faktor koreksi.
Tabel 4.20 Harga Beli Penukar Panas Setelah Dikoreksi
Jenis penukar panas/Jenis fluida kerja i-pentana n-pentana
Evaporator $ 621.945,09 $ 347.017,89
Preheater $ 395.878,92 $ 277.802,18
Biaya total pembelian penukar panas $ 1.017.824,02 $ 624.820,05

Harga beli penukar panas yang tertera pada tabel di atas merupakan harga
beli pada pertengahan tahun 2000. Untuk menentukan harga sekarang perlu
diperhitungkan nilai dari inflation rate yang terjadi di Amerika Serikat. Selisih
dari pembelian awal penukar panas tersebut adalah $ 393.003,64.
Nilai inflation rate yang terjadi di Amerika pada pertengahan tahun 2000
sampai bulan Maret tahun 2010 didapatkan dari sumber di internet
(www.inflationdata.com). Data inflation rate yang tertera dari sumber merupakan
data per bulan. Untuk menyederhanakan perhitungan akan diambil nilai rata-rata
per satu tahun, seperti tertera pada tabel 4.21.
Tabel 4.21 Rata-rata Nilai Inflation Rate di Amerika
Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010
Nilai rata-
rata
3,47 2,83 1,59 2,27 2,68 3,39 3,24 2,85 3,85 -0,34 2,36
inflation
rate (%)

Apabila tahun 2000 dianggap sebagai nilai sekarang (P), maka nilai pada
tahun 2010 (F) dapat diperoleh dengan persamaan:
F = P( +i)
n
(4.8)
dimana, i = nilai inflation rate per tahun/per bulan
n = periode perhitungan nilai inflation rate
Dengan memasukan selisih harga beli awal penukar panas ke persamaan
4.8, maka akan diperoleh nilai seperti pada Tabel 4.22 di bawah ini.
Tabel 4.22 Harga Penukar Panas Akibat Adanya Pengaruh Inflasi
Tahun Harga Penukar Panas ($)
2000 399.764,44
2001 411.077,78
2002 417.613,91
2003 427.093,75
2004 438.539,86
2005 453.406,36
2006 468.096,73
2007 481.437,48
2008 499.972,83
2009 498.272,92
2010 501.187,07

Harga pada tahun 2010, yaitu $ 501.187,07 akan dibandingkan dengan
selisih harga listrik yang dapat dihasilkan oleh pembangkit listrik tersebut.
Selisih daya netto antara fluida kerja i-pentana dan n-pentana adalah
283,79 kW atau sebesar 7,91 %. Harga jual listrik panas bumi adalah antara 6,5-
8,5 sen/kWh (www.pln.co.id), kurs rupiah yang diambil sesuai dengan APBN
tahun 2010 adalah Rp 9.200,00 (www.fiskal.depkeu.go.id). Bila dilakukan
perhitungan beda daya listrik per jam, akan didapat beda 6810,96 kWh per hari.
Harga jual listrik panas bumi yang digunakan adalah nilai rata-ratanya 7,5
sen/kWh, sehingga selisih harga jual listrik yang didapatkan sebesar Rp
5.216.174,00 per hari.
Selisih harga beli penukar panas disaat awal pembelian dalam rupiah
adalah Rp. 4.610.921.044,00. Apabila dibandingkan dengan selisih harga jual
listrik per hari Rp. 5.216.174,00, maka akan didapat lamanya waktu untuk
mengembalikan modal awal yaitu sekitar 884 hari atau selama 2 tahun 5 bulan.
Sebuah pembangkit listrik tenaga panas bumi umumnya berumur 20-30 tahun.
Dari kajian ekonomi yang dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa fluida
kerja i-pentana lebih menguntungkan untuk digunakan walaupun pada saat awal
memerlukan investasi yang lebih tinggi dari pada fluida kerja n-pentana.

4.5 Perancangan Kondensor Berpendingin udara
Pada perancangan kondensor berpendingin udara, digunakan metode
perancangan termal yang ada pada Gas Processors Supplier Association (GPSA).
Untuk udara sebagai fluida kerja pendingin, diperlukan masukan data berupa:
Temperatur udara sekitar 82,4
o
F = 28
o
C
Ketinggian permukaan laut 1473,85 ft = 449,23 m
Cp udara = 0,24 Btu/(lb.
o
F) = 0,993 kJ/kg.
o
C

Kondisi operasi hasil perhitungan paket program HYSYS digunakan
sebagai parameter proses dalam perancangan dengan metode GPSA, dimana
diperlukan masukan data seperti di bawah ini:
Temperatur rata-rata fluida kerja 146,40
o
F = 63,56
o
C
Cp fluida kerja 0,59 Btu/(lb.
o
F) = 2,441 kJ/kg.
o
C
Viskositas dinamik () 0,0964 cp = 9,6410
-5
N.s/m
2

Koefisien konduksi (k) 0,0516 Btu/(hr.sq ft.
o
F)/(ft) = 0,0964 W/m.K
Kalor (Q) 49232069,96 Btu/hr = 13,55 MW
Laju massa (m) 273764,40 lb/hr = 34,49 kg/s
Temperatur fluida kerja masuk (T
in
) 188,36
o
F = 86,87
o
C
Temperatur fluida kerja keluar (T
out
) 104,43
o
F = 40,24
o
C
Faktor fouling 0,0002 (hr.sq ft.
o
F)/Btu = 0,0002 m
2
.K/W
Penurunan tekanan yang diijinkan (P) 5 psi = 34 kPa

Diperlukan juga asumsi geometri pada proses perancangan kondensor
berpendingin udara tersebut yang berupa:
Tipe kipas kondensor: forced draft
Lebar sirip tube dan jenisnya:
5
8
inch high fins
Jarak pitch dan jenisnya: 2
1
8
inch, triangular
Jumlah aliran tube: 4 buah
Panjang tube: 45 ft = 13,72 m
Area luar bundle (APSF): 178,2 inch = 4,53 m
Jumlah baris tube: 6 buah
Luas area luar total (APF): 5,58 ft
2
/ft = 1,7 m
2
/m
Diameter dalam tube: 0,87 inch = 22,1 mm
Perbandingan luas fin-tube (AR): 21,4 ft
2
/ft
2
= 6,53 m
2
/m
2

Diameter luar tube: 1 inch = 25,4 mm
Jumlah kipas: 6 buah

Pada Tabel 4.23 diberikan data untuk tube bersirip dengan diameter luar
tube 1 inch.



Tabel 4.23 Data Untuk Diameter Luar 1

Untuk mendapatkan nilai yang ingin dicari, yaitu penurunan tekanan,
diameter kipas, temperatur udara keluar, dan lain
perhitungan dimana langkahnya tertera di bawah ini.
1. Menebak nilai
U
x
= 2,85
2. Menghitung nilai perkiraan kenaikan temperatur udara,


3. Menghitung nilai CMTD






Data Untuk Diameter Luar 1 inch Tipe Tube Bersirip
Untuk mendapatkan nilai yang ingin dicari, yaitu penurunan tekanan,
diameter kipas, temperatur udara keluar, dan lain-lain perlu dilakukan proses
perhitungan dimana langkahnya tertera di bawah ini.
enebak nilai
Menghitung nilai perkiraan kenaikan temperatur udara,




Menghitung nilai CMTD






Tipe Tube Bersirip[7]
Untuk mendapatkan nilai yang ingin dicari, yaitu penurunan tekanan,
lain perlu dilakukan proses

(4.9)

(4.10)
(4.11)

(4.12)
IH =
, -,
ln
,
,
= ,

=
1
1
-1
2
At
c
(4.13)

=
88, -,
,
= ,

=
At
c
1
1
-t
1
(4.14)

=
,
88, -8,
= ,

Dengan diketahuinya nilai R dan P, didapatkan nilai = 0,92 dari Gambar 4.15
Gambar 4.15 Faktor koreksi penukar panas 1 shell dengan 2/lebih tube.[7]




H = IH (4.15)
H = ,9 , = ,99
4. Menghitung luas perpindahan panas,
x


x
=

0
x
CM1
(4.16)

x
=
9..9,9
,8 ,99
= .9,8
2

5. Menghitung luas permukaan
u
dengan faktor APSF.
APSF = 178,2 dengan asumsi tube pitch 2,25 segitiga dan 6 aliran pipa.

u
=
A
x
APSP
(4.17)

u
=
.9,8
8,
= ,
2

6. Menghitung lebar unit dengan asumsi panjang pipa
Ibor =
P
c
L
(4.18)
Ibor =
,

= 8,
7. Menghitung jumlah pipa,
t
dengan APF.
APF = 5,58 dengan asumsi tinggi sirip 0,625 in.

t
=
A
x
APPL
(4.19)

t
=
.9,8
,8 8,
= 89,9
8. Menghitung kecepatan massa di sisi pipa per satuan luas penampang,
t

Luas penampang pipa yang dialiri fluida,
t
= .9 n
2
sesuai dengan
asumsi pipa diameter 1 inch (BWG 16).

t
=
144w
t
N
p
3600N
t
A
t
(4.20)

t
=
.,
89,9 ,9
= 9,
b

2
sc

9. Menghitung bilangan reynolds yang dimodifikasi,
R

Diameter dalam pipa dengan diameter luar 1 in BWG 16,

= ,8 n

R
=

i
u
t

(4.21)

R
=
,8 9,
,9
= ,
10. Menghitung penurunan tekanan sisi pipa, A
t

A
t
=
]LN
p
q
+
p
(4.22)
= 0,0024 faktor kekasaran permukaan dalam pipa, Gambar 4.16
= 3 faktor koreksi, dan nilai = 0,03 faktor koreksi, pada
Gambar 4.18
= 1 faktor koreksi kekentalan fluida di dalam pipa untuk
hidrokarbon.
Gambar 4.16 Nilai faktor gesekan (f). [7]

A
t
=
,

+, = , ps = , o
Nilai A
t
<< A
t,uIIow
= o.
11. Menghitung koefisien perpindahan panas sisi pipa,
t


t
=
]k
C
p

k

1
3
q

i
(4.23)

t
=
,
,9 ,9
,

13

= ,
Nilai [ diambil dari Gambar 4.19 dengan nilai
R
= ,, yaitu 1500.
12. Menghitung laju aliran massa udara,
u


u
=

0,24 At
c
(4.24)

u
=
9..9,9
, ,
= 8..
b
r

13. Menghitung kecepatan massa udara per satuan luas penampang,

u
=
w
c
P
c
(4.25)

u
=
8..
,
= ,
b
r
2

14. Menghitung koefisien perpindahan panas sisi udara,
u

u
dibaca dari Gambar 4.17 dengan harga
u
= ,
Ib
h ]t
2
.

u
= 9,









Gambar 4.17 Koefisien perpindahan panas sisi udara (h
a
).[7]
G
a
m
b
a
r

4
.
1
8

P
e
n
u
r
u
n
a
n

t
e
k
a
n
a
n

u
n
t
u
k

a
l
i
r
a
n

f
l
u
i
d
a

d
i

d
a
l
a
m

p
i
p
a
.
[
7
]
G
a
m
b
a
r

4
.
1
9

F
a
k
t
o
r

k
o
r
e
l
a
s
i

J

u
n
t
u
k

m
e
n
g
h
i
t
u
n
g

k
o
e
f
i
s
i
e
n

h
t
.

[
7
]
15. Menghitung koefisien perpindahanpanas keseluruhan baru,
x


1
0
x
=
1
h
t

A
x
A
i
+r
dt

A
x
A
i
+r
mx
+
1
h
c
(4.26)

A
x
A
i
=
AR.
c

i
(4.27)
adalah perbandingan luas pipa bersirip dengan luas eksterior pipa
dengan diameter 1 in, dengan nilai 21,4 yang didapat dengan tinggi sirip
0,625 in, yaitu sebesar.

=
,
,8
= ,

x
= _

,
] (,) +(,) (,) + +

9,
= ,
r
mx
dianggap nol karena hambatan logam kecil dibanding hambatan yang lain.

x
= ,8
16. Menghitung luas penampang yang dicakup per kipas, FAPF
=
0,4 P
c
N
]
(4.28)
=
, ,

= ,
2

17. Menghitung diameter kipas
or pos =
4PAPP
n

0,5
(4.29)
or pos =
4174,72
n

0,5
= ,9

18. Menghitung penurunan tekanan sisi udara, A
u

A
u
=
P
p
N

R
(4.30)
Nilai
p
didapatkan dari Gambar 4.20 dengan nilai
u
= ,
Ib
h ]t
2
.

p
= ,









Gambar 4.20 Penurunan tekanan statik udara.[7]

Nilai
R
didapatkan dari Gambar 4.21 dengan garis berwarna merah untuk
nilai temperatur udara rata-rata,

u,ug
=
t
1
+(t
1
+At
c
)
2
(4.31)

u,ug
=
8, +(8, +,)

= 9,









Gambar 4.21 Kurva rasio massa jenis udara.[7]
Dengan nilai
u,ug
= 9,, nilai
R
adalah 0,92.
A
u
=
,
,9
= ,9 n or (or).
19. Menghitung volume udara aktual pada sisi masuk kipas, ACFM
H =
w
c

R
600,0749
(4.32)
Nilai
R
didapatkan juga dari Gambar 4.21 dengan garis berwarna biru,
tetapi dengan nilai temperatur udara masuk,
1
= 8,.

R
= ,98
H =
8..
,98 ,9
= .9.8 total,
oo 8., kipas
20. Menghitung perkiraan tekanan total kipas, PF
= A
u
+_
ACPM
4005_
nD
2
4
]
_
2

R
(4.33)
Di mana = _
2gp
w
3600
12p
c
pada 70
= , +_
8.,
_
n ,
2

]
_
2
,98 = , n or (or)
21. Menghitung perkiraan daya per kipas dengan asumsi efisiensi kipas 0,75.
bp =
328.474,250,65
63560,75
= ,9 p (4.34)
22. Menghitung daya per kipas dengan asumsi efisiensi speed reducer.
oo pr pos =
bhp
0,92
=
44,59
0,92
= 8, p = , (4.35)
Sehingga daya kipas total yang diperlukan untuk 6 buah kipas adalah 216,96 kW.
Hasil dari perancangan kondensor berpendingin udara dengan metode
GPSA yang bermanfaat sebagai masukan data pada paket program HYSYS adalah
- Penurunan tekanan di dalam pipa 10,14 kPa
- Penurunan tekanan udara 0,236 kPa
- Temperatur udara keluar 41,69
o
C
- Daya kipas total 216,96 kW

Hasil perancangan termal yang lain adalah:
- Diameter kipas 14,92 ft = 4,55 m
- Panjang tube 45 ft = 13,72 m
- Lebar bay (bay width) 58,24 ft = 17,75 m
- Jumlah baris tube 6 buah
- Diameter tube 1 inch
Gambar 4.22 menunjukan tampak atas dari kondensor berpendingin udara.









Gambar 4.22 Tampilan atas kondensor berpendingin udara.[7]





4.6 Koreksi Daya Netto Setelah Proses Perancangan
Setelah semua proses perancangan termal untuk evaporator, preheater,
dan kondensor berpendingin udara selesai dilaksanakan. Kondisi operasi yang
dihasilkan sedikit berubah khususnya nilai daya netto. Setelah dilakukan koreksi
terhadap nilai-nilai yang berubah (penurunan tekanan, temperatur, laju massa, dan
lain-lain) pada proses simulasi dengan paket program HYSYS, maka akan
didapatkan kondisi optimum yang dapat menghasilkan daya maksimum.
Daya netto awal siklus cetus-biner dengan fluida kerja i-pentana sebelum
dilakukan koreksi adalah 3077,64 kW dengan distribusi daya 962,60 kW dari
siklus cetus dan 2151,04 kW dari siklus biner atau secara persentase 30 %
dihasilkan siklus cetus dan 70 % dihasilkan oleh siklus biner.
Daya total yang diperlukan oleh kipas pendingin pada kondensor
berpendingin udara dalam siklus biner adalah 131,3 kW. Sedangkan dari hasil
perancangan kondensor berpendingin udara dengan metode GPSA didapatkan
bahwa daya yang diperlukan kipas adalah 216,96 kW, berbeda 85,66 kW.
Oleh karena itu, daya netto yang didapat dari proses simulasi dengan paket
program HYSYS perlu dikoreksi, sehingga menjadi 2991,98 kW (dengan
persentase 32% dari siklus cetus dan 68% dari siklus biner). Nilainya berbeda
2,8% dengan kondisi awal hasil proses simulasi.
Ada baiknya bila nilai dari efisiensi termal dan efisiensi utilisasi dari
PLTP ini ditentukan juga. Model siklus cetus-biner diberikan pada Gambar 4.20.
Nilai efisiensi termal (
t
) adalah perbandingan antara daya netto yang dihasilkan
dengan panas yang diberikan ke dalam sistem.
p
t
=
w
ncttc
m
brinc
h
brinc
-_(m

rcin]cksi
h
rcin]cksi
)

% (4.36)

p
t
=
2991,98
111,11(-15200)-((2,73(-15780)+108,33(-15410))
%

=
2991,98
24343,2
= 12,29 %
G
a
m
b
a
r

4
.
2
3

M
o
d
e
l

s
i
k
l
u
s

c
e
t
u
s
-
b
i
n
e
r

d
e
n
g
a
n

p
a
k
e
t

p
r
o
g
r
a
m

H
Y
S
Y
S
.
Apabila diperhitungkan untuk siklus cetus saja, diperoleh nilai
t
=
13,41%, sedangkan untuk siklus biner saja diperoleh nilai
t
= 11,58%. Nilai
efisiensi sistem siklus cetus-biner mendekati nilai rata-ratanya. Dapat dilihat
bahwa nilai efisiensi termal (
t
) dari siklus cetus lebih tinggi dibandingkan siklus
biner. Nilai efisiensi termal menunjukan seberapa besar daya yang dapat
dihasilkan dengan masukan panas tertentu.
Nilai efisiensi utilisasi menunjukan seberapa besar potensi yang
ada/dimiliki dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

p
u
=
w
ncttc
m
brinc
((h-h
c
)-1(s-s
c
))

% (4.37)

T = temperatur udara sekitar di Lahendong-Sulawesi Utara (28
o
C)
h
o
dan s
o
= nilai entalpi dan entropi fluida kerja bila dianalisis pada keadaan
sekitar (P = 96 kPa dan T = 28
o
C)
p
u
=
99,98
, ((- -(-8)) - (,9 -,))

%

p
u
=
99,98
9,9
%
p
u
= , %

Apabila dilakukan perhitungan efisiensi utilisasi untuk siklus cetus saja diperoleh
nilai
u
= 7,42 %, sedangkan untuk siklus biner saja
u
= 15,64 %. Nilai efisiensi
sistem merupakan penjumlahan antara nilai efisiensi siklus cetus dengan siklus
biner.







4.7 Perbandingan Daya Netto, Efisiensi Termal, dan Efisiensi Utilisasi
Dengan Siklus Biner
Selain tugas akhir ini, dilakukan pula kajian yang berbeda, yaitu kajian
siklus biner oleh Joan Gozaly [20]. Data sumber yang digunakan adalah sama,
hanya proses kajiannya yang berbeda. Untuk itu dibandingkan nilai daya netto
maksimum, efisiensi termal, dan efisiensi utilisasinya. Untuk siklus biner,
didapatkan data sebagai berikut:
Daya netto maksimum siklus biner 2,7 MW.
Efisiensi termal siklus biner 11,99 %.
Efisiensi utilisasi siklus biner 21,57 %.
Sedangkan nilai daya netto maksimum, efisiensi termal, dan efisiensi
utilisasi yang dihasilkan dengan siklus cetus-biner adalah
Daya netto maksimum siklus cetus-biner 2,99 MW (32% dari siklus cetus
dan 68 % dari siklus biner).
Efisiensi termal siklus cetus-biner 12,29 %.
Efisiensi utilisasi siklus cetus-biner 23,06 %.
Siklus cetus-biner dapat menghasilkan daya netto, efisiensi termal, dan
efisiensi utilisasi yang lebih besar dibandingkan siklus biner. Apabila dilakukan
proses pemilihan siklus mana yang lebih menguntungkan secara cepat, penulis
akan memilih siklus biner, karena daya yang dihasilkan lebih besar. Dari hasil
kajian yang dilakukan pada siklus cetus-biner, dapat diketahui bahwa kontribusi
daya netto maksimum yang dihasilkan oleh siklus biner lebih besar dibandingkan
siklus cetus.
Untuk memperoleh hasil yang lebih tepat diperlukan kajian ekonomi yang lebih
mendalam untuk menentukan siklus mana yang lebih menguntungkan untuk
digunakan.