Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH

Oktober 2009
PROBLEMATIKA PENDIDIKAN M S S R K J S
1 2 3
AGAMA DI SEKOLAH DAN 4
11
5
12
6
13
7
14
8
15
9
16
10
17
SOLUSINYA 18
25
19
26
20
27
21
28
22
29
23
30
24
31

Makalah ini disusun guna mengikuti lomba debat dalam Agenda Bulan Ini
rangka

Milad UIN Sunan KaliJaga 01 Kegiatan Sekolah Bulan


Oktober 2009
Disusun oleh :
Links

Luthfi Izzaty 08037


::Bidsos NH
Najla Muzaffari Hanifah 08039 ::Civitas Akademika
::e-learning NH
Rofi’atul Khoiriyah 08045 ::JSIT Jateng
::Kepala Sekolah
::Majalah NH
A. Pendahuluan ::Nur Hidayah Learning
::SD-IT
Permasalahan remaja saat ini makin kompleks. ::SMP-IT
Tawuran antar pelajar, ugal-ugalan di jalan, muncul ::TK-IT
::Yayasan Nur Hidayah
sekelompok pemuda pengguna narkoba, minum-
minuman keras, pornoaksi, menganut ramalan
Online Service
bintang yang berbuah kesyirikan adalah beberapa
contohnya. Haruskah guru agama yang akan
bertanggung jawab? Karena begitu buruknya cetakan
siswa didik masa kini, apakah guru agama tidak
mendidik para siswanya menuju pencapaian akidah
yang benar, serta melekatnya akhlak pada jiwa-jiwa
siswa didik? Jika siswa didik masa kini merupakan
aset terbesar negara ini maka merekalah yang akan
menyelesaikan jutaan tantangan masa depan yang
lebih berat. Akankah mereka sanggup jika sekarang
terjadi penurunan akidah, dan jika generasi muda
tidak dipersiapkan secara matang, akan seperti apa
amburadulnya bangsa di masa mendatang?

Pelajaran agama di sekolah dalam realita umumnya


hanya diajarkan dua jam per pekan saja. Apakah ini
yang dimaksudkan untuk memperbaiki akidah serta
akhlak anak bangsa? Hal ini lebih pantas dikatakan
sebagai formalitas belaka. Tidak ada perbaikan untuk
menuju jalan terbaik ataupun hal yang lebih baik.
Sebuah pertanyaan kecil membuat kita berpikir,
”Adakah yang salah dari wajah pendidikan agama di
negeri kita ini?” Sebagai bangsa yang dikenal religius,
seharusnya keberagamaan mempunyai kontribusi
untuk mengurangi kejahatan sosial di sekitar kita.
Nyatanya, belum ada tanda-tanda demikian.

B. Pembahasan

Pokok permasalahan yang menjadi sumber


utama problematika pendidikan agama di sekolah
selama ini hanya dipandang melalui aspek kognitif
atau nilai dalam bentuk angka saja, tidak dipandang
bagaimana siswa didik mengamalkan dalam dunia
nyata sehingga belajar agama sebatas menghafal
dan mencatat. Hal ini mengakibatkan pelajaran
agama menjadi pelajaran teoritis bukan pengamalan
atau penghayatan terhadap nilai agama itu sendiri.
Paulo Freire menegaskan bahwa fungsi pendidikan
adalah untuk pembebasan, bukan untuk penguasaan.
Tujuan pendidikan adalah untuk menggarap realitas
manusia, dan karena itu secara metodologis
bertumpu pada prinsip-prinsip aksi dan refleksi total,
yakni prinsip bertindak untuk mengubah kenyataan
yang menindas dan pada sisi simultan lainnya secara
terus-menerus menumbuhkan kesadaran akan
realitas dan hasrat untuk mengubah kenyataan yang
menindas.

Sehubungan dengan hal di atas, cara berpikir


kita sepertinya harus diubah. Hal ini mengingat
bahwa pendidikan itu penting. Hal ini ditegaskan
dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
No. 2 tahun 1989. Oleh karena perubahan zaman
yang makin modern maka kurikulum juga harus dapat
beradaptasi dengan perubahan itu sendiri. Guru juga
harus kreatif mengaplikasikan materi pendidikan
agama sesuai dengan situasi murid. Gaya bercerita,
diskusi, problem-solving (pemecahan masalah), dan
simulasi adalah alternatif positif yang dapat
dimasukkan dalam metode yang tepat untuk
pembelajaran agama. Menurut Al Nahwawi, metode
pengajaran yang sesuai dengan Al Qur’an dan Al
Hadist meliputi :

1. Metode Hiwar Qur’ani dan Nabawi: dialog yang


mengarah pada tujuan pendidikan.

2. Metode kisah Qur’ani dan Nabawi: kisah


menarik dan diambil keteladanannya untuk
dijadikan panutan.

3. Metode Amtsal: membaca teks untuk


mempermudah siswa dalam memahami suatu
konsep.

4. Metode Teladan: menggunakan keteladanan


dalam memnanamkan penghayatan dan
pengamalan materi tersebut.

5. Metode Pembiasaan: pengulangan yang


dilakukan secara terus-menerus sehingga
menjadi suatu kebiasaan.
6. Metode Ibrah dan Mauziah: menelaah ibrah
dari kisah dengan nasihat yang lembut dan
menyentuh.

7. Metode Targhib dan Tahrib: didasarkan kepada


ganjaran dan hukuman.

Dalam hal ini, menurut Seyyed Hossein Nasr bahwa


guru bukan sekedar menjadi penyampai ilmu
(mu’allim), akan tetapi lebih dititikberatkan sebagai
murobbi untuk melatih jiwa dan kepribadian, murobbi
akan selalu mengawasi perkembangan materi yang
disampaikan dalam perkembangan akhlak siswa
didik. Perlunya kesadaran siswa didik sebagai
khalifatullah fil ‘ardh akan membangun semangat
bahwa agama tidak sebatas ritual saja. Akan tetapi,
akan membangun toleransi, menjunjung kebenaran,
dan keadilan. Dengan hal ini, agama berfungsi
sebagai media penyadaran. Untuk itu, perlu dilakukan
evaluasi dalam pendidikan agama, yakni:

1. Sikap dan pengamalan diri hubungan siswa


didik dengan Allah.

Apakah pendidikan agama mampu diterapkan


oleh siswa didik untuk beribadah kepada Allah.

2. Sikap dan pengamalan diri hubungan siswa


didik dengan masyarakat.

Dengan mempelajari pelajaran agama


diharapkan siswa mampu bersosialisasi dengan
masyarakat sekitar.

3. Sikap dan pengamalan diri hubungan siswa


didik dengan alam.

Untuk bisa berinteraksi serta memanfaatkan


kekaayaan alam sesuai dengan tuntunan
agama.

Sehubungan dengan itu, guru harus mampu


mengevaluasi peserta didiknya secara terus-menerus,
menyeluruh, dan ikhlas walaupun peran dan
wewenangnya terbatas dapat bermakna dalam
membina dan membimbing generasi penerus bangsa
dari kegersangan rohani.

C. Simpulan dan Saran

Pada dasarnya, problematika pendidikan


agama secara umum hanya mengedepankan aspek
kognitif atau hasil pencapaian akhir terhadap suatu
mata pelajaran. Hal ini belum mencapai aspek afektif,
yaitu pembentukan sifat dan karakter siswa didik
bagaimana siswa tersebut dapat menerapkan
pelajaran yang telah didapat dan aspek psikomotorik
yaitu pengembangan kreativitas. Untuk itu, entah
bagaimana pengaplikasian pendidikan dalam
kehidupan sehari-hari oleh para siswa.

Apalagi, pelajaran agama belum menjadi alat utama


untuk menentukan lulus atau tidaknya siswa didik
dalam suatu jenjang pendidikan. Inilah yang menurut
siswa didik, pendidikan agama tidak terlalu penting
sehingga cenderung diremehkan. Metode yang
dilakukan oleh para guru agama juga menjadi salah
satu faktor problematika pendidikan agama di
sekolah. Oleh karena itu, untuk mengatasi
problematika tersebut guru menjadi kunci penting,
yakni bertindak dengan menggunakan metode yang
tepat bagi kelancaran pembelajaran agama.
DAFTAR PUSTAKA

http://matpithi.freewebsitehosting.com

Suara Merdeka. Edisi Selasa, 18 September 2007

www.mambaussholihin.com
[ad]

copyright © SMA-IT Nur Hidayah 2008