Anda di halaman 1dari 3

NAMA : NURMELIA

NIM : 2915081678
KELAS : A REGULER

JURUSAN : BAHASA JEPANG

ANALISIS TENTANG UNDANG-UNDANG NO.20 TAHUN 2003

Undang-undang No.20 Tahun 2003 adalah undang-undang yang membahas


tentang selak beluk pendidikan, yang sebelumnya tercantum dalam UUD 1945 pasal
31. Undang-undang No.20 Tahun 2003 adalah penjelasan dan penjabaran dari UUD
yang membahas tentang pendidikan. Dalam undang-undang ini banyak sekali
penjabaran yang tidak dijelaskan dalam UUD 1945 mengenai pendidikan, contoh
pasal-pasal yang akan kita jadikan topik adalah pasal yang menuai banyak protes
karena bertentangan dengan UUD 1945 pasal 31 juga topik yang masih belum bisa
diselesaikan pemerintah.
Rencana Depdiknas untuk membagi jalur pendidikan menjadi dua kanal; jalur
pendidikan formal mandiri dan formal standar, menuai banyak protes. Yang menjadi
keberatan khalayak, bukan saja itu dinilai berdasarkan atas perbedaan kelas sosial dan
ekonomi, namun juga atas dasar kemampuan akademik, yang berasumsi bahwa
manusia bodoh tidak punya hak untuk mendapatkan pendidikan bermutu dan
berkualitas.
Akibatnya pendidikan dikelola bak perusahaan di mana pendidikan yang
berkualitas diperuntukan bagi pihak yang punya kemampuan financial (UU No.20 thn
2003 Pasal 24 ). Sementara orang miskin akan tetap dengan kondisinya. Dari sini
pemerintah terkesan ingin melepas tanggung jawab atas terwujudnya pendidikan
(khususnya pendidikan dasar) gratis, bermutu, dan berkualitas bagi rakyat Indonesia.
“Privatisasi" atau upaya pelepasan tanggung jawab pemerintah dalam
menyelenggarakan dan membiayai pendidikan, terutama pendidikan dasar sembilan
tahun secara gratis dan bermutu, sudah terlihat dalam legalitas pendidikan. Aromanya
dimulai dari munculnya sejumlah pasal di Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Hal itu terlihat dari turunnya derajat
"kewajiban" pemerintah sebagai penanggung jawab utama dalam pendidikan dasar
rakyat, menjadi kewajiban bersama dengan masyarakat. Ini terlihat pada Pasal 9 UU
Sisdiknas, yang menyatakan bahwa ""masyarakat berkewajiban memberikan
dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan", dan Pasal 12 Ayat 2 (b)
yang memberi kewajiban terhadap peserta didik untuk ikut menanggung biaya
penyelenggaraan pendidikan, terkecuali bagi yang dibebaskan dari kewajibannya
sesuai undang-undang yang ada.
Masih dalam UU Sisdiknas, tepatnya pada Pasal 1, Bab 1, tentang ketentuan
umum, Ayat (18), dengan jelas menyatakan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah
menjadi penanggung jawab tunggal terhadap terselenggarakannya wajib belajar bagi
warga negara Indonesia. Berikut bunyi ayatnya, ""Wajib belajar adalah program
pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga negara Indonesia atas tanggung
jawab Pemerintah dan pemerintah daerah".
Gambaran di atas terasa aneh, sebab dalam UUD 1945 yang diamandemen,
menyatakan secara tegas pada Pasal 31 Ayat (2), "setiap warga Negara wajib
mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya". Hal itu dipertegas
di Ayat (4), "Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20%
dari anggaran pendapatan dan belanja Negara serta dari anggaran pendapatan dan
belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional".
Ujung dari pelegalan privatisasi pendidikan, terlihat dalam RUU Badan
Hukum Pendidikan (BHP). Dalam RUU tersebut secara nyata pemerintah ingin
berbagi dalam penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat.Pada Pasal 36 Ayat
(1), secara terus terang pemerintah menyatakan bahwa pendanaan awal sebagai
investasi pemula untuk pengoperasian Badan Hukum Pendidikan Dasar dan
Menengah (BHPDM) berasal dari masyarakat maupun hibah, baik dari dalam atau
luar negeri.Bahkan, pemerintah secara gamblang mereposisi posisinya dari
penanggung jawab tunggal pendidikan dasar gratis menjadi hanya "fasilitator".
Dengan sejumlah legalitasnya, ke depan akan tampak di hadapan mata
sejumlah model privatisasi pendidikan, baik yang nyata maupun terselubung. Bentuk
nyata yang sudah terjadi ialah adanya cost sharing, di mana pembiayaan pendidikan
menjadi tanggung jawab bersama masyarakat, seperti dibentuknya komite sekolah.
Selain itu, munculya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menjadi arus
lainnya. Dalam hal ini, sekolah "dipaksa" untuk melengkapi dirinya dengan komputer
dan peralatan canggih lainnya, seperti AC (pendingin ruangan) dan televisi. Akibat
sampingan dari hal itu, seperti disinyalir anggota DPRD DKI Jakarta, seluruh sekolah
penerima bantuan block grant di Jakarta telah menyalahi penggunaannya dengan
mengalirkan bantuan untuk pembelian alat di luar keperluan anak didik (Kompas, 9
April 2005), yaitu pembelian alat yang bisa dijadikan alasan untuk pemenuhan KBK.
Dari sini timbul kesan bahwa penggunaan sistem KBK, bila belum siap infrastruktur
dan SDM-nya, akan menjadi alat industrialisasi.
Kemudian, pada sisi lain, pemerintah juga memberlakukan sistem "guru
kontrak". Ke depan, tenaga pengajar layaknya pekerja pabrik yang bisa diputus kerja
bila kontraknya selesai, sementara pemerintah tidak mau menanggung biaya di luar
itu. Selain itu, kebijakan otonomi daerah juga menjadi alasan pemerintah untuk
berbagi beban dalam pendanaan pendidikan. Oleh karena itu pelaksanaan pendidikan
dasar gratis dan bermutu kini berada di persimpangan jalan, sebab kelangsungannya
sebagian menjadi wewenang pemerintah daerah.
Dengan berubahnya status satuan pendidikan menjadi BHPDM maka nantinya
tidak ada lagi sekolah dasar negeri, namun yang tersisa ialah sekolah yang dimiliki
masyarakat ataupun pemda. Sementara pemerintah, di sisi lain, lepas tangan dan
berkonsentrasi mengurusi biaya beban utang luar negeri yang kian membengkak. Di
sinilah hal penting sedang terjadi, yaitu pelanggaran terhadap UUD 1945, khususnya
Pasal 31, secara nyata dilakukan dengan sistematis oleh para penyusun UU dan PP,
serta RUU di bawah UUD 1945.