Anda di halaman 1dari 15

SENSORI PERSEPSI SEVEN JUMP KONJUNGTIVITIS

Disusun Oleh : Muhammad Iqbal Sumbarta (130012111)

Fakultas Ilmu Kesehatan Prodi S1 Keperawatan UNIVERSITAS NADLATUL ULAMA SURABAYA YAYASAN RS ISLAM SURABAYA 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat serta hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyusun makalah Seven Jump Kasus 1 serta dapat menyelesaikan dengan baik dan lancar. Adapun tujuan dari penulisan makalah Seven Jump Kasus 1 ini adalah sebagai salah satu tugas yang diberikan oleh dosen pembimbing mata kuliah Sensori persepsi di Universitas NU Surabaya. Banyak kesulitan dan cobaan yang dihadapi selama menyelesaikan tugas ini, tetapi berkat bantuan yang diberikan secara moril dan materil dari berbagai pihak, maka dapatlah kami menyelesaikan makalah ini dengan baik. Dalam kesempatan ini, kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang membantu kelancaran penulisan, antara lain kepada : 1. M. Khafid, S. Kep,. Ns selaku fasilitator mata kuliah Sistem Pencernaan yang selalu memberi saran kepada kami agar dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. 2. Semua pihak yang membantu dalam menyelesaikan tugas makalah ini. Semoga tugas ini dapat memberikan kontribusi positif dan bermakna. Kami sadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Skenario Kasus Setelah erupsi gunung Kelud Nn. D usia 22 tahun mengeluh kedua matanya nyeri, berair, merah, terasa sangat gatal, dan saat bangun tidur mengeluarkan sekret yang jernih kadang kental dan berwarna putih. Saat ini Nn. D mengatakan pandangan kabur dan peka terhadap cahaya, sehingga tidak bisa berangkat kuliah karena perjalanan dari rumah ke kampus melewati jalan yang berdebu dan panas. Nn. D mendapatkan terapi dari dokter mata berupa Cendoxitrol (4x2tetes), tetes mata penyegar dan dianjurkan untuk menggunakan kacamata selama belum sembuh untuk menghindari penularan terhadap orang-orang di sekitar Nn. D.

1.2 Tujuan Pembelajaran (Learning Objective) 1) Mengetahui Definisi 2) Mengetahui Etiologi 3) Mengetahui Patofisiologi, WOC 4) Mengetahui tanda dan gejala konjungtivitis 5) Mengetahui pemeriksaan diagnostik 6) Mengetahui pengobatan konjungtivitis

BAB II ISI

2.1 Definisi Konjungtivitis adalah inflamasi konjungtiva dan ditandai dengan pembengkakan dan eksudat. Pada konjungtivis mata nampak merah, sehingga sering disebut mata merah. (Brunner & Suddarth,2001) Konjungtivitis lebih dikenal sebagai pink eye, yaitu adanya inflamasi pada konjungtiva atau peradangan pada konjungtiva, selaput bening yang menutupi bagian berwarna putih pada mata dan permukaan bagian dalam kelopak mata. Konjungtivitis terkadang dapat ditandai dengan mata berwarna sangat merah dan menyebar begitu cepat dan biasanya menyebabkan mata rusak. Beberapa jenis konjungtivitis dapat hilang dengan sendiri, tetapi ada juga yang memerlukan pengobatan. (Effendi, 2008).
Konjungtivitis, atau inflamasi konjungtiva, disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus, alergi, atau reaksi zat kimiawi. Konjungtivitis bacterial atau viral sangat menular tetapi menjadi self-limiting (bisa sembuh tanpa banyak intervensi).

2.2 Etiologi Konjungtiviti dapat disebabkan oleh bakteri,virus atau alergi , berikut adalah macam-macam penyebab konjungtiviti : a) Konjungtivitis Bakteri Terutama pneumoniae, disebabkan oleh Staphylococcus dan aureus, Moraxella Streptococcus catarrhalis.

Haemophilus

influenzae,

Konjungtivitis bakteri sangat menular, menyebar melalui kontak langsung dengan pasien dan sekresinya atau dengan objek yang terkontaminasi. b) Konjungtivitis Viral

Jenis konjungtivitis ini adalah akibat infeksi human adenovirus ( yang paling sering adalah keratokonjungtivitis epidermika ) atau dari penyakit virus sistemik seperti mumps dan mononukleosis. Biasanya disertai dengan pembentukan folikel sehingga disebut juga konjungtivitis folikularis. Mata yang lain biasanya tertular dalam 24-48 jam. c) Konjungtivitis Alergi Konjungtivitis alergi biasanya timbul pada musim semi dan panas, dan disebabkan oleh pajanan dengan alergen misalnya polen (serbuk sari). Pasien akan mengeluh rasa tidak enak dan iritasi yang berlebihan. Terbentuk papilla yang dapat dikonjungtiva, dan kornea bias terlibat. Konjungtivitis alergi dapat terjadi bersama dengan reaksi alergi yang lain. Misalnya astma dan hay fever. d) Konjungtivitis Gonore Konjungtivitis hiper akut dengan sekret purulen yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhea. Sedangkan infeksi gonokokus pada mata pada neonatus (bayi baru lahir) disebabkan oleh infeksi tidak langsung selama keluar melewati jalan lahir pada ibu yang menderita gonore, konjungtivitis yang berat disebut oftalmia neonatorum. 2.3 Patofisologi dan WOC Konjungtiva karena lokasinya terpapar pada banyak mikroorganisme dan faktor lingkungan lain yang menganggu. Beberapa mekanisme melindungi permukaan mata dari substansi luar. Pada film air mata, unsur berairnya mengencerkan materi infeksi, mukus menangkap debris dan kerja memompa dari palpebra secara tetap menghanyutkan air mata ke duktus air mata dan air mata mengandung substansi antimikroba termasuk lisozim. Adanya agens perusak, menyebabkan cedera pada epitel konjungtiva yang diikuti edema epitel, kematian sel dan eksfoliasi, hipertrofi epitel atau granuloma. Mungkin pula terdapat edema pada stroma konjungtiva ( kemosis) dan hipertrofi lapis limfoid stroma (pembentukan folikel). Sel-sel radang bermigrasi dari stroma konjungtiva melalui epitel ke permukaan. Sel-sel ini kemudian bergabung dengan fibrin dan mukus

dari sel goblet, membentuk eksudat konjungtiva yang menyebabkan perlengketan tepian palpebra saat bangun tidur (Ilyas, et.all. 2001). Adanya peradangan pada konjungtiva ini menyebabkan dilatasi pembuluhpembuluh konjungtiva posterior, menyebabkan hiperemi yang tampak paling nyata pada forniks dan mengurang ke arah limbus. Pada hiperemia konjungtiva ini biasanya didapatkan pembengkakan dan hipertrofi papila yang sering disertai sensasi benda asing dan sensasi tergores, panas, atau gatal. Sensasi ini merangsang sekresi air mata. Transudasi ringan juga timbul dari pembuluh darah yang hiperemia dan menambah jumlah air mata. Jika klien mengeluh sakit pada iris atau badan silier yang berarti kornea juga terterkena (Ilyas, et.all. 2001).

WOC

2.4 Tanda dan gejala Tanda-tanda konjungtivitis, yakni: a) Konjungtiva berwarna merah (hiperemi) dan membengkak. b) produksi air mata berlebihan (epifora). c) kelopak mata bagian atas nampak menggelantung (pseudoptosis) seolah akan menutup akibat pembengkakan konjungtiva dan peradangan sel-sel konjungtiva bagian atas. d) pembesaran pembuluh darah di konjungtiva dan sekitarnya sebagai reaksi nonspesifik peradangan. e) pembengkakan kelenjar (folikel) di konjungtiva dan sekitarnya. f) terbentuknya membran oleh proses koagulasi fibrin (komponen protein). g) dijumpai sekret dengan berbagai bentuk (kental hingga bernanah). Gejala Konjungtiva yang mengalami iritasi akan tampak merah dan

mengeluarkan kotoran. Konjungtivitis karena bakteri mengeluarkan kotoran yang kental dan berwarna putih. Konjungtivitis karena virus atau alergi mengeluarkan kotoran yang jernih. Kelopak mata bisa membengkak dan sangat gatal, terutama pada konjungtivitis karena alergi. Gejala lainnya adalah: a) Mata berair. b) Mata terasa nyeri. c) Mata terasa gatal. d) Pandangan kabur. e) Peka terhadap cahaya. f) Terbentuk keropeng pada kelopak mata ketika bangun pada pagi hari.

2.5 Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan fisik memperlihatkan injeksi pembuluh konjungtival bulbar. Pada anak-anak, tanda dan gejala sistemik bisa meliputi sakit tenggorokan dan demam. b. Monosit merupakan yang utama dalam uji pulasan berwarna pada kerikan konjungtival jika konjungtivitis disebabkan virus. c. Sel polimorfonuklear (neutrofil) adalah hal utama jika konjungtivitis disebabkan bakteri. d. Uji kultur dan sensitivitas membantu mengidentifikasi organisme bacterial yang menyebabkan dan mengidentifikasi terapi antibiotic yang tepat.

2.6 Pengobatan Konjungtivitis Bila konjungtivitis disebabkan oleh mikroorganisme, pasien harus diajari bagaimana cara menghindari kontraminasi mata yang sehat atau mata orang lain. Perawat dapat memberikan intruksi pada pasien untuk tidak menggosok mata yang sakit dan kemudian menyentuh mata yang sehat, mencuci tangan setelah setiap kali memegang mata yang sakit, dan menggunakan kain lap, handuk, dan sapu tangan baru yang terpisah untuk membersihkan mata yang sakit. Asuhan khusus harus dilakukan oleh personal asuhan kesehatan guna mengindari penyebaran konjungtivitis antar pasien. Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab. Konjungtivitis karena bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (sulfacetamide 15 %) atau antibiotika (Gentamycine 0,3 %; chlorampenicol 0,5 %). Konjungtivitis karena jamur sangat jarang sedangkan konjungtivitis karena virus pengobatan terutama ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, konjungtivitis karena alergi di obati dengan antihistamin (antazidine 0,5 %, rapazoline 0,05 %) atau kortikosteroid (misalnya dexametazone 0,1 %). Penanganannya dimulai dengan edukasi pasien untuk memperbaiki higiene kelopak mata. Pembersihan kelopak 2 sampai 3 kali sehari dengan artifisial tears dan salep dapat menyegarkan dan mengurangi gejala pada kasus ringan.

Pada kasus yang lebih berat dibutuhkan steroid topikal atau kombinasi antibiotik-steroid. Sikloplegik hanya dibutuhkan apabila dicurigai adanya iritis. Pada banyak kasus Prednisolon asetat (Pred forte), satu tetes, QID cukup efektif, tanpa adanya kontraindikasi. Apabila etiologinya dicurigai reaksi Staphylococcus atau acne rosasea, diberikan Tetracycline oral 250 mg atau erythromycin 250 mg QID PO, bersama dengan pemberian salep antibiotik topikal seperti bacitracin atau erythromycin sebelum tidur. Metronidazole topikal (Metrogel) diberikan pada kulit TID juga efektif. Karena tetracycline dapat merusak gigi pada anak-anak, sehingga kontraindikasi untuk usia di bawah 10 tahun. Pada kasus ini, diganti dengan doxycycline 100 mg TID atau erythromycin 250 mg QID PO. Terapi dilanjutkan 2 sampai 4 minggu. Pada kasus yang dicurigai, pemeriksaan X-ray dada untuk menyingkirkan tuberkulosis.

BAB III Asuhan Keperawatan Pengkajian 1. Identitas Klien a) Nama b) Jenis Kelamin c) Umur d) Agama e) Pendidikan f) Pekerjaan g) Status Pernikahan h) Alamat i) Tanggal Masuk j) Diagnosa Medis 2. Riwayat Kesehatan a) Keluhan utama: gatal dan nyeri dimata. b) Riwayat Kesehatan Sekarang : pasien mengatakan kedua matanya nyeri, berair, merah, terasa sangat gatal, dan saat bangun tidur mengeluarkan sekret yang jernih kadang kental dan berwarna putih. Pandangan kabur dan peka terhadap cahaya. c) Riwayat Kesehatan Dahulu : Pasien mengatakan tidak ada gangguan pada mata.
3. Pola Fungsi Kesehatan a) Psiko-Sosial Kaji apakah ada gangguan interaksi sosial semenjak klien menrasakan penyakitnya. b) Spiritual a. Kaji apakah klien mengalami gangguan melaksanakan rutinitas ibadahnya sehubungan dengan penyakit yang klien derita. c) Istirahat tidur

: Nn. D : Perempuan : 22 tahun : Islam : Sarjana : Mahasiswa : Belum menikah : Ds. Sidowaras Rt:01 Rw:02 : 06 Maret 2014 : Konjungtiviti

a. Kaji kualitas dan kuantitas tidur klien sejak dan sebelum sakit, apakah ada gangguan tidur sejak mengalami sakit, atau bagaimana perasaan klien sewaktu bangun tidur.

4. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum : Baik Kesadaran : Composmentis TTV TD : 100/70 mmHg ; Suhu : 370 ; Nadi : 80 x/menit; RR : 18 x/menit Pemeriksaan Fisik: a) Sistem pernafasan pola nafas, irama nafas dalam batas normal dan baik. b) Sistem kardiovaskular bunyi jantung, irama jantung dalam batas normal. c) Sistem pencernaan Mulut bersih, makan teratur 3X sehari. Dalam batas normal d) Sistem perkemihan BAK dan BAK dalam batas normal e) Sistem endokrin Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid f) Sistem genetalia Belum terkaji g) Sistem musculoskeletal Pergerakan sendi, otot, tulang dalam batas normal h) Sistem integumen Turgor kulit normal j) Sistem persarafan Dalam batas normal

5. Pemeriksaan Laboraturium 1) Pemeriksaan Giemsa/ pengecatan gram Dapat dijumpai sel-sel radang polimorfonuklear, sel-sel morfonuklear, juga bakteri atau jamur penyebab konjungtivitis.

2) Pemeriksaan Visus Catat derajat pendangan perifer klien karena jika terdapat sekret yang menempel pada kornea dapat menimbulkan kemunduran visus. Diagnosa keperawatan Analisa data TGL JAM DS: Pasien mengatakan nyeri pada kedua matanya DO: mata klien tampak hiperemia, berair dan kotor. TD : 100/70 mmHg; Suhu : 370 C Dilatasi pembuluh darah Konjungtivitis Nyeri Pengelompokan data Etiologi Masalah

Peradangan

Nyeri DS: ada purulen dan edema DO: mata klien tampak hiperemia, berair dan kotor. TD : 100/70 mmHg; Suhu : 370 C Konjungtivitis Resiko infeksi

Mikroorganisme allergen, iritatif

Kelnjar air mata terinfeksi

Fungsi sekresi terganggu

Hipersekresi

Resiko infeksi DS: Pasien mengatakan saat bangun tidur matanya lengket, dan pandangan klien sedikit kabur. DO: Mata klien tampak hiperemia, berair dan kotor. Konjungtivitis Gangguan persepsi sensori

Pengeluaran cairan meningkat

Terdapat purulent.

TIO meningkat

Kanal schlemm tersumbat

Iskemia syaraf optic

Ulkus kornea

Gangguan persepsi sensori DS : klien mengatakan mata gatal dan mata merah DO : mata merah Konjungtivitis Gangguan nyaman rasa

Peradangan

Dilatasi pembuluh darah

Granulasi disertai sensasi benda asing Tidak nyaman

Diagnosa keperawatan

1. Nyeri berhubungan dengan peradangan konjungtiva 2. Resiko infeksi berhubungan dengan infeksi pada kelenjar air mata 3. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan penerimaan sensori 4. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan sensasi benda asing

Daftar pustaka
C. Smeltzer Suzanne dan Brenda G.Bare. 2001.Keperawatan Medikal Bedah edisi 8.Jakarta: EGC