Anda di halaman 1dari 41

A.

Definisi Halusinasi 1. Pengertian Halusinasi adalah pengalaman panca indera tanpa adanya rangsangan (stimulus) misalnya penderita mendengar suara-suara, bisikan di telinganya padahal tidak ada sumber dari suara bisikan itu (Hawari, 2001). Halusinasi adalah persepsi sensorik yang keliru dan melibatkan panca indera (Isaacs, 2002). Persepsi merupakan tanggapan indera terhadap rangsangan yang datang dari luar, dimana rangsangan tersebut dapat berupa rangsangan penglihatan, penciuman, pendengaran, pengecapan dan perabaan. Interpretasi (tafsir) terhadap rangsangan yang datang dari luar itu dapat mengalami gangguan sehingga terjadilah salah tafsir (missinterpretation). Salah tafsir tersebut terjadi antara lain karena adanya keadaan afek yang luar biasa, seperti marah, takut, excited (tercengang), sedih dan nafsu yang memuncak sehingga terjadi gangguan atau perubahan persepsi (Triwahono, 2004). Persepsi didefinisikan sebagai suatu proses diterimanya rangsang sampai rangsang itu disadari dan dimengerti oleh penginderaan atau sensasi: proses penerimaan rangsang (Stuart, 2007). 2. Tanda dan Gejala Halusinasi Menurut Hamid (2000), perilaku klien yang terkait dengan halusinasi adalah sebagai berikut: Bicara sendiri. Senyum sendiri. Ketawa sendiri. Menggerakkan bibir tanpa suara. Pergerakan mata yang cepat Respon verbal yang lambat Menarik diri dari orang lain. Berusaha untuk menghindari orang lain. Tidak dapat membedakan yang nyata dan tidak nyata. Terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah. Perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa detik. Berkonsentrasi dengan pengalaman sensori. Sulit berhubungan dengan orang lain. Ekspresi muka tegang. Mudah tersinggung, jengkel dan marah. Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat. Tampak tremor dan berkeringat. Perilaku panik. Agitasi dan kataton. Curiga dan bermusuhan. Bertindak merusak diri, orang lain dan lingkungan. Ketakutan. Tidak dapat mengurus diri. Biasa terdapat disorientasi waktu, tempat dan orang. 3. Tahapan/Tingkatan Halusinasi Menurut Stuart dan Laraia (2001), terdiri dari 4 fase : Fase I : Klien mengalami perasaan mendalam seperti ansietas, kesepian, rasa bersalah dan takut serta mencoba untuk berfokus pada pikiran yang menyenangkan untuk meredakan ansietas. Di sini klien tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan lidah tanpa suara, pergerakan mata yang cepat, diam dan asyik sendiri. Fase II : Pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan. Klien mulai lepas kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan sumber yang dipersepsikan. Disini terjadi peningkatan tanda-tanda sistem saraf otonom akibat ansietas seperti peningkatan tanda-tanda vital (denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah), asyik dengan pengalaman sensori dan kehilangan kemampuan untuk membedakan halusinasi dengan realita. Fase III : Klien berhenti menghentikan perlawanan terhadap halusinasi dan menyerah pada halusinasi tersebut. Di sini klien sukar berhubungan dengan orang lain, berkeringat, tremor, tidak mampu mematuhi perintah dari orang lain dan berada dalam kondisi yang sangat menegangkan terutama jika akan berhubungan dengan orang lain. Fase IV : Pengalaman sensori menjadi mengancam jika klien mengikuti perintah halusinasi. Di sini terjadi perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri, tidak mampu berespon terhadap perintah yang kompleks dan tidak mampu berespon lebih dari 1 orang. Kondisi klien sangat membahayakan. 4. Klasifikasi Halusinasi

a. Halusinasi pendengaran karakteristik ditandai dengan mendengar suara, teruatama suara suara orang, biasanya klien mendengar suara orang yang sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu. b.Halusinasi penglihatan : karakteristik dengan adanya stimulus penglihatan dalam bentuk pancaran cahaya, gambaran geometrik, gambar kartun dan / atau panorama yang luas dan kompleks. Penglihatan bisa menyenangkan atau menakutkan. c. Halusinasi penghidu : karakteristik ditandai dengan adanya bau busuk, amis dan bau yang menjijikkan seperti : darah, urine atau feses. Kadang kadang terhidu bau harum. Biasanya berhubungan dengan stroke, tumor, kejang dan dementia. d. Halusinasi peraba : karakteristik ditandai dengan adanya rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat. Contoh : merasakan sensasi listrik datang dari tanah, benda mati atau orang lain. e. Halusinasi pengecap : Karakteristik ditandai dengan merasakan sesuatu yang busuk, amis dan menjijikkan. f. Halusinasi sinestetik : karakteristik ditandai dengan merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalir melalui vena atau arteri, makanan dicerna atau pembentukan urine. (Menurut Stuart, 2007) B. Rentang Respon Menurut Stuart dan Laraia (2001), halusinasi merupakan salah satu respon maladaptif individu yang berada dalam rentang respon neurobiologi. Pikiran logis: yaitu ide yang berjalan secara logis dan koheren. Persepsi akurat: yaitu proses diterimanya rangsang melalui panca indra yang didahului oleh perhatian (attention) sehingga individu sadar tentang sesuatu yang ada di dalam maupun di luar dirinya. Emosi konsisten: yaitu manifestasi perasaan yang konsisten atau afek keluar disertai banyak komponen fisiologik dan biasanya berlangsung tidak lama. Perilaku sesuai: perilaku individu berupa tindakan nyata dalam penyelesaian masalah masih dapat diterima oleh norma-norma social dan budaya umum yang berlaku. Hubungan social harmonis: yaitu hubungan yang dinamis menyangkut hubungan antar individu dan individu, individu dan kelompok dalam bentuk kerjasama. Proses pikir kadang terganggu (ilusi): yaitu menifestasi dari persepsi impuls eksternal melalui alat panca indra yang memproduksi gambaran sensorik pada area tertentu di otak kemudian diinterpretasi sesuai dengan kejadian yang telah dialami sebelumnya. Emosi berlebihan atau kurang: yaitu menifestasi perasaan atau afek keluar berlebihan atau kurang. Perilaku tidak sesuai atau biasa: yaitu perilaku individu berupa tindakan nyata dalam penyelesaian masalahnya tidak diterima oleh norma norma social atau budaya umum yang berlaku. Perilaku aneh atau tidak biasa: perilaku individu berupa tindakan nyata dalam menyelesaikan masalahnya tidak diterima oleh norma-norma sosial atau budaya umum yang berlaku. Menarik diri: yaitu percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain. Isolasi sosial: menghindari dan dihindari oleh lingkungan sosial dalam berinteraksi.

B.

Faktor Predisposisi Menurut Stuart (2007), faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah: 1. Biologis Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Ini ditunjukkan oleh penelitian-penelitian yang berikut: a. Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak yang lebih luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah frontal, temporal dan limbik berhubungan dengan perilaku psikotik. b. Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang berlebihan dan masalah-masalah pada system reseptor dopamin dikaitkan dengan terjadinya skizofrenia. c. Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan terjadinya atropi yang signifikan pada otak manusia. Pada anatomi otak klien dengan skizofrenia kronis, ditemukan pelebaran lateral ventrikel, atropi korteks bagian depan dan atropi otak kecil (cerebellum). Temuan kelainan anatomi otak tersebut didukung oleh otopsi (post-mortem). 2. Psikologis Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon dan kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup klien. 3. Sosial Budaya Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti: kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stress. C. Faktor Presipitasi

Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stressor dan masalah koping dapat mengindikasikan kemungkinan kekambuhan (Keliat, 2006). Menurut Stuart (2007), faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi adalah: 1. Biologis Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan. 2. Stress lingkungan Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku. 3. Sumber koping Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stressor. E. Mekanisme koping 1. Regresi: menjadi malas beraktifitas sehari-hari. 2. Proyeksi: menjelaskan prubahan suatu persepsi dengan berusaha untuk mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain. 3. Menarik diri: sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimulus internal. (Stuart, 2007). II. Masalah Keperawatan dan Data Fokus Pengkajian Konsep Dasar Keperawatan Menurut Carpenito (1998) dikutip oleh Keliat (2006), pemberian asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerjasama antara perawat dengan klien, keluarga atau masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Asuhan keperawatan juga menggunakan pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian menentukan masalah atau diagnosa, menyusun rencana tindakan keperawatan, implementasi dan evaluasi. 1. Pengkajian Menurut Stuart dan Laraia (2001), pengkajian merupakan tahapan awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Data pada pengkajian kesehatan jiwa dapat dikelompokkam menjadi faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien. Berbagai aspek pengkajian sesuai dengan pedoman pengkajian umum, pada formulir pengkajian proses keperawatan. Pengkajian menurut Keliat (2006) meliputi beberapa faktor antara lain: a. Identitas klien dan penanggung Yang perlu dikaji yaitu: nama, umur, jenis kelamin, agama, suku, status, pendidikan, pekerjaan, dan alamat. b. Alasan masuk rumah sakit Umumnya klien halusinasi di bawa ke rumah sakit karena keluarga merasa tidak mampu merawat, terganggu karena perilaku klien dan hal lain, gejala yang dinampakkan di rumah sehingga klien dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. c. Faktor predisposisi 1). Faktor perkembangan terlambat a. Usia bayi tidak terpenuhi kebutuhan makanan, minum dan rasa aman. b. Usia balita, tidak terpenuhi kebutuhan otonomi. c. Usia sekolah mengalami peristiwa yang tidak terselesaikan. 2). Faktor komunikasi dalam keluarga a. Komunikasi peran ganda. b. Tidak ada komunikasi. c. Tidak ada kehangatan. d. Komunikasi dengan emosi berlebihan. e. Komunikasi tertutup. f. Orang tua yang membandingkan anak anaknya, orang tua yang otoritas dan komplik orang tua. 3). Faktor sosial budaya Isolasi sosial pada yang usia lanjut, cacat, sakit kronis, tuntutan lingkungan yang terlalu tinggi. 4). Faktor psikologis Mudah kecewa, mudah putus asa, kecemasan tinggi, menutup diri, ideal diri tinggi, harga diri rendah, identitas diri tidak jelas, krisis peran, gambaran diri negatif dan koping destruktif. 5). Faktor biologis Adanya kejadian terhadap fisik, berupa : atrofi otak, pembesaran vertikel, perubahan besar dan bentuk sel korteks dan limbik. 6). Faktor genetik Telah diketahui bahwa genetik schizofrenia diturunkan melalui kromoson tertentu. Namun demikian kromoson yang keberapa yang menjadi faktor penentu gangguan ini sampai sekarang masih dalam tahap penelitian. Diduga letak gen skizofrenia adalah kromoson nomor enam, dengan kontribusi genetik tambahan nomor 4,8,5 dan 22. Anak kembar identik memiliki kemungkinan mengalami skizofrenia sebesar 50% jika salah satunya mengalami skizofrenia, sementara jika di zygote peluangnya sebesar 15 %, seorang anak yang salah satu orang tuanya mengalami skizofrenia berpeluang 15% mengalami skizofrenia, sementara bila kedua orang tuanya skizofrenia maka peluangnya menjadi 35 %. d. Faktor presipitasi Faktor faktor pencetus respon neurobiologis meliputi: 1. Berlebihannya proses informasi pada system syaraf yang menerima dan memproses informasi di thalamus dan frontal otak. 2. Mekanisme penghataran listrik di syaraf terganggu (mekanisme penerimaan abnormal). 3. Adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya. e. Faktor Pemicu

1. Kesehatan : Nutrisi dan tidur kurang, ketidaksiembangan irama sirkardian, kelelahan dan infeksi, obat-obatan system syaraf pusat, kurangnya latihan dan hambatan untuk menjangkau pelayanan kesehatan. 2. Lingkungan sekitar yang memusuhi, masalah dalam rumah tangga, kehilangan kebebasan hidup dalam melaksanakan pola aktivitas sehari-hari, sukar dalam berhubungan dengan orang lain, isoalsi social, kurangnya dukungan social, tekanan kerja (kurang terampil dalam bekerja), stigmasasi, kemiskinan, kurangnya alat transportasi dan ketidakmamapuan mendapat pekerjaan. 3. Sikap : Merasa tidak mampu (harga diri rendah), putus asa (tidak percaya diri), merasa gagal (kehilangan motivasi menggunakan keterampilan diri), kehilangan kendali diri (demoralisasi), merasa punya kekuatan berlebihan, merasa malang (tidak mampu memenuhi kebutuhan spiritual), bertindak tidak seperti orang lain dari segi usia maupun kebudayaan, rendahnya kemampuan sosialisasi, perilaku agresif, perilaku kekerasan, ketidakadekuatan pengobatan dan ketidak adekuatan penanganan gejala. 4. Perilaku : Respon perilaku klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan, rasa tidak aman, gelisah, bingung, perilaku merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan, bicara inkoheren, bicara sendiri, tidak membedakan yang nyata dengan yang tidak nyata. Perilaku klien yang mengalami halusinasi sangat tergantung pada jenis halusinasinya. Apabila perawat mengidentifikasi adanya tanda tanda dan perilaku halusinasi maka pengkajian selanjutnya harus dilakukan tidak hanya sekedar mengetahui jenis halusinasi saja. Validasi informasi tentang halusinasi yang diperlukan meliputi: a). Isi halusinasi Ini dapat dikaji dengan menanyakan suara siapa yang didengar, apa yang dikatakan suara itu, jika halusinasi audiotorik. Apa bentuk bayangan yang dilihat oleh klien, jika halusinasi visual, bau apa yang tercium jika halusinasi penghidu, rasa apa yang dikecap jika halusinasi pengecapan,dan apa yang dirasakan dipermukaan tubuh jika halusinasi perabaan. b). Waktu dan frekuensi. Ini dapat dikaji dengan menanyakan kepada klien kapan pengalaman halusinasi muncul, berapa kali sehari, seminggu, atau sebulan pengalaman halusinasi itu muncul. Informasi ini sangat penting untuk mengidentifikasi pencetus halusinasi dan menentukan bilamana klien perlu perhatian saat mengalami halusinasi. c). Situasi pencetus halusinasi. Perawat perlu mengidentifikasi situasi yang dialami sebelum halusinasi muncul. Selain itu perawat juga bias mengobservasi apa yang dialami klien menjelang munculnya halusinasi untuk memvalidasi pernyataan klien. d). Respon Klien Untuk menentukan sejauh mana halusinasi telah mempengaruhi klien bisa dikaji dengan apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami pengalaman halusinasi. Apakah klien masih bisa mengontrol stimulus halusinasinya atau sudah tidak berdaya terhadap halusinasinya. d. Pemeriksaan fisik Yang dikaji adalah tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernafasan dan tekanan darah), berat badan, tinggi badan serta keluhan fisik yang dirasakan klien. Status Mental Pengkajian pada status mental meliputi: 1). Penampilan: tidak rapi, tidak serasi dan cara berpakaian. 2). Pembicaraan: terorganisir atau berbelit-belit. 3).Aktivitas motorik: meningkat atau menurun. 4). Alam perasaan: suasana hati dan emosi. 5). Afek: sesuai atau maladaptif seperti tumpul, datar, labil dan ambivalen 6). Interaksi selama wawancara: respon verbal dan nonverbal. 7). Persepsi : ketidakmampuan menginterpretasikan stimulus yang ada sesuai dengan informasi. 8). Proses pikir: proses informasi yang diterima tidak berfungsi dengan baik dan dapat mempengaruhi proses pikir. 9). Isi pikir: berisikan keyakinan berdasarkan penilaian realistis. 10). Tingkat kesadaran: orientasi waktu, tempat dan orang. 11). Memori a. Memori jangka panjang: mengingat peristiwa setelah lebih setahun berlalu. b. Memori jangka pendek: mengingat peristiwa seminggu yang lalu dan pada saat dikaji. 12). Kemampuan konsentrasi dan berhitung: kemampuan menyelesaikan tugas dan berhitung sederhana. 13). Kemampuan penilaian: apakah terdapay masalah ringan sampai berat. 14). Daya tilik diri: kemampuan dalam mengambil keputusan tentang diri. Kebutuhan persiapan pulang: yaitu pola aktifitas sehari-hari termasuk makan dan minum, BAB dan BAK, istirahat tidur, perawatan diri, pengobatan dan pemeliharaan kesehatan sera aktifitas dalam dan luar ruangan. Mekanisme koping 1). Regresi: menjadi malas beraktifitas sehari-hari. 2). Proyeksi: menjelaskan prubahan suatu persepsi dengan berusaha untuk mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain. 3). Menarik diri: sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimulus internal. Masalah psikososial dan lingkungan: masalah berkenaan dengan ekonomi, pekerjaan, pendidikan dan perumahan atau pemukiman. Aspek medik: diagnosa medik dan terapi medik. Masalah Keperawatan Menurut Keliat (2006) masalah keperawatan yang sering terjadi pada klien halusinasi adalah: - Perubahan persepsi sensori : halusinasi pendengaran. - Resiko mencederai diri sendiri orang lain dan lingkungan. - Isolasi sosial : menarik diri. - Gangguan konsep diri : harga diri rendah.

- Intoleransi aktifitas. - Defisit perawatan diri. III. Diagnosa Keperawatan

- Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi - Isolasi Sosial : Menarik Diri - Resti Perilaku Kekerasan - Resti Mencederai diri (BD) IV. Rencana Tindakan Keperawatan Tujuan Pasien mampu : Mengenali halusinasi yang dialaminya Mengontrol halusinasinya Mengikuti program pengobatan

Keluarga mampu : Merawat pasien di rumah dan menjadi sistem pendukung yang efektif untuk pasien

Kriteria Evaluasi Setelah .x pertemuan, pasien dapat menyebutkan : Isi, waktu, frekuensi, situasi pencetus, perasaan Mampu memperagakan cara dalam mengontrol halusinasi -

Setelah .x pertemuan, pasien mampu : Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan Memperagakan cara bercakapcakap dengan orang lain Setelah .x SP 3

Intervensi SP I Bantu pasien mengenal halusinasi (isi, waktu terjadinya, frekuensi, situasi pencetus, perasaan saat terjadi halusinasi) Latih mengontrol halusinasi dengan cara menghardik Tahapan tindakannya meliputi : Jelaskan cara menghardik halusinasi Peragakan cara menghardik Minta pasien memperagakan ulang Pantau penerapan cara ini, beri penguatan perilaku pasien Masukkan dalam jadwal kegiatan pasien SP 2 Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1) Latih berbicara / bercakap dengan orang lain saat halusinasi muncul Masukkan dalam jadwal kegiatan pasien

pertemuan pasien mampu : Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan dan Membuat jadwal kegiatan sehari-hari dan mampu memperagakannya.

Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1 dan 2) Latih kegiatan agar halusinasi tidak muncul Tahapannya : Jelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untuk mengatasi halusinasi Diskusikan aktivitas yang biasa dilakukan oleh pasien Latih pasien melakukan aktivitas Susun jadwal aktivitas sehari-hari sesuai dengan aktivitas yang telah dilatih (dari bangun pagi sampai tidur malam) Pantau pelaksanaan jadwal kegiatan, berikan penguatan terhadap perilaku pasien yang (+)

Setelah .x pertemuan, pasien mampu : Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan Menyebutkan manfaat dari program pengobatan Setelah .x pertemuan keluarga mampu menjelaskan tentang halusinasi -

Setelah .x pertemuan keluarga mampu : Menyelesaikan kegiatan yang sudah dilakukan Memperagakan

SP 4 Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1,2&3) Tanyakan program pengobatan Jelaskan pentingnya penggunaan obat pada gangguan jiwa Jelaskan akibat bila tidak digunakan sesuai program Jelaskan akibat bila putus obat Jelaskan cara mendapatkan obat/ berobat Jelaskan pengobatan (5B) Latih pasien minum obat Masukkan dalam jadwal harian pasien SP 1 Identifikasi masalah keluarga dalam merawat pasien Jelaskan tentang halusinasi : Pengertian halusinasi Jenis halusinasi yang dialami pasien Tanda dan gejala halusinasi Cara merawat pasien halusinasi (cara berkomunikasi, pemberian obat & pemberian aktivitas kepada pasien) Sumber-sumber pelayanan kesehatan yang bisa dijangkau Bermain peran cara merawat Rencana tindak lanjut keluarga, jadwal keluarga untuk merawat pasien SP 2 Evaluasi kemampuan keluarga (SP 1) Latih keluarga merawat pasien RTL keluarga / jadwal keluarga untuk merawat pasien

cara merawat pasien Setelah .x SP 3 pertemuan keluarga - Evaluasi kemampuan keluarga (SP 2) mampu : - Latih keluarga merawat pasien Menyebutkan - RTL keluarga / jadwal keluarga untuk kegiatan yang merawat pasien sudah dilakukan Memperagakan cara merawat pasien serta mampu membuat RTL

Setelah .x pertemuan keluarga mampu : Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan Melaksanakan Follow Up rujukan

SP 4 Evaluasi kemampuan keluarga Evaluasi kemampuan pasien RTL Keluarga : Follow Up Rujukan

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI: HALUSINASI


DECEMBER 4, 2013 ELMORE SAGALA LEAVE A COMMENT LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI A. Pengertian Menurut May Durant Thomas (2004) halusinasi secara umum dapat ditemukan pada pasien gangguan jiwa seperti: Skizoprenia, Depresi, Delirium dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lingkungan. Berdasarkan hasil pengkajian pada pasien dirumah sakit jiwa ditemukan 85% pasien dengan kasus halusinasi. Sehingga penulis merasa tertarik untuk menulis kasus tersebut dengan pemberian Asuhan keperawatan mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi. B. Rentang respon halusinasi Respon Adaptif Respon Maladaptif >Pikiran logis >Distorsi pikiran >Gangguan pikir >Persepsi akurat >Ilusi Halusinasi >Emosi konsisten dgn pengalaman >Reaksi emosi >> atau < >Sulit berespon emosi >Prilaku sesuai >Prilaku aneh/tidak biasa >Prilaku disorganisasi >Berhubungan sosial >Menarik diri >Isolasi sosial C. Klasifikasi Klasifikasi halusinasi sebagai berikut : 1. Halusinasi dengar (akustik, auditorik), pasien itu mendengar suara yang membicarakan, mengejek, menertawakan, atau mengancam padahal tidak ada suara di sekitarnya. 2. Halusinasi lihat (visual), pasien itu melihat pemandangan orang, binatang atau sesuatu yang tidak ada. 3. Halusinasi bau / hirup (olfaktori). Halusinasi ini jarang di dapatkan. Pasien yang mengalami mengatakan mencium bau-bauan seperti bau bunga, bau kemenyan, bau mayat, yang tidak adasumbernya. 4. Halusinasi kecap (gustatorik). Biasanya terjadi bersamaan dengan halusinasi bau / hirup. Pasien itu merasa (mengecap) suatu rasa di mulutnya. 5. Halusinasi singgungan (taktil, kinaestatik). Individu yang bersangkutan merasa ada seseorang yang meraba atau memukul. Bila rabaab ini merupakan rangsangan seksual halusinasi ini disebut halusinasi heptik. D.Fase-fase halisinasi 1.Comforting, Ansietas sedang : halusinasi menyenangkan 2.Condemning, Ansietas berat : halusinasi menjadi menjijikkan 3.Controling, Ansietas berat : Pengalaman sensori menjadi berkuasa 4.Consquering, Panik : Umumnya menjadi melebur dalam halusinasinya

E.Tanda dan Gejala Pasien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering di dapatkan duduk terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum atau bicara sendiri, secara tiba-tiba marah atau menyerang orang lain, gelisah, melakukan gerakan seperti sedang menikmati sesuatu. Juga keterangan dari pasien sendiri tentang halusinasi yang di alaminya (apa yang di lihat, di dengar atau di rasakan). F.Etiologi Menurut Mary Durant Thomas (2007), Halusinasi dapat terjadi pada klien dengan gangguan jiwa seperti skizoprenia, depresi atau keadaan delirium, demensia dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lainnya. Halusinasi adapat juga terjadi dengan epilepsi, kondisi infeksi sistemik dengan gangguan metabolik. Halusinasi juga dapat dialami sebagai efek samping dari berbagai pengobatan yang meliputi anti depresi, anti kolinergik, anti inflamasi dan antibiotik, sedangkan obat-obatan halusinogenik dapat membuat terjadinya halusinasi sama seperti pemberian obat diatas. Halusinasi dapat juga terjadi pada saat keadaan individu normal yaitu pada individu yang mengalami isolasi, perubahan sensorik seperti kebutaan, kurangnya pendengaran atau adanya permasalahan pada pembicaraan. Penyebab halusinasi pendengaran secara spesifik tidak diketahui namun banyak faktor yang mempengaruhinya seperti faktor biologis , psikologis , sosial budaya,dan stressor pencetusnya adalah stress lingkungan , biologis , pemicu masalah sumber-sumber koping dan mekanisme koping. G.Pohon masalah Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan PSP : Halusinasi Isolasi sosial : Menarik diri Gangguan Konsep Diri : Harga diri rendah H.Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada pasien halusinasi dengan cara : 1. Menciptakan lingkungan yang terapeutik Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan pasien akibat halusinasi, sebaiknya pada permulaan pendekatan di lakukan secara individual dan usahakan agar terjadi knntak mata, kalau bisa pasien di sentuh atau di pegang. Pasien jangan di isolasi baik secara fisik atau emosional. Setiap perawat masuk ke kamar atau mendekati pasien, bicaralah dengan pasien. Begitu juga bila akan meninggalkannya hendaknya pasien di beritahu. Pasien di beritahu tindakan yang akan di lakukan. Di ruangan itu hendaknya di sediakan sarana yang dapat merangsang perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan dengan realitas, misalnya jam dinding, gambar atau hiasan dinding, majalah dan permainan. 2. Melaksanakan program terapi dokter Sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan dengan rangsangan halusinasi yang di terimanya. Pendekatan sebaiknya secara persuatif tapi instruktif. Perawat harus mengamati agar obat yang di berikan betul di telannya, serta reaksi obat yang di berikan. 3. Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah yang ada Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat menggali masalah pasien yang

merupakan penyebab timbulnya halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan data ini juga dapat melalui keterangan keluarga pasien atau orang lain yang dekat dengan pasien. 4. Memberi aktivitas pada pasien Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik, misalnya berolah raga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini dapat membantu mengarahkan pasien ke kehidupan nyata dan memupuk hubungan dengan orang lain. Pasien di ajak menyusun jadwal kegiatan dan memilih kegiatan yang sesuai. 5. Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data pasien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses keperawatan, misalny dari percakapan dengan pasien di ketahui bila sedang sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi bila ada orang lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas. Perawat menyarankan agar pasien jangan menyendiri dan menyibukkan diri dalam permainan atau aktivitas yang ada. Percakapan ini hendaknya di beritahukan pada keluarga pasien dan petugaslain agar tidak membiarkan pasien sendirian dan saran yang di berikan tidak bertentangan. I. Pengkajian Keperawatan Pada Paseien Dengan Halusinasi Pada tahap ini perawat menggali faktor-faktor yang ada dibawah ini yaitu : 1. Faktor predisposisi. Adalah faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress. Diperoleh baik dari pasien maupun keluarganya, mengenai factor perkembangan sosial kultural, biokimia, psikologis dan genetik yaitu factor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress. Faktor Perkembangan Jika tugas perkembangan mengalami hambatan dan hubungan interpersonal terganggu maka individu akan mengalami stress dan kecemasan. Faktor Sosiokultural Berbagai faktor dimasyarakat dapat menyebabkan seorang merasa disingkirkan oleh kesepian terhadap lingkungan tempat klien di besarkan. Faktor Biokimia Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Dengan adanya stress yang berlebihan dialami seseorang maka didalam tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia seperti Buffofenon dan Dimetytranferase (DMP). Faktor Psikologis Hubungan interpersonal yang tidak harmonis serta adanya peran ganda yang bertentangan dan sering diterima oleh anak akan mengakibatkan stress dan kecemasan yang tinggi dan berakhir dengan gangguan orientasi realitas. Faktor genetik Gen apa yang berpengaruh dalam skizoprenia belum diketahui, tetapi hasilstudi menunjukkan bahwa faktor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini. 2.Faktor Presipitasi Yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan, ancaman / tuntutan yang memerlukan energi ekstra untuk koping. Adanya rangsang lingkungan yang sering yaitu seperti partisipasi klien dalam kelompok, terlalu lama diajak komunikasi, objek yang ada dilingkungan juga

suasana sepi / isolasi adalah sering sebagai pencetus terjadinya halusinasi karena hal tersebut dapat meningkatkan stress dan kecemasan yang merangsang tubuh mengeluarkan zat halusinogenik. 3.Perilaku Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan, perasaan tidak aman, gelisah dan bingung, prilaku merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata. Menurut Rawlins dan Heacock, 1993 mencoba memecahkan masalah halusinasi berlandaskan atas hakekat keberadaan seorang individu sebagai mahkluk yang dibangun atas dasar unsur-unsur bio-psiko-sosio-spiritual sehingga halusinasi dapat dilihat dari dimensi yaitu : Dimensi Fisik Manusia dibangun oleh sistem indera untuk menanggapi rangsang eksternal yang diberikan oleh lingkungannya. Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga delirium, intoksikasi alkohol dan kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama. Dimensi Emosional Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi. Isi dari halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan menakutkan. Klien tidak sanggup lagi menentang perintah tersebut hingga dengan kondisi tersebut klien berbuat sesuatu terhadap ketakutan tersebut. Dimensi Intelektual Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa individu dengan halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego. Pada awalnya halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri untuk melawan impuls yang menekan, namun merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tak jarang akan mengontrol semua prilaku klien. Dimensi Sosial Dimensi sosial pada individu dengan halusinasi menunjukkan adanya kecenderungan untuk menyendiri. Individu asyik dengan halusinasinya, seolah-olah ia merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial, kontrol diri dan harga diri yang tidak didapatkan dalam dunia nyata. Isi halusinasi dijadikan sistem control oleh individu tersebut, sehingga jika perintah halusinasi berupa ancaman, dirinya atau orang lain individu cenderung untuk itu. Oleh karena itu, aspek penting dalam melaksanakan intervensi keperawatan klien dengan mengupayakan suatu proses interaksi yang menimbulkan pengalaman interpersonal yang memuaskan, serta mengusakan klien tidak menyendiri sehingga klien selalu berinteraksi dengan lingkungannya dan halusinasi tidak berlangsung. Dimensi Spiritual Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial, sehingga interaksi dengan manusia lainnya merupakan kebutuhan yang mendasar. Pada individu tersebut cenderung menyendiri hingga proses diatas tidak terjadi, individu tidak sadar dengan keberadaannya dan halusinasi menjadi sistem kontrol dalam individu tersebut. Saat halusinasi menguasai dirinya individu kehilangan kontrol kehidupan dirinya. 4.Sumber Koping Suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi seseorang. Individu dapat mengatasi stress dan anxietas dengan menggunakan sumber koping dilingkungan. Sumber koping tersebut sebagai modal untuk menyelesaikan masalah, dukungan sosial dan keyakinan budaya, dapat membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stress dan mengadopsi strategi koping yang berhasil.

5.Mekanisme Koping Tiap upaya yang diarahkan pada pelaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri. J. Diagnosa Keperawatan Yang Muncul 1.Resiko perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain berhubungan dengan halusinasi. 2.Perubahan persepsi sensorik : halusinasi berhubungan dengan menarik diri 3.Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah. K. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
Dx Keperawatan Tgl No. Dx Tujuan Perencanaan Kreteria Evaluasi Intervensi

Gangguan sensori persepsi : halusinasi (lihat/dengar/penghidung/ raba/kecap)

TUM: Klien dapat mengontrol halusinasi yang dialaminya TUK 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya

1. Klien menunjukan tanda-tanda percaya kepada perawat : Ekspresi wajah bersahabat Menunjukan rasa senang Ada kontak mata Mau berjabat tangan Mau menyebutkan nama Mau menjawab salam Mau duduk berdampingan dengan perawat Bersedia mengungkapkan masalah yang dihadapi

1. Bina hubungan saling percaya de menggunakan prinsip komunikasi terapeutik : Sapa klien dengan ramah baik v maupun non verbal Perkenalkan nama, nama pangg dan tujuan perawat berkenalan Tanyakan nama lengkap dan na panggilan yang disukai klien Buat kontrak yang jelas Tunjukan sikap jujur dan menep janji setiap kali interaksi Tunjukan sikap empati dan menerima apa adanya Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien Dengarkan dengan penuh perha ekspresi perasaan klien

TUK 2 : Klien dapat mengenal halusinasinya

2. Klien mampu menyebutkan : Isi Waktu Frekuensi Situasi dan kondisi yang menimbulkan halusinasi

2.1 Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap 2.2 Observasi tingkah laku klien terkai dengan halusinasinya (dengar/lihat/penghidup/raba/kecap) Jika menemukan klien yang sedang halusinasi : Tanyakan apakah klien mengala sesuatu (halusinasi dengar/lihat/penghidup/raba/kecap) Jika klien menjawab ya, tanyaka apa yang sedang dialaminya Katakan bahwa perawat percaya klien mengalami hal tersebut, namun perawat sendiri tidak mengalaminya (dengan nada bersahabat tanpa menudu atau menghakimi) Katakan bahwa ada klien lain ya mengalaminya hal yang sama. Katakan bahwa perawat akan membantu klien jika klien tidak sedang berhalusinasi klarifikasi tentang adanya pengalaman halusinasi, diskusikan den klien : Isi, waktu dan frekuensi terjadin halusinasi (pagi, siang, sore, malam ata

sering dan kadang-kadang) Situasi dan kondisi yang menimbulkan atau tidak menimbulkan halusinasi

3. Klien mampu menyatakan perasaan dan responnya saat mengalami halusinasi : Marah Takut Sedih Senang Cemas Jengkel

2.3 Diskusikan dengan klien apa yang dirasakn jika terjadi halusinasi dan beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya. 2.4 Diskusikan dengan klien apa yang dilakukan untuk mengatasi perasaan tersebut. 2.5 Diskusikan tentang dampak yang a dialaminya bila klien menikmati halusinasinya.

TUK 3 : Klien dapat mengontrol halusinasinya

3.1 Klien mampu menyebutkan tindakan yang biasanya dilakukan untuk mengendalikan halusinasinya 3.2 klien dapat menyebutkan cara baru mengontrol halusinasinya. 3.3 Klien dapat mampu memilih dan memperagakan cara mengatasi halusinasi (dengar/lihat/penghidup/raba/kecap) 3.4 Klien dapat melaksanakan cara yang telah dipilih untuk mengendalikan halusinasinya 3.5 Klien mampu mengikuti terapi aktivitas kelompok

3.1 identifikasi bersama klien cara ata tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi (tidur, marah, menyibukan d dll) 3.2 Diskusikan cara yang digunakan k Jika cara yang digunakan adapti berikan pujian Jika cara yang digunakan malad diskusikan kerugian cara tersebut. 3.3 diskusikan cara baru untuk memutus/mengontrol timbulnya halusi Katakan pada diri sendiri bahwa tidak nyata (saya tidak mau dengar/lihat/penghidup/raba/ kecap pada saat halusinasi terjadi) Menemui orang lain (perawat/teman/keluarga/ anggota kelu untuk menceritakan tentang halusinasin Membuat dan melaksanakan jad kegiatan sehari hari yang telah disusun Meminta keluarga/teman/peraw menyapa jika sedang berhalusinasi. 3.4 Bantu klien untuk memilih cara ya telah dianjurkan dan latih untuk mencobanya. 3.5 Beri kesempatan untuk melakukan yang dipilih dan dilatih. 3.6 Pantau pelaksanaan yang telah dip dan dilatih, jika berhasil beri pujian 3.7 Anjurkan klien mengikuti terapi aktivitas kelompok, orientasi realita, stimulasi persepsi.

TUK 4 : Klien dapat dukungan dari keluarga untuk mengontrol halusinasinya

4.1 Keluarga menyatakan setuju untuk mengikuti pertemuan dengan perawat 4.2 Keluarga mampu menyebutkan pengertian, tanda dan gejala, proses terjadinya halusinasi dan tindakan untuk mengendalikan halusinasi

4.1 Buat kentrak dengan keluarga untu pertemuan (waktu, tempat dan topik) 4.2 Diskusikan dengan keluarga (pada pertemuan keluarga/kunjunga rumah) Pengertian halusinasi Tanda dan gejala halusinasi Proses terjadinya halusinasi Cara yang dapat dilakukan klien keluarga untuk memutuskan halusinasi Obat-obatan halusinasi Cara merawat anggota keluarga halusinasi dirumah (beri kegiatan, jang biarkan sendiri, makan bersama, beperg bersama, memantau obat-obatan dan ca pemberiannya untuk mengatasi halusin Beri informasi waktu kontrol kerumah sakit dan bagaimana cara men

bantuan jika halusinasi tidak dapat diat dirumah

TUK 5 : Klien dapat memanfaatkan obat-obatan dengan baik

5.1 Klien mampu menyebutkan: Manfaat minum obat Kerugian tidak minum obat Nama, warna, dosis, efek samping obat 5.2 Klien mampu mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar 5.3 Klien mampu menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dokter

5.1 Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum oba nama, warna, dosis, cara, efek terapi da efek samping penggunaan obat 5.2 Pantau klien saat penggunaan obat 5.3 Beri pujian jika klien menggunaka obat dengan benar 5.4 Diskusikan akibat berhenti minum tanpa konsultasi dengan dokter 5.5 Anjurkan klien untuk konsultasi ke dokter/perawat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

L.Daftar Pustaka Directorat Kesehatan Jiwa, Dit. Jen Yan. Kes. Dep. Kes R.I. Keperawatan Jiwa. Teori dan Tindakan Keperawatan Jiwa, , 2003 Keliat Budi, Anna, Peran Serta Keluarga Dalam Perawatan Klien Gangguan Jiwa, EGC, 1998 Keliat Budi Anna, dkk, Proses Keperawatan Jiwa, EGC, 1987 Maramis, W.F, Ilmu Kedokteran Jiwa, Erlangga Universitas Press, 1990 Rasmun, Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi dengan Keluarga, CV. Sagung Seto, , 2007. Residen Bagian Psikiatri UCLA, Buku Saku Psikiatri, EGC, 1997 Stuart & Sunden, Pocket Guide to Psychiatric Nursing, EGC, 2001

LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI 1. Kasus (masalah Utama) Persepsi didefinisikan sebagai suatu proses diterimanya rangsang sampai rangsang itu disadari dan dimengerti oleh penginderaan atau sensasi: proses penerimaan rangsang (Stuart, 2007). Perubahan persepsi sensori ditandai oleh adanya halusinasi. Beberapa pengertian mengenai halusinasi di bawah ini dikemukakan oleh beberapa ahli: Halusinasi adalah pengalaman panca indera tanpa adanya rangsangan (stimulus) misalnya penderita mendengar suara-suara, bisikan di telinganya padahal tidak ada sumber dari suara bisikan itu (Hawari, 2005). Halusinasi adalah sensasi panca indera tanpa adanya rangsangan. Klien merasa melihat, mendengar, membau, ada rasa raba dan rasa kecap meskipun tidak ada sesuatu rangsang yang tertuju pada kelima indera tersebut (Izzudin, 2005). Halusinasi adalah kesan, respon dan pengalaman sensori yang salah (Stuart, 2007). Jenis Halusinasi adalah sebagai berikut: a. Pendengaran Mendengar suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien, bahkan sampai pada percakapan lengkap antara dua orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa klien disuruh untuk melakukan sesuatu kadang dapat membahayakan. Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara manusia, hewan atau mesin, barang, kejadian alamiah dan musik dalam keadaan sadar tanpa adanya rangsang apapun (Maramis, 2005). Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara atau bunyi yang berkisar dari suara sederhana sampai suara yang berbicara mengenai klien sehingga klien berespon terhadap suara atau bunyi tersebut (Stuart, 2007). b. Penglihatan Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris, gambar kartun, bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan bias yang menyenangkan atau menakutkan seperti melihat monster. c. Penghidu Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses umumnya bau-bauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi penghidu sering akibat stroke, tumor, kejang, atau dimensia.
d. e. Pengecapan Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses. Perabaan Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain. Cenestetik Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri, pencernaan makan atau pembentukan urine. Kinistetik Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak.

f. g.

2. Proses Terjadinya Masalah a. Faktor Predisposisi Menurut Stuart (2007), 1. Biologis

faktor

penyebab

terjadinya

halusinasi

adalah:

a.

b. c.

b.

1.

Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Ini ditunjukkan oleh penelitian-penelitian yang berikut: Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak yang lebih luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah frontal, temporal dan limbik berhubungan dengan perilaku psikotik. Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang berlebihan dan masalahmasalah pada system reseptor dopamin dikaitkan dengan terjadinya skizofrenia. Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan terjadinya atropi yang signifikan pada otak manusia. Pada anatomi otak klien dengan skizofrenia kronis, ditemukan pelebaran lateral ventrikel, atropi korteks bagian depan dan atropi otak kecil (cerebellum). Temuan kelainan anatomi otak tersebut didukung oleh otopsi (post-mortem). 2. Psikologis Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon dan kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup klien. 3. Sosial Budaya Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti: kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stress. Faktor Presipitasi Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stressor dan masalah koping dapat mengindikasikan kemungkinan kekambuhan (Keliat, 2006). Menurut Stuart (2007), faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi adalah: Biologis Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.

2. Stress lingkungan Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku. 3. Sumber koping Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stressor. c. Mekanisme Koping Regresi: menjadi malas beraktifitas sehari-hari. Proyeksi: menjelaskan prubahan suatu persepsi dengan berusaha untuk mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain. Menarik diri: sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimulus internal. (Stuart, 2007). d. Tanda dan Gejala Menurut Hamid (2000), perilaku klien yang terkait dengan halusinasi adalah sebagai berikut: 1. Bicara sendiri. 2. Senyum sendiri. 3. Ketawa sendiri.

4. Menggerakkan bibir tanpa suara. 5. Pergerakan mata yang cepat 6. Respon verbal yang lambat. 7. Menarik diri dari orang lain. 8. Berusaha untuk menghindari orang lain. 9. Tidak dapat membedakan yang nyata dan tidak nyata. 10. Terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah. 11. Perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa detik. 12. Berkonsentrasi dengan pengalaman sensori. 13. Sulit berhubungan dengan orang lain. 14. Ekspresi muka tegang. 15. Mudah tersinggung, jengkel dan marah. 16. Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat. 17. Tampak tremor dan berkeringat. 18. Perilaku panik. 19. Agitasi dan kataton. 20. Curiga dan bermusuhan. 21. Bertindak merusak diri, orang lain dan lingkungan. 22. Ketakutan. 23. Tidak dapat mengurus diri. 24. Biasa terdapat disorientasi waktu, tempat dan orang. e. Rentang Respon Halusinasi

Adaptif Maladaptif Pikiran logis Distorsi pikiran Gangguanpikir/delusi Persepsi kuat Ilusi Halusinasi Emosi konsistendengan Reaksi emosi berlebihan Sulit berespon Pengalaman atau kurang Perilaku disorganisasi Perilaku sesuai Perilaku aneh/tidak biasa Isolasi sosial Berhubungan sosial Menarik diri Halusinasi merupakan salah satu mal adaptif individu berada dalam rentang respon neurobiology. Jadi merupakan persepsi paling adaptif jika klien sehat, persepsinya akurat, mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan stimulus berdasarkan informasi yang diterima melalui panca indera. Klien dengan halusinasi mempersepsikan suatu stimulus itu tidak ada, di antara kedua respon tersebut adalah respon individu yang karena sesuatu hal mengalami kelainan persepsi yaitu salah mempersepsikan stimulus yang diterimanya yang disebut sebagai ilusi. Klien mengalami ilusi jika interpretasi yang dilakukannya terhadap stimulus pancaindera tidak akurat sesuai stimulus yang diterima.

3. A. Pohon masalah Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan (Akibat) Perubahan sensori perseptual: halusinasi ( Masalah Utama)

Isolasi sosial : menarik diri (Penyebab) B. Masalah Keperawatan dan Data yang perlu dikaji Masalah keperawatan Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Perubahan sensori perseptual : halusinasi. Isolasi sosial : menarik diri Data yang perlu dikaji Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Data subjektif: Klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang lain, ingin membunuh, ingin membakar atau mengacak-acak lingkungannya. Data objektif: Klien mengamuk, merusak dan melempar barang-barang, melakukan tindakan kekerasan pada orang-orang disekitarnya. Perubahan sensori perseptual : halusinasi. Data Subjektif: - Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata. - Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata. - Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus. - Klien merasa makan sesuatu. - Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya. - Klien takut pada suara/ bunyi/ gambar yang dilihat dan didengar. - Klien ingin memukul/ melempar barang-barang. Data Objektif: - Klien berbicara dan tertawa sendiri. - Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu. - Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu. - Disorientasi. Isolasi sosial : menarik diri Data Subjektif: - Klien mengungkapkan tidak berdaya dan tidak ingin hidup lagi. - Klien mengungkapkan enggan berbicara dengan orang lain. - Klien malu bertemu dan berhadapan dengan orang lain. Data Objektif: - Klien terlihat lebih suka sendiri. - Bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan. - Ingin mencederai diri/ingin mengakhiri hidup. 4. Dagnosa Keperawatan a. Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi b. Isolasi Sosial : Menarik Diri c. Risiko Perilaku Kekerasan d. Risiko Mencederai diri. 5. Rencana Tindakan Keperawatan Tujuan Pasien mampu : Mengenali halusinasi yang dialaminya Mengontrol halusinasinya Mengikuti program pengobatan Keluarga mampu : 1. 2.

Merawat pasien di rumah dan menjadi sistem pendukung yang efektif untuk pasien. Kriteria Evaluasi Setelah .x pertemuan, pasien dapat menyebutkan : Isi, waktu, frekuensi, situasi pencetus, perasaan. Mampu memperagakan cara dalam mengontrol halusinasi Setelah .x pertemuan, pasien mampu : Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan. Memperagakan cara bercakap-cakap dengan orang lain Setelah .x pertemuan pasien mampu : Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan. Membuat jadwal kegiatan sehari-hari dan mampu memperagakannya. Setelah .x pertemuan, pasien mampu : Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan. Menyebutkan manfaat dari ssprogram pengobatan Setelah .x pertemuan keluarga Mampu menjelaskan tentang halusinasi Intervensi SP I Bantu pasien mengenal halusinasi (isi, waktu terjadinya, frekuensi, situasi pencetus, perasaan saat terjadi halusinasi. Latih mengontrol halusinasi dengan cara menghardik. Tahapan tindakannya meliputi : - Jelaskan cara menghardik halusinasi. - Peragakan cara menghardik - Minta pasien memperagakan ulang. - Pantau penerapan cara ini, beri penguatan perilaku pasien - Masukkan dalam jadwal kegiatan pasien SP 2 Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1) Latih berbicara / bercakap dengan orang lain saat halusinasi muncul Masukkan dalam jadwal kegiatan pasien

SP 3 Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1 dan 2).Latih kegiatan agar halusinasi tidak muncul. Tahapannya : Jelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untuk mengatasi halusinasi. Diskusikan aktivitas yang biasa dilakukan oleh pasien. Latih pasien melakukan aktivitas. Susun jadwal aktivitas sehari-hari sesuai dengan aktivitas yang telah dilatih (dari bangun pagi sampai tidur malam) Pantau pelaksanaan jadwal kegiatan, berikan penguatan terhadap perilaku pasien yang (+) SP 4 Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1,2&3) Tanyakan program pengobatan. Jelaskan pentingnya penggunaan obat pada gangguan jiwa Jelaskan akibat bila tidak digunakan sesuai program. Jelaskan akibat bila putus obat. Jelaskan cara mendapatkan obat/ berobat. Jelaskan pengobatan (5B). Latih pasien minum obat Masukkan dalam jadwal harian pasien SP 1 Identifikasi masalah keluarga dalam merawat pasien. Jelaskan tentang halusinasi : Pengertian halusinasi. Jenis halusinasi yang dialami pasien.

Setelah .x pertemuan keluarga mampu : Menyelesaikan kegiatan yang sudah dilakuka Memperagakan cara merawat pasien

Tanda dan gejala halusinasi. Cara merawat pasien halusinasi (cara berkomunikasi, pemberian obat & pemberian aktivitas kepada pasien). Sumber-sumber pelayanan kesehatan yang bisa dijangkau. Bermain peran cara merawat. Rencana tindak lanjut keluarga, jadwal keluarga untuk merawat pasien SP 2 Evaluasi kemampuan keluarga (SP 1). Latih keluarga merawat pasien. RTL keluarga / jadwal keluarga untuk merawat pasien

Setelah .x pertemuan SP 3 keluarga mampu : Evaluasi kemampuan keluarga (SP 2) Menyebutkan kegiatan Latih keluarga merawat pasien. yang sudah dilakukan. RTL keluarga / jadwal keluarga untuk merawat pasien Memperagakan cara merawat pasien serta mampu membuat RTL Setelah .x pertemuan SP 4 keluarga mampu : Evaluasi kemampuan keluarga. Menyebutkan kegiatan Evaluasi kemampuan pasien. yang sudah dilakukan. RTL Keluarga: Melaksanakan Follow - Follow Up Up rujukan - Rujukan

DAFTAR PUSTAKA

Hamid, Achir Yani. (2000). Buku Pedoman Askep Jiwa-1 Keperawatan Jiwa Teori dan Tindakan Keperawatan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia Hawari, Dadang. (2001). Pendekatan Holistik pada gangguan Jiwa Skizofrenia. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Isaacs, Ann. (2005). Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Psikiatri. Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Keliat, Budi Anna. (2006) Proses keperawatan kesehatan jiwa. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Maramis, W. F. (2005). Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 9. Surabaya: Airlangga University Press. Townsend, Mary. C. (2000). Psychiatric Mental Health Nursing Concepts Of Care. Edisi 3. Philadelphia: F. A. Davis Company Stuart dan Laraia. (2007). Principle and Practice Of Psychiatric Nursing. edisi 6. St. Louis: Mosby Year Book. http://fahriyatul.dagdigdug/2009/10/30/askep-halusinasi/ http://ibay-blackholist.blogspot.com/
Read more: Laporan Pendahuluan Keperawatan jiwa :Halusinasi http://nandarnurse.blogspot.com/2013/10/laporanpendahuluan-keperawatan-jiwa.html#ixzz2un274zOo Under Creative Commons License: Attribution Follow us: nHandar on Facebook

LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI


Diposkan oleh Ukhty Suci di 04.47

I.

MASALAH UTAMA Perubahan persepsi sensori : halusinasi

II. PROSES TERJADINYA MASALAH A. Pengertian Halusinasi adalah persepsi sensori yang palsu yang terjadi tanpa rangsang ensternal yang nyata. ( Barbara, 1997 : 575 ). Halusinasi adalah persepsi panca indra tanpa ada rangsangan dari luaryang dapat mempengaruhi semua sistem penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu baik. (Carpenito, 1996). B. Macam- macam halusinasi a. Halusinasi pendengaran b. Halusinasi penglihatan. c. Halusinasi penciuman. d. Halusinasi pengecapan. e. Halusinasi perabaan. f. Halusinasi kinestik. g. Halusinasi hipnogogik. h. Halusinasi hipnopompik. i. Halusinasi histerik. j. Halusinasi autoskopi. C. Tanda dan gejala a. Bicara, senyum / tertawa sendiri. b. Mengatakan mendengar suara, melihat, mengecap, menghidu. c. Merusak diri sendiri / orang lain / lingkungan. d. Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan tidak nyata. e. Tidak dapat memusatkan perhatian dan konsentrasi. f. Pembicaraan kacau, kadang tidak masuk akal. g. Sikap curiga dan bermusuhan. h. Menarik diri, menghindari dari orang lain. D. Mekanisme sebab- akibat. o Penyebab Isolasi sosial : menarik diri Pengertian : Perilaku menarik diri adalah suatu usaha menghindari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrabdan tidak menyadari kesempatan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain (Budi Anna Keliat, 1998). Tanda dan Gejala 1. Apatis 2. Afek tumpul 3. Menghindar dari orang lain 4. Klien tampak memisahkan diri dengan orang lain 5. Komunikasi kurang 6. Kontak mata kurang 7. Berdiam diri 8. Kurang mobilitas o Akibat Risiko mencederai diri sendiri dan orang lain - Pengertian Suatu keadaan dimana seorang individu melakukan suatu tindakan yang dapt membahayakan bagi keselamatan jiwanya maupun orang lain disekitarnya (Townsend, 1994) - Tanda dan gejala a. Adanya peningkatan aktifitas motorik b. Perilaku aktif ataupun destruktif c. Agresif

E. Pohon masalah Resiko menciderai diri, orang lain dan lingkungan. Perubahan persepsi sensori : halusinasi pendengaran. Isolasi diri : manarik diri

Akibat Core problem Penyebab

III. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI 1. Resiko menciderai diri dan orang lain. Data Obyektif : Perilaku hiperaktif, agresi dan destruktif. Mudah tersinggung, jengkel dan marah. Sikap bermusuhan. Menolak makan. Data Subyekyif : klien mengatakan benci dan kesal pada seseorang klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal 2. Perubahan persepsi sensori : halusinasi dengar. Data Obyektif : - Bicara, senyum/ tertawa sendiri. - Menarik diri dan menghindar dari orang lain.. - Curiga, bermusuhan, merusak diri, orang lain dan lingkungan. - Ekspresi wajah tegang, mudah tersinggung. - Berbicara dan tertawa sendiri - Bersikap seperti mendengar atau melihat sesuatu. - Berhenti berbicara di tengah kalimat seperti mendengar sesuatu. - Duduk menyendiri - Dissorientasi. Data Subyektif - Pasien mengatakan : Mendengar suara suara, melihat gambaran tanpa adanya stimulasi yang nyata, mencium bau tanpa stimulasi. 3. Perubahan isolasi sosial : menarik diri. Data Obyektif : - Tidak memeprdulikan lingkungan. - Kegiatan menurun, mobilitas kurang. - Klien tampak diam, melamun dan menyendiri. - Menghindar dari orang lain - Komunikasi kurang - Kontak mata kurang Data Subyektif - Klien mengatakan lebih suka sendiri daripada berhubungan dengan orang lain. IV. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Resiko menciderai diri dan orang lain yang berhubungan dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi dengar. 2. Perubahan persepsi sensori : halusinasi (dengar) yang berhubungan dengan adanya isolasi sosial : manarik diri. V. FOKUS INTERVENSI Diagnosa 1. Resiko menciderai diri sendiri dan oaring lain berhubungan dengan gangguan persepsi sensori: halusinasi dengar a Tujuan Umum Klien tidak menciderai orang lain b Tujuan Khusus 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya kriteria hasil: - Ekspresi wajah bersahabat - menunjukkan rasa senang - ada kontak mata atau mau jabat tangan - mau menyebutkan nama - mau menyebut dan menjawab salam

mau duduk berdampingan dengan perawat mau mengutarakan masalah yang dihadapi Intervensi Bina hubungan saling percaya dengan prinsip komunikasi terapetik a. Sapa klien dengan ramah baik secara verbal maupun non verbal b. perkenalkan diri dengan sopan c. tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien d. jelaskan tujuan pertemuan e. jujur dan menepati janji f. tunjukkan sikap empati dan terima klien apa adanya g. Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien Rasionalisasi Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksi selanjutnya 2. Klien dapat mengenal halusinasinya Kriteria hasil: a. Klien dapat menyebutkan waktu, isi, frekuensi timbulnya halusinasi b. Klien dapat mengungkapkan perasaanya terhadap halusinasinya c. Bantu klien mengenal halusinasinya - Jika menemukan klien yang sedang halusinasi, tanyakan apa yang sedang terdengar - Katakan bahwa perawat pwecaya klien mendengar suara itu namun perawat sendiri tidak melihatnya - KAtakan bahwa klien lain juga ada yang seperti klien - Katakan bahwa perawat siap membantu klien d. Diskusikan dengan klien - Situasi yang menimbulkan atau tidak menimbulkan halusinasi - Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi e. Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi 3. Klien dapat mengontrol halusinasinya Kriteria hasil: - Klien dapat menyebutkan tindakan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan halusinasinya - Klien dapat menyebutkan cara baru - Klien dapat memilih cara yang telah dipilih untuk mengendalikan halusinasi - Klien dapat mengikuti terapi aktivitas kelompok Intervensi a. Identifikasi bersama klien cara yang dilakukan jika terjadi halusinasi. Rasional: merupakan upaya untuk memutus siklus halusinasi b. Diskusikan manfaat dara yang digunakan klien, jika bermanfaat beri pujian. Rasional: reinforcement positif dapat meningkatkan harga diri klien c. Diskusikan cara baru untuk mengontrol timbulnya halusinasi 1) Katakan saya tidak mau dengar kamu 2) Menemui orang lain untuk bercakap-cakap 3) Melihat jadwal kegiatan sehari-hari agar halusinasi tidak sempat muncul 4) Meminta perawat/teman/keluarga untuk menyapa jika klien melamun, rasional: memberi alternatif pikiran bagi klien d. Bantu klien melatih dan memutus halusinasi secara bertahap rasional: memotivasi dapat meningkatkan keinginan klien untuk mencoba memilih salah satu cara pengendalian halusinasi e. Beri kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih, evaluasi hasilnya dan beri pujian jika berhasil f. Anjurkan klien untuk mengikuti TAK, orientasi realita Rasional: Stimulasi persepsi dapat mengurangi perubahan interpretasi realita klien 4. Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol halusinasinya Kriteria hasil - Klien dapat hubungan saling percaya pada perawat - Keluarga dapat menyebutkan pengertian, tanda dan tindakan untuk mengendalikan halusinasi Intervensi a. Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga jika sedang halusinasi Rasional: untuk mendapatkan bantuan keluarga dalam mengontrol halusinasi b. Diskusikan dengan keluarga tentang 1) Gejala halusinasi yang dialami klien 2) Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus halusinasi 3) Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi di rumah, beri kegiatan jangan biarkan sendiri 4) Beri informasi tentang kapan pasien memerlukan bantuan. Rasional: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang halusinasi 5. Klien memanfaatkan obat dengan baik

Kriteria hasil Klien dan keluarga mampu menyebutkan manfaat, dosis dan efek samping Klien dapat mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar Klien dapat menginformasikan manfaat dan efek samping obat Klien dapat memahami akibat pemakaian obat tanpa konsultasi Klien dapat menyebutkan prinsip 5 benar penggunaan obat Intervensi a. Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuansi dan manfaat obat b. Ajurkan klien untuk minta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya c. Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping obat yang dirasakan.Rasional: dengan mengetahui efek samping obat klien tahu apa yang harus dilakukan setelah minum obat d. Diskusikan bahayanya obat tanpa konsultasi.Rasional: Pengobatan dapat bejalan sesuai rencana e. Bantu klien menggunakan prinsip 5 benar. Rasional: dengan mengetahui prinsip maka kemandirian klien tentang pengobatan dapat ditingkatkan secara bertahap Diagnosa Keperawatan 2 : Perubahan persepsi sensori : halusinasi b/d menarik diri. a. Tujuan umum Tidak terjadi perubahan persepsi sensori : halusinasi. b. Tujuan khusus 1. Dapat membina hunbungan saling percaya. Kriteria evaluasi : - Ekspresi wajah beersahabat, menunjukkan rasa senang, adanya kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi. Intervensi Keperawatan : a. Bina hubungan saling percaya dengan prinsip komunikasi teraupetik. b. Sapaklien dengan ramah baik vebal maupun nonb verbal. c. Perkenalkan diri dengan sopan d. Tanyakan nama lengkap klien dan nama kesukaan klien. e. Jelaskan tujuan pertemuan. f. Jujur dan menepeti janji. g. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya. h. Ciptakan lingkungan yang tenang dan bersahabat. i. Beri perhatian dan penghargaan : temani klien walau tidak menjawab. j. Dengarkan dengan empati beri kesempatan bicara, jangan buru buru, tunjukkan bahwa perawat mengikuti pembicaraan klien. Rasionalisasi : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksi selanjutnya 2. KLien dapat menyebutkan penyebab menarik diri. Kriteria evaluasi : - KLien dapat menyebutkan penyebab menarik diri. Intervensi keperawatan : a. Kaji pengetahuan klien tantang perilaku menarik diri dan tanda tandanya. b. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan pearasaan penyebab menarik diri tidak mau bergaul. c. Diskusikan pada klien tentang perilaku menarik diri, tanda serta penyebab yang muncul. d. Berikan reinforcement positif terhadap kemampuan klien dalam mengungkapkan perasaannya. Rasionalisasi : - Diketahuinya penyebab akan dapat dihubungkan dengan factor presipitasi yang dialami klien. 3. KLien dapat menyebabkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain. Kriteria Evaluasi : - KLien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian berhubungan dengan orang lain. Intervensi Keperawatan : a. Kaji pengetahuan klien tentang manfaat keuntungan berhubungan dengan orang lain serta kerugiannya bila tidak berhubungan dengan orang lain. b. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya tentang berhubunagn dengan orang lain c. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang kerugian bila tidak berhubungan denagn orang lain. d. Diskusikan bersama tentan keuntungan berhubungan denagn orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain. e. Beri reinforcement positif terhadapo kemampuan mengungkapkan pearasaan tentang keuntungan

berhubunagn dengan orang lain dan kerugian bila tidak berhubungan denagn orang lain. Rasionalisasi : - Mengidentifikasi sejauh mana keuntunagn yang klien rasakan bila berhubungan dengan orang lain. - Mengidentuifikasi kerugian yang klien rasakan bila tidak berhubungan dengan orang lain. 4. KLien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap. Kriteria evaluasi ; - Klien dapat mendemonstrasikan hubunagn sosial secara bertahap k-p, k-p-p lain, k-p-p lain-k lain, k-pkel/kelompok masyarakat. Intervensi Keperawatan : a. Kaji kemampuan klien membina hubunagn dengan orang lain. b. Dorong dan Bantu klien berhubungan dengan orang lain melalui tahap k-p, k-p-p lain, k-p-p lain-k lain, kp-kel/kelompok masyarakat. c. Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang telah dicapai. d. Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungn. e. Diskusikan jadwal harian yang daopat dilaukan bersama klien dalam mengisi waktu luang. f. Memotivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan. g. Beri reinfgorcement atas kegiatan klien dalam ruangan. Rasionalisasi : - KLien harus dicoba berinteraksi secara bertahap agar terbiasa membina hubungan yang sehat dengan orang alain - Mengevaluasi manfaat yang dirasakan klien sehingga timbul motivasi untuk berinteraksi. 5. KLien dapat mengunngkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain. Kriteria evaluasi : - KLien dapat mengungkapkan perasaan setelah berhubungan dengan orang lain untuk diri sendiri dan orang lain. Intervensi Keperawatan : a. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengn orang lain. b. Diskusikan dengan klien tentang perasaan manfaat berhubungn dengan orang lain. c. Beri reinforcement atas kemampuan klien mengungkapkan perasaanya berhubungan dengan orang lain. Rasionalisasi : - Ungkapan perasaan klien bila berhubungan dengan orang lain akan sangat membantu klien memahami manfaat berhubungan dengan orang lain.

6. KLien dapat memberdayakan system pendukung atau keluarga mampu mengembangkan kemampuan klien untuk berhubungan dengan orang lain. Kriteria evaluasi : - Keluarga dapat Menjelaskan perasaannya, Menjelaskan cara mearawat klien menarik diri, mendemontrasikan cara perawatan klien menarik diri, berpartisipasi dalam perawatan klien menarik diri. Intervensi Keperawatan : a. Bina hubungan saling percaya denagn keluarga : salam, perkenalkan diri, sampaikan tujuan, buat kontrak eksplorasi perasaan keluarga. b. Diskusikan dengan anggota keluarga tentang : Perilaku menarik diri, penyebab perilaku menarik diri, akibat yang akan terjadi jika perilaku menarik diri tidak ditanggapi, cara keluarga menghadapi klien menarik diri. c. Dorong anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien minimal satu kali seminggu. d. Anjurkan anggota keluarga untuk memberi dukungan kepada klien untuk berkomunikasi dengan orang lain. e. Beri reinforcement atas hal hal yang telah dicapai keluarga. Rasionalisasi : - Keluarga dapat membantu dan mendukung klien untuk berhubungan dengan orang lain melalui keterlibatan keluarga dalam merawat klien. 7. Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat. Kriteria evaluasi : - Klien dapat minum obat dengan prinsip yang benar. - Mengetahui efek obat dan mengkomunikasikan dengan perawat jika terjadi keluhan. Intervensi Keperawatan : a. Diskusikan dengan klien tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek samping minum obat) b. Bantu dalam mengguanakan obat dengan prinsip 5 benar (benar pasien, obat, dosis, cara, waktu). c. Anjurkan klien untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan. d. Beri reinforcement positif bila klien menggunakan obat dengan benar. Rasionalisasi : - Dengan mengetahui prinsip yang benar dalam menggunakan obat, akan meminimalkan terjadinya

ketidakefektifan pengobatan atau keracunan. Hal ini juga dimaksudkan untuk memotivasi klien agar bersedia minum obat (patuh dalam pengobatan).

DAFTAR PUSTAKA Carpenito, Lynda Juall. (1996). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC: Jakarta. Johnson, Barbara Schoen, (1997), Adaptation and Growth Psychiatric-Mental Health Nursing, 4th Edition, Lippincot-Raven Publishers, Philadelphia. Keliat, Budi Anna dll. (1998). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa.. EGC: Jakarta. Stuart dan Sundeen. (1995). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 3. EGC: Jakarta. Townsend, Mary C, (1998), Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatrik, Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.
TOP

0 komentar: Poskan Komentar


Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda Subscribe to: Poskan Komentar (Atom)

Senin, 30 Januari 2012

LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI


Diposkan oleh Ukhty Suci di 04.47

I.

MASALAH UTAMA Perubahan persepsi sensori : halusinasi

II. PROSES TERJADINYA MASALAH A. Pengertian Halusinasi adalah persepsi sensori yang palsu yang terjadi tanpa rangsang ensternal yang nyata. ( Barbara, 1997 : 575 ). Halusinasi adalah persepsi panca indra tanpa ada rangsangan dari luaryang dapat mempengaruhi semua sistem penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu baik. (Carpenito, 1996). B. Macam- macam halusinasi a. Halusinasi pendengaran b. Halusinasi penglihatan. c. Halusinasi penciuman. d. Halusinasi pengecapan. e. Halusinasi perabaan. f. Halusinasi kinestik. g. Halusinasi hipnogogik. h. Halusinasi hipnopompik. i. Halusinasi histerik. j. Halusinasi autoskopi. C. a. b. Tanda dan gejala Bicara, senyum / tertawa sendiri. Mengatakan mendengar suara, melihat, mengecap, menghidu.

c. Merusak diri sendiri / orang lain / lingkungan. d. Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan tidak nyata. e. Tidak dapat memusatkan perhatian dan konsentrasi. f. Pembicaraan kacau, kadang tidak masuk akal. g. Sikap curiga dan bermusuhan. h. Menarik diri, menghindari dari orang lain. D. Mekanisme sebab- akibat. o Penyebab Isolasi sosial : menarik diri Pengertian : Perilaku menarik diri adalah suatu usaha menghindari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrabdan tidak menyadari kesempatan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain (Budi Anna Keliat, 1998). Tanda dan Gejala 1. Apatis 2. Afek tumpul 3. Menghindar dari orang lain 4. Klien tampak memisahkan diri dengan orang lain 5. Komunikasi kurang 6. Kontak mata kurang 7. Berdiam diri 8. Kurang mobilitas o Akibat Risiko mencederai diri sendiri dan orang lain - Pengertian Suatu keadaan dimana seorang individu melakukan suatu tindakan yang dapt membahayakan bagi keselamatan jiwanya maupun orang lain disekitarnya (Townsend, 1994) - Tanda dan gejala a. Adanya peningkatan aktifitas motorik b. Perilaku aktif ataupun destruktif c. Agresif E. Pohon masalah Resiko menciderai diri, orang lain dan lingkungan. Perubahan persepsi sensori : halusinasi pendengaran. Isolasi diri : manarik diri

Akibat Core problem Penyebab

III. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI 1. Resiko menciderai diri dan orang lain. Data Obyektif : Perilaku hiperaktif, agresi dan destruktif. Mudah tersinggung, jengkel dan marah. Sikap bermusuhan. Menolak makan. Data Subyekyif : klien mengatakan benci dan kesal pada seseorang klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal 2. Perubahan persepsi sensori : halusinasi dengar. Data Obyektif : - Bicara, senyum/ tertawa sendiri. - Menarik diri dan menghindar dari orang lain.. - Curiga, bermusuhan, merusak diri, orang lain dan lingkungan. - Ekspresi wajah tegang, mudah tersinggung. - Berbicara dan tertawa sendiri - Bersikap seperti mendengar atau melihat sesuatu. - Berhenti berbicara di tengah kalimat seperti mendengar sesuatu. - Duduk menyendiri - Dissorientasi. Data Subyektif - Pasien mengatakan : Mendengar suara suara, melihat gambaran tanpa adanya stimulasi yang nyata,

mencium bau tanpa stimulasi. 3. Perubahan isolasi sosial : menarik diri. Data Obyektif : - Tidak memeprdulikan lingkungan. - Kegiatan menurun, mobilitas kurang. - Klien tampak diam, melamun dan menyendiri. - Menghindar dari orang lain - Komunikasi kurang - Kontak mata kurang Data Subyektif - Klien mengatakan lebih suka sendiri daripada berhubungan dengan orang lain. IV. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Resiko menciderai diri dan orang lain yang berhubungan dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi dengar. 2. Perubahan persepsi sensori : halusinasi (dengar) yang berhubungan dengan adanya isolasi sosial : manarik diri. V. FOKUS INTERVENSI Diagnosa 1. Resiko menciderai diri sendiri dan oaring lain berhubungan dengan gangguan persepsi sensori: halusinasi dengar a Tujuan Umum Klien tidak menciderai orang lain b Tujuan Khusus 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya kriteria hasil: - Ekspresi wajah bersahabat - menunjukkan rasa senang - ada kontak mata atau mau jabat tangan - mau menyebutkan nama - mau menyebut dan menjawab salam - mau duduk berdampingan dengan perawat - mau mengutarakan masalah yang dihadapi Intervensi Bina hubungan saling percaya dengan prinsip komunikasi terapetik a. Sapa klien dengan ramah baik secara verbal maupun non verbal b. perkenalkan diri dengan sopan c. tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien d. jelaskan tujuan pertemuan e. jujur dan menepati janji f. tunjukkan sikap empati dan terima klien apa adanya g. Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien Rasionalisasi Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksi selanjutnya 2. Klien dapat mengenal halusinasinya Kriteria hasil: a. Klien dapat menyebutkan waktu, isi, frekuensi timbulnya halusinasi b. Klien dapat mengungkapkan perasaanya terhadap halusinasinya c. Bantu klien mengenal halusinasinya - Jika menemukan klien yang sedang halusinasi, tanyakan apa yang sedang terdengar - Katakan bahwa perawat pwecaya klien mendengar suara itu namun perawat sendiri tidak melihatnya - KAtakan bahwa klien lain juga ada yang seperti klien - Katakan bahwa perawat siap membantu klien d. Diskusikan dengan klien - Situasi yang menimbulkan atau tidak menimbulkan halusinasi - Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi e. Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi 3. Klien dapat mengontrol halusinasinya Kriteria hasil: - Klien dapat menyebutkan tindakan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan halusinasinya - Klien dapat menyebutkan cara baru - Klien dapat memilih cara yang telah dipilih untuk mengendalikan halusinasi

Klien dapat mengikuti terapi aktivitas kelompok Intervensi a. Identifikasi bersama klien cara yang dilakukan jika terjadi halusinasi. Rasional: merupakan upaya untuk memutus siklus halusinasi b. Diskusikan manfaat dara yang digunakan klien, jika bermanfaat beri pujian. Rasional: reinforcement positif dapat meningkatkan harga diri klien c. Diskusikan cara baru untuk mengontrol timbulnya halusinasi 1) Katakan saya tidak mau dengar kamu 2) Menemui orang lain untuk bercakap-cakap 3) Melihat jadwal kegiatan sehari-hari agar halusinasi tidak sempat muncul 4) Meminta perawat/teman/keluarga untuk menyapa jika klien melamun, rasional: memberi alternatif pikiran bagi klien d. Bantu klien melatih dan memutus halusinasi secara bertahap rasional: memotivasi dapat meningkatkan keinginan klien untuk mencoba memilih salah satu cara pengendalian halusinasi e. Beri kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih, evaluasi hasilnya dan beri pujian jika berhasil f. Anjurkan klien untuk mengikuti TAK, orientasi realita Rasional: Stimulasi persepsi dapat mengurangi perubahan interpretasi realita klien 4. Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol halusinasinya Kriteria hasil - Klien dapat hubungan saling percaya pada perawat - Keluarga dapat menyebutkan pengertian, tanda dan tindakan untuk mengendalikan halusinasi Intervensi a. Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga jika sedang halusinasi Rasional: untuk mendapatkan bantuan keluarga dalam mengontrol halusinasi b. Diskusikan dengan keluarga tentang 1) Gejala halusinasi yang dialami klien 2) Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus halusinasi 3) Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi di rumah, beri kegiatan jangan biarkan sendiri 4) Beri informasi tentang kapan pasien memerlukan bantuan. Rasional: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang halusinasi 5. Klien memanfaatkan obat dengan baik Kriteria hasil - Klien dan keluarga mampu menyebutkan manfaat, dosis dan efek samping - Klien dapat mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar - Klien dapat menginformasikan manfaat dan efek samping obat - Klien dapat memahami akibat pemakaian obat tanpa konsultasi - Klien dapat menyebutkan prinsip 5 benar penggunaan obat Intervensi a. Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuansi dan manfaat obat b. Ajurkan klien untuk minta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya c. Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping obat yang dirasakan.Rasional: dengan mengetahui efek samping obat klien tahu apa yang harus dilakukan setelah minum obat d. Diskusikan bahayanya obat tanpa konsultasi.Rasional: Pengobatan dapat bejalan sesuai rencana e. Bantu klien menggunakan prinsip 5 benar. Rasional: dengan mengetahui prinsip maka kemandirian klien tentang pengobatan dapat ditingkatkan secara bertahap Diagnosa Keperawatan 2 : Perubahan persepsi sensori : halusinasi b/d menarik diri. a. Tujuan umum Tidak terjadi perubahan persepsi sensori : halusinasi. b. Tujuan khusus 1. Dapat membina hunbungan saling percaya. Kriteria evaluasi : - Ekspresi wajah beersahabat, menunjukkan rasa senang, adanya kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi. Intervensi Keperawatan : a. Bina hubungan saling percaya dengan prinsip komunikasi teraupetik. b. Sapaklien dengan ramah baik vebal maupun nonb verbal. c. Perkenalkan diri dengan sopan d. Tanyakan nama lengkap klien dan nama kesukaan klien. e. Jelaskan tujuan pertemuan.

f. Jujur dan menepeti janji. g. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya. h. Ciptakan lingkungan yang tenang dan bersahabat. i. Beri perhatian dan penghargaan : temani klien walau tidak menjawab. j. Dengarkan dengan empati beri kesempatan bicara, jangan buru buru, tunjukkan bahwa perawat mengikuti pembicaraan klien. Rasionalisasi : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksi selanjutnya 2. KLien dapat menyebutkan penyebab menarik diri. Kriteria evaluasi : - KLien dapat menyebutkan penyebab menarik diri. Intervensi keperawatan : a. Kaji pengetahuan klien tantang perilaku menarik diri dan tanda tandanya. b. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan pearasaan penyebab menarik diri tidak mau bergaul. c. Diskusikan pada klien tentang perilaku menarik diri, tanda serta penyebab yang muncul. d. Berikan reinforcement positif terhadap kemampuan klien dalam mengungkapkan perasaannya. Rasionalisasi : - Diketahuinya penyebab akan dapat dihubungkan dengan factor presipitasi yang dialami klien. 3. KLien dapat menyebabkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain. Kriteria Evaluasi : - KLien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian berhubungan dengan orang lain. Intervensi Keperawatan : a. Kaji pengetahuan klien tentang manfaat keuntungan berhubungan dengan orang lain serta kerugiannya bila tidak berhubungan dengan orang lain. b. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya tentang berhubunagn dengan orang lain c. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang kerugian bila tidak berhubungan denagn orang lain. d. Diskusikan bersama tentan keuntungan berhubungan denagn orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain. e. Beri reinforcement positif terhadapo kemampuan mengungkapkan pearasaan tentang keuntungan berhubunagn dengan orang lain dan kerugian bila tidak berhubungan denagn orang lain. Rasionalisasi : - Mengidentifikasi sejauh mana keuntunagn yang klien rasakan bila berhubungan dengan orang lain. - Mengidentuifikasi kerugian yang klien rasakan bila tidak berhubungan dengan orang lain. 4. KLien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap. Kriteria evaluasi ; - Klien dapat mendemonstrasikan hubunagn sosial secara bertahap k-p, k-p-p lain, k-p-p lain-k lain, k-pkel/kelompok masyarakat. Intervensi Keperawatan : a. Kaji kemampuan klien membina hubunagn dengan orang lain. b. Dorong dan Bantu klien berhubungan dengan orang lain melalui tahap k-p, k-p-p lain, k-p-p lain-k lain, kp-kel/kelompok masyarakat. c. Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang telah dicapai. d. Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungn. e. Diskusikan jadwal harian yang daopat dilaukan bersama klien dalam mengisi waktu luang. f. Memotivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan. g. Beri reinfgorcement atas kegiatan klien dalam ruangan. Rasionalisasi : - KLien harus dicoba berinteraksi secara bertahap agar terbiasa membina hubungan yang sehat dengan orang alain - Mengevaluasi manfaat yang dirasakan klien sehingga timbul motivasi untuk berinteraksi. 5. KLien dapat mengunngkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain. Kriteria evaluasi : - KLien dapat mengungkapkan perasaan setelah berhubungan dengan orang lain untuk diri sendiri dan orang lain. Intervensi Keperawatan : a. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengn orang lain. b. Diskusikan dengan klien tentang perasaan manfaat berhubungn dengan orang lain. c. Beri reinforcement atas kemampuan klien mengungkapkan perasaanya berhubungan dengan orang lain. Rasionalisasi : - Ungkapan perasaan klien bila berhubungan dengan orang lain akan sangat membantu klien memahami

manfaat berhubungan dengan orang lain.

6. KLien dapat memberdayakan system pendukung atau keluarga mampu mengembangkan kemampuan klien untuk berhubungan dengan orang lain. Kriteria evaluasi : - Keluarga dapat Menjelaskan perasaannya, Menjelaskan cara mearawat klien menarik diri, mendemontrasikan cara perawatan klien menarik diri, berpartisipasi dalam perawatan klien menarik diri. Intervensi Keperawatan : a. Bina hubungan saling percaya denagn keluarga : salam, perkenalkan diri, sampaikan tujuan, buat kontrak eksplorasi perasaan keluarga. b. Diskusikan dengan anggota keluarga tentang : Perilaku menarik diri, penyebab perilaku menarik diri, akibat yang akan terjadi jika perilaku menarik diri tidak ditanggapi, cara keluarga menghadapi klien menarik diri. c. Dorong anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien minimal satu kali seminggu. d. Anjurkan anggota keluarga untuk memberi dukungan kepada klien untuk berkomunikasi dengan orang lain. e. Beri reinforcement atas hal hal yang telah dicapai keluarga. Rasionalisasi : - Keluarga dapat membantu dan mendukung klien untuk berhubungan dengan orang lain melalui keterlibatan keluarga dalam merawat klien. 7. Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat. Kriteria evaluasi : - Klien dapat minum obat dengan prinsip yang benar. - Mengetahui efek obat dan mengkomunikasikan dengan perawat jika terjadi keluhan. Intervensi Keperawatan : a. Diskusikan dengan klien tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek samping minum obat) b. Bantu dalam mengguanakan obat dengan prinsip 5 benar (benar pasien, obat, dosis, cara, waktu). c. Anjurkan klien untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan. d. Beri reinforcement positif bila klien menggunakan obat dengan benar. Rasionalisasi : - Dengan mengetahui prinsip yang benar dalam menggunakan obat, akan meminimalkan terjadinya ketidakefektifan pengobatan atau keracunan. Hal ini juga dimaksudkan untuk memotivasi klien agar bersedia minum obat (patuh dalam pengobatan).

DAFTAR PUSTAKA Carpenito, Lynda Juall. (1996). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC: Jakarta. Johnson, Barbara Schoen, (1997), Adaptation and Growth Psychiatric-Mental Health Nursing, 4th Edition, Lippincot-Raven Publishers, Philadelphia. Keliat, Budi Anna dll. (1998). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa.. EGC: Jakarta. Stuart dan Sundeen. (1995). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 3. EGC: Jakarta. Townsend, Mary C, (1998), Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatrik, Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.

LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI


A. MASALAH UTAMA Gangguan persepsi sensori : halusinasi B. PROSES TERJADINYA MASALAH Halusinasi adalah persepsi sensorik yang keliru dan melibatkan panca indera (Isaacs, 2002). Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan panca indra tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami suatu persepsi melalui panca indra tanpa stimulus eksteren: persepsi palsu (Maramis, 2005). Halusinasi adalah kesan, respon dan pengalaman sensori yang salah (Stuart, 2007). Dari beberapa pengertian yang dikemukan oleh para ahli mengenai halusinasi di atas, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa halusinasi adalah persepsi klien melalui panca indera terhadap lingkungan tanpa ada stimulus atau rangsangan yang nyata. 2. Jenis Halusinasi Menurut (Menurut Stuart, 2007), jenis halusinasi antara lain : a. Halusinasi pendengaran (auditorik) 70 % Karakteristik ditandai dengan mendengar suara, teruatama suara suara orang, biasanya klien mendengar suara orang yang sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu. b. Halusinasi penglihatan (Visual) 20 % Karakteristik dengan adanya stimulus penglihatan dalam bentuk pancaran cahaya, gambaran geometrik, gambar kartun dan / atau panorama yang luas dan kompleks. Penglihatan bisa menyenangkan atau menakutkan. c. Halusinasi penghidu (olfactory) Karakteristik ditandai dengan adanya bau busuk, amis dan bau yang menjijikkan seperti : darah, urine atau feses. Kadang kadang terhidu bau harum. Biasanya berhubungan dengan stroke, tumor, kejang dan dementia. d. Halusinasi peraba (tactile) Karakteristik ditandai dengan adanya rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat. Contoh : merasakan sensasi listrik datang dari tanah, benda mati atau orang lain. e. Halusinasi pengecap (gustatory) Karakteristik ditandai dengan merasakan sesuatu yang busuk, amis dan menjijikkan, merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses. f. Halusinasi sinestetik Karakteristik ditandai dengan merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalir melalui vena atau arteri, makanan dicerna atau pembentukan urine. g. Halusinasi Kinesthetic Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak. 3. Fase Halusinasi Fase halusinasi ada 4 yaitu (Stuart dan Laraia, 2001): a. Comforting Klien mengalami perasaan mendalam seperti ansietas sedang, kesepian, rasa bersalah dan takut serta mencoba untuk berfokus pada pikiran yang menyenangkan untuk meredakan ansietas. Di sini klien tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan lidah tanpa suara, pergerakan mata yang cepat, diam dan asyik. b. Condemning Pada ansietas berat pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan. Klien mulai lepas kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan sumber yang dipersepsikan. Disini terjadi peningkatan tanda-tanda sistem saraf otonom akibat ansietas seperti peningkatan tanda-tanda vital (denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah), asyik dengan pengalaman sensori dan kehilangan kemampuan untuk membedakan halusinasi dengan realita. c. Controling

1. Pengertian

Pada ansietas berat, klien berhenti menghentikan perlawanan terhadap halusinasi dan menyerah pada halusinasi tersebut. Di sini klien sukar berhubungan dengan orang lain, berkeringat, tremor, tidak mampu mematuhi perintah dari orang lain dan berada dalam kondisi yang sangat menegangkan terutama jika akan berhubungan dengan orang lain. d. Consquering Terjadi pada panik Pengalaman sensori menjadi mengancam jika klien mengikuti perintah halusinasi. Di sini terjadi perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri, tidak mampu berespon terhadap perintah yang kompleks dan tidak mampu berespon lebih dari 1 orang. Kondisi klien sangat membahayakan. 4. Tanda dan Gejala Pasien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering didapatkan duduk terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum atau berbicara sendiri, secara tiba-tiba marah atau menyerang orang lain, gelisah, melakukan gerakan seperti sedang menikmati sesuatu. Juga keterangan dari pasien sendiri tentang halusinasi yang dialaminya (apa yang dilihat, didengar atau dirasakan). Berikut ini merupakan gejala klinis berdasarkan halusinasi (Budi Anna Keliat, 1999) : a. Tahap 1: halusinasi bersifat tidak menyenangkan Gejala klinis: 1) 2) 3) 4) 5) Menyeriangai/tertawa tidak sesuai Menggerakkan bibir tanpa bicara Gerakan mata cepat Bicara lambat Diam dan pikiran dipenuhi sesuatu yang mengasikkan Gejala klinis: 1) 2) 3) Cemas Konsentrasi menurun Ketidakmampuan membedakan nyata dan tidak nyata Gejala klinis: 1) 2) 3) 4) Cenderung mengikuti halusinasi Kesulitan berhubungan dengan orang lain Perhatian atau konsentrasi menurun dan cepat berubah Kecemasan berat (berkeringat, gemetar, tidak mampu mengikuti petunjuk). Gejala klinis: 1) 2) 3) 4) Pasien mengikuti halusinasi Tidak mampu mengendalikan diri Tidak mamapu mengikuti perintah nyata Beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Menurut Stuart (2007), faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah: a. Biologis Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Ini ditunjukkan oleh penelitian-penelitian yang berikut: 1) 2) 3) Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak yang lebih luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah frontal, temporal dan limbik berhubungan dengan perilaku psikotik. Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang berlebihan dan masalah-masalah pada system reseptor dopamin dikaitkan dengan terjadinya skizofrenia. Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan terjadinya atropi yang signifikan pada otak manusia. Pada anatomi otak klien dengan skizofrenia kronis, ditemukan pelebaran lateral ventrikel, atropi korteks bagian depan dan atropi otak kecil (cerebellum). Temuan kelainan anatomi otak tersebut didukung oleh otopsi (postmortem). b. Psikologis Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon dan kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup klien.

b. Tahap 2: halusinasi bersifat menjijikkan

c. Tahap 3: halusinasi bersifat mengendalikan

d. Tahap 4: halusinasi bersifat menaklukkan

5. Faktor Predisposisi

c. Sosial Budaya Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti: kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stress. 6. Faktor Presipitasi Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stressor dan masalah koping dapat mengindikasikan kemungkinan kekambuhan (Keliat, 2006). Menurut Stuart (2007), faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi adalah: a. Biologis Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan. b. Stress lingkungan Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku. c. Sumber koping Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stressor. 7. Penyebab Gangguan persepsi sensori halusinasi sering disebabkan karena panik, sterss berat yang mengancam ego yang lemah, dan isolasi sosial menarik diri (Townsend, M.C, 1998). Menurut Carpetino, L.J (1998) isolasi sosial merupakan keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak. Sedangkan menurut Rawlins, R.P dan Heacock, P.E (1998), isolasi sosial menarik diri merupakan usaha menghindar dari interaksi dan berhubungan dengan orang lain, individu merasa kehilangan hubungan akrab, tidak mempunyai kesempatan dalam berpikir, berperasaan. Berprestasi, atau selalu dalam kegagalan. Isolasi sosial menarik diri sering ditunjukkan adanya perilaku (Carpentino, L.J 1998) : Data subjektif : a. Mengungkapkan perasaan kesepian atau penolakan b. Melaporkan dengan ketidaknyamanan konyak dengan situasi sosial c. Mengungkapkan perasaan tak berguna Data objektif : a. Tidak tahan terhadap kontak yang lama b. Tidak komunikatif c. Kontak mata buruk d. Tampak larut dalam pikiran dan ingatan sendiri e. Kurang aktivitas f. Wajah tampak murung dan sedih g. Kegagalan berinteraksi dengan orang lain

8. Akibat Adanya gangguang persepsi sensori halusinasi dapat beresiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan (Keliat, B.A, 2006). Menurut Townsend, M.C suatu keadaan dimana seseorang melakukan sesuatu tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik pada diri sendiri maupuan orang lain. Seseorang yang dapat beresiko melakukan tindakan kekerasan pada diri sendiri dan orang lain dapat menunjukkan perilaku : Data subjektif : a. Mengungkapkan mendengar atau melihat objek yang mengancam b. Mengungkapkan perasaan takut, cemas dan khawatir Data objektif : a. Wajah tegang, merah b. Mondar-mandir c. Mata melotot rahang mengatup d. Tangan mengepal

e. Keluar keringat banyak f. Mata merah 9. Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada pasien halusinasi dengan cara : a. Menciptakan lingkungan yang terapeutik Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan pasien akibat halusinasi, sebaiknya pada permulaan pendekatan di lakukan secara individual dan usahakan agar terjadi knntak mata, kalau bisa pasien di sentuh atau di pegang. Pasien jangan di isolasi baik secara fisik atau emosional. Setiap perawat masuk ke kamar atau mendekati pasien, bicaralah dengan pasien. Begitu juga bila akan meninggalkannya hendaknya pasien di beritahu. Pasien di beritahu tindakan yang akan di lakukan. Di ruangan itu hendaknya di sediakan sarana yang dapat merangsang perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan dengan realitas, misalnya jam dinding, gambar atau hiasan dinding, majalah dan permainan b. Melaksanakan program terapi dokter Sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan dengan rangsangan halusinasi yang di terimanya. Pendekatan sebaiknya secara persuatif tapi instruktif. Perawat harus mengamati agar obat yang di berikan betul di telannya, serta reaksi obat yang di berikan. c. Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah yang ada Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat menggali masalah pasien yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan data ini juga dapat melalui keterangan keluarga pasien atau orang lain yang dekat dengan pasien. d. Memberi aktivitas pada pasien Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik, misalnya berolah raga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini dapat membantu mengarahkan pasien ke kehidupan nyata dan memupuk hubungan dengan orang lain. Pasien di ajak menyusun jadwal kegiatan dan memilih kegiatan yang sesuai. e. Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data pasien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses keperawatan, misalny dari percakapan dengan pasien di ketahui bila sedang sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi bila ada orang lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas. Perawat menyarankan agar pasien jangan menyendiri dan menyibukkan diri dalam permainan atau aktivitas yang ada. Percakapan ini hendaknya di beritahukan pada keluarga pasien dan petugaslain agar tidak membiarkan pasien sendirian dan saran yang di berikan tidak bertentangan. C. MASALAH DAN DATA YANG PERLU DIKAJI No 1. Masalah Keperawatan Masalah utama : gangguan persepsi sensori halusinasi Data Subyektif Klien mengatakan melihat atau mendengar sesuatu. Klien tidak mampu mengenal tempat, waktu, orang. sendiri. Mulut seperti bicara tapi tidak keluar suara. Berhenti bicara seolah mendengar atau melihat sesuatu. Gerakan mata yang cepat. Klien mengatakan merasa Isolasi sosial : menarik diri 2. kesepian. Klien mengatakan tidak dapat berhubungan sosial. Klien mengatakan tidak berguna. Tidak tahan terhadap kontak yang lama. Tidak konsentrasi dan pikiran mudah beralih saat bicara. Tidak ada kontak mata. Ekspresi wajah murung, sedih. Tampak larut dalam pikiran dan ingatannya sendiri. Kurang aktivitas. Tidak komunikatif. Wajah klien tampak tegang, Data Obyektif Tampak bicara dan ketawa

merah. Klien mengungkapkan takut. Klien mengungkapkan apa yang Resiko mencederai diri sendiri dan orang lain 3. dilihat dan didengar mengancam dan membuatnya takut. Mata merah dan melotot. Rahang mengatup. Tangan mengepal. Mondar mandir.

D. POHON MASALAH

Resiko mencederai diri sendiri, Orang lain dan lingkungan Akibat

Core Problem

Gangguan persepsi sensori: Halusinasi

Isolasi sosial menarik diri Cause Gambar Pohon Masalah (Keliat, B.A, 2006) E. 1. 2. 3. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan yang dapat ditarik dari pohon masalah tersebut adalah : Gangguan persepsi sosial: Halusinasi Isolasi sosial: Menarik Diri

Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan F. FOKUS INTERVENSI Menurut Rasmun (2001) tujuan utama, tujuan khusus, dan rencana tindakan dari diagnosa utama : resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi adalah sebagai berikut : 1. 2. Tujuan umum Klien tidak mencederai diri sendiri dan orang lain. Tujuan khusus a. TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya. 1) Kriteria evaluasi: Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi. 2) Intervensi Bina hubungan saling percaya dengan : a) Sapa klien dengan ramah dan baik secara verbal dan non verbal. b) Perkenalkan diri dengan sopan.

c) Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien. d) Jelaskan tujuan pertemuan. e) Jujur dan menepati janji. f) Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya. g) Beri perhatian pada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien Rasional : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk memperlancar hubungan interaksi selanjutnya. b. TUK II : Klien dapat mengenal halusinasi 1) Kriteria evaluasi : a) Klien dapat menyebutkan waktu, isi 2) Intervensi a) Adakan sering dan singkat secara bertahap. dan frekuensi timbulnya halusinasi. b) Klien dapat mengungkapkan perasaan terhadap halusinasinya.

Rasional : Kontak sering dan singkat selain upaya membina hubungan saling percaya juga dapat memutuskan halusinasinya. b) Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya. Bicara dan tertawa tanpa stimulus, memandang ke kiri dan ke kanan seolah-olah ada teman bicara. Rasional: Mengenal perilaku pada saat halusinasi timbul memudahkan perawat dalam melakukan intervensi. c) Bantu klien mengenal halusinasinya dengan cara : a.a Jika menemukan klien yang sedang halusinasi tanyakan apakah ada suara yang di dengar. a.b Jika klien menjawab ada lanjutkan apa yang dikatakan. a.c Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar suara itu, namun perawat sendiri tidak mendengarnya (dengan nada sahabat tanpa menuduh/menghakimi). a.d Katakan pada klien bahwa ada juga klien lain yang sama seperti dia. a.e Katakan bahwa perawat akan membantu klien. Rasional : Mengenal halusinasi memungkinkan klien untuk menghindari faktor timbulnya halusinasi. d) Diskusikan dengan klien tentang : a.a Situasi yang menimbulkan/tidak menimbulkan halusinasi. a.b Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi, siang, sore dan malam atau jika sendiri, jengkel, sedih) Rasional : Dengan mengetahui waktu, isi dan frekuensi munculnya halusinasi mempermudah tindakan keperawatan yang akan dilakukan perawat. e) Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi (marah, takut, sedih, tenang) beri kesempatan mengungkapkan perasaan. Rasional : Untuk mengidentifikasi pengaruh halusinasi pada klien. c. TUK III : Klien dapat mengontrol halusinasinya. 1) Kriteria evaluasi : a) Klien dapat menyebutkan tindakan yang biasanya b) Klien dapat menyebutkan cara baru. c) Klien dapat memilih cara mengatasi halusinasi seperti yangtelah didiskusikan dengan klien. d) Klien dapat melakukan cara yang telah dipilih untuk mengendalikan halusinasi. e) Klien dapat mengetahui aktivitas kelompok. 2) Intervensi a) Identifikasi bersama klien tindakan yang dilakukan jika dan lain-lain) Rasional : Upaya untuk memutus siklus halusinasi sehingga halusinasi tidak berlanjut. b) Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien, jika bermanfaat beri pujian. Rasional : terjadi halusinasi (tidur, marah, menyibukkan diri sendiri dilakukan untuk mengendalikan halusinasinya.

Reinforcement dapat mneingkatkan harga diri klien. c) Diskusikan cara baru untuk memutus/mengontrol timbulnya halusinasi : a.a Katakan : Saya tidak mau dengar kau pada saat halusinasi muncul. a.b Menemui orang lain atau perawat, teman atau anggota keluarga yang lain untuk bercakap-cakap atau mengatakan halusinasi yang didengar. a.c Membuat jadwal sehari-hari agar halusinasi tidak sempat muncul. a.d Meminta keluarga/teman/perawat, jika tampak bicara sendiri. Rasional: Memberikan alternatif pilihan untuk mengontrol halusinasi. d) Bantu klien memilih cara dan melatih cara untuk memutus halusinasi secara bertahap, misalnya dengan : a.a Mengambil air wudhu dan sholat atau membaca al-Quran. a.b Membersihkan rumah dan alat-alat rumah tangga. a.c Mengikuti keanggotaan sosial di masyarakat (pengajian, gotong royong). a.d Mengikuti kegiatan olah raga di kampung (jika masih muda). a.e Mencari teman untuk ngobrol. Rasional : Memotivasi dapat meningkatkan keinginan klien untuk mencoba memilih salah satu cara untuk mengendalikan halusinasi dan dapat meningkatkan harga diri klien. e) Beri kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih. Evaluasi : hasilnya dan beri pujian jika berhasil. Rasional : Memberi kesempatan kepada klien untuk mencoba cara yang telah dipilih. f) Anjurkan klien untuk mengikuti terapi aktivitas kelompok, orientasi realita dan stimulasi persepsi. Rasional : Stimulasi persepsi dapat mengurangi perubahan interprestasi realitas akibat halusinasi. d. TUK IV : Klien dapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya. 1) Kriteria evaluasi a) Keluarga dapat saling percaya dengan perawat. b) Keluarga dapat menyebutkan pengertian, tanda dan tindakan untuk mengendalikan halusinasi. 2) Intervensi a) Membina hubungan saling percaya dengan menyebutkan nama, tujuan pertemuan dengan sopan dan ramah. Rasional : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk memperlancar hubungan interaksi selanjutnya. b) Anjurkan klien menceritakan halusinasinya kepada keluarga. Untuk mendapatkan bantuan keluarga dalam mengontrol halusinasinya. c) Diskusikan halusinasinya pada saat berkunjung tenang : a.a Pengertian halusinasi a.b Gejala halusinasi yang dialami klien. a.c Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus halusinasi. a.d Cara merawat anggota keluarga yang berhalusinasi di rumah, misalnya : beri kegiatan, jangan biarkan sendiri, makan bersama, bepergian bersama. a.e Beri informasi waktu follow up atau kapan perlu mendapat bantuan : halusinasi tidak terkontrol, dan resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Rasional : Untuk mengetahui pengetahuan keluarga tentang halusinasi dan menambah pengetahuan keluarga cara merawat anggota keluarga yang mempunyai masalah halusinasi. e. TUK V : Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik. 1) Kriteria evaluasi a) Klien dan keluarga dapat menyebutkan manfaat, dosis dan efek samping obat. b) Klien dapat mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar. c) Klien mendapat informasi tentang efek dan efek samping obat.

d) Klien dapat memahami akibat berhenti minum obat tanpa konsutasi. e) Klien dapat menyebutkan prinsip 5 benar penggunaan obat. 2) Intervensi a) Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis dan frekuensi serta manfaat minum obat. Rasional : Dengan menyebutkan dosis, frekuensi dan manfaat obat diharapkan klien melaksanakan program pengobatan. b) Anjurkan klien minta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya. Rasional : Menilai kemampuan klien dalam pengobatannya sendiri. c) Anjurkan klien untuk bicara dengan dokter tentang mafaat dan efek samping obat yang dirasakan. Rasional : Dengan mengetahui efek samping klien akan tahu apa yang harus dilakukan setelah minum obat. d) Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter. Rasional : Program pengobatan dapat berjalan dengan lancar. e) Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar dosis, benar obat, benar waktunya, benar caranya, benar pasiennya). Rasional : Dengan mengetahui prinsip penggunaan obat, maka kemandirian klien untuk pengobatan dapat ditingkatkan secara bertahap.

DAFTAR PUSTAKA Boyd, M.A & Nihart, M.A, 1998. Psychiatric Nuersing cotemporary Practice, Edisi9th. Philadelphis: Lippincott Raven Publisrs,. Carpenito, L.J, 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan (terjemahan). Edisi 8, Jakarta: EGC.

Keliat, B.A. 1997. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC. Keliat, B.A. 1999. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC. Keliat, B.A. 2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC. Kusuma, W.1997. Dari A sampai Z Kedaruratan Psiciatric dalam Praktek , Edisi I.Jakarta: Profesional Books. Maramis, W.f. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Ed. 9 Surabaya: Airlangga University Press. Rasmun. 2001. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatrik Terintegrasi Dengan Keluarga , Edisi I. Jakarta: CV. Sagung Seto. Rawlins, R.P & Heacock, PE. 1998. Clinical Manual of Pdyshiatruc Nursing, Edisi 1. Toronto: the C.V Mosby Company. Stuart, G.W & Sundeen, S.J. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa (Terjemahan). Edisi 3, EGC, Jakarta. Stuart, G.W & Sundeen, S.J. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa (Terjemahan).Jakarta: EGC. Townsend, M.C. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatri (terjemahan), Edisi 3. Jakarta: EGC.