Anda di halaman 1dari 35

MAKALAH PERPINDAHAN KALOR KONDUKSI

Kelompok 10

Farisa Imansari (1206212426) Fhani Meliana (1206212413) Lisa Indriyadi (1106016405) Primantono Rachman (1206262121) Sri Dwi Aryani (1206212395)

TEKNOLOGI BIOPROSES DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK MARET, 2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Perpindahan Kalor yang membahas mengenai Pemicu I dan II yaitu Perpindahan Panas Secara Konduksi Keadaan Tunak dan Tak Tunak. Penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada Ibu Dianursanti dan Ibu Tania selaku dosen mata kuliah Perpindahan Kalor yang telah membimbing kami dalam menyelesaikan pembuatan makalah ini. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada teman-teman selaku rekan dalam kelas Perpindahan Kalor yang telah memberikan saran dan dukungan kepada penulis selama proses penyelesaian masalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran serta kritik yang membangun agar ke depannya dapat membuat makalah yang lebih baik lagi.

Depok, Maret 2014

Tim Penulis

DAFTAR ISI Kata Pengantar ............................................................................................... Daftar Isi ........................................................................................................ Daftar Gambar ............................................................................................... Daftar Tabel ................................................................................................... PENDAHULUAN Latar Belakang ............................................................................................... Tujuan ............................................................................................................ Rumusan Masalah .......................................................................................... PEMBAHASAN 2.1 Bahaya Memasak Menggunakan Microwave Bagi Kesehatan ............. 2.2 Penggunaan Microwave dalam Rumah Tangga ................................... 2.3 Fenomena Perpindahan Panas Konduksi Secara Tunak pada Pemanasan Makanan dengan Microwave . 2.4 Fenomena Perpindahan Panas Konduksi Secara Tunak pada Pemanasan Makanan dengan Microwave... 2.5 Proses Perpindahan Kalor Secara Konduksi dalam Dimensi Tunggal dan Dimensi Rangkap. 2.6 Menentukan Nilai Koefisien Perpindahan Kalor Menyeluruh dan Tahanan Kontak Termal. 2.7 Menentukan Laju Perpindahan Kalor Konduksi Tunak pada Sistem dengan Penampang Kalor yang Berbeda dan Sistem dengan Sumber Kalor.. 2.8 Menentukan Laju Perpindahan Kalor dalam Sistem yang Melibatkan Perpindahan Kalor Secara Konduksi dan Konveksi. 2.8 Perpindahan Kalor Konduksi Tunak Dimensi Rangkap Secara Matematik, Grafik Maupun Numerik, Serta Aplikasi Faktor Bentuk Konduksi.. 2.9 Insulasi dalam Suatu Sistem Penghantaran Panas..,... 2.10 Bahan Isolator yang Baik... 2.11 Kinerja Isolator yang Baik......... 2.12 Tugas Perhitungan... 2.13 Tugas Perhitungan....... 2.14 Fenomena Perpindahan Panas Konduksi Tak Tunak Pada Pemanasan Makanan Dalam Oven dan Microwave.... 2.15 Jenis material, Bentuk dan Ukuran Wadah Makanan yang Digunakan Dalam proses Pemanasan Menggunakan Oven atau Microwave... 2.16 Batasan yang Harus Dipenuhi Dalam Menganalisis Kapasitas Kalor Tergabung Pada Perpindahan Kalor Konduksi Tak Tunak.. 2.17 Penerapan Analisis Aliran Kalor Transien Dalam Menyelesaikan Permasalahan Perpindahan Kalor Konduksi Tak Tunak........ 2.18 Batas Konveksi, Angka Biot, Angka Fourier, dan Bagan Heisler dan Penerapannya Pada Perpindahan Kalor Konduksi Tak Tunak... 19 19 20 20 22
3

2 3 4 4

5 5 5

7 7 8 8 8 11

12 13 13 15 16 16 17 18

2.19 Perpindahan Kalor Konduksi Tak Tunak Pada Sistem Dimensi Rangkap Kalor Konduksi Transien Pada Sistem Multidimensi.. . 2.20 Aplikasi Metode Numerik Transien dan Analisis Grafik Schmidt..... 2.21 Tugas Perhitungan ... 2.22 Tugas Perhitungan ...

24 25 27 28

PENUTUP Kesimpulan .................................................................................................... . Daftar Pustaka ................................................................................................ .. DAFTAR GAMBAR

30 30

Gambar 1. Ilustrasi Sistem dengan Konduksi dan Konveksi ................................... Gambar 2. Distribusi Temperatur pada Persegi ...................................................... Gambar 3. Profil Temperatur pada Bidang Datar, Silinder, dan Bola ..................... Gambar 4. Increment pada Benda Dua Dimensi .....................................................

12 13 21 26

DAFTAR TABEL

Tabel 2.Tabel Konduktivitas Termal.... .............

17

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keberadaan oven microwave semakin mudah ditemui di rumah-rumah, apalagi harga microwave sudah terjangkau. Memasak memakai oven microwave menjadi pilihan karena gampang digunakan dan hemat energi. Namun, banyak yang tidak menyadari bahaya yang dapat ditimbulkan oleh oven microwave bagi kesehatan Anda. Bahaya tersebut timbul karena makanan yang dipanaskan dengan menggunakan microwave akan kehilangan kandungan nutrisi dan vitamin B-12. Karsinogen penyebab kanker juga dapat timbul pada makanan. Untuk mengetahui penyebab dari sejumlah bahaya yang timbul tersebut, perlu dilakukan peninjauan terhadapperpindahan panas secara konduksi yang terjadi pada makanan yang dipanaskan menggunakan microwave, baik dalam keadaan tunak maupun tak tunak.

1.2 Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Perpindahan Kalor, juga untuk memahami prinsip dasar fenomena peristiwa perpindahan kalor secara konduksi, baik kondisi tunak maupun tak tunak. Makalah ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi yang bermanfaat mengenai bahayanya memasak menggunakan microwave serta penyebabnya.

1.3 Rumusan Masalah Apa bahaya memasak menggunakan microwave bagi kesehatan? Bagaimana penggunaan microwave dalam rumah tangga? Bagaimana fenomena perpindahan panas konduksi secara tunak pada kasus pemanasan makanan dengan microwave? Bagaimana proses perpindahan kalor secara konduksi dalam dimensi tunggal dan dimensi rangkap? Bagaimana menentukan nilai koefisien perpindahan kalor menyeluruh dan tahanan kontak termal?
5

Bagaimana menentukan laju perpindahan kalor konduksi tunak pada system dengan penampang kalor yang berbeda dan system dengan sumber kalor? Bagaimana menentukan laju perpindahan kalor dalam system yang melibatkan perpindahan kalor secara konduksi dan konveksi? Bagaimana penyelesaian masalah dalam perpindahan kalor konduksi tunak dimensi rangkap secara matematik, grafik maupun numerik, serta aplikasi faktor bentuk konduksi? Apakah insulasi diperlukan dalam suatu system penghantaran panas? Bagaimana memilih bahan isolator yang baik? Bagaimana kinerja isolator yang baik? Bagaimana fenomena perpindahan panas konduksi tak tunak pada pemanasan makanan dalam oven dan microwave?Apa perbedaannya dengan perpindahan perpindahan kalor konduksi tunak?

Bagaimana peranan jenis material, bentuk dan ukuran wadah makanan yang digunakan dalam proses pemanasan menggunakan oven atau microwave? Bagaimana batasan yang harus dipenuhi jika ingin menerapkan analisis kapasitas kalor tergabung dalam menyelesaikan permasalahan perpindahan kalor konduksi tak tunak? Bagaimana penerapan analisis aliran kalor transien dalam menyelesaikan permasalahan perpindahan kalor konduksi tak tunak? Apakah yang dimaksud dengan batas konveksi, angka Biot, angka Fourier, dan bagan Heisler? Bagaimana menerapkannya dalam menyelesaikan permasalahan perpindahan kalor konduksi tak tunak?

Bagaimana menyelesaikan permasalahan perpindahan kalor konduksi tak tunak pada system dimensi rangkap? Bagaimana aplikasi Metode Numerik Transien dan Analisis Grafik Schmidt?

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Bahaya Memasak Menggunakan Microwave Bagi Kesehatan Microwave dianggap alat memasak yang paling efisien dan cepat karena suhu di microwave jauh lebih tinggi daripada oven biasa. Namun di balik keuntungannya, microwave juga rawan bagi kesehatan dan telah terbukti secara ilmiah melalui beberapa percobaan. Risiko menggunakan microwave adalah karena instensitas radiasi listrik dan magnetik yang digunakan untuk memasak makanan. Panas yang dihasilkan mengakibatkan memasak dengan cepat, menyerang sistem kekebalan tubuh. Panas juga meningkatkan tingkat leukosit yang menyebabkan keracunan dan merusak sel, sehingga menyebabkan beberapa jenis penyakit, termasuk kanker. Microwave menggunakan teknologi yang berkontribusi pada risiko kesehatan. Panas mengurangi vitalitas makanan dan nutrisinya. Setelah membunuh gizi makanan, microwave memulai proses pembusukan makanan. Risiko kesehatan ketiga adalah menghalangi proses produksi hormon. Makanan dari microwave menghasilkan reaksi di perut serta pertumbuhan kanker usus, gangguan secara bertahap sistem pencernaan. Ini juga menurunkan kemampuan tubuh dalam menyerap vitamin. 2.2 Penggunaan Microwave dalam Rumah Tangga Microwave telah banyak digunakan oleh masyarakat luas dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, seperti mencairkan makanan beku (menu defrost), memanggang, memasak, memanaskan makanan, menghangatkan minuman, mensterilkan spons pencuci piring, dan lainnya. Microwave kerap dibandingkan oleh oven karena fungsi dari keduanya yang hampir sama. Microwave menggunakan listrik sebesar 220 volt dan daya 850 watt, sedangkan oven menggunakan panas dari api kompor. Daya listrik 850 microwave dapat memanaskan makanan kurang dari 20 menit. Microwave juga memiliki thermostat dan timer, kedua komponen ini menunjang dalam penghematan energi. Thermostat menjaga panas microwave lebih stabil dan timer sebagai pengingat ketika waktu pemanasan telah selesai serta mematikan fungsi microwave secara otomatis, dan menghemat daya listrik yang digunakan. Oven menggunakan energi yang lebih banyak, dan kontrol terhadap penggunaan energi minim. Panas oven kurang stabil karena tidak adanya thermostat, timer dan wave stirer. Tidak
7

adanya ketiga komponen ini menyebabkan waktu pemanasan makanan berlangsung lebih lama dan tidak efisien, maka oven membutuhkan energi yang lebih banyak. Hal ini yang mengindikasi penggunaan microwave lebih hemat dibandingkan oven. 2.3 Fenomena Perpindahan Panas Konduksi Secara Tunak pada Pemanasan Makanan dengan Microwave Pemanasan makanan pada microwave terjadi secara radiasi yaitu menggunakan gelombang radio atau gelombang mikro yang dapat menembus makanan pada frekuensi 2,45 GHz. Gelombang mikro menerapkan sistem pemanasan dielektrik (dielectric heating) yaitu pemanasan material/komponen dielektrik. Gelombang mikro akan diserap oleh molekul makanan. Penyerapan gelombang mikro akan menyebabkan atom-atom air pada molekul makanan memiliki energi kinetik yang lebih tinggi, maka molekul makanan akan berotasi dan saling bertabrakan. Tumbukan antar molekul akan memberikan energi kinetik berlebih, adanya perbedaan temperatur sebagai driving force perpindahan kalor menimbulkan transfer panas menuju arah gradien suhu, dalam hal ini menuju bagian dalam makanan.Makanan akan matang ketika molekul makanan sampai pada suhu tertentu dan bagian pada makanan memiliki temperatur yang sama atau dengan kata lain kesetimbangan temperatur. Hilangnya driving forceakan menghentikan transfer panas secara konduksi dan suhu makanan dalam oven tidak berubah lagi terhadap waktu (tunak). Gelombang mempunyai sebuah komponen positif dan negatif, molekul-molekul makanan didesak kedepan dan kebelakang selama 2 kali kecepatan frekuensi gelombang mikro, yaitu 4,9 juta kali/detik. Gelombang mikro dihasilkan oleh magnetron, gelombang tersebut ditransmisikan ke dalam waveguide, lalu gelombang tersebut dipantulkan ke dalam fan stirrer dan dinding dari ruangan didalam oven, dan kemudian gelombang tersebut diserap oleh makanan.

2.4 Proses Perpindahan Kalor Secara Konduksi dalam Dimensi Tunggal dan Dimensi Rangkap Konduksi Keadaan Tunak Satu Dimensi Persamaan dasar untuk menganalisis panas konduksi adalah Hukum Fourier

Dimana

merupakan flux panas (W/m2),

merupakan konduktifitas termal (W/m.K), dan

merupakan gradien temperatur (K/m). Sistem dikatakan satu dimensi apabila temperatur pada bidang hanya merupakan fungsi dari panjang radial dan tidak tergantung dengan panjang axial. Beberapa bentuk bidang yang berbeda yang dikategorikan sebagai sistem satu dimensi adalah bidang datar, silindris, dan bulat. Bidang Datar

Laju alir panas yang terjadi pada bidang datar dapat diformulasikan sebagai

Dimana merupakan laju alir panas, dan merupakan ketebalan bidang.

merupakan temperatur pada permukaan bidang,

Jika konduktivitas termal berubah dengan suhu menurut hubungan linier maka laju panas menjadi
( )

Silinder Jika sebuah silinder homogen dan cukup panjang sehingga pengaruh ujung-ujungnya

dapat diabaikan dan suhu permukaan dalamnya konstan pada dipertahankan seragam pada maka laju konduksi panasnya adalah

sedangkan suhu luarnya

Bola Sistem berbentuk bola dapat dikategorikan sebagai sistem berdimensi satu ketika

temperaturnya merupakan fungsi dari jari-jari. Laju alir panasnya adalah

Konduksi Keadaan Tunak Dimensi Rangkap Pada perpindahan kalor konduksi tunak dua dimensi, gradien suhu dinyatakan dalam dua koordinat ruang. Untuk menganalisis aliran panas keadaan tunak system dua dimensi berlaku persamaan Laplace
9

Solusi dari persamaan ini dapat didiferensialkan dan dikombinsikan dengan persamaan Fourier untuk menghasilkan komponen vector laju perpindahan panas.

2.5 Menentukan Nilai Koefisien Perpindahan Kalor Menyeluruh dan Tahanan Kontak Termal Koefisien perpindahan panas menyeluruh digunakan dalam menghitung laju perpindahan panas Q dari suatu fluida dengan suhu rata-rata T1 melalui permukaan yang solid ke fluida yang lainnya dengan suhu rata-rata T2 (dimana T1> T2). Persamaan ini umumnya hanya berlaku pada kondisi tunak. Berikut persamaannya

Pada kondisi tertentu, apabila dinding yang dilalui mempunyai ketebalan yang sama, maka U berhubungan dengan transfer koefisien dari setiap fluida yang terlibat.

Dimana

dan

merupakan koefisien perpindahan panas dari fluida A dan C,

merupakan

ketebalan dinding yang dilalui fluida dan

merupakan konduktivitas termal dari dinding.

Tahanan kontak termal (thermal contact resistance) adalah kondisi dimana nilai kekasaran permukaan bidang kontak akan mempengaruhi laju perpindahan kalor. ( )

DimanaRt,c merupakan tahanan termal (0C/W), TA merupakan temperatur material A (0C), TB merupakan temperatur material B (0C) dan Qx merupakan Heat Fluks (W/m2). 2.6 Menentukan Laju Perpindahan Kalor Konduksi Tunak pada Sistem dengan Penampang Kalor yang Berbeda dan Sistem dengan Sumber Kalor Menentukan Laju Kalor Konduksi Tunak Pada Sistem Penampang yang Berbeda

10

Laju perpindahan kalor dapat ditentukan dengan persamaan Fourier. Karena pada persamaan Fourier terdapat fungsi luas maka persamaan luas yang dipakai harus sesuai dengan bentuk penampang benda tersebut. Terdapat perbedaan apabila penampang sistem berbentuk radial. Persamaan Fourier untuk penampang radial adalah

Dari persamaan tersebut dapat dihasilkan persamaan untuk tahanan termal sistem dengan penampang lingkaran yang dapat digunakan untuk memudahkan perhitungan laju perpindahan kalor, dengan menganalogikan sistem menjadi rangkaian listrik.

Sedangkan untuk sistem berpenampang bola, laju alir kalornya adalah

Pada analisis dua dimensi persamaan yang digunakan adalah adalah faktor bentuk konduksi yang dapat dilihat pada Lampiran 1. Menentukan Laju Kalor Konduksi Tunak Pada Sistem Dengan Sumber Kalor 1. Dinding datar dengan sumber kalor

. Dengan S

Suatu bidang datar dengan sumber panas mempunyai ketebalan 2L pada arah x dan diasumsikan dimensi di kedua arah yang lain cukup bsar sehingga aliran panas dianggap satu dimensi. Panas yang tergenerasi per unit volume adalah q dan konduktivitas termal tidak berubah tehadap suhu Persamaan aliran panas pada keadaan tunak, adalah: dengan kondisi batas T = To pada T = Tw pada distribusi suhu sepanjang arah x, yaitu: T = Tw pada x = L, maka Suhu di dinding: 2. Silinder dengan sumber kalor x=0 x=L

Penyelesaian persamaan aliran kalor dengan kondisi batas di atas akan menghasilkan persamaan

11

Suatu silinder pejal dengan jari jari R dengan sumber panas terbagi rata dan konduktivitas termal tetap. Silinder cukup panjang sehingga suhu hanya merupakan fungsi jari jari. Persamaan aliran panas pada keadaan tunak, adalah: dengan kondisi batas pada r = 0 pada r=R

Sehingga menghasilkan persamaan distribusi suhu sepanjang arah radial, yaitu:

Suhu maksimal tercapai di pusat silinder pada saat r = 0.

2.7 Menentukan Laju Perpindahan Kalor dalam Sistem yang Melibatkan Perpindahan Kalor Secara Konduksi dan Konveksi Transfer kalor konduksi selalu diawali dengan proses konveksi dan diakhiri dengan proses konveksi pula. Sangatlah jarang proses konduksi terjadi tanpa diawali dan diakhiri dengan proses konveksi. Perhatikan transfer kalor yang terjadi pada suatu dinding datar seperti gambar dibawah ini. Pada sisi kiri terjadi transfer kalor secara konveksi dari fluida panas ke permukaan dinding sebelah kiri. Perbedaan temperatur pada permukaan kanan dan kiri ini menyebabkan terjadinya transfer panas secara konduksi dari permukaan kiri ke permukaan kanan. Kemudian temperatur permukaan kanan menjadi lebih panas dari fluida yang ada si sebelah kanan, sehingga terjadilah transfer kalor secara konveksi dari permukaan dinding sebelah kanan ke fluida yang berada disampingnya. Aliran kalor yang terjadi pada keseluruhan sistem ; ;
Gambar 1. Ilustrasi Sistem dengan Konduksi dan Konveksi Sumber: Termodinamika Teknik, Erlangga

Jika ketiga persamaan diatas dijumlahkan pada arah temperatur maka akan menjadi :

12

Kita ketahui bahwa Sehingga { }

Maka Aliran kalor dari fluida kiri ke fluida kanan dapat ditulis sbb :

2.8 Perpindahan Kalor Konduksi Tunak Dimensi Rangkap Secara Matematik, Grafik Maupun Numerik, Serta Aplikasi Faktor Bentuk Konduksi Analisis Matematika Sebuah persegi mempunyai tiga sisi lateral yang temperaturnya tetap. Distribusi temperatur di keempat sisi adalah sinusoidal dengan nilai maksimum . Dengan menggunakan perbedaan suhu diasumsikan bahwa temperatur tetap menjadi 0. Tidak ada arah z dari gradien suhu, maka persamaan Laplace nya adalah dapat

Dengan kondisi batas

Gambar 2. Distribusi Temperatur Sumber: Pitts, Donald R. Schaums Outline of Theory & Problems of Heat Transfer

Dengan mengasumsikan solusi dalam bentuk persamaan Laplace sehingga menghasilkan

yang disubstitusi ke

Jika masing-masing mempunyai niai konsanta dimana mempunyai koefisien

sehingga 2 batas homogen

Solusi untuk persamaan terpisah ini adalah


13

Dengan mengaplikasikan kondisi batas

= 0 dan

menghasilkan

Dengan syarat

Karena persamaan diferensial asli adalah linier, Total jumlah angka jumlah beberapa solusi merupakan solusi. Dengan demikian terbatas

dapat ditulis sebagai penjumlahan dari seri yang tidak

Dimana konstanta telah dikombinasikan dan mengganti Menghasilkan

dengan 2sinh y.

Yang dapat diterapkan jika

dan

Penyelesaian Umum Konduksi Panas untuk Sistem Hogomen dan Dua Dimensi ( ( ) Koordinat Cartesian ) Silinder

Penyelesaian Analitik Distribusi suhu umumnya pada kondisi steady state:

sehingga

14

Pemisahan Variabel

Solusi umum, diselesaikan dengan kondisi batas (boundary conditions)

Metode Grafik Membuat terlebih dahulu jaringan isoterm. Aliran panas tegak lurus dengan garis isoterm Garis isoterm adlaah garis aliran panas berbentuk bujur sangkar. Penggambaran grafik secara manual, dan semakin dekat dengan bentuk bujur sangkar maka analisis akan semakin baik. Aliran Panas Hukum Fourier Laju aliran panas

2.9 Insulasi dalam Suatu Sistem Penghantaran Panas Insulasi termal merupakan metode yang dapat menjaga daerah tertutup seperti panas bangunan, atau dapat menjaga bagian dalam bangunan dingin. Panas ditransfer dari satu material ke material yang lain secara konduksi, konveksi dan / atau radiasi. Jika Anda memiliki objek atau daerah yang pada suhu tertentu, Anda mungkin ingin mencegah materi yang kita miliki mempunyai suhu yang sama dengan materi lainnya. Hal ini biasanya dilakukan dengan menggunakan sebuah penghalang isolasi termal. Di setiap lokasi di

15

mana ada bahan dari dua suhu yang berbeda drastis, Anda mungkin ingin memberikan penghalang isolasi untuk mencegah satu dari menjadi suhu yang sama seperti yang lain. Dalam situasi seperti itu, upaya ini adalah untuk meminimalkan transfer panas dari satu daerah ke daerah lain

2.10 Bahan Isolator yang Baik Karakteristik bahan yang dapat digunakan sebagai isolatormeliputi konduktivitas termal, nilai R, difusivitas termal, permeabilitas udara, dan kerapatan. Konduktivitas termal dari suatu bahan menunjukkankemampuanbahan tersebut untuk menghantarkan panas. Isolator yang baik, seharusnya memiliki nilai konduktivitas yang rendah. Sementara, Nilai-R dari material adalah ketahanan terhadap aliran panas dan merupakan indikasi dari kemampuannya untuk melindungi. Tinggi nilai-R, semakin baik isolasi. Suatu isolator yang baik juga seharusnya memiliki nilai permeabilitas udara yang tinggi, sehingga memungkinkan udara untuk melewati pori-porinya. Kerapatan atau densitas suatu material juga dapat mempengaruhi apakan ia isolator yang baik atau bukan. Isolator yang baik memiliki kerapatan yang rendah.

2.11 Kinerja Isolator yang Baik Isolator yang baik harus mempunyai sifat elektris, mekanis, termis, dan sifat kimia yang baik. Sifat elektris ditunjukkan oleh kekuatan dielektrisnya yaitu besarnya ketahanan suatu isolator untuk dapat bertahan terhadap tegangan listrik dan isolator yang baik harus mempunyai kekuatan dieleketrik yang besar.Sedangkan sifat mekanis isolator terkait dengan kekuatan mekaniknya anatara lain tahan terhadap tekanan mekanik dan tidak mudah aus yaitu kerusakan yang disebabkan oleh pemakaian. Sifat kimia termasuk didalamnya adalah sifat hifrokopis, yaitu sifat yang menunjukkan mudah dan tidaknya suatu bahan isolator menyerap air. Karena air merupakan bahan yang konduktif, maka semakin basa suatu isolator, tahan jenis maupun sifat dielektriknya akan semakin kecil dan kemampuan isolasinya akan semakin turun. Sifat kimia yang lain adalah sifat mudah berkarat yang disebabkan oleh kondisi lingkungan seperti gas, garam, alkali, dan sebagainya 2.12 Tugas Perhitungan

16

Usulkan suatu system insulasi untuk sebuah oven pemanas yang beroperasi pada suhu 200OC. Sistem insulasi tersebut diharapkan dapat menahan laju kalor sebesar 225 W/m 2 dan menjadikan suhu di bagian luar oven menjadi 40OC. Untuk dapat membuat system insulasi yang baik pada oven, perlu diperhatikan faktor-faktor berikut: 1. Ketebalan isolasi optimal 2. Jenis material pembentuk isolator, karena setiap isolator mempunyai fungsi dan keadaan 3. Jenis bahan isolator, menunjukkan konduktivitas termalnya, semakin kecil nilai konduktivitas termal, maka proses isolasi akan semakin baik. 4. Temperatur, suhu maksimum yang dapat dicapai isolator. 5. Pengaruh mekanisme kimia lain yang dapat merugikan penggunaan oven, missal kandungan gizi pada makanan yang dipanaskan dengan oven. Table konduktivitas termal Material Udara Foam, Polyurethene Fiberglass Corkboard Woulfeat Cotton yaitu 0,03 dan 0,04 W/m OC Polyurethene Konduktivitas Termal (W/m OC) 0,03 0,03 0,04 0,04 0,05 0,06

Dari table diatas, konduktivitas termal yang paling kecil adalah Polyurethene dan fiberglass,

( ( )

Fiberglass

17

Namun karena Polyurethene memiliki suhu maksimum lebih kecil daripada fiberglass, yaitu polyurethane 40OC dan fiberglass 290OC, maka bahan isolasi termal yang paling baik digunakan adalah fiberglass. 2.13 Tugas Perhitungan Sebuah pipa uap ditanam didalam tanah tanpa isolasi. Diameter pipa 4 inci, panjang 100 yard, dan didalamnya mengalir uap pada suhu tidak kurang dari 300OF. Pipa ditanam pada kedalaman 9 inchi diukur dari sumbu pipa. Jawab: Konduktivitas termal tanah adalah 1,2 W/m2OC Suhu uap = 300OF = 148,89OC = 422,038 K Kedalaman pipa = 9 inci = 0,2286 m = 22,86 cm Diameter pipa = 4 inchi = 0,1016 m = 10,16 cm Jari-jari pipa = 5,08 cm Panjang pipa = 100 yard = 91,44 m = 9144 cm Suhu permukaan tanah = 5OC

Maka insulasi pada pipa tersebut


( )

tidak aman karena laju alir kalor sangat besar sehingga dapat membahayakan.

2.14Fenomena Perpindahan Panas Konduksi Tak Tunak Pada Pemanasan Makanan Dalam Oven dan Microwave

18

Pemanasan yang dilakukan oleh gelombang mikro terhadap makanan termasuk kedalam pemanasan secara radiasi (tanpa medium perantara). Setelah makanan terpanaskan baruah terjadi proses konduksi (energi kalor yang menggetarkan molekul-molekul di suatu area turut menggetarkan molekul-molekul yang ada disampingnya). Pemanasan pada suatu sistem heterogen (yang disebabkan oleh keberadaan zat dan fase yang saling berbeda) menyebabkan energi dengan jumlah yang bervariasi diterima oleh objek. Hal tersebut menyebabkan adanya gradient suhu pada makanan yang dipanasakan tadi. Area yang menerima energi lebih banyak ketimbang area sekelilingnya, akan menjadi lebih panas dari sekelilingnya dan menyebabkan adanya proses perpindahan kalor. Pada kondisi tunak, suhu tidak berubahterhadap waktu. Saat pemanasan makanan yang bersifat padat, ada banyak resistansi pada proses perpindahan kalor tersebut. Hal tersebut menyebabkan perpindahan kalor dari area yang bersuhu lebih tinggi ke suhu yang lebih rendah menjadi lambat, sehingga banyak bagian yang memiliki gradien suhu yang tidak berbeda jauh pada suatu periode waktu tertentu. Untuk itu kondisi tersebut dapat diasumsikan ke dalam kondisi tunak.

2.15 Jenis material, Bentuk dan Ukuran Wadah Makanan yang Digunakan Dalam proses Pemanasan Menggunakan Oven atau Microwave Usahakan bentuk wadah bundar, karena gelombang micro mencapai makanan dalam jumlah yang sama dari segala arah. Sedangkan pada wadah berbentuk cincin masakan bisa matang secara merata. Wadah berbentuk persegi, cenderung membuat makanan gosong pada bagian pinggir, karena pada bagian ini terpusat gelombang mikro. Menurut NSF sebuah badan di Amerika yang mengeluaarkan sertifikat aman pada barang barang yang aman bagi makanan, terdapat beberapa syarat untuk wadah makanan yang aman untuk microwave diantaranya adalah: Menggunakan wadah makanan yang hanya diproduksi khusus untuk digunakan dalam oven microwave di beri label bisa digunakan dalam oven microwave. Jangan menggunakan wadah plastik seperti mangkuk margarine, wadah makanan cepat saji, dan wadah sekali pakai lainnya karena wadah ini tidak tahan panas dan bisa meleleh. Jangan menggunakan tas plastik tipis, kertas coklat atau kantong plastik, atau aluminium foil dalam oven microwave. Adapun kriteria dari material yang digunakan menurut jenisnya, yaitu apabila bahan tersebut terbuat dari plastik, maka sebaiknya tidak bereaksi lagi karena panas, tidak terurai ke dalam
19

makanan, dan tidak melelehkan komponen tertentu ke dalam makanan. Apabila bahan tersebut terbuat dari logam, maka ia akan memantulkan kembali gelombang micro dan gelombang micro akan bereaksi kembali dengan metal, sehingga didalam oven terjadi percikan api atau meledak. 2.16 Batasan yang Harus Dipenuhi Dalam Menganalisis Kapasitas Kalor Tergabung Pada Perpindahan Kalor Konduksi Tak Tunak Untuk melakukan analisis kalor tergabung, batasan yang harus dipenuhi adalah: 1. Nilai biot kecil yaitu kurang dari 0,1 2. Suhu benda dianggap seragam pada waktu yang sama sehingga dapat diasumsikan tidak terjadi gradien suhu dalam benda 3. Benda harus berada dalam suatu lingkungan tertentu yang kondisi suhunya berbeda 4. Peninjauan kondisi benda melibatkan lingkungan tempat sekitar benda berada

2.17 Penerapan Analisis Aliran Kalor Transien Dalam Menyelesaikan Permasalahan Perpindahan Kalor Konduksi Tak Tunak Sistem Analisis Kalor Tergabung (Lumped System Analysis) Sistem analisis tergabung menggunakan model ideal dan menyederhanakan kasus perpindahan panas tanpa mengesampingkan nilai akurasi. Sistem analisis ini diamati sebagai lumped atau gumpalan yaitu dalam temperatur dalam bernilai seragam selama transfer proses berlangsung. Model dari sistem analisis tergabung dapat mengambil yaitu bola tembaga. Dalam pengukuran temperatur bola tembaga, temperatur berubah terhadap waktu tanpa memerhatikan variabel posisi tanpa referensi koordinat spesifik pada benda. Sistem analisis tergabung menggunakan model geometri simetris maka bentuk yang tidak simetris tidak dapat menggunakan sistem analisi tergabung (lumped). Sistem analisis tergabung meliputi parameter m = massa, V = volume, = densitas, Ti = temperatur awal. Koefisien yang digunakan dalam sistem ini adalah Cp = kapasitas kalor spesifik dan koefisien transfer yaitu h. Sistem ini menggunakan asumsi bahwa seluruh bagian obyek bertemperatur seragam dan temperatur berubah terhadap waktu T = T(t). Selama interval waktu

20

differensial, temperatur obyek naik sejumlah dT. Neraca energi selama selang waktu tersebut dinyatakan sebagai berikut: m = V dan dT = d

= konstan maka dapat disusun sebagai berikut


maka

Sistem Analisis Kalor Transien Pada Bidang Datar, Silinder dan Bola Pada sistem kalor ini, variabel posisi juga diperhatikan. Perpindahan kalor diilustrasikan sebagai berikut permukaan obyek memiliki suhu Ti dan T < Ti. Suhu pada obyek akan turun mendekati permukaan. Hal ini menyebabkan terjadinya gradien suhu. Gradien suhu yang menginisiasi terjadinya perpindahan panas dari obyek ke lingkungan. Maka terjadi perpindahan panas diikuti grafik perubahan profil suhu. Profil suhu seiring berjalannya waktu akan semakin mendatar, hal ini berarti T = Ti atau dengan kata lain mencapai

kesetimbangan suhu dengan lingkungan. Ilustrasi ini diterapkan baik dalam bidang datar, silinder dan bola.

Gambar 3. Profil temperatur pada bidang datar, silinder dan bola Sumber: Heat Transfer, Cengel

Solusi untuk analisis kalor transien pada bidang datar, silinder dan bola adalah sebagai berikut Bidang datar: Silinder: Bola:
l l l ,r ,r

,x ,x , ,

,2 ,2 ,2
21

Konduksi Kalor Transien Pada Benda Padat Semi Tak Hingga Padatan semi tak hingga diilustrasikan sebagai permukaan bidang satu dan diperpanjang pada arah yang tak berhingga. Penyederhanaan atas sistem ini digunakan untuk menentukan perubahan temperatur pada bagian obyek yang ditentukan. Dinding tebal dapat dimodelkan sebagai obyek semi tak hingga. Solusi umum dari distribusi kalor transien dinyatakan sebagai berikut:

Nilai dari sumbu vertikal berkorespondensi pada x = 0 dan ini menunjukkan pada nilai temperatur permukaan. Solusi dari distribusi kalor transien adalah
( )* ( )+

2.18 Batas Konveksi, Angka Biot, Angka Fourier, dan Bagan Heisler dan penerapannya Pada Perpindahan Kalor Konduksi Tak Tunak Kondisi Batas Konveksi Kondisi Batas Konveksi (Convection Boundary Condition) adalah suatu metode yang digunakan untuk menyelesaikan suatu masalah Konduksi Kalor Transien (Transient Heat-conduction). Untuk soal benda padat semi-tak berhingga, hal tersebut dapat dinyatakan dengan: Kalor yang dikonveksi ke permukaan = kalor yang di konduksi di permukaan

Penyelesaian untuk soal tersebut cukup rumit, dan ini setelah dikerjakan secara terperinci oleh Schneider. Hasilnya adalah

Dimana

adalah suhu awal benda padat, dan adalah suhu lingkungan.

Benda padat mempunyai banyak geometri mulai dari plat tak berhingga, silinder tak berhingga, dan juga bola. Dengan berbagai macam geometri untuk mengukur suhu garis pusat

22

hanya menggunakan satu bagan dan akan mendapatkan diluar pusat, diperlukan dua bagan untuk menghitung hasil

dan

0.

Untuk menentukan suhu

Dalam penghitungan batas-konveksi juga ada variabel yang disebut dengan rugi kalor (Q). Penghitungan rugi kalor dilakukan dengan menggunakan grafik pada benda bentuk palt tak berhingga, silinder tak berhingga, dan bola. Dengan terlebih dahulu mengetahui Q0 (energi dalam awal benda).

Angka Biot Angka Biot adalah suatu parameter yang tidak mempunyai dimensi pada perhintungan perpindahan kalor. Angka biot merupakan rasio antara besaran konveksi permukaan dan tahanan konveksi dalam perpindahan kalor.

Dimanah merupakan koefisien perpindan kalor keseluruhan, k merupakan konduktivitas termal, dan merupakan setengah tebal plat untuk plat dan jari-jari untuk silinder dan bola. Angka Biot dapat diartikan dengan membayangkan aliran panas dari cairan panas di dalam pipa silinder besi ke lingkungan. Ada dua hambatan pada aliran panas tersebut, yaitu hambatan yang diberikan oleh dinding pipa dan hambatan dari udara atau lingkungan.Nilai angka Biot yang rendah berarti bahwa tahanan atau hambatan konduksi-dalam dapat diabaikan terhadap tahanan konveksi-permukaan. Dengan demikian suhu pada seluruh bagian benda akan mendekati sama pada tiap bagiannya, dan dapat digunakan metode analisis kapasitas-tergabung.

Angka Fourier Angka Fourier adalah juga merupakan suatu parameter yang tidak mempunyai dimensi pada perhintungan perpindahan kalor. Angka ini biasa digunakan pada deskripsi dan prediksi dari temperatur suatu material pada kondisi transient pemanasan maupun pendinginan. Angka Fourier adalah angka yang membandingkan dimensi karakterisitik benda dengan kedalaman tembus (penetrasi) gelombang suhu (kira-kira pada waktu .

23

Dimana merupakan difusivitas termal [m2 s], merupakan karakteristik waktu, s merupakan karakteristik dimensi benda; yaitu setengah tebal untuk plat, dan jari-jari untuk silinder dan bola. Jika perbandingan V/A dianggap sebagai dimensi karakteristik s, maka eksponen persamaan dinyatakan dengan angka Biot dan Fourier menjadi

Bagan Heisler Bagan Heisler diterapkan dengan membagi penyelesaian deret tak berhingga menjadi beberapa suku saja. Bagan-bagan Heisler hanya dapat digunakan jika angka Fourier lebih besar dari 0,2. Penggunaan bagan ini terbatas pada kasus dimana Tidak ada sumber panas internal; Difusivitas termal dari benda bernilai konstan; Permasalahan dapat dianggap sebagai satu dimensi; Temperatur awal benda sama (uniform); Sistem dikenakan perubahan temperatur dari lingkungan (atau dari permukaan ketika 1/h=0).

2.19 Perpindahan Kalor Konduksi Tak Tunak Pada Sistem Dimensi RangkapKalor Konduksi Transien Pada Sistem Multidimensi Aliran temperatur transien pada sistem multidimensi merupakan perluasan dari penentuan distribusi temperatur satu dimensi yang dipadukan dengan sistem pada bidang datar, silinder, bola dan obyek semi tak berhingga. Sistem ini menggunakan pendekatan solusi perkalian.Solusi dari sistem ini digeneralisasi sebagai perkalian dari transfer panas untuk membentuk geometri multi dimensi menggunakan nilai satu dimensi. Solusi dari distribusi temperatur dapat dinyatakan sebagai berikut: (Lampiran 2)
( ( ) )

24

Transfer energi dari obyek tiga dimensi membentuk 3 perpotongan dari obyek satu dimensi
( ) ( ) ( ) * ( ) + ( ) * ( ) +* ( ) +

2.20 Aplikasi Metode Numerik Transien dan Analisis Grafik Schmidt Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam analisis aliran kalortransien, yaitu, kapasitas kalor tergabung, analisis dalam benda padat semi-tak-berhingga, bagan Heisler, grafik Schmidt, dan metode numerik. Dalammemilih metode-metode tersebut tahapan-tahapan yang harus dilewati adalah: a) Memeriksa apakah analisis kapasitas kalor tergabung dapat diterapkan.Bila dapat maka perhitungan menjadi lebih mudah. b) Memeriksa apakah bagan Heisler dapat digunakan. c) Bila dua penyelesaian di atas tidak dapat digunakan, maka digunakanmetode numerik. d) Bila belum ada penyelesaian, maka konduksi batas konveksi dan radiasimengandung banyak ketidakpastian (jangan memaksakan penggunaan nodedalam jumlah besar dan operasi yang lama di mana sulit untukmemperbaiki ketidakpastian yang terdapat dalam kondisi batas). e) Perlu diingat bahwa jarang terdapat soal konduksi murni, selalui terdapatkonveksi dan radiasi.Pada sistem tak tunak atau kondisi transien seringkali kondisi batasnya berubahubah, oleh karena itu tidak mungkin menyelesaikannya secaramatematis. Jika keadaannya seperti ini, lebih baik penyelesaiannya dilakukan dengan menggunakan metode numerik. Untuk lebih memudahkan penyelesaian, analisis dapat dibatasi hanya menjadi dua dimensi saja. Jika sudah memahaminya perluasan menjadi tiga-dimensi dapat dilaksanakan dengan mudah. Pada pembagian menjadi dua dimensi, posisi x ditandai dengan adanya subskrib m, sedangkan posisi y ditandai dengan adanya subskrib n. Hal inidapat dilihat pada gambar benda dua-dimensi yang telah dibagi-bagi menjadi jenjang tambahan kecil (increment ) seperti gambar di bawah ini.
25

Gambar 4. Gambar Incremen Pada Benda Dua Dimensi Sumber: A Heat Transfer Textbook

Dalam benda padat persamaan diferensial yang mengatur aliran kalor ialah
( )

Dengan mengendalikan sifat sifat tetap. Kemudia derivatif parsial kedua dapat didekati melalui

Derivatif waktu dapat didekati dengan persamaan:

Dalam persamaan di atas, superscript menunjukkan tambahan waktu (time increment). Dengan menggabungkan hubungan hubungan di atas, maka didapatkan persamaan:

Dengan demikian jika suhu pada setiap waktu di berbagai node diketahui suhu sesudah tambahan waktu dan mendapatkan dapat dihitung dengan menuliskan persamaan di atas untuk setiap waktu . Prosedut tersebut dapat diulangi untuk mendapatkan distribusi suhu

sesudah sejumlah tambahan waktu yang diingini, jika tambahan koordinat ruang dibuat sedemikian rupa sehingga ( Jika tambahan waktu dan tambahan jarak dipilih sehingga
26

persamaan untuk

menjadi ) [ ]

Maka terlihat bahwa suhu node (m, n) sesudah tambahan waktu merupakan rata rata arimatika dari suhu awal tambahan waktu, dan keempat node yang mengelilinginya. 2.21 Tugas Perhitungan Dalam proses pembuatan bakso, adonan bola daging berdiameter 5 cm dan suhu awal 25oC dimasukkan ke dalam air mendidih. Berapa waktu yang dibutuhkan agar bola daging tersebut matang dengan baik? Bola daging dapat dikatakan matang dengan baik apabila bagian tengah tidak kurang dari 60oC Jawab: Data D = 5 cm = 0,05 m R = 2,5 cm = 0,025 m Ti = 25oC T = 100 oC Tujuan: Menghitung Asumsi: Bakso hanya terdiri dari daging sapi danberbentuk bola sempurna Menentukan nilai dan T0 = 60oC = 1,6 . 10-7 K bakso = 0,5414 W/ m K H air (100 oC) = 3000 W/ m2K2

Menentukan nilai 1/Bi

Menentukan nilai Fo dengan menggunakan grafik hubungan Fo dan radial. Diperoleh nilai Fo = 0,375 Menentukan nilai

untuk sistem

27

Kesimpulan: Waktu yang diperlukan untuk memasak bakso adalah 24,44 menit.

2.22 Tugas Perhitungan Sebuah panci yang baru saja digunakan untuk mendidihkan air, didinginkan dengan cara mencelupkannya ke dalam air bersuhu 25oC. Setelah dicelupkan selama 10 detik, apakah menurut anda panci sudah aman untuk digunakan kembali? Jawab: Data 2L = 3 mm = 0,003 m L = 1,5 mm = 0,0015 m Asumsi: Ketebalan panci adalah 3 mm. Panci terbuat dari alumunium murni. Panci merupakan plat pejal yang dibentuk menjadi silinder. Asumsikan batas aman suhu panci adalah 50oC. Menentukan nilai Menetukan nilai dan = 8,4 . 10-5 H air = 3000 W/ m2K2 Ti = 100oC T = 25 oC T0 = 50oC

K alumunium = 215 W/ m K

Menentukan nilai 1/Bi

Menentukan nilai Fo dengan menggunakan grafik hubungan Fo dan Fo = 5,8 Menentukan nilai

. Diperoleh nilai

28

Kesimpulan: Waktu minimal yang dibutuhkan supaya panci dapat digunakan kembali dengan suhu aman 50oC yaitu 15,55 detik. Panci baru dicelupkan selama 10 detik sehingga suhunya masih lebih dari 50oC. Maka dari itu panci belum aman untuk digunakan.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Memasak menggunakan microwave dinilai lebih hemat, namun panas dari mengurangi vitalitas nutrisi makanan. Makanan dari microwave menghasilkan reaksi di perut serta pertumbuhan kanker usus, gangguan secara bertahap sistem pencernaan. Ini juga menurunkan kemampuan tubuh dalam menyerap vitamin. Gelombang mikro yang diserap oleh molekul makanan menyebabkan atom-atom air pada molekul makanan membuat molekul makanan akan berotasi dan saling bertabrakan. Tumbukan antar molekul akan memberikan energi kinetik berlebih, adanya perbedaan temperatur sebagai driving force perpindahan kalor menimbulkan transfer panas menuju arah gradien suhu, dalam hal ini menuju bagian dalam makanan. Persamaan dasar untuk menganalisis panas konduksi adalah Hukum Fourier, baik dalam keadaan tunak maupun tak tunak dan baik dalam dimensi tunggal maupun dimensi rangkap. Faktor geometri dapat mempengaruhi analisis perpindahan panas. Untuk menentukan laju alir kalor pada suatu system dengan perpindahan konduksi dan konveksi, laju alir kalor masing-masing dihitung, kemudian dijumlahkan. DAFTAR PUSTAKA Hewitt, G. F., Shires, G. L., and Bott, T. R. (1994) Process Heat Transfer, CRC Press, Boca Raton, Florida.
29

Incropera, F. P. and DeWitt, D. P. (1990) Introduction to Heat Transfer, 2nd ed., John Wiley & Sons, New York. Febrian, Andreas,dkk. 2011. Laporan Fisika Microwave. Depok. Fisika UI. A. Cengel, Yunus. 2008. Heat Transfer A Practical Approach Third Edition. New York. Dermawan Totok, Elin Nurainin, dan Suyanto. PENGARUH KOMPOSISI RESIN TERHADAP SIFAT ELEKTRI DAN MEKANIK UNTUK BAHAN ISOLATOR TEGANGAN TINGGI 2012. Universitas : Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir J.P., Holman. 2008. HEAT TRANSFER. New York. McGraw - Hill. Purwadi, PK. Metode Alternating Direction Implicit Pada Penyelesaian Persoalan Perpindahan Kalor Konduksi Dua Dimensi Keadaan Tak Tunak. SIGMA, Vol. 3, No.1, Januari 2000 Lampiran 1

30

31

32

Lampiran 2

33

Lampiran 3

Grafik hubungan Fo dan

untuk sistem radial untuk nomor 2.22

Lampiran 4

Grafik hubungan Fo dan

untuk nomor 2.23

34

Definisi

Mekanisme Konduksi Tunak

Studi Kasus

Cara Kerja

Komponen Konduksi

Konduksi Tak Tunak


Aplikasi Perpindahan Kalor Secara Konduksi

Faktor yang Mempengaruhi Konduksi

Macam - Macam Konduksi

Difusivitas Termal

Dimensi Tunggal
Geometri
Koefisien Perapindahan Kalor

Geometri

Oven Konvensional
Microwave

Dimensi Rangkap

Sistem dengan Sumber Kalor

35