Anda di halaman 1dari 11

I. A.

Latar Belakang

PENDAHULUAN

Tanaman karet merupakan salah satu komoditi perkebunan yang menduduki posisi cukup penting sebagai sumber devisa non migas bagi Indonesia, sehingga memiliki prospek yang cerah. Oleh sebab itu upaya peningkatan produktifitas usaha tani karet terus dilakukan terutama dalam bidang teknologi budidayanya. Menurut Setiawan dan Andoko 2005 bahwa tanaman karet (Hevea brasilliensis) merupakan tanaman tahunan. Siklus tanaman karet 25 tahunan, yaitu perhitungan masa waktu dibutuhkan tanaman karet yang dimulai dari saat menanam karet dikebun sampai dengan peremajaan karet kembali. Karet mempunyai arti yang penting bagi sebagian kehidupan sosial ekonomi masyarakat Indonesia sebagai sumber penghasilan petani karet rakyat. Disamping itu tanaman karet juga menjadi harapan tersedianya peluang lapangan kerja bagi penduduk dan sekaligus sebagai salah satu komoditi penghasil devisa bagi negara. Karet merupakan salah satu komoditi perkebunan penting, baik sebagai sumber pendapatan, kesempatan kerja dan devisa, pendorong pertumbuhan ekonomi sentra-sentra baru di wilayah sekitar perkebunan karet maupun pelestarian lingkungan dan sumberdaya hayati. Indonesia negara dengan luas areal terbesar dan produksi kedua terbesar dunia namun masih menghadapi beberapa kendala, yaitu rendahnya produktivitas, terutama perkebunan karet rakyat yang merupakan mayoritas areal karet nasional dan ragam produk olahan yang masih terbatas, yang didominasi oleh karet remah (crumb rubber). Menurut Adi 2012, rendahnya produktivitas kebun karet rakyat disebabkan oleh banyaknya areal tua, rusak dan tidak produktif, penggunaan bibit bukan klon unggul serta kondisi kebun yang menyerupai hutan. Permasalahan-permasalahan tersebut perlu ditindak lanjutkan dengan melakulan upaya seperti percepatan peremajaan karet rakyat dan pengembangan industri hilir.

Upaya peremajaan karet yaitu melakukan penanaman kembali karet (replanting). Prosesnya yaitu melakukan penebangan karet dan membongkar tanah dengan cangkul atau traktor. Pembongkaran tanah perlu dilakukan karena merupakan bentuk pengolahan tanah dalam melakukan budidaya karet. Pengolahan tanah penting dan perlu diperhatikan, seperti melakukan pembersihan dari sisa-sisa akar tanaman yang merupakan sumber hama dan penyakit. Pembersihan juga dilakukan terhadap gulma. Pengolahan tanah merupakan proses perbaikan struktur tanah, sehingga penting dilakukan dalam berbudidaya karet. Tanaman tahunan ini tentunya memiliki metode dan teknik konservasi sendiri yang merupakan bentuk upaya peningkatan produktifitas tanah atau lahan karet sehingga dapat meningkat produktifitas hasil karet, selain pengolahan tanah hal lain yang perlu dipersiapkan adalah bahan tanam. B. Tujuan 1. Untuk mengetahui cara pengolahan tanah tanaman karet 2. Untuk mengetahui macam-macam bahan tanam tanaman karet

II. A. Pengolahan Tanah

PEMBAHASAN

Pengolahan tanah merupakan upaya pembenahan atau perbaikan sifat tanah guna mempersiapkan lahan yang sesuai untuk tanaman. Pengolahan tanah dalam budidaya karet diperlukan pelaksanaan berbagai kegiatan yang secara sistematis dapat menjamin kualitas lahan yang sesuai dengan persyaratan. Beberapa diantara langkah tersebut antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. Pembabatan semak belukar Penebangan dan penumbangan pohon Pendongkelan akar kayu Penumpukan dan pembakaran serta pembersihan Membajak tanah Penebangan pohon dimulai dari yang kecil kemudian pohon yang besar. Pohon-pohon tersebut setelah selesai ditebang lalu deringkan dan dibakar. Penebangan pohon merupakan proses pembukaan lahan, dalam budidaya karet dikenal beberapa istilah, yaitu Replanting, New Planting, dan Konversi (Setyamidjaja 1993). Replanting (bukaan ulang) yaitu penanaman karet pada lahan yang sebelumnya telah di tanami karet. New Planting (bukaan baru) yaitu penanaman karet yang dilaksanakan pada lahan yang sebelumnya tidak ada tanaman karet yang diusahakan pada area tersebut. Konversi yaitu penanaman karet pada lahan yang sebelumnya telah ditanami jenis tanaman keras atau perkebunan lain, misalnya kopi. Menurut Mangoensoekarjo (2000), selain penebangan pohon, dilakukan juga pemberantasan alang-alang dengan menggunakan bahan kimia (herbisida) dengan dosis 2000 liter per hektar. Pemberian bahan kimia juga pada sisa-sisa kayu dengan menggunakan fungisida berbahan aktif natrium arsenit untuk mencegah dan membersihkan dari penyakit akar (patogen tular tanah). Fungisida ini diberikan pada sisa akarakar yang telah dikelupasi kulitnya. Tanah tersebut kemudian dibiarkan hingga

gulma benar-benar tidak tumbuh lagi. Langkah berikutnya yaitu pengolahan tanah. Seiring dengan pembukaan lahan ini dilakukan juga penataan lahan dalam blok-blok, penataan jalan-jalan kebun, dan penataan saluran drainase dalam perkebunan. Jaringan jalan harus ditata dan dilaksanakan pada waktu pembangunan tanaman baru dan dikaitkan dengan penataan lahan ke dalam blok-blok tanaman. Pembangunan jalan di areal datar dan berbukit dengan pedoman dapat menjangkau setiap areal terkecil. Sedapatkan mungkin seluruh jaringan disambungkan, sehingga secara keseluruhan merupakan suatu pola jaringan jalan yang efektif. Sebelum pelaksanakan penataan lahan, dilakukan pengolahan tanah untuk pertanaman karet dapat dilaksanakan dengan sistem minimum tillage, namun demikian pengolahan tanah secara mekanis untuk lahan tertentu dapat dipertimbangkan dengan tetap menjaga kelestarian dan kesuburan tanah. Berbagai tindakan konservasi tanah atau penataan lahan yang dilakukan dalam mendukung proses budidaya karet, antara lain : pengaturan jarak tanam, pembuatan teras, rorak, dan saluran air (saluran penguras dan pinggiran jalan). Pembuatan teras dilakukan pada lahan yang memiliki kemiringan lebih dari 100, dengan lebar teras minimal 1,5 meter yang berjarak 7 meter. Jarak antar teras ini tergantung dari jarak antara tanamam karet (73 meter, 7,143,33 meter, atau 82,25 meter), agar jarak antar teras tepat dan merata (rapih) bisa dibantu dengan menggunakan alat seperti waterpas (Tim Penulis PS 2008). Pada kemiringan yang sama dibuat satu teras saja. Pembuatan teras dilakukan dengan cara menggali tanah yang landai ke dalam. Tanah galain ini di uruk di bagian bawahnya hingga terbentuk teras. Pembuatan teras dimaksudkan agar tanah tidak mudah tererosi. Tindakan konservasi berikutnya adalah pembuatan rorak, pada tanah yang landai biasanya dibuat rorak. Rorak berguna sebagai penampung tanah yang tererosi. Pembuatan rorak ini jangan sampai memiliki kemiringan aliran yang tajam karena akan menyebabkan tanah mengalami erosi (tanah longsor).

Sama seperti rorak, saluran air lainnya seperti saluran penguras dan pinggir jalan dibuat sesuai dengan bentuk kemiringan jalan. Sebaiknya saluran ini diperkeras (disemen) untuk mengurangu terjadinya erosi

(Tim Penulis PS 2008). Luas penampang saluran air disesuaikan dengan curah hujan pada satuan waktu tertentu, dan mempertimbangkan faktor peresapan dan penguapan. Seluruh kelebihan air pada saluran dialirkan pada parit-parit penampungan untuk selanjutnya dialirkan ke saluran pembuangan (outlet drain). Penataan lahan juga perlu dilakukan dalam penataan baris tanam (pengajiran). Pengajiran dilakukan setelah pembukaan lahan selesai. Setelah ditentukan kerapatan tanaman untuk satu hektar dan ditentukan jarak tanamnya, pengajiran kemudian dilaksanakan. Tujuan pengajiran adalah untuk menerai tempat lubang tanaman dengan ketentuan jarak tanaman, dengan begitu akan dapat diperoleh barisan tanaman yang teratur sesuai jarak tanam dan hubungan antar tanaman (Purwito 1977). Barisan-barisan karet yang terbentuk ada dua macam, yaitu barisan lurus yang digunakan pada lahan datar atau agak miring dan barisan kontur yang digunakan pada lahan bergelombang atau berbukit. Bahan ajir dapat menggunakan potongan bambu tipis dengan ukuran 20 cm - 30 cm. Pada setiap titik pemancangan ajir tersebut merupakan tempat penggalian lubang untuk tanaman. Berikut adalah proses penganjiran : 1. Pada areal lahan yang relatif datar / landai (kemiringan antara 0% - 8%) jarak tanam adalah 7 m x 3 m (476 lubang/hektar) berbentuk barisan lurus mengikuti arah Timur - Barat berjarak 7 m dan arah Utara - Selatan berjarak 3 m. 2. Pada areal lahan bergelombang atau berbukit (kemiringan 8% - 15%) jarak tanam 8 m x 2,5 m (500 lubang/ha) pada teras-teras yang diatur bersambung setiap 1,25 m (penanaman secara kontur). Setelah proses pengajiran selesai yaitu dilanjutkan pembuatan lubang tanaman. Ukuran lubang untuk tanaman dibuat 60 cm 60 cm 60 cm atau 80 cm 80 cm 80 cm. Lubang tanaman dibiarkan selama 2-6 bulan sebelum

bibit karet ditanam. Pembuatan lubang tanam dimulai dengan mengajir lubang tanam sesuai jarak yang dianjurkan. Dalam membantu proses perbaikan tanah, seperti usaha pencegahan erosi, dapat melakukan penanaman disetiap sela antar tanaman karet. Tanaman sela ini digunakan sebagai tanaman penutup lahan (cover crop). Menurut Setyamidjaja (1993), selain sebagai tanaman penutup lahan, tanaman sela ini juga dapat melindungi tanah dari sinar matahari langsung dan menekan pertumbuhan gulma. Tanaman penutup lahan juga mempercepat matang sadap dan mempertinggi hasil lateks. Tanaman penutup tanah dapat dipilih dari tiga jenis tanaman, yaitu tanaman semak, pangan, dan pohon. Contohnya adalah Pueraria javanica, Centrosema pubescens, Crotalaria usara, petai cina (namun sangatlah jarang kecuali pada daerah daerah yang sering terjadi angin kencang dan serangan babi hutan), padi, jagung, kedelai, dll. Tanaman penutup lahan adalah tumbuhan atau tanaman yang khusus ditanam untuk melindungi tanah dari ancaman kerusakan oleh erosi dan untuk memperbaiki sifat kimia dan sifat fisik tanah. Fungsi tanaman penutup lahan, antara lain : (1) menahan atau mengurangi daya perusak butir-butir hujan yang jatuh dan aliran air di atas permukaan tanah, (2) menambah bahan organik tanah melalui batang, ranting dan daun mati yang jatuh, (3) menolong menyimpan air dalam tanah untuk keperluan tanaman karet, (4) menekan pertumbuhan gulma sehingga mengurangi biaya pemeliharaan, dan (5) memperbaiki pertumbuhan tanaman pokok, memperlama masa peremajaan, meningkatkan hasil dan pertumbuhan kulit yang lebih baik. Peranan tanaman penutup tanah tersebut menyebabkan berkurangnya kekuatan dispersi air hujan, mengurangi jumlah serta kecepatan aliran permukaan dan memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah, sehingga mengurangi erosi. Tumbuhan atau tanaman yang sesuai untuk digunakan sebagai penutup tanah dan digunakan dalam sistem pergiliran tanaman harus memenuhi syaratsyarat, yaitu (a) mudah diperbanyak, sebaiknya dengan biji, (b) mempunyai

sistem perakaran yang tidak menimbulkan kompetisi berat bagi tanaman pokok, tetapi mempunyai sifat pengikat tanah yang baik dan tidak mensyaratkan tingkat kesuburan tanah yang tinggi, (c) tumbuh cepat dan banyak menghasilkan daun, (d) toleransi terhadap pemangkasan, (e) resisten terhadap gulma, penyakit dan kekeringan, (f) mampu menekan pertumbuhan gulma, (g) mudah diberantas jika tanah akan digunakan untuk penanaman tanaman semusim atau tanaman pokok lainnya, (h) sesuai dengan kegunaan untuk reklamasi tanah, dan (i) tidak mempunyai sifat-sifat yang tidak menyenangkan seperti duri dan sulur-sulur yang membelit. B. Persiapan Bahan Tanam Hal yang paling penting dalam penanaman karet adalah bibit (bahan tanam), dalam hal ini bahan tanam yang baik berasal dari tanaman karet okulasi. Persiapan bahan tanam dilakukan paling tidak 1,5 tahun sebelum penanaman. Dalam hal bahan tanam ada dua komponen yang perlu disiapkan, yaitu: batang bawah (root stock) dan entres/batang atas (budwood). Persiapan batang bawah merupakan suatu kegiatan untuk memperoleh bahan tanam yang mempunyai perakaran kuat dan daya serap hara yang baik dan persiapan batang atas yaitu entres dari kebun entres. Bahan tanam diambil dari hasil okulasi. Okulasi merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan menempelkan mata entres dari satu tanaman ke tanaman sejenis dengan tujuan mendapatkan sifat yang unggul. Dari hasil okulasi akan diperoleh bahan tanam karet unggul berupa stum mata tidur, stum mini, bibit dalam polibeg, dan stum tinggi. Sebelum bibit ditanam, terlebih dahulu dilakukan seleksi bibit untuk memperoleh bahan tanam yang memeliki sifat-sifat umum yang baik, antara lain : berproduksi tinggi, responsif terhadap stimulasi hasil, resitensi terhadap serangan hama dan penyakit, serta pemulihan luka kulit yang baik. Beberapa syarat yang harus dipenuhi bibit siap tanam adalah antara lain : bibit karet di polibag yang sudah berpayung dua, mata okulasi benar-benar baik dan telah

mulai bertunas, akar tunggang tumbuh baik dan mempunyai akar lateral, dan bebas dari penyakit jamur akar (Jamur Akar Putih). Penanaman bibit tanaman karet harus tepat waktu untuk menghindari tingginya angka kematian di lapang. Waktu tanam yang sesuai adalah pada musim hujan. Selain itu perlu disiapkan tenaga kerja untuk kegiatan-kegiatan untuk pembuatan lubang tanam, pembongkaran, pengangkutan, dan penanaman bibit. Bibit yang sudah dibongkar sebaiknya segera ditanam dan tenggang waktu yang diperbolehkan paling lambat satu malam setelah pembongkaran.

III.

KESIMPULAN

Pengolahan tanah merupakan langkah yang harus dipersiapkan dan diperhatikan dalam melakukan budidaya karet, karena hal ini akan berdampak bagi hasil produksi tanaman karet. Perlakuan pengelolaan tanah yang baik akan memberikan hasil yang maksimal. Pengelolaan tanah dalam budidaya karet meliputi pembukaan lahan, perbaikan stuktur tanah serta penataan lahan yang tepat. Pembukaan lahan dalam budidaya karet ada 3 macam, yaitu pembukaan lahan baru (new planting), peremajaan tanaman karet (replanting), dan pembukaan lahan baru yang sebelumnya ditanamani oleh tanaman lain (konversi). Langkah pembukaan lahan yaitu menebang dan membabat pohon dari mulai yang kecil hingga yang besar, membasmi gulma, serta membakar sisa akar tanaman sehingga bersih dari penyakit akar. Selanjutnya adalah perbaikan struktur tanah yaitu bisa dengan pengolahan tanah secara minimum (minimum tillage) atau olah tanah maksimal terkadang secara bergantian supaya produktifitas tanah tetap terjaga. Penanaman tanaman penutup dengan memanfaatkan tanaman sela seperti tanaman pangan dan semak, juga membantu membenahi struktur tanah. Tanaman penutup ini mengurangi dan mencegah erosi tanah. Penataan lahan yaitu menata lahan sedemikian baik dan tepat sehingga akan didapatkan hasil produksi yang optimal. Langkah penataan lahan meliputi pembuatan teras pada lahan dengan kemiringan lereng lebih dari 100 dengan lebar menyesuaikan jarak tanam, pembuatan rorak pada lahan yang landai untuk mencegah erosi, pembuatan saluran air seperti saluran penguras dan pinggir jalan yang sesuai dengan garis kontur, pengaturan jarak tanam, penganjiran serta pembuatan lubang tanam. Jarak tanam antar tanaman karet yaitu 73 meter, 7,143,33 meter, atau 82,25 meter tergantung lebar teras. Jarak tanam kemudian dirapihkan melalui proses pengajiran yang bertujuan untuk menerai tempat lubang tanaman dengan ketentuan jarak tanaman, kemudian terbentuk barisan karet, yaitu barisan lurus dan kontur. Luas lubang tanam sendiri yaitu 60 cm 60 cm 60 cm atau 80 cm 80 cm 80 cm yang kemudian dibiarkan selama 2-6 bulan.

Persiapan lain yang perlu diperhatikan sebelum menanam adalah menyiapkan bahan tanam. Pada budidaya karet bahan bisa didapat dari okulasi antara batang bawah dan batang entres yang berasal dari kebun entres. Dari hasil okulasi akan diperoleh bahan tanam karet unggul berupa stum mata tidur, stum mini, bibit dalam polibeg, dan stum tinggi. Bahan tanam juga harus diseleksi terlebih dahulu supaya didapatkan bibit yang unggul, adapun syarat behan tersebut yang harus dipenuhi, antara lain : bibit karet di polibag yang sudah berpayung dua, mata okulasi benar-benar baik dan telah mulai bertunas, akar tunggang tumbuh baik dan mempunyai akar lateral, dan bebas dari penyakit jamur akar.

DAFTAR PUSTAKA

Adi 2012. Sejarah karet alam indonesia. http://sejarah.info/2012/01/sejarah-karetalam-indonesia.html. Diakses pada tanggal 3 Maret 2014. Setiawan, H. D dan Andoko, A 2005. Petunjuk Karet. Agromedia Pustaka. Jakarta. Lengkap Budi Daya

Tim Penulis PS (Penebar Swadaya) 2008. Panduan Lengkap Karet. Penebar Swadaya. Jakarta. Mangoensoekarjo S 2000 Gulma dan Cara Pengendalian Pada Budidaya Perkebunan. Jakarta. Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian. Purwito 1977. Pedoman Bercocok Tanam Karet. Fakultas Pertanian UNSOED. Purwokerto. Setyamidjaja, Djoehana 1993. Karet: Budidaya dan Pengolahan. Kanisius. Yogyakarta.

Anda mungkin juga menyukai