Anda di halaman 1dari 9

Bagian Satu: seksi 2

Bagaimana radio bisa ‘menurunkan suhu’?

‘Radio bisa membantu menurunkan suhu dengan melawan rumor dan


spekulasi – dengan menyajikan fakta kepada pendengar. Radio juga
seharusnya menjadi suara yang waras, menenangkan di saat-saat
tegang atau terjadinya konflik. Selayaknya seorang kawan, stasiun rado
lokal anda seharusnya bisa memberikan kebenaran kepada anda dengan
cara yang tenang, tidak emosional – dan membantu anda untuk
melakukan pilihan yang terinformasi tentang hidup anda.’1
Komentar dari seorang jurnalis

Pilihan dan kebingungan: mengapa pendengar membutuhkan stasiun


radio anda
Di dalam sebuah demokrasi, pemilihan umum merupakan satu ajang
yang dinantikan: ini merupakan kesempatan bagi semua orang (kaya
atau miskin; laki-laki atau perempuan) untuk melakukan satu pilihan
penting yang bisa memperbaiki kehidupan mereka

Tetapi kenyataannya, periode pemilihan umum sering kali ditandai


dengan kebingungan, rasa frustasi dan tekanan. Orang-orang
dibombardir dengan kata-kata – dan kata-kata lagi. Isu-isu yang nyata
(seperti pendidikan, pengangguran, kesehatan) tersembunyi di belakang
propaganda partai. Bagaimana bisa seorang pemilih melaksanakan
pilihan yang terinformasi dalam kondisi seperti itu?

Karena itulah mengapa pendengar membutuhkan stasiun radio anda.

Radio bisa memainkan sebuah peranan yang sangat penting pada saat
pemilu karena radio sifatnya:

• Langsung: radio berurusan dengan apa yang terjadi ‘sekarang’;


• Akses yang sangat tinggi: radio bisa menjangkau lebih banyak orang
dibandingkan dengan TV atau media cetak;
• Interaktif: radio memberikan kesempatan kepada pendengar untuk
‘menelpon masuk’ dan untuk mendebat isu-isu pemilu dengan tokoh-
tokoh politik dan orang-orang lain di dalam masyarakat.

Tapi radio juga bisa merugikan bila:

1
Dikutip dari ‘Membuat Reportase dari Garis Depan’ oleh Fiona Lloyd (Internews, 2000)

Sebuah Pilihan Yang Bijaksana – Bagian Satu Bagaimana Radio Bisa Menurunkan Suhu -1-
• Tidak pedulian dan tidak akurat: terutama jika ‘tidak ada waktu’
untuk mengecek kembali informasi yang akan disiarkan;
• Diekploitasi: oleh orang-orang kuat yang mencoba menggunakan stasiun
radio untuk agenda politik mereka sendiri;
• Tidak bertanggungjawab: jika stasiun radio membiarkan talk show dan
debat di udara menimbulkan ‘debat kusir’ (argumen yang tak terkontrol
dan caci maki secara verbal). Atau jika radio tersebut menyiarkan
pernyataan dari politisi yang bisa menimbulkan kekerasan.2

Reportase yang peka terhadap konlfik & pemilihan umum


Pemilu, seperti kita telah sampaikan, bergerak seputar serangkaian
gagasan yang sering bertentangan, janji-janji yang bertentangan dan
kebutuhan yang bertentangan.

Jadi jika kita, sebagai jurnalis radio, ingin ‘mendinginkan’ suasana, kita
harus bertanggung jawab dan kreatif dalam cara kita melaporkan.

Dalam beberapa tahun terakhir jurnalis di seluruh dunia mencoba


mencari cara baru untuk melaporkan konflik3. Metode baru ini bisa
dideskripsikan dengan judul2 yang berbeda: jurnalisme peka konflik,
reportase menurunkan konflik atau jurnalisme damai4.

Tiap pendekatan mengakui bahwa, ketika sampai kepada reportase soal


konflik, jurnalis memiliki tanggungjawab khusus – dan pilihan-pilihan
khusus. Dan dalam dunia yang kompleks dan membingungkan seperti
sekarang ini, gagasan lama soal ‘obyektifitas’ tidak lagi menolong, atau
bahkan tidak lagi memungkinkan.

Sebaliknya, jurnalis mulai menggunakan kosa kata etika yang berbeda:


kosa kata yang menggunakan kata-kata seperti:

• adil
• seimbang
• jujur
• bertanggung jawab

2
Lihat seksi 11 Masalah-masalah Etika
3
Lihat ‘Media dan Membangun Perdamaian: memetakan kemungkinan-kemungkinan’ oleh Ross Howard
(Interaction, November 2001) untuk rangkuman dari pendekatan media terhadap masalah ini.
4
Terminologi ‘jurnalisme damai’ dicetuskan oleh Prof. Johan Galtung di tahun 70an. Konsep tersebut pada
akhirnya dikembangkan oleh Jake Lynch & Annabel McGoldrick dari Conflict and Peace Forums (UK)
melalui dialog berkelanjutan dengan jurnalis-jurnalis dari banyak negara: lihat www.reportingtheworld.org
dan www.transcend.org/pjmanual.htm Buklet mereka ‘Jurnalisme Damai: Bagaimana Melakukannya?’
tersedia juga dalam Bahasa Indonesia dari the British Council di Jakarta.

Sebuah Pilihan Yang Bijaksana – Bagian Satu Bagaimana Radio Bisa Menurunkan Suhu -2-
Seperti yang disampaikan seorang siswa sekolah jurnalistik dari Turki:
‘Saya tidak bisa obyektif: saya berpihak pada sisi damai!’ – sebuah
pernyataan, dalam konteks reportase untuk pemilu, bisa berarti sama
dengan kata-kata: ‘Saya juga berpihak pada demokrasi!’

Jurnalis dari Guardian Maggie O’Kane setuju:


‘Kita adalah pribadi dan kita ada professional… Saya pikir bahwa kita masih bisa
merasa dan bisa jujur. Dan secara pribadi saya pikir kata “obyektifitas” terlalu dinilai
berlebihan dalam profesi kita. Saya pikir yang seharusnya kita anjurkan adalah
kebenaran, dan kebenaran tidaklah selalu sangat obyektif.’5

Jadi bagaimana, dalam terminologi praktisnya, seharusnya kita


melaporkan dalam cara yang peka-konflik? Jurnalis di Indonesia
menyusun ceklis sederhana ini, dalam sebuah lokakarya ‘Peliputan
untuk Perdamaian’6:

SEBELUM ANDA MELIPUT:


• Dengarkan dan perhatikan;
• Waspadalah terhadap agenda tersembunyi dan prasangka-prasangka;

KETIKA MELIPUT:
• Pertama-tama, jangan membuat kerusakan!
• Gambarkan secara luas, hindari menyalahkan orang lain;
• Hati-hati terhadap bahasa yang bermuatan negatif;
• Fokuskan pada persamaan & pertanyakan setiap stereotipe;
• Terbukalah pada kemungkinan-kemungkinan kreatif, yang bisa
membawa ke solusi yang sehat.

Program ‘Peliputan untuk Perdamaian’ yang diselenggarakan oleh


Internews mendapatkan inspirasinya dari serangkaian nara sumber dan
pengalaman peliputan dalam konflik. Program tersebut, yang
mentargetkan para jurnalis yang tinggal dan bekerja dalam lingkungan
yang ada kekerasan – atau berpotensi adanya kekerasan – didasarkan
pada prinsip-prinsip sebagai berikut:

• Dalam situasi konflik media bisa memainkan sebuah peran yang vital
dalam kaitannya dengan ‘menurunkan suhu’ dan mempromosikan

5
(Meridian Ideas, BBC World Service, 8 Januari 2001. Produser: Louise Swan). Lihat juga ‘Beyond
Objectivity’ oleh Jay Rosen (Nieman Reports/Winter 1993).
6
Peliputan untuk Perdamaian adalah program pelatihan media yang dikembangkan oleh Peter du Toit dan
Fiona Lloyd pada 1999 untuk Internews (Indonesia). Sejak dicetuskan, RFP telah melatih sekitar 300
jurnalis; tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Timr Lorosae dan Kosovo.

Sebuah Pilihan Yang Bijaksana – Bagian Satu Bagaimana Radio Bisa Menurunkan Suhu -3-
dialog yang berorientasi pada solusi di dalam masyarakat.
Pendekatan seperti itu membutuhkan standar jurnalistik yang sangat
keras, sementara itu juga menantang nilai-nilai berita yang umum.
• Media juga bisa melakukan intervensi yang positif dalam situasi
sebelum dan sesudah konflik: dalam kaitannya dengan merefleksi
atau menantang sikap yang mengeras atau pen – stereotipe – an; dan
dalam membantu mempromosikan pengertian, rekonsiliasi dan
penyembuhan.
• Intervensi seperti itu perlu untuk ditangani dengan sensitivitas dan
kesadaran diri: karenanya setiap pelatihan ‘Peliputan untuk
Perdamaian’ seharusnya dimulai dengan individu yang bersangkutan,
dan seharusnya bisa membantu dia untuk mendalami pengetahuan
mereka sendiri tentang konflik dan situasi konflik.
• Saling pengertian dan hubungan kerja yang positif antara media dan
masyarakat sipil bisa membantu untuk membangun sebuah
demokrasi yang sehat..

Bagi para jurnalis ini berarti dalam terminologi praktis:


• Meredifinisikan nilai berita kita dan memperluas definisi kita soal
siapa dan apa yang punya nilai berita sehingga kita tidak
meninggalkan satu bagian pun dari masyarakat;
• Mengenali bahwa berita adalah bagian dari sebuah proses dan
bukan janya serangakaian kejadian yang tidak berkaitan;
• Menjadi lebih mengenali pilihan-pilihan terbatas kita, dan
mengetahui bahwa dalam peliputan berita apapun kita tidak bisa
menghindari untuk tidak memasukkan lebih banyak dari yang
kita bisa masukkan;
• Membuat sebuah usaha yang disadari untuk memisahkan: untuk
menunjukkan dengan setiap pengelompokkan akan ada opini –
opini dan pengalaman-pengalaman beragam yang kompleks dan
bahkan mungkin berubah.

Dari skema singkat ini, dua buah poin utama muncul. Pertama,
pelaporan yang peka konflik adalah masalah yang sangat keras,
membutuhkan standar jurnalistik tertinggi. Kedua, ada potensi
kemiripan yang sangat besar antara pekerjaan jurnalis peka konflik dan
praktisi resolusi konflik.7

Seberapa dekat peran keduanya bisa saling melengkapi adalah masalah


yang masih diperdebatkan. Namun bukan merupakan tugas jurnalis
untuk memberikan jawaban atau solusi: hanya membagi informasi yang
bisa dipercaya dan seimbang agar masyarakat dapat

7
lihat ‘Jurnalisme Damai: Bagaimana Melakukannya’ oleh Annabel McGoldrick dan Jake Lynch
www.transcend.org/pjmanual.htm

Sebuah Pilihan Yang Bijaksana – Bagian Satu Bagaimana Radio Bisa Menurunkan Suhu -4-
mempertimbangkan banyak pilihan dan menyelami keragaman
pandangan – secara aman.

Jurnalisme peka konflik dan reportase Pemilu


Mari kita lihat jurnalisme peka konflik saat diaplikasikan pada reportase
Pemilu. Berikut ini studi kasus dari Indonesia:

Konflik antara kusir dokar dan tukang becak


Tahun 2000, masyarakat di sebuah kota di Sulawesi merasa gelisah. Dalam
pemilu lokal, media memfokus secara luas pada ‘persaingan pahit’ antara
dua kelompok pelaku transportasi: kusir dokar dan tukang becak. Menurut
laporan surat kabar, konflik ini bukan sekedar pertempuran untuk meraih
konsumen: konflik ini mengenai kebencian yang dirasakan pebisnis lokal
(kusir dokar) terhadap ‘orang luar’ (tukang becak). Seiring dengan
semangat kampanye pemilu, isu ini dipolitisir dengan kedua kelompok ini
masing-masing diperjuangkan oleh partai politik yang berlainan. Melihat
dari reportase media, kekerasan tak dapat dihindari. Dan beberapa surat
kabar memprediksikan hal ini akan meningkat.

Sekelompok jurnalis radio yang menghadiri lokakarya ‘Reportase untuk


Perdamaian’ memutuskan untuk melihat sendiri. Mereka ingin menyelidiki
masalah ini secara mendalam – dan mencari tahu adakah kesamaan
mendasar antara kedua kelompok ini.

Mereka pergi ke pasar untuk mewawancarai kusir dokar dan tukang becak.
Apa yang mereka dengar membuat mereka terkejut.

Setiap kusir dokar dan tukang becak yang mereka wawancara bersikeras
bahwa tidak ada konflik sama sekali di antara mereka. Malahan, kata
mereka, ada banyak peluang untuk keduanya – ironisnya disebabkan karena
harga bahan bakar naik, sehingga harga taksi juga naik. Artinya
penumpang memilih jenis transportasi lainnya.

Kedua kelompok berkata mereka merasa ‘konflik’ yang disebut-sebut itu


telah dibesar-besarkan oleh para pemimpin politik (yang menyatakan
tindakannya adalah demi ‘kepentingan terbaik’ mereka), dan diperburuk
oleh beberapa surat kabar lokal, yang melaporkan pandangan partai-partai
politik yang bersaing, tanpa berbicara kepada kusir dokar dan tukang
becak terlebih dahulu.

Sebuah Pilihan Yang Bijaksana – Bagian Satu Bagaimana Radio Bisa Menurunkan Suhu -5-
Pada mulanya para jurnalis radio RFP ini merasa ‘kecewa’: berita mereka
ternyata ‘bukan berita’! Namun kemudian mereka sadar mereka telah
menemukan sudut pandang yang unik: ‘konflik yang tak pernah ada’. Ada
satu pelajaran penting juga di sini: bagaimana media lokal bertabrakan
dengan kampanye pemilu yang sinis demi headline yang sensasional – dan
menyesatkan.

Para jurnalis radio kemudian membuat sebuah feature berdasarkan


penyelidikan mereka. Ketika feature tersebut disiarkan di sebuah stasiun
radio lokal, banyak respons antusias dari pendengar – dan membentuk
dasar untuk talk show yang mendorong.

Berpikir di muka: mengidentifikasi isu-isu lokal yang ‘panas’ dalam


masyarakat
Cerita mengenai kusir dokar dan tukang becak di atas memiliki pesan
yang penting buat media. Jurnalis perlu mengidentifikasi potensi isu-isu
‘panas’ dalam masyarakat sebelum periode pemilu dimulai. Bila kita
tidak memberikan informasi yang seimbang dan dapat dipercaya kepada
pendengar emngenai isu-isu ‘panas’ tersebut, partai politik mungkin
akan mencoba mengeksploitasi situasi untuk memecah masyarakat dan
memenangkan suara selama kampanye pemilu mereka.

Ingat:

• Gosip berkembang saat ada ketakutan dan ketidak tahuan


• Gosip juga menimbulkan ketakutan dan ketidak tahuan
• Orang-orang yang ketakutan biasanya juga merupakan orang-
orang yang garang
• Informasi seimbang membantu orang melihat dalam gambar yang
lebih besar. Lalu mereka merasa berkurang ketakutannya,
berkurang kekasarannya dan berkurang kecenderungan untuk
hilang kendali.

Sebelum kita melangkah lebih jauh, pikirkan masyarakat anda SENDIRI.


Isu-isu ‘panas’ apa yang membuat masyarakat lokal marah, atau
ketakutan? Pada titik-titik di bawah ini, tuliskan isu-isu ‘panas’ tersebut
yang bisa dieksploitasi oleh partai politik selama periode pemilu:

------------------------------------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------------------------

Sebuah Pilihan Yang Bijaksana – Bagian Satu Bagaimana Radio Bisa Menurunkan Suhu -6-
------------------------------------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------------------------

Berikut ini beberapa contoh yang diidentifikasi oleh jurnalis Indonesia


dari Sulawesi Selatan. Dalam sebuah lokakarya ‘Reportase untuk
Perdamaian’, mereka mengatakan bahwa isu-isu ini bisa dipolitisir
dalam kampanye pemilu 2004:

• Gelombang pengungsi (contohnya, dari Ambon): beberapa orang


lokal benci pada para pengungsi dan ingin agar mereka pergi.
• Munculnya Forum Bersama Masyarakat di beberapa daerah
(seperti Sinjai) dimana masyarakat telah hilang kepercayaan pada
militer. Dapatkah forum ini dieksploitasi untuk tujuan politik?
Usaha perlindungan apa yang dapat dilakukan untuk mencegah
hal tersebut?
• Konflik antar kelompok (misalnya, di Bone): pemuda-pemuda
pengangguran yang marah beresiko dimanipulasi oleh kekuatan-
kekuatan dari luar dengan agenda politik tersembunyi;
• Konflik lingkungan hidup dan sosial – misalnya, penebangan
tanpa ijin (Kendari) dan pekerja seks anak (Rantepao). Dapatkah
partai politik memanipulasi isu-isu tersebut dalam kampanyenya?

‘Menurunkan suhu’: apa yang bisa dilakukan radio saat temperatur


naik
Strategi lain apa yang bisa dipakai radio untuk ‘menurunkan suhu’
selama periode pemilu?

Berikut dua contoh praktis dari stasiun radio komunitas di Afrika


Selatan:

1. Pada 1999, sebuah stasiun radio komunitas di Johannesburg merasa


khawatir mengenai kemungkinan kerusuhan menjelang pemilu.
Kelihatannya beberapa politisi mencoba mengobarkan masalah dan
mendorong pendukung mereka untuk menyerang orang-orang dari
partai lainnya. Radio tersebut memutuskan untuk mewawancarai
pemimpin politik lokal mengenai situasi ini. Daripada menanyakan siapa
yang mereka salahkan untuk kerusuhan tersebut, sang jurnalis
bertanya kepada si pemimpin pesan apa yang ingin mereka sampaikan
kepada pendukungnya, demi menjamin pemilu yang damai. Setiap
pemimpin menasehati pendukungnya gara tetap tenang dan tidak
merespon kekerasan dengan kekerasan. Para jurnalis menggunakan
komentar-komentar tersebut pada reportase mereka, dan juga

Sebuah Pilihan Yang Bijaksana – Bagian Satu Bagaimana Radio Bisa Menurunkan Suhu -7-
membuat iklan layanan masyarakat (ILM) dengan menggunakan suara
para pemimpin yang bersaing tersebut. Tidak mengejutkan, setiap
pemimpin menyerukan perdamaian. Para jurnalis kemudian memutuskan
untuk memutar ILM tersebut secara teratur, sebagai salah satu cara
untuk mendorong pemimpin politik memberlakukan kampanye politik
yang damai – dan untuk mengingatkan mereka akan pertanggung
jawaban mereka bila kerusuhan tetap terjadi.

2. Sebelum pemilu 1999 di Afrika Selatan ada beberapa pembunuhan


bermotif politik di pinggiran kota dekat Cape Town. Seorang produser
radio komunitas memutuskan untuk membuat sebuah ILM, dimana anak
laki-laki dari salah seorang korban, yang baru berusia 15 tahun,
menghimbau komunitasnya untuk menghentikan kekerasan. Bunyi ILM
tersebut adalah sebagai berikut:

MUSIK LATAR (LEMBUT, SULING SEDIH)

ANAK LAKI-LAKI KORBAN (BERBICARA DI ATAS MUSIK):

‘Minggu lalu terjadi sesuatu yang telah mengubah keluarga kami selamanya. Ayah
saya dibunuh. Dibunuh karena keyakinan politiknya. Saya tidak tahu siapa yang
melakukannya – tapi saya tahu bahwa ayah saya tidak menginginkan pembalasan.
Jadi, tolonglah, mari bersatu untuk menghentikan kekerasan. Sekarang.

Saya tidak ingin keluarga anda mengalami apa kami alami – tidak.’

Dengan menggunakan suara anak laki-laki tersebut, stasiun radio


berharap dapat mengingatkan pendengarnya akan kesamaan
kemanusiaan mereka, tanpa memandang partai mana yang mereka
dukung. Mereka juga berharap ILM tersebut dapat membantu
memutuskan lingkaran saling menyalahkan dan dendam dalam
masyarakat.

Ada cara lain yang bisa dilakukan secara khusus oleh radio untuk
menurunkan konflik kekerasan selama periode pemilu:

• Talk show interaktif (dengan groundrules yang jelas) dapat


menjadi cara yang ampuh bagi komunitas untuk mendiskusikan
isu-isu pemilu, menantang kandidat partai dan mendengarkan
beragam pandangan. Talk show, jika ditangani dengan benar, juga
bisa mempromosikan budaya toleransi dan keterbukaan;

Sebuah Pilihan Yang Bijaksana – Bagian Satu Bagaimana Radio Bisa Menurunkan Suhu -8-
• Mini drama juga merupakan cara yang baik sekali untuk
mengeksplorasi ‘isu-isu tidak aman’ dengan cara yang aman.
Melalui karakter dan situasi fiktif, pendengar dapat memahami
kesakitan atau ketakutannya sendiri – terutama jika mini drama
tersebut digunakan sebagai penghubung ke acara talk show untuk
membangkitkan diskusi;
• Acara musik berisi lagu-lagu dengan pesan perdamaian juga bisa
menjadi cara yang mudah namun efektif dalam menurunkan suhu
kekerasan dalam masyarakat.

Kita akan membahas ide-ide tersebut nanti. Sebelum kita melangkah


lebih jauh, pikirkan pertanyaan-pertanyaan di bawah dan tulis respon
anda:

Tulis daftar cara-cara bagaimana stasiun radio ANDA bisa ‘mendinginkan


suhu’ selama periode pemilu 2004:
--------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------

Sebuah Pilihan Yang Bijaksana – Bagian Satu Bagaimana Radio Bisa Menurunkan Suhu -9-