Anda di halaman 1dari 9

BAB II

DASAR TEORI

2.1 TINJAUAN PUSTAKA

Nilai kalori yang dihasilkan oleh arang briket sampah ini berkisar

antara 1390-1815 kal/gram, bila dibandingkan dengan kalor bakar kayu maka nilai

kalori pada briket jenis ini 60% (nilai kalor bakar kayu ± 3000 kal/gram). Jadi ukuran

atau besar kecilnya partikel banyak zat perekat atau binder, dan lama waktu

pengeringan sangat mempengaruhi nilai kalori yang akan dihasilkan oleh briket

tersebut. ”(Proses pembuatan arang briket sebagai sumber energi alternatif dengan

memanfaatkan sampah organik hijau daun pasar keputran Surabaya, Tugas Akhir

Haris Takdir Basuki, Teknik Lingkungan ITATS ).

Proses pembuatan arang briket dari sampah membutuhkan waktu, tempat dan

biaya yang besar. Untuk itu, perlu digunakan metode yang lain untuk pengolahan

sampah. Pembakaran sampah dengan menggunakan incenerator adalah salah satu

cara pengolahan sampah, baik padat maupun cair. Didalam incenerator, sampah

dibakar secara terkendali dan berubah menjadi gas (asap) dan abu. Dalam proses

pembuangan sampah, cara ini bukan merupakan proses akhir. Abu dan gas yang

dihasilkan masih memerlukan penanganan lebih lanjut untuk dibersihkan dari zat-

zat pencemar yang terbawa, sehingga cara ini masih merupakan intermediate

treatment.

Salah satu kelebihan incenerator menurut Salvato (1982) adalah dapat

mencegah pencemaran udara dengan syarat incenerator harus beroperasi secara

berkesinambungan selama enam atau tujuh hari dalam seminggu dengan kondisi
temperatur yang dikontrol dengan baik dan adanya alat pengendali polusi udara

hingga mencapai tingkat efisiensi, serta mencegah terjadinya pencemaran udara dan

bau.

Kelebihan incenerator sebagai alat pengolah sampah juga dikemukakan

oleh Sidik et al. (1985), yaitu meskipun incenerator masih belum sempurna sebagai

sarana pembuangan sampah, akan tetapi terdapat beberapa keuntungan sebagai

berikut :

• Terjadi pengurangan volume sampah yang cukup besar, sekitar

75% hingga 80% dari sampah awal yang datang tanpa proses

pemisahan.

• Sisa pembakaran yang berupa abu cukup kering dan bebas dari

pembusukan.

• Pada instalasi yang cukup besar kapasitasnya (lebih besar dari

300 ton/hari) dapat dilengkapi dengan peralatan pembangkit listrik

Perhitungan per kWh energi listrik yang dihasilkan dari sampah.

1 kW = 36.105 Joule

1 ton sampah = 18 hingga 30 kW

1 hp = 746 Watt

1 kalori = 4,18 Joule

1 kW = 860 Kcal

Juga tergantung effisiensi total suatu pembangkit, maka daya yang bisa dihasilkan

output
Effisiensi =
input
Biaya yang dikeluarkan untuk tiap kWh adalah:

Biaya total operasiona l dalam 1 jam


=
Biaya yang dibutuhkan untuk menghasilk an daya per kW

Prinsip kerja dasar PLTU berbahan bakar sampah.

• Bahan bakar berupa sampah dibakar didalam incenerator.

• Kemudian air dalam sebuah boiler atau ketel uap menghasilkan uap

dan dibawa ke turbin uap, sedangkan gas yang dikeluarkan oleh

incenerator dibawa ke turbin gas.

• Turbin uap menggerakkan generator 1 dan turbin gas menggerakkan

generator 2 sehingga menghasilkan listrik.

2.2 PENGERTIAN SAMPAH

Sampah yang merupakan salah satu bentuk limbah yang terdapat di lingkungan

sekitar manusia.Dalam hal ini sampah dapat juga sebagai limbah padat yang

mempunyai definisi ”Suatu sisa buangan dari aktivitas makluk hidup dan sudah tidak

diinginkan, tidak berguna serta tidak mempunyai nilai ekonomis lagi seperti aslinya”.

Bentuk, jenis dan komposisi sampah itu sendiri sangat dipengaruhi oleh tingkat

budaya masyarakat dan kondisi alamnya, dengan kata lain sampah yang dihasilkan

oleh negara-negara yang sedang berkembang (tingkat perekonomiannya lebih rendah)

akan berbeda dengan sampah yang dihasilkan oleh negara-negara maju (yang tingkat

perekonomiannya lebih tinggi).

Pada negara-negara maju yang sangat peka didalam menghadapi masalah

kesehatan lingkungan, sampah pada umumnya telah diatur pembuangannya


sedemikian rupa, sehingga hampir setiap jenis sampah telah dipisah-pisahkan untuk

memudahkan penanganan serta pengendaliannya. Sebelum sampah-sampah tersebut

dikelola lebih lanjut maka perlu diperhatikan tentang klasifikasi-klasifikasi serta

komposisi dari sampah-sampah tersebut, hal ini dimaksudkan agar sampah-sampah

tersebut dapat dikelola atau minimal tertangani dengan baik tanpa menimbulkan

permasalahan dikemudian hari.

2.2.1 SUMBER SAMPAH

Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa sebelum sampah-sampah tersebut dikelola

lebih lanjut maka perlu diperhatikan tentang klasifikasi-klasifikasi dari sampah-

sampah tersebut. Dalam hal ini klasifikasi sampah dikelompokkan menjadi dua

kategori :

• Klasifikasi Sampah menurut Istilah Teknis :

1. Sampah Organik mudah membusuk.

Yaitu limbah padat/sampah semi basah yang berupa bahan-bahan organik

yang umumnya berasal dari sektor pertanian dan makanan, misalnya : sisa dapur, sisa

makanan, sampah sayur-sayuran, kulilt buah-buahan dan lainnya. Limbah atau

sampah jenis ini mempunyai ciri - ciri mudah terurai oleh mikroorganisme dan mudah

membusuk, hal ini dikarenakan mempunyai rantai kimia yang relatif pendek. Sampah

ini sangat menjijikkan dan bau jika telah membusuk, apalagi bila kena air

hujan/genangan air, sehingga masyarakat merasa enggan untuk menanganinya.

Sampah ini banyak dijumpai di negara – negara berkembang.


2. Sampah Organik tidak mudah membusuk

Yaitu limbah padat/sampah organik yang cukup kering dan sulit terurai oleh

mikroorganisme, sehingga akan sulit membusuk. Hal ini disebabkan karena sampah -

sampah jenis ini memiliki rantai kimia yang cukup panjang dan kompleks, maka

organisme akan sulit menguraikannya (menjadi busuk). Sampah jenis ini contohnya

adalah : selulosa, kertas, plastik, kaca dan lain sebagainya.

3. Sampah Abu

Yaitu limbah padat/sampah yang berupa abu, misalnya adalah abu dari hasil

pembakaran, abu dari industri, abu dari pembangunan gedung, dan lain sebagainya.

Karena mempunyai berat yang ringan maka sampah jenis ini akan mudah terbawa

oleh angin. Bila jumlah abu yang diterbangkan oleh angin cukup banyak maka

dikhawatirkan menimbulkan permasalahan yang cukup rumit sebab akan berkaitan

dengan polusi udara. Akan tetapi sampah jenis ini tidak mudah membusuk.

4. Sampah Bangkai Binatang

Yaitu limbah padat/sampah yang berupa bangkai binatang. Seperti Tikus,

Ikan, Anjing, Kucing dan binatang ternak lainnya yang menjadi bangkai. Limbah

padat/sampah jenis ini jumlahnya/prosentasenya cukup kecil, akan tetapi jka terjadi

bencana alam, misalnya gunung meletus, gempa bumi, atau kekeringan yang bisa

mematikan banyak hewan, maka sampah-sampah jenis ini menjadi masalah yang

rumit. Hal ini terutama disebabkan karena mudah membusuknya dan baunya yang

sangat menusuk hidung, maka untuk itu diperlukan penangan yang cukup serius.
5. Sampah Sapuan/sampah Jalan

Yaitu limbah padat/sampah hasil sapuan jalan yang berisi berbagi sampah

yang tersebar dijalanan, seperti dedaunan, kertas, dan plastik. Sampah jenis ini di

negara-negara yang sedang berkembang relatif lebih banyak dan lebih bervariasi

kandungannya. Hal ini dikarenakan kesadaran tentang kebersihan sangatlah kurang.

6. Sampah Industri

Yaitu semua limbah yang berasal dari buangan industri. Limbah padat/sampah

jenis sangat tergantung pada industrinya. Semakin banyak industri yang berdiri akan

semakin besar dan beragam limbahnya. Sampah industri dewasa ini merupakan

sumber utama yang potensial mencemari lingkungan, sehinga banyak disoroti oleh

masyarakat.

• Klasifikasi Limbah Padat atau Sampah menurut sumbernya

1. Sampah Domestik

Yaitu limbah padat/sampah yang berasal dari pemukiman masyarakat.

Sampah jenis ini cukup beragam, akan tetapi umumnya berupa sampah

dapur, sisa sayuran, kulit buah – buahan, kertas pembungkus dan lain

sebagainya. Jenis sampah ini yang berasal dari pemukiman kota

umumnya

berbeda dengan yang berasal dari pedesaan.


2. Sampah Komersial

Yaitu limbah/sampah yang berasal dari lingkungan perdagangan atau

komersial, baik yang berasal dari pertokoan, perdagangan

perkantoran,

warung ataupun pasar. Sampah beragam jenisnya, sesuai dengan jenis

barang yang diperdagangkan.

3. Sampah Industri

Yaitu limbah padat/sampah yang berasal dari buangan hasil proses

industri. Limbah ini untuk jenis industri tertentu akan relatif sama,

akan

tetapi untuk jenis yang berbeda akan membuang sampah yang berbeda

juga. Jadi jenis, jumlah dan komposisi limbah tergantung pada jenis

industrinya.

4. Sampah lainnya

Yaitu limbah padat/sampah yang berasal dari selain yang disebutkan

diatas, misalnya limbah hasil bencana alam, sampah dari pepohonan

dan

lain sebagainya.
Salah satu kelebihan incenerator menurut Salvato (1982) adalah dapat

mencegah pencemaran udara dengan syarat incenerator harus beroperasi secara

berkesinambungan selama enam atau tujuh hari dalam seminggu dengan kondisi

temperatur yang dikontrol dengan baik dan adanya alat pengendali polusi udara

hingga mencapai tingkat efisiensi, serta mencegah terjadinya pencemaran udara dan

bau.

Kelebihan incenerator sebagai alat pengolah sampah juga dikemukakan

oleh Sidik et al. (1985), yaitu meskipun incenerator masih belum sempurna sebagai

sarana pembuangan sampah, akan tetapi terdapat beberapa keuntungan sebagai

berikut :

• Terjadi pengurangan volume sampah yang cukup besar, sekitar

75% hingga 80% dari sampah awal yang datang tanpa proses

pemisahan.

• Sisa pembakaran yang berupa abu cukup kering dan bebas dari

pembusukan.

• Pada instalasi yang cukup besar kapasitasnya (lebih besar dari

300 ton/hari) dapat dilengkapi dengan peralatan pembangkit listrik

Perhitungan per kWh energi listrik yang dihasilkan dari sampah.

1 kW = 36.105 Joule

1 ton sampah = 18 hingga 30 kW

1 hp = 746 Watt

1 kalori = 4,18 Joule

1 kW = 860 Kcal
Juga tergantung effisiensi total suatu pembangkit, maka daya yang bisa dihasilkan

output

Effisiensi =

input

Biaya yang dikeluarkan untuk tiap kWh adalah:

Biaya total operasional dalam 1 jam

Biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan daya per kW

Prinsip kerja dasar PLTU berbahan bakar sampah.

• Bahan bakar berupa sampah dibakar didalam incenerator.

• Kemudian air dalam sebuah boiler atau ketel uap menghasilkan uap

dan dibawa ke turbin uap, sedangkan gas yang dikeluarkan oleh

incenerator dibawa ke turbin gas.

• Turbin uap menggerakkan generator 1 dan turbin gas menggerakkan

generator 2 sehingga menghasilkan listrik.