Anda di halaman 1dari 10

PEMBANGUNAN MALL GRAND TOWN SQUARE SIDOARJO, POTENSI ATAU MASALAH?

untuk memenuhi tugas matakuliah Pengembangan Ekonomi Sektor Publik dan Swasta yang dibina oleh bu Emma Yunika P. S. Pd, M.pd

Oleh: Firly Sobriya Nur Utomo 110432426521

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS EKONOMI JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN Maret 2014

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah Dalam upaya pengembangan dan penerapan kota berkelanjutan, peranan dari

pemerintah kota sangatlah fundamental. Pemerintah kota bertanggung jawab terhadap pengembangan dan penerapan kota berkelanjutan melalui proses pembuatan kebijakan yang dilakukannya. Di berbagai kota di Indonesia terdapat berbagai kasus mengenai manajemen perkotaan. Salah satunya terdapat di kota Sidoarjo. Terdapat pembangunan Mall Grand Town Square (GTS) yang berada di Jalan Raya Jati, tepatnya di sebelah kanan pintu tol Sidoarjo. Pembangunan proyek tersebut dapat dikatakan bermasalah karena tidak ada izin. Investor hanya mempunyai izin lokasi yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Negara (BPN) Sidoarjo. Komisi C DPRD Sidoarjo sempat merekomendasi Pemkab Sidoarjo untuk menghentikan kegiatan proyek yang masih tahap pengurukan itu dan merekomendasikan agar Satpol PP menghentikan aktivitas proyek itu. Namun hingga saat ini proyek tersebut masih saja berjalan, bahkan belum 100% pembangunannya sudah dibuka hypermart. Salah satu satker yang menyatakan proyek itu tidak ada izinnya adalah pernyataan Kepala Badan Pelayanan dan Perizinan Terpadu Sidoarjo, Joko Santosa yang mengatakan pihaknya belum menerima berkas apapun. Pihak Dinas Perhubungan (Dishub) Sidoarjo mengatakan bahwa investor proyek sebenarnya pernah mengajukan permohonan izin Amdalalin ke Dishub tapi pihaknya tidak memprosesnya karena pemohon hanya membawa sebendel buku Amdalalin dan berkas izin lokasi tahun 2004. Bupati Sidoarjo menyatakan bahwa pemerintah Kabupaten Sidoarjo belum mengeluarkan izin HO, IMB, maupun Amdalalin terkait dengan pembangunan tersebut. Bupati tersebut juga menambahkan yang menjadi permasalahan adalah porsi peruntukan dari seluruh bangunan yang akan dibangun. Seharusnya, untuk pembangunan mall, porsinya 40:60, 40 persen untuk gedung dan 60 persen untuk infrastruktur lainnya seperti tempat parkir, ruang terbuka hijau dan lain-lain. Kenyataannya dari perkataan Bupati Sidoarjo tersebut 5 hektar luas lahan yang akan dibangun, porsi yang diajukan investor berbalik. Kondisi eksisting yang terlihat telah

terbangun 60 persen dari luas lahan untuk bangunan gedung dan 40 persen untuk infrastruktur lainnya. Selain itu dampak dari pembangunan Mall GTS tersebut membuat kemacetan di ujung Jalan Raya Jati. Dimana jalan tersebut merupakan jalan kolektor primer dengan lebar total sekitar 8-10 m terdiri dari 2 jalur dan hanya 1 lajur di setiap jalurnya, sehingga apabila terjadi tundaan di pintu masuk dan keluar mall maka sangat berpotensi untuk menimbulkan kemacetan. Di sekitar Jl. Raya Jati juga terdapat banyak permukiman yang pada saat pagi hari (jam berangkat kerja/sekolah) menjadi bangkitan pergerakan dan pada saat sore hari (jam pulang kerja/sekolah) menjadi tarikan pergerakan. Tanpa adanya mall tersebut dirasa Jalan Raya Jati sudah sering terjadi kemacetan akibat jenis penggunaan lahan di sekitar jalan tersebut. Dan dengan adanya mall Grand Town Square (GTS) ini maka berpotensi untuk terjadi kemacetan yang lebih parah.

B.

Perumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah dijelaskan diatas, maka dapat dibuat perumusan masalah sebagai berikut : 1. Dampak-dampak apa saja yang akan terjadi setelah adanya grand town square? 2. Apakah pembangunan grand town square sudah memenuhi perda no 6 tahun 2002 tentang Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin) Pembangunan Dan Pengoperasian Kawasan? C. Tujuan Penelitian 1. Mengetahui dampak-dampak setelah adanya pembangunan grand town square. 2. Mengetahui pembangunan grand town square sudah sesuai dengan perda no 6 tahun 2002 tentang analisis dampak lalu lintas (Andalalin) pembangunan dan pengoperasian kawasan.

BAB II Pembahasan

A.

Pembangunan Grand Town Square

Proyek hypermart di sebelah kanan pintu tol Sidoarjo bermasalah karena tidak ada izin. Investor hanya mempunyai izin lokasi yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Negara (BPN) Sidoarjo. Komisi C DPRD Sidoarjo akhirnya merekomendasi Pemkab Sidoarjo untuk menghentikan kegiatan proyek yang masih tahap pengurukan itu dan merekomendasikan agar Satpol PP menghentikan aktivitas proyek itu. Salah satu satker yang menyatakan proyek itu tidak ada izinnya adalah pernyataan Kepala Badan Pelayanan dan Perizinan Terpadu Sidoarjo, Joko Santosa yang mengatakan pihaknya belum menerima berkas apapun. Bahkan, pihaknya sudah memanggil investor proyek dan diketahui kalau kegiatan proyek itu hanya diperkuat izin lokasi yang dikeluarkan Badan Pertanahan Negara (BPN) Sidoarjo pada tahun 2004 sehingga pihaknya tidak berani memproses izinnya. Warsito dari Dinas Perhubungan (Dishub) Sidoarjo. Warsito mengaku kalau investor proyek sebenarnya pernah mengajukan permohonan izin Amdalalin ke Dishub tapi pihaknya tidak memprosesnya karena pemohon hanya membawa sebendel buku Amdalalin dan berkas izin lokasi tahun 2004. Kendala lain untuk memproses izin, lanjut Warsito, juga disebabkan beralihnya pengelola lahan dari PT Grade Town Square (GTS) ke PT Solid Gold Kencana (SGK). Yang mengajukan izin Amdalalin adalah PT SGK sedangkan izin lokasi atas nama PT GTS. Sampai sekarang kami tidak memroses ijinnya karena kami bingung, katanya. Dwidjo Prawito dari Dinas PU Cipta Karya dan Tata Ruang menyatakan, lahan yang saat ini tengah diuruk adalah milik Departemen Pekerjaan Umum dan dikelolakan kepada PT GTS dengan sistem sewa selama 22 tahun sebelum dialihtangankan ke PT SGK. Dinas PU Cipta Karya dan Tata Ruang juga sudah melayangkan surat teguran kepada investor bersangkutan. Proyek pembangunan GTS dihentikan lantaran tak memiliki izin mendirikan bangunan, izin gangguan (HO) dan analisis dampak lingkungan dan lalu lintas. Lantaran proyek ini berdiri di sisi barat pintu masuk tol Sidoarjo yang rawan kemacetan.

Dikhawatirkan GTS yang dibangun di lahan Jasa Marga ini akan mengganggu lalu lintas Surabaya-Malang, yang selama ini kerap dilanda kemacetan.

yang menjadi permasalahan adalah porsi peruntukan dari seluruh bangunan yang akan dibangun. Seharusnya, untuk pembangunan mall, porsinya 40:60, 40 persen untuk gedung dan 60 persen untuk infrastruktur lainnya seperti tempat parkir, ruang terbuka hijau dan lainlain.

Kenyataannya dari perkataan Bupati Sidoarjo tersebut 5 hektar luas lahan yang akan dibangun, porsi yang diajukan investor berbalik. Kondisi eksisting yang terlihat telah terbangun 60 persen dari luas lahan untuk bangunan gedung dan 40 persen untuk infrastruktur lainnya. Komisi Pembangunan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sidoarjo menggelar dengar pendapat dengan pengembang PT Solid Gold Kencana di gedung Dewan setempat. Proses perizinan Analisa Dampak Lalu-lintas dan Lingkungan (Andalalin) proyek Grand Town Square (GTS) ternyata masih dalam tahap prasidang. Padahal perizinan tersebut akan menentukan keluarnya izin-izin lainnya seperti IMB,HO, dan izin operasional. Diungkapkan, sejauh ini, pihaknya hanya menerima kajian rekayasa lalu-lintas dari konsultan GTS. Nantinya, rekayasa lalu-lintas itu akan dilihat sejauh mana bisa mengurai kemacetan yang ada di jalan raya Jati depan GTS dibangun.

B.

dampak pembangunan grand town square Dampak negative Dampak dari pembangunan Mall GTS tersebut membuat kemacetan di ujung Jalan Raya Jati. Dimana jalan tersebut merupakan jalan kolektor primer dengan lebar total sekitar 8-10 m terdiri dari 2 jalur dan hanya 1 lajur di setiap jalurnya, sehingga apabila terjadi tundaan di pintu masuk dan keluar mall maka sangat berpotensi untuk menimbulkan kemacetan. Di sekitar Jl. Raya Jati juga terdapat banyak permukiman yang pada saat pagi hari (jam berangkat kerja/sekolah) menjadi bangkitan pergerakan dan pada saat sore hari (jam pulang kerja/sekolah) menjadi tarikan pergerakan. Tanpa adanya mall tersebut dirasa Jalan Raya Jati sudah sering terjadi kemacetan akibat jenis penggunaan lahan di sekitar jalan tersebut. Dan dengan adanya mall Grand Town Square (GTS) ini maka berpotensi untuk terjadi kemacetan yang lebih parah.

Dampak positif Selain permasalahan yang ditimbulkan oleh adanya mall GTS tersebut, terdapat juga sisi positif dari mall tersebut yaitu dapat menyerap tenaga kerja masyarakat sekitar sehingga dapat mengurangi beban jumlah pengangguran di lingkungan sekitar Dengan adanya manajemen yang baik maka permasalahan dari adanya mall Grand Town Square (GTS) ini dapat diubah menjadi potensi yang secara tidak langsung dapat membantu perekonomian bagi Kabupaten Sidoarjo.

C.

Solusi Solusi untuk mengatasi dampak negative nya dengan Seharusnya akses pintu masuk

dan keluar untuk mall GTS tersebut tidak langsung memotong Jalan Raya Jati. Lebih baik diberikan jalan tersendiri untuk mengakses masuk dan keluar bagi mall itu sendiri, sebagai contoh dapat dilihat pada mall Royal, Surabaya. Upaya pemerintah juga bisa seperti Sebaiknya pemerintah Kabupaten Sidoarjo melakukan manajemen terhadap transportasi di sekitar Jalan Raya Jati yaitu dengan

mengintruksikan kepada pihak swasta / pemilik mall untuk memberikan jalan akses khusus untuk masuk dan keluar mall sehingga tidak langsung memotong Jalan Raya Jati. Sedangkan pihak swasta / pemilik mall itu sendiri sebaiknya melakukan pemrioritasan penerimaan pekerja bagi warga sekitar agar warga sekitar mall itu sendiri dapat terserap dengan baik. Dengan adanya manajemen yang baik maka permasalahan dari adanya mall Grand Town Square (GTS) ini dapat diubah menjadi potensi yang secara tidak langsung dapat membantu perekonomian bagi Kabupaten Sidoarjo.

Bab Penutup

Kesimpulan

Dalam upaya pengembangan dan penerapan kota berkelanjutan, peranan dari pemerintah kota sangatlah fundamental. Pemerintah kota bertanggung jawab terhadap pengembangan dan penerapan kota berkelanjutan melalui proses pembuatan kebijakan yang dilakukannya. Di berbagai kota di Indonesia terdapat berbagai kasus mengenai manajemen perkotaan. Salah satunya terdapat di kota Sidoarjo. Terdapat pembangunan Mall Grand Town Square (GTS) yang berada di Jalan Raya Jati, tepatnya di sebelah kanan pintu tol Sidoarjo pembangunan tersebut juga mengalami banyak permasalahan mulai dari ijin pembangunan sampai andalalin yg blum di ijinkan. Namun banyak juga pihak yang mendukung pembangunan tersebut. Jadi apabila dengan adanya manajemen yang baik maka permasalahan dari adanya mall Grand Town Square (GTS) ini dapat diubah menjadi potensi yang secara tidak langsung dapat membantu perekonomian bagi Kabupaten Sidoarjo.

Daftar Pustaka
http://dprd-sidoarjokab.go.id/hypermart-di-exit-tol-sidoarjo-bermasalah.html

http://anggrass.blogspot.com/2012/01/mall-grand-town-square-sidoarjo-potensi.html http://gudanghukumindonesia.blogspot.com/2010/01/peraturan-daerah-perdakabupaten_8770.html