Anda di halaman 1dari 8

Infeksi periapikal dapat menyebar ke jaringan-jaringan lain mengikuti pola patofisiologi yang beragam yang pada dasarnya dipengaruhi

oleh : jumlah dan virulensi kuman, resistensi dari host, dan struktur anatomi daerah yang terlibat. Pus pada jaringan periapikal menyebar melalui tulang kanselus menuju ke permukaan tulang dan setelah menembus lapisan korteks pus masuk ke jaringan lunak di sekitarnya yang biasanya didahului dengan keradangan pada periosteum tulang alveolar di daerah tersebut (periostitis) Arah penyebaran infeksi periapikal menuju ke jaringan lunak dipengaruhi oleh 2 faktor utama yaitu: 1. Ketebalan tulang yang meliputi apeks gigi 2. hubungan antara tempat perforasi tulang dan tempat perlekatan otot-otot pada maksila dan mandibula

Bila apeks gigi yang terinfeksi lebih dekat dengan labial plate maka akan menyebabkan vestibular abscess. Sebaliknya jika akar gigi lebih dekat dengan permukaan palatal maka yang terjadi adalah palatal abscess. Setelah pus menembus permukaan tulang dan masuk ke dalam jaringan lunak arah penyebaran selanjutnya ditentukan oleh tempat perlekatan otot-otot pada tulang rahang, utamanya yaitu m. Buccinator pada maksila dan mandibula, dan. Mylohyoid pada mandibula. Pada gigi-gigi posterior rahang atas apabila pus keluar ke arah bukal dan dibawah perlekatan m.buccinator pada maksila dan mandibula, dan m mylohyoid pada mandibula. Pada gigi posterior rahang atas apabila pus keluar ke arah bukal dan dibawah perlekatan m. Buccinator

maka akan terjadi vestibular abscess. Apabila pus terletak di atas perlekatan m. Buccinator maka yang terjadi adalah buccal space abscess. Infeksi periapikal pada gigi-gigi rahang atas pada umunya menjalar ke arah labial atau bukal. Beberapa gigi seperti insisif lateral yang inklinasinya ekstrenm, akar palatal gigi premolar pertama dan molar rahang atas dapat menyebabkan abses di sebelah palatal. Penjalaran infeksi ke labial atau bukal dapat menjadi vestibular abscess atau fascial space infection ditentukan oleh hubungan antara tempat peforasi tulang dan tempat perlekatan otot-otot oada tukang maksila yaitu m, buccinator dan m. Levator anguli oris. Gigi insisif sentral dan lateral rahang atas penyebaran infeksi ke labial sehingga terjadi vestibular abscess. Infeksi pada kaninus yang akarnya panjang dapat menyebabkan canine space infection. Infeksi pada M rahang atas bisa menjadi vestibular abscess. Infeksi periapikal gigi-gigi P dan M rahang atsa dapat menyebar ke arah sinus maksilaris sehingga menyebabkan sinusitis maksilaris. Di rahang bawah infeksi periapikal dari gigi I,C dan P pada umumnya akan merusak korteks di buccal palte sehingga menjadi vestibular abscess. Infeksi pada gigi M1 bisa mengarah ke bukal atau ke lingual demikian juga M2, sedangkan infeksi periapikal gigi M3 selalu mengarah ke lingual. Penyebaran infeksi Molar bawah yang ke arah bukal juga ditentukan oleh perlekatan m. Buccinator. Apabila pus keluar diatas perlekatan m. buccinator maka yang tejadi adalah vestibular abscess, bila pus keluar dibawah perlekatan otot tersebut maka yang terjadi adalah buccal space infection atau perimandibular infection. Penyebaran infeksi M RB yg kearah

lingual ditentukan oleh relasi antara letak apeks akar gigi M dan tempat perlekatan m. Mylohyoid. Bila pus keluar dari dinding lingual di atas perlekatan m. Mylohyoid maka akan terjadi sublingual space abscess, sebaliknya bila pus keluar dibawah perlekatan otot tsb akan timbul submandibular space abscess. Periostitis Serous periostitis adalah keradangan akut pada periosteum tulang rahang karena infeksi periapikal telah menembus korteks tulang. Keradangan yang terjadi berupa cairan serous diantara korteks dan periosteum, belum terbentuk nanah. Gejala subjektifnya berupa rasa sakit selama 13 istri disertai pembengkakan, suhu badan meningkar. EO tampak pembengkakan merata, warna agak kemerahan, palpasi peningkatan suhu dan sakit. IO tampak peninggian buccal fold tapi tidak ada fluktuasi, terdapat gigi dengan karies profunda dan non vital (Gangren pulpa). Pencabutan merupakan kontraindikasi karena dapat menyebabkan penyebaran infeksi yang berbahaya. Perawatan ditujukan pada tindakan yang dapat meredakan infeksi akut : open bur disertai dengann ekstirpasi saluran akar, pemberian antibiotik dan analgesik. Pencabutan dilakukan bila tanda radang sudah reda.

Subperiosteal abscess Merupakan kelanjutan dari seruos periostitis dimana pus sudah terbentuk dan terkumpul di bawah periosteum. Periosteum adalah jaringan ikat yang tipis dan tegang, maka dengan terkumpulnya pus dibawahnya akan timbul rasa sakit yang sangat dan biasanya periosteum akan pecah dalam waktu singkat. Oleh karena itu secara klinis oeriosteal abscess jarang dijumpai.

Keadaan ini dapat berlanjut menjadi vestibular abscess atau fascial space abscess.

Vestibular abscess (Submucous abscess) Setelah menembus korteks dan periosteum tulang labial/bukal pus yang berasal dari infeksi periapikal masuk ke dalam jaringan lunak di bawah permukaan mukosa di daerah vestibulum (mocobucal fold), disebut dengan vestibular abscess. Keadaan ini rasa sakit sudah agak mereda dibandingkan dengan subperiosteal abscess. EO berupa pembengkakan tidak berbatas jelas, palpasi sakit dan pembesaran kelenjar limfe regional. IO tanpak buccal fold terangkat, warna kemerahan, palpasi terasa sakit dan ada fluktuasi. Terdapat gigi gangren yang memberikan respon sakit pada perkusi dan druk. Abses dapaty pecah dan membentk drainase berupa fistel intra oral. Bila belum terjadi drainase spontan, maka perawatannya adalah incisi dan drainase pada puncak fluktuasi dan drainase dipertahankan dengan pemasangan drain (drain karet atau kasa), pemberian antibiotik dan analgesik. Pencabutan dilakukan setelah gejala akutnya mereda.

Palatal abscess Patogenesa palatal abscess sebenarnya sama dengan submucous abscess, hanya lokasinya yang berbeda karena disini pus keluar ke arah palatal. Biasanya disebabkan oleh infeksi pd akar palatal gigi posterior rahang atas. IO berupa pembengkakan mucosa palatal, berbatas jelas dan ada fluktuasi. ABSES DAN SELULITIS

Penyebaran infeksi odontogen ke jaringan lunak dapat berupa abses, selulitis, atau kombinasi dari keduanya.

Abses (Abscess) Abses didefinisikan sebagai kumpulan pus dalam suatu rongga yang secara anatomis tidak ada dan diliputi oleh membran abses. Nanah atau ous merupakan bentuk nekrosis pencairan (liquefaction) sel-sel jaringan yang disebabkankarena aktivitas enzimatik kuman-kuman patogen. Pus dalam suatu abscess berisi : sel-sel leukosit (PMN) mati, sel-sel jaringan yang mati, dan mikroorganisme penyebab proses supuratif ini disebut dengan kuman piogenik, utamanya adalah Streptococcus pyogens dan Staphylococcus aureus. Pembentukan abscess dihubungkan dengan enzim coagulase yang dihasilkan oleh mikroorganisme. Enzim coagulase menyebabkan terjadinya deposisi fibrin sehingga menghambat fagositosis dan kondisi ini mengarah kepada pembentukan abses Secara klinis ciri khas suatu abses jaringan lunak ialah : pembengkakan berbatas jelas, palpasi terdapat fluktuasi, dan pada umumnya memberikan tanda klinis yang bersifat kronis. Perawatan pada abses pada prinsipnya adalah insisi dan drainase. Untuk mempertahankan drainase dari pus perlu dilakukan pemasangan drain, misalnya dengan rubber drain atau penrose drain. Beberapa tujuan dari insisi dan drainase yaitu : (1) mencegah terjadinya perluasan abses ke jaringan lain,(2) mengurangi rasa sakit,(3) menurunkan jumlah popolasi mikroba beserta toksinnya,(4) memperbaiki vaskularisasi jaringan,(5) mencegah terjadinya jaringan parut.

Selulitis Bila infeksi yang terjadi tidak dapat ditanggulangi oleh faktor pertahanan jaringan, misalnya virulensi kuman yang tinggi atau faktor pertahanan yan rendah, maka infeksi tidak terhambat dan akan menyebar dengan cepat menuju jaringan yang lain disekitarnya, infeksi semacam ini disebut selulitis. Selulitis adalah infeksi pada jaringan lunak yang tidak terlokalisir dimana eksudat dengan cepat menyebar diantara celah interstitial jaringan ikat. Secara klinis ditandai dengan pembengkakan akut, difus, kemerahan, konsistensi keras, tidak terdapat fluktuasi. Selulitis biasanya disertai gejala sistemik yaitu : penderita tampak pucat, malaise, peningkatan suhu badan dan denyut nadi. Dibandingkan abses selulitis lebih berbahaya karena penyebaran infeksi berlangsung sangat cepat ke jaringan yang letaknya jauh dari tempat infeksi asalnya dan resiko terjadiya septikemia cukup tinggi. Kuman Streptokokus diduga sebagai penyebab selulitis karena kemampuannya menghasilkan enzim streptokinase yang dapat menyebabkan fibrinolisis dan enzim hyaluronidase yang mengkatalisa hidrolisis asam hyaluronat, bahan dasar jembatan interseluler jaringan ikat, sehingga dapat mempermudah terjadinya penyebaran infeksi secara cepat. Perawatan pada selulitis adalah pemberian antibiotika yang tepat dan dengan dosis yang tinggi. Dengan terapi antibiotik gejala akutnya mereda atau bisa menjadi abses.

Pericoronitis

Pericoronitis adalah infeksi yang melibatkan jaringan lunak di sekitar mohkota gigi yang erupsi sebagian, umumnya terjadi pada gigi M3 bawah. Pada gigi yang impaksi sebagian, mahkota gigi biasanya diliputi oleh jaringan lunak baik yang menutupi permukaan oklusal mahkota gigi (operculum) atau permukaan aksialnya. Antara mahkota gigi yang impaksi dan jaringan lunak yang menutupinya terdapat suatu ruan potensial, yakni bagian dari dental follicle.Pericoronitis berawal dari keradangan pada follicle ini. Pericoronitis dapat juga terjadi akibat taruma gigitan dari M3 RA. Operculum dari mahkota M3 rahang bawah dapat menjadi bengkak karena tergigit oleh M3 RA. Dalam hal ini pencabutan gigi M3 RA biasanya akan dapat menghilangkan gejala klinis dan simptom yang ada. Pericoronitis dapat pula terjadi akibat terperangkapnya makanan dibawah operculum, sisa makan dapat menjadi media pertumbuhan bakteri.

Pericoronitis akut Pericoronitis akut adalah keradangan akut pada jaringan lunak perikorona yang ditandai dengan rasa sakit cekot-cekot terutama pada waktu mengunyah. Pada anamnesa pasien mengeluhkan trismus dan rasa tidak enak bila menelan. Pemeriksaan klinis menunjukkan adanya peningkatan suhu tubuh, frekuensi denyut nadi dan pernapasan, terdapat pembengkakan EO yang difuse, kelenjar limfe submandibularis membesar dan sakit pada palpasi. IO tampak mukosa perikorona membengkak, kemerahan, palpasi sakit dan bila ditekan keluar pus dari ruan potensial dibawah mukosa. Pericoronitis akut dapat menyebar ke infeksi fascial space di daerah ramus

mandibula(pterygomandibular space atau submasseteric space) atau ke daerah lateral dari leher (lateralpharyngeal space). Pencabutan merupakan kontraindikasi mengingat resiko terjadinya penyebaran infeksi. Antibiotik mutlak diperlukan, pilihan yang umum adalah golongan penisilin. Analgesik diberikan untuk mengurangi rasa sakit. Disamping perawatan umum tersebut, perlu dilakukan perawatan lokal yaitu : 1. Irigasi H2O2 2. Bila terdapat trauma dari gigi M RA dilakukan pemendekkan tonjol oklusal 3. Bila terbentuk abses, perlu dilakukan insisi pada absesnya. 4. Instruksi pada pasien untuk kumur-kumur larutan air garam hangat dengan frekuensi yang cukup sering. Tindakan ini cukup efektif untuk meredakan rasa sakit dan mempercepat resolusi dari keradangan yang terjadi.

Pericoronitis kronis Pericoronitis kronis ditandai dengan rasa kemeng yang timbulnya berkala. Tanda yang khas pasien mengeluhkan rasa tidak enak. Tidak ada gejala klinis dan cukup dilakukan perawatan lokal saja,antibiotik tidak diperlukan. M3 RB bisa dicabut setelah gejala klinis dari pericoroniti stelah hilang. Bila pencabutan dilakukan pada saat keradangan akut resiko cukup tinggi untuk terjadi komplikasi seperti : dry socket atau postoperative infection.