Anda di halaman 1dari 29

PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Mahaesa, atas segala
rahmat dan karunia-Nya, makalah yang berjudul “Skrining Fitokimia” ini dapat diselesaikan oleh
praktikan.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata praktikum Kimia Produk Alam pada
pokok bahasan Skrining Fitokimia.
Penyusunan makalah ini tak lepas dari bantuan dari beberapa pihak baik secara materiil atau pun
immaterial. Oleh karena itu, pada kesempatan ini praktikan mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Andayana Puspitasari, M.Si., Apt., selaku koordinator praktikum Kimia Produk Alam
2. Ibu Dra. Sri Mulyani, SU.,Apt., selaku dosen pembimbing praktikum Kimia Produk
Alam FSI golongan III
3. Segenap karyawan dan laboran laboratorium Kimia Produk Alam
4. Kakak – kakak asisten praktikum
5. Rekan-rekan dan pihal-pihak lain yang membantu dalam penyelesaian makalah ini
Praktikan menyadari bahwa makalah yang penulis susun ini belum sempurna. Oleh Karena
itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun.
Semoga makalah dengan judul “Skrining Fitokimia” ini dapat memberikan manfaat kepada para
pembaca khususnya dan kepada masyarakat sekitar pada umumnya.

Yogyakarta, 1 Mei 2009

Praktikan

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar..................................................................................................................... 1
Daftar isi.............................................................................................................................. 2
Bab I : Pendahuluan............................................................................................................. 3
Latar Belakang......................................................................................................... 3
Tinjauan pustaka...................................................................................................... 3
Bab II : Jalannya Percobaan................................................................................................ 8
Alat dan Bahan........................................................................................................ 8
Cara kerja................................................................................................................. 9
Data Percobaan........................................................................................................ 15
Bab III : Pembahasan .......................................................................................................... 18
Bab IV : Kesimpulan dan saran........................................................................................... 26
Daftar Pustaka...................................................................................................................... 27
Lampiran.............................................................................................................................. 28

2
BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Masyarakat Indonesia telah mengenal dan menggunakan obat tradisional sejak dulu kala
sebagai warisan nenek moyang. Obat tradisional ini, baik berupa jamu maupun tanaman obat
masih digunakan hingga saat ini, terutama oleh masyarakat menengah ke bawah. Penggunaan
obat tradisional bisa untuk beberapa macam tujuan, yaitu : preventif (pencegahan penyakit),
promotif (meningkatkan derajat kesehatan), dan kuratif (penyambuhan penyakit) (Anonim,
1983).
Terdapat berbagai macam tanaman obat yang dikenal saat ini, salah satunya adalah keji
beling. Ada 5 macam tumbuhan dari spesies yang berbeda yang memiliki nama keji beling, yaitu
: Hemigraphis colorata Hall, Ruella napifera Zoll et Mor, Strobilanthes cripus Bl atau
Serycocalyx crispus L., Clerodendron calamitosum L.. Tumbuhan-tumbhan tersebut banyak
digunakan sebagai diuretic (Seno,1967)
Tanaman Strobilanthes cripus Bl atau Serycocalyx crispus L. di masyarakat dikenal sebagai
diuretic. Namun belum diketahui secara pasti dan terperinci kandungan kimia dari tanaman
tersebut. Belum diketahui pula senyawa mana yang memberikan efek farmakologis sebagai
diuretic karena selama ini penggunaan keji beling sebagai obat tradisional berdasarkan
pengalaman turun menurun dalam masyarakat Indonesia. Untuk itu pada praktikum ini dilakukan
penelitian kandungan kimia yang ada di dalam tanaman Strobilanthes cripus Bl atau Serycocalyx
crispus L..

TINJAUAN PUSTAKA

Spesifikasi tanaman
Nama tanaman : Strobilanthes crispus BL.
Sinonim : Sericocalyx crispus L
Klasifikasi : Divisi :
Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Solanales
Suku : Acanthaceae
Marga : Strobilanthes

3
Jenis : Strobilanthes crispus L.
Nama umum/dagang : Keji Beling
Nama daerah : Daun pecah baling (Jakarta), Daun keji beling (Jawa Tengah)
Deskripsi :
Habitus : Semak, tinggi 1-2 m.
Batang : Beruas, bentuk bulat, berbulu kasar, percabangan monopodial, hijau
Daun : tunggal, berhadapan, lanset atau lonjong, tepi beringgil, ujung
meruncing, pangkal runcing, panjang 9-18cm, lebar 3-8cm,bertangkai
pendek, pertulangan menyirip, hijau.
Bunga : Majemuk, bentuk bulir, mahkota bentuk corong, berambut, ungu,
benang sari empat, putih, kuning.
Buah : Bulat, coklat.
Biji : Bulat, kecil, pipih, coklat,
Akar : Tunggang, coklat muda.
Khaslat : Daun Strobilanthes crispus berkhasiat sebagai peluruh air seni. Untuk
peluruh air seni dipakai ± 25 gram daun segar Strobiianthes crispus,
direbus dengan 2 gelas air selama 15 menit, setelah dingin disaring.
Hasil saringan diminum sekaligus
Kandungan kimia : Daun Strobilanthes crispus mengandung alkaloida, saponin, flavonoida
dan polilfenol.

Identifikasi kandungan kimia tanaman obat


Penelitian mengenai bahan alam hayati terutama terutama dalam hal untuk menemukan
senya yang memiliki bioaktivitas atau efek farmakologi dikenal dua pendekatan yaitu
pendekatan fitofarmakologi dan pendekatan skrining fitokimia (Fransworth, 1966).
Pendekatan fitofarmakologi meliputi uji berbagai efek farmakologi terhadap hewanpercobaan
dengan ekstrak tumbuhan atau bagian tumbuhan. Misalnya efek farmakologi terhadap susunan
syaraf pusat, terhadap organ tertentu dan sebagainya. Percobaan farmakologi dapat dilakukan
baik secara in vivo, dan/atau in vitro. Adapun aktivitas yang diujikan antara lain antineoplastik,
antiviral, antimikrobial, antimalarial, insektisida, hipoglikemik, kardiotonik, estrogenic atau
androgenik dan sebagainya.
Pendekatan skrining fitokimia meliputi analisis kualiatif kandungan kimia dalam
tumbuhan atau bagian tumbuhan (akar, batang, daun, bunga, buah, biji), terutama kandungan
metabolit sekunder yang bioaktif, yaitu alkaloid, antrakinon, flavonoid, glikosida jantung,
kumarin, saponin (steroid dan triterpenoid), tannin (polifenolat), minyak atsiri (terpenoid),
iridoid, dan sebagainya. Adapun tujuan utama dari pendekatan skrining fitokimia adala untuk

4
mensurvai tumbuhan untuk mendapatkan kandungan bioaktif atau kandungan yang berguna
untuk pengobatan.
Metode yang digunakan untuk melakukan skrining fitokimia harus memenuhi beberapa
persyaratan antara lain (a) sederhana, (b) cepat, (c) dirancang untuk peralatan minimal, (d)
bersifat selektif untuk golongan senyawa yang dipelajari, (e) bersifat semikuantitatif sebegitu
jauh dapat diketahui batas terendah dari golongan senyawa yang dipelajari, (f) dapat
memberikan keterangan tambahan ada/tidaknya senyawa tertentu dari golongan senyawa yang
dipelajari. Adapun hingga saat ini prosedur yang banyak dipublikasikan memenuhi criteria (a)
sampai dengan (d) dan sangat sedikit memenuhi kriteria (e) sampai dengan (f) (Fransworth,
1966).
Analisis kualitatif untuk mengetahui golongann senyawa bioaktif tersebut dapat
dilakukan dengan metode uji tabung dan/atau uji kualitatif secara KLT. Kedua metode tersebut
dapat digabungkan dan dapat dilakukan untuk survai tumbuhan di lapangan.

Uraian senyawa yang diteliti

Steroid/Triterpenoid
Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isoprene
dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik yaitu skualen. Senyawa ini
berstruktur siklik yang nisbi rumit, kebanyakan berupa alcohol, aldehid atau asam karboksilat.
Uji yang banyak digunakan adalah reaksi Lieberman-Buchard (anhidrida asetat-H2SO4 pekat)
yang dengan kebanyakan triterpen dan sterol memberikan warna hijau-biru (Harborne, 1987).
Sterol atau steroid adalah triterpenoid yang kerangka dasarnya cincin siklopentana
perhidrofenantren. Senyawa sterol pada tumbuhan disebut dengan fitosterol, yang umum
terdapat pada tumbuhan tinggi adalah sitosterol, stigmasterol dan kampesterol (Harborne, 1987).

Fenolik, fenil propanoid


Senyawa fenolik meliputi bermacam senyawa yang memiliki cirri yaitu berupa senyawa
aromatis. Beberapa enyawa yang termasuk dalam golongan fenolik antara lain fenol sederhana,
lignin, antrakinon, flavonoid, tannin danfenil propanoid. Fenol sederhana memiliki kelarutan
yang terbatas dalam air dan bersifat asam. Identifikasi senyawa fenol secara umum dapat
menggunakan FeCl3, di mana akan dihasilkan larutan berwarna merah, violet atau merah-ungu.

Flavonoid
Flavonoid merupakan senyawa yang larut air, dapat diekstraksi dengan etanol 70% dan
tetap ada dalam lapisan air, setelah ekstrak ini dikocok dengan eter minyak bumi. Flavonoid

5
berupa senyawa fenol, oleh karena itu warnanya berubah bila ditambah basa atau ammonia.
Flavonoid mengandung sistem aromatic yang terkonjugasi sehingga akan menunjukkan pita
serapan yang kuat pada sinar UV dan sinar tampak (Harborne, 1987). Pada analisis dengan KLT
dan penampakkan dengan pereaksi AlCl3, flavonoid akan tampak berupa bercak berwarna
kuning dan tergantung strukturnya, flavonoid akan berfluoresensi kuning, biru, atau hijau di
bawah UV 365nm.
Tannin
Tanin merupakan senyawa polifenol yang berarti termasuk dalam senyawa fenolik. Tanin
dapat bereaksi dengan protein membentuk kopolimer mantap yang tak larut dalam air. Terdapat
2 jenis utama tannin yaitu tannin terkondensasi, tersebar pada paku-pakuan, angiospermae dan
gymnospermae, dan tannin terhidrolisis, terdapat pada tumbuhan berkeping dua. Tanin dapat
dideteksi dengan sinar UV pendek berupa bercak lembayung yang bereaksi positif dengan setiap
pereaksi fenol baku. Elagitanin (tannin terhidrolisis) bereaksi khas dengan asam nitrit (NaNO2
ditambah dengan asam asetat) membentuk warna merah cerah yang kian lama berubah menjadi
biru indigo (Harborne, 1987).

Saponin
Saponin atau glikosida sapogenin adalah salah satu tipe glikosida yang
tersebar luas dalam tanaman. Tiap saponin terdiri dari sapogenin yang terdiri dari sapogenin
yang merupakan molekul aglikon dan sebuah gula. Saponin merupakan senyawa yang
menimbulkan busa jika dikocok dalam air dan pada konsentrasi yang rendah sering
menyebabkan hemolisis sel darah merah, sering digunakan sebagai detergen (Clauss dkk, 1970).
saponin dapat digunakan untuk meningkatkan diuretika serta merangsang kerja ginjal. Saponin
dapat menyebabkan iritasi pada selaput lendir, bersifat toksik pada binatang berdarah dingin
seperti ikan (Claus dkk., 1970). Pada analisis dengan metode KLT, saponin tidak terdeteksi tanpa
pereaksi semprot di bawah sinar UV 254 nm atau 365 nm. Saponin dapat terdeteksi dengan
pereaksi semprot vanillin asam sulfat dan tampak berupa bercak berwarna biru atau biru ungu
atau terkadang berupa bercak kuning (Wagner dkk., 1984)

Kumarin
Kumarin dan asam fenolat biasanya dideteksi setelah bahan tumbuhan dihidrolisis dalam
suasana asam klorida 2N dan disari dengan etil asetat sehingga semua aglikon tersari dalam etil
asetat. Selain itu kumr]atin dapat dideteksi dari tumbuhan dalam suasana basa atau hidroksida
yang akan membentuk kumarinat larut dalam air dan pada penambahan asam ke dalam larutan
tersebut akan terbentuk kumarin yang dapat disari dengan pelarut organic (kloroform).
Pada identifikasi kumarin yang terdapat dalam sari klorofoorm dan sari etil asetat hasil hidrolisis
dengan menggunakan KLT terlihat

6
Kumarin adalah turunan benz-alfa-piron ditemukan tersebar luas dalam tumbuhan.
Aktifitas biologi yang dimiliki oleh snyawa kumarin adalah antibakteri analgesik (fransworth,
1966). Jika kumarin dibuat alkalis cincin lakton akan terbuka membentuk anion asam kumarinat
dengan adanya sinar UV mengalami isomerosasi menjadi bentuk trans yaitu anion asam-o-
kumarat sehingga untuk deteksi setelah kromatogram disemprot dengan lar alkali, bercak anion
as.o kumarat segera terlihat di bawah sinar UV (Machek, 1972)

7
BAB II
JALANNYA PERCOBAAN

ALAT DAN BAHAN


ALAT
- Cawan porselen
- Drupelplat
- Tabung reaksi
- Penangas air
- Gelas ukur
- Labu Erlenmeyer
- Pipet tetes
- Corong biasa
- Kapas
- Tabung refluks
- Gelas pengaduk
- Botol kecil
- Corong pisah
- Plastik dan karet
- Kompor
- Penjepit kayu
- Flakon
- Pipa kapiler
- Bejana KLT dan penutupnya
- Indikator pH universal

BAHAN
- Serbuk Simplisia daun kejibeling
- Plat KLT Sliika Gel F 254
- Penyari petroleum eter, eter, etanol-air
- Aquades
- KOH 0,5 N
- Anhidrida asam asetat P
- Kloroform P
- Asam sulfat pekat
- Larutan SbCl3 dalam kloroform P
- HCl 2 %
- Pereaksi Dragendorf

8
- Pereaksi Mayer
- Larutan Feri Klorida
- Campuran kalium heksasianoferat(III) dan larutan besi (III) klorida
- Air panas
- Amonia encer
- Amonia 25%
- NaOH 10%
- HCl 10%
- NaCl
- HCl 10% LP
- Natrium sulfat anhidrat
- Pereaksi Molisch
- Lugol LP

Bahan untuk KLT :


- KLT Alkaloid
Fase gerak = Toluen:etilasetat:dietilamin=7:2:1
Pembanding: kinin
Deteksi : Dragendorf dilanjutkan dengan natrium nitrit
- KLT Kumarin
Fase gerak : Dietileter-toluen(1;1) dijenuhkan dengan asam asetat 10%
Pembanding : kumarin
Deteksi : KOH 5% etanolik
- KLT Saponin
Fase gerak : Kloroform-metanol-air = 64:50:10
Pembanding : Stigmasterol
Deteksi : Anisaldehid asam sulfat dipanaskan 100oC
- KLT minyak atsiri
Fase gerak : Heksana-etilasetat = 7:3
Cara Kerja
1. Uji Tabung
a) Sari dalam petroleum eter
20 gram serbuk simplisisa disari dengan petroleum eter (sampai serbuk
terendam), dikocok berkali-kali hingga larutan penyari jernih, sari petroleum
eter dipekatkan hingga kira-kira sampai 10 mL, sisihkan sebanyak 1 mL untuk
uji KLT.
1). Steroid dan triterpenoid

9
8 mL sari petroleum eter diupkan sampai kering, ditambahkan 5 mL KOH
0,5 N dalam ethanol, direfluks dalam penangas air, panaskan dalam suhu
80° C diatas penangas air, sisa dilarutkan kembali dalam air panas,
dinginkan, sari dengan eter dengan corong pisah berkali-kali setiap kali
dengan 10 mL eter. Sari eter dipisahkan kurang lebih 5mL sari eter
diuapkan sampai kering, sisa dilarutkan dalam 0.5mL anhidrida asam
asetat P, ditambah 0.5mL kloroform P, tuangkan larutan dalam tabung
reaksi, teteskan asam sulfat pekat terjadi cincin coklat kemerahan atau
ungu, ada steroid
2). Karotenoid
lebih kurang 5mL sari eter pada uji nomor 1 diuapkan sampai kering
ditambah 2 – 3 tetes larutan jenuh SbCl3 dalam kloroform P, warna mula
mula biru kemudian menjadi merah, maka terdapat kandungan karotenoid
b) Sari dalam eter
Serbuk sisa penyarian dengan PE disari kembali dengan eter P dikocok
dengan berkali-kali, sehingga hasil diuapkan sampai tidak meninggalkan sisa,
sari dalam eter dipekatkan sampai 30 mL sisihkan sebanyak 5 mL untuk KLT
1) Uji alkaloid
Lebih kurang 10 mL eter diuapkan, sisa dilarutkan dalam 1.5 HCL 2%,
dibagi menjadi 3 tabung reaksi, tabung 1 sebagai pembanding, tabung 2
direaksikan dengan 3-4 tetes pereaksi drgendorf, tabung 3 direaksikan
dengan pereaksi meyer, adanya endapan menunjukkan adanya kandungan
alkaloid,
2) Senyawa Fenolik
Lebih kurang 1 mL eter diuapkan, ditetesi larutan FeCl3 warna hijau, ungu,
biru, sampai hitam menunjukkan adanya senyaw fenolik terutama fenolik
bebas
a. Fenol-fenol
Lebih kurang 1 ml sari eter diuapkan, ditetesi denagan campuran
kalium heksasianoferat (III) dan larutan besi (III) clorida, warna biru
sampai hitam menunjukkan adanya fenol-fenol.
b. Fenil propanoid
Lebih kurang 3 mL sari dalam eter diuapkan, sisa dilarutkan dalam air
panas, dinginkan, larutan dibagi dalam dua tabung reksi, tabung 1 untuk
pembanding, tabung 2 diberi amoniak encer hingga alkalis, bila terjadi
fluorosensi biru atau hijau dibawah sinar UV menunjukkan adanya
kumarin atau derivatnya
c. Antrakuinon

10
Lebih kurang 3mL sari eter dituang dalam tabung reaksi, ditambah 1mL
amonia 25% atau NaOH 10%, kocok larutan berubah menjadi warna
merah menunjukkan adanya antrakuinon
c) sari dalam etanol air
Sisa serbuk penyarian dengan eter disari dengan campuran etanol 70% hingga
pelarut hampir jernih, sari dipekatkan menjadi 40mL sisihkan 5mL , pekatkan
digunakan sebagai larutan percobaan KLT
1) Garam Alkaloid
Lebih kurang 10mL sari etanol air diuapkan, sisa ditambah HCL 10%
sambil dipanaskan dan diaduk, larutan dibagi menjadi 2 :
a) Larutan tabung 1 ditambah amoniak encer hingga pH 8-9, sari

dengan kloroform, sari diuapkan sampai kering sisa dilarutkan


dalam HCL 2%, sisihkan 0.5 mL untuk KLT alkaloid, sisa
larutan dibagi 3 bagian, tabung a sebagai pembanding tabung
b direaksikan dengan meyer, tabung c direaksikan dengan
dragendorf, adanya alkaloid ditunjukkan dengan timbulnya
endapan
b) larutan asam pada tabung 2 ditambah sedikit NaCl padat
diaduk, disaring, kertas saring dicuci dengan HCL 10% LP,
sisihkan 0.5 ml untuk KLT, sisa larutan diuji dengan meyer atau
dragendorf, adanya kekeruhan menunjukkan basa kuarterner atau
amina teroksidasi.

2) Antosian
Jika sari dalam etanol air bereaksi asam maka warna larutan merah, jika
pH netral berwarna ungu, susana alkalis membuat warna larutan menjadi
biru, perubahan itu menunjukkan adanya antosian
3) Glikosida
Lebih kurang 20mL sari dalam etanol air ditambah 15 mL HCL 10% LP,
refluks selam 30 menit dinginkan, larutan disari 3 x masing masing
dengan 8mL eter P dalam corong pisah, lapisan eter dipisahkan ditambah
dengan NaSO4 anhidrat, sisihkan sebagian untuk KLT, sisa sari eter
digunakan untuk uji aglikon setroid , triterpenoid , kumarin ( seperti pada
sari eter), fase air asam dinetralakan, gunakan untuk uji gula dengan reaksi
molisch
4) Saponin
Lebih kurang 2mL sari etanol air diuapkan hingga separuhnya, sisa
diencerkan dengan air sama banyak kocok selam 15 menit, terbentuk buih

11
stabil menunjukkan adanya saponin, dapat pula ditunjukkan dengan reaksi
Lieberman-bouchardat yang didasarkan atas reaksi terhadap aglikon
triterpenoid atau steroid penyusunnya
5) Tanin
Lebih kurang 1 mL sari etanol air diencerkan dengan 2mL air, ditambah
FeCl3 P, warna biru, hijau, kehitaman menunjukkan adanya tanin.

6) Karbohidrat
a) Lebih kurang 2mL sari etanol air diuapkan hingga hampir kering
diberi pereaksi molisch, tambahkan 2-3 tetes asam sulfat pekat melalui
dinding, warna merah ungu menunjukkan adanya karbohidrat
b) Lebih kurang 1mL sari dienap tuangkan dan diencerkan, tambah
lugol LP, warna biru menunjukkan pati

2. Uji Kualitatif Secara KLT


A. Penyediaan larutan percobaan
1. Alkaloid
a. uapkan 2 mL sari eter, basahi dengan sedikit
HCL dan metanol
b. ambil sedikit larutan untuk identifikasi garam
alkaloid dan garam alkaloid basa kuaterner pada sari etanol air
2. Antra Glikosida, flavonoid dan kumarin
Gunakan sari eter yang telah dipekatkan
3. Saponin dan Tanin
Gunakan sari etanol air yang telah dipekatkan
4. Minyak Atsiri
Gunakan sari petroleum eter yang telah dipekatkan
5. Glikosida Jantung
Gunakan sari eter hasil hidrolisis sari etanol air yang digunakan untuk uji
glikosida, pekatkan larutan
B. Lempeng KLT
Lempeng yang digunakan adalah Silika Gel F254
C. Fase gerak
Gunakan fase gerak yang sesuai
D. Pereaksi penampak atau cara deteksi
Gunakan pereaksi penampak bercak yang sesuai

12
Tanin dan senyawa fenolik lain
Fase Diam Silika Gel F254
Fase Gerak Etil asetat : Metanol : Air ( 100 : 13,5 : 10 )
Sampel Daun Beluntas
Deteksi FeCl3
Pembanding Asam galat
Dibawah sinar tampak senyawa fenolik akan
Keterangan
berwarna hijau hingga biru kehitaman

Alkaloid
Fase Diam Silika Gel F254
Toluene : Etilasetat : dietilamina ( 7 :
Fase Gerak 2 : 1)
Sampel Daun Beluntas
Deteksi Dragendorff dilanjutkan natrium nitrit
Pembanding Kinina
Bercak berwarna jingga sampai merah
Keterangan tua
Dibawah sinar tampak

Glikosida Jantung
Fase Diam Silika Gel F254
Etilasetat : metanol : air ( 100 : 13,5 :
Fase Gerak 10)
Sampel Daun Beluntas
Deteksi SbCl3
Pembanding Digitoksin
Keterangan Dibawah sinar tampak

Kumarin
Fase Diam Silika Gel F254
Dietileter : Toluen (1 : 1) dijenuhkan dengan asam asetat
Fase Gerak 10%
Sampel Daun Beluntas
Deteksi KOH 5% etanolik
Pembanding Kumarin standar
Keterangan biru muda atau sawo matang

Saponin
Fase Diam Silika Gel F254
Fase Gerak Kloroform : Metanol : Air ( 64 : 50 : 10)
Sampel Daun Beluntas
Anisaldehida asam sulfat, dipanaskan
Deteksi 100oC
Pembanding Stigmasterol (steroid)
bercak berwarna biru dibawah sinar
Keterangan
tampak

Antrakinon
13
Fase Diam Silika Gel F254
Fase Gerak Etilasetat : metanol : air
Sampel Daun Beluntas
Deteksi KOH 5% etanolik
Pembanding Istizin
Bercak dibawah sinar tampak berwarna merah
Keterangan
menunjukkan adanya antrakinon

Flavonoid
Fase Diam Silika Gel F254
Etilasetat : asam format :
Fase Gerak as.asetatglasial : air
Sampel Daun Beluntas
Deteksi AlCl3
Pembanding Rutin
Di bawah UV 365 berpendar kuning
Keterangan intensif
hijau atau jingga

DATA HASIL PERCOBAAN


1. Uji Tabung
a. Sari Petroleum Eter
Uji Hasil
Steroid dan Triterpenoid Terjadi cincin merah coklat di perbatasan fase
(positif)
Karotenoid Warna hijau bening (negatif)
b. Sari Eter
Uji Hasil
Alkaloid i. Dragendorf
Endapan jingga kecoklatan (positif)
ii. Mayer
Endapan putih kekuningan (positif)
Kumarin-turunan fenil Terjadi Pemendaran (positif)
propanoid
Antrakinon Terjadi merah keruh (positif)
Fenolik terutama fenol Terjadi warna biru gelap (positif)
bebas
Fenol Terjadi warna biru gelap (positif)
14
c. Sari Etanol- Air
Uji Hasil
Alkaloid i. Alkaloid
Dragendorf : terjadi endapan kecoklatan (positif)
Mayer : terjadi endapan kuning (positif)
ii. Alkaloid kuartener atau amina teroksidasi
Dragendorf : tidak terjadi endapan (negatif)
Mayer : tidak terjadi endapan (negatif)
Antosian Tidak terjadi perubahan warna (negatif)
Glikosida i. Gugus gula glikosida
Tidak terbentuk cincin merah keunguan

ii. Steroid
Terbentuk cincin merah (positif)
iii. Triterpenoid
Terbentuk cincin merah (positif)
iv. Kumarin
Tidak terjadi Pemendaran (negatif)
v. Flavonoid
Tidak terjadi warna merah muda (negatif)
Saponin Terjadi buih yang stabil setelah 30 menit (positif)
Tanin Tidak muncul warna biru hijau kehitaman (negatif)
Karbohidrat i. Pati
Tidak terjadi warna ungu kehitaman (negatif)
ii. Karbohidrat
Tidak terjadi cincin merah (negatif)

Data KLT

Alkaloid
Sebelum disemprot Setelah disemprot
Totolan Rf UV UV
UV 254 Tampak Tampak
366 366
Fase eter 0,25 Bercak hijau - - - Bercak hijau
0,275
0,2875
0,5125
0,5625
0,6375

15
0,75
Kinin 0,25 Bercak hijau - - - Orange
Fase air- 0,6375 - - - - Hijau
etanol 0,8875
0,95

Kumarin
Sebelum disemprot Setelah disemprot
Totolan Rf UV UV
UV 254 Tampak Tampak
366 366
Fase eter 0,1625 Hijau - - - Hijau
0,3125
0,3375
0,5625
0,9375
0,9625
Kumarin 0,9375 Ungu - - - -

Saponin
Sebelum disemprot Setelah disemprot
Totolan Rf UV
UV 254 Tampak UV 366 Tampak
366
Fase PE 0,9625 Pemadaman Kuning - Kuning Ungu abu-
abu
Stigmastero 0,9625 Pemadaman - - Kuning Ungu abu-
l abu
Fase air- 0,9625 Pemadaman Hijau pudar - Kuning Ungu abu-
etanol abu

Minyak atsiri
Sebelum disemprot Setelah disemprot
Totolan Rf UV UV
UV 254 Tampak Tampak
366 366
Fase PE 0,4375 Pemadaman - - - Abu-abu
Timol 0,6975 Pemadaman - - - Ungu abu-abu

16
BAB III
PEMBAHASAN

Praktikum ini bertujuan agar sebelum dilakukan praktikum ini praktikum wajib memahami
berbagai golongan senyawa yang terdapat dalam tumbuhan, terutama yang disebut metabolit
sekunder.
Setelah melakukan praktikum ini, dengan menggunakan metode tabung dan metode KLT
mahasiswa mampu mengidentifikasi :
a. Senyawa golongan flavonoid
b. Senyawa golongan antrakinon
c. Senyawa golongan saponin(steroid dan triterpenoid)
d. Senyawa golongan alkaloid
e. Senyawa golongan fenolik dan polifenolik
Langkah pertama yang dilakukan dalam praktikum ini adalah menyari serbuk simplisia
daun Strobilanthus crispus (kejibeling) dengan petroleum eter hingga jernih, kemudian sisa
serbuk dikeringkan untuk selanjutnya disari dengan eter. Sisa serbuk penyarian eter dikeringkan
dan disari kembali menggunakan etanol. Selanjutnya dilakukan uji tabung terhadap setiap fraksi
yang didapatkan yaitu fraksi petroleum eter, fraksi eter, dan fraksi etanol-air.
1. Uji Ekstrak Simplisia dalam Penyari Petroleum Eter
Sari ini mengandung zat-zat kimia yang larut dalam minyak, misalnya minyak atsiri, lemak
dan asam lemak tinggi, steroid dan triterpenoid dan karotenoid.
a. Uji Steroid dan Triterpenoid
Uji tabung dilakukan dengan pereaksi Lieberman-Burchard. 8 mL sari petroleum eter
diupkan sampai kering lalu ditambahkan 5 mL KOH 0,5 N dalam ethanol refluks dalam
penangas air, panaskan dalam suhu 80° C diatas penangas air, sisa dilarutkan kembali
dalam air panas, kemudian didinginkan, sari dengan eter dengan corong pisah berkali-
kali setiap kali dengan 10 mL eter. Sari eter dipisahkan kurang lebih 5mL sari eter
diuapkan sampai kering, sisa dilarutkan dalam 0.5mL anhidrida asam asetat P, ditambah
0.5mL kloroform P, tuangkan larutan dalam tabung reaksi, teteskan asam sulfat pekat,
jika terjadi cincin coklat kemerahan atau ungu maka sampel mengandung steroid.

17
Dari hasil percobaan terbentuk cincin warna kemerahan, sehingga dapat disimpulkan
bahwa sampel mengandung steroid atau triterpenoid.
b. Karotenoid
Lebih kurang 5 mL sari eter pada uji butir (a) diuapkan sampai kering ditambah 2 – 3
tetes larutan jenuh SbCl3 dalam kloroform P, warna mula-mula biru kemudian menjadi
merah ada jika mengandung karotenoid.
Dari hasil percobaan, warna larutan tetap berwarna hijau bening, hal ini menunjukkan
bahwa sampel tidak mengandung karotenoid.
2. Uji Ekstrak Simplisia dalam penyari Eter
Sari ini mengandung senyawa alkaloid, senyawa-senyawa fenolik, komponen minyak atsiri
tertentu dan asam lemak
a. Uji alkaloida
Lebih kurang 10 mL eter diuapkan, sisa dilarutkan dalam 1.5 HCL 2%, dibagi menjadi 3
tabung reaksi, tabung 1 sebagai pembanding, tabung 2 direaksikan dengan 3-4 tetes
pereaksi dragendorf , tabung 3 direaksikan dengan pereaksi meyer. Adanya endapan
menunjukkan adanya kandungan alkaloid.
Dari hasil percobaan terbentuk endapan jingga kecoklatan pada pereaksi Dragendorf dan
terbentuk endapan putih kekuningan pada pereaksi Meyer. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa sampel mengandung alkaloid.
b. Uji senyawa fenolik
Lebih kurang 1 mL eter diuapkan  ditetesi larutan FeCl3 warna hijau, ungu, biru,
sampai hitam menunjukkan adanya senyawa fenolik terutama fenolik bebas.
Dari hasil percobaan didapat warna kebiruan, sehingga dapat dikatakan sampel
mengandung senyawa fenolik.
i. Fenol-fenol
Lebih kurang 1 ml sari eter diuapkan, ditetesi denagan campuran kalium
heksasianoferat (III) dan larutan besi (III) clorida, warna biru sampai hitam
menunjukkan adanya fenol-fenol.
Dari hasil percobaan didapat warna kebiruan, sehingga dapat dikatakan sampel
mengandung senyawa fenolik.
ii. Kumarin-Turunan Fenil Propanoid
Lebih kurang 3 mL sari dalam eter diuapkan, sisa dilarutkan dalam air panas,
dinginkan. Larutan dibagi dalam dua tabung reksi, tabung 1 untuk pembanding,
tabung 2 diberi amoniak encer hingga alkalis, bila terjadi fluorosensi biru atau hijau
dibawah sinar UV menunjukkan adanya kumarin atau derivatnya.
Dari hasil percobaan didapat flouresensi kehijauan sehingga dapat disimpulkan bahwa
sampel mengandung senyawa kumarin turunan fenil propanoid.
iii. Antrakuinon

18
Lebih kurang 3mL sari eter dituang dalam tabung reaksi, ditambah 1mL amonia 25%
atau NaOH 10%, kocok larutan. Jika larutan berubah menjadi warna merah
menunjukkan adanya antrakuinon.
Dari hasil percobaan tidak berubah menjadi kemerahan, sehingga dapat disimpulkan
sampel tidak mengandung senyawa antrakuinon.
3. Uji ekstrak simplisia dalam penyari etanol-air
Sari ini mengandung garam alkaloid, alkaloid basa kuartener dan amina teroksidasi,
Antosian, Glikosida, Saponin, Tanin dan Karbohidrat.
a. Garam Alkaloid
Lebih kurang 10mL sari etanol air diuapkan  sisa ditambah HCL 10% sambil
dipanaskan dan diaduk  larutan dibagi menjadi 2 :
i. Alkaloid
Larutan tabung 1 ditambah amoniak encer hingga pH 8-9, sari dengan kloroform, sari
diuapkan sampai kering, sisa dilarutkan dalam HCL 2%, sisa larutan dibagi 3 bagian,
tabung a sebagai pembanding, tabung b direaksikan dengan meyer, tabung c
direaksikan dengan dragendorf, adanya alkaloid ditunjukkan dengan timbulnya
endapan.
Dari hasil percobaan terbentuk endapan jingga kecoklatan pada pereaksi Dragendorf
dan terbentuk endapan putih kekuningan pada pereaksi Meyer. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa sampel mengandung alkaloid.
ii. Alkaloid basa kuartener dan amina teroksidasi
Larutan asam pada tabung 2 ditambah sedikit NaCl padat, diaduk kemudian disaring,
kertas saring dicuci dengan HCL 10% LP, larutan diuji dengan meyer atau
dragendorf, adanya kekeruhan menunjukkan basa kuarterner atau amina teroksidasi.
Dari hasil percobaan tidak terbentuk endapan jingga kecoklatan maupun kekeruhan
pada pereaksi Dragendorf dan tidak terbentuk endapan putih kekuningan maupun
kekeruhan pada pereaksi Meyer. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel tidak
mengandung alkaloid.
b. Antosian
Jika sari dalam etanol air bereaksi asam maka warna larutan merah, jika pH netral
berwarna ungu, susana alkalis membuat warna larutan menjadi biru, perubahan itu
menunjukkan adanya antosian.
Dari hasil percobaan tidak didapat warna biru pada suasana alkalis sehingga dapat
disimpulkan bahwa sampel tidak mengandung antosian.
c. Glikosida
Lebih kurang 20mL sari dalam etanol air ditambah 15 mL HCL 10% LP, refluks selam
30 menit dinginkan, larutan disari 3 x masing masing dengan 8 mL eter P dalam corong
pisah, lapisan eter dipisahkan ditambah dengan NaSO4 anhidrat, sisihkan sebagian untuk

19
KLT, sisa sari eter digunakan untuk uji aglikon steroid, triterpenoid , kumarin ( seperti
pada sari eter), fase air asam dinetralakan, gunakan untuk uji gula dengan reaksi molisch.
Dari hasil uji molisch didapat hasil negatif dengan tidak adanya cincin warna ungu yang
menunjukkan adanya gula yang merupakan glikon. Sementara dari uji aglikon diperoleh
hasil positif pada aglikon Steroid dan triterpenoid. Sehingga dapat disimpulkan sampel
mengandung senyawa glikosida.
d. Saponin
Lebih kurang 2mL sari etanol air diuapkan hingga separuhnya, sisa diencerkan dengan air
sama banyak kocok selama 15 menit, terbentuk buih stabil setelah didiamkan selama 30
menit menunjukkan adanya saponin, dapat pula ditunjukkan dengan reaksi Lieberman-
bouchardat yang didasarkan atas reaksi terhadap aglikon triterpenoid atau steroid
penyusunnya.
Dari hasil percobaan didapat buih yang stabil setelah 30 menit, selain itu didapat adanya
cincin kemerahan pada perbatasan cairan setelah direaksikan dengan pereaksi Lieberman-
bouchardat, hal ini menunjukkan sampel mengandung senyawa saponin.
e. Tanin
Lebih kurang 1 mL sari etanol air diencerkan dengan 2mL air, ditambah FeCl3 P warna
biru, hijau, kehitaman menunjukkan adanya tanin.
Dari hasil percobaan tidak diperoleh adanya perubahan warna, hal ini menunjukkan
sampel tidak mengandung senyawa tanin.
f. Karbohidrat
i. Karbohidrat
Lebih kurang 2mL sari etanol air diuapkan hingga hampir kering diberi pereaksi
molisch, tambahkan 2-3 tetes asam sulfat pekat melalui dinding, warna merah ungu
menunjukkan adanya karbohidrat.
Dari hasil percobaan tidak timbul warna merah ungu, hal ini menunjukkan sampel
tidak mengandung senyawa karbohidrat.
ii. Pati
Lebih kurang 1mL sari dienap tuangkan dan diencerkan, tambah lugol LP, warna biru
menunjukkan pati.
Dari hasil percobaan tidak didapat warna biru, hal ini menunjukkan tidak ada
kandungan pati pada ekstrak yang diperiksa.

Dari hasil skrinig fitokimia yang telah dilakukan melalui uji tabung dibandingkan dengan
kandungan Strobilantus crispus secara teoritis dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Kandungan Kimia Teoritis Hasil Uji Tabung
Steroid dan triterpenoid + +
Karotenoid - -
Alkaloid + +

20
Senyawa Fenolik + +
Fenol-Fenol + +
Kumarin-turunan Fenil
+ +
Propanoid
Alkaloid Kuartener - -
Amina Teroksidasi - -
Antosian - -
Saponin + +
Glikosida
a. Gu - -
la - +
b. Ag - +
likon Steroid - -
c. Ag - -
likon Triterpenoid
d. Ag
likon Kumarin
e. Ag
likon Flavonoid
Tanin - -
Karbohidrat - -
Pati - -

Dari tabel di atas, didapat data yang tidak jauh berbeda antara kandungan teoritis daun
Kejibeling (Strobilantus crispus) dengan kandungan hasil skrining. Hanya ada sedikit
penyimpangan pada hasil tes glikosida dimana menunjukkan reaksi positif pada aglikon steroid
dan triterpenoid. Hal ini dapat terjadi karena adanya positif palsu akibat adanya kandungan
senyawa steroid dan triterpenoid nonglikosidik yang ikut tersari dalam penyari etanol air. Namun
secara umum hasil tes glikosida berdasar hasil skrining tetap bernilai negatif. Karena hasil uji
gula yang merupakan glikon dari glikosida memberi hasil negatif sehingga dapat dikatakan dari
hasil tes skrining uji tabung menunjukkan hasil negatif untuk glikosida.

UJI Kromatografi Lapis Tipis (KLT)


Untuk memastikan informasi yang didapat dari uji tabung, maka dilakukan uji KLT. Penyediaan
larutan zat yang diperiksa dilakukan dengan memakai 3 macam penyari yang berbeda
kepolarannya. Yang pertama, serbuk simplisia disari dengan petroleum eter yang bersifat
nonpolar sehingga akan melarutkan senyawa-senyawa nonpolar seperti klorofil, asam lemak,
steroid, triterpenoid.. Keberadaan klorofil dalam simplisia ini jika tidak dipisahkan dulu
dikhawatirkan akan mengganggu pada saat proses elusi, dimana bercak senyawa metabolit akan
tertutup klorofil dalam jumlah banyak. Dari penyarian pertama ini didapatkan fraksi petroleum
eter. Sisa serbuk basah hasil penyarian pertama, dikeringkan agar sisa petroleum eternya hilang,

21
lalu disari dengan eter. Dari deret eluotropi, dapat diketahui urutan kepolaran dari pelarut, eter
lebih polar dibandingkan petroleum eter (hidrokarbon). Dari penyarian kedua ini didapatkan
fraksi eter. Sisa ampas diuapkan menjadi serbuk kembali, ampas penyarian ini kemudian disari
lagi dengan etanol-air, sehingga didapatkan fraksi etanol-air. Dan sisa serbuk atau ampas
dibuang. Plat KLT yang digunakan adalah plat silika gel F 254.

1. Fraksi Petroleum eter


Filtrat Petroleum eter didapatkan dengan cara menyari 25 gram serbuk simplisia dengan
petroleum eter dengan pengocokan hingga larutan penyari jernih. Kemudian sari dipekatkan
sampai kira 10 ml, kemudian digunakan 1 ml dari hasil penguapan tersebut untuk uji KLT.
Fraksi petroleum eter digunakan untuk uji saponin dan minyak atsiri. Fraksi petroleum eter
dielusi dengan fase gerak etil asetat:heksana (3:7) untuk pengujian minyak atsiri. Fase gerak ini
bersifat nonpolar sehingga akan mengelusi senyawa nonpolar seperti terpenoid., serta fase gerak
kloroform-metanol-air (64:50:10) untuk pengujian saponin. Pada saat elusi fraksi petroleum eter,
dipakai pembanding timol untuk minyak atsiri dan stigmasterol (steroid) untuk saponin. Jarak
elusinya yaitu 8 cm. Dari hasil elusi didapat 2 bercak (1 bercak sampel atau dari fraksi petroleum
eter dan 1 bercak pembanding atau timol) untuk pengujian minyak atsiri. Serta didapat 3 bercak
pada pengujian dengan pembanding stigmasterol (masing-masing 1 bercak untuk fraksi
petroleum eter, stigmasterol, dan fraksi etanol-air). Pada penotolan sampel dengan pembanding
timol (pengujian minyak atsiri) memberikan Rf 0,4375. Pada penotolan sampel dengan
pembanding stigmasterol (pengujian saponin) memberikan Rf 0,9625. Rf pembanding yaitu
timol dan stigmasterol adalah 0,6975 dan 0,9625. Jika dilihat pada UV 254, pada plat silika
dengan pembanding timol terjadi pemadaman, sedangkan pada plat dengan pembanding
stigmasterol terjadi warna ungu pada bercak sampel(fraksi petroleum eter) dan pada bercak
stigmasterol. Sedangkan pada sinar tampak, bercak timol dan sampel (fraksi petroleum eter)
tidak tampak atau tidak berwarna. Sedangkan bercak pada plat dengan pembanding stigmasterol
berwarna,yaitu sampel (fraksi petroleum eter) mempunyai warna kuning,dan pembanding
(stigmasterol) tidak berwarna.
Untuk deteksi lebih spesifik pada plat dengan pembanding stigmasterol (pengujian
saponin) disemprot dengan anisaldehid asam sulfat kemudian dipanaskan 100oC. Setelah
disemprot, lalu diamati pada UV 366, pada deteksi ini didapatkan bercak stigmasterol dan
sampel berfluoresensi kuning, diprediksikan sampel mengandung saponin, sedangkan pada sinar
tampak sampel menimbulkan warna abu-abu. Pada UV 254, bercak sampel dan stigmasterol
berfluoresensi ungu. Untuk deteksi lebih lanjut dari minyak atsiri (pembanding timol), plat
disemprot dengan,pada bercak timol menjdai berwarna ungu-abu-abu dan pada bersak sampel
berwarna abu-abu.

22
Dari hasil elusi pada pengujian saponin didapatkan Rf sampel (petroleum eter) yang sama
atau hampir sama dengan Rf standar (stigmasterol) yaitu Rf sebesar 0,9625. Hal ini dapat
menunjukkan bahwa dalam sampel terdapat kandungan senyawa yang sama dengan standarnya
yaitu kandungan saponin. Sedangkan hasil elusi pada pengujian kandungan minyak atsiri
digunakan pembanding timol(senyawa terpenoid), didapat Rf yang sedikit berbeda, yaitu 0,4375
dan 0,6875. Hal ini dapat menunjukkan bahwa dalam sampel terdapat senyawa minyak atsiri,
namun bukan berasal dari turunan minyak atsiri terpenoid

2. Fraksi Eter
Fraksi eter digunakan untuk pengujian kandungan alkaloid dan kumarin. Pada pengujian
alkaloid dielusi dengan fase gerak toluen-etil asetat-etilendiamin (7:2:1) dengan pembanding
kinin. Sedangkan untuk pengujian kumarin digunkan fase gerak dietileter-toluen (1:1) yang
dijenuhkan dengan asam asetat, dengan pembanding kumarin standar. Jarak elusi yang disunakan
adalah 8 cm. Deteksi pada pengujian alkaloid dengan pereaksi dragendorf yang dilanjutkan
dengan natrium nitrit yang dimaksudkan untuk menstabilkan warna yng telah diperoleh setelah
penambahan pereaksi Dragendrof. Deteksi pada pengujian kumarin dengan menggunakan KOH
etanolik sebagai pereaksi kumarin.
Dari deteksi secara tampak tidak terjadi warna pada kedua plat pengujian. Dari hasil elusi
didapat 7 bercak pada sampel fraksi eter (pada pengujian alkaloid dengan pembanding kinin)
yaitu pada Rf 0,25; 0,275; 0,2875; 0,5125; 0,5625; 0,6375; 0,75. Pada sampel fraksi eter
(pengujian kumarin dengan pembanding kumarin)didapat 6 bercak dengan Rf masing-masing
0,1625; 0,3125; 0,3375; 0,5625; 0,9375; 0,9625. Rf untuk kinin adalah 0,25 dan Rf kumarin
0,9375. Pada deteksi UV 254, bercak kinin memberikan warna hijau, sampel juga berwarna
hijau. Sedangkan pada fraksi eter pada pengujian kumarin, pada UV 254 sampel berwarna hajau
dan kumarin standar berwarna ungu. Setelah disemprot, pada plat pengujian alkaloid (fraksi eter
dengan pembanding kinin) terjadi perubahan warna, pada sinar tampak bercak sampel (fraksi
eter) berwarna hijau, dan bercak kinin berwarna orange Setelah disemprot menggunakan KOH
etanolik pada pengujian kumarin, terjadi perubahan warna. KOH etanolik untuk mengamati
antrakuinon, antron, kumarin, dimana masing-masing senyawa tersebut menunjukkan warna
yang spesifik dengan penambahan KOH etanolik. Dari hasil elusi pada pengujian alkaloid
maupun kumarin, didapatkan bercak sampel yang memiliki Rf yang sama atau hampir sama
dengan Rf standar (kinin dan kumarin), yaitu Rf 0,25 untuk Rf kinin dan Rf 0,9375 untuk Rf
kumarin, sehingga dapat menunjukkan bahwa dalam sampel tersebut (fraksi eter) terdapat
senyawa yang sama dengan standar atau pembandingnya yaitu terdapat senyawa saponin dan
kumarin.
3. Fraksi Etanol-air
Fraksi etanol-air digunakan untuk pengujian alkaloid dan saponin. Untuk pengujian alkaloid plat
dielusi dengan fase gerak toluen-etilasetat-dietilamin (7:2:1) dengan pembanding kinin.

23
Sedangkan untuk pengujian saponin digunakan fase gerak kloroform-metanol-air (64:50:10)
dengan pembanding stigmasterol. Jarak elusinya adalah 8 cm. Setelah elusi selesai, lalu
diamati. Dari hasil elusi pada sampel etanol-air pada pengujian alkaloid dengan pembanding
kinin didapat 3 bercak dengan Rf 0,6375; 0,8875; 0,95. Serta didapat 1 bercak pada pengujian
dengan pembanding stigmasterol dengan Rf 0,9625. Rf pembanding yaitu kinin dan stigmasterol
adalah 0,25 dan 0,9625. Jika dilihat pada UV 254, pada plat silika baik dengan pembanding
stigmasterol maupun kinin terjadi pemadaman. Sedangkan pada sinar tampak, bercak kinin dan
sampel (fraksi etanol-air) tidak tampak atau tidak berwarna. Sedangkan bercak pada plat dengan
pembanding stigmasterol berwarna,yaitu sampel (fraksi etanol-air) mempunyai warna hijau
pudar,dan pembanding (stigmasterol) tidak berwarna.
Untuk deteksi lebih spesifik pada plat dengan pembanding stigmasterol (pengujian saponin)
disemprot dengan anisaldehid asam sulfat kemudian dipanaskan 100oC. Setelah disemprot, lalu
diamati pada UV 366, pada deteksi ini didapatkan bercak stigmasterol dan sampel berfluoresensi
kuning, diprediksikan sampel mengandung saponin, sedangkan pada sinar tampak sampel
menimbulkan warna abu-abu. Pada UV 254, bercak sampel (fraksi etanol-air) berfluoresensi
ungu kekuningan, sedangkan stigmasterol berfluoresensi ungu. Untuk deteksi lebih lanjut dari
pengujian alkaloid, plat disemprot dengan dragendorf dilanjutkan natrium nitrit ,pada bercak
kinin menjadi berwarna orange dan pada bercak sampel (fraksi etanol-air) berwarna hijau. Dari
hasil elusi pada pengujian saponin didapatkan Rf sampel (etanol-air) yang sama atau hampir
sama dengan Rf standar (stigmasterol). Hal ini dapat menunjukkan bahwa dalam sampel terdapat
kandungan senyawa yang sama yaitu kandungan saponin. Sedangkan pada pengujian alkaloid
dengan pembanding kinin, didapatkan Rf yang jauh berbeda dengan Rf standar. Hal ini tidak
sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa dalam sampel seharusnya terdapat alkaloid, hai ini
dapat disebabkan karena fraksi yang didapatkan tidak mengandung alakoid yang disebabkan
belum maksimal dalam menyarinya sehingga alkaloid belum ikut tersari dalam fraksi etanol-air
tersebut.

24
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN
1. Dari hasil uji tabung didapat bahwa sampel daun Kejibeling (Strobilantus crispus) terdapat
kandungan kimia:
a. Steroid-Triterpenoid
b. Alkaloid
c. Senyawa Fenolik
d. Fenol-fenol
e. Kumarin-Turunan Fenil Propanoid
f. Saponin
2. Dari hasil uji Kromatografi Lapis Tipis didapat hasil positif untuk senyawa:
a. Kumarin
b. Saponin
c. Minyak atsiri

SARAN
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan kandungan dari
Strobilantus crispus secara lebih lengkap
2. Perlu dilakukan uji yang lebih valid untuk meminimalisasi kemungkinan
terjadinya positif atau negatif palsu
3. Perlu dilakukan uji farmakologis untuk memastikan efek farmakologis
Strobilantus crispus

25
DAFTAR PUSTAKA

Claus, E.P., Tyler V.E., Brady, L.R., 1970, Pharmacognosy, 4th Ed. Febiger, Philadelphia.

Fransworth, N.R., 1966, Biological and Fitochemical Skrining of Plants, Jfarm.Sci

Harborne, J.B., 1987, Metode Fitokimia, Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan,
diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata dan Iwan Sudiro, Penerbit ITB,
Bandung.

Macek , K. , 1972, Pharmaceutical Aplication of Thin Layer Chromatography and Paper


Chromatography, L. Sefier Pub.co., London

Syamsuhidayat, Sri Sugati dan Johnny Ria Hutapea, 1991, Inventaris Tanaman Obat Indonesia I,
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Wagner, H., Bladt, S., Zganski, E.M., 1984, Plant Drud Analysis, A Thin Layer
Chromatography Atlas, translated by Th. A. Scott, Springer, Verlag
Heidelberg, New York Tokyo.

26
PLAT KLT ALKALOID
SEBELUM DISEMPROT

PLAT KLT KUMARIN


SEBELUM DISEMPROT

27
PLAT KLT ALKALOID PLAT KLT KUMARIN
SETELAH DISEMPROT SETELAH DISEMPROT

PLAT KLT
DI
BAWAH
SINAR UV
(ARAH
ELUSI
DARI KIRI
KE KANAN FOTO

28
Alkaloid Kumarin

Saponin minyak atsiri

29