Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK

PERCOBAAN I
PEMBUATAN TERUSI

NAMA : MUHAMAD RIVAI


NIM: F1C111030

JURUSAN PMIPA PROGRAM STUDI KIMIA S1

FAKULTAS SAINS DAN TEHNOLOGI


UNIVERSITAS JAMBI

2013

PEMBUATAN TERUSI
I.

TUJUAN

Mempelajari proses pembuatan Kristal terusi

Memahami sifat dan proses pembentukan Kristal terusi

II.

Hari/Tanggal

III.

LANDASAN TEORI

Dalam suatu Sistem Periodik Unsur, tembaga (Cu) termasuk ke dalam golongan 11.
Tembaga, perak dan emas disebut logam koin karena dipakai sejak lama sebagai uang dalam
bentuk koin. Hal ini disebabkan oleh logam ini tidak reaktif, sehingga tidak berubah dalam
waktu yang lama. Tembaga adalah logam berdaya hantar listrik tinggi, maka dipakai sebagai
kabel listrik. Tembaga tidak larut dalam asam yang bukan pengoksidasi tetapi tembaga
teroksidasi oleh asam nitrat (HNO3) sehingga tembaga larut dalam asam nitrat. Tembaga (II)
sulfat mempunyai banyak kegunaan di bidang industri diantaranya untuk mebuat campuran
Bordeaux (sejenis fungisida) dan senyawa tembaga lainnya. Senyawa ini juga digunakan
dalam penyepuhan dan pewarnaan tekstil serta sebagai bahan pengawet kayu. Bentuk
anhidratnya digunakan untuk mendeteksi air dalam jumlah kelumit, tembaga sulfat juga
dikenal sebagai vitriol biru.
(Annisanfushie, 2008).
Tembaga memiliki elektron s tunggal diluar kulit 3d yang terisi. Ini agak kurang
umum dengan golongan alkali kecuali stoikiometri formal dalam tingkat oksidasi +1. Kulit d
yang terisi jauh kurang reaktif daripada kulit gas mulia dalam melindungi elektron s dari
muatan inti sehingga potensial pengionan pertam tembaga lebih tinggi daripada golongan
alkali. Karena elektron-elektron pada kulit d juga dilibatkan dalam ikatan logam, panas
penyubliman dan titik leleh tembaga juga jauh lebih tinggi daripada alkali, faktor-faktor ini
bertanggung jawab bagi sifaf lebih mulia tembaga. Pengaruhnya adalah membuat lebih
kovalen dan memberikan energy kisi yang lebih tinggi dan tidak dilampaui oleh jari-jari Cu +
yang lebih kecil.
(Suharto, 2009, hal: 477).

Ada dua deret senyawa tembaga. Senyawa-senyawa tembaga (I) diturunkan dari
tembaga (I) oksida CuO2 yang merah, dan mengandung ion tembaga (I) Cu +. Senyawasenyawa ini tak berwarna, kebanyakan garam tembaga (I) tak larut dalam air, perilakuknya
mirip perilaku senyawa perak (I). Keduanya mudah dioksidasikan menjadi senyawa tembaga
(II) yang dapat diturunkan dari tembaga (II) oksida dan CuO, Garam-garam tembaga
umumnya berwarna biru, baik dalam bentuk hidrat, padat maupun dalam larutan air. Garamgaram tembaga (II) anhidrat seperti tembaga (II) sulfat anhidrat CuSO 4, berwarna putih atau
sedikit kuning dan dalam larutan air selalu terdapat ion kompleks
(Vogel, 1979, hal: 229-239).
IV.

ALAT DAN BAHAN

ALAT
o Gelas kimia 400 ml
o Gelas ukur 50 ml
o Batang pengaduk
o Gelas ukur 100 ml
o Neraca

BAHAN
o H2SO4 pekat
o HNO3 pekat
o Keeping tembaga
o Kertas saring

V.

PROSEDUR KERJA

Memasukkan air sebanyak 100 mL ke dalam gelas kimia lalu


menambahkan 10 gr asam sulfat pekat (H2SO4).

o Mengaduk sampai kedua larutan bercampur lalu menambahkan 25 gr


serbuk tembaga (Cu).

o Memasukkan sedikit demi sedikit asam nitrat pekat (HNO3) sebanyak 25


mL lalu mengaduknya sampai semua serbuk tembaga (Cu) larut.
o

Memanaskan dalam ruang asam sampai gas coklat tua tidak keluar lagi,
jika masih ada serbuk tembaga (Cu) yang belum larut maka saringlah
dalam keadaan panas.

Biarkan larutan pada suhu kamar sampai terbentuk Kristal.

Menyaring kristal yang terbentuk lalu mencuci kristal tersebut dengan


etanol.

VI.

DATA PENGAMATAN

Aqudest 100 mL(bening) + asam sulfatt 17 mL (bening) larutan bening + serbuk


tembaga (merah bata) 10 gr asam nitrat 25 mL(bening)

Reaksi
1.
2.

3Cu(s) + 8H+(aq) + 2NO3- (aq)

3.

2NO(g) + O2(g)

4.

2Cu + 2 H2SO4 + O2(g)

3Cu2+(aq) + 2NO(g) + 4H2O

2NO(g)
2CuSO4 + 2H2O(l)

Cu2+ + 3H2O + H2SO4 + 2HNO3

5.

H3O+(aq) + HSO4(aq)

H2SO4 + H2O(l)

Analisis data
Berat Cu

= 10 gr

Mr Cu

= 63,5 gr/mol

Mr CuSO4.H2O

= 249,5 gr/mol

Massa kristal
Mol Cu

= 0,01574 mol

Mol CoSO4.5H2O =

gr =0,01574 mol.249,5 gr/mol

CuSO4.5H2O + 2NO2

= 39,39 gr

VII.

PEMBAHASAAN

Tembaga (II) sulfat merupakan padatan kristal biru, CuSO4.5H2O triklin.


Pentahidratnya kehilangan 4 molekul air pada 1100 C dan yang ke lima pada 1500C
membentuk senyawa anhidrat berwarna putih. Pentahidrat ini dibuat dengan mereaksikan
tembaga (II) oksida atau tembaga (II) karbonat dengan asam sulfat encer, larutannya
dipanaskan hingga jenuh dan pentahidrat yang biru mengkristal jika didinginkan. Pada
skala industri, senyawa ini dibuat dengan memompa udara melalui campuran tembaga
panas dengan H2SO4 encer. Dalam bentuk pentahidrat, setiap ion tembaga (II) dikelilingi
oleh empat molekul air pada setiap sudut segi empat, kedudukan kelima dan keenam dari
oktahedral ditempati oleh atom oksigen dari anion sulfat, sedangkan molekul air kelima
terikat oleh ikatan hidrogen (Annisanfushie, 2008).
Tembaga tidak melimbah namun terdistribusi secara luas sebagai logam dalam
sulfida, arsenida, klorida dan karbonat, mineral yang paling umum adalah CuFeS 2.
Tembaga diekstraksi dengan pemanggangan dan peleburan oksidatif atau dengan
pencucian dengan bantuan mikroba yang diikuti oleh elektrodeposisi dari larutan sulfat.
Tembaga digunakan dalam aliansi kuningan seperti kuningan dan bercampur sempurna
dengan emas, sangat lambat teroksidasi superficial dalam uap udara, kadang-kadang
menghasilkan lapisan hijau hidrokso karbonat dan hidrokso sulfat yang berasal dari SO 2
dalam atmosfer. Disamping itu pula tembaga mudah larut dalam asam nitrat dan dalam
asam sulfat tanpa adanya oksigen dan larut dalam larutan KCN atau ammonia dengan
adanya oksigen. Pelarutan tembaga, hidroksida dankarbonat dalam asam menghasilkan
ion akuo hijau kebiruan, dua dari molekul-molekul air berada lebih jauh daripada empat
yang lainnya. Di antara berbagai kkristal hidrat lainnya, sulfat biru, CuSO 4.5H2O atau
terusi adalah yang paling dikenal. Hal ini dikarenakan dapat terdehidrasi menjadi zat
anhidrat yang benar-benar putih, penambahan ligan pada larutan akua menyebabkan
pembentukan kompleks dengan pertukaran molekul air secara berurutan (Suharto, 2009,
hal: 481).

Tembaga (II) sulfat mempunyai banyak kegunaan di bidang industri diantaranya


untuk mebuat campuran Bordeaux (sejenis fungisida) dan senyawa tembaga lainnya.
Senyawa ini juga digunakan dalam penyepuhan dan pewarnaan tekstil serta sebagai bahan
pengawet kayu. Bentuk anhidratnya digunakan untuk mendeteksi air dalam jumlah
kelumit. Tembaga sulfat juga dikenal sebagai vitriol biru (Ashoff, 2011).

Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui teknik pembuatan terusi, dimana bahan
yang digunakan yaitu aquadest (HO), asam nitrat pekat (HNO), asam sulfat pekat
(HSO), kertas saring dan serbuk tembaga (Cu), hal yang pertama dilakukan yaitu
mencampurkan larutan HSO pekat sebanyak 17 ml dan air sebanyak 100 ml, dimana
air terlebih dahulu dimasukkan ke dalam gelas kimia kemudian asam sulfat. Hal ini
bertujuan agar tidak terjadi ledakan karena pengenceran asam sulfat pekat dengan air
menghasilkan panas yang bersifaf eksotermis karena daya tarik asam sulfat terhadap air
sangat kuat, dimana reaksi yang terjadi:
HSO(aq)+ HO(l) HO (aq) + HSO(aq).
Kemudian menambahkan sebanyak 10 gram serbuk tembaga pada larutan tersebut ,
asam sulfat tidak akan membuat serbuk tembaga tersebut menjadi larut akan tetapi
larutan asam sulfat tersebut berfungsi untuk membuat suasana asam dan membentuk
gugus sulfat pada tembaga hingga terbentuk tembaga sulfat sehingga untuk melarutkan
serbuk tembaga tersebut ditambahkan 12,5 ml asam nitrat pekat, karena tembaga dapat
teroksidasi dan larut dalam asam nitrat pekat sehingga akan terjadi reaksi :
3Cu(s) + 8H+(aq) + 2NO (aq) 3Cu(s)+ 2NO(g) + 4HO(l)
Apabila ketiga larutan tersebut tercampur maka akan mengeluarkan gas NO yang
tidak berwarna, namun pada percobaan ini gas yang dihasilkan berwarna coklat, hal ini
disebabkan karena karena gas NO sangat reaktif terhadap oksigen membentuk gas NO 2
yang berwarna cokelat, terdapat endapan dan berasap sehingga akan terbentuk reaksi
adalah:
2NO(g) + O(g) 2NO(g)
Setelah itu dilakukan pemanasan sampai gas berwarna cokelat tersebut tidak
keluar lagi, dimana pemanasan tersebut berfungsi untuk mempercepat reaksi,
kemudian mendidihkan larutan sampai terbentuk kristal. Setelah itu menyaring kristal
dengan kertas saring, hal ini bertujuan untuk memisahkan fase cair dar kristal yang

terbentuk kemudian mencuci kristal dengan sedikit etanol , hal ini bertujuan untuk
melepaskan hidrat dari kristal yang terbentuk.

VIII.

KESIMPULAN

Kesimpulan
Garam terusi (CuSO4.5H2O) dapat dibuat dengan teknik kristalisasi, dimana
garam tembaga sulfat (CuSO4) tersebut berwarna biru tua.

Saran
Saran dari percobaan ini adalah sebaiknya pada percobaan selanjutnya serbuk
tembaga tersebut diganti dengan kawat tembaga bekas, agar dapat diketahui
perbedaan persen rendamennya.

IX.

DAFTAR PUSTAKA

Annisafushie. Pembuatan CuSO4.5H2O. http//annisafushie. wordpress. com/2008/ 20


April 2012

Suharto, Sahati. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press),


2009

Vogel. Analisis Annorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Bagian I. Jakarta: PT


Kalman Media Pustaka, 1979