Anda di halaman 1dari 178

RENCANA

PEMBANGUNAN LIMA TAHUN


KETIGA
1 9 7 9 /8 0 - 1 9 8 3 /8 4

REPUBLIK INDONESIA
PRESIDEN REPUBLIK
INDONESIA

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 7 TAHUN 1979

TENTANG
RENCANA PEMBANGUNAN LIMA TAHUN KETIGA
(REPELITA III)
1979/80 -- 1983/84

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

;Menimbang a. bahwa pelaksanaan Pembangunan Lima Tahun


Kedua telah menunjukkan hasil-hasil yang cukup
memadai sehingga dapat dijadikan landasan
yang kuat untuk tahap pembangunan selanjutnya;
b. bahwa dengan memperhatikan hasil-hasil yang
telah dicapai serta kemampuan-kemampuan yang
telah dapat dikembangkan dalam REPELITA
II dianggap perlu untuk menetapkan REPELITA
III yang merupakan kelanjutan dan peningkatan dari
REPELITA II;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan - pertimbangan
tersebut di atas, serta dengan mendengar dan
memperhatikan secara sungguh-sungguh saran-
saran dari Fraksi-fraksi di Dewan Perwakilan

I
Rakyat, organisasi-organisasi serta
masyarakat pada umumnya,
maka sesuai dengan tugas yang
diberikan oleh Majelis
Permusyawaratan Rakyat seperti
yang tercantum dalam Ketetapan
MPR No. IV/MPR/1978 tentang
Garis-garis Besar Haluan Negara,
dipandang perlu untuk menge-
luarkan Keputusan Presiden yang
menetapkan Rencana
Pembangunan Lima Tahun Ketiga
(1979/80 -- 1983/84);

Mengingat 1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang


Dasar 1945;
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan
Rakyat Nomor IV/MPR/1978;
3. Ketetapan Majelis Permusyawaratan
Rakyat
Nomor VIII/MPR/1978;
4. Keputusan Presiden Republik
Indonesia Nomor 59/M Tahun 1978;

M E M U T U S KAN:

Menetapkan : KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK .


INDONESIA. TENTANG RENCANA
PEMBANGUNAN LIMA TAHUN KETIGA
(1979/80 -- 1983/84).
Pasal 1

Rencana Pembangunan Lima Tahun III


1979/80 1983/84 sebagaimana termuat
datam lampiran 'Keputusan Presiden
ini merupakan bagian daripada
Pola Dasar Pembangunan Nasional, Pola
Umum Pembangunan jangka Panjang, dan
Pola Umum Pelita Ketiga sesuai
dengan Garis-garis Besar Haluan Negara
yang telah ditetapkan oleh Majelis Permu-
syawaratan Rakyat.
Pasal 2
Rencana Pembangunan Lima Tahun III tersebut
dalam Pasal 1 Keputusan Presiden ini menjadi lan-
dasan dan pedoman bagi Pemerintah dalam melak-
sanakan Pembangunan Lima Tahun III.
Pasal 3
Kebijaksanaan-kebijaksanaan pelaksanaan daripada
Rencana Pembangunan Lima Tahun III, dituangkan
dalam Rencana Tahunan yang tercermin dalam
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara serta
kebijaksanaan-kebijaksanaan Pemerintah lainnya.
Pasal 4
Penuangan dalam Rencana Tahunan sebagaimana
terdapat dalam Pasal 3 Keputusan Presiden ini,
dilaksanakan dengan memperhatikan kemungkinan-
kemungkinan perobahan dan perkembangan keadaan
yang memerlukan langkah-langkah penyesuaian ter-
hadap Rencana Pembangunan Lima Tahun III.
Pasal 5
Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal
ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 11 Maret 1979.

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

SOEHARTO

5
R E N C A N A P E M B A N G U N A N L IM A T A
K E T IG A
1 9 7 9 /8 0 - 1 9 8 3 /8 4

LAMPIRAN
KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Nomor 7 TAHUN 1979
tentang
RENCANA PEMBANGUNAN LIMA TAHUN KETIGA
(REPELITA III)

REPUBLIK INDONESIA
RENCANA PEMBANGUNAN LIMA TAHUN KETIGA

1979/80 — 1983/84

DAFTAR ISI

BUKU I

Bab 1. Tujuan dan Sasaran-sasaran Pokok


Pembangunan Bab 2. Kerangka Rencana dan
Pembiayaan Pembangunan Bab 3. Keuangan
Negara dan Kebijaksanaan Moneter
Bab 4. Neraca Pembayaran Internasional
Bab 5. Perluasan Kesempatan Kerja
Bab 6. Pengembangan Dunia Usaha
Bab 7. Pengelolaan Sumber Alam dan
Lingkungan Hidup Bab 8. Pertanian dan
Pengairan
Bab 9. Pangan dan Perbaikan Gizi

BUKU II

Bab 10. I n d u s t r i
Bab 11. Pertambangan dan
Energi
Bab 12. Perhubungan dan
Pariwisata Bab 13.
Perdagangan dan Koperasi
Bab 14. Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Bab 15. Perumahan
Rakyat
Bab 16. A g a m a
Bab 17. Pendidikan dan Generasi Muda

9
BUKU III

Bab 18. Kebudayaan Nasional dan Kepercayaan


Terhadap
Tuhan Yang Maha Esa
Bab 19. Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan
Penelitian
Bab 20. Kesehatan, Kesejahteraan Sosial dan
Peranan Wanita Bab 21. Kependudukan dan
Keluarga Berencana
Bab 22. Pembangunan Daerah, Desa dan Kota
Bab 23. H u k u m
Bab 24. Pertahanan ,dan Keamanan Nasional
Bab 25. Penerangan, Pers dan Komunikasi Sosial
Bab 26. Aparatur Pemerintah

BUKU IV

PEMBANGUNAN DAERAH-DAERAH TINGKAT SATU


1. D.I. A c e h
2. Sumatera Utara
3. Sumatera Barat
4.Riau
5. Jambi
6. Sumatera Selatan
7. Bengkulu
8.Lampung
9. D.K.I. Jakarta
10. Jawa Barat
11. Jawa Tengah
12. D.I. Yogyakarta
13. Jawa Timur
14. Kalimantan Barat
10
15. Kalimantan Tengah
16. Kalimantan
Selatan
17. Kalimantan Timur
18. Sulawesi Utara
19. Sulawesi Tengah
20. Sulawesi
Tenggara
21. Sulawesi Selatan
22. Bali
23. Nusa Tenggara
Barat
24. Nusa Tenggara
Timur
25. Maluku
26. Irian Jaya
27. Timor Timur

11
RENCANA PEMBANGUNAN LIMA TAHUN KETIGA
1979/80 — 1983/84.

DAFTAR ISI BUKU I

Bab 1. Tujuan dan Sasaran-sasaran Pokok Pembangunan ................................


17
Bab 2. Kerangka Rencana dan Pembiayaan Pembangunan ..............................
99
Bab 3. Keuangan Negara dan Kebijaksanaan Moneter ....................................
131
Bab 4. Neraca Pembayaran Internasional ........................................................
169
Bab 5. Perluasan Kesempatan Kerja ................................................................
199
Bab 6. Pengembangan Dunia Usaha ................................................................
231
Bab 7. Pengelolaan Sumber Alam dan Lingkungan Hidup ..............................
265
Bab 8. Pertanian dan Pengairan .......................................................................
321
Bab 9. Pangan dan Perbaikan Gizi ..................................................................
415

13
BAB 1

TUJUAN DAN SASARAN-SASARAN


POKOK
PEMBANGUNAN
BAB I
TUJUAN DAN SASARAN-SASARAN POKOK
PEMBANGUNAN

Garis-garis Besar Haluan Negara yang merupakan


pernyataan ke- hendak rakyat adalah suatu Pola Umum
Pembangunan Nasional, yang merupakan rangkaian
program pembangunan yang menyeluruh,
terarah dan terpadu serta dilaksanakan secara terus-
menerus. Seba-gaimana ditetapkan dalam GBHN maka
pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan
suatu masyarakat adil dan makmur yang merata
material dan spiritual berdasarkan Pancasila di dalam
wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
merdeka, berdaulat, bersatu dan berkedaulatan rakyat
dalam suasana perikehidupan bangsa yang aman,
tenteram, tertib dan dinamis serta dalam lingkungan
pergaulan dunia yang merdeka; bersahabat, tertib dan
damai.
Pembangunan nasional yang berdasarkan landasan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 pada
hakekatnya adalah pembangunan manusia seutuhnya
dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Hal
ini berarti bahwa pembangunan ,nasional tidak hanya
mengejar kemajuan lahiriah semata seperti pangan,
sandang, perumahan, kese- hatan dan sebagainya
atau kepuasan batiniah saja seperti pendidikan,
rasa aman, bebas mengeluarkan pendapat yang
bertanggung jawab, rasa keadilan dan sebagainya,
melainkan keselarasan, keserasian dan keseimbangan
antara keduanya. Pembangunan juga harus merata di
seluruh Tanah Air dan diselenggarakan bukan hanya
untuk kepen- tingan sesuatu golongan atau
17
sebagian dari masyarakat, tetapi untuk seluruh
masyarakat dan harus benar-benar dirasakan oleh
seluruh rakyat sebagai perbaikan tingkat hidup
yang berkeadilan sosial yang menjadi tujuan dan cita-
cita kemerdekaan bangsa Indonesia.
Di samping itu bangsa Indonesia menghendaki pula
keselarasan hubungan antara manusia dengan
Tuhannya, antara sesama manusia serta
lingkungan alam sekitarnya, keserasian hubungan
antara bang- sa-bangsa dan juga
keselarasan antara cita-cita hidup di dunia dan
mengejar kebahagiaan di akhirat, karena kehidupan
manusia dan masyarakat yang serba selaras adalah tujuan
akhir pembangunan nasional yang secara ringkas disebut
masyarakat maju, adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
Pembangunan Nasional ditujukan pula untuk
mewujudkan tata norma dan nilai-nilai Pancasila
menjadi kenyataan dalam kehidupan kita.
Sementara itu sadar akan perlunya membangun hari ,
esok yang le- bih baik daripada hari ini dan
mengembangkan keyakinan pada diri sendiri bahwa dapat
memperbaiki kehidupan serta memiliki kemampuan
dan sikap yang diperlukan untuk mengubah nasibnya,
maka dalam pembangunan nasional terkandung usaha-
usaha untuk membangun manusia Indonesia sebagai
manusia pembangunan.
Adapun pembangunan nasional telah dilaksanakan sejak
dimulainya Repelita I pada tahun 1969/70. Dengan usaha-
usaha yang dilaku- kan selama Repelita I bangsa
Indonesia bukan saja telah dapat menyelamatkan diri dari
kehancuran ekonomi serta kehidupan bangsa yang porak-
poranda di masa lampau, melainkan telah pula dapat
meletakkan dasar untuk memungkinkan terlaksananya
pembangunan nasional dalam tahap-tahap pembangunan
selanjutnya.
Bertolak dari hasil-hasil yang telah dicapai dalam Repelita
I dan kesinambungan pembangunan yang telah
menjadi patokan, maka dalam Repelita II telah ditingkatkan
hasil-hasil positif yang telah dicapai selama Repelita I
sambil menyempurnakan kekurangan- kekurangan dan
sejauh mungkin menghindarkan akibat-akibat negatif
yang timbul bersama dengan hasil-hasil tersebut.
Dengan memperhatikan hasil-hasil pembangunan yang
dicapai dalam Repelita II, maka terciptalah keadaan yang
mantap untuk memulai Repelita III pada 1 April 1979
sampai dengan 31 Maret 1984.
Sebagai kelanjutan dan peningkatan dari Repelita II,
dalam Repelita III akan diperluas kegiatan-kegiatan
pembangunan di berbagai bidang dan akan diberikan
18
perhatian yang lebih mendalam kepada peningkatan
kesejahteraan dan perluasan kesempatan kerja. Demikian
pula halnya dengan berbagai bidang atau masalah yang
dalam Repelita II belum dapat sepenuhnya dipecahkan
seperti peningkatan laju pembangunan ,di
daerah-daerah tertentu, peningkatan kemampuan yang
lebih cepat dari golongan ekonomi lemah, pembi-
naan koperasi, peningkatan produksi pangan dan
kebutuhan pokok lainnya, transmigrasi, perumahan,
perluasan fasilitas pendidikan, perawatan kesehatan
dan berbagai masalah sosial lainnya.
Adapun Tujuan Repelita III adalah untuk :
(1) Meningkatkan taraf hidup, kecerdasan dan
kesejahteraan seluruh rakyat yang makin
merata dan adil, serta
(2) Meletakkan landasan yang kuat untuk tahap
pembangunan berikutnya.
Berdasarkan hal-hal tersebut, dan dengan berpegang
teguh kepada petunjuk Garis-garis Besar Haluan Negara,
maka dalam pelaksanaan Repelita III dilanjutkan
pembangunan yang berlandaskan pada Trilogi
Pembangunan yang meliputi :
(1) Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya yang
menuju pada terciptanya keadilan sosial bagi seluruh
rakyat,
(2) Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, dan
(3) Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.
Ketiga unsur dari Trilogi Pembangunan tersebut saling
kait meng- kait dan karena itu ketiga-tiganya harus
dikembangkan secara serasi dan saling
memperkuat.
Pelaksanaan pembangunan harus menjamin pembagian
penda- patan yang merata bagi seluruh rakyat
sesuai dengan rasa keadilan, dalam rangka
mewujudkan asas keadilan sosial. Oleh karena itu pem-
bangunan tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan
produksi, me- lainkan sekaligus mencegah
melebarnya jurang pemisah antara yang kaya dan
yang miskin, yang berpendapatan tinggi dan yang berpen-

19
dapatan rendah, golongan ekonomi lemah dan golongan
ekonomi kuat dengan menumbuhkan asas
hidup sederhana dan rasional ekonomis serta wajar,
sebagai suatu tata hidup sehari-hari yang dilaksanakan
dengan penuh kesadaran nasional. Pembangunan bukan
saja untuk mencapai masyarakat yang
makmur, melainkan juga untuk mewujud-
kan masyarakat yang adil. Dalam pada itu partisipasi
aktif segenap masyarakat dalam pembangunan harus
makin meluas dan merata, baik dalam memikul beban
pembangunan maupun dalam pertanggung-
jawaban atas pelaksanaan pembangunan ataupun di
dalam menerima kembali hasil pembangunan. Untuk itu
diciptakan suasana kemasyara-katan yang mendukung
cita-cita pembangunan, serta terwujudnya kreativitas
dan otoaktivitas di kalangan rakyat.
Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya yang
menuju kepada terciptanya keadilan sosial secara
langsung menunjang terpeliharanya stabilitas nasional.
Pemerataan pembangunan juga berarti pemanfaatan
dari semua potensi yang ada secara optimal, yang
berarti pembentukan suatu landasan pembangunan
yang lebih luas dan kuat bagi terciptanya pertumbuhan
ekonomi yang cukup tinggi berdasarkan kemampuan
sendiri sesuai dengan asas kepercayaan pada diri
sendiri.
Adalah suatu kenyataan bahwa setiap usaha
pembangunan memer-lukan dana. Sumber-sumber dana
itu hanya akan dapat dikerahkan jika terjadi
peningkatan produksi dan pendapatan nasional. Hal ini
berarti bahwa melalui pertumbuhan ekonomi yang
cukup tinggi akan dapat diciptakan sumber dana yang
semakin meningkat pula bagi usaha-usaha
pemerataan. Di samping itu pertumbuhan produksi me-
ningkatkan penawaran barang dan jasa yang besar
sekali peranannya dalam memantapkan, stabilitas
ekonomi.
Dalam pada itu agar pelaksanaan pembangunan
nasional dapat ber- jalan dengan lancar, maka
bersamaan dengan itu harus pula diwujud- kan
stabilitas nasional yang sehat dan dinamis, baik di
bidang politik maupun di bidang ekonomi, karena
kegoncangan-kegoncangan dalam masyarakat dan

20
kegoncangan-kegoncangan ekonomi akan menghambat
pembangunan. Dalam hubungan ini stabilitas ekonomi
merupakan prasyarat bagi pertumbuhan produksi.
Dernikian pula stabilitas eko- nomi menunjang pula
usaha pemerataan secara langsung, karena jika terjadi
gejolak ekonomi yang tidak terkendalikan maka yang
pertama- tama akan terpukul adalah golongan
masyarakat yang berpendapatan rendah dan yang
berpendapatan tetap:
Dalam Repelita III pemerataan pembangunan ,dan
pembagian hasil- nya sebagai unsur, pertam,a dan
Trilogi Pembangunan akan semakin
tampil kedepan dan tercermin pada setiap
kebijaksanaan pembangun- an. Asas pemerataan
yang menuju pada terciptanya keadilan sosial ter-sebut
dalam Repelita III akan dituangkan dalam 8 (delapan)
jalur pemerataan sebagai ,berikut
1. pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat
banyak, khusus- nya pangan, sandang dan
perumahan;
2. pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan
dan pelayanan kesehatan;
3. pemerataan pembagian pendapatan;
4. pemerataan kesempatan kerja;
5. pemerataan kesempatan berusaha;
6. pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam
pembangunan, khususnya bagi generasi muda dan
kaum wanita;
7. pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh
wilayah tanah air;
8. pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.
Dengan makin meningkat dan meluasnya
pembangunan di bidang ekonomi dan sosial budaya, akan
semakin meningkat dan merata pula kesejahteraan
rakyat, sehingga diharapkan jumlah penduduk yang
hidup di bawah garis kemiskinan akan menjadi semakin
kecil. Hal ini akan lebih memperbesar
kesadaran rakyat mengenai arti dan man- faat
pembangunan, sehingga memperkuat tekad rakyat
untuk melan- jutkan pembangunan pada tahap-tahap
berikutnya.
Mengenai jalur pemerataan yang pertama khususnya
yang menyang- kut pemerataan pemenuhan
kebutuhan pangan, maka dalam Repe- lita III akan
diusahakan tersedianya barang-barang kebutuhan po-
kok sehari-hari, khususnya 9 bahan pokok yang cukup
tersebar merata, dengan harga yang stabil dan
terjangkau oleh rakyat banyak.
21
Persediaan pangan yang cukup memadai dan
terjangkau,oleh, se- luruh rakyat merupakan
perwujudan dari jalur pemerataan yang pertama.
Pelaksanaan jalur ini erat kaitannya dengan masalah pro-
duksi pangan, perbaikan sarana distribusi dan
pemasaran pangan, perbaikan pengolahan dan
penyimpanan hasil produksi pangan, ting- kat
kesadaran dan keadaan gizi serta peningkatan pelayanan
kesehatan masyarakat.
Produksi pangan yang terpenting yaitu beras
diperkirakan akan dapat ditingkatkan dari 17,5
juta ton dalam tahun 1978 menjadi 20,6 juta ton
pada tahun 1983. Selama Repelita III tingkat
perkembangan konsumsi beras diperkirakan berkisar
antara 3,3 — 4,1% setahun.

Kebijaksanaan dan langkah-langkah di bidang pangan


dan perbaikan gizi dalam Repelita III adalah sebagai
berikut. Pertama-tama mengusahakan agar persediaan
dan konsumsi bahan makanan dalam masya- rakat
terus rrmeningkat dan semakin beraneka ragam. Di
samping un- tuk memenuhi kebutuhan pangan,
kebijaksanaan ini ditujukan pula untuk mengurangi
ketergantungan rakyat kepada beras dan sekaligus
meningkatkan keadaan gizi rakyat.

Langkah-langkah yang akan ditempuh untuk


meningkatkan perse- diaan dan konsumsi pangan
antara lain dilakukan dengan meningkat- kan
kegiatan intensifikasi, penganeka-ragaman dan
perluasan kegiatan pertanian. Perhatian diberikan
terhadap usaha intensifikasi tanah ke- ring serta
tanaman palawija. Usaha penganeka-ragaman
dilakukan. an- tara lain dengan pergiliran tanaman
"
tumpang-sari" kacang-kacangan dan atau
sayuran. Di samping itu juga membantu dan
mendorong pemasaran dan pengolahan bahan-bahan
pangan seperti gandum, jagung, sorghum, ubi-ubian,
kacang-kacangan, sayuran dan buah-buahan.

Untuk mendorong penganeka-ragaman pangan akan


diadakan pula gerakan penyuluhan secara teratur, baik
di daerah perkotaan maupun di daerah pedesaan. Di
daerah-daerah yang pola konsumsinya telah beraneka
ragam diusahakan penyuluhan agar pola konsumsi
tersebut tidak bergeser ke arah konsumsi beras saja.
22
Di samping itu akan dipergunakan pola kebijaksanaan
harga untuk mendorong produksi bahan pangan
lainnya sehingga terjadi pergeseran dari sebagian kon-
sumsi beras kepada- konsumsi bahan pangan lainnya.

Selain dengan kebijaksanaan pemantapan harga


pangan, maka peng- hasilan para petani produsen
juga akan diusahakan semakin bertam- bah baik,
yaitu antara lain melalui usaha peningkatan
produktivitas per hektar tanah. Kebijaksanaan
pengaturan harga bahan pangan
akan diarahkan agar tingkat harga terjangkau oleh
rakyat banyak, namun juga cukup memberikan
gairah bagi para petani dalam meningkatkan
produksinya. Dalam rangka ini langkah-langkah pembe-
lian dalam negeri, penjualan di pasaran umum dan
penyediaan sarana penyangga akan dilanjutkan dan
ditingkatkan.

Untuk memperbaiki mutu gizi makanan akan diatur


kombinasi yang sebaik-baiknya dari bahan pangan
yang diproduksi. Perbaikan mutu gizi dilakukan
pula dengan menambahkan zat-zat gizi tertentu
kedalam bahan pangan yang banyak dikonsumsi rakyat
(fortifikasi).

Guna meningkatkan keadaan gizi rakyat, selain


kebijaksanaan di bidang pangan seperti disebutkan di
atas, akan dilakukan pula langkahlangkah untuk
menanggulangi masalah gizi, khususnya kekurangan
kalori protein (KKP), kekurangan vitamin A, gondok
endemik dan anemia gizi besi. Penyakit-penyakit akibat
kekurangan gizi ini banyak diderita oleh anak-anak
umur di bawah lima tahun (BALITA), wani- ta
hamil dan menyusui serta golongan pekerja
berpenghasilan rendah.

Usaha mencukupi kebutuhan pangan dan gizi


memerlukan langkahlangkah yang menyeluruh dan
merupakan bagian dari kebulatan kebijaksanaan dan
langkah pembangunan nasional. Oleh karena itu akan
diambil langkah-langkah secara terpadu di berbagai
bidang, terutama bidang kesehatan, pertanian, industri,
pendidikan, penerangan, per-dagangan, kependudukan
dan lingkungan hidup.

Dalam rangka pemerataan pemenuhan kebutuhan


sandang, maka akan diusahakan agar produksi

23
sandang dalam negeri dapat ber- kembang pesat.
Pada tahun 1983/84 produksi dan konsumsi san-
dang diperkirakan masing-masing sebesar 2.500 juta
meter atau 16 m/ kapita dan 2.200 juta meter atau 14
m/kapita. Dengan demikian dalam tahun tersebut
sebagian produksi sandang akan dapat diekspor. Lebih
lanjut diperkirakan bahwa usaha penyediaan kebutuhan
sandang dalam Repelita III ttidak akan mengalami
kesulitan, karena diharapkan 90 % dari
kebutuhan sandang akan dapat dipenuhi dari produksi
dalam negeri.
Unsur penting lainnya dalam usaha peningkatan
kesejahteraan rak- yat adalah pemerataan dalam
memenuhi kebutuhan perumahan.Sehu-bungan
dengan itu maka pembangunan perumahan rakyat
yang sederhana, murah dan yang menjamin kesehatan
serta kesejahteraan keluarga akan semakin
ditingkatkan. Untuk program pembangunan
perumahan tersebut akan .dikembangkan suatu sistem
yang lebih terarah dan terpadu, yang berkaitan dengan
tata guna tanah perkotaan dan pedesaan,
pembiayaan, perluasan kesempatan kerja, kesehatan
lingkungan, produksi bahan bangunan lokal dan
keserasian pembangunan daerah serta lingkungan
pemukiman pada umumnya.

Pembangunan perumahan rakyat dan perbaikan


kampung yang terutama bertujuan untuk meningkatkan
mutu kehidupan bagi golongan masyarakat
berpenghasilan rendah akan ditingkatkan, terutama
untuk. menolong dan membina peranan, kemampuan
dan prakarsa masyarakat sendiri untuk ikut serta dalam
pembangunan pemukiman. Usaha pembangunan
perumahan melalui PERUMNAS di daerah pemukiman
kota akan terus ditingkatkan dan diperluas ke berbagai
kota. Dalam hubung- an ini, maka selama lima tahun
akan diusahakan pembangunan perumahan sederhana
dan rumah inti sekitar 120.000 rumah, yang terbagi
atas sekitar 60.000 rumah sederhana dan 60.000 rumah
inti. Selain itu melalui Bank Tabungan Negara
diberikan kemungkinan kredit pemilikan rumah
bagi masyarakat. Dalam hubungan ini diperkirakan
perusahaan pembangunan perumahan. rakyat akan
membangun sekitar 30.000 rumah perumahan rakyat.
Di samping itu akan dilan- jutkan dan ditingkatkan
usaha-usaha perintisan pemugaran perumahan pada
sekitar 6.000 desa. Perbaikan kampung akan
ditingkatkan dan dikembangkan diberbagai kota melalui
24
usaha perintisan yang diper-kirakan mencakup areal
seluruhnya kurang lebih 15.000 ha. dengan, penduduk
sekitar 3.500.000 orang.

Lebih lanjut sasaran pembangunan di bidang


perumahan juga erat hubungannya dengan lingkungan
pemukiman yang sehat "Dalam hu-bungan ini, maka
selain melanjutkan pembangunan instalasi-instalasi
pcnyedian air bersih yang telah dimulai selama
Repeiiita II, akan diusahakan peningkatan penyediaan
air bersih untuk sekitar 150 kota
kecil dengan menggunakan paket unit yang di
standardisir. Di daerah pedesaan, penyediaan air bersih
akan ditingkatkan antara lain mela- lui lnpres
Bantuan Pembangunan Sarana Kesehatan dengan
mengutamakan daerah pemukiman yang banyak
mengalami penyakit rakyat dan yang langka
akan sumber air bersih. Peningkatan ini akan
dikaitkan pula dengan usaha-usaha penyuluhan
kesehatan masyarakat.

Dalam pada itu, untuk menunjang berhasilnya


pembangunan rumah murah, maka akan diusahakan
pula peningkatan produksi bahan-bahan bangunan
rumah murah secara besar-besaran yang memenuhi
syarat kesehatan dan terbuat dari bahan-bahan yang
terdapat di Indonesia. Penyuluhan mengenai teknik
pembangunan perumahan serta pemu- garan
perumahan dan desa juga akan ditingkatkan ".agar
semakin ba- nyak rakyat mendiami rumah yang
sehat dalam lingkungan yang sehat pula.

Sebagai jalur kedua pemerataan adalah langkah-


langkah dan kegiat- an pemerataan yang
ditujukan kepada pemerataan kesempatan memperoleh
pendidikan dan pelayanan kesehatan.

Titik berat program pendidikan diletakkan pada


perluasan pendi- dikan dasar, dalam rangka
mewujudkan pelaksanaan wajib belajar yang
sekaligus memberikan ketrampilan sesuai dengan
kebutuhan lingkungannya serta peningkatan pendidikan
teknik dan kejuruan pada semua tingkat, untuk
dapat menghasilkan anggota-anggota masyarakat
yang memiliki kecakapan sebagai tenaga-tenaga
pembangunan.

Sebagai gambaran dapat dikemukakan bahwa pada


tahun ajaran 1 9 7 9 / 8 0 kesempatan belajar pada
2
5
Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dapat
menampung sejumlah 24,2 juta murid termasuk di
dalamnya 20,5 juta murid yang berumur 7 — 1 2 tahun.
Keadaan ini berarti dapat menyerap 9 3 , 7 % dari
seluruh an.ak usia 7 — 12 tahun (82,1% pada SD dan
11,6% pada MI) yang jumlah keseluruhannya
adalah 2 1 , 8 juta pada tahun 1979/80.

Dalam Repelita III kesempatan belajar pada SD dan MI


akan ditambah dengan lebih .dari 1 , 7 juta, sehingga
pada tahun 1983/84
akan dapat ditampung keseluruhan anak usia 7 — 12
tahun yang berjumlah sekitar 22,0 juta, di samping
sekitar 3,9 juta anak lagi pada pendidikan dasar
yang berumur di bawah 7 tahun atau di atas 12
tahun. Hal ini berarti bahwa persyaratan fasilitas belajar
untuk melaksanakan kewajiban, belajar dapat dipenuhi,
di samping dapat disediakan sarana pendidikan lainnya
terutama dengan tenaga guru dan buku
pelajaran.
Sementara itu Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
(SLTP) dan Se- kolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA)
masing-masing akan diarahkan agar dapat
menampung 85 % lulusan SD dan 90,4% lulusan SLTP
pada akhir Repelita III.
Kesempatan belajar juga akan diperluas dan
diratakan dengan memperhatikan mereka yang tidak
memperoleh ataupun kurang dapat memanfaatkan
kesempatan untuk bersekolah atau putus sekolah.
Dalam hubungan ini, maka sasaran pendidikan antara
lain akan diarahkan meliputi pembinaan pengetahuan
praktis dan ketrampilan dasar, pra kejuruan,
pertukangan dan perbengkelan, kepemimpinan,
pendidikan keluarga serta pembinaan sikap mental
pembaharuan dan pemba-ngunan. Hal ini akan
dilakukan antara lain melalui program "kerja sambil
"
belajar atau KEJAR, di mana peserta atau murid tidak
perlu meninggalkan pekerjaan sehari-hari. Lebih lanjut
dalam rangka usaha perluasan dan pemerataan
kesempatan belajar, melalui pen- didikan di luar
sekolah (pendidikan masyarakat) akan ditingkatkan
pemberantasan buta huruf dalam arti luas (buta aksara
latin, buta Bahasa Indonesia dan buta
pendidikan dasar) terhadap lebih dari 8 juta anak
dan orang dewasa yang tidak ataupun kurang dapat
me- manfaatkan kesempatan pendidikan
sekolah.
26
Dalam pada itu, untuk mempertinggi taraf kesehatan
dan kecer- dasan rakyat, maka peningkatan
pelayanan kesehatan dan perbaikan mutu gizi akan
semakin disempurnakan. Peningkatan pelayanan kese-
hatan dan perbaikan gizi tersebut diutamakan kepada
golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah baik
di desa maupun di kota. Perbaikan kesehatan rakyat
ditekankan pada pencegahan dan pengobatan, dengan
mendekatkan pelayanan kesehatan pada rakyat. Usaha
perbaikan terutama ditujukan kepada peningkatan
pemberantasan penyakit me-
nular, penyakit rakyat, peningkatan keadaan gizi
rakyat, peningkatan sanitasi lingkungan, perlindungan
rakyat terhadap bahaya narkotika, pencegahan
penggunaan obat yang tidak memenuhi syarat,
penyedia- an obat-obatan yang makin merata
dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat ]uas,
penyediaan tenaga medis dan Para medis secara me-
rata pula, peningkatan penyuluhan kesehatan rakyat
dan perluasan pelayanan kesehatan melalui pusat
kesehatan masyarakat, rumah Sakit serta melalui
berbagai cara lain guna meningkatkan kesehatan
masyarakat desa.

Dalam Repelita III bagi kecamatan yang jumlah


penduduknya lebih dari 30.000 orang atau
kecamatan yang wilayahnya cukup luas akan diberi
Puskesmas baru sebagai tambahan. Di samping itu akan
dibangun pula Puskesmas Pembantu di desa-desa.
Sesuai dengan kebijaksanaan tersebut dalam Repelita III
akan dibangun sekitar 800 Puskesmas baru dan
Puskesmas Pembantu sesuai dengan kebu-tuhan.
Diharapkan pada akhir Repelita III, setiap Puskesmas
telah meningkatkan usahanya dari tujuh menjadi dua
belas jenis pelayanan kesehatan.

Sejalan dengan pembangunan Puskesmas, maka akan


dibangun pula Rumah Sakit Umum (RSU) bagi
Kabupaten-kabupaten atau Kotamadya yang belum
memiliki RSU. Di samping itu akan diting- katkan
usaha-usaha pemberantasan penyakit-penyakit rakyat,
antara lain penyakit malaria, penyakit TBC paru-
paru, kolera dan lain-lain.

Sebagai jalur ketiga dari kebijaksanaan pemerataan


adalah peme- rataan pembagian pendapatan.
Untuk ini perhatian khusus akan dicurahkan pada
usaha-usaha guna mempertinggi penghasilan kelom-
pok-kelompok masyarakat dengan mata pencahanan
yang peng- hasilannya sangat rendah. Di samping
kebijaksanaan-kebijaksanaan yang bersifat
27
khusus, segala kebijaksanaan ekonomi dan
pembangunan jugs diarahkan agar golongan yang
berpenghasilan rendah ini terangkat hidupnya.
Peningkatan pendapatan rakyat yang tergolong
sangat mis- kin ini merupakan bagian yang
panting dari usaha besar kita untuk mengurangi
ketimpangan antara yang kaya dan yang miskin.
Kebijaksanaan dan kegiatan yang ditujukan kepada
pemerataan pembagian
pendapatan bagi golongan sangat miskin antara lain
berupa pening- katan program-program untuk
menaikkan penghasilan kelompokkelompok
masyarakat yang mempunyai mata pencaharian
dengan penghasilan yang masih rendah, seperti
nelayan, pekerja kerajinan rakyat, petani penggarap
yang tidak memiliki tanah, petani pemilik tanah
yang sangat kecil, buruh tani dan sebagainya. Di
bidang ke- bijaksanaan ekonomi antara lain akan
dilakukan melalui kebijak- sanaan fiskal,
kebijaksanaan perkreditan, pembangunan pertanian,
pemerataan penyebaran pembangunan diseluruh
wilayah dan pemerataan kesempatan kerja.
Kebijaksanaan dan langkah-langkah kegiat- an
juga akan diarahkan kepada terwujudnya pola hidup
sederhana, dan rasional ekonomis yaitu tatanan
hidup bermasyarakat dan berling-kungan sehari-hari,
saling bertenggang rasa dengan menyesuaikan pen-
dapatan dan kebutuhan secara rasional, yang sangat
penting pula un- tuk memperkokoh solidaritas
sosial, dan dilakukan dengan penuh kesadaran nasional
baik oleh tingkatan lapisan atas maupun lapisan
terendah sesuai dengan pemerataan yang
direncanakan. Khusus- nya melalui
kebijaksanaan perpajakan, pemerataan pendapatan
akan diusahakan antara lain melalui penyempurnaan di
dalam dasar pajak; penyesuaian dari definisi
pendapatan dan kekayaan yang terkena pa- jak
sesuai dengan manfaat yang telah diperoleh dari hasil-
hasil pembangunan; penyempurnaan tarif yang
progresif pada jenis-jenis pendapatan dan pengeluaran
dalam rangka pemerataan beban menuju keadilan
sosial; pengenaan tarif yang relatif tinggi pada
konsumsi mewah, terutama yang berasal dari impor.
Dalam rangka meningkatkan pemerataan pendapatan
bagi kaum tani, maka dalam Repelita III dilaksanakan

28
langkah-langkah di bidang pertanahan khususnya yang
menyangkut pembangunan pertanian. Lang-kah-
langkah ini antara lain bertujuan untuk memberikan
kemungkinan kepada petani untuk menguasai tanah
pertanian yang diperlukan dengan.hak-hak yang
sifainya sementara (hak sewa, hak pakai, hak usaha
bagi hasil) sampai yang berjangka panjang (hak guna
usaha) dan hak yang terkuat (hak milik)
Kegiatan pendaftaran tanah ditingkatkan dalam
rangka memberi- kan jaminan kepastian hak
mengenai tanah yang dikuasai petani.
Dalam pada itu akan ditingkatkan pelaksanaan tentang
ketentuanketentuan yang melarang penguasaan tanah
pertanian yang melam- paui batas (penetapan
tentang luas maksimum tanah dan tentang tanah
absentee). Dalam rangka meningkatkan pendapatan
petani penggarap yang tidak memiliki tanah, maka
ketentuan mengenai pembagian hasil produksi secara
adil antara pemilik tanah dan penggarap tanah akan
ditegakkan dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-
undang No. 2/1960 tentang Bagi Hasil. Dalam hubungan
ini prosedur pembuatan perjanjian bagi hasil akan
disederhanakan untuk melindungi pihak-pihak yang
lemah kedudukannya dalam penggarapan tanah.
Dalam pada itu akan dikeluarkan pula ketentuan-
ketentuan yang bertujuan untuk memberi pengayoman
hak atas tanah. Dengan de- mikian dapat dicegah
sejauh mungkin proses bertambahnya jumlah petani
yang tidak memiliki tanah.
Pendaftaran tanah yang bertujuan untuk memberikan
kepastian hokum bagi pemilikan/penguasaan tanah
akan dilaksanakan dengan mengutamakan daerah-
daerah yang padat penduduknya. Dengan demikian
pemilik tanah dan pemegang hak atas tanah akan
merasa lebih terjamin hak-haknya dan suasana ini
akan berpengaruh besar atas aktivitas dan
kreativitas mereka itu.
Untuk memberikan kepastian hukum atas hak tanah
diadakan peningkatan pendaftaran tanah dan
pemberian sertifikat hak tanah. Sementara menunggu
penyelesaian hal tersebut secara menyeluruh, petuk D
dan girik atas tanah dapat dibenarkan ,sebagai salah
satu bahan bukti atas penguasaan/pemilikan tanah
guna memenuhi se- bagian dari syarat-syarat untuk
memperoleh kredit perbankan. Bagi daerah-daerah yang
tidak mengenal petuk D dan girik atas tanah dapat
pula diperlakukan surat-surat bukti tanah yang
menyamai petuk D dan girik sesuai dengan
perkembangan dan struktur hukum adat setempat
dengan disyahkan oleh Pejabat/Kepala

2
9
Kelurahan/Kecamatan/Kepala Daerah setempat, sebagai
salah satu bahan bukti atas penguasaan/pemilikan
tanah guna memenuhi sebagian dari syarat- syarat
untuk memperoleh kredit perbankan. Dengan demikian
para petani yang memiliki petuk D atau girik dan atau
surat-surat bukti tanah sesuai dengan struktur hak
adatnya akan memperoleh kesem- patan untuk
mengembangkan usahanya.
Pengukuran, pemetaan dan pendaftaran Itanah akan
dilaksanakan dengan mudah, cepat, sederhana, dan
biaya ringan, demikian pula da- lam pengurusan hak-
hak atas tanah.
Kebijaksanaan dan langkah-langkah di bidang
pertanahan yang menyangkut pertanian ditujukan
untuk meningkatkan pemerataan pendapatan di sektor
pertanian dan daerah pedesaan. Hal ini akan
menyumbang secara berarti kepada peningkatan
pemerataan pendapatan secara nasional.
Sebagai jalur keempat dari kebijaksanaan adalah
pemerataan kesempatan kerja. Di samping
meningkatkan produksi nasional, maka usaha
pembangunan nasional harus mempercepat pula
pertumbuhan lapangan kerja, karena pemberantasan
pengangguran dengan jalan memparluas kesempatan
kerja merupakan sasaran penting bagi pembangunan
nasional. Kesempatan kerja bukan saja memiliki nilai
ekonomis, melainkan juga mengandung nilai
kemanusiaan dengan menumbuhkan rasa harga diri,
sehingga memberi isi kepada asas kemanusiaan.
Dengan berbagai kegiatan pembangunan di bidang
eko- nomi diharapkan akan terjadi perluasah
kesempatan kerja. Hal ini dimaksudkan untuk dapat
menyerap sekurang-kurangnya tambahan tenaga kerja
baru dalam Repelita III yang diperkirakan sekitar 6,4
juta.
Perluasan kesempatan kerja merupakan kebutuhan
yang tetap mendesak dalam Repelita III. Oleh karena itu,
maka diperlukan berbagai kebijaksanaan
yang menyeluruh seperti pendidikan ketram-
pilan, pendidikan yang dapat menciptakan kegiatan
kerja, pembangun- an industri, pembangunan
prasarana, penentuan skala prioritas inves- tasi,
kebijaksanaan fiskal serta perkreditan, pemilihan
teknologi yang tepat guna dan sebagainya. Di samping

30
itu usaha-usaha untuk memperluas kesempatan kerja
juga dituangkan dalam program-program khusus,
antara lain dengan melanjutkan dan, memperluas
program bantuan pembangunan dan proyek-proyek
padat karya di daerah pedesaan.
Perluasan kesempatan kerja dan perlindungan
tenaga. kerja harus merupakan kebijaksanaan pokok
yang sifatnya menyeluruh di semua sektor. Dalam
hubungan ini program-prograrn pembangunan sektoral
maupun regional perlu senantiasa dilaksanakan
kearah terciptanya perluasan kesempatan kerja
sebanyak mungkin dengan imbalan jasa yang
sepadan.
Laju pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dalam
Repelita III akan diusahakan sedemikian rupa sehingga
sekaligus dapat mencipta-kan lapangan kerja baru yang
produktif yang dapat menampung sekurang-kurangnya
pertambahan angkatan kerja baru.
Di samping penciptaan lapangan kerja baru dalam
Repelita III juga diusahakan untuk meningkatkan
kwalitas kesempatan kerja baik yang lama maupun
yang baru. Peningkatan kwalitas ini menyangkut pe-
ningkatan produktivitas tenaga kerja, upah dan
penghasilan tenaga kerja, kesehatan kerja dan
lingkungan kerja baik di kota maupun di desa. Dalam
rangka pemerataan kesempatan kerja usaha-usaha
peningkatan kwalitas kesempatan kerja terutama
ditujukan bagi tenaga kerja dengan penghasilan rendah
di daerah minus, daerah padat penduduk dan miskin.
Melalui perluasan dan pemerataan lapangan kerja dan
peningkatan mutu lapangan kerja diharapkan akan
dapat dikurangi perbedaan penghasilan di antara
tenaga kerja yang berpenghasilan tinggi dengan tenaga
kerja yang berpenghasilan rendah dan dengan demikian
dapat ditingkatkan pemerataan pendapatan.
Masalah pengangguran tidaklah berdiri sendiri tetapi
erat kaitannya dengan situasi ekonomi, sosial, dan
kependudukan. Oleh karena itu sasaran-sasaran di
bidang kesempatan kerja merupakan bagian yang
terpadu daripada sasaran peningkatan produksi dan
pembangunan. Oleh karena itu cara pendekatan yang
dipergunakan di dalam menca- pai sasaran di atas
adalah pendekatan yang menyeluruh, dalam rangka
mengembangkan dan melaksanakan perencanaan
tenaga kerja secara nasional dan komprehensif. Dalam
hubungan ini dipergunakan empat jenis kebijaksanaan.
Pertama, adalah kebijaksanaan umum yang ditujukan
31
untuk menciptakan iklim, suasana, serta kerangka
pengam- bilan keputusan secara menyeluruh
sedemikian rupa sehingga kegiatan pembangunan yang
bersifat intensif tenaga kerja dapat lebih mudah
terwujud.
Berbagai kebijaksanaan yang mempengaruhi harga
faktor produksi akan diarahkan sehingga tingkat
maupun struktur harga akan menggambarkan sebaik
mungkin situasi kelangkaan maupun kelebihan fak-
tor produksi tersebut dalam masyarakat dan dengan
demikian akan mendorong industri pada sektor-sektor
padat karya. Selain itu berba- gai langkah
dilaksanakan untuk meningkatkan kegiatan investasi
Pemerintah dan masyarakat pada sektor-sektor yang
padat karya.
Pengembangan teknologi tepat guna ditingkatkan
agar tersedianya teknologi tepat guna semakin
meningkat pula dan penggunaannya se- makin
meluas dalam kegiatan pembangunan. Teknologi
tradisional yang sekarang banyak dipergunakan
oleh rakyat terutama di dalam menghasilkan barang-
barang kebutuhan pokok dikembangkan. Semen-
tara itu kebijaksanaan dan langkah-langkah kegiatan
juga diarahkan kepada terwujudnya pola hidup
sederhana dalam rangka mendorong, konsumsi hasil
produksi dalam negeri.
Kurang adanya keseimbangan antara jenis tenaga
terdidik yang ter- sedia dan tenaga terdidik yang
dibutuhkan dalam pembangunan dapat menghambat
perluasan kesempatan kerja. Oleh karena itu dalam
Repelita III ,dilaksanakan berbagai langkah dan
kebijaksanaan untuk mengatasi berbagai ketidak
seimbangan kebutuhan dan penyediaan tenaga
kerja baik dari segi jumlah maupun kwalitas. Langkah-
langkah dan kebijaksanaan ditujukan untuk tenaga
terampil di berbagai sektor serta meningkatkan
kemungkinan tenaga kerja yang belum atau tidak
bekerja untuk dapat bekerja baik sebagai karyawan
maupun sebagai pekerja yang berdiri sendiri.
Kebijaksanaan kedua adalah kebijaksanaan
kesempatan kerja sek- toral. Kebijaksanaan
32
kesempatan kerja sektoral diarahkan agar pilihan
produk dan pilihan teknologi produksi bersifat padat
.
karya semaksi- mal mungkin. Pengaturan
-
kelembagaan peningkatan produksi di ber-
bagai sektor diarahkan untuk perluasan dan pemerataan
lapangan kerja dan pendapatan. Dalam
hubungan ini maka usaha-usaha intensifikasi,
ekstensifikasi, dan diversifikasi disektor pertanian
ditingkatkan ,dan diperluas pelaksanaannya dalam
Repelita III. Usaha-usaha ini ,bukan hanya akan
meningkatkan produksi tetapi juga memperluas
lapangan kerja. Kebijaksanaan dan langkah-
langkah di sektor industri prasarana
dan konstruksi, perdagangan dan jasa dan lain-lain
diarahkan untuk perluasan pemerataan, dan
peningkatan kwalitas kesempatan kerja.
Kebijaksanaan ketiga adalah yang menyangkut
perluasan dan pemerataan kesempatan kerja daerah.
Dalam rangka meningkatkan penyebaran angkatan
kerja dari daerah padat penduduk dan tenaga kerja ke-
daerah yang kurang penduduk dan tenaga kerjanya,
dilaksanakan kegiatan transmigrasi, antar kerja antar
daerah dan antar kerja lokal.
Untuk perluasan dan pemerataan kesempatan kerja
di desa dilaksanakan pembangunan pedesaan dengan
mengikut sertakan sebanyak mungkin petani tanpa
tanah atau yang tanahnya amat sempit. Perluasan
lapangan kerja di desa mengurangi arus perpindahan
tenaga kerja dari desa ke kota dan
memperbesar arus perpindahan kembali ke desa
terutama bagi tenaga kerja musiman yang pergi ke
kota sewaktu di desa kurang kesibukan.
Jenis kebijaksanaan kesempatan kerja ke empat
adalah kebijaksa-_ naan kesempatan kerja khusus.
Kebijaksanaan kesempatan kerja khu- sus adalah
program dan langkah-Iangkah yang direncanakan
khusus untuk memperluas kesempatan kerja langsung
maupun tidak langsung.
Dalam rangka ini, maka ,dalam Repelita III Proyek
Padat Karya Gaya Baru yang bertujuan untuk
memperluas kesempatan kerja produktif dalam
pembangunan atau rehabilitasi sarana ekonomi, akan
dilaksanakan di kecamatan-kecamatan yang tergolong
miskin dan rela- tif padat penduduk dan sering
mengalami kekeringan atau banjir dan meliputi
sekurang-kurangnya 500 kecamatan setiap tahun dan
melibatkan sekitar 200.500 tenaga kerja per hari
selama setahun. Seja- lan dengan ini maka
33
kebijaksanaan menyebarkan dan memanfaatkan
tenaga kerja muda terdidik kepedesaan, khususnya
pemuda, sarjana muda dan sarjana melalui proyek
Tenaga Kerja Sukarela Pelopor Pembaharuan dan
Pembangunan (BUTSI), akan dilanjutkan dan
ditingkatkan. Proyek ini bertujuan membina daya
kreasi, idealisme dan kepribadian para pemuda. Dalam
Repelita III akan,dikerahkan sejum- lah 36.500
tenaga sarjana dan sarjana muda dalam rangka BUTSI.
Selanjutnya, dalam rangka antar kerja antar daerah
dan antar kerja antar negara akan disalurkan
sekitar 350.000 tenaga kerja.
Dalam rangka memanfaatkan tenaga kerja Indonesia
yang cukup besar bagi pembangunan maka dalam
Repelita III usaha kegiatan la- tihan yang
bersifat kejuruan dalam bidang-bidang yang diperlukan
dalam pembangunan di berbagai sektor, serta kegiatan
latihan untuk meningkatkan ketrampilan di bidang
kepemimpinan dan kewiraswastaan, makin
ditingkatkan dan ,dikembangkan. Dalam Repelita III
jumlah tenaga kerja yang akan dilatih sekurang-
kurangnya meliputi 175.000 orang.
Salah satu usaha dalam rangka menanggulangi
masalah kependudu- kan dan kesempatan kerja
adalah meningkatkan program transmigrasi. Program
transmigran ini ditujukan untuk meningkatkan
penyebaran penduduk dan tenaga kerja, pembukaan
dan pengembangan daerah produksi serta pertanian
baru dalam rangka pembangunan daerah, khususnya
di luar jawa yang dapat menjamin rakyat di sekitarnya.
Seliama Repelita III akan diselenggarakan transmigrasi
bagi 500.000 kepala keluarga dan untuk menempatkan
para transmigran akan dibangun daerah-daerah
pemukiman yang masing-masing akan menampung
sekitar 2.000 KK. Dengan demikian, selama Repelita III
akan dibangun sebanyak 250 daerah pemukiman.
Untuk membangun. Fasi- litas pemukiman
tersebut pertama-tama akan dilakukan kegiatan pem-
bukaan tanah. Setiap kepala keluarga akan mendapat
tanah seluas 2 ha, tetapi pada tahap pertama
pembukaan lahan siap tanam bagi para transmigran
dibatasi sampai 1,25 ha per kepala keluarga. Lahan ini
diperuntukkan bagi perumahan dan pekarangan seluas
0,25 ha dan lahan usaha seluas 1 ha yang
diperkirakan masih berada dalam jang- kauan
kemampuan transmigran dan keluarganya untuk
mengerjakan secara efektif tanpa bantuan tenaga
tambahan.
Di samping transmigrasi yang langsung digerakkan
34
oleh Pemerintah, usaha transmigrasi spontan juga akan
lebih didorong dengan memper-luas pembangunan dan
kegiatan ekonomi di luar Jawa serta dengan
meningkatkan hubungan antar pulau. Dalam hubungan
ini fasilitas angkutan penyeberangan antara Merak di
Jawa dan Bakahuni di Sumatera akan diselesaikan
pembangunannya dalam Repelita III.
Karena penyedenggaraan transmigrasi bersifat lintas
sektoral, maka pelaksanaannya dilakukan secara
terkordinasi. Untuk menjamin keber-
hasilan pelaksanaan program transmigrasi, dilakukan
persiapan-per- siapan yang matang, antara lain
penyediaan tanah garapan, penyele-, saian masalah
pemilikan tanah di daerah transmigrasi dan pemba-
ngunan armada pengangkutan yang mencukupi.
Sebagai jalur kebijaksanaan pemerataan yang
kelima adalah pemerataan kesempatan berusaha.
Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat yang
lebih aktif dalam pembangunan, maka perluasan dunia
usaha swasta nasional mendapat perhatian yang
sungguh-sungguh. Dalam hubungan ini ditingkatkan
kerjasama yang serasi antara Pemerintah, perusahaan
milik negara, dunia usaha swasta dan koperasi.
Pemerintah menciptakan iklim yang sehat yang
diperlukan untuk kelancaran usaha antara lain dengan
jalan mengusahakan ketentraman dan keamanan
usaha, menyederhanakan prosedur perijinan dan
sebagainya.
Program pengembangan dunia usaha terutama
pengusaha kecil golongan ekonomi lemah akan
diberikan perhatian yang lebih besar dalam Repelita III.
Pembinaan usaha golongan ekonomi lemah dilak-
sanakan antara lain dengan jalan pemberian bantuan
kredit dengan syarat-syarat yang tidak
memberatkan, bantuan keahlian, penyuluhan, dan
melalui usaha-usaha dalam rangka menumbuhkan dan
mengembangkan kewiraswastaan.
Kebijaksanaan penyediaan dana perkreditan yang
telah dilaksana- kan dalam Repelita II akan
dilanjutkan, ditingkatkan, disempurnakan dan
diperluas, terutama kredit investasi kecil, kredit modal
kerja permanen, kredit mini, kredit candak kulak dan
berbagai macam kredit lainnya yang mendorong
pemerataan kegiatan pembangunan serta pemerataan
pembagian pendapatan. Dalam hubungan ini dipertim-
35
bangkan kemungkinan pemberian kredit untuk
pengusaha kecil go- longan ekonomi lemah atas
dasar penelitian kelayakan yang sederhana. Di
samping itu bank-bank Pemerintah akan lebih aktif lagi
mencari dan membina nasabah pengusaha kecil
golongan ekonomi lemah.
Lembaga pembiayaan pembangunan khusus bagi
perusahaan menengah dan kecil seperti PT Bahana, PT
Askrindo, Lembaga Jaminan
Kredit Koperasi akan lebih dikembangkan agar dapat
melayani kebutuhan golongan ekonomi lemah.
Khususnya untuk membantu golongan ekonomi lemah
akan lebih dikembangkan cara-cara pembiayaan ber-
sama antara dana-dana perbankan dan dana-dana
anggaran untuk membiayai kegiatan-kegiatan tertentu
yang berprioritas tinggi seperti pembangunan
perumahan rakyat, peremajaan perkebunan rakyat, pe-
ngembangan usaha koperasi dan lain-lain. Melalui cara
ini maka dana-dana anggaran tersebut dipergunakan
untuk memperingan bunga kre- dit bank dan untuk
memperpanjang jangka waktu kredit.
Demikian pula akan diberikan bantuan, pemasaran
antara lain de- ngan memberikan prioritas kepada
pengusaha golongan ekonomi le- mah untuk
memperoleh tempat penjualan di pasar-pasar, pusat-
pusat pertokoan, pusat perhotelan dan pariwisata.
Khusus untuk mereka yang tergolong dalam
pedagang kecil golongan ekonomi lemah akan dibantu
dengan penataran dan konsultasi, dan dengan
penyediaan kre- dit dengan persyaratan ringan. Untuk
pemasaran barang-barang yang skala produksinya
telah memadai akan dikembangkan organisasi-orga-
nisasi pemasaran (trading house). Tambahan pula
jenis-jenis usaha tertentu, terutama jenis usaha
tradisional yang merupakan usaha golongan ekonomi
lemah, mendapat perlindungan.

Kewiraswastaan, keahlian dan kemampuan usaha


dari pengusaha nasional akan terus ditingkatkan,
sehingga pengalihan pengelolaan usaha-usaha swasta
asing ke swasta nasional dapat dipercepat. Untuk
itu akan diberikan pendidikan dan latihan yang
memberikan kemungkinan bagi mereka untuk
mengembangkan kewiraswastaan dan secara lebih
sungguh-sungguh akan ditertibkan kembali perijinan-
perijinan bagi kegiatan dunia usaha dengan
36
sasaran menciptakan iklim yang lebih sehat bagi
kegairahan usaha. Demikian pula diusahakan untuk
mendorong usaha patungan antara pengusaha asing
dan nasional dengan melalui pemberian perangsang
PMDN dan lain-lain.
Usaha pengembangan dunia usaha akan dikaitkan pula
dengan usaha-usaha pemerataan penyebaran
pembangunan di selutuh daerah. Dengan demikian
kegiatan pembangunan dunia usaha akan membantu
membangkitkan pembangunan daerah-daerah. Di daerah-
daerah
yang mempunyai potensi pengembangan jenis-jenis
usaha tertentu akan didirikan pusat-pusat
pelayanan.
Dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi dipelbagai
sektor, koperasi telah dan akan diberi peranan dan
ruang gerak yang lebih luas. Koperasi adalah lembaga
ekonomi yang berwatak sosial yaitu sebagai usaha
bersama berdasarkan azas kekeluargaan. Dalam usaha
untuk meningkatkan peranan dan kemampuan koperasi,
konsep-konsep operasional yang menitikberatkan pada
pembinaan prakarsa dan swakarya, peningkatan
ketrampilan manajemen dan pemupukan modal dari
anggota koperasi terus diiaksanakan dan
disempurnakan agar koperasi sungguh-sungguh menjadi
wahana untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat
banyak. Untuk ini pertama-tama sistem organisasi
koperasikoperasi primer akan dibina agar peranan
anggota dalam koperasi semakin besar. Ini antara lain
akan dicapai dengan jalan mendorong Koperasi-koperasi
Unit Desa agar membentuk sistem perwakilan yang
akan mewakili seluruh anggota apabila ada rapat
anggota, dan agar Koperasi-koperasi Unit Desa dapat
membentuk unit-unit atau cabangcabang usaha di
lokasi-lokasi yang dengan mudah dapat terjangkau
oleh para anggota. Di samping itu koperasi-koperasi,
terutama Koperasi-koperasi Unit Desa, dibantu agar
memperoleh manajer-manajer yang berwira-
usaha dan pembantu-pembantu manajer yang trampil.

Selanjutnya kepada koperasi-koperasi primer,


khususnya kepada Koperasi-koperasi Unit Desa, akan
diberikan fasilitas-fasilitas khusus, dengan tujuan
memperbesar kemampuannya untuk bersaing, tanpa
memberikan kedudukan monopoli. Untuk- lebih
memasyarakatkan koperasi, pendidikan perkoperasian
akan disebar luaskan melalui baik lembaga-lembaga
pendidikan formal maupun lembaga-lembaga pendi-
dikan non formal. Pendidikan ini akan diberikan kepada
pria dan wanita.
37
Koperasi , digunakan pula sebagai salah satu wadah
utama untuk membina kemampuan usaha golongan
ekonomi lemah. Dalam hubung- an ini kepada
koperasi-koperasi yang ada akan diberi kesempatan
seluas-luasnya dalam bidang-bidang usaha yang sesuai
dengan kebu-tuhan para anggotanya. Kepada mereka
akan diberikan bantuan kre-
dit dengan persyaratan ringan yang dapat diperoleh
atas dasar pene- litian kelayakan yang sederhana.
Dalam pelaksanaan pembinaan koperasi, yang
diutamakan pada koperasi primer, terus dilaksanakan
usaha-usaha pembinaan secara hori- zontal dan
vertikal pada tingkat nasional dan daerah. Dalam
hubungan ini akan ditempuh langkah-langkah untuk
mendorong organisasi-organisasi perkoperasian di
tingkat daerah dan di tingkat nasional agar
mengutamakan kegiatan-kegiatannya dalam bidang-
bidang pendidikan, pembinaan, pengendalian dan
pengawasan. Gerakan-gerakan koperasi termasuk
Dewan Koperasi Indonesia, akan dibantu agar semakin
mampu berfungsi dengan berhasilguna. Dengan
kebijaksanaan ini diharapkan di satu pihak peranan
koperasi-koperasi tingkat daerah dan nasional sebagai
pembina koperasi primer akan semakin meningkat,
sedang di pihak lain, kemungkinan koperasi-koperasi
primer untuk berswakarsa, berswakarya dan
berswadaya akan terbuka luas, sehing- ga
pertumbuhan demokrasi ekonomi akan semakin
terjamin.
Sebagai jalur keenam dari kebijaksanaan pemerataan
akan di- berikan perhatian pula kepada
pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam
pembangunan khususnya bagi generasi muda dan
wanita.
Dalam rangka mempersiapkan kader penerus
perjuangan bangsa dan pembangunan nasional
maka diusahakan pemerataan kesempatan
berpartisipasi sepenuhnya bagi generasi muda dalam
kegiatan pembangunan.
Pengembangan wadah untuk meningkatkan peranan
generasi muda seperti sekolah, organisasi fungsional
pemuda antara lain KNPI, Pramuka, organisasi olah
raga dan lain-lainnya akan terus ditingkatkan. Untuk

38
itu antara lain diusahakan bertambahnya fasilitas dan
sarana yang memungkinkan pengembangan
kepemudaan. Dalam rangka ini juga akan
dikembangkan kelompok kerja produktif untuk
menngkat- kan peranan generasi muda dalam
pelaksanaan pembangunan dan akan disusun suatu
kebijaksanaan nasional tentang kepemudaan secara
menyeluruh dan terpadu.
Sejalan dengan kebijaksanaan pengembangan dunia
usaha maka akan didorong pengembangan.
kewiraswastaan di kalangan. generasi muda, antara
lain dibidang industri kecil, kerajinan -rakyat dan jasa.
Khususnya di bidang pertanian para pemuda akan
lebih didorong dan dirangsang agar lebih terlibat
dalam berbagai kegiatan pembangun- an pertanian
dalam rangka pembangunan daerah pedesaan pada
umumnya, antara lain sebagai kader-kader
pengembangan koperasi, tenaga penyuluh pertanian,
sebagai petani muda yang memanfaatkan fasilitas
Bimas/Inmas, pengolah hasil pertanian dan lain
sebagainya.
Kemudian juga diusahakan peningkatan peranan
generasi muda da- lam penyebarluasan pengetahuan
praktis tentang usaha perbaikan gizi serta dapat
melakukan perintisan dalam perbaikan/perubahan pola
konsumsi makanan rakyat.
Dalam usaha keluarga berencana, khususnya calon
ibu berusia muda, diusahakan menjadi pelopor
dalam pembinaan keluarga sejah- tera.
Keterlihatan generasi muda dalam usaha
pemeliharaan kelestarian lingkungan hidup diusahakan
misalnya melalui kelompok pencinta alam,
kelompok tugas penghijauan dan lain sebagainya.
Selanjutnya, sejalan dengan peningkatan program
transmigrasi maka kesempatan untuk para pemuda
yang berminat akan lebih dimantap- kan dengan
sekaligus tetap memperhatikan kebutuhan mereka
akan ketrampilan dan pendidikan di lingkungan
pemukiman baru.
Dalam rangka pemerataan, partisipasi wanita dalam
pembangunan adalah penting. Masalah pokok yang
dihadapi dalam usaha peningkatan peranan wanita
adalah masih rendahnya taraf pendidikan sebagian be-
sar kaum wanita, terutama di daerah pedesaan atau di
daerah miskin di kota-kota. Oleh sebab itu peningkatan
peranan wanita akan ditujukan terutama kepada kaum
wanita yang belum pernah mendapat kesem- patan.
39
menikmati pendidikan formal termasuk mereka yang
putus sekolah dasar.
Sasaran usaha untuk meningkatkan peranan wanita
dalam pembangunan antara lain melalui peningkatan
pendidikan dan ketrampilan wanita terutama di daerah
pedesaan, yang berupa pendidikan formal, pendidikan
ketrampilan lainnya dan penyuluhan termasuk
pendidikan kewiraswastaan. Walaupun fungsi pokok
wanita ialah sebagai ibu ru- mah tangga di
dalam keluarga, fungsi yang penting lainnya ialah se-
bagai tenaga kerja dan sebagai unsur dalam
pembangunan masyarakat desa. Untuk itulah maka
wanita perlu diberi kesempatan untuk mendapat latihan
dan pendidikan untuk mempersiapkan diri atau mening-
katkan kemampuannya. Mengingat banyaknya jumlah
wanita, dan mengingat pula bahwa batas umur
minimum untuk menikah adalah 16 tahun, serta
untuk bekerja adalah 14 tahun, maka dipandang perlu
untuk memberikan prioritas utama pada golongan
penduduk wanita yang berumur antara 10 -- 25 tahun,
kemudian baru kelompok umur 25 — 45 tahun. Di
samping itu berpedoman pada asas pemerataan,
akan diberikan prioritas kepada wanita yang
berpenghasilan rendah terutama yang tinggat di daerah
pedesaan.
Di bidang pertanian, wanita memainkan peranannya
secara langsung baik di dalam kegiatan produksi
maupun penggunaan hasil-hasil pertanian. Tenaga kerja
wanita di daerah pedesaan adalah merupakan bagian
utama yang melaksanakan pelbagai kegiatan
pembangunan di bidang pertanian. Agar kaum wanita
dapat menggunakan cara-cara dan teknologi
baru di bidang pertanian tersebut dengan sebaik-
baiknya, akan diberikan pengetahuan dan ketrampilan
yang diperlukan. Dalam rangka ini akan diadakan dan
ditingkatkan latihan-latihan serta kur- sus-kursus
bagi kaum wanita agar mereka dapat mengenal dan
memanfaatkan cara-cara teknologi barn di bidang
pertanian.
Demikian pula akan diusahakan untuk lebih
meningkatkan keterlibatan kaum wanita dalam
menanggulangi masalah gizi terutama di daerah
pedesaan.
Hal ini antara lain dilakukan melalui penyuluhan dan
latihan ketrampilan dengan sejauh mungkin
memanfaatkan pekarangan guna ditanami dengan
bahan makanan yang bergizi tinggi.

40
Kecuali itu kaum wanita terutama di daerah pedesaan
memegang peranan penting dalam cara-cara
penyimpanan dan pemanfaatan hasilhasil pertanian.
Untuk itu akan diadakan kursus-kursus dan latihan-
latihan. tentang memperbaiki cara penyimpanan hasil-
hasil pertanian untuk menghindarkan pemborosan
karena pembusukan dan lain sebagainya atau supaya
nilai gizinya tidak berkurang. Demikian pula di-
tingkatkan pemanfaatan hasil-hasil pertanian untuk
perbaikan gizi
keluarga, termasuk pemanfaatan tanaman pekarangan,
peternakan, perikanan danlain sebagainya.
Penyuluhan dan ketrampilan akan diberikan tentang
Cara-cara sederhana untuk memelihara kesehatan
dirinya serta anak-anak dan keluarganya, begitu pula
akan dikembangkan usaha-usaha yang dapat dilakukan
oleh para ibu untuk membina kesehatan lingkungan.
Kecuali itu akan lebih ditanamkan lagi pengertian
terhadap manfaat air susu ibu bagi kesehatan dan
pertumbuhan anak-anak.
Untuk meningkatkan sumbangan wanita terhadap
pembangunan di bidang industri dan sekaligus
meningkatkan mutu barang-barang industri, akan
diusahakan untuk meningkatkan pelbagai bentuk
latihan ketrampilan bagi tenaga-tenaga wanita yang
bekerja di bidang industri termasuk latihan-latihan
untuk memperoleh kemampuan kepemim- pinan.
Selanjutnya peranan wanita sangat erat hubungannya
dengan pemasaran hasil-hasil industri. Kemampuan
kaum wanita untuk memilih hasil-hasil barang industri
yang bermutu akan turut menentukan perkembangan
hasil-hasil industri itu sendiri. Dalam hubungan ini akan
diusahakan penyuluhan dan pendidikan mengenai cara-
cara untuk memilih barang konsumsi yang bermutu
baik.
Selanjutnya keikutsertaan wanita dalam pelaksanaan
program ke- luarga berencana akan lebih ditingkatkan
melalui usaha untuk mendapatkan peserta keluarga
berencana, pemeliharaan kelestarian pe- serta,
dan penyuluhan serta penerangan terutama bagi
daerah-daerah yang belum terjangkau oleh
pelaksanaan keluarga berencana.
Dalam rangka pengembangan hukum akan
dikembangkan peratur- an perundang-undangan
yang dapat mendorong turut sertanya tenaga wanita di
dalam kegiatan pembangunan dan sekaligus untuk
mem- berikan perlindungan terhadap tenaga kerja
41
wanita.
Dalam rangka mengembangkan perkoperasian di
daerah-daerah, turut sertanya kaum wanita akan
dikembangkan pula melalui penyu- luhan dan latihan
ketrampilan yang meliputi masalah keanggotaan,
organisasi pengelolaan dan keuangan koperasi.
Sebagai jalur pemerataan ke tujuh adalah
pemerataan penyebaran pembangunan ke seluruh
wilayah Tanah Air.
Dalam usaha memeratakan pembangunan ke seluruh
wilayah Indonesia, maka akan dilanjutkan dan
ditingkatkan pembangunan dae- rah dan
pembangunan pedesaan yang lebih diarahkan kepada
per- luasan kesempatan kerja, pembinaan dan
pengembangan lingkungan pemukiman pedesaan dan
perkotaan yang sehat, di samping pening- katan
kemampuan penduduk untuk memanfaatkan sumber-
sumber kekayaan alam dan menanggulangi masalah-
masalah yang mendesak. Dalam hubungan ini daerah-
daerah minus dan daerah-daerah yang padat
penduduknya mendapat perhatian khusus, antara lain
dalam rangka mengurangi derasnya
perpindahan penduduk ke kota-kota besar.
Pemerataan penyebaran pernbangunan di seluruh
wilayah Tanah Air mempunyai sasaran antara lain
adalah lebih menyerasikan pembangunan sektoral
dengan pembangunan daerah, sehingga keselu-
ruhan pembangunan daerah juga benar-benar
merupakan satu ke- satuan demi terbinanya
Indonesia sebagai satu kesatuan politik, eko- nomi,
sosial budaya dan pertahanan keamanan. Hal ini
dilaksanakan dengan menyesuaikan jenis dan tempat
proyek-proyek pembangunan dengan prioritas dan
kebutuhan pembangunan daerah.
Usaha pemerataan penyebaran pembangunan juga
ditujukan un- tuk makin menyerasikan
pertumbuhan antar daerah yang antara lain akan
dicapai melalui penyediaan jumlah minimum Bantuan
Pem- bangunan Daerah Tingkat I dan Daerah
Tingkat II.
Dalam rangka penyebaran pembangunan ini Bantuan
Pembangun- an Daerah-daerah akan
dilanjutkan, ditingkatkan dan bahkan diper- luas.
Di samping itu dalam Repelita III juga diadakan bentuk
Inpres bantuan pembangunan baru yang berupa Inpres
42
Prasarana Jalan.
Namun demikian akan tetap diusahakan langkah-
langkah untuk meningkatkan pendapatan daerah baik
dengan pemungutan yang le- bih intensif, wajar
dan tertib terhadap sumber-sumber yang ada mau-
pun dengan penggalian sumber-sumber keuangan baru
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Berbagai bentuk pungutan yang tidak mempunyai
dasar pengaturannya, terutama di daerah pedesaan
akan ditertibkan.
Dalam Repelita III diutamakan pula pembangunan
daerah-daerah yang terbelakang, daerah-daerah
minus dan daerah-daerah yang pa- dat
penduduknya.
Peningkatan transmigrasi juga dilakukan dalam
rangka pem- bangunan daerah-daerah.
Transmigrasi bukan ,raja sebagai cara un- tuk
memecahkan kepadatan penduduk di sesuatu daerah,
melainkan juga untuk menambah sumber daya
manusia dan pengembangan daerah-daerah
yang memerlukan.
Pembangunan Desa akan dilakukan secara lebih
terpadu dan ter- utama melalui peningkatan prakarsa
dan swadaya masyarakat desa. Dalam rangka ini pula
akan disempurnakan wadah-wadah penyalur pendapat
masyarakat pedesaan. Demikian juga akan lebih
dimantap- kan hubungan kordinasi perencanaan
dan pelaksanaan pembangunan daerah pedesaan
melalui sistem Unit Daerah Kerja Pembangunan (UDKP).
Dalam Repelita III diperkirakan dapat dilakukan
pemben-, tukan 1.000 UDKP.
Dilain pihak kota-kota sedang dan kota-kota kecil
akan dikem- bangkan menjadi pengumpul dan
penyalur hasil-hasil pertanian serta kebutuhan
pokok lainnya bagi daerah sekitarnya yang sekaligus
ditujukan untuk mengurangi arus urbanisasi ke kota-
kota besar. Usaha untuk meningkatkan kwalitas
hidup masyarakat kota, teruta- ma bagi golongan
masyarakat yang berpenghasilan rendah, akan di-
lanjutkan dan ditingkatkan antara lain melalui program
perbaikan kampung dan pembangunan perumahan
rakyat.
Erat hubungannya dengan pembangunan daerah-
daerah tersebut adalah sasaran usaha untuk lebih
memperhatikan pengelolaan yang sehat dan
kelestarian sumber-sumber alam serta lingkungan
hidup manusia untuk generasi mendatang.
43
Demikian pula agar pemanfaatan tanah sungguh-
sungguh mem- bantu usaha meningkatkan
kesejahteraan rakyat, serta dalam rangka mewujudkan
keadilan sosial, maka di samping menjaga kelestarian-
nya perlu dilaksanakan penataan kembali penggunaan,
penguasaan dan pemilikan tanah.
Sasaran usaha tersebut diatas adalah terciptanya
catur tertib da- lam bidang pertanahan. Catur
tertib dalam hukum pertanahan dilak-
sanakan terutama dalam rangka pelaksanaan Undang-
undang Pokok Agraria yang akan menumbuhkan
pengayoman hak-hak atas tanah dan penggunaannya.
Dalam hal ini juga berarti penataan kembali hak-hak
atas tanah yang merupakan salah satu unsur penting
dari kebijaksa- naan pemerataan. Hal tersebut juga
ditujukan luntuk menghindari pemilikan absentee
maupun pemilikan tanah yang berlebih-lebihan.
Kesemuanya itu diharapkan akan menciptakan suasana
ketentraman dalam masyarakat sehingga mendorong
gairah kerja. Tertib admini- strasi pertanahan
diarahkan agar memperlancar setiap pengurusan
mengenai tanah dan diharapkan akan menunjang
lancarnya pembangunan. Termasuk dalam hal ini
pendaftaran tanah dan penertiban serta
peningkatan pengurusan hak atas tanah, penerbitan
sertipikat dan penanganan terhadap hak adat atas
tanah. Di samping itu tertib penggunaan tanah
merupakan sarana untuk meningkatkan daya guna dan
hasil guna tanah secara optimal. Di lain pihak tertib
pemeliharaan tanah dan lingikungan hidup merupakan
upaya meincegah tanah dari kerusakan-kerusakan,
memelihara kesuburan dan kelestarian sumber daya
alam yang tenkandung di atas ataupun di dalam tanah
itu.

Dalam melaksanakan pembangunan sektoral


diusahakan agar membantu pemerataan penyebaran
pembangunan di seluruh wilayah Ta- nah Air dan
tercapainya keserasian laju pertumbuhan antar daerah.
Kegiatan pokok pembangunan pertanian diarahkan
agar menunjang pembangunan daerah. Kegiatan
intensifikasi dan diversifikasi pertani- an tanaman
pangan dilaksanakan secara menyelturuh .disemua
daerah pertanian tanah sawah, tanah kering dan areal
irigasi pasang surut serta terhadap semua bahan
pokok. Di samping itu di setiap daerah minus, kritis dan
44
daerah rawan akan dilaksanakan usaha diversifikasi
dan ekstensifikasi untuk pertanian palawija dan
tanaman pekarangan. Tambahan pula perluasan areal
pertanian akan ditingkatkan balk di tanah kering
maupun di tanah basah. Ekstensifikasi, peternakan akan
dikembangkan di daerah-daerah yang masih jarang
penduduknya. Rehabilitasi tanaman perkebunan akan
ditingkatkan terutama di daerahdaerah dimana
tanaman-tanaman tersebut sudah tidak produktif lagi.
Di samping itu di daerah-daerah yang mempunyai
potensi akan dilaksanakan ekstensifikasi tanman
perkebunan baru.
Dalam melaksanakan pembangunan industri, jenis
dan lokasi in- dustri yang akan dibangun akan
disesuaikan dengan prioritas dan kebutuhan
pembangunan daerah, sehingga benar-benar
bermanfaat dan cukup berperanan dalam rangka
rnemecahkan masalah-masalah yang mendesak di
daerah-daerah yang bersangkutan.
Di samping itu akan ditingkatkan pembangunan
wilayah industri di daerah-daerah tertentu.
Pembangunan kawasan industri di Ujung Pandang dan
Medan akan diselesaikan dalam Repelita III, sedang
daerah industri di Samarinda akan ditingkatkan
menjadi kawasan industri.
Penanganan industri kecil dalam Repelita III melalui
Pusat-pusat Pengembangan Industri Kecil (PPIK) seperti
di Surabaya dan Yogyakarta akan dikembangkan ke
ibukota-ibukota Propinsi lainnya se- cara
bertahap, antara lain di Medan, Padang, Palembang,
Ujung Pan- dang dan sebagainya. Sedang Pusat-
pusat Pelayanan, Pusat Pendi- dikan, Unit-unit
Percontohan dan lain-lain sarana pembinaan industri
kecil akan ditingkatkan sebagai Unit Pelaksana
Pembinaan yang lebih efektif dan lebih terarah.
Pembangunan pertambangan, yang merupakan
pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya mineral
dan energi memegang peranan dalam membantu
penyebaran pembangunan di seluruh wilayah
Indonesia. Di samping itu karena sifat usahanya,
pembangunan pertambangan merupakan titik tolak
pembukaan dan pengembangan daerah yang
akan merupakan dasar bagi industrialisasi dan
modernisasi daerah- daerah sekitarnya.
Tersedianya tenaga listrik yang tersebar di seluruh
daerah akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat
dan merangsang kegiatan ekonomi. Untuk
meningkatkan penyediaan tenaga listrik bagi daerah-
daerah terpencil dan terpisah, sistem kelistrikannya
4
5
akan dilaksanakan dengan membangun pusat listrik
tenaga diesel dan jaringan distribusi- nya yang
tersebar. Selanjutnya jika keadaan lokasi
memungkinkan, akan dibangun pusat
listrik tenaga mikrohidro dengan jumlah
daya terpasang sekitar 15 MW.
Program listrik pedesaan yang dimulai dengan
pedesaan di daerah jawa Tengah, Lampung, Sulawesi
Selatan (Luwu), Nusa Tenggara
Barat (Lombok) akan disusul dengan daerah Sumatera
Barat, Jawa Timor, jawa Barat, Sumatera Utara, Bali
dan sebagainya.
Dalam rangka menunjang pemerataan penyebaran
pembangunan di seluruh daerah, berbagai proyek-
proyek perhubungan akan ditingkat- kan fasilitas
maupun pelayanannya. Penyebaran dari proyek-proyek
ini terutama diusahakan kewilayah-wilayah di luar Jawa
yang ke- adaan ekonominya masih belum
berkembang sehingga belum dapat terlayani oleh
angkutan komersiil. Proyek-proyek tersebut antara lain
adalah di bidang jalan dan jembatan diutamakan
penunjangan jalan kabupaten sepanjang 41.000
kilometer, yang meliputi penunjangan jalan
kabupaten di Jawa 15.500 km, di Sumatera 10.500 km,
di Kalimantan 2300 km, di Bali 1.200 km, NTT/NTB
2.500 km, Sulawesi 7.500 km, Maluku/Irian Jaya 1.300
km. Jalan kabupaten akan di- usahakan agar dapat
berfungsi melayani keperluan daerah pedesaan, daerah
transmigrasi dan daerah-daerah yang terpencil. Untuk
itu akan dillaksanakan Inpres Prasarana Jalan yang
lebih banyak diarahkan un- tuk jalan-jalan kabupaten
di luar jawa. Jalan-jalan propinsi dan jalan negara yang
menunjang keperluan pembangunan daerah juga terus
djrehabilitasi dan ditingkatkan keadaannya secara
terpadu agar ja- ringan jalan yang penting dapat
berfungsi. Di daerah pemukiman transmigrasi akan
dibangun jalan sepanjang lebih dari 40.000 kilo-
meter.
Penerbangan perintis dari 75 lokasi lapangan terbang
perintis yang dilayani pada akhir Repelita II, selama
Repelita III akan ditingkatkan menjadi 104 lokasi;
pesawat udara perintis ditambah dari 25 pesawat
menjadi 40 pesawat. Di samping itu frekwensi
penerbangan akan ditingkatkan.
Di bidang perhubungan laut ditingkatkan kegiatan
pelayaran pe- rintis. Dibandingkan dengan Repelita
46
II jumlah kapal-kapal perintis dalam Repelita III akan
ditambah dari 16 buah m en ja d i26 buah, pelabuhan
yang disinggahi ditingkatkan dari 175 menjadi 188
pela-buhan, trayek pelayaran ditambah dari 22 trayek
menjadi 25 trayek. Frekwensi penyinggahan
ditingkatkan sehingga pelabuhan perintis akan
disinggahi kapal setiap 10 hari sekali dalam Repelita III,
sedangkan dalam Repelita II 12 hari sekali. Lama
singgah dipelabuhan akan ditambah sesuai dengan
keperluan pelayanan angkutan setempat.
Di bidang perhubungan darat akan ditingkatkan
kegiatan kereta api di 20 lintas cabang yang
sifatnya kurang ekonomis, guna melayani keperluan
angkutan daerah kabupaten dan desa di Jawa dan
Sumatera. Selanjutnya juga akan diperluas pelayanan
kereta api dalam kota dan sekitar kota yang
bersifat angkutan massal dan murah. Di daerahdaerah
lainnya akan dilakukan perluasan angkutan bus
perintis, ang- kutan penyeberangan, danau dan
sungai, yang diusahakan oleh swasta dan Pemerintah.
Perluasan ini meliputi pembangunan dermaga kapal-
kapal sungai, kapal penyeberangan dan lain-lain,
misalnya di lintas Meulaboh — Sinabang, Bulukumba —
Selayar, Lombok -- Sumbawa dan di lintas-lintas
lainnya.

Selanjutnya akan ditingkatkan pelayanan pos dan


telekomunikasi ke daerah-daerah yang sifatnya
dapat menunjang pembangunan daerah. Pelayanan pos
keliling pedesaan dengan sepeda motor dan pelayanan
pos keliling kota dan pinggiran kota dengan kendaraan
bermotor akan ditingkatkan. Kecuali itu juga akan
dibangun 750 kantor pos pem- bantu, di antaranya
425 buah berlokasi ditingkat kecamatan daerah
transmigrasi yang terletak di luar Jawa. Fasilitas
pelayanan pos lain- nya juga akan ditambah,
seperti bis surat, rumah pos dan lain-lain sehingga
keperluan masyarakat akan pelayanan pos dapat lebih
terpenuhi.

Di bidang telekomunikasi akan dibangun 7.000


sambungan tam- bahan telepon baru di 25 lokasi
yang sebagian besar adalah ibukota kabupaten dan
ibukota kecamatan. Peningkatan fasilitas transmisi juga
akan dirasakan manfaatnya oleh daerah-daerah
terutama di Indonesia bagian Barat dan Timur karena
selama Repelita III akan diselesaikan proyek gelombang
47
mikro antara Medan dan Banda-Aceh dan diperluas
proyek gelombang mikro Indonesia bagian timur dari
Ujung Pandang ke Menado dan Maluku. Proyek
gelombang mikro ini direncanakan untuk terus
dilanjutkan sampai ke Irian Jaya. Di samping itu akan
ditambah telepon umum yang bisa dipergunakan
masyarakat banyak yang tidak mampu memiliki telepon.
Telepon umum ini akan ditempatkan di rumah-sakit,
pusat perbelanjaan, setasiun-kereta api, pelabuhan-
udara dan lain-lain.
Di bidang pariwisata diutamakan usaha
pembangunan obyek wisata di 10 daerah yang
pola pembangunannya teiah selesai yaitu di daerah
Sumatera Utara, Sumatera Barat, DKI. Jakarta, Jawa
Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur,
Bali, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara. Sedangkan
dibeberapa daerah yang lain akan pula dikembangkan
setelah Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Na-
sional selesai disusun. Dengan demikian arus
wisatawan asing dan wisatawan dalam negeri akan
lebih merata keseluruh daerah. Manfaat dari
pengembangan pariwisata juga dapat dirasakan oleh
daerah-daerah tersebut. Pada waktu ini kegiatan
pariwisata masih lebih banyak terpusat di Bali,
Yogyakarta dan DKI Jakarta.
Setiap daerah ataupun pulau akan mendapat
manfaat dengan ada- nya peningkatan dalam
kegiatan-kegiatan perdagangan ataupun pemasaran.
Dengan adanya peningkatan kegiatan itu para petani
dan pro- dusen lain, dalam daerah yang
bersangkutan akan memperoleh kesempatan untuk
memperluas usaha produksi mereka. Dengan demi-
kian pendapatan daerah dari kegiatan ekonomi akan
meningkat. Bersamaan dengan itu para konsumen dan
produsen akan berkesem- patan untuk memperoleh
barang-barang keperluan mereka dengan
harga yang relatif rendah. Dengan adanya perluasan
usaha dalam bi- dang produksi dan peningkatan
pendapatan Berta konsumsi, kesempat- an kerja di
daerah tersebut juga akan bertambah. Peningkat-
an kelancaran pemasaran pada umumnya dan
kegiatan-kegiatan perdagangan pada khususnya akan
sangat membantu usaha-usaha pembangunan daerah.
Sebagai jalur kedelapan dari kebijaksanaan
pemerataan adalah pemerataan kesempatan
memperoleh keadilan. Dalam hal ini pemba-ngunan
48
dan pembinaan bidang hukum senantiasa diarahkan
agar hu- kum mampu memenuhi kebutuhan sesuai
dengan tingkat kemajuan pembangunan di segala
bidang, dan agar dapat diciptakan ketertiban dan
kepastian hukum untuk memperlancar pelaksanaan
pembangunan.
Untuk itu sasaran-sasaran usaha antara lain
ditujukan kepada penyelesaian perkara di pengadilan-
pengadilan secara cepat dan seadi1-adilnya.
Proses peradilan akan terus diusahakan supaya lebih
sederhana dan cepat dengan biaya ringan dan
yang memenuhi rasa keadilan bagi pencari keadilan
dari seluruh lapisan masyarakat. Demikian pula
akan disempurnakan peraturan perundang-undangan
dan ditingkatkan tertib hukum, khususnya yang
menyangkut tata Cara penyelesaian perkara, di
samping menambah jumlah badan pengadilan dan
tenaga penegak hukum.
Selanjutnya akan digiatkan pelaksanaan peraturan
perundang-un- dangan yang berlaku, termasuk yang
memberikan kepastian pengembangan dunia usaha,
penertiban pemilikan dan penggunaan hak-hak tanah,
kelestarian alam dan lingkungan hidup dan lain
sebagainya.
Selama Repelita III akan dilanjutkan pembentukan
Pengadilan Ne- geri di setiap Kabupaten/Daerah
Tingkat II dan pembentukan Peng- adilan Tinggi di
setiap Propinsi/Daerah Tingkat I secara bertahap.
Sejalan dengan kegiatan ini akan dilakukan juga
penambahan dan pemerataan tenaga-tenaga hakim,
panitera dan jaksa yang diperlukan.
Dalam pada itu akan dipertegas bahwa badan-badan
pengadilan itu harus makin mampu untuk menjalankan
kekuasaan kehakiman (yudi- katif) yang merdeka,
yang terlepas dari pengaruh kekuasaan luar, termasuk
pengaruh Pemerintah. Dengan kebebasan yang
demikian itu hakim dapat mengambil keputusan
berdasarkan hukum yang berlaku dan juga
berdasarkan keyakinannya yang seadil-adillnya serta
memberikan manfaat bagi masyarakat. Dalam
hubungan hakim, ter- masuk di dalamnya
hakim pada Pengadilan.Negeri, Hakim Tinggi dan
Hakim Agung, perlu pula memahami kebijaksanaan
umum- pemerintah dalam pembangunan serta rasa
keadibn masyarakat. Untuk keperluan ini maka
mereka diikut sertakan pada Penataran Tingkat
49
Nasional/ Daerah tentang Undang-Undang Dasar 1945,
Pancasila dengan Pedo- man Penghayatan dan
Pengamalan Pancasila serta Garis-garis Besar Haluan
Negara.
Dalam rangka penegakan hukum maka lembaga
bantuan hukum akan dimantapkan baik dalam
tahap pemeriksaan pendahuluan dan penyidangan
perkara, maupun dalam tahap-tahap selanjutnya.
Dalam hubungan ini kepada golongan yang kurang
;mampu telah dan akan diberikan perhatian khusus.
Kesadaran hukum dalam masyarakat akan
ditingkatkan disertai dengan pembinaan sikap penegak
hukum ke arah tegaknya hukum, keadilan,
perlindungan harkat dan martabat manusia, ketertiban
serta kepastian hukum.
Selanjutnya dalam rangka pembinaan peradilan akan
diusahakan terwujudnya peradilan tata usaha negara
(administrasi) yaitu sebagai peradilan yang dapat
menyelesaikan perkara yang berhubungan
dengan pelanggaran yang dilakukan oleh
pejebat/petugas aparatur ne-gara. Dengan demikian
dapat lebih menjamin adanya ketertiban, ketenteraman
dan kepastian hukum dalam penyelenggaraan
administrasi pemerintahan yang bersih, berkemampuan
dan berwibaw.a, serta penuh dedikasi daft disiplin kerja.
Unsur Trilogi Pembangunan yang kedua adalah
pertumbuhan eko- nomi yang cukup tinggi. Untuk
mencapai pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi
dalam Repelita III, maka harus dapat dicapai kenaik-
an yang cukup besar dari produksi barang dan jasa di
berbagai sektor pembangunan ekonomi yang meiiputi
sektor-sektor pertanian, Indus- tri, pertambangan dan
energi, prasarana, dan lain-lain. Pembangunan di
berbagai sektor tersebut haus selalu berorientasi pada
perluasan kesempatan kerja, diterapkannya teknologi
yang tepat guna, dan persiap- an pelaksanaan untuk
pengembangan teknologi guna menunjang pem-
bangunan dalam tahapan yang akan datang.
Laju pertumbuhan ekonomi di masa lima tahun
mendatang sangat bergantung pada potensi
pengembangan sumber-sumber alam yang ada, serta
adanya tenaga terdidik, barang-barang modal dan
dana-dana yang tersedia. Berdasarkan perkiraan
mengenai faktor-faktor tersebut serta perkembangan di
pelbagai sektor dan kebijaksanaan-kebijaksanaan
yang akan dijalankan maka laju pertumbuhan ekonomi
50
nyata selama Repelita III diperkirakan akan dapat
mencapai sekitar rata-rata 6,5% setahun. Laju
pertumbuhan tersebut bagi ekonomi Indonesia diper-
kirakan cukup tinggi untuk memenuhi unsur kedua dari
Trilogi Pembangunan dan sekaligus mampu
menghasilkan dana-dana yang dibutuhkan untuk
menunjang pelaksanaan seluruh program
pembangunan; di lain pihak diperkirakan cukup
rendah sehingga tidak mengganggu pelaksanaan
program-program pemerataan.
Suatu faktor yang besar peranannya dalam
pembangunan adalah laju pertumbuhan penduduk
serta penyebaran dan struktur umur penduduk. Jumlah
penduduk selama lima tahun mendatang sangat diten-
tukan oleh usaha-usaha kita di masa yang lampau,
khususnya usaha untuk menurunkan tingkat kelahiran
melalui program keluarga beren-
cana.
Angka pertumbuhan penduduk adalah akibat dari
adanya tingkat kelahiran yang melebihi tingkat
kematian. Berkat ditingkatkannya pro-gram keluarga
berencana di masa lalu, laju pertumbuhan penduduk
diharapkan akan dapat menurun dari rata-rata 2,3 %
setahun selama Repelita II menjadi sekitar 2,0%
setahun selama Repelita III, sehingga jumlah
penduduk yang dewasa ini sekitar 137 juta orang
diperkirakan akan mencapai 151 juta orang pada akhir
Repelita III.
Jumlah penduduk di pulau Jawa diperkirakan
meningkat dengan rata-rata sekitar 1,8% setahun
dari 87 juta orang dewasa ini menjadi 95 juta orang
pada akhir Repelita III sedangkan penduduk di luar
pulau Jawa diperkirakan meningkat dengan rata-rata
2,3% setahun dari 50 juta orang menjadi 56 juta
orang.
Dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 2%
setahun maka produksi nasional nyata per kapita akan
meningkat dengan sekitar 24% selama lima tahun
mendatang. Laju pertumbuhan ekonomi sebe-sar 6,5%
setahun itu juga diperkirakan akan meningkatkan
kesempatan dan kemampuan kita untuk mencapai
sasaran-sasaran lain seperti peningkatan kesejahteraan
rakyat secara menyeluruh. Di samping itu laju
pertumbuhan tersebut juga akan diusahakan
sedemikian rupa sehingga dapat tercapai sasaran-
5
1
sasaran pembangunan lainnya seperti pemera- taan
hasil-hasil pembangunan dan sebagainya.
Salah satu tujuan pembangunan yang penting adalah
untuk meru- bah struktur perekonomian Indonesia
agar menjadi lebih seimbang. Keseimbangan struktur
yang lebih sehat ini sangat diperlukan agar dapat
diletakkan landasan yang lebih kuat dan lebih luas bagi
pertum-buhan selanjutnya, dan juga untuk makin
memperkuat ketahanan ekonomi. Untuk itu diusahakan
agar laju pertumbuhan sektor-sektor di lu- ar pertanian
adalah lebih besar dari laju pertumbuhan sektor
pertanian,
sedang sektor pertanian itu sendiri laju
pertumbuhannya juga akan ditingkatkan, antara lain
untuk mencukupi kebutuhan akan pangan.
Untuk dapat mencapai suatu laju pertumbuhan
ekonomi sebesar 6,5% setahun selama Repelita III
yang sekaligus juga serasi dengan tujuan perubahan
struktur ekonomi, maka sektor industri akan diting-
katkan dengan sekitar 11,0%, sektor bangunan dengan
sekitar 9,0%, sektor pengangkutan dan kamunikasi
sekitar 10,0% dan sektor-sektor lainnya di luar
pertanian dan pertambangan dengan sekitar 8,1%.
Dalam pada itu sektor pertanian dan pertambangan
diperkirakan akan dapat meningkat masing-masing
dengan sekitar 3,5% dan 4% setahun.
Titik berat pembangunan selama Repelita III tetap
diletak- kan pada sektor pertanian dengan
sekaligus meningkatkan sektor- sektor lainnya
terutama sektor industri. Namun persentase perkiraan
laju pertumbuhan sektor pertanian yang relatif rendah
tersebut di atas disebabkan oleh karena
peranan sektor pertanian di dalam pro- duksi
nasional dewasa ini yang masih relatif besar dan oleh
karena faktor iklim yang sangat mempengaruhi
perkembangan sektor per- tanian.
Berdasarkan laju pertumbuhan sektor-sektor
tersebut, maka peranan sektor pertanian akan
menurun Bari sekitar 31,4% dewasa ini menjadi sekitar
27,2% dalam tahun 1983/84, sedang peranan sektor-
sektor di luar pertanian akan meningkat dari 68,6%
menjadi sekitar 72,8%. Dengan demikian maka kita
akan melangkah lebih maju lagi ke arah tercapainya
suatu struktur perekonomian yang lebih seimbang.
Setiap kegiatan pembangunan memerlukan dana-
dana dengan segera bagi pelaksanaannya, dan untuk
dapat mengerahkan dana-dana terse- but produksi
nasional harus ditingkatkan dengan suatu kenaikan
52
yang cukup besar. Dilain pihak, tidak semua kegiatan
pembangunan dapat segera meningkatkan produksi.
Ada yang hanya mempunyai pengaruh tidak langsung,
ada yang baru setelah beberapa tahun dapat mempe-
ngaruhi produksi, dan hanya sebagiansaja yang segera
meningkatkan produksi. Dengan demikian maka
produksi nasional hanya dapat ditingkatkan dengan
cepat kalau di samping dana yang diperlukan untuk
membiayai kegiatan-kegiatan yang pengaruhnya tidak
langsung dan kegiatan-kegiatan yang memerlukan
tenggang waktu produksi yang
lama, masih cukup tersedia dana untuk membiayai
kegiatan-kegiatan yang dapat segera menunjang
pertumbuhan produksi tersebut.
Hal ini berarti bahwa di samping mengusahakan
keserasian antara ketiga unsur Trilogi Pembangunan
harus pula diusahakan keserasian antara sasaran-
sasaran yang hendak dicapai dengan dana yang
tersedia. Dengan demikian sasaran-sasaran yang
hendak dicapai tersebut secara menyeluruh harus juga
mampu menciptakan dana-dana sesuai dengan apa
yang diperlukan.

Untuk mencapai sasaran laju pertumbuhan ekonomi


sebesar rata- rata 6,5% selama Repelita III serta
pelbagai sasaran pembangunan lainnya maka investasi
nyata perlu ditingkatkan dengan sekitar 9,7% setahun.
Hal ini berarti bahwa jumlah investasi yang dalam tahun
1978/79 diperkirakan sekitar 4.915 milyar .rupiah
diperkirakan akan meningkat secara nyata menjadi
sekitar 7.795 milyar rupiah dalam tahun 1983/84.
Sebagai persentase terhadap produksi nasional, inves-
tasi selama Repelita III akan mencapai rata-rata sekitar
24%. Sebagian besar dana investasi ini akan
dikerahkan dan dalam negeri yaitu sebesar sekitar
19% dari produksi nasional atau 79% dan jumlah
investasi sedangkan sisanya dari luar negeri.

Seperti telah dikatakan sebelumnya, tidak semua


kegiatan investasi itu dapat secara langsung atau
dengan segera meningkatkan produksi. Sehingga
masalah utama yang sangat penting adalah bagaimana
kita memilih pola investasi sehingga kapasitas untuk
membangun di kemudian hari dapat semakin
meningkat sekaligus dapat juga ditingkatkan produksi
yang sekarang sehingga selalu dapat tersedia dana-
dana yang cukup bagi pembiayaan pembangunan.
Apabila pola investasi makin
53
bergeser kepada investasi-investasi yang pengaruhnya
pada produksi bersifat tidak langsung atau yang
mempunyai masa tengggang waktu produksi yang panjang
maka jumlah investasi yang dibutuhkan akan cenderung
meningkat. Di lain pihak investasi tersebut. dapat lebih
efisien apabila dapat dipilih cara-cara produksi yang
tidak memerlu- kan biaya yang besar,
menghilangkan pemborosan, memperlancar pe-
laksanakan proyek dan menggunakan kapasitas
produksi yang ada
secara optimal.
Di dalam pelaksanaan Repelita III akan diadakan
penelitian yang cermat atas pola investasi dan
pemilihan teknologi yang tepat sehingga produksi
nasional dapat meningkat dengan biaya investasi yang
sekecil mungkin derni tercapainya sasaran laju
pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5% setahun serta
sasaran-sasaran nasional lainnya, termasuk per-
luasan kesempatan kerja, pemerataan hasil-hasil
pembangunan dan kemantapan stabilitas ekonomi.
Kebijaksanaan investasi juga diarah- kan untuk lebih
mendorong kegiatan-kegiatan yang banyak menyerap
tenaga kerja serta kegiatan-kegiatan .pengolahan
.
dalam rangka meningkatkan nilai tambah dari bahan
yang diolah.
Dana investasi dalam negeri terdiri dari tabungan
Pemerintah dan tabungan masyarakat, dengan
perimbangan masing-masing sebesar 7% dan 12%
dari produksi nasional. Tabungan Pemerintah adalah
selisih antara penerimaan dalam negeri dengan
pengeluaran rutin. Sedangkan tabungan masyarakat
adalah bagian dari penghasilan ma-syarakat yang tidak
digunakan untuk konsumsi dan terdiri dari ta-
bungan rumah tangga dan perorangan, perusahaan
negara, perusahaan swasta, perusahaan daerah dan
pemerintah daerah baik yang dikerah- kan melalui:
lembaga-lembaga keuangan dan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah maupun tabungan yang langsung
diinvestasikan sendiri.

Investasi Pemerintah Pusat dibiayai oleh tabungan


Pemerintah dan sebagian oleh dana-dana bantuan luar
negeri.
Investasi Pemerintah Pusat tersebut di dalam Repelita
III akan memegang peranan yang lebih kecil jika
dibandingkan dengan Repe- lita II yaitu sebesar
sekitar 51% dari keseluruhan investasi. Hal ini
54
disebabkan karena penerimaan minyak diperkirakan
tidak akan mengalami b a n y a perobahan,
k sehubungan
situasi pasaran minyak dan keadaan ekonomi dunia.
Seperti telah dimaklumi, penerimaan minyak selama
Repelita II merupakan 55% dari penerimaan negara.
Untuk itu maka p e n in g k a tpenerimaan
an, non-minyak perlu
dilakukan bersama sama ,dengan u s a h a
penghematan baik dalam pengeluaran rutin
maupun pengeluaran pembangunan. Bersamaan dengan
itu, akan terus diciptakan suasana yang akan
memberikan dorongan kepada
pihak swasta, perusahaan negara, serta perusahaan
dan Pemerintah daerah serta masyarakat termasuk
masyarakat pedesaan untuk meningkatkan mobilisasi
dari dana-dananya sendiri sehingga dapat ikut secara
lebih aktif di dalam pelaksanaan Repelita III. Di
samping itu, inves- tasi Pemerintah Pusat akan
lebih diarahkan kepada proyek-proyek dengan prioritas
tinggi yaitu terutama untuk membangun prasarana
sosial dan prasarana fisik, serta pengembangan usaha-
usaha golongan ekonomi lemah dalam rangka
pemerataan pembangunan dan hasilhasilnya.
Selama Repelita III akan terus dikembangkan
kebijaksanaan pem-biayaan yang berlandaskan Trilogi
Pembangunan baik di dalam hal pengerahan dana
maupun di dalam penggunaan dana-dana tersebut.
Artinya kebijaksanaan pembiayaan yang akan
ditempuh tidak hanya berusaha untuk dapat
mengerahkan dana-dana tersebut dengan sebanyak-
banyaknya dan menggunakannya untuk meningkatkan
produksi tetapi juga dengan menempuh cara-cara
pengerahan dan penggunaan yang menunjang
pemerataan beban dan hasil-hasil pembangunan serta
menjamin kemantapan stabilitas ekonomi.
Kebijaksanaan-kebijaksanaan pokok di dalam hal
pembiayaan ini adalah kebijaksanaan fiskal,
kebijaksanaan moneter dan perkreditan, serta
kebijaksanaan perda-gangan dan neraca pembayaran.
Sasaran kebijaksanaan fiskal tidak terlepas dari dan
harus serasi dengan landasan, tujuan dan prioritas
Repelita III secara keseluruhan. Hal ini berarti bahwa
sasaran dari kebijaksanaan fiskal selama Repe- lita
III terkait dan terpadu pada landasan Trilogi
Pembangunan.
Kesemuanya ini tercermin dalam berbagai sasaran di
bidang penerimaan dan pengeluaran negara.
Penerimaan dari minyak bumi diperkirakan tidak akan
lagi mening- kat dengan laju pertumbuhan seperti
55
yang terjadi selama Repelita II. Hal ini
mengharuskan adanya peningkatan yang lebih besar
dari penerimaan-dalam negeri di luar minyak dan gas
alam cair (LNG) untuk dapat mempertahankan laju
pertumbuhan penerimaan secara menyeluruh yang
sama di dalam kurun waktu lima tahun yang akan
datang.
Selain itu kebijaksanaan di bidang penerimaan dalam
negeri juga akan diarahkan pada pemerataan dari beban
pembangunan dan perwu-
judan dari pola hidup sederhana, rasional ekonomis
yang wajar. Pemungutan pajak akan dilaksanakan
secara lebih nyata berdasarkanazas- azas perpajakan
seperti azas kemampuan atau daya pikul, rasa ke-
adilan dan dengan memperhatikan keseimbangan
antara kewajiban dan hak para wajib pajak,
sekaligus mencegah konsumsi mewah yang
berlebihan serta meningkatkan solidaritas sosial dalam
bentuk kesadaran untuk berpartisipasi dalam kegiatan
pembangunan dari seluruh lapisan masyarakat.
Di samping mendorong pertumbuhan ekonomi yang
semakin meningkat, sebagai negara di mana tenaga
kerja merupakan faktor pro-duksi yang relatif
berlimpah, kebijaksanaan penerimaan dalam, negeri
juga diarahkan untuk mendorong perluasan
kesempatan kerja, teru- tama di daerah padat
penduduk dan miskin, pemerataan pendapatan dan
penggunaan cara-cara produksi yang memanfaatkan
teknologi tepat, dan menggunakan sebanyak
mungkin alat-alat yang dihasilkan sendiri dan yang
mampu untuk dipelihara sendiri.
Kebijaksanaan perpajakan merupakan suatu alat
untuk mendapat- kan manfaat yang sebesar-besarnya
dari penggarapan sumber-sumber alam dalam bentuk
pajak perseroan, royalties, ongkos perijinan dan
lain-lain. Manfaat tersebut kemudian dapat disalurkan
melalui pengeluaran negara untuk meningkatkan
kesejahteraan rakyat. Di samping itu,
kebijaksanaan perpajakan dapat pula digunakan untuk
mengarah- kan penggalian sumber-sumber tersebut
agar tidak merusak kelestarian serta keseimbangan
lingkungan hidup.
Kebijaksanaan pengeluaran rutin terutama diarahkan
untuk mening katkan dana-dana tabungan Pemerintah.
Peningkatan tabungan ini tidak dapat dicapai hanya
dengan peningkatan di dalam penerimaan saja
melainkan harus disertai dengan penghematan dan
penggunaan terarah dari pengeluaran rutin termasuk
pengurangan secara bertahap. dari segala jenis
subsidi. Disamping i t u , m e l a kebijaksanaan
lu i belanja
barang dan belanja pegawai kebijaksanaan
pengeluaran rutin, juga di-arahkan untuk mendorong
perbaikan kedudukan pengusaha/pedagang
golongan ekonomi lemah, memperluas kesempatan k e r j a
serta mendorong produksi dalam negeri,
meningkatkan.wnilah dan mute pelayanan Pemerimtah
kepada masyarakat dana mengamankan kekayaan
negara yang diperoleh sebagai hasil dari pembangunan
itu sendiri.

56
Di bidang pengeluaran pembangunan, sasarannya
adalah mengusahakan pemerataan pembangunan dan
hasil-hasilnya melalui 8 jalur yang telah ditetapkan;
mengusahakan perluasan fasilitas sosial dalam rangka
peningkatan kesejahteraan masyarakat; serta
membangun prasarana dan mendorong pertumbuhan
ekonomi yang cukup tinggi terutama di sektor
pertanian khususnya pangan dan di sektor industri
yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku dan
barang jadi.
Dengan demikian maka selama Repelita III
penerimaan dalam ne- geri diperkirakan akan
meningkat dengan rata-rata 16,2% setahun dimana
penerimaan minyak dan gas alam cair meningkat
dengan rata-rata 17,9% terutama oleh karena
devaluasi sedangkan penerimaan bukan minyak
dengan 14,3% setahun. Di lain pihak pengeluaran rutin
diperkirakan naik dengan rata-rata 17,5% setahun
sehingga tabungan Pemerintah naik dengan rata-rata
14,2% setahun. Tabungan Peme- rintah tersebut
bersama-sama dengan dana bantuan Iuar negeri mem-
bentuk dana anggaran pembangunan yang
diperkirakan akan mening- kat dengan rata-rata 16,8%
setahun dan mencapai 21.849,4 milyar rupiah
selama Repelita III atau sekitar 2,4 kali anggaran
pembanguna- an Repelita II.
Kebijaksanaan moneter, dan perkreditan juga
diarahkan kepada suatu pencapaian yang serasi dari
ketiga unsur trilogi pembangunan. Sela- ma
Repelita III kebijaksanaan moneter dan perkreditan
akan semakin diarahkan untuk menunjang usaha
pemerataan pembangunan antara lain dengan jalan
meningkatkan kemampuan golongan ekonomi le-
mah, mendorong perluasan kesempatan kerja dan
pemerataan pendapatan serta menunjang produksi
bahan-bahan kebutuhan pokok rakyat.

5
7
Di samping masalah ketrampilan berusaha dan
pemasaran maka salah satu masalah pokok yang
dihadapi oleh golongan ekonomi lemah adalah
keterbatasan mereka untuk mendapat fasilitas modal
atau kre- dit yang memadai baik dalam jumlah
maupun persyaratannya.
Dalam hubungan ini, peranan kebijaksanaan moneter
terletak pada pemberian fasilitas modal atau kredit
yang memadai.
Kebijaksanaan moneter juga diarahkan untuk
menunjang dan memberi prioritas kepada usaha-usaha
yang dapat menyerap banyak tenaga
kerja dan untuk menghindarkan atau menguranlgi
tekanan inflasi. Dennan demikian maka kebijaksanaan
moneter juga menunjang pemerataan pendapatan oleh
karma pengangguran dan inflasi merupakan faktor-
faktor yang menimbulkan ketimpangan di dalam
pembagian pendapatan.
Dalam rangka menunjang pertumbuhan ekonomi yang
cukup tinggi maka kebijaksanaan moneter diarahkan
untuk meningkatkan mobi-. lisasi tabungan masyarakat
dan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan
khususnya kebutuhan. dunia usaha iakan dana-dana
dengan beban yang sesuai dengan kemantapan
stabilitas nasional. Khususnya untuk golongan ekonomi
lemah akan diperkembangkan kemungkinan pemberian
kredit atas dasar suatu penelitian kelayakan yang
sederhana dan bukan atas dasar jaminan.
Untuk mencapai suatu laju pertumbuhan ekonomi
sebesar 6,5% setahun dalam Repelita III dibutuhkan
investasi sebesar rata-rata 24% dari produksi
nasional. Sedangkan untuk membangun berdasarkan
kemampuan sendiri maka. diperkirakan bahwa sekitar
79% dari dana tersebut harus dikerahkan dari sumber-
sumber dalam negeri yaitu tabungan Pemerintah dan
tabungan masyarakat. Tabungan Pemerintah
diperkirakan berjumlah sekitar 29% dari investasi. Hal
ini berarti bahwa tabungan masyarakat harus dapat
dikerahkan untuk membia- yai sekitar 50% atau
setengah dari seluruh investasi yang diperlukan dalam
Repelita III.
Tabungan masyarakat ini dapat berbentuk tabungan
perusahaan, tabungan Pemerintah Daerah, atau
tabungan rumah tangga dan per-orangan yang
umumnya dilakukan melalui lembaga-lembaga
keuangan. Dari semuanya ini tabungan melalui
lembaga-lembaga keuangan meru pakan salah satu
komponen yang besar.
5
8
Pembentukan tabungan masyarakat melalui lembaga-
lembaga ke- uangan ini dapat berbentuk deposito
berjangka, Tabanas, pembelian saham di pasar modal,
polis asuransi dan sebagainya. Melalui pem- berian
bunga yang menarik serta adanya lembaga-lembaga
keuangan yang dipercaya dan nilai mata uang
yang semakin mantap maka kebi-jaksanaan rnoneter
diharapkan akan dapat mendorong masyarakat
untuk terus menabung.
Kebijaksanaan moneter dijalankan melalui lembaga-
lembaga ke- uangan sehingga berhasil tidaknya
kebijaksanaan tersebut bergantung pula pada jenis,
mutu dan efisiensi kerja daripada lembaga-lembaga
tersebut. Oleh karena itu maka sasaran jangka panjang
dari kebijak-sanaan moneter adalah untuk lebih
menyempurnakan organisasi dan meningkatkan efisiensi
serta peranan lembaga-lembaga keuangan se- suai
dengan tuntutan peningkatan pembangunan.
Kebijaksanaan neraca pembayaran dan perdagangan
luar negeri merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari keseluruhan kebijak-sanaan untuk meningkatkan
taraf hidup dan kesejahteraan rakyat berlandaskan
trilogi pembangunan menuju keadilan sosial yang
berazas- kan pada pemerataan pembangunan dan
hasil-hasilnya. Karena itu kebijaksanaan neraca
pembayaran di samping menunjang laju pembangunan
harus dapat pula menunjang sasaran-sasaran yang
berhubungan dengan lapangan kerja, pemerataan
pendapatan, perluasan kegiatan pembangunan ke
daerah-daerah dan pemenuhan kebutuhan pokok
rakyat banyak khususnya pangan, sandang dan
perumahan.
Pembiayaan pembangunan dalam rangka
peningkatan pembangunan tidak saja memerlukan
pengerahan dana-dana di dalam negeri, me-lainkan
juga dana-dana berbentuk devisa untuk mengimpor
barangbarang dan jasa yang belum dapat dihasilkan di
dalam negeri. Meski- pun ekspor minyak bumi dan
gas alam cair netto sekarang ini masih merupakan
sekitar 56,4% dari seluruh nilai ekspor, namun harapan
terhadap ekspor minyak di tahun-tahun mendatang
tidaklah besar. Karena itu segala usaha akan
dikerahkan untuk meningkatkani ekspor barang-barang
lain di luar minyak dan gas bumi dan penerimaan
devisa dari jasa-jasa terutama pariwisata. Devisa yang

59
diperoleh juga harus digunakan secara efisien untuk
pembiayaan barang-barang impor yang benar-
benar diperlukan untuk pembangunan dan untuk
memenuhi kebutuhan pokok dari rakyat banyak.
Perkembangan ekspor ditentukan oleh perkembangan
produksi dan konsumsi di dalam negeri pada satu pihak
dan perkiraan tentang permintaan dunia dan
penawaran negara-negara pengekspor barang
yang sama di lain pihak. Selma Repelita III, ekspor,
diperkirakan akan meningkat dengan rata-rata
sekitar 11,2% setiap tahunnya di-
bandingkan dengan tahun 1978/79, di mana ekspor
minyak dan gas alam cair netto naik dengan rata-rata
6,4% setahun dan ekspor bukan minyak naik dengan
rata-rata 16,5% setahun. Berdasarkan laju-laju
pertumbuhan tersebut maka ekspor bukan minyak
diperkirakan akan mulai melampaui ekspor minyak dan
gas alam cair netto mulai tahun ketiga Repelita III.
Diversifikasi ekspor akan diusahakan melalui
pengembangan pro- duksi dan penyediaan barang-
barang baru yang memiliki potensi pertumbuhan yang
tinggi dan peningkatan taraf pengolahan dari barang-
barang yang dewasa ini masih diekspor dalam bentuk
bahan mentah. Selain untuk memperbesar penghasilan
ekspor, kebijaksanaan ini juga diarahkan pada
penciptaan lapangan kerja yang lebih luas, pemerataan
kegiatan di daerah-daerah dan pengembangan usaha
golongan ekonomi lemah.
Di bidang ekspor barang-barang tradisional usaha
diarahkan untuk meningkatkan daya saing di pasaran
internasional dengan tujuan sekurang-kurangnya
meningkatkan peranan Indonesia dalam pa-
saran tradisional, memperluas pasaran dan mencari
pasaran baru. Hal ini dilakukan meralui usaha-
usaha peningkatan produktivitas, penurunan biaya
produksi dan biaya-biaya lain serta penyederhanaan
prosedur ekspor.
Kebijaksanaan substitusi impor dan kebijaksanaan
untuk meningkatkan ekspor dijalankan bersamaan
sedang prioritas pada ma- sing-masing jenis
kegiatan harus ditentukan sedemikian rupa sehingga
penggunaan dana dan sumber-sumber produksi
dilakukan secara optimal, efisiensi ditingkatkan, biaya
produksi dapat ditekan ,dan daya saing terhadap
luar negeri dapat dipertahankan. Peningkatan pro-
duksi yang ditujukan pada substitusi impor juga
diarahkan untuk memperluas lapangan kerja,

60
meratakan kegiatan di daerah-daerah dan meratakan
,pendapatan.
Di bidang jasa-jasa diusahakan agar penerimaan
devisa dapat ditingkatkan dan penggunaan valuta asing
untuk membayar jasa-jasa pada luar negeri dihemat.
Usaha-usaha untuk mengembangkan sektor pariwisata
terus dilanjutkan sehingga sektor ini menjadi sumber
penerimaan devisa yang penting selama masa Repelita
III.
Perkembangan impor barang dan jasa bergantung
pada devisa yang tersedia serta kebutuhan akan
barang-barang konsumsi, bahan Baku/ penolong dan
barang-barang modal yang dibutuhkan untuk pemba-
ngunan. Impor barang selama Repelita III diperkirakan
naik dengan rata-rata 12,0% setiap tahun
dibandingkan dengan tahun 1978/79, sedangkan impor
jasa-jasa meningkat dengan 10,2% setahun. Dengan
demikian maka transaksi berjalan diperkirakan masih
mengalami de- fisit yang meningkat dengan rata-
rata sekitar 14,9% setahun.
Kebijaksanaan kurs devisa yang mengambang tetapi
terkendalikan akan digunakan untuk terus
memantapkan nilai tukar rupiah ter- hadap mata
uang lainnya dan untuk lebih mendorong ekspor serta
melindungi dan mendorong produksi di dalam negeri
khususnya produksi yang bersifat padat karya.
Kebijaksanaan neraca pembayaran juga akan
digunakan untuk mengatur lalu lintas modal luar
negeri. Dana-dana luar negeri ini meru-pakan
pelengkap bagi dana-dana yang tersedia di dalam
negeri bagi pembiayaan pembangunan dan terdiri dari
dana-dana bantuan luar negeri serta pemasukan
modal swasta asing. Di samping itu dana-dana luar
negeri tersebut dapat kita gunakan untuk
mendatangkan barangbarang modal, keahlian dan
teknologi yang belum kita punyai. Seba- gai
pelengkap maka bantuan luar negeri akan terus kita
manfaatkan sepanjang memenuhi tiga syarat :
Pertama, bantuan tersebut tidak boleh disertai ikatan
politik, ke- dua, bantuan itu harus digunakan sesuai
dengan rencana pembangunan kita dan ketiga,
persyaratan pengembaliannya harus cukup ringan se-
hingga pembayarannya kembali tetap berada di dalam
batas kemam- puan kita.

61
Selanjutnya dimanfaatkan pula penanaman modal
swasta dari luar negeri dalam bentuk perusahaan
patungan (joint venture) dengan perusahaan-
perusahaan nasional untuk proyek-proyek yang
sifatnya membutuhkan banyak modal dan teknologi
tinggi, pada sektor-sektor yang memperluas ekspor
serta sektor-sektor yang produksinya belum mencukupi
kebutuhan dalam negeri. Semuanya dilaksanakan
dengan syarat tidak membahayakan kepentingan rakyat
dan pengembangan
perusahaan-perusahaan nasional, memperluas
kesempatan kerja, menggunakan bahan baku dalam
negeri, memelihara keseimbangan kwalitas tata
lingkungan serta memungkinkan pengalihan
ketrampilan dan teknologi.
Dalam rangka pemerataan pembangunan,
kebijaksanaan perdagang- an dan neraca pembayaran
juga digunakan untuk melindungi golongan yang
berpenghasilan rendah dengan menjamin tersedianya
bahan-bahan pokok terutama bahan makanan dengan
harga yang terjangkau oleh masyarakat.
Dalam rangka usaha peningkatan produksi nasional
ini maka dilakukan berbagai program pembangunan di
bidang pertanian, pangan dan gizi, industri,
pertambangan, prasarana, perdagangan, pendidikan,
perumahan, kesehatan dan lain-lain.
Di bidang pertanian, sasaran yang dituju selain
melanjutkan pembangunan pertanian dalam rangka
meningkatkan produksi pangan, meningkatkan ekspor,
meningkatkan penghasilan petani dan memungkinkan
hubungan yang sailing mendukung dengan
pembangunan industri, serta ditujukan dalam rangka
pemerataan hasil-hasil pembangunan dan memelihara
kelestarian sumber-sumber alam. Peningkatan pro-
duksi pangan seperti beras dan palawija, produksi
pangan yang ber- asal dari hortikultura,
perkebunan, peternakan, dan perikanan bertu- Juan
untuk mencukupi kebutuhan pangan menuju
swasembada sekali- gus memperbaiki mutu makanan
khususnya dengan memperbesar penyediaan protein
baik nabati maupun hewani. Peningkatan pro- duksi
pangan juga diarahkan untuk memperbaiki tingkat
hidup petani, memperluas kesempatan kerja dan
menjamin penyediaan pangan un- tuk masyarakat
pada tingkat harga yang layak bagi petani produsen
maupun konsumen.

62
Untuk mencapai.-tujuan-tujuan pembangunan di
sektor pertanian dilaksanakart empat usaha pokok,
yang terdiri dari intensifikasi, ekstensifikasi (perluasan
areal pertanian), diversifikasi dan rehabilitasi.
Pelaksanaan kegiatan ini dikaitkan dengan pangelolaan
kelestarian sumber daya alam, pemanfaatan sumber
daya alam semaksimal mung- kin, dan perluasan
kesempatan kerja. Peningkatan produksi pertanian
ini akan didukung oleh produksi pupuk dalam negeri
yang cukup me-
madai. Produksi pupuk yang pada tahun 1979/80
diperkirakan sebe- sar 2,2 juta ton setahun akan
meningkat menjadi 3,3 juta ton pada tahun
1983/84.
Intensifikasi dan diversifikasi pertanian tanaman
pangan dilaksana- kan secara menyeluruh di semua
daerah pertanian tanah sawah, tanah kering dan areal
irigasi pasang surut yang terbagi habis oleh wilayah
unit desa, serta terhadap sernua bahan makanan
pokok. Dengan kebijaksanaan ini semua petani akan
memperoleh kesempatan yang sama. Di samping
itu pembangunan pertanian di daerah minus, kritis dan
daerah rawan dilaksanakan untuk pertanaman palawija
dan tanaman pekarangan baik secara intensifikasi
maupun diversifikasi.
Perluasan areal pertanian di luar Jawa akan lebih
ditingkatkan lagi baik di tanah kering, maupun tanah
basah. Kegiatan-kegiatan ini dikaitkan dengan usaha
pembinaan transmigrasi dan pemukiman kem- bali
penduduk. Di samping itu dalam rangka perluasan dan
peremaja- an tanah perkebunan, untuk meningkatkan
produktivitasnya akan dilaksanakan diversifikasi
tanaman pangan dan peternakan.
Intensifikasi dan diversifikasi peternakan dilakukan
dengan cara panca usaha ternak terutama di daerah
sentra produksi. Selanjutnya ekstensifikasi peternakan
akan dikembangkan di daerah-daerah yang masih
jarang ,penduduknya. Usaha ini dikaitkan dengan
pengembang- an daerah transmigrasi dan
pemukiman kembali.
Intensifikasi perikanan diarahkan untuk mencapai
produktivitas yang optimal dengan memperhatikan
kelestarian sumber-sumber perikanan. Diversifikasi
diarahkan pada penganekaragaman usaha per-ikanan
dan pengembangan industri pengolahan dan
pemasaran.
6
3
Melalui berbagai kebijaksanaan tersebut di atas
diharapkan produksi beras terus meningkat dari 17,5
juta ton dalam tahun 1978 men- jadi 20,6 juta ton
pada akhir Repelita III atau kenaikan rata-rata
sekitar 4,3% setahun. Hal ini berarti laju peningkatan
produksi beras akan dua kali lebih cepat dari
pertumbuhaa penduduk. Di samping itu produksi
tanaman pangan lainnya diperkirakan akan mening-
kat setiap tahunnya. dalam Repelita III untuk jagung
sebesar 5,1%, ubi kayu 4,4%, ubi jalar.7,3%,
kacang tanah 7,1%, kedele 5%,
sayur-sayuran 4%, dan buah-buahan 2%. Sedangkan
produksi daging, susu, telur dan ikan laut diperkirakan
meningkat dengan masing- masing 4,7%, 9,6%,
6,6% dan 5,8% setahun. Selain itu produksi perikanan
di perairan umum akan meningkat sebesar 4,3% dan
perikanan darat 8,5% setahun. Berkaitan dengan usaha
peningkatan produksi pertanian tersebut .adalah
berbagai langkah kegiatan yang dirnaksudkan untuk
meningkatkan gizi makanan rakyat dan pola kon-
sumsi yang tidak hanya tergantung daripada beras.
Peningkatan produksi perkebunan kehutanan dan
perikanan, di samping untuk meningkatkan perluasan
lapangan kerja dan penghasil- an rakyat, juga
bertujuan untuk menunjang pembangunan industri
serta meningkatkan ekspar. Dalam rangka
meningkatkan produksi perkebunan rakyat khususnya
karet dan kelapa, kegiatan rehabilitasi akan
ditingkatkan serta ditujukan untuk meremajakan
kembali tanaman yang sudah tua di samping
usaha-usaha ekstensifikasi. Mengenai hasilhasil
perkebunan diperkirakan akan meningkat masing-
masing untuk karet 1,6%, kelapa 2,0%, kelapa sawit
11,3%, teh 3,9% kopi 3,3%, cengkeh 18,5% dan dada
11,0%.
Di samping memanfaatkan hasil hutan untuk
pembangunan, perha-tian juga diberikan pada
pembinaan hutan sebagai sumber alam. Sehubungan
dengan itu perlu dilakukan usaha-usaha peningkatan
penertiban penebangan hutan, penanaman kembali
hutan-hutan yang rusak serta merubahnya menjadi
hutan lindung atau hutan buatan yang menghasilkan
kayu industri. Dalam pada itu hutan harus dikelola se-
demikian rupa sehingga rakyat merasakan
manfaatnya secara lang- sung. Hal ini akan lebih
meningkatkan rasa tanggung-jawab masya- rakat
untuk membina kelestarian hutan. Oleh karena itu

64
program reboisasi dan penghijauan akan terus
ditingkatkan. Sasarannya selama Repelita III adalah
usaha reboisasi seluas 1,5 juta ha dan penghi-
jauan seluas 3,5 juta ha. Sasaran usaha di bidang ini
juga dimaksud- kan dalam rangka pengelolaan
kelestarian sumber-sumber alam dan perhatian
terhadap segi-segi yang dapat merugikan lingkungan
hidup.
Dalam perikanan laut, daerah penangkapan dengan
peralatan nontradisional akan dibatasi pada daerah
lepas pantai dengan disertai pengawasan yang lebih
intensif. Produktivitas usaha perikanan tradisio-
nal akan terus ditingkatkan melalui peningkatan
program motorisasi dan perbaikan bahan dan alat-
alat penangkapan ikan.

Pembangunan pertanian merupakan usaha yang


terpadu dengan pembangunan daerah dan pedesaan.
Dalam hubungan ini akan dila-kukan langkah-langkah
untuk mengendalikan secara efektif masalah pemilikan,
penggunaan dan penguasaan tanah sehingga benar-
benar sesuai dengan asas adil dan merata.

Produksi sandang diperkirakan akan dapat terpenuhi


dengan adanya peningkatan hasil produksi
selama Repelita III, bahkan ekspor produksi
tekstil sudah pula diperkirakan. Sasaran untuk tahun
1983/84 adalah produksi 2.500 juta meter, konsumsi
sekitar 2.200 juta meter, dan ekspor (tekstil dan
pakaian jadi) sekitar 280 juta meter.
Pembangunan disektor indusri adalah bagian dari
usaha jangka panjang untuk merombak struktur
ekonomi yang masih berat sebelah kepada produksi
bahan mentah dan hasil-hasil pertanian, ke arah
struktur ekonomi yang lebih seimbang dan serasi.
Pembangunan yang telah dilaksanakan dalam Repelita
II akan ditingkatkan lagi de- ngan lebih
mengutamakan pembangunan industri yang mengolah
bahan mentah menjadi bahan setengah jadi dan barang
jadi. Dengan demikian maka sebagian besar
kebutuhan dalam negeri akan dapat dipenuhi sendiri,
dan landasan ekspor Indonesia bertambah kuat
dengan bergesernya pola ekspor dari bahan mentah ke
arah hasil produksi industri dalam negeri.
Pembangunan disektor industri juga diarahkan
kepada pengembang- an industri kecil dan sedang
yang sifatnya padat karya, demi tercip- tanya
kesempatan kerja dan terciptanya suatu landasan
65
pembangunan sektor industri yang lebih luas bagi
pertumbuhan selanjutnya. Di sam- ping itu diusahakan
pula agar perkembangan industri besar dan menengah
dapat merangsang pertumbuhan industri kecil dan
dalam perkembangannya dihatapkan dapat Baling
mengisi.

Pada pokoknya pembangunan industri ditujukan


kepada empat sasaran. Pertama, ialah memperluas
kesempatan kerja dan.kesempatan
berusaha. Untuk itu pembangunan industri akan
diarahkan kepada pengembangan industri kecil dan
sedang yang sifatnya padat karya. Kedua,
memproduksi barang-barang yang diperlukan oleh
rakyat banyak dan sesuai dengan pola hidup
sederhana. Barang-barang ter- sebut akan diproduksi
dalam jumlah yang cukup besar dengan biaya serendah
mungkin, sehingga harganya berada dalam jangkauan
rak- yat banyak. Ketiga, memproduksi barang-
barang sehingga sebagian besar dari kebutuhan
dalam negeri dapat dipenuhi sendiri. Begitu pula halnya
dengan barang-barang yang dapat diekspor sehingga
landasan ekspor bertambah kuat. Untuk mencapai
sasaran ini maka akan diutamakan pengembangan
industri yang mengolah bahan baku menjadi barang
setengah jadi atau barang jadi. Sedangkan tujuan
keempat adalah menunjang kegiatan pembangunan
sektor lain khususnya sek- tor pertanian. Dalam
hubungan ini akan dikembangkan industri pengolahan
yang menggunakan bahan baku pertanian.
Langkah lainya untuk meningkatkan pembangunan
industri adalah mendorong penyebaran industri ke
daerah-daerah dengan tetap memperhatikan asas
efisiensi ekonomi. Dalam hubungan ini akan diting-
katkan pembangunan wilayah industri di daerah-daerah
tertentu.
Melalui usaha-usaha tersebut laju pertumbuhan
sektor industri diperkirakan sekitar 11 persen setahun.
Perkiraan tersebut didasarkan atas laju pertumbuhan
kelompok industri yang bernilai politis stra- tegis
sebesar 14,5% setahun, industri yang menghasilkan
barang konsumsi dan industri pelengkap sebesar
10,7% dan industri yang berdasarkan
ketrampilan tradisional, yaitu industri; yang meng-
hasilkan benda seni dan industri pedesaan sebesar 6,0
— 7,0%.

66
Dalam Repelita III akan dibangun perluasan pabrik
kertas di Leces dengan kapasitas 150 ton/tahun. Di
samping itu akan dijajagi kemungkinan pemanfaatan
potensi pembangunan industri kertas di Kalimantan
Timur, Sumatra Utara, Sumatra Selatan dan Jawa Te-
ngah. Demikian pula sumber alam berupa gas bumi
akan dimanfaat- kan untuk industri petrokimia di
Aceh, Sumatra Selatan dan Kali- mantan Timur.
Sementara itu akan dibangun proyek pupuk di
Kalimantan Timur dan proyek pupuk ASEAN di Aceh.
Dengan demikian produksi pupuk urea akan mencapai
jumlah 3,3 juta ton/
tahun pa d a akhir Repelita III. Di samping itu produksi
semen akan ditingkatkan melalui perluasan pabrik-
pabrik yang sudah ada dan pembangunan pabrik baru.
Proyeksi kebutuhan semen akan mencapai sekitar 9
juta tan/tahun pada akhir Repelita III.
Di sektor pertambangan akan dilanjutkan langkah-
langkah yang telah dilaksanakan selama ini
berupa inventarisasi dan pemetaan eksplorasi dan
eksploitasi kekayaan alam berupa sumber minyak dan
energi. Dengan langkah ini diharapkan penerimaan
negara dan pro- duksi ekspor yang berasal dari sektor
pertambangan akan dapat bertambah. Di samping itu
akan dilanjutkan pengembangan tekno- logi
penambangan, termasuk penelitian deposit bahan-
bahan galian dan pengolahan berbagai macam
bahan galian.

Selanjutnya pengolahan di bidang pertambangan


diserasikan pula. dengan kebijaksanaan umum di bidang
energi dan bahan bakar serta dengan pengembangan
wilayah yang disertai dengan peningkatan pengawasan
yang menyeluruh. Berdasarkan hal tersebut di atas
maka sasaran utama pembangunan sektor
pertambangan adalah mengusaha- kan
peningkatan/pengembangan dan pengelolaan sumber-
sumber mineral dan energi. Untuk mencapai sasaran ini
maka akan ditem- puh beberapa langkah
kebijaksanaan. Pertama, akan diusahakan kelangsungan
dan peningkatan produksi bahan tambang yang saat
ini telah mempunyai pasaran internasional. Selanjutnya
akan dilan- jutkan dan ditingkatkan usaha
diversifikasi dan usaha pengolahan komoditi tambang
yang dihasilkan. Berlandaskan pengarahan ter-
sebut di atas, maka perkiraan produksi minyak bumi
yang merupakan hasil utama sektor pertambangan dan
merupakan bahan ekspor penghasil devisa terbesar
adalah sebesar 582 juta barrel untuk tahun 1979/80
67
dan sebesar 668 juta barrel untuk tahun 1983/84.

Produksi gas alam yang telah berkembang dalam


Repelita II diperkirakan akan terus meningkat dalam
Repelita III. Perkiraan produksi dan penyediaan gas
alam pada tahun 1 9 7 9 / 8 0 masing- masing adalah
.
sebesar 1.019 milyar kaki kubik dan 595 milyar kaki
kubik yang akan meningkat menjadi 1.595 milyar kaki
kubik dan 1.178 milyar kaki kubik tahun 1983/84.
Perkiraan produksi berbagai hasil tambang untuk
tahun 1979/80 dan 1983/84 masing-masing adalah :
batubara dari 470 ribu ton menjadi 1.255 ribu ton,
timah dari 30.291 ton logam timah menjadi 35.379 ton
logam timah, nicklematte dari 22.700 ton menjadi
47.600 ton dan produksi bauksit dari 1.100 ribu ton
menjadi 2.700 ribu ton. Dalam pada itu barang
tambang aluminium baru diharapkan berproduksi pada
tahun 1982/83 sebanyak 240 ribu ton yang di tahun
1983/84 diharapkan meningkat menjadi 540 ribu ton.
Selanjutnya apabila pasaran tembaga membaik
kembali maka produksi diper-
kirakan akan mencapai sebesar 225.000 ton/tahun
selama periode repelita III.

Dengan meningkatnya kebutuhan atas bahan bakar


dari hasil peng-olahan minyak, maka direncanakan
perluasan kilang minyak di Dumai berkapasitas 85.000
barrel per hari, dan perluasan kilang Balikpapan dengan
kapasitas 100.000 barrel per hari. Sementara itu
produksi LNG akan dinaikkan dengan
pembangunan tambahan 2 train di Ba- dak dan 3
train di Arun.

Dalam rangka meningkatkan pemanfaatan hasil


minyak dan gas bumi semaksimal mungkin, maka
dalam masa Repelita III akan diusahakan kemungkinan
pembangunan 4 proyek industri petro-kimia sebagai
usaha patungan yaitu Proyek Olefin Centre yang akan
di- bangun dekat lapangan Arun di Aceh, Proyek
Aromatic Centre di Plaju, Proyek Methanol di
Pulau Bunyu dan Proyek Carbon Black
dumai atau Sei Pakning.

Pengembangan dan pemanfaatan energi akan


didasarkan kepada
kebijaksanaan energi yang menyeluruh serta terpadu
dengan memperhitungkan peningkatan kebutuhan, baik
68
untuk ekspor maupun. untuk pemakaian dalam negeri
serta kemampuan penyediaan energi secara strategis
dalam jangka panjang.
Sumber utama pemakaian energi di dalam negeri
dewasa ini adalah minyak bumi. Penggunaannya terus
meningkat, sedangkan jumlah persediaannya terbatas.
Sehubungan dengan itu di satu pihak perlu di- ambil
langkah-langkah penghematan penggunaan minyak
bumi dan di
Lain pihak pengembangan sumber-sumber energi
lainnya, seperti batu- bara, tenaga air, tenaga angin,
tenaga panas bumi, tenaga nukiir, tena- ga
matahari dan sebagainya. Dalam pada itu sumber
energi di pedesaan alian lebih dikembangkan untuk
memungkinkan penyediaan energi yang murah
bagi masyarakat pedesaan sehingga kerusakan hutan,
tanah dan air dapat dikurangi.

Pembangunan prasarana akan lebih ditingkatkan lagi


untuk dapat menunjang peningkatan pertumbuhan
produksi barang dan jasa serta pemerataan
pembangunan dan hasil-hasilnya. Mengenai perkiraan
sara- na sarana pembangunan di bidang prasarana
dapat dikemukakan seba- gai berikut.

Prasarana pengairan erat hubungannya dengan


pembangunan pertanian. Dalam pembangunan
pengairan misalnya, rehabilitasi jaringan pengairan dan
perluasan jaringan irigasi baru ditujukan untuk
menunjang peningkatan produksi pangan. Dalam pada
itu pelaksana- an nya dikuti pula dengan usaha-usaha
pemeliharaan dan pemanfaatan-nya sehingga akan
dapat ditingkatkan kesadaran dan partisipasi ma-
syarakat dalam usaha pemeliharaan saluran dan
bangunan-bangunan pengairan. Khusus di luar Jawa,
pembangunan pengairan baru dilak-sanakan sesuai
dengan usaha perluasan areal pertanian baru.
Pengenibangan daerah rawa dan pasang surut akan
terus dilaksa- nakan dalam rangka menambah luas
areal persawahan baru dan seka- ligus dikaitkan pula
dengan usaha-usaha transmigrasi. Di samping itu dalam
rangka usaha pemerataan pembangunan dan
pendapatan akan ditingkatkan kegiatan pengembangan
air tanah, khususnya di daerah- daerah pertanian kering
dan rawan yang air permukaannya sudah langka.

69
Dengan berbagai kebijaksanaan dan langkah tersebut,
dalam Repe- lita III direncanakan akan dilakukan
perbaikan dan peningkatan ja- ringan irigasi seluas
kira-kira 536 ribu ha. jaringan irigasi baru yang akan
dibangun meliputi areal seluas kira-kira 700 ribu ha
dengan pen- cetakan sawah baru seluas kira-kira
350.000 ha. Kemudian direncana- kan dibuka
areal irigasi pasang-surut seluas 400 ribu ha dan
reklamasi
rawa seluas 135 ribu ha dengan Iuas areal selruruhnya
meliputi kira- kira 535 ribu ha.
Untuk memanfaatkan jaringan prasarana pengairan
yang ada secara optimal dalam rangka peningkatan
produksi pangan, diperlukan ja-
ringan tersier yang mencakup Iuas areal sebanyak kira-
kira 600 ribu hektar.
Pembangunan kelistrikan ditujukan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan
dan kota serta mendcrong dan merang- sang
kegiatan ekonomi. Sasaran peningkatan pelistrikan
desa akan mencapai seluruh desa swasembada.
Pelistrikan untuk desa swadaya maupun swakarya akan
diusahakan dengan jalan menggunakan jarring- an
yang akan meIalui desa yang bersangkutan ataupun
sesuai dengan perkembangan dan perluasan jaringan
distribusi yang akan mencapai desa yang
bersangkutan. Sasaran lainnya adalah sambungan
rumah
sebanyak 625 ribu langganan; daya tersambung
sebesar 312 MVA, da- ya terpasang sebesar 130
MW, gardu distribusi sebesar 272 MVA, ja- ringan
tegangan menengah sepanjang 11.100 kms, dan
jaringan tegang- an rendah sepanjang 11.100 kms.
Melalui koperasi listrik desa direncanakan akan
didirikan 10 koperasi yang diperkirakan akan dapat me-
layani 1.000 desa, meliputi 460 ribu langganan yang
tersambung dengan jumlah daya terpasang sebesar 48
MW.
Sasaran-sasaran lain pembangunan kelistrikan PLN
adalah sarana pusat pembangkit tenaga listrik dengan
kapasitas sebesar kurang lebih 2.729 MW dengan
perincian PLTA sebesar 296 MW, PLTU sebesar 1.780
MW, PLTD sebesar 478 MW, PLTP (pusat listrik tenaga
panas bumi) sebesar 30 MW, PLTM sebesar 15 MW dan
pusat pembangkit tenaga listrik yang dipergunakan

70
untuk pelistrikan desa sebesar 130 MW, serta jaringan
transmisi untuk sepanjang 10.402 kms dan gardu induk
sebanyak 132 unit dengan jumlah kapasitas sebesar
6.829 MVA. Begitu pula halnya dengan sarana
jaringan distribusi, sasaran- nya adalah jaringan
distribusi tegangan menengah (JTM) sepanjang 14.703
kms, jaringan distribusi tegangan rendah (JTR) 45.665
kms, gardu distribusi dengan jumlah kapasitas 4.488
MVA, sambungan kepada konsumen baru sebanyak 1
juta langganan serta perubahan tegangan rendah ke
tegangan yang lebih tinggi (PTR) sebanyak 330.000
konsumen. Karena badan yang menangani
pembangunan kelistrikan ini lebih dari satu maka
dalam pelaksanaannyaakan tetap diper- hatikan
suatu keterpaduan yang serasi hingga perbenturan
yang mung- kin terjadi dapat dihindari.
Pembangunan prasarana perhubungan bertujuan
untuk memperlan- car arus barang/jasa dan manusia
ke seluruh daerah terutama daerah pedesaan dan
daerah terpencil. Dengan demikian pembangunan
prasarana diharapkan dapat merangsang dan
menunjang pencapaian, sasaran pembangunan yang
lain. Selain dari pada itu perhubungan juga mem-
puniyai peranan yang penting dalam membina
kesatuan bangsa dan negara. Beberapa perkiraan
sasaran pembangunan prasarana perhubungan dapat
dikemukakan sebagai berikut.
Pembangunan jalan mengutamakan peningkatan
kondisi jalan yang sudah ada sedangkan pembangunan
jalan baru dilakukan hanya apa- bilia dapat
meningkatkan serta memeratakan pembangunan
daerah/ wilayah, terutama jalan yang menghubungkan
pusat produksi dengan daerah pemasarannya. Karena
itu akan diusahakan pembangunan yang
serasi antara jalan negara, jalan propinsi dan jalan
kabupaten. Di sam- ping itu diusahakan pula
keserasian antara pembangunan jalan, pem- bangunan
kereta api dan pembangunan bidang-bidang
perhubungan lainnya. Sasaran pembangunan di bidang
jalan dan jembatan terdiri dari pemeliharaan jalan
sepanjang 29.140 km, rehabilitasi jalan sepan- jang
1.570 km, peningkatan jalan sekitar 11.000 km,
pembangunan jalan baru sekitar 995 km dan
penunjang jalan sepanjang 62.700 km
termasuk di dalamnya 41.000 km jalan kabupaten. Juga
akan dibangun jalan dan jembatan di daerah pemukiman
transmigrasi yang seluruh- nya akan meliputi lebih
71
dart 40.000 km dengan tujuan menunjang
pembangunan 250 daerah pemukiman transmigrasi.
Dalam rangka pembangunan prasarana jalan perhatian
yang Ilebih besar akan diberi- kan kepada jalan-jalan
kabupaten guna menunjang usaha kearah pe merataan
pembangunan dan optimasi pembangunan pertanian.
Peningkatan angkutan kereta api ditujukan untuk
makm mening- katkan mutu pelayanannya serta
menyehatkan pengusahaannya, agar
berfungsi sebagai angkutan umum yang murah dan
aman. Dalam hu- bungan ini pembangunan di-
bidang angkutan kereta api selama Repe-
lita III akan dilanjutkan dengan kegiatan rehabilitasi,
peningkatan dan penambahan peralatan yang
terdiri dari jalan kereta api sepan- jang 777 km,
jembatan kereta api 141 buah, lokomotif 145 buah,
kereta penumpang 186 buah, gerbong barang 5.150
buah, peralatan sinyal, telekomunikasi dan lain-lain.
Perhubungan sungai dan laut ditingkatkan agar
tersedia pelayanan angkutan yang lebih luas, teratur,
lancar, dan murah, terutama untuk daerah-daerah
terpencil. Untuk tercapainya tujuan tersebut akan dila-
kukan penggantian dan penambahan armada nasionat
dalam negeri sehingga mencapai kapasitas pelayaran
nusantara RLS sebanyak 337.000 DWT, pelayaran lokal
186.000 BRT, pelayaran perintis 12.800 DWT,
pelayaran rakyat 69.000 BRT ,dan armada khusus
untuk angkutan kayu 104.476 DWT. Rute
pelayaran yang terdiri dari rute pelayaran nusantara
(RLS), rute pelayaran lokal dan rute pelayaran perintis
juga akan disempurnakan sehingga rute masing-masing
jenis pelayaran tersebut akan dapat saling menunjang.
Pembangunan di bidang pelabuhan ditekankan pada
usaha peningkatan pengoperasian fasilitas yang sudah
ada. Di samping itu akan dibangun dermaga sepanjang
6.670 m, gudang seluas 83.160 m2, lapangan
penumpukan 60.304 m2 dan fasilitas pelabuhan Lain.
Di bidang industri galangan akan diusahakan
memperpendek hari doc- king kapal, yang akan
dilakukan melalui usaha peningkatan kemam- puan
perusahaan dock/galangan dalam negeri.
Perhubungan udara ditingkatkan agar tersedia
pelayanan angkutan yang lebih teratur dan lancar,
termasuk pembangunan di daerah-daerah terpencil.
Permintaan,angkutan udara selama Repelita III diper-
kirakan ,akan meningkat sebesar 17 - 19 persen setiap
tahun untuk penumpang dan 25 persen untuk
angkutan barang. Untuk memenuhi peningkatan

72
permintaan ini maka system perhubungan udara
akan di-
atur lebih baik dan serasi. Dalam hubungan ini
pengembangan pener-
bangan dalam negeri diarahkan kepada tercapainya
integrasi seluruh jalur penerbangan nusantara; daerah,
lokal dan perintis sehingga dapat memberikan jasa
angkutan secara -cepat, tepat, aman dan teratur.
Sedangkan perkembangan sistem penerbangan luar
negeri didasar- kan atas asas adil dan saling
nlenguntungkan. Untuk menarik wisata-
wan ke Indonesia sebanyak mungkin, maka
penerbangan secara borongan akan digalakkan.
Sementara itu untuk menunjang pembangunan
daerah, pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya
maka penerbangan perintis akan ditingkatkan. Jalur
tertentu akan ditingkatkan dan dapat diarahkan
menjadi penerbangan lokal secara komersial bagi
daerah yang telah dapat dijangkau oleh jenis
angkutan yang lain. Selanjutnya jalur ini tidak akan
dilayani oleh angkutan udara yang bersifat perintis.
Pengembangan armada penerbangan diarahkan pula
agar mampu menampung perkembangan permintaan
jasa angkutan udara. Hal ini dilakukan dengan
pemanfaatan armada yang ada dan peningkatan jam
terbang produktif secara bertahap dari seluruh
pesawat, sehingga di- capai. tingkat kegunaan yang
optimal.

Pembangunan prasarana penerbangan akan


didasarkan pada satu kesatuan sistem yang harmonis,
yaitu antara lain meliputi fasilitas landasan, pendukung
operasi penerbangan dan pendukung pelayanan umum
yang cukup dan memadai. Selanjutnya dalam rangka
melayani peningkatan permintaan angkutan dan
pengembangan armada, maka akan ditingkatkan
kemampuan landasan di beberapa pelabuhan udara
sebagai berikut: dua pelabuhan udara yang mampu
menampung se- cara penuh pesawat udara sejenis
B-747, 1 pelabuhan udara untuk DC-10, 4
pelabuhan udara untuk DC-9, 6 pelabuhan udara untuk
F-28 dan 9 pelabuhan udara untuk F-27. Di samping itu
pelabuhan lain yang juga ditingkatkan kemampuan
landasannya agar mampu didarati secara terbatas
yaitu: 3 pelabuhan udara untuk DC-10, 3 buah
pelabuhan udara untuk DC-9, 3 buah pelabuhan udara
untuk F-28 dan 7 buah pelabuhan udara untuk F-
27.
7
3
Pembangunan di bidang pas dan giro ditujukan untuk
meningkat- kan mutu pelayanan serta efisiensi dan
efektivitas penyelenggaraan- nya. Dalam hubungan
ini pembangunan kantor pos pembantu ditujukan agar
dapat menjangkau ke daerah-daerah, kecamatan-
kecamatan, daerah-daerah transmigrasi dan
pemukiman baru. Diperkirakan dalam Repelita III
peningkatan lalu-lintas pos dalam dan Iuar negeri akan
sebesar 9% persen pertahun. Sasaran fisik Repelita III
meliputi
pembangunan 750 buah kantor pos
pembantu/tarbahan yantg tersebar di kecamatan-
kecamatan, daerah-daerah transmigrasi maupun
daerahdaerah terpencil. Di samping itu direncanakan
pula pembangunan 11 buah gedung kantor pos pusat
dan 4 buah gedung kantor Biro Daerah Fos di 15
ibukota propinsi, penambahan 1.500 buah sepeda
motor untuk dinas pos keliling desa serta 120 buah
kendaraan pos dan giro. Hal ini diharapkan dapat
meningkatkan pelayanan pos dan giro. Sedangkan
untuk memberikan pelayanan yang lebih balk kepada
pen-duduk kota, maka akan didirikan 1.000 buah bis
surat.
Selama Repelita III sasaran pembangunan di bidang
telekomu- nikasi antara lain akan dibangun
tambahan telepon sebanyak 232.000 sambungan, yaitu
65.500 sambungan di Jakarta, 166.500 sambungan
di luar Jakarta termasuk 7.000 sambungan di tingkat
kabupaten, kecamatan dan daerah terpencil. Beberapa
program dalam Repelita II yang belum selesai akan
dilanjutkan antara lain meliputi proyek ja- ringan
telepon otomat 152.000, sambungan telex 3.910,
sambungan dan penyelesaian jaringan transmisi
frekwensi tinggi di Kalimantan, Maluku dan Irian Jaya. Di
samping itu juga akan diselesaikan proyek gelombang
mikro Indonesia bagian Timur, gelombang mikro trans
Sumatera, gelombang mikro Jawa — Bali, gelombang
mikro Medan - Banda Aceh, jaringan simpang serta
penambahan kanal SKSD.Selanjutnya juga akan dimulai
perluasan dan pembangunan baru antara lain telepon
otomat sebanyak 80.000 sambungan. Dalam bidang
transmisi akan diperluas kapasitas gelombang mikro
Jawa Bali, gelombang mikro Indonesia bagian
Timur, jaringan Simpang, troposcatter dan peluncuran
satelit domestik Palapa III dan Palapa IV. Peluncuran
satelit Palapa III dan satelit Palapa IV ini akan dilakukan
untuk menggantikan satelit Palapa I dan satelit Palapa II
74
yang sudah akan habis masa pemakaiannya pada
tahun 1983. Di samping itu kapasitas satelit domestik
juga akan ditingkatkan dan akan dibangun stasiun-
stasiun bumi kecil untuk meningkatkan hubungan antar
kota dan melayani keperluan penyaluran siaran TVRI.
Pelayanan telepon umum khususnya di kota-kota besar
selama Repelita III akan ditingkatkan sekitar 1% dari
kapasitas telepon yang ada dan ditempatkan pada
lokasi-lokasi yang mudah dimanfaatkan oleh umum
seperti rumah sa- kit, kantor pos, stasiun, tempat
perbelanjaan dan lain-lain.
Selanjutnya bidang pariwisata terus dikembangkan
untuk meningkatkan penerimaan devisa, memperluas
lapangan kerja dan memperkenalkan kebudayaan
Indonesia. Pembinaan serta pengembangan pariwisata
dilakukan dengan tetap memperhatikan terpeliharanya
kebuda-yaan dan kepribadian nasional. Untuk itu
diambil langkah-langkah dan pengaturan-pengaturan
yang lebih terarah berdasarkan kebijaksanaan yang
terpadu antara lain di bidang promosi, penyediaan
fasilitas, mutu dan kelancaran pelayanan. Arus
wisatawan asing ke Indonesia pada akhir Repelita III
diharapkan akan mencapai sekitar 1 juta orang
yang berarti tingkat pertumbuhan rata-rata adalah
sekitar 11,6 persen setahun.
Usaha peningkatan arus wisatawan dalam negeri
terutama dituju- kan kepada kelompok remaja dan
pemuda serta anggota masyarakat lain yang
mempunyai kemampuan untuk berwisata.
Pengembangan wisata remaja diarahkan untuk
meningkatkan pengetahuan dan krea-tivitas serta
kesadaran akan kebudayaan bangsa sebagai bagian
dari kebijaksanaan pendidikan nasional.
Dengan semakin meningkatnya produksi barang dan
jasa maka efisiensi dan efektivitas penyaluran sarana-
sarana produksi serta pemasaran hasil-hasil produksi
perlu di tingkatkan. Sejalan dengan peningkatan hasil-
hasil produksi tersebut maka akan ditingkatkan pula
pembinaan perdagangan dan tata niaga dalam negeri
maupun luar ne-geri. Hal ini dimaksudkan agar arus
barang dan jasa menjadi lancar, sehingga
menguntungkan bagi konsumen dan produsen. Di
samping itu dengan meningkatnya ekspor, maka
penerimaan devisa negara akan menjadi semakin
besar. Agar tujuan ini tercapai, maka perlu peningkatan
prasarana perhubungan darat dan laut, pembinaan
pembangunan fasilitas-fasilitas perdagangan dan

7
5
pemasaran serta penyempurnaan pengaturan dan
perizinan. Dalam hubungan ini daerah Indonesia Timur
akan diberi perhatian yang lebih besar.
Di dalam kegiatan perdagangan akan lebih
ditingkatkan pe- ranan pedagang nasional
khususnya pedagang kecil golongan ekonomi lemah
dengan penyelenggaraan penataran dan penyediaan
fasilitas perkreditan. Dalam hubungan, ini kegiatan
tersebut akan diarahkan untuk mendukung kegiatan
poduksi, terutama yang dihasilkan oleh
pengusaha kecil golongan ekonomi lemah. Pengarahan
ini akan dilaksanakan terutama dengan memberikan
fasilitas kepada pengusaha pengusaha yang
mempunyai kegiatan perdagangan barang dan bahan
hasil produksi pengusaha kecil golongan ekonomi
lemah.
Mengenai pengembangan perdagangan dalam negeri
maka kegiatankegiatan pokok pembangunan
perdagangan akan dilaksanakan melalui
penyempurnaan prasarana perdagangan. Hal ini akan
meliputi kegiat- an-kegiatan penyempurnaan sistem
administrasi dalam bidang perdagangan, termasuk
penyempurnaan perundang-undangan dan peraturan.
peraturan yang diperlukan, sistem perizinan,
penyederhanaan dan peningkatan daya guna
pelaksanaannya. Di samping itu dilakukan pula
pembinaan pembangunan pasar, pelelangan ikan,
pusat-pusat perdagangan antar pulau, antar daerah,
pembinaan/pembangunan tempattempat penyimpanan
dan lain-lain.
Selanjutnya akan dilakukan penyempurnaan
organisasi dan lem- baga pemasaran yang kegiatan-
kegiatannya antara lain meliputi pembinaan organisasi
pemasaran pada umumnya dan organisasi perdaga-
ngan pada khususnya. Demikian pula peranan
lembaga-lembaga pemasaran seperti makelar,
komisioner, surveyor, periklanan, leasing, bursa
komoditi, konsultan nasional serta pembinaan
perkembangan lembaga konsumen akan ditingkatkan.
Usaha perluasan pasaran barang-barang produksi
dalam negeri, kegiatannya berupa penyelenggaraan
pameran dagang tetap di kota- kota besar,
perwujudan sistem informasi pasar yang terintegrasi,
peningkatan kontak-kontak dagang dan peningkatan
penertiban ke- giatan promosi dagang.
Demikian pula usaha pengembangan peranan
pedagang golongan ekonomi lemah yang meliputi
76
peningkatan kemampuan, kewirausaha- an dan
ketrampilan, antara lain dilakukan melalui penataran
dan perluasan kesempatan berkonsultasi. Di samping
itu juga membantu usaha-usaha penyediaan tempat-
tempat usaha yang menguntungkan bagi para
pedagang tersebut.
Di bidang perdagangan luar negeri langkah-langkah
kegiatannya antara lain ditujukan untuk
pengembangan ekspor dan penyediaan ba- rang-
barang kebutuhan pokok yang masih diimpor bagi
pemerataan
pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan
ekonomi, serta stabili- tas ekonomi.
Kebijaksanaan di bidang ekspor sasarannya akan
diarahkan untuk mencapai sasaran pertumbuhan
ekspor yang cukup tinggi, perluasan dasar ekspor dan
perluasan pasar. Sedangkan di sektor impor ke-
bijaksanaannya akan ditujukan untuk mengubah
komposisi sedemi- kian rupa, sehingga dapat
mendorong peningkatan produksi dan kapasitas
produksi dalam negeri serta menjaga stabilitas harga di
dalam negeri.
Dalam usaha mencapai sasaran-sasaran di bidang
ekspor antara lain akan dilakukan kegiatan-
kegiatan yang menunjang produksi ekspor,
peningkatan mutu komoditi ekspor dan perluasan
pasaran.
Sasaran di bidang impor dalam Repelita III adalah
menjaga stabilitas harga barang-barang penting di
dalam negeri, menjamin peningkatan hasil produksi
terutama di sektor-sektor yang penting sesuai
dengan sasaran pembangunan. Hal ini dilakukan
dengan menjamin dan mengusahakan kelancaran
arus masuk bahan baku dan barang modal.
Selanjutnya mengubah impor sesuai dengan taraf
perkembangan ekonomi di dalam negeri, penghematan
devisa, peningkatan kesempatan kerja dan penciptaan
nilai tambah di dalam negeri. Dalam melaksanakan
kebijaksanaan ini akan diperhatikan kepentingan
produsen di. satu pihak dan kepentingan. konsumen di
lain pihak.
Pembangunan untuk memenuhi kebutuhan yang
makin meningkat haruslah serasi dengan daya dukung
sumber alam dan lingkungan hidup. Untuk
keperluan itu maka kegiatan inventarisasi dan eva-
luasi sumber alam dan lingkungan hidup akan lebih

7
7
ditingkatkan lagi terutama hutan, tanah, air
dan energi. Pemilihan bentuk pe- manfaatan sumber
alam dan lingkungan hidup yang sangat terbatas itu
akan ditentukan berdasarkan kriteria manfaat yang
paling tinggi bagi masyarakat banyak. Pemanfaatan
sumber alam akan diusaha- kan sehemat mungkin,
dalam arti alokasi penggunaan yang tepat dan
pemanfaatan yang efisien, dan pelaksanaan
pembangunan dilakukan dengan hati-hati agar
perusakan lingkungan hidup dapat dihindarkan.
Kemerosotan mutu lingkungan pemukiman yang
merupakan se- bab yang jelas dalam peningkatan
kriminilitas dan keresahan sosial, kemerosotan
kesehaian masyarakat dan kemerosotan solidaritas
masyarakat, yang menyangkut berbagai aspek fisik,
sosial dan bu- daya. Oleh karena itu peningkatan
mutu lingkungan pemukiman didaerah pedesaan dan
perkotaan akan lebih diperhatikan lagi dan
dilaksanakan secara lintas sektoral yang efisien dan
konsisten, baik dalam pembangunan sarana fisik
maupun dalam pembinaan ling- kungan sosial
masyarakat. Dalam pembinaan lingkungan pemukim-
an ini akan diberikan prioritas kepada perbaikan
lingkungan hidup bagi masyarakat berpenghasilan
rendah. Untuk membina keserasian yang mantap,
maka pembangunan lingkungan pemukiman di daerah
kota akan, diimbangi dengan perbaikan lingkungan
hidup di daerah pedesaan di sekitarnya agar supaya
perpindahan penduduk dari desa ke kota dapat
dikurangi.

Perluasan tanah-tanah kritis di daerah pegunungan


dan perluasan daerah alang-alang di daerah perbukitan
telah menyebabkan bencana banjir, erosi dan
kekeringan serta pelumpuran sungai-sungai dan
saluran irigasi yang menyebabkan kerugian yang besar
terhadap ha- sil pembangunan pemukiman,
pertanian, prasarana, industri dan lain-lain. Oleh
karena itu usaha-usaha rehabilitasi tanah kritis, peng-
hutanan kembali tanah tandus dan padang alang-
alang, pemukiman peladang berpindah, penataan
kembali penggunaan tanah, realokasi penduduk dari
daerah kritis ke daerah yang lebih baik, dan usaha-
usaha lain untuk rnencegah kernerasotan daya dukung
lingkungan hidup dan mengembalikannya ketingkat
yang lebih baik akan terus ditingkatkan melalui usaha-
78
usaha terpadu terhadap daerah aliran sungai dan
wilayah. Wilayah pesisir yang rawan akan ditingkatkan
daya dukungnya melalui pemeliharaan dan rehabilitasi
hutan payau, pencegahan pencemaran perairan laut,
pengaturan usaha perikanan tambak, pengaturan
usaha penangkapan ikan pantai, pengaturan
penggunaan tanah pesisir, dan usaha pelestarian
sumber alam dan lingkungan hidup lainnya agar
kehidupan nelayan miskin dapat diperbaiki dan
wawasan- nusantara dapat dibina dan dikembangkan.
Pelestarian sumber alam hutan, perairan, dan satuan
ekosistem khas tertentu akan lebih ditingkatkan
lagi, agar persediaan plasma nuftah bagi kepentingan
perbaikan genetik hewan dan tanaman da- pat
ditingkatkan dan potensi sumber alam dan lingkungan
hidup da- pat dikembangkan untuk pemanfaatan
dikemudian hari bagi berbagai pembangunan
pertanian, pariwisata, ilmu pengetahuan dan lain-lain.
Dalam hubungan ini akan dikembangkan suaka-suaka
alam, taman nasional, dan hutan-hutan wisata secara
lebih terarah untuk keper- luan pelestarian
ekosistem yang khas. Di samping itu usaha-usaha pe-
nebangan hutan primer akan dibatasi agar kelestarian
produksi hasil hutan dapat dimantapkan.
Pembukaan hutan-hutan primer un- tuk
kepentingan transmigrasi akan dibatasi pula dan
diarahkan ke- pada penggunaan hutan belukar dan
padang alang-alang yang sesuai untuk keperluan
pertanian di daerah yang datar.

Pengaruh pembangunan terhadap lingkungan hidup,


baik fisik maupun sosial, akan selalu diperhitungkan,
agar supaya kerusakan terhadap lingkungan hidup dan
keresahan sosial dapat diketahui dan dihindari,
sehingga kelangsungan pembangunan itu dapat
dijamin dengan lebih baik. Oleh karena itu kriteria
pengaruh lingkungan hi- dup akan dipergunakan
sebagai salah satu faktor dalam pemilihan proyek atau
kegiatan pembangunan baik secara sektoral maupun
se- cara regional. Untuk keperluan itu analisa
pengaruh lingkungan akan dikembangkan dan
dilembagakan lebih mantap dalam perencanaan
dan pelaksanaan proyek dan kegiatan pembangunan.

Penyertaan setiap manusia clan seluruh masyarakat


untuk ikut ser- ta memelihara, melestarikan dan
mengembangkan lingkungan hidup perlu dibina terus
79,
menerus. Untuk memungkinkan partisipasi aktif
dari masyarakat dalam pembinaan lingkungan hidup
yang baik akan dikembangkan usaha-usaha
peningkatan kesadaran masyarakat akan lingkungan
hidup melalui berbagai cara baik pendidikan,
penyuluh- an, maupun penerangan umum. Di
samping itu kemampuan para pe-
rencana dan pelaksana pembangunan di segala sektor
dalam pem-binaan kelestarian lingkungan hidup akan
terus dibina melalui pendidikan, latihan dan lain-lain.
Dalam hubungan dengan pelestarian
lingkungan hidup maka peningkatan peranan wanita
dan generasi muda adalah sangat penting dan akan
terus ditingkatkan dengan program kegiatan yang
makin nyata misalnya kegiatan penghijauan oleh
organisasi pemuda dan wanita seperti pramuka. Usaha-
usaha generasi muda dan wanita dalam pembinaan
lingkungan hidup akan sekaligus memungkinikan
partisipasi generasi muda dan wanita da- lam
pembangunan selanjutnya. Disamping usaha-usaha
tersebut akan ditingkatkan pula usaha pembinaan
hukum dalam pembinaan peles- tarian sumber alam
dan lingkungan hidup.
Dalam rangka membangun manusia seutuhnya
seperti yang ditunjukkan oleh GBHN, di samping
pembangunan yang tergolong fisik material seperti
yang diuraikan di atas, maka pembangunan mental
spirituil sungguh tidak kalah pentingnya. Malahan,
pembangunan men-tal spirituil ini akan memperkokoh
gerak pembangunan yang kita lakukan.
Sementara itu atas dasar kepercayaan bangsa
Indonesia terhadap Tuhan Yang Maha Esa, maka
perikehidupan beragama dan perikehidupan
berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah
selaras dengan penghayatan dan pengamalan
Pancasila. Oleh karena itu kehidupan beragama dan
kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa makin
dikembangkan, sehingga terbina hidup rukun di antara
sesama umat beragama, di antara sesama penganut
kepercayaan ter- hadap Tuhan Yang Maha Esa dan di
antara semua umat beragama serta semua
penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Hal ini dilakukan dalam rangka mernperkokoh kesatuan
dan persatu- an bangsa serta meningkatkan amal
until bersama-sama membangun niasyarakat. Dengan
semakin meningkatnya dan meluasnya pemba-
ngunan, maka kehidupan beragama dan

80
berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
harus semakin diamalkan baik di dalam kehi dupan
pribadi maupun hidup sosial kemasyarakatan.
Dalam pada itu diusahakan penambahan sarana-
sarana yang diperlukan bagi pengembangan
.kehidupan beragama dan berkeper- cayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, termasuk pendidikan
agama yang dimasukkan ke dalam kurikulum di
sekolah-sekolah, mulai dari sekolah dasar sampai
dengan universitas negeri. Demikian pula akan
dilanjutkan usaha-usaha untuk meningkatkan
pelayanan dan keIancar- an penunaian ibadah haji
bagi umat Islam sesuai dengan kemampuan
masyarakat.
Di bidang pendidikan, maka pendidikan nasional
.
berdasarkan atas Pancasila bertujuan untuk
meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang
Maha Esa, kecerdasan, ketrampilan, mempertinggi budi
pe- kerti, memperkuat kepribadian dan
mempertebal semangat kebangsa- an. Hal ini
dimaksudkan agar dapat menumbuhkan manusia-
manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya
sendiri serta bersama- sama bertanggung jawab atas
pembangunan bangsa. Dalam rangka me-Laksanakan
tujuan tersebut maka akan diambil langkah-langkah
yang memungkinkan penghayatan dan pengamalan
Pancasila oleh seluruh lapisan masyarakat. Pendidikan
Pancasila termasuk pendidikan moral Pancasila dan
unsur-unsur yang dapat meneruskan dan
mengembang-kan jiwa dan nilai-nilai UUD 1945 kepada
generasi muda, dimasuk- kan ke dalam kurikulum di
sekolah-sekolah, mulai dari taman kanakkanak sampai
universitas baik negeri maupun swasta.
Pendidikan berlangsung seumur hidup dan
dilaksanakan di dalam lingkungan
rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Oleh karena
itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara
keluar- ga, masyarakat dan Pemerintah. Perguruan
swasta mempunyai pera- nan dan tanggung jawab
dalam usaha melaksanakan pendidikan na-sional.
Untuk itu pertumbuhannya dikembangkan sesuai
dengan kemampuan yang ada berdasarkan pola
pendidikan nasional yang man- tap dan tetap
mengindahkan ciri-ciri khas perguruan yang bersang-
kutan. Pendidikan juga menjangkau program-program
luar sekolah ya- itu pendidikan yang bersifat

S
1
kemasyarakatan, termasuk kepramukaan, latihan-
latihan ketrampilan dan pemberantasan buta huruf
dengan mendayagunakan sarana dan prasarana yang
ada. Mutu pendidikan ditingkatkan untuk mengejar
ketinggalan di bidang illmu pengetahuan dan teknologi,
yang mutlak diperlukan dalam mencapai
pembangunan.
Sistem pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan
pembangunan segala bidang yang memerlukan
jenis-jenis keahlian dan ketrampilan serta sekaligus
dapat meningkatkan produktivitas, mutu dan efisiensi
kerja.
Pendidikan tinggi dikembangkan dan diarahkan
untuk : (1) Menjadikan perguruan tinggi sebagai pusat
pemeliharaan, penelitian serta pengembagan dan
pengetahuan dan teknologi, sesuai dengan kebutuh-
an pembangunan masa sekarang dan masa yang akan
datang. (2) Mendidik mahasiswa-mahasiswa agar
berjiwa penuh pengabdian serta memiliki rasa
tanggung jawab yang besar terhadap masa depan
bangsa dan negara Indonesia. (3) Menggiatkan
mahasiswa, sehingga berman- faat bagi usaha-usaha
pembangunan nasional dan pembangunan dae- rah.
(4) Mengembangkan tata kehidupan kampus yang
memadai, agar lebih nampak ciri khas kepribadian
Indonesia.
Selanjutnya akan ditingkatkan peranan perguruan-
perguruan tinggi dan lembaga-lembaga penelitian
dalam kegiatan pembangunan, antara lain dengan
jalan: (1) Menggunakan kebebasan mimbar akademis
dan dalam bentuk-bentuk yang kreatif, konstruktif dan
bertanggung jawab, sehingga dapat bermanfaat bagi
masyarakat dan pembangunan. (2) Integrasi dan
konsolidasi kegiatan-kegiatan mahasiswa dan
cendekia-wan sesuai dengan profesinya dalam wadah-
wadah yang efektif sehing-ga mereka dapat
menyumbangkan prestasi serta partisipasi yang po-
sitif.
Sementara itu sarana dan prasarana pendidikan
termasuk gedung, peralatan, perpustakaan, fasilitas
kerja dan kondisi kehidupan yang Layak bagi seluruh
tenaga pendidikan dan pengajaran akan disem-
purnakan dan ditingkatkan. Pendidikan dan kegiatan
olah raga ditingkatkan dan .disebar-luaskan sebagai
suatu cara pembinaan kesehatan jasmani dan rokhani
bagi setiap orang dalam rangka pembinaan
bangsa.
Pendidikan dan pengajaran bahasa Indonesia
82-
ditingkatkan dan d i - perluas, sehingga mencapai
masyarakat luas. Untuk ini maka kepus- takaan
nasionail, penerbitan dan penterjemahan dikembangkan,
sehing- ga dapat lebih menunjang program-program
pendidikan.
Selanjutnya akan ditingkatkan pula usaha-usaha
pembinaan secara fungsional dan terintegrasi di bidang
pendidikan umum dan kejuruan, dalam rangka
mencapai suatu sistem pembinaan pendidikan secara
nasional, mantap dan terpadu.
Di bidang pembangunan kebudayaan, nilai budaya
bangsa Indone- sia .akan terus dibina dan
dikernbangkan guna memperkuat kepriba- dian
bangsa, mempertebal rasa harga diri dan kebanggaan
nasional serta memperkokoh jiwa kesatuan
nasional. Kebudayaan nasional terus dibina atas dasar
norma-norma Pancasila dan diarahkan pada penerapan
nilai-niliai yang tetap mencerminkan kepribadian
bangsa dan meningkatkan nilai-nilai yang luhur. Dalam
pada itu diusahakan agar ditiadakan dan dicegah nilai-
nilai sosial budaya yang bersifat feudal dan
kedaerahan yang sempit. Dengan tumbuhnya
kebudayaan nasional yang berkepribadian dan
berkesadaran, maka sekaligus dapat ditanggulangi
pengaruh kebudayaan asing yang negatif. Di lain fihak
ditumbuhkan kemampuan masyarakat untuk
menyaring dan menyerap nilainilai dari luar yang positif
dan diperlukan bagi pembaharuan dalam proses
pembangunan.
Di samping itu disiplin nasional, akan dibina dan
dikembangkan secara lebih nyata, dalam usaha
untuk memperkokoh kesetiakawanan nasional, lebih
menanamkan sikap mental tenggang rasa, hemat dan
prasaja serta bekerja keras dan cermat.
Pembinaan bagi para penghayat kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa dilakukan dalam
rangka pembangunan kebudayaan, karena
kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dalam
kenyataannya memang merupakan bagian dari
kebudayaan nasional yang hidup dan dihayati oleh
sebagian bangsa Indonesia. Pada dasarnya
kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
merupakan warisan. dan kekayaan rohaniah bangsa
Indonesia. Dalam hubungan pembinaannya diarah-
kan kepada pembinaan budi luhur bangsa Indonesia.
Daam pembina- an budi luhur tersebut tercakup

8
3
pembinaan sikap taqwa kepada Tu- han Yang Maha
Esa dan rasa hormat terhadap agama yang dianut
oleh penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang
Maha Esa, sehing- ga makin kuat rasa
keagamaannya.
Untuk melaksanakan ketentuan yang telah ditetapkan
di dalam Ga- ris-garis Besar Haluan Negara akan
dilakukan langkah-langkah sebagai berikut : (a)
Mengadakan inventarisasi, penelitian, dokumentasi
dan evaluasi terhadap bahan, data, informasi tentang
kepercayaan terha- dap Tuhan Yang Maha Esa untuk
kepentingan tugas pembinaan dan
pemaparan budaya spiritual; (b) Menyusun
kebijaksanaan bagi pembinaan penghayat kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa; (c) Memberikan
bimbingan, dan penerangan kepada masyarakat
penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha
Esa dalam rangka mempertinggi budi pekerti di dalam
kehidupan pribadi dan sosial kemasyarakatan; (d)
Melengkapi tenaga pembina penghayat kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa; (e) Keseluruhan
program tersebut dilaksanakan dengan mengingat,
bahwa pembinaan terhadap kepercayaan dilakukan :
(1) tanpa mengarah pada pembentukan agama
baru; (2) dengan mengefektifkan pelaksanaan
kepercayaan sesuai dengan dasar Ketuhanan Yang
Maha Esa.
Sernentara itu usaha-usaha pembauran bangsa akan
lebih diting- katkan di segala bidang kehidupan agar
lebih memperkokoh kesatuan dan persatuan bangsa.
Pembinaan dan pengembangan bahasa Indo- nesia
akan dilaksanakan dengan mewajibkan
penggunaannya secara baik dan benar. Pembinaan
bahasa daerah dilakukan dalam rangka pengembangan
bahasa Indonesia dan untuk memperkaya perbenda-
haraan bahasa Indonesia sebagai salah satu sarana
identitas nasional.
Dalam rangka pembinaan kesenian, dikembangkan
kebijaksana- an yang menopang tumbuhnya
kreativitas seniman yang sehat. Pembinaan kesenian
daerah ditingkatkan dalam rangka mengembang-
kan kesenian nasional agar dapat lebih memperkaya
kesenian Indone- sia yang beraneka ragam.
Sedangkan tradisi dan peninggalan sejarah yang
mempunyai nilai perjuangan bangsa, kebanggaan serta
keman-faatan nasional akan tetap dipelihara dan dibina
dengan tujuan untuk memupuk, memperkaya dan
memberi corak pada kebudayaan nasional.
Pembangunan memerlukan dukungan
84
pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi serta
penelitian sehingga bidang ini merupakan sa- saran
yang perlu dikembangkan. Kebijaksanaan di bidang ini
diarah- kan pada pengembangan kemampuan
nasional yang diperlukan dalam pembangunan sesuai
dengan kebutuhan prioritas pembangunan. Cabang-
cabang ilmu pengetahuan tertentu yang penting tetapi
kurang peminatnya akan mendapat perhatian khusus.
Dalam rangka memanfaatkan ilmu pengetahuan dan
hasil penelitian bagi pembangunan, maka diciptakan
iklim yang menggairahkan ke-
giatan penelitian dan pengembangan, lembaga-
lembaga penelitian ditingkatkan dayagunanya sesuai
dengan prioritas pembangunan. Di samping itu
ditingkatkan pula sistem informasi mengenai kegiatan
dan hasil penelitian.
Dalam pembinaan ilmu pengetahuan diciptakan iklim
yang men- jamin pertumbuhan dan obyektivitas yang
diarahkan kepada kepen-tingan nasional. Dalam
hubungan ini maka ditingkatkan kemampuan
perguruan tinggi, lembaga penelitian, organisasi dan
kegiatan cendekiawan. Di samping itu diciptakan pula
sistem penghargaan pada karya-karya ilmiah yang
dapat mempertinggi martabat bangsa.
Sementara itu dalam mendorong kegiatan
pembangunan, diusahakan pengembangan serta
pemanfaatan teknologi yang tepat guna dengan
meneliti secara seksama, mengenai teknologi yang
akan dipilih dan dapat menunjang peningkatan
produksi, perluasan kesempatan kerja serta
pemerataan pendapatan. Oleh karena itu dalam
Repelita III diusahakan untuk mengembangkan serta
memanfaatkan teknologi yang tepat, yang
memenuhi pertimbangan-pertimbangan tersebut. Pe-
ngembangan dan penggunaan teknologi padat modal
diarahkan untuk kegiatan-kegiatan yang tidak tersedia
teknologi padat karya atau ter-hadap daerah-daerah
yang sangat kekurangan tenaga kerja.
Dalam rangka pengembangan penelitian diadakan
lima pengelompokan penelitian dan bidang ilmu
pengetahuan, yang dapat saling menunjang dan dalam
realisasi kegiatan selalu harus diarahkan bagi
terjaminnya ketahanan nasional dan kelestarian
kehidupan bangsa yang sejahtera. Kelompok
tersebut terdiri atas kelompok pene- litian
kebutuhan dasar manusia, kelompok penelitian
sumber-sumber alam dan energi, kelompok penelitian

8
5
pengembangan industri, kelom- pok penelitian
pertahanan dan keamanan nasional, serta kelompok
penelitian mengenai masalah-masalah sosial ekonomi,
budaya dan falsafah. Dalam hubungan ini akan
diusahakan pemantapan pelaksa- naan Rencana
Umum Riset Nasional yang berorientasi pada pelayanan
terhadap masyarakat pedesaan melalui pengembangan
teknologi tepat guna.
Di bidang penerangan dan pers maka sasaran
kebijaksanaan yang dilakukan antara lain adalah
meningkatkan kegiatan penerangan dan
peranan media massa. Untuk itu penerangan dan media
massa ber- tugas menggelorakan semangat
pengabdian perjuangan bangsa, memperkokoh
persatuan dan kesatuan nasional, mempertebal rasa
tang- gung jawab dan disiplin nasional, serta
menggairahkan partisipasi masyarakat dalam
pembangunan.
Pembinaan dan pengembangan pers nasional
berdasarkan pada semangat jiwa Pancasila, agar pers
mampu menunjang pembangunan masyarakat
Pancasila. Dalam rangka meningkatkan dan
memperluas kegiatan penerangan keseluruh pelosok
tanah air akan ditingkatkan pemanfaatan sarana dan
mutu isi penerangan seperti radio, televisi, film,
kantor berita dan lain-lainnya. Di samping itu akan
disebar luaskan Televisi Umum ke desa-desa yang
sudah terjangkau oleh siaran TVRI dan
penyebaran radio-radio umum untuk desa-desa yang
belum terjangkau oleh siaran TVRI tersebut.
Penyebaran Televisi Umum ini akan memperhatikan
pula daerah-daerah transmigrasi.
Sedangkan untuk meningkatkan peranan pers dalam
pembangunan akan ditingkatkan usaha pengembangan
pers yang sehat, bebas dan bertanggung jawab.
Dengan perkataan lain pers yang dapat menjalan-
kan fungsinya sebagai penyebar informasi secant
obyektif, melakukan kontrol sosial yang konstruktif,
menyalurkan aspirasi rakyat serta meluaskan
komunikasi dan partisipasi masyarakat. Dalam
hubungan ini perlu dikembangkan interaksi positif
antara pers, Pemerintah dan masyarakat.
Agar kegiatan penerangan dan peranan pers dapat
menjadi semakin efektif, maka akan ditingkatkan
kemampuan sarana dan prasarana penerangan melalui
pendidikan dan latihan. Untuk menjamin pertumbuhan

86
pers yang sehat, bebas dan bertanggung jawab maka
undangundang pokok pers akan ditinjau kembali.
Sejalan dengan hal itu maka dipersiapkan seperangkat
peraturan di bidang pers yang dapat lebih menjamin
pertumbuhannya di dalam pelaksanaan Demokrasi Pan-
casila.
Oleh karena itu sasaran-sasaran di bidang
penerangan adalah memperbesar arus penerangan
yang diarahkan untuk perataan informasi sampai ke
desa-desa. Kemudian mengembangkan dan
meningkatkan
kegiatan penerangan dengan komunikasi timbal balik.
Demikian pula akan ditingkatkan lagi penerangan
melalui sistem penerangan terpadu.
Dalam rangka penerangan ke desa-desa, peranan
pers daerah akan ditingkatkan, antara lain melalui
partisipasinya dalam penerbitan koran masuk
desa. Peningkatan kemampuan juru penerang keca-
matan. Kegiatan penerangan dan komunikasi timbal
balik, serta penerapan sistem penerangan terpadu dan
pembangunan Puspenmas akan terus dilanjutkan
sehingga semua kabupaten/kotamadya di se- luruh
Indonesia akan dilengkapi dengan sarana tersebut.
Di bidang kesejahteraan sosial, kesadaran serta
kemampuan setiap warganegara untuk ikut serta di
dalam pembangunan akan terus di- bina dan
ditingkatkan. Di samping itu sebagai salah satu
perwujudan usaha untuk menuju tercapainya keadilan
sosial maka akan diusahakan kesempatan yang lebih
luas bagi setiap warganegara untuk menda- patkan
tingkat kesejahteraan sosial yang lebih baik.
Sedangkan dalam rangka usaha meningkatkan
penyantunan kepada orang lanjut usia, fakir miskin,
anak terlantar dan yatim piatu serta para cacat,
akan dibangun dan atau diperluas daya tampung panti-
panti sosial agar mereka yang sangat memerlukannya
dapat memper- oleh pelayanan yang memadai. Selain
itu diselenggarakan pula sistem penyantunan di luar
panti sehingga dapat diharapkan semakin merata-
nya usaha kesejahteraan sosial menjangkau
sasarannya. Demikian pula akan ditingkatkan
ketrampilan dan kemampuan mereka sehingga mampu
menjaga kehidupan dan penghidupannya sendiri sesuai
dengan kelayakan martabat manusia tanpa
ketergantungan kepada pihak lain.
Selain itu dalam rangka kegiatan tersebut termasuk

8
7
pula usaha- usaha untuk mengembangkan dan
memperluas minat masyarakat untuk
berpartisipasi dalam pembangunan bidang
kesejahteraan sosial.
Sementara itu akan dirintis usaha penyelenggaraan
jaminan kesejahteraan sosial bagi keluarga yang kurang
mampu agar diperoleh data serta cara-cara
penyelenggaraannya yang tepat berdasarkan asas
kegotong-royongan. Selanjutnya bantuan sosial untuk
korban bencana alam diselenggarakan sesuai dengan
kemampuan yang tersedia dan dengan
mengikutsertakan masyarakat luas.
Pembangunan di Indonesia adalah pembangunan
serba muka, arti- nya di samping pembangunan
ekonomi juga dilaksanakan pemba- ngunan-
pembangunan yang lain termasuk pembangunan politik
yang dilakukan secara terencana dan berimbang.
Dalam pembangunan politik dalam negeri sasaran
strategis yang perlu dicapai adalah suasana di
mana rakyat secara sadar mengerti kehidupan
bernegara, mengerti hak dan kewajibannya sebagai
warga negara dalam negara hukum yang demokratis,
mempunyai keyakinan bahwa kejayaan bangsa
Indonesia tergantung pada usaha rakyat dalam menata
dan membangun bangsa dan negaranya.
Oleh karena itu, dalam Repelita III akan ditata
kembali lembagalembaga penyalur aspirasi rakyat
termasuk di dalamnya penyempur- naan Undang-
undang Parpol dan Golongan Karya yang diarahkan
agar semua kekuatan sosial politik terbuka bagi setiap
warganegara dan berorientasi kepada program-
program pembangunan.
Dalam pembangunan politik luar negeri, peranan
Indonesia sangat tergantung juga kepada kemampuan
bangsa Indonesia untuk meng- atasi segala,
persoalan yang berkembang di dalam negeri, demikian
pula sebaliknya.
Oleh karena itu, dalam Repelita III usaha-usaha yang
akan diam- bil adalah terutama meningkatkan
peranan ASEAN dalam percaturan politik internasional,
di samping tetap menggalang solidaritas negaranegara
non blok untuk znenghadapi masalah-masalah dunia.
Di bidang politik pembangunannya diarahkan untuk
memantapkan perwujudan demokrasi Pancasila. Untuk
memantapkan stabilitas po- litik yang dinamis dan
pelaksanaan demokrasi Pancasila, maka perlu
dimantapkan kehidupan konstitusional dan tegaknya
88
hukum. Dalam hubungan ini akan dilanjutkan langkah-
langkah pelaksanaan meka- nisme kepemimpinan
nasional dan hubungan antara Lembaga-lembaga
Tinggi Negara berdasarkan Undang Undang Dasar
1945. Di samping itu pendidikan politik rakyat terus
ditingkatkan agar semakin sadar akan hak dan
kewajibannya, sehingga ilcut serta secara aktif dalam
kehidupan kenegaraan dan pembangunan. Sedangkan
pemilihan umum sebagai sarana Demokrasi Pancasila
dilaksanakan dengan asas lang-
sung, umum, babas dan rahasia yang diselenggarakan
oleh Presiden/ Mandataris di mana organisasi sosial
politik peserta Pemilu ikut serta secara efektif dalam
pelaksanaan Pemilu. Selanjutnya peranan
kekuatan-kekuatan sosial politik khususnya partai-partai
politik dan Golongan Karya akan ditingkatkan
kemampuannya dalam memperjuangkan aspirasinya
berdasarkan program, demi tercapainya tujuan
nasional. Untuk lebih memantapkan daya juangnya
maka akan diselaraskan peraturan perundangan yang
mengaturnya.
Sementara itu dilakukan pula usaha untuk
meningkatkan terselenggaranya komunikasi sosial
timbal balik antar masyarakat, masya-
rakat dengan lembaga perwakilan rakyat maupun
masyarakat dengan Pemerintah. Selanjutnya dilakukan
pemantapan organisasi-organisasi profesi/fungsional
masyarakat agar semakin besar peranannya dalam
pelaksanaan pembangunan nasional. Demikian pula
dengan menyempurnakan wadah-wadah penyalur
pendapat masyarakat pedesaan.
Untuk mendukung pembangunan dalam Repelita III
maka pengabdian dan kesetiaan aparatur
pemerintah ditingkatkan sesuai dengan cita-cita
perjuangan bangsa dan negara berdasarkan Pancasila
dan UUD 1945. Pembinaan, penyempurnaan dan
penertiban aparatur Pemerintah baik di tingkat pusat
maupun daerah akan dilakukan seca- ra terus-
menerus agar mampu menjadi alat yang efisien, efektif,
bersih dan berwibawa, sehingga mampu melaksanakan
tugas-tugas umum Pemerintah maupun untuk
menggerakkan pelaksanaan pembangunan secara
lancar.
Mengenai langkah-langkah yang telah dilakukan
dalam rangka penertiban aparatur Pemerintah
89
penangguiangan masalah korupsi, penyalahgunaan
wewenang, pemborosan kekayaan dan keuangan ne-
gara, pungutan-pungutan liar serta berbagai bentuk
penyelewengan lainnya yang menghambat pelaksanaan
pembangunan akan terus ditingkatkan.
Sedangkan sasaran penyempurnaan aparatur
Pemerintah ini akan diarahkan melalui pendekatan
kelembagaan, kepegawaian maupun tata laksana
terhadap aparatur Pemerintah pusat, daerah dan
aparatur perekonomian negara. Di samping itu akan
diberikan perhatian pula
terhadap penyempurnaan administrasi perencanaan,
pelaksanaan, pengendalian dan pengawasan
pembangunan. Hal ini antara lain ada- lah akan
diusahakannya penertiban-penertiban dalam bidang
perizinan secara menyeluruh, sehingga aparatur
Pemerintah dapat meningkatkan fungsi pelayanan bagi
kepentingan masyarakat. Demikian pula akan
ditingkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan
pembangunan. Selanjutnya hubungan fungsional yang
makin mantap antara lembaga- lembaga perwakilan
rakyat dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat
maupun daerah akan terus dikembangkan.
Untuk melancarkan pelaksanaan pembangunan yang
tersebar di seluruh pelosok negara dan membina
kesatuan bangsa maka hubungan yang serasi antara
Pemerintah pusat dengan daerah dikembangkan
atas dasar keutuhan negara dan diarahkan pada
pelaksanaan otonomi daerah yang nyata, dinamis dan
bertanggung jawab. Dengan demikian akan dapat
menjamin perkembangan dan pembangunan daerah.
Dalam hubungan ini kemampuan Pemerintahan desa
terus ditingkatkan agar makin mampu menggerakkan
masyarakat dalam partisipasinya ter- hadap
pembangunan dan untuk menyelenggarakan
administrasi desa yang makin meluas dan efektif. Untuk
itu akan disusun Undang- undang tentang
Pemerintahan Desa.
Di bidang hukum, pembangunan dan pembinaannya
akan diarahkan agar mampu memenuhi kebutuhan
sesuai dengan tingkat kemajuan pembangunan di
segala bidang sehingga dapat diciptakan ketertiban
dan kepastian hukum serta memperlancar pelaksanaan
pembangunan. Di samping itu akan ditingkatkan
pula kesadaran hukum dalam masyarakat, sehingga
mampu menghayati hak dan kewajibannya serta
dapat meningkatkan pembinaan sikap para pelaksana
90
penegak hukum ke arah tegaknya hukum, keadilan
dan perlindungan terhadap harkat dan
martabat manusia, ketertiban serta kepastian hukum
sesuai dengan UUD 1945. Sedangkan mengenai
terwujudnya Peradilan Tata Usaha Negara dalam
Repelita III akan diusahakan.
Dalam rangka mensukseskan pembangunan nasional,
kegiatan penerangan dan peranan media Massa yang
bertugas menggelorakan semangat pengabdian
perjuangan bangsa, memperkokoh persatuan dan
kesatuan nasional, mempertebal rasa tanggung jawab
dan disiplin
nasional, serta menggairahkan partisipasi masyarakat
dalam pembangunan akan terus ditingkatkan.
Di bidang politik luar negeri yang bebas dan aktif maka
pelaksanaannya diabdikan kepada kepentingan
nasional terutama untuk kepentingan pembangunan di
segala bidang. Selanjutnya dilakukan pula
usaha-usaha pemantapan stabilitas dan kerja sama di
wilayah Asia Tenggara dan Pasifik Barat Daya,
khususnya dalam lingkungan ASEAN. Hal ini
dimaksudkan dalam rangka mempertinggi tingkat
ketahanan nasional untuk mencapai ketahanan
regional. Di samping itu dimaksudkan pula agar
peranan Indonesia di dunia internasional dapat
ditingkatkan untuk mempererat persahabatan dan
kerja sama yang saling bermanfaat antara bangsa-
bangsa. Demikian pula untuk memperkokoh
kesetiakawanan, persatuan dan kerja sama ekonomi
di antara negara-negara yang sedang membangun
lainnya agar mempercepat terwujudnya tata ekonomi
dunia baru Kemudian tujuan lainnya adalah
meningkatkan kerja sama antar negara untuk meng-
galang perdamaian dan ketertiban dunia demi
kesejahteraan umat manusia berdasarkan
kemerdekaan dan keadilan sosial.
Pembangunan pertahanan keamanan nasional secara
keseluruhan akan dikaitkan dengan pembangunan
dalam bidang kesejahteraan, sehingga merupakan
bagian yang integral dari pembangunan nasional.
Setiap investasi harus menunjukkan kemanfaatan yang
nyata dalam hubungannya dengan pencapaian tujuan
atau sasaran dan harus me-miliki waktu kegunaan yang
cukup panjang. Suatu kegunaan tambah- an
hendaknya diusahakan apabila keadaan
memungkinkan. Selanjutnya prinsip ekonomi akan
diterapkan sebaik mungkin dalam usaha pertahanan
keamanan nasional, di samping tetap menjamin
91
efektivitas dalam menghadapi keadaan darurat. Dalam
keadaan aman dan damai dipelihara kekuatan
pertahanan keamanan nasional yang relatif kecil tetapi
efisien dan efektif, yang dalam keadaan darurat harus
dapat dikembangkan dengan cepat.
Di samping itu hak, kewajiban dan kehormatan turut
serta dalam pembelaan negara dari setiap warganegara
Indonesia terns dikem- bangkan. Hal itu
dilaksanakan dalam bentuk keadilan dan pemerataan
menjalankan tugas pertahanan keamanan. Mengingat
peranan rakyat
sebagai sasaran maupun pelaku dalam perang total',
maka pembinaan mental mendapatkan prioritas yang
tinggi. Ideologi Pancasila dan nilai-nilai bangsa
harus tertanam dengan teguh dalam alam pikiran,
sehingga mewujudkan suatu ketahanan mental yang
tangguh.
Dalam pelaksanaan Repelita III yang merupakan
rencana pembangunan untuk mencapai sasaran
pembangunan di berbagai bidang, maka dalam tahun
1979 — 1984 akan diberikan perhatian kepada
pelaksanaan dan pengawasannya secara lebih serasi
dan terpadu.
Program pelaksanaan kebijaksanaan serta usaha
pembangunan se- tiap tahunnya dituangkan dalam
rencana operasional dalam bentuk APBN. Pada
akhirnya, berhasilnya pembangunan nasional
tergantung. pada partisipasi seluruh rakyat serta pada
sikap mental, tekad dan. semangat, ketaatan dan
disiplin seluruh rakyat Indonesia serta para
penyelenggara pemerintahan.
Hasil pembangunan harus dapat dinikmati oleh
seluruh rakyat Indonesia sebagai usaha peningkatan
kesejahteraan lahir dan batin. Kesejahteraan yang
berkeadilan sosial sekaligus akan menegakkan
ketahanan nasional dan pada gilirannya akan
meratakan jalan bagi generasi yang akan datang untuk
mencapai masyarakat adil dan mak- mur
berdasarkan Pancasila.
Unsur ketiga dari Trilogi Pembangunan adalah
stabilitas nasional. Stabilitas nasional yang makin
mantap baik di bidang politik maupun ekonomi adalah
merupakan iklim yang paling baik untuk suksesnya
pelaksanaan pembangunan. Oleh karena itu
peningkatan kesadaran rakyat akan kehidupan
demokrasi yang bertanggung jawab dan kesa-daran

92
hidup berkonstitusi merupakan salah satu langkah
panting untuk mewujudkan dan memantapkan stabilitas
nasional khususnya di bidang politik. Stabilitas nasional
yang diinginkan bukanlah stabilitas yang beku,
melainkan stabilitas nasional yang dinamis yang tetap
mem- beri ruang gerak bagi perubahan, namun
tetap dalam suasana tertib dan teratur berdasarkan
hukum yang berlaku. .
Guna meningkatkan ketertiban dan kepastian hukum
dalam me-. ngayomi masyarakat yang merupakan
syarat bagi tercapainya stabili- tas nasional yang
mantap, maka aparatur Pemerintah pada umumnya
dan aparatur penegak hukum pada khususnya, akan
terus-menerus dibina dan dikembangkan untuk
meningkatkan kemampuan serta kewibawaannya.
Erat hubungannya dengan pembinaan stabilitas
nasional adalah pemeliharaan ketertiban dan
keamanan, yang juga merupakan prasya- rat bagi
kelancaran pembangunan. Keadaan keamanan dan
ketertiban umum akan tetap dipelihara dan
ditingkatkan untuk menjamin terpeliharanya stabilitas
nasional dan kelancaran pelaksanaan Repelita III.
Untuk itu kesiagaan, kewaspadaan dan ketrampilan
ABRI akan terus ditingkatkan, sedangkan kesadaran
dan rasa tanggung jawab masyarakat terhadap
keamanan dan ketertiban akan terus dibina dan
ditumbuhkan.

Pelaksanaan politik luar negeri yang bebas dan aktif


tetap diab- dikan pada kepentingan nasional. Oleh
sebab itu setiap perkembang- an dan kemungkinan
gejolak dunia yang dapat menggoncangkan
stabilitas nasional dan menghambat pelaksanaan
Repelita III, se- nantiasa diikuti secara seksama
dan diketahui tepat pada waktunya. Dengan demikian
dapat diambil langkah-langkah yang tepat untuk
mengamankannya.

Pusat perhatian politik Iuar negeri kita terutama


tertuju pada sta- bilitas regional Asia Tenggara
melalui kerjasama ASEAN. Kerjasama dan
persaudaraan yang erat antara anggota ASEAN
merupakan ben- teng yang kuat bagi kesejahteraan
dan ketentraman kita. Lebih dari itu peranan
Indonesia dalam memupuk kerjasama serta
persahabatan antara negara-negara yang sedang
membangun tetap dipelihara dan lebih
ditingkatkan untuk membantu mempercepat
terwujudnya Tata Ekonomi Dunia Baru yang lebih adil.
93
Sebagaimana kita sadari bersama, pembangunan di
bidang ekonomi merupakan tugas nasional yang paling
besar dewasa ini. Oleh sebab itu kebijaksanaan
stabilitas ekonomi yang selama ini berhasil baik,
akan tetap dilanjutkan dan disempurnakan untuk
memantapkan sta- bilitas di bidang ekonomis sebagai
salah satu segi yang penting dari stabilitas nasional.
Prinsip anggaran berimbang yang dinamis yang
jumlahnya tidak hanya berimbang tetapi juga terus
meningkat, telah berhasil menjadi- kan
kebijaksanaan fiskal sebagai salah satu sarana
Pemerintah yang ampuh untuk mendorong kegiatan
pembangunan khususnya untuk mencapai laju
pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Melalui prin-
sip anggaran tersebut maka tekanan inflasi dapat
dicegah oleh karena jumlah pengeluaran akan selalu
meningkat namun tetap sama dengan jumlah
penerimaan.
Kestabilan ekonomi khususnya kestabalan harga-
harga dapat terca- pai apabila terdapat suatu
keseimbangan yang wajar antara permintaan dan
penawaran atau suatu keseimbangan antara jumlah
uang beredar dengan jumlah barang dan jasa. Oleh
karena itu maka di samping pengarahannya untuk
meningkatkan produksi barang dan jasa, kebijaksanaan
moneter selama Repelita III juga diarahkan untuk
menjaga agar selalu terdapat suatu jumlah uang
yang memenuhi kebutuhan dan di mana laju
inflasi dapat terus dikendalikan. Selama Repelita III
laju inflasi akan terus dikendalikan sehingga dapat
bergerak disekitar laju inflasi dunia. Kesemuanya
ini juga ditujukan untuk tetap memantapkan nilai
rupiah.
Kestabilan ekonomi akan diusahakan pula melalui
tersedianya barang-barang kebutuhan pokok
sehari-hari khususnya 9 bahan pokok yang cukup dan
tersebar merata dengan harga yang stabil dan tetap
terjangkau oleh rakyat banyak.
Di antara 9 bahan pokok tersebut pangan, terutama
beras, mempu-nyai peranan yang sangat penting.
Tersedianya beras dalam jumlah yang mencukupi
dan dapat terbeli oleh rakyat dimanapun juga pada
tingkat harga yang terjangkau oleh daya beli mereka
94
sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas nasional,
Untuk daerah-daerah tertentu jenis pangan yang
lain mempunyai peranan yang sama. Mengingat
hal itu langkah-langkah kebijaksanaan dalam bidang
pangan yang ditempuh selama Repelita II, baik yang
mengenai harga dasar, harga batas tertinggi, maupun
yang mengenai pengadaan stok nasional, da- lam
Repelita III akan diteruskan, bahkan ,akan ditingkatkan.
Demikianlah selama Repelita III dalam musim panen di
wilayah-wilayah surplus akan dilakukan pembelian
pangan dari petani dengan harga
dasar dan di musim paceklik, pada waktu harga-harga
cenderung meningkat melewati harga batas tertinggi
yang ditentukan, akan di-lakukan penjualan di pasaran
umum, terutama di kota-kota dan bila perlu juga di
daerah pedesaan. Untuk menunjang kebijaksanaan ini
akan selalu tersedia sarana penyangga pangan dalam
jumlah yang memadai.

Dalam hubungan ini, kebijaksanaan perdagangan


akan diarahkan untuk menjamin kelancaran penyaluran
sarana produksi dan hasil- hasil produksi dalam
rangka menunjang pertumbuhan ,ekonomi dan
stabilitas harga.

Sistem pemasaran yang mantap sangat membantu


stabilitas ekonomi. Kegiatan-kegiatan pemasaran yang
berdaya guna tinggi dapat menekan gejolak-gejolak
harga yang mungkin terjadi, dapat mengurangi perbe-
daan-perbedaan harga antar pulau dan antar daerah,
dapat mengu- rangi kemungkinan para produsen ,
menerima harga yang terlalu ren- dah ataupun
para konsumen membayar harga yang terlampau
tinggi. Di samping itu sistem pemasaran yang
mantap dan berdaya guna tinggi dapat menjamin
kelancaran dan kelangsungan penyaluran barang dan
bahan dari daerah yang satu ke daerah yang lain dan
juga ekspor. Hal ini, disamping akan membantu
menjaga ketenangan usaha dan ketenangan kerja dan
usaha meningkatkan penerimaan devisa negara, sangat
membantu mempererat hubungan antara daerah yang
satu dan daerah yang lain dan dengan demikian sangat
membantu usaha-usaha mengembangkan semangat
kesatuan nasional. Karena hal-hal inilah maka
selama Repelita III usaha-usaha untuk mernantapkan
dan mempertinggi daya guna sistem pemasaran dan
kegiatan-kegiatan perdagangan akan dipergiat.

Masalah stabilitas ekonomi tidak tertepas dari


9
5
pengaruh belum menentunya perkembangan ekonomi
internasional pada umumnya seperti krisis moneter,
inflasi dan resesi dunia. Oleh sebab itu masalah peme-
liharaan stabilitas ekonomi tetap menuntut perhatian
yang besar, yang dibarengi dengan rumusan
kebijaksanaan yang tepat. Kebijaksanaan 15
Nopember 1978 antara lain adalah merupakan suatu
upaya untuk mempersiapkan pelaksanaan Repelita III
secara lebih baik.
Melalui kebijaksanaan pemupukan cadangan devisa
maka kebijak-, sanaan neraca pembayaran juga akan
digunakan untuk melindungi perekonomian kita
terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari gejolak
perekonomian dunia.
Akhirnya dengan semakin memberikan tekanan pada
segi peme- rataan namun juga tentu mengusahakan
adanya suatu keserasian anta- ra ketiga unsur Trilogi
Pembangunan maka Repelita III akan sema- kin
meningkatkan Ketahanan Nasional dan meratakan jalan
bagi ge-nerasi yang akan datang untuk mencapai
masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

'96