Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM Penanganan dan cara pemberian obat pada hewan pencernaan 1 Maret 2014 Kelompok 3 SENIN,

13.00-16.00 FARMASI A Fifi Fitriawati Atmedi Surendra Putri A Helda P Meta Z 260110120060 260110120061 260110120062 260110120063 260110120064 Pembahasan Teori Dasar Pembaasan Editor Prosedur, Data Pengamatan

LABORATORIUM FARMAKOLOGI ORGAN FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PADJAJARAN 2014

Nilai

Asisten

Penanganan dan cara pemberian obat pada hewan pencernaan

II.Tujuan 1. Mengetahui dan mampu menangani hewan untuk percobaan farmakologi secara baik 2. Mengetahui sifat sifat hewan percobaan dan faktor-faktor yang mempengaruhi responnya 3. Mengenal teknik-teknik pemberian obat melalui berbagai rute pemberian serta pengaruhnya terhadap efek yang ditimbulkan III.Teori Dasar Memilih rute penggunaan obat tergantung dari tujuan terapi, sifat obatnya serta kondisi pasien. Oleh sebab itu perlu mempertimbangkan masalah-masalah seperti berikut:

a. Tujuan terapi menghendaki efek lokal atau efek sistemik b. Apakah kerja awal obat yang dikehendaki itu cepat atau masa kerjanya lama c. Stabilitas obat di dalam lambung atau usus d. Keamanan relatif dalam penggunaan melalui bermacam-macam rute e. Rute yang tepat dan menyenangkan bagi pasien dan dokter f. Harga obat yang relatif ekonomis dalam penyediaan obat melalui bermacammacam rute.

Bentuk sediaan yang diberikan akan mempengaruhi kecepatan dan besarnya obat yang diabsorpsi, dengan demikian akan mempengaruhi pula kegunaan dan efek terapi obat. Bentuk sediaan obat dapat memberi efek obat secara lokal atau sistemik. Efek sistemik diperoleh jika obat beredar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah, sedang efek lokal adalah efek obat yang bekerja setempat misalnya salep. Efek sistemik dapat diperoleh dengan cara:

a) Oral melalui saluran gastrointestinal atau rectal b) Parenteral dengan cara intravena, intra muskuler dan subkutan c) Inhalasi langsung ke dalam paru-paru. Efek lokal dapat diperoleh dengan cara:
a) Intraokular, intranasal, aural, dengan jalan diteteskan ada mata, hidung,

telinga
b) Intrarespiratoral, berupa gas masuk paru-paru c) Rektal, uretral dan vaginal, dengan jalan dimasukkan ke dalam dubur,

saluran kencing dan kemaluan wanita, obat meleleh atau larut pada keringat badan atau larut dalam cairan badan. Rute penggunaan obat dapat dengan cara: a) Melalui rute oral b) Melalui rute parenteral c) Melalui rute inhalasi d) Melalui rute membran mukosa seperti mata, hidung, telinga, vagina dan sebagainya e) Melalui rute kulit (Anief, 1990).

Penggunaan

hewan

percobaan

dalam

penelitian

ilmiah

dibidang

kedokteran/biomedis telah berjalan puluhan tahun yang lalu. Hewan sebagai model atau sarana percobaan haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, antara lain persyaratan genetis / keturunan dan lingkungan yang memadai dalam pengelolaannya, disamping faktor ekonomis, mudah tidaknya diperoleh, serta mampu memberikan reaksi biologis yang mirip kejadiannya pada manusia (Tjay,T.H dan Rahardja,K, 2002). Cara memegang hewan serta cara penentuan jenis kelaminnya perlu pula diketahui. Cara memegang hewan dari masing-masing jenis hewan adalah berbeda-beda dan ditentukan oleh sifat hewan, keadaan fisik (besar atau kecil) serta tujuannya. Kesalahan dalam caranya akan dapat menyebabkan kecelakaan atau hips ataupun rasa sakit bagi hewan (ini akan menyulitkan dalam melakukan

penyuntikan atau pengambilan darah, misalnya) dan juga bagi orang yang memegangnya (Katzug, B.G, 1989). Penggunaan hewan percobaan dalam penelitian ilmiah dibidang

kedokteran/biomedis telah berjalan puluhan tahun yang lalu. Sebagai pola kebijaksanaan pembangunan keselamatan manusia di dunia adalah adanya Deklarasi Helsinki,yang dihasilkan oleh Sidang Kesehatan Dunia ke 16 di Helsinki, Finlandia, pada tahun 1964. Deklarasi tersebut merupakan rekomendasi kepada penelitian kedokteran, yaitu tentang segi etik penelitian yang melibatkan manusia sebagai obyek penelitian. Disebutkan, perlunya dilakukan percobaan pada hewan sebelum percobaan di bidang biomedis maupun riset lainnya dilakukan atau diperlakukan terhadap manusia. Hewan sebagai model atau sarana percobaan haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, antara lain persyaratan genetis/ keturunan dan lingkungan yang memadai dalam

pengelolaannya, di samping faktor ekonomis, mudah tidaknya diperoleh, serta mampu memberikan reaksi biologis yang mirip kejadiannya pada manusia (Sulaksono, M.E., 1987). Obat dalam tubuh akan mengalami beberapa fase yaitu: - Fase farmasetik Fase farmakokinetik - Fase farmakodinamik Fase-fase estafet utama dalam aksi obat dalam tubuh dapat dilihat: Dosis Disintegrasi bentuk dosis Disolusi Substansi Aktif I. Fase Farmasetik Biotransformasi Ekskresi Optimasi ketersediaan farmasetik Absorpsi Distribusi II. Fase Farmakokinetik Optimasi ketersediaan

biologik Interaksi obat reseptor dalam jaringan target III. Fase Farmakodinamik Optimasi efek biologik yang dikehendaki Efek (Reksohadiprodjo, M.S., 1994).

Berbagai cara pemberian perlakuan terhadap hewan coba dapat dilakukan dengan cara : a) Per oral Mencit atau tikus diletakkan di atas ram kawat, ekor ditarik. Jarum suntik yang sudah disolder dimasukkan ke dalam mulut mencit namun harus diperhatikan proses masuknya jarum agar tidak melukai organ dalam mencit.

Setelah selesai, tarik kembali jarum tersebut secara perlahan. b) Intramuskular Pembantu memegang paha, penyuntik memegang paha kiri dari depan dengan tangan kiri. Jarum ditusukkan dari balik dengan sudut tegak lurus terhadap permukaan kulit kira-kira ditengah paha sehingga tusukan sampai ke otot bicep femoris. Lalu suntikkan bahan perlakuan, tarik jarum, tempat suntikan dipijat pelanpelan. c) Intraperitoneal Mencit dihandling dengan benar Tusukkan jarum disisi dekat umbilicus / kira-kira 5mm disamping garis tengah antara 2 puting susu paling belakang Tarik jarum lalu lepaskan mencit. d) Subkutan Obat/bahan disuntikkan di bawah kulit di daerah punggung, terasa longgar bila jarum digerak-gerakkan, berarti suntikan sudah benar. Pengawasan lingkungan. Semua jenis hewan percobaan harus ditempatkan dalam lingkungan yang stabil dan sesuai dengan keperluan fisiologis, termasuk memperhatikan suhu, kelembaban dan kecepatan pertukaran udara yang ekstrim harus dihindari. Kebanyakan hewan coba tidak dapat berkembangbiak dengan baik pada kamar lebih tinggi dari suhu 300 C. Mencit, tikus dan marmut maksimum perkembangbiakannya pada suhu 300 C, kelinci pada suhu 250 C (Malole,a 1989)

IV.Alat dan bahan 4.1. Alat -Jarum suntik -Kasa -Kapas -Ram kawat -Sonde oral 4.2 Bahan -Aqudest -Alkohol -Mencit

4.3 Gambar Alat

(jarum suntik)

(kapas)

(Sonde oral) V.Prosedur

1. Timbang mencit dan beri tanda di ekor (menggunakan spidol), satu garis untuk mencit nomor satu dan seterusnya hingga nomor 3. 2. Rute pemberian obat :

a. Oral : Mencit dipegang tengkuknya , ambil aquades sesuai perhitungan dengan sonde oral, kemudian sonde oral diselipkan ke langit-langit dan diluncurkan masuk ke esophagus. b. Subkutan : Mencit dipegang dibagian tengkuk , jarum suntik yang telah diisi aquades disuntikan ke bawah kulit tengkuk atau abdomen , seluruh jarum dimasukan langsung ke bawah kulit dan aquades didesak keluar alat suntik. c. Intravena : Pegang mencit pada bagian ekor dan kepala , olesi bagian ekor mencit dengan alkohol agar terjadi vasodilatasi, kemudian suntikan suntikan yang telah diisi aquades sesuai perhitungan ke pembuluh darah yang ada di Subkutan Intravena ekor mencit. d. Intraperitonial : Pegang mencit dibagian tengkuknya hingga meregang dan posisi perut relatif lebih tinggi , lalu suntikan yang telah diisi aquades sesuai perhitungan ke abdomen bawah tikus di sebelah garis midsagital. e. Intramuskular : Pegang mencit dibagian tengkuknya hingga meregang , lalu suntik yang telah diisi aquades disuntikan ke dalam sekitar gluteus maximus atau kedalam otot paha lain dari kaki belakang

VI.Data Pengamatan

Mencit nomor 1 2 3

Berat 21.6 gram 36.1 gram 37.5 gram

Mencit nomor 2 Intravena Intramuskular : : x 0.5 = x 0.05 = x 0.5 = 0.9025 ml x 0.05 = 0.09025 ml

Mencit nomor 1 Intraperitonial Subkutan Mencit nomor 3 Per oral : x1= x 1 = 1.875 ml : : x1= x 0.5 = x 1 = 1.08 ml x 0.5 = 0.54 ml

VII.Pembahasan

Praktikum kali ini mempalajari tentang cara pemberian obat terhadap absorpsi obat dalam tubuh (dalam hal ini pada tubuh hewan uji). Rute pemberian obat ( Routes of Administration ) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi efek obat, karena karakteristik lingkungan fisiologis anatomi dan biokimia yang berbeda pada daerah kontak obat dan tubuh karakteristik ini berbeda karena jumlah suplai darah yang berbeda; enzim-enzim dan getah-getah fisiologis yang terdapat di lingkungan tersebut berbeda. Hal-hal ini menyebabkan bahwa jumlah obat yang dapat mencapai lokasi kerjanya dalam waktu tertentu akan berbeda, tergantung dari rute pemberian obat. Penggunaan hewan percobaan dalam penelitian ilmiah dibidang kedokteran/biomedis telah lama digunakan. Hewan sebagai model atau sarana percobaan haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, antara lain persyaratan genetis / keturunan dan lingkungan yang memadai dalam pengelolaannya, disamping faktor ekonomis, mudah tidaknya diperoleh, serta mampu memberikan reaksi biologis yang mirip kejadiannya pada manusia. Pada percobaan kali ini praktikan menggunakan hewan mencit sebagai hewan uji. Hewan tersebut digunakan sebagai percobaan untuk praktikum farmakologi organ ini karena struktur dan system organ yang ada di dalam tubuhnya mirip dengan struktur organ yang ada di dalam tubuh manusia, mencit dipilih sebagai hewan uji karena proses metabolisme dalam tubuhnya berlangsung cepat sehingga sangat cocok untuk dijadikan sebagai objek pengamatan. Selain itu

mencit lebih mudah ditangani dibandingkan dengan hewan-hewan uji lainnya seperti tikus dan kelinci. Sehingga hewan tersebut biasanya digunakan untuk uj praklinis sebelum nantinya akan dilakukan uji klinis yang dilakukan langsung terhadap manusia. Cara memegang hewan serta cara penentuan jenis kelaminnya perlu pula diketahui. Cara memegang hewan dari masing-masing jenis hewan adalah berbeda-beda dan ditentukan oleh sifat hewan, keadaan fisik (besar atau kecil) serta tujuannya. Kesalahan dalam caranya akan dapat menyebabkan kecelakaan atau hips ataupun rasa sakit bagi hewan (ini akan menyulitkan dalam melakukan penyuntikan atau pengambilan darah, misalnya) dan juga bagi orang yang memegangnya. Mencit dapat dipegang dengan memegang ujung ekornya dengan tangan kanan, letakan pada alas kasar, biarkan mencit menjangkau/mencengkram alas kasar (penutup kawat kandang). Kemudian tangan kiri dengan ibu jari dan jari telunjuk menjepit kulit tengkuknya seerat/setegang mungkin. Ekor dipindahkan dari tangan kanan, dijepit antara jari kelingking dan jari manis tangan kiri. Dengan demikian, mencit telah terpegang oleh tangan kiri dan siap untuk diberi perlakuan.Jika cara penanganan mencit tidak sesuai, biasanya mencit akan merasa stress dan ketakutan sehingga akan buang air besar dan buang air kecil. Sebelum melakukan percobaan, terlebih dahulu praktikan harus

mengetahui volume pemberian obat/dosis pada hewan percobaan. Volume cairan/dosis yang diberikan pada setiap jenis hewan percobaan tidak boleh melebihi batas maksimal, sebab akan mengakibatkan efek farmakologis yang membahayakan hewan uji. Pada hewan uji ada beberapa Faktor yang dapat mempengaruhi hasil percobaan, yaitu Faktor internal dan Faktor eksternal. 1. Faktor internal Faktor internal yang dapat mempengaruhi hasil percobaan antara lain adalah variasi biologi (usia, jenis kelamin), rasa dan sifat genetik, status kesehatan dan nutrisi, bobot tubuh dan luas permukaan tubuh.

Usia dan jenis kelamin berpengaruh pada hasil percobaan karena pada usia yang tepat pada fase hidup hewan tersebut, efek farmakolgi yang dihasilkan akan lebih baik. Lain halnya jika usia hewan tersebut masih bayi. Jenis kelamin juga berpengaruh, karena jika dilihat dari leteratur berat badan yang berbeda. Keduanya berpengaruh pada dosis yang akan digunakan pada hewan uji tersebut. Ras dan sifat genetik pun berpengaruh karena jika menggunkan hewan percobaan dengan ras dan sifat genetik yang berbeda-beda dan karakteristik yang berbeda pula, maka masing-masing memiliki perbedaan dalam perilaku, kemampuan imunologis, infeksi penyakit, kemampuan dalam respon terhadap obat, kemampuan reproduksi dan lain sebagainya. Bobot dan luas permukaan tubuh hewan uji juga berpengaruh dalam hasil percobaan. Bobot dan luas permukaan tubuh hewan yang bessar akan lebih membutuhkan lebih banyka dosis dibandingkan dengan yang berbobot dan memiliki luas permukaan tubuh yang kecil. 2. Faktor eksternal Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi hasil percobaan antara lain adalah pemeliharaan lingkungan fisiologik (keadaan kandang, suasana asing atau baru, pengalaman hewn dalam penerimaan obat, keadaan ruang hidup (suhu, kelembaban udaa, ventilasi, cahaya, kebisingan serta penempatan hewan), suplai oksigen. Meningkatnya kejadian penyakit infeksi pada hewan percobaan, disebabkan karena kondisi lingkungan yang jelek dimana hewan itu tinggal. Maka dengan meningkatnya kejadian penyakit infeksi dan disertai dengan keadaan nutrisi yang buruk juga akan berakibat resistensi tubuh menurun, sehingga akan berpengaruh terhadap hasil suatu percobaan.

Intramuskular Injeksi intaramuskular adalah memasukkan obat secara tidak

langsung ke dalam aliran darah sebagai gantinya ke dalam jaringan otot di

10

mana ia dapat diabsorbsikan oleh aliran darah yang berlebih-lebihan melalui kapiler yang melayani otot. Injeksi intramuscular memberikan efek sistemik yang diberikan secara parenteral. Rute ini kurang cepat dibandingkan yang intravenus dan dengan resiko sedikit yaitu bahwa injeksi akan mempenetraasi urat darah halus, sehingga penggunaannya juga terbatas pada personalia yang terlatih. Penyuntikan dilakukan pada jaringan berotot, disuntikan ke dalam otot pada daerah paha posterior mencit. Cara injeksi intramuscular yaitu, mencit dipegang dengan memegang ujung ekornya dengan tangan kanan, letakan pada alas kasar, biarkan mencit menjangkau/mencengkram alas kasar (penutup kawat kandang). Kemudian tangan kiri dengan ibu jari dan jari telunjuk menjepit kulit tengkuknya seerat/setegang mungkin. Ekor dipindahkan dari tangan kanan, dijepit antara jari kelingking dan jari manis tangan kiri. Dengan demikian, mencit telah terpegang oleh tangan kiri, oleskan alcohol pada paha mencit (bagian yang akan diinjeksi), lalu jarum disuntikan di daerah paha yang sudah di beri alcohol. Volume larutan aquades yang disuntikan pada intramuskular adalah 0,09025ml. Subkutan Injeksi subkutan yaitu memasukkan obat ke dalam jaringan penghubung, di bawah permukaan kulit dimana absorpsi lambat. Tetapi dalam hal ini ada sedikit bahaya penetrasi pembuluh darah vital dan metode secaraluas digunakan oleh personalia yang berkualifikasi nonmedis, khususnya penderita diabetes yang butuh administrasi insulin setiap hari. Insulin secara cepat terdegradasi dalam usus dan dengan demikian tidak dapat diminum secra oral, tetapi injeksi subkutan praktis merupakan alternatif dan kecepatan absorpsi ke dalam darah adalah cukup untuk memberikan plasma level yang signifikan secara klaus untuk beberapa jam. Injeksi subkutan atau pemberian obat melalui bawah kulit, hanya boleh digunakan untuk obat yang tidak menyebabkan iritasi jaringan.

11

Penyuntikkan dilakukan dibawah kulit pada aderah kulit tengkuk dicubit diantara jempol dan telunjuk. Sebelumnya, bersihkan terlebih dahulu kulit yang akan disuntik dengan alcohol 70%. Jarum suntik dimasukkan secara parallel dari arah depan menembus kulit. Diusakan dilakukan dengan cepat untuk menghindari pendarahanyang terjadi karena pergerakan kepala dari mencit. Injeksi subkutan berhasil jika jarum suntik telah melewati kulit da pada saat alat suntik ditekan, cairan yang bereda didalamnya akan dengan cepat masuk ke daerah bawah kulit. Volume larutan aquades yang disuntikan pada subkutan adalah 0,54ml. Intraperitonial Intraperitonel (IP) tidak dilakukan pada manusia karena bahaya. Intraperitonial mengandung banyak pembuluh darah sehingga obat langsung masuk ke dalam pembuluh darah. Disini obat langsung masuk ke pembuluh darah sehingga efek yang dihasilkan lebih cepat dibandingkan intramuscular dan subkutan karena obat di metabolisme serempak sehingga durasinya agak cepat. Intinya absorpsi dari obat mempunyai sifat-sifat tersendiri. Beberapa diantaranya dapat diabsorpsi dengan baik pada suatu cara penggunaan, sedangkan yang lainnya tidak. Cara injeksi peritonial yaitu, mencit dipegang dengan memegang ujung ekornya dengan tangan kanan, letakan pada alas kasar, biarkan mencit menjangkau/mencengkram alas kasar (penutup kawat kandang). Kemudian tangan kiri dengan ibu jari dan jari telunjuk menjepit kulit tengkuknya seerat/setegang mungkin. Ekor dipindahkan dari tangan kanan, dijepit antara jari kelingking dan jari manis tangan kiri. Dengan demikian, mencit telah terpegang oleh tangan kiri, Kepala agak kebawah abdomen. Tandai dengan spidol pada bagian perut mencit, bagi menjadi empat bagian sama besar. Beri tanda pada 2 bagian bawah kanan dan kiri. Oleskan alcohol bagian yang akan diinjeksi, jarum disuntikkan dengan sudut 100dari abdomen agak pinggir, untuk mencegah terkenanya kandung kemih dan apabila terlalu tinggi akan mengenai hati. Volume larutan aquades yang disuntikan pada intraperitonial adalah 1,08 ml.

12

Intravena Injeksi intravena adalah pemberian obat dengan cara memasukkan obat ke dalam pembuluh darah vena dengan menggunakan

spuit.Tujuannya untuk memperoleh reaksi obat yang cepat diabsorbsi daripada dengan injeksi parenteral lain, untuk menghindari terjadinya kerusakan jaringan dam untuk memasukkan obat dalam jumlah yang lebih besar.Injeksi intravena merupakan metode injeksi yang cukup sulit dilakukan oleh orang yang kurang berpengalaman. Untuk melakukan injeksi intravena dapat menyebabkan masalah pada mencit bila terjadi kesalahan saat dilakukan injeksi. Injeksi intravena langsung memasukkan zat ke aliran darah melalui ekor (pada mencit). Injeksi ini digunakan untuk meneliti penyakit-penyakit atau gangguan kesehatan yang membutuhkan penedahan zat langsung ke aliran darah. Mencit biarkan pada posisi tengkurap dengan menjulurkan ekor. Kemudian ekor mencit dibuat mengalami vasodilatasi dengan cara ekor mencit diolesi dengan etanol. Proses dilatasi pada ekor mencit juga bisa dilakukan dengan cara merendamnya dalam air hangat. Ciri-ciri pembuluh vena yang mengalami vasodilatasi adalah garis merah pada ekor mencit akan terlihat jelas dan besar sehingga akan memudahkan praktikan untuk menyuntikan larutan aquades. Setelah garis merah (pembuluh vena) terlihat jelas, aquades disuntikan kedalamnya. Volume larutan aquades yang disuntikan pada intravena adalah 0,9025 ml.. Jarum disuntikkan dengan sudut 100agar jarum tidak melukai tangan praktikan.Apabila terasa ada tahanan artinya jarum tersebut belum masuk ke dalam pembuluh vena yang artinya jarum suntik hanya menembus sampai kulit. Hal ini ditandai dengan membesarnya kulit pada ekor mencit yang disuntikan, dan apabila jarum ditarik maka akan diikuti cairan yang keluar dari ekor mencit (larutan yang disuntikan). Hal ini menyebabkan mencit merasa tidak nyaman. Kesalahan ditandai dengannya apabila jarum suntik ditarik maka tidak ada darah yang keluar.

13

Pada awalnya praktikan melakukan kesalahan dimana jarum tidak menembus pembuluh vena yang ditandai dengan membesarnya daerah ekor mencit yang disuntik. Kemudian praktikan menyuntikan kembali larutan aquades kedalam ekor mencit sesuai dengan perhitungan dosis pada intravena dan semua aquades masuk kedalam pembuluh vena. Pada saat jarum suntik ditarik, keluar darah dari daerah ekor mencit yang disuntik. Hal ini membuktikan bahwa praktikan benar melakukan injeksi intravena pada mencit. Peroral Injeksi peroral dilakukan dengan menggunakan sonde yang dimasukkan kedalam mulutlangsung ke dalam lambung melalui esophagus.Pada pemberian larutan aquades secara peroral dengan menggunakan sonde, mencit harus dibuat dalam keadaan menengadah ke atas, dimana posisi mencit lurus. Cengkram kuat mencit sehingga mencit tidak bisa menyentuh atau mengambil ujung sonde. Kemudian sonde dimasukkan oral ke langit-langit mulut mencit, kemudian dimasukkan secara perlahanlahan larutan aquades sampai masuk kedalam lambung. Volume larutan aquades yang disuntikan pada peroral adalah 1,875 ml. Pada saat sonde sudah masuk ke dalam esophagus, maka akan ada dua percabangan dimana terdapat saluran yang menuju paru-paru dan ada saluran lain yang menuju lambug. Letak saluran menuju paru-paru terletak di sebelah kiri pada mencit sedangkan saluran menuju lambung ada di sebelah kanan pada mencit. Sehingga apa bila dilihat dari sisi praktikan,sonde akan dimasukkan ke sebelah kiri tikus. Cara pemberian yang keliru yaitu masuk ke dalam system pernafasan atau paru-paru dapat menyebabkan gangguan pernafasa dan kematian pada hewan uji. Cara praktikan mengetahui pemberian obat secara oral ini berhasil atau tidak yaitu dengan tanda apabila cairan yang diberikan secara peroral kepada mencit akan keluar melewati mulut atau hidungnya. Hal ini menandakan bahwa sonde belum masuk sempurna ke dalam lambung. Hal ini disebabkan karena sonde mungkin masih berada di

14

di tenggorokan atau sudah masuk kedalam paru-paru mencit. Tapi apabila pemberian secara peroral berhasil, maka tidak akan terjadi apa-apa pada mencit.

Apabila percobaan sudah menggunakan zat kimia sesungguhnya atau pada hewan uji tersebut ditumbuhkan suatu infeksi, maka perlu dilakukan pengorbanan hewan (etanasi). Etanasi atau cara kematian tanpa rasa sakit perlu dilakukan sedemikian rupa sehingga hewan mati dengan seminimal mungkin rasa sakit. Cara pengorban hewan uji dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara fisik dan kimia. Untuk cara fisik bisa digunakan dislokasi leher. Caranya adalah mencit dipegang dengan memegang ujung ekornya dengan tangan kanan, letakan pada alas kasar, biarkan mencit menjangkau/mencengkram alas kasar (penutup kawat kandang) sehingga meregangkan badannya. Ketika hewwan meregangkan badanya, pada bagian tengkuk diberi suatu penahan yang keras dan dipegang dengan tangan kiri. Sedangkan tangan kanan menarik ekornya dengan keras sampai lehernya terdislokasi. Cara kimianya adalah dengan menggunakan eter atau pentobarbital natrium pada dosis letal sehingga dapat membnuh hewan-hewan tersebut, dan juga dengan menggunakan gas CO2. Karena pada praktikum kali ini hanya menggunakan aquadest, maka etanasi tidak dilakukan.

VIII.Kesimpulan Pada praktikum kali ini, praktikan dapat memahami dan mempraktikan cara-cara memperlakukan hewan uji (mencit) dengan baik dan benar; serta melakukan prosedur rute pemberian obat pada hewan uji (mencit) yaitu dengan : 1.cara oral 2.subkutan 3.intravena 4.intraperitonial, dan 5.intramuscular.

15

DAFTAR PUSTAKA

Anief, M., 1994. Farmasetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Katzung, B.G., 1998. Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi VI. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Sulaksono, M.E., 1987. Peranan, Pengelolaan dan Pengembangan Hewan Percobaan. Jakarta. Tjay, T.H. dan K. Rahardja. 2002.Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan Efek-Efek Sampingnya. Edisi Kelima. Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia. Reksohadiprodjo, M.S., 1994. Pusat Penelitian Obat Masa Kini. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Malole, M.M.B, Pramono. 1989. Penggunaan Hewan

Hewan Percobaan Laboratorium. Bogor : IPB. DitJen Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Http://www.farmasiku.com/index.php?target=products&product_id=29839 [diakses pada tanggal 14 Maret 2014, pada pukul 20:45 PM]

16