Anda di halaman 1dari 2

Ikatan Kimia, Jari-Jari Ionik, dan Kristal

Nanda Najih Habibil Afif 270110120183 (Geologi-B) Jumlah kata:512 Susunan unsur-unsur yang terdapat pada tabel periodik pada dasarnya memiliki kecenderungan terhadap suatu karakteristik tertentu. Diantara karakteristik tersebut dalah mengenai sifat unsur yang mampu bertugas sebagai pendonor elektron maupun sebagai akseptor elektron. Pendonor elektron akan bermuatan positif yang umumnya berupa logam, sedangkan akseptor elektron bermuatan negatif yang umumnya berupa non-logam. Unsur-unsur yang umumnya bertindak sebagai pendonor elektron adalah unsur-unsur yang terdapat pada tabel periodik sebelah kiri, sedangkan yang bertindak sebagai akseptor elektron adalah unsur-unsur sebelah kanan yang berbatas pada halogen. Unsur-unsur yang terletak di antara logam alkali dan halogen memiliki kemampuan sebagai donor maupun akseptor yang bervariasi secara progresif sesuai dengan jumlah elektron yang terisi pada orbitalnya. Interaksi antara akseptor dan pendonor elektron akan menghasilkan ikatan ion. Berbeda dengan ikatan ion, ikatan kovalen tidak berinteraksi dengan adanya perbedaan muatan, namun karena adanya pembagian elekton ikatan satu sama lain. Penentuan sifat suatu unsur sebagai pendonor ataupun akseptor elektron dapat ditentukan secara kuantitatif dengan memperhatikan potensial awal ionisasi, elektronrgativitas, dan potensial elektrode standard. Potensial awal ionisasi merupakan energi yang dibutuhkan untuk menghilangkan satu elektron dari atom netral, elektronegativitas adalah kuantitas kemampuan suatu atom untuk menerima sebuah elektron, sedangkan potensial elektrode standard merupakan voltase yang dihasilkan ketika suatu atom melepaskan elektron dari kondisi normalnya.Sifat potensial ionisasi atom dan elektronegativitasnya akan bertambah seiring dengan pertambahan nomor atom dalam satu golongan maupun satu periode. Sebaliknya, sifat kelogaman suatu atom akan berkurang seiring dengan bertambahnya nomor atom. Seluruh sifat tersebut tersebar secara variatif pada unsur dalam tabel periodik seiring dengan perbedaan jenis orbital terakhir yang terisi dan jumlah elektron pengisinya, atau disebut dengan elektron valensi. Seiring dengan penjelasan di atas,

pertambahan atau pengurangan sifat keelektronegativan, potensial ionisasi, maupun sifat kelogaman tidak mempengaruhi dari karakteristik gas mulia (periode 8). Seluruh unsur gas mulia tersebut memiliki susunan elektron valensi pada orbital akhir yang sempurna, sehingga tidak lagi mampu membentuk ketidakstabilan lain. Ikatan yang terjadi pada molekul memiliki struktur yang lebih kompleks. Muolekul-molekul yang terbentuk di alam dan tersusun atas ion unsur atau ion molekul bermuatan berbeda akan menghasilkan ikatan ion. Pada kasus lain, suatu molekul dapat terbentuk dari pembagian secara merata maupun parsial dari molekulmolekul penyusunnya, s/ehingga terbentuk ikatan kovalen. Molekul yang terbentuk dari ikatan kovalen ini dapat terwujud secara polar maupun polar. Kepolaran ini sangat dipengaruhi oleh elektronegativan satu unsur dengan unsur yang lain. Semakin tinggi jeda unsur antara kedua atom, semakin besar pula kepolaran dari molekul yang terbentuk (contoh: CO2). Manakala suatu molekul tidak memiliki perbedaan elektronegativan, maka nilai kepolarannya dapat menjadi 0, sehingga disebut molekul ikatan kovalen non-polar (contoh: O2). Kristal terbentuk sebagi akibat adanya interaksi ikatan ion-ion yang tersusun dengan perulangan tertentu. Pembentukan kristal terjadi secara alami dan tersintesis secara inorganik. Wujud dari kristal dapat tersusun atas ikatan kovalen, ionik,

maupun logam. Mekanisme pembentukan ikatan kovalen dan ionik sama dengan mekanisme dengan pembentukan molekul di atas. Pada kristal yang terbentuk dari ikatan logam, unsur logam berjajar secara teratur dan dikelilingi oleh lautan elektron. Unsur-nsur yang bersebalahan juga memiliki gaya tarik menarik antar molekul yang besarnya berbanding terbalik dengan jarak kuadrat antar molekulnya.