Anda di halaman 1dari 3

Penerapatan Etika Politik yang baik di indonesia, Gambar pertama, situasi kampanye Kita gambarkan dimana kampanye tersebut

dilakukan oleh parpol atau calon legilatif sesuai ketetuan yang berlaku, dimana waktunya sesuai dengan jadwal yang ada untuk kampanye, tempatnya di area yang sudah di tetapkan. Tanpa melanggar norma atau nilai dari pancasila. Sesuai dengan sila kedua adil dan beradab.

Gambar kedua, merupakan gambaran kepedulian sekelompok orang untuk membantu sesama. Sesuai pengamalan dari pancasila ke 5 dan ke 3. Mereka berdiri bersama untuk membantu & tidak mengedepankan kepentingan masing.

Penerapan Etika Politik yang buruk,


Fenomena dunia politik Indonesia sepuluh tahun terakhir ini mengalami banyak perubahan. Perubahan perpolitikan di Indonesia tidak hanya mengubah watak dan perilaku para politisi, partai politik, elite politik, dan penguasa, tetapi juga mengubah persepsi dan paradigma berpikir masyarakat Indonesia tentang memaknai hakikat politik itu sendiri. Munculnya konflik antar lembaga negara, kasus korupsi hingga terseretnya pejabat negara karena narkoba dan asusila yang duduk menurut penilaian Kepala Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM, Prof. Dr. Sudjito, S.H., M.Si., sebagai cermin hilangnya tatanan etika dan moral yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Banyak politisi dan pejabat negara yang sudah tidak ada rasa malu meskipun terindikasi terlibat kasus seolah tenang-tenang saja sambil menunggu proses hukum positif, mereka tidak memberikan tanggung jawab secara moral dan menunjukkan rendahnya etika politik

Gambaran pertama, Suasana kisruh di tengah rapat wakil rakyat, yang dimana mereka tidak mengedepankan pengamalan sila ke 4, saling mengedepankan kepentingan sendiri atau kelompoknya. Demokrasi yang kurang baik. Demokrasi adalah kedaulatan rakyat plus prinsip keterwakilan. Jadi demokrasi memrlukan sebuah system penerjemah kehendak masyarakat ke dalam tindakan politik.

Gambar ke dua, Gambaran seorang koruptor, dimana saat ini banyak wakil rakyat tertangkap kasus korupsi akibat keserakahan/kepentingan peribadi ataupun kelompaknya. Tidak ada pengamalan nilai dari pancasila sila ke 5

Berdasarkan uaraian di atas, tantangan etika politik paling serius di Indonesia sekarang adalah: 1. Kemiskinan, ketidakpedulian dan kekerasan sosial. 2. Ekstremisme ideologis yang anti pluralism, pertama-tama ekstremisme agama dimana mereka yang merasa tahu kehendak Tuhan merasa berhak juga memaksakan pendapat mereka pada masyarakat. 3. Korupsi.

Kesimpulan :

Pancasila adalah moral identity kita. Baik sebagai warga dunia, sebagai warga negara, sebagai anggota masyarakat. Kita dikenali karena kita memiliki Pancasila dalam diri kita sebagai pedoman hidup bersama. Adapun Hubungan Pancasila dengan Etika Politik adalah pancasila merupakan dasar atau ideologi negara dan kemudian menjadi "way of life " masyarakat Indonesia, sedang etika politik adalah tata tertib, aturan, "sopan santun" politik. Dengan demikian agar etika politik dapat diterima oleh masyarakat Indonesia haruslah sesuai dengan sila2 yg tercantum pada Pancasila atau sesuai dengan "way of life" masyarakat Indonesia. Berkenaan Pancasila sebagai Sistem Etika, kita menyadari bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan satu kesatuan antara untaian sila dengan sila lainnya. Setiap sila mengandung makna dan nilai tersendiri.

Dan pancasila memegang peranan dalam perwujudan sebuah sistem etika yang baik di negara ini. Disetiap saat dan dimana saja kita berada kita diwajibkan untuk beretika disetiap tingkah laku kita. Seperti tercantum di sila ke dua kemanusian yang adil dan beadab tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran pancasila dalam membangun etika bangsa ini sangat berandilbesar.

Setiap sila pada dasarnya merupakan azas dan fungsi sendiri-sendiri, namun secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang sistematik. Pancasila adalah suatu kesatuan yang majemuk tunggal, setiap sila tidak dapat berdiri sendiri terlepas dari sila lainnya, diantara sila satu dan lainnya tidak saling bertentangan.

Saran : Pancasila hendaknya disosialisasikan secara mendalam sehingga dalam kehidupan bermasyarakat dalam berbagai segi terwujud dengan adanya kesinambungan usaha pemerintah untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur dengan kepastian masyarakat untuk mengikuti dan mentaati peraturan yang ditetapkan, karena kekuatan politik suatu negara ditentukan oleh kondisi pemerintah yang absolut dengan adanya dukungan rakyat sebagai bagian terpenting dari terbentuknya suatu negara.

Terakhir, yang bermasalah apakah Pancasila ataukah manusia-manusianya, masih menjadi pekerjaan rumah, yang bukan hanya diteliti dalam tataran teoritis atau sekedar wacana saja. Namun, juga dalam tataran praktisnya. Atau bahkan kita melepaskan itu semua, didasari ketakberdayaan kita dalam menghadapi gerusan arus globalisasi, dengan nilai-nilai positif dan negatifnya.