Anda di halaman 1dari 18

Makalah Hukum Humaniter Internasional Terhadap Konflik Bersenjata

IMPLEMENTASI PRINSIP PEMBEDAAN HUKUM HUMANITER INTERNASIONAL TERHADAP KONFLIK BERSENJATA

Nama

: Mulyono

Stambuk : D 101 07 437

F A K U L T AS H U K U M U N I V E R S I T A S L A M P UN G 2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT. Bahwa penulis telah menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Hukum Humaniter Internasional. Dalam penyusunan makalah ini, ada sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: Yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada penulis sehingga penulis termotivasi dan menyelesaikan makalah ini. Orang tua yang telah turut membantu, membimbing dan mengatasi berbagai kesulitan sehingga makalah ini selesai. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Oleh karena itu penulis mengharap kritik dan saran yang membangun guna perbaikan tugas-tugas yang akan datang. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, amin.

Palu, 13 Maret 2014

DAFTAR ISI
KATAPENGANTAR DAFTAR ISI BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Permasalahan BAB III PEMBAHASAN A. Definisi Definisi dari Terminologi masalah B. Prinsip Pembedaan Dalam Konflik Bersenjata Menurut Hukum Humaniter a. Tujuan Prinsip Pembedaan b. Asas Umum Prinsip Pembedaan c. Penerapan Aturan Hukum Mengenai Prinsip Pembedaan BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Tak dapat dipungkiri bahwa hukum dan pelanggaran itu adalah suatu yang saling berdampingan layaknya pepatah tua yaitu bila ada siang maka ada malam, ada hitam ada putih, ada atas ada bawah, ada baik maka ada buruk, dan sebagainya. Disini adalah merupakan suatu hukum alam yang dibuat oleh Tuhan dimana selalu ada perbedaan di dalamnya yang saling berdampingan sehingga terciptanya suatu dinamika. Begitupun dalam realita kehidupan manusia yang selalu akan haus kedudukan dan kemenangan sehingga terjadi suatu permusuhan. Dalam suatu permusuhan mereka buta terhadap sesuatu yang orang lain pandang itu tak layak namun layak bagi mereka. Sehingga mereka pun berlaku kejam tak dan melakukan sesuatu tanpa memperdulikan apapun semata mata demi kemenangan. Dalam sejarah dunia, perang merupakan suatu hal yang tidak lazim lagi bagi kalangan manusia, bahkan bisa dikatakan bahwa perang akan selalu ada dan sulit untuk dihindari atau dihapuskan dalam perkembangan sejarah dunia. Hal ini pun diperkuat oleh berbagai fakta sejarah peradaban dunia, dimana dari masa ke masa, bahkan sebelum masehi hingga pada abad sekarang ini, peperangan senantiasa mengambil korban dalam jumlah yang banyak dan berujung kepada penderitaan, baik itu pada pihak yang berperang maupun pihak yang tidak ikut berperang namun terkena dampak dari peperangan tersebut. Istilah hukum hukum humaniter atau lengkapnya disebutInternational Humanitarian Law applicable in Armed Conflictdiperkenalkan oleh International Committee of Red Cros ( ICRC),[1] yang sebenarnya berawal dari istilah Hukum Perang, namun karena istilah perang

disimi terbilang mengerikan akibat trauma terhadap PD II dan berbagai peperangan yang masih marak di berbagai negara, maka istilah Hukum Perang pun diganti dengan Hukum Sengketa Bersenjata yang kemudian mengalamai pergeseran menjadi Hukum Humaniter. Mochtar Kusumaatmadja mengatakan, adalah suatu kenyataan yang menyedihkan bahwa selama 3400 tahun sejarah tertulis, umat manusia hanya mengenal 250 tahun perdamaian.[2]Dalam sejarah Hukum Humaniter Internasional dapat ditemukan dalam aturan aturan keagamaan dan kebudayaan di seluruh dunia. Dan perkembangan modern dari hukum humaniter baru dimulai pada abad ke-19. Dan sejak itu, negara-negara telah setuju untuk menyusun aturan aturan praktis, yang berdasarkan pengalaman pengalaman pahit atas peperangan modern.[3] Dalam suatu konflik bersenjata tentu akan menimbulkan dampak kerugian moral dimana rasa perikemanusiaan tidak diperdulikan lagi. Atas hal tersebut maka timbul kesadaran dan kepedulian atas perang maka mereka pun mulai memuat dan menetapkan ketentuan ketentuan yang mengatur tentang tata cara dalam hal berperang dan perlindungannya terhadap para korban yang ikut atau tidak ikut berperang. Seperti yang kita ketahui sekarang tentang Hukum Den Haag dan hukum Jenewa. Perlu diketahui pula bahwa Hukum Humaniter Internasional sendiri mengenal tiga asas utama di dalamnya, yang merupakan sebuah landasan terciptanya peraturan hukum, yaitu: 1. Asas kepentingan militer (military necessity), Asas ini dalam pelaksanaannya sering pula dijabarkan dengan adanya penerapan prinsip prinsip sebagai berikut:[4]

I.

Prinsip pembatasan (Limitation Principle), adalah suatu prinsip yang menghendaki adanya pembatasan terhadap sarana atau alat serta cara atau metode berperang yang dilakukan oleh pihak yang bersengketa.

II.

Prinsip

proporsionalitas (ProportionalityPrinciple),

yang

menyatakan

bahwa

kerusakan yang akan diderita oleh penduduk sipil atau objek sipil harus proporsional sifatnya.

2. Asas

Perikemanusiaan (humanity), adalah

keharusan

pihak

bersengketa

untuk

memperhatikan rasa perikemanusiaan, dimana mereka dilarang untuk menggunakan kekerasan yang dapat menimbulkan luka berlebih atau penderitaan yang tidak perlu. 3. Asas kesatriaan (chivalry), Asas ini mengandung arti bahwa di dalam perang, kejujuran harus diutamakan. Penggunaan alat-alat yang tidatk terhormat, berbagai macam tipu muslihat dan cara-cara yang bersifat khianat dilarang. Selain itu juga terdapat satu asas, yang yang membedakan atau membagi penduduk dari suatu negara yang sedang berperang atau sedang terlibat dalam konflik bersenjata kedalam dua golongan yaitu, kombatan yang merupakan golongan penduduk yang secara aktif turut serta dalam peperangan dan penduduk sipil adalah golongan penduduk yang tidak turut serta dalam peperangan, yang disebut dengan asas pembedaan atau prinsip pembedaan .[5] Selanjutnya Mochtar Kusumaatmadja mengemukakan bahwa definisi hukum humaniter adalah: Bagian dari hukum yang mengatur ketentuan ketentuan perlindungan korban perang, berlainan dengan hukum perang yang mengatur perang itu sendiri dan segala sesuatu yang menyangkut cara melakukan perang Itu sendiri.[6]

Dan

dengan

demikin,

bahwa

Hukum

Humaniter

internasional

ini

adalah seperangkat aturan yang karena alasan kemanusiaan dibuat untuk membatasi akibat akibat dari pertikaian senjata.[7] Yang mempunyai tujuan antara lain: 1. Memberikan perlindungan terhadap kombatan maupun penduduk sipil dari penderitaan yang tidak perlu (unnecessary suffering). 2. Menjamin hak asasi manusia yang sangat fundamental bagi mereka yang jatuh ke tangan musuh. Kombatan yang jatuh ke tangan musuh harus dilindungi dan dirawat serta berhak diperlakukan sebagi tawanan perang. 3. Mencegah dilakukannya perang secara kejam tanpa mengenal batas. Di sini, yang terpenting adalah asas perikemanusiaan[8] Berdasarkan dari asumsi diatas penulis tertarik tentang asas asas hukum pembentuk peraturan hukum humaniter itu sendiri. Dan disini penulis ingin ingin secara khusus mencoba mengupas bagaimana konsep Hukum Humaniter Internasional dalam prinsip pembatasan yang selama ini dihubungkan dengan aturan konflik bersenjata. Oleh karenanya maka penulis mengambil judul IMPLEMENTASI PRINSIP PEMBEDAAN HUKUM HUMANITER INTERNASIONAL TERHADAP KONFLIK BERSENJATA dan diharapkan dari makalah ini dapat diketahui dan dipahami dengan jelas mengenai suatu yuridiksi humaniter yang sebenarnya. B. Permasalahan Sejalan dengan hal-hal seperti yang diuraikan, penulis tertarik untuk maka timbul permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah Bagaimanakah implementasi peraturan hukum humaniter terhadap asas atau prinsip pembedaan dalam konflik bersenjata ?

BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Implementasi, Hukum Humaniter dan Konflik
Mengenai aturan-aturan hukum, sebenarnya merupakan pengertian dari sebuah sumber hukum, dimana sumber hukum adalah keseluruhan aturan yang mengikat dan memaksa sehingga aturan tersebut membatasi ruang gerak terhadap mereka yang ada di dalamnya dan apabila dilanggar tentu akan mendapatkan sanksi yang tegas dan nyata. Jadi disini sudah menjadi suatu ciri yang hakiki bahwa hukum sudah pasti memiliki aturan ataupun sumber hukum itu sendiri sesuai dengan ruang lingkup yang dikajinya sebagai pedoman ayau dasar untuk terlaksananya suatu hukum uang dikehendakinya dalam masyarakat. Dan Seperti yang umumnya kita ketahui saat ini bahwa terdapat dua aturan hukum yang umumnya digunakan pada hukum humaniter internasional, antara lain adalah; 1. Hukum jenewa atau konvensi Jenewa 1949, didalamnya terdiri dari konvensi Jenewa I,II,III, dan IV dan Kemudian Keempat Konvensi Jenewa tahun 1949 tersebut pada tahun 1977 kembali dilengkapi dengan 2 Protokol Tambahan yakni Protokol Tambahan I dan Protokol Tambahan II. Hukum Jenewa merupakan aturan yang berlaku pada masa konflik bersenjata, dengan tujuan melindungi orang yang tidak, atau sudah tidak lagi, ikut serta dalam permusuhan, yaitu kombatan yang terluka atau sakit, tawanan perang, orang sipil, dan personel dinas medis dan dinas keagamaan. 2. Hukum Den Haag atau konvensi Den Haag, merupakan ketentuan hukum humaniter yang mengatur mengenai cara dan alat berperang dan terdiri dari; 1) Konvensi Den haag 1899 yang didalamya terdapat tiga konvensi dan tiga deklarasi, serta

2) Konvensi Den Haag 1907 yang terdiri dari 13 konvensi. Dari kedua konvensi yang merupakan aturan dari hukum humaniter internasional ini, maka Mochtar Kusumaatmdja membagi hukum perang sebagai berikut:[9] 1. Jus ad bellum yaitu hukum tentang perang, mengatur tentang dalam hal bagaimana negara dibenarkan menggunakan kekerasan bersenjata; 2. Jus ad bello, yaitu hukum yang berlaku dalam perang, dibagi lagi menjadi 2 (dua) yaitu: a. Hukum yang mengatur cara dilakukannya perang (condact of war). Bagian ini biasanya disebut The hague laws ( Hukum Den haag) b. Hukum yang mengatur perlindungan orang-orang yang menjadi korban perang. Ini lazimnya disebut The Genewa laws ( Hukum Jenewa) Perlu disimpulkan pula, bahwa keseluruhan dari aturan aturan yang dimuat dalam Hukum Humaniter ini adalah aturan yang mengatur tentang bagaimana individu mengambil suatu sikap dan tindakan saat terjadi suatu konflik bersenjata. Hal inilah yang menjadi ciri khas yang tersendiri dengan Hukum Internasional lainnya, yang pada umumnya mengatur tentang suatu negara atau lembaga organisasi suatu negara. Dan selanjutnya dalam bab ini kita akan membahas tentang suatu kebijakan implementasi hukum humaniter internasional terhadap konflik bersenjata. Dan kata kebijakan implementasi sendiri mempunyai pengertian yang diketahui bahwa implementasi kebijakan menyangkut tiga hal, yaitu:[10] 1. Adanya tujuan atau sasaran kebijakan 2. Adanya aktivitas/kegiatan pencapaian tujuan dan 3. Adanya hasil kegiatan

Lalu apa yang dinamakaan konflik bersenjata, menurut Pietro Veeri, istilah konflik bersenjata merupakan ungkapan umum yang mencangkup segala bentuk konfrontasi antara beberapa pihak yaitu : 1. Dua negara atau lebih, 2. Suatu negara dengan suatu entitas bukan-negara, 3. Suatu negara dengan suatu faksi pemberontak, atau 4. Dua kelompok etnis yang berada dalam suatu Negara[11] Dalam hukum humaniter Internasional perlu kita ketahui juga bahwa konflik bersenjata itu terbagi menjadi dua yaitu : 1. Konflik bersenjata yang bersifat Internasional, Adalah konflik bersenjata yang terdapat di dalam keempat Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol
Tambahan I tahun 1977. Seperti yang telah ditetapkan dalam pasal 2 common article[12] konvensi-

konvensi Jenewa tahun 1949 , yaitu bahwa konvensi ini akan berlaku dalam hal perang yang dinyatakan atau konflik bersenjata lainnya yang timbul di antara dua pihak peserta atu lebih sekalipun keadaan perang tidak diakui oleh salah satu pihak. Konvensi berlaku pada peristiwa pendudukan sekalipun tidak mengalami perlawanan. Konvensi juga akan tetap berlaku sekalipun salah satu negara yang terlibat dalam konflik bukan negara peserta konvensi. Lalu pada pasal (1) ayat (4) jo. Pasal (96) ayat (3) Protokol Tambahan I tahun 1977. 2. Konflik bersenjata yang Besrifat Non-Internasional Adalah suatu konflik yang dikenal juga swbagai perang pemberontakan yang terjadi didalam suatu negara, juga dapat berbentuk perang saudara. Ketentuan mengenai sengketa

bersenjata non-internasional ini diatur hanya berdasarkan satu pasal yakni pasal 3 common article konvensi-konvensi Jenewa dan Protokol Tambahan II tahun 1977.[13] Dan berdasarkan dari definisi definisi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa implementasi hukum merupakan suatu proses yang dinamis, dimana pelaksana

kebijakan melakukan suatu aktivitas atau kegiatan, sehingga pada akhirnya akan mendapatkan suatu hasil yang sesuai dengan tujuan atau sasaran kebijakan itu sendiri. Begitupun yang terjadi pada saat perang atau konflik bersenjata menurut Hukum Humaniter Internasional, apa saja kebijakan implementarisnya yang didasarkan pada aturan aturan hukum yang ditentukan oleh internasional.

B. Prinsip

Pembedaan

Dalam

Konflik

Bersenjata

Menurut

Hukum

Humaniter Internasional
Perlu dketahui dalam suatu konflik bersenjata baik itu bersifat internasional maupun non internasional, terdapat sasaran militer dan objek sipil sebagai targetnya,terutama ketika terjadi perang atau operasi militer dan objek sipil sebagai targetnya, terutama ketika terjadi perang atau operasi militer di lapangan. Hal ini pun terkait dengan prinsip pembedaan atau distinction principle, yang mulanya hanya ada kombatan dan non-combatan. Namun sesuai perkembangan maka prinsip pembedaan diperluas mencakup pembedaan antara penduduk sipil dengan kombatan, serta obyek-obyek sipil dengan sasaran militer. Kombatan adalah golongan penduduk yang tidak berhak untuk turut serta dalam suatu pertempuran.[14] Lalu yang dinamakan objek sipil adalah, semua objek yang bukan objek militer, dan oleh karena itu tidak dapat dijadikan sasaran serangan pihak yang bersengketa. Sebaliknya, jika suatu objek termasuk dalam kategori sasaran militer, maka objek tersebut dapat dihancurkan atau diserang dan akan memberikan keuntungan yang signifikan terhadap aksi militer.

a. Tujuan prinsip Pembedaan


Tujuan dengan diadakannya prinsip pembedaan ini adalah, untuk mengetahui siapa dan apa saja yang boleh turut serta dan dilindungi dalam suatu peperangan juga untuk tujuan kemanusiaan. sebagaimana yang menjadi Contohnya Penduduk sipil, karena mereka tidak turut serta atau bertempur dalam peperangan tersebut , maka harus dilindungi dari tindakan peperangan itu begitupun sebaliknya dengan kombatan yang memang diperuntukan untuk maju ke medan pertempuran dan termasuk menu sasaran atau objek serangan, sehingga apabila kombatan membunuh kombatan dari pihak musuh dalam situasi peperangan, maka hal tersebut bukanlah merupakan tindakan yang melanggar hukum. Hal ini sangat penting ditekankan karena yang namanya perang, sejatinya hanyalah berlaku bagi anggota angkatan bersenjata dari negara-negara yang bersengketa. Sedangkan penduduk sipil, yang tidak turut serta dalam permusuhan itu, harus dilindungi dari tindakantindakan peperangan itu. Dan keadaan ini pun sudah diakui sejak zaman kuno. Hal ini dapat dilihat dari setiap kodifikasi hukum modern yang kembali menegaskan perlunya perlindungan terhadap penduduk sipil dari kekejaman atau kekejian perang.[15] Jadi tujuan prinsip ini selain untuk membagi atau membedakan kombatan dan penduduk sipil, namun juga bertujuan penting untuk menjaminnya perlindungan terhadap
penduduk sipil yang menjadi korban peperangan.

b. Asas Umum Prinsip Pembedaan


Menurut jean Pictet, prinsip pembedaan berasal dari asas umum yang dinamakan asas pembatasan yang menyatakan bahwa penduduk sipil harus mendapatkan perlindungan umum

dari bahaya yang ditimbulkan akibat operasi militer.[16]Penjabaran ini harus diterapkan dalam prinsip pembedaan dalam arti 1) Pihak pihak bersengketa tersebut setiap saat harus dapat membedakan

antara kombatan dan penduduk sipil, juga mengambil langkah pencegahan yang memungkinkan untuk penyelamatan penduduk sipil guna menekan kerugian yang tak disengaja seminimal mungkin 2) Penduduk sipil tidak berhak; i. ii. menyerang dan bertempur melawan musuh, dan dijadikan sasaran militer.

c. Penerapan Prinsip pembedaan dalam Aturan Hukum Humaniter


Upaya penerapan yang dilaksanakan atau dilakukan mengenai prinsip pembedaan oleh para pihak yang turut bersengketa dalam suatu sengketa bersenjata atau pertempuran memang untuk sejauh ini terlihat dari peraturan hukum humaniter yang merupakan dasar hukum dari prinsip ini, yang dibuat baik di dalam konvensi Den haag 1907, Konvensi Jenewa 1949, maupun Protokol Tambahan 1977. I. Konvensi Den haag 1907 Secara implisit terdapat di dalam Konvesi Den Haag IV mengenai hukum dan Kebiasaan Perang di Darat, khususnya dalamHague Regulations sering disebut The Soldiers Vadamecum, sebab ketentuan pada HR bagi kalangan angkatan bersenjata dianggap sangatlah penting. Dimana bagian pertama dalam HR ini membahas tentang persyaratan bagi belligerent. Terdiri dari 3 pasal pokok antara lain pada Bab I pasal 1, 2 dan 3 Regulasi Den Haag (Hague Regulation) pihak-pihak yang bersengketa dan kualifikasi dari pihak-pihak yang bersengketa, dipaparkan sebagai berikut:\

Pada Pasal 1, kita dapat melihat bahwa tak ada perbedaan hukum, hak, dan kewajibannya bagi milisi dan korp sukarelawan ini sama dengan tentara. Dan berhak untuk maju ke medan pertempuran. Kemudian berdasarkan Pasal 2 Regulasi Den Haag di atas, maka ternyata ada pula segolongan penduduk sipil yang dapat dimasukkan ke dalam kategori belligerents, sepanjang memenuhi persyaratan yaitu :[17] 1. Mereka merupakan penduduk dari wilayah yang belum diduduki; 2. Mereka secara spontan mengangkat senjata atau melakukan perlawanan terhadap musuh yang akan memasuki tempat tinggal mereka; dan oleh karena itu 3. Mereka tidak memiliki waktu untuk mengatur (mengorganisir) diri sebagaimana ditentukan oleh Pasal 1; 4. Mereka menghormati (mentaati) hukum dan kebiasaan perang; serta 5. Mereka membawa senjata secara terang-terangan.
Golongan penduduk sipil dalam koridor Pasal 2 Regulasi Den Haag itulah yang dikenal dengan istilah Levee En Masse. Levee En Masse adalah istilah Perancis untuk wajib militerselama Perang Revolusi Perancis, terutama untuk satu dari 16 Agustus 1793 yang secara harfiah artinya "berkumpul retribusi" atau "pemberontakan secara massal".[18]

Lalu pada Pasal 3, status kombatan dan non-kombatan pada dasarnya sama yaitu anggota pangkatan bersenjata, namun non- combatan digolongkan seperti anggota dinas kesehatan dan dapur umum, rohaniwan, dan sebagainya. Non-combatan dilindungi berdasarkan Konvensi Jenewa III tahun 1949 mengenai perlakuan terhadap tawanan perang. Namun, jika situasi menghendaki, mereka bisa saja ditugaskan di medan pertempuran, dan jika demikian maka mereka adalah kombatan.[19]

Dengan demikian, menurut Konvensi Den Haag 1907, khususnya mengenai Haag Regulation (HR) yang dapat dikategorikan sebagai kombatan adalah.: Armies (tentara); Militia dan volunteer Corps (milisi dan korps sukarela) dengan melihat Pasal 1; Levee en masse (penduduk sipil dalam kategori pasal 2 HR)

II.

Konvensi jenewa 1949 Dalam Konvensi yang terdiri dari konvensi I, II, III dan IV tidak menyebut masalah kombatan maupun non kombatan, melainkan masalah penentuan bagi korban yang luka dan sakit yang termuat bab 2 Pasal 13 konvensi I dan II. Serta yang berhak mendapatkan perlakuan tawanan perang jika jatuh ke tangan musuh pada Pasal 4 pada konvensi III. Namun meskipun demikian ketentuan yang termuat dalam ketiga pasal tersebut, pada dasarnya dimaksudkan untuk diberlakukan bagi kombatan dan yang dapat dimasukkan dalam kategori kombatan adalah:
Mereka yang memiliki pemimpin yang bertanggung jawab atas bawahannya; Mereka yang mengenakan tanda-tanda tertentu yang dapat dikenal dari jarak jauh; Mereka yang membawa senjata secara terbuka;[20]

III.

Protokol Tambahan 1977. Pada protokol tambahan ini, prinsip pembedaan terkait dengan status kombatan terdapat pada Pasal 43, 44, dan 48. Dan dalam Pasal 43 dengan tegas menentukan mereka yang digolongkan sebagai kombatan adalah mereka yang termasuk angkatan suatu negara terdiri dari : a. Angkatan bersenjata yang terorganisir,dalam bentuk group atau unit kesatuan dan di bahwa komando yang bertangung jawab.

b. Ikut serta secara langsung dalam permusuhan. c. Pemberitahuan kepada pihak-pihak lain yang bertikai jika salah satu pihak yang bertikai memasukkan sebuah kesatuan (agency) dalam angkatan bersenjata mereka. Lalu dalam Pasal 44 mengatur, tentang kombatan dan tawanan perang, disini apabila kombatan jatuh ke dalam kekuasaan pihak lawan maka harus diperlakukan atau menjadi tawanan perang. Kemudian pada Pasal 48 yaitu, tentang penjaminan penghormatan dan perlindungan terhadap penduduk sipil dan obyek sipil. Dimana para pihak dalam sengketa setiap saat harus membedakan penduduk sipil dari kombatan dan antara obyek sipil dan sasaran militer dan karenanya harus mengarahkan operasinya hanya terhadap sasaran-sasaran militer. Dan dengan adanya dasar hukum mengenai prinsip pembedaan tersebut diberlakukan, maka hal ini termasuk dalamkiat yang dilakukan dari hukum humaniter untuk mewujudkan suatu peraturan peperangan yang mengenal batas tertentu sehingga dapat menjamin nilai hak hak kemanusiaan. Dan besar pula harapan masyarakat internasional untuk dipatuhi oleh para pihak bersengketa sebagai landasan dasar suatu pertempuran guna memperkecil kemungkinan terjadinya pelanggaran terhadap hukum humaniter, khususnya kejahatan perang yang dilakukan oleh kombatan dengan sengaja

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN
Hukum Humaniter Internasional adalah seperangkat aturan yang karena alasan kemanusiaan dibuat untuk membatasi akibat akibat dari pertikaian senjata dan mempunyai tujuan memberikan perlindungan terhadap kombatan dan penduduk sipil, serta Menjamin hak asasi manusia untuk mencegah dilakukannya perang secara kejam tanpa mengenal batas dan terdiri atas tiga asas utama didalamnya yaitu Asas kepentingan militer, Asas Perikemanusiaan dan Asas Kesatriaan. Prinsip pembedaan adalah asas yang membedakan kombatan dan penduduk sipil serta obyek-obyek sipil dengan sasaran militer dan bertujuan untuk mengetahui siapa dan apa saja yang boleh turut serta dan dilindungi dalam suatu peperangan juga untuk tujuan kemanusiaan. Prinsip ini diterapkan dalam Pasal 1, 2, 3 Regulasi Den Haag 1907, Konvensi Jenewa 1949 meliputi Pasal 13 konvensi I dan II serta Pasal 4 Konvensi III, lalu pada pasal 43, 44 dan 48 Protokol Tambahan 1977.

B.. SARAN
Dikarenakan pelanggaran terhadap prinsip pembedaan adalah merupakan salah satu bentuk kejahatan perang maka dalam upaya penegakan prinsip pembedaan, hendaknya prinsip pembedaan ini merupakan, sebuah acuan dasar untuk kedepannya bagi para pihak bersengketa guna mewujudkan suatu peperangan yang mengenal batas, karena mengingat masih banyak pelanggaran yang terjadi di dunia internasional.

DAFTAR PUSTAKA
1. http://rimaru.web.id/pengertian-implementasi-menurut-beberapa-ahli/ (diakses 12 Mei 2012 , 19:00 WIB) 2. Verri ,Pietro, 1992, Dictionary of the International Law of Armed Conflict, ICRC, Geneve, hal. 34-35. dalam Arlina webs Blog, Apa arti Konflik Bersenjata, (diakses 12 Mei 2012 , 21:00 WIB) 3. 4. Konvensi Jenewa 1949 Courtesy of ICRC, Regional Delegation Jakarta. Dalam Arlina Webs Blog, Tipe-tipe konflik yang diatur dalm Hukum Humaniter,http://arlina100.wordpress.com/2008/12/22/apa-arti-konflik-bersenjata/ (diakses 12 Mei 2012, pukul 22:15 WIB) 5. 6. Konvensi Den Haag 1907 Leese En Masse,http://en.wikipedia.org/wiki/Lev%C3%A9e_en_masse (diakses 13 Mei 2012 pukul 12:10 WIB) 7. 8. Protokol Tambahan 1949 Kusumaatmadja, Mochtar, 1980, Hukum Internasional Humaniter dalam Pelaksanaan dan Penerapannya di Indonesia, Bina Cipta, Bandung 9. Baharuddin , Ahmad, 2010, Hukum Humaniter Internasional. Universitas Lampung, Bandar Lampung 10. 11. Haryomataram, 1984, Hukum Humaniter, Rajawali Press, Jakarta Kusumaatmadja, Mochtar, 2002, Konvensi-Konvensi Palang Merah 1949, Bina Cipta, Bandung

Anda mungkin juga menyukai