Anda di halaman 1dari 12

PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Ikan karang merupakan salah satu komoditas unggulan di sektor perikanan tangkap, dengan sumberdaya yang hampir tersebar di seluruh indonesia. Ikan karang dibagi menjadi dua kelompok yaitu ikan hias dan ikan untuk dikonsumsi. Salah satu ikan konsumsi tinggi adalah ikan Kerapu yang termasuk kedalam genus ephinepelus antara lain kerapu lumpur (Epinephelus Coroides), kerapu raksasa (Epinephelus Lanceolatus), dan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus). Kerapu mempunyai sifat hidup soliter, dimana hidupnya tidak bergerombol, baik saat mencari makan maupun dalam keadaan bahaya. Namun pada saat akan memijah kerapu akan bergerombol, ini terjadi beberapa hari sebelum bulan purnama penuh pada malam hari. Di Indonesia, musim pemijahan ikan kerapu terjadi bulan Juli September dan November Februari, terutama di Perairan Kepulauan Riau, Karimun Jawa dan Irian Jaya. Dalam satu tahun musim pemijahan terjadi sebanyak 6-8 kali, sedangkan pemijahan pertama (prespawning) terjadi 1-2 kali pemijahan dalam setahun(Basyarie, A. 1989). Berkembangnya pasaran ikan kerapu hidup karena adanya perubahan selera konsumen dari ikan mati atau beku kepada ikan dalam keadaan hidup, telah mendorong masyarakat untuk memenuhi permintaan pasar ikan kerapu melalui usaha budidaya. ikan kerapu (Epinephelus sp) telah dilakukan dibeberapa tempat di Indonesia, namun dalam proses pengembangannya masih menemui kendala, karena keterbatasan benih. Selama ini para petani nelayan masih mengandalkan benih alam yang sifatnya musiman. Namun sejak tahun 1993 ikan kerapu sudah

dapat dibenihkan. Balai Budidaya Laut Lampung dan Bali sebagai unit Pelaksana teknik pembenihan ikan kerapu, telah melakukan upaya untuk menghasilkan benih melalui pembenihan buatan manipulasi lingkungan dan penggunaan hormon.

PEMBAHASAN A. Taksonomi Dan Morfologi Ikan kerapu memiliki 15 genera yang terdiri atas 159 spesis. Satu diantaranya adalah Cromileoptes altivelis yang selain sebagai ikan konsumsi juga juvenilnya juga sebagai ikan hias. Ikan kerapu termasuk famili Serranidae, Subfamili Epinephelinea, yang umumnya di kenal dengan nama groupers, rockcods, hinds, dan seabasses. Ikan kerapu ditemukan diperairan pantai IndoPasifik sebanyak 110 spesies dan diperairan Filipina dan Indonesia sebanyak 46 spesies yang tercakup ke dalam 7 genera Cephalopholis, Cromileptes, Epinephelus, Aethaloperca, Anyperodon, Plectropomus, dan

Variola (Marsambuana dan Utojo, 2001). Ikan Kerapu diklasifikasikan sebagai berikut: Klas Sub kla Ordo Sub ordo Devisi Famili Sub famili Genus Spesies : Pisces : Teleostei : Percomorphi : Percoidea : Perciformis : Serranidea : Epinephelinea : Epinephelus : Epinephelus sp.

Bentuk tubuh pipih, yaitu lebar tubuh lebih kecil dari pada panjang dan tinggi tubuh. Rahang atas dan bawah dilengkapi dengan gigi yang lancip dan kuat. Mulut lebar, serong ke atas dengan bibir bawah yang sedikit

menonjol melebihi bibir atas. Sirip ekor berbentuk bundar, sirip punggung tunggal dan memanjang dimana bagian yang berjari-jari keras kurang lebih sama dengan yang berjari-jari lunak. Posisi sirip perut berada dibawah sirip dada. Badan ditutupi sirip kecil yang bersisik stenoid. Pada ikan kerapu genus Aethaloperca merupakan monotipik, tediri atas satu spesies, warna coklat gelap, tubuh melebar, sirip dada tidak simetris, sirip punggung terdiri atas 9 jari-jari keras, sirip ekor tegak. ikan kerapu genus Anyperodon merupakan monotipik, warna abu-abu sampai abu-abu kecoklatan, bintik coklat pada kepala, tidak ada gigi pada langit-langit, kepala dan tubuh panjang, tebal badan 11-15 % dari panjang standard, dan 3-4 kali dari panjang kepala serta sirip bundar. Ikan kerapu genus Cephalopholis terdiri atas: warna gelap, yaitu cokelat kemerahan sampai cokelat tua dan warna terang, yaitu merah kecokelatan sampai merah atau kuning atau jingga, panjang standard 2,2 3,1 kali dari panjng kepala, rahang pada ikan dewasa dilengkapi dengan bonggol, sirip ekor berbentuk bundar. Ikan kerapu genus Epinephelus tubuh ditutupi oleh bintik-bintik berwarna cokelat atau kuning, merah atau putih, tinggi badan pada sirip punggung pertama biasanya lebih tinggi dari pada sirip dubur, sirip ekor berbentuk bundar. Ikan kerapu genus Plectropomus warna gelap bergaris (menyerupai pita) dan yang tidak bergaris, warna tubuh agak putihan, sirip berwarna kuning, tulang sirip dubur lemah, panjang standard 2,8 3,1 kali dari panjang kepala, sirip ekor umumnya tegak. dan yang terakhir ikan kerapu dari genus Variola warna tubuh ditutupi oleh bintik merah, sirip ekor berwarna putih tipis pada bagian pinggir, panjang standard 2,5 2,8 kali dari panjang kepala, sirip ekor berbentuk sabit.

Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) atau sering juga disebut Groouper dipasarkan dalam keadaan hidup. Golongan ikan kerapu yang paling banyak adalah golongan Epinepelus sp, namun yang paling banyak di kenal di budidayakan adalah jenis kerapu Lumpur (Epinephelus suillus) dan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus). Golongan Epinephelus memiliki tubuh yang lebih tinggi dari kerapu Lumpur (Epinephelus suillus), dengan bintik-bintik yang rapat dan berwarna gelap, sirip ikan kerapu macan berwarna kemerahan, sedangkan bagian sirip yang lain berwarna coklat kemerahan Sunyoto Dan Mustahal (2000). B. Habitat dan Daerah Penyebaran Ikan Kerapu Di Perairan Indonesia populasi ikan kerapu terdapat cukup banyak antara lain adalah perairan pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi, Pulau Buru dan Ambon (Subyakto dan Cahyaningsih, 2005). Ikan kerapu merupakan ikan karang yang tergolong dalam famili serranidae, Sebagian besar hidup di perairan dangkal dengan dasar pasir berkarang, walaupun beberapa jenis dapat ditemukan di perairan dalam (BBL Batam, 2006). Selain terumbu karang lokasi kapal tenggelam juga menjadi rumpon yang nyaman bagi ikan kerapu. Ikan-ikan tersebut akan berdiam dalam lubang-lubang karang atau rumpon dengan aktifitas relatif rendah. Ikan kerapu dapat dijumpai di perairan tropis dan subtropis pada kedalaman 0,5-3,0 m (benih), sedangkan yang dewasa sebagian besar hidup pada kedalaman 7-40 meter, namun beberapa spesies dapat dijumpai pada kedalaman 100-200 m dan bahkan 500 m. Ikan kerapu pada umumnya hidup di terumbu karang (Coral reefs), namun ada beberapa yang hidup di perairan pantai dekat muara sungai (Estuarine) atau batu karang (Rocky reefs).

Habitat benih ikan kerapu macan adalah pantai yang banyak ditumbuhi algae jenis Reticulata dan Gracilaria sp, setelah dewasa hidup di perairan yang lebih dalam dengan dasar terdiri dari pasar berlumpur. Ikan kerapu termasuk jenis karnivora dan cara makannya "mencaplok" satu persatu makan yang diberikan sebelum makanan sampai ke dasar. Pakan yang paling disukai adalah jenis Crustaceae dan jenis ikan-ikan (Anonimous, 2010). Pada umumnya ikan kerapu menyenangi air laut dengan salinitas 33-35 ppt. suhu perairan di Indonesia tidak menjadi masalah karena perubahan suhu, baik harian maupun tahunan sangat kecil dan biasanya berkisar antara 27-320C. pada lapisan permukaan air yang tidak tercemar biasanya mengandung oksihen terlarut yang memadai untuk pertumbuhan ikan. kandungan oksigen terlarut dalam air laut minimal 4 ppm. Air laut memiliki pH berkisar antara 7,6-8,7 dan mempunyai daya penyangga yang besar terhadap perubahan keasaman. C. Sistem Reproduksi Ikan kerapu bersifat Hermaprodit Protogini, yaitu perubahan kelamin dari betina dan menjelang dewasa akan berubah menjadi jantan (Sunyoto dan Mustahal, 2000). ikan kerapu mulai suklus reproduksinya sebagai ikan betina, kemudian akan berubah menjadi ikan jantan yang berfungsi masa interseks dan masa terakhir masa jantan (Afenddy, 1997). Ketika ikan kerapu masih muda (juvenile), gonadnya mempunyai daerah ovarium dan daerah testis. Jaringan ovari kemudian mengisih sebagian gonad dan setelah jaringan ovari berfungsi mampu menhasilkan telur, Kemudian akan terjadi transisi di mana testisnya akan membesar dan ovarinya mengurut. Ikan kerapu yang sudah tua umumnya ovarium sudah tereduksi sekali sehingga sebagian besar dari gonad terisi oleh jaringan lain.

Fenomena perubahan jenis kelamin pada ikan kerapu sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur , indeks kelamin dan ukuran tubuh (Smith, 1982. dalam Subyakto S. Dan Cahyaningsih S. 2003). Menurut Kordi (2001) ikan kerapu memijah sepanjang tahun. Untuk melakukan pemijahan, ikan kerapu membutuhkan salinitas antara 28-32 ppt, dengan suhu antara 27oC 30oC.ikan kerapu biasanya memijah disaat gelap, yaitu ketika bulan gelap. Biasanya antara tanggal 25 hingga tanggal 5 berikutnya (bulan hijriah). Pada ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) fase produksi pada induk betina di capai pada panjang tubuh antara 45-50 cm dengan berat 310 kg dan umur kurang lebih 5 tahun, selanjutnya menjadi jantan yang matang gonad pada ukuran minimal 74 cm dengan berat kurang lebih 11 kg (Sunyoto dan Mustahal 2000). Mayunar et al, (1995), menyatakan bahwa pada ikan kerapu lumpur (Epinepelus tauvina) panjang minimum betina yang matang gonad adalah 45-50 cm (sebagian besar 50-70 cm) dengan berat 3-4 kg dan transisi gonadnya terjadi pada panjang total (TL) 66-72 cm dan testis mulai matang pada TL 74 cm atau bobot berat tubuh 10-11 kg. ikan kerapu jenis Epinephelus diacantus kecendrungan perubahan kelamin terjadi selama tidak bereproduksi yaitu antara umur 2-6 tahun, tetapi perubahan terbaik terjadi antara 2-3 tahun. ikan kerapu merah Epinephelus akaara untuk jenis ikan betina ukuran berat 500 gram, dengan panjang 26 cm dan berubah menjadi kerapu jantan pada ukuran berat 1000 gram dan ukuran panjang 34 cm.

Ikan kerapu raja sunu gonadnya sudah berkembang dan matang mulai ukuran panjang total 56,7 cm atau bobot 2,3 kg dengan indeks somatik gonad 0,2dan diameter oosit 250 m. Ikan betina ukuran panjangnya 2870 cm dengan berat di kisaran 250-6.200 gram, sedangkan yang jantan ukuran panjangnya 76-83 cm, bobotnya 6.500-11.000 gram.

D. Fekunditas dan Musim Pemijahan Fekunditas ikan kerapu spesies Epinephelus akaara yang berukuran panjang standard 23-24 cm dapat mengandung telur sebanyak 75.000- 530 000 butir. Epinephelus morio ukuran panjang 45-65 cm mengandung telur sebanyak 1.500.000 butir, Epinephelus guttatus ukuran panjang 35 cm mengandung telur sebanyak 233.237 butir, dan Epinephelus diacanthus berukuran panjang 12.618.8 cm mengandung telur sebanyak 64.00-233.000 butir. Pada induk kerapu macan yang diimplantasi pelet hormon LHRHa dosis 150ug (1 ekor)dan dosis 240ug (2 ekor) serta 1 ekor dari kontrol. Jumlah telur yang dihasilkan dari induk kontrol adalah 7.500.000 butir dengan frekwensi pemijahan 3 kali. Sedangkan derajat pembuahan (FR) 93.7 96.5 %. Dan derajat penetasan (HR) 70.5 78.5 %. Selanjutnya dari induk yang diimplantasi dihasilkan telur sebanyak 14.650.000 butir atau 4.883.000 butir/ekor dengan frekwensi pemijahan 4 kali derajat pembuahan 95.6-98.5 % derajat penetasan 21,7-89.5 % (Mayunar et al., 1995). Diperairan tropis musim pemijahan dapat terjadi pada setiap tahun atau sepanjang tahun, akan tetapi ada puncak musim pemijahan. Dimana musim benih kerapu di alam ditentukan oleh angin musim ( musim barat dan musim timur), kedua musim ini mempengaruhi kondisi arus, salinitas, suhu, dan nutrien yang

terkandung. Musim pemijahan umumnya pada ikan kerapu terjadi atau berlangsung dari bulan april sampai juni dan antara bulan januari sampai september. Pendugaan puncak musim pemijahan dapat dilakukan dengan cara membuka dan meneliti perkembangan gonad sampel induk betina secara periodik selama 1 tahun. Dugaan pemijahan dapat diperoleh sebagai dasar untuk menentukan pendugaan musim benih alam. Untuk benih ikan kerapu lumpur yang diperoleh dari alam dengan ukuran 2-5 cm dengan umur 2-3 bulan, menyukai perairan pantai ditandai dengan banyaknya jumlah populasi jenis crustacea diperairan. Beberapa data mengenai musim pemijahan ikan kerapu di negara-negara Asia sebagai berikut :

Epinephelus tauvina musim pemijahan bulan agustus di Singapura Epinephelus diacanthus musim pemijahan april sampai mei di Taiwan Epinephelus akaara musim pemijahan juni sampai september di Japan Epinephelus malabaricus musim pemijahan september-november di Thailand

Epinephelus microdon musim pemijahan mei sampai september di Japan Epinephelus salmoides musim pemijahan april sampai juni di Japan.

E. Proses Pemijahan Pemijahan ikan kerapu dapat di bagi atas 3 yaitu pemijahan alami (natural spawning), pemijahan buatan (stripping atau artificial fertilization) dan penyuntikan atau pijah rangsang (induced spawning). Pada induk ikan kerapu yang telah dewasa kelamin dapat dipijahkan secara alami tanpa ransangan

hormon. Induk ikan yang matang telur dimasukan ke dalam tangki pemijahan yang berukuran 3-5 m3 dengan perbandingan jantan dan betina 1 : 1. Tangki ini dilengkapi dengan sistem aerasi yang cukup dan pada siang hari di beri aliran air laut bersih. Pemijahan biasanya terjadi beberapa hari sesudah dan sebelum bulan purnama atau di sekitar bulan gelap dan pemijahan terjadi pada malam hari. Pemijahan rangsang biasanya dilakukan dengan menyuntikan hormon atau campuran beberapa hormon ke dalam tubuh induk ikan yang akan dipijahkan. Hormon yang umumnya digunakan adalah Human Chorionic Gonadotropin (HCG), Gonatropin, Puberogen (mengandung FSH dan gonadotropin) dan pregnyl. Ekstrak kelenjar hipofisa ikan salmon juga dapat digunakan untuk merangsang pematangan gonad. Selama ikan bertelur induk tidak boleh di beri pakan, dan apabila induk telah memijah harus segera dipindahkan ke tangki yang lain. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1.200.000 butir. Dari jumlah ini diperkirakan hanya 30 % saja yang dibuahi. Telur yang telah dibuahi tidak berwarna (transparan) sedangkan yang tidak dibuahi dan yang mati berwarna putih susu. Telur yang terbuahi melayang atau terapung pada salinitas 33 permil, sebaliknya telur yang tidak dibuahi akan tenggelam didasar tangki. Telur yang telah terbuahi kemudian dipindahkan ke dalam tangki feberglass berkapasitas 3m3. Tangki penetasan ini sebelumnya telah diisi dengan air laut bersih dengan mikro alga dan zooplankton dilengkapi dengan aerasi. Dimana ukuran telur yang telah dibuahi adalah 810-880 millimikron. Telur-telur ini menetas 16-18 jam setelah pembuahan pada suhu 27-28 0C.

10

KESIMPULAN Ikan kerapu bersifat Hermaprodit Protogini, yaitu perubahan kelamin dari betina dan menjelang dewasa akan berubah menjadi jantan. ikan kerapu mulai suklus reproduksinya sebagai ikan betina, kemudian akan berubah menjadi ikan jantan yang berfungsi masa interseks dan masa terakhir akan menjadi jantan. ikan kerapu jenis Epinephelus diacantus cenderungan perubahan kelamin terjadi selama tidak bereproduksi yaitu antara umur 2-6 tahun, tetapi perubahan terbaik terjadi antara 2-3 tahun, ikan kerapu merah Epinephelus akaara untuk jenis ikan betina ukuran berat 500 gram, panjang 26 cm dan jenis kerapu jantan ukuran berat 1000 gram dan ukuran panjang 34 cm. Sedangkan untuk ikan kerapu Lumpur Epinephelus tauvina jenis kelamin betina berat 3-4 kg panjang 45 cm dan jenis kerapu jantan ukuran panjang 65 cm. Untuk melakukan pemijahan, ikan kerapu membutuhkan salinitas antara 28-32 ppt, dengan suhu antara 27oC 30oC. Ikan kerapu biasanya memijah disaat gelap, musim pemijahan ikan kerapu terjadi bulan Juli September dan November Februari, terutama di Perairan Kepulauan Riau, Karimun Jawa dan Irian Jaya. Dalam satu tahun musim pemijahan terjadi sebanyak 6-8 kali, sedangkan pemijahan pertama (prespawning) terjadi 1-2 kali pemijahan dalam setahun.

11

DAFTAR PUSTAKA Subyakto, S. dan S. Cahyaningsih. 2003. Pembenihan Kerapu Skala Rumah Tangga. PT Agromedia Pustaka, Depok. Direktorat Bina Pembenihan, Direktorat Jendral Perikanan, Departemen Pertanian, 1996, Pembenihan Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus), Jakarta. Ir. Sudjiharno dkk, 2004, Proyek Pengembangan Perekayasaan Teknologi Balai Budidaya Laut Lampung. Ikbal Farabi, 2012 Pembenihan Ikan Kerapu Macan (epinephelus Fuscoguttatus) di BBPBAP Jepara, Jawa tengah, di akses tanggal 31 maret 2014. Husnurrizal, 2012 Sistem reproduksi Ikan Kerapu (Epinephelus sp.), www.indonesia aquaculture, di akses tanggal 31 maret 2014

12