Anda di halaman 1dari 18

Tugas kelompok Dosen pembimbing : Muh. Riswan, S.Km., M.Kes.

PERAWATAN HIV
Pencegahan Penularan HIV dari Ibu Hamil ke Janin yang Dikandungnya

Oleh: KELOMPOK I A. Batari Ola Darmariyani Dewi Marlianti Ernawati Fitriani 023 Haeruddin Humaerah Istianah Nur Qurani

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UIN ALAUDDIN MAKASSAR 2014

PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU HAMIL KE JANIN YANG DIKANDUNGNYA


Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada bayi dan anak merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat serius karena jumlah penderita banyak dan selalu meningkat sebagai akibat jumlah ibu usia subur yang menderita penyakit HIV bertambah. Sebagian besar (>90 %) infeksi HIV pada bayi ditularkan oleh ibu terinfeksi HIV (Setiawan, 2009: 489). Angka penularan vertikal dari ibu ke bayi sangat bervariasi pada berbagai populasi. Tanpa pencegahan, angka rata-rata penularan HIV dari ibu ke bayi sekitar 14 42 %. Angka penularan vertikal di negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat berkisar antara 15 sampai 20 %, sedangkan di negara berkembang, angka penularan vertikal berkisar antara 24 sampai 40 %. Akan tetapi, angka penularan vertikal di indonesia sampai saat ini beum diketahui dengan jelas (Setiawan, 2009: 490). Menurut I Made Setiawan (2009:490), penularan HIV lebih sering terjadi pada masa kehamilan tua dan pada saat partus, dan sangat jarang terjadi pada masa permulaan kehamilan, maka yang menjadi sasaran penting untuk mencegah penularan vertikal adalah janin pada fase akhir intauterin (kehamilan) dan pada waktu intrapartum. A. Faktor risiko penularan HIV dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya Tingginya angka penularan vertikal dari ibu ke janin sangat dipengaruhi oleh adanya faktor risiko pada ibu hamil yang terinfeksi HIV. Faktor risiko tersebut adalah beratnya infeksi HIV yang diderita ibu, adanya penyakit infeksi lain pada genitalia ibu, dan kebiasaan ibu (Setiawan, 2009: 490).

Beratnya keadaan infeksi HIV pada ibu merupakan faktor risiko utama terjadinya penularan perinatal. Berdasarkan hasil studi, ternyata angka penularan vertikal lebih tinggi pada ibu terinfeksi HIV dengan gejala yang sangat berat dibanding ibu terinfeksi HIV tanpa gejala. Beratnya keadaan penyakit ibu ditentukan dengan

menggunakan kriteria klinis dan jumlah partikel virus yang terdapat dalam plasma serta keadaan imunitas ibu (Setiawan, 2009: 490). Menurut Rulina Suradi (2003:181), risiko transmisi vertikal dari ibu hamil ke janinnya tergantung pada beberapa faktor, yaitu: 1. Usia kehamilan Transmisi vertikal jarang terjadi pada waktu ibu hamil muda, karena plasenta merupakan barier yang dapat melindungi janin dari infeksi pada ibu. Transmisi terbesar terjadi pada waktu hamil tua atau trimester akhir dan waktu persalinan. 2. Kondisi kesehatan ibu Stadium dan progresivitas penyakit ibu, ada tidaknya komplikasi, kebiasaan merokok, penggunaan obat-obat terlarang dan defisiensi vitamin A dapat meningkatkan risiko penularan HIV dari ibu ke janin. 3. Jumlah viral load (beban virus di dalam darah) 4. Pemberian profilaksis obat abti retroviral (ARV) Menurut Kementerian Kesehatan RI dalam Pedoman Nasional Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (2012:11), ada tiga faktor utama yang berpengaruh pada penularan HIV dari ibu ke anak, yaitu faktor ibu, bayi/anak, dan tindakan obstetrik. Namun, yang berpengaruh terhadap penularan HIV selama masa kehamilan adalah faktor ibu, yang terdiri dari: 1. Jumlah virus (viral load) Jumlah virus HIV dalam darah ibu saat menjelang atau saat persalinan dan jumlah virus dalam air susu ibu ketika ibu menyusui bayinya sangat mempengaruhi penularan HIV dari ibu ke anak. Risiko penularan HIV menjadi sangat kecil jika kadar HIV rendah

(kurang dari 1.000 kopi/ml) dan sebaliknya jika kadar HIV di atas 100.000 kopi/ml. 2. Jumlah sel CD4 Ibu dengan jumlah sel CD4 rendah lebih berisiko menularkan HIV ke janinnya. Semakin rendah jumlah sel CD4 risiko penularan HIV semakin besar. 3. Status gizi selama hamil Berat badan rendah serta kekurangan vitamin dan mineral selama hamil meningkatkan risiko ibu untuk menderita penyakit infeksi yang dapat meningkatkan jumlah virus dan risiko penularan HIV ke janin. 4. Penyakit infeksi selama hamil Penyakit infeksi seperti sifilis, infeksi menular seksual, infeksi saluran reproduksi lainnya, malaria, dan tuberkulosis, berisiko meningkatkan jumlah virus dan risiko penularan HIV ke janin. Penularan HIV dari ibu ke anak pada umumnya terjadi pada saat persalinan dan pada saat menyusui. Risiko penularan HIV pada ibu yang tidak mendapatkan penanganan PPIA saat hamil diperkirakan sekitar 15 45 %. Risiko penularan 15 30 % terjadi pada saat hamil dan bersalin, sedangkan peningkatan risiko transmisi HIV sebesar 10 -20 % pada masa nifas dan menyusui (Kemenkes RI, 2012: 13). Berikut ini adalah tabel risiko penularan HIV dari ibu ke anak saat hamil, bersalin, dan menyusui (Kemenkes RI, 2012: 13) WAKTU Selama hamil Bersalin Menyusui (ASI) Risiko penularan keseluruhan RISIKO 5 10 % 10 20 % 5 20 % 20 50 %

Tabel 1. Waktu dan risiko penularan HIV dari ibu ke anak

Apabila ibu tidak menyusui bayinya, risiko penularan HIV menjadi 20 - 30 % dan akan berkurang jika ibu mendapatkan pengobatan ARV. Pemberian ARV jangka pendek dan ASI eksklusif memiliki risiko penularan HIV sebesar 15 25 % dan risiko penularan sebesar 5 15 % apabila ibu tidak menyusui (PASI). Akan tetapi, dengan terapi anti retroviral (ARV) jangka panjang, risiko penularan HIV dari ibu ke anak dapat diturunkan lagi hingga 1 5 %, dan ibu yang menyusui secara eksklusif memiliki resiko yang sama untuk menularkan HIV ke anaknya dibandingkan dengan ibu yang tidak menyusui. Dengan pelayanan PPIA yang baik, maka tingkat penularan dapat diturunkan menjadi kurang dari 2 % (Kemenkes RI, 2012: 13). Masa kehamilan
0 14 mg

Partus
Selama 8% partus

Post partum melalui ASI


0 6 bulan

1% 1%

14 - 16 mg

4%

36 mg 12 % kelahiran

7%

6 24 bulan

3%

4%

12 %

8%

7%

3%

Gambar 1. Risiko penularan HIV dari ibu ke bayi saat hamil, bersalin, dan menyusui

B. Mekanisme penularan HIV dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya Walaupun masih belum jelas, mekanismenya diduga melalui plasenta. Pemeriksaan patologi menemukan HIV dalam plasenta ibu yang terinfeksi HIV. Sel limfosit atau monosit ibu yang terinfeksi HIV atau virus HIV itu sendiri dapat mencapai janin secara langsung melalui lapisan sinsitiotrofoblas, atau secara tidak langsung melalui trofoblas dan menginfeksi sel makrofag plasenta (sel Houfbauer) yang mempunyai reseptor CD4 (McFarland, 2003). Plasenta diduga juga mempunyai efek anti HIV-1 dengan mekanisme yang masih belum diketahui. Salah satu hormon plasenta yaitu human chorionic gonadotropin (hCG) diduga melindungi janin

dari HIV-1 melalui beberapa cara, seperti menghambat penetrasi virus ke jaringan plasenta, mengkontrol replikasi virus di dalam sel plasenta, dan menginduksi apoptosis sel-sel yang terinfeksi HIV-1 (McFarland, 2003). Menurut Pediatric Virology Committee of the AIDS Clinical Trials Group (PACTG), transmisi dikatakan intra uterin/infeksi awal, jika tes virology positif dalam 48 jam setelah kelahiran dan tes berikutnya juga positif (McFarland, 2003). Beberapa penelitian mengemukakan faktor-faktor yang

berperan pada transmisi antepartum, yaitu malnutrisi yang seringkali ditemukan pada wanita dengan HIV-AIDS akan meningkatkan resiko transmisi karena akan menurunkan imunitas, meningkatkan

progresivitas penyakit ibu, meningkatkan resiko berat badan lahir rendah dan prematuritas dan menurunkan fungsi imunitas

gastrointestinal dan integritas fetus. Pada penelitian prospektif random terkontrol, defisiensi vitamin A (kurang dari 1,05 mmol/L) yang dihubungkan dengan gangguan fungsi sel T dan sel B ternyata berhubungan dengan peningkatan transmisi HIV. Namun penelitian Dreyfuss, dkk tidak dapat membuktikan bahwa defisiensi mikronutrien akan meningkatkan transmisi antepartum atau sebaliknya (McFarland, 2003). Jadi, dengan adanya plasenta, sirkulasi darah ibu dipisahkan oleh beberapa lapis sel yang terdapat pada plasenta. Plasenta melindungi janin dari infeksi HIV. Meskipun oksigen, makanan, antibodi dan obat-obatan memang dapat menembus plasenta, tetapi tidak oleh HIV. Plasenta justru melindungi janin dari infeksi HIV (Kemenkes RI, 2012: 13). Namun, perlindungan menjadi tidak efektif apabila ibu: 1. Mengalami infeksi viral, bakterial, dan parasit (terutama malaria) pada plasenta selama kehamilan.

2. Terinfeksi HIV selama kehamilan, membuat meningkatnya muatan virus (viral load) pada saat itu. 3. Mempunyai daya tahan tubuh yang menurun. 4. Mengalami malnutrisi selama kehamilan yang secara tidak langsung berkontribusi untuk terjadinya penularan dari ibu ke janin. Jadi, apabila terjadi inflamasi, infeksi ataupun kerusakan pada plasenta, maka HIV bisa menembus plasenta sehingga terjadi penularan HIV dari ibu ke janin (Kemenkes RI, 2012: 13). C. Tatalaksana pencegahan penularan HIV dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya Strategi untuk mencegah penularan vertikal dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya (masa antenatal) adalah dengan

memberikan antiretroviral (ARV) dan memperbaiki faktor risiko. Usaha ini memerlukan kerja sama antara dokter ahli HIV dari kelompok kerja HIV/AIDS yang merawat ibu pada saat sebelum hamil dan dokter kebidanan yang merawatnya pada saat hamil. Tujuan perawatan saat kehamilan adalah untuk mempertahan kesehatan dan status nutrisi ibu, serta mengobati ibu agar jumlah viral load tetap rendah sampai pada tingkat yang tidak dapat dideteksi ( Setiawan, 2009: 491). Anggota tim sebaiknya terdiri dari seorang pembina untuk ibu terinfeksi HIV, dokter kebidanan, pekerja sosial, keluarga atau teman, dokter anak, dan perawat. Dengan kerja sama yang baik maka faktor risiko yang terjadi dapat dihindari sehingga penularan perinatal berkurang (Setiawan, 2009: 491). Menurut I Made Setiawan (2009:491), tatalaksana untuk mengurangi penularan vertikal dari ibu hamil dengan HIV ke bayi

pada masa antenatal (hamil) adalah sebagai berikut: 1. Konseling dan tes antibodi HIV terhadap Ibu Petugas yang melakukan perawatan antenatal di

puskesmas maupun di tempat perawatan antenatal lain sebaiknya mulai mengadakan pengamatan tentang kemungkinan adanya ibu

hamil yang berisiko untuk menularkan penyakit HIV kepada bayinya. Anamnesis yang dapat dilakukan antara lain dengan menanyakan apakah ibu pemakai obat terlarang, perokok, mengadakan hubungan seks bebas, dan lain-lainnya. Bila ditemukan kasus tersebut di atas, harus dilakukan tindakan lebih lanjut. Risiko penularan HIV secara vertikal dapat berkurang sampai 1-2% dengan melakukan tata laksana yang baik pada ibu dan anak. Semua usaha yang akan dilakukan sangat tergantung pada temuan pertama dari ibu-ibu yang berisiko. Oleh karena itu, semua ibu usia subur yang akan hamil sebaiknya diberi konseling HIV untuk mengetahui risiko, dan kalau bisa, sebaiknya semua ibu hamil disarankan untuk melakukan tes HIV-1 sebagai bagian dari perawatan antenatal, tanpa memperhatikan faktor risiko dan prevalensi HIV-1 di masyarakat. Akan tetapi, ibu hamil sering menolak untuk dilakukan tes HIV, karena peraturan yang memaksa ibu hamil untuk dites HIV belum ada. Cukup banyak ibu hamil sudah terinfeksi HIV-1 pada saat masa pancaroba dan dewasa muda yang justru pada masa ini mereka tidak terjangkau oleh sistem pelayanan kesehatan. Pada hal pada masa-masa ini banyak terjadi penularan melalui hubungan seks bebas, dan juga banyak sebagai pengguna obat terlarang. Kepada mereka harus diberi konseling dan disarankan untuk dilakukan tes infeksi HIV-1. Kemudian, jika ditemukan ada ibu hamil yang terinfeksi HIV dan sebagai pengguna obat terlarang, maka harus dimasukkan ke dalam program pengobatan atau program detoksifikasi. Ibu yang sudah diketahui terinfeksi HIV sebelum hamil, perlu dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui jumlah virus di dalam plasma, jumlah sel T CD4+, dan genotipe virus. Juga perlu diketahui, apakah ibu tersebut sudah mendapat anti retrovirus

(ARV) atau belum. Data tersebut kemudian dapat digunakan sebagai bahan informasi kepada ibu tentang risiko penularan terhadap pasangan seks, bayi, serta cara pencegahannya. Selanjutnya, ibu harus diberi penjelasan tentang faktor risiko yang dapat mempertinggi penularan infeksi HIV-1 dari ibu ke bayi. 2. Pencatatan dan pemantauan ibu hamil Banyak ibu terinfeksi HIV hamil tanpa rencana. Ibu hamil sangat jarang melakukan perawatan prenatal. Di samping itu, ibuibu ini sering terlambat untuk melakukan perawatan prenatal. Kelompok ibu-ibu ini juga sangat jarang melakukan konseling dan tes HIV pada waktu prenatal, sehingga mereka tidak dapat dicatat dan dipantau dengan baik. Catatan medis yang lengkap sangat perlu untuk ibu hamil terinfeksi HIV termasuk catatan tentang kebiasaan yang

meningkatkan risiko dan keadaan sosial yang lain, pemeriksaan fisik yang lengkap, serta pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui status virologi dan imunologi. Pada saat penderita datang pertama kali harus dilakukan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan ini akan digunakan sebagai data dasar untuk bahan banding dalam melihat perkembangan penyakit selanjutnya. Pemeriksaan tersebut adalah darah lengkap, urinalisis, tes fungsi ginjal dan hati, amylase, lipase, gula darah puasa, VDRL, gambaran serologis hepatitis B dan C, subset sel T, dan jumlah salinan RNA HIV. Selanjutnya, ibu harus selalu dipantau. Cara pemantauan ibu hamil terinfeksi HIV sama dengan pemantauan ibu terinfeksi HIV tidak hamil. Pemeriksaan jumlah sel T CD4+ dan kadar RNA HIV-1 harus dilakukan setiap trimester (yaitu, setiap 3 - 4 bulan) yang berguna untuk menentukan pemberian ARV dalam

pengobatan penyakit HIV pada ibu. Bila fasilitas pemeriksaan sel

T CD4+ dan kadar HIV-1 tidak ada maka dapat ditentukan berdasarkan kriteria gejala klinis yang muncul. 3. Pengobatan dan profilaksis antiretrovirus pada ibu terinfeksi HIV Untuk mencegah penularan vertikal dari ibu ke bayi, maka ibu hamil terinfeksi HIV harus mendapat pengobatan atau profilaksis antiretrovirus (ARV). Tujuan pemberian ARV pada ibu hamil, di samping untuk mengobati ibu, juga untuk mengurangi risiko penularan perinatal kepada janin atau neonatus. Ternyata ibu dengan jumlah virus sedikit di dalam plasma (<1000 salinan RNA/ml), akan menularkan HIV ke bayi hanya 22%, sedangkan ibu dengan jumlah muatan virus banyak menularkan infeksi HIV pada bayi sebanyak 60%. Jumlah virus dalam plasma ibu masih merupakan faktor prediktor bebas yang paling kuat terjadinya penularan perinatal. Karena itu, semua wanita hamil yang terinfeksi HIV harus diberi pengobatan antiretrovirus (ARV) untuk mengurangi jumlah muatan virus. Menurut Kementerian Kesehatan RI dalam Pedoman Nasional Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (2012:22), tujuan pemberian ARV adalah sebagai berikut: a. Mengurangi laju penularan HIV di masyarakat b. Menurunkan angka kesakitan dan kematian yang berhubungan dengan HIV c. Memperbaiki kualitas hidup ODHA d. Memulihkan dan memelihara fungsi kekebalan tubuh, dan e. Menekan replikasi virus secara maksimal. Cara paling efektif untuk menekan replikasi HIV adalah dengan memulai pengobatan dengan kombinasi ARV yang efektif. Semua obat yang dipakai harus dimulai pada saat yang bersamaan pada pasien baru. Terapi kombinasi ARV harus menggunakan dosis dan jadwal yang tepat. Obat ARV harus diminum terus menerus secara teratur untuk menghindari

timbulnya resistensi. Diperlukan peran serta aktif pasien dan pendamping/keluarga dalam terapi ARV. Di samping ARV, timbulnya infeksi oportunistik harus mendapatkan perhatian dan tatalaksana yang sesuai (Kemenkes RI, 2012: 22). Pemilihan antiretrovirus untuk ibu hamil terinfeksi HIV sama dengan ibu yang tidak hamil. Yang harus diketahui dari ibu hamil terinfeksi HIV adalah status penyakit HIV (beratnya penyakit AIDS ditentukan berdasarkan hitung sel T CD4+, perkembangan infeksi ditentukan berdasarkan jumlah muatan virus, antigen p24 atau RNA/DNA HIV di dalam plasma), riwayat pengobatan antiretrovirus saat ini dan sebelumnya, usia kehamilan, dan perawatan penunjang yang diperlukan seperti perawatan psikiater, nutrisi, aktivitas seksual harus memakai kondom, dan lain-lain. ARV cukup aman diberikan kepada ibu hamil. Obat ini tidak bersifat teratogenik pada manusia, dan tidak bersifat lebih toksik pada ibu hamil dibandingkan dengan ibu tidak hamil. Walaupun demikian, pemantauan jangka penwdek dan jangka panjang tentang toksisitas dari paparan sampai penggunaan kombinasi ARV untuk janin di dalam kandungan dan pada bayi adalah sangat penting, karena keterbatasan informasi, dan data yang ada sering tidak sesuai (Setiawan, 2009: 492). Indikasi pemberian antiretrovirus pada wanita hamil sama dengan pada wanita tidak hamil. Untuk wanita hamil yang sudah mendapat pengobatan antiretrovirus, keputusan untuk mengganti obat adalah sama dengan wanita tidak hamil. Rejimen

kemoprofilaksis ZDV diberikan tunggal atau bersama dengan antiretrovirus lain, mulai diberikan pada usia kehamilan 14 minggu dan jangan ditunda. Karena dengan menunda maka efektivitasnya akan menurun. Hal ini harus didiskusikan dan ditawarkan kepada seluruh ibu hamil yang terinfeksi agar risiko penularan HIV perinatal berkurang (Setiawan, 2009: 492).

Menurut

Made

Setiawan

(2009:492),

walaupun

keputusan pemilihan dan penggunaan ARV berbeda-beda, umumnya keputusan dibuat berdasarkan pertimbangan: a. Risiko penyakit berkembang pada ibu bila tanpa pengobatan b. Manfaat untuk menurunkan jumlah virus, agar risiko penularan perinatal berkurang c. Kemungkinan terjadi toksisitas obat d. Kemungkinan ada infeksi oleh virus yang sudah resisten obat e. Efek paparan obat jangka panjang pada bayi dalam kandungan. Menurut I Made Setiawan (2009:492), CDC and

Prevention USA menyarankan untuk memberikan pengobatan dan profilaksis antiretrovirus kepada ibu pada saat intrapartum sebagai berikut: a. Pemberian ZDV intravena disarankan untuk seluruh ibu hamil terinfeksi HIV, tanpa memandang jenis antivirus yang diberikan pada saat antepartum; ini bertujuan mengurangi penularan HIV perinatal. b. Untuk ibu yang mendapat pengobatan antivirus antepartum

yang mengandung obat stavudine (d4T), maka obat ini distop selama pemberian ZDV intravena pada saat persalinan. c. Pada mereka yang mendapat antiretrovirus kombinasi,

pengobatannya harus diteruskan selama persalinan dan sebelum dilakukan bedah saesar sesuai jadwal dengan tepat. d. Mereka yang mendapat terapi kombinasi dengan dosis yang sudah ditentukan termasuk ZDV, maka pada saat persalinan harus diberi ZDV intravena, sementara komponen antiretrovirus yang lain terus diberikan secara oral. e. Untuk ibu yang sudah mendapat antiretrovirus tetapi pada saat menjelang persalinan ternyata jumlah penurunan virus kurang optimal (misal >1000 salinan/mL) maka disarankan untuk dilakukan bedah saesar. Tidak disarankan untuk

menambahkan NVP dosis tunggal pada saat intrapartum atau kepada neonatus yang dilahirkan. f. Ibu dengan status HIV yang tidak jelas yang datang pada saat akan melahirkan, harus dilakukan pemeriksaan tes cepat terhadap antibodi HIV, dan pemberian ZDV intravena harus dimulai jika hasil test positif (tanpa menunggu hasil tes konfirmasi) tes konfirmasi dilakukan sesudah melahirkan, dan bayi harus mulai diberi ZDV. Jika hasil tes positif, maka disarankan untuk memberikan ZDV kepada neonatus selama 6 minggu, dan jika hasil tes negatif, maka pemberian ZDV pada neonatus distop. g. Pada ibu terinfeksi HIV yang sedang melahirkan tetapi tidak mendapat pengobatan antiretrovirus antepartum, disarankan pemberian ZDV intravena selama melahirkan kepada bayinya selama 6 minggu. Beberapa ahli sering mengkombinasi obat ini dengan NVP dosis tunggal yang diberi kepada ibu dan neonatus. Jika digunakan NVP dosis tunggal (sendiri atau dikombinasi dengan ZDV), maka harus dipertimbangkan untuk memberikan 3TC pada saat melahirkan dan kepada ibu diberikan ZDV/3TC selama 7 hari sesudah melahirkan untuk mengurangi terjadinya resistensi virus terhadap NVP pada ibu. Menurut Kementerian Kesehatan RI dalam Pedoman Nasional Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (2012:), ARV pada ibu hamil dengan HIV selain dapat mengurangi resiko penularan HIV dari ibu ke anak adalah untuk mengoptimalkan kondisi kesehatan ibu dengan cara menurunkan kadar HIV serendah mungkin. Pilihan terapi yang direkomendasikan untuk ibu hamil dengan HIV adalah terapi menggunakan kombinasi tiga obat (2 NRTI + 1 NNRTI). Seminimal mungkin hindari triple nuke (3 NRTI). Regimen yang direkomendasikan untuk ibu hamil adalah sebagai berikut:

POPULASI TARGET

PEDOMAN TATALAKSANA

Pasien naive HIV + CD4 350 cell/mm3 asimptomatik Pasien naive HIV + Stadium 2 dengan CD4 350 simptomatik cell/mm 3

atau stadium 3 atau 4 tanpa memandang nilai CD4-nya.

ibu hamil

a. ARV

diberikan

mulai

pada

usia

kehamilan 14 minggu, berapa pun stadium klinis dan nilai CD4-nya b. Jika usia kehamilannya 14 minggu namun ada indikasi, ARV dapat

segera diberikan.
Tabel 2. Saat yang tepat untuk memulai pengobatan ARV pada ibu hamil

Data yang tersedia menunjukkan bahwa pemberian ARV kepada ibu selama hamil dan dilannjutkan selama menyusui adalah intervensi PPIA yang paling efektif untuk kesehatan ibu dan juga mengurangi risiko pebularana HIV dan kematian bayi (Kemenkes RI, 2012: 23). Pemberian ARV untuk ibu hamil dengan HIV mengikuti Pedoman Tatalaksana Klinis dan terapi Antiretroviral pada Orang Dewasa, Kementerian Kesehatan 2011. Pemberian ARV

disesuaikan dengan kondisi klinis ibu dan mengikuti ketentuan sebagai berikut: a. Ibu hamil merupakan indikasi pemberian ARV b. Untuk perempuan yang status HIV-nya diketahui sebelum kehamilan, dan pasien sudah mendapatkan ART, maka saat hamil ART tetap diteruskan dengan regimen yang sama seperti saat sebelum hamil. c. Untuk ibu hamil yang status HIV-nya diketahui sebelum umur kehamilannya 14 minggu, jika ada indikasi dapat diberikan ART.

Namun jika tidak ada indikasi, pemberian ART ditunggu hingga umur kehamilannya 14 minggu. Regimen ART yang diberikan sesuai dengan kondisi klinis ibu. d. Untuk ibu hamil yang status HIV-nya diketahui pada umur kehamilan 14 minggu, segera diberikan ART berapapun nilai CD4 dan stadium klinisnya. Regimen ART yang diberikan sesuai dengan kondisi klinis ibu. e. Untuk ibu hamil yang status HIV-nya diketahui saat menjelang persalianan, segera diberikan ART sesuai kondisi klinis ibu. Pilihan kombinasi regimen ART sama dengan ibu hamil yang lain. Menurut Kementerian Kesehatan RI dalam Pedoman Nasional Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (2012:24), rekomendasi ART pada ibu hamil dengan HIV dan ARV profilaksis pada bayi adalah sebagai berikut: NO. SITUASI KLINIS REKOMENDASI PENGOBATAN (paduan untuk ibu) 1. ODHA terapi sedang a. Lanjutkan ARV, paduan (ganti dengan

NVP atau golongan PI jika sedang menggunakan EFV pada trimester I) b. Lanjutkan dengan paduan ARV yang sama selama dan sesudah

kemudian hamil

persalinan 2. ODHA dengan dalam klinis jumlah 350/mm3 1 hamil Mulai ARV pada minggu ke-14

jumlah kehamilan. Paduan terapinya sebagai stadium berikut: atau > dan a. AZT + 3TC + NVP* atau b. TDF + 3TC (atau FTC) + NVP* c. AZT + 3TC + EFV** atau d. TDF + 3TC (atau FTC) + EFV**

CD4

belum terapi ARV

3.

ODHA dengan

hamil Segera

mulai

terapi

ARV

dengan

jumlah paduan seperti butir 2

CD4 < 350/mm3 atau stadium

klinis 2, 3, 4 4. ODHA hamil a. OAT tetap diberikan b. Paduan untuk ibu, bila pengobatan mulai trimester II dan III: AZT (TDF) + 3TC + EFV 5. Ibu hamil dalam masa persalinan dan status HIV tidak diketahui a. Tawarkan persalinan; persalinan b. Jika hasil tes reaktif, dapat diberikan paduan pada butir 2 6. ODHA pada persalinan datang Paduan pada butir 2 masa dan tes HIV dalam tes masa setelah

dengan TBC aktif

atau

belum mendapat terapi ARV Profilaksis ARV untuk bayi Keterangan: * Penggunaan NVP pada perempuan dengan CD4 > 250 cell/mm3 atau yang tidak diketahui jumlah CD4-nya dapat menimbulkan reaksi hipersensitif ** EFV tidak boleh diberkan pada ODHA hamil trimester 1 karena teratogenik. Pemerintah menyediakan ARV untuk ibu hamil sebagai upaya untuk mengurangi risiko penularan HIV dari ibu ke anak, termasuk untuk tujuan jangka panjang. AZT 4 mg/kgBB, 2x/hari, mulai hari ke-1 hingga 6 minggu

Perempuan HIV positif

Tidak hamil < 14 minggu

Hamil 14 minggu

Terapi sesuai kriteria ART dewasa

Stadium klinis 1 atau jumlah CD4 > 350 mm3

Stadium kliis 2, 3, 4 atau jumlah CD4 350 mm3

Tunda ART s/d usia kehamilan 14 minggu

Mulai terapi ARV

Gambar 2. Alur pemberian terapi antiretroviral pada ibu hamil

DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan penyehatan Lingkungan. 2012. Pedoman Nasional

Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) Edisi Kedua. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. McFarland, Elizabeth J. 2003. Human Immunodeficiency Virus (HIV) Infection in:Current Pediatric Diagnosis&Treatment. 16th edition.. McGraw&Hill Company. Singapore (1140-50). Rusadi, Rulina. 2003. Tatalaksana Bayi dari Ibu Pengidap

HIV/AIDS.Volume 4 Nomor 4. Setiawan, I Made. 2009. The Prevention Management of HIV Vertical Transmission from Infected Mothers to Their Child. Volume 59 Nomor 10.