Anda di halaman 1dari 70

Syukur Alhomdulillohirabbilolomin

atas tersusunnya

buku ini. Buku yang berjudul "Cetak Sawah

Indonesia" ini menyajikan berbagai hal tentang perkembangan kegiatan perluasan sawah di sejumlah daerah dalam kurun waktu tertentu (hingga buku ini diterbitkan), seputar tahapan pelaksanaan kegiatan

cetak sawah, aspek sosial ekonomi rnasyarakat, serta berbagai hal penting lainnya dalam pengembangan ke depan. Buku ini juga bisa menjadi referensi berbagai pihak yang diambil dari pengalaman di beberapa daerah. Semua tersaji secara lugas dan dilengkapi foto-foto agar kondisi lapangan terlihat jelas apa adanya. Sehingga dapat memberikan gambaran terkait kegiatan perluasan sawah yang telah dilakukan selama ini, dan memahami betapa pentingnya upaya pemerintah dalam menopang ketahanan pangan nasional. Seperti kita ketahui, dalam beberapa tahun terakhir kebutuhan pangan terus meningkat, sedangkan alih fungsi lahan sawah setiap tahun terjadi secara massif pada areal persawahan yang cukup luas. Oleh karena itu, upaya penambahan baku lahan tanaman pangan melalui perluasan sawah menjadi sangat penting dalam upaya mempercepat pencapaian surplus beras nasionallO juta ton tahun 2014. Kegiatan perluasan sawah secara teknis harus dilaksanakan secara berurutan, mulai dari identiflkasi dan penetapan lokasi, surveij investigasi, desain, konstruksi, sampai dengan pemanfaatan sawah baru. Mengingat perluasan sawah merupakan investasi publik, rnaka dalam pelaksanaannya diperlukan kerjasama berbagai pihak baik tingkat pusat maupun daerah. Bahkan sejak beberapa waktu terakhir ini tentara pun dilibatkan, yakni melalui kegiatan 'Tentara Mendukung Ketahanan Pangan (TMKP)". Keterlibatan jajaran TNI diharapkan mampu memberikan akselerasi demi tercapainya target perluasan sawah dalam waktu yang cepat, tepat dan berkualitas. Mengingat banyaknya pihak yang terlibat, rnaka diperlukan koordinasi yang intensif, informasi dan komunikasi yang baik antar berbagai komponen dalarn kegiatan cetak sawah. untuk itulah, salah-satunya, buku ini diharapkan mampu memberikan pencerahan dalam kegiatan tersebut. Akhir kata, kepada berbagai pihak yang terlibat dalarn mendukung penerbitan ini kami ucapkan terima kasih. Semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua, dan upaya perluasan sawah di negeri tercinta dapat terlaksana sesuai yang telah direncanakan, serta membawa berkah bagi peningkatan kesejahteraan petani dan kejayaan anak bangsa. Amin ... Jakarta, Desernber 2013 Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian

Dr. Ir. H. Sumarjo Gatot Irianto, MS., DAA

DAFTAR ISI

BAB 1
6 8
10
Cetak Sawah Baru Perjuangan di Tengah Alih Fungsi lahan Kiprah Perluasan Sawah Periode Awal (2006-2010) Periode Kedua (201O-saat ini) Permasalahan Upaya Tindak lanjut

12

TIM PENYUSUN :

lr. Tunggullman Panudju, MSc, Ir. Ikhlas Bahar Nendi, S.P Fadhli Yafas, S.Hut Harni Rahmawati, S.P Sri Rendasih. B, S.P, MM Asep Purnama Hidayat, S.P Hapsoro Aditya Nugroho, S.P, MT Iskak S.T, MM Muhammad Sulaiman
EDITOR:

Zerisky Elfianto

DESAIN & LAYOUT: Tri Hartanto

BAB 2
19
Latar Belakang
Pentingnya cetak Sawah Baru Pelaksanaan Perluasan Sawah

BAB4

37 38

Geliat Cetak Sawah Baru Membentang dari Aceh Hingga Papua Dari Hutan dan Semak Belukar Menjadi Sawah Produktif

22 24 26 27 27 28 30 32

Pengendalian dan Pengawasan Kegiatan Perluasan sawah Tahapan Surveil Investigasi

BAB5 55
Testimoni Geliat Lahan Semangat Petani

Penetapan Calon Petani dan Calon Lokasi Perluasan Sawah Desain Vegetasi Konstruksi (Land Clearing, Land Levelling) Pemanfaatan Sawah Baru

BAB 6

62

SUCCES STORY
Cetak Sawah Dalam Bidikan Pers

BAB 7 BAB 3

~I
Evaluasi dan Pelaporan

Peluang, Tantangan dan Kendala

34 36

BAB 8
Monitoring, Pengawasan & Penyerahan Hasil Pekerjaan

72

Penutup Kesimpulan

dan Saran

BAB 1

Ketahanan pangan merupakan salah satu faktor penentu dakam stabilitas nasional suatu negara, baik di bidang ekonomi, keamanan, politik dan sosial. Oleh sebab itu, ketahanan pangan merupakan program utama dalam pembangunan pertanian saat ini dan masa mendatang.

Pemerintah telah mencanangkan tema untuk Ketahanan Pangan periode 2009 2014 adalah Peningkatan Ketahanan Pangan untuk Mewujudkan Kemandirian Pangan, Peningkatan Daya Saing Produk Pertanian, Peningkatan Pendapatan Petani, serta Kelestarian Lingkungan dan Sumber Saya Alam Melalui Program Revitalisasi Pertanian. Kesepakatan yang dicapai dalam Musrenbangnas yang diselenggarakan BAPPENAS pada tanggal 4 Mei 2010 menunjukkan bahwa perluasan lahan pertanian menempati posisi teratas dalam arah kebijakan untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Cetak Sawah Baru

Perjuangan di Tengah Alih Fungsi Lahan


ndonesia merupakan negara agraris dimana pembangunan di bidang pertanian menjadi prioritas utama karena Indonesia merupakan salah satu negara yang memberikan komitmen tinggi terhadap pembangunan ketahanan pangan sebagai komponen strategis dalam pembangunan nasional. UU No.7 tahun 1996 tentang pangan menyatakan bahwa perwujudan ketahanan pangan merupakan kewajiban pemerintah bersama masyarakat. Mayoritas mata pencaharian masyarakat Indonesia adalah di sektor pertanian. Populasi penduduk yang kian meningkat tidak sebanding dengan luasnya lahan yang digunakan untuk pemukiman. Sedangkan kebutuhan akan pangan terus meningkat secara tajam. Akibatnya lahanlahan produktif yang seharusnya dapat digunakan sebagai lahan pertanian yang manghasilkan kini mulai berkurang. Alih fungsi lahan pertanian di tanah air terus berlangsung sejak lama. Konversi lahan (dari sawah menjadi lahan lain) tersebut diperkirakan mencapai 100.000 hektar per tahun. Tidak hanya itu, iklim yang berpancaroba serta berbagai permasalahan ekonomi, menghantarkan kita pada suatu kondisi yang menakutkan. Krisis pangan. Perubahan menuju ke arah itu begitu cepatnya. Pada pertengahan 2008 misalnya, Food and Agriculture Organization (FAO) memperkirakan jumlah penduduk yang kelaparan akibat kenaikan harga pangan

akan bertambah 50 juta orang dari angka tahun sebelumnya (2007). Cetak Sawah Ekstensifikasi pertanian perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya penurunan produksi hasil pertanian dan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Meski untuk mencetak sawah baru bukan hal yang mudah, namun berbagai upaya harus tetap ditempuh. Kementerian Pertanian Republik Indonesia, melalui Direktorat Perluasan dan Optimasi Lahan - Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), sudah berjuang dalam membuka lahan-lahan pertanian, termasuk cetak sawah baru di berbagai daerah. Terobosan ini tak lain adalah demi memperkuat ketahanan pangan nasional. Sejak beberapa tahun terakhir saja ratusan ribuan hektar sawah baru telah terbentang. Upaya yang dilakukan Kementerian Pertanian ini bagaikan berpacu dengan aktifitas alih fungsi lahan pertanian yang telah berlangsung sejak lama. Bak membuka gulungan karpet, ribuan hektar sawah membentang di sejumlah wilayah. Hamparan hijau pucuk-pucuk serta bulir padi yang menguning, memberikan harapan penguatan ketahanan pangan. Namun tentu, proses itu tidaklah semudah membalik telapak tangan. Banyak proses dalam berbagai tahapan pun harus ditempuh.***

Kiprah Perluasan Sawah


Periode Awal (2006-2010)
Dalam upaya ekstensifikasi lahan sawah, pemerintah melalui Perpres No. 10 tahun 2005 dan ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Pertanian No. 299/ Kpts/OT.140/7/2005 telah membentuk sebuah institusi yaitu Direktorat Jenderal Pengolahan Lahan dan Air (PLA) yang salah satu tugas dan fungsinya untuk mengelola perluasan areal tanam beberapa komoditi, termasuk padi. Dengan fokus kegiatan pada daerah di Luar Jawa, selama periode 2006-2010, Direktorat Jenderal PLA telah mencetak sawah seluas 69.102 Ha. Untuk jangka waktu 5 tahun, luasan tersebut memang kurang mengesankan. Keterbatasan alokasi anggaran merupakan pembatas utama dari program perluasan sawah ini. Periode awal dari kegiatan perluasan sawah merupakan periode pembelajaran dari pihak-pihak yang terkait dengan program ini, baik pusat maupun daerah. Mengingat barunya program ini, banyak pihak yang terkait belum familiar dengan pola pelaksanaannya. Banyak hal teknis dan administrasi yang belum dikuasai dan dipahami secara baik. Tidak jarang kondisi ini kerap menimbulkan kegamangan dari pihak daerah selaku pelaksanaan kegiatan ini di lapangan.

Periode Kedua (2010-saat ini)


Pada fase ini kegiatan perluasan sawah ditangani oleh eselon satu baru yang bernama Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian. Pada periode ini Menteri Pertanian telah menandatangani kontrak kinerja dengan Presiden RI untuk membuka lahan baru seluas 2 juta hektar, baik sawah maupun lahan kering (pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan) dalam rangka swasembada dan swasembada berkelanjutan, sasaran tersebut sebagaimana telah dituangkan didalam Rancangan Rencana Strategis Kementerian Pertanian, Tahun 2010 - 2014. Pada perencanaan yang dilakukan tahun 2010, disediakan anggaran untuk mencetak sawah baru seluas 62.000 Ha untuk tahun 2011. Hingga akhir tahun 2011, dari anggaran tersebut terealisasi sawah baru seluas 62.100 Ha. Pada fase ini terlihat bahwa era perluasan sawah baru mulai terjadi peningkatan volume kegiatan secara signifikan. Pada tahun-tahun berikutnya rencana volume kegiatan perluasan sawah semakin meningkat. Untuk tahun 2012 telah dianggarkan untuk mencetak 100.000 ha sawah baru, dan untuk periode 2013-2014, direncanakan akan dianggarkan perluasan sawah seluas 100.000 ha tiap tahunnya.

Tabel perkembangan volume kegiatan perluasan sawah dari tahun 2006-2014 TAHUN 2006 - 2010 2011 2012 2013 2014 KETERANGAN Perluasan sawah Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air (PLA) Perluasan sawah Direktorat Jenderal Sarana dan Prasarana Pertanian (PSP) Perluasan sawah Direktorat Jenderal Sarana dan Prasarana Pertanian (PSP) Rencana perluasan sawah Direktorat Jenderal Sarana dan Prasarana Pertanian (PSP) LUAS (HA) 69.102 62.100 100.000 200.000

Permasalahan
Masih cukup luasnya potensi lahan yang terdapat di luar Pulau Jawa, terutama pada Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua menyebabkan sangat prospektifnya kegiatan perluasan sawah. Namun bukan berarti pemilihan tempat-tempat tersebut untuk perluasan sawah tidak menyisakan masalah, terutama dalam konteks sosial. Kombinasi berbagai regulasi yang terlalu jawa sentris di zaman orde baru telah menimbulkan kesenjangan kultur agraris. Berbagai induksi teknologi pertanian, pembangunan sarana dan prasarana pertanian, intensitas penyuluhan yang tinggi dan pembinaan kelompok tani yang cukup intensif telah menjadikan rata-rata petani di Jawa memiliki kapasitas bertani yang lebih bervisi dibanding petani di luar Jawa. Di banyak tempat di luar Pulau Jawa bertanam padi bagi petani bukanlah pilihan utama dalam kegiatan pertanian mereka. Minimnya sarana dan prasarana serta keterbatasan pengetahuan menjadikan kegiatan bersawah adalah sampingan setelah kegiatan lain. Seperti yang dapat kita temui di beberapa tempat di Pulau Sumatera dan Kalimantan, dimana rata-rata petani lebih suka mengusahakan tanaman perkebunan seperti sawit, kelapa, lada, karet dan sebagainya. Bahkan tidak jarang kemudian sawah-sawah yang mereka miliki ditanami dengan komoditas non padi seperti yang disebut diatas. Tentu saja kita tidak bisa menyalahkan mereka begitu saja, walaupun apa yang dilakukan tersebut berpotensi untuk membuat produksi beras nasional semakin menurun. Namun dengan semakin mahalnya biaya produksi tanaman padi

10

plus rendahnya harga jual gabah dan semakin menggiurkannya harga jual tanaman non padi, membuat apa yang dilakukan petani tersebut menjadi masuk akal. Masalah lain yang muncul adalah minimnya informasi ketersediaan lahan yang dapat dikembangkan menjadi kawasan pertanian tanaman pangan. Walaupun sering disebutkan bahwa daerah-daerah diluar Pulau Jawa memiliki potensi lahan yang memadai untuk pengembangan kawasan tanaman pangan, namun informasi yang dapat dijadikan rujukan untuk arahan perencanaan pengembangan kawasan tanaman pangan sangat tidak memadai. Jarang sekali pemerintah daerah yang menyusun informasi sumberdaya lahan yang dilengkapi kajian kesesuaian dan arahan komoditas. Akibat minimnya informasi tersebut tidak jarang kegiatan perluasan sawah ditempat-

kan pada kawasan-kawasan yang secara agroekologi kurang sesuai untuk tanaman padi, sehingga alih-alih memberikan kontribusi peningkatan produksi, sawahsawah tersebut kembali menjadi lahan terlantar dan tidak digarap. Masalah ketersediaan jaringan pengairan, baik irigasi maupun drainase, merupakan masalah lain yang kerap menjadi penghalang optimumnya tingkat produksi di sawah-sawah baru. Air merupakan faktor utama dalam produksi padi sawah. Pada sawah-sawah baru seringkali belum terdapat infrastruktur pengairan yang memadai untuk mendukung pertanaman padi. Lemahnya perencanaan kegiatan serta tidak terjadinya integrasi program menyebabkan tidak segera tersedianya infrastruktur pengairan pada sawahsawah baru tersebut.

11

Upaya Tindak Lanjut


Kesuksesan program perluasan sawah akan menjadi bagian penting dari upaya menjaga ketahanan pangan dan pencapaian swasembada pangan berkelanjutan di negara ini. Untuk itu keterlibatan pihak-pihak terkait menjadi keniscayaan dalam program ini. Ego sektoral yang kerap dituding sebagai penghalang dalam keberhasilan berbagai program pemerintah harus dapat diminimalisir dalam program perluasan sawah, karena sangat mungkin program ini merupakan bagian penting dari masa depan pangan di negara ini. Hal utama dari kegiatan perluasan sawah adalah informasi ketersediaan lahan. Kepastian lahan merupakan prasyarat kegiatan ini dapat berjalan baik. Lahan yang dapat dikembangkan untuk program perluasan sawah, selain sesuai secara agroekologi, juga harus bebas dari masalah status dan sengketa kepemilikan atau pengelolaan. Untuk itu peran Kementerian Kehutanan dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) menjadi penting disini. Kementerian Kehutanan dapat berperan dalam menyediakan informasi lahanlahan yang telah dilepas dari kawasan hutan dan BPN dapat berperan dalam menyajikan data-data lahan yang bebas sengketa dan telah ditelantarkan saat ini. Terkait dengan pembangunan infrastruktur pada lokasi perluasan sawah baru, terutama infrastruktur pengairan serta jalan, maka perlu dilakukan sinergi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk merencanakan pembangunan infrastruktur-infrastruktur tersebut pada lokasi sawah baru. Sedini mungkin koordinasi harus dilakukan, agar pada saat kegiatan perluasan sawah selesai dilaksanakan, berbagai infrastruktur tersebut dapat segera dimanfaatkan. Keberadaan petani pengolah sawah baru juga menjadi bagian penting dari keberhasilan program sawah baru. Kondisi yang dihadapi kegiatan perluasan sawah terkait dengan petani pengolah sawah baru dapat dipetakan pada dua kondisi. Pertama, pada lokasi sawah baru telah terdapat petani penerima manfaat, namun dominan dari mereka berasal dari petani perkebunan (sawit, karet dan sebagainya) yang kurang bisa konsisten dalam berusaha tani sawah. Untuk mengatasi hal ini, maka sejak awal perencanaan dan penjaringan kebutuhan terhadap program perluasan sawah, pihak Dinas Pertanian Kabupaten perlu melakukan seleksi terhadap petani pengusul atau petani pada lokasi yang direncanakan. Petani yang dicalonkan sebagai penerima manfaat kegiatan ini haruslah masuk dalam kriteria : 1. Betul-betul membutuhkan sawah baru sebagai kegiatan utama mereka; 2. Memiliki komitmen untuk mengerjakan sawah baru yang dicetak; 3. Berkomitmen untuk tidak mengkonversi lahan sawah yang dicetak menjadi penggunaan lain. Terhadap kondisi petani-petani yang telah memenuhi kriteria tersebut diatas namun tidak menguasai agrikultur padi, maka pihak dinas pertanian setempat harus mengupayakan kegiatan-kegiatan yang bertujuan mendampingi petani-petani tersebut dalam berusaha tani. Dinas Pertanian setempat dapat berkoordinasi dengan Bakorluh untuk ketersediaan tenaga pedampingan petani-petani tersebut. Kedua, pada lokasi-lokasi dengan tingkat kesesuaian lahan yang baik untuk komoditas padi tidak terdapat cukup sumberdaya petani yang akan mengerjakan sawah baru yang akan dibuat, sehingga akan sangat mungkin sawah yang baru yang dicetak akan kembali menjadi lahan terlantar tidak tergarap. Maka untuk kondisi ini, sebelum lahan diajukan untuk program perluasan sawah, dinas pertanian daerah harus melakukan koordinasi dengan dinas nakertrans setempat untuk menjajaki mendatangkan transmigran pada lokasi tersebut. Kebutuhan lain pada lokasi dan kawasan sawah baru seperti kebutuhan sarana produksi pertanian (saprotan) seperti pupuk dan pestisida dan alat dan mesin pertanian dapat didorong penyediaan secara terjangkau oleh petani dengan dukungan dari Kementerian BUMN. Terhadap BUMN yang memiliki bisnis inti pada barang-barang tersebut, diharapkan Kementerian BUMN mampu mendorong mereka untuk mempermudah pengadaannya pada lokasi dan kawasan sawah baru tersebut.

12

13

Tabel Matrik koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk keberhasilan kegiatan perluasan sawah KOORDINASI BPN dan Kehutanan Kemen PU Bakorluh Kemenakertrans Kemen BUMN HAMBATAN YANG DIATASI ketersediaan lahan yang dapat digunakan untuk perluasan sawah Penyiapan infrastruktur dasar (Bendungan/waduk, saluran primer, saluran sekunder, kanal drainase dan jalan pemukiman) Pendampingan petani dalam mengolah sawah baru Penyiapan transmigran yang siap untuk mengelola lahan-lahan sawah baru Pensuplai benih, pupuk, alsin dan sarana pertanian lainnya.

Terlepas dari apakah ini target yang realistis atau tidak, potensi lahan yang dapat untuk dikembangkan menjadi sawah baru cukup besar. Dari hasil olahan data yang didapat dari Puslitbangtanak (2001) dan BPS (2000), setidaknya ada sekitar 13,25 juta hektar lahan non rawa (mineral) dan sekitar 3,5 juta hektar lahan rawa atau pasang surut yang dapat dijadikan sawah baru. Dari data ini mestinya upaya ekstensifikasi memiliki prospek yang jelas. Tinggal sekarang pertanyaannya adalah sejauh mana daya dukung dari pemerintah secara keseluruhan untuk mendukung upaya ekstensifikasi ini? Banyak hal yang mesti dipastikan oleh pemerintah untuk menunjukkan bahwa mereka betul-betul serius untuk melaksanakan upaya perluasan areal tanam ini. Apalagi terciptanya areal pertanian sawah ini juga merupakan bagian dari Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan yang dicanangkan pemerintah pada tanggal 11 Juni 2005 lalu. Mengingat pencetakan areal sawah baru membutuhkan

dana yang tidak sedikit, maka sangat diperlukan adanya komitmen dukungan dana dari APBN. Adalah sangat wajar rasanya pemerintah menggelontorkan dana untuk pencetakan sawah ini, karena nantinya akan berdampak pada banyak hal, seperti terserapnya tenaga kerja, meningkatnya produksi beras dan dapat menekan volume impor beras. Selain itu, karena berada pada lokasi baru, areal sawah baru dapat diperkirakan minim sarana dan prasarana, terutama saluran irigasi, drainase dan akses jalan yang memadai. Agar usahatani di areal baru ini dapat berjalan optimal, maka pemerintah harus mengintegrasikan berbagai kegiatan pendukung yang terkait di lokasi areal baru tersebut, seperti pembangunan irigasi dan drainase, pembuatan akses jalan, pengadaan alat dan mesin pertanian dan sebagainya. Banyak cerita gagal dari areal baruyang tentu tidak ingin kita ulangikarena tidak tersedianya sarana-sarana pendukung tersebut.***

14

15

16

17

BAB 2

Untuk mencetak satu hektar sawah diperlukan biaya sekitar Rp 10 juta. Dana ini diberikan dalam bentuk bantuan sosial (bansos) kepada petani. Penyaluran dananya langsung ke masing-masing gabungan kelompok tani (gapoktan), dan bukan ke individu. Lalu dari gapoktan dibagi-bagi lagi untuk berbagai keperluan dalam membuka areal perluasan tanah. Prosedur perluasan areal sawah ini awalnya adalah melakukan Survei Investigasi Desain (SID). Dalam SID digambarkan tanah yang akan dicetak, lokasinya, dan sumber airnya. Kemudian dilihat Calon Petani Calon Lokasi (CPCL). Ini menunjukkan siapa yang berhak mendapatkan lahan itu. CPCL ini harus diketahui lurah, camat dan disahkan bupati setempat.

18

LATAR BELAKANG

Pentingnya Cetak Sawah Baru


Kegiatan perluasan sawah secara teknis dimulai dari identifikasi calon petani dan calon lokasi, Survei/Investigasi dan Desain (SID), penetapan lokasi sampai dengan pelaksanaan konstruksi perluasan sawah dan pemanfaatannya. A. Tujuan Tujuan kegitan ini adalah menambah luas baku lahan tanaman pangan melalui kegitan peruasan sawah. B. Sasaran Sasaran areal perluasan swah tahun 2010-2014 sesuai dengan Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian sebesar 374.125 Ha.Sedangkan sasaran perluasan sawah TA.2013 yang dibiayai dari APBN direncanakan sluas 65.000 Ha.***

19

Kegiatan perluasan sawah diarahkan pada lahan irigasi, lahan rawa dan lahan tadah hujan dengan mengikuti norma, standar teknis, prosedur dan kriteria sebagai berikut: 1. Norma Perluasan sawah pada lahan beririgasi merupakan upaya untuk menambah baku lahan sawah yang dilakukan didaerah irigasi baik irigasi teknis, setengah teknis maupun irigasi desa yang sudah mempunyai jaringan irigasi sampai pada tingkat tersier atau akan dibangun jaringan tersebut yang selesainya bersamaan dengan selesainya sawah dicetak. Pembukaan lahan baru ini dilakukan dalam satu hamparan sehingga dapat terairi seluruhnya. Lahan harus berada pada kawasan budidaya dan bukan berada pada kawasan hutan lindung. 2. Standar Teknis Standar teknis lokasi perluasan sawah pada lahan irigasi adalah : a. Berada pada satu hamparan dengan luas > 10 hektar b. Lebih diutamakan/diperioritaskan pada lahan dengan kemiringan lahan < 5% c. Dekat dari pemukiman Untuk lahan rawa : 1. Berada pada satu hamparan. 2. Luas satu hamparan > 10 hektar. 3. Lahan dengan kedalaman pirit minimal 60 cm. 4. Dekat dengan pemukiman. 3. Prosedur Prosedur perluasan sawah pada lahan irigasi adalah : a. Identifikasi calon petani dan calon lokasi (CPCL) b. Survei/lnvestigasi c. Penetapan Lokasi d. Desain e. Konstruksi (Land Clearing dan Land Levelling) f. Bantuan saprotan untuk pemanfaatan lahan sawah baru

4. Kriteria Kriteria perluasan sawah pada lahan irigasi adalah : a. Tersedia air irigasi dalam jumlah yang cukup minimal untuk satu kali musim tanam. b. Lahan sesuai untuk tanaman padi sawah berdasarkan ketentuan dan kriteria yang berlaku. c. Sudah ada petani dalam suatu wadah kelompok. Apabila belum ada kelompok tani, para petani tersebut bersedia untuk membentuk kelompok tani kegiatan perluasan sawah. d. Status kepemilikan tanah sudah jelas dan tidak sengketa/ tumpang tindih dengan program/kegiatan lainnya. e. Luas kepemilikan lahan maksimum 2 Ha/ KK. f. Petugas penyuluh pertanian lapangan sudah ada. g. Lokasi mudah diakses atau dekat jalan desa. h. Diutamakan pada lahan bervegetasi ringan atau sedang. Untuk lahan rawa : 1. Lahan sesuai untuk tanaman padi sawah rawapasang surut dan atau lebak berdasarkan ketentuandan kriteria yang berlaku. 2. Sudah ada petani dalam suatu wadah kelompok. 3. Status petani jelas bisa pemilik penggarap atau penggarap. 4. Luas lahan pemilik penggarap atau penggarap maksimum 2 Ha/KK. 5. Petugas lapangan sudah ada. 6. Lokasi mudah diakses atau dekat jalan desa. Untuk sawah pada lahan tadah hujan : 1. Mempunyai bulan basah > 3 bulan terutama yang tersedia air untuk 1 kali tanam setahun. 2. Lahan sesuai untuk tanaman padi sawah tadah hujan berdasarkan ketentuan dan kriteria yang berlaku. 3. Sudah ada petani dalam suatu wadah kelompok. 4. Status petani jelas bisa sebagai pemilik penggarap atau penggarap. 5. Luas lahan pemilik dan penggarap maksimum 2 Ha/KK. 6. Petugas lapangan sudah ada. 7. Lokasi mudah diakses atau dekat jalan desa (dapat dilalui oleh kendaraan roda 4).***

20

Mekanisme Kegiatan dan Pola Pembiayaan

PERENCANAAN
KABUPATEN
Usulan Kelompok Tani

PROVINSI
Dinas Pertanian

PUSAT
Ditjen PSP / Dit. Peral & P. Lahan

Dinas Pertanian

Seleksi dan Kompilasi

Seleksi dan Kompilasi

Seleksi dan Kompilasi

Koordinasi dengan Instansi Terkait

Proposal / Kegiatan Indikatif

Koordinasi dengan Instansi Terkait

Usulan/Proposal Kegiatan Deptan

Survey Inventigasi Bappenas / Depkeu Penetapan Lokasi dan Petani oleh Bupati

DPR

Desain Depkeu Dinas Pertanian Usulan/ Proposal Kegiatan

DIPA

PELAKSANAAN
KABUPATEN
Persiapan Petani Land Clearing Pengolahan Lahan

Persiapan Administrasi

Land Levelling

Pengadaan Saprodi

Persiapan Lapangan

Pembuatan Prasarana dan Sarana Pendukung

Penanaman

Perawatan

PELAPORAN DAN EVALUASI


KABUPATEN
Dinas Pertanian

PROPINSI
Dinas Pertanian

PUSAT
Ditjen PSP / Dit. Peral & P. Lahan

21

Pelaksanaan Perluasan Sawah


Identifikasi Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) Identifikasi dilakukan satu tahun sebelum DIPA (T-l) untuk kegiatan perluasan sawah dikeluarkan. Sehingga untuk mendapatkan penganggaran perluasan sawah pada tahun berikutnya, proses identifikasi telah dilakukan pada tahun sebelumnya. Calon lokasi yang akan di tetapkan sedapat mungkin berasal dari usulan petani. Identifikasi dilakukan berdasarkan data, informasi dan pengamatan lapangan yang bertujuan untuk menentukan lokasi perluasan sawah yang secara umum peruntukannya sesuai dengan RTRW atau dokumen tata ruang yang berlaku, standar teknis dan kriteria yang telah ditetapkan. Pemilihan lokasi diutamakan pada lahan dengan tingkat kesulitan terkecil. Identifikasi di lakukan oleh petugas Dinas Pertanian Daerah (provinsi dan k,ibupaten/kota) dengan dibantu oleh masyarakat/aparat setempat. Identifikasi dilakukan juga terhadap calon petani. Petani penerima kegiatan perluasan sawah sedapat mungkin petani yang memang membutuhkan lahan sawah sebagai sumber pendapatan utama keluarga. Penetapan calon petani dilakukan oleh aparat setempat (Kipala Desa/Camat) bersama dengan petugas Dinas Pertanian Kabupaten/Kota berdasarkan hasil identifikasi calon lokasi perluasan sawah.

Koordinasi dengan para petani CP/CL

22

Survei dan Investigasi Survei dan investigasi dilakukan satu tahun sebelum DIPA (T-l) untuk kegiatan perluasan sawah diterbitkan. Secara ideal untuk kegiatan perluasan sawah TA. 2013 laporan Survei dan Investigasi telah tersedia. Namun jika masih terdapat lokasi yang belum memiliki laporan Survei dan Investigasi untuk kegiatan TA. 2013, pelaksanaan Survei dan Investigasi dapat dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan desain dan diharapkan selesai pada bulan Juni 2013. Pembiayaan pelaksanaan kegiatan Survei dan Investigasi diutamakan berasal dari APBD l/ll, namun apabila dana APBD l/ll tidak dapat mengalokasikan kebutuhan tersebut, agar diusulkan melalaui anggaran APBN dengan ketentuan bahwa calon petani dan calon lokasi yang akan diusulkan sudah jelas. Survei/investigasi calon lokasi ialah kegiatan penelitian pada calon lokasi perluasan sawah baik pada Daerah Irigasi, lahan rawa maupun tadah hujan yang bertujuan untuk memperoleh calon lokasi yang layak untuk sawah.

Calon lokasi yang dapat dinyatakan layak untuk perluasan sawah ialah calon lokasi yang memenuhi 8 (delapan) syarat pokok yaitu : 1. Jaringan irigasi/drainase sudah dibangun atau akan dibangun yang selesainya bersamaan dengan selesainya sawah dicetak kecuali sawah tadah hujan. 2. Air tersedia cukup untuk menjamin pertumbuhan padi sekurang-kurangnya satu kali dalam setahun. 3. Kondisi tanah sesuai untuk pertumbuhan tanaman padi. 4. Status kepemilikan tanah jelas, misalnya : tanah milik atau tanah rakyat (marga) atau tanah negara yang diijinkan untuk di garap oleh petani. 5. Batas pemilikan tanah jelas (tidak sengketa). 6. Calon lokasi tidak tumpang tindih dengan program/ proyek lain dan atau program/proyek sejenis di tahun sebelumnya. 7. Petani ada dan berdomisili di desa calon lokasi atau berdekatan dengan calon lokasi serta berkeinginan untuk bersawah. 8. Prasarana penunjang dan kelengkapan lainnya tersedia.
23

Pengendalian Dan Pengawasan Kegiatan Perluasan Sawah

Batasan Teknis
Sawah
lahan usahatani yang secara fisik permukaan tanahnya rata, dibatasi oleh pematang/ galengan, sehingga dapat ditanami padi dengan sistem genangan dan palawija / tanaman pangan lainnya.

Perluasan Sawah

suatu usaha penambahan luasan/ baku lahan sawah pada berbagai tipologi lahan dengan kondisi yang belum dan atau lahan terlantar yang dapat diusahakan untuk usahatani sawah.

Calon lokasi sesuai dengan arahan RTRW Kabupaten/Kota dan Dilengkapi surat tidak masuk kawasan hutan dari Dinas Kehutanan dan surat keterangan tidak terdapat sengketa lahan dari BPN Usulan lokasi harus diselaraskan dengan rencana pembangunan infrastruktur pengairan yang dianggarkan oleh Ditjen PSP Kementan, Ditjen SDA KemenPU atau DAK Irigasi Lokasi diusulkan melalui musrenbang

Kriteria tambahan terhadap Calon Lokasi Cetak Sawah :

Pengendalian & Pengawasan


Proposal cetak sawah dari Kabupaten berisi tentang Calon Petani dan Calon Lokasi yang sudah ditetapkan dan harus sesuai dengan kriteria dari Pedoman Teknis Cetak Sawah : Tersedia air irigasi dalam jumlah yang cukup minimal untuk satu kali musim tanam. Lahan sesuai untuk tanaman padi sawah berdasarkan ketentuan dan kriteria yang berlaku. Sudah ada petani dalam suatu wadah kelompok. Apabila belum ada kelompok tani, para petani tersebut bersedia untuk membentuk kelompok tani kegiatan perluasan sawah. Status kepemilikan tanah sudah jelas dan tidak sengketa/tumpang tindih dengan program/kegiatan lainnya. Luas kepemilikan lahan maksimum 2 Ha/ KK. Petugas penyuluh pertanian lapangan sudah ada. Lokasi mudah diakses atau dekat jalan desa. Diutamakan pada lahan bervegetasi ringan atau sedang.

Tahap Perencanaan

Daftar nama petani beserta luasan lahannya Informasi pendukung lainnya sesuai dengan kriteria yang diminta Hasil pengukuran dalam bentuk peta skala 1 : 1.000 atau 5.000 yang terdiri dari : Peta Situassi Lokasi Peta Topografi Peta Vegetasi Peta Pemilikan Lahan Peta Rancangan Cetak Sawah Berdasarkan peta tsb dibuat RAB yang berisikan tentang biaya untuk kegiatan Land Clearing Land Levelling Galengan Olah Tanah Benih dan Saprodi Tanam TAHAP PELAKSANAAN PEKERJAAN

Seluruh hasil CPCL harus dituangkan dalam bentuk hasil SID yang berisi tentang :

24

Tahap Pelaksanaan Pekerjaan

PPK membentuk Tim Teknis dengan fungsi : mengawal dan melaksanakan sosialisasi kepada para petani dan membentuk kelompok menjadi kompak mengawasi serta mengarahkan poktan dalam penyusunan Rencana Usaha kegiatan Kelompok (RUKK) dengan mengacu kepada RAB dan rencana waktu pelaksanaan Menggerakan kelompok agar sesegera mungkin laksanakan kegiatan sesuai dengan kesepakatan / musyawarah waktu pelaksanaan Menjembatani kelompok dengan pengusaha pemilik alat berat bila diperlukan. Apabila digunakan alat berat, diminta seluruh petani mengawasi pekerjaan operator alat berat Membuat BA Realisasi Pelaksanaan kegiatan fisik dilapangan sebagai dasar pencairan anggaran dari

Bank BA Realisasi Pelaksanaan fisik dilapangan mendasarkan kepada hasil pengukuran ulang oleh Tim Teknis BA serah terima pekerjaan

Tahap Pemanfaatan

Sawah segera ditanam setelah konstruksi selesai Perawatan dan pemeliharaan tanaman Panen

Pertanggung Jawaban Administrasi

Berita acara penyelesaian pekerjaan dengan melampirkan hasil pengukuran ulang Dokumentasi pelaksanaan kegiatan berdasarkan progres : 0 %; 50% dan 100 % serta pertanaman Kelengkapan dokumen/ bukti pembelanjaan Pembuatan pembukuan

Sawah segera ditanam setelah konstruksi selesai. Pertanaman sawah baru 2013 di Bangka Selatan

25

Tahapan Survei/lnvestigasi
a. Persiapan berupa penggandaan peta situasi, peta rancangan jaringan irigasi, irigasi rawa, bahan, peralatan, pembuatan daftar pertanyaan dan tabel-tabel untuk pelaksanaan maupun pengolahan data. Selain itu dipersiapkan bahan dan peralatan yang diperlukan dilapangan. b. Sosialisasi dan koordinasi dengan instansi terkait dan m.isyarakat terhadap rencana persiapan pelaksanaan kegiatan perluasan sawah pada calon lokasi yang akan dikembangkan. Koordinasi terutama dilakukan dengan Bappeda atau Dinas PU untuk kepastian RTRW, Dinas Kehutanan untuk kepastian kawasan, BPN untuk kejelasan status kepemilikan dan DinasPengairan untuk koordinasi sistem jaringan pengairan di lokasi yang direncanakan. c. Pengumpulan data primer dan sekunder. Data primer berupa parameter dan karakteristik lahan yang akan digunakan sebagai acuan penentuan kriteria kesesuaian lahan, debit air, sifat fisik tanah, status kepemilikan lahan kedalaman gambut, nilai ekonomis vegetasi, kesediaan petani, daftar narria petani dan luas lahan, pengukuran dan pemetaan lokasi. Data sekunder berupa pola usahatani, analisis usahatani, penyediaan saprotan, pemasaran hasil, luasan lahan padi sawah di lokasi dan curah hujan baik harian atau bulanan selama satu tahun. d. Tabulasi dan pengolahan data hasil survei. Data hasil survei ditabulasi dan diolah untuk pembuatan laporan hasil survei yang bertujuan untuk menentukan kelayakan calon lokasi dan pembuatan desain. e. Pembuatan laporan kegiatan survei sebagai dasar penetapan lahan sawah yang akan dikonstruksi. Hasil survei calon lokasi perluasan sawah nantinya berupa buku laporan dan daftar lokasi yang dinyatakan layak untuk didesain yang selanjutnya dicetak menjadi sawah dan daftar lokasi yang tidak layak untuk didesain. Untuk setiap lokasi perluasan sawah daerah irigasi (DI) dibuat satu buku laporan yang bertujuan untuk menyusun dan mengumpulkan hasil kegiatan yang mudah dibaca dan diketahui oleh semua pihak yang terlibat dalam pembuatan laporan tersebut.

26

Penetapan Calon Lokasi dan Lokasi Perluasan Sawah


Penetapan calon lokasi dilakukan satu tahun sebelum DIPA (I I) sedangkan penetapan lokasi dilakukan pada tahun bersamaan, setelah DIPA untuk kegiatan perluasan sawah dlkeluarkan. Sehingga untuk mendapatkan penganggaran perluasan sawah pada tahun berikutnya, penetapan calon lokasi telah dilakukan pada tahun sebelumnya. Penetapan calon lokasi perluasan sawah ditanda tangani oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota, sedangkan untuk Penetapan lokasi perluasan sawah ditandatangani oleh Bupati.

Desain
Peta desain dibuat satu tahun sebalum DIPA dikeluarkan (T-1). Jika peta desain belum tersedia atau masih dalam tahap pembuatan, maka proses cetak sawah tetap dapat dilakukan dengan catatan desain harus diselesaikan sebelum pekerjaan konstruksi dimulai. Pelaksanaan kegiatan desain cetak sawah dapat dilakukan dengan pola kontraktual ataupun swakelola, disesuaikan dengan kemampuan anggaran dan kemampuan teknis sumberdaya manusia yang tersedia. Sedangkan metodologi pelaksanaan kegiatan desain dilakukan dengan metode pengukuran terestrial atau kombinasi dengan teknik penginderaan jarak jauh. Sebelum pembuatan desain terlebih dahulu dilakukan penyuluhan terhadap petani pemilik lahan. Tujuannya agar petani memahami kegunaan desain dan manfaatnya dalam pelaksanaan konstruksi.

27

Vegetasi

Dalam membuka lahan untuk perluasan sawah ditemukan tiga kriteria berdasarkan vegetasi di lokasi cetak sawah baru. Kondisi lingkungan, termasuk vegetasinya, akan mempengaruhi tingkat beban kerja di setiap daerah. Ketiga kriteria tersebut ialah vegetasi ringan, sedang dan berat. Dalam hal pembiayaan, selama ini tidak ada perbedaan anggaran (unit cost) cetak sawah pada ketiga kriteria vegetasi tersebut, yakni sebesar Rp 10 juta per hektar. Namun untuk tahun anggaran (TA) 2014 pemerintah melakukan pembedaan unit cost sesuai dengan tingkat kesulitan masing-masing kriteria vegetasi tersebut. Untuk lahan dengan vegetasi ringan disediakan biaya Rp 8,9 juta/ hektar, sedang Rp 10,6 juta/hektar, dan vegetasi berat Rp 13,5 juta/ hektar.

Vegetasi Ringan

28

Vegetasi Sedang

Vegetasi Berat

29

Konstruksi

(Land Clearing, Land Levelling)

Proses selanjutnya adalah kegiatan konstruksi cetak sawah baru (perluasan sawah). Kegiatan inipun memiliki beberapa tahapan, mulai dari mempersiapkan petani (sosialisasi, pendaftaran ulang petani, surat pernyataan kesanggupan petani) persiapan administrasi, hingga persiapan lapangan. Dalam kegian konstruksi perluasan sawah terdapat beberapa jenis kegiatan, yakni pembersihan lahan (land clearing) dan perataan lahan (land leveling), pembuatan pematang batas pemilikan, pembuatan jaringan irigasi tingkat usahatani, jaringan drainase, pembuatan pintu-pintu bagi tersier, pintu klep, dan pembuatan jalan usahatani serta prasarana lain yang bersifat pelayanan umum. Kegiatan land clearing terdiri dari : a. Pembabatan/ penebasan semak belukar b. Penebangan/ penumbangan pohon-pohonan. c. Pemotongan/ perencekan dan pengumpulan batang, cabang dan ranting. d. Pembersihan lahan.

30

Pada kegiatan land clearing, khusus dalam hal pencabutan tunggul dan sisa akar tumbuhan, perlu diperhatikan beberapa hal. Untuk tunggul pohon berdiameter > 30 cm dengan kedalaman akar lebih dari satu meter dapat dibiarkan membusuk di lapangan tanpa harus dicabut. Selain itu pencabutan akar juga tidak dapat dilakukan bila di sekitar zona perakaran diketahui terdapat senyawa pirit atau senyawa racun lainnya. Kegiatan land leveling terdiri dari : a. Penggalian dan penimbunan tanah b. Perataan tanah c. Pemadatan lereng talut teras d. Pembuatan jalan usahatani (JUT) e. Pembuatan jaringan irigasi f. Pembuatan pematang batas pemilikan g. Penyiapan lahan siap tanam

31

Pemanfaatan Sawah Baru

Meski proses pencetakan sawah baru sudah selesai, namun tugas perluasan sawah belum usai sampai diistu saja. Lahan sawah baru yang telah selesai dicetak harus segera dimanfaatkan/ ditanami oleh petani dengan tanaman padi. Untuk menghatarkan petani agar bisa segera mengelola usahataninya perlu didukung dengan berbagai prasarana dan sarana budidaya padi sawah. Alokasi anggaran untuk kegiatan pemanfaatan sawah baru menjadi satu kesatuan dengan kegiatan konstruksi perluasan sawah. Dari anggaran saprotan yang tersedia diharapkan dapat dimanfaatkan untuk pengadaan alat mesin pertanian (Alsintan) seperti hand traktor, sedangkan untuk benih, pupuk, pestisida dan lain sebagainya diharapkan dari swadaya masyarakat atau sumber pembiayaan lainnya.

32

33

BAB 3

Monitor, Evaluasi dan Pelaporan

34

egiatan perluasan atau cetak sawah baru di berbagai daerah tentu tidak terlepas dari pengawasan (monitoring) dan evaluasi dari waktu ke waktu. Hal ini demi suksesnya pelaksanaan kegiatan sesuai rencana. Dari setiap lokasi para Ketua Kelompok Tani secara berkala (1 bulan sekali) menyampaikan laporan hasil pelaksanaan kepada Kuasa Pengguna Anggaran/ Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten/ Kota. Mekanisme pelaporan SIMONEV, SAI dan FORM DA dari Diperta Kabupaten/Kota, Provinsi, bahkan sampai ke pusat harus mengikuti mekanisme yang telah ditetapkan oleh Sekditjen Prasarana dan Sarana Pertanian. Laporan tersebut disampaikan ke Sekretariat Direktorat

Jenderal Prasarana Dan Sarana Pertanian, u.p Kepala Bagian Evaluasi dan Pelaporan Direktorat Jenderal Prasarana Dan Sarana Pertanian, Kantor Pusat Kementerian Pertanian Jln. Harsono RM No.3 Gedung D Lantai VIII, Ragunan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Laporan bulanan perkembangan pelaksanaan fisik konstruksi perluasan sawah setiap bulan dari Diperta Kabupaten/ Kota paling lambat tanggal 5 disampaikan kepada Diperta Propinsi. Sedangkan dari Diperta Propinsi paling lambat tanggal 10 setiap bulan. Laporan ini disampaikan ke Direktorat Perluasan dan Pengelolaan Lahan, Jln. Taman Marga Satwa No. 3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dengan blanko laporan seperti di bawah ini.

PEMANTAUAN PERKEMBANGAN PEKERJAAN PERLUASAN SAWAH TAHUN ANGGARAN 2013

NO.

LUAS HAMPARAN (Ha)

KEL. TANI/DESA/ KEC/KAB/PROV

KONDISI PEKERJAAN

FOTO LOKASI

1.

100

KEL. TANI DESA KEC KAB PROV

: SARI MULYA : RADAK 2 : TERENTANG : KUBU RAYA : KALIMANTAN BARAT

1. Persiapan a. CPCL b. SID c. RUKK d. SK-SK (CPCL, Tim Teknis, korlap, dll) e. Pembukaan Rekening 2. Pelaksanaan a. Transfer Dana b. Konstruksi Rp. Land Clearing Land Leveling Pematang Telah tanam 3. Sumber air utama (pilih salah satu) a. b. c. d. 4. Ketersediaan infrastruktur pengairan (pilih salah satu) a. b. c. Bendungan/waduk Air pasang surut Embung, mata air, sungai Air hujan Sudah ada dari PU Sudah ada Jitut/jides Dalam proses konstruksi Th


: : : : : 840.734.075,00 100,00 Ha 100,00 Ha - Ha 60,00 Ha


- Ha : FEBRUARI Tahun : 2014

5. Alat berat (pilih salah satu)

a. b. c. d.

Tidak pakai Sudah masuk Belum masuk (bergiliran) Pemanfaatan sawah Bulan

6. Perkiraan waktu penyelesaian pekerjaan 7. Koordinat Lokasi 8. Keterangan Lain

X= 348784

Y= 9953128

35

Pengawasan & Penyerahan Hasil Pekerjaan


1. Pengawasan/ Supervisi Pekerjaan Konstruksi Perluasan Sawah Dilakukan oleh Tim Teknis/ Koordinator Lapangan yang telah ditetapkan oleh Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Melakukan pengukuran luasan sawah yang tercetak dengan menggunakan peralatan Global Positioning System (GPS). Ruang lingkup dan pelaksanaan pekerjaan a. Memeriksa patokpatok batas areal yang akan dikonstruksi. b. Melakukan penyesuaian/ perbaikan desain pembukaan lahan. c. Memeriksa hasil pekerjaan Kelompok tani yang didasarkan atas (RUKK) dan perjanjian kerja sama pekerjaan konstruksi pembukaan lahan. d. Memberikan petunjuk dan arahan teknis kepada kelompok tani pelaksana konstruksi perluasan areal sawah. e. Membuat Berita Acara Pemeriksaan Hasil Pekerjaan. Berita Acara ditanda tangani oleh Tim Teknis/ Koordinator Lapangan dan Ketua Kelompok tani serta diketahui oleh Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Selaku KPA. 2. Hasil Pekerjaan Tim Teknis/Koordinator Lapangan Hasil pengawasan pekerjaan dibuat dalam suatu Berita Acara sesuai dengan prestasi pekerjaan yang dicapai oleh kelompok tani 3. Pemeriksaan Hasil Pekerjaan Tim Teknis/Koordinator Lapangan. Dilakukan oleh Pejabat Pembuat Komitmen yang ditetapkan oleh KPA selaku Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten. 4. Penyerahan Hasil Pekerjaan Konstruksi Perluasan Sawah 5. Pembayaran Hasil Pekerjaan Konstruksi Perluasan Sawah Transfer uang ke rekening kelompok dapat dilakukan setelah RUKK disetujui oleh KPA. Pencairan uang dari rekening kelompok untuk pembayaran hasil pekerjaan dilakukan secara bertahap sesuai luasan sawah yang tercetak, yang dinyatakan dengan Berita Acara Hasil Pengukuran Pekerjaan Konstruksi Perluasan Sawah.

Tracking sawah di Kuburaya Kalbar

36

BAB 4

Geliat Cetak Sawah Baru

Membentang dari Aceh Hingga Papua

37

Dari Hutan dan Semak Belukar Menjadi Sawah Produktif


Kualitas tanah adalah kemampuan tanah untuk menampilkan fungsi-fungsinya untuk menopang produktivitas biologi, memperahankan kualitas lingkungan dan meningkatkan kesehatan tanaman, binatang dan manusia. Dalam perkembangannya, sebagian masyarakat lebih suka menggunakan istilah kesehatan tanah dibandingkan kualitas tanah, karena kesehatan tanah lebih menggambarkan kehidupan dan dinamika kehidupan. Sedangkan kualitas tanah lebih menggambarkan sifat-sifat kimia, fisika dan biologi tanah (Winarso, 2005). Tanah yang sehat atau berkualitas akan menunjukkan rendahnya atau bahkan tidak adanya polusi, tidak mengalami degradasi, tanaman tumbuh subur dan sehat serta menghasilkan produk yang aman dikonsumsi baik oleh manusia maupun hewan, dan akan memberikan keuntungan pada petani secara berkelanjutan. Kualitas tanah dapat dipandang dengan dua cara yang berbeda, yaitu: 1. Sebagai sifat/ atribut inherent tanah yang dapat digambarkan dari sifat-sifat tanah atau hasil observasi tidak langsung (seperti kepekaan terhadap erosi atau pemadatan). 2. Sebagai kemampuan tanah untuk menampakkan fungsi-fungsi produktivitas, lingkungan dan kesehatan (Rosmarkam dan Nasih, 2002). Parameter kesuburan tanah standar (pH tanah, kadar bahan organik, N, P, dan K tersedia) merupakan faktor yang sangat penting dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman, produksi tanaman serta fungsi dan keragaman mikroorganisme tanah. Parameter-parameter tanah tersebut umumnya sangat sensitif terhadap pengelolaan tanah. Untuk tanah-tanah terpolusi dan terdegradasi, indikator-indikator tersebut merupakan bagian dari set data minimum dan indikator kimia tanah (Winarso, 2005).

garuh dalam tekstur tanah, terutama pada tanah yang bertekstur sedang sampai kasar akan memperlambat permeabilitas penampang tanah akibat pori-pori tanah terisi atau tersumbat sediment tersebut, dan menurunkan kesuburan tanah. Sedimen atau lumpur yang mengendap dalam saluran irigasi akan mengurangi kapasitas pengaliran air dan memerlukan biaya tinggi untuk membersihkannya. Keberadaan sumberdaya air yang disediakan melalui pembangunan sarana irigasi perlu ditingkatkan nilai fungsinya, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing. Konsentrasi kegiatan usahatani dengan jenis kegiatan yang sama dalam waktu yang bersamaan, seperti kegiatan pengolahan tanah dan panen raya yang selama ini terjadi dan kurang menguntungkan dapat dihindari.

Air
Sumber air harus memenuhi kualitas agar tidak berbahaya bagi tanaman yang akan diairi karena dalam jangka panjang dapat berpengaruh terhadap kualitas hasil atau produk pertanian. Kualitas air irigasi sangat tergantung dari kandungan sedimen atau lumpur dan kandungan unsur-unsur kimia dalam air tersebut. Sedimen atau lumpur dalam air pengairan berpen38

Berikut ini perkembangan kegiatan cetah sawah di beberapa daerah yang dilakukan pada tahun 2012 PROVINSI ACEH
Aceh Barat
Provinsi : Aceh Kabupaten/kota : Aceh Barat Kecamatan : Pante Ceureumen Desa : Seumantuk Kelompok Tani : Beuna Harapan Luas Alokasi Kegiatan : 50 Ha Titik Koordinat : LU : 423 21,038 BT : 9616 35,161

50%
Aceh Barat Daya
Provinsi : Aceh Kabupaten/kota : Aceh Barat Daya Kecamatan : Babahrot Desa : Cot Simantok Kelompok Tani : Kayee Uno Luas Alokasi Kegiatan : 34 Ha Titik Koordinat : N : 35153,259 E : 964138,185 E

100%

0%
Aceh Jaya
Provinsi : Aceh Kabupaten/kota : Aceh Jaya Kecamatan : Setia Bakti Desa : Padang Kelompok Tani : Bahagia I Luas Alokasi Kegiatan : 40 Ha Titik Koordinat : N : 524656 LU E : 780930 BT

100%

50%
Pidie
Provinsi : Aceh Kabupaten/kota : Pidie Kecamatan : Mane Desa : Mane Kelompok Tani : Ade Meurata Luas Alokasi Kegiatan : 48 Ha Titik Koordinat : N : 04 52 154 E : 096 05 151

100%

0%

100%
39

Aceh Singkil
Provinsi : Aceh Kabupaten/kota : Aceh Singkil Kecamatan : Suro Desa : Pangkalan Sulami Kelompok Tani : Maceh Asa Luas Alokasi Kegiatan : 25 Ha Titik Koordinat : N : 203116N E : 980244E

0%
Subulussalam
Provinsi : Aceh Kabupaten/kota : Subulussalam Kecamatan : Sultan Daulat Desa : Laelangge Kelompok Tani : Cinta Perdamaian Luas Alokasi Kegiatan : 25 Ha Titik Koordinat : N : 2 48 28.5 E : 97 50 39.7

100%

0%

50%

PROVINSI JAMBI
Sungai Penuh
Provinsi : Jambi Kabupaten/kota : Sungai Kampung Kecamatan : Tanah Kampung Desa : Koto Tengah Kelompok Tani : Karya Nyata Luas Alokasi Kegiatan : 69 Ha Titik Koordinat : 2 03 51,492 S 101 27 04.825 E

0%
Tanjab Timur
Provinsi : Jambi Kabupaten/kota : Tanjab Timur Kecamatan : Nipah Mandahara Ulu Desa : Mancolok Kelompok Tani : Sinar Sejahtera Luas Alokasi Kegiatan : 200 Ha Titik Koordinat : X : 336735 Y : 9865691

50%

50%
40

100%

Tebo
Provinsi : Jambi Kabupaten/kota : Tebo

50%

100%

PROVINSI LAMPUNG

Banjit
Provinsi : Lampung Kabupaten/kota : Way Kanan Kecamatan : Banjit Desa : Simpang Asam Kelompok Tani : Surya Tani Luas Alokasi Kegiatan : 23,11 Ha Titik Koordinat : S: 044842,3 E: 1043031,3

100%

Dante Teladas
Provinsi : Lampung Kabupaten/kota : Tulang Bawang Kecamatan : Dente Teladas Desa : Pasiran Jaya Kelompok Tani : Pasiran Jaya Luas Alokasi Kegiatan : 230 Ha Titik Koordinat : S: 041837,4 E: 1053554,2

100%

41

Mesuji
Provinsi : Lampung Kabupaten/kota : Mesuji Kecamatan : Mesuji Desa : Mulya Sari Kelompok Tani : Gpk. Makmur Jaya Luas Alokasi Kegiatan : 300 Ha Titik Koordinat : S: 040271,3 E: 1053514,7

100%
Mesuji Timur
Provinsi : Lampung Kabupaten/kota : Mesuji Kecamatan : Mesuji Timur Desa : Pangkal Mas Jaya Kelompok Tani : Gpk. Jaya Sakti Luas Alokasi Kegiatan : 300 Ha Titik Koordinat : S: 040143,4 E: 1053350,7

100%
Panca Jaya
Provinsi : Lampung Kabupaten/kota : Mesuji Kecamatan : Panca Jaya Desa : Adi Mulyo Kelompok Tani : Gpk. Bina Tani Luas Alokasi Kegiatan : 300 Ha Titik Koordinat : S: 035728,8 E: 1051428,6

100%
Rawa Jitu Selatan
Provinsi : Lampung Kabupaten/kota : Tulang Bawang Kecamatan : Rawa Jitu Selatan Desa : Karya Cipta Abadi Kelompok Tani : Karya Mulya Luas Alokasi Kegiatan : 70 Ha Titik Koordinat : S: 041711,0 E: 1054547,5

100%
42

PROVINSI SUMATERA BARAT


Gunung Medan
Provinsi : Sumatera Barat Kabupaten/kota : Darmasraya Kecamatan : Sitiung Desa : Gunung Medan Kelompok Tani : Saluak Luas Alokasi Kegiatan : 54 Ha Titik Koordinat : S : 0 57 04.41 LS E : 100 25 42.59 BT

50%
Koto Tuo
Provinsi : Sumatera Barat Kabupaten/kota : Darmasraya Kecamatan : Sitiung Desa : Koto Tuo Kelompok Tani : Lamai Jaya Luas Alokasi Kegiatan : 31,72 Ha Titik Koordinat : S : 0 59 21.142 LS E : 10134 58.232 BT

100%
Riak Danau Tapan
Provinsi : Sumatera Barat Kabupaten/kota : Pesisir Selatan Kecamatan : BAB Tapan Desa : Riak Danau Tapan Kelompok Tani : Talang Besi Luas Alokasi Kegiatan : 25 Ha Titik Koordinat : S : 207,47.972 LS E : 10103,55.617 BT

25%
Tigo Sungai Inderapura
Provinsi : Sumatera Barat Kabupaten/kota : Pesisir Selatan Kecamatan : Pancung Soal Desa : Tigo Sungai Inderapura Kelompok Tani : Sungai Batang Saiyo Luas Alokasi Kegiatan : 31,75 Ha Titik Koordinat : S : 202,20.523 LS E : 10000,00.105 BT

100%
43

PROVINSI SUMATERA SELATAN


OKU
Provinsi : Sumatera Selatan TA. 2011 Kabupaten/kota : OKU Kecamatan : Sinar Peninjauan Desa : Tanjung Makmur Kelompok Tani : Gotong Royong Luas Alokasi Kegiatan : 23 Ha Titik Koordinat : S: 30 51 34,4 E: 10432 37,8

0%
Karang Agung
Provinsi : Sumatera Selatan TA. 2012 Kabupaten/kota : Musi Banyuasin Kecamatan : Lalan Desa : Karang Agung Kelompok Tani : Teluk Bayur Luas Alokasi Kegiatan : 2.000 Ha X: 451148 Titik Koordinat : Y: 9742985

100%

0%

100%

PROVINSI BANTEN
Lebak
Provinsi : Banten Kabupaten/kota : Lebak Kecamatan : Malingping Desa : Pagelaran Kelompok Tani : Cipager Mukti Luas Alokasi Kegiatan : 80 Ha Titik Koordinat : S.064916,5 E.1060207,1

50%

100%

PROVINSI KALIMANTAN BARAT


Kayong Utara
Provinsi : Kalimantan Barat Kabupaten/kota : Kayong Utara Kecamatan : Sukadana Desa : Pangkalan Buton Kelompok Tani : Pangkalan Timur Luas Alokasi Kegiatan : 50 Ha Titik Koordinat : S:1 13 40.06 E : 109 58 7.73

0%
44

100%

Pontianak
Provinsi : Kalimantan Barat Kabupaten/kota : Pontianak Kecamatan : Toho Desa : Sambora Kelompok Tani : Sido Makmur II Luas Alokasi Kegiatan : 30 Ha Titik Koordinat : N: 0 29 51,2 E : 109 07 58,4

0%
Sekadau
Provinsi : Kalimantan Barat Kabupaten/kota : Sekadau Kecamatan : Belitung Hilir Desa : Merbang Kelompok Tani : Tani Maju Luas Alokasi Kegiatan : 10 Ha Titik Koordinat : LU: 005062.92 BT: 1000481.9

100%

0%

100%

PROVINSI KALIMANTAN TIMUR


Malinau
Provinsi : Kalimantan Timur Kabupaten/Kota : Malinau Kecamatan : Malinau Desa : Batu Lindung Kelompok Tani : Mesokol Nganet Luas Alokasi kegiatan : 49 Ha Titik Koordinat : N : 3 3420,8 E : 116 3844,6

0%
Tana Tidung
Provinsi : Kalimantan Timur Kabupaten/Kota : Tana Tidung Kecamatan : Desa : Kelompok Tani : Luas Alokasi kegiatan : Titik Koordinat : N: E:

100%

0%

100%

45

Tanjung Palas Utara


Provinsi : Kalimantan Timur Kabupaten/Kota : Bulungan Kecamatan : Tanjung Palas Utara Desa : Ruhui Rahayu Kelompok Tani : Karya Makmur Luas Alokasi kegiatan : 30 Ha Titik Koordinat : 1171397 BT 30440 LU

75%

100%

PROVINSI KALIMANTAN SELATAN


Pamanukan Selatan
Provinsi : Kalimantan Selatan Kabupaten/kota : Kota Baru Kecamatan : Pamukan Selatan Desa : Sakadoyan Kelompok Tani : Tunas Harapan Luas Alokasi Kegiatan : 160 Ha Titik Koordinat : 50 M 0429225 UTM 9724096

0%
Pamanukan Utara
Provinsi : Kalimantan Selatan Kabupaten/kota : Kota Baru Kecamatan : Pamanukan Utara Desa : Harapan Baru Kelompok Tani : Sumber Makmur Bersama Luas Alokasi Kegiatan : 146 Ha Titik Koordinat : 50 M 424612 UTM 9728752

80%

0%
Pulau Laut Tengah
Provinsi : Kalimantan Selatan Kabupaten/kota : Kota Baru Kecamatan : Pulau Laut Tengah Desa : Semisir Kelompok Tani : Anugrah Luas Alokasi Kegiatan : 50 Ha Titik Koordinat : 50 M 392337 UTM 9590645

50%

0%

50%

46

PROVINSI KALIMANTAN TENGAH


Kumai
Provinsi : Kalimantan Tengah Kabupaten/kota : Kotawaringin Barat Kecamatan : Kumai Desa : Pangkalan Satu Kelompok Tani : Karya Tani Luas Alokasi Kegiatan : 15 Ha Titik Koordinat : S : 02 38 12 E : 111 44 45

50%

100%

PROVINSI BENGKULU
Bengkulu Tengah
Provinsi : Bengkulu Kabupaten/kota : Bengkulu Tengah Kecamatan : Pematang Tiga Desa : Talang Tengah II Kelompok Tani : Tik Slan Bersatu Luas Alokasi Kegiatan : Ha Titik Koordinat : S : 033450.9 E : 1021435.4

0%
Bengkulu Utara
Provinsi : Bengkulu Kabupaten/kota : Bengkulu Utara Kecamatan : Hulu Palik Desa : Pematang Balam Kelompok Tani : Batu Agung Luas Alokasi Kegiatan : 15 Ha Titik Koordinat : S : 3,2717.8 E : 1021736.4

100%

25%
Curup Selatan
Provinsi : Bengkulu Kabupaten/kota : Kecamatan : Curup Selatan Desa : Tanjung Dalam Kelompok Tani : Lintasan Jaya Luas Alokasi Kegiatan : Ha Titik Koordinat : S : 03 30.16.3 LS E : 102 87.56.9 BT

100%

50%

100%
47

Pondok Kubang
Provinsi : Bengkulu Kabupaten/kota : Bengkulu Tengah Kecamatan : Pondok Kubang Desa :Tanjung Terdana Kelompok Tani : Padang Harapan Luas Alokasi Kegiatan : 74 Ha Titik Koordinat : S : 201.221 E : 9586.613

0%
Rejang Lebong
Provinsi : Bengkulu Kabupaten/kota : Rejang Lebong Kecamatan : Curup Selatan Desa : Tanjung Ulu Kelompok Tani : Sejahtera Luas Alokasi Kegiatan : 10 Ha Titik Koordinat : S : 03 27.10.2 E : 102 33.06.6

100%

80%

100%

PROVINSI SULAWESI BARAT


Karya Bersama
Provinsi : Sulawesi Barat TA. 2012 Kabupaten/kota : Mamuju Utara Kecamatan : Pasangkayu Desa : Karya Bersama Kelompok Tani : Usaha Baru Luas Alokasi Kegiatan : 36 Ha Titik Koordinat : S 98.63500 E 75.9400

50%
Kabiraan
Provinsi : Sulawesi Barat TA. 2012 Kabupaten/kota : Majene Kecamatan : Ulumanda Desa : Kabiraan Kelompok Tani : Tani Bakti Luas Alokasi Kegiatan : 12 Ha Titik Koordinat : S : 03 02 02,1 E : 188 53 32,3

100%

0%
48

100%

Tasokka
Provinsi : Sulawesi Barat TA. 2012 Kabupaten/kota : Mamuju Kecamatan : Karossa Desa : Tasokka Kelompok Tani : Sipakatau Luas Alokasi Kegiatan : 25 Ha Titik Koordinat : LS 01.5324,1 BT 119.2128,8

0%

100%

PROVINSI SULAWESI TENGAH


Bungsu Barat
Provinsi : Sulawesi Tengah Kabupaten/kota : Morowali Kecamatan : Bungku Barat Desa : Umpanga Kelompok Tani : Tunas Mekar Luas Alokasi Kegiatan : 15 Ha Titik Koordinat : S : 02 18 00 E : 121 49 21

50%
Parigi Moutong
Provinsi : Sulawesi Tengah Kabupaten/kota : Parigi Moutong Kecamatan : Desa : Kelompok Tani : Sido Makmur Luas Alokasi Kegiatan : - Ha Titik Koordinat : S : E:

80%

50%

100%

49

PROVINSI SULAWESI TENGGARA


Laaronaha
Provinsi : Sulawesi Tenggara Kabupaten/kota : Konawe Utara Kecamatan : Oheo Desa : Laaronaha Kelompok Tani : Mehia Hia Luas Alokasi Kegiatan : 12 Ha

50%
Puuwonua
Provinsi : Sulawesi Tenggara Kabupaten/kota : Konawe Utara Kecamatan : Andowia Desa : Puuwonua Kelompok Tani : Mehia hia Luas Alokasi Kegiatan : 12 Ha

50%

PROVINSI GORONTALO
Bayan
Provinsi : Nusa Tenggara Barat Kabupaten/Kota : Lombok Utara Kecamatan : Bayan Desa : Dasan Tareng Kelompok Tani : Batu Tulung II Luas Alokasi kegiatan : 30 Ha Titik Koordinat : N : 824 52,27 E : 116 13 52,97

50%
Gentuma Raya
Provinsi : Gorontalo Kabupaten/Kota : Gorontalo Utara Kecamatan : Gentuma Raya Desa : Bohusami Kelompok Tani : Cokelat Barat Luas Alokasi kegiatan : 10 Ha Titik Koordinat : N : 05255,96 E : 117310,80

100%

40%
50

100%

PROVINSI MALUKU UTARA


Halmahera Selatan
Provinsi : Maluku Utara Kabupaten/kota : Halmahera Selatan

0%
Halmahera Tengah
Provinsi : Maluku Utara Kabupaten/kota : Halmahera Tengah

100%

0%
Halmahera Utara
Provinsi : Maluku Utara Kabupaten/kota : HALAMHERA UTARA

100%

10%
Kep. Sula
Provinsi : Maluku Utara Kabupaten/kota : Kep. Sula

100%

50%

100%
51

Morotai
Provinsi : Maluku Utara Kabupaten/kota : MOROTAI

0%
Tidore Kepulauan
Provinsi : Maluku Utara Kabupaten/kota : Tidore Kepulauan

100%

25%

100%

PROVINSI NTB
Sikur
Provinsi : Nusa Tenggara Barat Kabupaten/Kota : Lombok Timur Kecamatan : Sikur Desa : tete Batu Kelompok Tani : batu Murni Luas Alokasi kegiatan : 90 Ha Titik Koordinat : N : 8 32 24,059 E : 116 24 36,989

100%
Temuan Sari
Provinsi : Nusa Tenggara Barat Kabupaten/Kota : Lombok Utara Kecamatan : Bayan Desa : Temuan Sari Kelompok Tani : Apik Apik Luas Alokasi kegiatan : 51 Ha Titik Koordinat : N : 8815 3,35 E 116 2026,05

100%
52

PROVINSI NTT
Belu
Provinsi : Nusa Tenggara Timur Kabupaten/kota : Belu Kecamatan : Tasifeto Timur Desa : Fatubaa Kelompok Tani : Nawa Kuda Luas Alokasi Kegiatan : 25 Ha Titik Koordinat : S : 09 09 17,9 E : 124 55 49,9

0%
Konbaki
Provinsi : Nusa Tenggara Timur Kabupaten/kota : Timor Tengah Selatan Kecamatan : Polen Desa : Konbaki Kelompok Tani : Kiubola Luas Alokasi Kegiatan : 30 Ha Titik Koordinat : S : 09 43 25,26 E : 124 25 43,86

100%

50%
Polen
Provinsi : Nusa Tenggara Timur Kabupaten/kota : Timor Tengah Selatan Kecamatan : Polen Desa : Mnesatbubuk Kelompok Tani : Manekto Luas Alokasi Kegiatan : 25 Ha Titik Koordinat : S : 09 36 46,15 E : 124 23 33,79

100%

50%
Rafae
Provinsi : Nusa Tenggara Timur Kabupaten/kota : Belu Kecamatan : Raimanuk Desa : Rafae Kelompok Tani : Tunas Muda Luas Alokasi Kegiatan : 25 Ha Titik Koordinat : S : 09 19 23,2 E : 124 51 36,8

100%

50%

100%
53

Raimanuk
Provinsi : Nusa Tenggara Timur Kabupaten/kota : Belu Kecamatan : Raimanuk Desa : Rafae Kelompok Tani : Mane Ikun Luas Alokasi Kegiatan : 25 Ha Titik Koordinat : S : 09 19 43,2 E : 124 51 33,8

50%
Taseto Timur
Provinsi : Nusa Tenggara Timur Kabupaten/kota : Belu Kecamatan : Tasifeto Timur Desa : Fatubaa Kelompok Tani : Manuharek Luas Alokasi Kegiatan : 25 Ha Titik Koordinat : S : 09 09 26,1 E : 124 55 42,9

100%

0%

100%

PROVINSI PAPUA
Kambala
Provinsi : Papua Barat Kabupaten/Kota : Kaimana Kecamatan : Buruway Desa : Kambala Kelompok Tani : Sumber Rejeki Luas Alokasi kegiatan : 100 Ha

50%
Mekar Sari
Provinsi : Papua Barat Kabupaten/Kota : Fak Fak Kecamatan : Bomberay Desa : Mekar Sari Kelompok Tani : Sumber Ekonomi Luas Alokasi kegiatan : 50 Ha Titik Koordinat : N : 02.90650 E : 132.96878

100%

0%
54

100%

BAB 5

Testimoni
Geliat Lahan Semangat Petani
Bak membuka gulungan karpet, ribuan hektar sawah membentang di sejumlah wilayah. Hamparan hijau pucuk-pucuk serta bulir padi yang menguning, memberikan harapan penguatan ketahanan pangan. Ini betul betul praktik yang historikal, ungkap Meneg BUMN Dahlan Iskan seperti dikutip media massa. Ini peluang sekaligus tantangan bagi kita, ungkap Menteri Pertanian Dr. Ir. Suswono, MMA. Dengan penerapan teknologi, biaya, waktu serta kerja keras, telah melahirkan sawah-sawah baru di berbagai daerah. Beberapa diantaranya sudah panen. Dampak ampon ekonomi di daerah cetak sawah baru cukup menggembirakan. Peluang peningkatan kesejahteraan petani pun kian terbuka

55

Petani di Areal Cetak Sawah Bulungan Kalimantan Utara

Wahid,

Kami Seperti Bangkit dari Tidur


Tidak pernah terbayangkan oleh Wahid (35 tahun), warga transmigran asal Indramayu Jawa Barat, tentang kondisi ekonomi yang telah diraihnya saat ini. Lahan yang sekitar sepuluh tahun lalu didapatinya sebagai hutan belukar serta jauh dari perkampungan, apalagi keramaian kota, dari waktu ke waktu kian memberikan harapan cerah bagi keluarganya. Perkembangan ekonomi begitu terasa manakala lahan usaha miliknya (jatah transmigrasi) disertakan dalam proyek percetakan sawah baru oleh Kementerian Pertanian. Sejak program perluasan sawah bergulir, hingga kini kawasan Satuan Pemukiman (SP) I, Desa Tanjung Buka, Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan Kalimantan Utara itu bagaikan bangkit dari tidur. Petani Wahid pun mengakui, bahwa program cetak sawah serta berbagai pembinaan yang diberikan melalui Dinas Pertanian selama ini bagaikan kunci pembuka pintu keberhasilan bagi petani di kawasan tersebut. Dikisahkannya, selain pembangunan sawah baru, masing masing kelompok tani di kawasan tersebut telah mendapatkan bantuan alat dan mesin pertanian (Alsintan) berupa satu unit hand traktor dan mini tresher pada setiap kelompok tani. Disamping itu, pada tingkat Gapoktan, pun mendapatkan 2 unit tresher ukuran besar. Alhamdulillahsaya sangat bersyukur dan berterima kasih atas semua yang telah didapati selama ini, tutur petani yang telah dikaruniai 3 anak yang kini tengah bersekolah di Tanjung Selor (SMK, SMP dan SD) tersebut. Jika dulu, saat pertama datang sebagai warga transmigran di Desa Tanjung Buka (tahun 2004), Ia memiliki lahan usaha 2 hektar, kini Wahid telah memiliki sawah 6 hektar. Menjalani kehidupan sebagai petani yang terlibat dalam pengembangan areal sawah baru, setiap hari Wahid dengan penuh semangat mengelola berbagai kegiatan usaha taninya. Disamping berbudidaya padi sawah, petani Wahid pun menanam jagung manis, jeruk dan berbagai jenis sayuran sebagai usaha sambilan di sekitar pematang atau gundukan di sela-sela tanaman padi.
56

Hasil yang diperoleh dari beragam usaha tani itu cukup menggembirakan. Untuk usaha tani padi sawah yang dilakukan 2 kali setahun, Wahid mendapatkan hasil panen rata-rata 4 ton/ hektar. Harga berasnya lebih tinggi ketimbang di Jawa, di sini rata-rata Rp 8.000,- per kilogram. Pedagang membelinya di lokasi ini, tutur petani yang juga memiliki 1 unit mesin penggilingan padi (rice milling unit/ RMU) itu. Tambahan penghasilan lainnya pun makin membuat Wahid semakin percaya diri untuk menetap dan berkiprah di Tanah Borneo jauh dari ampong halamannya di Pantura Jawa. Dari bisnis jasa penggilingan padi misalnya, pada saat musim panen setiap hari RMU itu mampu memproduksi 1,5 ton beras. Biaya jasa penggilingan dibayarkan berupa beras, dengan hitungan 10% dari jumlah beras yang dihasilkan, atau sekitar 1,5 kwintal per hari. Lumayan buat tabungan masa depan sekolah anak-anak, ungkap Wahid yang dipercaya beberapa kelompok tani sebagai Ketua Gapoktan Tabuk Karya tersebut.***

Beras Bulungan

Malkan

Terima Kasih Atas Keberhasilan Cetak Sawah


Masih di Kawasan SP I Tanjung Selor, nada optimis juga terlontar dari petani Malkan (49 th),. Saat SWADAYA mampir di rumah kayunya (khas pemukiman transmigrasi) beberapa waktu lalu, buru-buru transmigran asal Wonosobo Jawa Tengah itu menyodorkan buku catatan harian usaha taninya. Saya tidak mengada-ada, semua jumlah panen dan penjualan tercatat dalam buku itu, ucap Malkan bangga. Sebagai petani, ayah tiga anak itu menyatakan terima kasihnya atas keberhasilan pembukaan sawah baru di areal transmigrasi tempat Ia dan keluarganya kini melansungkan kehidupan. Dengan terbukanya sawah baru, saya dan keluarga merasa betah tinggal di Kalimantan ini. Selain menanam padi akhirnya kami pun bisa melakukan kegiatan usaha tani lain, seperti pembibitan sayuran, memelihara ikan dan sebagainya. Tapi usaha dasarnya tetap padi sawah, jelas Malkan.***

Sulaiman

Prospek Agribisnis pun Terbuka


Menurut Sulaiman (48 th), prospek agribisnis di daerah transmigrasi Tanjung Buka ke dapannya cukup memberi harapan. Asal kita mau bekerja keras, hasilnya akan lumayan. Di sini air melimpah dan tanahnya subur, tuturnya. Dengan terbentangnya lahan sawah ratusan hektar, menurut transmigran asal Subang Jawa Barat itu, banyak peluang usaha lain yang bisa dilakukan. Terbukti, disamping menanam padi dua kali setahun, Sulaiman juga mengembangkan budidaya itik Alabio (itik khas Kalimantan) yang kini telah berkembang hingga ratusan ekor. Ternak unggas air itu digembalakan pada setiap kali usai musim panen padi. Hasilnya, ribuan butir telur bisa dipasarkan ke Kota Tanjung Selor setiap minggu. Keberhasilan Sulaiman diikuti oleh petani lainnya, dan akhirnya sejak beberapa tahun lalu telah terbentuk Kelompok Tani Bebek di kawasan transmigrasi SP I Tanjung Buka. ***

Maskatam

Dari Lahan Kering ke Sawah Produktif


Kegembiraan menghiasi wajah Maskatam, Ketua Kelompok Tani Sataka Jaya I, Desa Muer, Kecamatan Plampang, Kabupaten Sumbawa. Hamparan lahan kering di kampungnya kini berubah jadi sawah produktif. Kami sangat berterima kasih kepada pemerintah, karena program cetak sawah di desa kami telah memberikan peningkatan hasil yang nyata. Kami pun bertekad bisa bercocok tanam lebih dari satu kali setahun, ucapnya.***

57

Yusrina

Pulang Pisau Kalimantan Tengah

Kini Tak Lagi Peladang Berpindah


Yusrina adalah satu diantara banyak orang yang beruntung. Kini Ia bersama keluarganya tidak perlu lagi melakukan pengembaraan mencari lahan baru untuk dijadikan ladang. Sejak kegiatan cetak sawah baru bergulir di daerahnya, wanita tani di Pulang Pisau Kalimantan Tengah ini pun beralih profesi, menjadi petani sungguhan, tak lagi peladang berpindah. Yusrina telah menjadi petani maju, dengan sawah menetap. Harapan cerah pun membentang di depan mata. Maka wajar saja bila petani wanita ini bersyukur. Selama ini profesi peladang berpindah dijalani Yusrina bersama petani lainnya di daerah itu untuk memenuhi kebutuhan pangan. Kondisi ini merupakan warisan kegiatan dari nenek moyang mereka sejak lama. Perladangan berpindah adalah sebuah sistem bercocok tanam yang dilakukan oleh masyarakat secara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cara membuka lahan hutan primer maupun sekunder. Secara umum para peladang berpendapat bahwa hutan memiliki tanah yang subur sehingga hasil ladang yang dicapai akan lebih tinggi. Namun dampaknya adalah kerusakan ekosistem. Perladangan berpindah dapat menyebabkan penggundulan hutan dan erosi tanah yang sangat kritis. Tuduhan yang paling sering, saat kebakaran hutan di Kalimantan, salah satu yang dianggap menjadi sebab adalah sistem perladangan berpindah. Kemudian, dari segi produktivitas dianggap sangat rendah, apalagi bila dibandingkan dengan resiko lingkungan yang akan terjadi. Dengan berhasilnya kegiatan perluasan sawah (cetak sawah baru) pada berbagai lokasi di Kalimantan, maka akan memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat, seperti halnya yang kini tengah dialami oleh Yusrina. ***

Ir. Juman, MM

Kadistan Kab. Pulang Pisau

Anugerah Bagi Petani dan Masyarakat


Sebagai penggerak pembangunan, termasuk dalam hal perluasan sawah di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Ir. Juman, MM merasa bersyukur atas berlangsungnya kegiatan cetak sawah di wilayah kerjanya. Ini anugerah bagi kami dan masyarakat Pulang Pisau, ungkapnya. Juman pun makin bersemangat menjalankan tugasnya, baik di kantor maupun berbagai aktifitas lapangan. Kunjungan ke berbagai lokasi dan bertemu dengan para petani binaan adalah sesuatu yang hal yang rutin dilakukannya. Kegiatan cetak sawah baru di Pulang Pisau merupakan prioritas bagi kami. Pasalnya potensi lahan yang tersedia cukup menjanjikan. Disamping itu animo masyarakat di daerah ini pun cukup tinggi, jelas Kepala Kadistan Kabupaten Pulang Pisau itu. Seperti halnya petani di kawasan tersebut, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pulang Pisau ini menyatakan rasa terima kasihnya atas terpilihnya Pulang Pisau sebagai salah-satu lokasi perluasan sawah oleh Kementerian Pertanian. Kami bersyukur, semoga sawah-sawah yang baru terbentang di daerah kami dapat memberikan sumbangsih bagi ketahanan pangan nasional, khususnya di Kalimantan Tengah, tutur Juman.***

58

Hj. Indah Putri Indriani


Wakil Bupati Luwu Utara
Dalam kegiatan cetak sawah baru ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Apa yang dilakukan hari ini adalah bagian dari survey awal, ungkap Wakil Bupati Luwu Utara HJ. Indah Putri Indriani, saat meninjau proyek cetak sawah baru di Desa Tingkara,Kecamatan Malangke Luwu Utara. Menurut Indah, setelah ditinjau, sifat tanah di calon lokasi memang cocok untuk cetak sawah, namun Indah mengingatkan kepada semua pihak agar tidak tergesa-gesa. Ada proses yang harus dilalui dalam kegiatan ini, saya harap semua pihak dapat bersabar. yang terpenting bukan hanya kemauan tapi juga kesiapan. Pemerintah Daerah tidak pernah berniat menunda pembangunan masyarakat , namun perlu kesiapan yang mendukung. Jangan sampai nanti sawah dicetak namun ternyata belum siap, tegasnya. Indah menambah hal terpenting yang dilakukan saat ini adalah menginventarisir persiapan berdasarkan syarat yang ditentukan oleh Dinas Pertanian dan juga kesiapan kelompok, mengingat dana bantuan sosial mempersyarakatkan masyarakat berkelompok. Masyarakat diharapkan dapat duduk bersama untuk mengecek kesiapan baik kesiapan persyaratan maupun kesiapan masyarakat untuk berkelompok, hal ini penting agar masyarakat utamanya pemilik lahan paham benar dengan aturan yang ada, ujar Indah.**
Sumber : new.luwuutara.go.id

Jenderal Moeldoko
Cetak Sawah adalah bagian dari program pemerintah pusat dalam bidang pengentasan kemiskinan. Di samping itu pula, kegiatan Cetak Sawah juga ditujukan agar bangsa Indonesia tidak mengalami krisis pangan. Untuk itu program ini perlu didukung dan disukseskan. TNI akan mengerahkan personil untuk membantu dan mendukung serta mensukseskan keberhasilan program pemerintah yang dilakukan melalui MoU dengan Kementerian Pertanian RI secara maksimal. TNI dan rakyat siap mendukung program repitalisasi pertanian swasembada beras Nasional, karena jika TNI bersama rakyat, negara akan semakin kuat. Oleh karena itu, kebersamaan antara TNI dan rakyat tidak bisa dipisahkan karena TNI berasal dari rakyat dan kembali untuk kepentingan rakyat, ungkap Panglima TNI, Jenderal Moeldoko saat Tanam Raya Cetak Sawah Baru di Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan.**

Panglima TNI

Irwan Prayitno

Gubernur Sumatera Barat


Dalam sambutannya suatu ketika saat tanam perdana sawah baru di Kecamatan Kotobaru Kabupaten Dhamasraya - Sumatera Barat, Irwan Prayitno, Gubernur Sumatera Barat menyatakan, bahwa cetak sawah baru merupakan wujud keseriusan daerah dalam upaya berkontribusi pada ketahanan pangan nasional, serta pencapaian sasaran surplus beras 10 juta ton pada tahun 2014 mendatang. Saya akan berikan bantuan kepada para petani berapa pun luas lahannya untuk dijadikan sebagai cetak sawah baru. Asalkan petani atau masyarakat benar-benar mau bekerja dengan cara sungguhsungguh dan ikhlas, ungkap Gubernur saat diminta Wali Nagari Koto Baru, M Taridi untuk memberikan bantuan cetak sawah baru seluas 300 hektar di Nagari Koto Baru. Pada kesempatan itu, Gubernur menyampaikan kebanggaannya kepada masyarakat Koto Baru karena telah memanfaatkan lahan yang sudah lama tidak terpakai itu. Pemerintah berterima-kasih kepada petani karena telah mau membantu program pemerintah untuk mewujudkan swasembada beras, dengan cara cetak sawah baru di daerah ini. Dengan adanya cetak sawah baru, diharapkan kemiskinan akan berkurang bahkan tidak ada lagi. Karena perekonomian masyarakat akan meningkat nantinya, ungkapnya.**
Sumber : posmetropadang.com

59

BAB 6

SUCCES STORY

Cetak Sawah Dalam Bidikan Pers

60

Panen Perdana Cetak Sawah,Tahun 2012 di Dusun Wasur


Panen raya perdana cetak sawah tahun 2012, Selasa (28/5) 2013 telah dilaksanakan di Dusun Wasur II Kelurahan Rimba Jaya Distrik Merauke sesuai Surat Keputusan Bupati Merauke Nomor: 513 tahun 2012 tentang penetapan sasaran luas tanah Panen Produksi Musim Tanam 2012 / 2013 dan musim tanam 2013 ditetapkan sebesar 23.837 Ha dengan realisasi sesuai data statistik pertanian sebesar 22.393 Ha dengan target produksi 96.650 ton GKP, sedangkan pada musim tanam 2013 sebesar 13.067 Ha dengan target produksi 53.493 ton GKP. Demikian sambutan Kepala Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Merauke, Ir. R. Bambang Dwiatmoko, M. Si., pada acara panen raya cetak sawah tahun 2013 di Wasur Kelurahan Rimba Jaya Distrik Merauke. Lebih lanjut dikatakan untuk mencapai sasaran tersebut didukung beberapa program kegiatan APBN 2012 antara lain: 1. Sekolah lapangan pengelolaan tanaman terpadu ( SLPTT) untuk 3 komoditi. Padi non hibrida 8.500 Ha yang tersebar pada 6 distrik dan 33 kampung, Padi lahan kering 700 Ha yang tersebar pada 4 distrik dan 21 kampung, Kedelai 400 Ha yang tersebar pada 1 distrik dan 8 kampung. 2. Optimasi lahan seluas 700 Ha tersebar di 12 distrik dan 24. 3. Cetak sawah seluas 2000 Ha tersebar di 8 distrik dan 26 kampung. Seluruh program / kegiatan dimaksd diarahkan untuk mendukung program program nasional yakni suplus besar 10 juta / ton pada tahun 2014 dan Kabupaten Merauke sebagai salah satu Kabupaten di Papua yang menyumbang stok cadangan pangan nasional, dengan capaian kinerjanya sebagai berikut. 1. SL PTT padi tahun 2012 telah memberikan sumbangan sebesar 41.078,03 ton GKP; 2. Optimasi lahan memberikan kontribusi / delta produksi sebesar 2. 513 ton GKP; 3. Cetak sawah menyumbang produksi sebesar 8. 320 ton GKP. Perhitungan capaian kinerja program didasarkan hasil ubinan yang dilakukan badan pusat statistik Kabupaten Merauke. Capaian kinerja dimaksud tidak terlepas dari kerja keras para petani, ketua kelompok tani, ketua gapoktan, para kepala kampung / lurah, PPL dan para kepala distrik serta seluruh instansi terkait. Namun demikian hasil cetak sawah tahun 2012 masih perlu didukung penyempurnaannya seperti saluran irigasi dan lain lain. Lebih lanjut dikatakan saat ini, kita memasuki musim tanam gadu ke 2 walaupun tanpa persediaan air, namun dengan telah turunnya hujan diharapkan target musim tanam gadu dapat tercapai. Kami juga dapat melaporkan bahwa dalam kegaiatan musim tanam ini ada kerjasama dengan TNI AD (kodim 174 /atw) dengan rincian: 1. Dusun serapuh kampung Urumb distrik Semangga seluas 12, 5 Ha berupa optimasi lahan yangdiperkirkan awal Juni akan panen. 2. Kampung hidup baru distrik tanah miring seluas 82 Ha, kegiatan optimasi lahan yang akan dimulai pada musim gadu ini. 3. Kampung sermayam indah distrik tanah miring, seluas 25 Ha, ke-

giatan optimasi lahan yang akan dimulai pada musim gadu ini. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada Kapolres Merauke yang telah mendukung pengembangan tanaman umbi-umbian di daerah Sota melalui Polsek Sota, serta kegiatan GP3K dan BUMN, PT. SHS 500 Ha dan PT. Penyuluhan dari Kalimantan Timur 500 Ha. Hadir dalam panen raya tersebut Wakil Bupati Merauke dan unsur unsur Muspida serta para undangan lainnya, hadir pula Wakil Menteri Pertanian RI, serta Direktur Jenderal sarana dan prasarana areal pertanian kementerian pertanian RI.
(santi) Sumber : suara.merauke.go.id

Mentan Panen Perdana Cetak Sawah Baru di Muer


Sumbawa, PSnews Menteri Pertanian RI, Suswono, Sabtu (06/04/2013) secara perdana memanen padi para program bantuan percetakan sawah baru seluas 80 hektar di Desa Muer Kecamatan Plampang. Panen perdana ini juga diikuti Bupati Sumbawa serta masyarakat setempat. Dalam sambutannya Siswono mengemukakan, panen petak sawah baru yang 2 tahun ini ditanami ternyata sudah menghasilkan panen di atas 4 ton per hektar. Menurutnya, ini jarang sekali tapi di Sumbawa sudah mencapai 6 ton per hektar. Namun ia menyayangkan masih banyaknya lahan yang terlantar. Diperkirakan karena faktor SDM yang masih kurang. Padahal matahari bersinar setiap hari untuk tanam menanam. Seharusnya, jelas Suswono, lokasi yang masih belum dimanfaatkan bisa ditanami. Kementan RI, tegasnya, memiliki tugas yang sangat berat karena menyediakan pangan bagi masyarakat Indonesia. Tetapi sebetulnya tanggung jawab tersebut tidak hanya di Kementan RI. Karena kontribusi Kementan hanya sekitar 20 persen. Selebihnya tergantung dari sektor lainnya, meliputi, persoalan air, lahan, perdagangan distribusi, industri, termasuk keuangan. Kalau keuangan turunnya terlambat, maka musim tanam akan lewat. Berarti menyianyiakan waktu. Tanam menanam mestinya tidak harus menyesuaikan kapan anggaran turun. Ini persoalan yang kadang-kadang masih saja terjadi, ujar Suswono. Kementan memiliki target tercapainya swasembada pangan. Ada 5 komoditas yang sering disampaikan, beras, jagung, kedelai, gula dan daging sapi. Bahkan untuk beras, Presiden telah mencanangkan bahwa tahun 2014 surplus 10 juta ton. Ini dianggap wajar karena kebutuhan bulanan sekitar 3 juta ton untuk mencukupi kebutuhan masyarakat Indonesia. Jadi kalau ada 10 juta ton paling tidak ada satu musim tanam akan aman. Suswono mengemukakan, kadang-kadang Indonesia dibandingkan dengan Thailand yang bisa ekspor dengan luas lahan panennya 90 juta hektar. Indonesia hanya 13, 5 hektar kalau pun maksimal 14 juta hektar atau 1,5 kali dengan Thailand. Tapi dengan luasan 13,5 hektar hasilnya 14 juta ton. Sementara Thailand hasilnya sekitar 20 sampai 22 juta ton. Jadi koesifitas Indonesia masih berada di atas Thailand. Padahal penduduk Indonesia hampir 4 kali Thailand, namun makan nasinya juga lebih banyak dari Thailand. Walaupun produktifitas panen kita hampir 40 juta ton, suplus kita hanya 5,6 juta ton di tahun 2012. Oleh karena itu ini menjadi tantangan bagi kita, ujarnya. Kemudian, sambung Suswono, pemerintah RI ingin meningkatkan diversifikasi pangan. Diharap agar masyarakat Sumbawa jangan hanya selalu makan nasi. Ada jagung yang harus dibiasakan untuk anak-anak. Mulailah dengan makanan selingan. Bahkan Bupati diminta untuk makan singkong di rumahnya agar diiikuti masyarakat. Ia menambahkan, pemerintah akan terus menambah luas petak sawah baru. Di Sumbawa tahun ini mendapat 3300 hektar percetakan sawah baru. Ini akan terus dilakukan, karena ada 100.000 hektar alih fungsi lahan per tahun. Tetapi akan memanfaatkan lahan yang biasa panen sekali menjadi dua kali. Syarat utamanya harus ada sumber air. Supaya surplus tersebut tercapai, maka pihaknya akan menyempurnakan manajemen antara pusat dan daerah. Pada dasarnya tanggung jawab pangan di daerah adalah Bupati. Sehingga Bupati harus bisa memastikan bahwa tidak ada masyarakatnya yang meninggal dunia karena kelaparan. Kita punya target tahun ini luar biasa, 72 juta ton gabah kering giling. Tanggung jawab kita untuk surplus di 2014. Berarti meningkat sekitar 4 persen. asal bekerja dengan sungguhsungguh, jelasnya. Ia berharap kepada petani, apa yang telah dicontohkan agar bisa diterapkan, bukan hanya sekedar contoh saja tanpa diterapkan. Misalnya pola tanam jajar legowo dan pemupukan dengan NPK hasilnya akan jauh lebih baik. Kepada para penyuluh, Mentan menghimbau agar dapat memberikan penyuluhan dengan aktif dan sungguh-sungguh. (PSb)
Sumber : www.pulausumbawanews.com

61

Program Cetak Sawah Lutim Gelar Panen Perdana


Program Cetak Sawah TA 2011 Dinas Pertanian Peternakan dan Perkebunan (PPP) Kabupaten Luwu Timur dengan sasaran 9 Kelompok Tani di SP 1 Mahalona akhirnya menuai hasil. Salah satu kelompok cetak sawah baru yakni kelompok tani Harapan Mulya yang mengelola lahan persawahan seluas 24, 3 hektar akhirnya menggelar panen perdana. Kadis Pertanian Peternakan dan Perkebunan, Nursih Hariani di sela-sela penen tersebut mengatakan sangat bersyukur atas panen yang melimpah saaat ini. Ia juga mengatakanrogram cetak sawah ini bersumber dari bantuan sosial kementerian pertanian melalui satker Dinas PPP TA 2011. Nursih berharap kedepan lokasi yang telah dicetak menjadi sawah dapat terus diolah sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap pencapaian program surplus beras 10 juta ton pada tahun 2014. Lebih lanjut Nursih mengatakan harapan pemerintah agar sawah yang sudah berproduksi saat ini tidak dialih fungsikan untuk kegiatan non pertanian. Harapan kami selaku pemerintah daerah, agar sawah yang telah berproduksi tidak alih fungsikan kedepannya tandas Nursih. Panen tersebut juga dihadiri Kabid PSP, PPK Cetak Sawah, Unsur UPT 1 Mahalona dan Unsur BP3K Kecamatan Towuti. (is/hms)
Sumber : www.luwutimurkab.co.id

Distangan Gelar Panen Perdana Cetak Sawah Baru di Mudik Ulo


TELUK KUANTAN - Dinas Tanaman Pangan Kuansing bersama masyarakat, Minggu (10/3) siang menggelar kegiatan panen perdana cetak sawah baru di Desa Mudiak Ulo, Kecamatan Hulu Kuantan. Pada kesempatan tersebut, pihak Distangan Kuansing juga mensosialisasikan program Indeks Pertanaman (IP) 200 atau tanam dua kali dalam satu tahun. Program ini ternyata mendapat respon positif dari masyarakat karena dinilai mampu meningkatkan produksi areal padi. Kadistangan Kuansing, Ir Hardison, MP melalui Kabid Produksi, Anida, SP saat dikonfirmasi wartawan tak sawah baru dari APBN kita telah membangun seluas 15 ha di Desa Mudiak Ulo ini, dan sekarang merupakan panen perdananya,ujar Anida. Guna meningkatkan produksi, menurut Anida, maka pihaknya mencoba untuk mensosialisasikan kepada masyarakat agar bisa menerapkan program IP 200 di areal sawah tersebut. Allhamdulillah animo masyarakat cukup besar untuk melakukan tanam dua kali setahun disini,ujarnya. Selain di Mudiak Ulo, menurut Anida, animo masyarakat di Sunagi Pinang, Sungai Alah dan Tanjuang yang pada kesempatan itu juga disosialisasikan program tersebut juga cukup besar. Karena untuk program ini ada bantuannya, maka sekarang kita akan lakukan persiapan termasuk menyelesaikan administrasinya, kemungkinan Mei mendatang program ini bisa dilaksanakan,ujarnya. Menurutnya Distangan sangat apresiatif dengan animo masyarakat tersebut dan berusaha meralisaiskan semua aspirasi masyarakat dalam hal ini. Apalagi Pemkab Kuansing sendiri berusaha menggalakkan sektor pangan ini untuk memenuhi kebutuhan, minimal bagi warga masyarakat sendiri. (isa)
Sumber : kuansingterkini.com

usai acara menyebutkan bahwa pada kesempatan tersebut telah dilakukan panen perdana di areal cetak sawah baru yang dibangun oleh Pemkab Kuansing melalui dana APBN 2012 lalu seluas 15 ha di Desa Mudiak Ulo. 2012 lalu melalui program ce-

Panen Perdana Dihadiri 2 Pejabat Kementan


AJPNews -- Dua Pejabat Kementerian Pertanian, masing-masing Direktur Jenderal (Dirjen) Prasarana dan Sarana Pertanian, Gatot Irianto dan Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Pertanian (Kementan), Azis Hidayat, Jumat (15/3) kemarin, melakukan panen perdana di areal pencetakan sawah baru di Desa Sumpangmango Kecamatan Pitu Riawa, Sidrap. Panen perdana ujicoba hasil pencetakan sawah baru di Sumpangmango ini dilakukan di atas areal pertanian seluas 20 hektar. Luas lokasi pencetakan sawah baru di daerah itu, mencapai 300 hektare lebih dan tersebar di beberapa titik. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Sidrap, Amiruddin Syam, mengatakan lahan pencetakan sawah yang digunakan sebagai lokasi panen perdana di Sumpangmango tersebut, dikelola oleh sejumlah masyarakat petani dari beberapa kelompok tani (poktan) yang ada di desa itu. Panen perdana ini merupakan ujicoba produksi pertanian dari hasil pencetakan sawah baru,ungkap Amiruddin. Sebelumnya, kedua pejabat Kementan ini diterima pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidrap di rumah jabatan bupati setempat. Hadir dalam penerimaan tersebut, Wakil Bupati Sidrap, H Dollah Mando, Sekretretari Daerah (Sekda), H Ruslan, dan sejumlah kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait. Informasi yang dihimpun menyebutkan, kehadiran Dirjen Prasana dan Sarana Kementan, Gatot Irianto di Sidrap dalam rangka panen perdana

tersebut, karena tertarik dengan keberhasilan petani di Sumpangmango yang langsung bisa memproduksi padi dari lahan hasil pencetakan sawah baru. Padahal, umumnya, pencetakan

lahan sawah baru itu membutuhkan waktu penyesuaian dan kondisi secara alamiah selama beberapa tahun untuk bisa memproduksi hasil pertanian. Namun, petani di Sumpangmango bisa melakukannya dalam waktu

62

yang relatif singkat. Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian kembali mencetak lahan persawahan baru seluas 65 ribu hektar pada 2013 ini. Langkah itu dilakukan guna mendukung pencapaian surplus produksi beras sebanyak 10 juta ton pada 2014. Khusus pencetakan sawah baru

pada 2012, yang ditargetkan 100 ribu hektar, kini program tersebut sudah tercapai 72 ribu hektar. Bahkan dari 72 ribu hektar lahan yang sudah dicetak, 65 ribu hektar di antaranya mulai panen. Hanya saja, kendala dalam pencetakan sawah baru dikarenakan banyak pemerintah kabupaten dan kota yang tidak memiliki data survey dan investigasi. Selain itu ada pula

penyebab lain yakni adanya pejabat Dinas Pertanian di daerah yang sering diganti. Namun begitu, pencetakan sawah baru terus dilakukan sampai terbitnya aturan moratorium lahan pertanian. Cetak sawah baru ditargetkan sebesar 100 ribu hektare, namun pada 2011 hanya terealisasi 60 ribu hektare, dan pada 2012 hingga awal Desember baru terealisasi 92 ribu

hektare. Tak hanya mencetak sawah baru, pemerintah mencetak sawah baru di kawasan food estate. Tahun 2012 terealisasi 9.000 hektare cetak sawah, yakni di Sulsel seluas 7.250 hektare, di NTT seluas 5.000 hektare, di NTB seluas 4.700 hektare, di Sulawesi Tengah seluas 4.750 hektare, dan sisanya tersebar di seluruh Indonesia. (pan)
Sumber: ajatapparengnews.com

Panen Perdana Lahan Cetak Sawah Baru Desa Pulo Reudeup Kecamatan Jangka
Bireuen | Harian Aceh Petani di sejumlah kecamatan di Kabupaten Bireuen mulai panen padi di sawah cetak baru. Sawah cetak baru itu merupakan program 2010 seluas 200 hektar. Program cetak sawah baru itu diklaim berhasil menggantikan areal sawah yang menyusut di daerah itu. Hasil panen belum maksimal sesuai dengan hasil pada sawah normal, tetapi ini sangat menggembirakan di tengah semakin menyusutnya areal sawah produktif karena telah beralih fungsi imbas pembangunan, ujar Kadis Pertanian Peternakan Perkebunan dan Kehutanan Bireuen Azmi Abdullah, kemarin. Katanya, berhasilnya petani dalam menggarap sawah cetak baru itu pada tahun 2010, pada 2011 ini Kabupaten Bireuen diberikan kuota program cetak sawah baru seluas 700 hektar. Meningkat tajam dari kuota program cetak sawah baru tahun 2010 seluas 200 hektar yang diberikan oleh pusat. Disebutkan Azmi, belum maksimalnya hasil panen di sawah cetak baru itu karena pengaruh keasaman tanah lahan yang sebelumnya berupa lahan tidak produktif, dimana akarakar kayu masih belum membusuk karena baru satu kali ditanami padi. Biasanya kondisi keasaman tanah akan normal seperti sawah pada umumnya setelah dua tahun. Ia menjelaskan, salah satu lokasi sawah cetak baru yang hasil panennya tergolong paling berhasil adalah di Desa Pulo Reudeup, Kecamatan Jangka, Bireuen. Di lokasi itu pula dilakukan panen perdana sawah cetak baru program tahun 2010 yang akan dilakukan Bupati Bireuen, hari ini, Senin (4/3). Sebelumnya Kabid Pengembangan Lahan dan Air Dinas Pertanian Bireuen, Mukhtar MSi mengatakan arLalu Desa Ie Rhob Babah Lueng 20 hektar dan Alue Leuhob 10 hektar keduanya di Kecamatan Simpang Mamplam. Berikutnya di Desa Bayu Kecamatan Peusangan 15 hektar dan di Desa Jarommah Baroh Kecamatan Kutablang serta di Desa Sukatani Kecamatan Juli seluas 12 hektar. Disela-sela menghadiri panen perdana Dandim 0111/Brn Ltk Inf Reza Pahlevi mengatakan akan mengawasi program ini dan mengecek dilapangan jumlah sawah baru yang dicetak ditahun 2010 dan yang direncanakan tahun 2011 jangan hanya terlihat acara protokoler saja secara simbolis tapi betul-betul jumlahnya sesuai dengan yang dilaporkan mengingat program tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat juga terpadu dengan progam ketahanan pangan yang dicanangkan oleh Pangdam Im(del)
Sumber : kodim0111.wordpress.com

eal cetak sawah baru program tahun 2010 mencapai 200 hektar meningkat dari tahun 2009 yang hanya 125 hektar. Meski baru panen perdana hasilnya tidak kalah dengan panen di sawah normal, katanya. Lokasi cetak sawah baru program tahun 2010 itu adalah di Desa Lheu Barat, Kecamatan Jeunieb seluas 23 hektar dengan menyulap kawasan rawa-rawa menjadi lahan yang produktif dengan sumber air dari Krueng Pandrah, lalu di Desa Pulo Reudeup Kecamatan Jangka seluas 115 hektar.

Panen Perdana Bupati Ketapang H. Morkes Effendi,Spd,Mh. Beserta Ibu


Bupati Ketapang beserta Ibu melaksanakan Panen Perdana pada Perluasan Areal Baru di Kecamatan Muara Pawan desa Sei Awan pada tanggal 6 Mei 2008, Perluasan Areal ini didanai melalui APBN 2007 Ditjen PLA seluas 50 Ha. Pada panen tersebut dihadairi oleh bapak Staf Ahli Menteri bidang perencanaan dan Direktur Pengelolaan Lahan dan Air, pada lahan yg baru ditanami ini memberikan hasil yang cukup tinggi dengan rata-rata 4,75 ton/ha mengingat masih banyaknya keterbatasan lahan seperti saluran draenase yang belum normal, untuk itu menurut bapak bupati pada tahun anggaran 2008 ini telah dialokasikan dana melalui APBD pada Dinas Kimpraswil Kabupaten Ketapang untuk menormalisasi saluran dan pembuatan pintu-pintu klep guna mendukung peningkatan ketahanan pangan, peningkatan produksi/ produktivitas yang akan berimbas pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani pada akhirnya. Pada kesempatan ini juga Staf Ahli Menteri mengatakan untuk mengantisipasi krisis pangan yang telah melanda dunia dengan harga beras dunia yang telah mencapai $ 10.000/ton maka indonesia tetap harus meningkatkan produksi antara lain melalui kegiatan Perluasan Areal terutama di Kabupaten Ketapang yang sangat berpotensi baik dari segi kesesuaian lahan maupun jumlah areal yang dapat dimanfaatkan sebagai lahan sawah. Lebih lanjut Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kab. Ketapang mengatakan bahwa areal yang berpotensi seluas 109.000 Ha namun baru dapat dimanfaatkan sekitar 56.000 Ha, untuk itu selain petani sendiri melaksanakan perluasan tanam juga sangat diharapkan adanya bantuan sosial lainnya seperti cetak sawah tersebut dari pemerintah pusat guna percepatan akselerasi dalam pembangunan pertanian yang

ada di kabupaten ketapang, sebagai bentuk upaya tersebut melalui dana APBD/DAK pada Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan

Tahun 2008 telah dianggarkan untuk pengadaan Alat mesin pertanian dan sarana penunjang lainnya.
Diposkan oleh Distanak Ketapang

63

Panen Perdana, Cetak Lahan Sawah Baru

Sejumlah pejabat secara simbolis melaksanakan panen perdana Perluasan areal sawah di Kabupaten Sukabumi. FOTO:IST

SUKABUMI- Kabupaten Sukabumi menunjukkan kinerjanya. Cetak lahan sawah yang awalnya diragukan oleh beberapa media dan LSM, saat ini 200 ha sawah baru sudah berhasil dicetak. Buktinya, Sabtu (13/4) Panen Perdana perluasan areal sawah baru di Desa Cikareunggesan Kecamatan Jampangkulon berhasil dilaksanakan. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Sukabumi Akhmad Jajuli, Direktur Pengelolaan Air Irigasi Kementrian Pertanian Prasetyo Nuchsin, Sekretaris Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan (DPTP) Kabupaten Sukabumi Sudrajat dan Kepala Bappeda Kabupaten Sukabumi yang diwakili Kabid Ekonomi Toha Wildan. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan (DPTP) Kabupaten Sukabumi Sudrajat mengatakan, Kabupaten Sukabumi lumbung pangan Jawa Barat (Jabar) nomor tiga. Sehingga wajar jika mendapatkan perhatian lebih dari Kementerian Pertanian RI,kata Kepala DPTP Kabupaten Sukabumi Sudrajat kepada Radar Sukabumi baru-baru ini. Diakuinya, potensi cetak lahan sawah di Kabupaten Sukabumi masih cukup banyak. Akan tetapi Dinas Per-

tanian Tanaman Pangan tentu tidak bisa berdiri sendiri, harus didukung oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan sebagai produsen air, Dinas PSDA yang mengatur pemanfaatan air, Badan Penyuluhan yang mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) petani, serta Dinas Bina Marga yang menyediakan infrastruktur untuk transportasi hasil pertanian dan Bappeda sebagai koki anggaran pembangunan. Kabid Bina Sumberdaya DPTP Kabupaten Sukabumi Iding Koswara dan Kasubid Pengelolaan Lahan dan Air (PLA) DPTP Kabupaten Sukabumi Yanyan Setiawan mengatakan, produktivitas padi per hektar pada lahan cetak sawah baru memang belum menunjukkan angka yang menggembirakan masing dibawah 4,5 ton per hektar. Hal ini disebabkan oleh rusaknya beberapa lapisan top soil pada saat proses pencetakan. Namun setidaknya, sawah baru ini menjadi harapan baru sebagai pengganti lahan yang beralih fungsi menjadi fasilitas-fasilitas umum,tutur Kabid Bina Sumberdaya DPTP Kabupaten Sukabumi Iding Koswara dan Kasubid PLA-nya Yanyan Setiawan. Dijelaskannya, cetak lahan sawah

tahun anggaran 2012 telah selesai dilaksanakan dengan luas areal 200 ha, Jampangkulon 40 ha, Ciracap 60, Sindangraja Curugkembar 40 ha, dan Nyalindung Desa Wangunreja 60 ha. Tahun 2013 cetak sawah akan dilakukan di dua lokasi yakni Jampangtengah dan Ciracap dengan luasan 100 ha,paparnya. Pada kesempatan yang sama, Direktur Pengelolaan Air Irigasi Kementrian Pertanian Prasetyo Nuchsin berpesan, agar Kabupaten Sukabumi memiliki data base potensi cetak lahan sawah dan segera diajukan ke Kementerian Pertanian, termasuk jaringan irigasi desa dan jaringan irigasi usaha tani serta jalan pertanian. Pemerintah melalui kementerian pertanian telah menargetkan surplus beras 10 juta ton. Oleh karena itu, data base potensi cetak lahan sawah termasuk jaringan irigasi desa dan jaringan irigasi usaha tani serta jalan pertanian Kabupaten Sukabumi segera diajukan ke Kementrian Pertanian. Karena peningkatan produksi perluasan lahan dan dukungan infrastruktur lahan sawah akan dirampungkan tahun 2014,himbaunya. Sementara itu, Menurut Kasubid Ekonomi Primer Bappeda Kabupaten

Sukabumi Yana Chefiana, Sistem Informasi dan Desain Cetak Lahan Sawah termasuk data base sarana prasarana pertanian, dengan berbagai kondisi akan diselesaikan tahun 2013. Sehingga kegiatan di 2014 betulbetul tepat pada sasaran,tegasnya. Data base ini lanjut Yana yang juga suami Wakil Rektor 1 Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) Reny Sukmawani, sangat berguna untuk pijakan pembangunan pertanian Kabupaten Sukabumi, agar akselerasi surplus beras 250.000 ton di 2014 dapat direalisasikan. Selain itu kami menargetkan tahun 2014 Rice Milling yang ada di Jampangkulon akan bekerja optimal untuk menampung hasil padi disekitar wilayah VI dan VII, yang selanjutnya menjadi supply utama untuk Gudang Bulog di wilayah VI, dengan optimalnya fungsi RPC maka kesejahteraan petani padi akan meningkat dan beberapa pengangguran di wilayah Jampangkulon akan direkrut di RPC dan gudang tersebut, urai Yana Chefiana menutup pembicaraan.(*/sri)
Sumber: http://radarsukabumi.com

64

BAB 7

Peluang, Tantangan Dan Kendala


65

kelapa, lada, karet dan sebagainya. Bahkan tidak jarang kemudian sawah-sawah yang mereka miliki ditanami dengan komoditas non padi. Tentu saja kita tidak bisa menyalahkan mereka begitu saja, walaupun apa yang dilakukan tersebut berpotensi untuk membuat produksi beras nasional semakin menurun. Namun dengan semakin mahalnya biaya produksi tanaman padi plus rendahnya harga jual gabah dan semakin menggiurkannya harga jual tanaman non padi, membuat apa yang dilakukan petani tersebut menjadi masuk akal. Masalah lain yang muncul adalah minimnya informasi ketersediaan lahan yang dapat dikembangkan menjadi kawasan pertanian tanaman pangan. Walaupun sering disebutkan bahwa daerah-daerah diluar Pulau Jawa memiliki potensi lahan yang memadai untuk pengembangan kawasan tanaman pangan, namun informasi yang dapat dijadikan rujukan
Exavator amblas saat land clearing sawah 2013

Tujuan dari program perluasan sawah baru yakni untuk perluasan areal tanam dan menambah baku lahan pertanian yang menjadi salah satu tuntutan dari pemerintah pusat untuk memperluas areal tanam guna mendukung program peningkatan beras nasional P2BN dan swasembada beras. Dalam perkembangan perluasan areal sawah baru, produktivitas akan dapat terlihat maksimal dalam jangka dua sampai tiga tahun kedepan. Namun untuk lahan sawah yang baru ini masih di bawah standar, asumsi untuk produktivitas pada kisaran 2,5 ton sampai 3 ton per he ktar. Sedangkan untuk peningkatan Produktivitas padi tidak hanya bergantung pada lahan, tetapi juga ketersediaan air, kesuburan lahan, dukungan penyuluh, dukungan modal, dan sarana produksi,. Permasalahan yang sering timbul dalam perluasan areal sawah baru terutama dalam konteks sosial. Kombinasi berbagai regulasi yang terlalu jawa sentris di zaman orde baru telah menimbulkan kesenjangan kultur agraris. Berbagai induksi teknologi pertanian, pembangunan sarana dan prasarana pertanian, intensitas penyuluhan yang tinggi dan pembinaan kelompok tani yang cukup intensif telah menjadikan rata-rata petani di Jawa memiliki kapasitas bertani yang lebih bervisi dibanding petani di luar Jawa. Di banyak tempat di luar Pulau Jawa bertanam padi bagi petani bukanlah pilihan utama dalam kegiatan pertanian mereka. Minimnya sarana dan prasarana serta keterbatasan pengetahuan menjadikan kegiatan bersawah adalah sampingan setelah kegiatan lain. Seperti yang dapat kita temui di beberapa tempat di Pulau Sumatera dan Kalimantan, dimana rata-rata petani lebih suka mengusahakan tanaman perkebunan seperti sawit,
66

Arahan Dirjen PSP di hamparan cetak sawah

untuk arahan perencanaan pengembangan kawasan tanaman pangan sangat tidak memadai. Jarang sekali pemerintah daerah yang menyusun informasi sumberdaya lahan yang dilengkapi kajian kesesuaian dan arahan komoditas. Akibat minimnya informasi tersebut tidak jarang kegiatan perluasan sawah ditempatkan pada kawasan-kawasan yang secara agroekologi kurang sesuai untuk tanaman padi, sehingga alih-alih memberikan kontribusi peningkatan produksi, sawahsawah tersebut kembali menjadi lahan terlantar dan tidak digarap. Masalah ketersediaan jaringan pengairan, baik irigasi maupun drainase, merupakan masalah lain yang kerap menjadi penghalang optimumnya tingkat produksi di sawah-sawah baru. Air merupakan faktor utama dalam produksi padi sawah. Pada sawah-sawah baru seringkali belum terdapat infra-

struktur pengairan yang memadai untuk mendukung pertanaman padi. Lemahnya perencanaan kegiatan serta tidak terjadinya integrasi program menyebabkan tidak segera tersedianya infrastruktur pengairan pada sawah-sawah baru tersebut. Upaya Tindak Lanjut dalam mengatasi permasalahan ini diperlukannyaketerlibatan pihak-pihak terkait menjadi keniscayaan dalam program ini. Ego sektoral yang kerap dituding sebagai penghalang dalam keberhasilan berbagai program pemerintah harus dapat diminimalisir dalam program perluasan sawah, karena sangat mungkin program ini merupakan bagian penting dari masa depan pangan di negara ini. Untuk memperlancar pelaksanaan perluasan sawah, maka koordinasi di tingkat Kabupaten/Kota dilakukan melalui Tim Pembina perluasan sawah tingkat kabupaten yang diketuai oleh Bupati/Walikota atau pejabat yang ditunjuk. Untuk memperlancar fungsi koordinasi, maka Tim Pembina di tingkat Kabupaten dilengkapi dengan Tim Teknis Perluasan Sawah tingkat Kabupaten. Dalam rangka menunjang peningkatan produksi tanaman pangan khususnya padi, dukungan sarana perluasan sawah diharapkan dapat memberikan hasil dan dampak bagi penerima manfaat. Upaya penambahan baku lahan tanaman pangan melalui perluasan sawah sangat penting untuk mendukung pemantapan ketahanan pangan, mengingat kebutuhan produksi tanaman pangan terus meningkat sedangkan alih fungsi lahan sawah setiap tahun terjadi pada areal yang cukup luas. Pemanfaatan lahan sawah yang baru dicetak merupakan kegiatan

Baca peta desain cetak sawah

Pentingnya TAM di sawah pasang surut

yang sangat perlu diperhatikan, mengingat pada lahan tersebut sangat mudah menyemak kembali. Oleh karena itu petani perlu dibina secara intensif dan difasilitasi dengan bantuan sarana produksi, pertanian agar petani dapat segera mengusahakan lahan sawah tersebut secara berkelanjutan. Hal utama dari kegiatan perluasan sawah adalah informasi ketersediaan lahan. Kepastian lahan merupakan prasyarat kegiatan ini dapat berjalan baik. Lahan yang dapat dikembangkan untuk program perluasan sawah, selain sesuai secara agroekologi, juga harus bebas dari masalah status dan sengketa kepemilikan atau pengelolaan. Untuk itu peran Kementerian Kehutanan dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) menjadi penting disini. Kementerian Kehutanan dapat berperan dalam menyediakan informasi lahan-lahan yang telah dilepas dari kawasan hutan dan BPN dapat berperan dalam menyajikan data-data lahan yang bebas sengketa dan telah ditelantarkan saat ini. Terkait dengan pembangunan infrastruktur pada lokasi perluasan sawah baru, terutama infrastruktur pengairan serta jalan, maka perlu dilakukan sinergi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk merencanakan pembangunan infrastruktur-infrastruktur tersebut pada lokasi sawah baru. Sedini mungkin koordinasi harus dilakukan, agar pada saat kegiatan perluasan sawah selesai dilaksanakan, infrastrukturinfrastruktur tersebut dapat segera dimanfaatkan. Kebutuhan lain pada lokasi dan kawasan sawah baru seperti kebutuhan sarana produksi pertanian (saprotan) seperti pupuk dan pestisida dan alat dan mesin pertanian dapat didorong penyediaan secara terjangkau oleh petani dengan dukungan dari Kementerian BUMN. Terhadap BUMN yang memiliki bisnis inti pada barang-barang tersebut, diharapkan Kemen BUMN mampu mendorong mereka untuk mempermudah pengadaannya pada lokasi dan kawasan sawah baru tersebut.
67

Ada tiga hal yang harus benar-benar dipastikan dalam pelaksanaan SID. Pertama, apakah benar kepemilikan lahan sah secara hukum, kedua, apakah juga benar petani yang terlampir riil dalam artian bukan hanya sekedar namanya saja yang ada, dan yang ketiga adalah apakah lahan yang diusulkan itu secara teknis layak untuk dijadikan lahan persawahan. SID ini sangat perlu untuk dilakukan guna meminimalisir berbagai persoalan yang mungkin timbul kedepannya. Pasalnya, setelah proyek dilakukan, seluruh lahan sawah baru tidak lagi boleh dialihfungsikan. Makanya, SID merupakan sesuatu hal yang mutlak dalam program cetak sawah baru.
Tracking Cetak sawah pasang surut Pulang Pisau, Kalteng

Kegiatan Survei, Investigasi dan Desain (SID) merupakan hal penting dan perlu diperhatikan dalam memulai kegiatan cetak sawah. Hal ini mutlak karena dasar pelaksanaan kegiatan cetak sawah berawal dari SID. Untuk itu, pelaksanaan SID harus benar-benar harus dicermati oleh para pemangku kepentingan terkait di berbagai daerah. Untuk terlaksananya kegiatan dengan baik dan lancar, jauh sebelum waktu pembangunan cetak sawah diharapkan instansi terkait agar mempercepat proses persiapan, di antaranya segera menjadwalkan dan melakukan kegiatan SID, mendata dan mereview anggota kelompok tani dan segera di SK kan, mendata lahan agar tidak ada tumpang tindih program sejenis, dan pernyataan tertulis tentang kepemilikan lahan dan kesiapan masyarakat sebagai calon penerima bantuan.

Pentingnya SID

Bimtek oleh petugas pusat kpd petugas daerah dan petani cetak sawah

BIMTEK oleh petugas pusat ke petugas kabupaten dan petani

68

Pertanian merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia, dimana sebagai negara agraris sebagian besar mata pencaharian penduduk Indonesia adalah bertani. Dalam rangka mendukung program peningkatan ketahanan pangan nasional TNI AD bekerjasama dengan kementerian Pertanian Republik Indonesia dalam wujud optimalisasi lahan yang sudah ada maupun membuka lahan baru sebagai bentuk perluasan lahan pertanian untuk mampu meningkatkan produksi pertanian dalam rangka mendukung ketahanan pangan nasional. Bicara kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tentu tidak terlepas dari pentingnya menjaga kedaulatan perekonomian anak bangsa. Selanjutnya, dalam membangun perekonomian harus dimulai dari membangun kedaulatan pangan.Prajurit TNI siap membantu mencetak sawah baru, ungkap Panglima TNI Jenderal Moeldoko dalam kegiatan tanam perdana cetak sawah di Sumatera Selatan.

Dukungan TNI

Dukungan TNI itu sangat dibutuhkan mengingat pentingnya upaya percepatan perluasan lahan produksi pangan melalui cetak sawah baru. Hal ini sangat beralasan mengingat konversi lahan pertanian semakin menggurita dari waktu ke waktu. Setiap tahun telah terjadi konversi lahan yang luar biasa, tidak kurang dari 100 ribu hektare (ha) per tahun. Tapi kemampuan mencetak sawah baru mencapai 40 ribuan ha per tahun. Dengan bantuan TNI, salah satunya penggunaan alat-alat berat sangat mendukung percepatan itu. Hal ini dalam upaya mengimbangi konversi lahan yang terjadi setiap tahun, khususnya di Pulau Jawa. Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengatakan, dalam kondisi TNI yang tidak banyak menjalankan operasi, pihaknya beserta seluruh kepala staf angkatan memberikan kontribusi dan kekuatan yang dimiliki kepada rakyat, salah satunya terlibat dalam program cetak sawah ini.***

69