Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

TRANSPIRASI DAN DISTRIBUSI STOMATA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Fisiologi Tumbuhan Yang Dibina Oleh Ibu Dr. Betty Lukiati, M.S.

Oleh : Kelompok 1 Ayu Sri Darmastuti Dian Puspita Dewi 308342410462 100342400913

Moh. Hamiem Jazuli 100342400918 Ratna Dwi Ramadani 100342400924 Amelia Tridiptasari 120342422499

Dwi Anggun Putri S. 120342422482 Suci Ayu Maharani 120342410519

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI Februari 2014

A. TOPIK : Pengukuran Potensial Osmotik Dan Potensial Air Jaringan Tumbuhan

B. TUJUAN Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu, mahasiswa diharapkan : 1. mengetahui nilai Potensial Air (PA) umbi kentang 2. menemukan fakta tentang gejala plasmolisis 3. menunjukkan faktor penyebab plasmolisis 4. mendeskripsikan peristiwa plasmolisis 5. menunjukkan hubungan antara plasmolisis dengan status potensial osmotik antara sel dan larutan di sekitarnya

C. DATA PENGAMATAN Tabel 1. Pengamatan Jumlah Sel Epidermis Bawah Daun Rhoeo Discolor Yang Mengalami Plasmolisis KONSENTRASI JUMLAH SEL YANG MENGALAMI LARTUTAN GULA 0% 5% 10% 15% 20% PLASMOLISIS 1 0 0 4 10 15 2 0 0 6 13 17 3 0 0 5 20 25 RATARATA 0 0 5 14 19

Tabel 2. Pengamatan Panjang Dan Diameter Kentang Sesudah Direndam KONSENTRASI LARUTAN GULA 0% 5% 10% 0,1 0,15 0,1 0,1 0,4 0,15 0,2 0,3 0,2 0,1 0,6 0,2 0,125 0,300 0,162

15% 20%

0,21 0.37

0,2 0,22

0,21 0,31

0,14 0,33

0,190 0,307

Tabel 3. Reaksi Metilen Blue Yang Diberikan Pada Air Rendaman Kentang KONSENTRASI GULA 0% 5% 10% 15% 20% LARUTAN SETELAH DIBERI METILEN BLUE Tenggelam Mengapung Melayang Melayang Mengapung

D. ANALISIS DATA 1. Mengukur potensial osmotik irisan paradermal epidermis bawah Rhoeo discolor a. Menghitung molaritas konsentrasi gula Molaritas larutan = x x x x x x =0M = 0,146 M = 0,292 M = 0,439 M = 0,585 M

Pada konsentrasi larutan 0%, Molaritas larutan = Pada konsentrasi larutan 5%, Molaritas larutan = Pada konsentrasi larutan 10%, Molaritas larutan = Pada konsentrasi larutan 15%, Molaritas larutan = Pada konsentrasi larutan 20%, Molaritas larutan =

Dapat diketahui bahwa semakin tinggi molaritas larutan maka semakin banyak rata-rata jumlah sel yang mengalami plasmolisis.

b. Menghitung presentase jumlah sel yang mengalami plasmolisis Dari sejumlah 25 sel yang terdapat dalam tiap irisan paradermal epidermis bawah Rhoeo discolor yang dimasukkan pada larutan gula dengan

konsentrasi berbeda, presentase jumlah sel yang mengalami plasmolisis adalah: % sel yang mengalami plasmolisis= x 100%

Pada konsentrasi larutan 0%, presentase sel yang mengalami plasmolisis x 100% = 0% Pada konsentrasi larutan 5%, presentase sel yang mengalami plasmolisis x 100% = 0% Pada konsentrasi larutan 10%, presentase sel yang mengalami plasmolisis x 100% = 20% Pada konsentrasi larutan 15%, presentase sel yang mengalami plasmolisis x 100% = 56% Pada konsentrasi larutan 20%, presentase sel yang mengalami plasmolisis x 100% = 76% Dari ketiga irisan paradermal bawah epidermis yang dimasukkan pada kelima larutan gula dengan konsentrasi yang berbeda diketahui bahwa semakin tinggi konsentrasi larutan semakin tinggi presentase jumlah sel yang mengalami plasmolisis.

c. Grafik perbandingan molaritas larutan dan presentase jumlah sel yangmengalami plasmolisis
80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 0 -10% 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7

Jadi diketahui pada molaritas larutan 0, presentase jumlah sel yang mengalami plasmolisis adalah 0%. Pada molaritas larutan 0,146 M presentase jumlah sel yang mengalami plasmolisis adalah 0%. Pada molaritas larutan 0,292 M presentase jumlah sel yang mengalami plasmolisis adalah 20%. Pada molaritas larutan 0,439 M presentase jumlah sel yang mengalami plasmolisis adalah 56%. Sedangkan pada molaritas larutan 0,585 Mgrafik presentase jumlah sel yang mengalami plasmolisis meningkat sejumlah 76%.

2. Potensial Air Pada Umbi Kentang a. Konversi Konsentrasi Ke Dalam Molaritas 1) Konsentrasi 0% M = 2) Konsentrasi 5% M = 3) Konsentrasi 10% M = 4) Konsentrasi 15% M = 5) Konsentrasi 20% M = = = = = = = = = = = =0 = 0,146 = 0,292 = 0,438 = 0,585

b. Penghitungan Potensial Osmotik 1) Konsentrasi 0% - s= m I R T = 0 x 1 x 0,083 x 298 =0 s = - 0 2) Konsentrasi 5% - s = m I R T = 0,146 x 1 x 0,083 x 298 = 3,6111
5

s = - 3,6111 3) Konsentrasi 10% - s = m I R T = 0,292 x 1 x 0,083 x 298 = 7,222 s = - 7,222 4) Konsentrasi 15% - s = m I R T = 0,438 x 1 x 0,083 x 298 = 10,833 s = - 10.833 5) Konsentrasi 20% - s = m I R T = 0,585 x 1 x 0,083 x 298 = 14,470 s = - 14,470

Grafik Hubungan Molaritas Dengan Potensial Osmotik


0 -2 0M 0,146 M 0,292 M 0,438 M 0,585 M

Potensial Osmotik

-4 -6 -8 -10 -12 -14 -16 Potensial Osmotik

Molaritas Larutan Sukrosa

Hasil perhitungan molaritas sukrosa dan potensial osmotik jaringan umbi kentang pada konsentrasi larutan sukurosa 0% besar potensial osmotiknya -0, pada konsentrasi larutan sukrosa 5% besar potensial osmotiknya -3,6111, pada konsentrasi 10% besar osmotiknya -7,222, pada konsentrasi 15% besar potensial osmotiknya -10,833, dan pada konsentrasi 20% besar osmotiknya -14,470. Dari grafik diketahui bahwa semakin tinggi molaritas dan konsentrasi larutan sukrosa maka potensial osmotik jaringan tumbuhan akan semakin rendah. c. Penghitungan Potensial Air Melalui Uji Shardakov Percobaan ini dilakukan dengan menambahkan metilen biru pada larutan sukrosa sisa rendaman umbi kentang. Data yang didapatkan dari percobaan Shardakov menunjukkan pada konsentrasi 0% metilen biru tenggelam di dasar beaker glass, pada konsentrasi 5% metilen biru mengapung di permukaan cairan, pada konsentrasi 10% metilen biru melayang di tengah cairan, dan pada konsentrasi 15% metilen biru melayang di tengah cairan. Untuk menghitung potensial air digunakan rumus, seperti di bawah ini:
-

= s + p + M - = s + 0 + 0 = - s

1)

Konsentrasi 0%

= - s = - (- 0) =0

2)

Konsentrasi 5%

= - s = - (-3,611) = 3,611

3)

Konsentrasi 10%

= - s = - (- 7,222) = 7,222

4)

Konsentrasi 15%

= - s = - (- 10,833) = 10,833

5)

Konsentrasi 20%

= - s = - (- 14,470) = 14,470

Grafik Hubungan Antara Molaritas Dengan Potensial Air


16 14 12 10 8 6 4 2 0 0M 0,146 M 0,292 M 0,438 M 0,585 M Potensial Air

Potensial Air

Molaritas Larutan Sukrosa

Dari hasil perhitungan potensial air di atas diperoleh hasil bahwa pada konsetrasi larutan 0% potensial airnya sebesar 0, pada konsentrasi larutan sukrosa 5% potensial airnya sebesar 3,6111, pada konsentrasi larutan sukrosa 10% potensial airnya sebesar 7,222, pada konsentrasi larutan sukrosa 15% potensial airnya sebesar 10,833, dan pada konsentrasi larutan sukrosa 20% potensial airnya sebesar 14,470. Kesimpulan sementara dari

percobaan yang dilakukan adalah konsentrasi sukrosa berbanding lurus dengan persentase sel yang mengalami plasmolisis serta potensial air, sedangkan potensial osmotik berbanding terbalik dengan konsentrasi sukrosa. E. PEMBAHASAN 1. Plasmolisis Rhoeo discolor Dalam suatu daun, volume sel dibatasi oleh dindng sel dan relatif hanya sedikit aliran air yang dapat diakomodasikan oleh elastisitas dinding sel. Konsekuensinya, tekanan hidrostatik (tekanan turgor) berkembang dalam vakuola, menekan sitoplasma melawan permukaan dinding sel, dan meningkatkan potensial air vakuola. Dengan naiknya tekanan turgor, selsel yang berdekatan saling menekan dengan hasil bahwa sehelai daun yang mulanya layu bertambah segar (turgid). Sebaliknya, jika lebih banyak air ditarik dari daun, sel mengalami stress air. Apabila volume kandungan air sel berkurang, terdapat suatu kecenderungan bagi plasmalema untuk mengkereut dari dinding sel dan mengalami plasmolisis (Fitter & Hay, 1991: 147-151). Terjadinya proses plasmolisis adalah dengan adanya tekanan yang terus berkembang sampai di suatu titik dimana protoplasma sel terkelupas dari dinding sel, menyebabkan adanya jarak antara dinding sel dan membran. Proses penarikan air dari daun disebabkan oleh proses osmosis. Proses osmosis adalah pergerakan langsung larutan melewati suatu membran selektif permeable yang membiarkan air lewat, namun bukan molekul terlarutnya (Hopkin & Huner, 2009:7). Pergerakan air tersebut dimungkinkan karena adanya perbedaan konsentrasi larutan. Adapun cara kerja dari percobaan plasmolisis sel adalah menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, mengiris setipis mungkin sampel untuk mendapatkan satu lapisan epidermis bawah daun Rhoeo discolor dengan menggunakan silet lalu diletakkan di atas kaca benda (object glass) dan ditutup dengan kaca penutup (deg glass), setelah

itu

mengamatinya

di

bawah

mikroskop

kemudian

foto

hasil

pengamatannya. Setelah itu menyiapkan larutan glukosa dengan konsentrasi yang berbeda yaitu : 0 %, 5 %, 10%, 15%, dan 20%. Bila diubah dalam satuan molaritas, maka masing masing konsentrasi memiliki nilai sebagai berikut: 0 M; 0,146 M; 0,292 M; 0,439 M; 0,585 M. Ambil sayatanparadermal epidermis bawah daun Rhoeo discolor kemudian rendam daun itu pada masing masing larutan dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Perendaman membutuhkan waktu selama 30 menit. Setelah 30 menit ambil kembali sayatan epidermis bawah daun Rhoeo discolor kemudiandiamati kembali di bawah mikroskop, lalu melihat perubahan yang terjadi dengan mengamati sel yang mana yang plasmolisis dan mengamati berapa sisa sel yang tidak terplasmolisis pada tiap konsentrasi larutan. Pengamatan dilakukan pada 25 sel epidermis bawah Rhoeo discolor dalam masing-masing tiga ulangan. Dalam pengamatan sayatan paradermal epidermis bawah Rhoeo discolor didapat hasil bahwa pada konsentrasi larutan 0% (0 M) dan 5% (0,146 M) tidak terjadi plasmolisis sel. Pada konsentrasi larutan 10% (0,292 M) terjadi rata-rata 5 sel plasmolisis atau dalam prosentase 20%. Konsentrasi larutan 15% (0,439 M) terjadi rata-rata 14 sel plasmolisi atau dalam prosentase 56%, sedangkan larutan 20% (0,585 M) terjadi rata-rata 19 atau dalam prosentase 76% sel mengalami plasmolisis. Dapat diketahui hubungan antara konsentrasi larutan dengan terjadinya plasmolisis sel yaitu semakin tinggi molaritas larutan maka semakin banyak rata-rata jumlah sel yang mengalami plasmolisis. Artinya semakin tinggi konsentrasi larutan semakin tinggi presentase jumlah sel yang mengalami plasmolisis. Hubungan konsentrasi dengan plasmolisis, sel yang berada pada keadaan lingkungan hipertonik yaitu konsentrasi tinggi menjadi semakin tinggi, karena adanya konsentrasi suatu bahan di luar sel yang menarik air keluar, seperti diketahui air bergerak dari konsentrasi yang tinggi menuju

10

konsentrasi yang lebih rendah. Sedangkan bahan terlarut, yaitu gula, tidak dapat masuk ke dalam sel karena adanya membran selektif permeabel.Air dalam sel terosmosis keluar sel yang menyebabkan terjadinya tarikan di dalam protoplasma sel yang menyebabkannya terlepas dari dinding sel.Maka dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi larutan membuat semakin banyak air yang tertarik keluar dari sel daun Rhoeo discolor, akibatnya semakin banyak sel yang mengalami plasmolisis. Pada konsentrasi larutan 15% (0,439 M) dan 20% (0,585 M)

terjadi plasmolisis sel lebih dari 50% yaitu dengan prosentase plasmolisis masing-masing 56% dan 76% yang sebenarnya dapat dilanjutkan untuk menghitung tekanan osmosis yang ada pada sel epidermis bawah Rhoeodiscolor. Pada konsentrasi larutan 0% (0M), tidak terjadi plasmolisis pada sel epidermis bawah Rhoeodiscolor karena pada konsentrasi tersebut larutan bersifat hipotonik terhadap sel menyebabkan pergerakan air melalui osmosis justru terjadi ke dalam sel sehingga sel turgid. Sedangkan pada konsentrasi 5% (0,146 M) juga tidak terdapat plasmolisis sel karena konsentrasi larutan masih relatif sama dengan kondisi konsentrasi cairan sel, sehingga pergerakan dengan cara osmosis tidak terjadi. 2. Umbi Kentang Osmosis pada hakekatnya adalah suatu proses difusi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa osmosis adalah difusi air melaui selaput yang permeable secara differensial dari suatu tempat berkonsentrasi tinggi ketempat berkonsentrasi rendah.Tekanan yang terjadi karena difusi molekul air disebut tekanan osmosis. Makin besar terjadinya osmosis maka makin besar pula tekanan osmosisnya. MenurutKimball (1983) bahwa proses osmosis akan berhenti jika kecepatan desakan keluar air seimbang dengan masuknya air yang disebabkan konsentrasi. oleh perbedaan

11

Menurut Tjitrosomo (1987), jika sel dimasukan kedalam larutan gula,maka arah gerak air neto ditentukan oleh perbedaan nilai potensial air larutan dengan nilainya didalam sel. Jika potensial larutan lebih tinggi, air akan bergerak dari luar kedalam sel, bila potensial larutan lebih rendah maka yang terjadi sebaliknya, artinya sel akan kehilangan air. Apabila kehilangan air itu cukup besar, maka ada kemungkinan bahwa volume sel akan menurun demikian besarnya sehingga tidak dapat mengisi seluruh ruangan yang dibentuk oleh dinding sel. Membran dan sitoplasma akan terlepas dari dinding sel, keadaan ini dinamakan plasmolisis. Komponen potensial air pada tumbuhan terdiri atas potensial osmosis (solut) dan potensial turgor (tekanan). Dengan adanya potensial osmosis cairan sel, air murni cenderung memasuki sel. Sebaliknya potensial turgor di dalam sel mengakibatkan air meninggalkan sel. Pengaturan potensial osmosis dapat dilakukan jika potensial turgornya sama dengan nol yang terjadi saat sel mengalami plasmolisis. Nilai potensial osmotic dalam tumbuhan dipengaruhi oleh beberapa factor antaralain : tekanan, suhu, adanya partikel-partikel bahan terlarut yang larut di dalamnya, matrik sel, larutan dalam vakuola dan tekanan hidrostatik dalam isi sel. Nilai potensial osmotic akan meningkat jika tekanan yang diberikan juga semakin besar. Suhu berpengaruh terhadap potensial osmotic yaitu semakin tinggi suhunya maka nilai potensial osmotiknya semakin turun (semakin negatif) dan konsentrasi partikelpartikel terlarut semakin tinggi maka nilai potensial osmotiknya semakin rendah (Meyer and Anderson, 1952). Pada praktikum kali ini digunakan potongan kentang berbentuk silinder dengan panjang awal 3 cm. Berdasarkan hasil praktikum, jaringan tumbuhan yang dimasukan kedalam larutan sukrosa dengan konsentrasi yang terterapada Tabel.2 mengalami perpanjangan jaringan (pertambahan volume) dan ada pula yang mengalami penyusutan panjang jaringan (penyusutan volume) tumbuhan. Hasil perhitungan molaritas sukrosa dan potensial osmotik jaringan umbi kentang pada konsentrasi larutan sukurosa 0% besar potensial osmotiknya -0, pada konsentrasi larutan sukrosa 5%

12

besar potensial osmotiknya -3,6111, pada konsentrasi 10% besar osmotiknya -7,222, pada konsentrasi 15% besar potensial osmotiknya 10,833, dan pada konsentrasi 20% besar osmotiknya -14,470. Dari grafik diketahui bahwa semakin tinggi molaritas dan konsentrasi larutan sukrosa maka potensial osmotik jaringan tumbuhan akan semakin rendah. Nilai potensial osmosis sel dapat diketahui dengan menghitung nilai potensial osmosis larutan sukrosa yang isotonic terhadap cairan sel. Berdasarkan hasil praktikum, plasmolisis insipient terjadi pada konsentrasi 0M; 0,146M; 0,292 M; 0,438 M; 0,585M dengan potensial osmosis -0 atm, -3,6111 atm, -7,222 atm, -10,833 atm dan -14,470 atm. Menurut Salisbury dan Ross (1992), potensial air murni pada tekanan atmosfer dan suhu yang sama dengan larutan tersebut sama dengan nol, maka potensial air suatu larutan air pada tekanan atmosfer bernilai negatif. Dari hasil perhitungan potensial air di atas diperoleh hasil bahwa pada konsetrasi larutan 0% potensial airnya sebesar 0. Komponen potensial air pada tumbuhan terdiri atas potensial osmosis(solut) dan potensial turgor (tekanan). Dengan adanya potensial osmosis cairan sel,air murni cenderung memasuki sel. Sebaliknya potensial turgor di dalam sel mengakibatkan air meninggalkan sel. Pada konsentrasi 0% kentang bertambah panjang karena air dari luar lingkungan masuk kedalam jaringan kentang yang menyebabkan kentang bertambah panjang. Pada konsentrasi larutan sukrosa 5% potensial airnya sebesar 3,6111dimana silinder kentang mengalami pertambahan panjang 0,3 cm, pada konsentrasi larutan sukrosa 10% potensial airnya sebesar 7,222 silinder kentang mengalami pertambahan panjang sebesar 0,162 cm, pada konsentrasi larutan sukrosa 15% potensial airnya sebesar 10,833 silinder kentang mengalami pertambahan panjang sebesar 0,19 cm, dan pada konsentrasi larutan sukrosa 20% potensial airnya sebesar 14,470 silinder kentang mengalami pertambahan panjangsebesar 0,307 cm. Dari percobaan yang dilakukan adalah semakin tinggi molaritas larutan sukrosa maka angka potensial air juga semakin tinggi (berbanding lurus), sedangkan potensial osmotik berbanding terbalik dengan konsentrasi sukrosa.

13

F. KESIMPULAN
1.

Nilai Potensial Air (PA) umbi kentang dapat diketahui menggunakan rumus = - s . Dengan rumus tersebut diperoleh hasil, 0% memiliki nilai PA ( )= 0 yaitu, metilen biru tenggelam di dasar beaker glass; pada konsentrasi 5% memiliki nilai PA ( ) = 3,611 yaitu, metilen biru mengapung di permukaan cairan; pada konsentrasi 10% memiliki nilai PA ( ) = 7,222 yaitu, metilen biru melayang di tengah cairan; dan pada konsentrasi 15% memiliki nilai PA ( ) = 10,833 yaitu, metilen biru melayang di tengah cairan

2. Gejala plasmolisis ditemukan pada percobaan sayatan epidermis bawah daun Rhoeo discolor. Dimana pada masing masing sayatan epidermal dengan presentase berbeda menyebabkan beberapa sel dari 25 sel yang diamati. 3. Plasmosis diakibatkan oleh adanya perbedaan konsentrasi antara cairan di dalam dan di luar sel, serta adanya osmosis yang menyebabkan air didalam sel tertarik ke arah luar sel. 4. Plasmolisis adalah peristiwa lepasnya protoplasma dari dinding sel akibat terjadinya osmosis yaitu, keluarnya cairan sel (konsentrasi rendah) menuju ke luar sel (konsentrasi tinggi) melewati membran sel yang selektif permeabel. 5. Hubungan antara konsentrasi larutan dengan terjadinya plasmolisis sel yaitu semakin tinggi molaritas larutan maka semakin banyak rata-rata jumlah sel yang mengalami plasmolisis. Artinya semakin tinggi konsentrasi larutan semakin tinggi presentase jumlah sel yang mengalami plasmolisis. terjadinya plasmolisis pada

G. DISKUSI 1. Apakah ada perbedaan respon sel-sel epidermis pada larutan eksternalnya (larutan gula) yang berbeda konsentrasinya? Jawab: ada, semakin tinggi konsentrasi larutan eksternalnya, maka semakin banyak sel yang mengalami plasmolisis. Selain itu, semakin tinggi konsentrasi

14

larutan eksternalnya, juga mengakibatkan protoplas akan semakin banyak kehilangan air dan menyusut volumenya, sehingga semakin jauh terlepas dari dinding sel 2. Bagaimana kecenderungan bentuk hubunganan tara tingkat plasmolisis dengan konsentrasi larutan gula? Jawab: pada tingkatan plasmolisis, protoplas akan semakin banyak kehilangan air dan menyusut volumenya, ketika lingkungan eksternalnya semakin tinggi konsentrasinya (larutan gula). Hal tersebut mengakibatkan membran sitoplasma semakin banyak yang terlepas dari dinding sel. Semakin besar konsentrasi larutan gula di lingkungan eksternalnya, akan

mengakibatkan semakin banyak sel yang mengalami plasmolisis. 3. Bila tekanan osmotic larutan di luar sel atau jaringan sama dengan tekanan osmotic cairan selnya, peristiwa apa yang akan terjadi? Jawab: isotonis 4. Mengapa dalam praktikum ini ditekankan pada jumlah sel yang mengalami plasmolisis sekitar 50%? Jelaskan! Jawab: agar dapat diketahui ketahanan suatu tumbuhan dalam mengatur tekanan osmotik antara di luar dan di dalam sel. Jika di atas 50%, kemungkinan tumbuhan akan mengalami kematian (plasmolisis sempurna). Selain itu, dengan menekankan pada jumlah sel yang mengalami plasmolisis sekitar 50%, dapat diketahui kecepatan peristiwa difusi dan osmosis dalam tumbuhan tersebut. 5. Apa yang dimaksud dengan plasmolisis insipien? Jawab: peristiwa dimana protoplas kehilangan air dan menyusut volumenya, namun membran sitoplasma tersebut tidak lepas seutuhnya (lepas sebagian) dari dinding sel. 6. Menurut dugaan anda, apakah sel atau jaringan yang terplasmolisis dalam praktikum ini masih dapat kembali normal bila dikembalikan kelingkungan air biasa? Jawab: bisa. Selama sel atau jaringan tersebut masih dalam keadaan hidup
15

7. Bagaimanakah perbedaan tingkat perubahan panjang potongan kentang pada konsentrasi larutan gula yang berbeda? Jawab: semakin tinggi konsentrasi larutan gula (larutan eksternal), maka menyebabkan semakin berkurang ukuran panjang kentang tersebut. Karena air yang berada di sel atau jaringan kentang keluar menuju lingkungan hipertonis. 8. Apakah artinya jika potongan kentang bertambah panjang? Jawab: potongan kentang tersebut mengalami peristiwa turgor, dimana air dari lingkungan hipotonis masuk ke dalam lingkungan sel yang hipertonis. 9. Bagaimana status potensial air jaringan kentang terhadap larutan perendam jika tidak tejadi perubahan volume? Jawab: itu berarti terjadi keseimbangan cairan di antara luar dan dalam sel. 10. Mengapa umbi kentang dapat berubah ukurannya setelah direndam dalam larutan gula dalam berbagai konsentrasi, padahal sel-sel umbi tersebut memiliki dinding sel? Jawab: pada dinding sel terdapat pori-pori atau noktah yang berfungsi sebagai tempat keluar masuknya air dari atau dalam sel, sehingga dalam kondisi hipertonis (sel) air dapat masuk ke dalam lingkungan sel.

16

DAFTAR PUSTAKA Fitter, A. H., dan Hay, R. K. M. 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hopkin, W. G. dan Huner, N. P. A. 2009. Introduction to Plant Physiology 4th. Ontario: The University of Western Ontario. Kimball, J. W. 1983. Biologi. Erlangga, Jakarta. Meyer, B.S and Anderson, D.B. 1952. Plant Physiology. D Van Nostrand Company Inc., New York. Salisbury, Frank B. et al. 1995. Plant Physiology 2nd Edition. Mc Graw Hill Company. New York. Salisbury, F. B. & Ross, C. W. 1992. Plant Physiology. Wadswovth Publishing co, California. Tjitrosomo.1987. Botani Umum 2. Penerbit Angkasa, Bandung. Wilkins, M. B. 1992. Fisiologi Tanaman. Bumi Angkasa, Jakarta. Winduwati S., Yohan, Rifaid M. Nur. 2000. Karakteristik Osmosis Balik Membran Spiral Wound. Pusat Pengembangan Pengelolaan Limbah Radio Aktif.

17

H. LAMPIRAN

Gambar 1.1 SelRhoeo discolorkonsentrasi 0% U- 1

Gambar 1.2 SelRhoeo discolorkonsentrasi 0% U- 2

Gambar 1.3 SelRhoeo discolorkonsentrasi 0% U- 3

Gambar 1.4 SelRhoeo discolorkonsentrasi 5% U- 1

Gambar 1.5 SelRhoeo discolorkonsentrasi 5% U- 2


18

Gambar 1.6 SelRhoeo discolorkonsentrasi 5% U- 3

Gambar 1.7 SelRhoeo discolorkonsentrasi 10% U- 1

Gambar 1.8 SelRhoeo discolorkonsentrasi 10% U- 2

Gambar 1.9 SelRhoeo discolorkonsentrasi 15% U- 1

Gambar 1.10 SelRhoeo discolorkonsentrasi 15% U- 2

Gambar 1.11 SelRhoeo discolorkonsentrasi 20% U- 1


19

Gambar 1.12 SelRhoeo discolorkonsentrasi 20% U- 2