Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM AKUSTIK KELAUTAN MODUL 2 : SIFAT FISIK GELOMBANG SUARA DALAM AIR TOPIK 1 : KECEPATAN SUARA

DALAM AIR

OLEH : Rr DHITA PUPITASARI I PUTU ADI SUPUTRA UMI FATIMAH RIAN SEPTIANTO 260 201 111 300 39 260 201 111 300 40 260 201 111 300 41 260 201 111 300 43

SUSILO DWI CAHYANTI K2D 009 026 INDAH DWI IRANI S K2D 009 028

JURUSAN ILMU KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013

I. PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Manusia dapat mendengar bunyi saat gelombang bunyi merambat di udara atau medium lain sampai ke gendang telinga manusia. Batas frekuensi bunyi yang dapat didengar oleh telinga manusia kira-kira dari 20 Hz sampai 20 kHz pada amplitudo umum dengan berbagai variasi dalam kurva responsnya. Suara di atas 20 kHz dinamakan ultrasonik dan di bawah 20 Hz dinamakan infrasonick. Suara merupakan gelombang longitudinal yang merambat melalui medium, yang dihasilkan oleh getaran mekanis dan merupakan hasil perambatan energi. Sumber bunyi sebagai sumber getar memancarkan gelombang-gelombang longitudinal ke segala arah melalui medium baik padat, cair maupun gas. Sumber getar tersebut bisa saja berasal dari dawai/kawat, pipa organa, bahkan ombak di pantai. Kecepatan suara di dalam laut merupakan variable oseanogrfi yang dapat berpengaruh terhadap terjadinya penyimpangan dalam proses transmisi gelombang suara di dalam laut. Kecepatan suara di dalam laut bervariasi terhadap kedalaman, musim, lokasi, geografis, dan waktu ( pada lokasi yang sama). Pengukuran terhadap kecepatan suara dalam air ( laut ) sudah banyak dilakukan baik secara alami maupun dalam skala laboratorium. Dari berbagai hasil pengukuran, diketahui bahwa secara umum variasi kecepatan suara dalam air ditentukan oleh faktor : temperature, salinitas dan tekanan ( kedalaman ).

1.2

Tujuan Menghitung kecepatan suara dalam laut berdasarkan parameter temperature, salinitas dan kedalaman.

1.3

Manfaat Praktikum Mahasiswa dapat menghitung besaran kecepatan suara dalam air dengan persamaan Leroy, Medwun dan Mackenzie dimana setiap persamaan memiliki batasan ketelitian yang berbeda,mahasiswa juga dapat mengetahui faktor yang menyebabkan adanya variasi kecepatan suara dalam air.

1.4

Waktu dan Tempat Hari/Tanggal Waktu Tempat : Jumat, 19 April 2013 : Pukul 16.20 WIB : Ruang B301 lantai 3, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro, Semarang.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Perambatan Gelombang Suara Bawah Air Gelombang merupakan suatu getaran (gangguan) yang

merambat.Sedangkan getaran itu sendiri merupakan gerakan bolak-balik dalam suatu interval waktu tertentu.Gelombang berbeda dengan materi. Selama perambatannya (selama menjalar), gelombang hanya memindahkan energi, sementara materi selama berpindah selalu memindahkan massa dan energinya (Anonim. 2009). Gelombang mekanis ditimbulkan oleh adanya pergeseran energi dari sumber getaran dari kedudukan normalnya. Karena sifat elastis medium, maka gangguan tersebut akan ditransmisikan (dipindahkan) dari suatu lapis ke lapis berikutnya. Sebagai akibatnya, gangguan atau gelombang ini akan bergerak maju melalui medium tersebut, sedangkan medium itu sendiri tidak secara keseluruhan bersama-sama gerak gelombang tersebut, namun bagian medium tersebut hanya berosilasi di dalam jalan yang terbatas. Gelombang akan membuat objek bergerak, yang berarti gelombang memindahkan energi (tenaga) ke benda/objek. Setelah gangguan (gelombang) ini lewat, keadaan medium akan kembali ke keadaan semula seperti sebelum gangguan ini datang (Anonim. 2009). Rapatan merupakan daerah di mana kumparan pegas saling mendekat.Renggangan merupakan daerah di mana kumparan pegas saling menjauhi. Contoh gelombang longitudinal ialah gelombang bunyi (yang akan dibahas pada sub bab berikutnya). Gelombang berjalan (merambat) memiliki kecepatan, frekuensi, periode, panjang gelombang, dan waktu tempuh.Frekuensi menyatakan banyaknya gelombang yang terjadi dalam satu detik.Satuan dari frekuensi

adalah Hertz (Hz). 1 Hertz sama dengan 1 siklus per detik atau satu gelombang sempurna dalam satu detik. Periode adalah waktu yang diperlukan untuk membentuk saru gelombang sempurna, satuannya dalam detik (second).Periode ditentukan oleh sumber suara dan bukan oleh medium yang dilaluinya. Periode berbanding terbalik dengan frekuensi, periode akan meningkat atau bertambah bila frekuensi menurun (Anonim. 2009). Dimana : P = 1/f P = Periode gelombang (detik) f = frekuensi (Hz) Cepat rambat gelombang adalah kecepatan gelombang suara ketika berjalan menembus medium. Kecepatannya dipengaruhi oleh sifat dan kerapatan medium yang dilaluinya dan dinyatakan dalam meter per detik (m/detik). Pada medium yang sama cepat rabat gelombang akan sama walaupun frekuensinya berbeda. V= S / T (detik). dimana, s adalah jarak (m) dan t adalah waktu

2.2 Kecepatan Suara dalam Air


Kecepatan suara adalah istilah yang digunakan untuk

menyebut kecepatan gelombang suara yang melalui medium elastis.Kecepatan ini dapat berbeda tergantung medium yang dilewati (misalnya suara lebih cepat melalui air daripada udara), sifat-sifat medium tersebut, dan suhu.Namun, istilah ini lebih banyak dipakai untuk kecepatan suara di udara.Pada ketinggian air laut, dengan suhu 21 C dan kondisi atmosfer normal, kecepatan suara adalah 344 m/detik (1238 km/jam). Kecepatan suara akan lebih cepat melaju di air dan di benda padat. Kecepatan suara di air adalah 4.3 kali lipat kecepatan

di udara, yaitu 1.484 m/detik. Kecepatan suara di besi adalah 15 kali lipat kecepatan di udara, yaitu 5.120 m/detik (Anonim,2013). Suara adalah pemampatan mekanis atau gelombang

longitudinal yang merambat melalui medium. Medium atau zat perantara ini dapat berupa zat cair, padat, gas. Jadi, gelombang bunyi dapat merambat misalnya di dalam air, batu bara, atau udara. Kebanyakan suara adalah merupakan gabungan berbagai sinyal, tetapi suara murni secara teoritis dapat dijelaskan dengan kecepatan osilasi atau frekuensi yang diukur

dalam Hertz (Hz) danamplitudo atau kenyaringan bunyi dengan pengukuran dalam desibel.Manusia mendengar bunyi saat gelombang bunyi, yaitu getaran di udara atau medium lain, sampai ke gendang telinga manusia. Batas frekuensi bunyi yang dapat didengar oleh telinga manusiakira-kira dari 20 Hz sampai 20 kHz pada amplitudo umum dengan berbagai variasi dalam kurva responsnya. Suara di atas 20 kHz disebut ultrasonik dan di bawah 20 Hz

disebut infrasonik(Anonim,2013).

2.3 Metode Pengukuran Kecepatan Suara dalam air


Untuk mengetahui kedalaman laut digunakan dua metode yaitu: a. BATU DUGA Yaitu sistem pengukuran dasar laut menggunakan kabel yang dilengkapi bandul pemberat yang massanya berkisar 25-75 kg.

Gambar metode batu duga:

b. GEMA SUARA Yaitu metode pengukuran dasar laut dengan menggunakan alat gema suara yaitu ECHO SOUNDER dan HIDROFON. Echo Sounder adalah alat pengirim suara, sedangkan hidrofon adalah penerima gema suara.

Dasar perhitungan kedalaman laut dengan gema adalah cepat rambat bunyi dalam air yaitu 1500 m/detik. gambar gema suara:

Mengukur jarak tempuh, waktu tempuh, dan kecepatan rata-rata kendaraan bermotor kita dapat dilakukan dengan rumus fisika kinematika yaitu rumus mengukur gerak lurus beraturan (glb).Berikut ini ulasannya. Kinematika adalah cabang fisika yang mempelajari gerak dengan menghiraukan penyebab gerak. Mengenai penyebab gerak akan dibahas dalam Dinamika.Gerak yang dibicarakan dalam bagian ini adalah gerak yang dialami benda pada sebuah lintasan berbentuk garis lurus.(sebut saja jalan raya)Gerak lurus beraturan berarti gerakan ini memiliki indikator kecepatan benda yang tetap, Tetap berarti tidak berubah (dari awal hingga akhir kecepatan benda tidak berubah) dan dalam hal ini kita modifikasi sebagai kecepatan rata-rata kendaraan.Kecepatan didefinisikan sebagai perubahan kedudukan setiap satuan waktu.Gerak Lurus Beraturan (GLB) adalah suatu gerak lurus yang mempunyai kecepatan konstan. Maka nilai percepatannya adalah a = 0. Gerakan GLB

berbentuk linear dan nilai kecepatannya adalah hasil bagi jarak dengan waktu yang ditempuh. Rumus:

Dengan ketentuan: = Jarak yang ditempuh (m, km) = Kecepatan (km/jam, m/s) = Waktu tempuh (jam, sekon)

2.4 Faktor faktor Kecepatan Suara dalam Air


1. Bunyi/Suara Seperti yang kita ketahui bunyi atau suara adalah

gelombang longitudinal yang merambat melalui medium atau sederhananya dapat kita artikan getaran yang merambat melalui medium.Medium atau zat perantara tersebut berupa zat cair, padat, gas. Bunyi tidak dapat terdengar pada ruang hampa udara karena bunyi membutuhkan zat perantara untuk menghantarkan bunyi baik zat padat, cair maupun gas. 2. Cepat Rambat Bunyi Bunyi mempunyai cepat rambat yang terbatas.Bunyi memerlukan waktu untuk berpindah.Cepat rambat bunyi sebenarnya tidak terlampau besar.Cepat rambat bunyi jauh lebih kecil dibandingkan dengan cepat rambat cahaya .Karena bunyi termasuk gelombang, cepat rambat bunyi juga memenuhi persamaan cepat rambat gelombang. Jika bunyi menempuh jarak (s) selama selang waktu (t) maka akan memenuhi hubungan. 3. Suhu Suhu udara yang lebih panas atau lebih dingin mempengaruhi kecepatan bunyi di udara. Pada prinsipnya semakin tinggi suhu suatu medium , maka semakin cepat rambat bunyi dalam medium tersebut. Dikarena makin

tinggi suhu, maka semakin cepat getaran partikel-partikel dalam medium tersebut. Akibatnya, proses perpindahan getaran makin cepat . 4. Tekanan Pada tekan, setiap penambahan kedalaman maka tekanan akan semakin tinggi. Semakin tinggi tekan maka akan semakin tinggi cepat rambat bunyinya. Hal tersebut karena partikel-partikel zat yang bertekanan tinggi terkompresi sehingga cepat rambat yang dihasilkan lebih besar. Pengaruh tekan akan lebih besar dari suhu dan salinitas pada lapisan Deep Layer. 5. Salinitas Cepat rambat bunyi terhadap salinitas seharusnya berkurang seiring kenaikan salinitas karena meningkatnya densitas. Akan tetapi kenaikan salinitas meningkatkan modulus axial (larutan menjadi kurang kompres), sehingga tiap kenaika salinitas akan meningkatkan cepat rambat bunyi. 6. Densitas/Kerapatan Makin rapat medium umumnya semakin besar cepat rambat bunyi dalam medium tersebut . Penyebabnya adalah makin rapat medium maka makin kuat gaya kohesi antar-partikel .akibatnya pengaruh suatu bagian medium kepada bagian yg lain akan mengikuti getaran tersebut dengan segera . akibatnya perpindahan getaran terjadi sangat cepat .

2.5 Persamaan Kecepatan Suara dalam Air


Kecepatan tekanan akan diteruskan ke zat cair sehingga kan timbul rapatan. Jika torak ditarik di dalam tabung akan terbentuk regangan. Seterusnya, jika dilakukan penarikan dan penekanan secara periodic pada zat cair akan terbentuk rapatan-rapatan dan regangan-regangan yang merambat ke kanan. Getaran dari rapatan dan regangan ini merupakan proses perambatan gelombang longitudinal di dalam zat cair. Kecepatanperambatan gelombang bunyi dalam zat cair ini bergantung pada inetraksi antara molekul dan sifat inersia medium. Interaksi antara molekul-molekul zat cair dinyatakan dengan modulus bulk (B). Modulus Bulk (B) didefinisikan sebagai berikut.

dengan: P = perubahan tekanan V = perubahan volume V = volume Sifat inersia medium dinyatakan oleh massa jenis mediumnya ( ). Kecepatan perambatan gelombang bunyi di dalam zat cair memenuhi persamaan sebagai berikut.

Kecepatan perambatan bunyi adalah sebagai berikut.

Panjang gelombang bunyi adalah sebagai berikut.

Bagimanakah jika perambatan bunyi tersebut terjadi di dalam tabung yang berisi gas? Dalam tabung yang berisi gas, modulus gas

adalah B = P dengan adalah tetapan Laplace

yaitu, merupakan besaran untuk menunjukkan kapasitas kalor gas pada tekanan tetap dibagi kapasitas kalornya pada volume tetap. P adalah tekanan gas.Kecepatan gelombang bunyi dalam zat gas memenuhi gelombang bunyi dalam zat gas memenuhi persamaan berikut ini. .

III. MATERI DAN METODA

3.1

Alat dan Bahan 3.1.1 Alat 1. Bolpoin/alat tulis 2. Buku 3. Laptop/kalkulator 3.1.2 Bahan 1. Data suhu, kedalaman dan salinitas 2. Rumus Persamaan Kecepatan Suara dalam air

3.2

Cara Kerja 1. Disiapkan alat dan bahan. 2. Disiapkan data suhu, salinitas, dan tekanan disuatu perairan.
3. Lakukan perhitungan dengan menggunakan persamaan: c = 1492,9 + 3(T-10) - 6x10-5(T-10)2 4x10-2(T-18)2 + 1.2(S-35) 10-2(T-18)(S35) + D/61 c = 1449,2 + 4,6T 5,5x10-2T2 + 2,9x10-4T3 + (1,34-10-2T)(S-35) + 1,6x10-2D c = 1448,96 + 4,591T 5,304x10-2T2 + 2,374x10-4T3 + 1,340(S-35) + 1,630x102

D + 1,675x10-7D2 1,025x10-2T(S-35) 7,139x10-13T.D3

4. Catat hasil perhitungan tersebut. 5. Tentukan perbedaan hasil dari masing-masing persamaan. 6. Tetukan hubungan antara kecepatan terhadap salinitas, suhu dan tekanan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil 4.1.1 Nilai Kecepatan Suara dalam Laut DATA A a. LEROY


T=24.5 S=30 D= 1000 A .LEROY (1969)

C = 1492,9 + 3 (T 10 ) 6 x 10 -5 ( T 10 )2 4 X 10 -2( T 18 )2 + 1,2 ( S 35) 10-2 ( T 18 )(S 35) + D/61 = 1492,9 + 3 (24,5 10 ) 6 X 10 -5 ( 24,5 10 )2 4 X 10 -2 ( 24,5 18 )2 + 1,2 (30 35 ) 10-2 ( 24,5 18 )(30 35) + 1000/61 =
1545.416

B. MEDWIN (1975) C= 1449,2 + 4,6 T 5,5 x 10-2 T2 +2,9 X 10-4T3 + (1.34- 10-2T)(S35)+1,6 x 10-2D = 1449,2 + 4,6 24,5 5,5 x 10-2 24,52 +2,9 X 10-4 24,53 + (1.3410-224,5)(30 -35)+1,6 x 10-21000 =
14580.65

C. MacKenzie (1981) C= 1448,96 + 4,5917T + 5,304 x 10-2T2 + 2,374 x 10-4T3 +1,340 (S 35) + 1,630 x 10-2D + 1,675 x 10-7D2 1,025 x 10-2T(S 35 ) 7,139 x 10-3T x D3 C= 1448,96 + 4,5917(24,5) + 5,304 x 10-2(24,5)2 + 2,374 x 104 (24,5)3 +1,340 (30 35) + 1,630 x 10-2(1000 )+ 1,675 x 10-7(1000)2 1,025 x 102 (24,5)(30 35 ) 7,139 x 10-3(24,5) x 10003

164604.8911

T=30 S=30 D= 1000 A .LEROY (1969)

C = 1492,9 + 3 (T 10 ) 6 x 10 -5 ( T 10 )2 4 X 10 -2( T 18 )2 + 1,2 ( S 35) 10-2 ( T 18 )(S 35) + D/61 = 1492,9 + 3 (30 10 ) 6 x 10 -5 ( 30 10 )2 4 X 10 -2( 30 18 )2 + 1,2( S 35) 10-2 ( 30 18 )(30 35) + 1000/61 =
1558.109

B. MEDWIN (1975) C= 1449,2 + 4,6 T 5,5 x 10-2 T2 +2,9 X 10-4T3 + (1.34- 10-2T)(S35)+1,6 x 10-2D = 1449,2 + 4,6 (30) 5,5 x 10-2(30)2 +2,9 X 10-4(30)3 + (1.3410-230)(3035)+1,6 x 10-21000 =
14580.65

C. MacKenzie (1981) C= 1448,96 + 4,5917T + 5,304 x 10-2T2 + 2,374 x 10-4T3 +1,340 (S 35) + 1,630 x 10-2D + 1,675 x 10-7D2 1,025 x 10-2T(S 35 ) 7,139 x 10-3T x D3 1448,96 + 4,5917(30) + 5,304 x 10-2(30)2 + 2,374 x 10-4(30)3 +1,340 (30 35) + 1,630 x 10-21000 + 1,675 x 10-710002 1,025 x 10-230(1000 35 ) 7,139 x 10-330 x 10003
=
=

164604.8911

T=35 S=30 D= 1000


A .LEROY (1969)

C = 1492,9 + 3 (T 10 ) 6 x 10 -5 ( T 10 )2 4 X 10 -2( T 18 )2 + 1,2 ( S 35) 10-2 ( T 18 )(S 35) + D/61 = 2 ) + = 1492,9 + 3 (35 10 ) 6 x 10 -5 ( 35 10 )2 4 x 10 -2( 35 18 1,2 ( 30 35) 10-2 ( 35 18 )(30 35) + 1000/61
1558.109

B. MEDWIN (1975) C= 1449,2 + 4,6 T 5,5 x 10-2 T2 +2,9 X 10-4T3 + (1.34- 10-2T)(S35)+1,6 x 10-2D = 1449,2 + 4,6 (35) 5,5 x 10-2 352 +2,9 x 10-4 353 + (1.34-102 35)(30 -35)+1,6 x 10-21000 =
14599.33

C. MacKenzie (1981) C= 1448,96 + 4,5917T + 5,304 x 10-2T2 + 2,374 x 10-4T3 +1,340 (S 35) + 1,630 x 10-2D + 1,675 x 10-7D2 1,025 x 10-2T(S 35 ) 7,139 x 10-3T x D3 C= 1448,96 + 4,5917(35) + 5,304 x 10-2(35)2 + 2,374 x 10-4(35)3 +1,340 (35 35) + 1,630 x 10-2(1000 )+ 1,675 x 10-7(1000)2 1,025 x 102 (35)(30 35 ) 7,139 x 10-3(35) x 10003 = DATA B
T=25 S=30 D= 1000 A .LEROY (1969) 164649.2408

C = 1492,9 + 3 (T 10 ) 6 x 10 -5 ( T 10 )2 4 X 10 -2( T 18 )2 + 1,2 ( S 35) 10-2 ( T 18 )(S 35) + D/61 = 2 ) + = 1492,9 + 3 (25 10 ) 6 x 10 -5 ( 25 10 )2 4 x 10 -2( 25 18 1,2 ( 30 35) 10-2 ( 35 18 )(30 35) + 1000/61
1546.67

B. MEDWIN (1975) C= 1449,2 + 4,6 T 5,5 x 10-2 T2 +2,9 X 10-4T3 + (1.34- 10-2T)(S35)+1,6 x 10-2D = 1449,2 + 4,6 (25) 5,5 x 10-2 (25)2 +2,9 x 10-4 253 + (1.34-102 25)(30 -35)+1,6 x 10-21000 =
14582.46

C. MacKenzie (1981) C= 1448,96 + 4,5917T + 5,304 x 10-2T2 + 2,374 x 10-4T3 +1,340 (S 35) + 1,630 x 10-2D + 1,675 x 10-7D2 1,025 x 10-2T(S 35 ) 7,139 x 10-3T x D3 C= 1448,96 + 4,5917(25) + 5,304 x 10-2(25)2 + 2,374 x 10-4(25)3 +1,340 (30 35) + 1,630 x 10-2(1000 )+ 1,675 x 10-7(1000)2 1,025 x 102 (25)(30 35 ) 7,139 x 10-3(25) x 10003 =
14582.46

T=25 S=35 D= 1000 A. LEROY (1969)

C = 1492,9 + 3 (T 10 ) 6 x 10 -5 ( T 10 )2 4 X 10 -2( T 18 )2 + 1,2 ( S 35) 10-2 ( T 18 )(S 35) + D/61 = 1492,9 + 3 (25 10 ) 6 x 10 -5 ( 25 10 )2 4 x 10 -2( 25 18 )2 + 1,2 (35 35) 10-2 ( 25 18 )(35 35) + 1000/61 =
1552.32

B.

MEDWIN (1975)

C= 1449,2 + 4,6 T 5,5 x 10-2 T2 +2,9 X 10-4T3 + (1.34- 10-2T)(S35)+1,6 x 10-2D = 1449,2 + 4,6 (25) 5,5 x 10-2 252 +2,9 x 10-4 253 + (1.34-102 25)(35 -35)+1,6 x 10-21000 =
C. 14582.46

MacKenzie (1981)

C= 1448,96 + 4,5917T + 5,304 x 10-2T2 + 2,374 x 10-4T3 +1,340 (S 35) + 1,630 x 10-2D + 1,675 x 10-7D2 1,025 x 10-2T(S 35 ) 7,139 x 10-3T x D3 C= 1448,96 + 4,5917(25) + 5,304 x 10-2(25)2 + 2,374 x 10-4(25)3 +1,340 (35 35) + 1,630 x 10-2(1000 )+ 1,675 x 10-7(1000)2 1,025 x 102 (35)(30 35 ) 7,139 x 10-3(25) x 10003 =
164600.8

T=25 S=40 D= 1000 A. LEROY (1969)

C = 1492,9 + 3 (T 10 ) 6 x 10 -5 ( T 10 )2 4 X 10 -2( T 18 )2 + 1,2 ( S 35) 10-2 ( T 18 )(S 35) + D/61 = 1492,9 + 3 (25 10 ) 6 x 10 -5 ( 25 10 )2 4 x 10 -2( 25 18 )2 + 1,2 (40 35) 10-2 ( 25 18 )(40 35) + 1000/61 =
B. 1557.97

MEDWIN (1975)

C= 1449,2 + 4,6 T 5,5 x 10-2 T2 +2,9 X 10-4T3 + (1.34- 10-2T)(S35)+1,6 x 10-2D = 1449,2 + 4,6 (25) 5,5 x 10-2 252 +2,9 x 10-4 253 + (1.34-102 25)(40 -35)+1,6 x 10-21000 =
14582.46

C.

MacKenzie (1981)

C= 1448,96 + 4,5917T + 5,304 x 10-2T2 + 2,374 x 10-4T3 +1,340 (S 35) + 1,630 x 10-2D + 1,675 x 10-7D2 1,025 x 10-2T(S 35 ) 7,139 x 10-3T x D3 C= 1448,96 + 4,5917(25) + 5,304 x 10-2(25)2 + 2,374 x 10-4(25)3 +1,340 (40 35) + 1,630 x 10-2(1000 )+ 1,675 x 10-7(1000)2 1,025 x 102 (35)(40 35 ) 7,139 x 10-3(25) x 10003 =
DATA C T=25 S=25 D= 1000 A. LEROY (1969) 164592.8

C = 1492,9 + 3 (T 10 ) 6 x 10 -5 ( T 10 )2 4 X 10 -2( T 18 )2 + 1,2 ( S 35) 10-2 ( T 18 )(S 35) + D/61 = 1492,9 + 3 (25 10 ) 6 x 10 -5 ( 25 10 )2 4 x 10 -2( 25 18 )2 + 1,2 (25 35) 10-2 ( 25 18 )(25 35) + 1000/61 =
B. 1537.22

MEDWIN (1975)

C= 1449,2 + 4,6 T 5,5 x 10-2 T2 +2,9 X 10-4T3 + (1.34- 10-2T)(S35)+1,6 x 10-2D = 1449,2 + 4,6 (25) 5,5 x 10-2 252 +2,9 x 10-4 253 + (1.34-102 25)(25 -35)+1,6 x 10-21000 =
C. 14582.46

MacKenzie (1981)

C= 1448,96 + 4,5917T + 5,304 x 10-2T2 + 2,374 x 10-4T3 +1,340 (S 35) + 1,630 x 10-2D + 1,675 x 10-7D2 1,025 x 10-2T(S 35 ) 7,139 x 10-3T x D3 C= 1448,96 + 4,5917(25) + 5,304 x 10-2(25)2 + 2,374 x 10-4(25)3 +1,340 (25 35) + 1,630 x 10-2(1000 )+ 1,675 x 10-7(1000)2 1,025 x 102 (35)(25 35 ) 7,139 x 10-3(25) x 10003 = 164616.7

T=25 S=25 D= 4000 A. LEROY (1969)

C = 1492,9 + 3 (T 10 ) 6 x 10 -5 ( T 10 )2 4 X 10 -2( T 18 )2 + 1,2 ( S 35) 10-2 ( T 18 )(S 35) + D/61 = 1492,9 + 3 (25 10 ) 6 x 10 -5 ( 25 10 )2 4 x 10 -2( 25 18 )2 + 1,2 (25 35) 10-2 ( 25 18 )(25 35) + 4000/61 =
B. 1586.4

MEDWIN (1975)

C= 1449,2 + 4,6 T 5,5 x 10-2 T2 +2,9 X 10-4T3 + (1.34- 10-2T)(S35)+1,6 x 10-2D = 1449,2 + 4,6 (25) 5,5 x 10-2 252 +2,9 x 10-4 253 + (1.34-102 25)(25 -35)+1,6 x 10-24000 =
C. 14630.46

MacKenzie (1981)

C= 1448,96 + 4,5917T + 5,304 x 10-2T2 + 2,374 x 10-4T3 +1,340 (S 35) + 1,630 x 10-2D + 1,675 x 10-7D2 1,025 x 10-2T(S 35 ) 7,139 x 10-3T x D3

C= 1448,96 + 4,5917(25) + 5,304 x 10-2(25)2 + 2,374 x 10-4(25)3 +1,340 (25 35) + 1,630 x 10-2(1000 )+ 1,675 x 10-7(1000)2 1,025 x 102 (35)(25 35 ) 7,139 x 10-3(25) x 40003 =
653619.2

T=25 S=25 D=8000 A. LEROY (1969)

C = 1492,9 + 3 (T 10 ) 6 x 10 -5 ( T 10 )2 4 X 10 -2( T 18 )2 + 1,2 ( S 35) 10-2 ( T 18 )(S 35) + D/61 = 1492,9 + 3 (25 10 ) 6 x 10 -5 ( 25 10 )2 4 x 10 -2( 25 18 ) + 1,2 (25 35) 10-2 ( 25 18 )(25 35) + 8000/61
2

=
B.

1651.974

MEDWIN (1975)

C= 1449,2 + 4,6 T 5,5 x 10-2 T2 +2,9 X 10-4T3 + (1.34- 10-2T)(S35)+1,6 x 10-2D = 1449,2 + 4,6 (25) 5,5 x 10-2 252 +2,9 x 10-4 253 + (1.34-102 25)(25 -35)+1,6 x 10-28000 =
C. 14694.46

MacKenzie (1981)

C= 1448,96 + 4,5917T + 5,304 x 10-2T2 + 2,374 x 10-4T3 +1,340 (S 35) + 1,630 x 10-2D + 1,675 x 10-7D2 1,025 x 10-2T(S 35 ) 7,139 x 10-3T x D3 C= 1448,96 + 4,5917(25) + 5,304 x 10-2(25)2 + 2,374 x 10-4(25)3 +1,340 (25 35) + 1,630 x 10-2(1000 )+ 1,675 x 10-7(1000)2 1,025 x 102 (35)(25 35 ) 7,139 x 10-3(25) x 80003 =
1305627

4.1.2

Perbandingan Hasil Perhitungan Nilai Kecepatan Suara Dalam Laut C = | ( C1 C2 ) + C2 C3 ) | 2 DATA A

1. LEROY C = | ( C1 C2 ) + (C2 C3 ) | 2 = | (1545.416 - 1558.109 ) + (1558.109 - 1567.546 ) | 2 = 7.975365

2. METWIN C = | ( C1 C2 ) + (C2 C3 ) | 2 = | (14580.65 - 14599.33) + (14599.33- 14614.26) | 2 = 11.2121

3. MecKenzie C = | ( C1 C2 ) + (C2 C3 ) | 2

= | (164604.9- 164649.2) + (164649.2- 164693.5) | 2 = 22.24069 DATA B 1. LEROY C = | ( C1 C2 ) + (C2 C3 ) | 2 = | (1546.67- 1552.32) + (1552.32- 1557.97) | 2 = 2.825 2. METWIN C = | ( C1 C2 ) + (C2 C3 ) | 2 = | (14582.46- 14582.46) + (14582.46- 14582.46) | 2 = 0 3. MecKenzie C = | ( C1 C2 ) + (C2 C3 ) | 2 = | (164608.7- 164600.8) + (164600.8- 164592.8) | 2 = 11.97188

DATA C 1. LEROY C = | ( C1 C2 ) + (C2 C3 ) | 2 = | (1537.22- 1586.4) + (1586.4- 1651.974) | 2 = 16.39344 2. METWIN C = | ( C1 C2 ) + (C2 C3 ) | 2 = | (14582.45625- 14630.45625) + (14630.4562514694.45625) | 2 = 16 3. MecKenzie C = | ( C1 C2 ) + (C2 C3 ) | 2 = | (164616.7244- 653619.2369) + (653619.23691305627.277)| 2 = 162998.5

4.1.3

Nilai Koefisien Dari Ketiga Persamaan Kecepatan Suara Dalam Laut

Persamaan Leroy

4.2

Pembahasan 4.2.1 Pengaruh Suhu Terhadap Nilai Kecepatan Suara Dalam Laut Proses merambatnya bunyi pada saat benda yg bergetar akan menggetarkan molekul zat perantara / medium di sekitarnya lalu molekul yg bergetar akan merambatkan ke molekul-molekul yg lainnya, dan begitu seterusnya sampai getaran itu terdengar di telinga kita. Molekul udara membentuk rapatan (R) dan renggangan (r). Pada laut, suara dirambatkan melalui medium air. Kecepatan rambat suara laut berbeda dengan kecepatan rambat udara ataupun darat. Bunyi merambat di udara dengan kecepatan 1.224 km/jam. Pada suhu udara 15 derajat celsius bunyi dapat merambat di udara bebas pada kecepatan 340 m/s. Bunyi merambat lebih lambat jika suhu dan tekanan udara lebih rendah. Di udara tipis dan dingin pada ketinggian lebih dari 11 km, kecepatan bunyi 1.000 km/jam. Di air, kecepatannya 5.400 km/jam, jauh lebih cepat daripada di udara. Dengan s panjang Gelombang bunyi dan t waktu. Jika dibandingkan dengan cepat rambat udara, di laut kecepatan rambatnya lebih cepat 4x lipat dibangingkan dengan cepat rambat di udara. Hal tersebut diakibatkan partikel air laut lebih rapat dibandingkan dengan di udara yang lebih renggang. Sedangkan di darat (zat padat) lebih cepat lagi cepat rambat di laut karena benda padat kerapatannya paling tinggi diantara medium yang lain. Suhu udara yang lebih panas atau lebih dingin mempengaruhi kecepatan bunyi di udara. Dibandingkan di Stasiun II dan Stasiun III dimana suhu konstan, suhu di Stasiun I semakin naik, maka kecepatan rambatnya makin besar pula. Pada prinsipnya semakin tinggi suhu suatu medium, maka semakin cepat rambat bunyi dalam medium tersebut. Dikarena makin tinggi suhu, maka semakin cepat getaran partikel-partikel

dalam medium tersebut. Akibatnya, proses perpindahan getaran makin cepat . 4.2.2 Pengaruh Salinitas Terhadap Nilai Kecepatan Suara Dalam Laut Cepat rambat bunyi terhadap salinitas seharusnya berkurang seiring kenaikan salinitas karena meningkatnya densitas. Akan tetapi kenaikan salinitas meningkatkan modulus axial (larutan menjadi kurang kompres), sehingga tiap kenaikan salinitas akan meningkatkan cepat rambat bunyi. Wujud berbanding lurusnya pengaruh salinitas terhadap cepat rambat dapat dilihat di Stasiun II, dimana salinitas berubah dari angka 30, 35, hingga 40, dan perubahan tersebut mempengaruhi cepat rambat bunyi yang semakin besar seiring kenaikan salinitas. 4.2.3 Pengaruh Tekanan Terhadap Nilai Kecepatan Suara Dalam Laut Pada tekanan, setiap penambahan kedalaman maka tekanan akan semakin tinggi. Semakin tinggi tekanan maka akan semakin tinggi cepat rambat bunyinya. Fenomena tersebut dapat dilihat di Stasiun III, dimana semakin dalamnya kedalaman permukaan dasar laut (1000 m, 4000 m, 8000 m) maka akan semakin besar nilai cepat rambat bunyinya. Hal tersebut karena partikel-partikel zat yang bertekanan tinggi terkompresi sehingga cepat rambat yang dihasilkan lebih besar. Pengaruh tekanan akan lebih besar dari suhu dan salinitas pada lapisan Deep Layer.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1

Kesimpulan Kecepatan suara dalam laut merupakan variable oseanografi yang dapat berpengaruh terhadap terjadinya penyimpangan dalam proses transmisi gelombang suara di dalam laut.Kecepatan suara di dalam laut bervariasi terhadap kedalaman, musim, lokasi geografis dan waktu. Suhu, salinitas dan tekanan mempengaruhi kecepatan rambat suara dalam air. Semakin tinggi suhu, salinitas dan tekanan maka cepat rambat bunyi akan semakin besar.

5.2

Saran Saran dalam praktikum ini adalah sebaiknya praktikan diberikan contoh soal dalam penggunaan rumus dan persamaan untuk kecepatan suara di laut.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Gelombang Bunyi. http://id.wikipedia.org/wiki/bunyi. Diakses tanggal 24/04/2013/pukul 20.00 WIB http://www.iderumahminimalis.com/2012/10/cara-mengukur-kedalaman-laut.html http://andrynugrohoatmarinescience.wordpress.com/2011/03/21/sifat-fisika-danfaktor-yang-mempengaruhi-suara-di-laut/ http://budisma.web.id/materi/sma/fisika-kelas-xii/kecepatan-bunyi/