Anda di halaman 1dari 6

Review 3 untuk Mata Kuliah Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Amerika Serikat

Nama : Carolina D.Rainintha Siahaan


NPM : 0706165551
Sumber : Walter Russel Mead,”Entente Infernale: How 300 Years of Anglo-French
Rivalry Shaped the World”,dalam Foreign Affairs vol.86 no.4,July/Agustus 2007, hal 147-
152.

Fenomena Rivalitas Protagonis antara Amerika Serikat, Inggris dan


Perancis
Artikel sumber merupakan review singkat terhadap buku berjudul That Sweet
Enemy : The French and the British from the Sun King to the Present, yang membahas
mengenai hubungan Inggris dan Perancis yang dideskripsikan sebagai hubungan “benci tapi
mesra” berdasarkan dimensi historis dan pengaruhnya terhadap dunia saat ini. Untuk
memperjelas alur penulisan, analisis akan secara sistematis berupaya menjelaskan dua isu
berikut : Pertama, kontribusi falsafah budaya Anglo-Franco terhadap sistem internasional
dewasa ini. Kedua, fenomena Anti Anglo-American (WASPophobia) yang mengkritisi
romantisme hubungan Inggris-Amerika Serikat (AS) serta dampaknya terhadap hubungan
AS-Eropa. Kritik penulis terhadap Walter Russel Mead akan bersifat konstruktif daripada
destruktif dan bertujuan untuk melengkapi celah-celah yang hilang dalam artikel,guna
mengkonstruksikan kembali karakter hubungan Amerika Serikat dan saudara lamanya di
Eropa. Meskipun singkat, Mead berhasil menceritakan bahwa persepsi publik terhadap
hubungan Inggris – Perancis dan Inggris-Amerika, serta Amerika Eropa tidak bisa
disimplifikasikan sebagai bentuk yang selalu konstan berseteru atau damai selalu. Terdapat
kerumitan tersendiri : dinamika dan fluktuasi kondisi menyebabkan ketiga aktor memiliki
diskresi untuk memainkan peran sebagai kawan dan lawan. Mead menghindari penyebutan
istilah seperti musuh dan malah merujuk pada hubungan antagonis – protagonis antara
ketiga aktor, mengingat saat-saat damai serta perseteruan dan perbedaan pendapat ketiga
negara . Pernyataan terakhir ini, adapun, akan menjadi basis dari analisa penulis.
Sebagian besar isi artikel menceritakan mengenai hubungan antagonis-protagonis
antara Inggris dan Perancis. Berawal dari abad ke 18, Inggris dan Perancis adalah major
powers di Eropa dan seluruh dunia, karena mereka berdua memiliki daerah jajahan
terbanyak di dunia. Perancis selalu menganggap Inggris sebagai saingan bagi dirinya.
Beberapa peristiwa penting yang mengakibatkan deteriorasi hubungan Inggris dan
Perancis : absensi peran Inggris dalam membantu tentara Perancis dalam melawan okupasi
Nazi dan kekalahan Napoleon Bonaparte dalam Pertempuran di Waterloo. Inggris

1
mengalami lebih banyak kemenangan melawan Perancis pada perang di masa lampau, dan
selalu memiliki rasa kebanggaan ketika membandingkan dirinya dengan Perancis.
Meskipun perseteruan dan prasangka selalu ada, kedua negara tidak pernah menyadari
bahwa dirinya mempengaruhi dan mempelajari satu sama lain. Tidak banyak orang yang
tahu bahwa Pusat mode dunia di Paris kini, adalah gagasan dari seorang berkebangsaan
Inggris yang bernama Charles Frederick , dan bagaimana Inggris sesungguhnya telah
menjadi destinasi studi komparatif oleh para cendekiawan Perancis seperti Etienne Gilson,
Francois-Rene de Chateubriand dan Henri Bergson yang juga oleh publik Inggris dinilai
sebagai orang yang berpengaruh bagi perkembangan ilmu pengetahuan di Inggris.
Perancis merasakan dilema terhadap keberadaan Inggris terutama setelah Inggris
menjalin hubungan yang semakin dekat dengan AS. Inggris selalu merujuk kepada AS
daripada Eropa dalam hampir setiap aspek dan mengembangkan aham Atlantisisme, karena
sejak awal Inggris merasa dirinya bukanlah bagian Eropa kontinental. Letaknya sebagai
pulau terpisah dari daratan Eropa membuatnya memiliki hak untuk bebas memilih sekutu
yang dia senangi1. Inggris memiliki jalinan kuat dengan AS, karena AS adalah bekas koloni
Inggris juga (meskipun beberapa negara bagian AS adalah bekas koloni Perancis). Selain
itu, kita harus memperhitungkan relasi segitiga antara Perancis dan Inggris (mewakili
Eropa) dan Amerika Serikat. Sentimen anti-Amerika berkembang luas di Perancis baik di
kalangan pemerintah, media dan publik, hingga mengakar menjadi WASPophobia, sebuah
phobia terhadap hegemoni dan pengaruh Anglo-Saxon2. Di Inggris hanya 9% populasi dari
sebuah survey menyatakan percaya kepada Perancis. Orang Perancis menganggap orang
Anglo Saxon sebagai orang yang sombong, arogan dan dingin 3. Kritik terbesarnya:
superioritas dan fenomena imperium Amerika Serikat muncul karena “sokongan” infiltrasi
nilai-nilai yang berasal Inggris sewaktu mereka berperang. Perancis tidak mau menerima
begitu saja, negara dengan latar belakang peradaban dan budaya yang kurang maju dari
dirinya, kini bisa seolah-oleh memimpin dan menciptakan tata dunia baru4. Namun, tidak

1 Geoffrey Edwards,Britain and Europe, dalam The New Europe: Politics, Government and Eocnomy Since
1945, Jonathan Story (ed),(Cambridge :Blackwell, 1993), hal 208

2 Michael Bermann, Anti-Americanism in Europe, diakses dari http://media.hoover.org/documents/Anti-


Americanism_in_Europe_Berman_1.pdf , pada 31 Oktober 2009, pukul 20:17 WIB

3 Robert McCrum, Observer Review: That Sweet Enemy by Robert and Isabelle Tombs.Diakses dari
http://www.guardian.co.uk/books/2006/mar/26/historybooks.features pada1 November 2009 pukul 18.01
WIB

4 Jonathan Story dan Guy de Carmoy,France and Europe dalam dalam The New Europe: Politics,
Government and Eocnomy Since 1945, Jonathan Story (ed),(Cambridge :Blackwell, 1993),hal 186-187

2
sedikit pula publik Perancis yang berhaluan WASPophilia, dan sangat mengagumi
kebudayaan Anglo-Saxon. Ini sekaligus menjadi peringatan bahwa bukan hanya konflik
yang mewarnai hubungan Anglo-Franco, namun juga kerjasama. Inggris dan Perancis
pernah menjadi sekutu dalam menghadapi Nasser dan Mesir ketika Nasser memutuskan
untuk menasionalisasi Teluk Suez. Alasan tersebut adalah apa yang melatarbelakangi
hubungan Perancis yang terkesan skeptis terhadap Inggris dan AS, namun terkadang juga
bisa menjadi rekan AS. Ini merupakan sebuah bukti yang membuka mata, karena selama ini
kita sering mengira bahwa hubungan AS dan Eropa merupakan simbiosis yang mutual,
namun friksi dalam organisasi hubungan bisa terjadi juga. Ini terdengar inkonsisten, namun
demikianlah kenyataan yang terjadi. Dalam konteks pertahanan strategis misalnya, Perancis
sangat skeptis terhadap peran AS di Eropa, khususnya dalam upayanya menjadikan Uni
Eropa mandiri dari organisasi pertahanan NATO5. Sedangkan Inggris berpendapat, bahwa
ada perlunya merujuk kepada NATO dan Amerika Serikat daripada mengintensifikasikan
kekuatan militer Eropa, karena kebanyakan persediaan logistik dan anggaran disediakan
oleh Amerika Serikat.
Menurut penulis, sangatlah beralasan bila Mead dan pasangan The Tombses
merujuk pada hubungan rivalitas yang protagonis antara Inggris dan Perancis, terutama
apabila melihat perkembangan zaman. Perang telah usai, dan kerja sama antara Inggris dan
Perancis sudah semakin tinggi, namun tidak dapat dipungkiri, sedikit banyak prasangka
pasti terdapat di antara kedua belah pihak. Sesungguhnya Eropa dan AS merupakan pasar
terbesar bagi kedua belah pihak.Interaksi pasar di antara keduanya terbilang imun terhadap
kondisi perpolitikan di dua kawasan. Di tahun 2000, pangsa pasar AS di Eropa berjumlah
22 % dan 19 % untuk sebaliknya 6. Ketika salah satu pihak mengalami defisit atau surplus,
pihak yang lain tidak akan memaksakan kehendaknya dan sebaliknya akan mengikuti alur
tren ekonomi yang ada. Sementara itu hampir 77% dari semua total bentuk penanaman
modal asing di Eropa, berasal dari AS. Ini artinya bahwa Eropa adalah 2/3 dari pasar AS 7.
Kendati dua kekuatan besar ini adalah partner dagang terbesar bagi masing-masing pihak,
namun keduanya masih belum bisa berkompromi menyoal perseteruan dagang mereka di
WTO mengenai makanan dengan rekayasa genetika.

5 David S.Yost,Transatlantic Relations and Peace in Europe, International Affairs (Royal Institute of
International Affairs) Vol. 78. No.2 (April 2002) hal.278278

6 Mathew Baldwin,et.al,Trade and Economic Relations dalam Europe,America and Bush:Transatlantic


Relations in the Twenty First Century, John Peterson dan Mark A.Pollack (eds), (London:Routledge, 2003)
hal.30

7 Ibid,hal 32.

3
Beranjak kepada tingkat analisis yang kedua dan anda akan tercengang ketika
mengetahui bahwa persilangan dan adaptasi dari budaya dan falsafah yang diemban Inggris
dan Perancis masih bermanifestasi cukup kuat di hampir seluruh dunia, meskipun Inggris-
Perancis kini hanya bisa berperan sebagai secondary power. Nilai-nilai ini bukan sekedar
bahasa, makanan dan seni, namun manifestasi pada bentuk yang lebih mengakar : falsafah
dan filosofi yang kini membentuk sistem ekonomi, geopolitik dan kebudayaan global.
Hanya saja falsafah dan budaya tersebut tidak lagi disampaikan atas nama Inggris dan
Perancis, melainkan oleh aktor lain. Keberadaan negara-negara Anglophone dan
Francophone hanyalah alasan minor mengenai persebaran budaya Inggris dan Perancis,
namun penulis berpendapat bahwa negara koloni maupun negara pemakai bahasa Inggris
dan Perancis, tidak cukup kuat untuk menjelaskan mengapa bukan hanya budaya Inggris
dan Perancis yang masih kental tersebar, namun mampu bertahan.
Munculnya kekuatan lain yang mampu mempertahankan, mengartikulasikan dan
mengagregasikan pengaruh-pengaruh tersebut, dengan cara yang lebih tegas dan proses
adaptasi yang lebih matang tentunya berakibat terhadap kemunduran Inggris dan Perancis
secara relatif. Bisa dikatakan model adopsi dan adaptasi falsafah budaya Inggris-Perancis
merupakan faktor penyokong supremasi aktor baru tersebut. Adalah Amerika Serikat (AS),
yang sejak masa Perang Dunia II mulai diperhitungkan sebagai aktor berpengaruh di
hemisphere Eropa Barat dan benua Amerika. Munculnya AS ke dalam major powers global
adalah hasil dari kemenangan AS dan sekutu (dalam hal ini Eropa) melawan fasisme
Jerman dan Jepang pada Perang Dunia ke II. Penulis lebih senang merujuk pada istilah
Anglo-Franco untuk merujuk pada hibridisasi nilai dan falsafah Inggris dan Perancis oleh
AS. Hegemoni AS, khususnya dalam konteks superioritas ide dan gagasan merupakan
filtrasi atas nilai-nilai terbaik dari budaya Anglo-Franco yang sesuai dengan identitas AS
sebagai negara. Hal demikian merupakan salah satu faktor determinan yang membuatnya
menjadi sebuah kekuatan hegemoni, khususnya di abad ke-20 dan awal abad ke-21.
Memang tidak salah bahwa banyak orang menganggap (take for granted) bahwa ide
mengenai demokrasi,kebebasan dan liberalisme datang dari Amerika Serikat. Padahal,
sistem ekonomi dengan kontrol pasar dan kapitalisme adalah buah pemikiran dari Inggris.
Contoh dari falsafah tersebut adalah konsep ekonomi liberal yang dicetuskan oleh Adam
Smith, seorang pemikir Inggris. Perang Kemerdekaan Amerika di abad ke-17, telah
memberikan pengaruh kepada warga sipil Perancis untuk menggulingkan kekuasaan
absolut Raja Louis XVI dan penciptaan rezim baru dengan garansi pemberian kedaulatan

4
pemerintahan kepada suara rakyat dan implementasi hak-hak dasar sipil8. Sebuah simbiosis
yang mutual, dimana konsep dan ide dilahirkan di Perancis dan sukses diterapkan di AS,
lalu dikembalikan lagi ke tempatnya berasal. Revolusi Perancis juga mengembangkan
konsep egalitarianisme yang menghapuskan adanya kaum-kaum feodal. Ini menjadi
inspirasi bagi Perang Kemerdekaan AS, terutama dengan bantuan armada dan pasukan
Perancis untuk melawan koloni Inggris. Sementara itu sistem pemerintahan dan politik AS,
banyak pula mendapat pengaruh dari Perancis, khususnya mengenai diskursus separation
of powers untuk menjamin terjadinya mekanisme check and balances dalam pemerintahan
demokratis sebenarnya dicetuskan oleh Montesquieu dari Perancis9. Sistem politik modern
AS menganut konsep separation of powers yang lahir di Perancis, dan konsep ini telah
berulang kali disebar luaskan, dipropagandakan, dan diproliferasikan kepada seluruh dunia,
dalam upaya penyebaran paham demokrasi. AS sesungguhnya sadar bahwa hampir semua
bentuk falsafah yang berusaha Ia sebarkan, bukanlah nilai originak yang berasal dari
dirinya. Ini sesuai dengan kutipan dari Alexander de Tocqueville “Orang Amerika tidak
memiliki aliran filsafat sendiri, dan kurang peduli terhadap semua aliran yang membuat
Eropa terbelah10”.
Dapat disimpulkan bahwa Penulis setuju terhadap penggambaran hubungan rivalitas
yang juga protagonis antara Inggris dan Perancis serta AS dan Perancis dan kedekatan
hubungan AS dan Inggris. Ini sekaligus menjadikan bahan rekomendasi bagi kita semua
dan cendekiawan, agar simplifikasi perujukan hubungan Anglo-Franco yang berlangsung
selama 300 tahun adalah bentuk dinamika – rotasi konflik dan damai. Selain itu, kita
mengetahui bahwa Nilai-nilai Amerika seperti liberalisme, demokrasi dan kapitalisme tidak
lahir dari proses pemikiran empirik dalam negeri, namun merupakan hasil transfer gagasan
dari benua Eropa, khususnya dua kekuatan besar Eropa yakni, Inggris dan Perancis yang
anehnya,lebih sering berseteru daripada bersatu. Ini adalah sebuah refleksi bahwa untuk
menjadi bangsa yang besar, AS tidak ragu-ragu belajar dan mengambil model-model
penentu keberhasilan dari para pendahulunya.Hubungan rivalitas yang protagonis antara
segitiga AS-Inggris dan Perancis adalah bukti bahwa dalam hubungan internasional, tidak
ada lawan dan kawan abadi. Semuanya disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan.

8 The French Contribution to American War of Independence, diakses dari


http://people.csail.mit.edu/sfelshin/saintonge/frhist.html pada 1 November 2009, 18.15 WIB.

9 John Stone dan Stephen Menell ,Alexander de Tocqueville : Tentang Revolusi, Demokrasi dan
Masyarakat, hal 98

10 Ibid.,hal 137

5
6