Anda di halaman 1dari 17

BAB IV PEMBAHASAN

Daerah pengamatan pada fieldtrip kali ini berada di sekitar kawasan Bayat. Fieldtrip ini, bertujuan untuk mengamati berbagai macam batuan beserta mineralnya, baik secara megaskopis maupun mikroskopis. Adapun stasiun pengamatan pada fieldtrip kali ini ada 4, adapun pembahasan per STA adalah sebagai berikut.

4.1. STA 1 STA ini berada di daerah Watu rau. Di daerah ini terdapat dua !

yang keduanya berjarak " #$% meter antara ! # dengan ! &. 4.#.#. ! # STA # ' ! # terletak di antara (. endul dan (. Semangu.

)rientasi medan dari daerah ini berdasarkan hasil pengeplotan dengan kompas geologi adalah sebesar * #+, o- terhadap (. endul dan * ..&o- terhadap (. Semangu. tepatnya pada STA # ! ada daerah Watu erahu # ini terdapat singkapan batugamping

Nemulites. Dikatakan batugamping nemulites dikarenakan pada batuan gamping ini terdapat /osil Numulites. )leh karena itu, batuan ini dapat dipastikan sebagai batuan sedimen karena pada batuan ini terdapat /osil Numulites, karena /osil hanya dapat terendapkan pada batuan sedimen. Singkapan batugamping yang berisi /osil Numulites ini berdimensi panjang 0 4,$ m dan lebar 0 & m. Di seberang lokasi singkapan batugamping ini juga terdapat singkapan batuan yang sama dengan dimensi yang lebih kecil yaitu 0 . m 1 & m. Batugamping ini dapat terbentuk karena kemungkinan adanya pengangkatan 2uplift) dari dasar laut. Uplift ini terjadi akibat

pertemuan antara Eurasian Plate 2lempeng benua -urasia3 dengan Indo-Australian Plate 2!empeng Samudera 4ndo5Australia3 yang menyebabkan terjadinya subduksi dan mengakibatkan dasar laut dimana kedua lempeng tersebut bertemu mengalami pengangkatan. Bukti yang dapat dilihat bahwa daerah ini dulunya merupakan dasar laut adalah dengan ditemukannya /osil foraminifera berjenis numulites, yang dimana organisme ini merupakan organisme yang hanya hidup di daerah laut. Sebelum terjadi pengangkatan, organisme numulites yang telah mati tersebut mengendap di dasar laut yang kemudian terubah menjadi /osil karena pengaruh tekanan dan perubahan suhu yang terjadi akibat proses subduksi tersebut. Setelah terjadi proses pem/osilan akibat pengaruh subduksi, dasar laut tersebut muncul ke permukaan dan menjadi suatu daratan seperti yang dapat dilihat pada saat ini, yang semua prosesnya terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama.

(ambar 4.#. Batugamping dengan /osil Numulites pada STA # ! #

engamatan 6ikroskopis ada thin section dari sampel batuan yang telah disayat, dapat diamati beberapa /osil Numulites dari golongan Foraminifera. 7enampakan dari /osil ini yaitu berbentuk seperti

kulit

kerang

dan

berwarna

abu5abu

gelap

jika

dilihat

menggunakan mikroskop polarisasi dengan nikol sejajar. engamatan 6egaskopis Batuan ini memiliki tekstur klastik, dengan unsurnya berupa /ragmen, semen dan matriks, karena batuan ini tersusun atas klastika5klastika yang terjadi karena proses pengendapan secara mekanis dan juga mineral penyusun batuan ini berasal dari batuan asal yang mengalami transportasi dan kemudian terendapkan pada lingkungan sedimen. 7omposisi penyusun batuan ini adalah /osil Numulites sebagai /ragmen, material karbonat berukuran pasir sebagai matrik dan semen berupa material karbonatan. 6aterial karbonat diketahui pada batuan merata. ini Adapun timbulnya berwarna material abu5abu karbonatan gas dan ini dan penyebarannya

dikarenakan

gelembung

mengeluarkan suara mendesis setelah ditetesi 89l %,# 6. :ika ditinjau secara megaskopis, kita bisa melihat bahwa warna dasar dari batuan ini adalah abu 5 abu, dengan strukturnya yang berupa masi/ atau pejal. Teksturnya adalah klastik yaitu tersusun atas /ragmen, matrik dan semen. ;ragmen dari batuan ini berupa /osil Numulites, sedangkan matrik batuan ini adalah batupasir halus dengan semennya berupa material karbonatan. <kuran butirnya adalah pasir halus yang berukuran #',mm5#'4mm. Berdasarkan tingkat sortasinya batuan ini tergolong batuan sedimen dengan sortasi baik atau well sorted, karena besar butirannya merata atau sama besar di segala tempat, kemasnya adalah tertutup dimana antar butiran batuan saling bersentuhan satu sama lain.

4.#.&. ! & STA # ' ! & ini juga terletak didaerah Watu erahu, daerah lokasi ini berjarak sekitar #$% m dari ! # ke arah barat. Di lokasi pengamatan ini dapat dilihat adanya singkapan batuan metamor/ /oliasi dengan dimensi " $ 1 . m. Batuan metamor/ ini merupakan batuan metamor/ /oliasi ,dikarenakan terlihatnya struktur parallel yang disebabkan oleh adanya penjajaran mineral = mineral penyusun batuan tersebut, yaitu mineral mika, kuarsa, dan mineral karbonatan. Batuan metamor/ dapat terbentuk pada daerah yang merupakan >ona subduksi, dan daerah patahan. Adanya tekanan dan perubahan suhu akibat adanya subduksi maupun karena terjadinya suatu struktur geologi, akan menyebabkan batuan5 batuan yang sudah ada pada daerah tersebut mengalami proses metamor/ik. Adapun lokasi pengamatan di STA # ! & ini termasuk >ona subduksi akibat pertemuan antara Eurasian Plate 2lempeng benua -urasia3 dengan Indo-Australian Plate 2!empeng Samudera 4ndo5Australia3, sehingga terjadi perubahan tekanan dan suhu yang menyebabkan terbentuknya batuan metamor/.

(ambar 4.&. Batuan metamor/ /oliasi schistosic pada STA # ! &

engamatan mikroskopis ada thin section dari sampel batuan yang telah disayat,

dapat diamati beberapa mineral yang merupakan penyusun batuannya. Adapun mineral yang dapat terlihat antara lain ? 7uarsa ada pengamatan menggunakan mikroskop dengan ortoskop nikol sejajar, mineral ini memiliki warna dasar colorless yaitu putih yang mengindikasikan bahwa si/at kimia mineral ini adalah asam atau termasuk jenis mineral felsic. Bidang batas mineral kurang jelas, sehingga cenderung memiliki relie/ yang rendah. 7etika meja objek dinaikkan, garis Becke tampak mengarah ke dalam sehingga dapat diketahui bahwa relie/nya positi/, jadi relie/ pada mineral ini adalah positi/ rendah. 6ineral ini memiliki bentuk granular, yaitu memiliki bentuk membulat dan bidang batas antar mineral termasuk anhedral yang berarti mineral tersebut tidak dibatasi oleh bidang kristalnya sendiri secara keseluruhan, dan tersebut. tidak terdapat adanya belahan, pecahan maupun pleokroisme pada mineral engamatan selanjutnya menggunakan ortoskop ada posisi terang maksimum saat ternyata warnanya berubah nikol bersilang. Warna inter/erensinya adalah abu5abu orde 4 sampai pink orde 44. kompensator dimasukkan,

menjadi lebih lkuat. 8al tersebut menandakan terjadi adisi atau penambahab orde inter/erensi, dimana orde warna inter/erensi bertambah menjadi lebih tinggi setelah dilakukan pengamatan dengan kompensator kemudian dibandingkan dengan tabel inter/erensi warna 2 Michel Le ! "hart 3. 6ineral ini memiliki gelapan bergelombang yang dapat terjadi pada mineral yang mengalami distorsi atau tegangan sehingga orientasi sebagian sisi kristal mengalami perubahan

berangsur5angsur, dan kedudukan gelapan masing5masing berbeda. Berdasarkan uraian di atas, dengan adanya warna yang colorless, gelapannya yang bergelombang, tidak memiliki belahan dan pecahan dan relie/ positi/ rendah, maka dapat disimpulkan bahwa mineral tersebut adalah kuarsa. 7uarsa merupakan mineral yang terdapat dalam batuan beku felsic, misalnya batuan granit, batupasir, kuarsit, dan sebagainya. Berdasarkan literatur yang ada, mineral ini memiliki sistem kristal he1agonal dan merupakan mineral anisotropik sumbu satu. lagioklas ada pengamatan dengan mikroskop nikol sejajar didapatkan bahwa warna dasar dari mineral tersebut yaitu colorless yaitu warna yang mengindikasikan memiliki si/at kimia asam atau merupakan mineral adalah prismatik, felsic. Bentuk dari mineral tersebut yang berarti memiliki bentuk yang

menyudut, dengan bidang batas subhedral, yang berarti mineral tersebut dibatasi oleh hanya sebagian bidang mineralnya sendiri. 6ineral ini memiliki pecahan yang tidak teratur 2une@en3 yakni pecahannya tidak memiliki pola. Bidang batas mineral tidak terlalu jelas, sehingga cenderung memiliki relie/ yang rendah. 7etika meja objek dinaikkan, garis Becke tampak mengarah ke dalam sehingga diketahui bahwa relie/nya positi/. 6ineral ini memiliki belahan yang satu arah dan tidak memiliki pleokroisme karena apabila meja objek diputar, mineral tidak menampakkan perubahan warna. engamatan selanjutnya menggunakan cara nikol bersilang dimana adalah kompensator pada tubus di/ungsikan. Warna inter/erensi yang didapat setelah digunakan nikol bersilang utih 2 orde # 3 menuju kuning 2 orde # 3. Setelah

diamati kedudukan gelapan pada mineral, jenis gelapannya adalah gelapan miring dengan sudut 4Ao. 6ineral ini memiliki kembaran karlsbat 5 albit. Tanda rentang optik dari mineral ini adalah positi/. 8al ini dapat diketahui dari warna setelah dilakukan pengamatan dengan utih 2 orde # kompensator 2 3 menuju kuning 2 orde # 3. 6ineral ini dapat dikatakan adisi kemudian dibandingkan dengan tabel inter/erensi warna

Michel Le ! "hart 3. Berdasarkan deskripsi warna,bentuk, relie/nya yang positi/, terdapat belahan # arah dan pecahan, serta memiliki warna inter/erensi utih menuju kuning,maka dapat disimpulkan bahwa mineral ini adalah Plagioklas.

ada pengamatan mikroskopis, tidak ditemukan adanya mineral mika dan karbonatan. 8al ini kemungkinan besar dikarenakan pada thin section dari batuan sampel, mineral mika dan karbonatan tersebut tidak ikut tersayat, sehingga mineral tersebut tidak dapat diamati secara mikroskopis. engamatan megaskopis Warna dasar dari batuan ini adalah hitam keabu 5 abuan. Warna gelap tersebut menunjukkan bahwa mineral ini terbentuk oleh magma yang bersi/at basa. Struktur batuannya adalah foliasi schistosic, karena pada batuan terlihat adanya susunan paralel mineral = mineral yang berlembar, pada umumnya berupa mineral = mineral mika. Batuan ini memiliki tekstur kristaloblastik, karena tekstur asal dari batuan ini sudah tidak tampak akibat dari proses rekristalisasi. Berdasarkan ukuran butirnya, batuan ini memiliki tekstur /anerit, karena butiran = butiran kristalnya masih dapat dilihat dengan mata telanjang. Berdasarkan bentuk indi@idu kristalnya, batuan ini termasuk dalam tekstur subhedral

idioblastik, karena sebagian bidang kristalnya dibatasi oleh bidang kristal itu sendiri, dan sebagian lagi dibatasi oleh bidang kristal dari kristal yang lain. 7emudian, berdasarkan bentuk mineralnya, teksturnya termasuk granoblastik karena mineralnya berbentuk granular, eBuidimensional, dan batas mineralnya tidak jelas 2 sutured 3. 7omposisi mineral penyusun batuan ini adalah kuarsa dan musko@it. 6ineral kuarsa dapat diidenti/ikasi dengan melihat warnanya yang putih, cerat putih serta memiliki kekerasan + dalam skala mohs. 7elimpahannya dalam batuan metamor/ ini sangat sedikit, sekitar &%C. Selain kuarsa, terdapat juga mineral musko@it yang berwarna gelap, dengan kilap lemak, bentuk subhedral. Batuan ini termasuk metamor/ /oliasi. enamaan batuan ini

bisa ditentukan berdasarkan komposisi strukturnya. Dengan strukturnya yang /oliasi schistosic, maka batuan ini dapat dinamakan sekis. 4.2. STA 2 Stop site ini terletak di daerah (unung 7onang, dengan jarak 0 # km dari STA #. <ntuk mencapai lokasi ini, kita harus menaiki lereng yang cukup terjal sejauh " #%% m yang terletak diselatan (unung 7onang. Di stasiun pengamatan ini terdapat singkapan dari batuan metamor/ yang rekahan = rekahannya terisi oleh kuarsa, yang kemudian membentuk urat kuarsa. Dalam #owen$s %eaction &eries, kuarsa terbentuk dititik pembekuan yang paling rendah, sehingga kemungkinan urat 5 urat kuarsa ini terbentuk setelah terbentuknya batuan metamor/ tersebut. Setelah batuan metamor/ tersebut terbentuk, mineral5mineral kuarsa yang baru terbentuk akan mengisi rekahan = rekahan yang terdapat pada batuan metamor/ tersebut.

ada saat obser@asi, urat = urat kuarsa yang ada telah mengalami pergeseran, yang kemungkinan bisa disebabkan oleh akti@itas penduduk sekitar yang menggunakan lahan tersebut sebagai jalan setapak dan perkebunan, akibat dari pergerakan bumi, atau akibat dari pelapukan yang terjadi di batuan metamor/ dimana rekahan = rekahan tersebut berada. Saat obser@asi, batuan metamor/ yang ada kondisinya cukup rapuh, yang kemungkinan disebabkan pelapukan, sehingga posisi rekahan = rekahan yang terisi mineral kuarsa pada batuan tersebut akan ikut bergeser.

(ambar 4... Batuan metamor/ pada STA &

(ambar 4.4. <rat kuarsa pada STA &

engamatan 6ikroskopis ada thin section dari sampel batuan kuarsa yang telah disayat, dapat diamati mineral yang merupakan penyusun batuannya, yaitu ?

7uarsa ada pengamatan menggunakan mikroskop dengan ortoskop nikol sejajar, mineral ini memiliki warna dasar colorless yang mengindikasikan bahwa si/at kimia mineral ini adalah asam atau termasuk jenis mineral felsic. 6ineral ini memiliki bentuk prismatik, yang bererti memiliki bentuk

menyudut, anhedral yang berarti mineral tersebut tidak dibatasi oleh bidang kristalnya sendiri secara keseluruhan dan tidak terdapat adanya belahan, pecahan maupun pleokroisme pada mineral tersebut. Bidang batas mineral kurang jelas, sehingga cenderung memiliki relie/ yang rendah. 7etika meja objek dinaikkan, garis Becke tampak mengarah ke dalam sehingga dapat diketahui bahwa relie/nya positi/, jadi relie/ pada mineral ini adalah positi/ rendah. engamatan selanjutnya ada posisi tersebut menggunakan ortoskop nikol bersilang. Warna inter/erensinya adalah abu5abu orde 4 sampai orange orde 44. warnanya berubah menjadi lebih kuat. 8al terang maksimum saat kompensator dimasukkan, ternyata menandakan terjadi adisi atau penambahan orde inter/erensi, dimana orde warna inter/erensi bertambah menjadi lebih rendah setelah dilakukan pengamatan dengan kompensator kemudian dibandingkan dengan tabel inter/erensi warna 2Michel Le ! "hart3. 6ineral ini memiliki gelapan bergelombang yang dapat terjadi pada mineral yang mengalami distorsi atau tegangan sehingga orientasi sebagian sisi kristal mengalami perubahan berangsur5angsur, dan kedudukan gelapan masing5 masing berbeda. Berdasarkan uraian di atas, dengan adanya warna yang colorless, gelapan bergelombang, tidak memiliki belahan dan pecahan dan relie/ positi/ tinggi, maka dapat disimpulkan bahwa mineral tersebut adalah kuarsa. engamatan 6egaskopis Warna dasar dari batuan sampel dari urat kuarsa ini adalah putih kecoklatan. Warna cerah tersebut menunjukkan bahwa mineral ini terbentuk oleh magma yang bersi/at asam. Struktur batuannya adalah non foliasi hornfelsic, dikarenakan lapisan pada batuan metamor/ ini tidak jelas, tapi terlihat adanya

mo>aik butiran = butiran mineral yang berukuran seragam 2eBuidimensional3. Batuan ini memiliki tekstur kristaloblastik, karena tekstur asal dari batuan ini sudah tidak tampak akibat dari proses rekristalisasi. Berdasarkan ukuran butirnya, batuan ini memiliki tekstur a/anitik, karena butiran = butiran kristalnya tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Berdasarkan bentuk indi@idu kristalnya, batuan ini termasuk dalam tekstur anhedral, karena kristalnya dibatasi seluruhnya oleh bidang permukaan lain di sekitarnya, dan 1enoblastik karena mineralnya dibatasi oleh kristal berbentuk anhedral. 7emudian, berdasarkan bentuk mineralnya, teksturnya termasuk granoblastik karena mineralnya berbentuk granular, eBuidimensional, dan batas mineralnya tidak jelas 2 sutured 3. Batuan ini memiliki komposisi mineral kuarsa,dengan tingkat penyebaran dari kuarsa pada batuan ini mencapai #%% C, sehingga bisa dikatakan bahwa batuan ini monomineralik. Berdasarkan klasi/ikasi W.T 8uang 2#AD&3 dengan melihat struktur, tekstur, dan komposisi mineralnya, yang #%% C kuarsa, dapat diperoleh nama batuan ini adalah quartzite. 4.3. STA 3 !okasi pengamatan stop site ketiga terdapat di daerah pagar jurang, dengan jarak " +%% meter ke arah timur laut dari tempat pemberhentian bus di tepi jalan raya ager :urang. Di stasiun pengamatan ini dapt ditemukan singkapan batuan metamor/ dengan ukuran yang cukup besar dengan lebar sekitar 0 . meter. Batuan asal dari batuan metamor/ ini adalah batuan beku dengan mineral penyusun berupa oli@ine dan piroksen, dimana batuan beku tersebut adalah batuan beku yang bersi/at ultra mafic. 7arena terjadi proses metamor/ik, maka mineral penyusun batuan tersebut

juga ikut terubah menjadi mineral serpentine. Batuan metamor/ pada STA ini kemungkinan terbentuk akibat pertemuan antara Eurasian Plate 2lempeng benua -urasia3 dengan Indo-Australian Plate 2!empeng Samudera 4ndo5Australia3 yang menyebabkan daerah ini menjadi >ona subduksi , sehingga terjadi perubahan tekanan dan suhu yang menyebabkan terbentuknya batuan metamor/. Akibat dari subduksi tersebut, mengakibatkan terjadi uplift sehingga dasar laut muncul ke permukaan dan menjadi suatu daratan seperti yang dapat dilihat sekarang. 7arena batuan metamor/ ini didominasi oleh mineral serpentin, maka batuan ini termasuk dalam batuan metamor/ serpentinit.

(ambar 4.$. Batuan 6etamor/ Serpentinit

engamatan 6ikroskopis ada thin section dari sampel batuan metamor/ serpentinit yang telah disayat, dapat diamati mineral yang merupakan penyusun batuannya, yaitu ?

Serpentine

ada pengamatan dengan mikroskop nikol sejajar didapatkan bahwa warna dasar dari mineral tersebut yaitu gelap kecoklatan yaitu warna yang mengindikasikan memiliki si/at kimia basa atau merupakan mineral mafic. Bentuk dari mineral tersebut adalah fi'rous, yang berarti memiliki bentuk terlihat seperti serat. 6ineral ini memiliki pecahan yang tidak teratur 2une@en3 yakni pecahannya tidak memiliki pola. 6ineral ini tidak memiliki belahan dan pleokroisme karena apabila meja objek diputar, mineral tidak menampakkan perubahan warna. Bidang batas mineral tidak terlalu jelas, sehingga cenderung memiliki relie/ yang rendah. 7etika meja objek dinaikkan, garis Becke tampak mengarah ke luar sehingga diketahui bahwa relie/nya negati/. engamatan selanjutnya menggunakan cara nikol bersilang dimana kompensator pada tubus di/ungsikan. Warna inter/erensi yang didapat setelah digunakan nikol bersilang adalah hijau orde 44 sampai abu5abu orde 4. Setelah diamati kedudukan gelapan pada mineral, jenis gelapannya adalah gelapan miring dengan sudut $%o. Tanda rentang optik dari mineral ini adalah negati/. 8al ini dapat diketahui dari warna inter/erensinya dari hijau orde 44 sampai abu5abu orde 4. 6ineral ini dapat dikatakan substraksisetelah dilakukan pengamatan dengan kompensator kemudian dibandingkan dengan tabel inter/erensi warna 2 Michel Le ! "hart 3. Berdasarkan deskripsi warna,bentuk fi'rous, relie/nya yang rendah dan negati/, tidak terdapat belahan dan pecahan une en, serta memiliki warna inter/erensi hijau orde 44 sampai abu5abu orde 4,maka dapat disimpulkan bahwa mineral ini adalah Serpe ti e. engamatan 6egaskopis Warna dasar dari batuan sampel dari batuan serpentinit ini adalah kehijauan. Warna tersebut menunjukkan bahwa mineral

dalam batuan ini bersi/at ultra basa. Struktur batuannya adalah /oliasi schistosic, karena terlihat kenampakan struktur planar pada suatu masa batuan, yang terbentuk karena adanya susunan parallel mineral5mineral pipih, prismatic atau lentikular 2umumnya mika atau klorit3 yang berukuran butir sedang sampai kasar. Batuan ini memiliki tekstur kristaloblastik, karena tekstur asal dari batuan ini sudah tidak tampak akibat dari proses rekristalisasi. Berdasarkan ukuran butirnya, batuan ini memiliki tekstur /aneritik, karena butiran = butiran kristalnya masih dapat dilihat dengan mata telanjang. Berdasarkan bentuk indi@idu kristalnya, batuan ini termasuk dalam tekstur anhedral, karena kristalnya dibatasi seluruhnya oleh bidang permukaan lain di sekitarnya, dan 1enoblastik karena mineralnya dibatasi oleh kristal berbentuk anhedral. 7emudian, berdasarkan bentuk mineralnya, teksturnya termasuk granoblastik karena mineralnya berbentuk granular, eBuidimensional, dan batas mineralnya tidak jelas 2 sutured 3. Batuan ini memiliki komposisi mineral yang didominasi oleh serpentine, dengan warna hijau, kilapnya lemak, penyebaran dalam tubuh batuan merata, dan kelimpahannya sekitar A%C. 7arena batuan ini didominasi oleh mineral serpentin, maka batuan ini termasuk dalam batuan metamor/ Serpe ti it. 4.4. STA 4 Stasiun pengamatan selanjutnya terdapat di daerah (unung 7ampak, yang merupakan stasiun pengamatan ke = 4 sekaligus merupakan stasiun pengamatan terakhir dari rangkaian acara fieldtrip praktikum mata kuliah 6ineralogi kali ini. !okasi ini berjarak sekitar . km ke arah utara dari STA .. ada lokasi ini, dapat dilihat adanya singkapan batuan yang litologinya didominasi oleh batugamping, dengan struktur yang berlapis 5 lapis, warna

putih kekuningan, masi/, dan dengan tebal lapisan sekitar .% = 4% cm. D4lihat dari batuannya yang bersi/at masi/, maka batugamping pada STA ini kemungkinan besar berasosiasi dengan kompleks terumbu karang 2 reef 3 yang sebelumnya terdapat di dasar laut. enyebabnya kemungkinan hampir sama dengan STA = STA sebelumnya, dimana batugamping ini dapat terbentuk karena adanya pengangkatan 2uplift) dari dasar laut. Uplift ini terjadi akibat pertemuan antara Eurasian Plate 2lempeng benua -urasia3 dengan Indo-Australian Plate 2!empeng Samudera 4ndo5Australia3 yang menyebabkan terjadinya subduksi dan mengakibatkan dasar laut dimana kedua lempeng tersebut bertemu mengalami pengangkatan.

(ambar 4.D 9ontoh batugamping pada STA 4

(ambar 4.+ Daerah pada STA 4 yang litologinya didominasi oleh batugamping

engamatan 6ikroskopis ada thin section dari sampel batugamping yang telah disayat, dapat diamati mineral yang merupakan penyusun batuannya, yaitu ?

7alsit

ada

pengamatan

dengan

mikroskop

nikol

sejajar

didapatkan bahwa warna dasar dari mineral tersebut yaitu colorless. Bentuk dari mineral tersebut adalah prismatik, yang berarti memiliki bentuk yang menyudut, dan anhedral yang berarti mineral tersebut tidak dibatasi oleh bidang kristalnya sendiri secara keseluruhan. 6ineral ini memiliki pecahan yang tidak teratur 2une@en3 yakni pecahannya tidak memiliki pola. 6ineral ini memiliki belahan . arah, yang pada pengamatan mikroskopik hanya dapat dilihat & arah, tidak terdapat pleokroisme karena apabila meja objek diputar, mineral tidak menampakkan perubahan warna. Bidang batas mineral agak jelas, sehingga cenderung memiliki relie/ yang sedang. 7etika meja objek dinaikkan, garis Becke tampak mengarah ke luar sehingga diketahui bahwa relie/nya negati/. selanjutnya menggunakan cara nikol engamatan dimana bersilang

kompensator pada tubus di/ungsikan. Warna inter/erensi yang didapat setelah digunakan nikol bersilang adalah kuning orde 44 sampai pink orde 4E. Setelah diamati kedudukan gelapan pada mineral, jenis gelapannya adalah gelapan miring dengan sudut 4%o. Tanda rentang optik dari mineral ini adalah positi/. 8al ini dapat diketahui dari warna inter/erensinya dari kuning orde 44 sampai pink orde 4E. 6ineral ini dapat dikatakan adisi setelah dilakukan pengamatan dengan kompensator kemudian dibandingkan dengan tabel inter/erensi warna 2 Michel Le ! "hart 3. Dari si/at5si/at optik yang telah diketahui melalui pengamatan mikroskopik dengan nikol sejajar dan nikol bersilang, maka dapat kita ketahui bahwa mineral ini memiliki si/at yang khas, yaitu memiliki belahan tiga arah, sehingga mineral ini adalah mineral kalsit.

engamatan 6egaskopis Warna dasar dari batuan sampel dari batugamping ini adalah putih kecoklatan. Struktur batuannya adalah masi/, dan termasuk batuan sedimen non klastik karena tersusun atas 7ristalin karbonat yang terjadi karena proses pengendapan yang mengkristal kembali menjadi mikrokristalin. 6aterial karbonat pada batuan ini berupa kalsit berwarna putih kecoklatan, kekerasan . dalam skala 6)8S dan penyebarannya yang merata. Berdasarkan strukturnya yang masi/, dan teksturnya berupa klastik kristalin karbonat, maka batuan ini berasal dari hasil presipitasi kimiawi karena proses pelapukan dan proses rekristalisasi dari materal gamping lainnya. Berdasarkan ciri 5 ciri tersebut maka batuan ini dapat

dinamakan batugamping !ristali !ar"o at.