Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA KI-2241 PERCOBAAN D1 DAN D-2 SIFAT-SIFAT KOLIGATIF

Disusun oleh:

Mayang Berliana Septiani 10512013


Kelompok 1

AssistenPraktikum: Aptika O.T.D (20513074) Tika Pebriani (10510052) : Kamis, 20 Maret 2014

Tanggal percobaan

Tanggal pengumpulan : Kamis, 27 Maret 2014

LABORATORIUM KIMIA FISIKA PROGRAM STUDI KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2014

PERCOBAAN D-1 DAN D-2 SIFAT-SIFAT KOLIGATIF

I. -

Tujuan Percobaan Menentukan keaktifan pelarut dan zat terlarut dengan menggunakan data penurunan titik beku Menentukan berat molekul zat terlarut dengan menggunakan data kenaikan titik didih

II.

Teori Dasar Secara termodinamika, pembekuan dan penguapan merupakan kesetimbangan antara dua fasa seperti padat dengan cair atau cair dengan gas, yang tercapai hanya jika terjadi kesamaan potensial kimia dikedua fasa tersebut. Untuk pembekuan 1 = s Untuk penguapan 1 = v Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak tergantung pada macamnya zat terlarut tetapi semata-mata hanya ditentukan oleh banyaknya zat terlarut (konsentrasi zat terlarut). Ada 4 sifat koligatif larutan, antara lain : 1. Penurunan tekanan uap jenuh 2. Kenaikan titik didih 3. Penurunan titik beku 4. Tekanan osmosis Jumlah partikel dalam larutan non elektrolit tidak sama dengan jumlah partikel dalam larutan elektrolit, walaupun konsentrasi keduanya sama. Hal ini disebabkan larutan elektrolit bisa terurai menjadi ion-ionnya, sedangkan larutan non elektrolit tidak. Oleh karena itu ini sangat memengaruhi pada perhitungan. Sebagai fakor koreksi dari perhitungan disertakan faktor van Hoff.

III.

Data Pengamatan

Penurunan titik beku Massa Benzena = 35,55 gram Massa Naftalena-1 = 0,2 gram Massa Naftalena-2 = 0,4 gram

T Benzena (C) 2,04 Kenaikan titik didih Massa Sikloheksana = 33,00 gram Massa Naftalena-1 = 0,21 gram Massa Naftalena-2 = 0,45 gram T Sikloheksa (C) 4,17

T Benzena + Naftalena-1 (C) 2,25

T Benzena + Naftalena-2 (C) 2,78

T Sikloheksana + Naftalena-1 (C) 4,20

T Sikloheksana + Naftalena-2 (C) 4,27

IV.

Pengolahan Data

Penurunan titik beku Nilai Tf Tf1 = (T Benzena + Naftalena-1) (T Benzena) = 2,25C 2,04C = 0,21C Tf2 = (T Benzena + Naftalena-2) (T Benzena) = 2,78C - 2,04C = 0,74C

Keaktifan Pelarut (ap) ln ap1 = - 6.68 x 10-3 (Tf1 ) 2.6 x 10-5 (Tf1 )2

= - 6.68 x 10-3 (0,21 ) 2.6 x 10-5 (0,21 )2 ap1 ln ap2 = 0,9967 = - 6.68 x 10-3 (Tf2 ) 2.6 x 10-5 (Tf2 )2 = - 6.68 x 10-3 (0,74 ) 2.6 x 10-5 (0,74 )2 ap2 ap = = 0,9886 = = 0,99265

Kemolalan Naftalen (m)

Koefisien Osmosis 0,9638

Koefisien Keaktifan
)

, didapatkan dari luas trapesium dibawah kurva

terhadap m.

-7,2153

m 0.0439 0.0879

(1-g) / m -7,2153 -3,6035

Kurva Integral
0 -1 -2 (1-g) / m -3 -4 -5 -6 -7 -8 0.0439, -7.2153 m 0.0879, -3.6035 Series1 0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1

Luas dibawah kurva =


( )

=
( )

) = 0,2380

= ( 1 1,31675 ) + 0,2380 = -0,07875

Keaktifan Zat Terlarut at =

at = 0,8342 at = 0,0549

Kenaikan titik didih Nilai Tb Tb1 = (T Sikloheksana + Naftalena-1) (T Sikloheksana) = 4,20C 4,13C = 0,07C Tb2 = (T Sikloheksana + Naftalena-2) (T Sikloheksana) = 4,27C 4,13C = 0,14C Mr Naftalena Tb
( )

g/mol

g/mol

V.

Pembahasan

Pada umumnya terdapat dua macam pelarut, yaitu pelarut polar dan pelarut nonpolar. Pelarut polar melarutkan senyawa polar lebih baik daripada senyawa nonpolar, sebaliknya pelarut nonpolar melarutkan senyawa nonpolar lebih baik daripada senyawa polar. Contoh pelarut polar adalah air, sedangkan contoh pelarut nonpolar adalah CCl4 dan heksana. Biasanya, pelarut polar lebih mendukung terjadinya ionisasi zat terlarut karena kepolarannya akan menstabilkan ion-ion hasil ionisasi. Derajat ionisasi zat terlarut akan lebih tinggi pada pelarut polar daripada pelarut nonpolar. Faktor Vant Hoff adalah faktor pengali untuk menghitung sifat koligatif larutan elektrolit. Pada larutan elektrolit, zat terlarut pada umumnya mengalami ionisasi sehingga konsentrasi zat terlarut bertambah. Semakin besar nilai derajat ionisasi, , semakin besar nilai faktor Vant Hoff, semakin besar pula sifat koligatif larutannya. Nilai faktor Vant Hoff, i, mengikuti persamaan i = 1+(n-1) dengan n menyatakan jumlah ion yang terbentuk dari satu molekul zat terlarut. Pada percobaan kali ini, pengadukan bertujuan agar zat terlarut tidak mengendap. Jika zat terlarut mengendap, kemolalannya akan berubah dan sulit ditentukan sehingga akan menyulitkan perhitungan dan mengurangi validitas data yang diperoleh. Pengadukan juga tidak boleh dilakukan terlalu kencang dan kuat karena dikhawatirkan akan menimbulkan kalor dari lingkungan sehingga menyebabkan suhu yang terbaca pada thermometer naik turun Suatu pelarut memiliki titik beku dimana pelarut tersebut akan membeku pada suhu tersebut. Jika pada pelarut tersebut dilarutkan zat terlarut, zat ini tidak akan bercampur dengan padatan pelarut ketika pelarut membeku. Karena zat terlarut tidak ikut bercampur dalam padatan pelarut, zat terlarut ini menghalangi pelarut untuk membeku, sehingga dibutuhkan suhu lebih rendah untuk membekukan pelarut. Penurunan titik beku berbanding lurus dengan kemolalan zat terlarut sehingga penambahan zat terlarut akan berimplikasi pada naiknya penurunan titik beku larutan. Jika kita perhatikan, titik didih pelarut murni dengan titik didih suatu larutan nilainya akan berbeda. Sama halnya dengan penurunan titik beku, kenaikan titik didih berkaitan dengan adanya zat terlarut dalam pelarut. Kehadiran zat terlarut ini akan mengurangi fraksi mol pelarut yang berakibat pada berkurangnya tekanan uap pelarut dibandingkan tekanan uap pelarut murni pada suhu yang sama. Berkurangnya tekanan uap ini akan berakibat pada kenaikan titik didih karena titik didih adalah suhu dimana tekanan uap sama dengan tekanan udara luar. Ketika tekanan uap turun, dibutuhkan suhu yang lebih tinggi untuk mencapai

tekanan yang sama dengan tekanan udara luar. Seperti halnya penurunan titik beku, kenaikan titik didih juga semakin besar jika ditambahkan zat pelarut. Perubahan titik didih ini dapat digunakan untuk menentukan Mr zat terlarut. Caranya seperti ditunjukkan dalam bagian pengolahan data. Dari hasil perhitungan, didapatkan Mr naftalen sebesar 275,47 g/mol. Perhitungan juga dilakukan untuk menentukan koefisien keaktifan larutan. Persamaan
Tf = Kf.m hanya berlaku pada larutan encer dengan koefisien keaktifan = 1 sehingga nilai

aktivitas = molalitas. Dari perhitungan didapatkan bahwa koefisien keaktifan = 0,0549. Keaktifan dapat dianggap sebagai fraksi mol efektif. Keaktifan digunakan untuk menghitung sifat-sifat yang menyimpang dari sifat-sifat larutan ideal. Keaktifan dapat dinyatakan dalam koefisien keaktifan, , dengan persamaan a = .c dimana c adalah konsentrasi larutan dan dapat dinyatakan dalam fraksi mol, molalitas, dan molaritas. Untuk cairan dan padatan, maka nilai aktifitas = 1. Untuk pelarut, nilai keaktifan berdasarkan hukum Raoult sedangkan untuk zat terlarut berdasarkan hukum Henry dan nilai koefisien keakifan untuk pelarut dan zat terlarut mendekati 1 untuk larutan encer. Sifat koligatif diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari. Penjual es krim menggunakan larutan garam untuk menjaga suhu es krim mereka. Radiator mobil ditambahkan zat terlarut untuk menurunkan titik bekunya sehingga tidak membeku pada musim dingin. Mesin pembersih salju, juga menggunakan garam untuk menurunkan titik bekunya sehingga mencair sehingga salju di jalanan lebih mudah dibersihkan. Sifat koligatif penurunan titik beku juga berperan penting dalam kehidupan laut dan air pada daerah dingin sehingga danau, laut, dan sungai hanya membeku pada permukaannya saja.

VI.

Kesimpulan Berdasarkan hasil percobaan, keaktifan pelarut yang didapatkan yaitu 0,99265 dan keaktifan zat terlarut yaitu 0,0549. Sedangkan massa molekul relatif dari naftalen hasil percobaan adalah 275,47 g mol-1.

VII.

Daftar pustaka Atkins, P.W.Physical Chemistry, 8th ed., Mc Graw-Hill, New York, p 150156 N. Levine. 2009. Physical Chemistry 6ed sec 10.6. New York : McGrawHill Brady,James.E.1990.General Chemistry:Principle and Structure5thed, Canada: Wiley Chang, Raymond.2004.Kimia Dasar Konsep-Konsep Init. Edisi ketiga jilid I. Jakarta: Erlangga http://www.chem-is-try.org/ (akses tgl 20 maret 2014 pkl 03.10) http://budionokimia.blogspot.com/ (akses 21 maret 2014 pkl 03.45)