Anda di halaman 1dari 77

PROFIL DARAH MONYET EKOR PANJANG (Macaca

fascicularis) YANG DIBERI PAKAN BERENERGI


TINGGI PADA PERIODE OBESITAS
EMPAT BULAN KEDUA

SKRIPSI

DIANTI DESITA SARI

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009
RINGKASAN

DIANTI DESITA SARI. D14051159. 2009. Profil Darah Monyet Ekor Panjang
(Macaca fascicularis) yang Diberi Pakan Berenergi Tinggi pada Periode
Obesitas Empat Bulan Kedua. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi
Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Pembimbing Utama : Dr. Jakaria S.Pt, MSi


Pembimbing Anggota : Prof. Dr. Ir. Sri Supraptini Mansjoer

Prevalensi obesitas semakin meningkat, hampir setengah milyar penduduk


dunia saat ini tergolong obes. Keadaan ini tidak hanya terjadi di negara maju tapi
sudah mulai meningkat di negara berkembang. Jumlah penderita obesitas semakin
meningkat dan kalangannyapun semakin luas. Obesitas didefinisikan sebagai
kelebihan bobot badan akibat dari terdeposisinya lemak secara berlebih di dalam
tubuh. Proses obesitas ini dapat dilihat pada salah satu primata yaitu monyet ekor
panjang (Macaca fascicularis) yang diberi pakan berenergi tinggi dan diharapkan
mengalami kegemukan (obesitas). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan
informasi pengaruh pemberian pakan berenergi tinggi pada periode empat bulan
kedua (delapan bulan) terhadap profil darah pada masa pembentukan monyet obes.
Penelitian dilakukan selama empat bulan yaitu Juli hingga Oktober 2008 di
PT IndoAnilab Taman Kencana dan pemeriksaan sampel darah dilakukan di
Laboratorium Patologi dan Lipid, Pusat Studi Satwa Primata-IPB (PSSP-IPB),
Bogor. Pemberian pakan pada 15 ekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis)
dibagi dalam tiga kelompok sama banyak yang terdiri dari kelompok pakan A yang
berbahan dasar lemak sapi dengan kandungan energi 4,48 Kal/kg dan kelompok
pakan B berbahan dasar lemak sapi dan kuning telur dengan kandungan energi 4,21
Kal/kg serta kelompok pakan C yaitu pakan komersial yang berbentuk biskuit (padat,
kering dan agak keras) bermerk monkey chow dengan kandungan energi 4,67 Kal/kg.
Peubah yang diamati adalah jumlah sel darah merah, kadar hemoglobin, nilai
hematokrit, Mean Corpuscular Volume (MCV), Mean Corpuscular Haemoglobin
(MCH), Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration (MCHC) dan diferensiasi
sel darah putih (jumlah neutrofil, eosinofil, limfosit, monosit dan basofil).
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa hematologi
Macaca fascicularis sangat nyata (P<0,01) dipengaruhi oleh perlakuan pakan yaitu
jumlah sel darah merah, kadar hemoglobin, nilai hematokrit, Mean Corpuscular
Volume (MCV) dan Mean Corpuscular Haemoglobin (MCH). Periode yang
tersarang pada perlakuan pakan sangat nyata (P<0,01) mempengaruhi jumlah sel
darah merah, kadar hemoglobin, nilai hematokrit dan Mean Corpuscular
Haemoglobin Concentration (MCHC), serta nyata (P<0,05) mempengaruhi jumlah
monosit. Hubungan erat terjalin positif antar peubah sel darah merah, kadar
hemoglobin dan nilai hematokrit serta pada MCV, MCH dan MCHC. Hubungan erat
negatif terjalin antara jumlah limfosit dengan jumlah neutrofil. Pakan B sama
pengaruhnya dengan pakan C (monkey chow) terhadap profil darah monyet ekor
panjang (Macaca fascicularis) pada periode obesitas empat bulan kedua.

Kata-kata kunci: monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), obesitas, pakan energi
tinggi, profil darah
ABSTRACT

Long-tailed Macaque’s (Macaca fascicularis) Haematology Fed by High Energy


Diet for Four Months at Second Obese Periods
Dianti D. S., Jakaria, and S. S. Mansjoer
The aim of this research was to observe Macaque’s (Macaca fascicularis) blood and
get information of the haematology. This research was done during four months with
four times collected, at IndoAnilab, Taman Kencana, Bogor and were analysed in
pathology and lipid laboratory of primate centre, Pusat Studi Satwa Primata (PSSP),
Bogor. Macaca fascicularis were being fed with three kinds of diets. Two kinds were
high energy diet with different composition, both with tallow but one with yolk egg
and the other one with monkey chow. There were fifteen adult males M. fascicularis
and every five monkeys got different maintenance. This research observed
erythrocytes number (million/ml), haemoglobin concentration (g/dl), hematocrit
value (%), Mean Corpuscular Volume (MCV), Mean Corpuscular Haemoglobin
(MCH), Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration (MCHC) the differentiations
of leucocytes (eosinophil, neutrophil, basophil, lymphocyte and monocyte). The
results of this research were high energy diet extremely significant (P<0.01) affected
in erythrocytes number, haemoglobin concentration, hematocrit value, MCV and
MCH. Periods nested in treatment extremely significant (P<0.01) affected in
erythrocytes number, haemoglobin concentration, hematocrit value, MCHC and
significant (P<0.05) affected in monocyte. Positive relationship was present between
erythrocytes number, haemoglobin concentration and hematocrit value as well as
MCV, MCH and MCHC. Negative relationship was present between lymphocyte and
neutrophil. The highest influence showed in high energy diet with tallow and yolk
egg.

Keywords: haematology, high energy diet and long-tailed macaque (Macaca


fascicularis)
PROFIL DARAH MONYET EKOR PANJANG (Macaca
fascicularis) YANG DIBERI PAKAN BERENERGI
TINGGI PADA PERIODE OBESITAS
EMPAT BULAN KEDUA

DIANTI DESITA SARI


D14051159

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk


memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada
Fakultas Peternakan
Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009
PROFIL DARAH MONYET EKOR PANJANG (Macaca
fascicularis) YANG DIBERI PAKAN BERENERGI
TINGGI PADA PERIODE OBESITAS
EMPAT BULAN KEDUA

Oleh
DIANTI DESITA SARI
D14051159

Skripsi ini telah disetujui dan disidangkan di hadapan


Komisi Ujian Lisan pada tanggal 20 Agustus 2009

Pembimbing Utama Pembimbing Anggota

Dr. Jakaria S.Pt, MSi Prof. Dr. Ir. Sri S. Mansjoer

Dekan Ketua Departemen


Fakultas Peternakan Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan
Institut Pertanian Bogor Fakultas Peternakan
Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Luki Abdullah, M.Sc.Agr Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri M.Agr.Sc
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 3 Juli 1987 di Palu, Sulawesi Tengah. Penulis
adalah anak terakhir dari dua bersaudara dari pasangan Bapak (Alm) Bachruddin dan
Ibu Tri Apriyani.
Pendidikan taman kanak-kanak diselesaikan pada tahun 1992 di TK Putra Palu
dan pendidikan dasar diselesaikan pada tahun 1999 di SDN 3 Palu. Pendidikan lanjutan
menengah pertama diselesaikan pada tahun 2002 di SMPN 1 Palu dan pendidikan
lanjutan tingkat atas diselesaikan pada tahun 2005 di SMAN 1 Palu.
Penulis diterima menjadi mahasiswa di Institut Pertanian Bogor pada tahun 2005
melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dengan sistem Mayor Minor dan
pada tahun 2006 penulis diterima sebagai mahasiswa Departemen Ilmu Produksi dan
Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Selama
mengikuti kegiatan perkuliahan, penulis mengikuti beberapa kepanitiaan dalam acara
IPB maupun acara Fakultas.
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala
nikmat, ilmu, dan atas karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
Profil Darah Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) yang Diberi Pakan
Berenergi Tinggi pada Periode Obesitas Empat Bulan Kedua. Shalawat serta salam
senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW.
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Peternakan pada Program Mayor Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas
Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Penyusunan skripsi ini merupakan wujud peran
serta dalam dunia peternakan. Harapan penulis dalam menyusun skripsi ini yaitu
penambahan pengetahuan terhadap profil darah pada individu yang mengkonsumsi
makanan berenergi tinggi, khususnya monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan
manusia pada umumnya. Skripsi ini juga diharapkan dapat memberi gambaran sehingga
jumlah penderita penyakit yang disebabkan kelebihan bobot badan (obesitas) dapat
dikurangi atau dicegah dengan metode yang tepat.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna, untuk itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Penulis berharap
agar skripsi ini bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan, dan dapat menambah
khazanah ilmu pengetahuan serta digunakan dalam pengembangan peternakan di masa
yang akan datang.

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman

RINGKASAN ................................................................................. i
ABSTRACT .................................................................................... ii
RIWAYAT HIDUP ......................................................................... iii
KATA PENGANTAR .................................................................... iv
DAFTAR ISI ................................................................................... v
DAFTAR TABEL ........................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ...................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................... x
PENDAHULUAN .......................................................................... 1
Latar Belakang ................................................................... 1
Perumusan Masalah ............................................................ 2
Tujuan ................................................................................. 2
Manfaat ............................................................................... 2
TINJAUAN PUSTAKA ................................................................. 3
Monyet Ekor Panjang ......................................................... 3
Klasifikasi ............................................................... 3
Pemanfaatan Monyet Ekor Panjang ........................ 4
Habitat dan Kandang ............................................... 5
Karakteristik ............................................................ 6
Pakan ....................................................................... 7
Obesitas .............................................................................. 11
Darah .................................................................................. 13
Benda-benda Darah ............................................................ 14
Sindrom Metabolik .............................................................. 17
METODE ........................................................................................ 19
Lokasi dan Waktu ............................................................... 19
Materi ................................................................................. 19
Hewan Percobaan ................................................... 19
Kandang .................................................................. 19
Pakan Penelitian ....................................................... 20
Pemeriksaan Darah .................................................. 22
Rancangan ........................................................................... 23
Prosedur ............................................................................... 24
Prosedur Umum ...................................................... 24
Pengambilan Contoh Darah .................................... 25
Pengumpulan Data Jumlah Sel Darah Merah .......... 25
Pengumpulan Data Kadar Hemoglobin .................... 26
Pengumpulan Data Nilai Hematokrit ..................... 26
Perhitungan Nilai Mean Corpuscular Volume
(MCV), Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH)
dan Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration
(MCHC) ................................................................. 26
Pengumpulan Data Jumlah Sel Darah Merah,
Kadar Hemoglobin, Nilai Hematokrit, MCV,
MCH, MCHC Menggunakan Alat (Hematology
Analyzer) ............................................................... 27
Pengumpulan Data Diferensiasi Leukosit ............. 27
HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................... 28
Profil Darah Monyet Ekor Panjang ................................... 28
Pemeriksaan Darah Merah ............................................... 28
Jumlah Sel Darah Merah ....................................... 28
Kadar Hemoglobin ................................................. 30
Nilai Hematokrit ..................................................... 32
Mean Corpuscular Volume (MCV) ........................ 33
Mean Corpuscular Haemoglobin (MCH) .............. 35
Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration
(MCHC) .................................................................. 37
Diferensiasi Sel Darah Putih ............................................. 38
Jumlah Neutrofil ..................................................... 39
Jumlah Eosinofil ..................................................... 40
Jumlah Basofil ......................................................... 42
Jumlah Limfosit ...................................................... 42
Jumlah Monosit ....................................................... 44
Hubungan Antar Sifat ........................................................ 45
Bahasan Umum ................................................................. 51
KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................... 55
Kesimpulan ....................................................................... 55
Saran .................................................................................. 55
UCAPAN TERIMA KASIH ........................................................... 56
DAFTAR PUSTAKA......................................................................... 57
LAMPIRAN ....................................................................................... 61

ii
DAFTAR TABEL

Nomor Halaman
1. Kebutuhan Nutrisi Monyet Ekor Panjang Dewasa ........................ 8
2. Kandungan Beberapa Buah Segar per 100 gram ........................... 9
3. Komposisi Zat Makanan Ransum Impor (monkey chow) dan
Ransum Berbahan Baku Pakan Lokal ............................................ 9
4. Keadaan Normal Fisiologis dan Biologis Monyet ......................... 12
5. Nilai Normal Hematokrit Monyet .................................................. 17
6. Kriteria Diagnosa Sindrom Metabolik ........................................... 18
7. Komposisi Pakan A dan Pakan B yang Digunakan dalam
Penelitian ........................................................................................ 20
8. Hasil Analisis Proksimat Kandungan Nutrisi Pakan Perlakuan ..... 21
9. Rataan, Simpangan dan Nilai Koefisien Keragaman (%) Jumlah
Sel Darah Merah Macaca fascicularis .......................................... 29
10. Rataan, Simpangan dan Nilai Koefisien Keragaman (%)
Konsentrasi Hemoglobin Macaca fascicularis ............................. 31
11. Rataan, Simpangan Baku dan Nilai Koefisien Keragaman Nilai
Hematokrit Macaca fascicularis ................................................... 32
12. Rataan, Simpangan Baku dan Nilai Koefisien Keragaman (%)
Mean Corpuscular Volume (MCV) Macaca fascicularis ............. 34
13. Rataan, Simpangan Baku dan Nilai Koefisien Keragaman (%)
Mean Corpuscular Haemoglobin (MCH) Macaca fascicularis ... 35
14. Rataan, Simpangan Baku dan Nilai Koefisien Keragaman (%)
Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration (MCHC)
Macaca fascicularis ...................................................................... 37
15. Rataan, Simpangan Baku dan Nilai Koefisien Keragaman Jumlah
Neutrofil Macaca fascicularis ....................................................... 39
16. Rataan, Simpangan Baku dan Nilai Koefisien Keragaman Jumlah
Eosinofil Macaca fascicularis ....................................................... 41
17. Rataan, Simpangan Baku dan Nilai Koefisien Keragaman Jumlah
Limfosit Macaca fascicularis ........................................................ 43

18. Rataan, Simpangan Baku dan Nilai Koefisien Keragaman Jumlah


Monosit Macaca fascicularis ........................................................ 44
19. Nilai Korelasi dan Nilai-P Hematologi Darah Monyet Ekor
Panjang pada Pengukuran Bulan ke-4 ............................................ 46
20. Nilai Korelasi dan Nilai-P Hematologi Darah Monyet Ekor
Panjang pada Pengukuran Bulan ke-5 ............................................ 47
21. Nilai Korelasi dan Nilai-P Hematologi Darah Monyet Ekor
Panjang pada Pengukuran Bulan ke-6 ............................................ 49
22. Nilai Korelasi dan Nilai-P Hematologi Darah Monyet Ekor
Panjang pada Pengukuran Bulan ke-7 ............................................ 50
23. Nilai Korelasi dan Nilai-P Hematologi Darah Monyet Ekor
Panjang pada Pengukuran Bulan ke-8 ............................................ 51
24. Perubahan Nilai Hematologi pada Periode Obesitas Empat Bulan
Kedua ............................................................................................ 53

iv
DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman
1. Monyet Ekor Panjang Macaca fascicularis .................................... 4
2. Monyet Ekor Penjang (Macaca fascicularis) yang Menunjukkan
Tanda Obesitas ................................................................................ 12
3. Kandang Individu, House Fan dan Alat Pembersih ........................ 19
4. Bentuk Pakan yang Digunakan dalam Penelitian ............................ 22
5. Alat Analisis Darah merek Nihon Kohden, Celltax ......................... 23
6. Grafik Jumlah Sel Darah Merah Macaca fascicularis ..................... 30
7. Grafik Kadar Hemoglobin Macaca fascicularis ............................... 31
8. Grafik Nilai Hematokrit Macaca fascicularis ................................... 33
9. Grafik Mean Corpuscular Volume Macaca fascicularis .................. 34
10. Grafik Mean Corpuscular Haemoglobin Macaca fascicularis ......... 36
11. Grafik Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration Macaca
fascicularis ....................................................................................... 38
12. Grafik Jumlah Neutrofil Macaca fascicularis ................................... 40
13. Grafik Jumlah Eosinofil Macaca fascicularis ................................... 41
14. Grafik Jumlah Limfosit Macaca fascicularis .................................... 43
15. Grafik Jumlah Monosit Macaca fascicularis ..................................... 45
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman
1. Hasil Analisis Ragam Jumlah Sel Darah Merah ............................. 64
2. Hasil Analisis Ragam Kadar Hemoglobin ..................................... 64
3. Hasil Analisis Ragam Nilai Hematokrit ........................................ 64
4. Hasil Analisis Ragam Mean Corpuscular Volume (MCV) ............ 64
5. Hasil Analisis Ragam Mean Corpuscular Haemoglobin (MCH) ... 65
6. Hasil Analisis Ragam Mean Corpuscular Haemoglobin
Concentration (MCHC) .................................................................. 65
7. Hasil Analisis Ragam Jumlah Neutrofil .......................................... 65
8. Hasil Analisis Ragam Jumlah Eosinofil .......................................... 65
9. Hasil Analisis Ragam Jumlah Limfosit ........................................... 66
10. Hasil Analisis Ragam Jumlah Monosit ........................................... 66
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Perhatian terhadap masalah kesehatan akhir-akhir ini semakin meningkat.
Prevalensi obesitas saat ini semakin meningkat, hampir setengah milyar penduduk
dunia tergolong overweight atau obes. Keadaan ini tidak hanya terjadi di negara maju
tapi sudah mulai meningkat di negara berkembang karena kesejahteraan masyarakat
meningkat dan berkembangnya tempat-tempat makanan siap saji. Prevalensi obesitas
di Eropa berkisar antara 10-40% dalam 10 tahun terakhir ini. Kini, banyak
masyarakat di negara berkembang, seperti Indonesia, mengalami masalah
kegemukan (obesitas). Kegemukan biasanya disebabkan ketidakseimbangan antara
jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh dan yang dibutuhkan oleh tubuh itu
sendiri.
Obesitas adalah suatu kondisi dimana terjadi penumpukan lemak tubuh yang
dapat menyebabkan berbagai efek negatif bagi tubuh. Orang yang dianggap obes
adalah yang memiliki Body Mass Index (BMI) 30 kg/m2 atau lebih. Anggapan lain
yaitu bila seseorang memiliki kelebihan bobot badan akibat dari terdeposisinya
lemak dengan bobot badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran bobot badan
normal. Faktor yang menyebabkan terjadinya obesitas antara lain genetik,
lingkungan dan psikis. Obesitas dapat menimbulkan berbagai penyakit yang
memiliki risiko kematian tinggi, antara lain penyakit kardiovaskuler, diabetes
melitus, hipertensi, stroke dan penyakit jantung, sehingga penting untuk mengetahui
pengaruh obesitas terhadap metabolisme tubuh.
Proses obesitas dapat terjadi pada salah satu primata yang dijadikan hewan
percobaan agar mengalami kegemukan dengan memberi pakan yang berenergi
tinggi. Hal ini disebabkan satwa primata merupakan mamalia yang memiliki banyak
kemiripan dengan manusia dalam hal anatomi maupun fisiologi. Jenis satwa primata
yang sering digunakan dalam penelitian adalah monyet Asia, terutama monyet ekor
panjang (Macaca fascicularis) karena mudah ditemukan dan dapat ditangkarkan.
Informasi mengenai profil darah pada tubuh satwa primata yang diberikan
pakan berenergi tinggi diharapkan dapat digunakan sebagai gambaran bagi manusia
yang biasa mengkonsumsi pangan berenergi tinggi, meskipun proses primata ini
untuk kemudian menjadi obese tidak terjadi dalam hitungan bulan. Hal ini penting
mengingat obesitas tidak hanya menyebabkan adanya perubahan fisik yang
mengganggu aktivitas, tetapi juga memicu terjadinya penyakit lain yang
berhubungan dengan darah atau saluran pembuluh darahnya.
Perubahan fisiologis dapat merubah gambaran darah. Perubahan fisiologis ini
dapat disebabkan karena faktor internal seperti pertambahan umur, jenis kelamin,
keadaan gizi, latihan, kesehatan, cekaman, proses produksi darah, emosi,
kebuntingan dan suhu tubuh. Perubahan eksternal antara lain infeksi kuman penyakit,
fraktura, dan perubahan suhu lingkungan.

Perumusan Masalah
Hewan obes diperlukan untuk percobaan dalam bidang kesehatan manusia.
Meningkatnya penelitian di bidang itulah, maka kini kebutuhan terhadap monyet
obes meningkat. Pembentukan monyet obes telah dilakukan pada periode empat
bulan pertama dan hasilnya belum memperlihatkan signifikansi pada ciri-ciri hewan
obes serta perubahan hematologi yang terjadi tidak mengganggu fisiologis dan
metabolis. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengamatan pada empat bulan
berikutnya, meliputi aktivitas makan serta kemungkinan perubahan dalam kesehatan
yang ditunjukkan pada perubahan hematologi yaitu jumlah sel darah merah, kadar
hemoglobin, nilai hematokrit, Mean Corpuscular Volume (MCV), Mean
Corpuscular Haemoglobin (MCH), Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration
(MCHC) dan diferensiasi leukosit (neutrofil, eosinofil, limfosit, monosit dan basofil).

Tujuan
Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi pengaruh pemberian pakan
berenergi tinggi pada periode empat bulan kedua terhadap profil darah pada masa
pembentukan monyet obes.

Manfaat
Hasil penelitian dapat memberikan informasi secara spesifik tentang
karakteristik profil darah hewan model monyet ekor panjang (Macaca fascicularis)
sebagai indikator terjadinya metabolik sindrom pada proses obesitas.

2
TINJAUAN PUSTAKA

Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)


Klasifikasi dan Morfologi
Menurut Lang (2006) taksonomi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis)
sebagai berikut :
Kelas : Mamalia
Ordo : Primata
Sub Ordo : Anthropoidea
Infra Ordo : Catarrhini
Super Famli : Cercopithecoidea
Famili : Cercopithecidae
Genus : Macaca
Spesies : Macaca fascicularis
Sub Spesies : M. f. atriceps, M. f. aurea, M. f. condorensis, M. f.
fascicularis, M. f. fusca, M. f. karimondjawae, M. f. lasiae,
M. f. philipines, M. f. tua, M. f. umbosa.
Monyet ekor panjang sering disebut juga long-tailed macaque, crab eating
monkey, dan cinomolgus monkey. Nama lokal monyet ekor panjang di berbagai
daerah di Indonesia adalah Cigaq (Minangkabau), Karau (Sumatera), Warik
(Kalimantan), Warek (Dusun), Bedes (Tengger), Ketek (Jawa), Kunyuk (Sunda),
Motak (Madura) dan Belo (Timor) (Supriatna dan Wahyono, 2000).
Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) adalah satwa primata yang
menggunakan kaki depan dan belakang dalam berbagai variasi untuk berjalan dan
berlari (quandrapedalisme), memiliki ekor yang lebih panjang dari panjang kepala
dan badan. Disamping itu memiliki bantalan duduk (ischial sallosity) yang melekat
pada tulang duduk (ischial) dan memiliki kantong makanan di pipi (cheek pouches)
(Napier dan Napier, 1985).
Lekagul dan McNeely (1977) juga menjelaskan Macaca fascicularis
dinamakan monyet ekor panjang karena memilki ekor yang panjang, berkisar antara
80% hingga 110% dari total panjang kepala dan tubuh. Ukuran tubuh jantan adalah
412 mm hingga 648 mm dengan bobot badan 4,7 kg hingga 8,3 kg. Betina
mempunyai panjang 385 mm hingga 503 mm dan bobot badan 2,5 kg hingga 5,7 kg.
Ekor berbentuk silindris dan muskular serta ditutupi oleh rambut. Monyet ekor
panjang dapat dilihat pada Gambar 1.

Sumber: NBII (2009)

Gambar 1. Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)

Supriatna dan Wahyono (2000) menyatakan bahwa monyet ekor panjang


(Macaca fascicularis) memiliki panjang tubuh berkisar antara 385 mm hingga 668
mm. Bobot tubuh jantan dewasa berkisar antara 3,5 kg hingga 8,0 kg, sedangkan
bobot tubuh rata-rata betina 3 kg. Smith dan Mangkoewidjojo (1988) menyatakan
bahwa monyet jantan dewasa mempunyai bobot badan berkisar antara 5,5 kg hingga
10,9 kg dan betina antara 4,3 kg hingga 10,6 kg.
Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) mempunyai dua warna utama
yaitu coklat keabu-abuan dan kemerah-merahan dengan berbagai variasi warna
menurut musim, umur dan lokasi (Lekagul dan McNeely, 1977). Napier dan Napier
(1985) secara umum menyatakan warna bulu monyet ekor panjang (Macaca
fascicularis) agak kecoklatan sampai abu-abu, pada bagian punggung lebih gelap
dibanding dengan bagian perut dan dada, rambut kepalanya pendek tertarik
kebelakang dahi, rambut-rambut sekeliling wajahnya berbentuk jambang yang lebat,
ekornya tertutup bulu halus.

Pemanfaatan Monyet Ekor Panjang


Satwa primata adalah salah satu sumber daya alam yang memiliki peranan
penting dalam kehidupan manusia. Hal ini disebabkan karena secara anatomis dan

4
fisiologis satwa primata memiliki kemiripan dengan manusia dibandingkan dengan
hewan model lainnya (Sajuthi et al., 1993).
Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988), jenis satwa primata yang sangat
sering digunakan dalam penelitian adalah monyet asia, terutama Monyet rhesus
(Macaca mulata) dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Bennett et al.
(1995) menyatakan bahwa nilai ilmiah satwa primata untuk penelitian biomedis
diperoleh dari persamaan ciri anatomi dan fisiologis karena kedekatan hubungan
filogenetik dan perbedaan evolusi yang pendek.
Menurut Sulaksono (2002), bahwa variasi nilai rujukan parameter faal
Macaca fascicularis menurut sentra hewan dan jenis kelamin, masih dalam batas
yang dapat ditolerir untuk hewan percobaan yang dipelihara dengan kondisi
pemeliharaan konvensional, sehingga dengan demikian para peneliti Indonesia yang
menggunakan kera sebagai model penelitiannya dapat menggunakan nilai rujukan
tersebut sebagai salah satu referensinya.
Pemeliharaan monyet sebagai hewan penelitian harus memenuhi persyaratan
yang telah diatur oleh sebuah komisi kesejahteraan hewan. Menurut Moss (1992)
kesejahteraan dalam arti luas yaitu menyangkut masalah fisik atau mental dari hewan
dan dapat bertingkah laku sesuai dengan kebiasaannya di alam bebas. Komisi
kesejahteraan memperhitungkan keselamatan hewan, orang disekitarnya dan
kemungkinan terjadi kecelakaan kerja. Komisi tersebut memutuskan yang terbaik
bagi hewan yaitu mendapat cukup kebebasan dalam bergerak tanpa kesulitan
berputar, merawat diri, berdiri, berbaring dan merengangkan badan. Komisi ini juga
mempertimbangkan keadaan pakan yang diberikan. Hewan harus terbebas dari rasa
lapar dan haus.

Habitat dan Kandang


Habitat monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) tersebar mulai dari hutan
hujan tropika, hutan musim sampai hutan rawa-mangrove. Disamping itu juga
terdapat di hutan iklim sedang (Cina dan Jepang) (Napier dan Napier, 1985).
Supriatna dan Wahyono (2000) menyatakan bahwa monyet ekor panjang (Macaca
fascicularis) hidup pada habitat hutan primer dan sekunder mulai dari dataran rendah
sampai dataran tinggi sekitar 1.000 m di atas permukaan laut.

5
Menurut Napier dan Napier (1985), habitat dan penyebarannya ditentukan
oleh beberapa hal yang dibutuhkan untuk bertahan hidup yaitu sumber makanan,
sungai atau mata air, dan pohon untuk tidur dan beristirahat. Keterbatasan sumber
makanan dan minuman menyebabkan kemungkinan adanya daerah tertentu yang
merupakan daerah jelajah dari dua kelompok atau lebih. Perkelahian kelompok
sering terjadi untuk memperebutkan wilayah jelajah tersebut.
Kandang monyet harus mempertimbangkan keperluan tingkah laku, emosi,
dan sosial. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) tidak boleh dikandangkan
sendirian dan terpencil, karena akan menimbulkan suatu bentuk cekaman yang
mengganggu proses tingkah laku dan fisiologi normal. Satwa primata harus
dikandangkan di ruang atau daerah sejauh mungkin dari kandang hewan lain. Syarat
ini untuk mengurangi resiko penularan penyakit dan keamanan dalam memelihara
(Smith dan Mangkoewidjojo, 1988).
Sajuthi (1984) menyatakan, kandang monyet harus dibuat dengan konstruksi
yang kuat. Hal ini untuk mencegah terjadinya kerusakan yang disebabkan dari
monyet itu sendiri. Jenis kandang kelompok yang terbuat dari ram kawat perlu
dilengkapi tempat peristirahatan yang agak tinggi dan bentuknya harus memadai.
Kandang individu harus dilengkapi dinding belakang geser (kandang jepit), sehingga
monyet dapat didorong ke bagian depan kandang. Fungsi kandang tersebut untuk
mempermudah dalam melakukan pemeriksaan, pemberian obat atau penyuntikan dan
penanganan lain yang harus dilakukan terhadap monyet tersebut. Setiap jenis
kandang baik kandang kelompok maupun kandang individu harus dilengkapi dengan
tempat makan dan minum yang memadai dan cukup kuat.

Karaktiristik
Napier dan Napier (1985) menyatakan bahwa monyet ekor panjang bersifat
diurnal (aktivitas harian pada siang hari), teresterial (banyak melakukan aktivitas di
atas tanah) dan tidur di atas pohon untuk menghindari pemangsa. Monyet ekor
panjang hidup dalam grup dengan sistem multimale atau multifemale yang terdiri dari
6–58 individu. Sistem hierarki di dalam grup berdasarkan sistem metrilineal.
Menurut Davies dan Krebs (1978), tingkah laku atau aktivitas hewan
dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor luar dan faktor dalam individu. Faktor dari

6
dalam antara lain hormon dan sistim syaraf, sedangkan faktor luar yang berpengaruh
terhadap aktivitas hewan adalah cahaya, suhu, suara dan kelembaban.
Smith dan Mangkoewidjojo (1988) menyatakan bahwa genus Macaca sp.
memiliki lama hidup 25–30 tahun, lama bunting 167 hari, umur disapih 5–6 bulan,
umur dewasa 4,5–6,5 tahun, umur dikawinkan 36–48 bulan, siklus estrus 31 hari,
periode estrus tiga sampai empat hari. Perkawinan terjadi sewaktu-waktu, ovulasi
spontan pada hari kedua belas atau ketiga belas pada siklus estrus, implantasi
15–21 hari sesudah fertilisasi, jumlah anak satu ekor, jarang terjadi beranak dua ekor.

Pakan
Ransum berupa campuran beberapa jenis bahan pakan yang diberikan kepada
hewan untuk sehari semalam selama seumur hidupnya untuk memenuhi kebutuhan
nutrisi bagi tubuhnya. Hewan mengkonsumsi pakan bertujuan untuk mendapatkan
zat-zat makanan yang berguna dalam berbagai proses dan fungsi dalam tubuhnya,
seperti kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan dan reproduksi. Monyet akan
menghentikan konsumsinya jika kebutuhan energinya sudah terpenuhi (Ensminger et
al., 1990).
Napier dan Napier (1985) monyet ekor panjang (Macaca fascicularis)
termasuk hewan omnivora atau pemakan segala macam makanan. Jenis makanan
yang dimakan oleh monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) antara lain buah-
buahan, akar-akaran, daun-daunan, serangga, hasil pertanian dan molusca. Smith dan
Mangkoewidjojo (1988), menyatakan bahwa dalam keadaan liar, monyet mencari
berbagai makanan seperti buah-buahan, akar, daun muda, serangga, tempayah, biji-
bijian, keong, bangsa udang dan telur burung.
Inglis (1980) menyatakan, bahwa kandungan zat makanan monyet terdiri
45-55% karbohidrat, 15-20% protein kasar, 3-5% lemak kasar, 2,5-5,5% serat kasar,
0,86% kalsium dan 0,47 fosfor. Makanan yang diberikan setiap hari sejumlah 4%
dari bobot badan satwa (Sajuthi, 1984). Menurut Junaedi (2001), pakan yang
diberikan untuk monyet jantan dewasa 160 g/ekor/hari dan untuk monyet muda
80 g/ekor/hari. Kebutuhan nutrisi bagi monyet ekor panjang dewasa dapat dilihat
pada Tabel 1.

7
Tabel 1. Kebutuhan Nutrisi Monyet Ekor Panjang Dewasa

Zat makanan Kadar

Protein kasar (%) 8,00


Serat Kasar (%) 2,00-8,00
Lemak (%) 5,00-9,00
Essential n-3 fatty acids (%) 0,50
Essential n-6 fatty acids (%) 2,00
Ca (%) 0,55
P (%) 0,33
Mg (%) 0,04
-1
Fe (mg·kg ) 100,00
-1
Mn (mg·kg ) 44,00
-1
Cu (mg·kg ) 15,00
-1
Vitamin A (IU·kg ) 10.000,00-15.000,00
-1
Vitamin D (IU·kg ) 2.000,00-9.000,00
-1
Vitamin K (IU·kg ) 68,00
-1
Thiamin (mg·kg ) 15,00-30,00
-1
Riboflavin (mg·kg ) 25,00-30,00
-1
Asam pantotenik (mg·kg ) 20,00
-1
Niasin (mg·kg ) 50,00-110,00
-1
Vitamin B6 (mg·kg ) 4,40
-1
Biotin (mg·kg ) 100,00
-1
Folasin (mg·kg ) 1,50
1
Vitamin B12 (mg·kg ) 0,01
-1
Vitamin C (mg·kg ) 1,00-25,00
Energi (Kal/kg/hari) 0,72-1,20

Sumber : National Research Council, 2003

Iwamoto (1980) menyatakan, bahwa komposisi nutrisi pakan alami pada


umumnya terdiri atas daun-daunan yang banyak mengandung selulosa struktural dan
buah-buahan serta biji-bijian yang banyak mengandung lipida. Pakan yang sengaja
dibuat pada umumnya memiliki kandungan sedikit serat kasar, karbohidrat yang
mudah tersedia (seperti ubi jalar, apel, gandum dan padi), protein kasar (seperti
kacang kedelai) atau lipid (seperti kacang tanah), yang ketiga zat makanan tersebut
proporsinya dalam ransum cukup tinggi.

8
Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dapat tumbuh baik di dalam
kandang dengan makanan yang terdiri dari buah-buahan, nasi, roti, dedaunan hijau
yang ditambah daging, susu, telur dan lain-lain. Masing-masing jenis makanan
mempunyai proporsi yang tersendiri bagi monyet (Junaedi, 2001). Monyet yang
dikandangkan dapat diberi makanan dalam bentuk pelet yang mengandung protein
kasar 24,0%, lemak 7,5% dan serat kasar 2,5%. Monyet ekor panjang (Macaca
fascicularis) mengkonsumsi buah-buahan 86%, rumput 7%, daun 2% dan tanah 1%
(Ismanto, 1999). Kandungan dari beberapa buah yang dikonsumsi monyet ekor
panjang dapat dilihat pada Tabel 2 dan komposisi zat makanan ransum impor
(monkey chow) dan ransum berbahan baku pakan lokal dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 2. Kandungan Beberapa Buah Segar per 100 gram

Kandungan per 100 gram buah segar


Nama
Buah Energi Protein Karbohidrat Lemak Serat Vit Vit Vit Vit Vit
A B6 C E K
(kal/g) ------------------- (%) -------------------- (ui) ----- (mg) ----- ---- (µg) ----

Apel 52 0,26 13,81 0,17 2,40 54 0,04 4,60 0,18 2,20


Jambu biji 68 2,55 14,32 0,95 5,40 624 0,11 228,30 0,73 2,60
Jeruk 47 0,94 11,75 0,12 2,40 200 0,04 50,00 0,04 0,10
Mangga 65 0,51 17,00 0,27 1,80 765 0,13 27,70 1,12 4,20
Pepaya 39 0,61 9,81 0,14 1,80 1094 0,02 61,80 0,73 2,60
Pisang 89 1,09 22,84 0,33 2,60 64 0,37 8,70 0,10 0,50

Sumber : Kelpiesoft (2008)

Tabel 3. Komposisi Zat Makanan Ransum Impor (monkey chow) dan


Ransum Berbahan Baku Pakan Lokal

Zat Makanan Ransum Impor Ransum Lokal* Ransum Lokal**

Serat kasar (%) 5,18 2,63 2,81


Protein kasar (%) 27,20 19,97 15,00
Lemak (%) 4,90 4,63 4,51
Kalsium (%) 1,31 0,89 0,67
Fhosfor (%) 1,09 0,62 0,48
Energi bruto (kal/kg) 4.386,00 3.717,00 4.145,00

Keterangan : * Mustaqimatin (1998)


** Rohman (1993)

9
Menurut Rohman (1993) ransum lokal yang layak untuk menggantikan
ransum impor (monkey chow) adalah ransum yang mempunyai kandungan protein
15%. Mustaqimatin (1998) menyatakan, bahwa ransum berbahan baku lokal dapat
menggantikan ransum impor (monkey chow) dengan kandungan protein sebasar
19,97%.
North (1984) menyatakan, bahwa jumlah ransum yang dikonsumsi tergantung
pada bobot badan, galur, tingkat produksi, tingkat cekaman, aktivitas ternak,
mortalitas, kandungan energi dalam ransum dan suhu lingkungan. Wiseman dan Cole
(1990) menyatakan, bahwa konsumsi ransum dipengaruhi oleh palatabilitas ransum
yang tergantung pada cita rasa (flavour), suhu, ukuran, tekstur dan konsistensi pakan.
Mustaqimatin (1998) menyatakan, ransum dengan bahan baku lokal kurang disukai
oleh monyet dibanding dengan ransum impor. Hal ini disebabkan oleh
kecenderungan untuk mengkonsumsi pakan yang sudah terbiasa diberikan kepada
monyet. Astuti et al. (2007) menyatakan, dengan pembiasaan pakan terlebih dahulu,
konsumsi pakan lokal lebih tinggi dari pada pakan impor (monkey chow).
Monyet-monyet yang diberi ransum buatan ternyata akan mengkonsumsi
pakan lebih rendah daripada yang diberi ransum alami. Hal ini diduga karena adanya
serat kasar yang rendah atau kandungan energi yang tinggi pada ransum buatan
(Iwamoto, 1988). Mustaqimatin (1998) juga menyatakan, bahwa ransum yang
mempunyai kandungan protein dan energi tinggi mempunyai tingkat konsumsi yang
rendah.
Menurut McDonald et al. (2002), pakan sumber energi adalah semua bahan
pakan ternak yang kandungan protein kasarnya kurang dari 20%, dengan konsentrasi
serat kasar di bawah 18%. Berdasarkan jenisnya, bahan pakan sumber energi
dibedakan menjadi empat kelompok yaitu kelompok serealia atau biji-bijian (jagung,
gandum, sorgum), kelompok hasil sampingan serealia (limbah penggilingan),
kelompok umbi (ketela rambat, ketela pohon dan hasil sampingannya) dan kelompok
hijauan yang terdiri dari beberapa macam rumput (rumput gajah, rumput benggala
dan rumput setaria.
Bennet et al. (1995) mendefinisikan pakan obes adalah pakan yang di
dalamnya terkandung energi sebesar 4,2 kkal/kg, terdiri dari 21-31% lemak dan
50-70% soluble carbohidrates (sukrosa dan dextrin). North (1984) berpendapat,

10
bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi konversi ransum antara lain kesehatan
ternak, keaktivan, jenis kelamin, jumlah konsumsi ransum dan temperatur.
Ensminger et al. (1990) menyatakan bahwa, pertambahan bobot badan
dipengaruhi oleh umur, individu, jenis kelamin dan kesehatan. Cekaman dapat
menurunkan bobot badan dan ketahanan terhadap penyakit. Cekaman terhadap
hewan disebabkan oleh temperatur, umur, pemberian pakan yang berbeda,
pengelolaan dan kehadiran orang lain. Menurut Anggorodi (1979), pertambahan
bobot badan tidak hanya dipengaruhi konsumsi ransum tetapi juga dipengaruhi oleh
faktor lain seperti konversi ransum, aktivitas fisik dan genetik.

Obesitas
Obesitas disebabkan oleh bebarapa faktor yaitu faktor genetik, tingkah laku,
lingkungan, fisiologi, sosial dan budaya (Racette et al., 2003). Menurut The World
Health Organization (2008) bahwa standart BMI (Body Mass Index) orang Eropa
untuk overweigh adalah lebih dari sama dengan 25 dan BMI untuk obesitas adalah
lebih dari sama dengan 30. BMI untuk orang Asia normal adalah 18,5 hingga 22,9
sedangkan untuk golongan overweight adalah lebih dari sama dengan 23, preobesitas
adalah 23,0 hingga 27,5; BMI untuk obesitas adalah 27,6 hingga 40 dan sangat
obesitas adalah lebih dari sama dengan 40. BMI dihitung dengan membagi bobot
badan (kg) dengan tinggi badan yang dipangkat dua (m2), namun untuk monyet ekor
panjang dilakuakan modifikasi perhitungan yaitu dengan membagi bobot badan (kg)
dengan tinggi duduk yang dipangkat dua (m2).
Menurut Adam (2006), banyak cara untuk menentukan apakah seseorang
obes atau tidak, tetapi cara yang paling mudah secara medis adalah dengan mengukur
Body Mass Index (BMI). Selain dengan menggunakan BMI, obesitas juga dapat
diukur dengan menentukan distribusi jaringan lemak yaitu obesitas sentral atau
perifer. Obesitas sentral merupakan penimbunan lemak yang terdapat di abdomen
baik subkutan maupun intra abdominal (visceral abdomen). Jaringan intra abdominal
terdiri atas lemak intraperitoneal (omentum dan mesenteric) dan retroperitoneal.
Lemak di dalam tubuh didistribusikan (ditimbun) terutama pada dua tempat yang
berbeda yaitu pada bagian perut (abdomen) dan bagian bokong (gluteus). Lemak
tubuh pria banyak didistribusikan di bagian atas tubuh yaitu bagian perut.

11
Sumber: NBII (2009)

Gambar 2. Monyet Ekor Penjang (Macaca fascicularis) yang Menunjukkan


Tanda Obesitas

Gambar 2 menunjukkan monyet yang mulai memiliki lipatan lemak di


beberapa bagian tubuhnya. Obesitas terjadi pada monyet ekor panjang jantan dan
betina, baik dewasa atau remaja. Monyet ekor panjang memiliki kemiripan pola
obesitas dengan manusia yang ditunjukkan dengan adanya penimbunan lemak
disekitar perut. Keadaan normal fisiologis dan biologis monyet dapat dilihat pada
Tabel 4.

Tabel 4. Keadaan Normal Fisiologis dan Biologis Monyet

Parameter (Satuan) M. mulatta M. fascicularis Papio spp.

Bobot jantan dewasa (kg) 6-11 4-8 22-30


Bobot betina dewasa (kg) 4-9 2-6 11-15
Kecepatan respirasi (per menit) 35-50 30-54 22-35
Detak jantung (detak/menit) 98-122 115-243 85-90
Suhu rektal :
a. oF 98-103 98-103 98-103
b. oC 37-39 37-39 37-39
Konsumsi air per hari (ml) 400-600 350-950 400-600
Konsumsi pakan per hari (g) 400-600 350-550 1000-1500
Jumlah urin per hari (ml) - 150-550 150-400
Volume darah (ml/kg) 50-96 55-75 50-70

Sumber: Fortman et al. (2002)

12
Monyet ekor panjang yang hidup di kawasan wisata Bali menunjukkan tanda-
tanda obesitas dengan Body Mass Index (BMI) sampai 61,57 kg/m2 pada jantan dan
60,07 kg/m2 pada betina (Putra et al., 2006). Obesitas dapat disebabkan oleh virus
penginfeksi lemak yang berasal dari golongan adenovirus-36. Adenovirus biasanya
ditularkan melalui udara, kontak langsung, bahkan lewat air. Virus lemak ini cara
penularanya sama seperti flu biasa dari seorang yang terinfeksi kepada orang yang
tidak terinfeksi (Kurnianingsih, 2005). Selain itu juga, obesitas dapat dipengaruhi
secara genetik. Sampai saat ini, terdapat tujuh gen penyebab obesitas pada manusia
yaitu leptin receptor, melanocortin receptor-4 (MC4R), alpha melanocyte
stimulating hormone (alfa MSH), prohormone convertase-1 (PC-1), leptin, Barder5t-
Biedl, dan Dunnigan partial lypo-dystrophy (Merdikoputro, 2006).

Darah
Darah merupakan jaringan yaitu sekumpulan sel yang sama dan mempunyai
fungsi tertentu dalam tubuh. Tortora dan Anagnostakos (1990) mengelompokkan
peranan penting darah menjadi tiga fungsi utama yaitu fungsi transportasi, fungsi
pengaturan dan fungsi pertahanan tubuh. Darah mendistribusikan oksigen dari paru-
paru ke seluruh jaringan tubuh dan mengangkut karbondioksida dari seluruh jaringan
tubuh ke paru-paru. Makanan yang telah dicerna pada saluran pencernaan diangkut
oleh darah ke seluruh sel. Darah juga mengangkut sisa metabolisme seperti urea,
asam urat, creatine, air, karbondioksida dibawa keluar tubuh melalui ginjal, paru-
paru, kulit dan saluran pencernaaan oleh darah. Disamping itu, darah juga berperan
penting dalam mengangkut hormon dari kelenjar endokrin dan enzim ke organ-organ
lain di dalam tubuh (Rastogi, 1977).
Fungsi pengaturan ditujukan agar kondisi tubuh tetap dalam keadaan
homeostatis. Dalam hal ini, darah berperan dalam menjaga keseimbangan pH dan
komposisi elektrolit dalam cairan interstisial dan mengatur suhu tubuh tetap normal
dengan mendistribusikan panas ke seluruh tubuh melalui oksidasi karbohidrat dan
lemak, serta menjaga keseimbangan air tubuh melalui pertukaran air antara darah
dengan cairan yang terdapat pada jaringan. Fungsi ketiga yaitu fungsi pertahanan
tubuh. Darah mengandung komponen-komponen yang dapat menjaga tubuh dari
benda asing dan infeksi. Disamping itu, terdapat mekanisme pembekuan darah

13
apabila terjadi kerusakan pada pembuluh darah untuk mencegah terjadinya
kehilangan darah dalam jumlah yang banyak (Rastogi, 1977).

Benda-benda Darah
Darah akan menghasilkan dua fraksi yang berpisah apabila disentrifusi yaitu
fraksi padatan yang disebut butir-butir darah dan fraksi plasma. Butir darah dapat
digolongkan menjadi 3 komponen penting yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah
putih (leukosit) dan platelet atau trombosit (Rastogi, 1977).
Sel darah merah berbentuk cakram bikonkaf. Eritrosit mempunyai diameter
sebesar 7,5μ (Frandson, 1986). Dalam proses pembentukannya, eritrosit kehilangan
organela dan kekurangan mitokondria, ribosom dan nukleus (Martini et al., 1992).
Walaupun jumlah eritrosit dalam peredarannya bervariasi, dalam keadaan normal
terdapat 4,5-5,5 juta sel dalam setiap mm3 darah (Marieb, 1988).
Rastogi (1977) menyatakan bahwa warna merah pada darah disebabkan
adanya hemoglobin. Hemoglobin adalah kompleks protein dan besi. Hemoglobin
mengikat oksigen dalam bentuk oksihemoglobin dan CO2 dalam bentuk
karboksihemoglobin. Semakin banyak jumlah molekul hemoglobin yang terkandung
dalam sel darah merah, semakin banyak oksigen yang dapat diikat. Kadar rata-rata
hemoglobin darah normal pada adalah 12-18 gram per 100 ml darah (Marieb, 1988).
Hematokrit menunjukkan berapa banyak ruang di dalam darah yang
berhubungan dengan sel darah merah. Hal ini sangat berguna untuk mengevaluasi
apakah seseorang menderita anemia atau tidak. Thalassemia adalah sebuah kondisi
dimana jumlah sel darah merah meningkat namun mengalami penurunan ukuran dan
hematokrit. Nilai hematokrit berkurang ketika ukuran atau jumlah sel darah merah
menurun. Hal ini menyebabkan anemia, namun kondisi lain memiliki dampak yang
sama yaitu apabila terjadi pendarahan yang berlebihan, kerusakan sel akibat katub
jantung, sakit liver, dan kanker sum-sum tulang. Nilai hematokrit meningkat ketika
ukuran atau jumlah sel darah merah meningkat, seperti pada polycythemia
(Wikipedia, 2008).
Jumlah eritrosit dalam peredaran darah dipengaruhi oleh beberapa faktor
diantaranya umur, jenis kelamin, keadaan gizi, masa laktasi, kebuntingan, produksi
telur, pelepasan epinefrin, siklus estrus, volume darah, waktu harian, temperatur
lingkungan dan ketinggian (Swenson, 1984). Jika jumlah eritrosit dalam setiap mm3

14
darah meningkat, viskositas darah ikut meningkat dan darah mengalir lebih lambat.
Sebaliknya jika terjadi penurunan dalam jumlah eritrosit, darah akan menjadi encer
dan mengalir lebih cepat. Hematokrit merupakan tes yang rutin dilakukan untuk
menentukan kenormalan jumlah eritrosit. Hematokrit dianggap setara dengan volume
sel darah merah. Hematokrit normal berkisar antara 42-47%. Hematokrit dalam
jumlah yang normal menunjukkan jumlah eritrosit normal (Marieb, 1988).
Jumlah sel darah merah, hematokrit atau hemoglobin dapat dijadikan sebagai
petunjuk anemia dan polycythemia. Colville dan Bassert (2002) mendefinisikan
anemia adalah kondisi patologis disebabkan karena terjadinya penurunan
kemampuan darah mengangkut oksigen. Diagnosis tipe anemia dapat dilakukan
dengan menghubungkan pengukuran jumlah sel darah merah, hematokrit dan
hemoglobin terhadap derivatnya yaitu Mean Corpuscular Volume (MCV), Mean
Corpuscular Hemoglobin (MCH) dan Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration
(MCHC). MCV merupakan ukuran rata-rata sel darah merah. MCH merupakan
jumlah hemoglobin dalam sel darah merah. MCHC merupakan kadar hemoglobin
relatif terhadap ukuran sel setiap sel darah.
Eritrosit dengan ukuran per volume normal (MCV normal) disebut
normocytic. Saat MCV lebih tinggi dari normal disebut macrocytic, sedangkan saat
lebih rendah disebut microcytic. MCH dengan nilai normal disebut normochromic
anemia. Jika nilai MCH lebih rendah dari nilai normal disebut hypochromic anemia,
sedangkan jika lebih besar dari nilai normal disebut hyperchromic anemia. Eritrosit
yang mengandung kadar hemoglobin normal (MCHC normal) disebut
normochromic. Saat MCHC abnormal lebih rendah disebut hypochromic dan MCHC
abnormal lebih tinggi disebut hypercromic (McGill Virtual Lab, 2009).
Anemia memiliki banyak tipe berdasarkan penyebabnya. Berikut ini
dijabarkan tipe-tipe anemia dan penyebabnya (McGill Virtual Lab, 2009):
a. Normocytic atau normochromic anemia disebabkan oleh kehilangan
banyak darah, kerusakan klep jantung, tumor atau aplastic anemia.
b. Microcytic atau hypochromic anemia disebabkan oleh defisiensi zat besi,
keracunan timah atau thalassemia.
c. Microcytic atau normochromic anemia disebabkan oleh kekurangan
hormon erythropoietin karena gagal ginjal;

15
d. Macrocytic atau normochromic anemia sebagai akibat dari kemoterapi,
defisiensi folat atau vitamin B12.
Polycythemia adalah peningkatan jumlah sel darah merah yang di atas nilai
normal. Terdapat tiga tipe polycythemia menurut Colville dan Bassert (2002) sebagai
berikut:
1. Polycythemia relatif, terjadi melalui kehilangan cairan pada darah
(hemoconcentration). Biasa terjadi pada hewan yang mengalami dehidrasi
karena muntah, diare, keringat berlebihan, dan tidak mengkonsumsi air
dalam jumlah yang cukup.
2. Compensatory polycythemia, terjadi sebagai akibat dari hypoxia. Sumsum
tulang diransang untuk memproduksi lebih banyak sel darah merah,
karena jaringan tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup.
Kemungkinan compensatory polycythemia terutama pada satwa yang
hidup di daerah dengan altitude tinggi.
3. Polycythemia rubra vera, merupakan kelainan sumsum tulang yang
jarang terjadi, ditandai dengan peningkatan produksi sel darah merah
tetapi tidak diketahui penyebabnya.
Benda darah selain sel darah merah (eritrosit) adalah sel darah putih
(leukosit). Leukosit berjumlah 5-6 ribu per mm3 darah. Leukosit dihasilkan pada sel
hati retikuloendotel, empedu, saluran limpa dan sumsum tulang (Marshal dan
Hughes, 1972). Leukosit digolongkan menjadi granulosit dan agranulosit. Granulosit
terdiri dari neutrofil, eosonofil dan basofil, sedangkan agranulosit terdiri dari monosit
dan limfosit. Keping darah (trombosit) merupakan fragmen megakariosit yaitu sel-sel
besar yang terbentuk di dalam sumsum tulang belakang. Trombosit berukuran 2-4μ.
Trombosit berfungsi untuk mengurangi hilangnya darah ketika pembuluh darah
terluka. Terdapat sekitar 350.000-500.000 keping darah setiap satu mm3 darah.
Jumlah trombosit bervariasi dari waktu ke waktu, biasanya akan meningkat setelah
olahraga dan hemoragi (Frandson, 1986). Nilai normal hematokrit monyet dapat
dilihat pada Tabel 5.

16
Tabel 5. Nilai Normal Hematokrit Monyet

Parameter (Satuan) M. mulatta M. fascicularis Papio spp.

Hematokrit (%) 37,0-40,0 33,1-37,5 36,0-41,0


6
RBC (× 10 /ml) 5,1-5,6 5,3-6,3 4,6-5,3
6
WBC (× 10 /ml) 4,2-8,1 6,1-12,5 6,7-12,5
Hemoglobin (g/dl) 12,0-13,1 11,0-12,4 11,7-13,5
Neutrofil (%) 26,0-52,0 35,0-61,0 48,0-76,0
Limfosit (%) 39,0-72,0 34,0-56,0 22,0-50,0
Eosinofil (%) 0,0-4,0 1,3-9,1 0,0-2,0
Basofil (%) 0,0-0,4 0,0-0,2 0,0
Monosit (%) 1,0-4,0 0,4-3,0 0,5-3,5
3
Platelet (× 10 ) 260,0-361,0 300,0-512,0 233,0-399,0
MCV (fl) 71,0-75,0 59,0-66,0 74,0-80,0
MCH (ρg) 22,8-24,5 19,0-21,0 24,0-26,0
MCHC (g/dl) 31,0-33,4 32,0-35,0 32,0-34,0

Sumber: Fortman et al. (2002)

Nilai rujukan hematologi untuk kera jantan berdasarkan hasil penelitian


Sulaksono (2002) bahwa jumlah sel darah merah 5,6-6,6 (5,9 ± 0,4) (juta/ml); jumlah
sel darah putih 6.700-19.000 (10.732 ± 4.296) (juta/ml); konsentrasi hemoglobin
9,6-12,1 (10,9 ± 0,9) (g/dl) dan nilai hematokrit 30-38 (35 ± 4) (%). Menurut
Schermer (1967) monyet yang kehilangan darah sebanyak 37% dari bobot tubuhnya
akan meningkatkan jumlah darahnya mulai hari ke empat hingga hari ke tujuh dan
setelah 28 hari jumlah darah akan kembali normal.

Sindrom Metabolik
Sindrom metabolik adalah kondisi dimana seseorang memiliki tekanan darah
tinggi, kegemukan, kadar gula darah tinggi dan kadar lemak darah tidak normal.
Ketika kondisi-kondisi tersebut diderita oleh seseorang dalam satu waktu, maka
orang tersebut memiliki risiko lebih besar untuk menderita penyakit jantung koroner,
stroke dan diabetes. Sindroma metabolik adalah suatu faktor risiko multipel untuk
penyakit kardioserebrovaskular. Sindrom ini berkembang melalui kerjasama antara
obesitas dan kerentanan metabolik (Bathesda Stroke Center, 2008). Seseorang dapat
dinyatakan menderita sindrom metabolik apabila memenuhi tiga dari lima kriteria
yang dicantumkan pada Tabel 6.

17
Tabel 6. Kriteria Diagnosa Sindrom Metabolik
Kriteria untuk sindrom metabolik Keterangan
Peningkatan lingkar pinggang ≥ 120 cm pada laki-laki atau ≥ 88 cm pada
(obesitas sentral) perempuan
Peningkatan nilai trigliserida ≥ 150 mg/dl atau sedang dalam proses
Nilai HDL-kolesterol yang rendah < 40 mg/dl pada laki-laki atau < 50 mg/dl pada
perempuan atau sedang dalam proses
Penigkatan tekanan darah ≥ 130 mm Hg untuk tekanan darah sistolik atau
≥ 85 mm Hg untuk tekanan darah diastolik atau
sedang dalam proses
Peningkatan gula darah puasa ≥ 100 mg/dl atau sedang dalam proses

Sumber : Bathesda Stroke Center (2008)

Sindrom metabolik merupakan kombinasi antara gangguan kesehatan yang


dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes. Terjadi pada satu
dari lima orang dan berbanding lurus dengan peningkatan usia (Wikipedia, 2008).
Sindroma ini pertama kali diamati pada tahun 1923 yang mengkategorikannya
sebagai gabungan dari hipertensi dan hiperglikemia. Berbagai abnormalitas
metabolik lain dikaitkan dengan sindroma ini diantaranya obesitas, mikroalbuminuria
serta abnormalitas fibribolisis dan koagulasi. Tahun 1998, WHO memperkenalkan
istilah sindrom metabolik. Kriteria diagnosa untuk menentukan sindrom ini
kemudian dikemukakan oleh National Cholesterol Education Program (NCEP).

18
METODE

Lokasi dan Waktu


Penelitian ini dilaksanakan selama empat bulan yaitu pada awal Juni sampai
akhir Oktober 2008 di PT. IndoAnilab Jalan Taman Kencana No. 3 dan
Laboratorium Patologi dan Lipid, Pusat Studi Satwa Primata-IPB (PSSP-IPB) di
Jalan Lodaya II No. 5, Bogor.

Materi
Hewan Percobaan
Hewan yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 15 ekor monyet ekor
panjang (Macaca fascicularis) dewasa berjenis kelamin jantan dengan bobot badan
berkisar antara 3–6 kg, dengan umur 6–8 tahun. Seluruh monyet ekor panjang
(Macaca fascicularis) yang digunakan berasal dari Sumatera dan bebas dari penyakit
tuberkulosis dan simian retrovirus (SRV). Seluruh perlakuan yang melibatkan hewan
percobaan dilakukan berdasarkan peraturan yang telah ditentukan oleh Animal Care
and Use Commitee (ACUC) yaitu Komisi Kesejahteraan Hewan Percobaan dari PT.
IndoAnilab dengan nomor protokol: 02-IA-ACUC-08.

Kandang
Kandang yang digunakan adalah kandang individu stainless steel (squeeze
back cage) untuk mempermudah dalam pemeliharaan dan pengendalian. Kandang
dengan ukuran 0,6 x 0,6 x 0,9 m dapat dilihat dalam Gambar 3.

Gambar 3. Kandang Individu, House Fan dan Alat Pembersih


Peletakan kandang dibuat dalam bentuk satu sama lain individu masih dapat
saling melihat dan mendengar. Setiap kandang dilengkapi dengan tempat pakan dan
tempat air minum berupa mangkuk yang terbuat dari logam anti karat dan air minum
disediakan adlibitum, ditempatkan pada ruang tertutup dan bersih serta dilengkapi
dengan lampu, keran air, selang air, alat kebersihan dan house fan.

Pakan Penelitian
Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) jantan telah mengkonsumsi
pakan formulasi selama empat bulan dan selama penelitian empat bulan berikutnya
monyet tersebut tetap mendapat pakan formulasi yang sama. Pakan formulasi dibuat
dari bahan pakan lokal berenergi tinggi dan diformulasi sebanyak 100-150
g/ekor/hari. Bahan pakan terdiri dari gandum, gula, tallow (lemak sapi), minyak
goreng, tepung ikan, tepung maizena, bungkil kedelai, dedak padi, agar-agar, CMC
(carboxymethyl cellulose), Premix®, kalsium karbonat, kalsium fosfat serta kuning
telur. Komposisi dari formulasi pakan A dan pakan B dapat dilihat dalam Tabel 7.

Tabel 7. Komposisi Pakan A dan Pakan B yang Digunakan dalam Penelitian

Bahan Pakan Pakan A Pakan B

---------------------- (%) ---------------------

Gandum 42,0 42,0


Gula 10,0 8,0
Minyak goreng 10,0 10,0
Tepung ikan 6,5 4,0
Tepung maizena 8,0 8,0
Bungkil kedelai 5,0 4,0
Dedak padi 4,0 4,0
Agar-agar 1,5 1,0
CMC (carboxymethyl cellulose) 1,0 1,0
Mineral mix 2,0 2,0
Kuning telur - 10,0
Tallow 10,0 6,0

Keterangan: - Tidak diberikan

Perlakuan pakan formulasi ini menggunakan lima ekor monyet ekor panjang
(Macaca fascicularis) jantan yang diberi pakan A yaitu pakan dengan formula yang
mengandung bahan sumber energi dari gandum dan dikombinasi dengan tallow,

20
sedangkan lima ekor lainnya mendapat pakan B yaitu terbuat dari bahan sumber
energi gandum dan tallow yang dikombinasikan dengan kuning telur. Monyet ekor
panjang (Macaca fascicularis) jantan sebanyak lima ekor mendapat pakan komersial
buatan Bangkok dengan merk dagang monkey chow sebanyak 50-80 g/ekor/hari.
Monkey chow berbentuk biskuit padat, kering dan agak keras yang kandungan
protein dan energi tinggi. Kandungan zat-zat makanan dalam pakan A, pakan B dan
pakan monkey chow dapat dilihat dalam Tabel 8.

Tabel 8. Hasil Analisis Proksimat Kandungan Nutrisi Pakan Perlakuan


Pakan A Pakan B Pakan C
No Nutrisi (lemak sapi dan
(lemak sapi) (monkey chow)
kuning telur)
1 2 1 2 1 2
1 Bahan Kering (%) 68,09 100 70,18 100 92,75 100
2 Kadar abu (%) 4,73 6,95 3,89 5,54 7,65 8,25
3 Protein Kasar (%) 14,42 21,18 15,01 21,39 29,39 31,69
4 Serat Kasar (%) 1,81 2,66 1,14 1,62 6,02 6,49
5 Lemak Kasar (%) 19,62 28,81 19,62 27,96 5,55 5,98
6 BETN (%) 59,62 87,56 60,34 85,98 51,38 55,40
7 Ca (%) 1,41 2,07 1,25 1,78 1,66 1,79
8 P (%) 0,65 0,95 0,58 0,83 1,55 1,67
9 Gross energi (Kal/kg) 4,48 6,58 4,21 6,00 4,33 4,67

Keterangan : 1 = jumlah aktual


2 = jumlah berdasarkan 100% bahan kering setiap unsur nutrisi
Hasil analisis proksimat Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Departemen
Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, 2008

Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) selain mendapat pakan di atas


juga mendapat pakan tambahan berupa buah pisang (± 70 g/ekor/hari) dan untuk
menarik minat monyet mengkonsumsi pakan formulasi maka dilakukan pengkayaan
lingkungan (environmental enrichment) dengan cara diberi tambahan buah jeruk,
pepaya dan jambu biji (± 10 g/ekor/hari) yang telah dibekukan dalam air yang
dibekukan secara bergantian setiap pagi hari sebelum diberi pakan. Bentuk pakan
yang digunakan selama penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.

21
a b c
Keterangan : a. Pakan Perlakuan A
b. Pakan Perlakuan B
c. Pakan Komersial (monkey chow)

Gambar 4. Bentuk Pakan yang Digunakan dalam Penelitian

Bentuk fisik pakan A yaitu berwarna cokelat kemerahan dan dibentuk bulat
lonjong dengan tekstur lembek dan agak kasar, sedangkan pakan B berwarna cokelat
dan dibentuk bulat lonjong dengan tekstur lembek namun lebih lembut (kalis)
daripada pakan A. Pakan monkey chow berwarna coklat kekuningan dan berbentuk
pipih, lonjong dan keras (kering).

Pemeriksaan Darah
Bahan yang digunakan dalam pengambilan darah yaitu ketamin 5–25 mg/kg
alkohol 70% dan indikator tuberkulosis. Bahan yang digunakan dalam analisis darah
adalah contoh darah, alkohol 70%, Giemsa 10%, metanol dan minyak imersi.
Alat yang digunakan adalah syringe 5 ml, mikroskop cahaya (merek Nikon
YB100), tabung vacum dengan larutan EDTA K3 (merek Ges Vacuum Tube), kotak
pendingin, alat penghitung manual, kaca objek (merek Sail Brand), kaca penutup
preparat, pipet mikro dan alat analisis darah (merek Nihon Kohden, Celltax) dapat
dilihat pada Gambar 5.

22
Gambar 5. Alat Analisis Darah merek Nihon Kohden, Celltax

Bahan yang digunakan dengan analisis manual adalah contoh darah yang
akan dianalisis, aquadestilata, alkohol 70%, larutan EDTA, larutan Hayem, HCl 0,1
N, Giemsa 10%, natrium sitrat 3,8 g, formaldehida 40% 0,2 ml, brilliant cresyl blue
0,1 g, air destilasi 100 ml dan metanol. Alat yang digunakan adalah syringe 5 ml,
pipet Sahli (0,02 cc), tabung Sahli, mikroskop, kapas, colin jar, kertas filter,
crestaseal, hemositometer, sentrifuse, hemoglobinometer, hand counter, gelas
penutup, pipet BDM, buluh kapiler yang mengandung antikoagulan, pipet Pasteur
dan skala untuk membaca nilai hematokrit.

Rancangan
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap pola tersarang dengan
faktor perlakuan pemberian pakan (A, B dan C) dan periode pengambilan data
tersarang pada perlakuan. Rancangan ini seolah-olah terdiri dari dua atau lebih
rancangan acak lengkap yang responsnya sama kemudian digabung menjadi satu
model percobaan. Transformasi arcsin dilakuakan untuk data diferensiasi leukosit
yang datanya dibawah nilai 30%. Pengolahan data dan perhitungan peubah yang
berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan menggunakan program
aplikasi SAS. Model persamaan rancangan acak lengkap pola tersarang (Gasperz,
1992) yaitu

23
Yij = µ + τ i + β j(i) + ε ijk
Keterangan:
i = 1, 2, 3 dan j = 1, 2, 3, 4
Yij = pengamatan faktor τ taraf ke-i, faktor β taraf ke-j dan ulangan ke-k,
µ = rataan umum,
τi = pengaruh faktor τ pada taraf ke-i,
β j(i) = pengaruh faktor β pada taraf ke-j tersarang pada taraf ke-i dan
ε ijk = pengaruh galat faktor τ taraf ke-i, faktor β taraf ke-j dan ulangan ke-k.

Analisis korelasi dilakukan untuk mengetahui keeratan hubungan anatar


peubah. Koefisien korelasi antara dua peubah dapat dicari dengan rumus (Mattjik
dan Sumertajaya, 2002) sebagai berikut

Keterangan :
r XY = koefisien korelasi,
n = jumlah data,
xi = peubah x ke i dan
yi = peubah y ke i.

Peubah yang diamati adalah nilai hematologi darah diantaranya jumlah sel
darah merah (juta/ml), kadar hemoglobin (g/dl), nilai hematokrit (%), nilai Mean
Corpuscular Volume (MCV) (fl), nilai Mean Corpusular Hemoglobin (MCH) (ρg)
dan nilai Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC) (g/dl) dan
diferensiasi leukosit (neutrofil, eosinofil, basofil, limfosit dan monosit).

Prosedur
Prosedur Umum
Peneliti diwajibkan memenuhi persyaratan kesehatan sebelum melakukan
penelitian berupa röntgen toraks dan mendapat surat keterangan sehat. Peneliti
maupun petugas kandang wajib menerima materi pelatihan dan memakai pakaian
kandang khusus lengkap dengan kacamata, sarung tangan, masker, penutup kepala
serta sepatu boot. Sebelum memasuki ruang kandang, sepatu boot dicelupkan ke
dalam cairan desinfektan.

24
Pengambilan Contoh Darah
Pengambilan contoh darah dan analisis darah dilakukan pada bulan ke–5,
ke–6, ke–7 dan ke–8 penelitian. Sebelum darah diambil, monyet dibius terlebih
dahulu dengan ketamin 5–25 mg/kg secara intramusculer (Fortman et al., 2002).
Darah diambil di daerah vena femoralis menggunakan syringe 5 ml dan dimasukan
ke dalam tabung vakum yang berisi antikoagulan EDTA K3. Sampel darah
dimasukkan ke dalam kotak pendingin agar darah tetap dalam kondisi baik dan
dibawa ke laboratorium.

Pengumpulan Data Jumlah Sel Darah Merah


Perhitungan jumlah sel darah merah dilakukan pada kamar hitung eritrosit
dengan menggunakan mikroskop pembesaran 100 kali (objektif 10 kali dan okuler 10
kali). Prosedur pengerjaannya adalah aspirator dipasang pada pipet eritrosit lalu
darah dihisap sampai batas angka 0,5 pada pipet. Ujung pipet dibersihkan dengan
menggunakan tisu. Larutan Hayem dengan cepat dan hati-hati dihisap sampai tanda
101 yang tertera pada pipet. Pada penghisapan ini dihindari terbentuknya gelembung
udara, jika terdapat gelembung udara maka prosedur harus diulang. Selanjutnya
aspirator dilepas dari pipet eritrosit.
Ibu jari dan telunjuk kanan digunakan untuk memegang kedua ujung pipet,
lalu isi pipet dikocok dengan membuat gerakan angka 8 selama 3 menit. Bagian yang
tidak ikut terkocok dibuang. Selanjutnya dengan hati-hati cairan dimasukan ke dalam
kamar hitung dengan cara menempelkan ujung pipet pada pertemuan antara dasar
kamar hitung dan kaca penutup. Butir-butir darah dibiarkan mengendap selama
kurang lebih satu menit. Agar tidak terjadi penghitungan yang berulang sebaiknya
digunakan hand counter.
Menghitung eritrosit dalam hemositometer, digunakan kotak eritrosit yang
berjumlah 25 buah dengan mengambil bagian satu kotak pojok kanan atas, satu kotak
pojok kiri atas, satu kotak di tengah, satu kotak di pojok kanan bawah dan satu kotak
di pojok kiri bawah dan untuk membedakan kotak eritrosit dengan kotak leukosit
dapat berpatokan pada tiga garis pemisah pada kotak eritrosit. Luas kotak eritrosit
relatif lebih kecil dibandingkan dengan kotak leukosit. Setelah jumlah eritrosit
didapatkan maka jumlah darah merah dikalikan dengan 104, untuk mengetahui
jumlah eritrosit dalam 1 mm3 darah (Sastradipraja et al., 1989).

25
Pengumpulan Data Kadar Hemoglobin
Metode yang digunakan untuk uji kadar hemoglobin adalah metode Sahli.
Larutan HCl 0,1 N diteteskan pada tabung Sahli sampai angka 10 atau garis bawah,
kemudian sampel darah dihisap menggunakan pipet hingga mencapai batas garis 20
mm3 (0,02 cc). Sampel darah segera dimasukkan ke dalam tabung dan ditunggu
selama 3 menit atau hingga berubah warna menjadi coklat kehitaman akibat reaksi
antara HCl dengan hemoglobin membentuk asam hematid. Larutan ditambah dengan
aquadestilata, teteskan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk. Aquadestilata
ditambah hingga warna larutan sama dengan warna standar hemoglobinometer.
Kadar hemoglobin dapat dilihat di kolom g % yang tertera pada tabung hemoglobin
(Sastradipraja et al., 1989).

Pengumpulan Data Nilai Hematokrit


Nilai hematokrit secara manual yaitu dengan pengisian pipa mikrometer yang
dilakukan dengan memiringkan tabung yang berisi sampel darah dengan
menempatkan ujung mikrokapiler yang bertanda merah. Pipa diisi sampai mencapai
2/3 bagian, kemudian ujung pipa disumbat dengan crestoseal dan pipa mikrokapiler
tersebut disentrifusi selama 15 menit dengan kecepatan 2.500–4.000 rpm. Bagian
yang tersumbat diletakkan menjauhi pusat sentrifuse. Nilai hematokrit ditentukan
dengan mengukur persentase volume eritrosit dengan menggunakan alat baca
mikrohemotokrit (microcapillary hematocrit reader) (Sastradipraja et al., 1989).

Perhitungan Nilai Mean Corpuscular Volume (MCV), Mean Corpuscular


Hemoglobin (MCH) dan Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC)
McGill Virtual Lab (2009) menghitung nilai MCV, MCH dan MCHC,
digunakan rumus berikut :

MCV (fl) = Hematokrit (%) x 10


Jumlah sel darah merah (106/ml)

Hemoglobin (g/dl) x 10
MCH (ρg) =
Jumlah sel darah merah (106/ml)

Hemoglobin (g/dl) x 100


MCHC (g/dl) =
Hematokrit (%)
Satuan untuk MCV, MCH dan MCHC secara berturut-turut adalah femtoliters (fl,
1 fl = 10-15 liter), picograms (ρg) dan gram per desiliter (g/dl).

26
Pengumpulan Data Jumlah Sel Darah Merah, Kadar Hemoglobin, Nilai
Hematokrit, MCV, MCH, MCHC Menggunakan Alat (Hematology Analyzer)
Perhitungan jumlah sel darah merah (×106/ml), konsentrasi hemoglobin (g/dl)
dan nilai hematokrit (%) dilakukan dengan alat analisis darah secara bersamaan. Alat
diatur sesuai kehendak dan dipastikan dalam kondisi baik dengan diuji kontrol.
Sampel darah dari tabung vacutainer diuji satu per satu. Hasil dari pembacaan akan
tampil pada layar dan tersimpan di memory alat.

Pengumpulan Data Diferensiasi Leukosit


Darah yang telah disiapkan diteteskan ke kaca objek yang dipegang dengan
ibu jari dan telunjuk salah satu tangan. Kaca penutup berbeda dipegang tangan lainya
kemudian ujung kaca penutup ditempelkan dengan membentuk sudut kurang lebih
30o setelah itu, kaca penutup didorong dengan kecepatan konstan sehingga
didapatkan ulasan yang tidak terlalu tebal. Ulasan dikeringkan selama beberapa
menit. Lalu ulasan difiksasi dalam metanol selama 5–10 menit. Ulasan dicelupkan ke
dalam pewarna Giemsa sekitar 30 menit kemudian ulasan diangkat dan dicuci
menggunakan air mengalir sampai air bilasan tidak membawa warna Giemsa.
Preparat ulas dikeringkan dan perhitungan dilakukan di bawah mikroskop cahaya
dengan ditetesi minyak imersi, perbesaran 100 x 10 (Sastradipraja et al., 1989).

27
HASIL DAN PEMBAHASAN

Profil Darah Monyet Ekor Panjang


Pemeriksaan Darah Merah
Berdasarkan hasil pemeriksaan sel darah merah monyet ekor panjang
(Macaca fascicularis) pada periode obesitas empat bulan kedua meliputi jumlah sel
darah merah, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit sangat nyata dipengaruhi oleh
perlakuan pakan berenergi tinggi dan periode yang tersarang di dalam pakan
(P<0,01). Mean Corpuscular Volume (MCV) dan Mean Corpuscular Haemoglobin
(MCH) sangat nyata dipengaruhi oleh perlakuan pakan (P<0,01) namun tidak nyata
dipengaruhi oleh periode yang tersarang di dalam pakan (P>0,05). Mean
Corpuscular Haemoglobin Concentration (MCHC) tidak nyata dipengaruhi oleh
perlakuan pakan (P>0,05) namun sangat nyata dipengaruhi olah periode yang
tersarang di dalam pakan (P<0,01). Keadaan fisik monyet ekor panjang yang diberi
pakan berenergi tinggi mengalami perubahan bagian-bagian tubuh yang menjadi
tanda didepositkannya lemak tubuh. Perubahan yang terjadi yaitu pada lingkar
pinggul, lingkar pinggang, lingkar dada, tebal lipatan kulit punggung, serta tebal
lipatan kulit perut (Caraka I, 2008 dan Ningsih, 2009).
Periode empat bulan pertama menunjukkan bahwa profil darah merah monyet
ekor panjang dipengaruhi oleh perlakuan pakan dan terjadi peningkatan dan
penurunan nilai namun masih dalam kisaran yang dapat ditoleransi sehingga tidak
menyebabkan gangguan fisilogis dan metabolis yang berarti. Jumlah sel darah
merah, kadar hemoglobin, nilai hematokrit, MCV dan MCH sangat nyata
dipengaruhi oleh perlakuan pakan (P<0,01) namun tidak nyata dipengaruhi oleh
periode di dalam pakan (P>0,05) (Afiza, 2009). Secara umum, keberadaan benda
darah dalam tubuh dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor eksogen dan faktor
endogen. Faktor eksogen terdiri dari agen penyebab infeksi dan perubahan
lingkungan. Sedangkan faktor endogen dipengaruhi oleh pertambahan umur, status
gizi, kesehatan, stres, siklus estrus dan suhu tubuh (Guyton dan Hall, 1997).

Jumlah Sel Darah Merah


Berdasarkan analisis darah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) pada
periode obesitas empat bulan kedua, didapat hasil perhitungan jumlah sel darah
merah sangat nyata dipengaruhi oleh perlakuan pakan berenergi tinggi (P<0,01).
Pengaruh perlakuan pakan B nyata (P<0,05) lebih tinggi bila dibandingkan dengan
perlakuan pakan A. Pakan A berbeda nyata (P<0,05) lebih tinggi bila dibandingkan
dengan pakan C (monkey chow). Hal ini disebabkan oleh pakan B memiliki sumber
nutrisi dari kuning telur yang baik untuk pembentukan darah. Kuning telur banyak
mengandung asam amino, vitamin dan mineral yang penting dalam pembentukan sel
darah merah. Lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 9 dan Gambar 6.

Tabel 9. Rataan, Simpangan dan Nilai Koefisien Keragaman (%) Jumlah Sel
Darah Merah Macaca fascicularis
Perlakuan
Periode
Pakan A Pakan B Pakan C
± SB (KK) ± SB (KK) ± SB (KK)
----------------------------------- (× 106/ml) ------------------------------------
4 6,69 ± 0,15 (2,20)b 7,14 ± 0,58 (8,07)a 6,44 ± 0,36 (5,63)c
5 7,07 ± 0,23 (3,18)b 7,45 ± 0,64 (8,65)a 6,99 ± 0,52 (7,38)c
6 6,57 ± 0,07 (1,02)b 6,76 ± 0,46 (6,75)a 6,16 ± 0,21 (3,33)c
7 6,33 ± 0,24 (3,86)b 6,62 ± 0,55 (8,28)a 5,10 ± 0,36 (6,04)c
8 6,41 ± 0,31 (4,83)b 6,54 ± 0,33 (5,02)a 6,11 ± 0,45 (7,43)c

Keterangan: Huruf superscrip yang sama pada kolom yang berbeda menunjukkan nilai yang sama.

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa jumlah sel darah merah sangat
nyata dipengaruhi oleh periode yang tersarang pada perlakuan pakan (P<0,01).
Pemberian pakan pada periode ke-5 berbeda lebih tinggi pengaruhnya daripada
periode ke-4 dan periode ke-6 berbeda lebih rendah daripada periode ke-4. Berturut-
turut dari perolehan nilai rataan yang tertinggi hingga terendah periode ke-6, ke-8
dan ke-7 sama pengaruhnya. Hal ini disebabkan karena pada periode ke-5 monyet
ekor panjang masih dapat menerima perlakuan pakan dan pada periode berikutnya
monyet mulai mengurangi jumlah konsumsi sehingga berpengaruh terhadap jumlah
sel darah merah. Pembentukan sel darah merah dipengaruhi oleh kandungan nutrisi
pakan khususnya protein.
Periode obesitas empat bulan pertama menunjukkan sel darah merah sangat
nyata dipengaruhi oleh perlakuan pakan berenergi tinggi (P<0,01) namun tidak nyata
dipengaruhi oleh periode yang tersarang pada perlakuan. Pakan B memiliki pengaruh
yang paling tinggi. Jumlah sel darah merah masih dalam kisaran normal (Afiza,

29
2009). Pakan B lebih disukai oleh hewan penelitian, hal ini dapat diamati selama
penelitian berlangsung, sebagaimana yang dilaporkan oleh Oktarina (2009).

Jumlah Sel Darah Merah 8.0


7.5
7.0
(10 /ml)

6.5
6

6.0
5.5
5.0
4 5 6 7 8
Periode (bulan)

Pakan A Pakan B Pakan C

Gambar 6. Grafik Jumlah Sel Darah Merah Macaca fascicularis

Monyet akan menghentikan konsumsinya jika kebutuhan energinya sudah


terpenuhi (Ensminger et al., 1990). Mustaqimatin (1998) juga menyatakan, bahwa
ransum yang mempunyai kandungan protein dan energi tinggi mempunyai tingkat
konsumsi yang rendah. Tabel 9 dan Gambar 6 memperlihatkan adanya peningkatan
dan penurunan jumlah sel darah merah namun masih dalam kisaran normal.
Peningkatan atau penurunan jumlah sel darah merah dipengaruhi oleh berbagai
faktor diantaranya adalah ras (breed), aktivitas dan ketinggian tempat (Schalm,
1975). Jumlah sel darah merah juga bisa disebabkan karena kekurangan zat gizi besi,
penyakit pada sumsum tulang, kekurangan zat seperti asam folat, vitamin B12 yang
diperlukan untuk pembentukan atau memproduksi sel-sel darah merah (Tumbelaka,
2005). Menurut Fortman et al. (2002), jumlah sel darah merah normal bagi Macaca
fascicularis adalah 5,3×106/ml hingga 6,3×106/ml.

Kadar Hemoglobin
Perhitungan kadar hemoglobin sangat nyata dipengaruhi oleh perlakuan
pakan (P<0,01). Pengaruh perlakuan pakan B nyata (P<0,05) lebih tinggi
dibandingkan dengan perlakuan pakan C (monkey chow). Pakan A berbeda nyata
(P<0,05) lebih rendah dibandingkan dengan pakan C. Hal ini disebabkan oleh pakan
B memiliki sumber nutrisi dari kuning telur yang baik untuk pembentukan darah
yaitu asam amino, vitamin dan mineral. Lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 10.

30
Tabel 10. Rataan, Simpangan dan Nilai Koefisien Keragaman (%)
Konsentrasi Hemoglobin Macaca fascicularis
Perlakuan
Periode
Pakan A Pakan B Pakan C
± SB (KK) ± SB (KK) ± SB (KK)
-------------------------------------- (g/dl) ----------------------------------------
4 12,18 ± 0,55 (4,47)c 13,66 ± 0,66 (4,84)a 12,94 ± 1,22 (9,44)b
5 12,32 ± 0,37 (3,00)c 13,44 ± 0,92 (6,75)a 13,20 ± 1,42 (10,75)b
6 11,96 ± 0,65 (5,47)c 12,96 ± 0,77 (5,94)a 12,24 ± 0,88 (7,21)b
7 11,18 ± 0,37 (3,31)c 12,32 ± 0,81 (7,27)a 11,72 ± 0,94 (7,99)b
8 11,26 ± 0,49 (4,38)c 12,14 ± 0,72 (5,90)a 11,88 ± 1,17 (9,88)b

Keterangan: Huruf superscrip yang sama pada kolom yang berbeda menunjukkan nilai yang sama.

14
Kadar Hemoglobin

13
(g/dl)

12

11

10
4 5 6 7 8
Periode (bulan)

Pakan A Pakan B Pakan C

Gambar 7. Grafik Kadar Hemoglobin Macaca fascicularis

Menurut hasil analisis ragam, perbedaan kadar hemoglobin sangat nyata


(P<0,01) dipengaruhi oleh periode yang tersarang pada perlakuan pakan. Pakan pada
periode ke-5 sama pengaruhnya dengan periode ke-4, dilanjutkan dengan periode
ke-6 yang berbeda lebih rendah pengaruhnya daripada periode ke-4. Periode ke-8
berbeda lebih rendah pengaruhnya daripada periode ke-6 dan dilanjutkan dengan
periode ke-7. Antara periode ke-7 dan ke-8 memiliki pengaruh yang sama. Lebih
jelas ditunjukkan pada Gambar 7.
Bahan pakan kuning telur membantu pembentukan hemoglobin sebab banyak
mengandung asam amino, lemak, vitamin dan mineral. Bahan-bahan tersebut dapat
membantu dalam proses pembentukan darah maupun membantu dalam proses

31
pencernaan dan penyerapan. Peningkatan jumlah sel darah merah biasanya juga
menyebabkan peningkatan kadar hemoglobin sebab hemoglobin adalah bagian dari
sel darah merah. Kadar hemoglobin eriode sebelumnya sangat nyata dipengaruhi
oleh perlakuan pakan (P<0,01) namun tidak nyata dipengaruhi oleh periode yang
tersarang dalam pakan. Pakan B memiliki pengaruh yang paling tinggi. Kadar
hemoglobin masih dalam kisaran normal (Afiza, 2009).
Tabel 10 dan Gambar 7, setelah periode ke-5 memperlihatkan penurunan
grafik pada semua jenis pakan. Namun penurunan kadar hemoglobin kedua jenis
pakan formulasi masih tergolong normal karena kadar hemoglobin pakan formulasi
tersebut masih berada di dalam kisaran kadar hemoglobin pakan C (monkey chow).
Menurut Fortman et al. (2002), kadar hemoglobin normal bagi monyet ekor panjang
(Macaca fascicularis) 11,0 g/dl hingga 12,4 g/dl.

Nilai Hematokrit
Berdasarkan analisis darah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis),
didapat hasil perhitungan nilai hematokrit sangat nyata dipengaruhi oleh perlakuan
pakan (P<0,01). Pengaruh perlakuan pakan B nyata (P<0,05) lebih tinggi bila
dibandingkan dengan perlakuan pakan C (monkey chow). Pakan A berbeda nyata
(P<0,05) lebih rendah bila dibandingkan dengan pakan C. Hal ini disebabkan oleh
pakan B memiliki sumber nutrisi dari kuning telur yang baik untuk pembentukan
darah walaupun memiliki energi pakan yang tinggi. Lebih jelas dapat dilihat pada
Tabel 11 dan Gambar 8.

Tabel 11. Rataan, Simpangan Baku dan Nilai Koefisien Keragaman Nilai
Hematokrit Macaca fascicularis
Perlakuan
Periode
Pakan A Pakan B Pakan C
± SB (KK) ± SB (KK) ± SB (KK)
--------------------------------------- (%) ----------------------------------------
4 38,04 ± 1,16 (3,04)c 41,98 ± 1,72 (4,09)a 39,56 ± 3,05 (7,71)b
5 39,98 ± 0,99 (2,47)c 43,64 ± 2,68 (6,15)a 43,08 ± 3,97 (9,22)b
6 37,08 ± 1,66 (4,47)c 39,78 ± 2,33 (5,86)a 37,94 ± 2,28 (6,02)b
7 35,94 ± 1,38 (3,84)c 39,02 ± 2,40 (6,14)a 37,20 ± 2,54 (6,83)b
8 36,34 ± 2,02 (5,55)c 38,70 ± 1,31 (3,60)a 38,04 ± 3,30 (8,69)b

Keterangan: Huruf superscrip yang sama pada kolom yang berbeda menunjukkan nilai yang sama.

32
Menurut hasil analisis ragam, perbedaan nilai hematokrit sangat nyata
(P<0,01) dipengaruhi oleh periode yang tersarang pada perlakuan pakan. Pakan pada
periode ke-5 berbeda lebih tinggi pengaruhnya bila dibandingkan dengan periode
ke-4, dilanjutkan dengan periode ke-6 yang berbeda lebih rendah pengaruhnya
daripada periode ke-4. Secara berurutan dari nilai rataan tertinggi, periode ke-6, ke-8
dan ke-7 memiliki pengaruh yang sama.

45
Nilai Hematokrit

40
(%)

35

30
4 5 6 7 8
Periode (bulan)

Pakan A Pakan B Pakan C

Gambar 8. Grafik Nilai Hematokrit Macaca fascicularis

Tabel 11 dan Gambar 8 memperlihatkan penurunan grafik pada semua jenis


pakan setelah periode ke-5. Namun penurunan nilai hematokrit kedua jenis pakan
formulasi masih tergolong normal karena nilai hematokrit pakan formulasi tersebut
masih berada di dalam kisaran nilai hematokrit pakan monkey chow yang juga dalam
kisaran normal. Menurut Fortman et al. (2002), nilai hematokrit normal bagi Macaca
fascicularis sebesar 33,1% hingga 37,5%. Periode obesitas empat bulan pertama juga
memiliki nilai hematokrit yang normal (Afiza, 2009).

Mean Corpuscular Volume (MCV)


Perhitungan Mean Corpuscular Volume (MCV) sangat nyata dipengaruhi
oleh perlakuan pakan (P<0,01). Pengaruh perlakuan pakan C (monkey chow) nyata
(P<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan pakan B dan pakan A. Pakan A
berbeda nyata (P<0,05) lebih rendah dibandingkan dengan pakan B. MCV
dipengaruhi nilai hematokrit dan jumlah sel darah merah. Pakan monkey chow
memiliki MCV lebih tinggi daripada MCV perlakuan pakan formulasi sebab jumlah

33
sel darah merah, sebagai faktor pembagi, dari pakan monkey chow paling rendah
jumlahnya daripada jumlah sel darah merah perlakuan pakan lainnya. Lebih jelas
dapat dilihat pada Tabel 12 dan grafiknya dapat dilihat pada Gambar 9.

Tabel 12. Rataan, Simpangan Baku dan Nilai Koefisien Keragaman (%)
Mean Corpuscular Volume (MCV) Macaca fascicularis
Perlakuan
Periode
Pakan A Pakan B Pakan C
± SB (KK) ± SB (KK) ± SB (KK)
---------------------------------------- (fl) ----------------------------------------
4 56,84 ± 1,66 (2,92)c 59,00 ± 3,08 (5,21)b 61,39 ± 2,16 (3,52)a
5 56,55 ± 1,76 (3,11)c 58,75 ± 2,86 (4,87)b 61,58 ± 2,20 (3,57)a
6 56,41 ± 1,10 (3,54)c 58,89 ± 2,78 (4,72)b 61,52 ± 2,09 (3,39)a
7 56,82 ± 1,75 (3,08)c 59,04 ± 2,57 (4,35)b 62,03 ± 2,03 (3,27)a
8 56,74 ± 1,95 (3,44)c 59,22 ± 2,62 (4,42)b 62,21 ± 2,03 (3,27)a
Rataan 56,67 ± 1,64 58,98 ± 2,78 61,75 ± 2,10

Keterangan: Huruf superscrip yang sama pada kolom yang berbeda menunjukkan nilai yang sama.

64
62
60
MCV
(fl)

58
56
54
52
4 5 6 7 8
Periode (bulan)

Pakan A Pakan B Pakan C

Gambar 9. Grafik Mean Corpuscular Volume Macaca fascicularis

Menurut hasil analisis ragam, Mean Corpuscular Volume (MCV) tidak nyata
(P>0,05) dipengaruhi oleh periode yang tersarang pada perlakuan pakan. Hal ini
dapat dilihat pada grafik, MCV memiliki grafik yang hampir datar yang
menunjukkan bahwa peningkatan atau penurunan MCV pada setiap periode tidak
berarti. Disajikan pada Tabel 12, MCV perlakuan pakan formulasi lebih rendah
daripada MCV pakan C (monkey chow) yang memiliki rataan sebesar 61,75 ± 2,10 fl.

34
MCV rendah menunjukkan bahwa ukuran sel darah merah pakan perlakuan
formulasi lebih kecil dari ukuran normal cenderung tergolong ke dalam anemia
microcytic. Periode obesitas empat bulan pertama juga menunjukkan bahwa MCV
pakan berenergi tinggi cenderung mengalami anemia micricytic (Afiza, 2009).
Mean Corpuscular Volume (MCV) menunjukkan ukuran rata-rata dari sel
darah merah. MCV akan naik bila ukuran sel darah merah lebih besar dari ukuran
normal (macrocytic), contohnya pada anemia yang disebabkan oleh defisiensi
vitamin B12. MCV turun berarti ukuran sel darah merah lebih kecil dari ukuran
normal (microcytic), biasanya terjadi karena defisiensi zat besi atau thalasemia
(McGill Virtual Lab, 2009). Menurut Fortman et al. (2002), MCV normal bagi
Macaca fascicularis sebesar 59,0 fl hingga 66,0 fl.

Mean Corpuscular Haemoglobin (MCH)


Perhitungan Mean Corpuscular Haemoglobin (MCH) sangat nyata
dipengaruhi oleh perlakuan pakan (P<0,01). Pengaruh perlakuan pakan monkey chow
nyata (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan pakan B dan pakan A.
Pakan A berbeda nyata (P<0,05) lebih rendah dibandingkan dengan pakan B. Lebih
jelas dapat dilihat pada Tabel 13 dan grafiknya dapat dilihat pada Gambar 10.

Tabel 13. Rataan, Simpangan Baku dan Nilai Koefisien Keragaman (%)
Mean Corpuscular Haemoglobin (MCH) Macaca fascicularis
Perlakuan
Periode
Pakan A Pakan B Pakan C
± SB (KK) ± SB (KK) ± SB (KK)
-------------------------------------- (ρg) -----------------------------------------
4 18,20 ± 0,80 (4,39)c 19,22 ± 1,45 (7,54)b 20,07 ± 1,04 (5,19)a
5 17,43 ± 0,69 (3,98)c 18,12 ± 1,29 (7,12)b 18,85 ± 0,89 (4,71)a
6 18,20 ± 0,87 (4,76)c 19,21 ± 1,42 (7,40)b 19,84 ± 0,93 (4,67)a
7 17,68 ± 0,66 (3,76)c 18,66 ± 1,35 (7,23)b 19,54 ± 0,94 (4,82)a
8 17,59 ± 0,63 (3,57)c 18,59 ± 1,41 (7,57)b 19,42 ± 0,91 (4,67)a
Rataan 17,82 ± 0,73 18,76 ± 1,18 19,54 ± 0,94

Keterangan: Huruf superscrip yang sama pada kolom yang berbeda menunjukkan nilai yang sama.

MCH dipengaruhi kadar hemoglobin dan jumlah sel darah merah. Pakan
monkey chow memiliki MCH lebih tinggi daripada MCH perlakuan pakan formulasi

35
sebab jumlah sel darah merah, sebagai faktor pembagi, dari pakan C (monkey chow)
paling rendah jumlahnya daripada jumlah sel darah merah perlakuan pakan lainnya.
Menurut hasil analisis ragam, Mean Corpuscular Haemoglobin (MCH) tidak nyata
(P>0,05) dipengaruhi oleh periode yang tersarang pada perlakuan pakan. Hal ini
dapat dilihat pada grafik, walaupun MCH menunjukkan peningkatan atau penurunan
pada setiap periode, namun keadaan tersebut tidak berarti.
Tabel 13 menunjukkan bahwa MCH perlakuan pakan formulasi lebih rendah
daripada MCH pakan monkey chow yang memiliki rataan sebesar 19,54 ± 0,94 ñg.
Kondisi MCH rendah menunjukkan bahwa rendahnya oksigen yang terikat. Hasil ini
memberi petunjuk bahwa monyet ekor panjang memiliki MCH lebih rendah dari
nilai normal yang berarti cenderung mengalami anemia hypochromic. Periode
obesitas sebelumnya juga menunjukkan bahwa MCV sangat nyata dipengaruhi oleh
perlakuan pakan berenergi tinggi (P<0,01) dan tidak nyata dipengaruhi oleh periode
yang tersarang dalam pakan (P>0,05). Pakan formulasi cenderung mengalami anemia
hypocromic walaupun pakan C berada dalam kisaran yang masih normal (Afiza,
2009).

21
20
19
MCH
(ρg)

18
17
16
4 5 6 7 8
Periode (bulan)

Pakan A Pakan B Pakan C

Gambar 10. Grafik Mean Corpuscular Haemoglobin Macaca fascicularis

Mean Corpuscular Haemoglobin (MCH) menunjukkan rata-rata jumlah


oksigen terikat hemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah. MCH yang rendah
mengindikasikan sel darah mengandung hemoglobin yang rendah. Hal ini
disebabkan karena produksi hemoglobin yang kurang. Saat diperiksa di bawah
mikroskop, sel darah terlihat pucat. MCH yang rendah ini disebut anemia

36
hypochromic. Anemia hypochromic biasanya disebabkan oleh kekurangan zat besi.
MCH biasanya akan meningkat dalam keadaan anemia macrocytic yang
berhubungan dengan defisiensi vitamin B12 dan asam folat (American Association for
Clinical Chemistry, 2009). Menurut Fortman et al. (2002), MCH normal bagi
Macaca fascicularis sebesar 19,0 ñg hingga 21,0 ñg.

Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration (MCHC)


Berdasarkan analisis ragam monyet ekor panjang (Macaca fascicularis),
didapat hasil bahwa Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration (MCHC) tidak
nyata dipengaruhi oleh perlakuan pakan (P>0,05), namun sangat nyata dipengaruhi
oleh periode yang terserang pada perlakuan pakan. Perlakuan pakan tidak
mempengaruhi MCHC menunjukkan bahwa pakan masih menyebabkan rata-rata
konsentrasi hemoglobin pada setiap darah merah dalam keadaan berimbang. Hal ini
juga disebabkan oleh kadar hemoglobin dan nilai hematokrit yang normal sehingga
keadaan MCHC juga normal. Lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 14 dan Gambar 11.

Tabel 14. Rataan, Simpangan Baku dan Nilai Koefisien Keragaman (%)
Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration (MCHC) Macaca
fascicularis
Perlakuan
Periode
Pakan A Pakan B Pakan C
± SB (KK) ± SB (KK) ± SB (KK)
------------------------------------- (g/dl) ---------------------------------------
4 32,01 ± 0,65 (2,02) 32,54 ± 0,89 (2,72) 32,67 ± 0,73 (2,22)
5 30,82 ± 0,70 (2,25) 30,79 ± 0,76 (2,45) 30,61 ± 0,73 (2,37)
6 32,25 ± 0,73 (2,27) 32,60 ± 1,23 (3,76) 32,24 ± 0,62 (1,92)
7 31,12 ± 0,51 (1,63) 31,57 ± 0,98 (3,09) 31,49 ± 0,56 (1,79)
8 31,00 ± 0,56 (1,79) 31,36 ± 1,08 (3,44) 31,20 ± 0,59 (1,89)

Hasil uji lanjut menyatakan bahwa periode ke-4 dan ke-6 memiliki pengaruh
yang sama. Kedua periode tersebut lebih tinggi berpengruh bila dibandingkan dengan
periode ke-7 dan ke-8. Periode ke-7 dan ke-8 ini memiliki pengaruh yang sama.
Periode ke-5 memiliki pengaruh yang berbeda dan paling rendah daripada periode
lainnya. MCHC pada periode obesitas empat bulan pertama tidak dipengaruhi oleh

37
perlakuan pakan dan sangat nyata dipengaruhi oleh periode perlauan pakan. MCHC
masih dalam kisaran normal (Afiza, 2009).

33
33
32
MCHC

32
(g/dl)

31
31
30
30
4 5 6 7 8
Periode (bulan)

Pakan A Pakan B Pakan C

Gambar 11. Grafik Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration Macaca


fascicularis

Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration (MCHC) merupakan


konsentrasi hemoglobin rata-rata pada setiap sel darah merah. Penurunan nilai
MCHC (hypochromia) terlihat pada kondisi hemoglobin dalam sel darah merah yang
encer. Hal ini dapat terjadi karena anemia defisiensi zat besi dan thalasemia.
Peningkatan nilai MCHC (hyperchromia) terlihat pada kondisi hemoglobin dalam sel
darah merah yang pekat. Hemoglobin yang pekat dalam darah terjadi pada pasien
yang mengalami kebakaran (luka bakar berat), kelainan bawaan spherocytosis
(American Association for Clinical Chemistry, 2009). Menurut Fortman et al.
(2002), MCHC normal bagi Macaca fascicularis sebesar 32,0 g/dl hingga 35,0 g/dl.

Diferensiasi Sel Darah Putih


Darah putih idientik dengan sistem pertahanan tubuh. Umumnya sel darah
putih berfungsi untuk mengatasi serangan benda asing yang masuk ke dalam tubuh
misalnya serangan virus, alergen, bakteri, mikroorganisme, parasit dan jamur. Sel
darah putih itu sendiri terbagi atas lima tipe dasar yaitu eosinofil, basofil, neutrofil,
monosit dan limfosit. Fungsi dari masing-masing jenis sel berbeda namun ada yang
berfungsi hampir sama. Pemberian pakan berenergi tinggi diharapkan tidak
mengganggu kesehatan tubuh monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Gangguan
kesehatan ini dapat diketahui melalui perhitungan jumlah diferensiasi sel darah putih.

38
Periode empat bulan pertama menunjukkan bahwa diferensiasi sel darah putih
monyet ekor panjang tidak nyata dipengaruhi oleh perlakuan pakan maupun periode
yang tersarang dalam pakan (P<0,01). Terjadi peningkatan dan penurunan nilai
namun masih dalam kisaran yang dapat ditoleransi sehingga tidak menyebabkan
gangguan fisilogis (Afiza, 2009).

Jumlah Neutrofil
Berdasarkan analisis ragam, jumlah neutrofil tidak dipengaruhi oleh
perlakuan pakan maupun periode yang tersarang pada perlakuan pakan (P>0,05).
Tabel 15 menunjukkan rataan, simpangan baku dan nilai koefisien keragaman dari
jumlah neutrofil. Jumlah neutrofil yang sama dapat mengartikan bahwa pemberian
pakan berenergi tinggi ataupun periodenya tidak mengganggu keadaan kesehatan
monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).

Tabel 15. Rataan, Simpangan Baku dan Nilai Koefisien Keragaman Jumlah
Neutrofil Macaca fascicularis
Perlakuan
Periode
Pakan A Pakan B Pakan C
± SB (KK) ± SB (KK) ± SB (KK)
--------------------------------------- (%) -----------------------------------------
4 46,60 ± 7,70 (16,52) 46,00 ± 13,95 (30,32) 42,20 ± 12,70 (24,99)
5 46,60 ± 7,13 (15,29) 46,20 ± 18,70 (40,48) 36,00 ± 13,10 (36,38)
6 48,20 ± 4,82 (9,99) 50,80 ± 16,72 (32,92) 43,00 ± 15,39 (35,80)
7 37,20 ± 9,42 (25,32) 46,00 ± 13,98 (30,40) 37,00 ± 14,11 (38,13)
8 39,20 ± 3,42 (8,73) 39,80 ± 14,60 (36,69) 42,60 ± 22,80 (53,60)
Rataan 43,56 ± 6,50 45,76 ± 15,57 40,16 ± 15,62

Gambar 12 menunjukkan bahwa jumlah neutrofil terjadi peningkatan dan


penurunan yang tidak berbeda dan masih dalam kisaran normal 40,16 ± 15,62 %. Hal
ini menunjukkan bahwa monyet ekor panjang dalam keadaan sehat dan tidak
terserang bakteri. Jumlah neutrofil normal yaitu antara 35% hingga 61% (Fortman et
al., 2002). Jumlah neutrofil paling banyak dari total sel darah putih yaitu berkisar
antara 50% hingga 70% dan mudah dikenali dengan adanya nukleus bersegmen tiga
atau lima di dalam sitoplasmanya (Silverthorn dan Pearson, 2009).

39
55

Jumlah Neutrofil
50
45
(%) 40
35
30
4 5 6 7 8
Periode (bulan)

Pakan A Pakan B Pakan C

Gambar 12. Grafik Jumlah Neutrofil Macaca fascicularis

Koefisien keragaman yang tinggi dapat mengartikan bahwa antar individu


monyet ekor panjang yang menerima perlakuan pakan yang sama belum tentu
memiliki respon yang sama terhadap pakan tersebut. Jumlah neutrofil yang dimiliki
antar individu tidak seragam, juga dapat menyatakan bahwa monyet ekor panjang
adalah hewan yang memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap bakteri atau benda
asing yang masuk ke dalam tubuh.
Neutrofil merupakan salah satu tipe dari sel darah putih yang memiliki
peranan penting dalam melindungi tubuh guna melawan penyakit dan infeksi.
Neutrofil dikenal sebagai garis pertahanan pertama yang bekerja sangat cepat bila
terdapat mikroorganisme asing atau agen penyakit yang masuk ke dalam tubuh.
Neutrofil memiliki kemampuan ke luar dari sirkulasi darah menuju jaringan tempat
terjadinya infeksi sebagai respon terhadap infeksi tersebut melalui proses fagositosis
dan membersihkan sisa jaringan yang rusak (Guyton dan Hall, 2007). Sebagai efek
dari fagositosis bakteri dan pertikel asing tersebut, neutrofil melepaskan sitokinin
yang dapat menyebabkan tubuh membengkak serta terasa panas (Silverthorn dan
Pearson, 2009).

Jumlah Eosinofil
Berdasarkan analisis ragam, jumlah eosinofil tidak dipengaruhi oleh
perlakuan pakan maupun periode yang tersarang pada perlakuan pakan (P>0,05).
Tabel 16 menunjukkan rataan, simpangan baku dan nilai koefisien keragaman dari
jumlah eosinofil. Jumlah eosinofil yang sama dapat mengartikan bahwa pemberian

40
pakan berenergi tinggi ataupun periodenya tidak mengganggu keadaan kesehatan
monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).
Gambar 13 menunjukkan bahwa jumlah eosinofil terjadi peningkatan dan
penurunan yang tidak berbeda dan masih dalam kisaran normal 2,24 ± 1,69 %. Hal
ini menunjukkan bahwa monyet ekor panjang dalam keadaan sehat dan tidak
terserang parasit serta pakan tidak mengandung bahan alergen. Jumlah eosinofil
normal yaitu antara 1,3% hingga 9,1% (Fortman et al., 2002).

Tabel 16. Rataan, Simpangan Baku dan Nilai Koefisien Keragaman Jumlah
Eosinofil Macaca fascicularis
Perlakuan
Periode
Pakan A Pakan B Pakan C
± SB (KK) ± SB (KK) ± SB (KK)
--------------------------------------- (%) ----------------------------------------
4 3,20 ± 1,79 (55,90) 2,60 ± 1,67 (64,36) 2,80 ± 1,79 (63,89)
5 2,60 ± 1,95 (74,98) 3,60 ± 2,19 (60,86) 1,40 ± 0,89 (63,89)
6 2,80 ± 1,92 (68,70) 1,40 ± 1,52 (108,33) 2,40 ± 1,52 (63,19)
7 3,80 ± 2,05 (53,93) 3,40 ± 2,88 (84,73) 1,40 ± 1,67 (119,52)
8 5,00 ± 2,35 (46,90) 3,20 ± 1,79 (55,90) 3,20 ± 2,59 (80,89)
Rataan 3,48 ± 2,01 2,84 ± 2,01 2,24 ± 1,69

6
Jumlah Eosinofil

5
4
(%)

3
2
1
0
4 5 6 7 8
Periode (bulan)

Pakan A Pakan B Pakan C

Gambar 13. Grafik Jumlah Eosinofil Macaca fascicularis

Koefisien keragaman yang tinggi dapat mengartikan bahwa antar individu


monyet ekor panjang yang menerima perlakuan pakan yang sama belum tentu
memiliki respon yang sama terhadap pakan tersebut. Jumlah eosinofil yang dimiliki

41
antar individu tidak seragam, juga dapat menyatakan bahwa monyet ekor panjang
adalah hewan yang memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap parasit atau bahan
alergen.
Eosinofil adalah tipe sel darah putih yang memiliki granula merah muda
terang di dalam sitoplasmanya. Eosinofil berfungsi untuk melawan parasit dan
mengatasi reaksi alergen. Eosinofil banyak ditemukan pada saluran pencernaan,
paru-paru, seluran reproduksi dan saluran urin, jaringan ikat kulit atau lokasi lain
tergantung dari serangan parasit. Eosinofil jarang terdapat pada sirkulasi darah yaitu
hanya 1% hingga 3% dari total sel darah putih (Silverthorn dan Pearson, 2009).
Eosinofil mempunyai kecenderungan untuk berkumpul dalam jaringan yang
mengalami reaksi alergik, juga memfagositosis dan menghancurkan kompleks
antibodi-alergen sehingga mencegah penyebaran proses peradangan setempat
(Guyton dan Hall, 2007).

Jumlah Basofil
Berdasarkan perhitungan jumlah basofil selama penelitian, tidak ditemukan
adanya basofil. Hal ini mengartikan bahwa pemberian pakan berenergi tinggi tidak
mengganggu keadaan kesehatan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Basofil
sangat jarang ditemukan di darah yaitu 0% hingga 0,2% dari total sel darah putih
(Fortman et al., 2002).
Basofil dibentuk di sumsum tulang merah dan kemampuan fagositiknya
hampir tidak ada. Peningkatan jumlah basofil merupakan indikasi adanya peradangan
akut yang menyebabkan reaksi hipersensitivitas dan adanya infeksi saluran
pernafasan dan kerusakan jaringan yang hebat (Tizard, 1982). Basofil melepaskan
bahan kimia yang menyebabkan peradangan. Granula dari sel ini mengandung
histamin, heparin (adalah antikoagulan yang mencegah pembekuan darah), sitokinin
dan bahan kimia lain yang berperan mengatasi alergi dan sebagai respon imun
(Silverthorn dan Pearson, 2009).

Jumlah Limfosit
Berdasarkan analisis ragam, jumlah limfosit tidak dipengaruhi oleh perlakuan
pakan maupun periode yang tersarang pada perlakuan pakan (P>0,05). Tabel 17
menunjukkan rataan, simpangan baku dan nilai koefisien keragaman dari jumlah
limfosit. Jumlah limfosit yang tidak berbeda dapat mengartikan bahwa pemberian

42
pakan berenergi tinggi ataupun periodenya tidak mengganggu keadaan kesehatan
monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).
Gambar 14 menunjukkan bahwa jumlah limfosit terjadi peningkatan dan
penurunan yang tidak berbeda dan masih dalam kisaran normal 56,56 ± 14,70 %. Hal
ini menunjukkan bahwa monyet ekor panjang dalam keadaan sehat dan memiliki
sistem imun yang baik. Jumlah limfosit normal yaitu antara 34% hingga 56%
(Fortman et al., 2002).

Tabel 17. Rataan, Simpangan Baku dan Nilai Koefisien Keragaman Jumlah
Limfosit Macaca fascicularis
Perlakuan
Periode
Pakan A Pakan B Pakan C
± SB (KK) ± SB (KK) ± SB (KK)
--------------------------------------- (%) -------------------------------------------
4 49,60 ± 8,88 (17,90) 49,80 ± 11,48 (23,04) 53,60 ± 12,76 (23,80)
5 49,20 ± 8,17 (16,60) 48,80 ± 19,25 (39,45) 61,40 ± 13,13 (21,38)
6 48,40 ± 3,85 (7,95) 47,80 ± 17,24 (36,07) 53,00 ± 13,82 (26,08)
7 58,60 ± 10,43 (17,80) 49,80 ± 14,24 (28,59) 61,20 ± 13,29 (21,72)
8 55,40 ± 4,56 (8,23) 56,20 ± 12,79 (22,77) 53,60 ± 20,50 (38,25)
Rataan 52,24 ± 7,18 50,48 ± 15,00 56,56 ± 14,70

65
60
Jumlah Limfosit

55
50
(%)

45
40
35
30
4 5 6 7 8
Periode (bulan)

Pakan A Pakan B Pakan C

Gambar 14. Grafik Jumlah Limfosit Macaca fascicularis

Koefisien keragaman yang tinggi dapat mengartikan bahwa antar individu


monyet ekor panjang yang menerima perlakuan pakan yang sama belum tentu

43
memiliki respon yang sama terhadap pakan tersebut. Jumlah limfosit yang dimiliki
antar individu tidak seragam, juga dapat menyatakan bahwa monyet ekor panjang
adalah hewan yang memiliki sensitivitas yang tinggi dalam melindungi tubuh dari
serangan penyakit.
Limfosit merupakan kunci dari respon imun tubuh dan hanya terdapat 5%
ditemukan di dalam sirkulasi darah, namun berjumlah 20% hingga 35% dari total sel
darah putih. Walaupun memiliki bentuk yang mirip satu dengan yang lain, namun
masing-masing memiliki fungsi dan spesifikasi yang banyak (Silverthorn dan
Pearson, 2009). Tizard (1982), menyatakan bahwa limfosit mempuyai fungsi
kompleks dengan fungsi utama yaitu memproduksi antibodi atau sebagai sel efektor
khusus dalam merespon antigen yang melekat pada makrofage. Limfosit berperan
penting dalam sistem imun.

Jumlah Monosit
Berdasarkan analisis ragam, jumlah monosit tidak dipengaruhi oleh perlakuan
pakan (P>0,05), namun nyata dipengaruhi oleh periode yang tersarang pada
perlakuan pakan (P<0,05). Pakan pada periode ke-4 dan ke-5 memiliki pengaruh
yang sama. Pada kedua periode tersebut berbeda lebih tinggi berpengaruh daripada
pada periode ke-6, ke-7 dan ke-8. Periode ke-5, ke-6, ke-7 dan ke-8 memiliki
pengaruh yang sama. Tabel 18 menunjukkan rataan, simpangan baku dan nilai
koefisien keragaman dari jumlah monosit. Jumlah monosit yang sama dapat
mengartikan bahwa pemberian pakan berenergi tinggi tidak mengganggu keadaan
kesehatan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).

Tabel 18. Rataan, Simpangan Baku dan Nilai Koefisien Keragaman Jumlah
Monosit Macaca fascicularis
Perlakuan
Periode
Pakan A Pakan B Pakan C
± SB (KK) ± SB (KK) ± SB (KK)
----------------------------------------- (%) ---------------------------------------
4 0,60 ± 0,55 (91,29) 1,40 ± 1,34 (95,83) 1,20 ± 1,10 (91,29)
5 1,60 ± 1,14 (71,26) 1,40 ± 1,34 (95,83) 1,20 ± 0,84 (69,72)
6 0,80 ± 1,30 (162,98) 0 1,60 ± 1,34 (83,85)
7 0,40 ± 0,89 (223,66) 0,80 ± 1,10 (136,93) 0,20 ± 0,45 (223,61)
8 0,40 ± 0,55 (136,93) 0,80 ± 0,84 (104,58) 0,60 ± 0,89 (149,07)

44
Gambar 15 menunjukkan naik dan turunnya jumlah monosit dari setiap
periode. Jumlah monosit tersebut masih dalam kisaran normal menunjukkan pakan
tidak mengandung bakteri. Kisaran normal perhitungan monosit adalah 0,4% hingga
3,0% (Fortman et al., 2002). Koefisien keragaman tinggi menunjukkan bahwa respon
individu yang beragam walaupun mendapat perlakuan yang sama. Jumlah monosit
saat pengukuran berbeda-beda antar individu sebab kondisi kesehatan yang antar
individu tidak seragam, juga dapat menyatakan bahwa monyet ekor panjang adalah
hewan yang memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap bakteri.

2.0
Jumlah Monosit

1.5
(%)

1.0

0.5

0.0
4 5 6 7 8
Periode (bulan)

Pakan A Pakan B Pakan C

Gambar 15. Grafik Jumlah Monosit Macaca fascicularis

Monosit adalah prekursor sel dari jaringan makrofage. Monosit tidak banyak
terdapat di dalam darah yaitu antara 1% hingga 6% dari total sel darah putih. Waktu
hidupnya hanya 8 jam dan selama hidupnya tersebut dapat menelan lebih dari 100
bakteri, sel darah merah dan neutrofil yang telah mati (Silverthorn dan Pearson,
2009).

Hubungan Antar Sifat


Korelasi adalah suatu ukuran derajat bervariasinya dua peubah atau lebih
secara bersama-sama atau ukuran keeratan hubungan linier antara dua peubah atau
lebih. Besaran dari koefisien korelasi tidak menggambarkan hubungan sebab akibat
antara dua peubah atau lebih tetapi semata-mata menggambarkan keterkaitan linier
antar peubah (Mattjik dan Sumertajaya, 2002).
Tabel 19 yang memperlihatkan nilai korelasi hematologi darah monyet ekor
panjang pada pengukuran periode ke-4 memiliki nilai korelasi yang berbeda pada

45
periode lainnya. Pada periode ke-4 jumlah sel darah merah memiliki hubungan erat
dengan kadar hemoglobin (P<0,05) dan berhubungan sangat erat dengan nilai
hematokrit (P<0,01). Hal ini menunjukkan bahwa perubahan jumlah sel darah merah
dapat mempengaruhi konsentrasi hemoglobin dan nilai hematokrit. Hubungan sangat
erat juga terjadi antara nilai hematokrit dengan konsentrasi hemoglobin (P<0,01).
Hubungan antara ketiganya saling mempengaruhi berbanding lurus

Tabel 19. Nilai Korelasi dan Nilai-P Hematologi Darah Monyet Ekor
Panjang pada Pengukuran Periode ke-4
Peubah Jmlh Kadar Nilai MCV MCH MCHC Jmlh Jmlh Jmlh
SDM Hb Hema Neutro Eosin Limfo
Kadar 0,56*
Hemoglobin 0,03
Nilai 0,72** 0,96**
Hematokrit 0,00 0,00
MCV -0,43 0,48 0,31
0,11 0,07 0,26
MCH -0,34 0,59* 0,39 0,97**
0,22 0,02 0,15 0,00
MCHC -0,09 0,69** 0,48 0,74** 0,87**
0,75 0,00 0,07 0,00 0,00
Jumlah 0,12 0,27 0,18 0,04 0,16 0,41
Neutrofil 0,68 0,33 0,53 0,90 0,56 0,13
Jumlah 0,10 0,34 0,36 0,33 0,28 0,13 -0,08
Eosinofil 0,71 0,22 0,19 0,23 0,31 0,66 0,77
Jumlah -0,03 -0,10 -0,03 0,04 -0,05 -0,23 -0,89** 0,06
Limfosit 0,92 0,73 0,93 0,90 0,86 0,41 0,00 0,83
Jumlah -0,37 -0,51 -0,47 -0,08 -0,19 -0,39 -0,39 -0,13 0,27
Monosit 0,18 0,06 0,08 0,77 0,49 0,16 0,15 0,64 0,33
Keterangan : * = nyata
** = sangat nyata

Terdapat hubungan erat antara kadar hemoglobin dengan MCH (P<0,05)dan


hubungan sangat erat dengan MCHC (P<0,01). Sebab kadar hemoglobin merupakan
faktor yang digunakan dalam menghitung MCH dan MCHC. Antara MCV, MCH
dan MCHC memiliki hubungan yang sangat erat positif antara ketiganya (P<0,01).
Hubungan negatif juga terjadi antara jumlah neutrofil dengan jumlah limfosit yang
memiliki hubungan sangat erat (P<0,01). Nilai negatif mengartikan bahwa hubungan
kedua peubah ini berbanding terbalik.
Tabel 20 menunjukkan nilai yang berbeda dengan Tabel 19. Hubungan
keeratan di antara kedua periode juga berubah. Hal ini menunjukkan pada setiap

46
periode terjadi perubahan kondisi profil darah. Pada periode ke-5 ini hubungan
jumlah sel darah merah, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit sangat erat (P<0,01).
Hubungan antara kadar hemoglobin dengan MCHC menjadi tidak erat seperti pada
periode sebelumnya. Kadar hemoglobin tetap berhubungan erat dengan MCH
(P<0,05).

Tabel 20. Nilai Korelasi dan Nilai-P Hematologi Darah Monyet Ekor
Panjang pada Pengukuran Periode ke-5
Peubah Jmlh Kadar Nilai MCV MCH MCHC Jmlh Jmlh Jmlh
SDM Hb Hema Neutro Eosin Limfo
Kadar 0,67**
Hemoglobin 0,00
Nilai 0,73** 0,96**
Hematokrit 0,00 0,00
MCV -0,29 0,47 0,44
0,30 0,08 0,10
MCH -0,23 0,57* 0,46 0,94**
0,42 0,03 0,09 0,00
MCHC 0,02 0,46 0,21 0,25 0,57*
0,93 0,08 0,45 0,38 0,03
Jumlah -0,05 0,28 0,12 0,21 0,39 0,57*
Neutrofil 0,86 0,36 0,68 0,45 0,15 0,03
Jumlah 0,18 -0,14 -0,15 -0,44 -0,39 -0,05 0,09
Eosinofil 0,52 0,61 0,60 0,10 0,15 0,85 0,74
Jumlah -0,00 -0,25 -0,11 -0,14 -0,32 -0,53* -0,99** -0,21
Limfosit 0,99 0,38 0,69 0,62 0,25 0,04 0,00 0,45
Jumlah 0,22 0,05 0,08 -0,19 -0,19 -0,06 0,13 0,03 -0,22
Monosit 0,43 0,86 0,78 0,50 0,51 0,82 0,64 0,93 0,42
Keterangan : * = nyata
** = sangat nyata

Periode ke-5 memiliki jumlah sel darah merah yang lebih tinggi daripada
periode lainnya sehingga perhitungan yang berkaitan dengan sel darah merah
memiliki hubungan yang melemah keeratannya. Hubungan antara MCV dengan
MCHC menjadi tidak erat (P>0,05). Hubungan keeratan MCH dengan MCHC juga
menjadi lemah.
Terjadi hubungan erat positif antara MCHC dengan jumlah neutrofil dan
hubungan erat negatif dengan jumlah limfosit. Hubungan jumlah neutrofil dengan
jumlah limfosit negatif sangat erat. Hubungan negatif ini mengartikan terjadi
hubungan berbanding terbalik. Perbedaan nilai korelasi antar periode dapat terjadi

47
berhubungan dengan tingkat kesehatan atau tingkat cekaman yang dimiliki pada
periode tersebut.
Jumlah sel darah merah akan mempengaruhi konsentrasi hemoglobin sebab
hemoglobin adalah pigmen dari sel darah merah. Rastogi (1977) menyatakan bahwa
warna merah pada darah disebabkan adanya hemoglobin. Jumlah sel darah merah
juga mempengaruhi nilai hematokrit sebab hematokrit menunjukkan berapa banyak
ruang di dalam darah. Hubungan keeratan dari ketiga peubah ini wajar terjadi dan
dapat digunakan sebagai indikator kesehatan.
Perbedaan erat dan tidaknya peubah juga terjadi pada periode ke-6. Pada
Tabel 21 menampilkan bahwa banyak hubungan yang melemah keeratannya.
Terjalin beberapa hubungan lainnya yaitu hubungan erat antara jumlah sel darah
merah dengan monosit, hubungan erat antara kadar hemoglobin dengan neutrofil dan
hubungan erat negatif dengan limfosit, hubungan erat antara nilai hematokrit dengan
neutrofil dan hubungan erat negatif dengan limfosit. Hal ini menunjukkan bahwa
konsentrasi hemoglobin, nilai hematokrit, limfosit dan neutrofil saling
mempengaruhi satu dengan lainnya pada periode ke-6.
Menurut Cunningham (2002), hematokrit mempengaruhi viskositas darah.
Penyimpangan dari nilai hematokrit berpengaruh penting terhadap kemampuan darah
untuk membawa oksigen semakin besar persentase sel dalam darah (hematokrit)
akan semakin besar gesekan yang terjadi antara berbagai lapisan darah dan gesekan
ini membentuk viskositas (Guyton dan Hall, 2007).
Periode ini memperlihatkan bahwa jumlah sel darah merah tidak berkorelasi
dengan kadar hemoglobin, namun tetap berhubungan erat dengan nilai hematokrit.
Hubungan sangat erat juga masih diperlihatkan antara konsentrasi hemoglobin
dengan nilai hematokrit dan hubungan negatif sangat erat anrata neutrofil dengan
limfosit. Terjalinnya hubungan-hubungan antara peubah pada periode ke enam
berkaitan dengan kondisi monyet saat itu. Periode ke enam memiliki variasi rataan
yang paling terlihat daripada periode lainnya. Berkaitan dengan menejemen saat
penelitian berlangsung, periode ke enam adalah periode dimana terjadi pergantian
peneliti secara penuh. Monyet mengalami cekaman akibat perbedaan penanganan,
walaupun telah diusahakan agar dalam kondisi yang seragam.

48
Tabel 21. Nilai Korelasi dan Nilai-P Hematologi Darah Monyet Ekor
Panjang pada Pengukuran Periode ke-6
Peubah Jmlh Kadar Nilai MCV MCH MCHC Jmlh Jmlh Jmlh
SDM Hb Hema Neutro Eosin Limfo
Kadar 0,46
Hemoglobin 0,08
Nilai 0,60* 0,93**
Hematokrit 0,02 0,00
MCV -0,40 0,55* 0,49
0,14 0,03 0,07
MCH -0,38 0,64* 0,44 0,92**
0,16 0,01 0,10 0,00
MCHC -0,17 0,50 0,13 0,33 0,66*
0,55 0,06 0,64 0,23 0,01
Jumlah 0,40 0,58* 0,60* 0,22 0,23 0,12
Neutrofil 0,14 0,02 0,02 0,42 0,41 0,67
Jumlah -0,20 -0,27 -0,34 -0,16 -0,11 0,06 -0,26
Eosinofil 0,47 0,34 0,22 0,57 0,71 0,84 0,36
Jumlah -0,34 -0,55* -0,55* -0,23 -0,25 -0,15 -0,98** 0,09
Limfosit 0,21 0,04 0,03 0,41 0,38 0,60 0,00 0,75
Jumlah -0,60* -0,43 -0,48 0,12 0,08 -0,03 -0,41 0,50 0,25
Monosit 0,02 0,12 0,07 0,68 0,79 0,92 0,13 0,06 0,37
Keterangan : * = nyata
** = sangat nyata

Tabel 22 memperlihatkan hubungan dari beberapa peubah tidak erat seperti


pada periode sebelumnya. Korelasi yang masih terjalin yaitu jumlah sel darah merah,
kadar hemoglobin dan nilai hematokrit, serta hubungan antara neutrofil dengan
limfosit. Hubungan erat antara kadar hemoglobin dengan MCHC kembali terjalin.
Terdapat pula hubungan sangat erat antara MCV, MCH dan MCHC. Hematokrit
adalah angka yang menunjukkan persentasi sel darah terhadap cairan darah. Bila
terjadi perembesan cairan atau plasma darah dan keluar dari pembuluh darah
sementara bagian selnya tetap dalam pembuluh darah akan terjadi peningkatan
hematokrit. Jadi berkurangnya cairan membuat persentase sel darah terhadap
cairannya naik sehingga kadar hematokritnya juga meningkat (Tumbelaka, 2005).
Jumlah sel darah merah erat hubungannya dengan kadar hemoglobin dan
sangat erat dengan nilai hematokrit. Kadar hemoglobin sangat erat hubungannya
dengan nilai hematokrit. Hubungan negatif sangat erat terjalin antara jumlah neutrofil
dengan limfosit. Erat atau tidak eratnya hubungan tergantung pada periode. Hal ini
menggambarkan bahwa kondisi monyet ekor panjang setiap periodenya berbeda.

49
Tabel 22. Nilai Korelasi dan Nilai-P Hematologi Darah Monyet Ekor
Panjang pada Pengukuran Periode ke-7
Peubah Jmlh Kadar Nilai MCV MCH MCHC Jmlh Jmlh Jmlh
SDM Hb Hema Neutro Eosin Limfo
Kadar 0,58*
Hemoglobin 0,02
Nilai 0,74** 0,96**
Hematokrit 0,00 0,00
MCV -0,49 0,39 0,23
0,06 0,15 0,42
MCH -0,43 0,49 0,28 0,97**
0,11 0,07 0,32 0,00
MCHC -0,19 0,56* 0,30 0,63** 0,81**
0,51 0,03 0,28 0,01 0,00
Jumlah 0,12 0,24 0,19 0,08 0,15 0,26
Neutrofil 0,66 0,38 0,49 0,78 0,58 0,34
Jumlah 0,10 -0,20 -0,21 -0,43 -0,34 -0,04 0,03
Eosinofil 0,71 0,49 0,44 0,11 0,21 0,88 0,91
Jumlah -0,16 -0,23 -0,18 -0,00 -0,09 -0,26 -0,99** -0,18
Limfosit 0,57 0,41 0,53 0,10 0,75 0,35 0,00 0,53
Jumlah 0,13 -0,07 -0,05 -0,26 -0,24 -0,12 -0,25 -0,30 0,26
Monosit 0,63 0,79 0,87 0,36 0,40 0,67 0,37 0,28 0,35
Keterangan : * = nyata
** = sangat nyata

Peningkatan nilai MCHC (hyperchromia) terlihat pada kondisi hemoglobin


dalam sel darah merah yang pekat. Hemoglobin yang pekat dalam darah terjadi pada
pasien yang mengalami kebakaran (luka bakar berat), kelainan bawaan
spherocytosis. MCHC dapat turun saat nilai MCV turun, sedangkan peningkatannya
terbatas hanya sampai pada jumlah hemoglobin yang layak dalam kapasitas tampung
sebuah sel darah merah (American Association for Clinical Chemistry, 2009).
Tabel 23 memperlihatkan nilai korelasi pada periode ke-8. Terjalin banyak
hubungan pada periode selain jumlah sel darah merah, kadar hemoglobin dan nilai
hematokrit, serta neutrofil dan limfosit. Pada periode ini terdapat hubungan negatif
sangat erat antara eosinofil dengan kadar hemoglobin, nilai hematokrit dan jumlah
neutrofil. Hubungan eosinofil ini juga terjalin erat dengan jumlah limfosit. Hal ini
menunjukkan bahwa eosinofil, neutrofil dan limfosit juga saling mempengaruhi satu
dengan lainnya dalam melindungi tubuh.

50
Tabel 23. Nilai Korelasi dan Nilai-P Hematologi Darah Monyet Ekor
Panjang pada Pengukuran Periode ke-8
Peubah Jmlh Kadar Nilai MCV MCH MCHC Jmlh Jmlh Jmlh
SDM Hb Hema Neutro Eosin Limfo
Kadar 0,52
Hemoglobin 0,05
Nilai 0,65* 0,95**
Hematokrit 0,01 0,00
MCV -0,37 0,56* 0,47
0,18 0,03 0,08
MCH -0,34 0,63* 0,46 0,95**
0,22 0,01 0,09 0,00
MCHC -0,15 0,53* 0,24 0,46 0,71**
0,60 0,04 0,39 0,09 0,00
Jumlah 0,28 0,59* 0,50 0,27 0,39 0,47
Neutrofil 0,31 0,02 0,06 0,33 0,16 0,08
Jumlah -0,32 -0,74** -0,73** -0,51 -0,52 -0,32 -0,77**
Eosinofil 0,24 0,00 0,00 0,05 0,05 0,24 0,00
Jumlah -0,24 -0,51 -0,41 -0,20 -0,33 -0,47 -0,99** 0,68*
Limfosit 0,38 0,05 0,13 0,47 0,23 0,08 0,00 0,01
Jumlah -0,29 -0,27 -0,33 -0,07 -0,05 0,04 -0,10 0,14 0,01
Monosit 0,29 0,33 0,24 0,81 0,87 0,90 0,72 0,61 0,98
Keterangan : * = nyata
** = sangat nyata

Hubungan antar peubah berbeda-beda setiap periodenya, hal ini menunjukkan


bahwa antar peubah memiliki hubungan yang belum pasti terjalin. Jumlah sel darah
merah, konsentrasi hemoglobin dan nilai hematokrit saling mempengaruhi satu sama
lain. Hubungan neutrofil dan limfosit saling berbanding terbalik, sedangkan
hubungan neutrofil dan eosinofil saling berbanding lurus. Hal ini dapat
menggambarkan bahwa bila neutrofil meningkat, maka eosinofil meningkat tetapi
limfosit rendah. Neutrofil merupakan fagosit bakteri yang sangat aktif dan terdapat
banyak pada luka. Sayangnya sel ini tidak memiliki kemampuan untuk memulihkan
lisosom yang digunakan untuk memakan mikroba sehingga akan mati setelah
memakan beberapa bakteri. Eosinofil menyerang parasit dan fagosit kompleks
antigen-antibodi. Sedangkan fungsi utama dari limfosit adalah menghasilkan
antibodi.

Bahasan Umum
Keadaan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) lebih banyak
dipengaruhi oleh perlakuan pakan formulasi yang berbahan dasar lemak sapi dan

51
kuning telur (pakan B). Pakan B lebih banyak dikonsumsi dan memiliki nutrisi yang
bersumber dari kuning telur yang baik bagi pembentukan darah sehingga lebih
banyak mempengaruhi kondisi darah. Akibat konsumsi yang baik, maka bobot badan
juga lebih tinggi dipengaruhi oleh perlakuan pakan B.
Konsumsi yang lebih tinggi pada kelompok pakan B dapat menyebabkan
peningkatan bobot badan pada kelompok pakan B lebih besar dari pada dua
perlakuan lainnya, walaupun secara angka kandungan energi pakan A dan pakan C
(monkey chow) lebih tinggi dari pakan B. Sumber energi pakan C berasal dari
protein, sehingga secara metabolisme kurang efisien bila dijadikan sumber energi
tubuh. Oleh sebab itu kelompok pakan C menghasilkan bobot badan yang lebih
rendah jika dibandingkan dengan kelompok pakan B (Oktarina, 2009).
Bobot badan dipengaruhi oleh perlakuan pakan B. Hal ini karena pakan B
terkandung kuning telur yang dapat meningkatkan rasa gurih pada pakan sehingga
monyet yang diberi pakan B lebih banyak mengkonsumsi pakan (Caraka I, 2008).
Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang mendapat pakan perlakuan dengan
bahan dasar lemak sapi dan kuning telur (pakan B) pada periode obesitas empat
bulan kedua diidentifikasi mengalami pra-obes berdasarkan pengelompokan Body
Mass Index (BMI) Asia (pada manusia) dengan rataan BMI 24,85 kg/m2 (Ningsih,
2009).
Darah sangat dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, ras (breed), emosi, serta
latihan yang berlebihan. Jika tubuh hewan mengalami perubahan fisiologis, maka
gambaran darah juga akan mengalami perubahan. Perubahan fisiologis ini dapat
disebabkan karena faktor internal seperti pertambahan umur, keadaan gizi, latihan,
kesehatan, stres, proses produksi darah, kebuntingan, dan suhu tubuh. Perubahan
eksternal antara lain infeksi kuman penyakit, fraktura, dan perubahan suhu
lingkungan (Guyton dan Hall, 2007).
Tabel 24 menyatakan bahwa pakan A dapat menyebabkan penurunan peubah
hematologi kecuali jumlah eosinofil dan jumlah limfosit. Pakan B dapat
menyebabkan penurunan peubah hematologi kecuali MCV, jumlah eosinofil dan
jumlah limfosit. Pakan B dapat menyebabkan penurunan peubah hematologi kecuali
MCV, jumlah neutrofil, jumlah eosinofil dan jumlah limfosit. Hal ini berarti pakan B
memiliki pengaruh yang sama dengan pakan C. Pakan A adalah pakan yang paling

52
banyak mempengaruhi terjadi penurunan nilai dari peubah hematologi. Pernyataan
ini sesuai dengan periode obesitas pada empat bulan pertama didapat bahwa pakan B
cenderung sama pengaruhnya dengan pakan B. Pakan C dan pakan B cenderung
meningkatkan peubah hematologi (Afiza, 2009).

Tabel 24. Perubahan Nilai Hematologi pada Periode Obesitas Empat Bulan
Kedua
Perubahan Persentase (%)
No. Peubah (Satuan)
Pakan A Pakan B Pakan C Pakan A Pakan B Pakan C

1. Jumlah sel darah


-0,28** -0,60** -0,33** -4,19 -8,40 -5,12
merah (× 106/ml)
2. Kadar
Hemoglobin -0,92** -1,52** -1,06** -7,55 -11,13 -8,19
(g/dl)
3. Nilai Hematokrit -1,70** -3,28** -1,52** -4,47 -7,81 -3,84
(%)
4. Mean
Corpuscular -0,10 0,22 0,82 -0,18 0,37 1,34
Volume (fl)
5. Mean
Corpuscular -0,61 -0,63 -0,65 -3,35 -3,28 -3,30
Hemaglobin (ρg)
6. Mean
Corpuscular
Hemoglobin -1,01** -1,18** -1,47** -3,16 -3,63 -4,50
Concentration
(g/dl)
7. Jumlah Neutrofil -7,40 -6,20 0,40 -15,88 -13,48 0,95
(%)
8. Jumlah Eosinofil 1,80 0,60 0,40 56,25 23,08 14,29
(%)
9. Jumlah Limfosit 5,80 6,40 0 11,69 12,85 0
(%)
10. Jumlah Monosit -0,20* -0,60* -1,00* -33,33 -42,86 -83,33
(%)
Keterangan: * = nyata
** = sangat nyata

Keadaan fisik monyet ekor panjang yang diberi pakan berenergi tinggi
mengalami perubahan bagian-bagian tubuh yang menjadi tanda didepositkannya
lemak tubuh. Perubahan yang terjadi yaitu pada lingkar pinggul, lingkar pinggang,
lingkar dada, tebal lipatan kulit punggung, serta tebal lipatan kulit perut (Caraka I,

53
2008 dan Ningsih, 2009). Pemberian perlakuan pakan formulasi A dan B
memungkinkan terjadinya obesitas pada monyet ekor panjang jika diberikan dalam
jangka waktu lebih lama. (Caraka I, 2008), sedangkan menurut Ningsih (2009)
proses obesitas pada monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) selama penelitian
empat bulan kedua dapat terjadi jika mengkonsumsi perlakuan pakan B dengan
jangka waktu yang lebih lama.
Akibat kandungan nutrisi pakan yang melebihi kebutuhan hidupnya, maka
tubuh monyet ekor panjang dengan sendirinya akan mengurangi jumlah konsumsi.
Hal ini dilakukan untuk menjaga homeostasis tubuh. Homeostasis merujuk pada
ketahanan atau mekanisme pengaturan lingkungan kesetimbangan dinamis dalam
(badan organisme) yang konstan. Homeostasis merupakan salah satu konsep yang
paling penting dalam biologi. Bidang fisiologi dapat mengklasifkasikan mekanisme
homeostasis pengaturan dalam organisme. Umpan balik homeostasis terjadi pada
setiap organisme. Agar tubuh dapat enyelenggarakan homeostasis, maka tubuh harus
senantiasa memantau adanya perubahan-perubahan nilai berbagai parameter, lalu
mengkoordinasikan respon yang sesuai sehingga perubahan yang terjadi dapat
diredam (Siagian, 2004). Oleh sebab itu, walaupun terjadi perubahan fisik akibat
pengaruh perlakuan pakan berenergi tinggi namun secara periodik terjadi penurunan
hampir di setiap peubah hematologi pada periode obesitas empat bulan kedua untuk
mendapatkan kondisi yang kembali seimbang.

54
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa profil darah monyet ekor
panjang (Macaca fascicularis) pada periode obesitas empat bulan kedua dipengaruhi
oleh pakan B (pakan berenergi tinggi berbahan dasar tallow dan kuning telur) yang
sama pengaruhnya dengan pakan C (komersial monkey chow).

Saran
Profil darah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) mengalami
perubahan dipengaruhi oleh pakan B (tallow dan kuning telur) sehingga dapat
digunakan sebagai pakan alternatif pengganti pakan komersial (monkey chow) untuk
pembentukan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) obes.
UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karuniaNya.
Terimakasih penulis sampaikan kepada Mama Tri Apriyani, Papa (Alm) Bachruddin,
Kakak Hardian Nugraha Adi dan seluruh keluarga tersayang atas segala bantuan doa,
semangat dan dukungan batin. Juga kepada Bapak Dr. Jakaria SPt., MSi dan Ibu
Prof. Dr. Ir. Sri Supraptini Mansjoer selaku dosen pembimbing pertama dan kedua,
atas segala bimbingan dan arahan selama penulis menyelesaikan skripsi. Bapak Ir.
Andi Murfi MSi selaku pembimbing akademik yang telah memberikan bimbingan
akademiknya sejak penulis terdaftar sebagai mahasiswa Ilmu Produksi dan
Teknologi Peternakan. Kepada Bapak Dr. Ir. Cece Sumantri M.AgrSc. selaku ketua
Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan juga selaku dosen penguji
seminar. Terimakasih kepada Ibu Ir. Sri Darwati MS dan Dr. Ir. Dewi Apri Astuti
MS selaku dosen penguji sidang.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh staf pengajar Fakultas
Peternakan yang telah banyak memberikan ilmu dan pengalaman selama penulis
menyelesaikan pendidikan. Terimakasih kepada Ibu Dr. dr. Irma Herawati Suparto,
MS dari Pusat Studi Satwa Primata (PSSP), Ibu Dr. drh. Erni Sulistiawati, SpP1
penanggung jawab Laboratorium PSSP beserta Mba Lis, Ibu Dr. Ir. Dewi A. Astuti,
MS, Bapak Deyv Pijoh SPt. MSi, Laboratorium Genetika Fakultas Peternakan IPB,
drh. Maesaroh, drh. Dewi, dan Kak Sudirman serta segenap staf pegawai PT.
IndoAnilab, atas segala bantuan. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada
Mba’ Ria Oktarina SPt., MSi., Mba’ Meri Afiza SPt., Mas H. Alfa Caraka I SPt. dan
Tia Irmayanty A. N. SPt. rekan yang banyak membantu selama penelitian. Juga
banyak terimakasih kepada Ade I. S. Harahap, Anggisthia Dewi, Nolis Nilareswati,
Mutia Fani serta teman-teman tercinta di IPTP 42 yang selalu memberi semangat,
juga kepada Dwi Novianthy yang banyak memberi saran yang membangun, serta
seluruh sahabat penulis yang ada di Palu dan Bogor serta dimanapun berada.

Bogor, Agustus 2009

Penulis
DAFTAR PUSTAKA

Adam, J. M. F. 2006. Obesitas dan Sindroma Metabolik. Bandung.


Afiza, M. 2009. Perkembangan profil darah monyet ekor panjang (Macaca
fascicularis) yang diberi pakan berenergi tinggi pada periode obesitas empat
bulan pertama. Skripsi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor,
Bogor.
Anggorodi, R. 1979. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia, Jakarta.
Astuti, D. A., I. H. Suparto, D. Sajuthi dan I. N. Budiarsa. 2007. Nutrient intake and
digestibility of Cynomolgus Monkey (Macaca fascicularis) fed with obese
diet compared to monkey chow. International Symposium on Food Security
Agricultural Development and Environmental Concervation in Southeast
and East Asia. Bogor 4-6 2007, Bogor.
American Association for Clinical Chemistry. 2009. Lab test online-complete blood
count-the test. http://www.labtest-online.org/understanding/
analytes/cbc/test.htm. [25 Juni 2009].
Bathesda Stroke Center. 2002. Bathesda stroke center literatur.
http://www.strokebathesda.com. [28 Desember 2008].
Bennett, B. T., R. C. Abee, and R. Henrickson. 1995. Nonhuman Primates in
Biomedical Research Biology and Management. Academic Press, New
York.
Caraka I, H. A. 2008. Perkembangan ukuran bagian-bagian tubuh monyet ekor
panjang (Macaca fascicularis) yang diberi pakan obes. Skripsi. Fakultas
Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Colville, T. and J. M. Bassert. 2002. Clinical Anatomy and Physiology for
Veterinary Technicians. Mosby, Inc., Missouri.
Cunningham, J. G. 2002. Textbook of Veterinary Physiology. USA : Saunders
Company.
Davies, N.B and J. R. Krebs. 1978. Behavioural Ecology : An Evolutionary
Approach. Blackwell Scientific Publication, London.
Ensminger, M. E., J. E. Oldfield and W. W. Heinemann. 1990. Feed and Nutrition
Digest. 2nd Edition. Ensminger Publishing Company, California.
Frandson, R. D. 1986. Anatomi Fisiologi Ternak. Edisi ke-4. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Fortman, J. D., T. A. Hewett and B. T. Bennett. 2002. The Laboratory Nonhuman
Primates. CRC Press, London.
Gasperz, V. 1992. Teknik Analisis dalam Penelitian Percobaan. Jilid 2. Tarsito,
Bandung.
Guyton, A. C. and J. E. Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11.
Terjemahan: L. Y. Rachman. ECG, Jakarta.

57
Inglis, J. K. 1980. Introduction to Laboratory Animal Science and Technology.
Pergamon Press, New York.
Ismanto, A. 1999. Tiga macam ransum monyet ekor panjang (Macaca fascicularis)
dan pengaruhnya terhadap performa. Skripsi. Fakultas Peternakan Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Iwamoto, T. 1980. Food and Energetics of Provisioned Wild Japanese Macaques
(Macaca fuscata). Ecology and Behavior of Food-Enhanced Primate
Groups.
Junaedi. 2001. Pertumbuhan monyet ekor panjang di Unit Penangkaran Pusat Studi
Satwa Primata LP-IPB di Pulau Tinjil dan Darmaga, Bogor. Skripsi.
Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Kelpiesoft. 2008. Kenali tubuh kita. http://www.kelpiesoft.com. [24 Desember
2008].
Kurnianingsih N. 2005. Waspadai infeksi virus penyebab obesitas.
http://www.pikiranrakyat.com/EDITORIAL. [ 30 Juli 2007].
Lang, C. K. A. 2006. Primate factsheets: long-tailed macaque (Macaca fascicularis)
taxonomy, morphology & ecology. http://pin.primate.wisc.edu/factsheets/
long-tailed_macaque. [10 Juli 2007].
Lekagul, B and Mc Neely. 1977. Mamals of Thailand. Kurusapha Ladprao Press,
Bangkok.
Mareib, E. N. 1988. Essensial of Human Anatomy and Physiology. Second Edition.
The Benjamin/Cummings Publishing Company, Menlo Park, California.
Marshall, P. T. and G. M. Hughes. 1972. The Physiology of Mammals and Other
Vetebrates. The University Press, Cambridge.
Martini, F., W. C. Ober, C. W. Garrison and K. Welch. 1992. Fundamentals of
Anatomy and Physiology. Second Edition. Prentise Hall, New Jersey.
Mattjik, A. A. dan I. M. Sumertajaya. 2002. Perancangan Percobaan dangan Aplikasi
SAS dan Minitab Jilid I. Institut Pertanian Bogor Press, Bogor.
McDonald, P., R. A. Edwards, J. F. D. Greenhalgh, and C. A. Morgan.
2002. Animal Nutrition. 6th Ed. Prentice Hall, London.
McGill Physiology Virtual Lab. 2009. Blood cell indices_MCH and MCHC.
http://www.medicine.mcgill.ca/physio/vlab/bloodlab/mcv-mchc_n.htm. [8
April 2009].
Merdikoputro, J. 2006. Mampu menurunkan 100 kg. http://www.suaramerdeka.
com/html. [13 November 2007].
Moss, R. 1992. Livestock Health and Welfare. Longman Scientific & Technical,
United Kingdom.
Mustaqimatin. 1998. Formulasi ransum berbahan dasar utama pakan lokal untuk
monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Unit Penangkaran Pusat
Studi Satwa Primata LP-IPB. Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan Institut
Pertanian Bogor, Bogor.

58
Napier, J. R. and P. H. Napier. 1985. The Natural History of the Primates. The MIT
Press, Cambridge, Massachusetts.
National Research Council. 2003. Nutrient Requirement Consumtion of Nonhuman
Primate. Ed 2nd Rev. Washington DC. The National Academic Press.
NBII. 2009. http://www.images.nbii.gov. [20 April 2009].
Ningsih, T. I. A. 2009. Performa obesitas monyet ekor panjang (Macaca
fascicularis) yang diberi pakan berenergi tinggi. Skripsi. Fakultas
Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.
North, M. O. 1984. Commercial Chicken Production on Manual. 3rd Ed. The Avi
Publishing Company, Inc, Westport, Connecticut.
Oktarina, R. 2009. Kajian pakan bersumber energi tinggi pada pembentukan monyet
obes. Tesis. Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Putra, I. G. A. A., I. N. Wandia, I. G. Soma dan D. Sajuthi. 2006. Indeks massa tubuh
dan morfometri monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Bali. J. Vet
7:119-124.
Racette, S. B., S. S. Deusinger and R. H. Deusinger. 2003. Obesity: Overview of
Prevalence, Ethiology, and Treatment. Phys Ther. 83: 276-288.
Rastogi, S. C. 1977. Essensial of Animal Physiology. Wiley Eastern Limited, New
Delhi.
Rohman, N. 1993. Pengaruh kadar protein ransum terhadap penampilan kera ekor
panjang (Macaca fascicularis). Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Sajuthi, D. 1984. Satwa Primata Sebagai Hewan Laboratorium. Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Sajuthi, D., F. P. A. Lelana, D. Iskandriati dan B. Joeniman. 1993. Karakteristik
satwa primata sebagai hewan model untuk penelitian biomedis. Makalah
Seminar. Bogor.
Sastradipraja, D., S. H. S. Sikar, R. Widjajakusuma, T. Ungerer, A. Maad, H.
Nasution, R. Sunawinata dan R. Hamzah. 1989. Penuntun Praktikum
Fisiologi Veteriner. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayati. Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Schermer, S. 1967. The Blood Morphology of Laboratory Animals 3rd Ed. F. A.
Davis Company, Philadelphia.
Siagian, M. 2004. Homeostasis keseimbangan yang halus dan dinamis. Karya Ilmiah.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Silverthorn and D. U. Pearson. 2009. Human Physiology an Integrated Aproach. 4th
Edition. Benjamin Cummings, New York.
Smith J. B. dan S. Mangkoewidjojo. 1988. Pemeliharaan, Pembiaakan dan
Penggunaan Hewan Percobaan di Daerah Tropis. Penerbit Universitas
Indonesia, Jakarta.

59
Sulaksono, M. E. 2002. Penentuan nilai rujukan parameter faal hewan percobaan
sebagai model penyakit manusia dan hewan. http://digilib.litbang.
depkes.go.id. [10 September 2007].
Supriatna, J. dan E. H. Wahyono. 2000. Panduan Lapangan Primata Indonesia.
Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
Swenson, M. J. 1984. Dukes Physiology of Domestic Animals. 10th Ed. Cornell
University, London.
The World Health Organization. 2006. Obesity and overweight. http://
www.who.int/mediacentre/factsheets/index.html. [10 September 2007].
The World Health Organization. 2008. Body mass index classification. http://
www.who.int. [Januari 2009].
Tizard, I. 1982. Veterinary Immunology, an Introduction. 3rd Ed. W, B. Saunders
Company, Canada.
Tortora, G. J. and N. P. Anagnostakos. 1990. Principles of Anatomy and Physiology.
Harper and Row Publisher, New York.
Tumbelaka, A. R. 2005. Kesehatan. http://www.kompas.com/kesehatan/news/
0403/20/085238.htm. [3 Agustus 2006].
Wikipedia. 2008. Hematologi. http://id.wikipedia.org/wiki/hematologi. [10 Mei
2008].
Wikipedia. 2008. Metabolic syndrome. http://id.wikipedia.org/wiki/metabolic_
syndrome. [26 Des 2008].
Wiseman, J. and P. J. A. Cole. 1990. Feedstuff Evaluation. University Press,
Cambridge.

60
LAMPIRAN
Lampiran 1. Hasil Analisis Ragam Jumlah Sel Darah Merah
Sumber db JK KT F hitung Nilai P
Perlakuan 2 3,9488 1,9744 12,48** 0,000
Periode 12 7,7746 0,6479 4,10** 0,000
(Perlakuan)
Error 60 9,4930 0,1582
Total 74 21,2164
Keterangan : ** = sangat nyata

Lampiran 2. Hasil Analisis Ragam Kadar Hemoglobin


Sumber db JK KT F hitung Nilai P
Perlakuan 2 15,8408 7,9204 10,85** 0,000
Periode 12 22,9552 1,9129 2,62** 0,007
(Perlakuan)
Error 60 43,8040 0,7301
Total 74 82,6000
Keterangan : ** = sangat nyata

Lampiran 3. Hasil Analisis Ragam Nilai Hematokrit


Sumber db JK KT F hitung Nilai P
Perlakuan 2 124,0904 62,0452 11,35** 0,000
Periode 12 252,1368 21,0114 3,85** 0,000
(Perlakuan)
Error 60 327,8720 5,4645
Total 74 704,0992
Keterangan : ** = sangat nyata

Lampiran 4. Hasil Analisis Ragam Mean Corpuscular Volume (MCV)


Sumber db JK KT F hitung Nilai P
Perlakuan 2 322,9325 161,4663 31,20** 0,000
Periode 12 3,8378 0,3198 0,06tn 1,000
(Perlakuan)
Error 60 310,5198 5,1753
Total 74 637,2901
Keterangan : tn = tidak nyata
** = sangat nyata

62
Lampiran 5. Hasil Analisis Ragam Mean Corpuscular Haemoglobin (MCH)
Sumber db JK KT F hitung Nilai P
Perlakuan 2 37,2819 18,6410 16,71** 0,000
Periode 12 11,2373 0,9364 0,84tn 0,610
(Perlakuan)
Error 60 66,9290 1,1155
Total 74 115,4482
Keterangan : tn = tidak nyata
** = sangat nyata

Lampiran 6. Hasil Analisis Ragam Mean Corpuscular Haemoglobin


Concentration (MCHC)
Sumber db JK KT F hitung Nilai P
tn
Perlakuan 2 1,3968 0,6984 1,15 0,322
Periode 12 34,0103 2,8342 4,69** 0,000
(Perlakuan)
Error 60 36,2888 0,6048
Total 74 71,6958
Keterangan : tn = tidak nyata
** = sangat nyata

Lampiran 7. Hasil Analisis Ragam Jumlah Neutrofil


Sumber db JK KT F hitung Nilai P
Perlakuan 2 450,6667 225,3333 1,24tn 0,298
tn
Periode 12 948,7200 79,0600 0,43 0,943
(Perlakuan)
Error 60 10931,2000 182,1867
Total 74 12330,5867
Keterangan : tn = tidak nyata

Lampiran 8. Hasil Analisis Ragam Jumlah Eusinofil


Sumber db JK KT F hitung Nilai P
Perlakuan 2 83,3826 41,6913 2,76tn 0,071
Periode 12 227,7845 18,9820 1,26tn 0,267
(Perlakuan)
Error 60 904,9599 15,0827
Total 74 1216,1270
Keterangan : tn = tidak nyata

63
Lampiran 9. Hasil Analisis Ragam Jumlah Limfosit
Sumber db JK KT F hitung Nilai P
Perlakuan 2 622,8267 311,4133 1,80tn 0,174
tn
Periode 12 981,1200 81,7600 0,47 0,923
(Perlakuan)
Error 60 3638,9860 60,6498
Total 74 4212,3195
Keterangan : tn = tidak nyata

Lampiran 10. Hasil Analisis Ragam Jumlah Monosit


Sumber db JK KT F hitung Nilai P
Perlakuan 2 10,1449 5,0724 0,44tn 0,649
Periode 12 335,6054 27,9671 2,40* 0,013
(Perlakuan)
Error 60 699,3730 11,6562
Total 74 1045,1233
Keterangan : tn = tidak nyata
* = nyata

64