Anda di halaman 1dari 6

Lansoprazole Klasifikasi farmakologi inhibitor pompa proton; pengganti Benzimidazole Penggunaan terapi jangka pendek pada ulkus duodenum

aktif; sebagai bagian dari multidrug rejimen untuk eradikasi H. pylori untuk mengurangi resiko kekambuhan ulkus duodenum; penggunaan terapi jangka pendek pada ulkus gastric aktif jinak; pengobatan ulkus gastric yang berkaitan dengan NSAID; untuk mengurangi resiko NSAID yang berkaitan dengan ulkus gastric pada pasien yang menerima NSAID dengan riwayat ulkus gastric; penggunaan terapi jangka pendek pada gejala GERD; penggunaan terapi jangka pendek untuk semua tingkat esophagitis erosive; untuk mempertahankan penyembuhan esophagitis erosive; terapi jangka panjang pada kondisi hipersekresi patologis, termasuk sindroma Zollinger-Ellison. Pelabelan OTC: meringankan frekuensi rasa terbakar di perut (2 hari/minggu) Kontraindikasi: hipersensitivitas terhadap lanzoprazole atau komponen lain dari formulasi Peringatan/perhatian: penggunaan inhibitor pompa proton dapat meningkatkan resiko infeksi gastrointestinal (misalnya Salmonella, Campylobacter). Meringankan gejala tidak

menghalangi kehadiran malignansi gastric. Gastritis atrofi (dengan biopsy) telah tercatat pada terapi omeprazole jangka panjang; hal ini juga dapat terjadi pada terapi dengan lansoprazole. Telah dilaporkan carcinoids yang menyerupai sel enterochromaffin (ECL), displasia, neoplasia, atau telah terjadi. Pada disfungsi hati yang parah mungkin memerlukan pengurangan dosis. Menurunkan laju eradikasi H. pylori telah diteliti dengan terapi kombinasi jangka pendek (7 hari). The American college of Gastroenterology merekomendasikan 1014 hari terapi (triple atau quardruple) untuk eradikasi H.pylori (Chey, 2007). Inhibitor pompa proton dianggap dapat mengurangi efek terapi clopidogrel karena berkurangnya pembentukan metabolit aktif clopidogrel; peningkatan risiko kejadian kardiovaskuler dapat terjadi. Produsen clopidogrel merekomendasikan untuk menghindari pemberian bersama PPI lain (mis. omeprazole), mengingat potensi aktivitas penghambatan CYP2C19 yang dimiliki lansoprazole, hati-hati anjuran yang serupa. Lansoprazole telah terbukti tidak efektif untuk pengobatan gejala GERD pada anak umur 1 bulan sampai <1 tahun. Peningkatan kejadian patah tulang karena osteoporosis dari pinggul, tulang belakang, atau pergelangan tangan dapat terjadi dengan terapi inhibitor pompa proton. Pasien pada terapi dosis tinggi atau terapi jangka panjang harus dipantau. Menggunakan dosis efektif terendah

untuk durasi waktu terpendek, menggunakan vitamin D dan suplemen kalsium, dan mengikuti pedoman yang tepat untuk mengurangi risiko patah tulang pada pasien yang berisiko. Bila digunakan untuk pengobatan sendiri, pasien harus diinstruksikan untuk tidak menggunakan jika mereka memiliki kesulitan menelan atau muntah darah, atau memiliki tinja berdarah atau hitam. Sebelum digunakan, pasien harus menghubungi penyedia pelayanan kesehatan jika mereka memiliki penyakit hati, mulas selama >3 bulan, mulas disertai pusing, sakit kepala ringan, atau berkeringat, M symptom, sering nyeri dada, sering mengi (terutama dengan mulas), penurunan berat badan, mual/muntah, sakit perut atau konsumsi antifungi, alazanavir, digoxin, tracolimus, theophyline, atau warfarin. Pasien harus menghentikan penggunaan dan berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan jika sakit maag terus atau memburuk, atau jika mereka perlu untuk mengambil >14 hari atau lebih sering daripada setiap 4 bulan. Pasien harus diberitahu bahwa mungkin diperlukan waktu 1-4 hari untuk efek penuh untuk dilihat, tidak bisa digunakan untuk penggunaan darurat.

Adverse reactions 1% sampai 10% System saraf pusat: sakit kepala (anak-anak umur 1-11 tahun 3%, 12-17 tahun 7%), pusing (anak-anak 12-17 tahun 3%, dewasa <1%) Gastrointestinal: diare (1% sampai 5%; 60 mg/hari: 7%), sakit perut (anak-anak umur 12-17 tahun 5%; dewasa 1%), mual (anak-anak 12-17 tahun 3%; dewasa 1%). <1% (terbatas pada yang penting atau mengancam jiwa): pembesaran abdomen, mimpi buruk, menstruasi yang abnormal, feses yang abnormal, gangguan penglihatan, agitasi, agranulositosis, albuminuria, reaksi alergi, alkali fosfatase meningkat, ALT meningkat, alopecia, amblyopia, amnesia, reaksi anafilaksis, anemia, angina, anoreksia, kegelisahan, anemia aplastik, nafsu makan meningkat, aritmia, AST meningkat, arthralgia, artritis, asma, avitaminosis, bezoar, bilirubinemia, blepharitis, penglihatan kabur, bradikardia, pembesaran payudara, nyeri payudara, payudara terasa nyeri bila ditekan, bronkitis, kandidiasis, karsinoma, cardiospasm, katarak, kejadian serebrovaskular, infark serebral, nyeri dada, menggigil, cholelithiasis, kolesterol meningkat/menurun, kolitis, kebingungan, konjungtivitis, batuk meningkat, kreatinin meningkat, tuli, dehidrasi, demensia, depersonalisasi, depresi, diabetes mellitus, diaphoresis, diplopia, mata kering, kulit kering,

dispepsia, disfagia, dyspnea, dysmennorrhea, disuria, edema, ketidakseimbangan elektrolit, emosi labil, enteritis, eosinofilia, epistaksis, erupsi, eritema multiforme, stenosis esofagus, ulkus esofagus, esofagitis, perubahan warna tinja, demam, erupsi konstan, fistulence, sindrom seperti flu, fraktur, polip kelenjar fundic, nodul lambung, kadar gastrin meningkat, gastritis, gastroenteritis, anomali gastrointestinal, perdarahan gastrointestinal, GGTP meningkat/menurun, glaukoma, tingkat glukokortikoid meningkat, glositis, glikosuria, gondok, asam urat, perdarahan gusi, ginekomastia, halitosis, halusinasi, hematemesis, hematuria, hemiplegia, hemolisis, anemia hemolitik, hemoptisis, hepatotoksisitas, hostility aggravated, hiper-/hipoglikemia, hiperkinesia, hiperlipemia, hipertonia, hypoesthesia, hiper-/hipotensi, hipotiroidisme, impotensi, infeksi, insomnia, nefritis interstitial, kalkulus ginjal, neoplasia laring, LDH meningkat, kram kaki, leukopenia, leukorrhea, libido menurun/meningkat, tes fungsi hati yang abnormal, fibrosis paru, limfadenopati , ruam makulopapular, malaise, melena, menorrhagia, migrain, moniliasis (oral), mulut ulserasi, nyeri otot, mialgia, miastenia, myositis, Ml, gugup, neurosis, neutropenia, nyeri, palpitasi, pankreatitis, pansitopenia, parethesia, parosmia, nyeri panggul, edema perifer, faringitis, fotofobia, kelainan trombosit, pneumonia, poliuria, pruritus, plosis, ruam, perdarahan rektum, degenerasi retina, rhinitis, air liur meningkat, selzure, syok, sinusitis, karsinoma kulit, gangguan tidur, mengantuk, gangguan bicara. Sindrom Steven-Johnson, stomatitis, stridor, sinkop, sinovitis, trachycardia, kehilangan rasa, rasa penyimpangan, tenesmus, haus, thrombocytopenic purpura, tinnitus, tremor, kehilangan perasa, nekrolisis epidermal toksik, ulcerative colitis, stomatitis ulseratif, radang saluran pernapasan atas, infeksi saluran pernapasan atas, nyeri uretra , kekeruhan frekuensi urine, buang air kecil terganggu, retensi urin, infeksi saluran kemih, urtikaria, vaginitis, vasodilatasi, vertigo, cacat bidang visual, muntah, kelemahan, WBC normal, berat badan meningkat/menurun, xerostomia Interaksi obat Efek metabolisme/transportasi substrat dari CYP2C9 (minor), 2C19 (mayor), 3A4 (mayor); menghambat CYP2C9 (lemah), 2C19 (sedang), 2D6 (lemah), 3A4 (lemah); diinduksi CYP1A2 (lemah). Hindari penggunaan bersama

Hindari penggunaan bersama Lansoprazole dengan salah satu di antara berikut: Delavirdina, Erlotinib, Nelfinavir, Posaconazole. Meningkatkan efek/toksisitas Lansoprazole dapat meningkatkan kadar/efek: substrat CYP2C19; Dexmethylphenidate, Imatinib, Methotrexate, Methylphenidate, Raltegravir, Saquinavir, Tacrolimus, Tacrolimus (sistemik); Antagonis vitamin K; Vorikonazole Tingkat/efek Lansoprazole dapat ditingkatkan dengan: Conivaptan; Flukonazol;

Ketokonazol; Ketoconazole (sistemik). Menurunkan efek Lansoprazole dapat menurunkan kadar/efek: Atazanavir; Cefditoren; Clopidogrel; Dabigatran Etexilate; Dasatinib; Delavirdine; Erlotinib; Indinavir; garam besi;

Itraconazole; Ketoconazole; Ketoconazole (sistemik); Mesalamine; Mycophenolate; Nelfinavir; Posaconazole. Tingkat/efek Lansoprazole dapat diturunkan dengan: induser CYP2C19 (kuat); induser CYP3A4 (kuat); Deferasirox; herbal (induser CYP3A4); Tipranavir. Interaksi dengan ethanol/nutrisi/ramuan Ethanol: hindari Ethanol (dapat menyebabkan iritasi mukosa gastric). Makanan: konsentrasi serum Lansoprazole mungkin menurunkan jika dikonsumsi dengan makanan Ramuan/nutraceutical: Lansoprazole) Farmakodinamik/kinetik Onset kerja: penekanan asam lambung: oral: 1-3 jam Durasi: penekanan asam lambung: oral: >1 hari Absorpsi: cepat Distribusi: Vd: 14-18 L Mengikat protein: 97% Metabolisme: hepatic via CYP2C19 dan 3A4, dan dalam sel parietal menjadi dua metabolit aktif yang tidak hadir dalam sirkulasi sistemik Bioavailabilitas: 80%; menurun 50% sampai 70% jika diberikan 30 menit setelah makan Waktu paruh eliminasi: 1,5 1 jam; lanjut usia: 2-3 jam; kerusakan hati: 3-7 jam hindari St. Johns wort (dapat menurunkan kadar/efek

Waktu puncak; plasma: 1,7 jam Ekskresi: feses (67%); urin (33%) Dosis oral Anak-anak 1-11 tahun: GERD, esophagitis erosif: 30 kg: 15 mg sekali sehari selama 12 minggu >30 kg: 30 mg sekali sehari selama 12 minggu Catatan: dosis meningkat pada beberapa pasien anak jika masih muncul gejala setelah 2 minggu atau lebih pengobatan (dosis maksimum: 30 mg dua kali sehari) Anak-anak 12-17 tahun: GERD nonerosif: 15 mg sekali sehari selama 8 minggu Esophagitis erosif: 30 mg sekali sehari selama 8 minggu Dewasa Ulkus duodenum: terapi jangka pendek: 15 mg sekali sehari selama 4 minggu; terapi pemeliharaan: 15 mg sekali sehari Ulkus gastric: terapi jangka pendek: sekali sehari selama 8 minggu NSAID yang berkaitan dengan ulkus gastric (penyembuhan): 30 mg sekali sehari selama 8 minggu; studi kontrol tidak tersedia pada terapi lebih dari 8 minggu NSAID yang berkaitan dengan ulkus gastric (untuk mengurangi resiko): 15 mg sekali sehari selama 12 minggu; studi kontrol tidak tersedia pada terapi lebih dari 12 minggu Gejala GERD: pengobatan jangka pendek: 15 mg sekali sehari selama 8 minggu Esophagitis erosif: pengobatan jangka pendek: 30 mg sekali sehari selama 8 minggu; pengobatan dilanjutkan untuk tambahan 8 minggu dapat dipertimbangkan untuk kekambuhan atau untuk pasien yang tidak sembuh setelah 8 minggu pertama terapi, terapi pemeliharaan: 15 mg sekali sehari Kondisi hipersekresi: awal: 60 mg sekali sehari; menyesuaikan dosis berdasarkan respon pasien dan untuk mengurangi sekresi asam <10 mEq/jam (5 mEq/jam pada pasien dengan operasi lambung sebelumnya): dosis 90 mg dua kali sehari telah digunakan, mengatur dosis >120 mg/hari dalam dosis terbagi Eradikasi Helicobacter pylori :

Pelabelan dari produsen: 30 mg 3 kali/hari diberikan dengan amoxicillin 1000 mg 3 kali/hari selama 14 hari atau 30 mg dua kali sehari diberikan dengan amoxicillin 1000 mg dan 500 mg chlarithromycin dua kali sehari selama 10-14 hari American College of Gastroenterology guidelines (Chey, 2007): Alergi nonpenicillin: 30 mg dua kali sehari diberikan dengan amoxicillin 1000 mg dan 500 mg chlarithromycin dua kali sehari selama 10-14 hari Alergi penicillin: 30 mg dua kali sehari diberikan dengan chlarithromycin 500 mg dan metronidazole 500 mg dua kali sehari selama 10-14 hari atau 30 mg sekali/dua kali sehari diberikan dengan bismuth subsalicylate 525 mg dan metronidazole 250 mg ditambah tetracycline 500 mg 4 kali sehari selama 10-14 hari. Sakit maag: pelabelan OTC 15 mg sekali sehari selama 14 hari; dapat mengulang 14 hari terapi setiap 4 bulan. Jangan digunakan >14 hari atau lebih sering dari tiap 4 bulan, kecuali diinstruksikan oleh penyedia layanan kesehatan Penyesuaian dosis pada gangguan ginjal: tidak diperlukan penyesuaian dosis Penyesuaian dosis pada kerusakan hati: kerusakan hati yang parah: mempertimbangkan pengurangan dosis.