Anda di halaman 1dari 9

a.

Makro, Meso, Mikro Level Causal Model Pengembangan Kelembagaan Membangun peta jalan pengembangan pariwisata minat khusus berarti melihat konteks pengembangan secara komperhensif baik kelembagaan maupun sistem. Secara kelembagaan cara pandang road map pengembangan pariwisata minat khusus mengharuskan berbicara kelembagaan (institutional) secara luas, tidak sekedar organisasi namun juga nilai (value). Sementara itu persepsi pengembangan pariwisata bertujuan untuk memberikan nilai tambah secara ekonomi sekaligus keberdayaan bagi masyarakat, organisasi dan pemerintah daerah. Membangun mekanisme ekonomi dengan berbasis pariwisata minat khusus. Oleh sebab itu kegiatan Penyusunan Road Map Pengembangan Wisata Minat Khusus, dalam ranah konsep pembangunan institusi ekonomi membutuhkan hubungan dinamis yang bersifat non-linier antar kelembagaan yang mampu generator pembangunan ekonomi. Pemikiran ini sejalan dengan aliran ekonom yang mencoba memahami studi ekonomi dengan melakukan perpaduan pendekatan disiplin keilmuan yaitu ekonomi dan sosiologi yang disebut dengan New Institution in Economic Sociology (NIES). Munculnya pendekatan NIES diawali dari adaptasi dan penyempurnaan konsep Transaction Cost Economic (TCE) oleh Williamson (1979) melalui tulisannya yang berjudul Transaction cost economics: the governance of contractual relations dalam Journal of Law and Economics, dan sejauh ini studi biaya transaksi (transaction cost) bisanya diawali oleh studi institusi12. Kekuatan institusional membentuk sistem organisasi. Organisasi yang diakui sebagai "rasionalisasi" sistem- seperangkat peraturan dan kegiatan terkait yang ditata untuk mencerminkan means-ends relationship yang berorientasi pencapian tujuan yang telah ditentukan. Singkatnya, hubungan sosial, bukan orientasi institusi dari pendekatan embeddedness memperkenalkan unsur ketidakpastian dalam sosiologi ekonomi baru, terutama dalam konteks ekonomi pasar global di
Hardt, ukasz, The history of transaction cost economics and its recent developments, Erasmus Journal for Philosophy and Economics, Volume 2, Issue 1, Summer 2009, pp. 29-51. 2 Teori institusi hadir untuk aspek yang lebih dalam dan lebih realistik dari struktur sosial. Hal ini mempertimbangkan proses yang strukturnya, termasuk skema, aturan, norma, dan rutinitas, menjadi dikenal sebagai pedoman otoritatif untuk perilaku sosial. W. Richard Scott, Institutional Theory: Contributing to a Theoretical Research Program, Chapter prepared for Great Minds in Management: The Process of Theory Development, Ken G. Smith and Michael A. Hitt, eds. Oxford UK: Oxford University Press, 2004
1

mana volume transaksi lintas-nasional telah meningkat melalui inovasi di bidang teknologi informasi memungkinkan kompleks transaksi antara orang asing (Kuwabara).3 Untuk new institutional economic sociology (NIES) untuk membuat kemajuan dalam menjelaskan peran institusi dan perubahan institusional, untuk itu penting untuk memiliki definisi institusi yang sesuai untuk analisis dari perspektif sosiologis yang menekankan efek kausal dari struktur sosial. Sebuah institusi dalam pandangan ini didefinisikan sebagai suatu sistem yang unsurunsurnya saling terkait informal dan formal - kebiasaan, keyakinan bersama, konvensi, norma, dan aturan-yang mengatur hubungan sosial di mana pelaku mengejar dan memperbaiki batas-batas kepentingan sah. Dalam pandangan ini, institusi adalah struktur sosial yang menyediakan saluran untuk tindakan kolektif dengan memfasilitasi dan mengatur kepentingan aktor dan menegakkan hubungan agen utama.4

Gambar : Kerangka Pemikiran Kelembagaan

Kuwabara, Ko. Forthcoming. Affective Attachment in Electronic Markets: A Sociological Study of eBay. In Economic Sociology of Capitalism, edited by Victor Nee and Richard Swedberg. Princeton: Princeton University Press, dalam Nee, Victor, New Institutionalism, Economic And Sociological, Center for the Study of Economy and Society Cornell University, Oktober 2003 4 Nee, Victor, New Institutionalism, Economic And Sociological, Center for the Study of Economy and Society Cornell University, Oktober 2003

Model diatas merupakan adaptasi dari sintesis Williamson (1994) yaitu new institusional economic (NIE), dimana modifikasi tersebut dilakukan oleh Nee (1998) untuk melengkapi dua keterbatasan model tersebut. Pertama, menempatkan semua kendala, formal dan informasl, dalam satu level analisis. Kedua, menurut Nee dan Briton (1998), Williamson mengasumsikan bahwa sifat atomic pelaku/aktor dipengaruhi oleh otoritas formal. Meskipun, Williamson menempatkan pendekatan embeddedness bagian dari lingkungan institusional (institutional environmental), modelnya tidak mampu untuk mensoesifikasikan mekanime social melalui norma yang berimplikasi terhadap kinerja individu. Seperti mekanisme bukanlah sesederhana struktur pemerintah formal, namun sangat tergantung pada norma informasl dan hal tersebut melekat (embedded) pada perjalanan hubungan social. Model tersebut menunjukkan adanya jajaring yang perlu menjadi

pertimbangan, level hirarki paling tinggi menggambarkan struktur insentif dan dengan demikian menetapkan sasaran dari unit social pada level yang lebih rendeh. Unit sosial yang lebih kecil (subordinat) mempengaruhi peraturan pada level hirarki yang lebih tinggi, dan menggantungkan kinerjanya pada level tersebut. Dua tipe hubungan kasual dikenal dalam model tersebut. Arah panang kebawah menunjukkan kondala/konstrain ditempatkan pada lebel hirarki yang lebel tinggi. Kerangka kerja institusional mengkompromosikan matriks norma formal yang menjadi kendala organisasi, peraturan organisasional sebuah tipe norma formal dari kelompok, dan norma informal yang menajadi kendala anggota kelompok. Institusi juga memberikan

dorongan pada aksi individu melalui preferensi endegenus. Arah panah keatas mengindikasikan bahwa level hirarki lebih atas didasari dan dibentuk oleh level dibawahnya. Individu menciptakan situasi dalam jaringan dan kelompok kecil yang membentuk dan memperkuat norman informal. Peraturan ditentukan oleh kelompok diantara organisasi melalui proses negoisasi, dan kinerja organisasi adalah sebuah fungsi dari kinerka kelompok. Organisasi memberikan dampak pada norma formal melalui kegiatan politik, sementara kinerja mereka menetukan kinerja pada level makro. Dalam perspektif makro, memeriksa struktur lingkungan yang lebih luas dan pengaruhnya terhadap bentuk organisasi dan proses. (Untuk pendekatan yang terkait, dengan penekanan pada mikro-dasar teori institusional
5

pengaturan kerja yang tidak diatur oleh hukum-hukum alam ekonomi, tetapi dibentuk juga oleh proses budaya, sosial, dan politik.6 Kunci memahami bahwa suatu hubungan terungkapkan pada level interaksi social yang bersifat tatap muka. Sebuah institusi adalah sebuah normaweb of interrelated (jaringan antar relasi) yang mengaur hubungan social. Hal tersebut dilakukan dengan menstrukturisasi interaksi social dimana institusi menghasilkan kinerja kelompok.7 Lingkungan Institusional - regulasi formal mengatur pantauan dan penegakkan oleh negara yang mengatur hak milik, pasar dan perusahaan - yang dapat memaksakan pembatasan pada perusahaan melalui mekanisme pasar dan peraturan negara, sehingga membentuk struktur insentif. Mekanisme institusi beroperasi pada tingkat ini adalah berjarak, yang bertentangan dengan mekanisme jaringan di tingkat mikro dan meso individu dan hubungan interpersonal mereka yang dekat. Mekanisme institusi mencakup penyebab yang lebih dalam karena mereka membentuk struktur insentif untuk organisasi dan individu, dan dengan demikian konteks memiliki kedekatan terhadap mekanisme beroperasi. Mekanisme tingkat institusi dibentuk

oleh para ekonom dan sosiolog, meskipun ada perbedaan dalam asumsi perilaku dan
W. Richard Scott, Institutional Theory: Contributing to a Theoretical Research Program, Chapter prepared for Great Minds in Management: The Process of Theory Development, Ken G. Smith and Michael A. Hitt, eds. Oxford UK: Oxford University Press, 2004 6 W. Richard Scott, Institutional Theory: Contributing to a Theoretical Research Program, Chapter prepared for Great Minds in Management: The Process of Theory Development, Ken G. Smith and Michael A. Hitt, eds. Oxford UK: Oxford University Press, 2004 7 Brinton, C Mary dan Nee, Victor, The New Institutionalism in Sociology, Russell Sage Foundation, NY, 1998
5

bahasa konseptual, tapi hal tersebut tidka jauh dari apa yang dirasakan secara umum. Ekonom institusi baru menekankan insentif terstruktur oleh pengawasan dan penegakan aturan-aturan formal, mekanisme diterima secara luas oleh kedua ekonomi politik dan sosiologi. Aturan formal merupakan bagian penting dari kerangka institusi, tetapi hanya sebagian. Untuk bekerja secara efektif mereka harus dilengkapi dengan pertimbangan informal (konvensi, norma-norma perilaku) yang melengkapi mereka dan mengurangi biaya penegakan hukum. Jika aturan formal dan informal secara konsisten satu sama lain akan tidak dipertimbangan

menimbulkan ketidakstabilan politik. Oleh

karenanya road map pengembangan pariwisata minat khusus perlu memperhatikan sistem kelembagaan yang ruang lingkupnya meliputi perspektif makro, meso dan mikro. Sejalan dengan pemikiran tersebut bahwa raod map mestinya selaras dengan pengembangan kapasitas kelembagaan secara sistem. Bahwa pengembangan kapasitas dapat diorientasikan pada beberapa hal yang berbeda yaitu kapasitas individu (sumber daya manusia), organisasi dan pengembangan kapasitas kelembagaan. Kapasitas dalam uraian sebelumnya dipahami sebagai kemampuan untuk menampilkan dan menyelesaikan tugas yang tepat secara efektif, efisien dan berkesinambungan maka kapasitas kelembagaan dapat dipahami sebagai kemampuan dari lembaga untuk menjalankan tugas sebagaimana yang menjadi bidangnya dengan performa yang efektif, efisien dan berkelanjutan dengan kesediaan lembaga untuk terus meningkatkan kondisi tersebut. 3. Pengembangan (Kapasitas) Kelembagaan Seperti dipahami bahwa pengembangan kapasitas dapat diorientasikan pada beberapa hal yang berbeda yaitu kapasitas individu (sumber daya manusia), organisasi dan pengembangan kapasitas kelembagaan. Kapasitas dalam uraian sebelumnya dipahami sebagai kemampuan untuk menampilkan dan menyelesaikan tugas yang tepat secara efektif, efisien dan berkesinambungan maka kapasitas kelembagaan dapat dipahami sebagai kemampuan dari lembaga untuk menjalankan tugas sebagaimana yang menjadi bidangnya dengan performa yang efektif, efisien dan berkelanjutan dengan kesediaan lembaga untuk terus meningkatkan kondisi tersebut. Tentu saja untuk mencapai derajat kemampuan kelembagaan sebagaimana yang diinginkan, terdapat banyak segi atau unsur dari kemampuan lembaga yang harus dioptimalkan. Berkaitan dengan pemahaman akan institutional capacity ini Willems (2003) menyatakan: Institutional capacity is often considered as a vague, fuzzy concept. Actually, as we will see, this notion refers to quite specific features. However, it is indeed difficult to determine the most important aspects of capacity, because they all seem important. Why is it so? One way to explain this is to

say that a countrys capacity stems more from the interrelationships within that countrys institutional system, rather than from particular elements of that system. There has been an increasing focus on this systemic aspect of capacity in recent years. This aspect can be further illustrated in the following subsections, which describe respectively the different levels of capacity, which are interdependent, and the different phases of the policy process, which are also interconnected. Institutional capacity sering dipertimbangkan sebagai konsep yang kabur, samar dan ini menimbulkan kesulitan untuk menentukan aspek-aspek yang paling penting dari kapasitas karena semua aspek tersebut terlihat sama pentingnya. Konsep institutional capacity merupakan konsep yang terus berkembang. Hal ini juga ditegaskan oleh Segnestam (dalam Willem, 2003): The concept of institutional capacity has evolved over the years: the concept of institutional capacity is a moving target since the field has evolved over the years from an initial focus on building and strengthening individual organisations and providing technical and management training to support integrated planning and decision-making processes between institutions. Today, institutional capacity often implies a broader focus of empowerment, social capital, and an enabling environment, as well as the culture, values and power relations that influence us. Luasnya fokus yang diarahkan pada upaya pengembangan kapasitas kelembagaan tidak terlepas dari batasan institusional itu sendiri yang tidak saja mencerminkan persoalan individual dan organisasi, tetapi juga persoalan nilai, norma yang membentuk pola atau struktur tindakan oleh individu dan organisasi. Willem (2003) menegaskan bahwa: The concept of institutional capacity actually sheds some light on this broader notion of capacity. Institutions are not only discrete organisations (e.g., government agencies), but also, more generally, sets of rules, processes or practices that prescribe behavioural roles for actors, constrain activity, and shape expectations). Institutions are durable; they are sources of authority (formal or informal) that structure repeated interactions of individuals, companies, civil society groups, governments and other entities. Thus, institutional capacity represents a broader enabling environment which forms the basis upon which individuals and organisations interact. In this context, training individuals and strengthening organisations can only succeed in the long term if it is consistent with existing institutions, or if it helps transform these institutions, so that actions are based on rules, processes and practices that can be sustained through time. Kerangka kerja penilaian kapasitas kelembagaan umumnya membedakan Institutional capacity ke dalam tiga level yakni level mikro, yakni tataran individual, level meso, yang merupakan tataran organisasi, level makro, yakni konteks institusi yang luas. Level institusional sendiri terdiri dari tiga level yang berbeda yakni

jaringan organisasi, tatanan sektor publik atau jaringan regulasi, dan level norma sosial, nilai dan tindakan. Penjelasan ini dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 1 Level Kapasitas Institusional

Sumber: Segnestam, dalam Willems (2003) Tekanan pada level individual adalah bagaimana individu dalam organisasi dapat meningkatkan kemampuannya sehingga memberi kontribusi terhadap kapasitas pada level di atasnya. Willem (2003) memberi penegasan ini dengan menyatakan: The performance of individuals in their functions is the basis for the success of any action or policy. Are these individuals motivated? Do individuals have a job with a clear mission? Do they have the skills that correspond to their jobs? Is training available? Do they have right incentives, either financial or non-financial, in terms of responsibility or career progression? To some extent, motivation is a very personal issue. In many cases, individuals want to perform well and take on new challenges, even in a difficult context, because it gives meaning to their lives. However, many aspects of individual performance are related to capacity issues at higher levels. Kemudian, mengenai kapasitas pada level organisasi, Willems (2003) memaparkan beberapa pertanyaan yang dapat menjadi fokus, yaitu Apakah organisasi memilki misi yang jelas dan dapat bersaing? Apakah organisasi memiliki sumber daya yang tepat dan praktek manajemen yang sesuai dengan misi? pernakah mereka mengadopsi misi yang baru dengan adaptasi struktur manajemen? apakah manajemen tingkat atas memperoleh informasi yang tepat oleh staff teknis? sebaliknya apakah staff teknis didukung oleh manajemen atas? ini adalah beberapa isu yang mempengaruhi tampilan/ kinerja organisasi). Kemampuan membentuk network atau kerjasama antar organisasi menuntut kemampuan khusus dari

organisasi. Hal ini menuntut kemampuan untuk mengelola isu-isu secara horizontal antar organisasi, tidak hanya vertikal. Terdapat beberapa faktor yang terlihat kritis atas kinerja network seperti: kemampuan memastikan partisipasi dari aktor-aktor kunci, kemampuan dari aturan prosedur dan penyediaan keuangan untuk jaringan itu sendiri, alokasi yang tepat tentang tanggung jawab, kewenangan organisasi menunjang koordinasi dan juga yang terpenting stabilitas dari susunan institusional. Sebagaimana telah disebutkan bahwa level institusional juga terkait dengan aspek tatanan sektor publik dan kerangka kerja kebijakan. Dalam bagian ini Segnestam (2002) menyatakan: The actions of individuals, organisations, or networks of organisations are embedded in a wider institutional context, i.e., the public sector setting as well as the body of laws and regulations that exists in the country. Generally, the overall effectiveness of the public sector in fulfilling its main functions, in other words public governance, is key to the effectiveness of any specific policy. In fact, most of the capacity that is specifically developed for a particular policy, is likely to draw on this enabling environment that exists to some extent before any specific policy is set up. There are different dimensions of public governance that are relevant for discussing institutional capacity. Tindakan dari individu, organisasi atau jaringan organisasi terpancang dalam konteks institusional yang luas. Umumnya, efektivitas sektor publik dalam memenuhi fungsinya adalah kunci efektivitas bagi beberapa kebijakan. Terdapat beberapa dimensi dari sektor publik yang terkait dengan kapasitas kelembagaan, yang oleh Willems (2003) disebutkan sebagai berikut: First, the political economy, i.e. the way governments are selected, monitored and replaced, as well as the way political institutions take decisions on policy issues, has major implications on governance. Political instability or a weak government usually makes it very difficult for a country to implement sound policies, including climate change policies. Second, the ability of citizens, groups and associations to make their voice heard, monitor governments actions and participate in the decision making process is increasingly seen as essential for good governance. In turn, this ability depends on the availability of political rights and civil liberties, including media independence, as well as on the ability of government to provide transparent information. Third, the quality of the civil service and its overall ability to implement sound and coherent policies forms the background for the success of any policy, Fourth, the rule of law refers to the respect of the citizens for the rules of society and, more specifically, to the effectiveness of the judiciary, the enforceability of contracts, the incidence of crime, as well as the control of corruption. If capacity is weak at this level, the challenge of developing capacity becomes a challenge of a completely different scale. It is no longer dependent on initiatives that arise from a particular policy context. Here, wider initiatives, such as public sector reform, or initiatives to improve the effectiveness of the judiciary, are needed.

Referensi: Bo Carlsoon, Staffan Jacobsson, Magnus Holmen, Annika Rickne, Innovation systems: analytical and methodological issues, Konferensi DRUID, Denmark, 1999, ELSESIER, 2002 Charles Edquist, The Systems of Innovation Approach and Innovation Policy: An account of the state of the art, DRUID Conference, Aalborg, June 2001, hal 6 Edquist, C. and Johnson, B. (1997). Institutions and organisations in systems of innovation, in C. Edquist (ed.) Systems of Innovation: Technologies, Institutions and Organizations.London and Washington: Pinter/Cassell Academic Lakitan, B. 2011. Indikator Kinerja Lembaga Litbang di Era Informasi Terbuka. Makalah pengarahan pada Temu Peneliti Badan Litbang dan Diklat VIII Kementerian Agama RI di Makassar tanggal 12-15 April 2011 Lakitan, B. 2011. National Innovation System in Indonesia: Present status and challenges. Keynote paper Presented at the Annual Meeting of Science and Technology Studies, Tokyo Institute of Technology, June 2011 Lakitan, B. 2012. Penguatan Kapasitas Lembaga Litbang: Strategi untuk Indonesia. Keynote Speech pada Stakeholders Meeting II Lembaga Administrasi Negara (LAN), Pengembangan Kapasitas Kelitbangan Bidang Administrasi Negara, Jakarta 27-28 November 2012 Muluk, M.R. Khairul.2008. Knowledge Management: Kunci Sukses Inovasi Pemerintahan Daerah. Bayumedia: Malang Osborne, Stephen and Kerry Brown.2005. Managing Change and Innovation in Public Service Organization, Routledge: New York Segnestam, Persson. 2002, Country Environment Analysis, A Review of International Experience, Stockholm Environment Institute, Viale, R. and Etzkowitz, H. (2005). Third Academic Revolution: Polyvalent Knowledge; the DNA of the Triple Helix. Paper presented at the Triple Helix 5: The Capitalization of Knowledge: Cognitive, Economic, Social and Cultural Aspects,Turin, Italy. Wangwe, Samwel. 2001. Human Resource and Institutional Development In Africa : An Overview, Economic and Social Research Foundation Willems, Stephane. 2003. Institutional Capacity and Climate Actions, Organization for Economic Co-operation and Development, Paris