Anda di halaman 1dari 11

Jenis-jenis Frasa dan Contohnya: Frasa dapat ditinjau dari dua segi, yaitu : 1. a.

Dari segi sifat hubungan konstituen. Frase endosentrik adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya.

contohnya : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Susi, anak Pak Saleh, sangat pandai. Matahari diufuk barat hampir terbenam. Paman dan bibi sudah lama tidak megunjungi kami. Kerbau, lembu, dan kambing adalah hewan piaraan. Siapa yang harus pergi, saya atau Anda? Anak nakal itu dihukum gurunya. Sampai sekarang adik belum pulang. Anak-anak itu akan memancing. Cita-citanya tinggi sekali.

10. Rumah besar itu sudah dijual. b. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Frase eksosentrik ialah frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya. Gadis cantik jelita menari di panggung. Ani melambaikan tangannya kepada penari. Gadis cantik menari, kekasihku Ani melambaikan tangannya. Waktu ayahku datang, Ibu memasak di dapur. Ketika tamu sudah berdatangan, para petugas sibuk sekali Waktu turun hujan lalu lintas sepi. Saya pergi ke dokter, karena badan tidak sehat Kita akan lulus ujian, bila rajin belajar. Ia belum yakin, bahwa anaknya lulus.

10. Amir tidak pergi ke sekolah, karena sakit.

2. a. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Dari segi kategori gramatikalnya. Frasa Nominal (FN) dan Frasa Pronominal (Fpro) Frasa Nominal (FN) adalah frasa endosentris berinduk satu yang induknya nomina, contohnya: Ani sangat bangga menggunakan produk dari dalam negeri Pohon cemara itu tinggi itu meliuk-liuk terkena tiupan angin Kami mendengar pidato presiden. pidato presiden kami dengarkan Ani membeli buku bahasa Indonesia. Ia menyaksikan ombak memutih. Ayah membeli kerbau dua ekor. Ayah Amir adalah seorang guru sekolah dasar Udara pagi ini sangat segar dan bebas dari polusi

10. Ani meminjam buku Budi untuk mengerjakan soal-soal bahasa Indonesia Frasa pronominal (Fpro) adalah frase endosentris berinduk satu yang induknya pronomial, contohnya: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Saya sendiri akan pergi ke pasar Kami sekalian akan bekunjung ke Tator Kamu semua akan pergi studi wisata di Tator Ia akan kesekolah hari ini Buku harian itu milik Hendra Ia menggunakan seragam sekolah yang bersih kesekolah Itu salah satu contoh yang baik untu ditiru Bukan itu yang saya mau, tapi yang ini Mereka itu sangat malas belajar

10. Seragam sekolahnya itu dia beli dipasar b. Frasa verbal (FV) adalah frasa endosentris berinduk satu yang induknya verba dan modifikatornya (pewatasnya) berupa partikel modal, partikel ingkar, frasa adverbial, atau adverbial, contohnya: 1. Andi datang bersama teman kelasnya

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Untuk ke Jakarta, kita harus naik kereta api dari Jogjakarta Anto bekerja sebagai salesman di perusahaan itu Pesawat itu akan mendarat. Pemuda itu sering merayu. Ani sudah makan. Murid-murid sering makan dan minum di kantin. Kami boleh menyanyi atau menari. Amir sedang membaca Koran.

10. Anak itu bermain lompat tali. c. Frasa adjectival (FA) adalah frase endosentris berinduk satu yang induknya adjektiva dan modifikatorya (pewatasnya) adverbial. Contohnya : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Buku itu terlalu banyak. Gedung baru itu sangat megah. Bunga itu sangat indah. Ani menyanyi dengan gembira. Bunga itu warnanya merah jambu. Anak itu bodoh sekali. Pohon kelapa itu tinggi sekali. Ibu membeli baju putih. Bapak menjual mobil tua itu.

10. Ani tidak masuk sekolah, ia sakit kera d. Frasa adverbial (FAdb) adalah frasa endosentris berinduk satu yang induknya adverbial dan modifikatornya (pewatasnya) adverbial lain atau partikel contohnya : 1. 2. 3. 4. 5. Dia kurang pandai bergaul di lingkungan tempat tinggalnya. Kemampuan siswa saya dalam mengarang berada pada kategori hampir baik. Jarak rumah ke kantornya lebih kurang dua kilometer. Didorong dengan keras Buku itu miliknya

6. 7. 8. 9.

Ayahnya seorang guru Adri baru naik kelas Kelas itu sangat kotor Dia akan pergi ke permandian air panas

10. Pohon kelapa itu sangat tinggi e. Frasa numeral (FN) atau frasa bilangan adalah frasa endosentris direktif dan nondirektif. Contohnya: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Mereka memotong dua puluh ekor sapi kurban. Orang itu menyumbang pembangunan jalan dua juta rupiah. Lima atau enam orang bertopeng melintasi kegelapan pada gang itu. Entah tiga, entah empat kali dia sudah meminjam uang saya. Andi memiliki lima orang saudara Hewan qurban kali ini berjumlah 50 ekor Kakak kelima andi bernama Isra Kedua bersaudara itu sangat akur Aku telah memberinya kesempatan kedua, tapi dia selalu menyia-nyiakannya

10. Ksempatan hanya datang sekali dalam hidup

Frasa berdasarkan jenis/kelas kata Frasa Nomina Frasa Nomina adalah kelompok kata benda yang dibentuk dengan memperluas sebuah kata benda. Frasa nominal dapat dibedakan lagi menjadi 3 jenis yaitu : Frasa Nomina Modifikatif (mewatasi), misal : rumah mungil, hari senin, buku dua buah, bulan pertama, dll. Frasa Nomina Koordinatif (tidak saling menerangkan), misal : hak dan kewajiban, sandang pangan, sayur mayur, lahir bathin, dll. Frasa Nomina Apositif Contoh frasa nominal apositif : a). Jakarta, Ibukota Negara Indonesia, sudah berumur 485 tahun. b). Melati, jenis tanaman perdu, sudah menjadi simbol bangsa Indonesia sejak lama. c). Banjarmasin,Kota Seribu Sungai, memiliki banyak sajian kuliner yang enak.njadi tempat

Frasa Verbal Frasa Verbal adalah kelompok kata yang terbentuk dari kata kata kerja. Kelompok kata ini terbagi menjadi 3 macam, yaitu : Frasa Verbal Modifikatif (pewatas), terdiri atas pewatas belakang, misal : a). Ia bekerja keras sepanjang hari. b). Kami membaca buku itu sekali lagi. Pewatas depan, misal : a). Kami yakin mendapatkan pekerjaan itu. b). Mereka pasti membuat karya yang lebih baik lagi pada tahun mendatang. Frasa Verbal Koordinatif adalah 2 verba yang digabungkan menjadi satu dengan adanya penambahan kata hubung 'dan' atau 'atau', Contoh kalimat : a). Orang itu merusak dan menghancurkan tempat tinggalnya sendiri. b). Kita pergi ke toko buku atau ke perpustakaan. Frasa Verbal Apositif yaitu sebagai keterangan yang ditambahkan atau diselipkan. Contoh kalimat : a). Pekerjaan Orang itu, berdagang kain, kini semakin maju. b). jorong, tempat tinggalku dulu, kini menjadi daerah pertambangan batubara.

Frasa Ajektifa Frasa ajektifa ialah kelompok kata yang dibentuk oleh kata sifat atau keadaan sebagai inti (diterangkan) dengan menambahkan kata lain yang berfungsi menerangkan, seperti : agak, dapat, harus, lebih, paling dan 'sangat. Kelompok kata ini terdiri dari 3 jenis, yaitu :

Frasa Adjektifa Modifikatif (membatasi), misal : cantik sekali, indah nian, hebat benar, dll. Frasa Adjektifa Koordinatif (menggabungkan), misal : tegap kekar, aman tentram, makmur dan sejahtera, dll Frasa Adjektifa Apositif, misal : a). Srikandi cantik, ayu menawan, diperistri oleh Arjuna. b). Desa Jorong, tempat tinggalku dulu, kini menjadi daerah pertambangan batubara. Frasa Apositif bersifat memberikan keterangan tambahan. Frasa Srikandi cantik dan Desa Jorong merupakan unsur utama kalimat, sedangkan frasa ayu menawan, dan tempat tinggalku dulu, merupakan keterangan tambahan.

Frasa Adverbial Frasa Adverbial ialah kelompok kata yang dibentuk dengan keterangan kata sifat. Frasa ini bersifat modifikasi (mewatasi), misal : sangat baik kata baik merupakan inti dan kata sangat merupakan pewatas. Frasa yang bersifat modifikasi ini contohnya ialah agak besar, kurang pandai, hampir baik, begitu kuat, pandai sekali, lebih kuat, dengan bangga, dengan gelisah. Frasa Adverbial yang bersifat koordinatif (yang tidak menerangkan), contoh frasanya ialah lebih kurang kata lebih tidak menerangkan kurang dan kurang tidak menerangkan lebih. Frasa Pronominal Frasa Pronominal ialah frasa yang dibentuk dengan kata ganti, frasa ini terdiri atas 3 jenis yaitu : Modifikatif, misal kalian semua, anda semua, mereka semua, mereka itu, mereka berdua. Koordinatif, misal engkau dan aku, kami dan mereka, saya dan dia. Apositif, misal : a). Kami, putra-putri Indonesia, menyatakan perang melawan narkotika.

Frasa Numeralia Frasa Numeralia ialah kelompok kata yang dibentuk dengan kata bilangan. Frasa ini terdiri atas : Modifikatif, contoh : a). Mereka memotong dua puluh ekor sapi kurban. b). Kami membeli setengah lusin buku tulis. Koordinatif, contoh : a). Entah dua atau tiga sapi yang telah dikurbankan. b). Dua atau tiga orang telah menyetujui kesepakatan itu.

Frasa Interogativ Koordinatif ialah frasa yang berintikan pada kata tanya. contoh : a). Jawaban dari apa atau siapa ciri dari subjek kalimat. b). Jawaban dari mengapa atau bagaimana merupakan pertanda dari jawaban predikat. Frasa Demonstrativ Koordinatif ialah frasa yang dibentuk oleh dua kata yang tidak saling menerangkan. contoh : a). Saya tinggal di sana atau di sini sama saja. b). Kami pergi kemari atau kesana tidak ada masalah. Frasa Preposisional Koordinatif ialah frasa yang dibentuk oleh kata depan yang tidak saling menerangkan. contoh : a). Petualangan kami dari dan ke Jawa memerlukan waktu satu bulan. b). Perpustakaan ini dari, oleh, dan untuk masyarakat umum.

Frasa berdasarkan fungsi unsur pembentuknya Berdasarkan fungsi dari unsur pembentuknya frasa terdiri dari beberapa macam, yaitu : Frasa Endosentris yaitu frasa yang unsur-unsurnya berfungsi untuk diterangkan dan menerangkan (DM) atau menerangkan dan diterangkan (MD). contoh frasa : kuda hitam (DM), dua orang (MD). Ada beberapa jenis frasa endosentris, yaitu : Frasa atributif yaitu frasa yang pola pembentuknya menggunakan pola DM atau MD. contoh : Ibu kandung (DM), tiga ekor (MD). Frasa apositif yaitu frasa yang salah satu unsurnya (pola menerangkan) dapat menggantikan kedudukan unsur intinya (pola diterangkan). contoh : Farah si penari ular sangat cantik., kata Farah posisinya sebagai diterangkan (D), sedangkan si penari ular sebagai menerangkan (M). Frasa koordinatif yaitu frasa yang unsur-unsur pembentuknya menduduki fungsi inti (setara). contoh : ayah ibu, warta berita, dll. Frasa eksosentris yaitu frasa yang salah satu unsur pembentuknya menggunakan kata tugas. contoh : dari Bandung, kepada teman, di kelurahan, dll.

Frasa Berdasarkan satuan makna yang dikandung/dimiliki unsur-unsur pembentuknya Untuk kategori frasa berdasarkan satuan makna yang dikandung atau yang dimiliki unsur-unsur pembentuknya dapat dibagi menjadi beberapa frasa, yaitu : Frasa biasa yaitu frasa yang hasil pembentukannya memiliki makna yang sebenarnya (denotasi). contoh kalimat : a) Ayah membeli kambing hitam; b) Meja hijau itu milik ayah. Frasa idiomatik yaitu frasa yang hasil pembentukannya menimbulkan/memiliki makna baru atau makna yang bukan sebenarnya (konotasi). contoh kalimat : Orang tua Lintang baru kembali dari Jakarta.

1. Kelas kata Menurut Abdul Chaer dalam buku Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia halaman 86-194. 1. Kata Benda 2. Kata Ganti 3. Kata Kerja 4. Kata Sifat 5. Kata Sapaan 6. Kata Petunjuk 7. Kata Bilangan 8. Kata Penyangkal 9. Kata Depan 10. Kata Penghubung 11. Kata Keterangan 12. Kata Tanya 13. Kata Seru 14. Kata Sandang 15. Kata Partikel 2. Ciri-Ciri Kelas Kata 2.1. Kata Benda a. Berawalan pe-, seperti pemuda, pemenang, dan penyair. b. Berakhiran an, seperti bendungan, bantuan dan asuhan. c. Berakhiran nya, seperti besarnya, naiknya, dan jauhnya. d. Berimbuhan gabung pe-an, seperti pembangunan, pengembangan, dan pelebaran. e. Berimbuhan gabungan per an, seperti pertemuan, pertambangan dan persatuan. f. Berimbuhan gabung ke-an, seperti keadilab, kebijaksanaan dan kekayaan. g. Kata yang diikuti dengan frase yang . atau yang sangat misalnya : jalan (yang bagus), pemuda (yang sangat rajin). 2.2. Kata Kerja a. Kata-kata yang dapat diikuti oleh frasa dengan .., baik yang menyatakan alat, yang menyatakan keadaan, maupun yang menyatakan penyerta, disebut kata kerja, misalnya: Pergi (dengan adik) Berjalan (dengan gembira) Menulis ( dengan musuh) b. Kata kerja dasar seperti : pergi, pulang, tulis, tanya dll. c. Kata kerja berimbuhan sesperti: - awalan Me-, seperti kata-kata menulis, membaca dan melihat. - awalan ber-, seperti kata-kata berdiri, berlatih dan berkuda - awalan di-, seperti pada kata-kata ditulis, dibaca, dan dilihat - awalan ter-, seperti pada kata-kata tertulis, terbaca, dan terlihat - awalan per-, seperti pada kata-kata perpanjang, percepat, dan persingkat - awalan kan, seperti pada kata-kata tuliskan, abacakan, dan damaikan - awalan i, seperti pada kata-kata tulisi, datangi dan diami. 3. Ciri-Ciri Kata Ganti 1. Kata ganti orang pertama (mengganti diri orang yang berbicara): - saya - Aku ku - Kami

- Kita Contoh : Adik bertanya kepada paman, Paman, bolehkah saya kerumah Paman? (saya = adik) 2. Kata ganti orang kedua (mengganti orang yang diajak bicara) - Kamu - Engkau - Anda - Kalian Contoh : Mengapa kemarin kamu tidak sekolah? tanya Hasan pada Ali temannya sekelas. Kata ganti orang ketiga (mengganti diri orang yang dibicarakan) - Ia - Dia - - nya - Beliau - Mereka - Mendiang - Almarhum Contoh : Hasan adalah murid baru dikelas V. Ia tinggal di Jalan Surabaya. ( Ia = Hasan) 4. Ciri-Ciri Kata Sifat 1. Kata-kata yang dapat diikuti dengan kata keterangan sekali serta dapat dibentuk menjadi kata yang berimbuhan se / -nya. Contoh : - indah ( indah sekali, seindah-indahnya) - Bagus ( bagus sekali, sebagus-bagusnya) 2. Tempat kata sifat pada tingkat frase adalah dibelakang kata benda yang sifatnya, misalnya besar, indah dan kecil. Contoh : rumah besar, pemandangan indah. 3. Dalam gabungan kata berupa idiom kata sifat dapat menduduki posisi awal atau berada dimuka kata benda. Misalnya : Panjang tangan, yang berarti pencuri. 4. Gabungan kata bermakna perbandingan, kata sifat tersebut terletak dimuka kata benda. Misalnya merah delima, manis jambu. 5. Pada tingkat klausa/ kalimat kata sifat dapat menduduki fungsi, predikat, seperti : anak itu nakal, adikku gemuk sekali 5. Ciri-Ciri Kata Sapaan. Kata sapaan itu tak mempunyai penbendaharaan kata sendiri tetapi menggunakan kata-kata dari perbendaharaan nama diri dan kata nama perkerabatan. Contoh: San (Bentuk untuh : Hasan) Li (Bentuk utuh : Ali) Pak (Bentuk utuh Bapak) Yah (Bentuk utuh Ayah) 6. Ciri-Ciri Kata Penunjuk 1. Ini : digunakan untuk menunjuk kata benda yang letaknya relatif dekat dengan si pembicara 2. Itu : digunakan untuk menunjuk benda yang letaknya relatif jauh, contoh : Itu si Unyil, mobil itu di jual. 7. Ciri-Ciri Kata Bilangan Kata yang menyatakan jumlah, nomor, urutan, atau kumpulan. Contoh : Kata bilangan utama satu, dua, tiga sebelas. Kata bilangan tingkat pertama, kedua, kesebelas.

Kata bantu bilangan, seseorang, dua buah, seekor dan lain-lain. Kaya bantu bilangan lain, setanggai, setandan, sehelai dan lain-lain. 8. Ciri-Ciri Kata Penyangkal Kata penyangkal dalam Bahasa Indonesia adalah: - Tiada, tak = saya tidak mengambil bukumu. - Tiada, didaerah itu tiada air - Bukan, ini bukan mangga. - Tanpa, tanpa saya dia tak mau pergi. 9. Ciri-Ciri Kata Depan Kata yang digunakan di muka kata benda untuk menghubungkan kata dengan klausa dengan klausa/kalimat dengan kalimat. Contoh kata depan: 1. Tempat berada: di, pada, dalam, atas dan antara. 2. Arah asal : dari 3. Arah tujuan: ke, kepada, akan dan terhadap. 4. Pelaku : oleh 5. Alat : dengan dan berkat. 6. Perbandingan : daripada 7. Hal/ masal : tentang, mengenai. 8. Akibat : hingga, sampai 9. Tujuan : untuk, buat. Guna dan bagi. 10. Demi dan menurut. 10. Ciri-Ciri Kata Penghubung Kata ini digunakan untuk menghubungkan kata dengna klausa dengan klausa/kalimat dengan kalimat. Contoh: 1. Untuk akta penghubung sederajat: dan, dengan, serta atau, sedangkan, selanjutnya, adalah dan lain-lain. 2. Untuk penghubung tak sederajat : sebab, jika, bila, sebagai, sehingga, sesudah dan lainlain. 11. Ciri-Ciri Kata Keterangan Kata ini memberi penjelasan pada kalimat/bagian kalimat lain yang sifatnya tak menerangkan keadaan/ sifat. 1. Kepashan yaitu kata, memang, pasti, justru. 2. Keraguan/kesangsian yaitu kalau, barangkali, mungkin, kiranya, rasanya, agaknya, rupanya. 3. Harapan, yaitu kata-kata, seringkali, sekali-sekali, sesekali, acapkali, jarang. 12 . Ciri-Ciri Kata Tanya Kata ini digunakn sebagai pembantu, didalam kalimat yang menyatakan pertanyaan. Contoh: apa, siapa, mengapa, kenapa, bagaimana, berapa , mana, kapan, bila, bilamana. 13. Ciri-Ciri Kata Seru Kata yang digunakan untuk menggungkapkan perasaan bahwa, misalnya: Karena kaget, terharu, marah, kagum, sedih dan lain-lain. Contoh : Kata seru berupa kata-kata singkat : wah, cih, hai, o, nah, na, dan hah. - Kata serupa berupa kata-kata biasa: aduh, celaka gila, kasihan, bangsat ya ampun. - Kata seru serapan: astaga, masya allah, alhamdulillah.

14. Ciri-Ciri Kata Sandang Dalam bahasa Indonesia kata sandang digunkan menjadi penentu didepan kata nama diri, kata perkerabatan, kata sifat, Sri dan Sang. Contoh: Itu Si Hasan Sang kancil telah sampai duluan. 15. Ciri-Ciri Kata Partikel Kata yang digunakan untuk penegasan 1. kah (menegaskan). Contoh: Apakah isi lemari ini Cukupkah uang itu 2. tah (digunakan pada akhir kata tanya dalam kalimat tanya). Contoh: Apatah dayaku menghadapi cobaan 3. lah (menghaluskan dalam kalimat perintah). Contoh: Keluarkanlah buku tulismu. 4. pun (penegasan). Contoh: saya tak tahu, dia pun tidak tahu. 5. per- (menyatakan makna setiap atau mulai) Contoh: Harganya Rp. 1.000,00 perlembar.