Anda di halaman 1dari 24

ANALISIS PEMANIS BUATAN (SAKARIN DAN SIKLAMAT) DALAM JAMU GENDONG DI PASAR MANONDA PALU

OLEH : ATHIYAH G 701 11 003

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS TADULAKO PALU 2013

DAFTAR ISI

Daftar Isi

........................................................................................

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ................................................................. 1 2 2 3

B. Rumusan masalah ...................................................................... C. Tujuan........................................................................................ D. Manfaat .....................................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Bahan Tambahan Pangan .......................................................... B. Pemanis ..................................................................................... C. Jamu............................................................................................ 4 5 12

BAB III METODE PENELITIAN A. Alat dan Bahan .......................................................................... 1. Alat ...................................................................................... 2. Bahan ................................................................................... B. Waktu Penelitian ....................................................................... C. Tempat Penelitian ...................................................................... D. Analisis Data ............................................................................. 1. Pengolahan Data .................................................................. 2. Analisis data ........................................................................ E. Rencana Penelitian .................................................................... F. Metode kerja .............................................................................. G. Skema kerja ............................................................................... Daftar pustaka ........................................................................................ 14 14 14 15 15 15 15 15 15 16 18 21

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan adalah suatu hal yang sangat berharga dalam hidup. Salah satu yang dilakukan untuk menjaga kesehatan adalah dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi. Dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi akan mampu memberikan efek yang baik bagi tubuh. Sementara dengan mengkonsumsi makanan yang tidak mengandung nilai gizi akan memberikan efekyang tidak baik bagi tubuh. Maka dari itu setiap makanan atau minuman yang dikonsumsi harus benar-benar dicermati.

Untuk bisa memberikan kebutuhan gizi yang tercukupi, masyarakat biasanya mengkonsumsi tambahan suplemen. Suplemen merupakan suatu tambahan

multivitamin yang bisa berupa tablet, serbuk sachet, atau dalam bentuk cair (minuman). Bagi masyarakat yang berada dipedesaan, keberadaan suplemen sangatlah asing, yang mampu mereka lakukan untuk bisa mencukupi kebutuhan gizi dan menjaga kesehatannya adalah dengan mengganti suplemen dengan obat-obatan tradisional seperti jamu.

Jamu merupakan minuman tradisional yang diramu khusus dari tumbuhan tertentu untuk kesehatan manusia. Jamu dibuat dari bahan-bahan alami, berupa bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akar-akaran), daun-daunan dan kulit batang, maupun buah. Jamu diolah dengan cara tradisional yang sederhana yaitu diolah dengan cara direbus (digodhog) dan kemudian diperas. Setiap penjual jamu berbeda-beda terhadap jamu yang dijualnya karena dibuat sendiri dan terkenal dengan sebutan jamu gendong karena dijual dengan cara di gendong. Masyarakat luas masih percaya bahwa dengan mengkonsumsi jamu tidak akan menimbulkan efek samping. Ini dikarenakan dalam jamu tidak adatambahan bahan-bahan kimia sehingga efek samping dari pengkonsumsian jamudirasa tidak ada.

Namun, seiring perkembangan teknologi, jamu dalam skala industri juga dimanfaatkan oleh penjual jamu untuk turut serta menjualnya sebagai tambahan untuk dijual bersama-sama jamu gendong yang mereka jual. Sehingga memberikan pengaruh

pengaruh terhadap jamu gendong yang dijual. Penggunaan bahan tambahan merupakan salah satu faktor ketidaknyamanan terhadap jamu akhir akhir ini. Salah satunya yaitu pemanis buatan yang berfungsi untuk menambah rasa manis. Pemanis buatan yang banyak digunakan yaitu berupa sakarin dan siklamat. Sakarin dalam pengkonsumsian yang lebih mampu memutuskan plasenta pada bayi, menimbulkan alergi pada anak-anak dan memacu pertumbuhan tumor karsinogen. Sedangkan siklamat juga mengganggu kesehatan, diantaranya tremor (penyakit syaraf), migrain dan sakit kepala, kehilangan daya ingat, bingung, insomnia, iritasi, asma, hipertensi, diare, sakit perut,alergi, impotensi dan gangguan seksual, kebotakan, dan kanker otak.

Sakarin dan siklamat merupakan pemanis buatan yang tidak berkalori dan sangat dianjurkan dikonsumsi bagi orang yang sedang diet.Namun apakah tepat jika sakarin dan siklamat ini dikonsumsi bagi orangyang tidak sedang diet dan dalam keadaan kesehatan yang normal. Sesuatuhal yang digunakan tidak pada tempatnya pasti akan memberikan hasilyang tidak baik, termasuk pengkonsumsian sakarin dan siklamat oleh masyarakat secara umumnya. Dampaknya bisa mengakibatkan efek kesehatan sebagaimana diatas. Melihat kerusakan dalam tubuh begitu berbahayanya efek sakarin dan siklamat, pengkonsumsian makanan dan minuman harus dicermati. Terlebih pada jamu, jamu yang merupakan suatu obat jangan sampai menjadi racun karena terdapatnya sakarin dan silamat dalam jamu.

B. Rumusan Masalah 1. Apakah jamu gendong yang beredar di Pasar Manonda Palu mengandung pemanis buatan (sakarin atau siklamat)? 2. berapa kadarpemanis buatan (sakarin atau siklamat)dalam jamu gendong yang beredar di Pasar Manonda Palu mengandung?

C. Tujuan 1. Mengetahui ada atau tidaknya kandungan pemanis buatan (sakarin atau siklamat) pada jamu gendong yang beredar di Pasar Manonda Palu. 2. Mengetahui kadar pemanis buatan (sakarin atau siklamat) jika positif terdapat pada jamu gendong yang beredar di Pasar Manonda Palu.

D. Manfaat 1. Bagi Ilmu Kefarmasian

Dapat mengetahui kandungan pemanis buatan (sakarin atau siklamat) pada jamu gendong yang beredar di Pasar Manonda Palu.
2. Bagi Konsumen Dapat memberikan informasi ada atau tidaknya penambahan pemanis buatan (sakarin atau siklamat) pada jamu gendong. 3. Bagi Peneliti Dapat menambah pengetahuan tentang bahaya penggunaan bahan kimia pada jamu gendong yang beredar di Pasar Manonda Palu.

BAB II LANDASAN TEORI

A. Bahan Tambahan Pangan 1. Pengertian Bahan Tambahan Pangan Bahan tambahan pangan adalah suatu bahan yang keberadaannya sudah meluas di masyarakat. Keberadaan bahan tambahan pangan yang sudah meluas tidak membuat masyarakat memahami betul penggunaan dan pemanfaatan bahan tambahan pangan. Bahan tambahan pangan merupakan bahan yang digunakan sebagai bahan tambahan dalam pangan. Pangan sendiri tidak terbatas pada makanan tetapi juga bisa berupa minuman (Anonim, 2011). Adapun pengertian dari bahan tambahan pangan sendiri antara lain: a) Bahan tambahan pangan adalah suatu zat yang ditambahkan ke dalam suatu makanan yang mana bukan bagian dari gizi utama atau bahan-bahan dari makanan tersebut. b) Bahan tambahan pangan didefinisikan sebagai suatu zat yang tidak biasa digunakan sebagai bahan penyusun makanan itu sendiri,dengan sengaja digunakan untuk memenuhi suatu tujuan teknologi tertentuselama perlakuan atau proses, dan yang mana dengan tidak sengaja dan dengan teknik yang tidak dapat dihindari mungkin menghasilkan residu atau sisa di hasil akhir, yang tidak memberikan kerusakan kesehatan dan tidak mempunyai efek teknologi dalam hasil akhir c) Berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan RI No.772/Menkes/Per/IX/88 No.1168/Menkes/Per/X/1999 Bahan tambahan pangan adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai makanan dan biasanya bukan merupakan komponen khas makanan, mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang dengan sengaja ditambahkan ke dalam makanan untuk maksud teknologi pada pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan, pengepakan, pengemasan, dan penyimpanan.

2. Jenis-jenis bahan tambahan pangan Menurut Disrosier (1998), secara umum penggolongan bahan tambahan pangan terbagi menjadi 2 yaitu:

a) Bahan tambahan

pangan yang ditambahkan dengan sengaja ke dalam

makanan, dengan mengetahui komposisi bahan tersebut dan maksud penambahan itu dapat mempertahankan kesegaran, cita rasa, dan membantu pengolahan, sebagai contoh pengawet, pewarna, dan pengeras. b) Bahan tambahan pangan yang tidak sengaja ditambahkan, yaitu bahan yang tidak mempunyai fungsi dalam makanan tersebut, terdapat secara tidak sengaja, baik dalam jumlah sedikit atau cukup banyak akibat perlakuan selama proses produksi, pengolahan, dan pengemasan. Bahan ini dapat pula merupakan residu atau kontaminan dari bahan yang sengaja ditambahkan

3. Tujuan penggunaan bahan tambahan pangan Menurut Anonim (2011), bahan tambahan pangan yang digunakan hanya dapat dibenarkan apabila: a) Dimaksudkan untuk mencapai masing-masing tujuan penggunaan dalam pengolahan. b) Tidak digunakan untuk menyembunyikan penggunaan bahan yang salah atau yang tidak memenuhi persyaratan. c) Tidak digunakan untuk menyembunyikan cara kerja yang bertentangan dengan cara produksi yang baik untuk pangan. d) Tidak digunakan untuk menyembunyikan kerusakan bahan pangan.

B. Pemanis 1. Pengetian Pemanis Pemanis merupakan senyawa kimia yang sering ditambahkan dan digunakan untuk keperluan produk olahan pangan, industri, serta minuman dan makanan kesehatan. Pemanis adalah bahan tambahan makanan yang ditambahkan dalam makanan atau minuman untuk menciptakan rasa manis. Lidah adalah organ tubuh yang dapat membedakan rasa. Rasa manis dapat dirasakan pada ujung sebelah luar lidah. Rasa manis dihasilkan oleh berbagai senyawa organik,

termasuk alkohol, glikol, gula dan turunan gula. Sukrosa adalah bahan pemanis pertama yang digunakan secara komersial karena pengusahaannya paling ekonomis. Sekarang telah banyak diketahui bahwa bahan alami maupun sintetis bisa menghasilkan rasa manis. Bahan pemanis tersebut adalah karbohidrat,

protein, maupun senyawa sintetis yang bermolekul sederhana dan tidak mengandung kalori seperti bahan pemanis alami (Abdul Rohman, 2009).

2. Jenis-Jenis Pemanis Pemanis (gula) terbagi menjadi 2 berdasarkan proses pembuatannya, yaitu gula alami dan gula sintetis (buatan). a) Gula alami/pemanis alami Pemanis alami biasanya berasal dari tanaman. Tanaman penghasil pemanis yang utama adalah tebu (Saccharum officanarum L) dan bit (Beta vulgaris L). Kedua jenis tanaman ini sering disebut gula alam atau sukrosa. Selain sukrosa ada jenis pemanis alami lain yang sering digunakan antara lain: laktosa, maltose, galaktosa, D-Glukosa, D-Fruktosa, Sorbitol, Manitol, Gliserol, Glisina. Gula alami ini tidak mengandung vitamin, tidak ada serat kasar, hanya sejumlah kecil mineral, akan tetapi tetap mengandung kalori 394 kkal dalam setiap 100 gram bahan (Anonim, 2011).

Gula alami merupakan sumber kalori, semua bahan-bahan yang bernilai seperti vitamin dan mineral akan hilang selama proses pengolahan dan pemurnian. Sedangkan gula sintetis adalah bahan tambahan yang dapat memberikan rasa manis dalam makanan tetapi tidak memiliki nilai gizi. Gula sintetis adalah gula yang dibuat dengan bahan-bahan kimia di laboratorium atau dalam suatu industri dengan tujuan memenuhi produksi gula yang belum cukup dipenuhi oleh gula alami khususnya gula tebu.Contohnya: sakarin, siklamat, aspartam, dulsim, sorbitol sintetis dan nitro-propoksi-anilin (Anonim, 2011).

Menurut

peraturan

menteri

kesehatan

RI

Nomor

208/Menkes/Per/IV/1985di antara semua pemanis buatan hanya beberapa yang diizinkan penggunaannya. Pemanis buatan yang dimaksud adalah sakarin, siklamat dan aspartam dengan jumlah yang dibatasi dengan dosis tertentu.

Meskipun sakarin dan siklamat tergolong dalam bahan tambahan pangan yang diizinkan oleh pemerintah, namun kewaspadaan terhadap penggunaan jenis pemanis buatan tersebut perlu dilakukan. Mengingat tidak semua paham betul tentang bahan tambahan pangan, penggunaannya, dan pengolahan. Berbagai efek

negatif akan muncul jika penggunaan sakarin dan siklamat yang tidak sesuai aturan yang telah ditetapkan (Anonim, 2011).

3. Fungsi pemanis buatan Penggunaan pemanis buatan sudah sangat banyak dimanfaatkan dalam hampir semua pangan baik dalam makanan atau minuman. Menurut Agus (2009), pemanis buatan ditambahkan ke dalam bahan pangan mempunyai beberapa tujuan antara lain: a) Sebagai pangan penderita diabetes kelebihan gula darah. b) Memenuhi kebutuhan kalori rendah untuk penderita kegemukan. Seseorang yang gemuk akan berusaha untuk mengindari makanan makanan yang berasa manis. Gula dalam tubuh akan dimetabolisme dalam tubuh menjadi suatu energi atau kalori. Jika orang gemuk mengkonsumsi makanan makanan manis atau minuman manis maka akan menghasilkan energi atau kalori yang sangat banyak. Seandainya energi atau kalori ini tidak digunakan maka akan disimpan dalam tubuh dalam bentuk cadangan makanan yang biasanya berupa lemak. Kemudian jika konsumsi gula sudah dicukupi oleh zat lain maka energi sisa atau kalori sisa juga akan tetap disimpan dalam bentuk lemak. Agar orang gemuk tetap bisa menikmati rasa manis maka orang yang gemuk sebaiknya mengkonsumsi makanan atau minuman dengan gula pengganti yaitu berupa pemanis buatan. c) Sebagai penyalut/penutup obat Beberapa obat mempunyai rasa yang tidak enak, karena itu untuk menutupi rasa yang tidak enak dari obat tersebut biasanya dibuat obat yang bersalut dengan tambahan pemanis buatan. Pemanis buatan lebih sering digunakan untuk penyalut obat karena umumnya bersifat higroskopis dan tidak menggumpal. d) Menghindari kerusakan gigi Pemanis sintetis memiliki rasa manis yang lebih tinggi dari pemanis alami sehingga pemakaian pemanis sintetis lebih sedikit dari pemanis alami. Dengan jumlah pemanis sintetis yang digunakan lebih sedikit maka tidak merusak gigi. melitus karena tidak menimbulkan

e) Pada industri pangan, minuman, termasuk industri rokok, pemanis sintetis digunakan dengan tujuan untuk menekan biaya produksi, karena pemanis sintetis mempunyai tingkat rasa manis yang lebih tinggi juga harganya lebih murah dibandingkan dengan gula yang diproduksi di alam.

Penggunaan pemanis buatan sebenarnya ditujukan khusus bagi penderita diabetes ataupun konsumen dengan diet rendah kalori. Namun, dalam perkembangannya pemanis buatan digunakan pada makanan atau minuman yang dikonsumsi oleh masyarakat luas. Penggunaan sedikit bahan pemanis buatan mampu memberikan kemanisan yang berlipat-lipat dari kemanisan gula biasa. Dengan murah dan mudahnya mendapatkan bahan pemanis buatan terutama sakarin dan siklamat maka penggunaan sakarin dan siklamat dalam makanan dan minuman sudah meluas di masyarakat. Pemakaian bahan tambahan pangan dalam kehidupan sehari-hari sering dimanfaatkan tidak sesuai dengan fungsinya. Apalagi kebanyakan orang masih belum mengetahui secara dalam bagaimana penggunaan dan batas-batasan yang harus diketahui untuk menambahkan pemanis buatan dalam suatu pangan. Oleh karena itu pengawasan secara total diperlukan agar kita bisa mengindari dan mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan penyalahgunaan penggunaan bahan tambahan pangan tersebut (Anonim, 2011).

4. Sakarin dan Siklamat a) Pengertian dan karakteristik sakarin Sakarin (C7H5NO3S) merupakan pemanis buatan yang mempunyai rasa manis 200-700 kali sukrosa (yang biasa disebut gula). Sakarin ditemukan dengan tidak sengaja oleh Fahbelrg dan Remsenpada tahun 1897. Ketika pertama kali ditemukan sakarin digunakan sebagaiantiseptik dan pengawet, tetapi sejak tahun 1900 sakarin digunakan sebagaipemanis. Nama lain dari sakarin adalah 2,3-dihidro-3-oksobenzisulfonasol, benzosulfimida, atau 0-sulfobenzimida, dan memiliki nama dagang antaralain: glucida, garantose, saccarinol, saccarinose, sakarol, saxin, sykose, dan hermesetas (Anonim, 2011).

Menurut Anonim (2011), Karakteristik sakarin: 1) Sakarin berupa serbuk hablur, tidak berwarna atau berwarna putih, tidak berbau atau tidak memiliki aroma yang tajam. berbau atau tidak memiliki aroma yang tajam. 2) 3) Sakarin memiliki berat molekul 183. akarin larut dalam air mendidih , larutan etanol, larutan encer, ammonia, dan dalam larutan alkali. 4) 5) Memiliki titik didih 226 C - 230 C. Pada konsentrasi tinggi, sakarin akan menimbulkan rasa pahit-getir.

Sakarin secara luas digunakan sebagai pengganti gula karena mempunyai sifat stabil, nilai kalori rendah dan harganya relatif murah. Selainitu, sakarin juga banyak digunakan untuk mengganti sukrosa untuk bagi penderita diabetes melitus atau untuk bahan pangan yang berkalori rendah. Penggunaan sakarin biasanya dicampur dengan bahan pemanis yanglain seperti siklamat, dengan maksud untuk menutupi rasa tidak enak (pahit-getir) dari sakarin dan bertujuan untuk lebih memperkuat rasa manis. Keuntungan yang sangat utama yang dimanfaatkan oleh masyarakat terutama industriindustri makanan besar dari penggunaan sakarin yaitu didapatkankemanisan yang sangat tinggi hanya dengan penggunaan sakarin dalam jumlahyang sedikit. Sehingga ini akan sangat menguntungkan bagi industri tersebutdalam bidang perekonomian yaitu mampu menekan biaya produksi (Anonim, 2011).

b) Pengertian dan karakteristik siklamat Siklamat merupakan jenis pemanis buatan yang memiliki kemanisan 30 kali lebih manis daripada sukrosa. Siklamat pertama kali ditemukan dengan tidak sengaja oleh Michael Sveda dari University of Illinois saat berusaha mensintesis obat antipiretik pada tahun 1937. Penggunaan siklamat pada awalnya hanya ditujukan untuk industri obat, yaitu untuk menutupi rasa pahit dari zat aktif obat seperti antibiotik dan pentobarbital. Sejak tahun 1950 siklamat dikenal secara luas sebagai pemanis buatan dan ditambahkan ke dalam pangan dan minuman. Siklamat biasanya tersedia dalam bentuk garamNatrium dari asam siklamat dengan rumus molekul C6H11NHSO3H (Anonim, 2011).

Nama lain dari siklamat adalah Natrium Sikloheksilsulfamat atauNatrium Siklamat dengan nama dagang antara lain: assugrin, suracyl, atau sucrose. Siklamat bersifat mudah larut dalam air dan tahan terhadap panas. Berbeda dengan sakarin yang memiliki rasa manis dengan rasa pahit, siklamat hanya berasa manis tanpa adanya rasa pahit. Siklamat memiliki sifat yang tahan terhadap panas serta mudah larut terhadap air (Anonim, 2011).

Menurut Anonim (2011), Karakteristik siklamat: 1) Siklamat yang berbentuk garam Natrium siklamat merupakan serbuk kristalin putih dan tidak berbau. 2) 3) Garam siklamat (Natrium siklamat) akan mengering pada suhu 105C. Natrium siklamat tidak larut dalam alkohol, benzena, kloroform maupuneter tetapi larut dalam air dan bersifat netral.

c) Batas maksimum penggunaan sakarin dan siklamat Dalam menentukan berapa batas maksimum penggunaan sakarin dan siklamat harus sesuai dengan badan yang berlaku. Organisasi kesehatan dunia (WHO) telah menetapkan batas-batas yang disebut ADI (Acceptable Daily Intake)atau kebutuhan per orang per hari. ADI dinyatakan dalam mg/kg berat badan dan didefinisikan sebagai jumlah bahan yang dapat masuk tubuh setiap harinya,meskipun dicerna setiap hari tetap bersifat aman dan tidak menimbulkan gangguan pada kesehatan atau efek keracunan dan risko lainnya. Untuk konsumsi maksimum sakarin yang di atur dalam ADI (Acceptable Daily Intake) atau kebutuhan per orang per hari adalah sebanyak 0-5 mg per berat badan per hari dansiklamat 0-11 mg per berat badan per hari. Sementara kadar maksimum sakarindalam minuman 300 mg/L dan kadar maksimum siklamat dalam minuman 3gr/L.34 Pemanfaatan sakarin dan siklamat sebagai pemanis ditujukan kepada seseorang yang memiliki kadar kolestrol tinggi, sehingga sakarin dan siklamat ini merupakan suatu zat pemanis yang rendah kalori. Didalam makanan atau minuman yang di konsumsi oleh masyarakat luas, penggunaan sakarin dan siklamat harus dalam kadar yang sesuai (Arisman, 2011).

10

d) Efek Penggunaan Sakarin dan Siklamat Sejumlah zat aditif berdampak buruk pada sistem pencernaan, saraf, pernafasan , dan kulit. Gangguan pada saluran pencernaan berupa diare dan nyeri. Gangguan pada saraf ditandai oleh hiperreaktivitas, insomnia, dan irritable (iritasi). Gangguan saluran pernafasan berupa asma, rhinitis, dan sinusitis. Sementara gangguan pada kulit berupa urtikaria, gatal, kemerahan, dan pembengkakan. Penggunaan pemanis buatan yang melampaui batas maksimum penggunaannya dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Menurut Arisman (2009), efek penggunaan pemanis buatan bagi kesehatan dalam kadar yang melebihi batas: 1) Sakarin Pengkonsumsian sakarin dalam dosis yang lebih mampu

memutuskan plasenta pada bayi. Selain itu secara khusus pengkonsumsian sakarin akan menimbulkan dampak dermatologis bagi anak-anak yang alergi terhadap sulfamat kemudian akan memacu tumbuhnya tumor yang bersifat karsinogen. Sakarin dalam bentuk garam yaitu Natrium sakarin di dalam tubuh tidak mengalami metabolisme sehingga sakarin ini di ekskresikan melalui urin tanpa perubahan kimia. Bagaimanapun sakarin mampu keluar dari tubuh dalam bentuk utuh tetap saja akan ada zat-zat tesebut yang masih tertinggal di dalam tubuh. Tertinggalnya sakarin dalam tubuh ini karena tidak bisa di metabolisme oleh tubuh maka semakin lama akan mengalami penumpukan dalam tubuh dan mampu menjadi sesuatu yang berbahaya bagi tubuh.

2) Siklamat Siklamat memunculkan banyak gangguan bagi kesehatan,

diantaranya tremor (penyakit syaraf), migrain dan sakit kepala, kehilangan daya ingat, bingung, insomnia, iritasi, asma, hipertensi, diare, sakit perut, alergi, impotensi dan gangguan seksual, kebotakan, dan kanker otak.Hasil metabolisme siklamat yaitu sikloheksilamin yang bersifat karsinogenik. Oleh karena itu, ekskresi siklamat dalam urin dapat merangsang tumor dan mampu mneyebabkan atropi yaitu pengecilan testikular dan kerusakan kromosom. Pengkonsumsian siklamat dalam dosis yang lebih akan mengakibatkan kanker kandung kemih. Selain ituakan menyebabkan tumor

11

paru, hati, dan limfa. Sebagaimana sakarin yang tidak bisa dimetabolisme, senyawa sikloheksilamin yang merupakan senyawa hasil metabolisme siklamat dalam tubuh juga tidak bisa dicerna oleh tubuh. Senyawa ini dalam tubuh juga akan mengendap dan memicu berbagai sebagaimana yang telah disebutkan diatas.

Sakarin dan siklamat merupakan pemanis buatan yang tidak berkalori dan sangat dianjurkan dikonsumsi bagi orang yang sedang diet. Namun apakah tepat jika sakarin dan siklamat ini dikonsumsi bagi orang yang tidak sedang diet dan dalam keadaan kesehatan yang normal. Sesuatu hal yang digunakan tidak pada tempatnya pasti akan memberikan hasilyang tidak baik, termasuk

pengkonsumsian sakarin dan siklamat oleh masyarakat secara umumnya. Dampaknya bisa mengakibatkan efek kesehatan sebagaimana diatas (Anonim, 2011).

C. Jamu 1. Pengertian jamu Jamu adalah sebutan obat tradisional Indonesia yang diramu dari bahanbahan yang berasal dari tanaman dan dibuat dengan cara tradisional. Karena berasal dari tanaman, jamu disebut juga dengan herbal. Jamu merupakan minuman obat yang khas dengan rasa pahitnya namun ada jenis jamu yangrasanya tidak pahit seperti jamu kecutan (asam-gula) yang berasa masam dan manis, jamu kunir asam yang berasa masam-manis, dan jamu beras kencur yang berasa manis. Dari dulu jamu sering dijajakan berkeliling dari rumah ke rumah dengan cara di gendong. Makanya jamu terkenal dengan tambahan sebutan jamu gendong. Jamu gendong pada awalnya tersebar hanya di daerah pedesaan,sekarang penyebaran jamu gendong telah meluas sampai ke daerah perkotaan (Afiani, 2003).

Jamu merupakan obat tradisional yang sudah tidak asing lagi di kalanganmasyarakat, baik ditingkat pedesaan maupun perkotaan. Keberadaan jamu sudah ada sejak lama dan merupakan suatu warisan leluhur yang sampai saat ini masih tersisa. Jamu merupakan minuman tradisional yang diramu khusus dari tumbuh - tumbuhan tertentu untuk kesehatan manusia. Jamu dibuat dari bahanbahan alami,berupa bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akar-akaran), daun-

12

daunan dan kulit batang, maupun buah. Karena berasal dari tumbuh-tumbuhan ini maka jamu sering disebut juga dengan obat herbal. Jamu, khas dengan rasa pahitnya namun ada juga jenis jamu yang rasanya tidak pahit seperti jamu manisan (legen) yang berasa manis, jamu asam-jawa (kecutan) yang berasa masam, dan jamu kunir asam yang berasa masam. Selainitu jamu juga khas dengan kenaturalan bahan-bahan pembuatannya tanpa ada tambahan bahan-bahan kimia apapun. Dalam proses pembuatannya pun, jamudiolah dengan cara tradisional yang sederhana yaitu diolah dengan cara direbus (digodhog) dan kemudian diperas (Isti, 2012).

13

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Alat dan Bahan


1. Alat a) Labu Erlenmeyer b) Corong pisah c) Pemanas Bunsen d) Gelas piala/gelas beker e) Penyaring f) Corong g) Penangas air h) Buret i) Statif dan klem j) Pipet tetes k) Cawan porselin l) Lempeng tipis aluminium silikagel G m) Bejana tertutup (chamber) n) Pipa kapiler/mikrokapiler o) Sinar UV

2.

Bahan a) H2SO4 10% b) Etil asetat c) Fase gerak (eluen): n-Butanol: etanol(40:4): NH4OH: air (1:9) + 2 tetes eter. d) Standar baku sakarin: 10 mL Sakarin + 10 mL airNa2SO4 anhidrit e) Pelarut NH4OH: H2O: etanol (5:5:10) f) Air suling g) HCl 10% h) BaCl2 10% i) NaNO2 10% j) Arang aktif k) HCl 5% l) Kloroform

14

14

m) Etanol n) NaOH 0,1 N o) Indikator BTP

B. Waktu Penelitian
Penelitian ini akan berlangsung selama 1 bulan.

C. Tempat Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah..

D. Analisis Data 1. Pengolahan Data Data hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabulasi, grafik dan diagram.

2. Analisis Data Analisis data dilakukan dengan bantuan program komputer menggunakan software statistik.

E.

Rencana Penelitian No. 1 Rincian Kegiatan Program Persiapan pelaksanaan program Studi pustaka Persiapan alat dan bahan 2 Pelaksanaan program Pengambilan sampel di Pasar Manonda Palu Pengujian Pengujian secara kualitatif Pelaksanaan Bulan Ke1 2 3

pemanis buatan secara kuantitatif

pemanis buatan 3 Pembuatan laporan

15

F.

Metode Kerja 1. Uji Kualitatif Pemanis Buatan a) Sakarin 1) Dimasukkan 100 mL sampel dalam corong pisah, ditambah dengan H2SO4 10%. 2) 3) Dilakukan ekstraksi 1 kali dengan 25 ml etil asetat. Disaring lapisan etil asetat dengan Na2SO4 anhidrit dan ditampung dalam cawan. 4) 5) 6) 7) 8) Dikeringkan filtrat di atas penangas air. Disiapkan lempeng tipis dengan ukuran yang sesuai camber yang berisi eluen. Ditotolkan standar sakarin pada lempeng tipis. Dilarutkan sampel yang telah dikeringkan dengan pelarut campuran NH4OH: H2O: etanol (5:5:10), beberapa tetes sampel ditotolkan pada lempengan dengan bantuan mikrokapiler (2-4 pengambilan). 9) Lempengan dimasukkan dalam chamber kromatrografi hingga mencapai batas garis. 10) Lempengan dikeringkan dan dilihat dibawah sinar UV.Warna ungu menunjukkan sampel positif mengandung sakarin.

b) Siklamat 1) Pendahuluan (a) Dimasukkan 25 ml sampel ke dalam gelas piala dan diencerkan dengan aquades dengan perbandingan 1 : 1 (b) Ditambahkan sepucuk sendok arang aktif untuk menghilangkan warna contoh, kemudian sampel disaring.

2) Pengujian (a) Ditambahkan 10 ml HCl 10% ke dalam filtrat dan ditambahkan10 ml BaCl2 10%, kemudian dikocok. (b) Dibiarkan filtrat selama 30 menit, kemudian disaring dengankertas whatman 42 dan ditambahkan 10 ml Natrium Nitrit10%.

16

(c) Dipanaskan larutan di atas penangas air.Apabila timbul endapan putih, berarti Siklamat Positif.

2.

Uji Kuantitatif Pemanis Buatan a) Sakarin 1) 2) Dipipet 50 mL sampel dan ditambahkan 2 mL HCl 5%. Diekstraksi endapan sebanyak 3 kali dengan larutan campuran kloroform dan etanol masing-masing 30 mL, 20 mL, dan 20 mL. 3) 4) 5) Dikeringkan hasil ekstraksi. Ditambahkan 50 mL aquadest. Dititrasi sampel dengan NaOH 0,1N menggunakan indikator BTB (Brom Thimol Blue).Titik akhir titrasi ditandai dengan warna biru sebagai pertanda bahwa zat-zat tersebut telah selesai bereaksi.

b) Siklamat 1) Dimasukkan 25 ml sampel ke dalam dalam gelas piala dan diencerkan dengan aquades perbandingan 1 : 1, kemudian ditambahkan sepucuk sendok arang aktif untuk menghilangkan warna contoh,kemudian sampel disaring. 2) Ditambahkan 10 ml HCl 10% ke dalam filtrat dan ditambahkan 10ml BaCl2 10%, kemudian dikocok. 3) Dibiarkan filtrat selama 30 menit, kemudian disaring dengan kertas whatman 42 dan ditambahkan 10 ml Natrium Nitrit 10%. 4) Dipanaskan larutan di atas penangas air.Endapan yang

terjadi,disaring,dicuci,dikeringkan,dan ditimbang.

17

G. Skema Kerja 1. Analisis kualitatif pemanis buatan a) Sakarin 100 Sampel di dalam corong pisah + H2SO4 + Etil asetat Di ekstraksi 1 x Disaring dengan Na2SO4 anhidrit Filtrat Dikeringkan + campuran NH4OH: H2O:etanol(5:5:10) Sampel Ditotolkan pada lempeng KLT 4 kali denganpembanding standar sakarin

Lempeng KLT dikeringkan

Lempeng disinari dengan sinar UV Hasil

18

b) Siklamat 1) Pendahuluan 25mL sampel di dalam gelas piala diencerkan 1:1 + sepucuk sendok arang aktif disaring

Warna sampel hilang

2) Pengujian Filtrat + 10mL HCl 10%,10mL BaCl210% dikocok dibiarkan 30 menit disaring + 10mL NaNO2 10% dipanaskan

Endapan putih

2. Analisis kuantitatif pemanis buatan a) Sakarin 50mL sampel di dalam corong pisah

+ 2 mL HCl encer + 30 mL, 20 mL, 20 mL kloroform + etanol diekstraksi 3 kali Ekstrak eter

dikeringkan + 50 mL aquadest + BTB Sampel warna merah muda

19

b) Siklamat 100 mL sampel + 10mL HCl 10%,10mL BaCl2 10% diaduk dan dibiarkan selama 30 menit

Endapan disaring

dicuci dengan air

Filtrat +10mL NaNO2 10% dipanaskan didiamkan selama 1 malam Endapan disaring dicuci dikeringkan ditimbang

Hasil

20

DAFTAR PUSTAKA

Limananti, Afiani Ika. Ramuan Cekok Sebagai Penyembuh Kurang Nafsu Makan Pada Anak : Suatu Kajian Etnomedisin dalam

http://repository.ui.ac.id/dokumen/lihat/46.pdf. Di akases 05 Juni 2013. Anonim, Analisis Adanya Kandungan Pemanis Buatan (Sakarin dan Siklamat) Pada Jamu Gendong di Pasar Gubug Grobogan dalam http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/119/jtptiain-gdl-dewilestar-5915-1073711019.pdf. Di akases 05 Juni 2013. Arisman. Keracunan Makanan Buku Ajar Ilmu Gizi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. 2009. Krisno, Budianto Agus. Dasar-Dasar Ilmu Gizi. Malang: UMM Press. 2009. Purwaningsih, Isti. UKM Aneka Obat Tradisional (Jamu) dalam http://lppm.ub.ac.id/wrpcon/uploads/2012/03/12.-ISTI-P.pdf. Di akses 05 Juni 2013. Rohman, Abdul dan Sumantri, Analisis Makanan, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. W. Disrosier, Norman, Teknologi Pengawetan Pangan, terj. Muchdi Mulijohardjo Jakarta: UI Press,1998. .

21

21