Anda di halaman 1dari 19

ZAMAN PERTENGAHAN (CHUUSEI) MAKALAH

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Nihonshi (Sejarah Jepang)

Oleh : Atiekah Sumaroh Ichi Anggreini.D.K.P Melly Septiani M.S Nia Novitasari M. Dzikri Oktaviani Zahrah.G R.Citra Mirasati Tina Nurtina (1104169) (1100098)

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah swt. karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis telah mampu menyelesaikan makalah berjudul Zaman Pertengahan (Chuusei). Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Nihonshi.

Dalam sejarah Negara Jepang terdapat lima pembagian zaman, yaitu; zaman kuno (kodai), zaman pertengahan (chuusei), zaman pra modern (kinsei), zaman modern (kindai) dan Gendai (dewasa ini). Dalam makalah ini akan dijelaskan zaman pertengahan (chuusei), dimana terbagi ke dalam tiga zaman antara lain; zaman Kamakura, Muromachi dan Azuchi Momoyama. Dari ketiga pembagian zaman tersebut terdapat beberapa peristiwa yang berpengaruh terhadap negara Jepang yang terangkum dalam sub judul keadaan zaman. Selain itu terdapat kebudayaan pada masa itu serta peninggalan-peninggalan yang kini menjadi sejarah.

Penulis menyadari bahwa makalah ini bukanlah karya yang sempurna karena masih memiliki banyak kekurangan, baik dalam hal isi maupun sistematika dan teknik penulisannya. Akhirnya, semoga makalah ini memberikan manfaat bagi penulis dan bagi pembaca. Amin.

Bandung, 8 Mei 2012 Penulis

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Zaman Kamakura merupakan zaman dimulainya sistem pemerintahan feodal (Hkenseido). Sistem pemerintahan seperti ini baru dapat diakhiri setelah zaman Edo. Oleh karena itu kebudayaan pada masa itu adalah kebudayaan feodal. Inti dari sistem feodal tersebut adalah pengelolaan tanah dikerjakan oleh petani dan pemilik tanah menggunakan tenaga Bushi (Samurai) sebagai alat pemeras petani agar mereka terus bekerja dan membayar pajak yang tinggi. Rumusan Masalah 1. Bagaimana keadaan zaman kamakura dan muromachi saat itu? 2. Bagaimana keterkaitan antara kebudayaan kamakuran dengan sistem pemerintahan? 3. Bagaimana kebudayaan pada zaman muromachi? 4. Apa yang disebut dengan heike monogatari dan gunki

monogatari? 5. Apa saja peninggalan pada zaman kamakura dan muromachi ?

B. Tujuan Makalah Untuk mengetahui sejarah pada zaman kamakura dan perkembangan-perkembangannya sebagai bahan acuan sumber untuk menambah wawasan terhadap sejarah jepang.

BAB II ZAMAN PERTENGAHAN (CHUUSEI) MAKALAH

Zaman pertengahan atau Chuusei terbagi ke dalam tiga zaman yaitu; zaman Kamakura, Muromachi dan zaman Azuchi Momoyama. Berikut ini uraiannya: 1. ZAMAN KAMAKURA 1192-1333 M Keadaan Zaman Setelah keluarga Taira yang dipimpin Kiyomori, Minamoto mengalahkan yang dipimpin keluarga Yoshitomo,

semua keluarga Minamoto dibunuh kecuali Yoritomo dan Yoshitsune (keduanya masih kecil). Mereka tidak dibunuh karena ibu Yoshitsune dijadikan selir oleh Kiyomori. Karena peperangan tersebut, Kiyomori menggantikan Fujiwara di Kyto. kedudukan keluarga Yoshitsune

Pada

tahun

1180

Yoritomo

membentuk markas di Kamakura dan punya banyak pengikut. Yoshitsune juga

membantunya untuk mengalahkan keluarga Taira. Tahun 1185 M Yoritomo menyuruh Yoshitsune menyerang pertempuran pertempuran Yoritomo dan Kiso Yoshinaka Taira. no Ura. untuk Terjadi Dalam

keluarga di Dan

tersebut

Yoshitsune

mengalahkan keluarga Taira. Kemenangan Yoshitsune tersebut ternyata menimbulkan iri hati pada Yoritomo. Akhirnya Yoshitsune dibunuh.

Yoritomo menguasai Jepang dengan sistem pemerintahan militer (pemerintahan Bakufu) dan mendirikan pusat pemerintahan di Kamakura (Hal inilah yang menyebabkan penamaan zaman ini dinamakan zaman Kamakura). Saat itu ada 2 macam pemerintahan yaitu pemerintahan sipil dan agama yang dipimpin oleh oleh Tenn yang ada di Kyoto dan pemerintahan militer (bakufu) yang dipimpin oleh Yoritomo yang ada di Kamakura. Tahun 1185 M Yoritomo memberikan tanah kepada kaum militer yang aktif berperang dan menjadikan mereka sebagai pengikutnya (Gokenin). Gokenin yang berpotensi dijadikan Shugo (kepala polisi di daerah) dan Jitt (pengawas tanah yang bertugas mengumpulkan pajak). Tahun 1192 M Yoritomo mendapat gelar Sei-i-tai-Shgun (=Jendral yang menundukkan orang-orang liar. Orang liar di sini adalah bangsa Ainu yang keberadaannnya semakin terpinggirkan) dan sejak saat itu dimulailah pemerintahan Bakufu yaitu pemerintahan militer yang dipimpin oleh Shgun . Shugo dan Jitt yang diangkat dari keluaga dan pengikut dari Yoritomo mulai menghapus sistem Shen (tanah pribadi yang bebas pajak). Akhirnya Shugo menguasai daerah propinsi dan menjadi kepala daerah dengan

sebutan Daimy. Mereka membentuk prajurit-prajurit bersenjata yang disebut Samurai. Para Daimy semakin berkuasa dan pemerintah Bakufu semakin lemah. Setelah Yoritomo meninggal tahun 1199, kekuasaan Bakufu bergeser ke keluarga Hj (keluarga asal istri Yoritomo yaitu Masako). Tahun 1256, Tokimune (usia 6 tahun) menjadi kaisar. Selama pemerintahannya dua kali Jepang diserang oleh pasukan Kubilai Khan (tahun 1274 M dan 1281 M). Para Gokenin yang ikut berperang tidak mendapatkan balas jasa yang cukup. Gokenin merasa tidak puas dan tidak lagi mengikuti pemerintahan Bakufu. Tahun 1333 M, Tenn Godaigo yang melihat lemahnya Bakufu ini, memanggil para Gokenin yang tidak puas terhadap keluarga Hj untuk menjatuhkan Bakufu. Tokoh yang berjasa dalam perebutan kekuasaan itu adalah Ashikaga Takauji, Kibatake Chikafusa, Kusonoki Masahige dan Niita Yoshida. Dengan jatuhnya Bakufu Kamakura maka berakhirlah zaman Kamakura. Kebudayaan Zaman Kamakura merupakan zaman dimulainya sistem pemerintahan feodal (Hkenseido). Sistem pemerintahan seperti ini baru dapat diakhiri setelah zaman Edo. Oleh karena itu kebudayaan pada masa itu adalah kebudayaan feodal. Inti dari sistem feodal tersebut adalah pengelolaan tanah dikerjakan oleh petani dan pemilik tanah menggunakan tenaga Bushi (Samurai) sebagai alat pemeras petani agar mereka terus bekerja dan membayar pajak yang tinggi. Sistem politik feodal Jepang di zaman Edo disebut Bakuhan Taisei ( ), baku dalam "bakuhan" berarti "tenda" yang merupakan singkatan dari bakufu (pemerintah militer atau keshogunan). Dalam sistem Bakuhan taisei, daimyo menguasai daerah-daerah yang disebut han dan membagi-bagikan tanah kepada pengikutnya. Sebagai imbalannya, pengikut daimyo berjanji untuk setia dan mendukung daimyo secara militer. Pada zaman ini lahir golongan prajurit yang disebut Samurai, sehingga pada zaman ini muncul dua orang pembuat pedang yang terkenal yaitu Masamune dan Muramasa. Adanya Samurai juga melahirkan suatu etika atau ajaran hidup yang disebut Bushid. Misalnya berani mati, berani menghadapi bahaya, menjunjung tinggi tanah air, setia kepada pemimpin, dll. Bushido memberikan pedoman kepada setiap tingkah laku dalam pergaulan di masyarakat, termasuk

cara berbicara, memberi hormat, mempertahankan kehormatan, dsb. Harakiri (bunuh diri dengan memotong perut) dianggap perbuatan yang mulia untuk menjunjung kehormatan. Masamune adalah salah satu pembuat pedang Jepang yang terhebat di Jepang. Masamune juga tercatat sebagai swordsmith legendaris dalam catatan sejarah Jepang. Pedang-pedang katana yang diciptakan oleh masamune sendiri memiliki karakteristik yang khas dan berjeniskan tachi yaitu pedang Jepang sebelum adanya katana dan ukurannyapun lebih panjang dari pada katana biasa kita kenal selama ini. Muramasa memulai karirnya sebagai seorang Japanese Swordsmith yaitu pada tahun 1288 hingga tahun 1328. Muramasa hidup pada masa keshogunan Kamakura. .

Salah satu pedang ciptaan masamune yang paling terkenal dan bahkan dianggap sebagai Harta Negara Jepang yaitu Honjo Masamune. Selain Honjo Masamune ada juga beberapa pedang karya masamune yang cukup terkenal, diantaranya yaitu : Fudo Masamune, Hocho Masamune dan Kotegiri masamune. Pedang-pedang tersebut merupakan pedang-pedang yang pernah mendampingi beberapa orang besar dalam sejarah Jepang. Ini merupakan beberapa pedang yang diciptakan oleh masamune. Di katakan bahwa beberapa pedang ciptaan masamune telah hilang entah ke mana yang sampai sekarang belum di ketahui keberadaannya. Muramasa merupakan salah satu pembuat pedang Jepang yang sangat terkenal dan merupakan seorang legenda pembuat pedang yang sangat pandai. Muramasa hidup di masa keshogunan Muromachi. Walau Muramasa merupakan seorang swordsmith yang pandai, tapi dia memiliki ambisi juga seorang pembuat pedang gila. Pedang-pedang karya Muramasa populer karena memiliki hawa pembunuh dan haus darah yang sangat tinggi sehingga membuat prajurit yang memegangnya didorong untuk melakukan pembunuhan atau bunuh diri.

Peninggalan Kehidupan kaum militer pada zaman ini juga melahirkan sastra yang melukiskan peperangan kaum militer yang disebut Gunki Monogatari, salah satunya yang paling terkenal adalah Heike Monogatari yang melukiskan bangkit dan jatuhnya keluarga Taira.

Gunki monogatari ( ), Atau "war tales," adalah kategori sastra Jepang yang ditulis terutama di Kamakura dan periode Muromachi yang berfokus pada perang dan konflik, terutama perang saudara yang terjadi antara 1156 dan 1568. Contoh dari genre ini termasuk Monogatari Hogen dan Heiji Monogatari. Para gunki paling terkenal adalah Heike Monogatari. Heike monogatari ( ) Adalah rekening epik perjuangan antara klan Taira dan Minamoto untuk menguasai Jepang pada akhir abad ke-12 dalam Perang Genpei (1180-1185). Heike ( ) mengacu pada Taira () klan; "hei" menjadi bacaan alternatif dari kanji (karakter) untuk Taira. Dalam hal judul Perang Genpei, "hei" dapat dibaca sebagai alternatif "pei" lagi dan "gen" () adalah kanji yang sama digunakan dalam Minamoto (juga dikenal sebagai Genji) nama klan. Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris paling tidak lima kali, yang pertama oleh AL Sadler di 1918-1921. Sebuah terjemahan lengkap di hampir 800 halaman oleh Hiroshi Kitagawa & T. Bruce Tsuchida, yang diterbitkan pada tahun 1975. Juga diterjemahkan oleh Helen Mc Cullough pada tahun 1988. Dan terjemahan ringkasan oleh Burton Watson diterbitkan pada tahun 2006. Hal itu diceritakan kembali dalam prosa Jepang oleh novelis sejarah terkenal yaitu Eiji Yoshikawa, yang diterbitkan di Asahi Mingguan pada tahun 1950 dengan judul Kisah Baru dari Heike. Dari segi arsitektur, banyak dibuat patung Buddha (dari batu, kayu, perunggu, tembaga). Patung yang paling terkenal adalah Daibutsu di Kamakura. Patung ini dibuat dari tembaga dan tingginya 15 meter. Arsitektur pada zaman ini lebih mementingkan keindahan yang struktural dari pada yang bersifat hiasan. Misalnya di gerbang depan kuil Todaiji yaitu patung Ni-zo (Kongrikishi). Di zaman ini banyak pula dibuat lukisan gulung (emaki) seperti Genji Monogatari Emaki, Mkoshrai Emaki.

Pada zaman ini muncul juga Buddha aliran Zen. Aliran Zen cocok dengan kepribadian kaum militer karena aliran ini mengajarkan kedisiplinan batin dengan meditasi Zen (Zazen). Tanaman teh juga mulai masuk ke Jepang dan menggantikan sake yang memabukkan.

Ni-z (kongrikishi)

Daibutsu di Kamakura

Portrait of Masamune

Hei ke monogatari

ZAMAN MUROMACHI (1338 M 1568 M) Keadaan Zaman Setelah bakufu Kamakura roboh, pada tahun 1333 M kaisar Godaigo berkehendak memerintah secara de jure dan de facto. Perubahan dari pemerintahan bakufu menjadi pemerintahan yang berpusat pada kaisar tersebut dikenal dengan nama restorasi Kenmu. Restorasi tersebut hanya berlangsung sampai 1336 M, karena pada tahun 1336 M Ashikaga Takauji yang sebelumya membantu kaisar, berbalik menentang kaisar yang ingin memerintah sendiri. Ia menyerang Kyto. Niita Yoshida dan Kusonoki Masahige yang setia pada kaisar, gugur pada pemberontakan tersebut. Kaisar kalah dan mundur ke Yoshino (di Nara) dan mendirikan istana di sana. Sementara itu di Kyto telah diangkat kaisar baru. Karena itu pada tahun 1336 M 1392 M ada dua orang Tenn. Tenn yang di utara/Kyto (Tenn Kmy) dan Tenn yang di selatan/Yoshino (Tenn Godaigo). Tenn yang di utara mendirikan istana Hokuch (istana utara) dan Tenn yang di selatan mendirikan istana Nanch (istana selatan). Sehingga pada rentang waktu tersebut dikenal juga dengan zaman Nanbokuch (zaman istana di utara dan selatan). Rakyat menganggap bahwa Tenn yang sah adalah Tenn yang ada di Yoshino (selatan). Sehingga ada pula yang menamakan zaman ini sebagai zaman Yoshino.

Tahun 1338 M, Tenn Kmy mengangkat Ashikaga Takauji sebagai Seiitai Shgun dan mendirikan (ada bakufu juga di

Kamakura

yang

menyebut zaman ini sebagai zaman Ashikaga). Takauji

menjalankan

pemerintahan

diarki. Dirinya menjadi kepala kalangan samurai, sedangkan adiknya yang bernama Ashikaga Takauji

Ashikaga Tadayoshi menjadi kepala pemerintahan. diarki administrasi Pemerintahan ternyata

tersebut

menimbulkan konflik internal dalam keshgunan. K no Mronao beserta pendukungnya yang anti-Tadayoshi berhadapan dengan kelompok pro-Tadayoshi. Takauji yang semulanya bersikap netral akhirnya memihak Mronao. Tadayoshi dipaksa mengundurkan diri dari jabatannya dan dijadikan biksu. Putra Takauji yang bernama Yoshiakira menggantikan Tadayoshi sebagai kepala pemerintahan. Setelah Tadayoshi mengundurkan diri, putra angkatnya yang bernama Ashikaga Tadafuyu melarikan diri ke Kysh dan memberontak terhadap Shgun. Pada tahun 1350 M, ketika Takauji memimpin ekspedisi untuk menghabisi Tadafuyu, Tadayoshi melarikan diri dari Kyto dan bergabung dengan istana selatan. Pasukan Tadayoshi menjadi semakin kuat, sehingga Yoshiakira melarikan diri dari Kyto karena kalah perang. Pasukan Takauji juga kalah melawan pasukan Tadayoshi. Tahun 1351 M, Takauji berdamai dengan Tadayoshi dengan syarat K no Mronao dan K no Mrouji dijadikan biksu. Tadayoshi kembali

menjadi sebagai pembantu Yoshiakira. Takauji dan Yoshiakira memiliki rencana untuk menghabisi Tadayoshi dan Tadafuyu. Namun Tadayoshi lebih dahulu melarikan diri. Di tahun 1351 M juga Tadayoshi tertangkap. Kemudian pihak istana selatan yang dipimpin pangeran Muneyoshi, Nitta Yoshioki, Nitta Yoshimune, dan Hj Tokiyuki menyerang pasukan Takauji. Tahun 1354 M, pihak istana selatan untuk sementara berhasil menduduki Kyoto. Tapi tahun 1355 M, berhasil direbut kembali oleh pihak istana utara. Tahun 1392 M Shgun generasi ke-3 yaitu Ashikaga Yoshimitsu (cucu Ashikaga Takauji) memindahkan bakufu dari

Kamakura ke Moromachi, dan mendirikan bakufu Muromachi. Maka mulai tahun 1392 M 1573 M disebut zaman Muromachi. Tahun 1392 M Ashikaga Yoshimitsu mendamaikan istana utara dan istana selatan yang sebelumnya berselisih. Tenn yang di Ashikaga Yoshimitsu selatan kembali ke Kyoto dan mengundurkan diri serta mengakui Tenn utara sebagai penggantinya. Tahun 1394 M Ashikaga Yoshimitsu menyerahkan jabatan Shgun kepada anaknya, kemudian ia mengundurkan diri tetapi masih tetap memerintah. Ashikaga Yoshimitsu yang mengundurkan diri ke Kitayama (dekat Kyoto) mendirikan paviliun emas (Kinkaku). Setelah Yoshimitsu meninggal tahun 1408 M, timbul kekacauan dalam pemerintahan. Terjadi percampuran Kuge (golongan bangsawan) dan Buke (golongan militer) yang berlanjut pula dalam budayanya, yaitu timbulnya Bukebunka (kebudayaan militer-bangsawan). Dalam kenyataannya, golongan Kuge kalah dari golongan Buke sehingga golongan Kuge jatuh miskin.

Di ibukota Kyoto, Bakufu berkuasa tetapi kekuasaannya tidak mendapat penghargaan dari Daimy. Bakufu tidak mampu mengatasi kekacauan pemerintahan yang disebabkan oleh Daimy-Daimy yang saling berperang untuk memperluas daerah dan lingkungan kekuasaannya. Meskipun pemerintahan dalam negeri sedang kacau, tapi perdagangan baik di dalam maupun luar negeri mengalami kemajuan yang pesat. Bahkan pada tahun 1543 M Jepang membuka hubungan dagang dengan Portugis. Tahun 1549 M Franciscus Xaverius memasukkan agama Kristen ke Jepang. Selain agama, tembakau dan senjata api juga masuk ke Jepang. Pada masa pemerintahan Ashikaga Yoshimasa (Shgun generasi ke-8), pemerintahan semakin kacau. Dia mendirikan paviliun perak (Ginkaku) di Higashiyama. Untuk membiayai pembangunan paviliun tersebut harus ditarik pajak yang besar dari rakyat. Rakyat pun mengadakan pemberontakan. Puncak kekacauan terjadi pada perang Onin (Onin no ran) yang berlangsung 11 tahun (1467 M 1477 M). Perang itu disebabkan oleh perselisihan dua orang pemimpin militer yaitu Yamanaka Sozen dan Hosokawa Katsumoto. Perang tersebut merupakan suatu tanda dari permulaan pergolakan mati-matian yang baru dapat diakhiri tahun 1615 M. Masa peperangan selama 100 tahun lebih tersebut disebut sebagai Sengoku jidai (zaman negara-negara berperang). Bakufu Moromachi jatuh setelah Oda Nobunaga berhasil merampas Kyto. Kebudayaan Dari segi arsitektur dibuat bangunan yang sangat megah seperti Kinkaku dan Ginkaku. Dari segi seni lahirlah seni minum teh dan seni merangkai bunga (ikebana) serta lukisan dengan tinta Cina. Dari segi pertunjukan, lahirlah drama N dan Kygen (lelucon). N diciptakan oleh Kanami dan Zeami. Dari segi pertanian, petani telah mampu membuat kincir angin dan sistem tumpang sari. Peninggalan

Bangunan yang paling terkenal pada zaman ini adalah Kinkaku dan Ginkaku. Kinkaku atau paviliun emas didirikan oleh Ashikaga Yoshimitsu. Bangunannya mengambil gaya arsitektur bangsawan dan gaya kuil Zen di Cina yang seluruhnya dilapisi emas. Sedangkan Ginkaku atau paviliun perak didirikan oleh Ashikaga Yoshimasa. Bangunannya mengambil gaya arsitektur kuil Zen yang disebut Shinzukuri. Shinzukuri merupakan gaya bangunan yang di dalamnya terdapat Tokonoma, Chigaidana (rak), Tatami (lantai tikar), Fusuma (pintu geser dari kertas), dan Akarishji (jendela kertas). Gaya ini menjadi dasar rumah gaya Jepang sekarang.

Ginkaku Kinkaku

2. ZAMAN AZUCHI-MOMOYAMA (1568 M 1600 M) Keadaan Zaman Keluarga Ashikaga yang ada di ibukota sudah semakin lemah dan tidak mampu menjaga kestabilan negara. Akhirnya salah seorang Daimy terkuat yaitu Oda Nobunaga dengan bantuan Toyotomi Hideyoshi dan Tokugawa Ieyasu berhasil

mempersatukan Jepang. Tahun 1568 M Nobunaga berhasil merampas Kyto dan mengangkat Ashikaga Yoshiaki sebagai Shgun boneka Oda Nobunaga (Shgun yang kekuasaannya ada di tangan majikannya). ada di Jadi tangan

kekuasaannya Nobunaga.

Nobunaga memerintahkan Hideyoshi untuk menundukkan Daimy di sebelah barat, dan memerintahkan Ieyasu untuk menundukkan Daimy di sebelah timur dan utara. Sementara dirinya sendiri membereskan bagian pusat. Nobunaga mendapat perlawanan dari kaum padri yang menjadikan biara-biara Buddha sebagai benteng pertahanan. Serangan Nobunaga yang sangat keras terhadap Buddhisme akhirnya dapat menghancurkan biara-biara tersebut. Dia dibantu orang-orang Kristen dari Portugis dengan senjata apinya. Nobunaga mengijinkan pelaksanaan perdagangan bebas, terutama dengan bangsa Portugis dan Spanyol, serta melindungi agama Kristen. Hal itu dilakukan untuk menekan agama Buddha dan mendapatkan senjata api.

Tahun 1573 M Nobunaga mendirikan istana Azuchi. Saat Nobunaga melanjutkan masalah penyatuan negeri, dia meninggal karena dibunuh pengikutnya yang bernama Akechi Mitsuhide pada tahun 1582 M. Kekuasaan Nobunaga berpindah ke Toyotomi Hideyoshi. Hideyoshi kemudian membangun istana Momoyama (Fushimi) sebagai tempat tinggalnya, tetapi tempat pemerintahannya ada di istana Osaka (Himeji). Hideyoshi berhasil menyatukan Jepang pada tahun 1590 M setelah menaklukkan keluarga Hj di Odawara dan keluarga Shimaru di Kysh. Saat berkuasa Hideyoshi mengontrol kekuasaan para Daimy dan menetapkan cara menarik pajak yang disebut Taikkenchi serta mengatur para petani untuk mencegah timbulnya pemberontakan petani. Dengan demikian pembagian antara Daimy dan petani semakin maju. Sistem Toyotomi Hideyoshi Shen pun hilang. Hideyoshi pun berniat meluaskan kekuasaannya sampai ke Korea pada tahun 1592 M dan 1597 M tetapi gagal. Zaman Azuchi-Momoyama berakhir setelah Toyotomi meninggal dalam melawan

pertempuran Tokugawa Ieyasu.

Sekigahara

Kebudayaan Dari segi arsitektur, bangunan dibuat secara mewah. hal itu terlihat dari istana Azuchi, istana Momoyama dan istana Oosaka. Dari segi seni, kebiasaan minum teh juga makin berkembang dan kebiasaan tersebut ditetapkan sebagai suatu tatacara minum teh yang disebut Sad. Dari segi bahasa, kosakata asing mulai masuk karena pada zaman ini perdagangan dengan bangsa barat dibuka. Peninggalan Istana Azuchi dan

Momoyama adalah suatu istana yang megah pada zaman ini. Hal inilah yang membuat nama zaman ini diambil dari kedua istana tersebut. Saat ini kedua istana tersebut sudah tidak ada, tetapi dengan masih adanya istana Oosaka (Himeji) paling tidak dapat menggambarkan kedua istana Himeji (Oosakaj)

kemegahan tersebut.

BAB III KESIMPULAN Berdasarkan uraian bab sebelumnya penulis dapat mengemukakan kesimpulan sebagai berikut:

Daftar Pustaka

http://en.wikipedia.org/wiki/Gunki_monogatari http://en.wikipedia.org/wiki/The_Tale_of_the_Heike http://id.wikipedia.org/wiki/Keshogunan_Tokugawa http://moshimoshi.netne.net/materi/sejarah_jepang/bab_5.htm