Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Karsinoma lidah adalah tumor agresif dengan prognosis buruk.

Dalam

onkologi sel skuamosa kanker kepala dan leher sering dianggap bersama-sama karena mereka berbagi banyak kesamaan - di kejadian, jenis kanker, faktor predisposisi, fitur patologis, pengobatan dan prognosis. Sampai dengan 30% dari pasien dengan satu kepala primer dan tumor leher akan memiliki rongga mulut kedua primer malignancy. Rongga mulut terdiri dari dua bagian: bagian depan-yang merupakan ruang antara bibir dan pipi dan gigi dan gusi, dan mulut yang tepat-yang bersifat internal ke gigi. Rongga mulut mengacu pada seluruh isi bidang ini termasuk pipi, gusi, lidah, gigi, dan langit-langit. Fungsi daerah ini termasuk

konsumsi dan fase pertama dari pencernaan makanan (kerusakan mekanis oleh gigi melalui mengunyah), rasa, respirasi dan fungsi pidato (gerakan rongga mulut dan komponennya bentuk suara yang dihasilkan oleh laring dalam kata-kata). Lidah adalah organ berupa otot yang saat istirahat, mengisi sebagian besar rongga mulut. Ini memiliki banyak peran termasuk rasa, mengunyah (pengunyahan), menelan (deglutition), berbicara dan membersihkan rongga mulut. Peran utama adalah untuk mendorong bolus makanan ke belakang dan ke faring untuk memulai menelan dan membentuk kata-kata untuk mengaktifkan komunikasi. Ini muncul dari lantai

mulut, sebagian di orofaring, dan terdiri dari otot tertutup oleh selaput lendir.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah pada makalah ini adalah? 1. Apa definisi kanker lidah? 2. Apa etiologi terjadinya kanker lidah? 3. Bagaimana patofisiologi terjadinya kanker lidah? 4. Bagaimana manifestasi klinis pada kanker lidah? 5. Apa saja pemeriksaan diagnostik pada kanker lidah?

6. Apa saja penatalaksanaan pada kanker lidah? 7. Bagaimana asuhan keperwatan pada klien dengan kanker lidah?

C. Tujuan Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan makalah ini adalah untuk: 1. Mengetahui defini kanker lidah 2. Memahami etiologi terjadinya kaker lidah 3. Memahami patofisiologi terjadinya kanker lidah 4. Mengetahui manifestasi klinis pada kanker lidah 5. Mengetahui pemeriksaan diagnostik pada kanker lidah 6. Memahami apa saja penatalaksanaan pada kanker lidah 7. Memahami asuhan keperwatan pada klien dengan kanker lidah

BAB II PEMBAHASAN A. Definisi

Tumor ganas lidah adalah keganasan yang terdapat pada lidah. Bentuk yang paling banyak ditemukan adalah karsinoma sel skuamosa lidah. Karsinoma sel skuamosa lidah merupakan salah satu bentuk karsinoma rongga mulut yang mempunyai presentase paling banyak dari seluruh keganasan rongga mulut (9097%). Karsinoma lidah adalah suatu tumor yang terjadi dasar mulut, kadangkadang meluas ke arah lidah dan menyebabkan gangguan mobilitas lidah (Van deVelde,1999). Tumor lidah adalah karsinoma sel skuamosa yang muncul dari lapisan yang menutupi otot-otot lidah. Sebuah tumor ganas yang timbul dari epitel yang menutupi lidah. Kanker lidah adalah suatu neoplasma maligna yang timbul dari jaringan epitel mukosa lidah dengan selnya berbentuk squamous cell carcinoma (cell epitel gepeng berlapis), juga beberapa penyakit-penyakit tertentu (premaligna). Kanker ganas ini dapat menginfiltrasi ke daerah sekitarnya, di samping itu dapat melakukan metastase secara limfogen dan hematogen. Jadi dapat disimpulkan tumor lidah adalah suatu tumor yang terjadi pada permukaan dasar mulut yang timbul dari epitel yang menutupi lidah.

Angka kejadian kanker lidah ini relatif umum, dengan 3% dari seluruh penyakit berbahaya yang timbul dalam rongga mulut. Kanker Lidah lebih umum dari semua jenis kanker rongga mulut kecuali orang-orang dari bibir dan terjadi dengan bertambahnya usia. Hal ini jarang terjadi sebelum usia 40 dan insiden tertinggi penyakit ini dalam dekade-dekade 6 dan 7 dengan perbandingan pria dan wanita 3 : 1. Secara geografis, tumor ditemukan di seluruh dunia, tetapi ada variasi yang signifikan dalam insiden. Penyakit ini terjadi dengan kejadian tertinggi pada populasi India.

B. Etiologi Faktor risiko untuk pengembangan dasar karsinoma lidah termasuk alkohol kronis dan penggunaan tembakau, lanjut usia, lokasi geografis, dan sejarah keluarga atas kanker saluran aerodigestive. Paparan Lingkungan untuk polisiklik hidrokarbon aromatik, asbes, dan asap pengelasan dapat meningkatkan resiko kanker faring. Kekurangan gizi dan agen infeksi (terutama papillomavirus dan jamur) juga mungkin memainkan peran penting.

C. Patofisiologi Unsur-unsur penyebab kanker (onkogen) dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar, yaitu energi radiasi, senyawa kimia dan virus. 1. Energi radiasi Sinar ultraviolet, sinar-x dan sinar gamma merupakan unsur mutagenik dan karsinogenik. Radiasi ultraviolet dapat menyebabkan terbentuknya dimmer pirimidin. Kerusakan pada DNA diperkirakan menjadi mekanisme dasar

timbulnya karsinogenisitas akibat energi radiasi. Selain itu, sinar radiasi menyebabkan terbentuknya radikal bebas di dalam jaringan. Radikal bebas yang terbentuk dapat berinteraksi dengan DNA sehingga terjadi kerusakan molekular. 2. Senyawa kimia dan makromolekul lainnya

Sejumlah besar senyawa kimia bersifat karsinogenik. Kontak dengan senyawa kimia dapat terjadi akibat pekerjaan seseorang, makanan, atau gaya hidup. Adanya interaksi senyawa kimia karsinogen dengan DNA dapat mengakibatkan kerusakan pada DNA. Kerusakan ini ada yang masih dapat diperbaiki dan ada yang tidak. Kerusakan pada DNA yang tidak dapat diperbaiki dianggap sebagai penyebab timbulnya proses karsinogenesis. 3. Virus Virus onkogenik mengandung DNA atau RNA sebagai genomnya. Adanya infeksi virus pada suatu sel dapat mengakibatkan transformasi

maligna, hanya saja bagaiamana protein virus dapat menyebabkan transformasi masih belum diketahui secara pasti. Berdasarkan beberapa penelitian, DNA merupakan makromolekul yang penting dalam proses karsinogenesis, hal ini didasari dari: a. Sel kanker memproduksi sel kanker, dimana adanya perubahan esensial yang menyebabkan timbulnya sel kanker diteruskan dari sel induk kepada turunan, berhubungan dengan peranan DNA. b. Adanya karsinogen akan merusak DNA, sehingga menyebabkan mutasi pada DNA. c. Banyak sel tumor yang memperlihatkan kromosom yang abnormal. d. DNA sel kanker dapat menyebabkan transformasi sel normal menjadi sel kanker. Rokok telah terbukti sebagai karsinogen pada percobaan terhadap binatang karena mengandung banyak radikal bebas dan epoxides yang berbahaya. sel

Pengaruh yang ditimbulkan oleh rokok berupa perubahan mukosa saluran aerodigestivus. Hal ini berhubungan dengan kerusakan gen p53, dimana jika terjadi mutasi, hilang atau rusaknya gen p53 maka resiko untuk terjadinya kanker akibat rokok akan meningkat. Peningkatan angka berhubungan erat dengan penggunaan alkohol dan kejadian keganasan

rokok. Resiko untuk

terjadinya kanker kepala dan leher pada orang perokok dan peminum alkohol 17 kali lebih besar daripada yang tidak perokok atau peminum alkohol. Menurut Hanh dkk, terdapat 6 faktor yang menyebabkan perkembangan untuk sel : 1. Berproliferasi autonom 2. Menghambat sinyal growth inhibition 3. Kemampuan menghindari apoptosis 4. Immortal 5. Angiogenesis 6. Menginvasi jaringan lain dan metastasis Patogenesis tumor ganas merupakan proses yang biasanya memakan waktu yang cukup lama. Pada tahap awal terjadi inisiasi karena ada inisiator yang memulai pertumbuhan sel yang abnormal. Inisiator ini dibawa oleh zat

karsinogenik. Bersamaan dengan atau setelah inisiasi, terjadi promosi yang dipicu oleh promoter sehingga terbentuk sel yang polimorfis dan anaplastik. Selanjutnya terjadi progresi yang ditandai dengan invasi sel-sel ganas ke membrane basalis. Faktor utama yang menyebabkan inisiasi keganasan adalah akibat ketidakmampuan DNA untuk memperbaiki sistem yang mendeteksi adanya transformasi sel akibat paparan onkogen. Kerusakan pada DNA meliputi ulang kromosom, dan

hilangnya atau bertambahnya kromosom, penyusunan

penghapusan kode kromosom. Penghapusan atau penggandaan bagian-bagian kromosom memungkinkan untuk ditempati oleh onkogen atau gen supresor

tumor. Sedangkan penyusunan ulang kromosom dapat berubah menjadi aktivasi karsinogenik. Perubahan genetik pada karsinoma sel skuamosa kepala dan leher belum diketahui secara pasti. Califano dkk mengemukakan hilangnya

kromosom 9p21 atau 3p menyebabkan perubahan dini pada mukosa kepala dan leher sehingga mengakibatkan munculnya karsinoma sel skuamosa.

Namun, teori lain menyatakan bahwa hilangnya kromosom 17p pada gen supresor tumor juga turut berperan tethadap keganasan kepala dan leher. Selain itu, hilangnya kromosom 3p21 men yebabkan perubahan hyperplasia dan displasia, sedangkan hilangnya kromosom 6p, 8p, 11q, 14q, dan 4q26-28 menyebabkan terjadinya invasi ke jaringan sekitar. D. Manifestasi Klinis Gejala-gejala kanker lidah antara lain adalah timbulnya ulkus (luka) seperti sariawan yang tidak sembuh dengan pengobatan adekuat, mudah berdarah, bagian tengah ulkus relatif lembut dan mudah berdarah. Perdarahan terjadi ketika tekanan diberikan pada tempat kanker, saat mengunyah, minum atau menelan. Fokus kanker adalah sangat lembut dan tidak tahan tekanan dalam bentuk apapun, sehingga mengakibatkan pendarahan. Perdarahan merupakan indikasi penting dan gejala kanker lidah. Sakit tenggorokan terus-menerus adalah gejala kanker lidah yang utama dan sering terjadinya mati rasa di lidah dan mulut. Selain itu, perubahan suara, lidah kaku dengan gerakan berkurang, dan bau mulut adalah gejala kanker lidah lain yang terkait serta benjolan di bagian belakang tenggorokan, pembesaran kelenjar getah bening leher, yang tak dapat dijelaskan dan penurunan berat badan yang berlebihan. Pasien juga mengeluh kesulitan dalam membuka mulut dan adanya massa di leher. Pada stadium dini, kanker lidah tidak menimbulkan nyeri dan biasanya ditemukan pada pemeriksaan rutin pada gigi dan mulut. Kanker biasanya timbul di bagian pinggir lidah, hampir tidak pernah ditemukan kanker pada pangkal lidah kecuali pada seseorang yang pernah menderita sinus yang tidak pernah mendapatkan pengobatan selama beberapa tahun. Karsinoma sel skuamosa pada sel lidah seringkali tampak seperti luka terbuka (borok) dan cenderung tumbuh ke dalam jaringan di bawahnya. Bintik kecoklatan mendatar seperti bercak sering ditemukan pada perokok yaitu di sisi biasanya rokok atau pipa diletakkan pada bibir.

E.

Pemeriksaan Diagnosis 1. Biopsi langsung Merupakan metode baku untuk memperoleh jaringan dari lesi dirongga mulut dan orofaring. 2. Sitologi Pemeriksaan sitologi eksfoliatifa dari spesimen kerokan atau inprint dari tumor primer dikerjakan pada lesi yang berupa bercak/superficial. Bila hasilnya : Klas I- III : lakukan ulangan sitologi 3 bulan lagi.Bila 2x ulangan sitologi tetap klas I- III maka perlu dibiopsi Klas IV-V : lakukan biopsy 3. Panendoskopi Dilakukan untuk menentukan perluasan lesi yang besar dan terletak disebelah posterior dan untuk menyingkirkan adanya tumor primer simultan. 4. Ultrasound yaitu dipakai untuk menilai massa superficial. 5. CT Scan dan Megnetic Resonance Imaging (MRI) yaitu digunakan untuk lesi lebih dalam dan menilai struktur lebih dalam pada tumor dan menunjukkan apakah terdapat metastase atau tidak.(Charlene J. Reeves, 2001, hal: 133) 6. Biru toluidine Sebuah zat pewarna yang dibubuhkan in situ sebagai salah satu cara diagnostik tambahan dalam mendeteksi karsinoma sel skuamosa yang akan memberi warna biru pada sel kanker. Jaringan normal tidak mengisap warna, sedang lesi praganas atau non neoplasma tidak konstan mengisap warna. Menurut Mashberg tehnik memberi warna rongga mulut sebagai berikut: 1. Kumur dengan larutan asam asetat 1% : 20 detik 2. Kumur dengan air : 20 detik, 2 x 3. Kumur dengan larutan toluidine blue 1% : 5-10 cc 4. Kumur lagi dengan larutan asam asetat 1% : 1 menit 5. Kumur dengan air.

Pembacaan hasil pemeriksaan dilakukan 24 jam kemudian, pemeriksaan ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas sebesar 90%. Adapun larutan toluidine biru terdiri dari : 1.Toluidine chlorida : 1 gr 2. Asam asetat : 10 cc 3. Alkohol absolut : 4,2 cc 4.Aquadest: 100 cc 5. PET (Positron Emission Tomography) Pemeriksan imaging dengan PET Pemeriksaan Positron Emission

Tomography menggunakan tirosin sebagai tracer memiliki sensitivitas dan spesifisitas cukup tinggi untuk karsinoma.Pemeriksaan ini dapat mendeteksi tumor <4mm. Untuk staging memiliki sensitivitas 71% dan spesifisitas 99%, sedangkan untuk dteksi kekambuhan memiliki sensitivias 92% dan spesifisitas 81%.

F. Penatalaksanaan Penanganan kanker lidah ini sebaiknya dilakukan secara multidisipliner yang melibatkan beberapa bidang spesialis yaitu: oncologic surgeon plastic & reconstructive surgeon radiation oncologist medical oncologist dentists rehabilitation specialists

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penanganan kanker lidah ini ialah eradikasi dari tumor, pengembalian fungsi dari rongga mulut, serta aspek kosmetik /penampilan penderita. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan macam terapi ialah : a) Umur penderita b) Keadaan umum penderita
9

c) Fasilitas yang tersedia d) Kemampuan dokternya e) Pilihan penderita. Penatalaksanaan pasien tumor ganas lidah dilakukan dengan operasi, radiasi, kemoterapi, atau kombinasi dua atau ketiganya, tergantung dari jenis tumor dan durasinya. Keputusan tentang tindakan terbaik yang dapat dilakukan harus dibuat oleh seseorang yang mempunyai keahlian khusus tentang keganasan leher dan kepala. Untuk lesi yang kecil (T1 dan T2), tindakan operasi atau radioterapi saja dapat memberikan angka kesembuhan yang tinggi, dengan catatan bahwa radioterapi saja pada T2 memberikan angka kekambuhan yang lebih tinggi daripada tindakan operasi. Untuk T3 dan T4, terapi kombinasi operasi dan radioterapi memberikan hasil yang paling baik. Pemberian neo-adjuvant radioterapi dan atau kemoterapi sebelum tindakan operasi dapat diberikan pada kanker rongga locally advanced (T3,T4). Radioterapi dapat diberikan secara interstisial atau eksternal, tumor yang eksofitik dengan ukuran kecil akan lebih banyak berhasil daripada tumor yang endofitik dengan ukuran besar. Peran kemoterapi pada penanganan kanker lidah masih belum banyak, dalam tahap penelitian kemoterapi hanya digunakan sebagai neo-adjuvant pre-operatif atau adjuvan post- operatif untuk sterilisasi kemungkinan adanya mikro metastasis. Sebagai pedoman terapi untuk kanker rongga mulut dianjurkan seperti berikut: T1,2 : eksisi luas atau radioterapi T3,4 : eksisi luas + deseksi supraomohioid + radioterapi pasca bedah Untuk tumor lidah T3 dan T4, penanganan N0 dapat dilakukan deseksi leher selektif atau radioterapi regional pasca bedah. Sedangkan N1 yang didapatkan pada setiap T harus dilakukan deseksi leher radikal. Bila memungkinkan, eksisi luas tumor primer dan deseksi leher tersebut harus dilakukan secara en-block. Pemberian radioterapi regional pasca bedah tergantung hasil dari pemeriksaan patologis metastase pada kelenjar getah bening tersebut (jumlah kelenjar getah bening yang

10

positif metastase, penembusan kapsul kelenjar getah bening/ ektra kelenjar getah bening). A. Terapi Kuratif Terapi kuratif diberikan pada tumor lidah stadium I, II, dan III. 1. Terapi utama Terapi utama untuk stadium I dan II ialah operasi atau radioterapi yang masingmasing mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sedangkan untuk stadium III dan IV yang masih operabel ialah kombinasi operasi dan radioterapi pasca bedah. Pada terapi kuratif haruslah diperhatikan: a) Menurut prosedur yang benar, karena kalau salah hasilnya tidak menjadi kuratif. b) Fungsi mulut untuk bicara, makan, minum, menelan, bernafas, tetap baik. c) Kosmetis cukup dapat diterima. 2. Operasi Indikasi operasi: Kasus operable Umur relatif muda Keadaan umum baik Tidak terdapat ko-morbiditas yang berat 3. Radioterapi Indikasi radioterapi : Kasus inoperable T1,2 tempat tertentu Kanker pangkal lidah Umur relatif tua Menolak operasi Ada ko-morbiditas yang berat 4. Terapi tambahan

11

A. Radioterapi Radioterapi tambahan diberikan pada kasus yang terapi utamanya operasi. 1) Radioterapi pasca-bedah. Diberikan pada T3 dan T4a setelah operasi, kasus yang tidak dapat dikerjakan eksisi radikal, radikalitasnya diragukan, atau terjadi kontaminasi lapangan operasi oleh sel kanker. 2) Radioterapi pra-bedah. Diberikan pada kasus yang operabilitasnya diragukan atau yang inoperabel. B. Operasi Operasi dikerjakan pada kasus yang terapi utamanya radioterapi yang setelah radioterapi menjadi operabel atau timbul residif setelah radioterapi. C. Kemoterapi Kemoterapi diberikan pada kasus yang terjadi kontaminasi lapangan operasi oleh sel kanker, kanker stadium III atau IV atau timbul residif setelah operasi dan atau radioterapi. D. Terapi Komplikasi Pada umumnya stadium I sampai II belum ada komplikasi penyakit, tetapi dapat terjadi komplikasi karena terapi. Terapinya tergantung dari komplikasi yang ada, misalnya: Nyeri: analgetika Infeksi: antibiotika Anemia: hematinic

5. Terapi Paliatif Terapi paliatif ialah untuk memperbaiki kwalitas hidup penderita dan mengurangi keluhannya terutama untuk penderita yang sudah tidak dapat disembuhkan lagi. Terapi paliatif diberikan pada penderita kanker lidah yang: A. Stadium IV yang telah menunjukkan metastase jauh B. Terdapat ko-morbiditas yang berat dengan harapan hidup yang pendek

12

C. Terapi kuratif gagal D. Usia sangat lanjut, Keluhan yang perlu dipaliasi antara lain: a) Loko regional : G. Komplikasi Tumor ganas pada lidah yang tidak ditangani segera akan melakukan penyebaran ke jaringan di dalam rongga mulut dan leher yang lebih dalam. Akhirnya, menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya. Pada tingkat lanjutan ini, penderita akan mengalami komplikasi akibat dari penyebaran itu. Komplikasi-komplikasi yang bisa timbul antara lai: 1. Perdarahan 2. Sumbatan jalan nafas 3. Gangguan fonasi suara 4. Glossitis 5. Penurunan berat badan akibat kurangnya nafsu makan Ulkus di mulut/leher Nyeri Sukar makan, minum, menelan Mulut berbau Anoreksia Fistula oro-kutan

a) Sistemik: Nyeri Sesak nafas Sukar bicara Batuk-batuk Badan mengurus Badan lemah

13

H. Prognosis Seperti pada kasus-kasus tumor lainnya, deteksi dini dan pengobatan yang tepat serta adekuat menunjukkan prognosis yang baik. Namun ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi prognosis yaitu : 1. Ukuran massa tumor. Ukuran yang kecil dari massa bisa dieksisi dan ditangani dengan mudah justru menurunkan angka kematian berbanding massa yang lebih besar. 2. Metastasis Tumor ganas lidah menyebar ke organ-organ sekitar seperti mulut, tenggorokan, leher, mandibula, dan kelenjar getah bening dengan cepat jika tidak sekitar segera ditangani. Akibatnya, gejala-gejala lain akan timbul dari komplikasi tersebut. Penderita dengan keadaan ini menunjukkan prognosis yang buruk. 3. Gaya hidup. Mengkonsumsi alkohol dan merokok merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya tumor ganas pada lidah. Kebiasaan mengambil bahan-bahan ini dalam kehidupan sehari-hari memperburuk prognosis penyakit.

I. Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian A. Data Demografi Nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, nomor register, tanggal masuk dan nama penanggung jawab pasien selama dirawat. B. Riwayat Kesehatan a) Keluhan utama Alasan spesifik untuk kunjungan ke klinik atau rumah sakit. b) Riwayat penyakit sekarang Keluhan utama dari awitan paling awal sampai perkembangannya saat ini. Terdapat komponen utama yaitu: rincian awitan, riwayat interval yang lengkap, status saat ini, alas an untuk mencari bantuan saat ini. c) Riwayat penyakit dahulu

14

Penyakit yang pernah di derita klie sebelumnya. d) Riwayat penyakit keluarga Apakah di dalam keluarga ada salah satu anggota yang menderita tumor lidah. e) Riwayat imunisasi C. Pengkajian Pola Kesehatan Fungsional (Gordon) a) Aktivitas Kelemahan atau keletihan, perubahan pada pola istirahat; adanya faktorfaktor yang mempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas. b) Eliminasi Perubahan pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urin, perubahan bising usus, distensi abdomen. c) Makanan/cairan Kebiasaan diit buruk ( rendah serat, aditif, bahan pengawet), anoreksia, mual/muntah, mulut rasa kering, intoleransi makanan,perubahan berat badan, perubahan kelembaban/turgor kulit. d) Neurosensori Sakit kepala, tinitus, tuli, juling. e) Nyeri/kenyamanan Rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri telinga (otalgia), rasa kaku di daerah leher karena fibrosis jaringan akibat penyinaran. f) Pernapasan Merokok (tembakau, hidup dengan seseorang yang merokok), pemajanan. g) Keamanan Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari lama /berlebihan, demam, ruam kulit. h) Seksualitas Masalah seksual misalnya dampak hubungan, perubahan pada tingkat kepuasan. i) Interaksi sosial

15

Ketidakadekuatan atau kelemahan sistem pendukung. D. Pemeriksaan Fisik Sistem pengkajian fisik, baik struktur internal dan eksternal mulut dan tenggorok di inspeksi dan palpasi. Perlu untuk melepaskan gigi palsu dan lempeng parsial untuk menjamin inspeksi menyeluruh terhadap gusi. Secara umum, pemeriksaan dapat diselesaikan dengan penggunaan sumber lampu terang (penlight) dan depresor lidah. Sarung tangan digunakan untuk mempalpasi lidah dan adanya abnormalitas. a) Bibir Pemeriksaan mulai dengan inspeksi terhadap bibir untuk kelembaban, hidrasi, warna, tekstur, simetrisitas, dan adanya ulserasiatau fisura. Bibir harus lembab, merah muda, lembut dan simetris. b) Gusi Gusi diinspeksi terhadap inflmasi, perdarahan, retraksi, dan perubahan warna. Bau napas juga dicatat. c) Lidah Lidah dorsal diinspeksi untuk tekstur, warna, dan lesi. Papila tipis, lapisan putih, dan besar berbentuk V pada bagian distal dorsal lidah. Selanjutnya dibagian permukaan venteral lidah dan dasar mulut lidah. Adanya lesi pada mukosa yang melibatkan vena superfissial pada permukaan bawah lidah terlihat. Spatel lidah digunakan untuk menekan lidah guna mendapatkan visualisasi adekuat terhadap faring. d) Rongga Oral Pengkajian rongga oral sangat penting, karena banyak gangguan seperti kanker, diabetes, dan kondisi imunosupresidari terapi obat atau AIDS dimanifestasikan oleh perubahan pada rongga oral. Leher diperiksa terhadap pembesaran nodus limpa.(Smeltzer, Suzanne C., 2002 : hal 1009)

2. Diagnosa Keperawatan

16

1) Nyeri yang berhubungan dengan lesi oral atau pengobatan, efek dari pembedahan reseksi. 2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mencerna nutrisi adekuat akibat kondisi oral. 3) Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan penyakit 4) Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan neurology dan kemampuan menelan. 5) Resiko terhadap infeksi yang berhubungan dengan penyakit atau pengobatan 6) Kurang pengetahuaan tentang proses penyakit dan rencana pengobatan

3. Intervensi Dx 1: Nyeri berhubungan dengan lesi oral atau pengobatan, pembedahan reseksi. Tujuan : Nyeri hilang lebih berkurang, rasa nyaman terpenuhi KH : Klien mengatakan nyeri berkurang sampai dengan hilang, Nadi 60 90 x/menit, klien merasa nyaman, tenang, dan rileks Intervensi a) Kaji letak dan karakteristik nyeri. Rasional : untuk menentukan tindakan dalam mengatur nyeri. b) Ubah posisi klien bila terjadi nyeri, arahkan ke posisi yang paling nyaman. Rasional : posisi yang nyaman dapat mengurangi nyeri. c) Observasi nyeri berkurang atau tidak. Rasional : Mengetahui skala nyeri saat ini. d) Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi (teknik penggurang rasa nyeri non farmakologi). Rasional : Mengurangi rasa nyeri. e) Diskusikan dengan keluarga tentang nyeri yang dialami klien. Rasional : Keluarga berpartisipasi dalam pengobatan f) Kolaborasi untuk mendapatkan obat analgetik

17

Rasional : untuk memblok syaraf yang menimbulkan nyeri Dx 2: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mencerna nutrisi adekuat akibat kondisi oral. Tujuan : kebutuhan nutrisi klien terpenuhi Kriteria hasil : BB dalam batas normal, nafsu makan meningkat, tidak mual/muntah Intervensi a) Timbang BB tiap hari. Rasional : untuk mengetahui terjadinya penurunan BB dan mengetahui tingkat perubahan. b) Diet makanan yang lunak (mis: bubur). Rasional : untuk membantu perbaikan absorbsi usus. c) Anjurkan klien untuk makan makanan dalam keadaan hangat. Rasional : Keadaan hangat dapat meningkatkan nafsu makan. d) Anjurkan klien untuk makan sedikit tapi sering. Rasional : Untuk memenuhi asupan makanan. e) Berikan diet tinggi kalori, protein dan mineral serta rendah zat sisa. Rasional : untuk memenuh kecukupa nutrisi klien f) Kolaboration pemberian obat antipiretik. Rasional : untuk mengurangi bahkan menghilangkan rasa mual dan muntah Dx 3: Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan penyakit Tujuan : Suhu tubuh dalam batas normal. KH : suhu tubuh dalam batas normal, badan tidak terasa panas Intervensi : a) Kaji suhu dan tanda- tanda vital Rasional : Memantau perubahan suhu tubuh

18

b) Pantau suhu klien, perhatikan menggigil. Rasional : Suhu 38,-41,1C menunjukan proses penyakit infeksius. c) Berikan kompres air hangat. Rasional : Dapat membantu mengurangi demam. d) Anjurkan pasien untuk banyak minum. Rasional : Mempertahankan intake. e) Anjurkan pasien memakai pakaian yang tipis dan menyerap keringat. Rasional : Menurunkan suhu tubuh f) Kolaborasi pemberian antipiretik Rasional : Untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya hipotalamus

Dx 4:

Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan neurologi dan kemampuan menelan. Tujuan : tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal. Kriteria hasil : komunikasi lancar. Intervensi :

a) Kaji kemampuan komunikasi klien. Rasional : Mengetahui kemampuan komunikasi klien. b) Sediakan alat komunikasi yang lain seperti papan tulis atau buku jika klien tidak dapat berkomunikasi verbal Rasional : Membantu dalam berkomunikasi. c) Responsif terhadap bel panggilan dari klien Rasional : Menjaga kepercayaan dari pasien. Dx 5: Resiko terhadap infeksi yang berhubungan dengan penyakit atau pengobatan. Tujuan: Tidak terjadi infeksi.

19

Kriteria hasil: Tidak ada tanda-tanda infeksi (rubor, color, dolor, tumor dan fungsion laesa), TTV dalam batas normal. Intervensi : a) Monitor TTV. Rasional : Suhu yang meningkat dapat menunjukkan terjadi infeksi b) Kaji luka pada daerah tumor Rasional : Mengidentifikasi apakah ada tanda-tanda infeksi adanya pus. c) Menjaga kebersihan sekitar luka dan lingkungan pasien, teknik rawat luka dengan antisep dan antiseptic. Rasional : Mencegah kontaminasi silang / penyebaran organisme infeksius. d) Kolaborasi pemberian antibiotic. Rasional : Antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi. Dx 6: Kurang pengetahuaan tentang proses penyakit dan rencana pengobatan berhubungan dengan kurang informasi da pemahaman klien/keluarga. Tujuan : Klien/keluarga mengetaui tentang proses penyakit Kriteria Hasil : Klien/keluarga menyatakan pemahaman proses penyakit Intervensi : a) Kaji ulang proses penyakit, penyebab/efek hubungan faktor yang menimbulkan gejala dan mengidentifikasi cara menurunkan faktor pendukung. Rasional : Mengetahui sejauh mana keluarga memahami penyakit tersebut. b) Tentukan persepsi tentang proses penyakit. Rasional : Menyamakan pola pikir. c) Jelaskan tentang penyakit yang diderita klien. Rasional : Memberikan informasi. d) Diskusikan kembali dengan keluarga Rasional : Mengetahui sejauhmana informasi yang diterima keluarga

20

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Tumor ganas lidah adalah keganasan yang terdapat pada lidah. Bentuk yang paling banyak ditemukan adalah karsinoma sel skuamosa lidah. Karsinoma sel skuamosa lidah merupakan salah satu bentuk karsinoma rongga mulut yang mempunyai presentase paling banyak dari seluruh keganasan rongga mulut. Hal ini jarang terjadi sebelum usia 40 dan insiden tertinggi penyakit ini dalam dekade- dekade 6 dan 7 dengan perbandingan pria dan wanita 3:1. Faktor risiko untuk pengembangan dasar karsinoma lidah termasuk alkohol kronis dan penggunaan tembakau, usia lebih tua, lokasi geografis, dan sejarah keluarga atas kanker saluran aerodigestive. Gejala-gejala kanker lidah antara lain adalah timbulnya ulkus (luka) seperti sariawan yang tidak sembuh dengan pengobatan adekuat, mudah berdarah Bagian tengah ulkus relatif lembut dan mudah berdarah. Perdarahan terjadi ketika tekanan diberikan pada tempat kanker, saat mengunyah, minum atau menelan. Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan hasil biopsi histopatologi jaringan lidah. Penanganan kanker lidah ini sebaiknya dilakukan secara multidisipliner. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penanganan kanker lidah ini ialah eradikasi dari tumor, pengembalian fungsi dari rongga mulut, serta aspek kosmetik /penampilan penderita. Tumor ganas pada lidah yang tidak ditangani segera akan melakukan penyebaran ke jaringan di dalam rongga mulut dan leher yang lebih dalam. Akhirnya, menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya. B. Saran Untuk para mahasiswa keperawatan, harus memahami teori konsep mengenai kanker lidah sehingga mampu membuat asuhan keperawatan yang tepat kepada klien. Untuk instansi perpustakaan, sebaiknya menyediakan buku-buku yang lengkap mengenai kanker khususnya kanker lidah ini sehingga mempermudah mengumpulkan materi yang dibutuhkan untuk dijadikan referensi.

21

DAFTAR PUSTAKA Baughman, Diane C. dkk. 2000. Buku saku Keperawatan medical bedah. Jakarta: EGC. http://www.bingkaiberita.com/kanker-lidah-faktor-gejala-dan-cara-pengobatan/ (Diakses tanggal 27 November 2013) http://www.vemale.com/kesehatan/19927-waspada-kanker-lidah-kenali-gejalanya.html (Diakses tanggal 27 November 2013) http://www.deherba.com/kenali-gejala-kanker-lidah.html#ixzz2loEVxgPQ (Diakses tanggal 27 November 2013) Yohannes, S. Tongue Carcinoma. Available from: www.emedicine.com Last update 10 Sep 2010. (Diakses tanggal 27 November 2013) ADAM, George L. 1997. Buku ajar penyakit THT. Jakarta : EGC Sjamsuhidajat, R. 2004. Neoplasma dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC Murray, K Robert. 1999. Kanker, Gen Kanker dan Faktor Pertumbuhan dalam Biokimia Harper. Edisi 24. Jakarta. EGC.

22