Anda di halaman 1dari 4

TANAH DASAR TEORI Salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting di Negara-negara sedang berkembang khususnya pada

daerah yang tropik adalah penyakit infeksi kecacingan khususnya cacing yang ditularkan melalui tanah. Cacing umumnya tidak menyebabkan penyakit berat sehingga sering kali diabaikan walaupun sesungguhnya memberikan gangguan kesehatan. Tetapi dalam keadaan infestasi berat atau keadaan yang luar biasa, kecacingan cenderung memberikan analisa keliru kearah penyakit lain dan tidak jarang dapat berakibat fatal. Nematoda da merupakan salah satu genus cacing yang adapt menginfeksi manuasia, salah satunya adalah nematoda usus. Diantara nematoda usus terdapat sejumlah penyebab infeksi cacing usus adalah yang penularannya dengan perantara tanah (Soil Transmitted Helmints), diantaranya adalah Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Necator americanus, dan Ancylostoma duodenale dan Strongyloides stercoralis. Pemeriksaan ini dilakukan dengan Tanah yang lembab dipusingkan pada centrifuge dengan kecepatan 2000 RPM akan mengendap, kemudian bila ditambahkan NaCl dan dipusingkan kembali dengan kecepatan 2500 RPM bila mengandung telur cacing Ascaris Lubricoides akan mengapung. Kemudian ditambahkan NaCl sampai penuh dan ditutup dengan deck gelas beberapa menit agar telur cacing menempel pada deck gelas sehingga dapat diperiksa pada mikroskop. PEMBAHASAN DEBU JARI TANGAN DASAR TEORI Frekuensi kecacingan di Indonesia tinggi terutama pada anak yang lebih banyak ditemukan pada golongan ekonomi lemah. Kebersihan perorangan penting utuk pencegahan,kuku hedaknya selalu dipotong pendek, tangan di cuci bersih sebelum makan.
Pintu masuknya endoparasit umumnya adalah melalui mulut. masuk ke dalam tubuh manusia bersama makanan yang terkontaminasi parasit, berupa kista, telur, larva ataupun parasit dewasanya.

Usaha pencegahan penyakit cacingan yaitu sebagai berikut: hati-hati bila makanan mentah atau setengah matang terutama pada tempat-tempat dimana sanitasi masih kurang, masak bahan makanan sampai matang, selalu mencuci tangan setelah dari kamar mandi/WC, selalu mencuci tangan dengan sabun setelah bermain, sebelum memegang makanan. Dilakukan juga pemeriksaan flotasi pada sampel kuku jari tangan, Dimana prinsip kerja dari flotasi itu sendiri adalah dengan menggunakan NaCl jenuh, yang awalnya perendaman kuku anak-anak dengan NaCl tadi sampai 2/3 tabung kemudian diaduk sampai homogen, tambahkan lagi NaCl jenuh sampai tabung penuh dan tutup dengan deck glass selama 45 menit, angkat obyek glass periksa dibawah mikroskop. PEMBAHASAN METODE LANGSUNG DASAR TEORI

Metode ini dipergunakan untuk pemeriksaan secara cepat dan baik untuk infeksi berat, tetapi untuk infeksi yang ringan sulit ditemukan telur-telurnya. Cara pemeriksaan ini menggunakan larutan NaCl fisiologis (0,9%) atau eosin 2%. Penggunaa eosin 2% dimaksudkan untuk lebih jelas membedakan telur-telur cacing dengan kotoran disekitarnya. Eosin memberikan latar belakang merah terhadap telur yang berwarna kekuning-kuningan dan untuk lebih jelas memisahkan feces dengan kotoran yang ada.

Prinsip dasar pembuatan sediaan dengan cara langsung yaitu, membuat sediaan setipis mungkin yang tidak ada gelembung udara di dalamnya. Pemeriksaan cara langsung ini hanya dapat memberikan hasil secara kualitatif dengan hasil positif atau negative saja.

PEMBAHASAN

SEDIMENTASI PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini pemeriksaan telur cacing nematoda usus pada sampel tinja menggunakan metode seimentasi. Metode sedimentasi mempunyai prinsip pemeriksaan yaitu sampel diendapkan melalui proses sentrifufasi kemudian diperiksa dibawah mikroskop dengan pembesaran 10 x 10. Metode sedimentasi ini membutuhkan alat sentrifuge untuk mengendapkan telur cacing ke dasar tabung maupun partikel partikel lainnya yang terdapat dalam sampel feses. Adapun kelebihan dan kekurangan dari pemeriksaan telur cacing cara sedimentasi dibandingkan dengan cara pengapungan (fluotasi) dan cara langsung adalah cara sedimentasi lebih sensitif sebab volume tinja yang diperiksa lebih banyak, dengan demikian hasil negatif dari pemeriksaan langsung bisa menunjukkan hasil positif bila diperiksa dengan konsentrasi. Meskipun pada sediaan cara sedimentasi terdapat partikel partikel tinja, namun semua protozoa, telur dan larva yang ada akan terdeteksi, telur telur cacing tetap utuh dan tidak terdistorsi mengendap didasar tabung. Dan cara ini juga merupakan cara yang lebih kecil kemungkinannya menjadi subjek kesalahn teknik. Namun jika proses sentrifugasi tidak dilakukan dengan benar maka kemungkinan besar akan memberikan hasil negatif palsu sebab partikel partikel rusak atau tidak mengendap secara utuh akibat dari kesalahan proses sentrifugasi.

FLOTASI DASAR TEORI Metode ini digunakan larutan NaCl jenuh atau larutan gula atau larutan gula jenuh yang didasarkan atas BD (Berat Jenis) telur sehingga telur akan mengapung dan mudah diamati. Metode ini digunakan untuk pemeriksaan feses yang mengandung sedikit telur. Cara kerjanya didasarkan atas berat jenis larutan yang digunakan, sehingga telur-telur terapung dipermukaan dan juga untuk

memisahkan partikel-partikel yang besar yang terdapat dalam tinja. Pemeriksaan ini hanya berhasil untuk telur-telur Nematoda, Schistostoma, Dibothriosephalus, telur yang berpori-pori dari famili Taenidae, telur-telur Achantocephala ataupun telur Ascaris yang infertil. Pemeriksaan parasit dengan sampel feses pada manusia atau hospes dapat dilakukan dengan pemeriksaan kualitatif dan kuantitatif. Pemeriksaan feses secara kualitatif yaitu pemeriksaan yang didasarkan pada ditemukannya telur pada masing masing metode pemeriksaan tanpa dihitung jumlahnya. Metode pemeriksaan yang termasuk dalam pemeriksaan kualitatif adalah pemeriksaan metode apung ( fluotasi ). Pada praktikum ini metode yang digunakan yaitu metode pengapungan atau fluotasi. Pada metode ini menggunakan larutan NaCl jenuh atau larutan gula jenuh dan terutama dipakai untuk pemeriksaan feses yang sedikit telur. Cara kerjanya didasarkan atas berat jenis telur yang lebih ringan dari pada berat jenis larutan yang digunakan, sehingga telur telur terapung dipermukaan dan juga untuk memisahkan partikel partikel yang besar yang terdapat dalam feses. Pemeriksaan ini hanya berhasil untuk telur telur nematode.

PEMBAHASAN Sampel yang digunakan dalam praktikum ini yaitu tinja yang diambil langsung dari manusia dengan criteria tertentu sekitar 5 6 jam sebelum praktikum. Penggunaan tinja dalam praktikum sebesar biji kelereng dan langsung dimasukkan ke dalam larutan NaCl yang disimpan dalam tabung reaksi kemudian dilarutkan sampai tidak ada feses yang menumpuk. Pada permukaan tabung reaksi diletakkan cover glass sampai menyentuh permukaan larutan emulsi dan dibiarkan kurang lebih 3 menit tujuannya agar telur cacing nematode mengendap ke atas dan menempel pada cover glass. Jika pada proses pendiaman terlalu lama bisa menyebabkan telur cacing kembali jatuh kedalam larutan. Akibatnya dapat menimbulkan hasil negative palsu. Sertelah dilakukan pendiaman diambil cover glass dan diletakkan diatas objek gelas yang bersih dan kering kemudian diperiksa dibawah mikroskop. Pada praktikum ini tidak didapatkan telur cacing dan dapat dinyatakan bahwa negative terhadap infeksi parasit atau terdapat kesalahan dalam pemeriksaan. Kelebihan dari metode fluotasi ( pengapungan ) yaitu tidak menyebabkan penumpukan telur cacing sehingga memudahkan dalam pemeriksaan telur cacing.

Ketepatan waktu flotasi merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi sebab didasarkan atas berbagai penelitian, pembacaan sediaan dengan waktu flotasi yang terlalu lama akan menyebabkan telur cacing mengendap kembali sehingga hasil yang terbaca kurang maksimal atau dapat terjadi hasil false negative

KATO DASAR TEORI

Metode Kato Teknik sediaan tebal (cellaphane covered thick smear tecnique) atau disebut teknik Kato. Metode ini digunakan untuk menemukan adanya telur cacing parasit dan menghitung jumlah telur cacing yang terdapat pada feses. Pengganti kaca tutup seperti teknik digunakan sepotong cellahane tape. Teknik ini lebih banyak telur cacing dapat diperiksa sebab digunakan lebih banyak tinja. Teknik ini dianjurkan untuk Pemeriksaan secara massal karena lebih sederhana dan murah. Morfologi telur cacing cukup jelas untuk membuat diagnosa. Pada metode ini diadakan penambahan melachite green untuk memberi latar belakang hijau. Anak-anak mengeluarkan tinja kurang lebih 100 gram/hari, dewasa mengeluarkan tinja kurang lebih 150 gram/hari. Jadi, misalnya dalam 1 gram feces mengandung 100 telur maka 150 gram tinja mengandung 150.000 telur.
PEMBAHASAN KATO KATZ

Pemeriksaan tinja bertujuan untuk menegakkan diagnosis pasti, ada dan tidaknya infeksi cacing, berat ringannya infeksi serta jenis telur cacing yang ada.
HARADAMORI Metode ini digunakan untuk menentukan dan mengidentifikasi larva cacing Ancylostoma Duodenale, Necator Americanus, Srongyloides Stercolaris dan Trichostronngilus yang didapatkan dari feses yang diperiksa. Teknin ini memungkinkan telur cacing dapat berkembang menjadi larva infektif pada kertas saring basah selama kurang lebih 7 hari, kemudian larva ini akan ditemukan didalam air yang terdapat pada ujung kantong plastik. Teknik ini digunakan untuk menemukan dan mengidentifikasi larva cacing Ancylostoma duodenale, Necator americanus, Strongyloides stercoralis dan Trichostrongylus sp. Dengan teknik ini telur cacing dapat berkembang menjadi larva infektif pada kertas saring basah. Kemudian larva akan ditemukan di dalam air yang terdapat pada ujung kantong plastik. PEMBAHASAN
Kekurangan : Dilakukan hanya untuk identifikasi infeksi cacing tambang, waktu yang dibutuhkan lama dan memerlukan peralatan yang banyak. Kelebihan : lebih mudah dilakukan karena hanya umtuk mengidentifikasi larva infektif mengingat bentuik larva jauh lebih besar di bandingkan dengan telur.