Anda di halaman 1dari 3

KEKUASAAN & KEPEMIMPINAN Muhammad Umaruddin Weber dan Waters (1994) mengatakan bahwa kekuasaan adalah kemungkinan seorang

aktor dapat menguasai dirinya, meskipun dengan perlawanan tanpa memerhatikan resiko. Kekuasaan menyangkut kualitas individu dan kombinasi keadaan yang memungkinkan seseorang mengontrol lainnya. Sedangkan Poulantzas dalam Waters (1994) mengartikan kekuasaan sebagai kapasitas klas sosial untuk merealisasikan tujuan tertentu. Klas adalah kebebasan individu tentang rasionalitas atau psikologi. Interes klas mengarah pada perluasan kapasitas sebagai kekuatan sosial. Soerjono Soekanto (2009: 227) Sosiologi tidak memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang baik atau yang buruk. Penilaian baik atau buruk senantiasa harus diukur dengan kegunaannya untuk mencapai suatu tujuan yang sudah ditentukan atau disadari oleh masyarakat. Karena kekuasaan sendiri memiliki sifat yang netral, maka menilai baik atau buruknya harus dilihat pada penggunaannya bagi keperluan masyarakat. Secara singkat, kekuasaan memiliki ciri-ciri: Kekuasaan memiliki dua unsur pokok yaitu interaksi dan pengaruh. Kekuasaan ada dalam setiap bentuk masyarakat, baik yang bersahaja maupun yang kompleks. Adanya kekuasaan tergantung dari hubungan antara yang berkuasa dan yang dikuasai. Orang yang berkuasa dinamakan pemimpin, dan yang menerima pengaruhnya disebut pengikutpengikutnya. Kepemimpinan bisa dibedakan menjadi dua: Sebagai kedudukan, kepemimpinan merupakan suatu kompleks dari hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang dapat dimiliki oleh suatu orang atau badan Sebagai proses sosial, kepemimpinan meliputi segala tindakan yang dilakukan seseorang atau suatu badan, yang menyebabkan gerak dari warga masyarakat. Rangkuman sumber kekuasaan (Basrowi, dkk., 2012) Tokoh Etzioni Yulk Mann Surbakti

1. 2.

position power(sumber kekuasaan berasal dari posisi/jabatan dalam organisasi tertentu) personal Sumber Kekuasaan power(sumber kekuasaan berasal pada atribut pribadi seseorang sebagai hasil hubungan sosialnya).

Kedudukan {wewenang formal, pengendalian atas (berbagai sumber & reward, hukuman, informasi, ekologi)} Kepribadian (keahlian, persahabatan/kesetiaan dan kharisma) Politik (pengendalian atas proses pembuatan keputusan, pembentukan koalisi, melakukan kooptasi dan institusionalisasi)

Ideologi Ekonomi Militer Politik

Paksaan fisik Ekonomi Normatif Jabatan Keahlian Informasi Popularitas pribadi Massa yang terorganisasi

Tipe-tipe kekuasaan Weber (1985) membagi tiga tipe antara lain: - kekuasaan tradisional adalah orde sosial yang bersandar pada kebiasaan kuno dengan mana status dan hak para pemimpin juga sangat ditentukan oleh adat kebiassan. - kekuasaan rasional-legal yaitu bahwa semua peraturan ditulis dengan jelas dan diundangkan dengan tegas serta batas wewenang para pejabat penguasa ditentukan oleh aturan main. Tipe ini di pecah lagi menjadi 4, yaitu rasional-tujuan (zwekrational), rasional-nilai, tindakan efektif (emosional), dan tindakan manusia yang bersifat tradisional. - kekuasaan kharismatik yaitu tipe keabsahannya berdasarkan pengakuan terhadap kualitas istimewa. Bentuk-bentuk pelapisan kekuasaan Mac Iver (dalam Syarbaini, dkk., 2002) Ada tiga pola sistem pelapisan kekuasaan (piramida kekuasaan) 1. Sistem pelapisan kekuasaan dengan garis-garis pemisahan yang tegas dan kaku. Seperti kasta di Bali. 2. Tipe oligarkis yang masih memiliki garis pemisah yang tegas, namun terbuka kesempatan bagi warga biasa untuk mendapatkan kekuasaan tertentu. 3. Tipe demokratis, dengan garis pemisah yang sangat terbuka, siapapun bisa mendapatkan posisi dengan kemampuannya. Distribusi kekuasaan Menurut Andrain (dalam Surbakti, 1992) Ada tiga model distribusi kekuasaan, yaitu 1. Model elit yang memerintah (kekuasaan hanya dimiliki oleh sekelompok kecil masyarakat) 2. Model pluralis (kekuasaan dimiliki oleh kelompok sosial dalam masyarakat dan berbagai lembaga dalam pemerintah) 3. Model populis (kekuasaan dipegang oleh setiap individu atau rakyat secara kolektif) Kekuasaan di Indonesia Trias Politica Badan Legislatif (membentuk Undang-undang) Badan Eksekutif (melaksanakan Undang-undang) Badan Yudikatif (mengawasi pelaksaan Undang-undang, memeriksa dan mengadilinya) Di Indonesia ada beberapa organisasi negara, sebagai alat-alat perlengkapan negara atau lembagalembaga negara yang diatur dalam UUD 1945, yaitu sebagai berikut: MPR, lembaga tinggi negara yang sejajar dengan Presiden, DPR, DPD, MA, MK, BPK. Lembaga ini terdiri dari anggota DPR dan DPD. DPR, lembaga yang membentuk/menetapkan UU, dan men-sah-kan RUU menjadi UU. DPD, lembaga sebagai wakil pemerintahan daerah, berkewenangan mengajukan RUU dan ikut membahas RUU yang berkaitan dengan otonomi daerah. BPK, lembaga yang berwewang dalam mengawasi dan memerikas APBN dan APBD, lalu menyampaikannya kepada DPR dan DPD. Presiden, sebagai kepala pemerintahan sekaligus kepala negara. MA, lembaga yang berwenang dal bidang-bidang kehakiman.

1. 2. 3. 4. 5. 6.

7. MK, lembaga untuk menjaga kemurnian konstitusi, menguji UU terhadap UUD, memutuskan sengketa kewenangan antar lembaga negara, memutus pembubaran partai politik, memutus sengketa hasil pemilu. Anggota MK berjumlah 9 orang, terdiri dari MA, DPR dan pemerintah yang ditetapkan oleh presiden (sehingga ketiga kekuasaan memiliki wakil masing-masing). Daftar referensi Basrowi dan Sukidin, dan Suko Susilo. 2012. Sosiologi Politik. Bogor: Ghalia Indonesia. Kansil. 2007. Ilmu Negara. Jakarta: PT. Pradnya Paramita. Soekanto, Soerjono. 2009. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Syarbaini, Syarial dan A. Rahman, dan Monang Djohado. 2002. Sosiologi dan Politik. Jakarta: Ghalia Indonesia. Surbakti, Ramlan. 1999. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia. UUD 1945