Anda di halaman 1dari 4

PETUNJUK PRAKTIKUM EKTOPARASITOLOGI KOLEKSI DAN PENGAWETAN SERANGGA

KOLEKSI/PENGUMPULAN EKTOPARASIT A. KOLEKSI EKTOPARASIT PADA RAMBUT HEWAN 1. Rambut hewan disisir. Tempatkan kertas putih atau handuk khusus di bawah daerah yang disisir. 2. Rambut yang telah disisir, diletakkan pada kaca objek dan difiksasi dengan minyak mineral seperti paraffin cair atau entelan. 3. Telur kutu ataupun kutu dewasa mungkin ditemukan di pertengahan rambut. Pangkal rambut juga diperiksa untuk kemungkinan adanya tungau folikuler mis. Demodex sp. 4. Cara lain dengan menggunakan isolasi atau selotip hitam. Selotip hitam dilekatkan langsung ke rambut atau kulit yang dicurigai lesi ektoparasit. Ektoparasit akan menempel di selotip hitam. Lalu ektoparasit atau material lain yang ditemukan ditempelkan di kaca objek untuk diperiksa di bawah mikroskop. B. KOLEKSI EKTOPARASIT DENGAN METODE KEROKAN KULIT 1. Metode kerokan kulit dapat dilakukan dengan beberapa cara. Kulit dikerok dengan lembut dengan menggunakan punggung scalpel, lalu dilekatkan di atas kaca objek dengan menggunakan 10% KOH atau paraffin cair. 2. Metode lain yaitu dengan cara paraffin cair diteteskan pada daerah yang dicurigai terdapat ektoparasit, kemudian dikerok dengan scalpel. Hasil kerokan kemudian ditempelkan langsung ke kaca objek. KOH 10% tidak bisa diaplikasikan langsung pada kulit. 3. Metode berikutnya yaitu pemeriksaan dermis kulit. Metode ini dilakukan dengan mengerok kulit sampai perdarahan kapiler kulit tampak. Pengerokan di beberapa tempat/lesi sangat dianjurkan untuk hasil yang maksimum. C. KOLEKSI EKTOPARASIT HIDUP BEBAS 1. Caplak, pinjal, ataupun tungau yang hidup bebas di sekitar kandang, alas kandang, dan feses dapat dikumpulkan secara langsung dengan menggunakan handuk/kain katun. Handuk/kain katun diletakkan di atas kandang, alas kandang, ataupun lantai yang dicurigai terdapat caplak, tungau, atau pinjal. Tunggu beberapa saat sampai kira-kira ektoparasit menempel pada kain. Kemudian kain diangkat dan diperiksa ada tidaknya ektoparasit di bawahnya. 2. Nyamuk dan lalat dapat dikoleksi dengan menggunakan jaring serangga. Pada dasarnya ada tiga jenis jaring serangga yaitu jaring udara (aerial net), jaring ayun (sweep net), dan jaring air (aquatic net). Jaring udara digunakan untuk menangkap serangga terbang, seperti lalat, nyamuk. Biasanya, lalat dan nyamuk banyak terdapat pada daerah sekitar kandang, feses, dan bahan organik lainnya yang telah membusuk. Jaring ayun digunakan untuk menangkap serangga pada daun-daunan atau rerumputan. Jaring air digunakan untuk mengumpulkan serangga yang

terdapat di dalam air. Jaring ini harus lebih kuat untuk menahan kotoran dalam air, baik kawat lingkar dan bahan jaringnya

Gambar 1. Jaring air

Gambar 2. Jaring udara

PENGAWETAN DAN PERENTANGAN (MOUNTING/PRESERVATION) A. PENGAWETAN KERING 1. Jenis serangga yang dapat diawetkan kering adalah serangga yang mempunyai tubuh dan bersayap tipis, misalnya kupu-kupu dan lalat. 2. Serangga yang akan diawetkan dengan cara pengawetan kering terlebih dahulu harus dilakukan perentangan serangga dengan alat bantu (Gambar 3) 3. Cara kerja dilakukan dengan memasukkan serangga ke dalam alkohol 70%, kemudian dikeringkan sampai benar-benar kering. Siapkan jarum serangga, tusukkan pada pertengahan tubuh dari dorsal sampai ke ventral tubuh serangga. Serangga yang telah diawetkan disimpan dalam kotak insektarium yang telah diberi kamper/kapur barus, untuk menjaga agar tidak dimakan semut. 4. Teknik-teknik ini menghasilkan spesimen-spesimen yang tidak begitu rapuh, tidak menunjukkan distorsi, dan sedikit sekali kehilangan warna dan akibatnya tidak menunjukkan indikasi penyerapan kembali air atau pembusukkan sehingga dapat disimpan dalam waktu lama.

Gambar 3. Perentangan serangga 1

Gambar 4. Perentangan serangga 2

B. PENGAWETAN BASAH 1. Serangga-serangga yang biasa diawetkan dengan cara basah adalah seranggaserangga yang bertubuh lunak dan sangat kecil, larva dan nimfa serangga, serta artropoda-artropoda selain serangga lainnya. 2. Cairan yang biasa digunakan untuk pengawetan serangga adalah etil alkohol (7080%) 3. Spesimen dimasukkan ke dalam botol-botol kaca kecil yang memiliki penutup yang erat berisi larutan pengawet. Larutan harus diperiksa paling tidak sekali atau dua kali setahun sehingga cairan yang menguap dapat diganti.

Gambar 5. Pengawetan basah

C. PENGAWETAN SLIDE 1. Pengawetan pada slide dilakukan pada artropoda-artropoda kecil seperti kutu, pinjal, dan tungau. Tujuannya agar bagian-bagian tubuh seperti tungkai dan alat kelamin dapat dipelajari dan diamati dengan jelas di bawah mikroskop. 2. Serangga dimatikan dengan cara pemanasan atau pengawetan basah. Selanjutnya serangga dimasukkan ke dalam larutan KOH 10% sambil dipanaskan tetapi tidak boleh menguap. Proses ini disebut clearing. 3. Sesudah itu dilakukan pengeringan dengan menggunakan alkohol bertingkat dimulai dari 35%, 50%, 70%, 90%, dan 100%. Proses ini bertujuan untuk dehidrasi dimana masing-masing larutan dibutuhkan waktu 10 menit. Selanjutnya dimasukkan ke dalam larutan xylol selama 5 menit untuk menjernihkan dan menghilangkan sisa-sisa larutan sebelumnya. 4. Proses berikutnya adalah mounting (pelekatan) untuk melekatkan serangga pada kaca preparat dengan menggunakan lem Canada balsam atau entelan kemudian ditutup dengan kaca penutup.

Gambar 6. Penyimpanan slide

LABELING 1. Labeling atau pemberian label bertujuan untuk memberikan informasi mengenai artropodaartropoda yang telah dikoleksi, sehingga spesimen tersebut memiliki nilai ilmiah. Informasi yang penting dituliskan pada label adalah lokasi dimana serangga ditemukan, tanggal penangkapan serangga, kolektor, data ekologi serangga, dan informasi yang diperoleh dari identitas (nama spesimen). 2. Pembuatan label pada pengawetan kering harus di atas kertas putih yang kaku dan memiliki ukuran sama besar. Label memuat tentang lokasi, tanggal, kolektor, dan identifikasi jenis serangga. 3. Label untuk spesimen yang diawetkan di dalam cairan harus ditulis di atas kertas kasar berkualitas bagus dengan tinta tahan air dan ditempatkan di dalam wadah dengan spesimen-spesimen tersebut. 4. Label untuk spesimen yang dibuat preparat mikroskop di atas kaca objek ditempelkan di permukaan bagian atas kaca objek, pada salah satu atau kedua sisi-sisi kaca penutup.

DAFTAR PUSTAKA Latif, A.A dan A.R. Walker. 2004. An Introduction to Biology and Control of Tick inn Africa. Wall, Richard and David Shearer. 2001. Veterinary Ectoparasites: Biology, Pathology and Control, Second Edition. Blackwell Science Ltd. Hidayat Purnama. 2007. http://web.ipb.ac.id/~phidayat/entomologi/bab14%20KOLEKSI%20DAN%20PENGAWETAN%20SERANGGA%20edited%20fin.htm